Makalah GERD

Definisi GERD Gastroesophageal reflux adalah fenomena biasa yang dapat timbul pada setiap orang sewaktuwaktu. Pada orang normal refluk ini terjadi pada posisi tegak sewaktu habis makan. Etiologi Meskipun telahdilakukan penelitian yang luas dan mendalam, etiologi GERD masih belum dipahami betul. Dikatakan etiologi GERD adalah multifaktoral atau dengan kata lain ada beberapa keadaan yang memudahkan terjadinya refluks patologis. Ada 4 faktor penting yang memegang peran penting untuk terjadinya GERD dan esofagitis refluks antara lain: 1. Rintangan Anti-refluks ( anti-refluks barrier ) Kontraksi tonik otot sfingter esofagus bawah ( SEB ) memegang peran penting untuk mencegah terjadinya GERD 2. Mekanisme pembersihan esofagus Pada keadaan normal proses bersih dari esofagus terdiri dari 4 macam mekanisme yaitu gaya gravitasi, peristaltik, salivasi dan pembentukan bikarbonat intrinsik oleh esofagus. 3. Daya perusak bahan refluks Asam pepsin dan mungkin juga asam empedu/lisoksitin yang ada dalam bahan refluks mempunyai daya perusak terhadap mukosa esofagus. 4. Isi lambung dan pengosongannya Lebih banyak isi lambung lebih sering terjadi refluks, selanjutnya pengosongan lambung yang lamban akan menambah kemungkinan refluks tadi. Manifestasi Klinis Gejala yang timbul kadang-kadang sukar dibedakan dengan kelainan fungsional lain dari traktus gastrointestinal, antara lain: a. Heartburn Heartburn kadang-kadang dapat dijumpai pada orang sehat, namun bila terjadi setiap hari dan berulang-ulang, hal ini mempunyai nilai ramal diagnostik 60%. Yang dimaksud dengan heartburn adalah rasa panas atau membakar yang dirasakan didaerah epigastrium dan bergerak naik ke daerah retrostrernal sampai ke tenggorok. Keluhan ini terutama timbul pada malam hari

pada waktu berbaring atau setelah makan. Keluhan bertambah pada waktu membungkuk atau setelah minum minuman beralkohol, sari buah, kopi, minuman panas atau dingin. Sebaliknya antasida dapat mengurangi rasa sakit tadi. b. Regurgitasi asam c. Bersendawa d. Cepat kenyang e. Nyeri retrosternal serupa angina f. Nausea g. Disfagia h. Dapat pula timbul keluhan saluran nafas seperti serangan sesak tengah malam (noctural choking), bronkitis, pneumonia berulang-ulang, fibrosis paru atau asma. Patofisiologi 4 faktor penting yang memegang peran penting untuk terjadinya GERD dan esofagitis refluks antara lain: 1. Rintangan Anti-refluks (anti-reflux Barrier) Kontraksi tonik sfingter esofagus bawah (SEB) memegang peran penting untuk mencegah GERD. Tekanan SEB yang lebih kecil dari 6 mmHg (hipotonik) hampir selalu disertai GERD yang cukup berarti. Namun refluks bisa saja terjadi pada tekanan SEB yang normal. Ini dinamakan inappropriate atau transient sphincter relaxation, yaitu pengendoran sfingter yang terjadi diluar proses menelan. Hubungan antara hernia hiatal (HH) dan GERD masih kontroversial. Berbeda dengan anggapan dulu, GERD dapat terjadi tanpa adanya sliding hiatal hernia. Perlu diketahui bahwa meskipun hanya 50-60% pasien dengan HH menunjukkan tanda esofagitis secara endoskopik, sekitar 90% pasien esofagitis disertai HH. Ini menunjukkan bahwa HH merupakan faktor penunjang untuk terjadinya HH merupakan faktor penunjang untuk terjadinya GERD karena kantong hernia mengganggu fungsi SEB, terutama pada waktu mengejan. Akhir-akhir ini dikemukakan bahwa proses radang kardia oleh karena infeksi kuman Helicobacter pylori mempengaruhi faal SEB dengan akibat memperberat keadaan esofagitis. Faktor hormonal (kolesistokinin, sekretin) dapat menurunkan tekanan SEB seperti yang terjadi setelah makan hidangan yang berlemak. Pada kehamilan dan pada pasien yang menggunakan pil KB yang mengandung progerteron/estrogen, tekanan SEB juga menurun. Begitu pula coklat dan beberapa jenis obat mempengaruhi tekanan SEB dan secara tidak langsung mempermudah terjadinya GERD. 2. Mekanisme pembersihan esofagus Pada keadaan normal proses bersih diri esofagus terdiri dari 4 macam mekanisme, yaitu gaya gravitasi, peristaltik, salivasi dan pembentukan bikarbonat intrinsik oleh esofagus. Proses membersihkan esofagus dari asam (esophageal acid clearance) ini sesungguhnya berlangsung dalam 2 tahap. Mula-mula peristaltikesofagus primer yang timbul pada waktu menelan dengan cepat mengosongkan isi esofagus, kemudian air liur yang alkalis dan dibentuk sebanyak 0,5 mL/menit serta bikarbonat yang dibentuk oleh mukosa esofagus sendiri, menetralisasi asam yang masih tersisa. Sebagian besar asam yang masuk esofagus akan turun kembali ke lambung oleh gaya gravitasi dan peristaltik. Refluks yang terjadi pada malam hari waktu tidur paling merugikan oleh karena dalam posisi tidur gaya gravitasi tidak membantu, salivasi dan proses

menelan bisa dikata terhenti dan oleh karena itu peristaltik primer dan saliva tidak berfungsi untuk proses pembersihan asam di esofagus. Selanjutnya kehadiran hernia hiatal juga mengganggu proses pembersihan tersebut. 3. Daya perusak bahan refluks Asam pepsin dan mungkin juga asam empedu/lisoksitin yang ada dalam bahan refluks mempunyai daya perusak terhadap mukosa esofagus. Beberapa jenis makanan tertentu seperti air jeruk nipis, tomat dan kopi menambah keluhan pada pasien dengan GERD. 4. Isi lambung dan pengosongannya Refluks gastoesofageal lebih sering terjadi pada waktu sehabis makan dari pada keadaan puasa, oleh karena isi lambung merupakan faktor penentu terjadinya refluks. Lebih banyak isi lambung lebih sering terjadi refluks. Selanjutnya pengosongan lambung yang lamban akan menambah kemungkinan refluks tadi. Terimakasih kepada saudara 1. Fariz 2. risty 3. titik Yang sudah share infonya....

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful