You are on page 1of 37

BADAN HUKUM DAN KEDUDUKAN BADAN HUKUM

A. PENGERTIAN BADAN HUKUM


“Orang” (person) dalam dunia hukum adalah subyek hukum atau pendukung hak
dan kewajiban. Setiap manusia adalah pembawa hak (subyek hukum) dan
mampu melakukan perbuatan hukum atau mengadakan hubungan hukum yang
harus diikuti dengan adanya kecakapan hukum (rechsbekwaamheid) dan
kewenangan hukum (rechtsbevoedgheid).

Dua macam Subyek Hukum dalam pengertian hukum adalah :


1. Natuurlijke Persoon (natural person) yaitu manusia pribadi (Pasal 1329
KUHPerdata).
2. Rechtspersoon (legal entitle) yaitu badan usaha yang berbadan hukum (Pasal
1654 KUHPerdata).

Berdasarkan materinya Badan Hukum dibagi atas :


1. Badan Hukum Publik (publiekrecht) yaitu badan hukum yang mengatur
hubungan antara negara dan atau aparatnya dengan warga negara yang
menyangkut kepentingan umum/publik, seperti hukum pidana, hukum tata
negara, hukum tata usaha negara, hukum international dan lain sebagainya.
Contoh : Negara, Pemerintah Daerah, Bank Indonesia.

2. Badan Hukum Privat (privaatrecht) yaitu perkumpulan orang yang


mengadakan kerja sama (membentuk badan usaha) dan merupakan satu
kesatuan yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh hukum. Badan
Hukum Privat yang bertujuan Provit Oriented (contoh : Perseroan Terbatas) atau
Non Material (contoh : Yayasan).

Di Indonesia bentuk-bentuk badan usaha (Business organization) beraneka


ragam dan sebagian besar merupakan peninggalan pemerintah Belanda. Ada
bentuk badan usaha yang telah diganti dengan sebutan dalam bahasa Indonesia
(contoh : Perseroan Terbatas/PT berasal dari sebutan Naamloze
Vennootschap/NV), tetapi ada juga yang tetap mempergunakan nama aslinya
(contoh : Maatschap, Firma/Fa dan Commanditaire Vennootschap/CV).

Kata "perseroan" ada yang merupakan terjemahan dari "vennootschap" (misal


sebutan untuk Perseroan Firma, Perseroan Komanditer dan Perseroan Terbatas)
dan ada kata "perseroan" yang artinya penyebutan perusahaan secara umum.
Yang paling sesuai dalam pemakaian kata "perseroan" adalah dalam
penyebutan Perseroan Terbatas karena memang mengeluarkan saham/sero.

Kata "perseroan" dengan kata dasarnya "sero" artinya saham atau andil
(aandeel-Belanda). Perusahaan yang mengeluarkan saham/sero disebut
perseroan, sedangkan yang memiliki sero disebut "pesero" atau pemegang
saham.
Karena Maatschap tidak menerbitkan saham maka sebaiknya tetap
diterjemahkan dengan menggunakan kata "persekutuan" dari pada memakai
kata “perseroan” agar sesuai dengan terjemahan yang terdapat dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata.

B. BENTUK USAHA BUKAN BADAN HUKUM


Berdasarkan status pemiliknya, badan usaha dapat dibedakan menjadi dua yaitu
:
1) Perusahaan Swasta adalah perusahaan yang didirikan dan dimilik oleh pihak
swasta (Nasional dan Asing).
2) Perusahaan Negara adalah perusahaan yang didirikan dan dimiliki oleh
Negara dan biasa disebut dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Berdasarkan bentuk hukumnya, badan usaha dapat dibedakan menjadi dua,


yaitu :
1) Badan Usaha yang Bukan Berbadan Hukum adalah perusahaan yang bukan
merupakan badan hukum. Contoh : Perusahaan Perorangan dan Perusahaan
Persekutuan (Maatschap, Firma, CV).
2) Badan Usaha yang Berbadan Hukum adalah perusahaan yang berbadan
hukum. Misalnya Perseroan Terbatas, Koperasi, BUMN (Perum dan Persero)
dan badan-badan usaha lain yang dinyatakan sebagai badan hukum serta
memenuhi kriteria badan hukum.

Berdasarkan jumlah kepemilikannya, badan usaha dapat dibedakan menjadi dua


yaitu :
1. Perusahaan Perorangan atau Usaha Kepemilikan Tunggal
Adalah badan usaha yang didirikan dan dimiliki oleh pengusaha perseorangan
dan bukan termasuk badan hukum. Badan usaha ini paling mudah diorganisir
dan dijalankan karena wewenang pengelolaannya (manajemen) dipegang oleh
satu orang (pemilik tunggal) sehingga keputusan dapat dibuat dengan cepat.
Pendirian badan usaha ini tidak memerlukan izin dan tata cara tententu serta
bebas membuat bisnis personal/pribadi tanpa adanya batasan untuk
mendirikannya.

Tanggung jawab perusahaan terhadap hutang (liabilitas) meliputi seluruh harta


kekayaan pribadi pemiliknya. Penutupan perusahaan terjadi bila pemilik
memutuskan menutup usaha tersebut, bangkrut atau karena kematian
pemiliknya.

Pada umumnya perusahaan perseorangan bermodal kecil, jenis serta jumlah


produksinya terbatas, memiliki tenaga kerja/buruh yang sedikit dan masih
menggunakan alat produksi teknologi yang sederhana. Contoh : toko kelontong,
tukang bakso keliling, pedagang asongan, dan lain sebagainya.

Ciri dan sifat perusahaan perseorangan antara lain :


a. Relatif mudah didirikan dan juga dibubarkan.
b. Tanggung jawab tidak terbatas dan bisa melibatkan harta pribadi.
c. Tidak ada kewajiban antar pemilik, karena hanya ada satu pemilik.
d. Tidak ada pajak, yang ada adalah pungutan dan retribusi.
e. Seluruh keuntungan dinikmati sendiri.
f. Sulit mengatur roda perusahaan karena diatur sendiri.
g. Keuntungan yang kecil yang terkadang harus mengorbankan penghasilan
yang lebih besar.
h. Jangka waktu badan usaha tidak terbatas atau seumur hidup.
i. Sewaktu-waktu dapat dipindah tangankan.

2. Perusahaan Persekutuan (Partnership) atau Usaha Kemitraan


Merupakan kombinasi terorganisir dari dua orang atau lebih untuk menjalankan
suatu usaha sebagai mitra pemilik atau mitra pengelola dan dimiliki oleh dua
orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bisnis. Pendirian
badan usaha ini membutuhkan izin khusus dari instansi pemerintah yang terkait.

Yang termasuk dalam badan usaha persekutuan adalah :


a. Bentuk Perusahaan yang diatur dalam KUHPerdata, yaitu Persekutuan
Perdata (Maatschap).
b. Bentuk Perusahaan yang diatur dalam KUHDagang, yaitu Persekutuan Firma
(Fa) dan Persekutuan Komanditer (CV).
c. Bentuk Perusahaan yang diatur dalam perundang-undangan khusus, yaitu
Perseroan Terbatas (PT), Koperasi dan Perusahaan Negara (BUMN).

I. PERSEKUTUAN PERDATA
Diatur dalam Pasal 1618 s.d. 1652 KUHPerdata, Buku III, Bab VIII tentang
Perserikatan Perdata (Burgerlijk Maatschap).
a. Pengertian Persekutuan Perdata
Persekutuan sebagai suatu perjanjian dimana dua orang atau lebih mengikatkan
diri untuk memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan dengan maksud untuk
membagi keuntungan (Pasal 1618 KUHPerdata).

Unsur-unsur dalam Persekutuan Perdata meliputi :


1. Adanya pemasukan sesuatu ke dalam perserikatan (inbreng).
2. Inbreng dapat berupa uang, barang (materiil/immaterial), atau tenaga (Pasal
1619 KUHPerdata).
3. Adanya pembagian keuntungan atau kemanfaatan diperoleh dari pemasukan
tersebut.

Persekutuan Perdata yang bertindak keluar terhadap pihak ketiga dengan


terang-terangan dan terus menerus untuk mendapatkan laba berubah menjadi
Persekutuan Perdata atau Perserikatan Perdata Jenis Khusus (Pasal 1623
KUHPerdata).

b. Pembagian Keuntungan Persekutuan Perdata


Diatur dalam perjanjian pendirian Persekutuan Perdata, dengan ketentuan tidak
boleh memberikan keuntungan hanya pada satu orang, tapi boleh
membebankan kerugian pada satu sekutu (Pasal 1635 KUHPerdata). Apabila
dalam perjanjian tidak diatur mengenai pembagian keuntungan, maka
berpedoman pada Pasal 1633 KUHPerdata.

Pembagian keuntungan berdasarkan pada asas keseimbangan pemasukan,


artinya :
1) Pembagian dilakukan menurut harga nilai dari pemasukan masing-masing
sekutu kepada persekutuan.
2) Sekutu yang hanya memasukkan kerajinan saja pembagiannya sama dengan
sekutu yang nilai barang pemasukkannya terendah, kecuali ditentukan lain.
3) Sekutu yang hanya memasukkan tenaga kerja mendapat bagian keuntungan
sama rata, atau disamakan dengan sekutu yang memasukkan uang atau benda
terkecil, kecuali ditentukan lain (Pasal 1633 ayat (2) KUHPerdata)

c. Pendirian Persekutuan Perdata


Persekutuan Perdata didirikan berdasarkan perjanjian diantara para pihak (asas
konsensualisme) dan tidak memerlukan pengesahan Pemerintah.

d. Pertanggung Jawaban Sekutu


Perbuatan hukum seorang sekutu yang dilakukan dengan pihak ketiga hanya
mengikat sekutu yang bersangkutan dan tidak mengikat sekutu-sekutu yang lain
(Pasal 1644 KUHPerdata), kecuali bila :
1) Sekutu-sekutu yang lain telah memberikan kuasa untuk itu.
2) Perbuatan sekutu tersebut secara nyata memberikan manfaat bagi
persekutuan.

e. Status Hukum Persekutuan Perdata


Berdasarkan Pasal 1644 KUHPerdata maka Persekutuan Perdata bukan
termasuk badan hukum, karena pada suatu badan hukum, perbuatan seorang
sekutu atas nama persekutuan akan mengikat persekutuan tersebut terhadap
pihak ketiga. Terbentuknya Persekutuan Perdata tidak memerlukan pengesahan
Pemerintah sebagai syarat formil suatu badan hukum.

f. Berakhirnya Persekutuan Perdata


Berdasarkan Pasal 1646 KUHPerdata, Persekutuan Perdata dapat berakhir
akibat :
1) Lewatnya waktu dimana persekutuan diadakan.
2) Musnahnya barang atau selesainya perbuatan yang menjadi pokok
persekutuan.
3) Atas kehendak semata-mata dari beberapa sekutu.
4) Salah satu sekutu meninggal, berada di bawah pengampunan atau jatuh pailit.
II. PERSEKUTUAN FIRMA (Fa)
Persekutuan Firma diatur dalam Pasal 16 s.d. Pasal 35 KUHDagang.
a. Pengertian Firma
Firma berasal dari bahasa Belanda “venootschap onder firma” yang berarti
sebuah perserikatan dagang antara beberapa perusahaan. Firma adalah suatu
Persekutuan Perdata yang menyelenggarakan perusahaan atas nama bersama
dan tiap-tiap sekutu yang tidak dikecualikan satu dengan lain hal dapat
mengikatkan Firma dengan pihak ketiga dan mereka masing-masing
bertanggung jawab atas seluruh hutang Firma secara tanggung-menanggung
(Pasal 16 s.d. Pasal 18 KUHDagang).

Dasar Hukum Persekutuan Firma adalah suatu “Maatschap” dan sebagai


Maatschap khusus, Persekutuan Firma mempunyai unsur-unsur khusus, yaitu :

1) Selalu menyelenggarakan perusahaan (Pasal 16 KUHDagang).


Misal : membuat Pembukuan, Pendaftaran Perusahaan, dll.
2) Mempunyai nama bersama (Pasal 16 KUHDagang).
Kata Firma berarti nama bersama, yaitu nama sekutu yang dipakai menjadi
nama perusahaan. Misal : salah satu sekutu bernama Budiman, maka nama
perusahaannya menjadi “Fa. Budiman Bersaudara”
3) Pertanggungjawabannya tanggung-menanggung atau bersifat pribadi untuk
keseluruhan (Hoofdellijk voor het geheel) dan pada asasnya tiap-tiap sekutu
dapat mengikatkan Firma dengan pihak ketiga (Pasal 18 KUHDagang).

b. Pendirian Firma

Persekutuan Firma terbentuk sejak adanya kata sepakat secara lisan atau
tertulis antara para sekutu (pendiri), baik dengan akta otentik maupun akta di
bawah tangan (Pasal 16 KUHDagang jo. Pasal 1618 KUHPerdata). Bentuk
perjanjian mendirikan Persekutuan Firma adalah perjanjian konsensuil. Tata cara
(prosedur) pendirian Firma menurut KUHDagang adalah :

1) Pembentukan Firma
Akta pendirian Firma yang dibuat di hadapan Notaris, tidak menjadi syarat
mutlak terbentuknya Persekutuan Firma tetapi hanya sebagai alat bukti utama
terhadap pihak ketiga mengenai keberadaan Firma tersebut (Pasal 22
KUHDagang). Ketentuan bahwa ketiadaan akta tidak boleh dikemukakan untuk
merugikan pihak ketiga dimaksudkan bahwa tidak adanya akta otentik tidak
boleh digunakan sebagai dalih bagi pihak ketiga bahwa Firma itu tidak ada,
sehingga dapat merugikan pihak ketiga. Sebaliknya pihak ketiga dapat
membuktikan adanya Persekutuan Firma dengan alat bukti lainnya, seperti surat-
surat, saksi, dll.

2) Pendaftaran Firma
Persekutuan Firma harus mendaftarkan akta pendiriannya atau hanya
petikannya saja ke kepaniteraan Pengadilan Negeri di mana Persekutuan Firma
tersebut didirikan (Pasal 23 dan Pasal 24 KUHDagang).
Petikan Akta Pendirian Persekutuan Firma harus memuat :
a. Nama, nama depan, pekerjaan dan tempat tinggal para sekutu firma.
b. Menyebutkan keterangan apakah persekutuan itu umum atau hanya terbatas
pada suatu cabang perusahaan khusus.
c. Penunjukan sekutu-sekutu yang dikecualikan dari hak menandatangani untuk
firma.
d. Saat mulai berlakunya dan akan berakhirnya persekutuan.
e. Bagian-bagian dari persetujuan persekutuan guna menentukan hak-hak pihak
ketiga terhadap persekutuan.

Tujuan mendaftarkan Akta Pendirian Persekutuan Firma adalah bahwa pihak


ketiga tidak perlu mengetahui tentang besarnya modal Persekutuan maupun
persoalan yang terjadi di antara para sekutu yang sifatnya pribadi dan tidak ada
hubungannya dengan pihak ketiga.

3) Pengumuman Firma
Akta pendirian Firma harus diumumkan dalam Berita Negara RI (Pasal 28
KUHDagang). Sesuai Pasal 29 KUHDagang, Persekutuan Firma yang belum
melakukan pendaftaran dan pengumuman, maka Persekutuan Firma tersebut
harus dianggap sebagai :
a. Persekutuan Umum yang menangani segala urusan perniagaan.
b. Didirikan untuk waktu tidak terbatas.
c. Seolah-olah tidak ada seorang sekutu pun yang dikecualikan dari hak
bertindak perbuatan hukum dan hak menandatangani atas nama firma.

Apabila sekutu melanggar ketentuan-ketentuan dalam Anggaran Dasar sebelum


Firma didaftarkan dan diumumkan, maka pihak ketiga dapat menuntut kepada
Persekutuan Firma, dengan cara memperhitungkan pelanggaran yang harus
dipertanggungjawabkan secara pribadi oleh sekutu yang melakukan pelanggaran
tersebut.

c. Pertanggung Jawaban Sekutu Firma

Dalam hal pengurus Persekutuan (Pasal 17 KUHDagang), apabila tidak dibuat


peraturan-peraturan khusus mengenai cara-caranya mengurus, maka :
1) Para sekutu dianggap secara timbal-balik telah memberi kuasa supaya yang
satu melakukan pengurusan bagi yang lain.
2) Para sekutu boleh menggunakan barang-barang kekayaan Persekutuan
asalkan sesuai dengan tujuan dan kepentingan Persekutuan.
3) Para sekutu wajib turut memikul biaya yang diperlukan untuk pemeliharaan
barang-barang Persekutuan.
4) Para sekutu tidak boleh membuat hal-hal yang baru terhadap benda-benda
tidak bergerak dari Persekutuan, tanpa persetujuan sekutu-sekutu yang lain.
Pengurus Persekutuan wajib memelihara harta kekayaan Persekutuan dan
mengusahakan agar Persekutuan dapat berjalan lancar sesuai dengan
tujuannya.

d. Kewajiban Para Sekutu Firma

Kewajiban untuk melakukan pemasukan (inbreng) bagi para sekutu tidak


menyebabkan Persekutuan Firma berubah menjadi Persekutuan Modal. Tetapi
dengan adanya perjanjian kerja sama dengan nama bersama, Persekutuan
Firma merupakan Persekutuan Orang (Personen Vennootschap), yang peranan
modal dan peranan sekutu-sekutunya menjadi satu.

Hal ini akan bertambah jelas bahwa pada Persekutuan Firma :


1) Penggantian dan pemasukan sekutu harus disetujui oleh semua sekutu (Pasal
1641 KUHPerdata).
2) Tidak dibenarkan salah seorang pesero melakukan perbuatan
konkurensi/persaingan terhadap perseroan (Pasal 16 KUHDagang jo. Pasal
1618 KUHPerdata).
3) Adanya tanggung jawab tanggung-menanggung (Pasal 18 KUHDagang).
4) Pada asasnya semua pesero turut serta dalam kepengurusan (Pasal 1630
KUHPerdata - Pasal 17 KUHDagang).
5) Adanya asas kerja sama mengharuskan pengutamaan Persekutuan di atas
kepentingan pribadi para sekutu (Pasal 1628 KUHPerdata).

Para sekutu wajib menyetorkan sesuatu ke dalam Persekutuan. Apabila


kewajiban tersebut belum dipenuhi, maka sekutu berhutang kepada Persekutuan
(Pasal 1625 KUHPerdata). Sesuatu yang disetorkan para sekutu ke dalam
Persekutuan dapat berupa :

1) Benda atau barang tertentu. Dasar penyetorannya adalah perjanjian jual-beli.


Para sekutu sebagai penjual, sedangkan Persekutuan sebagai pembeli. Jika
barang yang disetorkan pada Persekutuan bukan milik pribadi sekutu dan
diminta kembali oleh pemiliknya atau barang tersebut cacat dan tidak bisa
digunakan, maka sekutu yang bersangkutan harus mengganti barang itu dengan
sejumlah uang senilai barang atau menggantinya dengan barang lain yang
sejenis.
2) Manfaat atau penggunaan dari barang/benda. Perlu dilihat apakah barang
tersebut mudah musnah/habis karena penggunaannya. Maka risiko pertama
dipikul oleh para sekutu dan risiko kedua dipikul oleh persekutuan (Pasal 1631
KUHPerdata).
3) Uang. Jika sekutu terlambat menyetorkan uang, maka akan dibebani bunga
atas jumlah uang yang telah disepakati. Besarnya bunga dihitung mulai dari saat
sekutu menghadap Pengadilan dan ditentukan oleh undang-undang (Pasal 1250
KUHPerdata). Apabila sekutu memakai uang dari kas persekutuan untuk
keperluan pribadi, maka bunga dihitung sejak hari ia mengambil uang itu (Pasal
1626 KUHPerdata).
4) Tenaga kerja. Digunakan untuk mencapai tujuan Persekutuan dan seluruh
hasil yang diperoleh hanya untuk Persekutuan. Sekutu bertanggung jawab dan
wajib memberikan perhitungan kepada persekutuan atas semua keuntungan
yang diperoleh dari pekerjaannya (Pasal 1627 KUHPerdata).

e. Status Hukum Persekutuan Firma

Bahwa Persekutuan Firma adalah badan hukum, karena berlaku sebagai badan
hukum yang berarti berlaku sebagai “persoon” terhadap hukum, juga sebagai
subjek hukum yang mempunyai hak dan kewajiban hukum sendiri (Pasal 16, 17
dan 18 KUHDagang). Tetapi pendapat yang umum di Indonesia menyatakan
bahwa Persekutuan Firma belum merupakan badan hukum, karena meskipun
dalam Firma sudah dipenuhi syarat-syarat materiil suatu badan hukum, tetapi
syarat formilnya belum terpenuhi.

f. Berakhirnya Firma

Firma merupakan Persekutuan Perdata bentuk khusus, maka bubarnya Firma


berlaku peraturan yang sama dengan Persekutuan Perdata yang diatur dalam
Bab VIII, Buku III, KUHPerdata, mulai dari Pasal 1646 s.d. Pasal 1652
KUHPerdata, serta Pasal 31 s.d. Pasal 35 KUHDagang.

g. Ciri dan Sifat Firma


1) Apabila terdapat hutang tak terbayar, maka setiap pemilik wajib melunasi
dengan harta pribadi.
2) Setiap anggota firma memiliki hak untuk menjadi pemimpin.
3) Keanggotaan firma melekat dan berlaku seumur hidup.
4) Seorang anggota mempunyai hak untuk membubarkan firma.
5) Pendiriannya tidak memerlukan akta pendirian.
6) Mudah memperoleh kredit usaha.

III. PERSEKUTUAN KOMANDITER ( Comanditering Verbod / CV)

Persekutuan Komanditer diatur dalam Pasal 19 s.d. Pasal 25 K.U.H. Dagang.


a. Pengertian Persekutuan Komanditer
1) Persekutuan secara melepas uang dinamakan Persekutuan Komanditer,
didirikan antara satu orang atau beberapa orang sekutu yang bertanggung jawab
secara pribadi untuk seluruhnya, dengan satu atau beberapa orang sebagai
pelepas uang pada pihak lain (Pasal 19 ayat (1) KUHDagang).
2) Persekutuan Komanditer adalah persekutuan firma dengan suatu
keistimewaan yang dibentuk oleh satu atau beberapa orang sekutu komanditer,
dimana modal komanditernya berasal dari pemasukan para sekutu komanditer,
sehingga Persekutuan Komanditer mempunyai harta kekayaan yang terpisah
(Pasal 19 ayat (2) KUHDagang).

Jadi Sekutu Komanditer merupakan Persekutuan Firma dengan bentuk khusus


yaitu adanya sekutu komanditer yang hanya menyerahkan uang, barang atau
tenaga sebagai pemasukan bagi Persekutuan dan tidak ikut campur dalam
pengurusan maupun penguasaan dalam persekutuan.

Dalam Persekutuan Komanditer terdapat dua macam sekutu, yaitu :

1) Sekutu Kerja/Sekutu Aktif/Sekutu Komplementer adalah sekutu yang


memasukkan modal dalam persekutuan, menjadi pengurus Persekutuan,
mengelola usaha secara aktif yang melibatkan harta pribadi, termasuk membuat
perikatan atau hubungan hukum dengan pihak ketiga. Tanggung jawab sekutu ini
sampai pada harta pribadinya (Pasal 18 KUHDagang).

2) Sekutu Tidak Kerja/Sekutu Pasif/Sekutu Komanditer (Sleeping Partners/stille


vennoot) adalah sekutu yang wajib menyerahkan uang/benda/tenaga pada
persekutuan sebagai pemasukan dan berhak menerima keuntungan tapi tidak
bertugas mengurus Persekutuan. Sekutu ini hanya sebagai pelepas uang
(geldschieter), pemberi uang atau orang yang mempercayakan uangnya.
Tanggung jawab sekutu ini terbatas pada jumlah pemasukannya dalam
persekutuan, sehingga tidak berwenang ikut campur dalam pengurusan
persekutuan. Bila dilanggar maka tanggung jawabnya diperluas yaitu tanggung
jawab pribadi untuk keseluruhan seperti pada sekutu kerja (Pasal 21
KUHDagang).

Persekutuan Komanditer mempunyai beberapa bentuk yaitu :


1) Persekutuan Komanditer diam-diam adalah Persekutuan Komanditer yang
belum menyatakan diri terang-terangan kepada pihak ketiga sebagai
Persekutuan Komanditer. Jadi persekutuan ini keluar menyatakan diri sebagai
persekutuan firma, tetapi ke dalam sudah menjadi Persekutuan Komanditer
karena terdapat satu atau beberapa sekutu komanditer.

2) Persekutuan Komanditer terang-terangan adalah Persekutuan Komanditer


yang secara terang-terangan menyatakan diri sebagai Persekutuan Komanditer
kepada pihak ketiga. Misalnya papan nama, kop surat, tindakan-tindakan hukum
bagi kepentingan persekutuan dengan mengatasnamakan Persekutuan
Komanditer.
3) Persekutuan Komanditer dengan saham adalah Persekutuan Komanditer
terang-terangan yang modalnya terdiri atas saham-saham (biasanya adalah
saham atas nama).

Dilihat dari banyaknya sekutu yang bertanggung jawab tanggung-menanggung


(sekutu komplementer), maka Persekutuan Komanditer dibagi menjadi dua jenis
yaitu :

1) Persekutuan Komanditer yang sekutu komplementernya terdiri dari satu


orang.
Persekutuan Komanditer dengan seorang sekutu yang bertanggung jawab
mempunyai kekuatan berlaku ke dalam saja dan tidak mempunyai kekuatan
keluar (externewerking) walaupun Persekutuan Komanditer itu bertindak terang-
terangan.

2) Persekutuan Komanditer yang sekutu komplementernya terdiri dari beberapa


orang.
Sekutu komandit adalah pihak-pihak yang meminjamkan modal kepada
Persekutuan Komanditer dan berhak atas suatu pembagian keuntungan dan
saldo likuidasi, sepanjang perseroan mendapatkan keuntungan atau masih
mempunyai saldo (sisa pemberesan).

b. Pendirian Persekutuan Komanditer

Tidak ada pengaturan khusus bagi pendirian Persekutuan Komanditer, sehingga


dalam pendirian Persekutuan Komanditer sama dengan peraturan dalam
pendirian Firma. Persekutuan Komanditer bisa didirikan secara lisan (perjanjian
konsensuil) atau membuat akta pendirian di hadapan Notaris yang dijadikan
sebagai alat bukti (Pasal 22 KUHDagang). Dalam mendirikan Persekutuan
Komanditer harus berdasarkan Akta Notaris, didaftarkan di Kepaniteraan
Pengadilan Negeri yang berwenang dan diumumkan dalam Tambahan Berita
Negara R.I.

Adapun ihtisar isi resmi dari Akta Pendirian Persekutuan Komanditer meliputi :

1) Nama lengkap, pekerjaan & tempat tinggal para pendiri.


2) Penetapan nama Persekutuan Komanditer.
3) Keterangan mengenai Persekutuan Komanditer itu bersifat umum atau
terbatas untuk menjalankan sebuah perusahaan cabang secara khusus.
4) Nama sekutu yang tidak berkuasa untuk menandatangani perjanjian atas
nama persekutuan.
5) Waktu mulai dan berlakunya Persekutuan Komanditer.
6) Hal-hal penting lainnya yang berkaitan dengan pihak ketiga terhadap sekutu
pendiri.
7) Tanggal pendaftaran akta pendirian ke Pengadilan Negeri.
8) Pembentukan kas uang dari Persekutuan Komanditer yang khusus disediakan
bagi penagih dari pihak ketiga, yang jika sudah kosong berlakulah tanggung
jawab sekutu secara pribadi untuk keseluruhan.
9) Pengeluaran satu atau beberapa sekutu dari wewenangnya untuk bertindak
atas nama persekutuan.

c. Status Hukum Persekutuan Komanditer


Pendapat yang umum di Indonesia menyatakan bahwa Persekutuan Komanditer
belum merupakan badan hukum, karena meskipun dalam Persekutuan
Komanditer sudah memenuhi syarat-syarat materiil suatu badan hukum, tetapi
pengesahan dari Pemerintah belum dipenuhi sebagai syarat formilnya.

d. Modal Persekutuan Komanditer


Dasar Hukum Persekutuan Komanditer adalah suatu “Maatschap”, sehingga
dalam perjanjian kerjasamanya, baik sekutu komplementer maupun sekutu
komandit wajib memasukkan modal ke dalam persekutuan demi tercapainya
tujuan persekutuan.
Persekutuan Komanditer terikat dari modal yang dikumpulkan, sehingga layak
disediakan objek tuntutannya dan dapat pula bertindak sebagai pribadi. Para
kreditur pribadi tidak mungkin dapat menuntut modal dari Persekutuan
Komanditer, jadi tidak mungkin dapat menuntut bagian modal yang dimasukkan
oleh para sekutu komandit ke dalam Persekutuan itu.
Sebagai konsekuensinya, para kreditur pribadi dari sekutu komplementer dapat
melakukan sitaan terhadap modal yang dimasukkan dalam persekutuan,
termasuk bagian modal yang dimasukkan oleh para sekutu komandit.
Kesimpulannya adalah bahwa Persekutuan Komanditer yang terang-terangan
mempunyai harta kekayaan sendiri yang terpisah.

e. Berakhirnya Persekutuan Komanditer


Persekutuan Komanditer merupakan Persekutuan Firma bentuk khusus, maka
berakhirnya Persekutuan Komanditer berlaku ketentuan yang sama dengan
Persekutuan Firma.

f. Ciri dan Sifat Persekutuan Komanditer


~ Sulit untuk menarik modal yang telah disetor.
~ Modal besar karena didirikan banyak pihak.
~ Mudah mendapatkan kredit pinjaman.
~ Ada anggota aktif yang memiliki tanggung jawab tidak terbatas dan ada yang
pasif tinggal menunggu keuntungan.
~ Relatif mudah untuk didirikan.
~ Kelangsungan hidup perusahaan Perseroan Komanditer tidak menentu.

C. BENTUK USAHA BADAN HUKUM


I. PERKUMPULAN
a. Pengertian Perkumpulan
Perkumpulan dalam arti luas yaitu meliputi suatu persekutuan, koperasi dan
perkumpulan saling menanggung. Perkumpulan dalam pengertian ini terbagi
atas 2 (dua) macam, yaitu :
1) Perkumpulan yang berbentuk Badan Hukum, seperti Perseroan Terbatas,
Koperasi dan Perkumpulan Saling Menanggung.
2) Perkumpulan yang tidak berbentuk Badan Hukum, seperti Persekutuan
Perdata, Perseroan Komanditer dan Firma.

b. Ciri dan Sifat Perkumpulan


1) Bersifat dan bertujuan komersial.
2) Mementingkan keuntungan (profit oriented).
3) Mempunyai anggota.

c. Status Hukum Perkumpulan


Perkumpulan yang berbentuk Badan Hukum, dimana dipandang sebagai subyek
hukum dapat melakukan perbuatan hukum, menyandang hak dan kewajiban,
serta dapat digugat maupun menggugat di Pengadilan.

d. Hak dan Kewajiban


Hak dan kewajiban yang dimiliki oleh Perkumpulan yang berbentuk Badan
Hukum adalah sebagai berikut :
1) Perkumpulan berhak untuk mengajukan gugatan.
2) Perkumpulan wajib mendaftarkan perkumpulan tersebut pada instansi yang
berwenang untuk mendapatkan status Badan Hukum.

II. PERSEROAN TERBATAS (PT)


Perseroan Terbatas (PT) disebut juga Naamloze Vennotschap (NV) atau Limited
Company (Ltd.) diatur dalam UU No.1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas
(PT), yang mencabut berlakunya Pasal 35 s.d. Pasal 56 KUHDagang.
a. Pengertian Perseroan Terbatas / Korporasi / Korporat
1) Adalah organisasi bisnis berbadan hukum resmi yang dimiliki oleh minimal dua
orang dengan tanggung jawab yang hanya berlaku pada perusahaan tanpa
melibatkan harta pribadi atau perseorangan yang ada di dalamnya.
2) Adalah Badan Hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan
kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini (Pasal 1 ayat
(1) UU No. 1 Tahun 1995).
Bentuk PT banyak digunakan dalam dunia usaha karena PT merupakan
“asosiasi modal” yang modal perseroannya terdiri dari sejumlah saham dan
dapat dipindahtangankan (transferable shares), sehingga keanggotaan PT terjadi
dengan mudah.

b. Ciri dan Sifat Perseroan Terbatas


Perseroan Terbatas merupakan badan hukum (legal entity), yaitu badan hukum
“mandiri” (persona standi in judicio) yang memiliki sifat dan ciri kualitas berbeda
dengan badan usaha lainnya.
Karakteristik suatu PT, antara lain sebagai berikut :
1. PT sebagai asosiasi modal.
2. Kekayaan dan utang PT adalah terpisah dari kekayaan dan utang pemegang
saham.
3. Pemegang saham bertanggung jawab secara terbatas dalam PT.
4. Adanya pemisahan fungsi antara Pemegang Saham dan Pengurus atau
Direksi.
5. Memiliki Komisaris yang berfungsi sebagai pengawas.
6. Kekuasaan tertinggi berada pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Ciri dan sifat Perseroan Terbatas lainnya adalah :


1. Kewajiban terbatas pada modal tanpa melibatkan harta pribadi.
2. Modal dan ukuran perusahaan besar.
3. Kelangsungan hidup perusahaan PT ada di tangan pemilik saham.
4. Dapat dipimpin oleh orang yang tidak memiliki bagian saham.
5. Kepemilikan mudah berpindah tangan.
6. Mudah mencari tenaga kerja untuk karyawan / pegawai.
7. Keuntungan dibagikan kepada pemilik modal (saham) dalam bentuk deviden.
8. Kekuatan dewan direksi lebih besar daripada kekuatan pemegang saham.
9. Sulit untuk membubarkan PT.
10. Pajak berganda pada Pajak Penghasilan (PPH) dan pajak deviden.

c. Tanggung Jawab Pemegang Saham


Diatur dalam Pasal 3 ayat (1) UU PT, yaitu :
1) Pemegang saham bertanggung jawab hanya pada apa yang disetorkan
(tanggung jawab terbatas atau limited liability).
2) Pemegang saham tidak bertanggung jawab atas kerugian perseroan melebihi
nilai saham yang telah diambilnya.
3) Pemegang saham tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan
yang dibuat atas nama perseroan.
Namun tanggung jawab terbatas tersebut tidak mutlak, karena dalam hal-hal
tertentu tanggung jawab tersebut menjadi tidak berlaku (Asas Piercing the
Corporate Veil atau Lifting the Veil). Hal ini diatur dalam Pasal 3 ayat (2) UU PT
dan terjadi apabila :
1) Persyaratan PT sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi.
2) Pemegang saham yang bersangkutan, secara langsung atau tidak langsung
dengan itikad buruk memanfaatkan PT untuk kepentingan pribadi.
3) Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan
hukum yang dilakukan oleh PT.
4) Pemegang saham yang bersangkutan, secara langsung atau tidak langsung,
secara melawan hukum menggunakan kekayaan PT, yang mengakibatkan
kekayaan PT tidak cukup untuk memenuhi kewajibannya.
d. Status Badan Hukum Perseroan Terbatas
Perseroan memperoleh status badan hukum setelah Akta Pendirian yang dibuat
Notaris disahkan oleh Menteri Kehakiman (Pasal 7 ayat (6) UU PT). Dalam
pembuatan Akta Pendirian Perseroan, dapat diwakili oleh orang lain berdasarkan
surat kuasa yang diberikan oleh pendiri perseroan tersebut.
Akibat hukum diperolehnya status badan hukum adalah berlakunya tanggung
jawab terbatas bagi pemegang saham PT, yang terbatas sampai jumlah saham
yang dimilikinya.

e. Anggaran Dasar Perseroan Terbatas


1) Anggaran Dasar
Pasal 8 UU PT menyatakan bahwa Akta Pendirian memuat Anggaran Dasar dan
keterangan lain sebagai persyaratan.
Anggaran Dasar perseroan memuat sekurang-kurangnya :
a. Nama, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal dan
kewarganegaraan dari pendiri PT.
b. Susunan nama, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal dan
kewarganegaraan dari anggota Direksi dan Komisaris yang pertama kali
diangkat.
c. Nama Pemegang Saham, nama yang telah mengambil bagian saham, rincian
jumlah saham dan nilai nominal saham yang ditempatkan dan disetor saat
pendirian.

Pasal 12 UU PT menyatakan bahwa Anggaran Dasar suatu PT juga memuat


tentang :
a. Nama dan tempat kedudukan perseroan.
b. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha perseroan yang sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku:
c. Kegiatan usaha perseroan adalah kegiatan yang dilakukan perseroan dalam
rangka mewujudkan maksud dan tujuan tersebut.
d. Jangka waktu berdirinya perseroan.
e. Besarnya jumlah modal dasar, modal yang ditempatkan, dan modal yang
disetor.
f. Jumlah saham, klasifikasi saham, hak-hak yang melekat pada setiap saham,
dan nilai nominal pada setiap saham.
g. Susunan, jumlah, dan nama anggota Direksi dan Komisaris.
h. Penetapan tempat dan tata cara penyelenggraan RUPS.
i. Tata cara pemilihan, pengangkatan, penggantian dan pemberhentian anggota
Direksi dan Komisaris.
j. Tata cara penggunaan laba dan pembagian deviden.
k. Ketentuan-ketentuan lain menurut UU PT.

2) Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas


Perubahan Anggaran Dasar ditetapkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) dan usul perubahannya dicantumkan dalam surat panggilan atau
pengumuman untuk mengadakan RUPS.
Perubahan Anggaran Dasar harus mendapat persetujuan Menteri Kehakiman RI
dan didaftarkan dalam Daftar Perubahan di kantor tempat pendaftaran
perusahaan, serta diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik
Indonesia sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1995.

Hal-hal yang menentukan adanya perubahan terhadap Anggaran Dasar


adalah sebagai berikut :
a. Perubahan Mendasar adalah perubahan tertentu/mendasar atas Anggaran
Dasar yang meliputi nama perseroan, maksud dan tujuan perseroan, kegiatan
usaha perseroan, jangka waktu berdirinya perseroan apabila Anggaran Dasar
menetapkan jangka waktu tertentu, besarnya modal dasar, pengurangan modal
ditempatkan dan disetor, atau perubahan status Perseroan dari Perseroan
Tertutup menjadi Perseroan Terbuka atau sebaliknya.
b. Perubahan Lain atas Anggaran Dasar cukup dilaporkan atau tidak harus
mendapat persetujuan Menteri Kehakiman RI dalam waktu paling lambat 14
(empat belas) hari terhitung sejak keputusan RUPS, dan didaftarkan dalam
Daftar Perusahaan di kantor tempat pendaftaran perusahaan sesuai dengan
ketentuan Undang-undang Nomor 3 tahun 1982 tentang Wajib Daftar
Perusahaan (WDP).

Baik perubahan Anggaran Dasar yang harus mendapat persetujuan maupun


yang cukup dilaporkan kepada Menteri Kehakiman RI sebagaimana, harus
dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia.

Permohonan persetujuan atas perubahan tertentu dalam Anggaran Dasar


dapat ditolak apabila :
1) Bertentangan dengan ketentuan mengenai tata cara perubahan Anggaran
Dasar.
2) Isi perubahan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan,
ketertiban umum, dan atau kesusilaan.
3) Ada sanggahan dari kreditur atas keputusan RUPS mengenai pengurangan
modal.

Tata cara pengajuan permohonan, pemberian persetujuan dan penolakan atas


persetujuan, dan penolakan atas perubahan Anggaran Dasar, dilaksanakan
sebagai berikut :
1) Permohonan dilakukan oleh para pendiri atau kuasanya (notaris atau orang
yang dikuasakan) dengan mengajukan permohonan tertulis dan melampirkan
Akta Pendirian Perseroan.
2) Persetujuan atas perubahan Anggaran Dasar diberikan dalam jangka waktu
paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak permohonan yang diajukan
dinyatakan telah memenuhi syarat dan kelengkapan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
3) Jika permohonan ditolak, maka penolakan tersebut harus diberitahukan
kepada pemohon secara tertulis beserta alasannya dalam jangka waktu 60
(enam puluh) hari.

Waktu berlakunya Perubahan atas Anggaran Dasar


Perubahan mendasar atas Anggaran Dasar mulai berlaku sejak tanggal
persetujuan diberikan oleh Menteri Kehakiman RI. Sedangkan perubahan
Anggaran Dasar yang hanya cukup dilaporkan kepada Menteri Kehakiman RI
mulai berlaku sejak pendaftaran.
Pendaftaran hanya dapat dilakukan setelah perubahan Anggaran Dasar
dilaporkan kepada Menteri Kehakiman RI. Perubahan Anggaran Dasar tidak
dapat dilakukan pada saat perseroan dinyatakan pailit kecuali dengan
persetujuan kurator sebagai upaya untuk membebaskan perseroan dari keadaan
pailit, misalnya dengan pergantian Direksi dan atau Komisaris atau perubahan
persetujuan kurator. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip kepailitan yaitu semua
perbuatan hukum dalam keadaan pailit hanya dapat dilakukan oleh atau dengan
persetujuan kurator. Kurator adalah orang atau badan yang ditunjuk untuk
memeriksa (mengaudit) perusahaan.

f. Nama Perseroan Terbatas


Pengaturan pemakaian nama perseroan bertujuan memberikan perlindungan
hukum kepada pemakai nama perseroan yang beritikad baik yang sudah
memakai nama tersebut sebagai nama perseroan dan secara resmi telah
dicantumkan di dalam Akta Pendirian yang telah disahkan oleh Menteri
Kehakiman atau kepada pihak yang telah lebih dahulu mengajukan permohonan
persetujuan pemakaian nama tersebut kepada Menteri Kehakiman.

Pemberian nama Perseroan Terbatas diatur dalam :


1) Ketentuan Undang-Undang No.1 Tahun 1995 tentang PT
Pasal 13 UU PT menyatakan bahwa perseroan tidak boleh menggunakan nama
yang :
a. Telah dipakai secara sah oleh PT lain atau mirip dengan nama PT lainnya.
b. Bertentangan dengan ketertiban umum dan atau kesusilaan.
Nama perseroan harus didahului dengan perkataan "Perseroan Terbatas" atau
disingkat dengan "PT". Untuk Perseroan Terbuka, selain nama perseroan
didahului dengan PT, pada akhir nama perseroan ditambah dengan singkatan
kata "Tbk" yang merupakan singkatan dari “Terbuka”. Tanpa diakhiri dengan
singkatan "Tbk" berarti perusahaan tersebut termasuk PT Biasa atau PT
Tertutup.
2) Ketentuan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) No. 26 Tahun 1998
Secara hukum pemakaian nama perseroan tersebut tidak boleh merugikan
sesama pengusaha di bidang usaha dan perdagangan dan menimbulkan adanya
persaingan tidak sehat. Pemakaian nama PT harus memperhatikan ketentuan
mengenai merek terkenal (UU No.19 tahun 1992 tentang Merek) berikut
perubahannya guna mencegah pihak-pihak yang beritikad buruk dengan jalan
pintas ingin memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya, menggunakan
merek terkenal tersebut sebagai nama usahanya tanpa seizin pemilik merek
terkenal yang bersangkutan. Contoh : merk ESPRIT, LEVI’S, dll.
3) Ketentuan Menteri Kehakiman RI dengan Keputusan Menteri
a. Singkatan "PT" diletakkan di depan nama perseroan bertujuan untuk
menegaskan bahwa penggunaan kata Perseroan Terbatas (PT) hanya untuk
badan usaha yang berbentuk Perseroan Terbatas.
b. Pemakaian nama perseroan diajukan oleh pendiri, direksi perseroan atau
kuasanya kepada Menteri Kehakiman. Permohonan tersebut dapat diajukan
bersama atau lebih dahulu secara terpisah dari permohonan pengesahan Akta
Pendirian atau permohonan persetujuan perubahan Anggaran Dasar. Maka
perseroan dalam kegiatan usahanya wajib memakai nama yang telah disetujui
pemakaiannya oleh Menteri Kehakiman. Untuk memungkinkan perseroan
memperoleh hak memakai suatu nama lebih dahulu dari perseroan lainnya dan
atau lebih cepat mendapat kepastian untuk dapat menggunakan nama tersebut,
maka permohonan dapat diajukan terlebih dahulu secara terpisah dari
permohonan pengesahan Akta Pendirian. Permohonan persetujuan pemakaian
nama perseroan dapat diajukan secara langsung, melalui pos atau melalui media
lainnya seperti faxsimile atau e-mail.
c. Persetujuan pemakaian nama perseroan yang diajukan lebih dahulu secara
terpisah dari permohonan pengesahan Akta Pendirian diberikan paling lama 15
(lima belas) hari setelah permohonan diterima. Apabila ditolak, maka penolakan
tersebut harus diberitahukan kepada pemohon secara tertulis beserta alasannya
dalam jangka waktu yang sama pula. Apabila permohonan pemakaian nama
perseroan tersebut disetujui, maka pemohon wajib mengajukan permohonan
pengesahan Akta Pendirian Perseroan dalam jangka waktu paling lama 60
(enam puluh) hari sejak tanggal persetujuan pemakaian nama. Apabila pemohon
tidak mengajukan permohonan tersebut, maka persetujuan pemakaian nama
yang telah disetujui menjadi batal.
Penolakan permohonan persetujuan pemakaian nama perseroan dapat terjadi
apabila :
a. Nama tersebut telah dipakai secara sah atau mirip dengan nama perseroan
lain.
Contoh : PT. BHAYANGKARA dengan PT. BAYANGKARA
PT. SAMPOERNA dengan PT. SEMPURNA
b. Nama tersebut bertentangan dengan ketertiban umum dan atau kesusilaan.
c. Nama tersebut sama atau mirip dengan merek terkenal (UU No. 19 Tahun
1992) kecuali ada izin dari pemilik merek terkenal tersebut. Ketentuan ini dapat
dilakukan sepanjang daftar merek terkenal tersebut telah dikeluarkan oleh
instansi yang berwenang menyusun daftar tersebut.
d. Nama tersebut dapat memberikan kesan adanya kaitan antara perseroan
dengan suatu lembaga pemerintah, lembaga yang dibentuk berdasarkan
peraturan perundang-undangan atau lembaga internasional, kecuali ada izin dari
yang bersangkutan.
e. Nama tersebut hanya terdiri dari angka atau rangkaian angka. Contoh : PT. 3
atau PT. 99.
f. Nama tersebut hanya terdiri dari huruf atau rangkaian huruf yang tidak
membentuk kata. Contoh : PT. S, PT. A, atau PT. ABC.
g. Nama tersebut menunjukan maksud dan tujuan perseroan, kecuali ada
tambahan lain. Contoh : PT. Impor Ekspor.
h. Nama tersebut tidak sesuai dengan maksud dan tujuan serta kegiatan
perseroan.
Contoh : PT. Andalan Fluid Sistem bergerak di bidang pemborongan umum.
PT. Dirgantara Teknik bergerak di bidang percetakan.
i. Nama tersebut hanya merupakan nama suatu tempat antara lain daerah,
wilayah, atau Negara. Contoh : PT. Jakarta, PT. Indonesia, PT. Singapura.
j. Nama tersebut ditambah kata dan atau singkatan kata yang mempunyai arti
sebagai perseroan terbatas, badan hukum lainnya atau persekutuan perdata.
Contoh : Usaha Dagang (UD), Koperasi Usaha Dagang (KUD), Associate,
Association, SA, SARL, AG, Ltd, Gmbh, SDN, Sdn.Bhd, PTE, Co., & Co., NV,
atau BV.

g. Pendirian Perseroan Terbatas


Dalam Pasal 7 ayat (1) UU PT menyatakan bahwa :
"Perseroan Terbatas didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan akta notaris
yang dibuat dalam bahasa Indonesia".

Dalam definisi atau persyaratan ini terdapat unsur-unsur pokok :


i. "oleh dua orang" maksudnya adalah bahwa pendirian PT minimal harus ada
dua orang, karena dalam mendirikan perusahaan atau badan hukum harus
didasarkan pada perjanjian yang disebut "asas kontraktual". Oleh karena itu
"orang" dalam hal ini diartikan sebagai "orang perseorangan" atau sebagai
"artificial person atau natuurlijk person" yaitu badan hukum.
ii. "akta notaris” artinya harus otentik dan tidak boleh di bawah tangan melainkan
dibuat oleh pejabat umum.

iii. "bahasa Indonesia" artinya bukan dalam bahasa Inggris atau bahasa-bahasa
lainnya. Tetapi bukan berarti tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain.
Undang-undang mewajibkan bahwa pada saat pendirian, setiap pendiri harus
mengambil bagian saham atau sejumlah saham. Apabila ternyata setelah
pengesahan oleh Menteri Kehakiman, pemegang saham perseroan menjadi
kurang dari dua orang, maka pemegang saham wajib mengalihkan sebagian
sahamnya kepada orang lain paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak
keadaan tersebut terjadi (Pasal 7 ayat (3) UU PT).

Apabila telah melewati batas waktu 6 (enam) bulan, sedangkan sebagian


sahamnya belum juga dialihkan kepada orang lain atau pemegang sahamnya
tetap kurang dari 2 (dua) orang, maka pemegang saham bertanggung jawab
secara pribadi atas segala perikatan atau kerugian perseroan. Atas permohonan
pihak yang berkepentingan, maka Pengadilan Negeri dapat membubarkan
perseroan tersebut (Pasal 7 ayat (4) UU PT).

Pada prinsipnya, pasangan suami isteri tidak dapat mendirikan PT, karena
mereka dianggap mempunyai "satu kepentingan" yaitu membentuk keluarga
dimana suami menjadi kepala keluarga dan isteri menjadi ibu rumah tangga
(Pasal 1 jo. 31 ayat (3) Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan)
serta adanya persatuan kekayaan yang dihasilkan selama perkawinan, walaupun
harta bawaan dapat dipisahkan menurut kehendak suami atau isteri masing-
masing (Pasal 35 UU Perkawinan).

Dengan melihat kepentingan tersebut maka pihak ketiga harus menganggap


mereka sebagai "satu pihak", terutama bila menyangkut persoalan pengaturan
harta kekayaan di antara mereka. Secara umum, suami-isteri berada dalam satu
kesatuan harta, namun apabila pada saat melangsungkan perkawinan suami-
isteri tersebut membuat perjanjian kawin (pisah harta), maka mereka bukan
berada dalam satu kesatuan harta (Pasal 29 UU Perkawinan).
Berdasar hal-hal di atas dan mengingat syarat pendirian PT minimal 2 pendiri,
bila suami isteri yang bersangkutan tetap berkeinginan menjadi pemegang
saham, maka mereka dapat mencari 1 (satu) investor lain untuk menjadi pendiri
lain PT tersebut.

h. Pengukuhan Perseroan Terbatas


Sebelum perseroan disahkan, biasanya pendiri melakukan berbagai kegiatan
untuk kepentingan perseroan yang mengikat perseroan setelah perseroan
menjadi badan hukum, yaitu apabila :
~ Perseroan secara tegas menyatakan menerima semua perjanjian yang dibuat
oleh pendiri atau orang lain yang ditugaskan oleh pendiri dengan pihak ketiga.
~ Perseroan secara tegas menyatakan mengambil alih semua hak dan
kewajiban yang timbul dari perjanjian yang dibuat oleh pendiri atau orang lain
yang ditugaskan oleh pendiri, walaupun perjanjian tersebut tidak dilakukan atas
nama perseroan.
~ Perseroan mengukuhkan secara tertulis semua perbuatan hukum yang
dilakukan atas nama perseroan.
Bahwa perbuatan hukum pendiri tersebut dilakukan oleh pendiri setelah
perseroan didirikan tetapi belum disahkan menjadi badan hukum. Terhadap
perbuatan hukum tersebut perseroan bisa menerima, mengambil alih, atau
mengukuhkan, tetapi bisa juga sebaliknya yaitu perseroan menolak, tidak
mengambil alih atau tidak mengukuhkan, sehingga masing-masing pendiri
bertanggung jawab secara pribadi atas segala akibat hukum yang terjadi.
Kewenangan ini terdapat pada RUPS, namun RUPS baru dapat diselenggarakan
setelah perseroan disahkan. Oleh karena itu pengukuhan dilakukan oleh seluruh
pendiri, pemegang saham dan direksi.

i. Pengesahan Perseroan Terbatas


Akta Pendirian PT harus disahkan oleh Menteri Kehakiman. Para pendiri atau
pemegang kuasa pendiri (Notaris atau orang lain) bersama-sama mengajukan
permohonan tertulis dengan melampirkan Akta Pendirian Perseroan.

Pengesahan diberikan dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari terhitung sejak
permohonan diterima (Pasal 9 ayat (2) UU PT). Maksudnya adalah bahwa
permohonan yang diajukan sudah memenuhi syarat dan kelengkapan yang
diperlukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan harus diterima oleh
pejabat bersangkutan. Apabila permohonan ditolak, maka harus diberitahukan
kepada pemohon secara tertulis beserta alasannya dan diumumkan dalam
jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari sejak permohonan diterima.

j. Pendaftaran Perseroan Terbatas


Pasal 21 ayat (1) UU PT menyatakan bahwa Akta Pendirian PT yang telah
disahkan oleh Pemerintah (Menteri Kehakiman) selanjutnya oleh Direksi wajib
didaftarkan dalam Daftar Perusahaan sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam Undang-undang No.3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan
(WDP).
Hal-hal yang wajib didaftarkan adalah:
Akta pendirian sesuai dengan pengesahan Menteri Kehakiman.
Akta perubahan Anggaran Dasar beserta surat persetujuan Menteri
Kehakiman.
Akta perubahan Anggaran Dasar beserta Laporan kepada Menteri Kehakiman.

Pendaftaran Akta Pendirian dan akta-akta perubahan tersebut di atas wajib


dilakukan dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah pengesahan
atau persetujuan diberikan atau setelah penerimaan laporan.

k. Pengumuman Perseroan Terbatas


Direksi PT wajib mengumumkan PT yang telah didaftarkan tersebut dalam
Tambahan Berita Negara RI (Pasal 22 UU PT). Pengumumannya dilakukan
dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak pendaftaran. Tata cara
pengajuan permohonan pengumuman dilakukan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Selama pendaftaran dan pengumuman tersebut belum dilakukan, maka anggota


Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas segala perbuatan
hukum yang dilakukan perseroan (Pasal 23 UU PT).

l. Sanksi Hukum Perseroan Terbatas


Pelanggaran atau kelalaian atas pelaksanaan kewajiban untuk mendaftarkan
dan mengumumkan pendirian PT sesuai dengan peraturan yang berlaku,
diancam dengan sanksi pidana atau perdata.
Pasal 23 UU PT mengatur sanksi perdata bagi Direksi perseroan yang tidak
melaksanakan kewajiban untuk mendaftarkan perseroan dalam Daftar
Perusahaan dan mengumumkan dalam Tambahan Berita Negara RI menurut UU
PT.
Selain itu UU No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan juga mengatur
sanksi pidana bagi direksi yang melalaikan atau tidak memenuhi kewajiban
mendaftarkan perusahaan diancam dengan pidana penjara atau denda. Sanksi
pidana dalam UU WDP terdapat pada :
1) Pasal 32 ayat (1) mengenai ancaman pidana penjara maksimal 3 (tiga) bulan
atau denda pidana maksimal sebesar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) terhadap
direksi yang tidak mendaftarkan perusahaannya dalam Daftar Perusahaan
dengan sengaja atau karena kelalaiannya tidak memenuhi kewajibannya. Tindak
pidana ini termasuk dalam kategori kejahatan.
2) Pasal 33 ayat (1) mengenai ancaman pidana penjara maksimal 3 (tiga) bulan
atau pidana denda maksimal Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah)
terhadap direksi yang melakukan atau menyuruh melakukan pendaftaran secara
keliru atau tidak lengkap dalam Daftar Perusahaan. Tindak pidana ini termasuk
dakam kategori pelanggaran.
3) Pasal 34 ayat (1) mengenai ancaman pidana penjara maksimal 2 (dua) bulan
atau pidana denda maksimal Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) terhadap direksi
yang tidak memenuhi kewajiban untuk menghadap atau menolak untuk
menyerahkan atau mengajukan sesuatu pernyataan dan atau keterangan lain
untuk keperluan pendaftaran dalam Daftar Perusahaan. Tindak pidana ini
termasuk kategori pelanggaran.
4) Pasal 35 ayat (1) mengenai tuntutan pidana yang dikenakan dan dijatuhkan
terhadap pengurus atau pemegang kuasa dari badan hukum itu tidak sesuai
dengan apa yang dimaksudkan dalam Pasal 32, 33, dan 34 UU WDP. Ketentuan
pasal ini diperlakukan sama terhadap badan hukum yang bertindak sebagai atau
pemegang kuasa suatu badan hukum lain.
m. Perbuatan Hukum Pendiri
Pasal 2 ayat (2) UU PT menyatakan bahwa untuk memperoleh pengesahan dari
Menteri Kehakiman RI agar perseroan memperoleh status badan hukum,
waktunya ditetapkan paling lama 60 (enam puluh) hari setelah permohonan
diterima. Selama masa penantian, biasanya para pendiri memanfaatkan
waktunya untuk hal-hal yang berguna yaitu melakukan perbuatan-perbuatan
hukum yang diperlukan seperti :
Para pendiri berupaya menyelesaikan hal-hal yang perlu termasuk
mengadakan transaksi atau membuat perjanjian dengan pihak ketiga.
Anggota Direksi yang diangkat dan nama-namanya telah dicantumkan dalam
Akta Pendirian sudah mulai melakukan kegiatan baik yang bersifat intern
maupun dengan pihak ketiga.
Perbuatan hukum yang berkaitan dengan susunan dan penyertaan modal serta
susunan saham perseroan yang dilakukan pendiri sebelum perseroan didirikan,
harus dicantumkan dalam Akta pendirian, maksudnya adalah sebagai berikut :
~ Perbuatan hukum yang dimaksud adalah mengenai penyetoran saham dalam
bentuk atau cara selain menggunakan uang tunai.
~ Naskah asli atau salinan resmi akta otentik mengenai perbuatan hukum yang
terkait dengan pendirian perseroan harus disatukan dengan Akta Pendirian.
Caranya dengan melekatkan atau menjahitkan dokumen tersebut sebagai satu
kesatuan dengan Akta Pendirian. Apabila pencantuman perbuatan hukum dan
pelekatan seperti dimaksudkan di atas tidak terpenuhi, maka perbuatan hukum
tersebut tidak menimbulkan hak dan kewajiban pada perseroan kecuali
dikukuhkan menurut cara yang telah ditentukan oleh UU PT.

n. Modal dan Saham Perseroan Terbatas


Pemilik modal PT tidak harus memimpin perusahaan karena dapat menunjuk
orang lain di luar pemilik modal untuk menjadi pimpinan. Untuk mendirikan PT
dibutuhkan sejumlah modal minimal dalam jumlah tertentu dan berbagai
persyaratan lainnya.
1) Struktur Modal
Untuk membentuk perseroan diperlukan adanya modal perseroan (Pasal 24 UU
PT) yang disebut modal dalam Anggaran Dasar, antara lain :
a. Modal Dasar (authorized capital) adalah sejumlah modal yang dibutuhkan
untuk menjalankan perusahaan. Pasal 25 UU PT menentukan bahwa Modal
dasar PT minimal Rp. 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah).
b. Modal ditempatkan (issued capital atau subcribed capital) adalah sebagian
dari modal dasar yang telah disanggupi untuk diambil para pendiri atau para
pemegang saham perseroan dalam bentuk saham, sehingga mereka
mempunyai kewajiban untuk membayar atau melakukan penyetoran kepada
perseroan. Dalam modal yang ditempatkan ini bisa termasuk saham treasury
atau treasury stock. Pasal 26 ayat (1) UU PT menentukan bahwa pada saat
pendirian PT, minimal 25 % dari modal dasar harus sudah ditempatkan.
Saham treasury atau Treasury stock adalah saham yang telah dikeluarkan ke
masyarakat oleh perseroan dan kemudian diambil/dibeli kembali. Saham
treasury tidak memperoleh deviden dan tidak dapat dipergunakan dalam
pemungutan suara karena selama dipegang oleh perseroan saham treasury
tidak mempunyai hak suara.
c. Modal disetor (paid up capital) adalah sejumlah modal yang benar-benar ada
dalam kas PT. Pasal 26 ayat (2) UU PT menentukan bahwa setiap penempatan
modal tersebut, 50% (lima puluh persen) dari nilai nominal setiap saham yang
dikeluarkan harus telah disetor.
Pasal 26 ayat (3) UU PT menegaskan bahwa sisa dana (50% lagi) atau seluruh
saham yang telah dikeluarkan harus sudah disetor penuh pada saat pengesahan
PT oleh Menteri Kehakiman RI dengan bukti penyetoran yang sah.
Penundaan atau mengangsur tidak mungkin dilakukan setelah pengesahan
perseroan, karena pengeluaran saham seanjutnya harus tetap disetor penuh.
Apabila ada pemegang saham yang mempunyai tagihan terhadap perseroan,
maka tagihannya tidak boleh dipergunakan sebagai kompensasi kewajiban
penyetoran atas sahamnya. Seandainya terjadi inflasi atau sebaliknya nilai mata
uang rupiah menguat, maka dengan sendirinya batas minimum modal dasar juga
akan diubah atau diadakan penyesuaian. Hal ini diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.

2) Penyetoran Atas Saham


Saham adalah surat bukti penyertaan modal dalam kepemilikan suatu Perseroan
Terbatas. Penyetoran atas saham bisa dalam bentuk uang atau dalam bentuk
benda berwujud atau benda tidak terwujud yang dapat dinilai dengan uang.
Penilaian harga tersebut ditetapkan oleh “ahli” yaitu perseorangan atau badan
hukum yang disahkan oleh pemerintah dan berdasarkan keahlian atau
pengetahuannya mampu untuk menilai harga benda tersebut dan tidak terikat
pada perseroan.

Penyetoran saham secara tunai dilakukan pada saat pendirian atau telah disetor
penuh paling lambat sesudah perseroan memperoleh pengesahan sebagai
badan hukum dari Menteri Kehakiman. Penyetoran harus disertai bukti
penyetoran yang sah. Setelah perseroan menjadi badan hukum, maka setiap
pengeluaran saham oleh perseroan harus dibayar penuh oleh pemegang saham.

Penyetoran atas saham dalam bentuk lain selain dalam bentuk uang harus
disertai rincian yang menerangkan nilai atau harga, jenis atau macam, status,
tempat kedudukan dan lain-lain yang dianggap perlu demi kejelasan mengenai
penyetoran tersebut.

Penyetoran saham dalam bentuk benda tidak bergerak (immovables/onroerende


goederen/zaken) harus diumumkan beserta rinciannya di dalam dua surat kabar
harian berbahasa Indonesia yang terbit di tempat kedudukan perseroan dan
peredarannya secara nasional, bertujuan agar diketahui oleh umum dan
memberi kesempatan kepada pihak yang berkepentingan untuk dapat
mengajukan keberatan atas penyerahan benda tidak bergerak tersebut sebagai
setoran saham. Penyetoran atas saham dalam bentuk lain harus dicatat dalam
Daftar Pemegang Saham.

Jumlah nominal saham dinyatakan dalam bentuk mata uang Republik Indonesia
(Pasal 42 UU PT). Saham yang dikeluarkan PT terdiri dari dua jenis, yaitu :
a. Saham atas nama (op naam) adalah saham yang nama pemiliknya tercantum
dalam sertifikat saham.
b. Saham atas tunjuk (aan toonder) adalah saham yang tidak mencantumkan
nama pemegang saham.
Cara peralihan hak atas saham diatur dalam Pasal 49 UU PT adalah sebagai
berikut :
a. Untuk saham atas nama (op naam) dilakukan dengan akta pemindahan hak
baik akta notaris maupun akta di bawah tangan. Setiap pemindahan hak atas
saham dicatat dalam daftar Pemegang Saham.
b. Untuk saham atas tunjuk (aan toonder) dilakukan dengan penyerahan surat
saham (secara fisik) dari tangan ke tangan.
Jenis saham berdasarkan hak yang diperoleh pemegang saham adalah sebagai
berikut :
a. Saham Biasa adalah saham yang tidak memberikan hak lebih pada
pemegangnya.
b. Saham Preverent / Istimewa adalah saham yang memberikan prioritas atau
hak lebih bagi pemegangnya. Misalnya hak untuk didahulukan dalam mendapat
keuntungan/deviden.

Hak-hak pemegang saham yang diatur dalam UU PT antara lain :


a. Hak untuk hadir dalam RUPS dan menggunakan hak suaranya dalam RUPS.
Berdasarkan ketentuan Pasal 72 UU PT, setiap saham yang dikeluarkan
mempunyai satu hak suara, kecuali Anggaran Dasar menentukan lain (“one
share one vote”).
b. Hak untuk meminta kepada PT agar sahamnya dibeli dengan harga wajar
apabila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan PT yang merugikan
pemegang saham berupa perubahan Anggaran Dasar, penjualan jaminan,
pertukaran sebagian besar atau seluruh kekayaan PT atau penggabungan,
peleburan atau pengambil alihan PT.
c. Hak meminta Direksi untuk menyelenggarakan RUPS, bila pemegang saham
mewakili 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak
suara yang sah atau sebagaimana ditentukan dalam Anggaran Dasar.

3) Penambahan Modal
Penambahan modal perseroan yaitu penambahan modal dasar, modal
ditempatkan dan modal disetor dan hanya dapat dilakukan berdasarkan
keputusan RUPS yang sah serta dilaksanakan sesuai dengan keputusan
mengenai panggilan rapat, kuorum, dan jumlah suara untuk perubahan
Anggaran Dasar.

Dalam Anggaran Dasar menentukan bahwa seluruh saham yang dikeluarkan


dalam penambahan modal harus terlebih dahulu ditawarkan kepada setiap
pemegang saham dan harus seimbang dengan kepemilikan saham untuk
klasifikasi saham yang sama (proportionally). Apabila pemegang saham tidak
menggunakan hak untuk membeli saham tersebut setelah lewat waktu 14 (empat
belas) hari terhitung sejak penawaran, maka perseroan berhak menawarkan
kepada karyawan sebelum menawarkan kepada orang lain dengan memberi
jumlah tertentu atas saham tersebut. Ketentuan mengenai saham yang
ditawarkan kepada karyawan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

4) Pengurangan Modal
Pengurangan Modal adalah pengurangan modal dasar, modal ditempatkan, dan
modal disetor dan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan RUPS serta
dilaksanakan sesuai dengan keputusan mengenai panggilan rapat, kuorum, dan
jumlah suara untuk perubahan Anggaran Dasar (Pasal 35 UU PT).
Direksi wajib memberitahukan secara tertulis keputusan tersebut kepada semua
kreditor dan mengumumkannya dalam Tambahan Berita Negara Republik
Indonesia serta dalam 2 (dua) surat kabar harian paling lambat 7 (tujuh) hari
terhitung sejak tanggal keputusan.

Pengurangan modal berlaku setelah Perubahan Anggaran Dasar mendapat


persetujuan Menteri Kehakiman dan harus didaftarkan dalam Daftar Perusahaan
di Kantor Pendaftaran Perusahaan serta diumumkan dalam Tambahan Berita
Negara RI (Pasal 21 dan Pasal 22 UU PT).

o. Organ Perseroan Terbatas


Organ PT adalah RUPS, Direksi dan Komisaris (Pasal 1 ayat (2) UU PT).
1) RUPS
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) adalah organ perseroan yang
memegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan dan memegang segala
wewenang yang tidak diserahkan kepada Direksi atau Komisaris (Pasal 1 angka
(3) UU PT). RUPS berhak memperoleh segala keterangan yang berkaitan
dengan kepentingan PT dari Direksi dan Komisaris.
2) Direksi
Direksi adalah organ perseroan yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan
perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan
baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai ketentuan Anggaran Dasar
(Pasal 1 angka (4) UU PT).

3) Komisaris
Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan
secara umum dan atau khusus serta memberikan nasehat kepada Direksi dalam
menjalankan perseroan (Pasal 1 angka (5) UU PT).

p. Berakhirnya Perseroan Terbatas


Pasal 114 UU PT menentukan suatu perseroan menjadi bubar atau berakhir
karena :
1) Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham.
2) Jangka waktu PT sudah berakhir.
3) Bubar karena penetapan Pengadilan.
4) Penetapan Pengadilan tentang pembubaran PT dilakukan berdasarkan
permohonan dari :
a. Kejaksaan, karena dugaan bahwa perseroan melanggar kepentingan umum.
b. Pemegang saham mewakili paling sedikit 10% suara.
c. Pihak yang berkepentingan berdasarkan alasan adanya cacat hukum dalam
Akta Pendirian PT.

q. Jenis-jenis Perseroan Terbatas


1) Perseroan Terbatas (PT) Tertutup
PT Tertutup adalah PT yang saham perusahaannya hanya bisa dimiliki oleh
orang-orang tertentu yang telah ditentukan dan tidak menerima pemodal dari luar
secara sembarangan. Pada umumnya jenis PT ini adalah PT keluarga, kerabat
atau saham yang di kertasnya sudah tertulis nama pemilik saham yang tidak
mudah untuk dipindahtangankan ke orang atau pihak lain.
2) Perseroan Terbatas (PT) Terbuka
PT Terbuka adalah perusahaan yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki
oleh masyarakat. Saham-saham perusahaan tersebut boleh dibeli dan dimiliki
oleh semua orang tanpa terkecuali sehingga sangat mudah untuk diperjual
belikan ke masyarakat.
Pada umumnya saham PT Terbuka kepemilikannya atas unjuk, bukan atas nama
sehingga tak sulit menjual maupun membeli saham PT Terbuka tersebut.
Penjualan saham ke masyarakat dilakukan dengan cara Initial Public Offering
(IPO) yaitu proses penawaran saham perusahaan kepada masyarakat untuk
pertama kali. Perusahaan seperti ini biasanya mempunyai tambahan singkatan
“Tbk.” di belakang nama perusahaannya.
3) Perseroan Terbatas (PT) Domestik atau PT Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN)
PT Domestik adalah perusahaan yang berdiri dan menjalankan kegiatan
operasionalnya di dalam negeri dan harus sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku di dalam negeri.
4) Perseroan Terbatas (PT) Asing atau PT Penanaman Modal Asing (PMA)
PT Asing adalah perusahaan yang didirikan di negara lain dengan aturan dan
hukum yang berlaku di negara tempat PT itu didirikan. Pemerintah Indonesia
telah menetapkan bahwa setiap perusahaan atau pemodal asing yang ingin
berbisnis dan beroperasi di dalam negeri yang berbentuk PT harus taat dan
tunduk terhadap aturan dan hukum yang berlaku di Indonesia.
5) Perseroan Terbatas (PT) Perseorangan
PT Perseorangan adalah perusahaan yang sahamnya telah dikeluarkan dan
hanya dimiliki oleh satu orang saja. Orang yang menguasai saham tersebut juga
bertindak atau menjabat sebagai direktur di perusahaan tersebut. Dengan begitu
otomatis orang itu akan akan memilik kekuasaan tunggal yaitu mengusai
wewenang diektur dan juga RUPS.
6) Perseroan Terbatas (PT) Umum atau PT Publik
PT Umum adalah perusahaan yang kepemilikan sahamnya bebas oleh siapa
saja dan juga terdaftar di Bursa Efek.

III. KOPERASI
Diatur dalam UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. UU ini mencabut
berlakunya UU. No. 14 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Perkoperasian.
a. Pengertian Koperasi
1) Adalah suatu kumpulan orang-orang untuk bekerja sama demi kesejahteraan
bersama.
2) Adalah badan hukum yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum
koperasi yang melandaskan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip-prinsip
koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas
kekeluargaan (Pasal 1 ayat (1) UU No.25 Tahun 1992).
Koperasi merupakan badan usaha yang sesuai dengan susunan perekonomian
sebagaimana ditentukan dalam Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 bahwa
perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

b. Tujuan Koperasi
Koperasi bertujuan untuk mensejahterakan anggota khususnya dan masyarakat
pada umumnya, serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam
rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berlandaskan
Pancasila dan UUD 1945.

c. Prinsip-prinsip Koperasi
Badan usaha Koperasi melaksanakan Prinsip Koperasi sebagai berikut :
1) Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka.
2) Pengelolaan dilakukan secara demokratis.
3) Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan secara adil sebanding dengan
besarnya jasa usaha masing-masing anggota.
4) Pemberian balas jasa terbatas terhadap modal.
5) Kemandirian atau tidak tergantung kepada pihak lain.
6) Pendidikan perkoperasian untuk mewujudkan tujuan koperasi.
7) Kerjasama antar Koperasi.
Sisa Hasil Usaha (SHU) merupakan pendapatan Koperasi yang diperoleh dalam
satu tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan dan kewajiban lainnya
termasuk pajak dalam tahun buku yang bersangkutan.

d. Fungsi dan Peranan Koperasi


1) Membangun dan mengembangkan potensi serta kemampuan ekonomi
anggota pada khusunya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan
kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
2) Berperan serta aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia
dan masyarakat.
3) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional.
4) Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional
yang merupakan usaha bersama atas asas kekeluargaan dan demokrasi
ekonomi.

e. Bentuk Koperasi
Berdasarkan pada kesamaan kegiatan dan kepentingan ekonomi anggotanya,
ada dua bentuk Koperasi yaitu :
1) Koperasi Primer adalah Koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan
orang seorangan. Koperasi Primer dibentuk oleh minimal 20 (dua puluh) orang.
Untuk mendirikan sebuah Koperasi Primer dibutuhkan minimal 20 (dua puluh)
orang yang mempunyai kegiatan dan kepentingan ekonomi yang sama, misalnya
sejumlah karyawan dari sebuah perusahaan, sekumpulan pedagang di sebuah
pasar, sekumpulan petani di sebuah desa, sekumpulan warga di suatu kompleks
perumahan, dll.
2) Koperasi Sekunder adalah Koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan
beberapa Koperasi. Koperasi Sekunder dibentuk oleh minimal 3 (tiga) Koperasi
Primer.
Penggabungan (amalgamasi) dan peleburan Koperasi dapat dilakukan dengan
pertimbangan pengembangan dan/atau efisiensi usaha pengelolaan Koperasi
sesuai dengan kepentingan anggota. Penggabungan atau peleburan Koperasi
dilakukan dengan persetujuan Rapat Anggota masing-masing Koperasi.

f. Pendirian Koperasi
Pembentukan Koperasi (baik Koperasi Primer maupun Koperasi Sekunder)
dilakukan dengan akta pendirian yang memuat Anggaran Dasar Koperasi (Pasal
7 UU Koperasi).

g. Isi Anggaran Dasar Koperasi


Pembentukan sebuah Koperasi dilakukan dengan membuat Akta Pendirian yang
memuat Anggaran Dasar Koperasi. Anggaran Dasar tersebut memuat daftar
nama pendiri, nama dan tempat kedudukan, maksud dan tujuan serta bidang
usaha, ketentuan mengenai keanggotaan, ketentuan mengenai pelaksanaan
Rapat Anggota, ketentuan mengenai pengelolaan Koperasi, ketentuan mengenai
permodalan, ketentuan mengenai jangka waktu berdirinya Koperasi, ketentuan
mengenai pembagian Sisa Hasil Usaha dan Ketentuan mengenai sanksi.
Anggaran Dasar Koperasi dapat diubah jika Rapat Anggota menghendakinya
dan bila ada perubahan yang menyangkut tentang penggabungan, pembagian,
dan perubahan bidang usaha Koperasi. Apabila terjadi perubahan Anggaran
Dasar Koperasi, maka harus mengajukan permohonan pengesahan dari
Departemen Koperasi dan Pengusaha Menengah Kecil.

h. Status Badan Hukum Koperasi

Koperasi adalah Badan Hukum (Pasal 1 UU No. 25 Tahun 1992). Koperasi akan
memperoleh Badan Hukum setelah akta pendiriannya disahkan oleh Pemerintah
dengan mengajukan permohonan tertulis yang disertai Akta Pendirian Koperasi,
berita acara rapat pembentukan Koperasi, surat bukti penyetoran modal (minimal
sebesar simpanan pokok), serta rencana awal kegiatan Koperasi melalui
Departemen Koperasi dan Pengusaha Menengah Kecil (Pasal 9 UU Koperasi).

Pengesahan Akta Pendirian Koperasi akan diberikan paling lama 3 (tiga) bulan
setelah diterimanya permintaan pengesahan dan wajib diumumkan dalam Berita
Negara Republik Indonesia (Pasal 10 ayat (2) dan (3) UU No.25 tahun 1992).

i. Struktur organisasi Koperasi


Pengelola Koperasi diangkat untuk mewujudkan profesionalisme dalam
pengelolaan Koperasi. Dengan demikian sesuai kepentingannya Koperasi dapat
mengangkat Pengelola sebagai Manager atau Direksi.

Berdasarkan Pasal 21 UU No.25 Tahun 1992, Koperasi mempunyai perangkat


atau unsur elemen anggota pengelola Koperasi yaitu :

1) Rapat Anggota
Rapat Anggota adalah pihak yang memegang kekuasaan tertinggi dalam struktur
organisasi koperasi. Rapat Anggota dihadiri oleh anggota yang pelaksanaannya
diatur dalam Anggaran Dasar yaitu paling sedikit dilaksanakan setiap satu tahun
sekali dan dapat diadakan jika ada sesuatu hal yang mendesak dan perlu diambil
keputusan sesegera mungkin.
Kewenangan Rapat Anggota adalah membuat berbagai keputusan strategis
koperasi serta menetapkan antara lain :
a. Anggaran Dasar.
b. Anggaran rumah tangga, anggaran kerja dan anggaran belanja koperasi.
c. Kebijakan umum di bidang organisasi, manajemen dan usaha koperasi.
d. Pemilihan, pengangkatan, pemberhentian pengurus dan pengawas
e. Pengesahan pertanggungjawaban pengurus dalam pelaksanaan tugasnya.
f. Pembagian hasil usaha.
g. Penggabungan, peleburan, pembagian dan pembubaran koperasi.
h. Mengesahkan laporan neraca.
2) Pengurus Koperasi

Pengurus Koperasi merupakan pemegang kuasa Rapat Anggota. Pengurus


adalah orang-orang yang dipilih untuk masa jabatan maksimal (5) lima tahun
sesuai dengan Anggaran Dasar Koperasi. Sepertiga anggota pengurus Koperasi
dapat dipilih dari orang-orang yang bukan anggota Koperasi, sedangkan sisanya
sebesar dua pertiga adalah harus benar-benar berasal dari anggota Koperasi.
Susunan Pengurus Koperasi dicantumkan dalam Akta Pendirian Koperasi.
Pengurus Koperasi memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menjalankan dan
melaksanakan segala hal yang tercantum dalam keputusan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga dan Rapat Anggota. Pengurus Koperasi bertanggung
jawab langsung kepada Rapat Anggota. Berdasarkan Pasal 30 UU Koperasi,
tugas pengurus adalah :
a. Mengelola Koperasi dan usahanya.
b. Mengajukan rancangan rencana kerja serta rancangan rencana anggaran
pendapatan dan belanja Koperasi.
c. Menyelenggarakan Rapat Anggota.
d. Mengajukan laporan keuangan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas.
e. Menyelenggarakan pembukuan keuangan dan inventaris secara tertib.
f. Memelihara daftar buku anggota dan pengurus.

Tidak menutup kemungkinan bagi penuntut umum untuk melakukan penuntutan


apabila Pengurus Koperasi, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri,
melakukan kesalahan dengan sengaja atau lalai dalam tugas. Sehingga segala
kerugian yang diderita Koperasi menjadi tanggung jawab Pengurus Koperasi
yang melakukan kesalahan tersebut.

3) Pengawas atau Badan Pemeriksa Koperasi


Pengawas adalah orang yang bertugas melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan kebijaksanaan dalam pengelolaan Koperasi. Pengawas merupakan
suatu jabatan pada Koperasi yang anggotanya dipilih dari anggota Koperasi dan
tidak boleh merangkap jabatan lain pada Koperasi tersebut. Pengawas
bertanggung jawab langsung kepada Rapat Anggota.

Berdasarkan Pasal 39 UU Koperasi, tugas Pengawas adalah :


a. Melakukan pengawasan terhadap kebijaksanaan dalam pengelolaan
Koperasi.
b. Membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasan.
c. Memeriksa pembukuan keuangan dan kekayaan koperasi, tata kehidupan
koperasi dan pelaksanaan kebijakan pengurus koperasi.
Pengawas berwenang meneliti catatan yang ada pada Koperasi serta
mendapatkan segala keterangan yang diperlukan. Koperasi dapat meminta jasa
audit kepada Akuntan Publik dalam rangka peningkatan efisiensi, pengelolaan
yang bersifat terbuka dan melindungi pihak yang berkepentingan.

j. Anggota Koperasi
Merupakan individu-individu atau koperasi-koperasi yang menjadi bagian dari
koperasi tersebut sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Sebagai
anggota koperasi wajib membayar sejumlah uang untuk simpanan pokok dan
simpanan wajib.

Di dalam Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 27 (Revisi


1998), disebutkan bahwa karakteristik utama koperasi yang membedakan
dengan badan usaha lain adalah anggota koperasi memiliki identitas ganda yaitu
anggota koperasi yang merupakan pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi.
Umumnya koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggotanya,
dimana setiap anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan
yang diambil koperasi.

Pembagian keuntungan koperasi atau yang biasa disebut dengan Sisa Hasil
Usaha (SHU) biasanya dihitung berdasarkan andil anggota tersebut dalam
koperasi, misalnya dengan melakukan pembagian deviden/keuntungan
berdasarkan besar pembelian atau penjualan yang dilakukan oleh si anggota.

k. Hak dan Kewajiban Anggota Koperasi


Hak-hak yang dimiliki oleh anggota Koperasi adalah sebagai berikut :
a. Menghadiri, menyatakan pendapat dan memberikan suara dalam Rapat
Anggota.
b. Memilih dan/atau dipilih menjadi anggota Pengurus atau Pengawas.
c. Meminta diadakan Rapat Anggota menurut ketentuan dalam Anggaran Dasar.
d. Mengemukakan pendapat atau saran kepada Pengurus di luar Rapat Anggota.
e. Memanfaatkan Koperasi dan mendapat pelayanan yang sama antara sesama
anggota.
f. Mendapatkan keterangan mengenai perkembangan Koperasi
Kewajiban yang harus dilaksanakan oleh anggota Koperasi adalah sebagai
berikut :
a. Mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta keputusan
yang telah disepakati dalam Rapat Anggota.
b. Berpartisipasi dalam kegiatan usaha yang diselenggarakan Koperasi.
c. Mengembangkan dan memelihara kebersamaan berdasarkan asas
kekeluargaan.

l. Modal Koperasi
Modal Koperasi terdiri dari :
1) Modal Sendiri yang berasal dari :
a. Simpanan Pokok adalah sejumlah uang yang sama banyaknya dan wajib
dibayar oleh anggota pada Koperasi pada saat masuk menjadi anggota.
Simpanan pokok tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih
menjadi anggota.
b. Simpanan Wajib adalah jumlah simpanan tertentu yang tidak harus sama dan
wajib dibayar oleh anggota kepada Koperasi dalam waktu dan kesempatan
tertentu. Simpanan Wajib tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan
masih menjadi anggota.
c. Dana Cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan Sisa
Hasil Usaha, yang dimaksudkan untuk memupuk modal sendiri dan untuk
menutup kerugian Koperasi bila diperlukan.
d. Hibah.
2) Modal Pinjaman yang berasal dari :
a. Koperasi lainnya dan atau anggotanya.
b. Bank dan lembaga keuangan lainnya.
c. Penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya.
d. Sumber-sumber lain yang sah.

Usaha Koperasi adalah usaha yang berkaitan langsung dengan kepentingan


anggota untuk meningkatkan usaha dan kesejahteraan anggota. Kelebihan
kemampuan pelayanan Koperasi dapat digunakan memenuhi kebutuhan
masyarakat yang bukan anggota Koperasi.

m. Pembubaran Koperasi
Pembubaran Koperasi dapat dilakukan berdasarkan :
1) Keputusan Rapat Anggota.
2) Keputusan Pemerintah.
Pemerintah dapat membubarkan Koperasi apabila :
a. Terdapat bukti bahwa Koperasi yang bersangkutan tidak memenuhi ketentuan
Undang-undang Koperasi.
b. Kegiatannya bertentangan dengan ketertiban umum dan atau kesusilaan.
c. Kelangsungan hidupnya tidak dapat lagi diharapkan.

n. KOPERASI INDONESIA
Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial dan
beranggotakan orang-orang, badan-badan hukum koperasi yang merupakan tata
susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan
(berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1967).
Landasan Koperasi Indonesia yang melandasi aktivitas koperasi di Indonesia
adalah :
1. Landasan Idiil adalah Pancasila.
2. Landasan Mental adalah setia kawan dan kesadaran diri sendiri.
3. Landasan Struktural dan gerak adalah UUD 1945 Pasal 33 Ayat 1.
Fungsi Koperasi Indonesia adalah :
1. Sebagai urat nadi kegiatan perekonomian Indonesia.
2. Sebagai upaya mendemokrasikan sosial ekonomi Indonesia.
3. Untuk meningkatkan kesejahteraan warga negara Indonesia.
4. Memperkokoh perekonomian rakyat indonesia dengan jalan pembinaan
koperasi.
Peran dan Tugas Koperasi antara lain :
1. Meningkatkan taraf hidup sederhana masyarakat Indonesia.
2. Mengembangkan demokrasi ekonomi di Indonesia.
3. Mewujudkan pendapatan masyarakat yang adil dan merata dengan cara
menyatukan, membina, dan mengembangkan setiap potensi yang ada.

IV. YAYASAN (STICHTING)


a. Pengertian Yayasan
1) Adalah suatu Badan Hukum yang dilahirkan oleh suatu pernyataan sepihak.
Pernyataan itu harus berisikan pemisahan suatu kekayaan untuk suatu tujuan
tertentu, dengan penunjukkan, bagaimanakah kekayaan itu diurus dan
digunakan (pendapat Scholten).
2) Adalah suatu Badan Hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan
diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan dan
kemanusiaan yang tidak mempunyai anggota (Pasal 1 butir 1 Undang-Undang
No. 16 Tahun 2001).

b. Status Badan Hukum Yayasan


Kedudukan badan hukum Yayasan diperoleh bersamaan dengan waktu
berdirinya Yayasan. Unsur-unsur yang terdapat dalam Yayasan sebagai Badan
Hukum antara lain :
1) Mempunyai harta kekayaan sendiri, yang berasal dari suatu perbuatan
pemisahan.
Kekayaan yang terpisah diperlukan untuk mengejar tercapainya tujuan dan
merupakan sumber dari segala hubungan-hubungan hukum.
2) Mempunyai tujuan sendiri (tertentu).
Tujuan dari Yayasan harus merupakan tujuan yang idiil, bukan tujuan yang
komersiil atau tujuan untuk kepentingannya sendiri.
3) Mempunyai alat-perlengkapan (organisasi).

Hal-hal yang dapat menyebabkan hilangnya kedudukan Yayasan sebagai badan


hukum antara lain :
a. Bertentangan dengan ketertiban umum.
b. Dalam mencapai tujuannya bertentangan dengan kesusilaan dan hukum.
Yayasan yang berbentuk Badan Hukum dianggap sebagai subyek hukum dan
dapat melakukan perbuatan hukum, serta mampu, berhak dan berwenang untuk
melakukan tindakan-tindakan perdata. Pada dasarnya keberadaan Badan
Hukum bersifat permanen, artinya Badan Hukum tidak dapat dibubarkan hanya
dengan persetujuan para pendiri atau anggotanya. Badan Hukum hanya dapat
dibubarkan jika telah dipenuhi segala ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan
dalam Anggaran Dasarnya.

c. Ciri-ciri Yayasan
1) Bersifat dan bertujuan sosial, keagamaan dan kemanusiaan.
2) Tidak semata-mata mengutamakan keuntungan atau mengejar/mencari
keuntungan penghasilan yang sebesar-besarnya.
3) Tidak mempunyai anggota.

d. Hak dan Kewajiban Yayasan


Hak dan kewajiban yang dimiliki oleh yayasan yang berbentuk Badan Hukum
adalah sebagai berikut :
1) Hak dari Yayasan adalah berhak untuk mengajukan gugatan.
2) Kewajiban dari Yayasan adalah wajib mendaftarkan yayasan tersebut pada
instansi yang berwenang untuk mendapatkan status badan hukum.

e. Pendirian Yayasan
Di Indonesia, Yayasan dapat didirikan pada saat pendirinya masih hidup atau
dengan suatu surat wasiat. Pendiri Yayasan bebas mengatur Yayasan sesuai
dengan kehendaknya, tetapi harus tetap dijaga agar Yayasan tidak berubah
menjadi perkumpulan. Syarat formil dalam mendirikan Yayasan adalah akta
otentik dan disahkan oleh Notaris. Akta pendirian Yayasan memuat Anggaran
Dasar yang berisi tentang :
1) Kekayaan yang dipisahkan.
2) Nama dan tempat kedudukan Yayasan.
3) Tujuan Yayasan.
4) Bentuk dan susunan pengurus serta cara penggantian anggota pengurus.
5) Cara pembubaran Yayasan.
6) Cara menggunakan sisa kekayaan dari Yayasan yang telah dibubarkan.

D. BENTUK USAHA LAINNYA


I. BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN)
a. Landasan Hukum BUMN
Perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya
semua faktor produksi. Setiap perusahaan ada yang terdaftar di pemerintah dan
ada pula yang tidak terdaftar. Bagi perusahaan yang terdaftar di pemerintah
maka perusahaan tersebut mempunyai badan usaha untuk perusahaannya.
Badan usaha adalah status suatu perusahaan yang terdaftar pada pemerintah.
Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945 memberikan dasar hukum bagi pemerintah
untuk melibatkan diri dalam aktivitas ekonomi.
BUMN menjadi salah satu pelaku ekonomi dalam sistem perkonomian nasional,
di samping usaha swasta dan koperasi, serta ikut berperan menghasilkan barang
dan jasa yang diperlukan dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Badan usaha di Indonesia dikelompokan menjadi 3 jenis, yaitu:
1. Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
2. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
3. Badan Usaha Milik Swasta (BUMS)
Setiap Badan Usaha memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Misalnya, seluruh
Badan Usaha yang tergolong dalam BUMN berbeda dengan yang tergolong
dalam BUMS, karena BUMN dikelola oleh pihak negara sedangkan BUMS
dikelola oleh pihak swasta dan masih banyak lagi.

b. Pengertian dan Tujuan BUMN


Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah badan usaha yang seluruh atau
sebagian besar modalnya dimiliki oleh Negara melalui penyertaan secara
langsung yang berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan (UU No.19 Tahun
2003).
c. Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN
Menurut UU No.19 Tahun 2003, maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah
sebagai berikut :
1) Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada
umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya.
2) Mengejar keuntungan.
3) Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan atau
jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang
banyak.
4) Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh
sector swasta dan koperasi.
5) Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan
ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat.

d. Jenis BUMN
Menurut UU No.23 Tahun 2003, BUMN terdiri dari 2 jenis, yaitu :
1) Perusahaan Perseroan (Persero)
Persero adalah BUMN yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang modalnya
terbagi atas saham yang seluruh atau paling sedikit 51% sahamya dimiliki oleh
Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan.
Persero merupakan salah satu Badan Usaha yang dikelola oleh Negara atau
Daerah.
Ciri-ciri Persero adalah sebagai berikut:
1. Tujuan utamanya mencari laba (Komersial) dan memberi pelayanan kepada
umum.
2. Modal pendirian Persero berasal dari sebagian atau seluruh kekayaan negara
yang dipisahkan berupa saham-saham.
3. Orang yang membeli saham disebut pemegang saham.

4. Tujuan membeli saham adalah :


a. menjadi bagian pemilik suatu perusahaan.
b. untuk mendapatkan deviden atau keuntungan.
c. untuk spekulasi agar mendapat kapital selisih harga beli dengan harga jual.
5. Persero dipimpin oleh Direksi.
6. Pegawai Persero berstatus sebagai pegawai swasta.
7. Badan usahanya ditulis PT. <> (PERSERO).
Contoh : PT. Garuda Indonesia Airways (PERSERO)
8. Tidak memperoleh fasilitas negara.
Contoh-contoh perusahaan yang mempunyai badan usaha Persero di Indonesia
antara lain :
PT. Garuda Indonesia Airways (PERSERO), PT. Angkasa Pura (PERSERO), PT.
Pertamina (PERSERO), PT. Aneka Tambang (PERSERO), PT. PELNI
(PERSERO), PT. Perusahaan Listrik Negara (PERSERO), PT. Pos Indonesia
(PERSERO), PT. Kereta Api Indonesia (PERSERO) dan PT. Telkom
(PERSERO).

II. WAKAF
Wakaf adalah suatu lembaga hukum Islam di Indonesia yang keberadaannya
telah diterima oleh masyarakat hukum adat (gerecipoeed). Mewakafkan adalah
suatu perbuatan hukum, yaitu tanah atau barang dikeluarkan dari peredaran
perniagaan dengan ketentuan bahwa pemakaian atau hasil dari tanah atau
benda tersebut akan digunakan untuk orang-orang tertentu atau untuk suatu
tujuan tertentu asalkan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Haditsth.

Terdapat dua jenis Wakaf, yaitu :


1. Wakaf Chairy adalah Wakaf di jalan Allah SWT.
2. Wakaf Ahly adalah Wakaf kepada keluarga atau orang-orang tertentu.
Dalam buku-buku fikih memang tidak dapat ditemukan suatu dasar yang
menunjukkan bahwa Wakaf adalah suatu badan hukum. Tetapi sebenarnya,
Wakaf sama halnya dengan bentuk usaha Yayasan karena pada Wakaf terdapat
unsur-unsur yang merupakan ciri-ciri suatu badan hukum, antara lain :
1) Adanya harta kekayaan sendiri. Dengan perbuatan mewakafkan, benda
dikeluarkan dari peredaran dan tidak boleh dimiliki oleh manusia (natuuelijk
persoon). Hanya kegunaannya saja yang dinikmati terus menerus oleh hukum.
2) Mempunyai tujuan sendiri, baik tujuan ibadah keagamaan atau bersifat amal
kebaikan.
3) Mempunyai organisasi. Penyelenggaraan Wakaf diurus oleh Mutawalli yang
berkuasa untuk melakukan segala tindakan-tindakan hukum untuk dapat
mencapai tujuan wakaf tersebut. Jika pada suatu Wakaf tidak ada Mutawalli,
maka pengawasannya dilakukan oleh Kadhi yaitu penghulu atau pegawai
Jawatan Agama.

III. USAHA DAGANG (U.D.) atau PERUSAHAAN DAGANG (P.D.)

Di dalam hukum perusahaan yang merupakan bagian dari hukum dagang, maka
Usaha Dagang (U.D.) atau Perusahaan Dagang (P.D.) memang tidak
disyaratkan harus menjadi suatu Badan Hukum, namun demikian bentuk
perusahaan ini telah banyak diterima oleh dunia perdagangan di Indonesia.

Bentuk U.D. atau P.D. didirikan atas dasar kehendak sendiri dari seorang
pengusaha yang mempunyai cukup modal usaha dan sudah merasa ahli atau
berpengalaman di bidang perdagangan.

Sebagai seorang pengusaha U.D. atau P.D., tidak bisa mengharapkan keahlian
dari orang lain, sebab posisi sebagai pengusaha atau manajernya adalah dia
sendiri. Kalau modalnya kecil maka dia akan bekerja sendirian. Tetapi jika
modalnya cukup besar dan kegiatan usahanya makin besar maka dia akan
menggunakan beberapa orang buruh sebagai pembantunya. Keahlian, teknologi
dan manajemen dilakukan oleh pengusaha itu sendiri diri, begitu pula dengan
keuntungan dan kerugian U.D. atau P.D. menjadi bebannya sendiri.

P.D. sebagai suatu lembaga di bidang perniagaan sudah lazim diterima dalam
masyarakat Indonesia. Karena peraturannya belum ada, maka prosedur
mendirikan perusahaan itu secara resmi belum ada. Walau demikian, dalam
praktek prosedur ini bisa diselidiki sebagaimana kebiasaan yang berlaku dalam
masyarakat perdagangan di Indonesia. Umumnya bila orang ingin mendirikan
P.D., maka orang tersebut akan :

1) Mengajukan permohonan untuk meminta izin usaha kepada Kepala Kantor


Wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan setempat.
2) Mengajukan permohonan untuk meminta izin tempat usaha kepada
Pemerintah Daerah setempat.

Berdasarkan kedua surat izin tersebut seseorang sudah bisa mulai melakukan
usaha perdagangan yang dikehendaki. Kedua surat izin itu juga sudah
merupakan tanda bukti sah menurut hukum bagi UD/PD yang akan melakukan
usahanya, karena kedua instansi tersebut menurut hukum berwenang
mengeluarkan surat izin dimaksud.
Diposkan oleh Herman-Notaris dan PPAT di 12:15 0
komentar
Label: BADAN HUKUM DAN KEDUDUKAN BADAN HUKUM
http://www.blogger.com/img/blank.gif