You are on page 1of 5

VI.

Pembahasan Praktikum kali ini yang bertujuan untuk mengidentikfikasi zat dalam suatu sampel yang belum diketahui dan menetapkan kadarnya ( kadar yang akan di ketahui yaitu Cl-) Sebelum memulai praktikum, sebaiknya kita mengecek terlebih dahulu alat yang akan digunakan terutama kebersihannya, karena jika alat yang akan digunakan tidak bersih maka akan mempengaruhi pada percoban yang kita lakukan. Karena jika kebersihan tidak diperhatikan ada kemungkinan jika pada alat yang akan kita gunakan masih terdapat kotoran (zat sisa yang masih menempel pada alat) kemungkinan besar kotoran tersebut dapat mempengaruhi sampel yang kita gunakan dan dapat bereaksi dengan larutan yang akan kita teliti, sehingga hal-hal yang tidak di inginkan dapat terjadi, misalnya kesalahan yang di lakukan akan menjadi semakin besar. Karena kemungkinan ion yang masih menempel pada alat akan bereaksi dengan ion yang akan kita teliti sehingga jumlah ionnya bertambah ataupun berkurang. Sebelum kita melakukan praktikum mencari berapa besar Normalitas Cl yang terkandung dalam sampel yang kita uji, terlebih dahulu kita harus membakukan larutan AgNO3 terlebih dahulu, karena hasil dari pembakuan AgNO3 nilai perhitungan normalitasnya akan digunakan untuk mennentukan berapa besar Normalitas Cl- yang terkandung dalam sampel kita. Membakukan AgNO3 dilakukan minimal sebanyak tiga kali dengan berat NaCl yang sama ataupun berbeda-beda sampai didapatkan voleme AgNO3 yang digunakan minimal dua kali percoban volumenya sama atau perbedaannya tidak terlalu jauh, tetapi ketika volume AgNO3 yang digunakan perbedaan volumenya terlalu jauh maka pembakuan tersebut harus terus dilkukan sampai mendapatkan volume asam oksalat yang diinginkan.
-

Dalam melakukan titrasi, hal ini tidak lepas dari yang namanya indikator, karena indikator merupakan suatu zat yang harus digunakan dalam titrasi, dan indikator ini merupakan zat yang dapat menunjukan titik akhir titrasi dimana titrasi harus segera dihentikan. Indikator yang digunakan pada titrasi argentometri ini yaitu K2CrO4 karena titrasi ini merupakan titrasi ion logam. Setelah semua ion klorida dalam analit habis bereaksi dengan ion Ag . maka kelebihan ion perak sedikit saja akan bereaksi dengan indikator. Reaksi yang terjadi yaitu :
+

AgNO3 + K2CrO4 (indikator) = Ag2CrO4(s) (endapan merah) + KNO3 Dengan timbulnya warna merah bata pada larutan, maka titrasi harus segera dihentikan karena titik akhir titrasi sudah tercapai. Jika kita menimbang NaCl dengan berat yang sama maka kita harus melakukan uji Q, uji Q ini bertujuan untuk menentukan data yang layak untuk digunakan dan data yang tidak layak untuk digunakan (dibuang). Adapun rumus yang digunakan untuk menentukan uji Q yaitu sebagai berikut: Harga terkecil: Q = Harga terbesar : Q = Dan hasilnya semua data yang di dapatkan di pergunakan, karena dari ketiga data yang diperoleh, Q hitungnya lebih kecil dari pada Q tabel. Setelah uji Q selesai dilakukan dan mendapatkan dan mengetahui dta mana yang akan digunakan dan dta mana yang akan dibuang, maka selanjutnya yaitu kita menghitung Normalitas AgNO3 dengan menggunkan rumus: V.AgNO3 x N.AgNO3 Setelah selesai menghitung Normlitas dari AgNO3, maka hasilnya akan digunakan untuk menghitung Normalitas dari sampel yang akan kita uji. Setelah Normalitas AgNO3 diketahui maka selanjutnya kita akan menentukan kadar sampel Cl- yang akan kita uji. Caranya yaitu dengan memipet 10 ml asam cuka kemudian di encerkan dengan aqua DM sebanyak 50 ml sambil ditambahkan indikator K2CrO4 sebanyak 2-3 tetes, karena indikator ini cocok untuk titrasi golongan logam, kemudian titrasi dengan menggunakan AgNO3. Percobaan ini dilakukan minimal sebanyak 3 kali dan volume AgNO3 yang digunkan dalam titrasi harus berdekatan atau sama, ketika volume AgNO3 yang didapatkan dari hasil titrasi masih berjauhan maka percobaan terus dilakukan sampai menemukan volume AgNO3 yang berdekatan. Ketika volume titrasi sudah mencapai volume yang sama atau berdekatan dengan jumlah 3 data, maka selanjutnya kita menghitung kadar sampel yang akan kita teliti. Karena volume sampel yang digunakan sama

maka, maka sama seperti kita melakukan pembakuan AgNO3 kita terlebih dahulu harus menghitung uji Q untuk mengetahui data yang layak untuk digunakan dan data yang tidak layak untuk digunakan (dibuang). Setelah mengetahui data yang layak untuk digunakan atau data yang harus dibuang, maka selanjutnya kita tinggal menghitung kadar sampel yang kita teliti tadi dengan menggunakan rumus: AgNO3 Kadar Cl- = Setelah selesai menghitung kadar AgNO3 maka selanjutnya kita tinggal menghitung berapa persen kesalahan yang telah kita lakukan. VII. Simpulan Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah: titrasi argentometri metode mohr ini digunakan untuk menetukan konsentrasi sampel Cl-, kesalahan yang lain mungkin di akibatkan karena kurangny kebersihan pada alat-alat yang digunakan dalam titrasi sehinggga zat yang kita hunakan bereaksi dengan zat lain, kesalahan lain juga dapat di akibatkan karena kurangnya ketelitian dalam pengambilan bahan sehingga ketika kita mengambil bahan bisa kurang atau berlebih. Kesalahan yang dilakukan dalam perhitungannya yaitu sebanyak 12,9%., konsentrasi Cl- yang di dapatkan yaitu 0,043524452 N VIII. Daftar pustaka Dewa ketut Satrawidana dkk. (2001). Buku penuntun belajar Kimia Analitik Kuantitatip Singaraj. IKIP Negeri Singaraja. Keenan, Charles W. dkk. (1991). Ilmu Kimia Untuk Universita. Jakarta: Erlangga. Khopkar, S. M. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia: Jakarta. Sukmariah. (1990). Kimia Kedokteran Edisi 2. Binarupa Aksara: Jakarta. Sukmariah dan kanianti. (1992). Kimia Kedokteran. Tangerang: Binarupa Aksara. Sari, F.I. dan Soedjajadi K. (2005). Efektifitas Larutan Asam Cuka, Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol.1, No.2. Januari 2005

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK II PERCOBAAN III TITRASI ARGENTOMETRI (REAKSI PENGENDAPAN)

Tanggal Praktikum Nama NIM Kelas Kelompok

: 26 September 2013 : Ujang Samsudin : 31112052 : Farmasi 2A : Absen Besar

PROGRAM STUDI FARMASI STIKes BAKTI TUNAS HUSADA TASIKMALAYA 2013