ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DI PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA MAJALENGKA

Oleh : WAWAN KURNIAWAN A14105620

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN WAWAN KURNIAWAN. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku di Perusahaan Kecap Segitiga Majalengka. (Di bawah bimbingan JOKO PURWONO) Kecap merupakan hasil dari perkembangan teknologi pengolahan kedelai, yaitu melalui proses fermentasi 1 sampai 2 minggu. Dilihat dari kandungan gizinya kecap kedelai ternyata masih memilki protein dan kadar abu yang cukup tinggi. Sementara komposisi asam amino pada kecap kedelai sebagian besar didukung oleh asam glutamat, prolin, asam asportat dan lesitin (Santoso, 1994). Seiring dengan berkembangnya perusahaan pengolahan kecap menyebabkan persaingan semakin meningkat di antara perusahaan kecap, terutama dampak persaingan ini dirasakan sekali bagi perusahaan kecap yang masih kecil, sehingga keunggulan kompetitif menjadi penting. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah pengembangan keragaan manajemen produksi dan operasi organisasi melalui manajemen produksi dan persediaan. Perusahaan Kecap Segitiga merupakan salah satu produsen kecap yang sedang berkembang. Adanya perubahan permintaan konsumen terhadap kecap seringkali menuntut pihak perusahaan untuk melakukan perubahan terhadap rencana produksinya (revisi rencana produksi). Selain itu, kebijakan perusahaan menyangkut perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku sering dihadapkan pada kendala investasi yang terlalu banyak atau menekan persediaan. Masing-masing akan memiliki konsekuensi terhadap biaya persediaan, kelancaran produksi dan pelayanan kepada pelanggan. Untuk itu, diperlukan sistem pengendalian persediaan yang optimal sehingga perusahaan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan meminimalkan biaya produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) melakukan kajian terhadap sistem pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan perusahaan. (2) menganalisis sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dan menentukan alternatif teknik pengendalian persediaan bahan baku yang dapat diterapkan pada perusahaan. Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari Perusahaan Kecap Segitiga yang berlokasi di Jalan Raya Tonjong No 54. Kabupaten Majalengka, pada bulan februari 2007– Maret 2008 melalui hasil pengamatan dan wawancara dengan karyawan, manajer, dan kepala divisi yang berkaitan. Data sekunder diperoleh dari buku-buku, hasil laporan penelitian terkait, catatan perusahaan, literatur perusahaan dan instansi terkait serta literatur lainnya. Data kuantitatif diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel . Untuk menganalisis metode pengendalian persediaan bahan baku perusahaan periode Maret 2007-Februari 2008 akan digunakan model MRP teknik LFL, EOQ, dan POQ. dipilih kemudian akan dipilih satu model alternatif untuk dijadikan sebagai bahan rekomendasi dalam pengendalian persediaan bahan baku perusahaan Segitiga. Data pembelian bahan baku perusahaan seringkali berfluktuasi, dengan tingkat persediaan yan cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan tingkat pembelian yang melebihi dari kebutuhan bahan baku untuk produksi kecap untuk setiap periodenya.

Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan, yaitu Biaya yang ditanggung perusahaan untuk biaya persediaan bahan baku sebesar Rp 14 106 009.43 dengan biaya pembelian bahan baku selama periode Maret 2007-Februari 2008 sebesar Rp 1 340 203 482.00. Sedangkan dengan teknik LFL, EOQ dan POQ biaya persediaan perusahaan masing-masing Rp 27 659 748.70 , Rp 9 365 809.48, Rp 8 278 409.65. Sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku kecap belum optimal dari segi biaya persediaan bahan baku. Hal ini ditunjukkan dari tingginya biaya persediaan yang dihasilkan perusahaan, dibandingkan dengan biaya persediaan menggunakan metode MRP teknik EOQ dan teknik POQ. Sedangkan dari hasil analisis dengan Metode MRP teknik POQ yang menghasilkan penghematan biaya paling besar di antara teknik yang lainnya, yaitu menghasilkan biaya persediaan sebesar Rp 8 278 409.65 atau perusahaan dapat menghemat biaya persediaan sebesar 41.3 persen. Biaya pembelian bahan baku dengan teknik POQ sebesar Rp 1 228 478 728.50 atau perusahaan mengalami penghematan biaya pembelian bahan baku sebesar 8.3 persen. Oleh karena itu metode MRP teknik POQ direkomendasikan sebagai model alternatif dalam sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dilihat dari biaya persediaan bahan bakunya. Penggunaan metode MRP teknik POQ dapat dijadikan alternatif bagi pengendalian persediaan perusahaan karena metode ini menghasilkan periode gabungan yang akan meminimumkan biaya persediaan (biaya pemesanan dan biaya penyimpanan) serta biaya pembelian bahan baku.

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DI PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA MAJALENGKA SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : WAWAN KURNIAWAN A14105620 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

MAgr. NIP. Joko Purwono. Dekan Fakultas Pertanian Prof. 131 124 019 Tanggal lulus : 3 Mei 2008 . Didy Sopandie. Dr.Judul Skripsi : Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku di Perusahaan Kecap Segitiga Majalengka Nama : Wawan Kurniawan NRP : A14105620 Menyetujui. Ir. Dosen Pembimbing Ir. MS NIP:131 578 844 Mengetahui.

SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENARBENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHANBAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DI PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA MAJALENGKA ” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU. April 2008 Wawan Kurniawan A14105620 . Bogor.

Jawa Barat. Institut Pertanian Bogor. Departemen Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Selama mengikuti perkuliahan. penulis aktif di organisasi kemahasiswaan.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 11 Mei 1982 di Majalengka. Penulis yang bernama lengkap Wawan Kurniawan adalah anak ketujuh dari enam bersaudara pasangan ayahanda Abu sufyan dan ibunda Yayah Khususiah. . Sebagai pengurus Keluarga Muslim Ekstensi (KAMUS X10C) dan terakhir menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Majalengka 2002-2007. Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) periode 2004-2005 sebagai staf Departemen Pertanian. Fakultas Pertanian. kemudian pada tahun yang sama melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Diploma III Program Studi Teknologi dan Industri Pakan. Penulis memulai pendidikan dasar di SD Negeri 1 Maja tahun 1990 hingga tahun 1996. Kemudian penulis melanjutkan ke program Ekstensi Manajemen Agribisnis. Pada tahun 2002 penulis menamatkan pendidikan menengah atas pada SMU Negeri 1 Majalengka. Fakultas Peternakan hingga tahun 2005. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan pada sekolah menengah pertama di SLTP Negeri 1 Maja hingga tahun 1999.

Gula Aren. Teknik Economic Order Quantity (EOQ) dan Teknik Period Order Quantity (POQ). dengan memberikan tingkat persediaan dan biaya persediaan yang optimal. Penelitian ini membahas tentang pengendalian persediaan bahan baku kecap khususnya bahan baku Kedelai. serta dapat menghemat biaya pembelian bahan baku. Terima kasih. April 2008 Wawan Kurniawan . Model pengendalian persediaan tersebut dibandingkan dengan metode pengendalian persediaan perusahaan untuk mendapatkan alternatif dalam pengendalian persediaan bahan baku yang menghasilkan biaya persediaan minimum. Penelitian ini bertujuan untuk mencari metode alternatif bagi perusahaan dalam pengadaan bahan baku. atas berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku di Perusahaan Kecap Segitiga Majalengka. Besar harapan penulis agar hasil penelitian ini mendapatkan berkah dari Allah SWT dan dapat memberikan manfaat kepada para pembaca. Model pengendalian persediaan yang digunakan adalah model Material Requirement Planning (MRP) teknik Lot For Lot (LFL). Gula kelapa dan garam. Bogor.KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT.

terima kasih atas bantuan data-datanya. dan masukannya selama proses penelitian sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Yayah K. member kasih sayang. Netti Tinaprilla. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. 7. Dr. Ir. serta Bapak Deden Herdian selaku Pimpinan perusahaan dan seluruh staf Perusahaan Kecap Segitiga yang telah banyak memberi bimbingan dan motivasi selama penelitian di Perusahaan . Rita Nurmalina. 5. arahan dan dorongan dari berbagai pihak. Berkah dan Ridho kepada penulis sepanjang hayat ini. 4. Bapak dan ibu tercinta. Wagiono. 3. Teteh-tetehku dan Aa-Aaku atas daya upaya selalu mendoakan. Allah SWT yang selalu memberikan Rahmat.Joko Purwono. atas masukannya berupa saran dan kritik dalam kolokium proposal penelitian. Ir. MS sebagai pembimbing skripsi yang telah begitu banyak memberi bimbingan. 2. saran. MS sebagai dosen penguji utama yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini. 6.UCAPAN TERIMA KASIH Skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik berkat bantuan. Mec sebagai dosen evaluator. MM sebagai dosen penguji dari komisi pendidikan yang telah memberikan koreksi dan saran demi perbaikan skripsi ini. dorongan dan kesabarannya dalam membimbing penulis dari kecil hingga sekarang. Ir. Pak Dhany sebagai pembimbing lapang penulis. Ir.

Rudy. Sungguh suatu nikmat yang indah bisa mengenal kalian semua saudaraku . Aris. Husen. Teman-teman seperjuangan (Asep. Hayya. 12. Semua teman-teman ekstensi 13(esp :Pengurus KAMUS. Usman. dan Abdul. karena harapan itu masih ada. 9. . 10. terus semangat perjuangan kita belum berakhir. Dr. selamat atas kelahiran buah hatinya. Iyan) atas keceriaan dan kebersamaan kita dalam perjuangan tidak lupa juga untuk mas Way. Dizy). Teman-teman satu atap (Arif. Erfan. Guna. 14. Selamat berjuang untuk kehidupan selanjutnya dan teman-teman yang setia bersama (TIP 39 : Solihin. 13.-) 11. Hery. Fajar. semoga silaturahim kita tidak terputus.dan Tim Pelopor : Husni. Sol.8. Sudar. Ubay) atas kebersamaan dan semangat kalian yang turut memotivasiku dalam menyelesaikan skripsi ini. Arisman Adnan dan Mas Yuri atas dorongan semangat dan Do’anya. Daeng Iksal atas segala bantuannya dan kebersamaannya yang memberikan semangat kepada penulis sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan baik dan Bu Mia atas pinjaman buku-bukunya. Teman-teman Bogor Tengah. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang turut membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Sisca. dan Akhwatnya) atas kebersamaan kita. Jam’an.

............. iii DAFTAR TABEL ..............................................................................2 Perumusan Masalah ................4...............1 Kecap.................5 Ruang LingkupPenelitian .............. 1..3........................................ 4................... 2........................................ 31 3.. 2.4.......... 2................................................................................................ III.................... 4.........1 Pendugaan dan Penentuan Biaya Persediaan ................... v I.......................1 Latar Belakang .......... METODE PENELITIAN 4............3......................................................3...... ..............................3 Tujuan Penelitian ......... 4.......................................4.....................4 Perencanaan Kebutuhan Bahan (MRP) ....3...........................5 Persediaan Pengaman ..........................................2 Economic Order Quantity........ 2. 2................................. 1 4 9 9 9 11 13 14 14 15 16 19 19 22 22 25 27 27 28 28 II.........................................................................3 Metode Analisis Data..............4 Period Order Quantity .....3........................................................ 4.........................6 Titik Pemesanan Kembali ....................................................2 Bahan Baku ...... 2.............................3.........4.......................... PENDAHULUAN 1............................................3 Part Periode Balancing ................................................... KERANGKA PEMIKIRAN 3.......................................2 Penyesuaian dan Penentuan Volume Pemakaian Bahan Baku .....................................3......................................3. 2..DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ........................................................................................3 Biaya-biaya Persediaan ........3........................................................ 2... 2... 2...................... 2........................................................... 1..................................... 2....................................................................................2 Analisis Prosedur Pembelian Bahan Baku.... iv DAFTAR GAMBAR .................. TINJAUAN PUSTAKA 2............................. 4..........4 Kegunaan Penelitian...............4 Pengendalian Persediaan.........................1 Lot For Lot ......... 1.......................... i UCAPAN TERIMAKASIH ........................ 2...................................2 Jenis dan Sumber Data...................................1 Fungsi dan Peranan Persediaan ..... 4.................................... 4............ ii DAFTAR ISI ... 1...................................................3 Persediaan ........................................................................................1 Identifikasi Kebijakan Perusahaan Dalam Pegadaan bahan Baku.....3 Penyesuaian dan Penentuan Waktu Tunggu ...............................................................5 Analisis Perbandingan Biaya dan Penghematan............. 31 3............1 Lokasi dan Waktu Penelitian .....................................7 Hasil Penelitian Terdahulu... 33 36 36 37 37 38 39 39 44 IV.......................................3 Analisis Pengendalian Persediaan Bahan baku........................................2 Jenis-jenis Persediaan fisik ........4 Analisis Kuantitatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku........................... 2...........

............................. SISTEM PENANGANAN DAN PENGADAAN BAHAN BAKU KECAP PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA 6............................1 Pengendalian Persediaan Bahan Baku Perusahaan ....... 55 6.......................................... 46 47 48 49 49 53 53 VI...................... 56 6......................................................................................... 5....................1 Proses Produksi .1............................................ 66 7...................................... 62 6........................................1 Kacang Kedelai .............................4..........................................4 Proses penanganan Bahan Baku.................................................... 73 7.........6 Biaya-Biaya Persediaan........................ 5.................. 57 6.....2 Lokasi Perusahaan ...... GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5..........2 Metode Material Requirement Planning (MRP)............. 44 4.................................................................2.........................1.....1 Sejarah Perkembangan Perusahaan................................ 82 8. 5........ 83 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................5 Aspek Sumberdaya Manusia ......2 Metode MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ) ...................... 59 6........1 Jenis dan Asal Bahan Baku .......4 Rekomendasi Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku Berdasarkan Data Historis perusahaan Periode Maret 2007-Februari 2008................................................................6.................................2 Gula Aren .............. 58 6...............1 Biaya Pemesanan........................2......................................................6........................2 Prosedur Pengadaan Bahan Baku.....................1....................3 Waktu Tunggu Bahan Baku(Lead Time) Pada Perusahaan Segitiga........... 84 LAMPIRAN ......................................................................................................... 60 6..................................... 60 6...................4 Aspek Teknis/Produksi .. 57 6.........................................................4Rekomendasi Model Alternatif Pengendalian Persediaan Berdasarkan Data Historis .................3 Aspek Pemasaran .................. KESIMPULAN DAN SARAN 8........................................ 80 VIII............ 71 7.............5 Definisi Operasional ...2 Saran .......... 75 7....... 57 6.................................................1.........2............................1 Kesimpulan..................3 Gula Kelapa ......1 Metode MRP Teknik Lot For Lot (LFL) .......4 Garam ........................................................ 5.................................... 77 7...... 5.... 45 V..........................5 Volume Penanganan Bahan Baku .................................................4................................................ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA 7............................ 86 .... 62 6............ 5...2 Biaya Penyimpanan .............................................................6 Fasilitas Pabrik dan Kantor ................................... 70 7.............................3 Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan...........................3 Metode MRP Teknik Period Order Quantity (POQ) .. 64 VII........................

................. Konsumsi dan Pengeluaran Rata-rata Per Kapita Seminggu untuk Komoditas Kecap di Indonesia.............................................. Penelitian Terdahulu ............... Volume Pemakaian Bahan Baku Kecap Perusahaan Kecap Segitiga Periode Maret 2007-Februari 2008 ........... 4.. Kuantitas Pesanan dan Persediaan Rata-rata Bahan BakuKacang Kedelai Berdasarkan kondisi Aktual Perusahaan Tahun 2007 ........... Susunan Aset Suatu Perusahaan Manufaktur (Tipikal) ........................... Biaya Penyimpanan Bahan Baku PerusahaanKecap Segitiga ................................. ....................... 2................ Komponen Bahan-bahan Pembentuk Keca pada Perusahaan Kecap Segitiga........... Teks Produksi Tanaman Sekunder Indonesia Tahun 2003-2007 ..... Biaya Persediaan Bahan Baku per Tahun Periode Maret 2007Februari 2008 Menggunakan Kondisi Aktual Perusahaan.............................................................. 11................................................................. 16.............. Penentuan Lot dengan Teknik PPB ................ 8.. Hal 1 2 4 5 7 12 26 30 40 55 62 64 65 67 68 69 72 73 10.............................................................. 3... 7............................ 15........... Komposisi Zat Gizi Kecap Kedelai (100gr) ............. Daftar Industri Kecap Kabupaten Majalengka Tahun 2007 ................... Kuantitas Pembelian Bahan Baku Teknik Lot For Lot Periode Maret 2007-Februari 2008 ...................... Biaya Pemesanan Bahan Baku Perusahaan Segitiga Periode Maret 2007-Februari 2008 (Rupiah/pesanan) 13.. 18............. 12...... 17..... 6......................................... 14.... Gula Aren...... Gula Kelapa dan Garam Selama Periode Maret 2007-Februari 2008 (kg)....... 9........ Format Rencana MRP................................... Biaya Pembelian Bahan Baku Periode Maret 2007-Februari 2008 ...................DAFTAR TABEL Nomor 1......... 5..... Persediaan Kacang Kedelai............. Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Segitiga dengan Teknik Lot For Lot Periode Maret 2007-Februari 2008 ...........................

. Perbandingan Frekuensi Biaya Persediaan dan Biaya Pembelian Total Bahan Baku Periode Maret 2007-Februari 2008 ......19.............................. 77 23.........… 74 20...... 78 24............ Kuantitas Pembelian Bahan Baku Teknik Period Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008 ............................... Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Segitiga dengan Teknik Economic Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008…….... ....................... 75 21.............. 79 .................................. Kuantitas Pembelian Bahan Baku Teknik Economic Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008 ........ 76 22............. EOQ dan POQ................................ Penghematan Biaya Persediaan dan Pembelian dengan MRP Teknik LFL......................... Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Segitiga Teknik Period Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008 ............................

....................... 3. Prosedur Pembelian Bahan Baku.................................................................. Biaya Persediaan .................................................... ..........DAFTAR GAMBAR Nomor Teks Hal 23 35 59 1............ Bagan Kerangka Pemikiran Operasional ............. 2.....................

kacang tanah sebesar 838 096 ton pada tahun 2006.463 ton. Tabel 1. singkong sebesar 19. sebagai masyarakat agraris.1 Latar Belakang Sektor perindustrian merupakan sektor yang cukup diandalkan dalam perekonomian Indonesia. PENDAHULUAN 1. Hal tersebut menjadikan industri pengolahan hasil produk pertanian sangat berperan dalam pertumbuhan perekonomian. terutama dari sektor industri pengolahan hasil pertanian. ubi jalar sebesar 1 991 478 ton pada tahun 2003.I.609. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1. masih mempunyai potensi yang besar dalam meningkatkan produksi industri pengolahan hasil pertanian. Indonesia sebagai negara agraris. karena sektor pertanian masih menjadi penghasilan utama sebagian besar masyarakat Indonesia.986 640 ton pada tahun 2006. yang mempunyai luas lahan pertanian yang cukup luas. Produksi Tanaman Sekunder Indonesia tahun 2003-2007 (Ton) Tahun 2003 2004 2005 2006 2007* Jagung 10 886 442 11 225 243 12 523 894 11 609 463 13 279 794 Kedelai 671 600 723 483 808 353 747 611 608 263 Kacang tanah 785 526 837 495 836 295 838 096 789 327 Singkong 18 523 810 19 424 707 19 321 183 19 986 640 18 950 274 Ubi jalar 1 991 478 1 901 802 1 856 969 1 854 238 1 874 036 Sumber: BPS. Data produksi beberapa komoditas pertanian di Indonesia menunjukkan produksi hasil pertanian yang tinggi. Data menunjukkan bahwa produksi pada tahun 2007 untuk komoditas jagung menduduki peringkat terbesar. 2007 Keterangan : * Data sementara . yaitu sebesar 11. kedelai sebesar 808 353 ton pada tahun 2005.

Peningkatan harga itu dipicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Industri kecap sangat berperan dalam meningkatkan nilai tambah komoditas kedelai.wartaekonomi.063 0.078 Pertumbuhan (%) -1. kacang tanah dan singkong. kedelai. Industri kecap juga berperan dalam penyediaan tenaga kerja bagi masyarakat di sekitar lokasi pabrik dan meningkatkan permintaan kedelai nasional. pada Tabel 1 menunjukkan penurunan dalam produksi yaitu untuk komoditas kedelai. 2002.5 57. khususnya yang terjadi pada tahun 2007 adalah kenaikan harga komoditas kedelai.8 -6.com/search_detail. Tabel 2.00 127.asp?aid=9948&cid=2&x=kedelai .Produksi produk pertanian untuk tahun 2007. dan terigu.1 Salah satu industri pengolahan hasil pertanian yang menggunakan komoditas kedelai sebagai bahan baku utama dalam proses produksinya adalah industri kecap.064 0. dan 2003) 1 http://www. Komoditas pangan yang dimaksud seperti jagung. 1999.0 Nilai (Rp) 37.00 124.4 Sumber : BPS (1996.083 0.00 79. telah lama dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. sehingga berdampak pada melambungnya harga produk-produk olahan kedelai. Kecap sebagai salah satu hasil olahan kedelai. Konsumsi dan Pengeluaran Rata-rata per Kapita Seminggu untuk Komoditas Kecap di Indonesia (Rp/14ml) Tahun 1996 1999 2002 2003 Konsumsi (Liter) 0.0 2. menyatakan bahwa harga komoditas pangan naik sebesar 10%-35% selama enam bulan terakhir. Hal ini menimbulkan kenaikan harga beberapa komoditas pertanian.00 Pertumbuhan (%) 113.6 31. daging. Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi.

dengan tingkat pertumbuhannya sebesar – 6.00 serta pertumbuhan nilai pengeluaran sebesar 57 persen. manajemen sistem produksi.00. tentunya ini menjadi pendorong bagi pelaku bisnis kecap untuk meningkatkan produksinya. ukuran.Apabila ditinjau dari aspek konsumsi. Data pengeluaran dan konsumsi kecap di Indonesia pada Tabel 2 menunjukkan bahwa rata–rata konsumsi dan pengeluaran untuk kecap per kapita per minggu pada tahun 2002 mengalami pertumbuhan yang signifikan yaitu sebesar 31. Industri kecap berlomba-lomba menghasilkan kecap dengan berbagai rasa. mulai dari manajemen sistem pengadaan bahan baku baku kecap. masyarakat Indonesia memiliki tingkat konsumsi kecap yang cukup tinggi. dan pengawasan penentuan kebutuhan bahan baku sedemikian rupa sehingga di satu pihak kebutuhan operasi dapat dipenuhi pada waktunya dan di lain pihak investasi persediaan bahan baku dapat ditekan secara optimal. dengan tingkat konsumsi per kapita per minggu sebanyak 0. dan kemasan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang beragam. manajemen persediaan bahan baku kecap. Peningkatan tingkat konsumsi ini tentunya mendorong perusahaan untuk meningkatkan jumlah produksi. Meskipun pada tahun 2003 dalam tingkat konsumsi mengalami penurunan menjadi 0. Masing-masing komponen tersebut menimbulkan biaya dari setiap unit bahan baku kecap yang dibeli perusahaan.0 persen. Pengendalian tingkat persediaan bertujuan mencapai efisiensi dan .078 liter per kapita per minggu.083 liter. tetapi dengan nilai pengeluaran yang mengalami peningkatan menjadi Rp 127. Manajemen persediaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan. Peningkatan produksi ini memerlukan perhatian yang cukup serius dari pihak perusahaan.8 persen. pelaksanaan. nilai pengeluaran Rp 124.

efektivitas optimal dalam penyediaan bahan baku. Hal ini menyebabkan tingkat persaingan . Susunan Aset Suatu Perusahaan Manufaktur (Tipikal) No 1 2 3 4 5 6 Susunan Aset Kas Piutang Aset cair lain Persediaan barang Aset tetap Aset lain Persentase (%) 4 26 6 31 27 6 Sumber : Indrajit. tercatat sebanyak 24 perusahaan yang bergerak dalam industri kecap. Biasanya biaya yang paling besar adalah nilai inventory dan biaya penyimpanannya. 1. 2003. Dalam pengadaan dan penyimpanan bahan baku diperlukan biaya besar. perlu ditempuh strategi atau manajemen tertentu yang bertujuan menjaga agar tingkat persediaan barang dapat ditekan seminimal mungkin. Biaya penyimpanan ini setiap tahun pada umumnya mencapai sekitar 20 persen sampai 40 persen dari harga barang (Indrajit. namun di lain pihak harus diusahakan agar penjualan dan operasi perusahaan tidak terganggu. Berdasarkan Tabel di atas terlihat jelas bahwa aset berupa barang merupakan kelompok yang paling besar dari seluruh aset perusahaan. Oleh karena itu. baik itu untuk perusahaan besar maupun perusahaan kecil. Berikut ini dapat dilihat susunan aset tipikal dari suatu perusahaan manufaktur pada Tabel 3. Perumusan Masalah Industri kecap merupakan salah satu subsistem agribisnis dalam bidang industri pengolahan hasil pertanian. 2003).2. sehingga perlu mendapat perhatian yang besar dari manajemen perusahaan. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Majalengka (2007). Tabel 3.

Daftar Industri Kecap di Kabupaten Majalengka Tahun 2007 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Nama Perusahaan/Pengrajin Segi tiga Maja menjangan Cap Sate Anton Yuliyanto Potret Matahari Terbit dan Merak Ijoh Andon T3 Roda Bersayap H. Santana Panggang Ayam Potret Matahari Kambing Ikan mas koki Ayam jago Moh. yaitu berasal dari Bandung. Suherman Tohri Iyah dasiyah Oman Sari Sapyudin Saroni Dua bintang Cap Matahari Jumlah Produksi 860 000 624 175 183 000 108 000 180 000 960 750 180 000 144 000 250 000 45 000 15 100 20 000 225 000 7000 240 750 5 1000 950 240 000 84 000 15 Satuan Botol Botol Botol Botol Botol Krat Botol Botol Botol Botol Ton Krat Botol Botol Botol Botol Ton Botol Krat Botol Botol Ton Jumlah Tenaga Kerja 40 12 7 15 5 2 2 13 10 4 3 5 4 11 10 3 2 3 2 2 2 4 4 5 Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Majalengka (2007). .yang cukup tinggi dalam aspek pemasaran dan harga. yang merupakan perusahaan kecap terbesar di Kabupaten Majalengka yang telah dirintis sejak tahun 1958. Bahan baku tersebut diperoleh dari distributor yang sudah menjadi pemasok perusahaan. garam. dimana sebagian besar dipasarkan di wilayah Kabupaten Majalengka. Bahan baku utama kecap di Perusahaan Kecap Segitiga terdiri dari kacang kedelai hitam. gula kelapa. diolah Salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha produksi kecap adalah Perusahaan Kecap Segitiga. Tabel 4. gula aren.

Pada bulan-bulan tertentu pemesanan bahan baku melebihi kebutuhan produksinya.Banjar. Besarnya kuantitas pemesanan yang dilakukan tidak sesuai dengan kebutuhan produksi. Contohnya dapat dilihat pada Tabel 5 yang menjelaskan perbandingan antara kuantitas pesanan dan kebutuhan pemakaian bahan baku kacang kedelai. Cirebon dan Majalengka. Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa tingkat persediaan bahan baku kacang kedelai cukup besar. Hal ini menunjukan bahwa cadangan persediaan bahan baku pada bulan tersebut melebihi rata-rata kebutuhan bahan baku perbulannya. Seiring dengan berkembangnya perusahaan pengolahan kecap di Kabupaten Majalengka menyebabkan persaingan semakin meningkat sehingga pemesanan . tetapi kemudian kuantitas dapat jauh lebih kecil dari kebutuhan produksi. Hal ini mengakibatkan tingginya persediaan bahan baku perusahaan yang menyebabkan besarnya biaya kesempatan (opportunity cost) yang harus ditanggung perusahaan. Kondisi aktual yang terjadi di perusahaan selama ini adalah perusahaan tidak melakukan perhitungan berdasarkan metode pengendalian bahan baku tertentu dalam menentukan jumlah bahan baku yang dipesan. Perusahaan hanya melakukan pemesanan berdasarkan kondisi aktual persediaan bahan baku di gudang sehingga sering terjadi pemesanan bahan baku yang tidak terjadwal dan jumlah pesanannya jauh lebih besar dari rata-rata kebutuhan bahan baku. Bahkan pada bulan Mei sampai dengan bulan November angkanya melebihi kebutuhan produksi. berdasarkan kondisi aktual perusahaan. dimana kuantitas pemesanan perbulan sangat bervariasi. Cianjur. Besarnya tingkat persediaan ini terjadi karena pemesanan bahan baku yang dilakukan perusahaan tidak teratur.

5 Stok Akhir (kg) 1650 2185 1625 1625 7663 10589 7737 8408 2684 7006 1597 2661 55 430 4 619. Kuantitas Pesanan dan Persediaan Rata-Rata Bahan Baku Kacang Kedelai Berdasarkan Kondisi Aktual Perusahaan Tahun 2007 Kuantitas Stok Pesanan Awal (kg) (kg) 1800 840 1650 600 2185 1000 1625 8223 1625 8337 7663 3429 10589 6000 7737 8408 6488 2684 7006 5010 1597 39 927 54 569 3 327.5 2129 55 059. Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total Rata-rata Untuk Sumber : Data perusahaan (2007). Hal ini didasari dari beberapa permasalahan dalam manajemen produksi dan persediaan yang dihadapi Perusahaan Kecap Segitiga. Selain itu dengan semakin banyaknya perusahaan kecap perlu diperhatikan juga mengenai persaingan dalam mendapatkan vahan baku. Salah satunya melalui manajemen produksi dan persediaan yang optimal. diantaranya: perubahan permintaan konsumen akan produk kecap pada saat menjelang hari raya serta keterlambatan kedatangan bahan baku dari pemasok.keunggulan kompetitif menjadi penting. .5 5546 4845 4301.29 kecap.25 4 547. Tabel 5.5 1905 1625 4644 9126 9163 8072. yaitu melalui pengendalian persediaan bahan baku kecap.5 4 588.42 menghadapi Pemakaian (kg) 150 305 1160 1000 2185 5411 6281 5329 5724 2166 5409 3946 39 066 3 255. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah pengembangan keragaan manajemen produksi dan operasi organisasi melalui manajemen produksi dan persediaan. diolah persaingan dalam industri Perusahaan Kecap Segitiga merasa perlu menciptakan keunggulan kompetitif.17 Persediaan Rata-Rata (kg) 1725 1917.

Untuk itu. serta dapat meminimalkan biaya persediaan. Persediaan bahan baku merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting karena menunjang kelancaran dan kesinambungan dalam proses produksi. di samping dengan tingginya resiko kerusakan bahan baku akibat proses penyimpanan bahan baku yang terlalu lama.Perubahan permintaan konsumen terhadap kecap seringkali menuntut pihak perusahaan untuk melakukan perubahan terhadap rencana produksinya (revisi rencana produksi). Kelebihan persediaan mengakibatkan meningkatnya biaya penyimpanan. yaitu tidak tercapainya target produksi sesuai dengan permintaan konsumen. Dengan melihat kondisi tersebut perusahaan memerlukan sistem pengendalian persediaan bahan baku yang dapat menjaga ketersediaan bahan baku. Bagaimana sistem pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan oleh perusahaan ? . Persediaan bahan bahan baku yang melebihi maupun yang persediaan bahan baku yang kurang akan merugikan perusahaan. Selain itu kebijakan perusahaan menyangkut perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku sering dihadapkan pada kendala investasi yang terlalu banyak atau menekan persediaan. Masing-masing akan memiliki konsekuensi terhadap biaya persediaan. Kekurangan persediaan akan menyebabkan terganggunya proses produksi. Oleh karena itu permasalahan yang akan dianalisis adalah : 1. kelancaran produksi dan pelayanan kepada pelanggan. yang dapat merugikan perusahaan secara keseluruhan. diperlukan sistem pengendalian persediaan yang optimal sehingga perusahaan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan meminimalkan biaya produksinya.

Bagaimanakah model alternatif pengendalian persediaan bahan baku yang dapat meminimalkan biaya. maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. 2. sesuai dengan kondisi perusahaan? 1. serta analisis pengendalian persediaan bagi pelaksanaan kegiatan .2. dan bagi masyarakat umum. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah : 1. sistem pengadaan dan penanganan bahan baku perusahaan. serta sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam pengadaan dan pengendalian persediaan.4.5 Ruang Lingkup Ruang lingkup penelitian ini meliputi gambaran umum.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan. Sebagai media untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh. yang sesuai produksi perusahaan. penelitian ini dapat berguna sebagai informasi yang berkenaan dengan pengendalian persediaan bahan baku. 1. 2. 1. Menganalisis sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dan menentukan alternatif teknik pengendalian persediaan bahan baku yang dapat diterapkan pada perusahaan. Melakukan kajian terhadap sistem pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan perusahaan. Sebagai bahan pertimbangan perusahaan dalam menentukan alternatif teknik pengendalian persediaan bahan baku yang dapat meminimalkan biaya.

. Kabupaten Majalengka. Penelitian ini dilakukan di Perusahaan Kecap Segitiga. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kepada perusahaan mengenai teknik pengendalian persediaan bahan baku yang dapat meminimalkan biaya.bahan baku.

prolin. TINJAUAN PUSTAKA 2. kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama.max merupakan tanaman asli daerah Asia subtropik seperti Tiongkok dan Jepang selatan. 1994). yang bijinya bisa berwarna kuning. Kedelai atau kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan Timur Jauh seperti kecap. asam asportat dan lesitin (Santoso. Ini terjadi karena . atau hijau) dan Glycine soja (kedelai hitam. sementara G. Di Indonesia.1 Kecap Kecap adalah sari kedelai yang telah difermentasikan dengan atau tanpa penambahan gula dan bumbu. 2002). berbiji hitam). agak putih.II. Sementara komposisi asam amino pada kecap kedelai sebagian besar didukung oleh asam glutamat. meskipun Indonesia harus mengimpor sebagian besar kebutuhan kedelai. akan tetapi kecap kedelai memiliki zat gizi yang lengkap dengan asam aminonya. soja merupakan tanaman asli Asia tropis di Asia Tenggara. Kedelai yang dibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling tidak dua spesies: Glycine max (disebut kedelai putih. Hal ini didasarkan kandungan nilai gizi kedelai yang cukup tinggi. G. Dengan demikian mengkonsumsi kecap bukanlah sekedar menikmati rasa asin atau manis. tahu dan tempe. kecap kedelai ternyata masih memiliki protein dan kadar abu yang cukup tinggi. Pada umumya bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan kecap adalah kacang kedelai (Glycine max merr). terutama kandungan protein dan kandungan karbohidratnya sehingga memungkinkan perkembangbiakan mikroorganisme yang menghasilkan enzim pemecah substrat pada kedelai (Yokotsuka dalam Ramdhan. Dilihat dari kandungan gizinya.

kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di Jepang dan Tiongkok. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia. Jenis kedelai yang digunakan untuk pembuatan kecap adalah kedelai

hitam dan kedelai kuning (Judoamidjojo, dalam Ramdhan, 2002). Komposisi kimia antara kedelai hitam dengan kedelai kuning tidak begitu berbeda. Selain itu perbedaan jenis kedelai tersebut tidak berpengaruh pada efektifitas fermentasi. Kedelai hitam lebih banyak digunakan oleh kalangan industri dalam pembuatan kecap, namun beberapa perusahaan menggunakan kedelai kuning, dan hasil

samping dari pembuatan kecap tersebut dijadikan tauco (Judoamidjojo dalam Ramdhan, 2002). Tabel 6. Komposisi Zat Gizi Kecap Kedelai (100gr) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Zat Gizi Energi Air Protein Lemak Karbohidrat Serat Abu Kalsium Besi Vitamin B1 Vitamin B2 Kecap 86.00 57.40 5.50 0.60 15.10 0.60 21.40 85.00 4.40 0.04 0.17 Satuan kalori gram gram gram gram gram gram mg mg mg mg

Sumber : Direktorat Gizi Dep. Kesehatan RI dalam Santoso, 1994

Secara umum kecap di Indonesia dikelompokan menjadi dua golongan, yaitu kecap asin dan kecap manis. Kecap dapat diproduksi dengan tiga metode produksi, yaitu fermentasi kedelai, hidrolisa asam, atau kombinasi keduanya. Kecap hidrolisa kurang populer dibandingkan dengan kecap hasil fermentasi dari segi rasa dan aroma yang kurang baik. Hal ini disebabkan selama proses hidrolisa, beberapa asam amino dan gula rusak, serta timbul senyawa off flavour seperti asam levulinat, H2S dan beberapa komponen lainnya yang ada pada kecap fermentasi tidak terbentuk. Di Indonesia pembuatan kecap pada umumnya dilakukan secara fermentasi. 2.2 Bahan Baku Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh dari produk jadi. Tanpa bahan baku suatu industri tidak dapat menghasilkan output produksinya. Masalah yang sering dihadapi produsen adalah ketersediaan bahan baku, baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Masalah lainnya adalah penanganan bahan baku yang berasal dari produk pertanian yang bersifat mudah rusak dalam penyimpanannya. Menurut Assauri (1999) pengertian bahan baku meliputi semua bahan yang dipergunakan dalam perusahaan pabrik, kecuali terdapat bahan-bahan yang secara fisik akan digabungkan dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan pabrik tersebut. Perusahaan yang memiliki penguasaan atas produksi bahan baku sendiri lebih menjamin ketersediaan bahan baku dibandingkan bila pengadaan bahan baku tersebut dilakukan melalui pembelian (Gaspersz, 2002). Menurut Webster dan Wind dalam Kotler (1997), pembelian merupakan proses pengambilan keputusan yang digunakan dalam menetapkan kebutuhan akan

barang dan jasa, mengidentifikasikan, menilai, dan memilih berbagai alternatif merek dan pemasok. 2.3 Persediaan Persediaan merupakan hal penting bagi suatu perusahaan manufaktur, dalam menjaga keberlangsungan proses produksi. Karena persediaan dalam hal ini adalah bahan baku, maka persediaan memiliki persentase terbesar dari modal kerja. Sistem persediaan adalah serangkaian kebijaksanaan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan dan menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi, dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin tersedianya sumberdaya yang tepat, dalam kuantitas yang tepat dan pada waktu yang tepat. Istilah persediaan (iventory) adalah istilah umum yang menunjukan segala sesuatu atau sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya dalam pemenuhan permintaan (Handoko, 1997). 2.3.1 Fungsi dan Peranan Persediaan Menurut Heizer dan Render (1999), persediaan memiliki beberapa fungsi untuk dapat menciptakan fleksibilitas pada kegiatan operasi perusahaan. Efisisensi operasional perusahaan dapat ditingkatkan karena berbagai fungsi penting persediaan (Handoko, 1997). Fungsi penting persediaan adalah sebagai berikut : 1. Fungsi Decoupling. Fungsi penting persediaan adalah memungkinkan operasi-operasi perusahaan internal dan eksternal memiliki kebebasan.

Menurut jenisnya. 1977): 1. yaitu persediaan persediaan barang-barang berwujud seperti baja. Persediaan bahan mentah (raw material). Bahan mentah dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari suplier dan atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya. Fungsi ini sangat penting untuk menjaga kelancaran proses produksi 2. 2.2 Jenis-Jenis Persediaan Fisik Setiap jenis persediaan mempunyai karakteristik tersendiri dan cara pengelolaan yang berbeda. . 3. Penghematan ini timbul karena perusahaan membeli dalam kuantitas yang lebih besar. Fungsi ini untuk menanggulangi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan penerimaan bahan baku selama periode pemesanan kembali. biaya pengangkutan. persediaan fisik dibedakan menjadi (Handoko.Persediaan ”decouples” ini memungkinkan perusahaaan dapat memenuhi permintaan pelanggan tanpa tergantung pada supplier. dan sebagainya. Fungsi Antisipasi merupakan persediaan untuk mengahadapi permintaan yang dapat diramalkan dan menjaga kemungkinan kesulitan memperoleh bahan baku. Penghematan dari potongan pembelian. Fungsi Lot Size ini perlu mempertimbangkan penghematan biaya.3. dan komponen-komponen lainnya yang digunakan dalam proses produksi. Fungsi Economic Lot Sizing adalah fungsi yang memungkinkan perusahaan dapat memproduksi dan membeli sumberdaya-sumberdaya dalam kuantitas yang dapat mengurangi biaya-biaya per unit. kayu.

tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi. 3. biaya-biaya variabel berikut ini harus dipertimbangkan. yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi. dimana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk. Biaya ini terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak. 1997): a. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies). 2. atau rata- . yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain. Persediaan barang dalam proses (work in proses). 5.3 Biaya-Biaya Persediaan Dalam pembuatan setiap keputusan yang akan mempengaruhi besarnya jumlah persediaan. 4. yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk. yaitu persediaan barang-barang yang telah diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim ke pelanggan. Biaya penyimpanan (holding costs atau carrying costs) Merupakan biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan diadakannya persediaan barang. Persediaan barang jadi (finished goods). Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts/component).3. diantaranya (Handoko.2.

Biaya modal (oportunity cost of capital.rata persediaan semakin tinggi. Biaya telepon 4. Biaya -biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah: 1. Biaya keusangan 4. perusahaan menanggung biaya pemesanan (ordercosts atau procurement costs). Biaya pajak persediaan 7. atau perampokan b. Biaya Pemesanan (Pembelian) Merupakan biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan bahan sejak pemesanan bahan sampai bahan tersedia di gudang. pemanas atau pendingin) 2. pengrusakan. yaitu alternatif pendapatan atas dana yang diinvestasikan dalam persediaan) 3. Biaya pencurian. Biaya penghitungan fisik dan kondisi laporan 5. Biaya pengepakan dan penimbangan 6. Pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi 2. Biaya pengiriman kegudang 8. Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan. Upah 3. . Setiap kali barang dipesan. Biaya hutang lancar dan sebagainya. Biaya-biaya pemesanan secara terperinci meliputi : 1. Pengeluaran surat menyurat 5. Biaya asuransi persediaan 6. Biaya pemeriksaan penerimaan 7.

tetapi diproduksi sendiri ”dalam pabrik” perusahaan. Biaya ekspedisi 4. maka biaya pemesanan total akan turun. Biaya persiapan tenaga kerja langsung 3. Biaya scheduling 4. d. Bila bahan-bahan tidak dibeli. bukan biaya nyata melainkan biaya kehilangan kesempatan. Biaya mesin-mesin menganggur 2. Apabila semakin banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan. Biaya. Biaya penyiapan (manufacturing). Biaya ekspedisi dan sebagainya. Biaya ini timbul bilamana persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya ini merupakan biaya yang sulit diperkirakan. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut : 1. Kehilangan langganan 3. jumlah pesanan per periode turun. Biaya pemesanan khusus . c. Kehilangan penjualan 2. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage costs) Merupakan biaya yang timbul sebagai akibat tidak tersedia bahan pada waktu diperlukan. Selisih harga 5.Secara normal biaya per pesanan (di luar biaya bahan dan potongan kuantitas) tidak naik bila kuantitas pesanan bertambah besar. perusahaan menghadapi biaya penyiapan (setup costs) untuk memproduksi komponen tertentu.biaya ini terdiri dari : 1.

Tujuan dari pengendalian dinyatakan sebagai usaha untuk: 1.4 Pengendalian Persediaan Pengendalian persediaan merupakan kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposisi persediaan komponen rakitan (part). sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelajaran perusahaan dengan efektif dan efisien (Assauri. 1999). 2. 3.4 Perencanaan Kebutuhan Bahan (Material Requirement Planning/MRP) Material Requirement Planning (MRP) merupakan suatu sistem perencanaan dan penjadwalan kebutuhan material untuk produksi. Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat mengakibatkan terhentinya proses produksi. yang memerlukan beberapa tahapan/fase. yang dibutuhkan dengan menggunakan waktu tenggang. Sehingga dapat ditentukan kapan dan berapa banyak pesanan untuk masing-masing komponen suatu produk yang akan dibuat. bahan baku dan barang hasil/produk.3. atau dengan kata lain merupakan suatu rencana produksi untuk sejumlah produk jadi yang diterjemahkan ke bahan mentah (komponen). Menjaga agar pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar atau berlebihan.6. sehingga biaya-biaya yang timbul akibat persediaan bahan baku tidak terlalu besar. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari. Tambahan pengeluaran manajerial dan sebagainya. . Terganggunya operasi 7. 2. karena hal ini akan mengakibatkan biaya pemesanan menjadi besar 2.

keragaan pemasok. Dari rencana produksi inilah jadwal dibangun MPS yang memberi informasi apa yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan dan memenuhi rencana permintaan. maka manajer harus mengetahui : 1. dan kapan dibutuhkan. Rencana agregat ini mencakup perencanaan jenis-jenis input. kemampuan teknik. dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Menurut Heizer dan Render (1999). Jadwal produksi master (master production schedule) Master production schedule (MPS) menjabarkan apa yang harus dibuat dan penjadwalan yang harus sesuai dengan jadwal produksi. 2. fluktuasi persediaan. permintaan pelanggan. kandungan. berapa jumlah yang dibutuhkan.Sistem ini memainkan peranan penting dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bahan-bahan dan komponen-komponen apa yang harus dibuat atau dibeli. keuangan. Rencana produksi diturunkan dari teknik perencanaan agregat (agregat planning techniques). Spesifikasi dari daftar bahan (bill of material) Spesifikasi dari bahan material merupakan daftar kualitas komponen. dan kebutuhan bahan untuk membuat produk yang menggambarkan struktur produk. ketersediaan tenaga kerja. Ketersediaan barang persediaan (inventory avaibilty) Catatan persediaan ini menjadi landasan untuk memberikan informasi tentang jumlah persediaan bahan baku. Catatan ini juga mendukung . Bill of materials ini tidak hanya menjabarkan kebutuhan tetapi juga pertimbangan dalam pembiayaannya dan dapat memberikan daftar barang-barang yang harus diproduksi atau dirakit. 3. untuk mengetahui model persediaan terikat.

Posisi pesanan. pembelian (purchase order outstanding) Pengetahuan atas perjanjian pesanan pembelian harus dimiliki bagian pengendalian persediaan. Waktu ancang-ancang (lead time) Pengetahuan atas waktu ancang-ancang untuk masing-masing komponen diperlukan dalam menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan pembelian. Menurut Heizer dan Render (1999) metode MRP dalam pengelolaannya akan lebih komplek. sehingga manajer dapat menyiapkan rencana produksi dan melakukan sistem MRP dengan baik. Langkah selanjutnya adalah membuat rencana kotor kebutuhan bahan (gross material requirement planning). 5. Ketika pemesan terjadi. tetapi dapat menghasilkan banyak keuntungan. Langkah ini mengkombinasikan jadwal produksi master dan jadwal tingkatan waktu (time phased schedule). Keuntungannya antara lain dapat mengurangi persediaan dan biaya gabungan (inventory holding cost) karena biaya itu hanya sebesar materi dan komponen . produksi. catatan tentang persediaan tersebut dan jadwal pengantaran harus tersedia. jika tidak ada persediaan di tangan atau ketika produksi barang harus dimulai untuk masing-masing produksi.penyusunan MRP yang tepat untuk merencanakan jumlah dan waktu pesanan bahan baku yang tepat agar proses produksi tidak terhambat. Rencana kebutuhan kotor memperkirakan jadwal yang menunjukkan kapan suatu barang harus dipesan dari pemasok. atau perakitan yang sesuai dengan waktu produk tersebut dibutuhkan. 4. manejemen harus menyiapkan sebuah jadwal induk produksi.

fasilitas.2 MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ) Teknik EOQ merupakan teknik persediaan yang tertua dan paling umum dikenal. yaitu : 1) Meningkatkan pelayanan dan kepuasan pelanggan 2) Meningkatkan kegiatan. dengan memesan kuantitas bahan baku tepat sebesar yang dibutuhkan. pesanan berkala.1 MRP Teknik Lot for lot Teknik Lot for lot merupakan teknik penentuan ukuran lot.4. prosedur semacam ini konsisten dengan ukuran lot kecil.1999). dan permintaan terikat (Buffa dan Sarin. Teknik ini berusaha menghilangkan biaya penyimpanan atas persediaan bahan yang disimpan. tanpa persediaan pengaman dan tanpa antisipasi atas pesanan lebih lanjut. Kelebihan MRP lainnya dalam menangani barang-barang. dan tenaga kerja 3) Perencanaan dan penjadwalan persediaan yang lebih baik 4) Respon yang cepat terhadap perubahan pasar 5) Mengurangi tingkat persediaan tanpa mengurangi pelayanan terhadap pelanggan 2. teknik ini juga tidak dapat digunakan apabila bahan baku yang digunakan jumlahnya sedikit di pasaran sehingga permintaan tepat pada waktunya tidak dapat dilakukan. 2.yang dibutuhkan dan kalau bias tidak ada biaya sama sekali.4. persediaan tepat waktu rendah. Tetapi teknik ini tidak dapat mengambil keuntungan ekonomis yang berhubungan dengan ukuran pesanan tepat. Model ini mengidentifikasi kuantitas pemesanan atau pembelian optimal .

2004 . Ukuran lot dengan biaya minimum diperoleh pada saat turunan pertama dari biaya total terhadap kuantitas (Q) tahunan sama dengan nol (Buffa. Penjelasan mengenai biaya-biaya tersebut dapat dilihat dalam Gambar 1. Biaya Total Biaya Total Biaya Penyimpanan Biaya Pemesanan EOQ Q (kuantitas) Gambar 1. 1996. biaya-biaya yang signifikan adalah biaya pemesanan (set up cost) dan biaya penyimpanan (holding cost/ carrying cost). yaitu pada saat total biaya pemesanan sama dengan total biaya penyimpanan. dalam bentuk grafik. Biaya. Pada Gambar 1 menunjukkan hubungan antara biaya penyimpanan (holding/carrying cost) dan biaya pemesanan (ordering atau set up cost). 1999. 2004). Tujuan dari sebagian model persediaan adalah meminimalkan biaya total.dengan tujuan meminimalkan biaya persediaan yang terdiri dari biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Kuantitas pesanan tetap yang meminimumkan biaya tersebut terjadi pada saat kurva biaya pemesanan dan kurva biaya penyimpanan berpotongan.biaya lain seperti biaya satuan ini sendiri adalah konstan. Rangkuti. Biaya Persediaan Sumber: Rangkuti. Sehingga dengan meminimalkan jumlah pemesanan dan penyimpanan dapat berarti meminimalkan biaya total. Herjanto. Dengan asumsi-asumsi yang diberikan.

Berdasarkan penjelasan di atas. TC min : dTC =0 dQ dTC H SD = − dQ 2 Q2 0= H SD − 2 Q2 H SD = 2 Q2 2 SD Q2 = H Sehingga rumus dasar dari EOQ adalah: Dimana : EOQ = 2SD H D = Penggunaan dan Permintaan yang diperkirakan per periode waktu (kg) S = Biaya pemesanan per pesanan (Rp) H = Biaya penyimpanan per unit per tahun (Rp) Model EOQ dapat diterapkan jika asumsi-asumsi ini dapat dipenuhi (Handoko.2000) : . maka penentuan kuantitas yang optimal dengan menggunakan model EOQ dapat dirumuskan sebagai berikut : Total biaya per tahun (TC) = Biaya Penyimpanan + Biaya Pemesanan TC = HQ 2 + SD Q Dimana: TC H S = Total biaya tahunan = Biaya penyimpanan (carrying cost) per unit per tahun = Biaya pemesanan (ordering cost) Ukuran lot dengan biaya minimum diperoleh pada saat turunan pertama dari biaya total terhadap kuantitas (Q) tahunan sama dengan 0.

yaitu menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. 5. 2. sehingga apabila terjadi perubahan kualitas produksi menjadi lebih besar.1. 4. Menurut Herjanto (1999). yang merupakan rasio antara biaya pemesanan dengan biaya penyimpanan. Kekurangan teknik ini adalah memberikan biaya penyimpanan yang lebih besar dibandingkan dengan teknik Lot for lot. 3. Permintaan akan produk adalah konstan. Harga per unit adalah konstan Biaya penyimpanan per unit per tahun (H) adalah konstan Biaya pemesanan per pesanan (S) adalah konstan Waktu antara pesanan pesanan dilakukan dan barang-barang diterima (lead time) adalah konstan 6. dan diketahui (deterministik). 2. EPP dihitung dengan rumus : EPP = Keterangan : EPP : Economic Part Period Cp Ch .4. Tidak terjadi kekurangan barang atau back order. Keuntungan penggunaan teknik EOQ adalah pemesanan dilakukan lebih besar dari kebutuhan bersihnya.3 MRP Teknik Part Periode Balancing (PPB) Teknik penyeimbangan bagian periode merupakan pendekatan yang lebih dinamis. metode PPB secara sederhana menambahkan kebutuhan sampai nilai bagian periode mencapai Economic Part Period (EPP). maka persediaan bahan baku tersedia. seragam.

Teknik PPB tidak dapat dilakukan apabila nilai EPP-nya lebih kecil dibandingkan dengan kebutuhan kotornya. Kelemahan teknik PPB apabila diterapkan perusahaan. Kumulatif bagian periode diperoleh dengan mengakumulasikan perkalian kebutuhan suatu periode dengan periode tambahan yang ditanggung.2.2 1. yaitu adanya kemungkinan kerusakan persediaan bahan baku akibat penyimpanan bahan baku di gudang. Tabel 7. Tabel 7 menunjukkan penentuan ukuran lot dengan menggunakan PPB. Besar pesanan adalah sebesar kebutuhan bersih kumulatif yang dilakukan sebelum kebutuhan tersebut terjadi. 1999). dengan harapan akan diterima tepat pada awal periode gabungan tersebut dan akan digunakan selama periode gabungan.3 a Kebutuhan bersih kumulatif Kumulatif bagian periode a x (1-1) b X (2-1) b X (2-1) + c x (3-1) a+b a+b+c Sumber: Buffa dan Sarin. 1999 . Bagian periode yang paling mendekati nilai EPP merupakan gabungan periode yang dipilih (Herjanto.Cp : Biaya pemesanan Per pesanan Ch : Biaya penyimpanan per periode Prinsip dari teknik ini adalah mencoba menggabungkan suatu periode dengan periode berikutnya kemudian menghitung kumulatif bersih dari periode gabungan tersebut serta kumulatif bagian periodenya. Penentuan Lot dengan Teknik PPB Periode yang digabungkan 1 1.

2) Pendekatan tingkat pelayanan. Persediaan penyangga merupakan tindakan penanggulangan yang logis dalam mengatasi permintaan yang flluktuatif. Sedangkan persediaan maksimum dimaksudkan untuk . Persediaan pengaman merupakan persediaan minimum yaitu batas jumlah persediaan yang paling rendah yang harus ada untuk suatu jenis bahan baku.2. Hal ini ditentukan dan diukur dengan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh adanya persediaan pengaman. dan seluruh barang yang dipesan diserahkan kepada pemasok pada waktu yang sama.5 Persediaan Pengaman (Safety Stock) Dalam kondisi aktual. Dengan demikian jumlah sediaan yang mungkin timbul dalam kebijakan EOQ dihilangkan. dalam teknik POQ ini. perusahaan sering dihadapkan dengan fluktuasi permintaan. digunakan perhitungan sebagai berikut : Jumlah pesanan = EOQ / permintaan rata-rata 2. Untuk menghitung jumlah periode kebutuhannya harus dipenuhi oleh satu lot tunggal. Ada beberapa pendekatan dalam menentukan persediaan pengaman : 1) Pendekatan kemungkinan kehabisan bahan baku. Keunggulan teknik POQ adalah dibandingkan dengan teknik EOQ adalah dalam mengurangi biaya penyimpanan sediaan kebutuhan tidak uniform (seragam) karena sediaan yang berlebih dapat dihindarkan. Asumsi yang digunakan adalah waktu tunggu yang terjadi konstan. Persediaan minimum ini dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan kekurangan bahan baku.4 MRP Teknik Period Order Quantity (POQ) Ukuran lot ditetapkan sama dengan kebutuhan aktual dalam jumlah periode yang telah ditetapkan sebelumnya.4.

Metode MRP teknik POQ menghasilkan penghematan . dan ragi. Dalam penentuan titik ini harus memperhatikan besarnya penggunaan bahan baku selama bahan-bahan yang dipesan belum datang dan persediaan minimum. Besarnya penggunaan bahan selama bahan-bahan yang dipesan belum diterima. Maja Sary bakery.menghindari kerugian. mentega. Titik ini menunjukkan kepada bagian pembelian untuk mengadakan pesanan kembali bahan-bahan pesanan untuk menggantikan persediaan yang telah digunakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa biaya persediaan bahan baku metode perusahaan tidak menghasilkan biaya yang efisien dibanding empat metode alternatif lainnya (metode MRP teknik Lot for lot. gula pasir. karena kelebihan bahan baku yang akan menimbulkan pemborosan biaya. Majalengka. telur. 2. Hasil penghematan dari analisis yang dilakukan. dan teknik PPB).7 Hasil Penelitian Terdahulu Sofyan (2004) menganalisis persediaan bahan baku Roti di PT.6 Titik Pemesanan Kembali Titik pemesanan kembali merupakan suatu titik atau batas dari jumlah persediaan yang ada pada suatu saat dimana pesanan harus diadakan kembali. ditentukan oleh dua faktor yaitu lead time dan tingkat penggunaan ratarata. 2.1999). Teknik pengendalian persediaan bahan baku yang digunakan dalam penelitian adalah teknik MRP. teknik EOQ teknik POQ. Jadi besarnya penggunaan bahan baku selama bahan baku dipesan belum diterima adalah hasil perkalian antara waktu yang dibutuhkan untuk memesan (lead time) dan jumlah penggunaan rata-rata bahan tersebut (Assauri. Bahan baku yang dianalisis yaitu tepung terigu.

ragi. mentega. dan kelapa metode MRP teknik PPB menghasilkan penghematan biaya terbesar. Bahan baku yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah susu segar. Walaupun dari aspek biaya persediaan bahan baku dengan metode MRP lebih tinggi. skimmed milk powder (SMP). pada penelitiannya menggunakan analisis dengan teknik EOQ. Okristian (1999) menganalisis persediaan bahan baku dengan teknik ABC yang mengelompokkan bahan baku berdasarkan urutan nilai pembelanjaan tahunan. Urutannya adalah tepung terigu cakra. karena metode yang diterapkan pada perusahaan. telur ayam kampung. Sukabumi. Untuk keempat bahan baku lainnya yaitu bahan baku terigu. shortening. Indolakto. Hasil penelitian menyatakan bahwa kebijakan perusahaan terhadap pengendalian persediaan belum optimal dan perusahaan perlu mengurangi persediaan pengaman untuk ketiga bahan tersebut. persediaan pengaman (safety stock). metode MRP teknik PPB adalah teknik yang mampu menghasilkan penghematan biaya persediaan tertinggi untuk kumulatif kelima bahan baku. namun metode ini lebih tepat digunakan. ragi roti. Alat analisis yang digunakan dalam penelitiannya adalah metode MRP. dan gula pasir. susu bubuk full cream. menyebabkan terjadinya kekurangan bahan baku relatif lebih besar yang . tepung terigu segitiga. Widyastuti (2001) melakukan penelitian dengan judul sistem pengandalian persediaan bahan baku susu kental manis. dan titik pemesanan kembali (reorder point). Berdasarkan analisis perbandingan metode perusahaan dengan metode alternatif lainnya. Hasil penelitianya menunjukkan bahwa biaya persediaan bahan baku dengan metode MRP lebih tinggi dibandingkan dengan metode perusahaan. studi kasus PT. gula.biaya tertinggi untuk pengendalian persediaan bahan baku gula pasir.

Sukabumi. Metode MRP. Penelitian Terdahulu No Peneliti 1 Sofyan M Tahun 2004 Komoditas Tepung terigu. gula. Metode MRP teknik Lot For Lot cocok digunakan pada perusahaan yang melakukan pemesanan hanya sejumlah kebutuhan bersih tanpa adanya persediaan.PPB) Teknik EOQ. Indolakto. . shortening. mentega. dan ragi Susu segar. Metode MRP teknik POQ cocok untuk perusahaan yang memilki kebutuhan bahan baku yang tiap periodenya tidak seragam. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku di PT. gula pasir.menyebabkan timbulnya biaya kekurangan bahan baku berupa biaya pemesanan mendadak. Persediaan pengaman (safety stock). Topik Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku di Perusahaan Majasari bakery Majalengka Sistem Pengandalian Persediaan Bahan Baku Susu kental manis. EOQ. telur ayam kampung. POQ. Jakarta. Studi Kasus PT. skimmed milk powder (SMP) 2 Widyastuti 2001 3 Okristian 1999 Tepung terigu cakra. Alat Analisis MRP (Teknik LFL. Berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu mengenai perencanaan kebutuhan dan pengendalian persediaan bahan baku. ragi roti. Purnama Bakery. telur. dapat disimpulkan bahwa umumnya model analisis untuk persediaan bahan baku adalah metode MRP. Tabel 8. epung terigu segitiga. dan Titik pemesanan kembali (reorder point). dan berupa biaya imbangan (opportunity cost). susu bubuk full cream. dan gula pasir.

Dari permasalahan perusahaan ini dapat dianalisis. Selain itu perlu juga diketahui sistem pesanan yang dilakukan antara perusahaan dengan pemasok.1 Identifkasi Kebijakan Perusahaan dalam Pengadaan Bahan Baku Dalam mengidentifikasi kebijakan yang diterapkan perusahaan untuk pengadaan bahan baku. KERANGKA PEMIKIRAN Penelitian ini dilakukan dengan dilatarbelakangi oleh upaya perusahaan dalam meningkatkan keuntungannya. maka sebelumnya perlu diketahui jenis dan asal bahan baku. 3. fasilitas perusahaan dalam penyimpanan. 3. dan proses pencatatan bahan baku yang dilakukan. waktu tunggu yang diperlukan dalam setiap pengadaan persediaan bahan baku. biaya-biaya yang . sebagai konsekuensi dari tingginya tingkat persediaan bahan baku. Dalam upayanya tersebut sering kali perusahaan terkendala dengan tingginya persediaan bahan baku.III. kemudiaan dilakukan analisis prosedur pembelian.2 Analisis Prosedur Pembelian Bahan Baku Aspek-aspek yang akan dianalisis dalam prosedur pembelian bahan baku mencakup kebutuhan bahan baku pada tiap periode produksi. Hal terpenting yang perlu diketahui juga adalah perlu dipelajari sejarah kekurangan bahan baku yang mungkin pernah dialami oleh perusahaan. Hal ini dapat diketahui dari besarnya penyimpanan bahan baku yang dibebankan pada perusahaan. yang diawali dengan mengidentifikasi kebijakan perusahaan dalam pengadaan bahan baku. prosedur pembelian. dan proses penanganan bahan baku. ini dikarenakan biaya pengendalian bahan baku yang dikeluarkan belum efisien. dan terakhir dengan menganalisis pengendalian persediaan bahan baku.

. Biaya ini meliputi seluruh biaya yang menyangkut penyimpanan barang di tempat penyimpanan akhir di perusahaan. Dalam analisis ini akan banyak digunakan data volume pemakaian bahan baku. Waktu tunggu diperoleh berdasarkan catatan-catatan historis perusahaan. biaya pengangkutan dan bongkar muat (yang ditanggung perusahaan). Komponen biaya pemesanan ini terdiri dari biaya administrai penerimaan dan penempatan order. Biaya pemesanan adalah biaya yang dikeluarkan yang berkaitan dengan pengeluaran surat pesanan atau kontrak pembelian. tetapi tergantung dari jumlah surat pesanan yang dikeluarkan. dan biaya penempatan pesanan (biaya telepon. faximile). surat menyurat. sebab volume pemakaian bahan baku akan menentukan besarnya permintaan bahan baku.dikeluarkan dalam pengadaan persediaan bahan baku. Perhitungan biaya-biaya ini akan menentukan kuantitas pesanan optimal pada analisis pengendalian persediaan. yang merupakan salah satu variabel dalam penentuan kuantitas optimal. biaya ini tidak tergantung dari jumlah barang yang dipesan. harga bahan baku. Contoh dari kebijakan bahan baku misalnya stok minimum dan maksimum persediaan bahan baku untuk persediaan pengaman. dan kebijakan bahan baku yang diterapkan perusahaan. Volume pemakaian bahan baku ini didasarkan pada catatan historis perusahaan. Waktu tunggu digunakan dalam menentukan waktu pelaksanaan pesanan sampai bahan baku diterima perusahaan. Biaya persediaan bahan baku meliputi biaya pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku utama.

3.3 Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Langkah selanjutnya setelah dilakukan analisis prosedur pembelian bahan baku. Economic Order Quantity (EOQ). Komponen yang dibandingkan dalam analisis model pengendalian persediaan bahan baku tersebut meliputi : frekuensi pemesanan.Biaya penyimpanan merupakan biaya yang timbul karena adanya bahan baku yang disimpan perusahaan. Harga bahan baku ini merupakan harga rata-rata pembelian bahan baku oleh perusahaan selama periode pencatatan. biaya peralatan penanganan bahan baku di gudang (listrik. Harga dari bahan baku sangat diperlukan dalam menentukan besarnya beban bunga atas modal (opportunity cost) dalam penentuan biaya penyimpanan. air. dan biaya . biaya total persediaan. Dalam keadaan aktual di lapangan biaya-biaya ini didasarkan pada catatan-catatan historis perusahaan atas biaya tersebut. Selain itu pengetahuan atas besarnya suku bunga bank sangat diperlukan dalam menentukan bunga atas modal ini. biaya upah dan gaji pengawas. baik dari segi tingkat pesanan ataupun kuantitas pembeliannya dengan menggunakan metode Material Requirement Planning (MRP). maka perlu dicari tingkat persediaan bahan baku yang optimal. biaya penyimpanan. dan bunga atas modal yang ditanamkan ke dalam investasi tersebut sebagai komponen opportunity cost. Biaya penyimpanan meliputi biaya gudang. Period Order Quantity (POQ). Metode MRP yang digunakan sebagai perbandingan dengan metode yang digunakan perusahaan adalah metode MRP teknik Lot for Lot (LFL). dan lain-lain). biaya pemesanan. Suku bunga yang dipakai adalah suku bunga rata-rata tabungan deposito pada bank umum (komersial).

untuk mengetahui besarnya penghematan biaya yang dihasilkan masing-masing teknik.pembelian total bahan baku. . Hasil yang diperoleh dari ketiga teknik tersebut kemudian akan dibandingkan dengan metode pengendalian yang dijalankan perusahaan. Dari analisis ini akan menentukan kebijakan bahan baku yang optimal sehingga perusahaan dapat merumuskan suatu strategi alternatif dalam pengendalian persediaan bahan bakunya. Kerangka penelitian operasional peneltian dapat dilihat pada Gambar 2.

Visi Perusahaan: Meningkatkan Keuntungan Perusahaan Masalah Perusahaan: Biaya pengendalian persediaan bahan baku belum efisien. Identifikasi kebijakan Perusahaan dalam Pengadaan Bahan Baku Volume Pemakaian Bahan Baku Biaya Persediaan Bahan Baku Harga Bahan Baku Waktu Tunggu Bahan Baku Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kondisi Aktual Perusahaan Metode MRP teknik LFL Metode MRP teknik EOQ Metode MRP teknik POQ Analisis Perbandingan dan Penghematan Antar Metode Pengendalian Persediaan Tingkat Persediaan dan Kebijakan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Optimal Rekomendasi model Alternnatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku Gambar 2. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional .

Data primer diperoleh secara langsung dari Perusahaan Kecap Segitiga.IV. yang terdiri atas: gambaran umum perusahaan. waktu tunggu (lead time) pembelian bahan baku. kebijakan pengadaan dan penanganan bahan baku di perusahaan yang mencakup jenis bahan baku yang digunakan.1 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Perusahaan Kecap Segitiga. data produksi dan penjualan produk kecap. sistem pemesanan dan penyimpanannya. Wawancara langsung dilakukan kepada karyawan. dan pihak perusahaan yang berkaitan. jumlah kebutuhan bahan baku.2 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif yang terdiri atas data primer dan data sekunder. Pemilihan responden ini dilakukan dengan sengaja (porposive) dengan pertimbangan bahwa responden mengetahui dan dapat memberikan informasi . pemasok. 4. Jalan Raya Tonjong No 54. manajer produksi. Adapun waktu pengambilan data ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2008. 4. Kabupaten Majalengka. pencatatan langsung di lapang dan wawancara dengan pihak perusahaan. Data primer dikumpulkan melalui hasil pengamatan. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa di Kabupaten Majalengka terdapat banyak industri kecap dimana dengan banyaknya industri tersebut menyebabkan persaingan dalam mendapatkan bahan baku.

3 Metode Analisis Data Hasil perolehan data kuantitatif diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel. Biaya pemesanan merupakan semua biaya-biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan pemesanan dan penerimaan bahan baku. hasil laporan penelitian terkait.3. biaya penempatan pesanan (biaya telepon. khususnya mengenai kebijakan pengendalian persediaan bahan baku dan pelaksanaan pengendalian persediaan bahan baku di perusahaan. Oleh sebab itu dalam perhitungannya perlu ditentukan terlebih dahulu komponenkomponen biaya-biaya persediaan yang terjadi. Biaya-biaya ini meliputi biaya pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku. Sedangkan untuk data kualitatif disajikan dalam bentuk deskriptif dengan gambar dan tabel agar mudah dipahami. faximile. surat menyurat). 4. catatan-catatan yang dimiliki perusahaan.1 Pendugaan dan Penentuan Biaya Persediaan Perhitungan-pehitungan yang dilakukan dalam menentukan kuantitas optimal pesanan pada analisis pengendalian persediaan merupakan perhitungan yang melibatkan berbagai jenis biaya yang terkandung dalam persediaan.mengenai kondisi perusahaan dengan baik. 4. Sedangkan data sekunder diperoleh dari (bahan pustaka) buku. Output data kuantitatif disajikan dalam bentuk tabel dan diuraikan secara narasi. literatur perusahaan dan instansi terkait serta internet. Biaya ini meliputi biaya administrasi penempatan dan penerimaan order. Biaya pemesanan setahun diperoleh dengan cara : Tc =f x C .

Biaya penyimpanan dihitung dengan cara: TH = ∑ tHi tHi = Qi x h Maka : TH = ∑ { Qi x h} Dimana : TH = biaya penyimpanan setahun (Rp/kg) tHi = biaya penyimpanan harian (Rp/kg) h = biaya penyimpanan perunit per hari (Rp/kg) Qi = tingkat persediaan ditangan harian (kg) 4.3. biaya administrasi gudang.2 Penyesuaian dan Penentuan Volume Pemakaian Bahan Baku Jumlah pemakaian bahan baku akan banyak digunakan dalam analisis ini. Biaya ini berhubungan dengan jumlah persediaan yang ada di gudang. dan bunga atas modal yang ditanamkan ke dalam investasi. Termasuk didalamnya biaya gudang. Hal ini dikarenakan jumlah pemakaian bahan baku menunjukkan jumlah permintaan akan bahan baku. .Dimana : Tc = Biaya pemesanan setahun f = Frekuensi pemesanan selama setahun C = Biaya pemesanan per pesanan Biaya penyimpanan adalah biaya-biaya yang diperlukan berkenaan dengan diadakannya persediaan. upah dan gaji pegawai gudang.

MRP adalah sistem perencanaan dan penjadwalan kebutuhan material untuk produksi yang memerlukan beberapa tahapan proses atau dengan kata lain adalah suatu rencana produksi untuk sejumlah produk jadi yang diterjemahkan ke bahan mentah yang dibutuhkan dengan menggunakan waktu tenggang. . Metode MRP akan membantu perusahaan dalam menentukan waktu pemesanan dan ukuran lot yang akan dipesan. Model yang digunakan dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis pengendalian persediaan bahan baku adalah model perencanaan kebutuhan bahan (Material Requirement Planning system = MRP). Tujuan dari analisis kuantitatif ini adalah untuk menentukan waktu pesanan yang tepat dan kuantitas pesanan yang optimal. Dengan demikian diharapkan tingkat persediaan di tangan menjadi lebih optimal dan biaya persediaan bahan baku dapat ditekan.4. Format perhitungan dengan sistem MRP adalah seperti ditunjukkan pada Tabel 9. sehingga pesanan dapat diterima pada saat tepat waktu tunggu bahan baku utama didasarkan atas catatan-catatan historis perusahaan.3 Penyesuaian dan Penentuan Waktu Tunggu Pengendalian Persediaan Waktu tunggu berguna dalam menentukan waktu pelaksanaan pesanan. Masalah yang dihadapi perusahaan adalah inefisiensi dalam menentukan ukuran lot yang akan dipesan. sekaligus dapat memberikan model yang dapat menurunkan biaya persediaan minimum bagi perusahaan.4 Analisis Kuantitatif Pengendalian Persediaan Bahan Baku Dalam penelitian ini akan dilakukan perbandingan atas beberapa model tersebut sehingga akan didapat alternatif pilihan model yang tepat bagi perusahaan. 4.3.3.

tetapi tidak terdapat kebutuhan bersih dan rencana penerimaan terjadwal pesanan pada periode sebelumnya. Format Rencana MRP Uraian 1 Kebutuhan kotor (kg) Sediaan di tangan (kg) Penerimaan terjadwal (kg) Kebutuhan bersih (kg) Pesanan yang direncanakan (kg) Sumber : Elwood. .Tabel 9. maka proyeksi persediaan di tangan untuk suatu periode adalah sebesar rencana penerimaan pesanan periode sebelumnya dikurangi dengan kebutuhan bersih periode sebelumnya. 1996 2 3 4 Periode 5 6 7 8 9 10 Langkah-langkah pengisian tabel MRP (Tabel 9) yaitu sebagai berikut: 6) Menentukan kebutuhan kotor Kebutuhan kotor adalah rencana pemakaian bahan baku yang telah ditentukan sebelumnya pada saat penjadwalan produksi. maka proyeksi persediaan di tangan untuk suatu periode adalah sebesar penerimaan terjadwal periode sebelumnya dikurangi kebutuhan kotor periode sebelumnya. Apabila tidak terdapat kebutuhan bersih dan tidak terdapat rencana penerimaan pada periode sebelumnya. 7) Menghitung persediaan di tangan Persediaan di tangan adalah persediaan awal yang ada di tangan pada suatu periode. maka besarnya proyeksi persediaan di tangan periode sebelumnya dikurangi kebutuhan kotor periode sebelumnya. Apabila terdapat kebutuhan bersih dan penerimaan pesanan pada periode sebelumnya. Apabila terdapat penerimaan terjadwal pada periode sebelumnya.

maka kebutuhan bersih untuk periode tersebut adalah kebutuhan kotor dikurangi dengan jumlah penerimaan terjadwal dan proyeksi persediaan periode tersebut. Apabila jumlah penerimaan terjadwal dan proyeksi persediaan ditangan untuk suatu periode lebih besar dari kebutuhan kotor periode tersebut. 5) Rencana pelaksanaan pesanan Rencana pelaksanaan pesanan adalah besar pesanan yang direncanakan akan dipesan pada suatu periode dengan harapan akan diterima oleh perusahaan pada saat yang tepat. Apabila jumlah penerimaan terjadwal dan proyeksi persediaan di tangan untuk suatu periode lebih kecil daripada kebutuhan kotor periode tersebut. . hanya saja periode pelaksanaannya adalah lebih besar waktu tunggu (lead time) pesanan.3) Kebutuhan bersih Kebutuhan bersih adalah kebutuhan bahan baku yang tidak dapat dipenuhi oleh persediaan perusahaan. 4) Rencana penerimaan pesanan Rencana penerimaan pesanan adalah besar pesanan yang direncanakan akan diterima untuk suatu periode. Rencana pesanan sama dengan rencana penerimaan pesanan. maka tidak terdapat kebutuhan bersih untuk periode tersebut. Besar rencana penerimaan pesanan ditentukan berdasarkan teknik penentuan ukuran lot (lot sizing technique) yang digunakan.

serta didasarkan pada jadwal produksi master dan waktu tunggu bahan baku. Setelah diperoleh nilai kuantitas pesanan optimal dengan teknik EOQ. Teknik EOQ. Teknik Economic Order Quantity (EOQ) Teknik EOQ yang sering digunakan dalam persediaan barang-barang bebas. sehingga proyeksi persediaan di tangan dapat ditekan sampai sebesar nol. maka dilakukan perencanaan penerimaan pesanan tepat sebesar kebutuhan bersih. maka perusahaan akan menghabiskan persediaan awal tersebut terlebih dahulu.Ukuran lot adalah jumlah kuantitas yang akan dipesan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan dengan kuantitas yang minimum. dapat juga digunakan dalam teknik penentuan ukuran lot sistem MRP. Teknik Lot for lot (LFL) Hal yang pertama kali dilakukan dalam metode MRP teknik Lot For Lot adalah menentukan kebutuhan kotor. Besar dan waktu pemakaian bahan baku dalam menjalankan teknik ini perlu diketahui secara akurat. diantaranya Lot for lot. yaitu: a. Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam menentukan ukuran lot pada sistem MRP. apabila pada awal periode pengamatan terdapat persediaan yang cukup besar. b. maka . Berikut ini beberapa teknik yang digunakan dalam penentuan lot (lot sizing technique). Pada saat persediaan bahan baku suatu periode tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan kotor. teknik POQ. sehingga tidak perlu dilakukan pemesanan bahan baku sampai diperkirakan persediaan awal tersebut hanya cukup memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan selama waktu tunggu dan tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan selanjutnya.

dilakukan metode MRP seperti yang dilakukan dengan teknik Lot for lot. c. maka perusahaan tidak perlu melakukan rencana permintaan bahan baku sampai persediaan tersebut tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan. Biaya-biaya yang signifikan dalam penentuan optimal dengan teknik EOQ adalah biaya pemesanan (ordering) dan biaya penyimpanan (holding atau carrying). Pesanan yang direncanakan akan diterima pada saat dan jumlah dan jumlah yang mencukupi dan mendekati kebutuhan bersih sesuai dengan kelipatan EOQ yang telah dihitung sebelumnya. Apabila terdapat persediaan awal yang cukup besar. Dengan demikian jumlah persediaan yang mungkin timbul dalam kebijakan EOQ dihilangkan. digunakan perhitungan sebagai berikut : Jumlah pesanan = EOQ / permintaan rata-rata . besar pesanan adalah sebesar kelipatan EOQ yang lebih besar dan terdekat dengan kebutuhan bersih. Teknik Period Order Quantity (POQ) Dalam teknik POQ ukuran lot ditetapkan sama dengan kebutuhan aktual dalam jumlah periode yang telah ditetapkan sebelumnya. sehingga dengan meminimalkan kuantitas pesanan dan penyimpanan dapat berarti meminimalkan biaya total. Keunggulan kebijakan POQ dibandingkan kebijakan EOQ adalah dalam mengurangi biaya penyimpanan sediaan bila kebutuhan tidak uniform (seragam) karena sediaan yang berlebih dapat dihindarkan untuk menghitung jumlah periode kebutuhannya harus dipenuhi oleh satu lot tunggal.

. kemudian dilakukan perhitungan penghematan biaya bahan baku. 4. Selain melakukan perbandingan antar teknik juga dilakukan perbandingan antar teknik-teknik tersebut dengan sistem pengendalian persediaan yang selama ini dilakukan perusahaan. Model alternatif ini tentunya harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan dan kebijakan-kebijakan yang ada dalam perusahaan mengenai pengendalian persediaan bahan baku. banyaknya pesanan. Biaya persediaan dihitung berdasarkan biaya aktual yang dikeluarkan oleh perusahaan. akan dibandingkan besarnya pesanan. 4.5 Analisis Perbandingan Biaya dan Penghematan Dari hasil analisis biaya persediaan bahan baku untuk setiap model yang digunakan. dan biaya persediaan yang timbul. Dari hasil analisis perbandingan dan perhitungan penghematan tersebut dapat dilakukan pemilihan alternatif sistem pengendalian yang tepat bagi perusahaan.e. Metode Perusahaan Metode ini disesuaikan dengan kondisi yang dijalankan perusahaan.3. Metode yang menghasilkan persentase penghematan terbesar dengan biaya persediaan yang paling minimum akan direkomendasikan untuk digunakan perusahaan sebagai alat metode pengendalian persediaan bahan bakunya.4 Rekomendasi Model Alternatif Pengendalian Persediaan Berdasarkan Data Historis Berdasarkan analisis perbandingan biaya dan penghematan akan dipilih suatu model alternatif yang memberikan tingkat biaya persediaan yang paling rendah dan tepat bagi perusahaan. Biaya tersebut meliputi biaya pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku.

5 Definisi Operasional 1. Biaya penyimpanan bahan baku diukur dalam satuan rupiah per kilogram per tahun (Rp/kg/th). Waktu tunggu (lead time) adalah selang antara pemesanan bahan baku dengan saat datang dan diterimanya bahan baku di gudang persediaan. 3. . Besarnya biaya yang dikeluarkan tidak tergantung pada besarnya atau banyaknya barang yang dipesan. 4. Biaya penyimpanan bahan baku yaitu semua biaya yang dikeluarkan perusahaan selama satu tahun produksi karena penyimpanan persediaan bahan baku. Biaya pemesanan diukur dalam rupiah per pesanan (Rp/pesanan). 2. Frekuensi pembelian adalah banyaknya (kali) pembelian yang dilakukan perusahaan selama satu tahun produksi. minggu atau bulan. tergantung dari sifat dan kebutuhan bahan yang diperlukan perusahaan.4. Waktu tunggu ini diukur dalam satuan hari. Untuk bahan baku SMP dan gula dihitung dalam satuan bulan. Biaya pemesanan bahan baku yaitu biaya yang dikeluarkan setiap kali melakukan pemesanan dan penerimaan pesanan.

503.V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN Sejarah Perkembangan Perusahaan Perusahaan Kecap Segitiga merupakan perusahaan perseorangan yang bergerak di bidang usaha industri kecap. Mulai tahun 1964. Berbekal semangat dan kerja keras pengelola perusahaan. dan Bapak Aman sebagai tenaga ahli dalam bidang pemasaran produk. Mulai tahun 1980 kelengkapan . Perusahaan ini mulai dirintis sejak tahun 1958 oleh Bapak H. Pada awal produksinya. Pemberian Lambang atau nama SEGITIGA ini diilhami karena pada awal pendirian perusahaan ini terdapat kesepakatan diantara tiga orang bersaudara. proses legalitas perusahaanpun dilakukan. Bapak Endek sebagai tanaga ahli dalam bagian produksi kecap. Lukman. yaitu dengan melakukan pendaftaran perusahaan. perusahaan ini mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. sesuai SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan tanggal 28 Juli tahun 1964 No. 207/SK/VII/64. sarana dan peralatan yang digunakan adalah sebuah dapur pemasakan yang kecil.1. U/Perek/I-TU/SK/1978 dari Pemerintah Tingkat II Kabupaten Majalengka. Pada tahun 1978 perusahaan memperoleh Surat Izin Usaha (SIU) No. Produk ditawarkan dari rumah ke rumah atau dari toko ke toko yang terletak di sekitar lokasi perusahaan. 5. yaitu Bapak H. Pada awal beroperasinya perusahaan hanya menggunakan peralatan-peralatan sederhana atau hanya diproduksi dalam skala rumah tangga. Pada saat itu produk yang dijual hanya kecap rasa asin dan manis sedang yang dikemas dalam botol kecil yang berukuran 250 ml. Lukman sebagai penanam modal. dan cara penjualannya dilakukan dengan cara berjalan kaki serta memakai sepeda.

Kelengkapan perizinan usaha yang terakhir dilakukan adalah dengan diterimanya surat izin yang diperbaharui dan berlaku selama perusahaan itu berdiri yaitu SIUP Nomor : 517/0025/PK-P/KPP/XI/2001. Kabupaten Majalengka.115321007012. berdasarkan SK Menteri Perindustrian No. 5.1. Perusahaan Kecap Segitiga berlokasi di Jalan Raya Tonjong No. Kecamatan Cigasong.administrasi perizinan dilengkapi oleh perusahaan. dan diperoleh Sertifikat Penyuluhan (SP) No. diantaranya ketersediaan bahan baku. langkah yang ditempuh dalam menjaga kualitas mutu dari aspek higienis produknya adalah dengan mengikuti penyuluhan dari Departemen Kesehatan. serta daerah pemasaran.15/1988 berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 0032-74. Pada tahun 2002 perusahaan telah mengantongi sertifikat halal dari LPPOM MUI Jawa Barat No. Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga Nomor : P-IRT NO.SK. sarana dan prasarana transportasi. SP 005/10. yaitu dengan diterbitkannya Surat Tanda Pendaftaran Industri Kecil No. Tanda Daftar Perusahaan Nomor: Nomor : 102351500113. Nomor: 536/61. 54. Tanda Daftar Industri Surat Ijin Gangguan 530/047/TDI/KOPERINDAG/IX/2002.KPP/VIII/IG/02. 157/M/SK/4/1980. Mutu dan kualitas produk juga sangat diperhatikan oleh perusahaan. Sertifikat Penggunaan Tanda SNI Nomor : 0729/Bd/SNI/IV/1995.207/I/VII/1980.1089/M/9/1987. . tenaga kerja.50/Kandep.2 Lokasi Perusahaan Penentuan Lokasi Perusahaan Kecap Segitiga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pada tahun 1987 ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Surat Standar Industri Indonesia (SII) No. 02192/B/SK/IX/1986. MUI-JB 100250.

Sasaran pasar untuk tahap awal ini pihak perusahaan lebih menekankan masyarakat konsumen tingkat menengah ke bawah.3 Aspek Pemasaran Pada saat ini Perusahaan Kecap SEGI TIGA tengah mempersiapkan diri untuk merubah sifat produksi dari MTO (Make To Order) menjadi MTS (Make To Stock). PT. Pada dasarnya hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang semakin meningkat dari lokal menjadi antar daerah dalam satu propinsi yang pada akhirnya direncanakan pula untuk tingkat pasar nasional atau internasional.Propinsi Jawa Barat. Kabupaten Indramayu. Kabupaten Subang. karena konsumen dapat langsung mendatangi perusahaan karena lokasi yang mudah dijangkau. MQ Bandung untuk memasarkan produk dengan sistem multi level yang dipasarkan secara nasional. Lokasi ini sangat strategis karena terletak di tepi jalan raya. Bandung. Hal ini memberikan keuntungan tersendiri bagi perusahaan. Daerah pemasaran Perusahaan Kecap Segitiga meliputi daerah : Kabupaten Majalengka. Kabupaten Sumedang. Bekasi. dekat dengan lintasan yang menghubungkan lintasan jalan utama Kabupaten Majalengka dengan Kabupaten Cirebon. Sehingga mendukung bagi kelancaran sarana transportasi bahan baku dan pemasaran produk. Letak yang strategis ini juga memudahkan penyerapan tenaga kerja. Perusahaan juga menjalin kerjasama dengan beberapa mitra yaitu : Pesantren Al-Zaitun. Kabupaten Kuningan. Tangerang. CNA (Ummul Quro) Bandung dan PT. Selanjutnya tidak menutup kemungkinan pemasaran dan jaringan pasar perusahaan akan dikembangkan secara bertahap untuk memenuhi tingkat konsumen lain seperti diantaranya . 5.

yaitu tahap persiapan bahan baku. Kedelai terlebih dahulu diperiksa apakah ada kerusakan dalam proses penyimpanan. Restoran asing / fast food. melalui tahap-tahap sebagai berikut.1 Aspek Teknis/Produksi Proses produksi Perusahaan Kecap Segitiga memproduksi tiga jenis produk kecap. Pencucian dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada kedelai. hotel. Kemudian dilakukan pengadukan agar kotoran yang menempel dapat terlepas dari kedelai. kecap asin. dan pasir. Setelah selesai proses pencucian. seiring dengan tingkat penjualan yang meningkat dari tahun ke tahun. tahapan kedua adalah proses produksi dan tahapan terakhir adalah tahap pengemasan. Produksi kecap perusahaan Kecap Segitiga dari tahun ketahun mengalami peningkatan. Proses persiapan bahan baku dimulai dari bahan baku yang berupa kacang kedelai hitam. Berikut ini akan dijelaskan ketiga tahapan proses produksi tersebut.4 5. segera dikeluarkan dari gudang.4. seperti tanah. yaitu kecap manis. Proses produksi atau proses pembuatan kecap pada Perusahaan Kecap Segitiga. Ketiga jenis kecap tersebut dikemas dalam beberapa ukuran dan merek yang berbeda. yaitu proses pengolahan kecap yang pertama.mensuplai ke atau untuk super market. Setelah bahan baku kedelai siap maka dilakukan proses produksi. Proses produksi kecap pada Perusahaan Kecap Segitiga terdiri dari tiga tahap. Kedelai yang telah memenuhi syarat diolah selanjutnya dicuci dengan menggunakan air bersih. dan kecap manis sedang. 5. tempat wisata. adalah tahap pencucian kedelai. .

dengan sesekali dilakukan pengadukan dan penggosokan. Tahap pengolahan berikutnya adalah perendaman dalam larutan garam.kedelai kemudian ditiriskan dengan tujuan untuk mengurangi kandungan air sisa pencucian dengan menggunakan bakul. perebusan dilakukan selama tiga jam. dan didiamkan lagi selama tiga hari tiga malam. Perebusan ini untuk menyiapkan kedelai sebagai media pertumbuhan jamur yang baik. Larutan garam yang digunakan adalah hasil pelarutan 37 kg garam dalam 140 liter air. Penjemuran dilakukan kurang lebih satu hari. Untuk mempercepat fermentasi kedelai dilakukan penutupan tampah agar suhu menjadi hangat dan stabil. untuk membersihkan kedelai dari jamur-jamur yang menempel. dibawah terik sinar matahari selama 2 hari. kemudian dilakukan penjemuran kedua untuk menghentikan proses fermentasi. selanjutnya dilakukan penjemuran dalam wadah (tampah) dengan ketebalan 2 cm. Kacang kedelai yang telah ditiriskan dari hasil perebusan selama 15 menit. Setelah proses fermentasi kedelai sempurna. tergantung intesintas cahaya matahari sampai tingkat kadar air tertentu (setengah kering). dan dapat digunakan untuk merendam . Selanjutnya dilakukan perebusan kedelai. Pembuatan larutan garam yaitu dengan mencampurkan air bersih dengan garam lalu direbus sampai mendidih. Kemudian tumpukan kedelai dibalik supaya pertumbuhan jamur merata. Kedelai yang telah kering. kemudian ditebar di atas tampah-tampah dengan ketebalan dua sampai tiga cm dan disimpan dalam rak-rak penyimpanan di ruang fermentasi selama dua hari dua malam. sampai keempukan kedelai mencapai tingkat yang diinginkan. sampai tumbuh jamur. Proses perebusan dilakukan dilakukan di atas tungku pembakaran.

sehingga mikroorganisme yang merugikan dapat dihilangkan. dan ditutup pada malam hari. Perebusan ini dilakukan selama 2 jam. Perendaman dilakukan dalam tong –tong kayu selama 15 hari.100 kg kedelai. dengan menggunakan pengaduk. Sedangkan air rebusan dicampurkan dengan air dari hasil rendaman. kedelai dipisahkan dari air rebusannya dengan cara disaring memakai kain halus. yang terlebih dahulu . maka kedelai yang ada dalam tong-tong kayu kemudian diangkat. karena pada proses ini bertujuan agar sari-sari makanan pada kedelai terserap dalam larutan. Pengaturan suhu dilakukan dengan cara membuka tutup tong pada siang hari. Setelah perebusan selesai. dengan menggunakan kancah di atas tungku pembakaran. hasilnya dinamakan ampas kecap. sehingga yang tertinggal adalah air rendaman saja (wedang). Kedelai hasil perendaman masih harus direbus kembali dengan air tawar biasa sampai mendidih. Proses perendaman (pembelengan) adalah proses pencampuran larutan garam dengan kedelai hasil dari fermentasi. Campuran air rebusan dan air rendaman kemudian dimasak selama empat jam hingga mencapai tingkat kekentalan yang diinginkan. Setelah proses perendaman selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan. Pada proses ini dilakukan pencampuran dengan gula aren dan gula kelapa. agar sari-sari kedelai dapat terserap sempurna ke dalam air rebusan. Proses perendaman ini juga bertujuan agar mikroorganisme yang hanya bertahan dalam larutan garam saja yang dapat tumbuh. Makin lama proses perendaman semakin baik kecap yang dihasilkan. agar proses perendaman merata. Penyaringan dilakukan selama 15 menit dengan menggunakan saringan ayakan. Pengadukan dilakukan seminggu sekali.

Penyaringan ini berlangsung selama 30 menit. Satu peti berisi 30 botol kecap. Perusahaan Kecap Segitiga telah memiliki pasar tersendiri. Kecap yang telah selesai dikemas dimasukan dalam kemasan peti dan kardus. Kecap kemudian dimasukan ke dalam tong-tong kayu yang telah disiapkan. Kecap yang telah melalui proses pendinginan kemudian dimasukan ke dalam botol dengan berbagai ukuran. Perusahaan berpendapat bahwa teknologi yang dipakai saat ini akan tetap dipertahankan. karena hal itu telah menjadi ciri tersendiri Perusahaan Kecap Segitiga. Hampir semua kegiatan dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan. agar kecap benar-benar dingin sebelum dimasukan kedalam botol. yaitu dengan penyaringan larutan gula.telah melalui proses pemasakan. Untuk dilakukan proses pendinginan. Petipeti kecap disimpan di gudang dan siap untuk dipasarkan. Proses pendiaman kecap ini dilakukan selam 2-3 hari. maka dapat dikategorikan ke dalam pembuatan kecap dengan teknologi tradisional. yaitu melayani konsumen yang mengkonsumsi kecap yang diolah secara tradisional. kemudian ditutup serta diberi segel. Tujuan dari penyaringan ini adalah untuk memisahkan kecap dari gumpalan-gumpalan yang terbentuk pada saat pemasakan. Alasan pemilihan penggunaan teknologi tradisional dikarenakan. guna memisahkan kotoran yang terdapat pada gula. . Tahapan terakhir adalah pengemasan atau pembotolan. Apabila dilihat dari proses produksi yang dilakukan oleh Perusahaan Kecap Segitiga. Kecap yang telah dimasak kemudian disaring dengan menggunakan kain halus.

5 Aspek Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor yang harus dimilki perusahaan. sedangkan tenaga kerja non produksi adalah tenaga kerja yang menangani masalah administari. pemasaran dan keuangan. Untuk divisi keuangan dan SDM terdiri dari 1 orang lulusan S1.6 Fasilitas Pabrik dan Kantor Perusahaan Kecap Segitiga mempunyai areal seluas 2086 m2 dengan luas bangunan 1275 m2. Divisi pemasaran terdiri dari 3 orang lulusan SMP. Tenaga kerja produksi adalah tenaga kerja yang melakukan proses produksi kecap. Hal ini dikarenakan permintaan konsumen yang fluktuatif. 3 orang lulusan SMA. Saat ini tenaga kerja pada Perusahaan Kecap Segitiga berjumlah 40 orang yang dibagi dalam tiga divisi. sehingga dapat mengurangi pengangguran di daerah sekitar perusahaan.5. Area perusahaan terbagi dua. perusahaan akan menambah tenaga kerja bagian produksi sebagai tenaga kerja kontrak. yaitu divisi produksi terdiri dari 9 orang lulusan SD. 14 orang lulusan SMP dan 7 orang lulusan SMA. Tenaga kerja pada Perusahaan Kecap Segitiga merupakan tenaga kerja yang berasal dari lingkungan sekitar perusahaan. Tenaga kerja yang ada pada Perusahaan Kecap Segitiga terdiri dari dua macam tenaga kerja produksi dan tenaga kerja non produksi. 1 orang lulusan D3. dan 2 orang lulusan S1. Apabila terjadi kenaikan permintaan. . Menurut pernyataan manajer jumlah tenaga kerja pada Perusahaan Kecap Segitiga bersifat fleksibel artinya dapat berubah sewaktu-waktu khususnya untuk bagian produksi. karena terpisah oleh jalan raya. 5. Sumberdaya di sini adalah tenaga kerja yang digunakan perusahaan dalam melaksanakan usahanya.

Peralatan kantor perusahaan telah cukup lengkap.Sarana yang dimiliki perusahaan terdiri dari bangunan pabrik dan kantor. komputer. Untuk tempat penjemuran kedelai dan botol kemasan dilakukan di tempat terbuka. . Bangunan pabrik terdiri dari gudang penyimpanan bahan baku. ruang fermentasi. mulai alat tulis. area produksi. telepon dan lemari-lemari tempat penyimpanan berkas. yang diperuntukkan untuk proses produksi kecap. mushola. Bangunan pabrik terdiri dari beberapa bagian. Untuk menunjang kelancaran transportasi kecap ke tempat pemasaran. toilet. ruang staf administrasi dan keuangan. yaitu di area pekarangan pabrik yang cukup luas. perusahaan mempunyai tiga unit kendaraan mobil box. tempat penjemuran. dan satu unit kendaraan mobil operasional. Bangunan kantor terdiri dari ruangan pimpinan perusahaan. ruang tamu serta tempat penjualan secara langsung.

Komponen Bahan-Bahan Pembentuk Kecap pada Perusahaan Kecap Segitiga Jenis Bahan Baku Persentase (%) Kacang Kedelai Hitam Gula Aren Gula kelapa Garam Lain-lain Sumber : Perusahaan Kecap Segitiga.1 Jenis dan Asal Bahan Baku Perusahaan Kecap Segitiga dalam memproduksi kecapnya memerlukan berbagai bahan baku dalam proses pembuatannya. garam. serta beberapa bahan pembantu yang diperlukan dalam jumlah yang sangat kecil. bahan baku yang digunakan dalam membuat kecap adalah gula kelapa kedelai hitam. Bahan baku tersebut diperoleh perusahaan dengan membeli melalui supplier yang telah menjadi mitra perusahaan dalam pengadaan bahan bakunya. garam .VI. Berdasarkan wawancara dengan bagian produksi. SISTEM PENANGANAN DAN PENGADAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA 6. 2008 23 35 30 10 2 . Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 10. Secara berurutan. Gula aren merupakan bahan baku utama yang berkontribusi paling besar terhadap keseluruhan proses pembuatan kecap yaitu sebesar 35 persen. dengan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan perusahaan. Ketersediaan bahan baku dalam jumlah dan waktu yang tepat akan mempengaruhi produktifitas perusahaan dalam memproduksi kecap. diperoleh keterangan mengenai bahan baku kecap Segitiga. Tabel 10. Bahan baku tersebut meliputi kacang kedelai hitam. gula kelapa dan gula aren.

Kacang kedelai yang digunakan pada Perusahaan Kecap Segitiga merupakan kacang kedelai hitam lokal. Bahan baku kacang kedelai hitam. dimana keempat bahan baku tersebut memiliki kontribusi yang besar terhadap biaya pengadaan bahan baku yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. garam. yang diperoleh langsung dari distributor kacang kedelai dari Kabupaten Cirebon. Melalui proses fermentasi dari kacang kedelai ini akan dihasilkan sari kedelai. tetapi ampas dari sisa pembuatan kecap yang dapat dijual kembali sebagai bahan makanan. gula aren.1 Kacang Kedelai Kacang kedelai merupakan bahan baku utama dalam proses pembuatan kecap.Kacang kedelai ini dibeli dalam kemasan karung dengan berat 50 kg. . dengan harga Rp 5 092. selain itu perusahaan pernah mencoba satu kali menggunakan kacang kedelai hitam impor.1. gula kelapa. tidak laku dipasaran dikarenakan kurang disukai oleh konsumen. diperoleh keterangan bahan baku yang vital bagi perusahaan dalam memproduksi kecap yaitu kacang kedelai hitam. garam termasuk bahan baku utama Perusahaan Kecap Segitiga. gula aren. 6.00 per kg . Tingkat kepentingan bahan baku ini didasarkan pada tingkat pemakaian bahan baku tersebut dalam proses produksi. Alasan perusahaan memilih kacang Kedelai hitam lokal dikarenakan menurut perusahaan bahwa kacang kedelai lokal memiliki pati yang tinggi sehingga dapat menghasilkan sari kedelai yang berkualitas. yang merupakan bahan pembentuk kecap. gula kelapa.Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak perusahaan. karena dari sari kedelai inilah kecap dihasilkan.

Tetapi gula kelapa memiliki kekurangan yaitu tidak tahan terhadap penyimpanan dan suhu lembab atau panas. 6. 6. Pemilihan jenis gula ini dikarenakan gula aren merupakan gula merah yang cukup digemari masyarakat sebagai pemanis. dengan harga Rp 5 625.00 per kg.1. harga gula kelapa Rp 4 928. Garam ini dibeli dalam kemasan karung dengan berat 60 kg dengan harga Rp 459.2 Gula Aren Gula aren adalah gula merah yang terbuat dari sari air tandan buah aren.3 Gula Kelapa Gula kelapa merupakan gula yang dibuat dari sari air tandan buah kelapa.00 per kg.1. Gula aren ini diperoleh perusahaan dengan cara memesan melalui distributor di daerah Kabupaten Bandung. Garam ini diperoleh dari distributor garam di daerah Kabupaten Cirebon. . pemilihan gula ini karena gula kelapa memiliki harga yang lebih murah dibandingkan dengan gula aren.6. dan pemberi rasa asin pada produk kecap.1.4 Garam Garam ini digunakan sebagai pembuatan air garam dalam proses perendaman kacang kedelai hitam hasil fermentasi. Gula ini diperoleh perusahaan dengan cara memesan dari distributor di daerah Banjar Kabupaten Ciamis. Gula ini digunakan sebagai pemanis tambahan dari gula aren.00 per kg. serta memiliki aroma yang harum dan warna gula yang gelap.

Catatan tersebut akan diberikan kepada bagian keuangan kemudian bagian keuangan yang akan melakukan pemesanan bahan baku kepada distributor sesuai dengan jumlah yang diminta oleh bagian gudang. gula aren. Kemudian bagian produksi akan mencatat jumlah permintaan tersebut dan memperhitungkan kebutuhan bahan baku produksi. Pembelian bahan baku penolong dilakukan secara tunai. Prosedur pembelian dan pemesanan bahan baku pada Perusahaan Kecap Segitiga adalah dimulai dari bagian pemasaran yang memberikan perkiraan jumlah permintaan berdasarkan jadwal rencana produksi kepada bagian produksi. . Hal ini juga dilakukan karena lokasi distributor bahan baku yang relatif jauh. dan garam adalah dengan cara melakukan pembelian melalui sistem jatuh tempo. gula kelapa. Waktu jatuh tempo untuk bahan baku kacang kedelai hitam. dan garam memiliki waktu jatuh tempo selama satu bulan semenjak bahan baku diterima perusahaan. gula aren. dengan tambahan biaya upah pada setiap pengiriman masingmasing bahan baku. kemudian mencatat jumlah bahan baku yang harus dibeli. Bagian gudang akan melihat stok bahan baku yang tersedia. gula kelapa. Secara sistematis prosedur pembelian bahan baku terlihat pada Gambar 3.2 Prosedur Pengadaan Bahan Baku pada Perusahaan Kecap Segitiga Sistem pengadaan bahan baku utama yang diterapkan oleh Perusahaan Kecap Segitiga dalam memperoleh bahan baku kacang kedelai hitam. dan menyerahkan ke bagian gudang.6.

6. Ketika bahan baku yang dipesan diterima di gudang. bagian keuangan akan mengirimkan Purchasing Order (PO) dengan menelepon atau cukup dengan mengirimkan SMS kepada pemasok bahan baku kacang kedelai hitam. gula aren.Bagian Pemasaran Bagian Produksi Bagian Gudang Distributor Bagian Keuangan Gambar 3 . kuantitas bahan baku. Sampai saat ini syarat dan mutu bahan baku yang diterapkan perusahaan kepada pemasok selalu terpenuhi dengan baik. gula kelapa. label segel. dan garam. Waktu tunggu yang diperlukan dalam proses pemesanan untuk bahan baku kacang . Prosedur Umum Pembelian Bahan Baku Perusahaan Kecap Segitiga Dalam prosedur pemesanan bahan baku. Hal ini dilakukan karena sudah terciptanya kepercayaan antara kedua belah pihak. kemudian dilakukan pemeriksaan sampel bahan baku yang meliputi kondisi kemasan.3 Waktu Tunggu Bahan Baku ( Lead Time) pada Perusahaan Kecap Segitiga Waktu tunggu bahan baku merupakan waktu yang dibutuhkan bahan baku semenjak dipesan kepada distributor sampai bahan baku diterima perusahaan. sehingga pengembalian bahan baku dapat dihindarkan.

gula aren. 6. Lokasi gudang bahan baku ditempatkan di area pabrik. gula kelapa dan garam ditempatkan di atas papan kayu agar tidak terjadi kontak langsung antara bahan baku dengan lantai. serta tanpa ada perlakuan khusus. dan garam dalam proses produksi kecap pada Perusahaan Kecap Segitiga disesuaikan dengan . bahan baku yang pertama kali masuk akan digunakan terlebih dahulu untuk proses produksi. gula kelapa. dan gula kelapa adalah satu minggu dan sedangkan garam memiliki waktu tunggu selama dua minggu. gula kelapa dan garam serta bahan baku lainnya ditempatkan di gudang tertutup.5 Volume Pemakaian Bahan Baku Pemakaian bahan baku kacang kedelai. gula aren . 6.4 Proses Penanganan Bahan Baku Proses penanganan bahan baku meliputi proses penyimpanan bahan baku di gudang penyimpanan dan pengeluaran bahan baku dari gudang untuk dilakukan proses produksi.kedalai hitam. Penempatan bahan baku pada perusahaan dilakukan di gudang yang berbeda. Penyimpanan bahan baku kacang kedelai hitam. gula aren. Hal tersebut dilakukan karena bahan baku tersebut memiliki daya simpan yang terbatas dan menghindari kerugian atas penyimpanan bahan baku yang terlalu lama. Pemeriksaan bahan baku hanya dilakukan pada saat bahan baku tiba di perusahaan untuk dilakukan pengecekan mutu bahan baku. gula aren. hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses pengambilan bahan baku dalam proses produksi. Perusahaan Kecap Segitiga memiliki tiga gudang bahan baku. Pengeluaran bahan baku dalam proses produksinya mengikuti sistem First In First Out (FIFO). Penyusunan bahan baku kacang kedelai.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pada bulan Agustus 2007 permintaan tertinggi untuk produk jenis kecap manis sedang. Pemakaian tertinggi dan terendah bahan baku berbeda-beda untuk tiap bulannya.rencana produksi yang telah disusun oleh bagian produksi. serta garam sebesar 3 776.0 kg terjadi pada bulan Maret 2007. Berdasarkan rencana prduksi tersebut perusahaan dapat memperkirakan kebutuhan bahan baku yang akan digunakan. Untuk pemakaian bahan baku terendah untuk kacang kedelai hitam terjadi pada bulan April 2007 yaitu sebesar 1 000. serta garam sebesar 1 585.0 kg pada bulan Agustus 2007. Peningkatan dan penurunan pemakaian bahan baku sejalan dengan tingkat penjualan kecap.0 kg pada bulan Januari 2008. gula kelapa sebesar 17 800.0 kg pada bulan Februari 2008. gula aren sebesar 16 395.0 kg pada bulan September 2007. tergantung dari permintaan jenis kecap di pasaran. dan garam terjadi pada bulan Juli 2007 yaitu sebesar 6 281. gula aren sebesar 500. . Pemakaian tertinggi untuk bahan baku kacang kedelai hitam. Volume pemakaian bahan baku menunjukkan adanya variasi antara bulan yang satu dengan bulan yang lainnya. gula aren. pada bulan Januari dan Februari 2008 permintaan tertinggi untuk jenis kecap manis. gula kelapa sebesar 2 711.0 kg. Penentuan rencana produksi berdasarkan pesanan para sales-sales dan kapasitas produksi perusahaan. Volume pemakaian bahan baku kecap di Perusahaan Kecap Segitiga dapat dilihat pada Tabel 11. gula kelapa.0 kg untuk kacang kedelai hitam.0 kg pada bulan Agustus 2007.

0 7 949. berkenaan dengan dilakukannya pembelian bahan baku yang tidak dipengaruhi oleh kuantitas bahan baku yang dipesan.0 700.0 17 800.0 1 500.0 1 000.0 10 014. yang menghasilkan opportunity cost berupa bunga bank 6.1 Gula Kelapa 5 241.0 5 663.0 6 281.0 8 167. Hal ini dikarenakan sebagai perbandingan jika uang yang digunakan untuk pengadaan bahan baku disimpan dalam bentuk tabungan.0 3 776.0 3 946.6.0 15 494.0 3 754.0 95 389.0 9 266.0 11 933.0 2 560.0 3 517. biaya administrasi dan biaya upah.0 9 836.0 3 165.0 2 711.0 3 788.0 500.0 14 085.0 3 247.0 3 569. Total biaya pemesanan .0 16 395.5 4 431.0 5 411.0 44 982.Tabel 11.0 4 334.0 13 875.0 3 194.0 2 935.0 2 166.0 10 856.0 5 724.6 Biaya-Biaya Persediaan Biaya persediaan Perusahaan Kecap Segitiga secara umum dapat dikelompokan menjadi dua. Untuk biaya penyimpanan hanya terdiri dari biaya opportunity cost.2 Garam 1 585. Bulan Volume Pemakaian Bahan Baku Preusan Kecap Segitiga Periode Maret 2007-Februari 2008 (kg) Kacang Kedelai Hitam Gula Aren Maret 2007 April 2007 Mei 2007 Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Jumlah Rata-rata 1 160.0 0.0 5 409. 2008 6.0 2 185.0 4 245.0 91 142.1 Biaya Pemesanan Biaya pemesanan bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan.2 Sumber : Data Perusahaan (diolah).0 3 106.0 3 568. Biaya pemesanan terdiri dari biaya telepon.0 2 276.0 3 672.0 5 329. yaitu biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.0 37 250.0 4 763.0 2 126.0 7 595.0 6 272.0 10 623.

(b) Biaya telepon adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk melakukan pemesanan kepada pemasok bahan baku.00 per pesanan. dan garam dapat diuraikan sebagai berikut: (a) Biaya administrasi.adalah hasil dari perkalian antara frekuensi pemesanan dengan biaya per pesanan.00 per pesanan.00.00 per pesanan dan total biaya administrasi pemesanan garam sebesar Rp 1500. biaya transportasi . Biaya pemesanan bersifat konstan dimana besarnya biaya yang muncul tidak dipengaruhi besarnya kuantitas bahan baku yang dipesan oleh perusahaan. Komponen biaya pemesanan bahan baku kacang kedelai hitam. gula aren. Besarnya biaya transportasi untuk bahan baku kedelai adalah sebesar Rp 250 000. dan digunakan pula sebagai upah bongkar muat bahan baku. Komponen biaya pemesanan untuk berbagai jenis bahan baku terdiri dari biaya telepon. Rp 10 000.00. Total biaya telepon per pesanan Perusahaan Kecap Segitiga untuk bahan baku kedelai adalah Rp 9 500.00 untuk pemesanan garam. meliputi biaya pembuatan catatan atau dokumen pemesanan dan penerimaan bahan baku.00 untuk pemesanan gula aren. gula kelapa. Total biaya administrasi per pesanan perusahaan Segitiga untuk bahan baku kedelai adalah Rp 2 000. total biaya administrasi pemesanan gula aren adalah sebesar Rp 1 500.00 per pesanan. Rp 8 000. biaya administrasi dan biaya transportasi.00 untuk pemesanan gula kelapa dan Rp 8 000. total biaya administrasi pemesanan gula kelapa sebesar Rp 1 500. (c) Biaya upah adalah biaya tambahan dari distributor kepada perusahaan dalam setiap pengiriman bahan baku. Biasanya biaya ini digunakan sebagai uang lelah supir yang membawa bahan baku.

00 100 000. Besarnya biaya ini tergantung dari lamanya .00 109 500.00 10 000.00 Sumber: wawancara dengan pihak perusahaan. biaya fasilitas.00 100 000.00 1 500. Biaya tetap tidak tergantung dengan jumlah bahan baku yang disimpan.00 111 500.00 2 000.00. maka dibebankan pada biaya overhead perusahaan.00 1 500. Biaya Pemesanan Bahan Baku Preusan Kecap Segitiga Periode Maret 2007 – Februari 2008 (Rupiah/pesanan) Kacang Gula Aren Kedelai Hitam 9 500.untuk bahan baku gula aren.00 1 500. Komponen biaya penyimpanan untuk keempat bahan baku hanya terdiri dari biaya kesempatan (opportunity cost). Biaya penyimpanan yang dibahas adalah biaya yang berubah karena adanya bahan baku yang disimpan. 2008 6. Opportunity cost adalah biaya yang dikorbankan karena adanya persediaan sehingga perusahaan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan apabila dana tersebut disimpan di bank.00 261 500. oleh karena itu tidak diperhitungkan dalam pengendalian persediaan. gula kelapa dan garam masing-masing sebesar Rp 100 000. Biaya listrik.00 Garam Jenis Biaya -Biaya telepon -Biaya administrasi -Biaya upah Total 8 000.2 Biaya Penyimpanan Biaya penyimpanan merupakan biaya yang dikeluarkan karena perusahaan menyimpan bahan baku di gudang. biaya penyusutan gudang dan biaya lain-lain termasuk biaya tetap.00 109 500. Biaya penyimpanan adalah hasil perkalian dari tingkat persediaan rata-rata dengan biaya penyimpanan bahan baku per unit..00 100 000.6. Tabel 12.00 Gula Kelapa 8 000.00 250 000. Komponen besarnya biaya pemesanan per pesanan untuk setiap jenis bahan baku Perusahaan Kecap Segitiga secara rinci dapat dilihat pada Tabel 12.

Semakin banyak persediaan di gudang. Tingkat suku bunga yang digunakan adalah rata-rata tingkat suku bunga simpanan berjangka rupiah bank umum (12 bulan) periode bulan Maret 2007sampai dengan Februari 2008.56 8.46/kg (Rp 459.00 x 8. yaitu sebesar 8.38 34.barang disimpan dan tingkat suku bunga yang berlaku.00 x 8.38 persen.00 x 8.71 448. dan biaya penyimpanan terkecil adalah untuk bahan baku garam yaitu sebesar Rp 0.74 per minggu. Biaya Penyimpanan Bahan Baku Perusahaan Kecap Segitiga Bahan Baku Kedelai Gula aren Gula kelapa Garam Komponen Biaya Opportunity cost Opportunity cost Opportunity cost Opportunity cost Nilai (Rp/kg/Tahun) 426.21 37. dan garam sebesar Rp 38.63 per minggu.38%) per tahun.63 7. gula kelapa sebesar Rp 412.46 Nilai Nilai (Rp/kg/bulan) (Rp/kg/minggu) 35.38%) per tahun.94 0.38%) per tahun. Biaya penyimpanan untuk bahan baku gula aren merupakan biaya penyimpanan terbesar yaitu sebesar Rp 8.21 8. gula aren sebesar Rp 448.41 3.74 Sumber: Data Perusahaan (diolah). 2008 Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa biaya penyimpanan untuk setiap bahan baku berbeda. maka akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap biaya penyimpanan. Tabel 13.00 x 8. Opportunity cost tahunan merupakan perkalian dari rata-rata tingkat suku bunga deposito per tahun dengan rata-rata harga bahan baku.71/kg (Rp 5 092.38%) per tahun.97 38. Opportunity cost untuk bahan baku kedelai sebesar Rp 426.50 412.50/kg (Rp 5 352.97/kg (Rp 4 928. .

Sehingga diharapkan metode pengendalian persediaan yang dilakukan ini dapat lebih mengefisienkan biaya yang yang harus dikeluarkan perusahaan. dan garam.VII. Metode . gula aren. Pengendalian persediaan juga berguna untuk mengantisipasi kelebihan bahan baku yang dapat meningkatkan biaya penyimpanan. Penelitian ini untuk mencari alternatif metode pengendalian bahan baku yang dapat dilakukan oleh perusahaan. biaya penyimpanan bahan baku dan biaya pembelian bahan baku.1 Pengendalian Persediaan Bahan Baku Perusahaan Pengendalian persediaan dilakukan oleh perusahaan bertujuan untuk memperlancar proses produksi dan melindungi perusahaan agar tidak terjadi kekurangan bahan baku. terkait dengan pengadaan bahan baku serta dapat menjamin kontinuitas kegiatan produksi perusahaan. Teknik yang digunakan dalam metode ini adalah teknik Lot For Lot (LFL). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perencanaan bahan baku (Material Requirement Planning/MRP). Komponen biaya merupakan komponen yang menjadi acuan. ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PERUSAHAAN KECAP SEGITIGA 7. dimana pemesanan bahan baku didasarkan pada kebutuhan produksi dan kondisi persediaan bahan baku di gudang. Pada Perusahaan Kecap Segitiga sendiri telah memiliki metode sendiri dalam pengadaan bahan baku. Economic Order Quantity (EOQ). yang dapat menghambat kegiatan produksi perusahaan. dalam mencari teknik mana yang tepat untuk digunakan sebagai teknik pengendalian persediaan bahan baku kacang kedelai. Biaya pengadaan bahan baku tersebut meliputi biaya pemesanan bahan baku. gula kelapa. dan Period Order Quantity (POQ).

0 11 257.0 Februari 2008 13 697.0 9 516.0 5 961. hal ini dilakukan karena untuk mengurangi tingkat kerusakan bahan baku gula. untuk gula aren dan gula kelapa setiap 2-3 kali perbulan.33 Garam 26 804.0 Agustus 2007 46 065.0 12 790.0 17 023.0 181 972.0 44 798.0 37 964. Contoh penggunaan lembaran MRP untuk bahan baku kacang kedelai akan dilampirkan pada lampiran 9.0 Januari 2008 20 148.pemesanan bahan baku yang dilakukan oleh perusahaan adalah untuk kacang kedelai setiap satu bulan sekali.tersebut haruslah dapat meminimumkan total biaya persediaan dan biaya pembelian bahan baku.0 9 595.Februari 2008 (Kg) Bulan Kedelai Maret 2007 8 290.0 Rata-rata 24 781. Gula Kelapa dan Garam Selama Periode Maret 2007.0 31 340.0 217 890.0 13 490. Sistem pengendalian persediaan yang dilakukan perusahaan pada dasarnya bertujuan untuk melakukan pemesanan sejumlah kebutuhan untuk beberapa waktu tertentu (sesuai lead time).0 16 263.0 April 2007 7 150.5 24 448.0 4 385. Lead time untuk bahan baku kacang kedelai. dan garam adalah selama dua minggu.0 2.33 Gula Kelapa 5 597.0 181 57.0 14 859.0 15 164.0 21 725.0 Oktober 2007 32 319. 11 dan 13 sedangkan untuk bahan baku lainnya tidak dilampirkan karena pada prinsipnya penggunaan lembaran MRP sam untuk semua bahan baku.5 21 396.0 18 841. Tabel 14.5.0 205 612.5 5 386.0 Desember 2007 15 966.0 23 992.0 39 640.0 14 587. Sedangkan untuk garam dilakukan setiap 2-3 bulan sekali.0 12 438. 2008 Gula aren 3 367.0 10 423.0 12 131.0 20 691.0 Juni 2007 51 473.0 33 217.0 4 028.50 .0 17 134.0 9 660.0 27 083. gula kelapa adalah satu minggu.5 11 278. Dalam pembahasan metode pengendalian persediaan ini digunakan lembaran MRP.0 Juli 2007 37 126.0 September 2007 19 142.0 November 2007 14 839.0 Total 297 379.5 6 399.58 Sumber : Data Perusahaan (diolah).0 23 097. gula aren. Gula Aren.0 Mei 2007 31 164. Persediaan Kacang Kedelai.

Biaya penyimpanan bahan baku perusahaan terbesar pada periode yang . Adanya persediaan bahan baku akan berpengaruh terhadap biaya penyimpanan perusahaan. Sedangkan biaya pemesanan terkecil yaitu untuk bahan baku garam sebesar Rp 675 000. Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa selama periode Maret 2007 sampai periode Februari 2008.0 kg.68 217 890.0 1 774 431.56 2 409 000.0 1 444 857.43 Sumber : Data Perusahaan (diolah).00 untuk bahan baku kedelai dengan frekuensi pemesanan sebanyak 11 kali.0 kg.21 297 379. Semakin besar tingkat persediaan bahan baku yang disimpan.56 3 853 857.0 161 238.68 Biaya total persediaan (Rp/tahun) 5 317 981.60 Total Biaya Persediaan 14 106 009.0 kg. gula aren sebesar 205 612.00 109 500.00 11 21 22 6 Total biaya Rp/kg Jumlah Total Biaya Pemesanan persediaan Penyimpanan Per tahun (Kg/tahun) Per tahun (Rp/tahun) (Rp/tahun) 2 876 500. dan merupakan biaya pemesanan terbesar yang harus dikeluarkan perusahaan. total persediaan yang tersimpan di gudang untuk kacang kedelai adalah sebesar 297 379.Persediaan bahan baku kacang kedelai. gula kelapa sebesar 181 972. Biaya Persediaan Bahan Baku Periode Maret 2007–Februari 2008 Menggunakan Kondisi Aktual Perusahaan Bahan Baku Biaya Pemesanan/tahun Rp/pesan Frek Biaya Penyimpanan/tahun Kedelai Gula aren Gula kelapa Garam 261 500. 2008 Total biaya persediaan bahan baku per tahun adalah total biaya antara pemesanan bahan baku dan biaya penyimpanan bahan baku. Pada Tabel 15 biaya pemesanan perusahaan pada periode Maret 2007 sampai dengan Februari 2008 adalah sebesar Rp 2 876 500. gula kelapa.60 818 238. Tabel 15.63 205 612. dan garam sebesar 217 890.00 109 500.00 dengan frekuensi pemesanan sebanyak 6 kali.59 4 115 931.00 657 000.00 8.94 0.59 2 341 500.00 7.74 181 972. gula aren.00 8. maka semakin besar biaya penyimpanannya.0 2 441 481.0 kg. dan garam setiap bulannya dapat dilihat pada Tabel 15.00 111 500.

Perusahaan saat ini memiliki empat pemasok untuk bahan baku gula kelapa. dan garam yang ditujukan untuk produksi kecap pada .00 1 340 203 482. gula aren.60. Pada Tabel 15 terlihat bahwa biaya pemesanan lebih besar dari biaya penyimpanan. Biaya Pembelian Bahan Baku Periode Maret 2007-Februari 2008 Kuantitas (kg) Kedelai 45 988 Gula Aren 107 886 Gula Kelapa 97 394. dan garam masing-masing satu pemasok. Biaya persediaan total perusahaan terbesar adalah untuk biaya persediaan bahan baku kedelai yaitu sebesar Rp 5 317 981.00 5 625. 2008 Bahan Baku Harga beli (Rp/kg) 5 092. Total Biaya persediaan untuk keempat bahan baku yang harus ditanggung perusahaan adalah sebesar Rp 14 106 009. Tabel 16. agar biaya persediaan bahan baku dapat ditekan.5 Garam 41 860 Total Biaya Pembelian Sumber : Data Perusahaan (diolah). hal ini tergantung dari perkiraan permintaan konsumen akan produk kecap.00 479 960 096.00 459.43. sedangkan biaya penyimpanan terendah adalah untuk bahan baku garam sebesar Rp 161 238.59 dan biaya persediaan terendah adalah sebesar Rp 818 238.00 19 213 740.00 Biaya Pembelian Total (Rp/tahun) 234 170 896. gula kelapa.60 untuk bahan baku garam. pembelian dilakukan secara bergiliran untuk tiap pemasok dan untuk pemasok kedelai. hal ini dikarenakan tingginya biaya per pesanan yang harus ditanggung perusahaan.59 karena bahan baku kedelai merupakan bahan baku dengan tingkat persediaan terbesar pada perusahaan.00 606 858 750. Kuantitas pemesanan yang dilakukan perusahaan berbeda-beda setiap periode pemesanan.00 Pada Tabel 16 dapat dilihat rincian biaya pembelian bahan baku kedelai.sama yaitu untuk bahan baku kedelai sebesar Rp 2 441 481. Sehingga perusahaan perlu menurunkan frekuensi pemesanan dengan tanpa menggangu proses produksi.00 4 928. gula aren.

gula kelapa seminggu sebelum adanya kebutuhan bersih persediaan bahan baku tersebut. biaya penyimpanan. dan Teknik POQ.00 dan merupakan bahan baku dengan kuantitas pemesanan yang terbesar dari ketiga bahan baku lainnya. Keempat bahan baku yang digunakan oleh perusahaan merupakan bahan baku untuk produksi kecap yang bersifat terikat. . gula kelapa. gula aren. gula aren. Teknik EOQ. dan garam.00 dan biaya pembelian total Rp 1 340 203 482. Rencana pelaksanaan pesanan merupakan perhitungan waktu mundur dari rencana penerimaan pesanan. Oleh karena itu perusahaan harus memesan kedelai. rencana pelaksanaan pesanan sangat bergantung dari lead time pengadaan bahan baku kedelai. terutama dalam hal ukuran lot pemesanan. Biaya pembelian terbesar yaitu untuk bahan baku gula aren yang mencapai Rp 606 858 750.2 Metode Material Requirement Planning (MRP) MRP merupakan metode perencanaan dan pengendalian pesanan dan persediaan untuk barang-barang dengan sifat permintaan dependent (terikat). sedangkan untuk garam perusahaan harus memesan dua minggu sebelum timbulnya kebutuhan bersih. besarnya tingkat persediaan dan kuantitas pembelian kumulatif bahan baku.periode produksi Maret 2007 sampai dengan Februari 2008. Dalam hal ini. Sedangkan biaya pembelian terkecil yaitu untuk bahan baku garam yaitu sebesar Rp 19 213 740. biaya pemesanan. 7.00 untuk keempat bahan baku. Teknik MRP yang digunakan dalam pembahasan ini yaitu mengkaji Teknik LFL. Oleh karena itu metode MRP ini dapat digunakan sebagai alternatif bagi perusahaan untuk merencanakan kebutuhan bahan baku.

5 kg hal ini disebabkan juga karena adanya persediaan pada awal periode.1 Metode MRP Teknik Lot For Lot (LFL) Penggunaan metode LFL mengharuskan perusahaan melakukan pemesanan bahan baku kedelai. gula aren. sehingga berdampak pada melambungnya biaya pemesanan. karena perusahaan tidak memiliki persediaan pada awal periode tersebut.2. Biaya total persediaan untuk keempat bahan baku teknik LFL lebih tinggi dari teknik perusahaan yaitu sebesar Rp 27 659748. Dengan menggunakan teknik LFL. Frekuensi pemesanan pada teknik LFL ini lebih besar dari frekuensi yang dilakukan perusahaan. Jumlah persediaan di tangan pada periode tersebut dengan metode LFL adalah sebanyak 7 640 kg untuk bahan baku kedelai. Jumlah persediaan untuk bahan baku gula aren dan gula kelapa sebesar nol.40 dan Rp 2 024. dan garam sebesar kebutuhan bersih keempat bahan baku tersebut. persediaan perusahaan sebesar 2 735.7. dan 48 kali untuk pembelian bahan baku garam. sehingga perusahaan hanya melakukan pemesanan sebesar kebutuhan bersih untuk setiap periodenya. teknik ini memiliki kelemahan bila bahan baku mengalami keterlambatan. Adanya persediaan tersebut mengakibatkan perusahaan menanggung biaya penyimpanan untuk kedelai sebesar Rp 62 724. tanpa menghendaki adanya persediaan. 51 kali untuk bahan baku gula aren. Sedangkan untuk bahan baku garam. gula kelapa.dalam teknik ini sebanyak 44 kali untuk bahan baku kedelai.70 dengan . perusahaan melakukan pemesanan bahan baku untuk setiap periode.27 untuk biaya penyimpanan garam. dimana proses produksi akan terganggu dikarenakan perusahaan tidak memiliki persediaan. adanya persediaan pada bahan baku kedelai ini adalah karena adanya persediaan pada awal periode. 47 kali untuk gula kelapa.

dan kuantitas pembelian terkecil yaitu untuk pemesanan bahan baku garam sebesar 35 579.00 111 500.00 5 146 500.0 62 724.00 5 146 500. 2008 Kuantitas pembelian bahan baku untuk produksi kecap pada periode yang sama.00 2 735.00. karena dalam melakukan pesanan bahan baku didasarkan pada jumlah kebutuhan bersih pada setiap periode. Biaya persediaan yang tinggi ini disebabkan karena dalam teknik LFL frekuensi pemesanan bahan baku menjadi lebih sering karena pemesanan bahan baku berdasarkan pada kebutuhan bersih tiap periode.00 5 256 000.0 kg.00 44 51 47 48 (Rp/tahun) Total biaya Rp/kg Jumlah Total Biaya pemesanan per persediaan Penyimpanan tahun setahun Pertahun (Rp/tahun) (Kg/tahun) (Rp/tahun) 11 506 000.74 0.63 0.27 5 258 024. dengan teknik LFL untuk ke empat bahan baku lebih kecil dari kuantitas yang dibeli dengan teknik perusahaan.00 5 686 500.0 0. Secara rinci mengenai biaya persediaan bahan baku dengan teknik LFL dapat dilihat pada Tabel 17.40.40 11 568 724. .94 0.0 0.5 2 024.70 Sumber: Data perusahaan (diolah).30 Total Biaya Persediaan 27 659 748.00 7. Tabel 17.00 109 500.40 5 686 500.bahan baku dengan biaya persediaan terbesar adalah bahanbaku kedelai sebesar Rp 11 568 724. dengan biaya pembelian sebesar Rp 16 330 761.00 8. Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Kecap Segitiga dengan Teknik Lot For Lot Periode Maret 2007-Februari 2008 Bahan Baku Biaya Pemesanan/tahun Rp/pesan Frek Biaya penyimpanan /tahun Biaya Total Persediaan Kedelai Gula aren Gula kelapa garam 261 500. Rincian Biaya pembelian untuk ke empat bahan baku secara rinci dalam Tabel 18.0 kg dengan biaya pembelian sebesar Rp 544 916 250.00 8.00 109 500.00.21 7 640. Kuantitas pembelian bahan baku terbesar dalam teknik ini yaitu untuk pembelian bahan baku gula aren sebesar 96 874.

2008 7.91 kg.25 kg untuk setiap kali pemesanan bahan baku.2 Metode MRP Teknik Economic Order Quantity (EOQ) Penggunaan teknik EOQ mengharuskan perusahaan melakukan pemesanan kacang kedelai. untuk gula aren sebesar 6 938.23 kg.00 544 916 250.50 dan untuk jumlah persediaan yang paling rendah yaitu untuk bahan baku gula aren .0 96 874. gula kelapa sebesar 6 952. apabila kebutuhan bersih melebihi dari tingkat EOQ-nya.0 35 579.7 kg per tahun dengan biaya persediaan sebesar Rp 3 095 014.0 Harga beli (Rp/kg) 5 092. dan 3 kali pemesanan untuk bahan baku garam. Pada teknik ini perusahaan melakukan pemesanan sebanyak 6 kali pemesanan untuk kacang kedelai. Teknik ini memungkinkan perusahaan dapat menekan biaya pemesanan dengan penghematan yang cukup besar. Nilai EOQ untuk kacang kedelai adalah 7 423. gula aren. dan EOQ garam sebesar 14 560.00 16 330 761.00 Sumber : Data Perusahaan (diolah).00 4 928. Jumlah persediaan bahan baku yang paling besar untuk teknik ini yaitu untuk bahan baku gula kelapa sebanyak 195 614.00 1 228 302 327.Tabel 18.18 kg. untuk gula aren sebanyak 13 kali pemesanan. gula kelapa.00 Biaya pembelian total (Rp/tahun) 217 922 324.00 5 625. Dengan menggunakan teknik EOQ perusahaan melakukan pemesanan bahan baku yang lebih rendah dibandingkan dengan teknik yang dilakukan perusahaan. dan garam sebesar tingkat EOQnya atau kelipatan dari EOQ pada setiap kali melakukan pemesanan bahan baku. gula kelapa sebanyak 12 kali pemesanan. Kuantitas Pembelian Bahan Baku Teknik Lot For Lot Periode Maret 2007-Februari 2008 Bahan Baku kedelai gula aren gula kelapa garam Total biaya pembelian Kuantitas (Kg) 42 797.00 459.2.0 91 139.00 449 132 992.

00 13 1 449 500.6 1 341 642. Rincian biaya pembelian bahan baku dengan teknik EOQ dapat dilihat pada Tabel 20.00 Biaya Total Persediaan Biaya Penyimpanan/tahun Jumlah Total Biaya (Rp/tahun) Rp/kg persediaan Penyimpanan setahun per tahun (kg/tahun) (Rp/tahun) 8.90 383 742.50 8.7 1 553 180.48. karena dalam pembelian bahan baku.90 2 867 180. yaitu sebesar 97 340. perusahaan tidak melihat kebutuhan bersih yang dapat dipenuhi oleh persediaan di tangan.50 3 095 014.00.24 Kedelai Gula aren Gula kelapa Garam 195 614. Perusahaan melakukan pembelian dengan kuantitas yang lebih besar.7 kg. Biaya pembelian total untuk keempat bahan baku dengan teknik EOQ adalah Rp 1 272 921 929.00 109 500. 2008 Kuantitas pembelian bahan baku gula kelapa untuk produksi kecap pada periode Maret 2007 sampai dengan Februari 2008 menempati urutan terbesar dalam pembelian bahan baku.20 kuantitas tersebut masih lebih rendah daripada yang dibeli perusahaan.00 3 328 500. Penghematan dari teknik ini hampir setengahnya dari biaya persediaan yang ditanggung perusahaan.00 111 500.00 6 1 569 000.48 Sumber : Data Perusahaan (diolah).94 0. Biaya persediaan total untuk keempat bahan baku dengan menggunakan teknik EOQ adalah sebesar Rp 9 365 809. Tabel 19. .10 612 471.0 283 969.00 12 1 314 000.60.8 kg.74 155 462. dengan biaya pembelian sebesar Rp 20 049 487. Secara rinci biaya peresediaan bahan baku dengan teknik EOQ dapat dilihat pada Tabel 19.24 2 791 142.sebesar 155 462.24.7 1 526 014.00 109 500.63 7. Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Kecap Segitiga Teknik Economic Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008 Bahan baku Biaya Pemesanan/tahun Rp/pesan Frek Total Biaya Pemesanan Per tahun (Rp/tahun) 261 500.6 kg dengan biaya persediaan sebesar Rp 2 791 142. dengan biaya pembelian sebesar Rp 479 694 969. Sedangkan kuantitas pembelian bahan baku terendah yaitu untuk bahan baku garam sebesar 43 630.10 Total Biaya Persediaan 9 365 809.21 185 872.

00 Biaya pembelian total (Rp/tahun) 226 793 097. kelebihan persediaan yang mungkin timbul dalam kebijakan EOQ dapat ditekan.0 97 340. Kuntitas Pembelian Bahan Baku Teknik Economic Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008 Bahan Baku kedelai gula aren gula kelapa garam Total biaya pembelian Kuantitas (Kg) 44 539. 2008 7.00 Sumber : Data Perusahaan (diolah).2. sehingga .8 Harga beli (Rp/kg) 5 092.3 Metode MRP Teknik Period Order Quantity (POQ) Dalam teknik POQ. karena sediaan yang berlebihan dapat dihindari. Dengan demikian. sebesar 20 periode. Dengan menggunakan teknik POQ ini tingkat persediaan bahan baku perusahaan lebih rendah dibanding dengan teknik LFL dan teknik EOQ.60 20 049 487. Hasil perhitungan jumlah periode yang harus dipenuhi menghasilkan nilai POQ untuk kedelai adalah 9 periode. Kebutuhan akan bahan baku perusahaan dalam produksi kecap memiliki kebutuhan yang tidak seragam tiap periodenya.00 5 625. ukuran lot ditetapkan sama dengan kebutuhan aktual dalam jumlah periode tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. yang berarti kebutuhan untuk sembilan periode atau sembilan minggu harus dipenuhi oleh satu kali pemesanan bahan baku kedelai.Tabel 20.00 4 928.20 546 384 375.00 459.20 1 272 921 929. sedangkan untuk garam memiliki nilai POQ yang cukup besar yaitu. oleh karena itu teknik POQ cocok diterapkan dalam menganalisis persediaan ke empat bahan baku pada Perusahaan Kecap Segitiga. Keunggulan teknik POQ dibandingkan dengan teknik EOQ adalah dalam mengurangi biaya penyimpanan sediaan bila kebutuhan tidak uniform.00 479 694 969.1 97 135. Untuk bahan baku gula aren dan gula kelapa nilai POQ-nya sebesar 4 periode.7 43 680.

0 kg.0 1 219 134. Tabel 21. untuk bahan baku garam sebesar 383 742. Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Kecap Segitiga Teknik Period Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008 Biaya Pemesanan/tahun Biaya Penympanan/tahun Rp/pesan Frek Total Biaya Rp/kg Jumlah Total Biaya Pemesanan persediaan Penyimpanan Per tahun setahun per tahun (Rp/tahun) (kg/tahun) (Rp/tahun) Kedelai 261 500.dengan teknik ini perusahaan dapat menekan biaya persediaan dari biaya penyimpanan. dengan biaya penyimpanan sebesar Rp 1 115 530.00 0.74 383 742.08 8 278 409. Sedangkan tingkat persediaan yang paling rendah yaitu untuk bahan baku gula kelapa sebesar 140 495. bahan baku gula kelapa 12 kali. Secara rinci biaya persediaan bahan baku yang ditanggung perusahaan dengan menggunakan teknik POQ.00 5 1 307 500.00 12 1 338 000. lebih rendah dibandingkan dengan teknik LFL dan EOQ. 2008 Bahan baku Biaya Total Persediaan (Rp/tahun) 2 679 276. Total biaya persediaan untuk keempat bahan baku dalam teknik ini yang harus ditanggung perusahaan adalah sebesar Rp 8 278 409.0 1 115 530. dan bahan baku garam 3 kali.30 Garam 109 500.0 283 969.63 141 267.65.0 kg.21 167 086.94 140 495.65 Tingkat persediaan bahan baku yang tertinggi dalam teknik ini yaitu. Kuantitas pembelian bahan baku dalam teknik POQ. Perusahaan melakukan pembelian .30. bahan baku gula aren 12 kali.00 8.21 Gula Kelapa 109 500.06 2 557 134.30 612 469.06 Gula aren 111 500.00 7.0 1 371 776.00 8. tetapi karena biaya opportunity cost nya rendah maka biaya penyimpanan untuk bahan baku garam menjadi yang paling rendah diantara keempat bahan baku yang lain. dapat dilihat dalam Tabel 21.08 Biaya Total Persediaan Sumber : Data Perusahaan (diolah).00 12 1 314 000.00 3 328 500.21 2 429 530. Pemesanan bahan baku yang dilakukan dalam teknik ini untuk bahan baku kedelai sebanyak 5 kali.

50 1 228 478 728.00 5 625. Tabel 22. dan garam sebesar 35 664. hal ini dikarenakan dalam . dan POQ selama periode Maret 2007 sampai dengan Februari 2008.0 96 874.50 Sumber : Data Perusahaan (diolah). Dari hasil perhitungan diperoleh hasil bahwa metode MRP menghasilkan biaya persediaan yang lebih rendah dari biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.50.00 544 916 250.3 Analisis Perbandingan Metode Pengendalian Persediaan Berdasarkan hasil perhitungan metode pengendalian persediaan perusahaan dengan teknik LFL.00 459.00 16 370 005. Ringkasan perhitungan disajikan pada Tabel 23.0 kg. Kuantitas Pembelian Bahan Baku Teknik Period Order Quantity Periode Maret 2007-Februari 2008 Bahan Baku kedelai gula aren gula kelap garam Total biaya pembelian Kuantitas (Kg) 42 822. gula kelapa dan garam dapat dilihat pada Tabel 22. gula aren. sehingga biaya penyimpanan yang lebih rendah. gula kelapa sebesar 91 141. Selain itu metode MRP juga dapat menghasilkan frekuensi pemesanan yang lebih rendah dari frekuensi yang dilakukan oleh perusahaan.5 Harga beli (Rp/kg) 5 092.bahan baku kedelai sebesar 42 822. dapat dilakukan perbandingan diantara teknikteknik tersebut. gula aren sebesar 96 874. 2008 7.00 449 142 848.00 4 928.00 dan biaya pembelian terendah yaitu untuk bahan baku garam sebesar Rp 16 370 005.00 Biaya Pembelian total (Rp/tahun) 218 049 624. Biaya pembelian terbesar adalah untuk bahan baku gula aren. Kecuali metode MRP teknik LFL yang menghasilkan biaya persediaan yang lebih besar dari biaya perusahaan. yaitu mencapai Rp 544 916 250.0 kg.0 35 664.5 kg.0 91 141.0 kg. hal ini dikarenakan Metode MRP dapat menekan tingkat persediaan. Secara lebih rinci biaya pembelian untuk bahan baku kedelai. EOQ.

3 persen dibanding dengan yang dilakukan oleh perusahaan.00 Biaya Pembelian Garam (Rp) 19 213 740. tenik LFL dan EOQ. Pada Tabel 24 dapat dilihat bahwa penghematan biaya persediaan untuk keempat bahan baku dengan metode POQ mampu menghemat sebesar 41. 2008 Dalam metode MRP teknik POQ menghasilkan biaya persediaan total dan juga biaya pembelian total untuk keempat bahan baku yang paling rendah dibanding dengan yang dilakukan oleh perusahaan.6 persen.00 Biaya Pembelian Gula Aren (Rp) 606 858 750.00 POQ 5 kali Kedelai 12 kali Gula aren 12 kali Gula Kelapa 3 Kali Garam 2 679 276.00 Biaya Pembelian Total (Rp) 1 340 203 482.10 9 365 809.48 226 792 995. Perbandingan Frekuensi.00 Sumber : Data Perusahaan (diolah).30 Biaya Persediaan Total (Rp) 14 106 009.70 Biaya Pembelian Kedelai (Rp) 234 170 896.00 479 694 969.00 449 142 848.43 27 659 748.00 544 916 250.08 8 278 409.24 2 867 180.50 2 791 142.56 5 686 500.21 2 429 530.65 218 049 624. Biaya Persediaan dan Biaya Pembelian Total Bahan Baku Periode Maret 2007-Februari 2008 Uraian Frekuensi Pemesanan Perusahaan 11 kali Kedelai 21 kali gula aren 22 kali gula kelapa 6 kali garam LFL 44 kali kedelai 51 kali Gula aren 47 kali Gula kelapa 48 kali garam EOQ 6 kali Kedelai 13 kali Gulaaren 12 kali Gula kelapa 3 kali garam 3 095 014.50 Biaya persediaan Kedelai (Rp) 5 317 981.68 5 146 500.59 11 568 724. Penghematan yang dihasilkan dengan metode POQ tersebut adalah yang terbesar. Tabel 23.00 Biaya Persediaan Gula Kelapa (Rp) 3 853 857.00 217 922 324.00 Biaya Pembelian Gula Kelapa (Rp) 479 960 096. .00 544 916 250.00 449 132 992.00 1 228 302 327.90 612 471.20 546 384 375.20 1 272 921 929. sehingga berdampak pada biaya penyimpanan yang melonjak naik. yaitu sebesar 49.00 16 330 761.60 20 049 487.00 Biaya persediaan Garam (Rp) 818 238.00 16 370 005.teknik LFL menghasilkan frekuensi yang lebih banyak. Biaya persediaan kedelai memiliki persentase terbesar dalam penghematan dengan metode POQ.50 1 228 478 728.60 5 258 024.06 2 557 134.30 612 469.40 Biaya Persediaan Gula Aren (Rp) 4 115 931.

95 7 377 900.6 3.6 37.50 4 740 199.00 30 817 248.8 8.00 Biaya Pembelian Total 111 901 155. Tetapi apabila dilihat dari nominal.00 2 843 734.52 5 827 599.2 25.00 atau sebesar 10.3 5.32 Biaya persediaan Garam -4 439 785.40 -835 747.0 8.3 EOQ (Rp) 2 222 967.3 6.2 6.8 32.0 111 724 755.1 10.00 265 126.09 1 324 789. bahan baku gula aren memiliki kontribusi yang besar dalam penghematan biaya pembelian yaitu sebesar Rp 61 942 500.8 persen.53 1 558 797.00 Sumber : Data Perusahaan (diolah).00 (%) 41. .00 Biaya Pembelian Gula Kelapa 30 827 104.20 67 281 555.0 25.78 16 121 272.50 (%) 49.3 persen.80 60 484 375.5 -542.67 Biaya Persediaan Total -13 553 739. EOQ dan POQ Uraian LFL (Rp) Biaya persediaan Kedelai -6 250 742.81 Biaya persediaan Gula aren -1 570 568.00 Biaya Pembelian Garam 2 882 979.2 6.0 0.38 205 769.8 37.35 1 424 327.4 15.44 Biaya Persediaan Gula Kelapa -1 292 642.5 -38.78 205 767.9 10. bahan baku garam memeliki kontribusi dalam biaya penghematan yaitu sebesar 14. Penghematan Biaya Persediaan dan Pembelian dengan MRP Teknik LFL. Apabila dilihat dari persentase penghematan pembelian teknik POQ.4 14. penghematan ini sama besarnya dalam teknik LFL.50 Sedangkan untuk penghematan terhadap biaya pembelian metode POQ juga menghasilkan penghematan terbesar yaitu 8.1 6. 2008 (%) -117.6 25.32 986 676.00 61 942 500.Tabel 24.1 41.1 33.27 Biaya Pembelian Kedelai 16 248 572.9 10.2 persen dari biaya pembelian yang harus ditanggung perusahaan.6 -96.00 Biaya pembelian Gula aren 61 942 500.2 -33.1 -4 POQ (Rp) 2 638 705.

maka dapat direkomendasikan suatu model alternatif pengendalian persediaan bahan baku kedelai.00. Sementara metode MRP teknik EOQ dan teknik POQ memungkinkan perusahaan melakukan penghematan terhadap biaya persediaan. Biaya persediaan bahan baku yang ditanggung perusahaan pada periode tersebut mencapai Rp 14 106 009. hal ini dikarenakan teknik LFL menyebabkan meningkatnya biaya persediaan. Sedangkan teknik LFL tidak dapat digunakan dalam model alternatif pengendalian persediaan. serta melalui penghematan biaya pembelian bahan baku. Tingginya biaya pembelian bahan baku yang ditanggung . sebagai akibat frekuensi pemesanan yang menjadi lebih banyak. melalui penghematan biaya persediaan bahan baku yang terdiri dari biaya pemesanan dan biaya penyimpanan bahan baku. gula aren.43 dengan biaya pembelian bahan baku sebesar Rp 1 340 203 482. gula kelapa. gula aren. terutama teknik POQ.4 Rekomendasi Alternatif Metode Pengendalian Persediaan Bahan Baku Berdasarkan Data Historis Peerusahaan Periode Maret 2007Februari 2008 Berdasarkan hasil analisis perbandingan biaya persediaan dan biaya pembelian bahan baku serta penghematan metode MRP terhadap kebijakan perusahaan periode Maret 2007 sampai dengan Februari 2008. Hasil analisis perbandingan biaya persediaan dan penghematan metode MRP terhadap kebijakan perusahaan periode Maret 2007 sampai dengan Februari 2008. dan garam Perusahaan Kecap Segitiga. gula kelapa dan garam perusahaan belum optimal.7. menunjukan bahwa kebijakan pengendalian persediaan kedelai. Metode alternatif ini diharapkan dapat menghemat biaya perusahaan. artinya biaya persediaan masih dapat ditekan lebih rendah.

50 atau dapat menghemat biaya pembelian perusahaan sebesar 8.00.3%) serta penghematan terhadap biaya pembelian sebesar Rp 111 724 755. karena sediaan yang berlebihan dapat dihindari. yaitu untuk kacang kedelai batas penyimpan selama 12 minggu. gula aren dan gula kelapa selama 8 minggu. Dimana nilai POQ untuk kacang kedelai sebanyak sembilan periode. gula kelapa.perusahaan disebabkan oleh kuantitas selama periode tersebut. Oleh karena itu metode MRP teknik POQ dapat direkomendasikan sebagai metode pengendalian persediaan bahan baku kedelai. Hasil analisis dengan metode POQ dalam penelitian ini dapat memberikan alternatif bagi perusahaan untuk menghasilkan penghematan terhadap biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. bahan baku yang dibeli perusahaan lebih banyak dibandingkan dengan metode MRP teknik LFL. gula aren.78 (41. Teknik ini dapat mengurangi biaya penyimpanan sediaan bila kebutuhan tidak uniform. EOQ dan POQ. dan garam pada Perusahaan Kecap Segitiga. . Nilai POQ ini sesuai dengan batas lama penyimpanan bahan baku yang perusahaan terapkan. dan garam lebih dari 20 minggu. Dengan demikian kelebihan sediaan yang mungkin timbul dalam kebijakan EOQ dihilangkan. Penghematan biaya pembelian ini terutama terhadap biaya pembelian gula aren yang menghasilkan penghematan sebesar Rp 61 942 500.3 persen. Metode POQ digunakan untuk menentukan ukuran lot yang ditetapkan sama dengan kebutuhan aktual dalam jumlah periode tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. gula aren dan gula kelapa nilai POQ-nya 4 periode dan garam dengan nilai POQ sebanyak 20 periode. Penghematan biaya persediaan perusahaan dengan teknik POQ untuk keempat bahan baku. yaitu sebesar Rp 5 827 599.

00 atau perusahaan mengalami penghematan biaya pembelian bahan baku sebesar Rp 111 724 755.43 dengan biaya pembelian sebesar Rp 1 340 203 482.65 atau perusahaan dapat menghemat biaya persediaan sebesar Rp 5 827 599. Metode MRP teknik POQ dapat dijadikan model alternatif dalam sistem pengendalian persediaan bahan baku yang optimal dilihat dari biaya persediaan bahan baku. Penghematan terhadap biaya persediaan . dibandingkan dengan sistem pengendalian menggunakan metode MRP teknik EOQ dan POQ.3 persen dari biaya aktual yang dikeluarkan oleh Perusahaan Kecap Segitiga. 2.78 atau sebesar 41.3 persen. baik dari penghematan biaya persediaan maupun dari biaya pembelian bahan baku.00 atau sebesar 8. Biaya pembelian dengan teknik POQ sebesar Rp 1 228 478 728. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya biaya persediaan yang dihasilkan perusahaan. Sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku kecap di Perusahaan Kecap Segitiga belum optimal dari segi biaya persediaan.00 sedangkan dengan teknik POQ biaya persediaan perusahaan sebesar Rp 8 278 409. Biaya yang dikeluarkan oleh Perusahaan kecap segitga untuk persediaan sebesar Rp 14 106 009.1 Kesimpulan 1. Metode MRP teknik POQ menghasilkan penghematan terbesar dibanding dengan dengan kondisi aktual perusahaan saat ini. 3. Sedangkan dengan menggunakan teknik LFL biaya persediaan yang akan ditanggung perusahaan mengalami peningkatan sebagai akibat dari tingginya frekuensi pemesanan. KESIMPULAN DAN SARAN 8.VIII.

3 persen dan 8. gula aren. sehingga persediaan bahan baku perusahaan dapat ditekan.3 persen terhadap biaya pembelian bahan baku kedelai.perusahaan adalah 41. 8. dan garam. dapat dialokasikan untuk kebutuhan yang lain. dengan harapan dapat lebih menghemat biaya persediaan. sehingga penghematan yang diperoleh perusahaan. gula kelapa. Perusahaan perlu memperhatikan kebutuhan bersih dari bahan baku. Metode MRP teknik POQ yang disesuaikan dengan kondisi perusahaan dapat direkomendasikan sebagai model alternatif dalam pengendalian persediaan bahan baku perusahaan. 2.2 Saran 1. .

BPS. Edisi Revisi dan Perluasan. Skripsi. Edisi Revisi. BPS. Manajemen Persediaan. Jilid 1. S dan Sarin. Kotler. 2002. 2006. Skripsi. Raja Grafindo persada. Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis. Fakultas Pertanian. Edisi kedua.E. 1997. 1999. Edisi ke1. Fakultas Teknologi Pertanian. Skripsi. Fakultas Pertanian. Okristian. Gaspersz. Heizer. Maja Sari Bakery. 1997. B. PT. Gramedia Pustaka Utama. Santoso. Ramdhan. Jakarta. Jakarta. 2002. 1999. dan R.DAFTAR PUSTAKA Assauri. Institut Pertanian Bogor.Salemba Empat. Bogor. Bina Rupa aksara. Universitas Indonesia. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku di PT. Edisi Revisi jilid 1. Buffa. Munawar. Edisi ke-7. Eddy. T. Jakarta. Grasindo. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku di PT. Indrajit. Manajemen Operasi dan Produksi Moderen. S. Jakarta. H. Jakarta. V. F. 2005. Bogor. Operation Management (Manajemen Operasi). Kecap dan Tauco Kedelai. Purnama Bakery. . Jakarta. R. Majalengka. Rangkuti. 1999. BPFE. 2002. S. 1994. Yogyakarta. Grasindo. Jakarta. Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Produk Kecap Untuk Pengembangan Perusahaan (Studi Kasus di Perusahaan kecap Segitiga. Kanisius. P. Statistik Industri Besar dan Sedang Indonesia. E. 1999. J and Render. Kabupaten Majalengka). Jakarta. R. Herjanto. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Djokopranoto. Institut Pertanian Bogor. Manajemen Pemasaran. Bogor. PT. 2007. Institut Pertanian Bogor. Jakarta. 2005. Manajemen Produksi dan Operasi. Production Planning and Inventory Control Berdasarkan Pendekatan Sistem Integrasi MRP II dan JIT Menuju Manufakturing 21. Prenhalindo. Handoko. Program Studi Manajemen Agribisnis. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Asep M. Jakarta. K. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Manajemen Produksi dan Operasi.

/www. 2001.id/utama/datastatistik/. BPS.Situs Bank Indonesia. (21 Desember 2007) Widyastuti.go. Sukabumi). Institut Pertanian Bogor.bi. http. Indolakto. Skripsi. Sistem Pengendalian Persediaan Bahan Baku Susu Kental Manis (studi kasus : PT. . Fakultas Pertanian. 2007. 2008.go. Produksi Tanaman Sekunder Indonesia tahun 2003-2007. Bank Umum-12 Bulan. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Tingkat Suku Bunga Pinjaman Berjangka Rrupiah Menurut Kelompok Bank. Bogor.(20 Maret 2008) Situs BPS. M. http://www.id/agriculture.

.

00 3 000.00 5 700.00 6 800.00 5 500.00 10 000.00 3 500.00 2 650. Daftar Pembelian Bahan Baku Perusahaan Periode Maret 2007-Februari 2008 (kg) Bulan Maret 2007 April 2007 Mei 2007 Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Total Kedelai 600 1 000 8 223 8 223 3 429 6 000 0 6 488 0 5 010 5 015 2 000 45 988 Gula Aren 4 613 10 480 8 128 10 014 11 949 16 368 17 469 11 697 3 471 2 000 11 697 0 107 886 Gula Kelapa 5 239 6 888.00 10 500.00 2800. Daftar Produk Kecap Produksi Perusahaan Kecap Segitiga Pada Bulan Maret 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Kode 01-001 01-002 01-003 01-004 01-005 01-006 01-007 01-008 01-009 01-010 01-011 01-013 01-015 01-033 01-034 01-035 01-040 01-041 01-042 01-043 01-044 Nama Barang Kecap Segitiga Asin 140 ml Kecap Segitiga Asin 250 ml Kecap Segitiga Asin 300 ml Kecap Segitiga Asin 500 ml Kecap Segitiga Asin 600 ml Kecap Segitiga Manis Sedang 140 ml Kecap Segitiga Manis Sedang 250 ml Kecap Segitiga Manis Sedang 300 ml Kecap Segitiga Manis Sedang 500 ml Kecap Segitiga Manis Sedang 600 ml Kecap Segitiga Manis 140 ml Kecap Segitiga Manis 300 ml Kecap Segitiga Manis 600 ml Kecap Segitiga Asin 300 ml Plastik Kecap Segitiga M.00 5 300.5 Garam 8 023 0 0 8 078 0 6 941 0 7 658 0 2 600 8 560 0 41 860 .00 3 000.00 2 900.00 5 250.00 11 000.Lampiran 1.00 Lampiran 2.5 8 061 4 313 0 4 824 2 980 5 200 14 466 14 006 15 259 16 158 97 394.00 5 600.00 4 000.00 5 750.S 300 ml Plastik Kecap Segitiga Manis 300 ml Plastik Sachet Segitiga Asin 15 ml Sachet Segitiga Manis Sedang 15 ml Sachet Segitiga Manis 15 ml Sachet Samara Manis Sedang 15 ml Sachet Samara Manis 15 ml Unit Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pcs Pak Pak Pak Pak Pak HARGA Pabrik (Rp) 2 400.00 3 500.00 5 000.00 3 400.

Lampiran 3. Diagram Alir Proses Pembuatan Kecap Perusahaan Kecap Segitiga 2008

Pencucian Kedelai Penirisan I Perebusan I Penirisan II Penjemuran I

Fermentasi Jamur Penjemuran II Pembuatan air Garam Pembelengan

Penyaringan I

Perebusan II Penyaringan II Ampas Kecap

Pemasakan I

Pemasakan Gula

Pamasakan II Penyaringan

Lampiran 4. Struktur Organisasi Perusahaan Kecap Segitiga Direktur

Wakil Direktur

Marketing

Produksi

Keuangan

Lampiran 5.

Suku Bunga Simpanan Berjangka Rupiah Bank Umum (12 Bulan) Maret 2007-Februari 2008 (%)

Bulan Maret 2007 April 2007 Mei 2007 Juni 2007 Juli 2007 Agustus 2007 September 2007 Oktober 2007 November 2007 Desember 2007 Januari 2008 Februari 2008 Rata-rata

Suku Bunga Simpanan Berjangka 9.00 9.00 8.75 8.50 8.25 8.25 8.25 8.25 8.25 8.00 8.00 8.00 8.38

Lampiran 6. Data Penjualan Perusahaan Kecap Segitiga Tahun

2002 2003 2004 2005 2006

Penjualan (Botol) 353 210

Pertumbuhan (%)

1.6 4.9 13.5 16.6 7.3

358 712 376 122 426 974 497 851 Pertumbuhan Rata-rata

Lampiran 7. Perhitungan EOQ Bahan Baku

EOQ Kedelai = 2 SD H EOQ Gula Aren =

=

2 x 261500 x865.01 8.21 2 x111500 x1862.96 8.63

= 7 423.18kg

2 SD = H

= 6 938.23 kg

EOQ Gula Kelapa = 2 SD = 2 x109500 x1752.73 H 7.94

= 6 952.91 kg

EOQ Garam =

2 SD H

=

2 x109500 x716.35 0.74

= 14 560.25 kg

Lampiran 8. Perhitungan POQ Bahan Baku

POQ Kedelai

= EOQ/Permintaan Rata-rata (per periode) = 7 423.18 kg / 865.01 = 9 Periode = EOQ/Permintaan Rata-rata (per periode) = 6 938.23 / 1 862.96 = 4 Periode = EOQ/Permintaan Rata-rata (per periode) = 6 952.91 / 1 752.73 = 4 Periode = EOQ/Permintaan Rata-rata (per periode) = 14 560.25 / 716.35 = 20 Periode

POQ Gula Aren

POQ Gula Kelapa

POQ Garam

Lampiran 9. Persediaan di Tangan. Pembelian dan Frekuensi Pembelian Komponen Persediaan di tangan (kg) Frekuensi pemesanan (kali) Pembelian (kg) Total 7 640 44 42 797 . MRP dengan Teknik LFL untuk Bahan Baku Kedelai Lead Time 1 Minggu Komponen 1 Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan 2 185 kg Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksanaan Pesanan 14 Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksanaan Pesanan Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksnaan Pesanan Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksnaan Pesanan 950 0 950 950 1250 27 1250 0 1250 1250 1600 40 1100 0 1100 1100 950 15 1250 0 1250 1250 1350 28 1600 0 1600 1600 1400 41 950 0 950 950 900 16 1350 0 1350 1350 1861 29 1400 0 1400 1400 1474 42 900 0 900 900 996 17 1861 0 1861 1861 1500 30 1474 0 1474 1474 433 43 996 0 996 996 850 18 1500 0 1500 1500 1500 31 433 0 433 433 450 44 850 0 850 850 835 19 1500 0 1500 1500 1320 32 450 0 450 450 425 45 835 0 835 835 849 20 1320 0 1320 1320 1961 33 425 0 425 425 435 46 849 0 849 849 849 412 21 1961 0 1961 1961 1069 34 435 0 435 435 423 47 849 0 849 849 862 280 1905 2 300 1605 3 250 1355 4 330 1025 5 200 825 Periode (Minggu) 6 250 575 7 250 325 8 300 25 9 437 0 412 412 450 22 1069 0 1069 1069 1100 35 423 0 423 423 1000 48 862 0 862 862 645 10 450 0 450 450 420 23 1100 0 1100 1100 1065 36 1000 0 1000 1000 1400 49 645 0 645 645 550 11 420 0 420 420 430 24 1065 0 1065 1065 1065 37 1400 0 1400 1400 1560 50 550 0 550 550 450 1065 1065 1030 38 1560 0 1560 1560 1449 51 450 0 450 450 481 1030 1030 1250 39 1449 0 1449 1449 1100 52 481 0 481 481 12 430 0 430 430 448 25 1065 13 448 0 448 448 950 26 1030 Lampiran 10 .

18 13 448 5263.18 24 1065 5883. Persediaan di Tangan.72 47 849 5429.72 48 862 4567.72 51 450 2922.18 475 7423.54 Lampiran 12. Pembelian dan Frekuensi Pembelian Komponen Persediaan di tangan (kg) Frekuensi pemesanan (Kali) Pembelian (kg) Total 185 873 6 44 539.18 20 1320 3305.18 30 1474 5487.72 7423.18 35 423 3321.18 16 1350 2063 17 1861 202 18 1500 6125.18 28 1600 938.72 46 849 6278.54 44 850 539.18 12 430 5711.18 29 1400 6961.36 38 1560 6784.36 950 4313.18 11 420 6141.18 7423.18 21 1961 1694 22 1069 625 23 1100 6948.54 45 835 7127.Lampiran 11 .82 7423.18 25 1065 4818.18 50 550 3372.54 7423.36 34 435 3744.72 52 481 2441.18 10 450 6561.18 412 7423.72 1250 2538.72 49 645 3922.18 7423.36 37 1400 921.64 7423.36 32 450 4604.18 39 1449 5335.36 33 425 4179.18 7423.54 42 900 2385.18 7423.54 638.18 19 1500 4625.54 43 996 1389.18 26 1030 3788.18 15 1250 3063.36 36 1000 2321.36 461.18 1100 4235.18 1298 7423.18 41 950 3285.1 .18 280 1905 2 300 1605 3 250 1355 4 330 1025 5 200 825 Periode (Minggu) 6 250 575 7 250 325 8 300 25 9 437 7011.36 31 433 5054.MRP dengan Teknik EOQ untuk Bahan Baku Kedelai Lead Time 1 Minggu Jenis Komponen 1 Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan 2185 kg Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksnaan Pesanan 14 Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksnaan Pesanan 27 Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksnaan Pesanan 40 Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksnaan Pesanan 7423.

Lampiran 13. Pembelian dan Frekuensi Pembelian Komponen Persediaan di tangan (kg) Frekuensi pemesanan (kali) Pembelian (kg) Total 167 006 5 42 822 . Persediaan di Tangan. MRP dengan Teknik POQ untuk Bahan Baku Kedelai Lead Time 1 Minggu Periode (Minggu) Jenis Komponen Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan 2 185 kg Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksnaan Pesanan 14 Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksnaan Pesanan 27 Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksnaan Pesanan 40 Kebutuhan Kotor Persediaan di tangan Kebutuhan bersih Rencana Penerimaan Pesanan Rencana pelaksnaan Pesanan 5521 1100 3721 41 950 2771 42 900 1871 43 996 875 44 850 25 45 835 4711 810 5521 46 849 3862 47 849 3013 7890 10205 48 862 2151 49 645 1506 50 550 956 51 450 506 52 481 25 1250 6665 28 1600 5065 29 1400 3665 11610 30 1474 2191 31 433 1758 32 450 1308 33 425 883 34 435 448 35 423 25 36 1000 9230 975 10205 37 1400 7830 38 1560 6270 950 4486 15 1250 3236 16 1350 1886 17 1861 25 18 1500 10135 1475 11610 7890 39 1449 4821 19 1500 8635 20 1320 7315 7596 21 1961 5354 22 1069 4285 23 1100 3185 24 1065 2120 25 1065 1055 26 1030 25 1 280 1905 2 300 1605 3 250 1355 4 330 1025 5 200 825 6 250 575 7 250 325 8 300 25 9 437 7184 412 7596 10 450 6734 11 420 6314 12 430 5884 13 448 5436 Lampiran 14.

Related Interests