Journal Review

Resusitasi Syok Hipovolemik

Oleh : Hanif Mustikasari G99122056

Pembimbing : Mulyo Hadi Sudjito, dr., Sp.An, KAN

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ANESTESIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2013

Syok adalah prediktor kuat kematian dan merupakan faktor risiko untuk pengembangan komplikasi.08.006 surgical.1016/j. Todd W. tekanan nadi mengecil. terutama disfungsi multi organ. dan perubahan status mental. Secara khusus. identifikasi pasien syok dengan cepat sangat penting sehingga resusitasi dapat dimulai sesegera mungkin. Surgical Critical Care. Pasien lanjut usia juga sering mempunyai hipertensi kronis.Review Surg Clin N Am 92 (2012): 1403–1423 http://dx. MD. Syok hipovolemik disebabkan oleh kehilangan darah yang seringkali dijumpai pada cedera parah. tekanan darah yang tampak normal bagi mereka dapat menjadi hipotensi relatif. PhD Division of Trauma.org/10. University of California San Diego School of Medicine Definisi Syok Syok adalah ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan perfusi yang memadai dari organ akhir. Costantini. peningkatan turgor kulit. dokter harus tetap mengingat bahwa kehilangan darah yang signifikan dapat terjadi dengan efek sedikit pada tanda-tanda vital.theclinics. Oleh karena itu. Indikator syok meliputi peningkatan denyut jantung. Pada pasien tertentu. atau mungkin dalam pengobatan yang mencegah respon normal terhadap kehilangan darah.suc. Sebaliknya. kulit pucat. ekstremitas dingin berkeringat. pasien anak memiliki cadangan kardiovaskular sangat baik sehingga dapat mencegah penurunan tekanan darah bahkan ketika kehilangan volume darah yang besar.2012. membran mukosa kering. MD. Syok hemoragik diasumsikan dapat menjadi penyebab hipotensi pada semua pasien trauma sampai terbukti sebaliknya. Department of Surgery. 2 . and Burns. pengeluaran urin rendah. MD.doi. Raul Coimbra. RESUSITASI SYOK HIPOVOLEMIK Leslie Kobayashi. pasien lanjut usia sering tidak dapat menaikkan respon takikardi terhadap pendarahan. tekanan darah rendah.com 0039-6109/12/$ – 2012 Elsevier Inc. dan penurunan waktu pengisian ulang kapiler (capillary refill time/CRT).

Klasifikasi Syok Hemoragik Syok hemoragik diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahan syok dari kelas I sampai dengan IV. Kehilangan Darah Masif dan Transfusi Masif Selain klasifikasi tradisional syok. subset dari pasien dengan cedera luas yang menyebabkan perdarahan cepat dapat berkembang menjadi kehilangan darah besar/massive blood loss (MBL). dan disfungsi berat organ multisistem. yang didefinisikan sebagai berikut: Pasien-pasien tersebut seringkali memerlukan perubahan dalam tujuan perawatan 3 . Syok kelas I adalah kehilangan sedikit darah. dengan syok kelas IV disebabkan oleh hilangnya lebih dari 40% dari volume sirkulasi darah dan mengakibatkan hipotensi. takikardia. sering mengakibatkan perubahan tidak signifikan pada tanda-tanda vital atau temuan pada pemeriksaan klinis. Keparahan meningkat seiring dengan peningkatan volume kehilangan darah.

Sebanyak 24% pasien yang mengalami syok akan membutuhkan MT. yang dapat dicapai dengan tekanan langsung. Setelah akses terjamin. jahitan ligasi. meskipun persentase ini dapat meningkat menjadi 8% sampai 15% di antara pusat trauma di perkotaan besar dan di antara lingkungan militer. yang dapat dicapai dengan menempatkan 2 kolom besar melalui infus intravena perifer. atau intraosseous atau infus sentral. penggunaan tourniquet. Strategi resusitasi klasik syok hemoragik menurut Advanced Trauma Life Support (ATLS) menyarankan infus bolus 2 L kristaloid hangat jika terjadi hipotensi. hemodilusi fibrinogen. Pasien dengan MBL sering membutuhkan transfusi masif dalam menangani perdarahan mereka. Pada tingkat transfusi ini. dan terkait perlunya untuk operasi multicavitas. Kematian meningkat secara linear dengan transfusi PRBCs dan dapat setinggi 60% sampai 100%. Asidosis dan hipotermia ini dapat semakin memperburuk koagulopati. trombosit. dan faktor pembekuan dapat terjadi seperti darah keseluruhan (whole blood) terus menghilang. Transfusi masif (massive transfusion/MT) biasanya didefinisikan sebagai 10 atau lebih unit packed red blood cells (PRBCs) dalam periode 24 jam. Resusitasi Klasik dari Derajat Syok Langkah yang paling penting dalam resusitasi syok hemoragik adalah identifikasi dan kontrol yang cepat dari sumber perdarahan. diikuti dengan penggantian 4 . atau operasi. dan mungkin memerlukan pemantauan dan strategi resusitasi yang berbeda. 8% sampai 11% pasien akan membutuhkan transfusi darah selama rawat inap di rumah sakit. Dari seluruh pasien trauma. Hanya sekitar 3% dari pasien trauma yang kehilangan darah akan membutuhkan MT. beban cedera. Pasien-pasien ini berisiko tinggi untuk menjadi asidosis dan hipotermia karena kehilangan darah. dan diganti dengan hanya kristaloid atau PRBCs. Meskipun manuver untuk mengontrol perdarahan sedang berlangsung. dan 60% sampai 70% diantaranya semua menggunakan PRBCs. upaya untuk memastikan akses intravena yang memadai harus dilakukan.dari manajemen definitif menjadi kontrol kerusakan. resusitasi harus dimulai dengan infus segera cairan hangat untuk mengembalikan volume darah yang bersirkulasi menggantikan kerugian dari perdarahan.

dan seperti obat yang lain. yang dapat memperburuk pasien dengan cedera ginjal akut atau gagal ginjal kronis. Studi membandingkan normal saline dan ringer laktat pada perdarahan minimal dan sedang menunjukkan hasil yang setara. Meskipun larutan ringer laktat secara teori lebih disarankan karena kemampuannya untuk menyeimbangkan asidosis metabolik dan mencegah asidosis hiperkloremik terkait dengan infus normal saline. Koloid Koloid secara teoritis dipertahankan dalam ruang intravaskular ke tingkat yang lebih besar daripada kristaloid. Akibat komposisinya. banyak penelitian 5 . dan sindrom gangguan pernapasan akut (Acute Respiratory Distress Syndrome/ARDS) mungkin akan menurun. meningkatkan daya transport oksigen. memiliki sifat immuno-inflamasi menguntungkan. efek menguntungkan ini hanya terlihat dengan infus masif. volume intravaskular dapat bertambah lebih cepat. aman. karena potensi ke third space lebih sedikit. Kedua. Resusitasi cairan yang ideal harus murah. yang mungkin memiliki beberapa manfaat selama resusitasi. secara teori risiko hiperkalemia dikaitkan dengan penggunaan larutan Ringer laktat. Selain itu. mudah untuk disimpan. Pertama. dan portabel. isomer-D dari laktat mungkin memiliki sifat inflamasi dan imunomodulator yang merugikan. dan dapat dengan cepat dan efektif meningkatkan volume intravaskular. dapat berhubungan dengan efek samping yang merusak. dan inflamasi.cairan atau kehilangan darah berkelanjutan dengan cairan isotonik dalam rasio 3:1 untuk mengakomodasi kerugian ke ruang interstitial. imunosupresi. Kristaloid Normal saline dan ringer laktat adalah resusitasi cairan yang paling umum digunakan dalam syok hipovolemik dan hemoragik. Cairan resusitasi harus dipertimbangkan sebagai pengobatan. Namun. Resusitasi cairan dapat mengakibatkan gangguan asam-basa dan elektrolit secara signifikan. termasuk eksaserbasi cedera seluler. risiko komplikasi seperti edema usus. sindrom kompartemen perut (Abdominal Compartement Syndrome/ACS). volume total yang cairan lebih kecil mungkin digunakan untuk mencapai perfusi memadai. Ketiga.

membandingkan bahwa 3497 pasien yang menerima 4% albumin dengan 3500 pasien yang menerima normal saline tidak ada perbedaan yang signifikan dalam angka kematian. Hipertonic saline Hipertonic saline memiliki efek imunomodulator. bukti yang signifikan menunjukkan bahwa penggunaan koloid mungkin berhubungan dengan koagulopati dan peningkatan risiko cedera ginjal akut. jumlah hari penggunaan ventilator. Bahkan. seperti protrombin time (PT) dan activated partial tromboplastin time (aPTT). The Saline versus Albumin Fluid Evaluation (SAFE). resusitasi albumin mungkin berbahaya pada beberapa pasien dengan trauma cedera otak dan combutio dengan meningkatkan risiko kematian. Pada pasien trauma. antiinflamasi dan teruji dalam model hewan syok hemoragik. Namun. sehingga kurang direkomendasikan untuk resusitasi primer. Beberapa meta-analisis menunjukkan hubungan yang kuat antara cedera ginjal akut dan pemberian pati hidroksietil. Penelitian pada hewan menunjukkan peningkatan signifikan perdarahan dan koagulopati klinis dengan pati hidroksietil dibandingkan dengan produk albumin dan darah. Selain itu. manifestasi koagulopati pada hewan berupa peningkatan pendarahan dan kematian hemoragik tetapi tidak terkait dengan gangguan tandatanda pembekuan pada pemeriksaan laboratorium. Dalam penelitian RCT terbaru. dan secara teoritis meningkatkan volume darah yang bersirkulasi ke tingkat yang lebih besar daripada kristaloid. atau berapa lama rawat inap di rumah sakit. kebutuhan terapi penggantian ginjal. menghindari risiko infeksi melalui darah. Selain itu. sebuah uji coba terkontrol secara acak pada pasien dengan cedera trauma parah menunjukkan bahwa pemberian hidroksietil pati memerlukan lebih banyak transfusi darah secara signifikan dibandingkan normal saline. Koloid sintetis menarik sebagai cairan resusitasi karena dapat diproduksi dengan murah.memeriksa penggunaan koloid dalam resusitasi cedera dan penyakit kritis gagal menunjukkan manfaat yang signifikan secara statistik. hipertonic saline memiliki manfaat tambahan bertindak sebagai agen osmotik 6 . Model hewan menunjukkan penurunan cedera paru-paru dan usus setelah resusitasi hipertonic saline.

cairan volume besar yang diberikan pada strategi resusitasi agresif dapat mengakibatkan third spacing secara signifikan.untuk menurunkan edema serebral pada pasien dengan trauma cedera otak. dan fibrinogen.8 g/L. menyebabkan perdarahan berulang. atau meningkatkan kehilangan darah berkelanjutan. ACS. dan transfusi kriopresipitat jika fibrinogen kurang dari 0. dan ARDS. transfusi trombosit untuk trombosit kurang dari 50x109/L. Pertama. Produk Darah ATLS menyarankan transfusi PRC hanya jika pasien gagal untuk menanggapi bolus kristaloid. seperti fresh frozen plasma (FFP).8 kali normal. trombosit. Strategi resusitasi klasik juga menganggap bahwa koagulopati merupakan komplikasi akhir setelah trauma. resusitasi cairan segera untuk tujuan menormalkan tekanan darah dapat meningkatkan aliran darah ke luka dan tekanan perfusi. Hal tersebut dikarenakan hipertonic saline dipertahankan lebih lama dalam ruang intravaskular. Penggunaan komponen darah. Komponen tersebut yang biasanya hanya diberikan jika bukti laboratorium menunjukkan kekurangan yang dicatat selama resusitasi yang sedang berlangsung. Selain itu. Resusitasi Kontrol Kerusakan Masalah dengan Resusitasi Klasik Strategi resusitasi klasik memiliki beberapa masalah pada pasien dengan syok hemoragik setelah trauma. bukan bagian umum dari resusitasi trauma awal. 7 . menyebabkan komplikasi seperti usus edema dan kebocoran anastomosis. uji klinis pada manusia sampai saat ini belum ditemukan secara konsisten manfaat hipertonic saline dibandingkan cairan isotonik pada fase resusitasi akut atau pra-rumah sakit pada cedera akibat trauma. Sayangnya. Penelitian multicenter sebagai tindak lanjut RCT yang lebih besar pada pasien trauma dengan syok hipovolemik tidak menemukan manfaat kelangsungan hidup atau morbiditas yang berbeda secara signifikan dibandingkan normal saline.5-1. meningkatkan risiko munculnya gumpalan. Penyebab umum terapi komponen termasuk transfusi FFP untuk PT dan aPTT yang lebih besar 1. sehingga memiliki potensi untuk menurunkan risiko ACS dan ARDS.

