Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA, Jalan dan Jembatan, dan Permukiman

EXECUTIVE SUMMARY

KAJIAN KESIAPAN MASYARAKAT UNTUK PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PU BIDANG SDA, JALAN DAN JEMBATAN, DAN PERMUKIMAN

TAHUN ANGGARAN 2011

i

Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA, Jalan dan Jembatan, dan Permukiman

KATA PENGANTAR

P

uji syukur selalu dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga penyusunan Executive Summary “Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA, Jalan dan Jembatan, dan Permukiman” Tahun Anggaran 2011 ini telah diselesaikan dengan baik. Saat ini, berbagai aspek dalam pembangunan dan pengelolaan infrastruktur, baik dari aspek sosial, ekonomi, serta lingkungan (sosekling) semakin mendapat perhatian dari seluruh pihak; tak terkecuali Indonesia. Sebagai salah satu negara berkembang, penyediaan infrastruktur merupakan suatu hal yang mutlak guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing di kancah persaingan global. Pembangunan infrastruktur PU bidang SDA, Jalan dan Jembatan, dan Permukiman yang berperan sebagai faktor penentu ketahanan pangan, penghubung simpul-simpul perekonomian antarwilayah, serta prasyarat terwujudnya kualitas hidup warga pun demikian. Di tengah-tengah derasnya tantangan regional dan global, kondisi, kualitas, kuantitas, dan manfaat infrastruktur PU tersebut masih harus diupayakan lebih optimal lagi. Masyarakat sebagai salah satu key success factor pembangunan infrastruktur juga harus dipersiapkan agar permasalahan-permasalahan terkait aspek sosekling masyarakat yang tengah menghadang dapat teratasi. Oleh karena itu, laporan ini disusun untuk mengilustrasikan hasil temuan lapangan berupa tingkat kesiapan masyarakat, faktor penyebab belum siapnya masyarakat, faktor pendorong dan penghambat pembangunan infrastruktur, potensi sosekling masyarakat yang dapat dioptimalkan, serta strategi menyiapkan masyarakat untuk mendukung pembangunan infrastruktur PU. Dalam penyusunan Executive Summary ini, kami menyadari masih terdapat kekurangan dan perlu penyempurnaan. Untuk itu diharapkan masukan positif yang konstruktif guna perbaikan laporan selanjutnya.Terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian, masukan serta dukungan semua pihak yang telah diberikan dalam penyusunan laporan ini.

Jakarta, September 2011

Tim Penyusun

ii

Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA, Jalan dan Jembatan, dan Permukiman

I.

PENDAHULUAN

P

engalaman dunia internasional menunjukkan bahwa ketika suatu negara terkena krisis ekonomi maka alokasi untuk infrastruktur merupakan hal pertama yang dikorbankan, sebagaimana diajukan oleh World Bank (1994). Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu prasyarat utama yang harus dipenuhi sebuah negara, khususnya negara berkembang seperti Indonesia. Berbagai studi menunjukkan bahwa dengan dipacunya pembangunan infrastruktur, maka akan berdampak positif pada geliat ekonomi (World Bank, 1994; Kim, 2006; Tambunan, 2006). Selain itu keberadaan infrastruktur juga akan mendorong terciptanya peningkatan produktivitas bagi faktor-faktor produksi, dan sebaliknya apabila mengabaikannya akan menurunkan produktivitasnya. Berbagai studi menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur memiliki hubungan yang erat dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Elastisitas1 PDB terhadap infrastruktur di berbagai negara bervariasi antara 0,007 sampai 0,44 (World Bank, 1994:10) Sebagai salah satu infrastruktur yang memegang peranan penting dalam mendukung urat nadi perekonomian nasional, ketahanan pangan, dan kualitas hidup warganya, pembangunan bidang pekerjaan umum (PU) kerap dibarengi munculnya masalah-masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan (sosekling) yang berpotensi menghambat pencapaian sasaran pembangunan. Permasalahan yang sering ditemui pada pembangunan ketiga sektor tersebut antara lain berlarutnya proses pembebasan lahan dalam pembangunan jalan tol yang ditengarai karena ulah para spekulan (www.tribunnews.com, 1 Agustus 2010), rendahnya efisiensi jaringan irigasi yang hanya sekitar 40% (Yakup dan Nursyirwan, 1997 dalam Sutawan, 2001), serta belum optimalnya penanganan kawasan kumuh perkotaan karena berbagai faktor pendorong, termasuk kondisi sosekling masyarakat (Basri, et.al, 2010). Oleh karena itu guna menjamin keberlanjutan infrastruktur yang telah dan akan dibangun, maka kesiapan kondisi sosekling masyarakat harus diwujudkan terlebih dahulu pada setiap tahapan pembangunannya. Hal ini dimaksudkan agar infrastruktur dapat memberikan manfaat (benefit) yang optimal bagi masyarakat sebagai end user. Untuk itu pada tahun anggaran 2011 ini, Pusat Litbang Sosekling, Badan Litbang Kementerian PU melakukan kajian kebijakan untuk menyiapkan masyarakat agar pencapaian sasaran pembangunan infrastruktur PU tidak terhambat oleh masalah-masalah sosial, ekonomi dan lingkungan. Telah dirumuskan 4 (empat) pertanyaan penelitian guna memandu jalannya penelitian agar sesuai dengan tujuan serta dapat memberikan manfaat, khususnya bagi Direktorat Jenderal Bina Marga, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Direktorat Jenderal SDA, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Perumahan Rakyat, serta stakeholders lain yang terkait dalam pengembangan jaringan irigasi, pembangunan jalan tol, dan penataan kawasan kumuh perkotaan melalui pembangunan rumah susun:

1

Yaitu perubahan presentase pertumbuhan PDB perkapita sebagai akibat naiknya satu persen ketersediaan infrastruktur.

1

Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA, Jalan dan Jembatan, dan Permukiman

1) 2) 3) 4)

Apa persepsi masyarakat terhadap keberadaan infrastruktur PU? Bagaimana kondisi sosekling masyarakat sebelum dan sesudah infrastruktur PU dibangun? Faktor-faktor sosekling apa yang menyebabkan belum siapnya masyarakat untuk mendukung pembangunan infrastruktur PU? Strategi apa yang harus ditempuh untuk mengkondisikan masyarakat agar dapat mendukung pembangunan infrastruktur PU?

II.

PERMASALAHAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PU

S

esuai dengan tugas dan fungsi Kementerian PU, infrastruktur dalam lingkup PU meliputi infrastruktur jalan dan jembatan, sebagai prasarana distribusi lalu-lintas barang dan manusia maupun sebagai prasarana pembentuk struktur ruang wilayah. Infrastruktur SDA, sebagai prasarana untuk mendukung penyimpanan dan pendistribusian air maupunprasarana untuk pengendalian daya rusak air, Infrastruktur permukiman pada kawasan perkotaan dan perdesaan, sebagai pendukung kualitas kehidupan dan penghidupan masyarakat yang mencakup pelayanan transportasi lokal, pelayanan air minum dan sanitasi lingkungan, termasuk penanganan persampahan, penyediaan drainase untuk mengatasi genangan dan pengendalian banjir, penanganan air limbah domestik, serta penataan ruang dalam menata struktur dan pemanfaatan serta pengendalian tata ruang wialayah nasional. Pembangunan infrastruktur mempunyai peran vital dalam mewujudkan pemenuhan hak dasar rakyat seperti pangan, sandang, papan, rasa aman, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa infrastruktur merupakan modal esensial masyarakat yang memegang peranan penting dalam mendukung ekonomi, sosial-budaya, serta kesatuan dan persatuan yang mengikat dan menghubungkan antar daerah yang ada di Indonesia. Infrastruktur, yang sering disebut pula prasarana dan sarana fisik, di samping memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan kesejahteraan sosial dan kualitas lingkungan juga terhadap proses pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau region. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan indikasi bahwa wilayah yang memiliki kelengkapan sistem infrastruktur yang berfungsi lebih baik dibandingkan dengan wilayah lainnya mempunyai tingkat kesejahteraan sosial dan kualitas lingkungan serta pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pula. Sebaliknya, keberadaan infrastruktur yang kurang berfungsi dengan baik mengakibatkan permasalahan sosial dan lingkungan; mulai dari penolakan masyarakat, pemanfaatan infrastruktur yang tidak optimal bahkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Hal ini ditengarai karena aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan belum dipertimbangkan dengan baik pada setiap tahapan pembangunan, yaitu padatahapperencanaan, perancangan, konstruksi, operasi, danpemeliharaan. Dalam konteks ekonomi, infrastruktur merupakan modal sosial masyarakat (social overhead capital) yaitu barang-barang modal esensial sebagai tempat bergantung bagi perkembangan ekonomi.dan merupakan prasyarat agar berbagai aktivitas 2

model tersebut memasukkan 5 (lima) dimensi kesiapan masyarakat. hanya Mary Ann Pentz. sebagaimana disebutkan di atas.W. Secara tidak langsung. Dengan kata lain. infrastruktur PU juga akan menciptakan kesempatan kerja dan usaha. maka perlu ada pentahapan kesiapan. Namun mengingat kesiapan masyarakat bukanlah sesuatu hal yang instan. pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mungkin dicapai apabila tidak ada ketersediaan infrastruktur yang memadai atau dengan kata lain infrastruktur adalah basic determinant atau kunci bagi perkembangan ekonomi. 1990. model Kesiapan Masyarakat (Community Readiness Model) dibuat untuk melihat respon masyarakat atas intervensi kebijakan/program/proyek. Florin. Oleh karena itu. lahan. dll.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. pembangunan infrastruktur PU dan permukiman akan mendukung produktivitas sektor ekonomi lainnya sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kondisi sosial-budaya kehidupan masyarakat melalui efek berganda. maka efektifitas dan manfaat program/proyek juga dapat dicapai. Sebagaimana dirumuskan oleh Edwards. Sedangkan secara langsung terkait sektor konstruksi. Jalan dan Jembatan. maka program/proyek pembangunan akan terhambat.) hingga kemudian berkembang menjadi 9 (sembilan) tahapan. Sebaliknya jika kesiapan masyarakat sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan program/proyek dapat terwujud. Kenny. Untuk itulah mengapa kajian ini diperlukan. 3 . waktu.al (2000). et.W. Dalam rangka memperlancar penyediaan infrastruktur tersebut. cenderung akan berakibat pada kegagalan ( failure) di kemudian hari. seorang peneliti Midwest Prevention Project yang berhasil mendapat penghargaan dari kalangan ilmuwan ketika mempresentasikan konsep " community readiness" pada Kentucky Conference for Prevention Research tahun 1991. et.al. III. Pada awalnya. & Wandersman. infrastruktur merupakan katalisator di antara proses produksi. Keberadaan infrastruktur memberikan gambaran tentang kemampuan berproduksi masyarakat dan tingkat kesejahteraan masyarakat. 1983. keberadaan infrastruktur yang baik akan dapat mendorong terciptanya stabilitas berbagai aspek dalam masyarakat guna menunjang laju pembangunan nasional. R. dan (e) Pembiayaan untuk upaya antisipatif (berupa uang. (b) Pengetahuan masyarakat terhadap kebijakan. pasar dan konsumsi akhir. Chavis & Wandersman. KESIAPAN DAN KAPASITAS ADAPTASI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR MASYARAKAT DALAM M eskipun telah banyak peneliti yang mengulas teori “kesiapan masyarakat” (Rogers. Dan jika program/proyek tersebut diteruskan. Dalam makalahnya. ia menegaskan bahwa jika masyarakat belum siap. Giamartino. (c) Kepemimpinan. 1990 dalam Edwards. dan Permukiman masyarakat dapat berlangsung. maka munculnya pelbagai persoalan penolakan dan belum siapnya masyarakat dalam menerima serta memanfaatkan infrastruktur harus diantisipasi pemerintah dengan baik. Dengan demikian. yakni: (a) Upaya antisipatif melalui kebijakan. 2000). (d) Pemahaman akan masalah. R.

serta kearifan lokal. yaitu: Belum Siap (tiadanya community awareness sekaligus belum memadainya informasi proyek). Jalan dan Jembatan. Gambar 1. Penilaian tahap kesiapan dicapai dengan mewawancarai informan kunci. Tingkat Kesiapan Masyarakat dalam Pembangunan Selain mengetahui tingkatan kesiapan masyarakat. mulai dari: pendekatan personal yang cukup intensif. dan Permukiman Namun. Setiap tingkatan memiliki strategi/pendekatan penanganan yang berbeda. mengoptimalkan sumberdaya lokal (baik dari sisi kelembagaan. Dukungan Kolektif (mulai disadarinya peran kolektivitas. memanfaatkan media informasi lokal untuk advokasi sekaligus menyampaikan informasi pembangunan.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. dan lain-lain. maka selanjutnya masyarakat dapat dilatih menggunakan model kesiapan masyarakat. diperlukan pengembangan implementasi disetiap tahapan kesiapan masyarakat. Berdasarkan pengalaman. leadership. konsep yang diajukan oleh Mary Ann tersebut disimplifikasi menjadi 3 (tiga) tingkatan (lihat Tabel 2). Sekali masyarakat bisa menerima. media. kapasitas adaptasi (adaptive 4 . sangat penting pula untuk mengidentifikasi praktik-praktik atau bentuk-bentuk adaptasi yang dilakukan masyarakat sebagai respon mereka atas pembangunan yang akan/sedang/telah berjalan. Menurut Armittage & Plummer (2007). dengan pertanyaan-pertanyaan di enam dimensi yang berbeda terkait dengan kesiapan masyarakat dalam mengatasi isu tertentu. hingga Proaktif (dimana masyarakat bersama pengelola proyek mengevaluasi dan memodifikasi kegiatan pembangunan demi efektivitas program selanjutnya). namun channel-channel komunikasi dan network masih belum dioptimalkan untuk mendukung pembangunan). tokoh. dsb) dalam rangka menjembatani pihak pemerintah sebagai owner dan masyarakat sebagai user. forum komunitas. untuk mempermudah pengklasifikasian kesiapan masyarakat.

Karawang mencakup Kecamatan Jatisari (Desa Situdam. dijelaskan bahwa meskipun respon masyarakat atau kelompok komunitas terhadap perubahan kondisi sosial. (ed. akses ke sumber pendanaan. Sedangkan untuk kasus bidang Permukiman.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Subangterdiri dari 2 (dua) kecamatan. Wonorejo) dan Rungkut (kelurahan Penjaringan Sari). Barugbug). Jatiragas Hilir) dan Pabuaran (Desa Pabuaran). kondisi infrastruktur. Cita-cita ultimit dari kedua konsep tersebut sebenarnya tidak hanya pada bagaimana melakukan upaya-upaya untuk mewujudkan kesiapan masyarakat dalam pembangunan semata. penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Banjardowo. DI ini melintasi 2 (dua) kabupaten. Resakkalor. Cirejak. Cikalong Sari. et. IV. Tapingmojo. dalam buku ini juga akan digunakan konsep adaptive capacity yang digagas oleh Smit & Wandel (2006) dimana faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas adaptif dipengaruhi oleh kemampuan manajerial. Banjarsari. Sedangkan Kab. namun juga bagaimana agar tercipta masyarakat/kelompok komunitas yang inovatif sehingga mampu merespon pembangunan secara berkelanjutan3. kawasan rusunawa yang dianalisis adalah rusunawayang terletak di kota Surabaya. yang menjadi kasus adalah pembebasan lahan pembangunan jalan tol Trans Jawa ruas Mojokerto – Kertosono yang berada di wilayah kabupaten Jombang. selain makalah yang disampaikan oleh Armittage & Plummer (2007). Beberapa kecamatan yang menjadi objek adalah Tembelang. 2005) menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan memerlukan inovasi yang mengharuskan institusi. atau biasa dikenal dengan mix method. dan individu untuk berubah serta menghentikan pola pembangunan yang masih menganut prinsip “business as usual”. Pucangsimo. ekonomi. Kelebihan dari pendekatan ini 2 Mengingat begitu banyaknya scholars yang mendiskusikan konsep adaptive capacity. dan lingkungan (sosekling) sangat beragam. yaitu Patokbeusi (Desa Tanjung Rasa Kidul. Ciberes. namun sesungguhnya kapasitas adaptif masyarakat sangat dipengaruhi oleh seberapa besar pembangunan infrastruktur memberikan manfaat kepada mereka. 5 . Jombang dan Megaluh (meliputi desa Kayen. serta kelembagaan. Untuk mengukur kesiapan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur PU. 3 Dalam artikel mereka. serta mengupayakan solusi yang inovatif dalam situasi sosial/lingkungan yang cukup kompleks.al. Jatisari. Warburton & Yoshimura (2005) dalam Velasquez. Lebih jauh lagi. baik berupa dukungan atau penolakan. organisasi pemerintah. Di Kab. LOKASI DAN METODE PENELITIAN L okasi penelitian untuk kasus bidang SDA adalah rencana modernisasi irigasi DI Barugbug. bereksperimen. dan Sidomulyo). Pesantren. Mojokerapak. Armittage (2005) juga menggarisbawahi bahwa yang dimaksud kapasitas adaptasi mencakup kemampuan kolektif masyarakat untuk belajar. yaitu Subang dan Karawang. Dalam artikel lain. Plosogeneng. Jalan dan Jembatan. idealnya pendekatan yang digunakan adalah kombinasi antara kuantitatif dan kualitatif.Dari bidang Jalan dan Jembatan. dan Permukiman capacity)2 merupakan “the ability of a social-ecological system (or the components of that system) to be robust to disturbance and capable of responding to change ”. Sumberjo. mencakup 2 (dua) kecamatan yaitu Kenjeran (kelurahan Randu Sidotopo.

Di sisi petani. Jalan dan Jembatan.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Mengingat dalam kajian ini Tim Peneliti tidak memiliki kontrol terhadap objek kajian (yang juga tergolong fenomena kontemporer/terkini). historis. persepsi dan kesiapan masyarakat sekaligus peran. Dalam kajian ini diasumsikan bahwa jaringan jalan memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap masyarakat tergantung dari fungsi jalan yang dimiliki. akan diperoleh pemahaman yang mendalam tentang mengapa sesuatu terjadi dan dapat menjadi dasar bagi riset atau implementasi kebijakan (dalam kasus penelitian ini) selanjutnya. keberadaan kredit yang mendukung aktivitas petani. dan ketersediaan kredit usaha memberi kesempatan modernisasi pertanian. Untuk kasus jalan dan jembatan. baik dari pemegang kebijakan maupun dari petani pemakai air. mix method juga dapat mengeksplorasi secara mendalam mengenai ide/gagasan. Pendekatan kuantitatif dilakukan dalam rangka menganalisis data-data sekunder yang didapat dari Potensi Desa. Sedangkan data primer dikumpulkan melalui wawancara dan FGD dengan ketua P3A. atas fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata. potensi permasalahan. Dari sisi supply diperlukan adanya penerapan teknologi yang memungkinkan penggunaan air secara optimal. Ketersediaan saprodi memberi kesempatan rekayasa pertanian dengan teknologi dan metode baru. Akses 4 Studi kasus merupakan salah satu dari 5 (lima) strategi utama penelitian dalam ilmu sosial. Informasi tentang aspek-aspek tersebut dianggap relevan untuk analisis tentang kesiapan masyarakat dalam rencana modernisasi irigasi karena perubahan debit air yang terjadi akibat perubahan kondisi lingkungan memerlukan adaptasi. luas sawah berdasarkan sumber pengairannya. dan Permukiman adalah selain mampu mendapatkan potret secara umum mengenai kondisi sosekling penduduk.“why” (mengapa). Secara umum studi kasus lebih cocok apabila pokok masalah dengan pertanyaan “what” (apa). Jalan arteri primer yang memiliki karakteristik pergerakan jarak jauh dengan kecepatan tinggi. serta studi kasus. Strategi ini juga hendak mengeksplorasi kasus (atau beberapa kasus) secara mendalam (Creswell. wewenang. maka masyarakat akan semakin mudah menerima pembangunan ruas jalan di wilayahnya. Beberapa scholars mendefinisikan CSR sebagai pendekatan empiris yang mengeksplorasi fenomena kontemporer atau setting (Groat & Wang. mungkin tidak berdampak positif pada masyarakat yang dilewati karena tingginya gangguan yang diberikan baik dari aspek keselamatan. Keberadaan kelompok tani memudahkan pengaturan pemerintah terhadap petani. sekaligus kendala yang dialami berbagai pihak dalam menciptakan keberlanjutan pembangunan infrastruktur. Sebagai hasilnya. yaitu eksperimen. kesejahteraan dan fasilitas sosial.CSR). dan tanggungjawab stakeholder dalam pembangunan. Data yang diperlukan diklasifikasi menjadi 2 (dua) yaitu data sekunder dan primer. maka strategi yang diambil adalah studi kasus4 (case study research . “how” (bagaimana). Semakin tinggi manfaat yang diberikan. sedangkan pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis data primer. analisis arsip. kepala desa di DI Barugbug. 1988:61). keberadaan kelompok tani/KUD. kesehatan dan kemudahan aksesibilitas ke sisi lain dari wilayah. survey. adapun data yang dianalisis antara lain tingkat aksesibilitas. Data sekunder yang dianalisis untuk kasus SDA mencakup: kondisi sosial ekonomi. serta para pakar/praktisi/akademisi yang menggeluti bidang irigasi. Yin. 6 . 2003:13). 2002. diperlukan pola pertanian yang sesuai dengan supply air yang disediakan.

LSM pendamping masyarakat WTP. Kondisi lingkungan masyarakat yang kumuh dan tidak layak ditinggali membutuhkan penanganan yang memadai. Sedangkan data primer dikumpulkan melalui wawancara dan FGD dengan Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah Pemkot Surabaya. Randu Sidotopo. Tabel 1.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. salah satunya adalah dengan membangun rumah susun sederhana sewa (rusunawa). perumahan yang memiliki fasilitas hidup yang tidak memadai serta permukiman padat penduduk sebagai indikasi perlunya dibangun perumahan. dan Permukiman yang baik pada fasilitas-fasilitas sosial (pendidikan. BPS 2 Potret sosial ekonomi wilayah 3 Kesiapan individu Data primer. organisasi pendukung pertanian dan fasilitasi pengembangan pertanian Tingkat kesejahteraan masy. Untuk itu perlu dipetakan kondisi wilayah yang terdapat rumah kumuh. Banjardowo. UPTD Pengelola dan penghuni Rusunawa Penjaringansari. Tapingmojo. Pucangsimo. serta para pakar/praktisi/akademisi yang menggeluti bidang sosial ekonomi kemasyarakatan. Persepsi Knowledge Motivasi Kearifan lokal Sumberdaya Community action plan Jenis dan Sumber Data Data sekunder. keagamaan) di suatu wilayah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kenyaman tempat tinggal di wilayah tersebut. serta para pakar/praktisi/akademisi yang menggeluti bidang sosial ekonomi permukiman. Jalan dan Jembatan. perumahan di bantaran sungai. dan Sidomulyo. Sedangkan data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan Tim P2T. Bappeko Surabaya. kesehatan. wawancara/FGD 4 Kesiapan/dukungan kolektif kelompok komunitas 7 . Untuk kasus permukiman. beberapa warga yang terkena proyek (WTP) dari desa Kayen. kondisi fasilitas umum dan kesejahteraan masyarakat. Variabel dan Indikator Kesiapan Masyarakat No 1 Variabel Aspek Wilayah/ Lingkungan Fisik Indikator Karakteristik modernitas wilayah Potensi utama wilayah Kondisi tata guna lahan dan luas lahan sawah Laju konversi lahan pertanian ke non pertanian Tingkat pencemaran air tanah Kualitas lingkungan permukiman Jumlah keluarga petani Jumlah buruh tani Keberadaan kelompok tani. indikator-indikator yang digunakan adalah kondisi lingkungan dan perumahan. dan Wonorejo.

Penentuan Tingkat Kesiapan Masyarakat Tingkat kesiapan masyarakat Variabel Indikator Belum Siap (No Awareness) (1) Kesiapan individu (2) Persepsi Knowledge Motivasi Kesiapan/dukungan kolektif kelompok komunitas Kearifan lokal Sumberdaya Community action plan Leadership Forum komunitas Kesiapan/dukungan kelembagaan/delivery system Network Ketersediaan informasi Channel komunikasi Kesepakatan program dan dukungan kebijakan Manfaat (3) ------------------Dukungan Kolektif (Collective Suppport) (4) ++++ ++++ ++++ ++++ ++++ ++++ Proaktif (Proactive) (5) ++++ ++++ ++++ ++++ ++++ ++++ ------- ++++ ++++ ++++ ++++ ------- ------- ++++ ++++ --- ---- ++++ ---- ---- ++++ ---- ---- ++++ Diadopsi dari Pentz (1991) dalam Edwards. dan Permukiman No Variabel Indikator Leadership Forum komunitas Network Ketersediaan informasi Channel komunikasi Kesepakatan program dan dukungan kebijakan Manfaat Jenis dan Sumber Data 5 Kesiapan/dukungan kelembagaan/delivery system Tabel 2.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. (2000) 8 . et.. R.W. Jalan dan Jembatan.al.

manajerial serta reformasi kelembagaan guna meningkatkan efektivitas penggunaan sumberdaya (SDM. Meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan irigasi yangsudah ada atau kegiatan menambah luas areal pelayananpada jaringan irigasi yang sudah ada denganmempertimbangkan perubahan kondisi lingkungan daerahirigasi. 5. keterbatasan pembiayaan. maupun petani sebagai pemanfaat. “peningkatan jaringan irigasi”. diperoleh bahwa kata kunci dari “modernisasi” adalah peningkatan kapasitas teknis. dan lingkungan) serta alokasi air ke lahan/petak sawah. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kebingungan. P3A dapat berperan serta sesuai kemampuannya Rehabilitasi jaringan tersier menjadi hak dan tanggungjawab P3A Prioritasi kebutuhan rehabilitasi didasarkan pada tingkat kerusakan. Perbedaan Istilah dan Lingkup Modernisasi. serta besarnya dampak yang timbul akibat penundaan perbaikan. Untuk itu. Jika terjadi perbedaan persepsi dan pemahaman. “rehabilitasi”. ekonomi. baik dari sisi pelaksana/inisiator program. air. Rehabilitasi. dan Lingkungan M engambil contoh kasus penelitian yang dilakukan pada bidang SDA ini. dan Permukiman V. modernisasi melalui rekonstruksi dan perbaikan pengelolaan irigasi dapat mengoptimalkan kembali fungsi daerah-daerah irigasi yang telah dibangun. Jalan dan Jembatan. Ekonomi.1 HASIL DAN PEMBAHASAN Modernisasi Irigasi: Aspek Fisik. serta degradasi fungsi sarana dan prasarana irigasi.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. P3A bertanggungjawab melakukan peningkatan jaringan irigasi Rehabilitasi jaringan irigasi     Peningkatan jaringan irigasi   9 . serta Peningkatan Jaringan Irigasi Istilah Modernisasi jaringan irigasi  Definisi dan Lingkup Dari definisi yang dikeluarkan oleh FAO (1997). Tabel 3. berikut definisi serta lingkup operasionalnya. Sebagaimana disampaikan Menteri PU pada Rapat dengan Presiden dan para gubernur tanggal 5 Agustus 2010 bahwa dari sekian banyak isu dan permasalahan bidang irigasi seperti: ancaman alih fungsi lahan. dikhawatirkan akan berdampak pada kurang-siapnya pelaksana dan pemanfaat program dalam mengimplementasikan modernisasi. tingginya kehilangan air irigasi. Data diperoleh dari penelusuran jaringan. luas pelayanan yang terpengaruh. maka kesiapan petani dalam program tersebut sangatlah penting. Kegiatan perbaikan jaringan irigasi guna mengembalikan fungsi dan pelayanan irigasi seperti semula Kewenangan rehabilitasi jaringan primer dan sekunder pada pemprov dan pemkab. Program ini merupakan salah satu dari sekian banyak program strategis Ditjen SDA yang bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Sosial. satu prinsip yang harus dipahami terlebih dahulu adalah bagaimana membedakan pengertian “modernisasi”. rendahnya efisiensi pemanfaatan air irigasi.

melalui diversifikasi dan   Keberlanjutan sistem irigasi    Sumber: FAO (1997). ekonomi. dari sistem irigasi semi-teknis ke teknis. masyarakat petani baik secara individu maupun secara kolektif masih mempersepsikan modernisasi hanya layaknya kegiatan fisik rehabilitasi atau peningkatan jaringan semata. dan tidak dimiliki oleh KUD. maka 10 . serta lingkungan) untuk meningkatkan manfaat sosial ekonomi. Beberapa argumen yang mendasarinya antara lain: secara sosial. melalui pembangunan waduk. dan Permukiman Istilah tersier. Jalan dan Jembatan. Disamping itu secara ekonomi. meningkatkan kapasitas saluran atau meningkatkan sistem irigasi. Sedangkan dari perspektif lingkungan. tujuan utama dilakukannya modernisasi irigasi adalah mengoptimalkan penggunaan sumberdaya (yang terdiri dari SDM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesiapan petani dalam menerima rencana program ini berada pada tingkat “Belum Siap” (No Awareness). dll Keandalan prasarana. Petani lebih mempercayakan tengkulak sebagai tempat menjual hasil produksi mereka karena banyaknya fasilitas yang dimiliki tengkulak. masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan menyebabkan masih banyak warga membuang sampah di saluran irigasi khususnya yang tinggal di bantaran saluran irigasi. antara lain dari sistem irigasi sederhana ke semi-teknis. dapat dipahami bahwa istilah “modernisasi” memegang hirarki tertinggi. Padahal menurut FAO (1997). Hal ini didukung dengan tidak adanya peraturan desa tentang larangan membuang sampah. termasuk institusi pengelola dan SDM. 20 tahun 2006 Dari definisi tersebut. melalui peningkatan dan pengelolaan jaringan irigasi (OP dan rehabilitasi) Peningkatan pendapatan modernisasi usaha tani petani. bendungan. baik bagi pemakai air maupun wilayah/daerah irigasi yang bersangkutan secara luas. dan dari sistem irigasi sederhana ke teknis. tetapi juga upaya-upaya meningkatkan keandalan penyediaan air. Untuk itu. Contohnya di Desa Tanjung Resak Kidul dan Desa Cikalong Sari. guna terwujudnya sasaran outcome modernisasi irigasi bagi petani lokal khususnya. PP No. air. Peningkatan jaringan irigasi dapat dilaksanakan secara parsial dan bertahap sesuai dengan kebutuhan Desain harus mencakup pedoman OP jaringan irigasi Keandalan (supply dan alokasi) air. hingga produktivitas hasil pertanian secara regional/nasional.  Definisi dan Lingkup Tujuan: memperluas areal pelayanan.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Karena upaya perbaikan tidak hanya sebatas pada prasarana/infrastruktur fisik semata. misalnya dengan cara penggantian pintu dan pembuatan linning saluran. peran KUD sebagai salah satu penggerak ekonomi lokal ternyata sudah lama ditinggalkan. tidak adanya sanksi bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan meskipun sudah terdapat fasilitas pembuangan sampah.

pemahaman. Ekonomi. serta infrastruktur lingkungan (upaya mengatasi permasalahan sampah dan limbah). dan Lingkungan Strategi yang dirumuskan harus mempertimbangkan kondisi internal (strength and weakness) serta eksternal (opportunity and threat). Sosial. Untuk visualisasi dalam matriks. Jalan dan Jembatan. Berdasarkan tinjauan permasalahan dan hasil analisis. Modernisasi Infrastruktur Fisik. Tidak hanya modernisasi infrastruktur fisik semata yang menjadi isu sentral modernisasi DI Barugbug.al. et. deskripsi akan diberikan menurut lingkup petani – kelompok tani – stakeholder sebagai berikut: 11 . infrastruktur ekonomi (reaktivasi fungsi dan peran KUD dalam pengembangan ekonomi lokal). 1999:126). maka diperoleh poin penting bahwa untuk merumuskan strategi peningkatan kesiapan dan kapasitas adaptasi masyarakat dalam rencana modernisasi irigasi harus mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal tersebut (SWOT). namun biasanya mereka berfokus pada kondisi internal terlebih dahulu (Houben. MODERNISASI IRIGASI MCK dan TPS Infrastruktur Lingkungan Jaringan Irigasi Infrastruktur Fisik Reaktivasi KUD Perkuatan kapasitas P3A Infrastruktur Sosial Infrastruktur Ekonomi Gambar 2. tetapi juga bagaimana memodernisasi infrastruktur sosial (persepsi. dan Permukiman perlu disiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan kesiapan petani (termasuk kelembagaan pengelola program). Pengambil kebijakan dapat menentukan prioritas pada aspek mana yang akan dibenahi.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. serta kapasitas petani dan kelembagaannya).

maka dapat dicari peluang pembiayaan OP yang inovatif Ancaman (Threats)  Hanya ada 2 (dua) Kredit Usaha Kecil dan Kredit Ketahanan Pangan di 2 (dua) desa (Pabuaran dan Rancabango). maka dapat dirumuskan strategi berikut sebagai bahan rumusan pembuatan alternatif kebijakan untuk meningkatkan kesiapan masyarakat petani dan kelembagaannya dalam rencana modernisasi irigasi. 43. 12 . Jalan dan Jembatan.0% di Kec.  Petani dan kelompok P3A sudah mengerti jalur komunikasi yang harus dilalui jika terjadi kerusakan jaringan Kelemahan (Weaknesses)  Petani masih mempersepsikan modernisasi sebagai peningkatan jaringan semata  Masih banyak warga yang belum menghargai keberadaan air dengan membuang sampah dan kotoran di sungai/saluran irigasi  Jalur komunikasi untuk menyampaikan keluhan perbaikan jaringan masih belum optimal. khususnya dari mantri pengairan ke pemda  Jumlah prosentase buruh tani masih tergolong banyak pada ketiga kecamatan (64. Pabuaran. dan Permukiman Tabel 5. Perlu ditunjang dengan prasarana irigasi yang memadai Faktor Internal  Petani dan kelompok P3A merasa siap menerima modernisasi.9% di Kec. dan 47. Matriks SWOT Kekuatan (Strengths)  Potensi wilayah masih didominasi sektor pertanian. Semangat ini harus disikapi dengan langkah yang sesuai oleh para stakeholder. Patokbeusi.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Mata pencaharian mayoritas penduduk juga bertani. Jatisari)  Belum nampak upaya nyata dari pemda dalam rangka berkontribusi pada program ini Peluang (Opportunities)  Semangat petani dapat ditindaklanjuti dengan peningkatan kapasitas OP Faktor Eksternal  Petani masih berharap KUD dapat dihidupkan kembali  Mengingat ini adalah program strategis yang bersifat multiyears.8% di Kec. Selain itu keberadaan tengkulak masih mendominasi struktur ekonomi perdesaan (dikarenakan banyaknya nilai tambah yang ditawarkan tengkulak)  Besarnya skala dan lingkup program berisiko menemui kegagalan jika tidak dipersiapkan dengan matang  Menjamurnya keberadaan pabrik/industri di wilayah DI Barugbug berpotensi mencemari sumber air irigasi Dari matriks SWOT tersebut.

dan Permukiman Tabel 6. tetapi juga bagaimana menyadarkan masyarakat Opportunities untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber air  Penguatan kapasitas pemda dalam melakukan fasilitasi rencana modernisasi (di berbagai lini.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. dan lingkungan)  Pemetaan/identifikasi kondisi dan potensi buruh tani  Pelibatan buruh tani dalam programprogram pengembangan ekonomi lokal  Pengembangan peluang dan inovasi pembiayaan OP  Pemberdayaan/peningkatan partisipasi pemda dan masyarakat dalam pembiayaan OP Strengths Strategies that use strengths to maximize opportunities  Eksplorasi dan optimalisasi potensi sosekling kabupaten dalam rangka menunjang sektor pertanian dan pengembangan ekonomi wilayah  Pemberdayaan petani dan kelompok P3A dalam OP jaringan pascamodernisasi  Pemberdayaan dan peningkatan komitmen stakeholder daerah melalui fasilitasi serta pemberian kemudahan akses sumberdaya khususnya terkait pertanian baik dari pemprov maupun pusat  Peningkatan kapasitas (manajemen keuangan/kredit) kelompok P3A untuk turut serta dalam reaktivasi KUD 13 . Jalan dan Jembatan. Alternatif Strategi Weaknesses Strategies that minimize weaknesses by taking advantage of opportunities  Sosialisasi yang lebih efektif guna memberikan pemahaman kepada petani dan P3A mengenai esensi dan tanggungjawab yang harus dilakukan dalam rangka modernisasi irigasi  Sosialisasi tidak hanya dilakukan dalam aspek infrastruktur semata. sosial. ekonomi.

dsb. langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas. Yang membedakan kedua jenis strategi ini adalah aktor yang menjadi penanggungjawab/pelaksana/pengelola program beserta coverage-nya (skala desa. Dari list strategi tersebut. kecamatan. 14 . kelompok P3A. dsb. bantuan permodalan.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. khususnya daerah Threats  Pembuatan peraturan daerah (perda) yang mengatur jumlah industri di sepanjang sungai  Pemberlakukan sanksi yang tegas (disinsentif) bagi industri/pabrik yang mencemari lingkungan/perairan  Penggalakan sekaligus peningkatan kinerja KUD di desa-desa lain  Pemberian insentif bagi petani/P3A yang menjadi anggota KUD  Fasilitasi pendirian KUD melalui berbagai bentuk kemudahan/insentif. juga agar program dapat berjalan efektif dan efisien. Prioritasi mutlak perlu dilakukan. penyediaan lumbung dan peralatan. baik untuk mendukung pengembangan jaringan irigasi maupun produktivitas pertanian dan pemasarannya. Jalan dan Jembatan. Strategies that use strengths to minimize threats  Kerjasama dengan kabupaten lain untuk mendirikan kawasan industri terpadu (industrial cluster) namun terlebih dahulu disiapkan perangkat peraturannya seperti MoU. kabupaten.  Pemberdayaan dan pemberian akses (pengaduan) petani. serta aparat desa untuk mampu menolak keberadaan pabrik yang mencemari sungai/sumber air irigasi  Reformasi birokrasi dan peningkatan investasi. komitmen antara pemkab dengan swasta/industri. selain untuk memastikan sumberdaya yang ada dapat teralokasikan kedalam kebijakan yang diambil. dan Permukiman Strategies that minimize weaknesses and avoid threats  Sosialisasi penghematan air  Optimalisasi kinerja pemerintah kabupaten sebagai pihak yang langsung bersentuhan dengan masyarakat  Peningkatan kapasitas dan kinerja aparat desa dan mantri sebagai fasilitator antara petani dengan pemda  Percepatan reformasi kebijakan dalam bidang SDA pada berbagai level pemerintahan. Prioritasi strategi dibagi kedalam 2 (dua) jenis berdasarkan lingkupnya. peraturan bersama/pergub. yaitu mikro – komunitas dan makro – kewilayahan. misal: kemudahan pencatatan akta notaris. hingga nasional).

serta aparat desa untuk mampu menolak keberadaan pabrik yang mencemari sungai/sumber air irigasi  Target: petani. penyediaan lumbung dan peralatan. Fasilitasi pendirian KUD melalui berbagai bentuk kemudahan/insentif. Pemetaan kondisi dan potensi buruh tani 4. Pelibatan buruh tani dalam program-program pengembangan ekonomi lokal 5. kecamatan  Pelaksana/ penanggungjawab: pemerintah desa. dan pusat Kebijakan Keterangan 15 . dan Permukiman Tabel 7. bantuan permodalan. dsb. Sosialisasi yang lebih efektif guna memberikan pemahaman kepada petani dan P3A mengenai esensi dan tanggungjawab yang harus dilakukan dalam rangka modernisasi irigasi 2. Sosialisasi tidak hanya dilakukan dalam aspek infrastruktur semata. kelompok P3A. tetapi juga bagaimana menyadarkan masyarakat untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber air 3. pemerintah provinsi. 13. Peningkatan kapasitas (manajemen keuangan/kredit) kelompok P3A untuk turut serta dalam reaktivasi KUD 8. pemerintah kabupaten. misal: kemudahan pencatatan akta notaris. Penggalakan sekaligus peningkatan kinerja KUD di desa-desa lain 11.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Pemberian insentif bagi petani/P3A yang menjadi anggota KUD 12. Pemberdayaan dan pemberian akses (pengaduan) petani. Pemberdayaan dan peningkatan komitmen stakeholder daerah melalui fasilitasi serta pemberian kemudahan akses sumberdaya khususnya terkait pertanian baik dari pemprov maupun pusat 7. mantri pengairan  Coverage area: skala desa. Pemberdayaan petani dan kelompok P3A dalam OP jaringan pascamodernisasi 6. Jalan dan Jembatan. Sosialisasi penghematan air 9. Peningkatan kapasitas dan kinerja aparat desa dan mantri sebagai fasilitator antara petani dengan pemda 10. kelompok P3A. aparat desa. Prioritas Strategi No A Mikro – komunitas 1.

Optimalisasi kinerja pemerintah kabupaten sebagai pihak yang langsung bersentuhan dengan masyarakat 6. Penguatan kapasitas pemda dalam melakukan fasilitasi rencana modernisasi (di berbagai lini. dsb. dan lingkungan) 2. Kerjasama dengan kabupaten lain untuk mendirikan kawasan industri terpadu (industrial cluster) namun terlebih dahulu disiapkan perangkat peraturannya seperti MoU. dan telaah best practice. Eksplorasi dan optimalisasi potensi sosekling kabupaten dalam rangka menunjang sektor pertanian dan pengembangan ekonomi wilayah 5. pembahasan. Jalan dan Jembatan. pemerintah provinsi  Coverage area: skala kabupaten. ekonomi.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. peraturan bersama/pergub. dan pusat Dari hasil analisis. Reformasi birokrasi dan peningkatan investasi. sosial. Percepatan reformasi kebijakan dalam bidang SDA pada berbagai level pemerintahan. baik untuk mendukung pengembangan jaringan irigasi maupun produktivitas pertanian dan pemasarannya Keterangan  Target: aparat pemerintah kabupaten. Pemberlakukan sanksi yang tegas (disinsentif) bagi industri/pabrik yang mencemari lingkungan/perairan 9. dapat ditarik beberapa kesimpulan seperti berikut ini:  Kesiapan masyarakat sangat penting untuk memastikan program besar seperti modernisasi irigasi ini dapat berjalan dengan berkelanjutan. Pembuatan peraturan daerah (perda) yang mengatur jumlah industri di sepanjang sungai 8. komitmen antara pemkab dengan swasta/industri. hingga nasional  Pelaksana/ penanggungjawab: pemerintah kabupaten. harus 16 . 10. Pengembangan peluang dan inovasi pembiayaan OP 3. pemerintah provinsi. dan Permukiman No B Kebijakan Makro – kewilayahan 1. khususnya daerah 7. Perbedaan pemahaman (persepsi) dan belum memadainya kapasitas masyarakat petani (serta kelembagaannya) untuk mengembang amanat besar modernisasi. Pemberdayaan/peningkatan partisipasi pemda dan masyarakat dalam pembiayaan OP 4.

Selain menyiapkan masyarakat dan kelembagannya. dan lain sebagainya. panjang jalan nasional sampai saat ini mencapai 34. Jalan dan Jembatan.  Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan higienitas lingkungan juga dapat dijadikan tolak ukur bahwa kesiapan masyarakat masih rendah.2 Kesiapan dan Adaptasi Masyarakat dalam Pembebasan Lahan Jalan Tol Trans Jawa Ruas Mojokerto – Kertosono: Kasus Kabupaten Jombang Kondisi Infrastruktur Jalan dan Jembatan khususnya untuk jalan. khususnya dalam hal pemeliharaan jaringan irigasi.12 km. Dari best practice diketahui bahwa modernisasi akan dapat mempengaruhi sekurang-kurangnya 50% dari sistem yang ada sekarang setelah berjalan selama 10 tahun.628 km. rusak ringan 11 persen. tetapi juga bagaimana agar rencana besar modernisasi fisik dan soseklingnya dapat berjalan. panjang jalan tol pada tahun 2009 tercatat mencapai 757.120 km. dinas-dinas terkait di tingkat pemkab Karawang dan Subang juga perlu di-upgrade kapasitasnya.681 km. dengan jumlah ruas terpanjang berada di pulau jawa sepanjang 697.5 Untuk jalan tol. 83.   5.470 km. baik di pusat maupun daerah.185 km. peran Dinas PU dan Dinas Pertanian dalam OP jaringan (sekaligus pembinaan kepada petani). jalan provinsi 48. dan rusak berat 0 persen. Jika kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah (dan limbah domestik) di saluran irigasi tidak diakomodasi dalam rencana modernisasi. dan jalan kabupaten 288. Sedangak pada tahun 2009 jalan dalam kondisi baik mencapai 89 persen. Jalan tol menjadi salah satu infrastruktur utama dalam menarik investor dalam hal ini pihak swasta untuk turut berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur.6 Namun sampai akhir tahun 2009.30 km. maka sangat penting untuk menjamin ksinambungan komitmen serta kesiapan masyarakat dalam program ini. dan telah dimulai pada tahun 1987 dan berperan dalam pembangunan pembangunan jalan tol sepanjang 203. 13.34 persen rusak ringan. 77% diantaranya dioperasikan oleh PT Jasa Marga. jalan tol yang telah beroperasi baru mencapai 697. sedangkan sisanya dikelola oleh 5 6 Renstra Kementerian PU 2010-2014 Kepmen PU No 631/KPTS/M/2009 Tgl 31 Desember 2009 17 . Tidak hanya dari aspek teknis pelaksanaan OP jaringan irigasi.43 persen rusak berat (2008). Mengingat mereka-lah yang menjadi ujung tombak kegiatan-kegiatan fasilitasi produksi. Saat ini tercatat jalan tol yang sedang dalam tahap operasi sepanjang 697 km. dan sisanya berada di pulau sumatra dan pulau sulawesi. Mengingat cukup lamanya impact yang dihasilkan. Sebagai contoh: fasilitasi Dinas Koperasi & UKM dan lembaga lainnya dalam rangka mereaktivasi KUD. 3. maka dapat diprediksi bahwa kualitas dan kuantitas air irigasi akan menurun.23 persen diantaranya dalam kondisi baik.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. dan Permukiman diperhatikan oleh para stakeholder.

dan Permukiman beberapa operator swasta lainnya. Data menunjukkan 20 dari 24 proyek jalan tol yang telah mendapatkan persetujuan konsesi akhirnya dibatalkan karena kendala pembebasan lahan (Iqbal & Suleeman. Semakin banyaknya proyek pembangunan fisik.2. dengan payback period antara 20 hingga 25 tahun.1 Permasalahan Sosekling dalam Pembebasan Lahan Jalan Tol Trans Jawa Sejumlah kendala masih menghambat dalam investasi jalan tol. maka akan semakin tinggi pula kebutuhan (demand) akan pekerja. pemerintah lebih menekankan partisipasi sektor swasta dalam pembangunan dan pengoperasian jalan tol. namun jalan tol juga beroperasi di luar Jawa seperti di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Masa konsesi proyek jalan tol di Indonesia berkisar antara 30 hingga 40 tahun. dalam praktiknya kewajiban ini jarang dipenuhi oleh pemerintah. Meskipun sebagian besar jalan tol dibangun di Jawa. Sebagian besar biaya proyek (seperti biaya pengadaan lahan dan konstruksi) dikeluarkan pada tahap awal masa konsesi. diantaranya adalah pembebasan lahan. 2010:35). Minimnya pendanaan infrastruktur sebagaimana telah diulas di atas disiasati dengan dikeluarkannya berbagai produk kebijakan yang bertujuan untuk menarik minat investor dalam pembangunan dan pengoperasian jalan tol. yakni (1) terbatasnya kapasitas keuangan pemerintah. sementara pemasukan (revenue) hanya didapat setelah jalan tol memasuki tahap operasi. (2) Penyerapan modal swasta akan berdampak positif pada peningkatan ekonomi riil. Selain itu. 5. Proyek-proyek jalan tol tergolong unik karena membutuhkan investasi jangka panjang dengan risiko tertentu. Kebijakan ini diambil karena dua alasan utama. baik skilled worker maupun non-skilled worker. Namun tentu saja persoalan tidak berhenti di sini. sumber pembiayaan.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Meskipun kewajiban pembebasan lahan merupakan tanggungjawab pemerintah khususnya bagi proyek jalan tol yang menggunakan skema PPP (Public Private Partnership).3 Diantara ketiga permasalahan tersebut proses pengadaan lahan atau pembebasan lahan selalu menjadi penghambat utama dalam pembangunan jalan tol. 18 . namun karena berlarutnya proses pembebasan lahan disertai minimnya alokasi dana. Jalan dan Jembatan. serta belum intensnya dukungan Pemerintah Daerah dalam pengembangan jaringan jalan tol. Dari sini dapat kita lihat betapa pentingnya pembebasan lahan dalam pembangunan infrastruktur jalan tol. kompetisi antarinvestor dan relatif tingginya kapasitas sumberdaya yang dimiliki pihak swasta dinilai akan dapat memberikan manfaat yang efektif dan efisien bagi pencapaian sasaran pembangunan. Mengapa pembebasan lahan selalu menghambat pembangunan jalan tol? Saat ini. maka dapat dipastikan penyelesaian konstruksi serta pengoperasian jalan tol akan semakin mundur dari jadwal semula (lihat Box 1 untuk ilustrasi perubahan status proyek jalan tol akibat berlarutnya pembebasan lahan). Jika proses pada tahap awal saja telah memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

negosiasi. Situasi yang tidak kondusif ini diperparah dengan adanya makelar/calo tanah yang mulai terlibat dalam proses pembebasan tanah dengan memberikan harga yang tinggi pada warga untuk ganti rugi tanah mereka sehinga semakin memperkeruh situasi yang sedang terjadi. Terdapat indikasi manipulasi data yang dilakukan oleh oknum dari pemerintah. Misalnya pada proses sosialisasi penentuan luasan tanah yang dilakukan oleh tim P2T berdasarkan data dari tim appraisal. Warga juga diresahkan dengan adanya provokator atau pihak yang membujuk atau menyebarkan isu kepada warga untuk segera menyerahkan/menjual tanahnya karena jika tidak. 19 . ketidakpastian harga yang diberikan pemerintah ditandai dengan adanya informasi harga satuan yang beragam di beberapa daerah sehingga menjadi kecurigaan warga mengapa harga yang diberikan jauh berbeda dibandingkan dengan harga tanah di ruas tol yang lain. dan konsinyasi belum dilakukan secara optimal sebagaimana regulasi yang berlaku. Selain itu. Jika tetap dipaksakan akan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi warga. Masalah yang terjadi adalah ketidakjelasan ukuran luasan tanah yang diberikan oleh pihak appraisal karena standar yang digunakan dalam pengukuran oleh appraisal sendiri juga tidak jelas sehingga mengakibatkan inventarisasi data luasan tanah yang dinilai tidak valid oleh warga. misalnya ruas Semarang – Solo . Permasalahan yang terjadi dalam proses pembebasan lahan pembangunan jalan tol ruas Mojokerto – Kertosono adalah contoh nyata rumitnya pembebasan lahan karena banyaknya pihak yang terlibat. Ketakutan ini membuat warga bertindak gegabah dalam menjual tanahnya sehingga banyak yang mendapatkan ganti rugi yang tidak sesuai.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Manipulasi ini dilakukan dengan memberikan form yang harus ditandatangani oleh warga tanpa warga tahu apa maksud dari permintaan tanda tangan tersebut. Jalan dan Jembatan. Sebagian warga yang terdesak oleh kebutuhan hidup juga terpaksa menjual tanahnya walaupun dengan harga yang tidak sesuai. Beberapa Pegawai Negeri Sipil (PNS) pemilik tanah dan keluarganya juga mengalami intimidasi oleh oknum dari atasan agar segera melepaskan tanah miliknya dengan ancaman akan dimutasi atau ancaman lain yang berlawanan dengan etika dan hukum. Proses validasi dan verifikasi data tidak dilakukan secara merata di semua daerah yang terkena pembebasan tanah (pembuatan daftar nominative). Tim appraisal sendiri tidak pernah berinteraksi atau melakukan survei dengan warga sebelumnya. dan Permukiman  Permasalahan Sosial Komunikasi dan transparansi menjadi faktor utama penyebab terjadinya gejolak di masyarakat. Permasalahan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: Proses sosialisasi. Kumpulan tanda tangan tersebut disalahgunakan dengan cara dilampirkan pada surat pernyataan persetujuan warga terhadap nilai ganti rugi yang diberikan pemerintah. akan dilakukan pembongkaran paksa.

karena ada sebagian yang dititipkan kas desa.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. masyarakat mengalami penurunan kesejahteraan hidup akibat kehilangan mata pencaharian atau harus beralih profesi. Selain itu juga terdapat mekanisme adat atau peraturan tidak tertulis tentang pemberian 2.5% dari total harga jual untuk aparat desa. masyarakat mengharapkan dengan adanya ganti rugi berupa uang yang nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan mereka di kemudian hari. Sedangkan secara konseptual jalan tol merupakan private goods atau dapat dikatakan masyarakat tidak memperoleh keuntungan dalam waktu singkat akibat pembangunan jalan tol tersebut. Paradigma yang berkembang di masyarakat adalah pembangunan jaaln tol dapat memberikan keuntungan secara langsung. - 20 . masyarakat terutama petani yang kehilangan sebagian atau seluruh lahan pertaniannya harus beralih perofesi karena hasil pertanian tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk proses pengerjaan lahannya. Masalah lainnya adalah trace jalan tol yang memotong jalan utama antara dua desa atau wilayah lain menyebabkan pedagang harus melewati jalan memutar yang cukup jauh sehingga biaya transportasi membengkak sedangkan pendapatan sama bahkan cenderung menurun. Beberapa keuntungan yang akan diperoleh pengguna jalan sebagai user serta pemerintah sebagai owner sekaligus regulator diantaranya adalah: Masyarakat mempunyai alternatif pilihan sebagai pengguna jalan Pemerintah terbebas dari beban finansial atas proses konstruksi dan pengoperasian (tergantung skema konsesi yang diambil oleh pemerintah dan operator) Badan usaha (dengan segala risikonya) dapat mengoperasikan jalan tol dengan hak pengusahaan selama masa konsesi.  Permasalahan Ekonomi Dalam kasus pengadaan tanah pada umumnya. ada yang ditransfer melalui bank. Karena jalan tol tergolong private goods. Sebagai contoh. Akan tetapi dalam kenyataannya. Jalan dan Jembatan. Hal ini yang menyebabkan besarnya nilai ganti rugi yang diterima tidak sesuai dengan yang tercatat sebelumnya. Sebagian warga yang menerima kuitansi resmi dari pembayaran tersebut. Hal ini dikarenakan hanya pengguna jalan yang mampu membayar toll saja yang boleh melewatinya (atau dalam teori ekonomi biasa dikenal dengan prinsip excludability). dan Permukiman Proses pembayaran ganti rugi yang belum seragam. maka investasi yang dilakukannnya harus didasarkan pada prinsip keuntungan yang menjadi ruh dari ekonomi pasar. sebagian yang lain hanya menerima catatan bertuliskan nominal yang diterima tanpa ada pernyataan dan tanda tangan pejabat yang berwenang.

kelemahan (weakness). pemerintah dapat melibatkan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung. Jalan dan Jembatan.  Strength Pengadaan Jalan Tol Trans Jawa secara langsung oleh pemerintah pusat melalui Kementerian PU memberikan keuntungan dalam hal pengawasannya baik pra konstruksi. Terkait dengan masalah pembebasan lahan di Jalan tol ruas Mojokerto-Kertosono khususnya yang berada di wiayah Kabupaten Jombang. dan pasca konstruksi secara langsung dan kepemilikan asset secara penuh oleh Negara. Kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah (delivery system) terkait kebijakan yang akan diterapkan untuk menyelesaikan masalah ganti rugi kepada warga 21 . sehingga sebagian besar penduduk juga masih menggantungkan hidup pada sektor tersebut. Konversi lahan yang terjadi adalah hilangnya lahan pertanian karena pembangunan dan berubahnya lahan pertanian menjadi pemukiman akibat tidak adanya relokasi penduduk terkena proyek yang memadai. dan Permukiman  Permasalahan Lingkungan Konversi lahan menjadi masalah lingkungan utama dalam pembangunan jalan tol.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. 5.2 Analisis SWOT Analisis SWOT digunakan untuk memperoleh strategi atau rekomendasi sebagai solusi pemecahan masalah berdasarkan kekuatan (strength).  Weakness Proses pembebasan yang berlarut-larut menghambat proses pembangunan konstruksi yang berakibat terlambatnya proyek pembangunan secara keseluruhan.stakeholder yang berperan didalamnya. analasis SWOT disusun setelah mengidentifikasi stakeholder. Meskipun karakteristik wilayahnya sudah bercampur antara perdesaan dan perkotaan. Dalam proses pembangunannnya. dan ancaman (threat).2. Hal tersebut juga terjadi pada kasus pembangunan jalan tol Mojokerto – Kertosono di Kabupaten Jombang. Pembangunan jaringan jalan to trans jawa dapat menarik investor untuk menanamkan investasinya di Jawa. namun potensi wilayah yang paling dominan tetap sektor pertanian. konstruksi. peluang (opportunity). Selama ini. Pemerintah dapat bekerja sama dengan investor baik dalam maupun luar negeri untuk mendukung pembangunan. prosedur pembebasan lahan hanya terhenti pada pembayaran ganti rugi tanpa mempertimbangkan bagaimana kondisi kehidupan masyarakat setelah pembayaran ganti rugi.

Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. 22 . - -  Threat Munculnya spekulan tanah yang memanfaatkan situasi yag sedang beergejolak untuk mencari keuntungan pribadi Keterlambatan proses pembebasan lahan akan menghambat pembangunan jalan tol Adanya pihak-pihak yang berkepentingan untuk mempengaruhi semua pihak (pembuat kebijakan dan pelaksana lapangan) termasuk korban pemilik tanah agar seluruh rencana yang telah ditetapkan terlaksana secara cepat dan menguntungkan dengan cara yang bersifat memaksa.  Opportunity Dengan dibangunnya jalan tol akan meningkatkan aksesibilitas dari dan keluar kabupaten Jombang yang berefek pada kelancaran arus barang dan jasa serta informasi. seperti potensi perkebunan dan budaya. dan Permukiman - Kurangnya informasi dan koordinasi yang diberikan kepada warga tentang prosedur ganti rugi yang benar Ketidakjelasan nilai standar harga tanah di masing-masing wilayah sehingga menyebabkan kecemburuan social antara daerah satu dengan yang lain. Pemanfaatan isu pembebasan lahan di Jombang sebagai alat politik oleh pihak tertentu menyebabkan keputusan-keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah ini tidak berimbang dan menguntungkan satu pihak tanpa memperhatikan kondisi masyarakat. Jalan dan Jembatan. Pengembangan wilayah tersebut berefek pada peningkatan kegiatan perekonomian baik antar daerah maupun di dalam wilayah Kabupaten Jombang sendiri. Kemudahan aksesibilitas menyebabkan pengembangan potensi wilayah Kabupaten Jombang dan sekitarnya sangat mungkin dilakukan mengingat besarnya potensi yang dimiliki. Warga yang kehilangan tanahnya dan tidak memiliki modal untuk membeli tanah baru atau beralih profesi akan menjadi pengangguran yang tentu saja memperbesar angka kemiskinan khususnya di kabupaten Jombang.

Kerjasama tersebut dapat berupa penentuan titik rest area beserta pengelolaaanya sehingga masyarakat tetap mempunyai mata pencaharian untuk hidup (atau biasa disebut collaborative Weakness  Proses pembebasan yang berlarut-larut menghambat proses pembangunan konstruksi yang berakibat terlambatnya proyek pembangunan secara keseluruhan.asp?menu=detail_berita&no=381 23 . dan pasca konstruksi secara langsung dan kepemilikan asset secara penuh oleh Negara. Melakukan FGD lebih intensif 7 http://www.go.id/e-gov/layanan/berita. pemerintah dapat melibatkan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung. Faktor Eksternal Opportunity  Dengan dibangunnya jalan tol akan meningkatkan aksesibilitas dari dan keluar kabupaten Jombang yang berefek pada kelancaran arus barang dan jasa serta informasi.jombangkab. Pemerintah dapat bekerja sama dengan investor baik dalam maupun luar negeri untuk mendukung pembangunan.  Kemudahan aksesibilitas menyebabkan pengembangan potensi wilayah Kabupaten Jombang dan sekitarnya sangat mungkin dilakukan mengingat besarnya potensi yang dimiliki. dan Permukiman Tabel 8.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. 7     Pelibatan unsur masyarakat dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan musyawarah mengenai harga tanah Mengajak masyarakat turut serta dalam usaha pengembangan wilayah. Matriks SWOT Faktor Internal Strength  Pengadaan Jalan Tol Trans Jawa secara langsung oleh pemerintah pusat melalui Kementerian PU memberikan keuntungan dalam hal pengawasannya baik pra konstruksi.  Pemerintah dapat mengadaan kemitraan dengan masyarakat yang terkena dampak baik dalam proses konstruksi maupun dalam perawatan di masa depan. konstruksi.  Pembangunan jaringan jalan to trans jawa dapat menarik investor untuk menanamkan investasinya di Jawa. seperti potensi perkebunan dan budaya. Jalan dan Jembatan.  Kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah (delivery system) terkait kebijakan yang akan diterapkan untuk menyelesaikan masalah ganti rugi kepada warga  Kurangnya informasi dan koordinasiyang diberikan kepada warga tentang prosedur ganti rugi yang benar  Ketidakjelasan nilai standar harga tanah di masing-masing wilayah sehingga menyebabkan kecemburuan social antara daerah satu dengan yang lain.  Dalam proses pembangunannnya.

Penetapan regulasi yang jelas terkait masalah pembebasan lahan  Mengoptimalkan kinerja dari emerintah daerah sebagai pihak yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.   planning8) Pendekatan personal kepada tokoh masyarakat yang berpengaruh untuk kemudian membantu memberikan pemahaman kepada anggota masyarakat yang lain Memanfaatkan wadah informasi lokal seperti papan informasi desa. dll Pelaksanaan proses pra konstruksi dan konstruksi sesuai dengan dokumen AMDAL yang telah tersedia.  Warga yang kehilangan tanahnya dan tidak memiliki modal untuk membeli tanah baru atau beralih profesi akan menjadi pengangguran 8   Lihat artikel yang ditulis oleh Patsy Healey (1998) yang berjudul “Collaborative Planning in a Stakeholder Society”. dan Permukiman  Pengembangan wilayah tersebut berefek pada peningkatan kegiatan perekonomian baik antar daerah maupun di dalam wilayah Kabupaten Jombang sendiri. Jalan dan Jembatan.  Pemanfaatan isu pembebasan lahan di Jombang sebagai alat politik oleh pihak tertentu menyebabkan keputusankeputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah ini tidak berimbang dan menguntungkan satu pihak tanpa memperhatikan kondisi masyarakat.  Bersama tim appraisal melakukan musyawarah dengan masyarakat terkait besarnya nilai ganti rugi yang akan diberikan Threat  Munculnya spekulan tanah yang memanfaatkan situasi yag sedang bergejolak untuk mencari keuntungan pribadi  Keterlambatan proses pembebasan lahan akan menghambat pembangunan jalan tol  Adanya pihak-pihak yang berkepentingan untuk mempengaruhi semua pihak (pembuat kebijakan dan pelaksana lapangan) termasuk korban pemilik tanah agar seluruh rencana yang telah ditetapkan terlaksana secara cepat dan menguntungkan dengan cara yang bersifat memaksa.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. 24 .

Jalan dan Jembatan. Pengadilan juga telah berperan dalam mendorong pemerintah untuk membuat/mengamandemen UU yang terkait dengan konflik akuisisi tanah. Beberapa proyek bergerak lebih cepat karena intervensi peradilan. UU ini mengurangi kerangka waktu secara signifikan. yang: (i) disetujui pemerintah tingkat. Selain itu. waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh tanah telah berkurang secara bertahap dari 18 bulan sampai 8 bulan. selain itu. rumah. serta (iii) pasar tarif dasar atas data transaksi tanah. pembayaran tambahan pohon. (ii) nilai kapitalisasi dari pendapatan tahunan rata-rata dari tanah. dalam Kebijakan Nasional Pemukiman Kembali dan Rehabilitasi untuk Keluarga Terkena Proyek tahun 2003 diberikan kompensasi tambahan kepada keluarga yang terkena dampak proyek. sidang keberatan. salah satu kendala terbesar untuk pembangunan jalan di India adalah akuisisi tanah milik pribadi. Selanjutnya. Dari UU tersebut. Akibatnya. atau properti lainnya bergerak dan pembayaran untuk kerusakan akibat pemutusan tanah. yang mengakibatkan peningkatan proporsi proyek berjalan sesuai jadwal (dari 32% pada tahun 1994 menjadi 36% pada 2007) serta penurunan secara tajam proporsi proyek yang costoverruns (dari 58% pada 1994 menjadi 11. yang mempengaruhi jumlah populasi paling sedikit. Ahmedabad: Indian Institute of Management. Proses identifikasi seperti ini sangat membantu dalam memutuskan proyek mana yang berpotensi memicu sedikit konflik. dan reformasi dalam kerangka peraturan yang berhubungan dengan pengadaan tanah. upaya pemerintah untuk mengadakan tanah. Gambar yang digunakan pada tingkat perencanaan untuk mengidentifikasi koridor. dan deklarasi akuisisi juga harus diselesaikan dalam waktu satu tahun. Namun. manajemen proyek. ada upaya perbaikan yang cukup baik guna menangani isu pembebasan tanah. sementara yang lainnya tertunda karena proses pengambilan keputusan pengadilan yang lebih lambat. atas dan di atas ketentuan UU Pembebasan Tanah. survei. Solusi Masalah Pembebasan Lahan di India Pembebasan tanah adalah salah satu alasan utama penundaan banyak proyek di India. Kotak 1. dan Permukiman yang tentu saja memperbesar angka kemiskinan khususnya di kabupaten Jombang. Pemerintah. tinggal. UU ini juga mencakup ketentuan kompensasi bagi pemegang hak atas tanah hanya berdasarkan nilai pasar. tanaman. telah merampingkan proses dengan membaginya menjadi satuan-satuanunit lahan. terutama melalui peningkatan partisipasi sektor swasta dan desentralisasi dengan semakin meningkatnya kapasitas pembangunan di tingkat negara bagian. G. Secara khusus. pemerintah juga menggunakan gambar satelit untuk mengidentifikasi jumlah orang yang terkena dampak oleh proyek serta pola penggunaan tanah yang tepat. Terdapat tiga metode untuk sampai pada nilai tanah. Et. Peran penegak hukum juga cukup signifikan dalam konteks ini.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. (2009)Mega Projects in India Environmental and Land Acquisition Issues in the Road Sector. 25 .al. Teknologi juga membantu dalam masalah pembebasan lahan pada tahap awal dari proyek itu sendiri dan dengan biaya yang jauh lebih rendah. bagaimanapun. Proses ini cukup memakan waktu dan sangat berbelit-belit. Sumber: Raghuram. Undang-Undang tahun 1894 tentang Akuisisi Tanah juga memberdayakan pemerintah negara bagian untuk memperoleh tanah guna kepentingan publik.6% pada tahun 2007). Pencapaian ini disebabkan karena berbagai faktor. atau tempat usaha. antara lain: pendanaan yang lebih baik.

2006). diantaranya adalah timbulnya permukiman kumuh. daya dukung prasarana dan sarana lingkungan permukiman yang ada mulai menurun dan pada akhirnya akan memberikan kontribusi terjadinya permukiman kumuh (Basri. Untuk pertama kalinya pada tahun tersebut diperkirakan populasi penduduk kota akan melebihi penduduk pedesaan. Kaum marginal diperkotaan umumnya tetap membutuhkan perhatian kita bersama. Sebuah kota yang hanya dapat menyediakan tempat kerja tetapi tidak dapat menyediakan tempat tinggal bagi yang bekerja adalah sebuah kota yang cepat atau lambat akan menjadi tidak efisien (Santoso. Wonorejo. dan Permukiman 5. 2010:3). dan Randu Sidotopo.. Lyons & Snoxell. dan lain sebagainya. salah satu ciri kota-kota di Indonesia adalah tingginya konsentrasi penduduk9 (Riddel. dalam mengantisipasi pertambahan penduduk dengan berbagai motif dan keragaman nampaknya menjadi penyebab utama yang memicu timbulnya permasalahan permukiman. 1997. terutama untuk meningkatkan kapasitas dan aksesibilitas 9 Tahun 2007 menandai perubahan penting dalam demografi dunia. Kekurang-siapan kota dengan sistem perencanaan dan pengelolaan kota yang tepat. dan hubungan antar kawasan berlangsung seimbang serta saling mengisi (compatible). 26 . Pemenuhan akan kebutuhan prasarana dan sarana permukiman baik dari segi perumahan maupun lingkungan permukiman yang terjangkau dan layak huni belum sepenuhnya dapat disediakan oleh masyarakat sendiri maupun pemerintah. baik melalui peningkatan maupun pembangunan baru. sumber penghidupan. 2005). Pemerintah perlu memikirkan cara-cara baru dalam menangani masalah perumahan.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Perkembangan penduduk kota-kota di Indonesia baik sebagai akibat pertumbuhan populasi penduduk maupun akibat urbanisasi telah memberikan indikasi adanya masalah perkotaan yang serius.3 Kesiapan dan Adaptasi Masyarakat dalam Penghunian dan Pengelolaan RusunawaPenjaringan Sari. Artinya. penyediaan prasarana dan sarana permukiman akan meningkat pula. Sehingga. Para ilmuwan di North Carolina State University dan the University of Georgia bahkan menyebutkan pada tanggal 23 Mei 2007 sebagai tanggal di mana untuk pertama kalinya jumlah penduduk perkotaan di dunia melebihi penduduk pedesaan (Wimberley and Kulinowski 2007). setiap kawasan secara internal berfungsi dengan baik.Seiring dengan pertumbuhan penduduk di daerah perkotaan. dkk. Surabaya Sebagaimana layaknya negara berkembang lainnya. 10 Sebuah kota hanya bisa berfungsi baik apabila kawasan-kawasannya berfungsi dengan baik. seperti dikutip oleh Mike Davis (2004) menyatakan bahwa pada tahun 1950an. Jalan dan Jembatan. Beban berat kota juga bertambah seiring dengan semakin tak terbendungnya migrasi dari kawasan rural ke kawasan urban hingga menyebabkan tingginyaharapan warga agar pemerintah kota10 dapat memenuhi kebutuhan warganya akan tempat tinggal. Pada tahun 2015 diperkirakan bahwa 550 kota di dunia akan berpenduduk lebih dari satu juta orang. kebutuhan akan perumahan. hanya ada 86 kota dengan penduduk lebih dari satu juta orang. Laporan “ Limits of Growth”. jaminan keamanan dan kenyamanan. dan mengalihkan sebagian sumber daya untuk intensifikasi dan peningkatan kualitas rumah sewa (rental housing) termasuk rumah kumuh yang selama ini terabaikan.

Program 1. Diperkirakan sampai dengan tahun 2020. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun. Rusun dianggap strategis karena mayoritas dari masyarakat korban gusuran ini merupakan golongan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). benda bersama. yakni rusun sederhana milik (rusunami) dan rusun sederhana sewa (rusunawa).000 unit per tahun. 27 . sehingga sangatlah sulit untuk membuat mereka mampu beradaptasi dengan pola dan kebiasaan vertical living. khususnya komunitas yang tinggal di kawasan permukiman perkotaan.000 tower rusun (rumah susun) sebagai sebuah upaya mengatasi kawasan kumuh perkotaan serta memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal yang semakin meningkat setiap tahun. rata-rata setiap tahun terdapat 1. Terdapat backlog pembangunan perumahan yang terus meningkat dari 4. Jalan dan Jembatan. dan tanah bersama. Apa yang dilakukan masing-masing individu sangat berpengaruh terhadap individu lain. berkomunikasi dengan pihak pengelola. 11 Pratiwi. (2000:13) juga membuktikan bahwa dari sekian banyak penelitian tentang pengembangan berbasis komunitas dan partisipatif. model-model respon perilaku penghuni merupakan salah satu diantaranya. Sampai saat ini tingkat pemenuhan kebutuhan rumah masih menjadi permasalahan serius. Saat ini pembangunan/pengembangan rumah baru mencapai 600. Menurut Undang-undang No. terdapat 3 (tiga) topik bahasan yang kerap didiskusikan. menggunakan fasilitas publik secara bersama11. terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama. proses adaptasi juga harus diupayakan agar penghuni mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. sebagian besar masyarakat Indonesia telah terbiasa dengan pola hunian horizontal (landed housing).3 juta unit rumah pada tahun 2000 menjadi sebesar 7. Sementara itu setiap tahun terjadi penambahan kebutuhan rumah akibat penambahan keluarga baru rata-rata sekitar 820. dan Permukiman mereka terhadap perbaikan kualitas kehidupannya. Pengertian tersebut menjelaskan bahwa masyarakat yang tinggal di rusunawa harus membiasakan diri menggunakan fasilitas komunal. dkk. Pembangunan rusunawa utamanya diperuntukkan bagi masyarakat korban gusuran yang dulunya menghuni bantaran sungai. dan sebagainya. rusunawa dapat diartikan sebagai bangunan gedung bertingkat yang dibangun pada suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal maupun vertikal.000 unit rumah. Rusunawa juga merupakan satuan-satuan yang masing-masing unitnya dapat disewa secara terpisah.000 tower tersebut terbagi dalam dua macam rusun. Selain itu.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Oleh karena itu pemerintah mencanangkan program pembangunan 1.15 juta unit rumah yang perlu difasilitasi.Dari sini kemudian disadari perlunya penyiapan masyarakat penghuni rusun agar terbiasa/mampu beradaptasi dengan kondisi rumah yang tadinya tidak bersusun. cara mengorganisir diri dengan sesama komunitas penghuni. Tidak hanya terhadap bangunan fisik rusun semata.4 juta unit rumah pada akhir tahun 2009.

dan Randu Sidotopo adalah kurangnya komunikasi antara Pemerintah Pusat.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Jalan dan Jembatan. padahal hal ini jelas-jelas melanggar hukum. kualitas perumahan dan permukiman yang jauh di bawah standar kelayakan. 2000. Dari pendangan masyarakat. Sementara itu pada akhir tahun 2014 diperkirakan lebih dari separuh penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan sebagai akibat laju urbanisasi yang mencapai 4. Pengelola juga mengeluhkan sulitnya mengatur warga gusuran yang seringkali mempengaruhi penghuni rusunawa yang berasal dari kalangan masyarakat umum untuk tidak 28 . baik dalam hal jumlah penduduk maupun besaran wilayah (Rencana Strategis Kementerian PU tahun 2010-2014).3.4 % per tahun dan secara terus menerus telah melahirkan dynamic phenomenon of urbanization. serta mata pencaharian yang tak menentu telah memaksa meraka untuk tinggal di kawasan kumuh perkotaan (Widayanti.800 ha pada akhir tahun 2009. dan Permukiman Pembangunan/pengembangan unit baru diharapkan akan meningkat sebesar 2. Hal ini terjadi karena masyarakat tidak pernah dilibatkan dalam musyawarah untuk menetukan tarif sewa rusunawa oleh pemerintah. 5. Proses ini berakibat pada semakin besarnya suatu kawasan perkotaan. Rendahnya akses ke prasarana dan sarana lingkungan yang memadai.000 ha pada akhir tahun 2004 manjai 57.1 Permasalahan Sosekling dalam Penghunian dan Pengelolaan Rusunawa  Permasalahan Sosial Permasalahan yang mendasar dalam penghunian dan pengelolaan Rusunawa Penjaringan Sari. Pemerintah Daerah. serta warga masyarakat. Subkhan. Sementara itu berdasarkan data SUSENAS tahun 2007 masih terdapat 5. sehingga terdapat beberapa penghuni yang menyewakan rumahnya ke orang lain. permasalahan yang terjadi adalah penentuan tarif sewa yang memberatkan masyarakat. Dari jumlah tersebut hanya 17 juta rumah tergolong layak huni dan 34 juta masih tergolong tidak layak huni yang terbagi sebanyak 40% di perdesaan dan 60% di perkotaan.5% per tahun hingga tahun 2020. Hal ini mengakibatkan luas kawasan permukiman kumuh yang mencapai 54. Untuk pembangunan unit Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) dalam rangka penataan kawasan kumuh diperkotaan mencapai 18. Wonorejo. 2008).9 juta keluarga yang belum memiliki rumah.000 unit (2009) dari 200 unit di tahun 2005. Jumlah rumah saat ini hanya 51 juta unit. Tingginya laju urbanisasi ternyata juga berdampak khususnya bagi kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Permasalahan lain yang timbul adalah kurang ketatnya seleksi penghuni rusunawa. Belum adanya kesepakatan tertulis mengenai tanggung jawab pembiayaan operasional dan pemeliharaan rusunawa dalam tahap transisi mengakibatkan terjadinya saling lempar tanggung jawab pembiayaan ketika terjadi kerusakan pada bangunan fisik rusunawa yang mengakibatkan berlarutnya proses perbaikan.

 Permasalahan Ekonomi Penghuni yang berasal dari warga gusuran dihadapkan pada permasalahan mata pencaharian setelah menempati rusunawa. Namun di Rusunawa Wonorejo dan Randu Sidotopo fasilitas ini belum ada. Bercampurnya penghuni dari MBR serta dari masyarakat umum ini mengakibatkan rentan terjadi konflik diantara masyrakat. Mereka telah mengorganisir masalah pembuangan sampah melalui pembayaran iuran sampah setiap bulannya untuk membayar petugas kebersihan. dan Permukiman membayar iuran sewa. Wonorejo. Pihak Pemkot beserta UPTD sesekali juga melakukan inspeksi. penghasilan mereka berkurang karena tidak lagi memiliki usaha seperti sebelumnya.  Permasalahan Lingkungan Secara keseluruhan. Keamanan Masyarakat rusunawa secara bergiliran menjaga keamanan rusunawa melalui kegiatan ronda bergilir. Itulah yang menyebabkan mereka nekat melanggar peraturan yang melarang warga untuk berjualan di dalam rusun. seperti warung. Kebanyakan dari mereka memiliki usaha sendiri. Kondisi lingkungan yang didapat berdasarkan hasil survey adalah sebagai berikut: Kebersihan lingkungan Masyarakat penghuni rusunawa telah mampu menjaga lingkungan sekitar rumahnya dengan baik.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Padahal pihak UPTD juga telah memasang papan larangan untuk berjualan di dalam rusunawa. Padahal sebenarnya penghuni yang berasal dari kalangan umum ini mampu untuk membayar. Disamping itu di setiap pintu gerbang rusunawa juga ditempatkan petugas keamanan yang memantau lingkungan rusunawa setiap harinya. Kesehatan Rusunawa Penjaringan Sari telah menyediakan Puskesmas Pembantu yang berfungsi untuk melayani masyarakat dalam hal kesehatan. dan Randu Sidotopo. Namun setelah mereka pindah ke rusunawa. Tidak ada sampah yang dibiarkan berserakan di lorong-lorong rusunawa maupun di halaman. namun hal ini juga tak kunjung membuat jera masyarakat. tidak ada permasalahan lingkungan yang berarti di Rusunawa Penjaringan Sari. 29 . Jalan dan Jembatan. bengkel. dan usaha jahit menjahit ketika mereka tinggal di bantaran kali. Penghasilan mereka dari usaha tersebut masih bisa mencukupi biaya hidup sehari-hari karena lokasinya yang cukup strategis sehingga mudah diakses oleh konsumen.

secara garis besar peranan masing-masing stakeholder dalam penyelenggaraan rusunawa dapat dilihat dalam tabel berikut. Salah satunya menyatakan bahwa dibutuhkan pengetahuan yang berbeda (misalnya scientific dan lokal) serta diperlukan pendekatan yang berbeda. Tabel 1. Jalan dan Jembatan. Teori stakeholder lain menyimpulkan bahwa stakeholder bersifat managerial dan mengedepankan tingkah laku.3. Kondisi Lingkungan Rusunawa 5. Dalam penyelenggaraan rusunawa di Surabaya. serta pihak UPTD. Teori tentang elemen-elemen penting stakeholder juga meyakini bahawa selalu ada kolaborasi antara manajerial dengan stakeholder kunci. strrktur dan latihan-latihan yang membentuk filosofi manajemen stakeholder. yang menyadari bahwa pihak dari luar pemerintah dapat menjadi sumber pendapat maupun penerima pendapat. Di lain pihak. Sedangkan yang bertindak selaku secondary stakeholder adalah Direktorat Pengembangan Permukiman Ditjen Cipta Karya.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Berdasarkan hasil wawancara.2 Analisis Stakeholder Beberapa kajian mengenai stakeholder telah banyak dilakukan sebelumnya. partisipasi pemegang kepentingan (stakeholder) dalam perencanaan tata ruang komperehensif perlu diwadahi. Pemerintah Provinsi Jawa Timur. dan Permukiman Gambar 3. yang bertindak sebagai primary stakeholderadalah masyarakat penghuni rusunawa. dalam hal ini Dinas Pengelolaan Bangunan dan tanah Kota Surabaya. Peran Stakeholder dalam Penyelenggaraan Rusunawa Stakeholder PUSAT (Direktorat Pengembangan Permukiman) Peran  Melakukan pembinaan dan pengaturan rumah susun  Penyediaan Pengaruh  Menyerahkan kepada Pemerintah Daerah untuk melaksanakan sebagian urusan Kepentingan  Pembangunan rusunawa sangat tergantung pada anggaran dari pemerintah Kewenangan  Kekuatan pemerintah pusat terbatas pada pembuat kebijakan dan penyedia 30 . serta Pemerintah Kota Surabaya.

 Berperan dalam menentukan regulasi mengenai operasional dan pemeliharaan rusunawa  Memenuhi persyaratan dalam pengajuan bantuan pembangunan rusunawa  Menggusur dan memindahkan masyrakat dari bantaran kali ke rusunawa  Penentuan tarif sewa merupakan kewenangan Pemda. PEMDA (Pemprov Jawa Timur. akan tetapi bila tidak disepakati oleh masyarakat. Pemkot Surabaya)  Menetukan kriteria penghuni rusunawa  Menentukan besaran tarif sewa rusunawa. dan Permukiman Stakeholder Peran anggaran untuk pembangunan rusunawa. Sehingga apabila ada kebijakan yang tidak sesuai. Jalan dan Jembatan. Pengaruh pengaturan dan pembinaan rumah susun Kepentingan pusat Kewenangan anggaran. posisi Pemda menjadi lemah karena masyarakat menolak dan Pemda tidak bisa melakukan apapun ntuk memaksa  Di mata masyarakat. maka pengelolalah yang pertama kali akan Pengelola Rusunawa (UPTD)  Melaksanakan operasi dan pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana rusunawa  Melakukan pengawasan dan menjamin ketertiban dan kemanan penghuni serta penggunaan bagian  Menjembatani hubungan antara Pemerintah Daerah dengan penghuni rusun  Menentukan terjalinnya hubungan baik antara pemerintah daerah dengan penghuni rusunawa  Menentukan tersalurkannya aspirasi penghuni rusun 31 . pengelola merupakan gambaran dari pemerintah daerah.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA.

pemerintah tidak bisa memaksa mereka. Namun pemerintah perlu lebih detail lagi 32 . Jalan dan Jembatan. karena harus mengakomodir keinginan dari pemerintah daerah dan masyarakat yang samasama kuat. karena ketika masyarakat menolak untuk membayar iuran sewa. Masyarakat  Menempati rusunawa. Sehingga posisi pengelola di sini sangat lemah. dan tanah bersama  Memberikan laporan berkala terhadap Pemerintah Kota Surabaya mengenai permasalahan dan kendala yang dihadapi. memelihara fasilitas bersama. dan Permukiman Stakeholder Peran bersama.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. membayar iuran. dapat dilihat bahwa pemerintah pusat sebagai pemegang kuasa penuh atas anggaran pembangunan rusun dan penetapan peraturan yang terkait rumah susun. benda bersama. Pengaruh Kepentingan Kewenangan menghadapi serangan langsung dari masyarakat.  Masyarakat berada pada posisi yang kuat.  Kesediaan masyarakat untuk membayar iuran sewa berpengaruh terhadap OP rusunawa  Bersedia atau tidaknya masyarakat korban gusuran untuk menempati rusunawa dan tidak kembali ke bantaran sungai mempengaruhi keberhasilan program penanganan kawasan kumuh  Menentukan berjalan atau tidaknya iuran sewa untuk biaya operasional rusun  Menuntut adanya musyawarah dalam penentuan besaran iuran sewa rusunawa. Berdasarkan tabel tersebut.

Meskipun demikian. Tugas ini juga telah dilaksanakan sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Kota Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya telah menyediakan anggaran untuk pengelolaan dan penyediaan fasilitas umum rusunawa sebesar Rp. Jalan dan Jembatan. standar. bersih. sehingga tidak akan terjadi kesalahpahaman mengenai regulasi pengelolaan rusun. Pemerintah Pusat dapat menyerahkan sebagian urusan dan pembinaan rumah susun kepada Pemerintah Daerah. mengatur warga. pedoman dan kriteria yang terkait dengan program peremajaan kawasan kumuh perkotaan dan pembangunan Rusunawa. Kegiatan fasilitasi tersebut dilakukan melalui evaluasi pelaksanaan program peremajaan kawasan kumuh perkotaan yang sedang dilaksanakan serta melakukan pengendalian dan pengawasan atas kepatuhan terhadap norma. serta pemeliharaan rusun. sebagaimana yang terjadi saat ini dimana pemerintah belum optimal menganggarkan pengelolaan rusun. nyaman. pendanaan untuk kegiatan yang bersifat fisik masih tetap berada pada tangggung jawab pemeritah pusat. Sejauh ini pihak UPTD telah melaksanakan tugasnya dengan sebagai penyambung antara Pemerintah Kota Surabaya dengan warga penghuni rusun. anggaran ini tidak mencukupi. aman. yaitu memberikan dukungan lengkap dengan pembiayaannya dalam penyelanggaraan rusunawa serta menyosialisasikan pembangunan dan penghunian rusunawa yang lebih tertata. Namun pada pelaksanaannya. serta permasalahan yang terjadi. dan Permukiman dalam menjelaskan role sharing dengan Pemerintah Kota Surabaya. Ruang lingkup kegiatan Pemerintah Provinsi Jawa Timur adalah memfasilitasi proses peremajaan dan perbaikan permukiman kumuh. ruang lingkup kegiatan Pemerintah Pusat adalah membantu program penanganan kawasan kumuh yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surabaya dengan membangun rusunawa beserta kelengkapannya sesuai Spesifikasi Teknik Bangunan Rusunawa Direktorat Jenderal Cipta Karya. Tugas tersebut telah dilaksanakan sepenuhnya oleh Pemerintah Pusat ketika Pemerintah Kota Surabaya mengajukan permintaan bantuan pembangunan rusunawa. sehingga seringkali ada kerusakan rusunawa yang lambat ditangani karena harus melalui prosedur yang cukup panjang ketika mengajukan permintaan dana untuk perbaikan pada pemerintah pusat. maupun permasalahan yang menyangkut warga. operasional. serta melakukan sinkronisasi kegiatan yang menjadi kewajiban Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kota Surabaya. Pembangunan ini dilaksanakan berdasarkan surat permohonan dari pemerintah daerah. Dalam hal ini pihak UPTD dituntut memiliki kemampuan mediasi. serta menyampaikan aspirasi warga. Sedangkan Pemerintah Kota Surabaya juga harus memahami sejauh mana tanggung jawab mereka terhadap pengelolaan. Pembiayaan yang disebutkan dalam MoA ini hanya mencakup pembiayaan dalam penyediaan fasilitas umum saja. Pemeirintah Kota 33 . 7 milyar/tahun. sesuai ketentuan yang berlaku. baik menyangkut permasalahan sarana dan prasarana.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Berdasarkan apa yang telah disepakati dalam Memorandum of Agreement (MoA). Di dalam MoA juga disebutkan ruang lingkup kegiatan Pemerintah Kota Surabaya. Sesuai Undang-Undang Nomor 16 tahun 1985 tentang Rumah Susun. Di samping itu Pemerintah Provinsi juga berkewajiban melakukan koordinasi dan konsultansi dalam penyelenggaraan Rusunawa yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kota Surabaya.

dan sebagainya. tiadanya proses seleksi merupakan salah satu faktor penyebab mengapa penduduk golongan ekonomi menengah ke atas bisa menyewa rusunawa. Oleh karena itu. baik pemerintah pusat maupun daerah tidak akan saling melepas tangan dalam menanggung biaya operasional dan pemeliharaan. Surabaya. tingkat kesiapan penghuni dan pengelola rusunawa berada pada kategori Dukungan Kolektif.3 Kesimpulan Hasil dari kajian menunjukkan bahwa secara normatif. sehingga pada saat rusunawa berada dalam tahap transisi. bahasa. 5.3. Dari perspektif sosial dan lingkungan. lambatnya proses serah terima rusunawa sebagai sebuah aset dari pemerintah pusat ke pemda hingga menyebabkan minimnya (atau bahkan tiadanya) APBD untuk perawatan bangunan rusun. Meskipun karakteristik sosial ekonomi para penghuni cukup homogen (ditandai dengan kesamaan latar belakang geografis. Bandung. mereka enggan membayar sewa karena merasa tarif yang dibebankan terlalu tinggi. Randu. dalam MoA perlu diperjelas mengenai aspek batas waktu dalam pendanaan pengelolaan. masih menjadi kendala terwujudnya kesiapan masyarakat penghuni secara seutuhnya. berjalannya sistem keamanan lingkungan (siskamling). namun karena belum banyak yang menyadari bahwa kesamaan tersebut dapat didayagunakan menjadi basis kelembagaan. dan nilai-nilai lokal lainnya). Namun kegiatan ini tidak berjalan optimal karena sebagian besar warga penghuni rusunawa yang berasal dari golongan masyarakat berpenghasilan rendah tidak mampu membayar. kewajiban yang tercantum dalam undang-undang maupun yang tertuang dalam perjanjian (MoA) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah telah dilaksanakan oleh masing-masing stakeholder. namun dalam implementasinya Pemerintah Kota Surabaya masih kurang memahami pembagian kewajiban yang tersirat dalam pasal-pasal perjanjian (MoA). Sebagian besar warga korban gusuran yang tinggal di Rusunawa Wonorejo. Hal ini dikarenakan cukup memadainya tingkat sosial ekonomi penghuni yang bersangkutan. 34 . dan Penjaringansari kota Surabaya. Mereka menginginkan adanya dialog antara pemda dengan 12 Di beberapa lokasi rusunawa. untuk menghindari perbedaan penafsiran. khususnya di kota-kota metropolitan seperti Jakarta. Menurut wawancara yang dilakukan oleh Tim Peneliti Puslitbang Sosekling. maka kelembagaan penghuni rusun belum dioptimalkan agar dapat berperan menjadi mediator ke pemerintah (terutama jika para penghuni menemui kendala dalam penghunian dan pengelolaan rusun). dan Permukiman Surabaya juga telah menetapkan iuran sewa yang diatur dalam Peraturan Walikota Surabaya Nomor 59 Tahun 2010. belum tercapainya kesepakatan antara penghuni –khususnya para korban gusuran – dengan pemkot mengenai iuran bulanan yang affordable. belum optimalnya proses seleksi penghuni12. Hal ini diindikasikan dengan adanya paguyuban penghuni. Jalan dan Jembatan. pengurus musholla. masih kerap dijumpai penghuni yang “tidak pantas” menempati Rusunawa. Selain itu. Oleh karena itu dalam perjanjian antara pemerintah pusat dengan Pemerintah Kota Surabaya perlu dijelaskan secara lebih rinci mengenai pembagian tugas pendanaan selama rusunawa tersebut berada dalam masa transisi. dan Makassar. diketahui bahwa kemampuan adaptif penghuni dalam menghuni dan mengelola fasilitas komunal sudah cukup baik. Masih minimnya dukungan dari pemkot Surabaya.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. mata pencaharian.

Di samping arus globalisasi. kepala pemerintahan. while social development without economic progress is not feasible” . Kutipan di atas merupakan salah satu topik wacana yang merebak dalam perhelatan internasional World Economic Forum yang dihadiri para pelaku bisnis. serta pakar dari berbagai negara pada tanggal 12 – 13 Juni lalu di Jakarta. Guna mencapainya. sehingga tarif yang berlaku merupakan hasil kesepakatan antara kedua belah pihak. Memang kurang tepat rasanya jika kebijakan pembangunan hanya bertumpu pada salah satu aspek saja tanpa memperhatikan aspek lainnya. Pembangunan yang terlalu mengejar target pertumbuhan ekonomi semata tanpa mengindahkan sisi manusia dan kelestarian lingkungan. investasi besar-besaran pada aspek SDM tanpa berfokus pada pencapaian kesejahteraan ekonomi juga tidak akan menghasilkan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. minimnya pembinaan selama proses penghunian. Dari hasil analisis data dan pembahasan. tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. hingga belum siapnya peran fasilitasi yang terintegrasi untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi penghuni mau tidak mau berpotensi menghambat target nasional dalam pengentasan kawasan kumuh di perkotaan. Jalan dan Jembatan. Di samping kendala tersebut. Berbagai kondisi lokalitas masyarakat hendaknya jangan dijadikan 35 .1 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan “E conomic progress without social development is not sustainable. dan Permukiman penghuni sebelum tarif ditetapkan. Selain dibutuhkan keterpaduan aturan dan kebijakan ( comprehensiveness) di tingkat pemerintah. Gambar 4. Pos Siskamling di Rusunawa Wonorejo sebagai Wujud Adaptasi Penghuni dalam Mengelola Lingkungan VI. dapat kita garisbawahi kembali betapa peliknya kondisi dan tantangan infrastruktur nasional ke depan.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. masyarakat juga harus disiapkan untuk turut berpartisipasi (inclusiveness). 5. deal-deal di tingkat regional juga menuntut pembenahan kondisi infrastruktur kita untuk lebih mempercepat ketertinggalan bangsa. atau sebaliknya.

Misal: dengan menyampaikan keluhan mereka kepada mantri hingga lurah. Jadi dapat disimpulkan ada perubahan kondisi sosial. Persepsi Masyarakat terhadap Keberadaan Infrastruktur PU – Masyarakat mempersepsikan keberadaan infrastruktur PU dalam berbagai perspektif. Sebaliknya. Ada yang menolak secara terang-terangan dengan mengorganisir diri secara kolektif (membentuk Jamaah Korban Pembangunan Jalan Tol atau JKPT). Jalan dan Jembatan. hendaknya kita dapat mengenali karakteristik masyarakat sehingga dapat dirumuskan strategi penyiapan yang selaras dengan berjalannya pembangunan itu sendiri. maka solusi temporal biasanya hanya diberikan oleh mantri pengairan. – Sebelum ada rencana pembangunan jalan tol. Kondisi Sosekling Masyarakat Sebelum dan Sesudah Infrastruktur PU Dibangun – Kondisi sosekling masyarakat mempengaruhi kesiapan dan pola adaptasi mereka. Namun. masyarakat yang belum menerima informasi secara utuh menyatakan protes dengan cara menghimpun diri membentuk JKPT. – Sebelum ada rencana modernisasi irigasi. ada pula yang komplain dan apatis (seperti para penghuni rusunawa yang tidak puas dengan penetapan tarif rusun secara sepihak oleh pemkot Surabaya). dan Permukiman hambatan bagi tercapainya sasaran pembangunan. – Sebelum dipindah ke rusunawa. melalui aktivitas litbang yang memadukan aspek sosekling. kapasitas. mayoritas penghuni tinggal di kawasan kumuh bantaran kali. karena minimnya channel ke tingkat pemda. Tetapi ketika sudah mulai diinformasikan (meskipun belum dilakukan sosialisasi secara transparan dan terstruktur) rencana pembangunan jalan tol di ruas Mojokerto-Kertosono Kab. kondisi sosek masyarakat cenderung “adem ayem”. ada yang mendukung (sebagian warga terkena dampak sudah sadar akan arti pentingnya infrastruktur publik. Dan lingkungan Meskipun secara sosekling. bukan solusi masif oleh pemda. Jombang. sudah ada adaptasi dan peningkatan kapasitas kolektif. namun secara struktural hubungan vertikal antara penghuni dengan pemkot Surabaya masih belum memberikan pengaruh signifikan dalam mendukung proses penghunian dan pengelolaan. Hal ini dibuktikan dengan beragamnya respon masyarakat terhadap jenis infrastruktur yang ada/hendak dibangun. masyarakat sudah beradaptasi dan menggunakan kemampuan kolektifnya untuk memecahkan persoalan terkait OP irigasi. masih belum sepenuhnya memahami esensi modernisasi). kelompok P3A dan anggotanya juga berkeinginan untuk mendukung program modernisasi irigasi meskipun secara knowledge.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. dan pemahaman. 36 .

yaitu: – Modernisasi Irigasi yang dilakukan sebaiknya tidak hanya menekankan pada aspek fisik semata tetapi juga modernisasi sosekling masyarakat dan kelembagaannya. sosial. dan Permukiman Faktor Penyebab Belum Siapnya Masyarakat untuk Mendukung Pembangunan Infrastruktur PU Dari hasil analisis. serangkaian strategi perlu diambil oleh pemerintah. guna mengatasi hal ini.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. tetapi juga bagaimana menyadarkan masyarakat untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber air  Penguatan kapasitas pemda dalam melakukan fasilitasi rencana modernisasi (di berbagai lini. dan lingkungan)  Pemetaan/identifikasi kondisi dan potensi buruh tani  Pelibatan buruh tani dalam program-program pengembangan ekonomi lokal  Pengembangan peluang dan inovasi pembiayaan OP  Pemberdayaan/peningkatan pembiayaan OP partisipasi pemda dan masyarakat dalam  Eksplorasi dan optimalisasi potensi sosekling kabupaten dalam rangka menunjang sektor pertanian dan pengembangan ekonomi wilayah  Pemberdayaan petani pascamodernisasi dan kelompok P3A dalam OP jaringan  Pemberdayaan dan peningkatan komitmen stakeholder daerah melalui fasilitasi serta pemberian kemudahan akses sumberdaya khususnya terkait pertanian baik dari pemprov maupun pusat  Peningkatan kapasitas (manajemen keuangan/kredit) kelompok P3A untuk turut serta dalam reaktivasi KUD  Optimalisasi kinerja pemerintah kabupaten sebagai pihak yang langsung bersentuhan dengan masyarakat 37 . diketahui bahwa terdapat 3 (tiga) faktor penyebab belum siapnya masyarakat untuk mendukung pembangunan PU. ekonomi. beberapa strategi dan alternatif kebijakan telah dirumuskan sebagai berikut:  Sosialisasi yang lebih efektif guna memberikan pemahaman kepada petani dan P3A mengenai esensi dan tanggungjawab yang harus dilakukan dalam rangka modernisasi irigasi  Sosialisasi tidak hanya dilakukan dalam aspek infrastruktur semata. yaitu: – Belum siapnya individu – Minimnya kohesivitas (kolektivitas) – Kurangnya dukungan kelembagaan stakeholder/mekanisme delivery Strategi untuk Mengkondisikan Masyarakat dan Kelembagaan Stakeholder Guna Mendukung Pembangunan Infrastruktur PU Untuk itu. Untuk mencapainya. Jalan dan Jembatan.

misal: kemudahan pencatatan akta notaris. pelaksana proyek juga perlu mentaati dan menjalankan Peraturan Kepala BPN seutuhnya.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Jalan dan Jembatan. dsb. 38 . Aspek transparansi informasi dan berbagai solusi mengatasi dampak sosekling sebetulnya sudah dicakup dalam AMDAL yang disusun. bantuan permodalan. dan Permukiman  Peningkatan kapasitas dan kinerja aparat desa dan mantri sebagai fasilitator antara petani dengan pemda  Pembuatan peraturan daerah (perda) yang mengatur jumlah industri di sepanjang sungai  Pemberlakukan sanksi yang tegas (disinsentif) bagi industri/pabrik yang mencemari lingkungan/perairan  Penggalakan sekaligus peningkatan kinerja KUD di desa-desa lain  Pemberian insentif bagi petani/P3A yang menjadi anggota KUD  Fasilitasi pendirian KUD melalui berbagai bentuk kemudahan/insentif. Beberapa alternatif kebijakan dan strategi untuk meningkatkan kesiapan masyarakat yaitu  Pemerintah dapat mengadaan kemitraan dengan masyarakat yang terkena dampak baik dalam proses konstruksi maupun dalam perawatan di masa depan. dsb  Kerjasama dengan kabupaten lain untuk mendirikan kawasan industri terpadu (industrial cluster) namun terlebih dahulu disiapkan perangkat peraturannya seperti MoU. komitmen antara pemkab dengan swasta/industri. Selain itu. mendalam. penyediaan lumbung dan peralatan.  Pemberdayaan dan pemberian akses (pengaduan) petani. Kerjasama tersebut dapat berupa penentuan titik rest area beserta pengelolaaanya sehingga masyarakat tetap mempunyai mata pencaharian untuk hidup  Pelibatan unsur masyarakat dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan musyawarah mengenai harga tanah  Bersama tim appraisal melakukan musyawarah dengan masyarakat terkait besarnya nilai ganti rugi yang akan diberikan  Melibatkan masyarakat dalam upaya pengembangan ekonomi lokal. peraturan bersama/pergub. dan  Pelaksanaan proses pra konstruksi dan konstruksi sesuai dengan dokumen AMDAL yang telah tersedia.  Penyusunan dokumen AMDAL yang lebih mengeluarkan UKL/UPL yang lebih realistis detail. serta aparat desa untuk mampu menolak keberadaan pabrik yang mencemari sungai/sumber air irigasi – Dalam pembebasan lahan jalan tol Trans Jawa perlu “merangkul” LSM dan masyarakat dengan mengeksplorasi pola-pola kemitraan yang sesuai. namun dalam pelaksanaannya harus lebih dipantau agar sesuai dengan apa yang dirumuskan. Hal ini penting karena LSM lah yang selama ini mendampingi WTP. kelompok P3A.

 Penyediaan area di rusunawa yang dikhususkan sebagai lokasi perdagangan/usaha bagi masyarakat penghuni rusunawa yang berwirausaha. Selain itu.  Mengadakan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan penghuni rusunawa dalam pengelolaan.  Meningkatkan kapasitas UPTD sebagai mediator antara Pemerintah kota. Tidak hanya diperuntukkan bagi penghuni. dsb. warga dan  Kesepakatan mengenai pembiayaan OP rusunawa pada masa transisi dalam Memorandum of Agreement (MoA)  Optimalisasi kinerja UPTD sebagai pihak yang langsung bersentuhan dengan masyarakat  Percepatan reformasi kebijakan dalam bidang permukiman pada berbagai level pemerintahan. misal: kemudahan pencatatan akta notaris. beberapa stakeholder di lingkup pemkot Surabaya yang terlibat dalam pengelolaan ketiga rusunawa ini perlu duduk bersama paguyuban penghuni dalam penentuan tarif.  Pemberdayaan masyarakat dalam OP rusunawa  Melakukan dialog secara rutin antara pemerintah dengan penghuni rusunawa. UPTD dapat “mempromosikan” ruang tersebut untuk dikomersilkan kepada swasta (bank. entrepreneurship.  Peningkatan sarana dan prasarana rusunawa. dll. agar pengguna rusunawa lebih tepat sasaran. dll) dalam rangka pencarian sumber biaya untuk pemeliharaan gedung. – Dalam kasus penghunian dan pengelolaan rusunawa.  Memperkuat peran UPTD dalam memfasilitasi musyawarah antara penghuni dengan Pemerintah Kota Surabaya mengenai penentuan tarif sewa. bantuan permodalan. khususnya daerah  Pemberlakukan sanksi yang tegas (disinsentif) bagi industri/pabrik yang mencemari lingkungan/perairan  Fasilitasi pendirian Koperasi melalui berbagai bentuk kemudahan/insentif. khususnya bagi pemerintah daerah  Mengopimalkan kinerja pemerintah daerah sebagai pihak yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Jalan dan Jembatan. 39 . toko.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Disamping itu. beberapa alternatif strategi lain yang dapat dipertimbangkan sebagai bahan pengambilan kebijakan antara lain:  Mempercepat proses serah terima aset rusunawa antara Pemerintah Pusat dan Daerah.  Memberikan tanggungjawab kepengurusan organisasi masyarakat (paguyuban penghuni) tidak hanya dari kalangan umum tetapi juga dari warga gusuran. kedepan perlu dirumuskan metode seleksi dan penyiapan penghuni yang sesuai. dan Permukiman  Penetapan regulasi yang jelas terkait masalah pembebasan lahan.

Jalan dan Jembatan. Contoh. maka Tim tidak menggunakan teknik survey untuk memperoleh data primer. seperti misal: (1) dapat mengisi gap minimnya studi tentang kesiapan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur PU yang belum pernah dilakukan oleh peneliti/pakar sebelumnya. dan Permukiman 5. (2) karena sifatnya studi kasus. guna penyempurnaan kegiatan ini pada tahun depan. perlu disusun terlebih dahulu strategi yang sesuai untuk menggunakan teknik survey dalam berbagai konteks kasus. Seperti misal: karena sensitifnya isu pembebasan lahan. pembebasan lahan jalan tol di ruas yang lain. modernisasi irigasi di DI lain. serta (3) simplifikasi teori kesiapan masyarakat yang digagas oleh Pentz (1991) dalam Edwards (2005) dapat dijadikan sebagai acuan bagi aplikasi-aplikasi pembangunan infrastruktur PU di lain bidang dan subsektor. Namun Tim tetap mengakui bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. misalnya. komprehensifnya pendekatan yang diambil (sosial. 40 . ekonomi. Hal ini dirasa belum maksimal. rekomendasi yang dikeluarkan dapat digunakan untuk infrastruktur sejenis di lokasi yang berbeda. maka dalam penelitian ini belum dapat dilakukan generalisasi secara maksimal. disarankan agar sebelum melakukan penelitian lapangan. maka penelitian ini mampu menggali permasalahan di lapangan dengan sangat detail. karena secara prinsip kedudukan dan karakteristik infrastruktur yang menjadi studi kasus berbeda (antara irigasi yang merupakan common pool resources. hingga rusunawa yang merupakan mix antara public dan private goods). Untuk itu. Namun. terutama jika ingin mengukur validitas informasi yang diperoleh (pendekatan yang saat ini digunakan masih terlalu kualitatif). jalan tol yang merupakan private goods.2 Saran Di balik beberapa kelebihan yang dapat Tim tawarkan dari penelitian ini.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. dan lingkungan) juga menjadi kekuatan studi ini. Selain itu. serta penghunian dan pengelolaan rusunawa di Makassar.

S. W. http://time.id/index. Aligica.htm&ndate=7/31/2 006%202:04:57%20PM. (2003) Korban-korban pembangunan: Tilikan terhadap Beberapa Kasus Perusakan Lingkungan di Tanah Air. R. E. P. L. (1994)Research Design. Departemen PU (2006)Dekonsentrasi Pembangunan Infrastruktur Perlukan Sinergi Pusat Dengan Daerah. Modernisasi Irigasi. Jalan dan Jembatan. E. From Government to Governance: A State-of-The-Art Review of Environmental Governance. (2003). G.. Selama. Davidson.edu.sciencemag.. Donaldson. Arif. dan Permukiman DAFTAR PUSTAKA Adams. S. Environmental Stewardship. and Implication ”. (2006)Institutional and Stakeholder Mapping: Frameworks for Policy Analysis and Institutional Change. and Moraru. SCIENCE Vol. Departemen pertanian. Prepared for Alberta Environment. C. (1995)“The Stakeholder Theory of The Corporation: Concepts. S. et. Evidence. www. Departemen PU(2005)Peran PU dalam Pembangunan Infrastruktur . J. D. (2006) 6: 79–90. TheSocial Rate of Return on Infrastructure Investment .D.) (2003)Infrastruktur Indonesia: Sebelum. de Loe.pu. (ed. Canning. Dikun.New Left Review 26: 5-34. http://www.. (2009)Pengelolaan Sumber Daya Air. ON: Rob De Loe Consulting Services.pdf. Jakarta: Direktorat Jenderal Cipta Karya.org. Plummer.go. L. 12 Agustus 2003. Public Organiz Rev. Jakarta. Davis. R. Anwar. Guelph. 302. 20(01): 6591. Creswell. 41 .cn/jingjiwencong/waiwenziliao/wps2390.go. Makalah disajikan dalam pertemuan singkat di Balai Besar Keteknikan Pertanian. (2004) "Planet of slums: urban involution and the informal proletariat"..asp?site_id=01020100&noid=9.asp?site_id=001&news=ppw310706rendi. S. Qualitative and Qualitative Approaches . 2009. T. S. Jakarta: Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Final Report. http://www.M. Pembaharuan Kebijakan Pengelolaan Irigasi (PKPI) dan Kebutuhan Riset Tentang Irigasi di Masa Depan . Armitage.W. and Preston. Aditjondro. Direktorat Jenderal Cipta Karya (2010)Memorandum of Agreement tentang Penyelenggaraan Bantuan Pembangunan Rumah Sususn Sederhana Sewa Berikut Prasarananya..(2003)Managing Tragedies: Understanding Conflict over Common Pool Resources. dan Pasca Krisis.id/2nd_index_produk.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Asian Development Bank (2010)Indonesia: Critical Development Constraints. California: SAGE Publication Inc. D.J. Environmental Relations. Manila: ADB.pu. & Bennathan. diakses tanggal 30 Oktober 2007. Country Diagnostics Studies. M.al. diakses tanggal 30 Oktober 2007. Academy of Management Review.dufe. Jakarta: PT Media Saptakarya.

Inc. (2008)Knowledge.et. http://mpra. Kota Ambon .id/2nd_index_produk. Providing Resources Fighting Poverty Restoring Dignitiy .edu/sul/21. dalam Huxham. http://surface. 196. Journal of Community Psychology. M. M. (2001)Issues in Infrastructure Development Today: The Interlinkages. diakses tanggal 1 Desember 2011. and Practice (KAP) Survey Summary Report for the Duluth Lakeside Stormwater Reduction Project (LSRP) .go. (1984)Qualitative Data Analysis.id/berita/342-workshop. Vol. E. & Sjarief. http://sosekling. Polski. (2009) „Actor analysis methods and their use for public policy analysts‟. European Journal of Operational Resarch.A. R. Hess. R. Iqbal. Edwards.(2000)“Community readiness: Research to practice ”. Library Publications. pp. Morris. Kodoatie.ub. L.Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. E.al. B. Indiana University. Miles. & Ostrom. Paper prepared for the ABCDE (Annual Bank Conference on Development Economics).uni-muenchen. California: SAGE Publication.H. K. Kementerian PU (2008)Kontribusi Sektor ke-PU-an terhadap Pertumbuhan Ekonomi. RJ. A. & Suleman. C.. (2004)Infrastructure and Development. 28(3). http://www. Inc. India Infrastructure Report. (2010)Indonesia: Critical Constraints to Infrastructure Development. Paper 21. de (1996) „Inter-Organizational Collaboration in the Policy Preparation Process‟.M. Laquian. (1999) An Institutional Framework for Policy Analysis and Design. &Ostrom. R. (eds) Creating Collaborative Advantage . (2010)Kriteria Rusunawa Untuk Permukiman Kembali (Resettlement) Masyarakat tepian Sungai Desa Batu Merah. Washington.go. London: SAGE Publications Ltd. A.syr. Prud‟homme. dan Permukiman Eckman. W. 67/2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur. 808 – 818. & Santosa.pu. Surabaya: Institut Teknologi Surabaya. H. C. Washington: Woodrow Wilson Center Press. Hamid. Jalan dan Jembatan. W. Perpres No.pu. A. 42 dalam Pembangunan . 291-307. dan Thissen. Water Resources Center University of Minnesota. S.asp?site_id=01020100&noid=23. R. Hermans.(2005) "A Framework for Analyzing the Knowledge Commons: a chapter from Understanding Knowledge as a Commons: from Theory to Practice ". Phillips. Yogyakarta: Penerbit Andi. Puslitbang Sosekling (2011)Urgensi Pemetaan Sosekling Infrastruktur.(2005)Beyond Metropolis: The Planning and Governance of Asia's Mega Urban Regions.pdf. (2003)Stakeholder Theory and Organizational Ethics . & Walker. A. Jong. M. Z. R. 2004. Jeddah: Islamic Development Bank. M. May3-5. Attitudes. A.de/24427/1/iir2. Workshop in Political Theory and Policy Analysis. & Huberman. San Fransisco:BerrettKoehler Publishers. (2008)Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu . Makalah dalam Seminar Nasional Pascasarjana X tanggal 4 Agustus 2010.

38 Tahun 2004 tentang Jalan.org/index. Yin. 1997. S. &Widjaja. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Kota untuk siapa?. 22 – 24 Februari 2010. Number 3. Opinion . Wednesday 11/03/2010. UU No. Vilanova. (1993). September. Tellis. The Jakarta Post. Tanuwidjaja. (2006)[Menyiasati] Kota Tanpa Warga. UU No. L. International Journal of Qualitative Methods 6 (2) June 2007. Newbury Park. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun VanWynsberghe. UU No. & Khan. Widyaningrum.9. Volume 3. UNESCAP (2010)Regional Exposure Workshop on Pro-poor and Sustainable Solid Waste Management in Secondary Cities and Small Towns . 27 Mei 2010: Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra. UU No. Surabaya. UNESCAP (2006)Enhancing Regional Cooperation in Infrastructure Development including that related to Disaster Management . UnitedNations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP). Yogyakarta: Penerbit ANDI. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman UU No. (2010)In search of best infrastructure development. N. J. M. A. (2010)Integrasi Tata Ruang dan Tata Air Untuk Mengurangi Banjir di Surabaya . The Qualitative Report. G.php/artikeldanopini/kemiskinan/110-kota-untuk-siapa. Z. IM. 25(02): 146-162. dan Permukiman Santoso. J. Applications of case study research . Jakarta: Penerbit KPG dan Centropolis. R.. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi. Wirartha. Prosiding Seminar Arsitektur (di) Kota Tahun 2010: Hidup dan Berkehidupan di Surabaya .Executive Summary Kajian Kesiapan Masyarakat untuk Pembangunan Infrastruktur PU Bidang SDA. Jalan dan Jembatan. Jun 2007. 43 . 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air. 2006. UU No. (1997) “Application of a Case Study Methodology”. http://akatiga. diakses pada tanggal 3 Desember 2011. Bangkok: United Nations. R.European Management Journal.U. (2007) “Redefining Case Study”. Jurnal Kemanusiaan bil. CA: Sage Publishing. (2007) “Case study as a reseach method”. Zainal. W. (2007)“Neither Shareholder nor Stakeholder Management: What Happens When Firms Are Run for Their Short-Term Salient Stakeholder?”. Dhaka. Sibarani.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful