LAPORAN KASUS OD PTERIGIUM STADIUM II  Identitas Pasien          Nama Umur Jenis Kelamin Agama Suku/Bangsa Pekerjaan Alamat

: Ny. S : 48 tahun : Perempuan : Islam : Bugis /Indonesia : Penjahit : Salekowa-Takalar

Tgl Pemeriksaan : 17 September 2012 Tempat : Balai Kesehatan Mata Masyarakat(BKMM) Makassar

 Ananmesis KU AT : Selaput putih pada mata kanan : Dialami sejak kurang lebih 3 tahun yang lalu. Awalnya terlihat kecil pada bola mata putih, lama kelamaan semakin membesar sampai ke bola mata hitam. Mata merah (+), perih (+) jika terkena angin, rasa mengganjal (+), rasa berpasir (+). Air mata berlebih (+), kotoran mata berlebih (-), gatal (-). Riwayat sering terpapar sinar matahari dan debu (+) saat keluar rumah. Riwayat DM (-) Riwayat HT(-) Riwayat pemakaian kacamata (-) Riwayat trauma (-)  Pemeriksaan oftalmologi  Inspeksi OD Palpebra Silia Apparatus Lakrimalis Edema (-) Sekret (-) Lakrimasi (-) OS Edema (-) Sekret (-) Lakrimasi (-)

1

Sentral. kripte (+) Bulat. kripte (+) Bulat. RC (+) Jernih OD Gambar 1 : mata pasien  Palpasi OD Tensi Okuler Nyeri Tekan Massa Tumor Glandula PreAurikuler  Visus o VOD : 5/5 o VOS : 5/5 F 2 OS Tn (-) (-) Tidak Ada Pembesaran Tn (-) (-) Tidak Ada Pembesaran .j Konjungtiva j h g j Bola Mata g Mekanisme Muskular h ODS j OD Hiperemis (+) tampak selaput berbentuk segitiga dari arah nasal melewati limbus. belum mencapai pupil Normal Ke segala arah Hiperemis (-) Normal Ke segala arah g OS j Kornea g Bilik Mata Depan j Iris g Pupil j Lensa g Jernih Kesan Normal Coklat. RC (+) Jernih Jernih Kesan Normal Coklat. Sentral.

papil N.3. Kripte (+) Bulat. a:v = 2:3. tampak selaput berbentuk segitiga di daerah nasal melewati limbus belum mencapai pupil. BMD kesan normal. Tonometri o TOD : 17. Sentral. kripte (+). Sentral. kornea jernih. RC (+) Jernih OS Hiperemis (-)   Diafanoskopi o Tidak dilakukan pemeriksaan Oftalmoskopi o FODS : refleks fundus (+). 3 . belum mencapai pupil Kornea Bilik Mata Depan Iris Pupil Lensa Jernih Kesan Normal Coklat. injeksio siliar (-). retina perifer kesan normal  Slit lamp o SLOD : Konjungtiva hiperemis (+). CDR=0. iris coklat. RC (+). sentral. injeksio konjungtiva (+).3 mmHg     Campus visual o Tidak dilakukan pemeriksaan Color sense o Tidak dilakukan pemeriksaan Light sense o Tidak dilakukan pemeriksaan Penyinaran oblik OD Konjungtiva Hiperemis (+). lensa jernih. pupil bulat.II batas tegas. tampak selaput bentuk segitiga di daerah nasal melewati limbus.3 mmHg o TOS : 17. macula refleks fovea (+). RC (+) Jernih Jernih Kesan Normal Coklat. Kripte (+) Bulat.

perih (+) jika terkena angin. Pada pemeriksaan oftalmologi. 48 tahun. Awalnya terlihat kecil pada bola mata putih. iris coklat. Pada mata kanan ditemukan selaput berbentuk segitiga dari arah nasal melewati limbus. Awalnya terlihat kecil pada bola mata putih. Mata merah ada. datang ke poli (Balai Kesehatan Mata Masyarakat)BKMM dengan keluhan adanya selaput putih pada mata kanan yang dialami kurang lebih 3 tahun yang lalu. rasa perih ada jika terkena angin. VOD : 5/5. kornea 4 . pupil bulat. sentral. injeksio siliar (-). lama kelamaan semakin membesar sampai ke limbus.o SLOS : Konjungtiva hiperemis (-). Pada pemeriksaan oftalmologi. Rasa mengganjal pada mata ada.  DIAGNOSIS BANDING o Pseudopterigium o Pinguekula  DIAGNOSIS ODS Pterigium Stadium II  ANJURAN OD Eksisi pterigium + graft konjungtiva  DISKUSI Dari hasil anamnesis pada pasien ini. RC (+). Pada mata kanan ditemukan selaput berbentuk segitiga dari arah nasal sampai ke limbus. VOS: 5/5 F. belum mencapai pupil. rasa berpasir ada. BMD kesan normal. lensa jernih. lakrimasi ada. belum mencapai pupil. sentral. kripte (+). BMD kesan normal. kornea jernih. pupil bulat. Mata merah (+). kornea jernih. ditemukan keluhan adanya selaput putih pada mata kanan yang dialami kurang lebih 3 tahun yang lalu. Riwayat sering terpapar sinar matahari dan debu (+) saat keluar rumah. kripte (+). Riwayat sering terpapar sinar matahari dan debu ada saat keluar rumah. RC (+) dan lensa jernih.  Laboratorium o Tidak dilakukan pemeriksaan  RESUME Perempuan. VODS dalam batas normal. iris coklat. injeksio konjungtiva (-). Riwayat trauma tidak ada. lama kelamaan semakin membesar melewati limbus.

Lindungi mata dengan pterigium dari sinar matahari. yaitu cukup dengan pemberian obat-obatan jika pterigium masih derajat 1 dan 2. kripte (+). pupil bulat. karena itu prognosis adalah baik. RC (+) dan lensa jernih. Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. sentral. Berdasarkan hasil anamnesis dan hasil pemeriksaan oftalmologi tersebut dapat disimpulkan bahwa pasien menderita ODS Pterigium Stadium II. Sinar ultraviolet terutama sinar UVB beserta polutannya merupakan pencetus terjadinya inflamasi kronik sebagai penyebab pertumbuhan jaringan pterigium. Bila terdapat tanda radang berikan air mata buatan dan bila perlu dapat diberi steroid. Pemakaian air mata artifisial ini diperlukan untuk membasahi permukaan okular dan untuk mengisi kerusakan pada lapisan air mata. sedangkan tindakan bedah dilakukan pada pterigium yang melebihi derajat 2.jernih. 5 . BMD kesan normal. Umumnya pterigium bertumbuh secara perlahan dan jarang sekali menyebabkan kerusakan yang bermakna. Timbunan atau benjolan ini membuat penderitanya agak kurang nyaman karena biasanya akan berkembang dan semakin membesar ke daerah kornea. selain itu kekeringan okular dan polusi lingkungan dapat berperan serta dalam progresivitas pterigium dan rekurensinya Prinsip penanganan pterigium dibagi 2. debu dan udara kering dengan kacamata pelindung. Tindakan bedah juga dipertimbangkan pada pterigium derajat 1 dan 2 yang telah mengalami gangguan penglihatan atau dengan alasan kosmetik. iris coklat. berbentuk segitiga yang tumbuh menjalar ke kornea dengan puncak segitiga di kornea. Pterigium umumnya asimptomatis atau akan memberikan keluhan berupa mata berair dan tampak merah serta mungkin menimbulkan astigmat akibat adanya perubahan bentuk kornea akibat adanya mekanisme penarikan oleh pterigium serta terdapat pendataran dari pada meridian horizontal pada kornea.

1 % pada penderita dibawah usia 40 tahun 6 . Studi epidemiologis menemukan adanya asosiasi terhadap paparan sinar matahari yang kronis. pterigium juga menampilkan ciri-ciri seperti tumor. EPIDEMIOLOGI Pterigium merupakan kelainan mata yang umum di banyak bagian dunia.3%-29%. radang mata kronis.6 Banyak literatur melaporkan faktor-faktor etiologi berikut yang mungkin menjadi penyebab terjadinya pterigium: radiasi ultraviolet (UV).10 Hal yang berbeda dengan beberapa studi dimana pterigium ditemukan lebih banyak pada laki-laki.9 Hal yang jarang terjadi untuk seseorang menderita pterigium sebelum usia 20 tahun. DEFENISI Pterigium merupakan kelainan yang paling sering terjadi pada mata yang patogenesisnya masih belum jelas. dan dapat hidup berdampingan dengan lesi premalignan sekunder. dengan meningkatnya prevalensi geografis dalam peri-khatulistiwa garis lintang 370 utara dan selatan khatulistiwa 'sabuk pterigium'.9 Tingkat rekurensi pada pasca ekstirpasi di Indonesia berkisar 35 % . seperti kecenderungan untuk menginvasi jaringan normal dan tingkat rekurensi yang tinggi setelah reseksi. tumbuh terarah dan menginfiltrasi permukaan kornea antara lain lapisan stroma dan membrana Bowman. Baru-baru ini. dan yang selanjutnya.1 Pterigium (L. efek toksik zat kimia. prevalensi pterigium di Sumatera meningkat seiring bertambahnya usia. lesi atrofi sampai lesi fibrovaskular besar yang tumbuh agresif dan cepat yang dapat merusak topografi kornea. Data di RSCM angka rekurensi pterigium mencapai 65.PTERIGIUM I.7 II.2-4 Pterigium dapat bervariasi bentuknya dari yang kecil. Pasien lebih dari dari 40 tahun memiliki prevalensi tertinggi untuk terjadinya pterigium. sementara pasien berusia 20-40 tahun dilaporkan memiliki insiden tertinggi terjadinya pterigium. dengan prevalensi yang dilaporkan berkisar antara 0.52 %. beberapa virus juga memiliki kemungkinan sebagai salah satu faktor etiologi.8 Secara umum studi lain pterigium. Pterygion = sayap) adalah suatu proses degeneratif dan hiperplastik dengan fibrovaskular berbentuk segitiga (sayap) yang muncul pada konjungtiva. mengaburkan bagian tengah optik kornea.1-3.5 Dulu penyakit ini dianggap sebagai suatu kondisi degeneratif.

hanya melekat pada setengah bagian tarsal. melekat longgar pada sclera dan melekat lebih erat pada limbus kornea.2 7 . Konjungtiva tarsal tipis. Pada kelopak mata bawah. Karena perlekatannya bersifat longgar. Bagian ini melekat kuat pada seluruh tarsal kelopak mata atas. dan membungkus ruang kompleks yang disebut sakus konjungtiva yang terbuka di depan fisura palpebral.2. Terdapat sebuah dataran tinggi 3-mm dari konjungtiva bulbaris sekitar kornea disebut konjungtiva limbal. transparan dan banyak mengandung vaskular.2 Konjungtiva dapat dibagi menjadi 3 bagian (Gam. orbital. Konjungtiva orbital terletak longgar antara tarsal dan forniks. dan lapisan fibrosa. Konjungtiva palpebralis terbagi 3 yakni konjungtiva marginal. maka konjungtiva fornix dapat bergerak bebas bersama bola mata ketika otot-otot tersebut berkontraksi. Bagian ini sebenarnya zona transisi antara kulit dan konjungtiva lebih tepatnya.2.11 Konjungtiva marginal membentang dari tepi kelopak mata sekitar 2 mm pada bagian belakang kelopak sampai ke alur dangkal. Nama konjungtiva (conjoin: bergabung) diberikan kepada membran mukosa ini karena fakta bahwa ia menhubungkan bola mata dengan kelopak mata. Bagian ini melapisi permukaan dalam kelopak mata dan melekat kuat pada tarsus. yakni sulkus subtarsalis. konjungtiva fornix ini melekat secaralonggar dengan struktur dibawahnya yaitu fasia muskulus levator palpebra superior serta muskulus rektus.dan sebesar 12.2 Konjungtiva fornix. Lain halnya dengan konjungtiva palpebra yang melekat erat pada struktur sekitarnya. Di sana epitel konjungtiva bergabung dangan epitel kornea. 1): Konjungtiva palpebralis. ANATOMI KONJUNGTIVA Konjungtiva adalah membran mukosa tembus cahaya yang melapisi permukaan aspek posterior dari kelopak mata dan anterior bola mata. konjungtiva terdiri dari tiga lapisan yaitu epitel.2 Konjungtiva bulbaris. tarsal.11 bagian ini dipisahkan dari sklera anterior oleh jaringan episcleral dan kapsul Tenon.11 Secara histologis. merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.5 % diatas 40 tahun. Membentang dari pinggir kelopak mata ke limbus. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa kekambuhan pasca transplantasi limbal sel sebesar 14 % dan kekambuhan pasca bare sclera sebesar 40-75 % serta conjungtival graft sebesar 3-5%.3 III. lapisan adenoid.

Kelenjar lakrimalis aksesoris terdiri dari: Kelenjar Krause (terdapat pada jaringan ikat subconjunctival forniks. Konjungtiva tarsal memiliki 2 lapis epitel: lapisan superficial terdiri dari sel-sel silinder dan lapisan dalam terdiri dari sel-sel datar. Lapisan fibrosa. Lapisan ini terdiri dari serat kolagen dan serat elastis. yakni kelenjar sekresi musin dan kelenjar lakrimalis aksesoris. Crypts of Henle (terdapat di konjungtiva tarsal) dan kelenjar Manz (ditemukan dalam konjungtiva limbal). Lapisan ini lebih tebal dari lapisan adenoid. Konjungtiva forniks dan bulbaris memiliki 3 lapis epitel: lapisan superfisial terdiri dari sel silindris. Kelenjar-kelenjar ini mensekresi mucus yang penting untuk membasahi kornea dan konjungtiva. Kelenjar ini terdiri dari sel goblet (kelenjar uniseluler yang terletak di dalam epitel). Hal ini menjelaskan bahwa peradangan konjungtiva pada bayi tidak menghasilkan reaksi folikuler. lapisan tengah terdiri dari sel polyhedral dan lapisan dalam terdiri dari sel kubus. Lapisan ini mengandung pembuluh dan saraf dari konjungtiva. di mana lapisan ini sangat tipis. Lapisan adenoid. sekitar 42 buah di atas forniks dan 8 buah di bawah forniks) dan kelenjar Wolfring (terdapat di sepanjang batas atas tarsus superior dan sepanjang batas bawah tarsus inferior). Epitel. kecuali di daerah konjungtiva tarsal.1. 2. Lapisan ini paling pesat perkembangannya di forniks. Konjungtiva berisi dua jenis kelenjar. Lapisan sel epitel di konjungtiva bervariasi pada masing-masing daerah dan dalam bagian-bagian sebagai berikut: Konjungtiva marginal memiliki 5 lapis epitel sel gepeng bertingkat. Lapisan ini tidak ditemukan ketika bayi lahir tapi akan berkembang setelah 3-4 bulan awal kehidupan. 2 8 . Limbal konjungtiva memiliki lagi lapisan yang banyak (5 sampai 6 lapis) epitel berlapis gepeng. Lapisan ini disebut juga lapisan limfoid dan terdiri dari retikulum jaringan ikat halus dengan jerat dimana terdapat limfosit. 3. Lapisan ini bersatu dengan mendasari kapsul Tenon di daerah konjungtiva bulbar.

Konjungtiva terdiri dari konjungtiva bulbaris. konjungtiva palpebralis.dikutip dari kepustakaan 11 Gambar 2. Batas bebas lateralnya berbentuk cekung.Gambar 1. konjungtiva forniks. 9 . Vaskularisasi Konjungtiva dikutip dari kepustakaan 2 Plica semilunaris merupakan lipatan seperti bulan sabit berwarna merah muda dari konjungtiva yang terdapat di kantus medial.

Penelitian terbaru telah melaporkan bahwa gen p53 dan human papillomavirus dapat juga terlibat dalam patogenesis pterigium. Tetapi penyakit ini lebih sering pada orang tinggal di iklim panas. anggapan yang paling mungkin adalah pengaruh efek berkepanjangan faktor lingkungan seperti terpapar sinar matahari (sinar ultraviolet). Hal ini mengaktifkan faktor pertumbuhan jaringan yang menginduksi angiogenesis dan proliferasi sel. yakni superficial dan profunda.Korunkula adalah massa kecil. dan arteri ciliaris anterior (Gam.8 10 . Baru-baru ini. Oleh karena itu. Konjungtiva palpebralis dan forniks diperdarahi oleh cabang-cabang dari arkade arteri perifer dan marginal palpebra.12 IV. Saraf ini memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit. terletak di canthus bagian dalam. oval. beberapa virus juga memiliki disebut-sebut sebagai faktor etiologi mungkin.1 Radiasi cahaya UV tipeB menjadi faktor lingkungan yang paling signifikan dalam patogenesis pterigium. yakni menyebabkan terjadinya insufisiensi limbal.7 Efek merusak dari sinar UV menyebabkan penurunan sel induk limbal pada kornea.2 Arteri yang memperdarahi konjungtiva berasal dari tiga sumber yakni arkade arteri perifer palpebra. Vena konjungtiva bermuara ke dalam vena pleksus kelopak mata dan beberapa mengelilingi kornea dan bermuara ke vena ciliaris anterior. arkade arteri marginal kelopak mata. Sistem limfatik konjungtiva tersusun dalam dua lapisan. ETIOLOGI Etiologi pterigium sepenuhnya diketahui.2 Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan nervus trigeminus yaitu nervus oftalmikus. merah muda. angin tinggi dan debu. kelenjar sebasea dan folikel rambut. Pada kenyataannya. panas. dan arteri konjungtiva anterior yang merupakan cabang dari arteri ciliaris anterior.1-3. Sistem ini dari sisi lateral bermuara ke limfonodus preaurikuler dan sisi medial bermuara ke limfonodus submandibular. 2). massa ini merupakan potongan modifikasi kulit dan ditutupi dengan epitel gepeng bertingkat dan berisi kelenjar keringat. Konjungtiva bulbar diperdarahi oleh dua set pembuluh darah yaitu: arteri konjungtiva posterior yang merupakan cabang dari arteri kelopak mata. Cabang terminal arteri konjungtiva posterior membentuk anastomosis dengan arteri konjungtiva anterior dan membentuk arkade pericorneal.

Berdasarkan stadium pterigium dibagai ke dalam 4 stadium yaitu:7. pertumbuhan pembuluh darah yang tipis hanya terbatas pada limbus kornea. Lesi menutupi kornea sampai 4 mm.  Tipe III: pterigium primer atau rekuren dangan keterlibatan zona optic. Stocker’s line atau deposit besi dapat dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterigium. Lesi mengenai kornea >4mm dan mengganggu aksis visual. dimana lesi hanya terbatas pada limbus atau menginvasi kornea pada tepinya saja.12  Pterigium progresif: tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrate di kornea di depan kepala pterigium (disebut cap dari pterigium) 11 . Keterlibatan zona optic membedakan tipe ini dengan tipe yang lain. Stadium 3:lapisan tebal seperti daging yang menutupi pupil. stadium. Lesi yang luas khususnya pada kasus rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva yang meluas ke forniks dan biasanya menyebabkan gangguan pergerakan bola mata serta kebutaan. Berdasarkan perjalanan penyakitnya.  Tipe II: disebut juga pterigium tipe primer advanced atau pterigium rekuren tanpa keterlibatan zona optic. Merupakan bentuk pterigium yang paling berat.V. Berdasarkan tipenya pterigium dibagi atas 3:  Tipe I: Pterigium kecil. yaitu: 12 1. Pasien yang memakai lensa kontak dapat mengalami keluhan lebih cepat. pterigium dibagi menjadi 2 yaitu:2. 2. pertumbuhan lapisan yang transparan dan tipis. berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan astigmat. Stadium 2: lapisan tebal. Pada tubuh pterigium sering nampak kapiler-kapiler yang membesar. KLASIFIKASI Pterigium dapat dibagi ke dalam beberapa klasifikasi berdasarkan tipe. 3. pembuluh darah profunda tidak kelihatan dan menginvasi kornea tapi belum mencapai pupil. meskipun sering mengalami inflamasi ringan. vaskularisasi yang jelas Stadium 4: pertumbuhan telah melewati pupil.12     Stadium 1 : invasi minimum. progresifitasnya dan berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera. dapat primer atau rekuren setelah operasi. Lesi meluas <2 mm dari kornea. Lesi sering asimptomatis.

Pada keadaan defisiensi limbal stem cell. dan angiogenesis. tebal atau tipis dan kadang terjadi displasia.12. Jaringan subkonjungtiva mengalami degenerasi elastoid (degenerasi basofilik) dan proliferasi jaringan granulasi fibrovaskular di bawah epitel yaitu substansi propia yang akhirnya menembus kornea. Epitel dapat normal. Berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterigium dan harus diperiksa dengan slitlamp pterigium dibagi 3 yaitu:12    T1(atrofi):pembuluh darah episkleral jelas terlihat. Gejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke kornea. 12 . Kerusakan kornea terdapat pada lapisan membran Bowman yang disebabkan oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular dan sering disertai dengan inflamasi ringan. PATOFISIOLOGI Terjadinya pterigium sangat berhubungan erat dengan paparan sinar matahari.atrofi. UV-B merupakan faktor mutagenik bagi tumor supressor gene p53 yang terdapat pada stem sel basal di limbus. terjadi konjungtivalisasi pada permukaan kornea. Kerusakan membran Bowman ini akan mengeluarkan substrat yang diperlukan untuk pertumbuhan pterigium. sedikit vaskular. 4. inflamasi. Tanda ini juga ditemukan pada pterigium dan oleh karena itu banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pterigium merupakan manifestasi dari defisiensi atau disfungsi localized interpalpebral limbal stem cell. VI. migrasi sel. Pterigium ditandai dengan degenerasi elastotik dari kolagen serta proliferasi fibrovaskuler yang ditutupi oleh epitel. walaupun dapat pula disebabkan oleh udara yang kering. dan paparan terhadap angin dan debu atau iritan yang lain. Pterigium regresif:tipis.opaque):pembuluh darah tidak jelas.13 Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular. Pemusnahan lapisan Bowman oleh jaringan fibrovascular sangat khas.13 Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Pada pemeriksaan histopatologi daerah kolagen abnormal yang mengalami degenerasi elastolik tersebut ditemukan basofilia dengan menggunakan pewarnaan hematoxylin dan eosin. Epitel diatasnya biasanya normal. tetapi tidak pernah hilang. Akhirnya menjadi bentuk membrane. kerusakan membran basement dan pertumbuhan jaringan fibrotik. vaskularisasi. inflamasi kronis. tetapi mungkin acanthotic. T2(intermediet):pembuluh darah episkleral sebagian terlihat. T3(fleshy. Ekspresi berlebihan sitokin seperti TGF-β dan VEGF (vascular endothelial growth factor) menyebabkan regulasi kolagenase.

gangguan penglihatan. pasien kemudian akan mengalami penglihatan ganda atau diplopia. GAMBARAN KLINIS Pterigium lebih sering terjadi pada pria tua yang melakukan pekerjaan di luar rumah. mata sering berair. atau bahkan displastik dan sering menunjukkan area hiperplasia dari sel goblet 10. biasanya di sisi nasal. dan Corpus (bagian scleral) membentang antara limbus dan yang canthus2 Pterigium hanya akan bergejala ketika bagian kepalanya menginvasi bagian tengah kornea. tetapi juga dapat terjadi di sisi temporal.12 VII. DIAGNOSIS Anamnesis Pada anamnesis didapatkan adanya keluhan pasien seperti mata merah.11 Gambar 6. gatal. Deposisi besi kadang-kadang terlihat pada epitel kornea anterior disebut garis Stocker. Selain itu perlu juga ditanyakan adanya riwayat mata 13 . Pterigium lanjut yang menyebabkan skar pada jaringan konjungtiva juga dapat secara perlahan-lahan mengganggu motilitas okular.2. Collum (bagian limbal).hiperkeratotik. Pterigium VIII. Penyakit ini muncul sebagai lipatan segitiga konjungtiva yang mencapai kornea. Kekuatan tarikan yang terjadi pada kornea dapat menyebabkan astigmatisme kornea. Pterygium mungkin terjadi unilateral atau bilateral. Pterigium terdiri dari tiga bagian    Apeks (bagian apikal pada kornea).

Kosmetik Menurut Guilermo Pico : 1. Untuk mencegah progresifitas beberapa peneliti menganjurkan penggunaan kacamata pelindung uktraviolet. Mengganggu visus 3. Mendahului suatu operasi intraokuler 5. Pterigium dapat memberikan gambaran vaskular dan tebal tetapi ada juga pterigium yang avaskuler dan flat.12 Dapat pula dilakukan tindakan operatif berupa eksisi pterigium. 2. Masalah kosmetik 14 . serta dapat pula ditanyakan riwyat trauma sebelumnya. PENATALAKSANAAN Keluhan fotofobia dan mata merah dari pterigium ringan sering ditangani dengan menghindari asap dan debu. Mengganggu pergerakan bola mata 3. Progresif. Adapun indikasi operasi menurut Ziegler and Guilermo Pico. Berkembang progresif 4. Mengganggu visus 2.12 Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan pada pterigium adalah topografi kornea untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa astigmtisme ireguler yang di sebabkan oleh pterigium. Pterigium paling sering ditemukan pada konjungtiva nasal dan berekstensi ke kornea nasal.12 Pemeriksaan fisik Pada inspeksi pterigium terlihat sebagai jaringan fibrovaskuler pada permukaan kojungtiva. Mengganggu pergerakan bola mata 4. vasokonstriktor dan kortikosteroid digunakan secara aman untuk menghilangkan gejala jika digunakan secara benar terutama pada derajat 1 dan 2. Beberapa obat topikal seperti lubrikans. 12 IX. tetapi dapat pula ditemukan pterigium pada daerah temporal. yaitu: Menurut Ziegler : 1.merah berulang. resiko rekurensi > luas 2. riwayat banyak bekerja di luar ruangan pada daerah dengan pajanan sinar matahari yang tinggi.

Conjungtival autograft 4. Lamellar keratoplasty 8. Cultivated conjunctival transplantation 7.12 2. Limbal and limbal–conjunctival transplantation 5. Post poerasi beta iradiasi 3.8. Tapi hal ini dapat di minimalisir dengan cara berikut:2. Bare sclera : bertujuan untuk menyatukan kembali konjungtiva dengan permukaan sclera.8 Berbagai teknik bedah yang digunakan saat ini untuk pengelolaan pterigium. 4. Penggunaan mitomicin C intra dan post operasi 2.4. Terjadi kongesti (klinis) secara periodik Tujuan utama pembedahan adalah untuk sepenuhnya mengeluarkan pterigium dan untuk mencegah terjadinya rekurensi. dimana teknik ini dilakukan bila luka pada konjungtiva relative kecil.2.12 3.4. Rotational flap: dibuat insisi berbentuk huruf U disekitar luka bekas eksisi untuk membentuk seperti lidah pada konjungtiva yang kemudian diletakkan pada bekas eksisi. dieksisi sesuai dengan ukuran luka kemudian dipindahkan dan dijahit atau difiksasi dengan bahan perekat jaringan. Conjungtival graft: menggunakan free graft yang biasanya diambil dari konjungtiva bulbi bagian superior.12 Rekurensi menjadi masalah setelah dilakukan bedah eksisi yakni sekitar 30-50%. Di depan apeks pterigium terdapat Grey Zone 6.2. Sliding flap : dibuat insisi berbentuk huruf L disekitar luka bekas eksisi untuk memungkinkan dilakukannya penempatan flap. Amniotic membrane transplantation 6. Pada pterigium dan kornea sekitarnya ada nodul pungtat 7. Kerugian dari teknik ini adalah tingginya tingkat rekurensi pasca pembedahan yang dapat mencapai 40-75%.5. Fibrin glue 15 .8.12 1. Simple closure: menyatukan langsung sisi konjungtiva yang terbuka.12 5. 4.8 1.

kornea dan otot rektus medial. Kebanyakn pasien dapat beraktivitas lagi setelah 48 jam post operasi. Tampak seperti penumpukan lemak bisa karenairitasi maupun karena air mata yang kurang baik. Pasien dengan pterigium rekuren dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan konjungtiva auto graft atau transpalantasi membrane amnion. PROGNOSIS Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik.2 Selain itu pterigium juga didiagnosis banding dengan pingekulum yang merupakan lesi kuning keputihan pada konjungtiva bulbar di daerah nasal atau temporal limbus. 2. perdarahan vitreous dan perforasi bola mata meskipun jarang terjadi. 4.X. kemerahan. Hal ini biasanya terjadi pada luka bakar akibat zat kimia pada mata.10 Komplikasi yang paling umum dari operasi pterigium adalah rekurensi. Tingkat rekurensi telah berkurang menjadi sekitar 5-15% dengan penggunaan autografts konjungtiva / limbal atau transplantasi membran amnion pada saat eksisi. Bedah eksisi sederhana memiliki tingkat rekurensi tinggi sekitar 50-80%.10 16 .10 Pada kesempatan langka. Komplikasi pasca operasi termasuk infeksi. Retina detachment.12 XI. diplopia.10 XII. Pseudopterigium adalah lipatan konjungtiva bulbar yang melekat pada kornea. degenerasi ganas dari jaringan epitel yang melapisi sebuah pterigium yang ada dapat terjadi. Pada umumnya tidak diperlukan terapi tetpi pada kasus tertentu dapat diberikan steroid topikal. Beberapa kasus bisa sangat sulit untuk ditangani. Hal ini terbentuk karena adhesi dari konjungtiva bulbar dengan ulkus kornea marjinal. diplopia dan terbentuknya jaringan parut.10 Komplikasi pasca operasi akhir radiasi beta pterygia dapat meliputi: Scleral dan / atau kornea yang menipis atau ektasia dapat muncul beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun setelah perawatan. DIAGNOSIS BANDING Pterigium harus dibedakan dari pseudopterigium. distorsi penurunan visus dan skar pada konjungtiva . KOMPLIKASI Komplikasi pterigium meliputi iritasi.

86:1341–46. Availble from : http://bjo.2002. Perbedaan Kekambuhan Paska Ekstirpasi Pterigium Metode Bare Sclera Dengan Transpalantasi Limbal Stem Sel.6(3):149-52. Prevalensi Pterigium di Kabupaten Langkat. British. editors. Chua LLJ. Journal Of The Bombay Ophthamologists’ Association. Inakawati S. Cornea-Conjungtival Auto Grafting in Pterigium Surgery. Pterigium: A New Surgical Technique. Jovanovic P.com 17 . Chandra A. Medical College. 4. p. severity. In:. Postgraduate Department of Opthalmology. Govt. Jhaveri R. Accessed July 7. BOSNIAN JOURNAL OF BASIC MEDICAL SCIENCE.2012. Conjunctiva. Khurana KA. 9. Recker D. Medical Faculty of Diponegoro University.11(4):129-30.ac.665 [online]. Sharma KA. Curr Opin Ophthalmol. 7. In:. 2007. Available from: URL: repository. The American Journal of Pathology. New Delhi: New Age International. Pterygium. p. 8. 12. Pterigium. Pterigium in Indonesia: prevalence. Gazzard G. Ophthalmology: A Pocket Textbook Atlas 2nd ed. 51 . Analysis of pathohistological characteristics of pterigium .DAFTAR PUSTAKA 1. et al. 3. Br J Ophthalmol . Lang KG.S.2012.com/article/1192527-overview. 13. Kerala Journal of Ophthamology. Khurana KA. Management of Pterigium. 1-18. Ophthalmic Ptrygium A Stem Cell Disorder with Premalignant Features. Lang EG. Current concepts and techniques in pterigium treatment. Accessed July 7 .medscape. editors. 2010. 2. Jammu. 6. Pandita A. Wagner P. Comprehensive Ophthalmology 4th ed. 67 . Chui J. Ang KPL. 10. 2010. Updated : 2009. Diseases of the Conjunctiva. Wali V.usu. Available from: URL: http://emedicine. et al.p.82. et al. Solomon A. and risk factors.Ophtalmology. Dzunic B. 5.bmjjournals. 11.72. 2008. Doctor R. 2008. [cited 2011 December 12]. Raju KV. Coroneo TM. Lang EG. 2006. Swastika AM.A Brief Review.178(2):817-27. 2006. Lang KG.Journal. 2011. 2008. Updated : 2012. Laszuarni.id. Saw MS. Jharmarwala M. 18: 308–313. Dan HTD. 2004. New York: Thieme Stuttgart.10(4):308-13.10(4):63-5. Gareis O. Fisher PJ.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful