‫السالم عليكم‬

‫‪Akhlak‬‬

Kelompok 3
• • • • • • • • •
Fiqi Ramadhan (Ketua) Siti Maemunah Arie Dhini Saputri Laela Anggaraini Nurjannah Mohammad Ali M. Rizalillah Aisyah Ulva Novema Ahmad Badru Zaman

Pengertian Akhlak
 Dalam etimologi arti akhlak adalah kebiasaan atau perbuatan.  Menurut Prof. Dr. Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak adalah kebiasaan, kehendak.Di
dalam Ensiklopedi pendidikan bahwa akhlak adalah budi pekerti, watak, kesusilaan yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama manusia.  Sedangkan akhlak menurut Iman Al-Ghozaly, Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan.  Jadi pada hakekatnya Akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah menetap dalam jiwa dan kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa pemikiran.

Etika, Moral dan Akhlak
Etika

Etika dalam islam disebut akhlak. Berasal dari bahasa Arab al-akhlak yang
merupakan bentukjamakdari al-khuluq yang berartibudipekerti, tabiat atau watak yang tercantum dalam al-qur‟an sebagai konsideran. (Pertimbangan yg menjadi dasar penetapan keputusan, peraturan) “ Sesungguhnya engkau Muhammad berada di atas budi pekerti yang agung” ( Q.S Al-Qalam: 4 )

Etika secara terminologis, menurut Ahmad Amin etika ialah ilmu yang
menjelaskan arti baik dan buruk yang seharusnya dilakukan oleh manusia.

Moral

Moral secara etimologis berasal dari bahasa latin Mores, bentuk plural
dari Mos yang berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan.

Moral secara terminologis adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar –salah, baik-buruk (Nata 2002)

Antara etika dan moral memiliki obyek yang sama yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia untuk selanjutnya di tentukan posisinya baik atau buruk. Tolak ukur yang di gunakan dalam moral untuk mengukur tingkah laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan, dan lainnya yang berlaku dimasyarakat. Menurut Ibnu Arabi hati manusia itu bisa baik dan buruk, karena di dalam diri manusia terdapat 3 nafsu : 1. Syahwiniyah 2. Al-Ghadabiyah 3. Al-Nathiqah

Manfaat Akhlak dalam Kehidupan Sehari-hari
Dapat menikmati Ketenangan hidup Tidak mudah terguncang oleh perubahan sintuasi Tidak mudah tertipu oleh fatamorgana kehidupan Dapat menikmati hidup dalam segala keadaan

Macam-Macam Akhlak
Akhlak Terpuji
Akhlak Terpuji (al-mahmudah) atau akhlak al-karimah artinya sikap dan sifat yang mulia atau terpuji, yang terkadang disebut dengan budi pekerti yang luhur. Akhlak mulia suatu sikap atau sifat yang terpuji yang pantas melekat pada diri setiap Muslim, sehingga menjadi orang yang berbudi baik atau luhur dan memiliki karakter yang baik pula.

 Shiddiq (benar atau jujur)  Al-manah (menyampaikan atau terbuka)  Tabligh (menyampaikan atau terbuka)  Fathana (cerdas dan cakap)  Istiqamah (teguh pendirian)  Ikhlas berbuat atau beramal  Syukur (menerima baik)  Iffah (perwira)  Tawadhu’, adalah sikap sabar yang tertanam dalam jiwa untuk dapat mengendalikan hawa nafsu.

    

  

Qana’ah Intiqad atau mawas diri Al-Afwu atau pemaaf Anisatun atau bermuka manis Khusyu’ atau tenang dala beribadah Wara’, adalah sikap batin yang tertanam dalam jiwa yang selalu menjaga dan waspada dari segala bentuk perbuatan yang mungkin mendatangkan dosa, baik itu dosa kecil atau dosa besar. Belas kasihan Beriman kepada Allah Ta’awun atau tolong menolong

         


   

Syaja’ (berani) Hikmah (bijaksana) Tasamuh (toleransi) Lapang dada Adil Sakhaa’ (pemurah) Nadhief (bersih) Ihsan Malu (haya) Uswatun hasanah (teladan yang baik) Hifdu Al-Lisan (menjaga ibadah) Hub al-wathan (cinta tanah air) Tadarru atau merendah Shalihah (shaleh) Sabar (teguh)

Akhlak Tercela
Akhlak tercela adalah semua sifat dan tingkah laku yang berbeda atau berlawanan, bahkan bertentangan dengan sifat-sifat yang telah disebutkan pada bagian terdahulu (akhlak mulia) tersebut di atas.

 Dusta (bohong)  Khiyanat (menyia-nyiakan kepercayaan)  Hasad (dengki)  Iri hati  Al-Riya (puji diri)  Takabbur (sombong)  Al-Tabdzir (boros)  Al-Bukhlu (kikir)  Bakhil (kikir)  Al-Dzulmu (aniaya)  Ceroboh  Al-Syakhwat (mengikuti hawa nafsu)

 Ananiyah  Al-Baghyu  Al-Buhtaan (bohong)

 Ingkar janji
 Al-Kamru  Al-Jubnu (pengecut)  Al-Fawahisy (dosa yang besar)  Saksi palsu  Fitnah  Tanabazu bil al-qad (memberi gelaran yang tidak benar atau berlebihan)

 Al-Israf (hidup berlebihlebihan)  Al-Liwathah (hubungan seksual tidak normal)  Al-namimah (adu domba)  Al-khufran (kekufuran)  Qatlun Nafs (menghilangkan jiwa)  Al-Riba (pemakan riba)  Al-sikhriyah (berolok-olok)  Dan lain-lain sifat tercela

Akhlak Kepada Allah SWT
Akhlak kepada Allah (Muamalat ma Allah) dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada tuhan sebagai khalik. Allah berfirman dalam Al-Qur‟an “Tidak diciptakan Jin dan Manusia Melainkan untuk Beribadah” Ada empat alasan, sehingga manusia perlu berakhlak kepada allah swt yaitu : Pertama karena Allahlah yang menciptakan manusia.Dia yang menciptakan manusia dari air yang ditumpahkan keluar dari tulang punggung dan tulang rusuk hal ini sebagai mana di firmankan oleh Allah dalam surat at-Thariq ayat 5-7. (‫ِ اىصيت ٗاىزشائت‬ٞ‫خشج ٍِ ث‬ٝ )٦(‫) خيق ٍِ ٍبء دافق‬٥(‫ْظشاالّسبُ ٌٍ خيق‬ٞ‫في‬٧ Artinya : (5) "Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?, (6). Dia tercipta dari air yang terpancar, (7). yang terpancar dari tulang sulbi dan tulang dada.

Kedua karena Allahlah yang telah memberikan kelengkapan panca indra, berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran dan hati sanubari.disamping anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia.Firman Allah dalam surat,an-Nahl ayat 78.

ُٗ‫ئب ٗجعو ىنٌ اىسَع ٗاال ثصبس ٗاال فئذح ىعينٌ رشنش‬ٞ‫ٗهللا اخشجنٌ ٍِ ثطُ٘ اٍٖب رنٌ ال رعيَُ٘ ش‬
Artinya: "Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. ( Q.S an-Nahal : 78)

Ketiga Allahlah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidupmanusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh tumbuhan, air, udara, binatang ternak, dan lain lain. Firman Allah dalam surat al-Jatsiyah ayat 12-13. ١٢( ُٗ‫ٔ ثبٍشٓ ٗىزجزغ٘ا ٍِ فضئ ٗىعينٌ رشنش‬ٞ‫ اىفيل ف‬ٛ‫ سخشىنٌ اىجحش ىزجش‬ٛ‫هللا اىز‬ ُٗ‫زفنش‬ٝ ً٘‫ذ ىق‬ٝ‫ رىل ال‬ٜ‫عب ٍْٔ اُ ف‬َٞ‫ االسض ج‬ٜ‫ اىسَ٘اد ٍٗب ف‬ٜ‫ٗ سخشىنٌ ٍب ف‬ (١٣-١٢ :‫خ‬ٞ‫)اىجب ث‬ Artinya (13) "Allah-lah yang menundukkan lautan untuk kamu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, supaya kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya dan mudahmudahan kamu bersyukur. (13), "Dan Dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu yang berpikir.(Q.S al-Jatsiyah :12-13 ).

Keempat , Allahlah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan. Firman Allah dalam surat Al-Israa' ayat, 70.

• )‫شٍَِ خيقْب‬ٞ‫ مث‬ٚ‫جذ ٗفضيٌْٖ عي‬ٞ‫ اىجش ٗاىجحش ٗسصقٌْٖ ٍِ ط‬ٜ‫ ادً ٗحَيٌْٖ ف‬ْٜ‫ال ٗىقذ مشٍْب ث‬ٞ‫رفض‬
٧٠‫(االسشاء‬
Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak cucu Adam, Kami angkut mereka dari daratan dan lautan, Kami beri mereka dari rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S al-Israa : 70).

‫ ﷲ‬Akhlak Kepada Allah terbagi 2 jenis
1. Akhlak baik atau terpuji yakni perbuatan baik kepada Allah SWT

‫ ﷲ‬Al-Hubb (yaitu mencintai Allah) ‫ ﷲ‬Al-Raja (Yaitu mengharapkan karuniadan berusaha memperoleh keridhaan Allah SWT) ‫ ﷲ‬As-Syukr (yaitu menyatakan terimah kasih dan mensyukuri segala nikmat dan karunia Allah SWT yang
diterimanya dalam bentuk ucapan maupun tindakan. )

‫ ﷲ‬Qana‟ah (yaitu menerima dengna ikhlas semua qadha dan qadhar Allah SWT.) ‫ ﷲ‬Taqwa (yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya baik
terang-terangan)

secara sembunyi maupun

‫ ﷲ‬At-Taubat (yaitu bertaubat hanya kepada Allah SWT.) ‫ ﷲ‬Tawakal (yaitu mempercayakan diri kepada Allah SWT dalam melaksanakan suatu rencana, bersandar kepada
kekuatannya dalam melaksanakan pekerjaannya.)

‫ ﷲ‬Akhlak Buruk terhadap Allah SWT  Takabbur (yaitu sikap yang menyombongkan diri)  Musyrik (yaitu sikap yang mempersekutukan Allah SWT )  Murtad (yaitu sikap yang meninggalkan atau keluar dari agama Islam, untuk menjadi kafir.)  Munafiq (yaitu sikap yang menampilkan dirinya bertentangan dengan kemauan hatinya dalam
kehidupan beragama)

 Riya (yaitu sikap yang selalu menunjuk-nunjukkan perbuatan baik yang dilakukannya.)  Boros/berfoya-foya (yaitu perbuatan yang selalu melampaui batas-batas ketentuan agama. )  Rakus/tanak (yaitu sikap yang tidak pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambah apa
yang seharusnya ia miliki, tanpa memperhatikan orang lain.)

Akhlak Terhadap Rosul
1. Ridha dalam beriman kepada rosul
Iman kepada Rasul Saw merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Keimanan akan terasa menjadi nikmat dan lezat manakala kita memiliki rasa ridha dalam keimanan sehingga membuktikan konsekuensi iman merupakan sesuatu yang menjadi kebutuhan. Karenanya membuktikan keimanan dengan amal yang shaleh merupakan bukan suatu beban yang memberatkan, begitulah memang bila sudah ridha. Ridha dalam beriman kepada Rasul inilah sesuatu yang harus kita nyatakan sebagaimana hadits Nabi Saw: Aku ridha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa‟I dan Ibnu Majah).

2. Mencintai dan Memuliakan Rasul

‫ﷴ‬Keharusan yang harus kita tunjukkan dalam akhlak yang baik kepada Rasul adalah mencintai ‫ﷴ‬Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, keluarga, harta
beliau setelah kecintaan kita kepada Allah Swt. Penegasan bahwa urutan kecintaan kepada Rasul setelah kecintaan kepada Allah disebutkan dalam firman Allah yang artinya: kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dasn (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS 9:24). lain selain Allah dan Rasul-Nya, maka Rasulullah Saw tidak mau mengakuinya sebagai orang yang beriman, beliau bersabda: sendiri, orang tuanya, anaknya dan semua manusia (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa‟i).

‫ﷴ‬Disamping itu, manakala seseorang yang telah mengaku beriman tapi lebih mencintai yang

‫ﷴ‬Tidak beriman seseorang diantara kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada dirinya

3. Mengikuti dan Mentaati Rasul ‫ﷴ‬Mengikuti dan mentaati Rasul merupakan sesuatu yang bersifat mutlak bagi orang-orang yang beriman. Karena itu, hal ini menjadi salah satu bagian penting dari akhlak kepada Rasul, bahkan Allah Swt akan menempatkan orang yang mentaati Allah dan Rasul ke dalam derajat yang tinggi dan mulia, hal ini terdapat dalam firman Allah yang artinya: Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaikbaiknya (QS 4:69).

‫ﷴ‬Disamping itu, manakala kita telah mengikuti dan mentaati Rasul Saw, Allah Swt akan
mencintai kita yang membuat kita begitu mudah mendapatkan ampunan dari Allah manakala kita melakukan kesalahan, Allah berfirman yang artinya: Katakanlah: “jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 3:31) Swt berfirman yang artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan izin Allah (QS 4:64). mentaatinya, maka ketaatan itu berarti telah disamakan dengan ketaatan kepada Allah Swt. Dengan demikian, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi seperti dua sisi mata uang yang tidak boleh dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Allah berfirman yang artinya: Barangsiapa mentaati rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (QS 4:80).

‫ﷴ‬Oleh karena itu, dengan izin Allah Swt, Rasulullah Saw diutus memang untuk ditaati, Allah
‫ﷴ‬Manakala manusia telah menunjukkan akhlaknya yang mulia kepada Rasul dengan

4. Mengucapkan Shawalat dan Salam Kepada Rasul ‫ﷴ‬Secara harfiyah, shalawat berasal dari kata ash shalah yang berarti do‟a, istighfar dan rahmah. Kalau Allah bershalawat kepada Nabi, itu berarti Allah memberi ampunan dan rahmat kepada Nabi, inilah salah satu makna dari firman Allah yang artinya: Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan Ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS 33:56). ‫ﷴ‬Adapun, bila kita bershalawat kepada Nabi hal itu justeru akan membawa keberuntungan bagi kita sendiri, hal ini disabdakan oleh Rasul Saw: ‫ﷴ‬Barangsiapa bershalawat untukku satu kali, maka dengan shalawatnya itu Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali (HR. Ahmad).

‫ﷴ‬Adapun orang yang tidak mau bershalawat kepada Rasul dianggap

‫ﷴ‬Yang benar-benar bakhil adalah orang yang ketika disebut namaku
dihadapannya, ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

sebagai orang yang kikir atau bakhil, hal ini dinyatakan oleh Rasul Saw:

5. Menghidupkan Sunnah Rasul

‫ﷴ‬Kepada umatnya, Rasulullah Saw tidak mewariskan harta yang banyak, tapi yang beliau

‫ﷴ‬Aku tinggalkan kepadamu dua pusaka, kamu tidak akan tersesat selamanya bila berpegang ‫ﷴ‬Selain itu, Rasul Saw juga mengingatkan umatnya agar waspada terhadap bid‟ah dengan
teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnahku (HR. Hakim).

wariskan adalah Al-Qur‟an dan sunnah, karena itu kaum muslimin yang berakhlak baik kepadanya akan selalu berpegang teguh kepada Al-Qur‟an dan sunnah (hadits) agar tidak sesat, beliau bersabda:

‫ﷴ‬Sesungguhnya, siapa yang hidup sesudahku, akan terjadi banyak pertentangan. Oleh karena
itu,. Kamu semua agar berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para penggantiku. Berpegang teguhlah kepada petunjuk-petunjuk tersebut dan waspadalah kamu kepada sesuatu yang baru, karena setiap yang baru itu bid‟ah dan setiap bid‟ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim, Baihaki dan Tirmidzi).

segala bahayanya, beliau bersabda:

6 Menghormati Pewaris Rasul

‫ﷴ‬Berakhlak baik kepada Rasul Saw juga berarti harus menghormati para pewarisnya,
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS 35:28).

‫ﷴ‬Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.
‫ﷴ‬Kedudukan ulama sebagai pewaris Nabi dinyatakan oleh Rasulullah Saw: ‫ﷴ‬Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Sesungguhnya Nabi tidak tidak

yakni para ulama yang konsisten dalam berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam, yakni yang takut kepada Allah Swt dengan sebab ilmu yang dimilikinya.

mewariskan uang dinar atau dirham, sesungguhnya Nabi hanya mewariskan ilmui kepada mereka, maka barangsiapa yang telah mendapatkannya berarti telah mengambil mbagian yang besar (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

7 Melanjutkan Misi Rasul ‫ﷴ‬Misi Rasul adalah menyebarluaskan dan menegakkan nilai-nilai Islam. Tugas yang mulia ini harus dilanjutkan oleh kaum muslimin, karena Rasul telah wafat dan Allah tidak akan mengutus lagi seorang Rasul. Meskipun demikian, menyampaikan nilai-nilai harus dengan kehati-hatian agar kita tidak menyampaikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dari Rasulullah Saw. Keharusan kita melanjutkan misi Rasul ini ditegaskan oleh Rasul Saw: ‫ﷴ‬Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat, dan berceritalah tentang Bani Israil tidak ada larangan. Barangsiapa berdusta atas (nama) ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka (HR. Ahmad, Bukhari dan Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Akhlak Kepada Al-Qur’an
Seorang Mukmin meyakini bahwa al-Qur‟ân adalah kalâm (perkataan; ucapan) Allah Azza wa Jalla . Huruf dan maknanya bukanlah makhluk, serta diturunkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad n . Al-Qur‟ân adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Al-Qur‟ân adalah sebaik-baik dan sebenar-benar perkataan, tidak ada kedustaan padanya, baik pada saat diturunkan maupun sesudahnya. Barangsiapa berkata berdasarkan alQur‟ân, maka perkataannya benar; dan barangsiapa menghukumi dengannya, maka hukumnya adil. Barangsiapa mengikutinya, ia akan menuntun menuju surga, dan barangsiapa membelakanginya, ia akan menyeretnya menuju neraka.

IMAN KEPADA AL-QUR’AN
Ini adalah adab dan kewajiban terbesar. Beriman kepada al-Qur‟ân artinya meyakini segala beritanya, mentaati segala perintahnya, dan meninggalkan segala larangannya. Allah Azza wa Jalla berfirman: ْٗ ْٗ َّ ِ‫نفُشْ ث‬ َّ ِ‫ٍُْ٘ا ث‬ ْ َٝ ِ ُٗ ْ َ ‫ أ‬ٛ‫ز‬ َّ َّ ٛ‫ز‬ ٍَ ٍْ ٍْ َ ِ‫الئ‬ َّ ْ َ‫ِ ق‬ ٔ ُ ‫ج‬ َ ‫ه‬ َ ‫ز‬ َ ‫ض‬ َ َٚ‫عي‬ َ ‫ض‬ َٗ ِ ِ‫مزُج‬ ِ ِ ‫نز‬ ِ ‫ه‬ ِ َّ‫ة اى‬ ِ ‫نزَب‬ ِ ‫اى‬ ِ ِ‫سسُ٘ى‬ ِ َّ‫ة اى‬ ِ ‫نزَب‬ ِ ‫اى‬ ِ ِ‫سسُ٘ى‬ ِ ‫ٍُْ٘ا آ‬ ِ َّ‫َُّٖب اى‬َٝ‫َب أ‬ٝ َ ٔ َ ِ‫بّلل‬ َ ۚ‫و‬ َ ٔ َ ٔ َ ِ‫بّلل‬ َٗ َٗ َ ‫ِ آ‬ٝ ْٗ ْ ً ً ‫ال‬ َ‫ض‬ ْ َ‫ش فَق‬ َّ ‫ض‬ ‫ذًا‬ٞ‫ع‬ ُ ‫س‬ ُٗ ْ َٞ‫اى‬ َ ‫و‬ َ ‫ذ‬ ِ َ‫ال ث‬ ِ ٟ‫ا‬ ِ ِ‫سي‬ َ ٔ َ ِ٘ ِ ‫خ‬ Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.[an-Nisâ‟/4:136]

Tilawah
Sebagian orang membaca al-Qur‟ân, tetapi dengan tergesa-gesa atau dengan cara yang cepat, seolah-olah sedang diburu musuh! Padahal Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kita agar membaca al-Qur‟ân dengan tartîl (perlahan-lahan). Allah Azza wa Jalla berfirman: ْ ‫و‬ ً ِ‫آُ رَشْ ر‬ ‫ال‬ٞ َ ْ‫اىقُش‬ َٗ َ ِ ِّ‫سر‬ Dan bacalah al-Qur`ân itu dengan perlahan-lahan. [al-Muzammil/73:4]

Demikian juga dianjurkan untuk membaca al-Qur‟ân dengan berjama‟ah, yaitu satu orang membaca sedangkan yang lain mendengarkan, sebagaimana kebiasaan Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam dan para Sahabatnya. Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: ْ ٌ َّ ‫بة‬ َّ ‫د‬ ُ‫نخ‬ ْ َّ‫حف‬ ْ َ ٞ‫ش‬ ْ َ‫ضى‬ ْ َٝ ِ‫هللا‬ ٍْ َ ِ‫َالَئ‬ َ ٗ َ َّ َّ‫ٌ إِال‬ ْ َ‫عي‬ ْ َ‫اسسَُُّ٘ٔ ث‬ َّ ‫ٌ اى‬ َ ‫ذ‬ َ َ‫َز‬ٝٗ َ ُ‫زي‬ ْ َ‫ع ق‬ َ ٗ َ ‫ذ‬ َ َ ‫مز‬ ََ ْ َُْٖٞ ِ ‫غ‬ ِ‫س‬ ِ ُ٘ ِ ُُ٘ٞ‫ِ ث‬ ِ ‫ْذ‬َٞ‫ ث‬ِٜ‫ً٘ ف‬ ُ ُٖ‫ز‬ ُ ُٖ‫ز‬ ُٖ َ ُ‫َخ‬ َ ُ‫َْخ‬ٞ‫ن‬ َ ِ‫هللا‬ َ ِٞ َ ‫اى‬ َ ْ‫ٌ اىشَّح‬ َ َ‫ٍب اجْ ز‬ َٗ َّ ٌ ْ‫ع‬ َٗ َْ َ‫ر‬ َْ َ‫م‬ ِ ِ ُٓ‫ذ‬ ُ ُ ٕ‫ش‬ َ َ ِٞ‫هللاُ ف‬ Tidaklah ada sekelompok orang yang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan belajar bersama di antara mereka, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya”. []

• HR. Muslim no: 2699; Abu Dâwud no: 3643; Tirmidzi no: 2646; Ibnu Mâjah no: 225; dan lainnya.

MEMPELAJARI DAN TADABBBUR (MEMPERHATIKAN)
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menurunkan al-Qur‟ân antara lain dengan hikmah agar manusia memperhatikan ayat-ayatnya, menyimpulkan ilmunya, dan merenungkan rahasianya. Allah Azza wa Jalla berfirman: ْ ُ٘‫ش أُٗى‬ َّ ‫ز‬ ْ َ‫مزَبة أ‬ َ َ‫َز‬ِٞ‫ٗى‬ َّ َِٞ‫سك ى‬ َّ ْ َ‫ض ْىَْبُٓ إِى‬ • ‫اْلَ ْىجَبة‬ َ ٞ َ‫م‬ َ ‫ٍجَب‬ ِ ِ‫َبر‬ٝ‫ذثَّشُٗا آ‬ ِ ُ ‫ل‬ َ ٔ Ini adalah sebuah kitab yang penuh dengan berkah, Kami turunkan kepadamu supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. [Shâd/38:29]

Syaikh As-Sa‟di rahimahullah berkata: “Ini menunjukkan bahwa seukuran fikiran dan akal seseorang, dia akan medapatkan pelajaran dan manfaat dengan kitab (al-Qur‟ân) ini”.[] Bahkan Allah Azza wa Jalla menantang orang-orang kafir untuk mencari-cari kesalahan al-Qur‟ân, jika mereka meragukan bahwa al-Qur‟ân datang dari sisi Allah Azza wa Jalla ! ْ ُُٗ َّ ‫ْش‬ ْ ٔ ْ‫ع‬ َ ِ‫اخز‬ َ َ‫أَف‬ ٍْ َ ‫الفًب‬ َ ٘ ُ‫ج‬ َ ‫ذ‬ ‫شًا‬ِٞ‫مث‬ َ ‫م‬ َ ْ‫اىقُش‬ َ ‫ذثَّش‬ َ َ‫َز‬ٝ ‫ال‬ ْ َ‫ٗى‬ َ ٘ ِ ِٞ‫ذٗا ف‬ ِْ ِ ِ ِ ُ‫ب‬ َ َ‫هللاِ ى‬ َ ۚ ُ‫آ‬ ِ ٞ‫غ‬ Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur`ân? kalau kiranya al-Qur`ân itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [an-Nisâ‟/4:82] Oleh karena itu, Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam memberitakan bahwa sebaik-baik orang dari umat ini adalah orang yang mempelajari al-Qur‟ân dan mengajarkannya. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits di bawah ini: ْ ٌ ْ‫ع‬ َّ َّٚ‫صي‬ َّ ٜ ُ‫ش‬ ْ‫ع‬ ٍْ ْ‫ع‬ ْ‫ع‬ ُ ِ َ ‫ه‬ ْ‫خ‬ ْ َ‫عي‬ َُٔ ُٞ َ ٗ َ ْ‫اىقُش‬ َ ُ‫هللا‬ َ ُْٔ َ ُ‫هللا‬ َ َ َ َ َ‫ِ ر‬ َ ‫ٌ قَب‬ َ ٗ َ ٜ َ ُ‫ب‬ ْ‫م‬ ِٞ ِ ‫س‬ ِّ ِ‫ِ اىَّْج‬ َ ُ‫آ‬ َ ٔ َ َّ‫عي‬ َ َّ‫عي‬ َ ٌ َ َّ‫سي‬ َ ‫ض‬ َ‫ث‬ Dari Utsman, Nabi bersabda: “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur‟ân dan mengajarkannya”.[]

ITTIBA’ (MENGIKUTI)
setiap orang sangat membutuhkan rahmat Allah Azza wa Jalla . Namun, apa sarana untuk meraih rahmat-Nya? Mengikuti al-Qur‟ân itulah cara mendapatkan rahmat Allah Azza wa Jalla , sebagaimana firman-Nya: ْ َ‫مزَبة أ‬ ُ َّ‫عي‬ َ َٕٗ َّ • ُ٘ َ َ َ ْ‫ٌ رُش‬ ْ‫ن‬ َ َ‫ٗارَّقُ٘ا ى‬ َ ‫ٍجَب‬ ِ ‫زا‬ ُ‫ح‬ ُ ُٓ‫ض ْىَْب‬ َ ُُٓ٘‫سك فَبرَّجِع‬ َ Dan al-Qur`ân itu adalah kitab yang Kami turunkan, yang diberkati, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. [al-An‟âm/6:155]

Sebaliknya, Allah Azza wa Jalla juga memberi ancaman berat bagi orang yang berpaling dari kitabNya: َ ‫ْ بَصِ ٌرا‬ َ‫و‬ َ ‫ح‬ َ ْ َ ٌِ‫مع‬ َ ‫ري‬ • ‫ل‬ ْ ‫ْ كنت‬ ‫قد‬ ‫مى‬ ْ ‫رب‬ ْ ‫مى‬ ْ ْ ‫و َنحشره‬ ‫شة‬ ‫ْ لَه‬ ‫فإِن‬ ‫ْ ذِك‬ ‫عن‬ َْ ‫ر‬ ‫من‬ ِ‫م‬ ِ ‫م ال‬ َ ‫قا‬ َ ْ َ ‫شر َتنًِ أَع‬ َ ‫م‬ َ ‫ل‬ َ ‫قا‬ َ ‫ة أَع‬ َ ‫ق ٌَا‬ َ ‫ضنكا‬ َ ْ َ ْ َ ‫ض‬ َ ‫ْ أَع‬ َ‫و‬ َ َ ِ‫ْ ل‬ َ ‫ْ ٌَو‬ ِ َ َ َ َ َ‫ع‬ َ‫ك‬ َ‫ك‬ َ‫ك‬ َ ‫وأ ب‬ َ ‫ةأ‬ َ‫و‬ َ‫و‬ َ ‫ك آ ٌَات َنا‬ َ ‫قى‬ ْ ‫شد‬ ْ ‫ذاب‬ ۖ‫ه‬ ْ ِْ ‫بآ ٌَا‬ ‫ْ ٌؤمِن‬ ‫ولَم‬ َْ ‫ر‬ ‫من‬ َْ ‫ذل‬ ‫سى‬ ْ َْ ‫ذل‬ ۖ ‫ها‬ َْ ‫ِك أ َتت‬ َْ ‫ذل‬ ِ ‫ِر‬ ِ ‫رب‬ َ ْ َ ‫ْ اْلخ‬ َ َ‫ول‬ َ ْ َ ‫ت‬ َ ‫ف‬ َ ‫ْ أس‬ َ ‫زي‬ َ ْ َ ‫م تن‬ َ ْ َ ‫ف َنسِ ٌ َت‬ َ ‫ِك ال ٌَو‬ ِ ْ ِ ‫ِك َنج‬ Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, namun kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayatayat rabbnya. Sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.[Thâha/20:124-127]

 BERHUKUM DENGAN AL-QUR’AN
Sesungguhnya kewajiban pemimpin umat adalah menghukumi rakyat dengan hukum Allah Azza wa Jalla , yaitu berdasarkan al-Qur‟ân dan Sunnah. Dan kewajiban rakyat adalah berhukum kepada hukum Allah Azza wa Jalla . Oleh karena itulah Allah Azza wa Jalla mencela dengan keras orangorang yang ingin berhakim kepada thâghût (hukum yang bertentangan dengan hukum Allah). Allah Azza wa Jalla berfirman: ْ َٝ ُ ْ ُ‫ٍب أ‬ ْ ُ‫َب أ‬ ْ َٝ ِٝ ُ ‫ اىطَّب‬َٚ‫َ٘ا إِى‬ ْ َ‫ٍشُٗا أ‬ ْ َ‫ٗق‬ ْ َ‫ُٗ أ‬ ٍْ َ ‫حب‬ ُ ٝ‫ُش‬ ُ ‫ض‬ ْ َ‫ِ ق‬ ْ َ‫ه إِى‬ • ٔ َ ‫ذ‬ َ ِ‫جي‬ َ ٞ َ َ َ ‫ز‬ َ َ‫َز‬ٝ ُ َ ‫ض‬ َ ‫ض‬ َ َ‫ٌ ر‬ ْ ََُّّٖ‫ُ٘ أ‬ ْ َ‫أَى‬ ِ ِ‫نفُشُٗا ث‬ ِ ُ‫ذ أ‬ ِ ٘‫غ‬ ِ ‫ه‬ ِ َّ‫ اى‬َٚ‫ش إِى‬ ُ‫م‬ ُ‫ع‬ َ ‫د‬ َ ‫ل‬ َٗ َ ِ‫ٍُْ٘ا ث‬ َ‫ٌآ‬ ِ ٝ‫ل‬ ِ ّ ِ ّ َّ ‫ذ اى‬ ً ‫ال‬ َ‫ض‬ ْ َ‫بُ أ‬ ُ َ‫ط‬ٞ ُ ٝ‫ُش‬ ْ‫ش‬ ‫ذًا‬ٞ‫ع‬ َ ٌ ْ َُّٖ‫ُضي‬ ِ َ‫ال ث‬ ِ ُٝ َ ِ ٝٗ Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thâghût, padahal mereka telah diperintah mengingkari thâghût itu, dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. [an-Nisâ‟/4:60]

 MEYAKINI AL-QUR’AN SEBAGAI SATU-SATUNYA PEDOMAN
Allah Azza wa Jalla yang menurunkan kitab al-Qur‟ân, memiliki sifat-sifat sempurna. Oleh karena itu, kitab suci-Nya juga sempurna, sehingga cukup di jadikan sebagai pedoman untuk meraih kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat. Demikian juga al-Qur‟ân cukup sebagai bukti kebenaran Nabi Muhammad n sebagai utusan Allah Azza wa Jalla kepada seluruh manusia dan jin. Allah Azza wa Jalla berfirman: ْ ‫ْل‬ ْ‫ر‬ ْ َٝ ٌ ْ ُٝ ‫بة‬ ْ َ‫ٌ أََّّب أ‬ َ ِٜ‫ُ ف‬ ْ ٝ ً٘ َّ ِ‫ٌ ۚ إ‬ َّ ْ َ ‫عي‬ • ُ٘ ْ َ‫ ىِق‬ٙ‫ش‬ َ ُ ٍْ َ ِ ‫رى‬ َ َٚ‫زي‬ َ َٞ‫عي‬ َ ‫ض ْىَْب‬ َ‫م‬ َ َ‫ل ى‬ ْٖ َ َ ‫نز‬ ْٖ ْ َ ‫ٗى‬ ِ ‫ُؤ‬ ِٗ ِ ‫اى‬ َ ً‫َخ‬ َ َ‫أ‬ ِٞ ِ ِ ‫نف‬ َ ْ‫شح‬ Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu al-kitab (al –Qur`ân) sedang ia (al-Qur'ân) dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (alQur`ân) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. [al„Ankabût/29: 51]

Akhlak Terhadap Ibu dan Bapak
Akhlak kepada orang tua didasarkan pada surat al-Isra ayat 23-24: Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan „ah‟ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah :‟Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Dari ayat di atas terlihat jelas bagaimana penting dan besarnya arti diri orang tua di sisi Allah SWT. Jika beribadah kepada Allah wajib maka berbakti kepada kedua orang tua juga wajib. Sebaliknya, kalau ingkar kepada-Nya adalah dosa besar, begitu pula durhaka kepada orang tua. Dan berbuat baik kepada orang tua bukan hanya semasa hidupnya akan tetapi sampai matipun anak tetap wajib berbakti kepada mereka.

Mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat lainnya. Merendahkan diri kepada keduanya diiringi perasaan kasih sayang. Berkomunikasi dengan orang tua dengan hikmat, mempergunakan kata-kata lemah
lembut. Berbuat baik kepada bapak-ibu dengan sebaik-baiknya, dengan mengikuti nasehat baiknya, tidak menyinggung perasaan dan menyakiti hatinya, membuat bapak-ibu ridha. Mendo’akan keselamatan dan keampunan bagi mereka kendatipun seorang atau kedua-duanya telah meninggal dunia.

Sekiranya suatu saat usia mereka sudah diambang senja, janganlah kita menghardik, mencaci, memukul, serta perbuatan-perbuatan keji lainnya, mengucapkan kata “ah” saja terlarang sebagaiman dalam ayat diatas apalagi perbuatan-perbuatan yang lebih daripada itu. Dan yang patut dilakukan adalah berbicara kepada mereka dengan lemah lembut, sikap rendah diri, suara tidak melebihi suara mereka, dan itu semua adalah ahlak utama seorang anak.

Akhlak Kepada Serumpun
Mengenal tetangga
Hadis Rasulullah saw. di atas yang menganalogikan hubungan tetangga dengan hubungan saudara patut kita renungkan bersama. Karena itu, sudah sepantasnya kita pun senantiasa bisa minimal mengenal tetangga dan bersilaturahim padanya. Himbauan untuk saling mengenal ini termaktub secara eksplisit dalam Al-Qur'an: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS alHujurat [49]:13)

 Berbuat Baik Kepada Tetangga
Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka janganlah menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya dia berkata benar atau diam saja." (H.R. al-Bukhari)

Sabda Rasulullah saw. di atas merupakan pelajaran berharga kepada kita semua. Salah satunya, perlakuan kita terhadap tetangga akan mendatangkan tindakan serupa dari pihak tetangga. Kalau kita memperlakukan tetangga dengan baik, maka mereka pun akan memperlakukan kita dengan baik, dan bahkan bisa lebih baik lagi. Nyaris tidak mungkin, bila kita menumpahkan kebaikan, namun mereka malah membalasnya dengan keburukan. Akan tetapi, jika kita memperlakukan mereka dengan buruk dan jahat, maka jangan harap mereka akan memperlakukan kita dengan baik. Artinya perbuatan kita kepada mereka akan terefleksi pada perbuatan mereka kepada kita. Apa yang kita tabur, maka itulah yang akan kita panen.

 Menjaga Hubungan Baik dengan Tetangga
Perilaku ini juga ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Apakah kamu mengetahui hak tetangga?Hak tetangga adalah jika dia meminta pertolongan kepadamu, maka kamu menolongnya.Jika dia ingin meminjam sesuatu darimu, maka engkau pun meminjaminya.Jika dia berhajat, kamu membantunya.Apabila dia sakit, kamu menjenguknya.Apabila dia mati, kamu mengiring jenazahnya. Jika dia mendapatkan karunia nikmat, kamu memberikan salam atau selamat kepadanya. Jika dia mendapat bencana, kamu hibur batinnya. Jangan engkau meninggikan rumahmu melebihi rumahnya, sehingga menghalanginya dari mendapatkan angin segar kecuali dengan izinnya. Dan jika kamu membeli buah-buahan, maka hadiahkanlah kepadanya.Dan kalau tidak bisa menghadiahkan, maka masukkan buah-buaban itu ke rumah dengan sembunyi-sembunyi.Dan janganlah anak-anakmu itu membawa keluar buah-buahan itu untuk memanaskan hati anak tetanggamu.Dan janganlah kamu menyakitinya dengan bau periukmu, kecuali memberikan barang sedikit kepadanya." (HR. al-Kharaiti)

Memberikan Rasa Aman dengan Tetangga
Hal ini juga ditandaskan oleh Rasulullah Saw.dalam sabdanya, "Demi Allah, tidak Islam seorang hamba sehingga selamat semua orang dan gangguan hati tangan dan lisannya. Dan tidak beriman seorang hamba sehingga aman tetangganya dari gangguannya".Sahabat bertanya, “Apakah gangguan-gangguan itu, wahai Rasulullah Saw?'Beliau bersabda, "Tipuan dan aniaya." (H.R. Abu al-Laits as-Samarkandi)

Bersabar Terhadap Perilaku Tetangga yang Kurang Baik
Dalam kehidupan bertetangga sepatutnya masing-masing tetangga bisa memosisikan dirinya secara tepat dan baik.Seorang tetangga mestinya bisa berlaku baik kepada tetangganya.Kebaikan dari seorang tetangga seharusnya dibalas dengan kebaikan pula. Air susu dibalas air susu. Begitu pula, jika tetangga berwatak tercela, mayoritas pembalasan dari tetangga pun juga tercela. Air tuba dibalas air tuba. Akan tetapi alangkah paling baik kalau kita sebagai seorang muslim bisa membalas air tuba dengan air susu.

Akhlak Terhadap Keluarga
Sering bersilaturahmi ke kerabat Mengetahui silsilah atau nasab keluarga Berbuat baik kepada kerabat Berlaku adil

Akhlak Kepada Diri Sendiri
Memelihara kesucian diri. Menutup aurat (bagian tubuh yang tidak boleh kelihatan, menurut hukum dan
akhlak Islam). Jujur dalam perkataan dan berbuat ikhlas serta rendah diri. Malu melakukan perbuatan jahat. Menjauhi dengki dan menjauhi dendam. Berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain. Menjauhi segala perkataan dan perbuatan sia-sia.

Akhlak Kepada Sesama Muslim dan Non Muslim
 Akhlak kepada sesame Muslim
Sebagai umat pengikut Rasullulah tentunya jejak langkah beliau merupakan guru besar umatIslam yang harus diketahui dan patut ditiru,karena kata rasululah yang di nukilkan dalamsebuah hadist yang artinya “sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Yang dimaksud akhlak yang mulia adalah akhlak yang terbentuk dari hati manusia yang mempunyai nilai ibadah setelah menerima rangsangan dari keadaan social. Karena kondisi realitas social yang membentuk hadirnya karakter seseorang untuk menggapai sebuah keadaan. Contohnya:ketika kita ingin di hargai oleh orang lain,maka kewajiban kita juga harus menghargai orang lain,menghormati orang yang lebih tua,menyayangi yang lebih muda,menyantuni yang fakir karena hal itu merupakan cirri-ciri akhlak yang baik dan terpuji. Contoh lain yang merupakan akhlak terpuji antar sesame muslim adalah menjaga lisan dalam perkataan agar tidak membuat orang lain disekitar kita tersinggung bahkan lebih menyakitkan lagi ketika kita berbicara hanya dengan melalui bisikan halus ditalinga teman dihadapan teman-teman yang lain, karena itu merupakan etika yang tidak sopan bahkan diharamkan dalam islam.

 Akhlak kepada Non Muslim
Akhlak antara sesama non muslim,inipun diajarkan dalam agama karena siapapun mereka,mereka adalah makhluk Tuhan yang punya prinsip hidup dengan nilai-nilai kemanusiaan. Namun sayangnya terkadang kita salah menafsirkan bahkan memvonis siapa serta keberadaan mereka ini adalah kesalahan yang harus dirubah mumpung ada waktu untukperubahan diri. Karena hal ini tidak terlepas dari etika social sebagai makhluk yang hidup social. Berbicara masalah keyakinan adalah persoalan nurani yang mempunyai asasi kemerdekaan yang tidak bias dicampur adukkan hak asasi kita dengan hak merdeka oranglain, apalagi masalah keyakinan yang terpenting adalah kita lebih jauh memaknai kehidupan social karena dalam kehidupan ada namanya etika social. Berbicara masalah etika social adalah tidak terlepas dari karakter kita dalam pergaulan hidup, berkarya hidup dan lain-lain. Contohnya bagaimana kita menghargai apa yang menjadi keyakinan mereka, ketikaupacara keagamaan sedang berlangsung ,mereka hidup dalam minoritas sekalipun.Memberi bantuan bila mereka terkena musibah atau lagi membutuhkan karena hal ini akhlak yang baik dalam kehidupan non muslim.

Akhlak Kepada Kawan/Teman
Mengasihi dan berbuat baik kepada teman Saling menasehati Membantu teman Kesetiakawanan Mendamaikan teman yang berselisih Toleransi kepada teman

Akhlak Kepada Makhluk Lain
Sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup. Menjaga dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, flora dan
fauna yang sengaja diciptakan Allah SWT. untuk kepentingan manusia dan makhluk lainnya.

Sayang pada sesama makhluk Senantiasa menggalakkan kerja bakti sebagai sarana perawatan alam

Akhlak Terhadap Hak Asasi
 Pertama, untuk menunjukkan terhadap pelaku yang mengadakan sesuatu yang
mengandung hikmah. Seperti adanya Allah disebut sebagai al – haqq karena Dia-lah yang mengadakan sesuatu yang mengandung hikmah dan nilai bagi kehidupan.  Kedua, kata al – haqq digunakan untuk menunjukkan kepada sesuatu yang diadakan yang mengandung hikmah.Misalnya Allah SWT. Menjadikan matahari dan bulan dengan al – haqq, yakni mengandung hikmah bagi kehidupan.  Ketiga, kata al – haqq digunakan untuk menunjukkan keyakinan ( I’ tiqad ) terhadap sesuatu yang cocok dengan jiwanya.Seperti keyakinan seseorang terhadap adanya kebangkitan di akhirat, pahala, siksaan, surga, dan neraka.  Keempat, kata al – haqq digunakan untuk menunjukkan terhadap perbuatan atau ucapan yang dilakukan

Akhlak Kepada Masyarakat
 Memuliakan tamu.  Menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan.  Saling menolong dalam melakukn kebajikan dan taqwa.  Menganjurkan anggota masyarakat termasuk diri sendiri berbuat baik dan mencegah diri sendiri
dan orang lain melakukan perbuatan jahat (mungkar).

 Memberi makan fakir miskin dan berusaha melapangkan hidup dan kehidupannya.
 Bermusyawarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama.  Mentaati putusan yang telah diambil.  Menunaikan amanah dengan jalan melaksanakan kepercayaan yang diberikan seseorang atau
masyarakat kepada kita.

 Menepati janji.

Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa salah satu komponen utama agama islam adalah Akhlak. Suatu perbuatan baru dapat disebut sebagai cerminan akhlak jika dilakukan berulang-ulang sehingga hampir menjadi suatu kebiasaan dan timbul dengan sendirinya tanpa pertimbangan yang lama dan dipikir-pikir terlebih dahulu. Secara garis besar akhlak dibagi menjadi dua Akhlak terhadap Allah dan Akhlak terhadap makhluk Allah. Akhlak kepada Allah dibagi lagi menjadi dua yaitu Akhlak baik dan buruk kepada Allah. Sedangkan Akhlak kepada Makhluk Allah yaitu Akhlak terhadap Rasulullah (Nabi Muhammad SAW.), akklak terhadap Kedua Orang Tua, Akhlak terhadap diri sendiri, Akhlak terhadap Keluarga, akhlak terhadap Tetangga, Akhlak terhadap sesame mukmin, Akhlak terhadap Makhluk lain, Akhlak terhadap hak asasi

Terima Kasih

Wassalamualaikum WR WB

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful