1.

Hubungan

Riwayat

Penyakit

Dahulu

dengan

Riwayat

Penyakit Sekarang
Berdasarkan skenario, dapat dianalisis bahwa 3 bulan lalu, pasien mengeluh bahwa 5 hari sebelumnya mengalami batuk pilek dengan hidung buntu dan demam menggigil. Keluhan tersebut semakin memberat, karena telinga kanan nyeri hingga dibawa ke rumah sakit karena 1 hari sebelum masuk rumah sakit keluar cairan jernih encer tidak berbau disertai denging. Setelah cairan keluar, demam pasien menurun, dan ditemukan pembesaran dan nyeri tekan pada kelenjar leher. Keluhan tersebut mengindikasi telah terjadi otitis media akut stadium perforasi karena membran tympani yang telah ruptur. Penderita juga mempunyai riwayat sering batuk pilek disertai nyeri saat menelan yang kambuhan. Dan membaik setelah diberi obat dari Puskesmas. Obat tersebut kemungkinan merupakan obat simptomatik, sehingga penyebab penyakit belum teratasi dan akan kambuh kembali. Saat di Rumah Sakit, penderita diberi obat oleh dokter jaga Poli THT dan kondisi membaik. Namun, penderita tidak control kembali, dari sebab ini kemungkinan besar penyakit pasien tersebut tidak terpantau. Penderita saat ini datang dengan keluhan yang bertambah parah dari keluhan sebelumnya. Keluhan dan gejala pasien sekarang yaitu keluar cairan kembali dari telinga kanan namun dengan konsistensi cairan yang kuning kental dan berbau busuk. Selain itu ditambah pendengarannya menurun dan kepala pusing. Hal tersebut dapat terjadi karena kemungkinan otitis media yang pernah diderita pasien belum mengalami resolusi, sehingga seharusnya antibiotik yang diberikan diperpanjang hingga 3 minggu. Namun karena tidak kontrol, kondisi pasien semakin menurun dan penyakit pasien sebelumnya menimbulkan komplikasi kea rah otitis media supuratif kronik dan gangguan pada pendengaran berupa tuli konduksi (Djaafar et al, 2007).

TIDAK ADA PEMANTULAN CAHAYA DAN TIMPANI HIPEREMIS DAN BULGING JIKA TERLIHAT . LEBIH LEBAR DAN LEBIH HORISONTAL MENYEBAR KE TELINGA MELALUI TUBA EUSTAHIUS MENGINFEKSI SALURAN SALURAN BENGKAK SALURAN TERSUMBAT SEL DARAH PUTIH DATANG MELAWAN BAKTERI BAKTERI MATI TERBENTUK PUS DITELINGA PUS SAMKIN BANYAK TEKANAN MENINGKAT PERFORASI MEMBRAN TIMPANI RUPTUR NYERI.AEREUS. PNEUMOKOKUS FAKTOR PENCETUS : ANAK 8 TAHUN MEMPUNYAI TUBA EUCTACHIUS YANG LEBIH PENDEK.HAEMOLITIKUS. MEMBRAN TIMPANI TERTUTUP. Mekanisme gejala pada skenario dan hubungannya dengan INFEKSI SAL. PENDENGARAN MENURUN.2.NAFAS ( BATUK PILEK ) usia pasien? BAKTERI PYOGENIK : S. S. NANAH KELUAR KE LIANG TELINGA LUAR OTOSKOPI : CAIRAN MUKOPURULEN.

dan kemudian berjalan di bawah liang telinga untuk memasuki kelenjar parotis. Bentuk rawan ini unik dan dalam merawat telinga luar. harus diusahakan untuk mempertahankan bangunan ini.1 Anatomi dan Fisiologi Telinga Anatomi telinga dibagi atas telinga luar.telinga dalam: Telinga Luar atau pinna (aurikula) merupakan gabungan dari rawan yang diliputi kulit.  Membran Timpani . Seringkali ada penyempitan liang telinga pada perbatasan tulang dan rawan ini.2. dan rawan yang nekrosis dapat menimbulkan deformitas kosmetik pada pina (telinga kembang kol) Liang telinga memiliki tukang rawan pada bagian lateral namun bertulang di sebelah medial. Sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak di depan terhadapa liang telinga sementara prosesu mastoideus terletak di belakangnya. patokan lainnya adalah sutura timpanomastoideus.telinga tengah. Saraf fasialis meninggalkan foramen stilomastoideus dan berjalan ke lateral menuju prosesus stiloideus di posteroinferior liang telinga. Kulit dapat terlepas dari rawan dibawahnya oleh hematom atau pus. Rawan liang telinga merupakan salah satu patokan pembedahan yang digunakan untuk mencari saraf fasialis.

yaitu tegak dan membentuk saluran menuju gendang telinga. dan membran timpani (gendang telinga).Daun telinga manusia mempunyai bentuk yang khas.Membran timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan bentuk kerucut dengan puncaknya. Penting untuk disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung korpus maleus dan inkus. Saluran menuju membran timpani Rambut. umbo. dan bahwa ada bagian hipotimpanum yang meluas melampaui batas bawah mebrana timpani. dan lapisan mukosa bagian dalam. Telinga bagian luar. Membrani timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar. Berupa bulu-bulu halus Kelenjar minyak.kan gelombang suara Menahan dan menjerat kotoran yang melewati lubang telinga Meminyaki dan menahan kotoran yang . Telinga luar Telinga luar terdiri dari daun telinga. Bagian yang menghasilkan Fungsi Mengumpulkan dan menyalurkan gelombang bunyi ke dalam telinga Membantu mengkonsentrasi. lapisan fibrosa di bagian tengah dimana tangakai maleus dilekatkan. meluas melampaui batas atas membrana timpani. dan kelenjar lilin yang menjaga agar permukaan saluran luar dan gendang telinga tidak kering. mengarah ke medial. tetapi bentuk ini kurang mendukung fungsinya sebagai penangkap dan pengumpul getaran suara. Bentuk daun telinga yang sangat sesuai dengan fungsinya adalah daun telinga pada anjing dan kucing. Saluran luar yang dekat dengan lubang telinga dilengkapi dengan rambut-rambut halus yang menjaga agar benda asing tidak masuk. terdiri dari : Organ Daun telingaBagian telinga luar berupa gelambir Liang telinga. Embrana timpani umumnya bulat. saluran luar. Lapisan fibrosa tidak terdapat di prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan membrana timpani disebut membrana shrapnell menjadi lemas (flaksid) I.

Hubungan telinga tengah dengan bagian telinga dalam melalui jendela oval dan jendela bundar yang keduanya dilapisi dengan membran yang transparan. terdiri dari : Organ Tulang – tulang Pendengaran Saluran Eustachius Fungsi Meneruskan getaran ke tingkap oval Menjaga agar tekanan udara di dalam dan di luar rongga telinga sama besarnya. Fungsi rangkaian tulang dengar adalah untuk mengirimkan getaran suara dari gendang telinga (membran timpani) menyeberangi rongga telinga tengah ke jendela oval. Kedua tulang ini terikat erat oleh ligamentum sehingga mereka bergerak sebagai satu tulang. Rongga telinga tengah berhubungan dengan telinga luar melalui membran timpani. Ketiga tulang tersebut adalah tulang martil (maleus) menempel pada gendang telinga dan tulang landasan (inkus). Berupa selaput tipis (selaput Menangkap getaran bunyi dan menyalurkan ke gendang) yang kuat tulang-tulang pendengar II. Selain itu terdapat pula tiga tulang pendengaran yang tersusun seperti rantai yang menghubungkan gendang telinga dengan jendela oval. . Telinga Tengah Bagian ini merupakan rongga yang berisi udara untuk menjaga tekanan udara agar seimbang. Di dalamnya terdapat saluran Eustachio yang menghubungkan telinga tengah dengan faring. sehingga gendang telinga tidak rusak. Antara tulang landasan dan tulang sanggurdi terdapat sendi yang memungkinkan gerakan bebas.minyak melewati lubang telinga Membran timpani. Tulang yang ketiga adalah tulang sanggurdi (stapes) yang berhubungan dengan jendela oval. Telinga bagian Tengah.

Di depan labirin terdapat koklea atau rumah siput. Organo corti terdiri dari sel rambut dan sel penyokong. yang terletak lebih dalam dan memiliki cairan endolimfe. sebuah rangkaian rongga pada tulang pelipis yang dilapisi periosteum yang berisi cairan perilimfe & labirin membranasea. terdiri dari : Organ Rumah siput (koklea)Saluran seperti spiral (berisi cairan endolimfe) Organ kortiBagian koklea yang peka terhadap rangsang bunyi Fungsi Meneruskan rangsang getaran bunyi Meneruskan getaran bunyi ke saraf auditori Alat keseimbangan tubuh Menjaga keseimbangan tubuh Kanalis semisirkularis (3 saluran setengah lingkaran) Berupa 3 saluran berlengkung-lengkung Sakulus dan utrikulus Pangkal kanalis semisirkularis (berisi cairan endolimfe dan butiran kalsium) . Bagian dasar dari skala vestibuli berhubungan dengan tulang sanggurdi melalui jendela berselaput yang disebut tingkap oval. Penampang melintang koklea trdiri aras tiga bagian yaitu skala vestibuli. Telinga bagian dalam. Di atas membran basilaris terdapat organo corti yang berfungsi mengubah getaran suara menjadi impuls. Di atas sel rambut terdapat membran tektorial yang terdiri dari gelatin yang lentur. Bagian atas skala media dibatasi oleh membran vestibularis atau membran Reissner dan sebelah bawah dibatasi oleh membran basilaris.III. dan skala timpani. sedangkan skala timpani berhubungan dengan telinga tengah melalui tingkap bulat. sedangkan sel rambut akan dihubungkan dengan bagian otak dengan saraf vestibulokoklearis. skala media. Telinga dalam Telinga dalam terdiri dari labirin osea (labirin tulang).

Bentuknya seperti huruf S. Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu : 1. elevator veli palatini M. Tuba Eustachius Tuba eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani.5 mm1. sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibule bergerak. salpingofaringeus  Fisiologi pendengaran Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energy bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang kekoklea. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut.9 :     M. Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3 bagian). Fungsi tuba eustachius sebagai ventilasi telinga. Pada orang dewasa panjang tuba sekitar 36 mm berjalan ke bawah. Otot yang berhubungan dengan tuba eustachius yaitu1. 2. sehingga akan menimbulkan gerak relative antara membran basilaris dan membran tektoria. Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian). sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan . Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut. tensor timpani M. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ketelinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengimplikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. depan dan medial dari telinga tengah 13 dan pada anak dibawah 9 bulan adalah 17. Getaran diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong endolimfa. tensor veli palatini M.

menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius. lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis. (Duus. 1996). .