BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Puskesmas 1. Definisi Puskesmas (Effendy, 1997) a. Dr . Azrul Azwar, MPH (1980) Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam suatu wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha-usaha pokok. b. Departemen kesehatan RI 1987 1) Puskesmas adalah sebagai pusat pembangunan kesehatan yang berfungsi mengembangkan dan membina kesehatan masyarakat serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat dalam bentuk kegiatan pokok yang menyeluruh dan terpadu di wilayah kerjanya. 2) Puskesmas adalah suatu unit organisasi fungsional yang secara profesional melakukan upaya pelayanan kesehatan pokok yang menggunakan peran serta masyarakat secara aktif untuk dapat

8

memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjannya. c. Departemen Kesehatan RI 1991 Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan yang langsung memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terintegrasi kepada masyarakat di wilayah kerja tertentu dalam usaha-usaha kesehatan pokok. d. Departemen kesehatan RI 2006 Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung kesehatan di jawab suatu dalam wilayah

menyelenggarakan

pembangunan

kerjanya. Secara nasional standar wilayah kerja Puskesmas adalah satu kecamatan, apabila di suatu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar Puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah yaitu desa/kelurahan atau dusun/rukun warga. 2. Fungsi Pokok Puskesmas Fungsi pokok Puskesmas ada 3, yaitu (Effendy, 1997): a. Sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat di wilayahnya b. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat

9

c. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya.

3. Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh puskesmas meliputi (Depkes RI, 2006): a. Pelayanan promotif (peningkatan kesehatan) b. Pelayanan preventif (upaya pencegahan) c. Pelayanan kuratif (pengobatan) d. Pelayanan rehabilitatif (pemulihan kesehatan) 4. Kegiatan Pokok Puskesmas Sesuai dengan kemampuan tenaga maupun fasilitas yang berbedabeda, maka kegiatan pokok yang dapat dilaksanakan oleh sebuah Puskesmas akan berbeda-beda pula. Namun demikian kegiatan pokok Puskesmas yang seharusnya dilaksanakan menurut adalah sebagai berikut(Anonim, 2011): a. Kesejahteraan Ibu dan Anak. b. Keluarga Berencana. c. Usaha Peningkatan Gizi. d. Kesehatan Lingkungan. e. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular.

10

f. Pengobatan Termasuk Pelayanan Darurat Karena Kecelakaan. g. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat. h. Kesehatan Sekolah. i. Kesehatan Olahraga. j. Perawatan Kesehatan Masyarakat. k. Kesehatan Kerja. l. Kesehatan Gigi dan Mulut. m. Kesehatan Jiwa. n. Kesehatan Mata. o. Laboratorium Sederhana. p. Pencatatan dan Pelaporan Dalam Rangka Sistem Informasi Kesehatan. q. Kesehatan Lanjut Usia. r. Pembinaan Pengobatan Tradisional Pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas diarahkan pada keluarga sebagai satuan masyarakat terkecil. Tetapi, dalam kenyataanya kegiatan pokok di puskesmas belum semuanya dapat terealisasi karena semuanya dapat dipengaruhi oleh fasilitas dan tenaga kerja. Dalam pelayanannya Puskesmas memiliki upaya kesehatan wajib yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional, dan global, serta yang mempunyai daya ungkit untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2004): a. Promosi kesehatan

11

b. Kesehatan lingkungan c. Kesehatan ibu anak dan KB d. Perbaikan gizi masyarakat e. Pengobatan (Pelayanan kefarmasian)

12

5. 6. Struktur Organisasi Puskesmas a. Kepala puskesmas Kepala puskesmas mempunyai tugas memimpin, mengawasi, dan mengkoordinasi kegiatan Puskesmas dapat dilakukan dalam jabatan struktural dan jabatan fungsional. b. Kepala Urusan Tata Usaha Kepala Urusan Tata Usaha mempunyai tugas kepegawaian,

keuangan, perlengkapan, dan surat menyurat serta pencatatan dan pelaporan. c. KIA (Keluarga Ibu dan Anak) KIA mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu dan anak, serta keluarga berencana. d. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Bagian ini mempunyai tugas mengawasi peningkatan kasus penyakit menular serta menindaklanjuti terjadinya KLB. e. Kesehatan Gigi dan Mulut Bagian ini mempunyai tugas melaksanakan kegiatan berupa pemeriksaan, perawatan, pengobatan, penambalan, pencabutan,

pembersihan karang gigi serta mulut f. Ahli Gizi Ahli Gizi mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pemeriksaan gizi kesehatan masyarakat.

13

g. Ruang Periksa Pada bagian ini mempunyai tugas untuk melaksanakan kegiatan pemeriksaan kesehatan masyarakat. h. Promkes dan Kesling Promkes dan Kesling mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan masyarakat dan penyuluhan kesehatan masyarakat. i. Kamar Obat/Apotek Puskesmas Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kefarmasian di Puskesmas.

B. Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas 1. Pengertian Pelayanan Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain dan menyediakan kepuasan pelanggan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan pelayanan sebagai usaha melayani kebutuhan orang lain, sedangkan melayani adalah membantu mempersiapkan ataupun mengurus apa yang dibutuhkan seseorang. Pelayanan yang baik akan mampu memberikan kepuasan kepada pelanggan. Artinya, peranan manusia

(karyawan) yang melayani pelanggan merupakan faktor utama yang dapat menentukan suatu keberhasilan pelayanan, serta diikuti sarana dan prasarana yang menunjang (Antonina, 2005). Sementara pelayanan

14

kesehatan merupakan bagian terpenting dalam mewujudkan hidup sehat dan meningkatkan kesehatan itu sendiri (Rondang Ria Marsita 2006 (dalam Heru, 2012)). 2. Pelayanan Kefarmasian Pelayanan kefarmasian merupakan bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan termasuk didalamnya pelayanan kefarmasian di Puskesmas yang merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota. Dengan makin kompleksnya upaya pelayanan kesehatan khususnya masalah terapi obat, tenaga kefarmasian telah dituntut untuk memberikan perhatian dan orientasi pelayanan kepada pasien. Pelayanan kefarmasian di Puskesmas terdiri dari Pengelolaan Sumber Daya dan Pelayanan Farmasi Klinik (Depkes RI, 2006). a. Pengelolaan Sumber Daya 1) Sumber Daya Manusia Untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di puskesmas adalah apoteker dan asisten apoteker yang membantu pekerjaan apoteker dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian. 2) Sarana dan Prasarana Sarana adalah suatu tempat, fasilitas dan peralatan yang secara langsung terkait dengan pelayanan kefarmasian, sedangkan prasarana adalah tempat, fasilitas dan peralatan yang secara tidak langsung mendukung pelayanan kefarmasian.

15

3) Sediaan Farmasi Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetik. Perbekalan kesehatan semua bahan selain obat dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan kesehatan. 4) Administrasi Administrasi adalah rangkaian aktivitas pencatatan,

pelaporan, pengarsipan dalam rangka penatalaksanaan pelayanan kefarmasian yang tertib baik untuk sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan maupun pengelolaan resep supaya lebih mudah dimonitor dan dievaluasi. b. Pelayanan Farmasi Klinik 1) Penerimaan Resep Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi

pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Dalam resep harus memuat (Anief, 2010): a) Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi dan dokter hewan b) Tanggal penulisan resep (inscriptio). c) Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep. Nama setiap obat atau komposisi obat (invocatio). d) Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatura).

16

e) Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep, sesuai dengan petundang-undangan yang berlaku (subscriptio). f) Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. Setelah petugas menerima resep dari pasien, petugas melakukan hal-hal sebagai berikut: a) Pemeriksaan kelengkapan administratif resep, yaitu : nama dokter, nomor surat izin praktek (SIP), alamat praktek dokter, paraf dokter, tanggal, penulisan resep, nama obat, jumlah obat, cara penggunaan, nama pasien, umur pasien, dan jenis kelamin pasien. b) Pemeriksaan kesesuaian farmasetik, yaitu bentuk sediaan, dosis, cara dan lama penggunaan obat. c) Pertimbangan klinik, seperti alergi, efek samping, interaksi dan kesesuaian dosis. d) Konsultasikan dengan dokter apabila ditemukan keraguan pada resep atau obatnya tidak tersedia. 2) Peracikan Obat Obat adalah semua bahan tunggal atau campuran yang digunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam maupun bagian luar, guna mencegah, meringankan, maupun menyembuhkan penyakit (Syamsuni, 2005). Macam-macam bentuk obat diantaranya adalah:

17

a) Pulvis : Serbuk yang tidak terbagi-bagi, dibungkus dengan kertas perkamen b) Pulveres : Serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus dengan kertas permanen c) Tablet (Compressi) : Sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Tablet yang berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram pipih/gepeng d) Pil (Pillulae) : Sediaan berupa massa bulat mengandung satu atau lebih bahan obat yang digunakan untuk obat dalam. e) Kapsul (Capsulae) : Bentuk sediaan padat yang terbungkus dalam suatu cangkang keras atau lunak yang dapat larut. f) Larutan (Solutiones) : Sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. g) Suspensi (Suspentiones) : Sediaan cair yang mengandung partikel tidak larut dalam bentuk halus yang terdispersi ke dalam fase cair. h) Emulsi (Emulsiones/Emulsa) : Sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lain dalam bentuk tetesan kecil. i) Supositoria (Suppositoria) : Sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk yang diberikan melalui rektum, vagina, atau uretra; umumnya meleleh, melunak, atau melarut pada suhu tubuh. j) Salep (Unguenta/Unguentum) : Sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar.

18

Berikut adalah beberapa Daftar Obat Esensial Nasional untuk Puskesmas (DOEN, 2011). e) Analgesik, Antipiretik Ibuprofen, Natrium Diklofenak, Parasetamol f) Antialergi Klorfeniramin Maleat g) Antelmentik Mebendazol, Albendazol, Pirantel h) Antibakteri Amoksisislin, Ampisilin, Kloramfenikol i) Antiinfeksi khusus; Antituberkulosis Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid Setelah memeriksa resep, petugas melakukan hal-hal sebagai berikut: a) Pengambilan obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan menggunakan alat, dengan memperhatikan nama obat, tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik obat (Depkes RI, 2006). b) Peracikan obat Menyiapkan obat yang ada pada resep yang telah dikaji sebelumnya. c) Pemberian etiket Pemberian etiket warna putih untuk obat dalam/oral dan etiket warna biru untuk obat luar. Yang dimaksud obat dalam adalah obat yang digunakan melalui mulut dan masuk ke dalam

19

kerongkongan kemudian ke perut/saluran pencernaan (oral), sedangkan yang dimaksud obat luar adalah obat yang digunakan melalui kulit, mata, hidung, telinga, vagina, rektum, dan termasuk pula obat parenteral/injeksi/obat suntik dan obat kumur (Syamsuni, 2005) serta menempelkan label “kocok dahulu” pada sediaan obat dalam bentuk suspensi (Depkes RI, 2006). d) Memasukkan obat ke dalam wadah yang sesuai dan terpisah untuk obat yang berbeda untuk menjaga mutu obat dan penggunaan yang salah. 3) Penyerahan obat Setelah peracikan obat petugas melakukan hal-hal sebagai berikut (Depkes RI, 2006) : a) Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan kembali mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta jenis dan jumlah obat b) Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang baik dan sopan, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin emosinya kurang stabil. c) Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau keluarganya d. Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal lain yang terkait dengan obat tersebut, antara lain manfaat obat, makanan dan minuman yang harus dihindari, kemungkinan efek samping dan cara penyimpanan obat.

20

Contohnya adalah untuk obat seperti Antibakteri dan Antiinfeksi yang merupakan obat golongan Antibiotik,

penggunaannya harus benar-benar diperhatikan. Mengingat bahwa akan terjadinya resistensi obat jika penggunaannya tidak teratur.

Gambar 1. Kurva Kadar Obat Dalam Plasma Darah (Sumber: Krisna, 2011)

Kurva diatas bisa menjelaskan mengapa antibiotik yang diminum harus digunakan teratur. Ketika waktu tempuh obat mulai berefek (Onset time) hingga mencapai waktu kadar obat dalam plasma mencapai puncaknya (tmax) antibiotik akan memasuki area therapeutic range, dimana antibiotik berpengaruh terapi pada tubuh, berefek aman dan tidak toksik. Tetapi ketika penggunaanya yang melebihi batas, antibiotik akan berada di garis MTC ( Minimum Toxic Concentration) yang akan menyebabkan antibiotik menjadi racun dalam tubuh, dan ketika antibiotik tidak diminum lagi dengan tepat sesuai aturan penggunaannya, kadar antibiotik akan mengalami penurunan yang berakibat antibiotik akan turun di bawah garis MEC

21

(Minimum Effect Concentration) dan tidak berefek lagi terhadap tubuh, yang menyebabkan bakteri yang semula hampir mati menjadi berkembang kembali. Hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. 4) Pelayanan Informasi Obat a) Pengertian Pelayanan Informasi Obat Pelayanan Informasi Obat (PIO) didefinisikan sebagai kegiatan penyediaan dan pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen, akurat, komprehensif, terkini oleh tenaga kefarmasian kepada pasien, masyarakat maupun pihak yang memerlukan. Unit ini dituntut untuk dapat menjadi sumber terpercaya bagi para pengelola dan pengguna obat, sehingga mereka dapat mengambil keputusan dengan lebih mantap. b) Tujuan Pelayanan Informasi Obat Menunjang ketersedian dan penggunaan obat yang rasional, berorientasi pada pasien, tenaga kesehatan, dan pihak lain, serta menyediakan dan memberikan informasi obat kepada pasien, tenaga kesehatan, dan pihak lain. c) Kegiatan PIO Kegiatan PIO berupa penyediaan dan pemberian informasi obat yang bersifat aktif atau pasif. Pelayanan bersifat aktif apabila apoteker pelayanan informasi obat memberikan informasi obat dengan tidak menunggu pertanyaan melainkan secara aktif memberikan informasi obat. Pelayanan bersifat pasif apabila

22

apoteker pelayanan informasi obat memberikan informasi obat sebagai jawaban atas pertanyaan yang diterima. Pelayanan obat terutama pada saat penyerahan obat dan pemberian informasi etika kepada dalam pasien, petugas kesehatan harus karena

memperhatikan

pelayanan

diperlukan sopan santun dan kesabaran dalam melayani pasien. Kesadaran petugas bahwa pasien dan keluarganya perlu ditolong terlepas dari status serta sosial, golongan yang dan agama atau pasien

kepercayaannya,

pengetahuan

terbatas,

memerlukan bantuan agar tidak mengalami bahaya karena ketidak tahuannya tentang penyakit dan pengobatan (Sulistiono, 2008). 3. Sarana Dan Prasarana Penunjang Kegiatan Puskesmas (Depkes RI, 2006). a. Luas minimal kamar obat 3x4 meter2 b. Terdapat papan nama apotek atau kamar obat yang dapat terlihat jelas oleh pasien. c. Peralatan penunjang pelayanan farmasi klinik antara lain timbangan gram dan miligram, mortir-stamper, gelas ukur, corong gelas, rak alatalat, dan lain-lain. d. Tersedia sumber informasi dan literatur obat yang memadai untuk pelayanan informasi obat, antara lain Farmakope Indonesia, Informasi Obat Indonesia (ISO), dan Informasi Obat Nasional Indonesia (IONI). Farmasi Klinik di

23

C. Petugas Pel ayanan Kefarmasian di Puskesmas 1. Menurut PP RI No. 51 tahun 2009 ayat 1 dan 3 tentang pekerjaan kefarmasian, yaitu : (1) Pelayanan kefarmasian di apotek, puskesmas atau instalasi farmasi rumah sakit hanya dapat dilakukan oleh apoteker. (3) Dalam melaksanakan tugas Pelayanan Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apoteker dapat dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah memiliki STRTTK. Kompetensi apoteker di Puskesmas sebagai berikut: a. Mampu menyediakan dan memberikan pelayanan kefarmasian yang bermutu b. Mampu mengambil keputusan secara profesional c. Mampu berkomunikasi yang baik dengan pasien maupun profesi kesehatan lainnya. d. Selalu belajar sepanjang karier baik pada jalur formal maupun informal, sehingga ilmu dan keterampilan yang dimiliki selalu baru (up to date). 2. Menurut Pedoman Kerja Puskesmas Jilid ke-1, Dinas Propinsi Lampung Tahun 2006, kegiatan pokok petugas apotek diantaranya adalah: a. Menyusun rencana kerja kebutuhan obat dan vaksin b. Melayani distribusi obat ke Puskesmas Pembantu dan Bidan desa c. Memberikan penyuluhan cara memakan obat kepada pasien d. Membuat laporan pemakaian obat sesuai dengan pedoman atau petunjuk

24

Kualifikasi tenaga : Pengatur obat (Asisten apoteker).

D. Prosedur Tetap Pelayanan FarmasiKlinik di Puskesmas (Depkes RI, 2006) 1. Prosedur Tetap Penerimaan Resep a. Menerima resep pasien dan memberi nomor b. Memeriksa kelengkapan resep, yaitu: nama, nomor surat izin praktek, alamat dan tanda tangan/ paraf dokter penulis resep, tanggal resep, nama obat, dosis, jumlah yang diminta, cara pemakaian, nama pasien, umur pasien dan jenis kelamin. c. Memeriksa kesesuaian farmasetik, yaitu: bentuk sediaan, dosis, potensi. d. Stabilitas, cara dan lama pemberian. e. Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu meminta persetujuan setelah pemberitahuan. 2. Prosedur Tetap Peracikan Obat a. b. Membersihkan tempat dan peralatan kerja. Mengambil wadah obat dari rak sesuai dengan nama dan jumlah obat yang diminta dan memeriksa mutu dan tanggal kadaluarsa obat yang akan diserahkan pada pasien. c. Mengambil obat/ bahan obat dari wadahnya dengan menggunakan alat yang sesuai misalnya sendok/ spatula.

25

d.

Memberikan sediaan sirup kering harus dalam keadaan sudah dicampur air matang sesuai dengan takarannya pada saat akan diserahkan kepada pasien. Untuk sediaan obat racikan, langkah – langkah sebagai berikut :

a. b.

Menghitung kesesuaian dosis. Menyiapkan pembungkus dan wadah obat racikan sesuai

dengankebutuhan. c. Menggerus obat yang jumlahnya sedikit terlebih dahulu, lalu digabungkan dengan obat yang jumlahnya lebih besar, digerus sampai homogen. d. e. f. g. Membagi dan membungkus obat dengan merata. Tidak mencampur antibiotika di dalam sediaan puyer. Sebaiknya puyer tidak disediakan dalam jumlah besar sekaligus. Menuliskan nama pasien dan cara penggunaan obat pada etiket yang sesuai dengan permintaan dalam resep dengan jelas dan dapat dibaca. h. Memeriksa kembali jenis dan jumlah obat sesuai permintaan pada resep, lalu memasukkan obat ke dalam wadah yang sesuai agar terjaga mutunya. 3. Prosedur Tetap Penyerahan Obat a. Memeriksa kembali kesesuaian antara jenis, jumlah dan cara penggunaan obat dengan permintaan paa resep. b. Memanggil dan memastikan nomor urut/ nama pasien. c. Menyerahkan obat disertai pemberian informasi obat.

26

d. Memastikan bahwa pasien telah memahami cara penggunaan obat. e. Meminta pasien untuk menyimpan obat di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak. 4. Prosedur Tetap Pelayanan Informasi Obat a. Menyediakan dan memasang spanduk, poster, booklet, leaflet yang berisi informasi obat pada tempat yang mudah dilihat oleh pasien b. Menjawab pertanyaan baik lisan maupun tertulis, langsung atau tidak langsung dengan jelas dan mudah dimengerti, tidak bias, etis dan bijaksana melalui penelusuran literatur secara sistematis untuk memberikan informasi yang dibutuhkan. c. Mendokumentasikan setiap kegiatan pelayanan informasi obat secara sistematis (Depkes RI, 2006).

E. Teori Metodologi Penelitian 1. Pengolahan Data a. Editing Hasil observasi yang diperoleh selanjutnya dikumpulkan untuk dilakukan penyuntingan (edit) terlebih dahulu. Secara umum editing adalah kegiatan untuk mengecek/melihat kembali kelengkapan hasil observasi yang telah dilakukan. b. Coding Setelah semua hasil observasi disunting, jawaban diberi kode atau skor untuk mempermudah entry data sebelum dimasukkan ke program komputer.

27

c. Processing Hasil dari masing-masing data observasi dalam bentuk angka selanjutnya dimasukkan ke dalam program komputer. 2. Hasil Ukur Penelitian Hasil ukur penelitian didapatkan dari metode pendekatan statistik, dimana rentang penilaian dibagi tiga menjadi kurang baik, cukup baik, dan baik. Penelitian ini menginginkan hasil pelayanan kefarmasian yang baik, maka dibuat penilaian baik adalah yang memiliki nilai >70%. Sedangkan untuk cukup baik nilainya >50% - 70%, dan kurang baik nilainya ≤50%.

28

F. Kerangka Teori

Promosi kesehatan Kesehatan lingkungan

Upaya kesehatan wajib Puskesmas

Kesehatan ibu anak dan KB Perbaikan gizi masyarakat Pemberantasan penyakit menular Pengobatan Pelayanan Kefarmasian

Gambar 2. Kerangka Teori Penelitian

Pengelolaan sumber daya (SDM, sarana prasarana, sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan serta administrasi

Farmasi Klinik (Penerimaan resep, peracikan obat, penyerahan obat dan pelayanan informasi obat)

(Sumber: 1. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/Menkes/SK/II/2004 Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2. Depkes RI, 2006 Tentang Pedoman Pelayanan kefarmasian di Puskesmas)

29

G. Kerangka Konsep

Farmasi Klinik

Penerimaan Resep

Peracikan (3)Obat

Penyerahan Obat

Pelayanan Informasi Obat

Gambar 3. Kerangka Konsep Penelitian

30

H.
N o 1

Definisi Operasional
Variabel Penerimaan Resep Definisi Petugas melakukan penerimaan resep berdasarkan protap penerimaan resep Cara ukur Observasi dan wawanca ra Alat ukur Checklist Ya=1 Tidak =0 Hasil ukur Skor Penilaian ≤ 50% adalah kurang baik; >50% -70% adalah cukup baik; >70% adalah baik Skala ukur Ordinal

Tabel 1. Definisi Operasional

2

Peracikan Obat

Petugas melakukan peracikan obat untuk pasien sesuai dengan protap peracikan obat Petugas melakukan penyerahan obat kepada pasien berdasarkan protap penyerahan obat Petugas melakukan pemberian informasi obat kepada pasien berdasarkan protap Pelayanan Informasi Obat

Observasi

Checklist Ya=1 Tidak =0

≤ 50% Ordinal adalah kurang baik; >50% -70% adalah cukup baik; >70% adalah baik ≤ 50% Ordinal adalah kurang baik; >50% -70% adalah cukup baik; >70% adalah baik ≤ 50% Ordinal adalah kurang baik; >50% -70% adalah cukup baik; >70% adalah baik

3

Penyerahan Obat

Observasi

Checklist Ya=1 Tidak =0

4

Pelayanan Informasi Obat

Observasi

Checklist Ya=1 Tidak =0

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful