Penegakan Diagnosis

Menurut panduan klinis, IBS umumnya dapat didiagnosis tanpa pemeriksaan tambahan namun berdasarkan anamnesis yang hati-hati, pemeriksaan fisik umum, dan pemeriksaan laboratorium rutin (tidak termasuk kolonoskopi) pada pasien yang memiliki gejala klinis yang termasuk kriteria Rome dan tidak memiliki tanda bahaya (warning signs). Warning signs ini meliputi perdarahan rektal, anemia, kehilangan berat badan, demam, riwayat kanker kolon di keluarga, onset dari gejala pertama timbul setelah usia 50 tahun dan perubahan mayor dalam simptom. Kriteria Diagnostik Rome untuk IBS Nyeri atau tidak nyaman pada perut yang rekuren setidaknya 3 hari per bulan pada 3 bulan terakhir, disertai dengan 2 atau lebih tanda berikut : Peningkatan defekasi Onset berhubungan dengan perubahan frekuensi dari tinja Onset berhubungan dengan perubahan bentuk tinja Pasien harus ditanyakan tentang kebiasaan buang air besar dan karakteristik tinja yang akan menjadi dasar klasifikasi dari IBS yaitu IBS predominan diare (lebih banyak pada pria), IBS predominan konstipasi (lebih banyak pada wanita) atau IBS campuran. Pada pasien yang memiliki kriteria Rome dan tidak memiliki warning signs, salah satu diagnosis bandingnya termasuk penyakit seliak, kolitis mikroskopik dan kolagenosa dan penyakit Crohn atipikal untuk pasien dengan IBS predominan diare, dan konstipasi kronik (tanpanyeri) pada pasien dengan IBS predominan konstipasi. Hubungan antara gejala dan konsumsi makanan, juga pemicu yang mungkin menimbulkan onset gejala ( misalnya, infeksi gastroinstestinal atau adanya stresor) harus diketahui, karena dapat mengarahkan ke rekomendasi tatalaksana. Pada pemeriksaan fisik seringkali ditemukan nyeri pada kuadran kiri bawah dan kolon sigmoid yang palpable . Pemeriksaan rektal dilakukan untuk mengetahui penyakit rektal dan fungsi sfingter anorektalo yang abnormal (misalnya pada kontraksi paradoksal dasar panggul selama usaha defekasi), yang mungkin dapat berpengaruh pada gejala konstipasi.

Alur diagnostik IBS .Gambar 1.