dan trombosit. dan potensial komplikasi yang terkait dengan resusitasi klasik menyebabkan diusulkannya strategi resusitasi kontrol kerusakan (Damage Control Resuscitation/DCR). Hipotensi Permisif Strategi hipotensi permisif menahan atau meminimalkan cairan selama perfusi serebral jelas dan tekanan darah sistolik tetap berada di atas nilai ambang 70 sampai 80 mm Hg. Strategi dengan volume rendah ini harus dipertahankan sampai perdarahan dikontrol. penggunaan transfusi darah agresif awal dengan rasio 1:1:1 dari PRC. DCR mirip dengan kontrol kerusakan pada laparotomi yang diaplikasikan pada pasien dengan beban cedera biasa dan MBL. Strategi DCR meliputi pengguanaan hipotensi permisif. yaitu dengan mortalitas berkisar antara 36%-62%. FFP. Sebuah studi juga menunjukkan bahwa resusitasi MBL dengan PRBCs saja dapat mengakibatkan gangguan koagulasi dan trombositopenia yang signifikan.Namun. mencegah koagulopati. Pendukung hipotensi permisif menunjukkan bahwa pemberian kristaloid dapat memperburuk respon inflamasi. meningkatkan perfusi organ akhir. Tujuan dari DCR adalah untuk meminimalkan pendarahan. Bahkan tanpa adanya koagulopati. seperti penggantian PRBC mendekati 12 unit atau volume satu kali peredaran darah. dan meningkatkan kebutuhan 8 . pasien dengan MBL atau membutuhkan transfusi masif memiliki hasil yang buruk dengan strategi resusitasi klasik. dan penggunaan hemostatik tambahan selektif. dan meningkat menjadi 46%-77% jika terjadi koagulopati. Beberapa studi menunjukkan peningkatan bertahap koagulopati berhubungan dengan volume kristaloid yang diberikan. Selain itu. beberapa penelitian telah menntang paradigma ini dan menunjukkan bahwa koagulopati terjadi pada 24% sampai 74% pasien saat pemberian. meningkatkan kehilangan darah sebelum hemostasis definitif. dan mengurangi risiko disfungsi organ multisistem. strategi resusitasi klasik dapat memperburuk pendarahan melalui induksi pengenceran koagulopati dan memperburuk hipotermia. peningkatan perdarahan. Potensi memburuknya koagulopati.

dan perawatan fase intraoperatif. hanya sedikit penelitian lain yang mampu mereplikasi efek positif. dan lama rawat inap rumah sakit lebih pendek dibandingkan dengan kelompok resusitasi klasik. Studi telah meneliti keamanan hipotensi permisif atau strategi resusitasi ketat tersebut pada pra-rumah sakit. dengan rasio lebih tinggi di antara pasien yang menjalani MT. lebih sedikit transfusi. Kelompok tertunda yang menerima tidak lebih dari 100 ml cairan sebelum kedatangan di ruang operasi mempunyai kelangsungan hidup lebih tinggi. Terakhir. 9 . dan lebih sedikit kristaloid yang diberikan dibandingkan dengan kelompok klasik. yang selanjutnya dapat memperburuk peradangan awal dan imunosupresi akhir. jika digunakan.transfusi. Penerapannya. komplikasi lebih sedikit. membandingkan mean arterial pressure (MAP) yang lebih rendah dengan MAP klasik dengan tujuan untuk mengarahkan resusitasi intraoperatif. Efek yang paling signifikan terjadi pada korban trauma tembus. Sebuah studi oleh Morrison et al. Oleh karena itu. FWB diketahui dapat meminimalkan risiko infeksi pada populasi militer. penelitian telah berfokus pada efek meningkatkan rasio FFP-to-PRBC dan trombosit-to-PRBCs dalam upaya meniru komposisi FWB untuk resusitasi pasien dengan MT. MAP yang lebih rendah secara signifikan mengalami lebih sedikit kehilangan darah. harus dibatasi pada korban trauma tembus pada dada. Produk Darah Studi mengungkapkan bahwa kelangsungan hidup pasien lebih baik saat pemberian fresh whole blood (FWB) daripada PRBCs atau komponen terapi klasik yang digunakan untuk resusitasi. Kelompok dengan MAP memiliki lebih rendah meningkatkan survival dini secara signifikan (98% vs 83%) dan menjaga kecenderungan peningkatan mortalitas pada 30 hari. Sayangnya. departemen gawat darurat. studi penggantian fibrinogen juga telah mendukung resusitasi pasien dengan MT. Studi rasio platelet-to-PRBC telah menunjukkan perbaikan serupa pada kematian. Dua studi dari militer mengungkapkan penurunan mortalitas secara bertahap dengan peningkatan rasio plasma-to-PRBCs. dengan hasil yang optimal mendekati rasio 1:1. dan terus aktif debat mengenai manfaat hipotensi permisif.

dan protrombin kompleks yang mengandung faktor II. termasuk asam traneksamat. Meskipun penelitian tidak menemukan peningkatan komplikasi yang terkait dengan faktor VIIA. Sebuah RCT dari rekombinan faktor VIIA menunjukkan penurunan transfusi PRBCs dan persentase pasien yang membutuhkan MT setelah trauma tumpul. dan tingkat transfusi terkait kegagalan organ pada pasien trauma tertentu. Meskipun faktor VIIA kemungkinan 10 . rekombinan. persyaratan transfusi. dan fibrinogen-to-PRBCs selama resusitasi MBL akut atau pasien MT. C. Beberapa bukti menunjukkan bahwa penggunaan agen ini dapat menurunkan angka kematian. IX. termasuk trauma yang disebabkan koagulopati dan pembalikan antikoagulan pada pasien dengan cedera otak.Berbeda dengan FFP dan platelet. kekhawatiran mengenai peningkatan komplikasi tromboemboli. Bahan Tambahan Hemostatik Selain strategi transfusi seimbang. yang dilarutkan dalam waktu 50 mL saline. Setiap botol berisi antara 900 dan 1300 mg fibrinogen lyophilized. dan S. VII. beberapa agen farmakologis dapat digunakan sebagai tambahan untuk mengobati koagulopati. yang tersedia sebagai unit donor tunggal dan kumpulan saja. 2 percobaan prospektif saat ini mendaftarkan pasien dalam upaya lebih lanjut mengetahui rasio ideal komponen darah untuk resusitasi. Secara keseluruhan. dan menunjukkan tingkat kegagalan organ multisistem yang lebih rendah dan ARDS terkait dengan faktor VIIA. Meskipun rasio ideal masing-masing komponen masih belum diketahui.  Faktor VIIA Selain untuk pengobatan hemofilia. trombosit-to-PRBCs. Selain itu. Sebuah studi tindak lanjut dari kelompok yang sama mengkonfirmasi manfaat dari kebutuhan transfusi menurun. faktor VIIA. faktor VIIA aktif telah digunakan untuk mengobati beberapa kasus trauma. X. manfaat yang muncul dibuktikan dari tinggi rasio FFP-to-PRBC. fibrinogen dapat dilengkapi dengan menggunakan kriopresipitat untuk transfusi atau melalui pemberian konsentrat dari plasma manusia. kedua studi tidak dapat mengkonfirmasi manfaat dalam penurunan angka kematian. terutama yang mempengaruhi sirkulasi arteri terkait dengan penggunaan faktor VIIA.

komplikasi lebih sedikit. memblokir ikatan dengan fibrin. Normalisasi nilai laboratorium koagulasi dicapai secepat 30 menit setelah pemberian kompleks protrombin.aman pada pasien dengan MBL.  Asam traneksamat Asam traneksamat merupakan turunan sintetis dari lisin. Secara khusus. dan X.  Protrombin kompleks Protrombin kompleks dikemas dalam berbagai formulasi. IX. IX. Asam traneksamat menghambat aktivasi plasminogen dan aktivitas plasmin melalui ikatan ke binding site lisin. yang semuanya mengandung beberapa kombinasi faktor koagulasi vitamin K-dependent. Studi terbaru meneliti protrombin kompleks pada pasien trauma memiliki kecenderungan ke arah perbaikan mortalitas. sepertinya kurang mungkin bermanfaat dan karena itu penggunaannya dalam DCR tidak dapat direkomendasikan. Formulasi empat faktor protrombin kompleks mengandung faktor II. VII. dan lama rawat inap lebih pendek. Formulasi tiga faktor protrombin kompleks mengandung faktor II. kebutuhan transfusi menurun. tidak ada peningkatan signifikan secara statistik pada kejadian trombotik dibandingkan kontrol dalam studi pasien trauma.4%. risiko kegagalan multiorgan dan kebutuhan untuk ventilasi mekanik berkurang dengan penggunaan protrombin kompleks. Ada kekhawatiran atas potensi protrombin kompleks untuk meningkatkan risiko komplikasi tromboemboli yang mirip dengan faktor VIIA. dan X. meskipun di beberapa contoh pembalikannya tidak tahan lama seperti yang dicapai dengan vitamin K. Beberapa penelitian telah membandingkan PRCBs dengan FFP dan vitamin K untuk pembalikkan koagulopati farmakologis setelah cedera atau dalam mengantisipasi munculnya operasi atau prosedur invasif. Kedua formulasi tersebut juga mengandung sejumlah variabel protein C dan S. Studi ini menemukan bahwa protrombin kompleks lebih cepat dan lebih efektif daripada FFP dan vitamin K dalam mengoreksi Internasional Normalization Ratio (INR) tanpa peningkatan komplikasi yang signifikan. Namun. Tidak seperti faktor VIIA 11 . Sebuah studi meta-analisis terbaru mengenai protrombin kompleks untuk saat ini menunjukkan tingkat kejadian tromboemboli adalah 1.

dan faktor VIIA. Manfaat ini bahkan lebih menonjol di antara pasien yang menerima MT. pemberian setelah 3 jam dikaitkan dengan peningkatan mortalitas. Protokol Transfusi Masif Standarisasi rasio transfusi dengan institusional protokol transfusi masif (Massive Transfusion Protocols/MTP) telah meningkat popularitasnya. manfaat hanya ditemukan jika asam traneksamat diberikan dalam 3 jam setelah terjadi cedera.dan protrombin kompleks. Sebuah MTP mungkin termasuk penggunaan protokolisasi dari hemostatik tambahan. Variabel klinis yang umumnya 12 . Indikasi untuk MTP termasuk transfusi dan pencetus klinis. Kedua. Meskipun demikian. kompleks protrombin. resusitasi agresif dan administrasi rasio yang lebih tinggi FFP dan trombosit. dan platelet telah dikaitkan dengan perbaikan angka mortalitas. Tujuan dari MTP adalah penggantian standarisasi trombosit dan faktor pembekuan dalam rasio optimal untuk PRC. Dua percobaan prospektif besar menunjukkan manfaat yang signifikan dari penggunaan asam traneksamat melalui penurunan kematian. Pencetus transfusi berkisar antara 6 dan 10 unit PRC sebagai ambang batas untuk memulai MTP. tetapi dapat mengakibatkan keterlambatan dalam pemberian FFP/trombosit. menyebabkan tidak perlu pengeluaran sumber daya dan dapat mengakibatkan hasil yang lebih buruk untuk pasien.7%. seperti asam traneksamat. pada keparahan cedera lebih tinggi. Pencetus transfusi mudah didefinisikan dan ditaati. identifikasi cepat pasien mungkin memerlukan transfusi MT dan transfusi darah agresif dini. dan meningkatkan kecepatan dan efisiensi transfusi. Namun. karena kehilangan darah yang signifikan harus terjadi sebelum inisiasi protokol. FFP. asam traneksamat terbukti menjadi prediktor independen kelangsungan hidup. dengan angka kematian menurun 13. dampaknya terjadi terutama melalui pencegahan fibrinolisis daripada koagulasi. Pertama. pasien yang menerima asam traneksamat memiliki penurunan angka kematian secara signifikan. Pemilihan pemicu MTP secara hati-hati penting untuk dua alasan utama. bila diberikan kepada pasien dengan perdarahan tidak masif. Berdasarkan analisis regresi logistik multivariat.

denyut jantung lebih dari 120. skor McLaughlin. dan waktu selesai untuk transfusi selanjutnya. dan detak jantung 120 atau lebih besar. Oleh karena itu. pH. tekanan darah kurang dari 90 mm Hg.terkait dengan MT adalah trauma multicavitas. serta meningkatkan kemudahan dan efisiensi dalam memesan produk darah. Pencetus klinis cenderung menghasilkan inisiasi awal MTP tapi penggunaan setiap elemen tunggal mungkin tidak akurat. dan secara signifikan menurunkan infus kristaloid. mekanisme penetrasi. anemia (hemoglobin <10) atau koagulopati (INR> 1. yang dapat membuatnya menjadi alat ukur lebih berguna.5) saat pemberian. Beberapa studi menunjukkan bahwa inisiasi dari MTP secara signifikan mengurangi waktu dari pemberian sampai transfusi pertama. MTP tampaknya efektif dalam mencapai tujuan utama berupa rasio tinggi FFP dan platelet-to-PRBC. dan defisit basa. termasuk skor trauma terkait perdarahan parah (Trauma-Associated Severe Hemorrhage/TASH). dan skor penilaian konsumsi darah (Assessment Of Blood Consumption/ABC). Penggunaan MTP tampaknya menghasilkan tingkat signifikan lebih rendah pada 13 . dan bank darah. Pertama dan terpenting. dan cairan bebas pada focused assessment with sonography for trauma (FAST). Bila dibandingkan dengan skor TASH dan skor McLaughlin. skor ABC lebih akurat dalam memprediksi pasien mana yang akan membutuhkan MT. tekanan darah sistolik kurang dari 90 mmHg. sedangkan skor ABC hanya menggunakan data klinis segera yang tersedia pada saat pemberian. Skor ABC terdiri dari 4 elemen: menembus mekanisme. Penggunaan MTP tampaknya menurunkan penggunaan produk darah secara keseluruhan akibat pencegahan atau pengobatan dini koagulopati. beberapa sistem skoring telah dibuat menggunakan beberapa elemen. Inisiasi dari MTP dimaksudkan untuk meningkatkan komunikasi antara dokter bedah/ tim anestesi. seperti hematokrit. FAST positif. laboratorium. Skor TASH dan skor McLaughlin termasuk data laboratorium. Satu skor dari 2 atau lebih memprediksi MT dengan sensitivitas 75% sampai 90% dan spesifisitas 67% menjadi 88% di awal penelitian.

Dalam resusitasi trauma pasien dalam syok hemoragik yang parah. dan dijalankan pada suhu pasien. mungkin hasilnya positif palsu dan menyebabkan underdiagnosis koagulopati. yaitu hasil dapat digambarkan saat pemberian sehingga dapat digunakan untuk memprediksi dan memicu MTP dan hasil serial dapat digunakan untuk memprediksi untuk mengarahkan terapi komponen darah yang sedang berlangsung. beberapa studi membandingkan hasil TEG/ROTEM dengan hasil laboratorium standar (PT/INR dan aPTT) yang menunjukkan bahwa TEG/ROTEM memiliki sensitivitas yang lebih tinggi untuk mendeteksi koagulopati pada saat pemberian dan meningkatkan akurasi dalam memprediksi transfusi. TEG/ROTEM memiliki manfaat memberikan informasi cepat secara rinci pada kekuatan dan pembentukan bekuan. Selain itu. yang dihangatkan pada suhu tubuh standar (37°C) sebelum analisis. Keterbatasan tersebut menyebabkan munculnya penggunaan penanda alternatif pembekuan dan kekuatan pembekuan. terutama pneumonia. TEG dan ROTEM bekerja sama dan mengukur sifat viskoelastik dari sampel darah pasien. Selain itu.ACS. dan jumlah sel darah lengkap sering membutuhkan waktu 30 menit atu lebih sampai satu jam sebelum hasilnya tersedia. Selain itu PT. 14 . khususnya kegagalan pernafasan. hipotermia. sehingga berpotensi meningkatkan akurasi dalam mendiagnosis koagulopati. dan penurunan lama rawat inap di rumah sakit. beberapa bukti menunjukkan bahwa MTP mungkin secara signifikan mengurangi biaya rumah sakit. atau fibrinolisis. MT. penurunan tingkat kegagalan multiorgan. aPTT. sehingga berpotensi menunda pengobatan trauma terkait koagulopati. seperti thromboelastography (TEG) atau rotation thromboelastometry (ROTEM). Peran Petunjuk Laboratorium Penanda klasik koagulopati. sehingga mengabaikan adanya koagulopati yang kurang termanifestasi secara klinis. seperti PT/INR dan aPTT. dan mortalitas. Tes ini tidak mengatasi disfungsi trombosit yang disebabkan oleh obat. TEG/ROTEM dapat memiliki 2 aplikasi potensial. tingkat penurunan sepsis.

Sebuah studi meninjau pasien dengan MBL yang diresustasi dengan teknik klasik dalam periode 1970-1990 menunjukkan bahwa mereka mengalami hasil yang sangat buruk. 15 . tampaknya memiliki efek menguntungkan pada hasil. Studi RCT dari pasien yang mengalami trauma hipotensif secara acak mendapat terapi resusitasi cairan standar atau resusitasi dengan bolus kemudian infus vasopresin setelah trauma menunjukkan peningkatan tidak signifikan pada kematian. Temuan ini agak membaik dalam studi kemudian dilakukan dari tahun 1990 sampai 2000-an. Agen Vasoaktif Karena morbiditas terkait dengan pemberian cairan yang berlebihan dan kurangnya bukti yang mendukung hipotensi permisif diluar trauma penetrasi. Sebaliknya. penggunaan awal produk darah. banyak peneliti telah mulai memeriksa peran penggunaan vasopresor dini pada pasien dengan syok hipovolemik. Penggunaan dini vasopresor. dan MTP. Hasil penggunaan vasopresin menurunkan secara signifikan kehilangan darah dan meningkatkan kelangsungan hidup dalam beberapa studi. terutama sebelum hemostasis definitif.Efikasi Resusitasi kontrol kerusakan. memiliki manfaat teoritis memungkinkan ahli bedah untuk menpertahankan MAP yang diperbolehkan sambil menghindari kebutuhan untuk pemberian cairan volume besar. membalikkan syok hemoragik yang berlanjut dengan lebih efektif daripada penggunaan agen lain atau pemberian cairan. tingkat kematian saat setelah memulai DCR dan MTP berkisar dari 8% -34%. mulai dari 45%-87%. dan vasopresin eksogen dapat bertindak sebagai vasopresor efektif. Beberapa model hewan menunjukkan bahwa vasopresin endogen yang diperlukan untuk menjaga tekanan darah dalam menanggapi perdarahan. dengan angka kematian berkisar antara 61%-90%. tapi kelangsungan hidup masih sedikit. Data menunjukkan defisit vasopresin endogen setelah syok hemoragik terkait dengan TBI. termasuk hipotensi permisif. penggantian faktor koagulasi lebih agresif.

3 penelitian retrospektif besar pasien trauma hipotensi dan terluka parah dikaitkan dengan pemberian vasopresin memiliki peningkatan risiko kematian secara signifikan terlepas dari volume yang digunakan. Kesimpulan Syok hipovolemik didefinisikan sebagai perfusi jaringan yang tidak adekuat disebabkan oleh penurunan volume sirkulasi intravaskuler. dan PRBCs diketahui berhubungan dengan perbaikan kondisi pasien yang membutuhkan tranfusi masif. Namun. Transfusi dini dengan rasio 1:1:1 dari FFP. tetapi hal ini tidak dijelaskan manfaatnya terkait mortalitas. Asam traneksamat dan prothrombin kompleks mungkin tambahan yang bermanfaat untuk resusitasi pasien syok hemoragik. MTP berguna alat kelembagaan untuk meningkatkan komunikasi antara bank darah dan dokter. kemungkinan perbaikan angka kematian. trombosit. MTP meningkatkan ketersediaan produk darah. morbiditas. atau disfungsi organ pada 30 hari. Teknik DCR. Penelitian lain pada pasien dengan trauma tumpul menunjukkan bahwa penambahan vasopresin dan hidroksietil pati untuk resusitasi standar jantung-paru mengakibatkan peningkatan pengembalian sirkulasi spontan dan survival 24 jam. mengurangi waktu untuk transfusi. 16 . dan dapat menurunkan biaya.Studi ini juga menemukan bahwa kelompok vasopressin menerima cairan lebih sedikit secara signifikan pada 5 hari pertama. trombosit. Bukti saat ini tidak cukup untuk merekomendasikan penggunaan vasopresin atau agen vasoaktif lainnya sebagai pengganti resusitasi cairan agresif dalam periode akut setelah trauma. menghindari resusitasi kristaloid yang terlalu agresif dan strategi transfusi agresif dini dengan rasio tinggi FFP. Pemantauan fungsi koagulasi dengan tromboelastography (TEG) atau rotational thromboelastometry (ROTEM) mungkin lebih unggul dibandingkan penanda koagulasi konvensional pada pasien dengan syok hipovolemik. dan PRBCs telah memperbaiki kematian. termasuk penggunaan hipotensi permisif selektif. Pengujian viskoelastik menggunakan TEG/ROTEM berguna dalam memprediksi dan memicu MTP dan dalam membimbing resusitasi yang sedang berlangsung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful