Latar belakang Masyarakat Papua mempercayai suatu mitologi tentang manusia sejati yang berasal dari sebuah Ibu

yang kematiannya berubah menjadi tanah membentang sepanjang daerah Amungsal dan daerah ini di anggap kerambat oleh masyarakat setempat sehingga secara adapt tidak ijinkan untuk dimasuki tetapi pada tahun 1971 Freeport Indonesia memasuki daerah keramat ini dan membuka pertambang dengan mengeksplorasi di daerah Erstberg dan sejak tahun 1971 suku asli Amugme dipindahkan ke luar wilayah yang suku ini tempati ke wilayah kaki pegunungan. Penambangan Erstberg ini habis pengeksplorasi pada tahun 1989 dan dilanjutkan dengan penambangan pada wilayah Grasberg dengan ijin produksi yang dikeluarkan oleh Mentamben Ginandjar Kartassmita pada tahun 1996 serta tercantum pada AMDAL produksi yang diijinkan adalah 300 ribu/ton/hari. (http://theresiahestik.wordpress.com/2010/03/30/pt-freeport-indonesia-sebagai-pt-penambangan-

emas-di-daerah-timika-papua-indonesia/ diakses tanggal 18 September 2013 pukul 21.32) Permasalahan
Pada kasus PT Freeport Indonesia misalnya. Perusahaan ini mampu meraup 99 persen keuntungan dari tanah Papua yang memiliki 42 juta hektare hutan dengan keanekaragaman hayati, seperti bahan tambang, minyak dan gas bumi, dibawa ke negara asalnya. Pemerintah hanya mendapatkan satu persen dari keuntungan Freeport. Dan ini sudah berjalan sejak puluhan tahun sejak pertama kali perusahaan ini beroperasi di Papua pada tahun 1973. Dan menurut perjanjian kontrak yang baru, Freeport ini memiliki hak untuk mengeksplorasi tanah Papua sampai dengan tahun 2041. (http://membunuhindonesia.com/dana-bagi-hasil-tambang-rugikan-negara/ diakses tanggal 18

September 2013 pukul21.40)
Namun ada sandungan-sandungan soal Freeport ini. Mulai dari kontrak sampai dengan bagi hasil yang menurut pemerintah tidak memuaskan. Sampai ketika Orde Reformasi bergulir, masalah Freeport tetap mencuat. Sampai kini pun terus dibahas. Ada lima hal yang pemerintah fokus kepada Freeport saat ini. Pertama adalah agar Freeport meningkatkan royalti penjualan emasnya. Selama ini, pemerintah hanya kebagian satu persen royalti dari penjualan emas Freeport. Pemerintah ke depan ingin meningkatkan jatah royalti itu menjadi 10-20 persen. Kedua, pemerintah ingin agar Freeport mengembalikan lahan tambangnya ke pemerintah. Ketiga, pemerintah ingin Freeport menjual sahamnya di Indonesia. Penjualan saham ini maksimal 51 persen. Bisa dibeli oleh pemerintah pusat atau perusahaan lokal. Keempat, pemerintah juga ingin Freeport melantai di Bursa Efek Indonesia. Masuknya Freeport ke BEI dilihat sebagai pengkatrol ekonomi Indonesia di pasar finansial. Terakhir, yang tidak kalah pentingnya adalah Freeport agar membangun mesin pengolah hasil tambangnya di Indonesia. Ya! Sudah 40 tahun lebih beroperasi, Freeport ternyata belum memiliki smelter tambang. Freeport terus menerus membawa barang tambangnya untuk diolah di luar negeri.
(http://nyataindonesiaku.com/pintu-bagi-freeport diakses tanggal 18 September 2013 pukul 21.41)