You are on page 1of 10

KARYA TULIS ILMIAH PEMBUATAN FEEDER (TEMPAT PAKAN BURUNG BUATAN) SEBAGAI UPAYA KONSERVASI BURUNG DI LINGKUNGAN KAMPUS

FMIPA UNESA

Kelompok Penulis : 1. Bachtiar Adi Saputra (103204077)

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 2013

Pemanfaatan sumber daya hayati yang mengancam populasi burung adalah baik secara langsung dengan mengeksploitasi populasi burung di alam maupun secara tidak langsung karena dampak penebangan hutan (IUCN. Hampir setiap bentuk kehidupan terkait erat dengan burung sehingga burung mudah dijumpai di berbagai tempat (Peterson. Kehadiran burung pada habitat tertentu bukan tanpa makna. Menurut IUCN. 1989). Latar Belakang Masalah Burung merupakan komponen ekosistem alam atau satwa yang mempunyai arti penting bagi suatu ekosistem maupun bagi kepentingan hidup manusia.598 spesies yang tercakup dalam 514 marga. Kehadiran suatu jenis burung tertentu. Namun sangat disayangkan Indonesia memiliki jumlah jenis burung yang terancam punah cukup banyak. Lingkungan kampus merupakan salah satu tempat yang potensial yang dapat digunakan sebagai wahana konservasi karena di samping mempunyai keterkaitan erat dengan dunia pendidikan. membantu penyerbukan bunga. dkk.BAB I PENDAHULUAN A. 2012). 2007). Peranan burung yang cukup penting adalah membantu mengontrol populasi serangga. Hal tersebut ditunjukkan dengan jumlah burung yang tercatat di indonesia mencapai 1. perlu adanya suatu kegiatan yang bisa dijadikan wahana untuk konservasi burung yang mampu melestarikan burung sesuai habitat asli. pencemaran lingkungan serta pertanian secara besar-besaran adalah pemanfaatan sumber daya hayati. pada umumnya lingkungan kampus merupakan ruang terbuka hijau yang ditumbuhi oleh berbagai jenis tumbuhan yang dapat mengundang burung dan digunakan sebagai habitat yang mendukung serta aman dari gangguan. pada umumnya disesuaikan dengan kesukaannya terhadap habitat tertentu (Swastikaningrum. ancaman besar terhadap populasi burung di alam selain degradasi dan konversi lahan. 2008). Keterancaman tersebut disebabkan karena menurunnya kualitas lingkungan dan hilangnya habitat. Hal demikian dapat dikaji melalui jaringan makanan (food web) yang dilalui dalam ekosistem alam yang membentuk kehidupannya. dan pemencaran biji (Hernowo dan Prasetyo. 90 suku.. Oleh karena itu. yaitu 115 jenis. dan 20 ordo (Sukmantoro. Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai keanekaragaman burung yang tinggi. 1980). Akademisi beberapa kampus telah meneliti keanekaragaman burung di lingkungan kampus masing- . 2008). nomor dua terbanyak di dunia. setelah Brazil yang memiliki 121 jenis burung terancam punah (IUCN.

dan Kampus Universitas Diponegoro (Kutilang Indonesia. 2011). Ambarwati (2011) menyatakan bahwa suatu tempat berpotensi sebagai lokasi “birdwatching” bagi pemula apabila memiliki keanekaragaman burung yang cukup banyak. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut. Untuk meneliti vegetasi yang dapat mengundang burung dan dimanfaatkan oleh burung di lingkungan kampus FMIPA Unesa. 2007). Pemanfaatan vegetasi di lingkungan kampus FMIPA Unesa untuk konservasi burung. Kampus ITS (Satriyono. B. Lingkungan kampus FMIPA Universitas Negeri Surabaya (Unesa) merupakan salah satu wilayah di kampus Unesa ketintang yang memiliki lahan potensial untuk menjadi tempat singgah burung-burung endemik atau langka karena ditumbuhi banyak pepohonan yang rimbun dan tinggi yang merupakan habitat darat bagi burung serta adanya danau unesa (bosem) sebagai habitat air tawar yang potensial disinggahi atau dimanfaatkan oleh burung-burung. 2. 2. Bagaimana upaya pembuatan feeder (pakan burung buatan) sebagai upaya konservasi burung di lingkungan FMIPA? C. Vegetasi apa yang dapat mengundang burung dan dimanfaatkan oleh burung di lingkungan kampus FMIPA Unesa? 2. Kampus Universitas Brawijaya (Setyaji. Manfaat Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. di antaranya Kampus Darmaga IPB (Mulyani 2001). D. 2012). Tujuan Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. Untuk meneliti upaya pembuatan feeder (pakan burung buatan) sebagai upaya konservasi burung di lingkungan FMIPA. 1. dan memiliki rimbunan pohon yang sedang. 1.masing. Kampus Universitas Negeri Yogyakarta (Wibowo. 2004). . Mengundang burung untuk memiliki habitat di Lingkungan kampus FMIPA Unesa sebagai upaya mendukung konservasi burung. jumlahnya cukup melimpah.

serta ciri-ciri lain yang dianggap mencolok dan aneh.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 6 warna bulu. Tingkat pengenalan burung di lapangan dapat dikelompokkan sebagai berikut (MacKinnon. perilaku dan tempat hidup (habitat). Sketsa harus menunjukkan wujud umum. Jenis tersebut kehadirannya bisa diterima pada waktu dan tempat tersebut. cara terbang. jambul. 2003). 1995): a. Banyak yang berpenampilan indah dan semuanya adalah makhluk yang mengagumkan. sehingga hasil pengamatan merupakan informasi baru. Selain itu catatan sangat penting sebagai sarana identifikasi terhadap burung-burung yang belum dikenali untuk dicocokkan dengan buku panduan (JICA. c. seorang pengamat akan segera lupa burung apa yang telah diamati dan dilihat. 1992). warna mata. tetapi karena tidak didukung bukti yang kuat. Burung memiliki pertukaran zat yang cepat karena kegiatan terbangnya memerlukan banyak energi. Bila menjumpai burung yang belum dikenal sebaiknya dibuat sketsanya yang lengkap. Tanpa catatan. Keterangan lain yang perlu ditambahkan adalah nama umum/daerah . bentuk paruh. Belum bisa dipastikan: jenis tersebut memang tidak duharapkan keberadaannya pada waktu dan tempat tersebut. bentuk sayap. Sketsa tidak perlu rumut dan bernilai artistik tetapi cukup sederhana dan terperinci (Moss and Tipling. 2006). menjadi kurang meyakinkan. Burung Burung merupakan salah satu hewan tetrapoda yang paling dikenal yang dalam bahasa latin disebut aves. sedang Ornis dari bahasa Yunani dipakai dalam “Ornithology” berarti ilmu yan g mempelajari burung-burung (Yasin. Burung itu sendiri merupakan subjek yang mengesankan. Mungkin atau hampir pasti: ciri-ciri yang terlihat khas untuk jenis tertentu walaupun tidak selalu pasti. mereka menempati hampir seluruh habitat alam yang ada. Hal yang terpenting dalam pengamatan adalah mencatat dengan rinci dan membuat gamber sketsa semua burung yang dilihat. Dikenal pasti dan tepat: ciri-ciri khas atau kombinasinya dapat dikenali secara menyeluruh. Posisi tubuhnya efisien pada waktu terbang sehingga dapat bergerak tanpa halangan sewaktu melawan arus angin. di mana tanggal pengamatan. suara. b. Kata aves berasal dari bahasa Latin dipakai sebagai nama Klas. Pengenalan burung di lapangan pada dasarnya merupakan perhatian terhadap beberapa kombinasi sifat burung termasuk penampilan tubuh. bentuk ekor.

2010). Lomba burung berkicau diikuti oleh masyarakat luar pecinta burung. menambahkan bahwa kawasan lingkungan FMIPA dan danau unesa dijadikan agenda lomba burung berkicau tahunan Rektor Unesa Cup yang sudah digelar sejak tahun 2005 hingga sekarang. 2006). Konservasi yang dilakukan secara insitu dilakukan di dalam ekosistem dan habitat alami. dengan tekanan udara rata-rata antara 1005. misalnya di taman nasional. 2002). yaitu rata-rata mencapai 22. . tanggal pengamatan. Pelestarian secara exsitu adalah konservasi yang dilakukan di luar habitat aslinya. Lingkungan kampus FMIPA Unesa yang terletak di kampus ketintang Unesa terdapat di Kecamatan Wonokromo yang memiliki kepadatan penduduk 175. Pelestarian ini merupakan konservasi genetika keanekaragaman hayati yang berlaku sebagai cadangan bagi jenisjenis yang telah dilindungi secara in-situ. daerah sekitar FMIPA dapat dimanfaatkan sebagai tempat singgah area mencari makan. cagar alam. Dengan vegetasi yang tinggi tersebut. in-situ dan ex-situ. C. B.202 jiwa (Badan Pusat Statistik Kota Surabaya. Lingkungan kampus FMIPA Unesa Lingkungan kampus FMIPA Unesa terletak di kampus ketintang Universitas Negeri Surabaya yang merupakan daerah Surabaya Selatan dengan ketinggian 20-30 m di atas permukaan laut (Badan Pertanahan Nasional Kota Surabaya. dan menetap burung-burung. hutan lindung dan suaka marga satwa (Mangunjaya. curah hujan rata-rata antara 120-190 mm. ini sangat potensial dijadikan inspirasi dan motivasi untuk membangun kampus yang peduli lingkungan hidup.9 milibar dengan kelembapan antara 42-97%. Muchlas Samani. Prof. dan ukuran tubuh (McCartney.2-1013. Konservasi Upaya konservasi Biodiversitas telah lama dilakukan demi terwujudnya tujuan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.10C.60-34. Kecepatan angin rata-rata mencapai 12-23 km/jam. Lingkungan FMIPA memiliki lahan terbuka dan kebun yang ditumbuhi banyak pepohonan yang rimbun dan tinggi. Contoh pelestarian ex-situ adalah kebun raya.burung (apabila sudah dikenali jenisnya). 2001). Temperatur Kota Surabaya cukup panas. semak. Rektor Universitas Negeri Surabaya. khususnya di bidang konservasi burung ungkap Pembantu Rektor IV Unesa. lokasi atau daerah penemuan. Dalam praktik konservasi dilakukan dengan dua cara yaitu. tumbuhan perdu. dan tumbuhan berbunga merupakan habitat darat burung serta adanya danau unesa (bozem) sebagai habitat perairan air tawar.

beringin. di hutan hingga di tengah kota sekalipun. 2012). yakni kawasan mangrove Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) dikenal sebagai lahan yang cocok untuk berkembang biak aneka fauna. Ambarwati (2011) menyatakan bahwa kegiatan birdwacthing bisa dilakukan di mana pun.2012).kebun binatang dan segala bentuk pelestarian yang berada di luar habitat aslinya (Mangunjaya. merupakan tempat yang ideal bagi masyarakat mengenal burung secara lebih dekat. pada umumnya lingkungan kampus merupakan ruang terbuka hijau yang ditumbuhi oleh berbagai jenis tumbuhan yang dapat mengundang burung dan digunakan sebagai habitat. salah satunya burung (Agtadwimawanti. trembesi (Satriyono. Populasi ex-situ dapat berperan untuk memberikan informasi kepada masyarakat umum akan pentingnya upaya konservasi. kersen. Beberapa pohon yang dapat mengundang burung dan juga dimanfaatkan sebagi tempat bersarang dan mencari pakan oleh burung antara lain adalah cempaka. D. sebagai satu-satunya lembaga konservasi ex-situ terbesar di Kota Surabaya. Selain itu. Kawasan untuk konservasi di wilayah Surabaya. Indrawan (2007) menyatakan bahwa pelestarian in-situ dan ex-situ adalah strategi yang saling berhubungan dan saling melengkapi. angsana. 2007). Sehingga Wilayah kampus FMIPA dapat diupayakan menjadi tempat konservasi in-situ dengan vegetasi-vegetasi yang ada dengan menginventarisasi keanekaragaman jenis burung dan kemelimpahannya selanjutnya bekerja sama dengan beberapa komunitas burung di sutabaya untuk menganalisis keadaan dan bisa memberikan rekomendasi perbaikan vegetasi yang baik untuk burung-burung yang ada. Kebun Binatang Surabaya. 2006). kayu putih (Kutilang Indonesia. . Kampus FMIPA Unesa memiliki potensi untuk mendukung konservasi burung dengan ditemukannya beberapa burung endemik langka. jambu air. Peran Feeder dalam Upaya Pelestarian Burung Lingkungan kampus merupakan salah satu tempat yang potensial yang dapat digunakan sebagai wahana konservasi karena di samping mempunyai keterkaitan erat dengan dunia pendidikan. jeruk. sirsak. mangga.

Pengamatan dilakukan pada pagi hari. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan dengan metode observasi. pukul 07. 2. Saat observasi. yang terdiri atas observasi pendahuluan.00–09. Prosedur Penelitian 1. dan inventarisasi burung (Gambar 3. Titik sampling diambil dari lokasi vegetasi tempat burung terkonsentrasi. Observasi Lapangan Sebelum dilakukan pengamatan pada lokasi penelitian. Inventarisasi Vegetasi Inventarisasi vegetasi dilakukan dengan mencatat semua jenis vegetasi yang menjadi habitat atau dimanfaatkan oleh burung yang diamati. B. 3. Musim penghujan pada bulan April-Mei dan musim kemarau antara bulan Juni-Juli. Metode yang digunakan untuk inventarisasi burung di Lingkungan kampus FMIPA Universitas Negeri Surabaya adalah metode Point Count.00 dan sore hari 15. Hal ini dilakukan dengan melihat lokasi pengamatan secara langsung. Inventarisasi Burung Setiap pengamatan dimulai menggunakan jalur yang berbeda. Objek Penelitian Objek penelitian adalah burung yang hidup liar di wilayah Lingkungan kampus FMIPA Unesa dan vegetasi yang dimanfaatkan oleh burung-burung tersebut. C. terlebih dahulu dilakukan observasi lapangan untuk menentukan titik sampling dan jalur transek.00−17. Hal ini bertujuan untuk memudahkan peneliti dan mempersingkat waktu pengenalan jenis burung pada saat tahap replikasi pengamatan di lapangan. Spesies tumbuhan yang belum diketahui namanya didokumentasikan dan beberapa bagian tumbuhan seperti daun atau bunganya dimasukkan ke dalam kantung plastik untuk diidentifikasi lebih lanjut.00 selama 6 bulan dengan 2 musim yang berbeda. Pengamatan .BAB III METODE PENELITIAN A. peneliti juga melakukan penyetaraan keterampilan penggunaan teropong binokular serta identifikasi morfologi dan perilaku jenis-jenis burung yang umum berada di daerah perkotaan di bawah panduan pembimbing penelitian. inventarisasi vegetasi.1).

sedangkan burung yang tidak dikenal akan dideskripsikan secara terperinci menggunakan Lembar Pengamatan II. Prosedur penelitian Hasil data yang diperoleh dapat digunakan sebagai inventarisasi burung-burung yang dapat ditemukan di lingkungan FMIPA yang merupakan lahan perkotaan. Setiap titik diamati dengan lama 15 menit dengan radius pengamatan di setiap titik pengamatan sendiri berkisar 30 meter karena dianggap cukup mewakili kelimpahan di titik tersebut.1) D. maka jenis dan jumlah burung tersebut dicatat dalam daftar tambahan.1. waktu. akan dicatat menggunakan Lembar Pengamatan Lapangan I. . Burung yang telah dikenal secara pasti. ataupun telah terinventarisasi saat observasi lapangan. dan perilaku burung juga dicatat. Inventarisasi Vegetasi Observasi Lapangan Inventarisasi Burung Analisis Data Gambar 3. Identifikasi morfologi burung dilakukan dengan buku panduan lapang identifikasi burung MacKinnon (1995) dan Holmes dan Nash (1989). yang secara lazim bukan merupakan tempat yang disenangi burung (khususnya burung langka). vegetasi. yaitu dengan cara mengamati dan menginvetarisasi seluruh jenis burung yang terlihat pada saat pengamatan serta menghitung jumlah jenisnya. Apabila pada saat perpindahan antartitik pengamatan ditemukan burung. Informasi lain berupa tanggal.dipusatkan pada lokasi-lokasi tertentu yang menjadi tempat terkonsentrasinya kegiatan berbagai burung. Jenis yang belum dapat diidentifikasi selama pengamatan dicatat dengan memberikan deskripsinya agar saat bertemu kembali dapat teridentifikasi. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi. (Gambar 3. kondisi cuaca.

Nur Resti.kutilang. diakses tanggal 13 Maret 2013 Kutilang Indonesia.. Ambarwati R. Jakarta: Yayasan Indonesia. 2007. IUCN. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali.0r. J.. Biologi Konservasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2008.. Diakses tanggal 18 Maret 2013 MacKinnon. Bird Watching. Jurusan Biologi FMIPA IPB Purwanto. Keanekaragaman Jenis Burung di Kampus IPB Darmaga Bogor. 1989. dan Stephen Nash. L. Fachrudin M. The Biirds of Java and Bali. Media Konservasi II (4): 61-71 Hermawan A. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press 18 Obor Mangunjaya. Jurusan Biologi FMIPA Unesa Ambarwati R.. J. Oxford: Oxford University Press. Keanekaragaman dan Status Perlindungan Burung di Kampus C Universitas Airlangga. Indahsari I. Mulyani H. Mulyani. Program Pascasarjana Unesa.html .1989. Primack.. http://www. Burung-burung yang Singgah di Kebun Botani FMIPA UNDIP.2012. 2005. Potensi Kebun Binatang Surabaya sebagai Tempat Pembelajaran Konservasi Burung. dan Supriatna Jatna. 2001. Prosiding Seminar Nasional Sains 2011. Konsepsi Ruang Terbuka Hijau di Kota sebagai Pendukung Pelestarian Burung. 2006.B. Derek A.. http://www. Swastikaningrum H.. Richard B.. Departemen Biologi. http://intisari- online. 2011.id/burung/konservasi/burung_burung_yang_singgah_d_kebun_botani_fmipa_undip/.DAFTAR PUSTAKA Agtadwimawanti . 18 . 2010. Indrawan. Hidup Harmonis dengan Alam. Skripsi.A. 2012.. sarangnya burung di surabaya. Keanekaragaman Burung di Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya..com/read/pamurbaya. P.birdlife. Irmania N. 1995. 2011.org/action/science/species/global_species_programme/red_list.F. Prosiding Seminar Nasional Biologi 2011. M. Kumpulan Makalah Seminar Nasional Biodiversitas III. dan Prasetyo. Hernowo. Fsaintek Universitas Airlangga Holmes. Birds on the IUCN Red Lists...diaskes tanggal 16 Maret 2013 Al-Haq T.B.

http://biologi..fst... http://staff.. 1996..Indonesia Programme Swastikaningrum. 2011.id/./Jurnal-Skripsi-Hening diakses tanggal 19 Maret 2013 Ward. et al. Biologi.. Bird Identification and Fieldcraft.ac./keanekaragaman%burung. The Ecology of Java and Bali.. Diversitas dan Keberadaan Jenis-Jenis Burung Diurnal di Lingkungan Kampus Universitas Brawijaya (Abstrak). 2012. 2008. Keanekaragaman Jenis Burung Pada Berbagai Tipe Pemanfaatan Lahan di Kawasan Muara Kali Lamong.id/wp. jeni dkk.id/handle/123456789/27256?mode=full..ac.ac. H. T. 1995. Departemen Biologi FST Unair. http://elibrary. 2007. Oxford: Oxford University Press Wibowo Y..Satriyono A. Mark. PHPA/BirdLife International .unair. Keanekaragaman Burung di Kampus Universitas Negeri Yogyakarta.pdf. Perbatasan Surabaya. Laporan Pemantauan Keanekaragaman Jenis Burung di Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. dkk..uny./2012/. Himpunan Mahasiswa Biologi ITS Setyaji A.ub. 2004.Gresik. Divisi Studi Burung “Pecuk”. London: New Holland Publishers Whitten.. Diakses tanggal 18 Maret 2013 Shannaz. Burung-burung terancam punah di Indonesia. Diakses tanggal 18 Maret 2013 .