Memaknai Garis Kemiskinan Oleh: Indra Maipita (dosen FE Unimed) Pendahuluan Kemiskinan timbul akibat perbedaan kemampuan, perbedaan

kesempatan, dan perbedaan sumberdaya. Kemiskinan har us diperangi, bukan hanya oleh m ereka yang mengalaminya, tetapi juga oleh orang yang berada di luar kemiskinan itu. Mengapa demikian? Karena memerangi kemiskinan adalah tanggungjawab semua orang, sebagai umat beragama, sebagai anggota masyarakat sosial, sebagai pemimpin, birokrat, ilmuwan, akademisi, dan sebagai makhluk hidup (Maipita, 2013). Penetapan jumlah masyarakat miskin, telah menjadi polemik yang berkepanjangan terutama di Indonesia. Ada yang berpendapat garis kemiskinan kita terlalu rendah, pendekatannya tidak cocok, kurang manusiawi dan lainnya. Apa sesungguhnya garis kemiskinan itu dan bagamana ia menentukan besar-kecilnya angka kemiskinan? Agar lebih mudah menentukan apakah seseorang tergolong miskin atau tidak, diperlukan suatu patokan yang disepakati atau ditetapkan. Berdasarkan patokan inilah dipetakan posisi setiap individu atau rumahtangga, apakah berada di atas, di bawah, serta seberapa jauh posisinya di atas atau di bawah patokan. Patokan inilah yang disebut dengan garis kemiskinan (GK). Garis kemiskinan dapat juga diartikan sebagai tingkat pendapatan atau pengeluaran yang ditetapkan, dimana bila pendapatan seseorang berada di bawah tingkatan tersebut, maka ia dikatakan miskin (Melbourne Institute, 2012). Oleh karena itu, garis kemiskinan sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya angka kemiskinan. Semakin tinggi garis kemiskinan, akan semakin banyak masyarakt yang tergolong miskin. Berbagai hal akan mempengaruhi garis kemiskinan seperti, konsep kebutuhan dasar, konsep kesejahteraan, lokasi, dan tingkat harga. Akibat berbagai faktor, misalnya biaya transportasi dan ketersediaan barang, maka har ga barang dan jasa di suatu daerah dapat berbeda dengan daerah lain. Demikian juga dengan jenis barang dan jasa yang dikonsumsi. Komsumsi orang Amerika dan Eropa akan berbeda dengan konsumsi orang Indonesia pada umumnya, bahkan preferensi masyarakat Aceh tentang makanan akan berbeda dengan preferensi masyarakat Papua. Karena perbedaan preferensi dan tingkat harga tersebut (juga berbagai alasan lainnya, seperti konsep kebutuhan yang memasukkan pendidikan, harapan hidup, akses informasi, dan lainnya), maka besarnya garis kemiskinan antar negara, antar daerah dan antar waktu juga dapat berbeda. Garis kemiskinan di Indonesia hampir tidak pernah berubah sejak puluhan tahun yang lalu (sesuai konsep BPS ). Karena konsep dan defenisi miskin di Indonesia tidak pernah berganti, yaitu pemenuhan kebutuhan dasar makanan dan nonmakanan yang ukurannya selalu tetap. Yang membuat nominal garis keiskinan itu berubah hanyalah penyesuaian harga akibat adanya inflasi. Konsep sperti ini dinamakan dengan gar is kemiskinan basolut. Berbeda dengan beberapa negar a yang tidak menganut basic needs approachs seperti Uni Eropa, biasanya mendefenisikan masyarakat miskin sebagai masyarakat yang memiliki pendapatan per kapita di bawah 50 persen dari angka rata-rata (Haughton & Shahidur, 2010). Saat negara atau masyarakat semakin kaya,

maka garis kemsikinan juga akan cenderung meningkat, atau apabila pendapatan rata-rata masyar akat naik, maka garis kemiskinan juga akan turut naik. Konsep seperti ini dinamakan garis kemiskinan relatif. Kita tidak dapat membandingkan tingkat kemiskinan dari dua daerah atau negar a yang menggunakan garis kemiskinan berbeda. Oleh karena itu, untuk keperluan perbandingan dan sebagai dasar kebijakan, Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan yang sama yaitu $1,25 per hari per kapita dengan melakukan penyesuaian terhadap daya beli (purchashing power parity-PPP) di masing-masing negar a. Dengan besaran tersebut, maka angka kemiskinan di indonesia menjadi 18,1 persen untuk tahun 2010, India mencapai 32,7 persen, Kamboja 18,6 persen (2009), Yordania 0,1 persen, Turki 1,3 persen, Thailand 0,4 persen, Bangladesh 43,3 persen, Zambia 74,5 persen, Malaysia 0,0 persen (tidak ada masyarakatnya dengan pengeluaran rata-rata $1,25 per kapita per hari). Untuk negara Senegal, Philipina, Srilanka, Thailand dan Malaysia. Hasil perhitungan Bank Dunia justeru lebih rendah dibanding dengan hasil perhitungan negar a itu sendiri. Misalnya Malaysia, dengan garis kemiskinan sebesar $1,25 per kapita per hari, tidak ada masyarakatnya yang tergolong miskin. Namun dengan standar Malaysia sendiri, terdapat sebanyak 1,1 juta jiwa yang miskin (data tahun 2009). Hal ini mengindikasikan bahwa garis kemiskinan yang diterapkan oleh masing-masing negar a tersebut lebih tinggi dari standar Bank Dunia. UNDP, dalam Human Depelopment Report 2013 mengukur rata-rata tingkat kemiskinan di berbagai negara dalam kurun waktu 2002 hingga 2012. Mereka membandingkan persentase penduduk miskin dalam rentang waktu tersebut menggunakan garis kemiskinan sebesar PPP $1,25 per hari dengan garis kemiskinan yang diterapkan oleh masing-masing negar a. Hasilnya ditemukan bahwa dengan garis kemiskinan PPP $1,25 per hari, tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai 22,8 persen, sedangkan bila menggunakan garis kemiskinan yang diterapkan oleh Indon esia, tingkat kemiskinan hanya 12,5%. Bandingkan dengan Kamboja, dengan garis kemiskinan PPP $1,25 per hari, tingkat kemiskinannya mencapai 22,8 persen, sedangkan dengan garis kemiskinan negaranya tingkat kemiskinan mencapai 30,1 persen. Garis kemiskinan relatif didefenisikan dalam kaitannya dengan distribusi pendapatan atau konsumsi dalam suatu wilayah atau negara secara keseluruhan. Misalnya garis kemiskinan dapat ditetapkan pada 30 persen dari rata-rata pendapatan atu tingkat konsumsi suatu negara. Katakan rata-rata pendapatan perkapita suatu negara adalah Rp 30 juta per tahun, maka semua penduduk yang pendapatannya kurang dari 30 persen dari Rp 30 juta termasuk dalam kategori miskin. Garis kemiskinan seperti ini akan bergeser seiring dengan berubahnya rata-rata tingkat pendapatan masyarakatnya. Garis kemiskinan absolut didefenisikan dalam kaitannnya dengan kebutuhan dasar hidup, baik makanan maupun nonmakanan. Garis kemiskinan makanan merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori per kapita per hari. Paket komoditi ini diwakili oleh 52 jenis komoditi. Gar is kemiskinan nonmakanan merupakan nilai kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Hal ini diw akili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan. Dengan demikian, garis kemiskinan merupakan penjumlahan dari garis kemiskinan makanan dengan gar is kemiskinan nonmakanan. Interpretasi Garis Kemiskinan Garis kemiskinan merupakan nilai batas yang membedakan antara miskin dengan tidak miskin. Semua penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan digolongkan ke dalam penduduk miskin. Lalu

pertanyaannya adalah apakah semua penduduk yang berada di atas garis kemiskinan digolongkan sebagai penduduk tidak miskin? Bagaimana dengan penduduk yang tepat berada pada garis kemiskinan? Ba gaimana pula dengan pendu duk yang sedikit berada di atas atau di bawah garis kemiskinan? BPS mengklasifikasikan empat kelompok masyarakat berdasarkan garis kemiskinan, yaitu kelompok masyarakat miskin, hampir miskin, hampir tidak miskin, dan tidak miskin. Pengelompokan ini didasarkan pada besarnya pengeluaran per kapita perbulan. Bila pengeluaran per kapita per bulan dari seorang individu berada di bawah gar is kemiskinan, maka ia dikatakan miskin. Bila berada pada kisaran 1 hingga 1,2 kali garis kemiskinan, ia dikatakan hampir miskin. Bila antara 1,2 hingga 1,5 garis kemiskinan dikelompokkan pada kategori hampir tidak miskin, sedangkan bila di atas 1,5 kali garis kemiskinan dianggap sebagai penduduk tidak miskin. Sebagai contoh, garis kemiskinan Indonesia pada September 2012 sebesar Rp 277.382 di perkotaan; Rp240.441 di pedesaan dan secara total (perkotaan dan pedesaan) Rp259.520. Andaikan suatu keluarga yang terdiri dari sepasang suami sitri dan satu orang anak berdomisili di pedesaan. Termasuk pada golongan manakah keluarga tersebut sangat bergantung pada tingkat pengeluarannya. Bila pengeluaran perbulan keluarga tersebut sebesar Rp700.000, berarti pengeluaran perkapitanya sebesar Rp233.333 sebulan. Besaran ini berada di bawah garis kemiskinan pedesaan (sebesar Rp240.441), sehingga keluarga ini digolongkan ke dalam keluarga “miskin”. Bila pengeluaran keluarga ini sebesar Rp725.000 atau rata-rata sebesar Rp241.667 per bulan, maka ia digolongkan ke dalam kelompok “hampir miskin” (pengeluarannya berkisar 1 hingga 1,2GK, atau Rp240.441 hingga Rp288.529). Bila pengeluarannya per bulan Rp1.000.000 atau setara dengan Rp333.333 per kapita per bulan, maka keluarga tersebut digolongkan pada kelompok “hampir tidak miskin” (kar ena pengeluarannya berkisar antara 1.2 hingga 1,5GK, atau berkisar antara Rp288.529 hingga Rp360.662). selanjutnya bila pengelurannya sebesar Rp 1.500.000, atau rata-rata sebesar Rp500.000 per kapita per bula, maka keluar ga itu termasuk pada kelompok “tidak miskin” (sebab pengeluaran per kapita per bulannya lebih besar dari 1,5GK atau lebih besar dari Rp360.662. Pengelompokan seperti ini akan lebih bermakna daripada hanya pengelompokan secara dikotomi yaitu, miskin-tidak miskin. Seperti contoh di atas, ketika tingkat pengeluaran keluarga tersebut sebesar Rp720.000 per bulan, maka pengeluaran per kapitanya sebesar Rp241.667, angka ini hanya berada sedikit di atas garis kemiskinan, yaitu Rp240.441. Bila pengelompokan dilakukan secara dikotomi (miskin-tidak miskin) berdasarkan garis kemiskinan, maka keluarga tersebut akan berada pada kelompok yang “tidak miskin”, meskipun sesungguhnya sangat rentan jatuh menjadi kelompok “miskin”. Dengan pengelompokan yang bukan dikotomi, kebijakan pengentasan kemiskinan tidak hanya tertuju pada kelompok yang benar-benar miskin atau berada di bawah garis kemiskinan, tetapi juga pada kelompok yang rentan terhadap kemiskinan. Sejarah membuktikan bahwa pada tahun 2004, walaupun hasil survey menunjukkan hanya 16,7 persen penduduk Indonesia yang tergolong miskin, namun lebih dari 59 persen dari mereka pernah jatuh miskin dalam periode setahun sebelum dilakukan survey. Data juga menunjukkan bahwa lebih dari 38 persen rumahtangga miskin pada tahun 2004 tidak miskin pada tahun 2003 (Bank Dunia, 2006). Selain itu, sekitar 21,52 persen penduduk hampir miskin, 11,5 persen penduduk hampir tidak miskin, serta 2,94 persen penduduk tidak miskin di tahun 2009, telah jatuh menjadi miskin pada tahun 2010.

Sering kali berbagai gejolak ekonomi dan kebijakan kontraktif seperti, pengurangan subsidi bahan pokok, kenaikan harga BBM dan energi, krisis ekonomi, pemutusan hubungan kerja dan lainnya berdampak pada pengurangan daya beli masyarakat yang akhirnya menambah angka kemiskinan. Masyarakat sebelumnya berada di atas garis kemiskinan akhirnya jatuh ke bawah gar is kemiskinan. Sejarah menunjukkan bahwa melonjaknya harga beras sekitar 33 persen pada tahun 2005 dan 2006 telah menambah jumlah orang miskin dari 16 persen tahun 2005 menjadi 17,8 persen pada tahun 2006. Demikian juga dengan pen gurangan subsidi BBM tahun 2005. Krisis ekonomi pada tahun 1998 telah melambungkan jumlah penduduk miskin dari 17,6 persen menjadi 23,4 persen. Dengan mengatahui kelompok masyarakat yang rentan terhadap suatu perubahan ekonomi atau suatu kebijakan, maka pemerintah dapat menyusun perencanaan dalam rangka mengambil tindakan mengatasinya. Penutup Garis kemiskinan merupakan cut-of point yang memisahkan antar a golongan miskin dengan tidak miskin. Terdiri dari unsur moneter seperti tingkat konsumsi tertentu dan nonomoneter seperti tingkat melek huruf. Secara umum ada dua jenis garis kemiskinan, yaitu garis kemiskinan relatif dan gar is kemiskinan ab solut. Permasalahan Indonesia bahwa garis kemiskinannya yang relatif rendah, budaya yang sagat heterogen, serta distribusi penduduk dan pembangunan yang tidak merata turut mewarnai garis dan tingkat kemiskinan di Indonesia. (Penulis adalah dosen FE Unimed). Telah dimuat di Opini Waspada Onlin, Jumat, 18 Oktober 2013; (http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&v iew=article&id=303913:memak nai-gariskemiskinan&catid=25:artikel&Itemid=44)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful