LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II BAB I PENDAHULUAN

DIPLOMA III

A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara tropis memiliki beraneka ragam tumbuhan yang dapat manfaatkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan manusia. Masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu telah mengenal tanaman yang mempunyai khasiat obat atau menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tanaman yang berkhasiat obat tersebut dikenal dengan sebutan tanaman obat tradisional. Berbagai khasiat yang dapat dihasilkan oleh tanaman tradisional yang ada, dimana merupakan efek dan khasiat dari berbagai zat yang terkandung dalam tanaman tersebut. Sebagai contoh zat kimia yang terkandung dalam tanaman yang biasa digunakan sebagai adalah alkaloid, flavonoid, glikosida, terpenoid, saponin, tanin dan polifenol. Salah satu pendekatan untuk penelitian tumbuhan obat adalah penapis senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman. Cara ini digunakan untuk mendeteksi senyawa tumbuhan berdasarkan golongannya. Sebagai informasi awal dalam mengetahui senyawa kimia apa yang mempunyai aktivitas biologi dari suatu tanaman. Informasi yang diperoleh dari pendekatan ini juga dapat digunakan untuk keperluan sumber bahan yang mempunyai nilai ekonomi lain seperti sumber tanin, minyak untuk industri, sumber gum, dll. Metode

1

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

yang telah dikembangkan dapat mendeteksi adanya golongan senyawa alkaloid, flavonoid, senyawa fenolat, tannin, saponin, kumarin, quinon, steroid/terpenoid. Untuk mengetahui kandungan kimia yang berkhasiat obat pada bahan alam, maka perlu dilakukan analisis kuantitatif/identifikasi terhadap senyawasenyawa tersebut dengan uij pereaksi kimia dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

B. Maksud dan Tujuan Praktikum 1. Maksud Praktikum Maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi komponen kimia atau zat kimia yang terdapat dalam tumbuhan. 2. Tujuan praktikum Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui dan memahami proses analisis kandungan kimia dari suatu sampel. 2. Untuk menganalisis senyawa yang terkandung dalam ekstrak dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). 3. Untuk menganalisis senyawa yang terkandung dalam ekstrak dengan menggunakan pereaksi kimia.

2

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DIPLOMA III

A. Skrining Fitokimia Dalam kajian farmakologi tentang pengujian komponen farmaka dalam simplisia lahan sediaan obat erat kaitannya dengan uji fitokimia pada suatu sampel yang pada dasarnya adalah mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung dalam sediaan bahan obat tersebut. Tujuan utama dari penapisan fitokimia adalah menganalisis tumbuhan untuk mengetahui kandungan bioaktif yang berguna untuk pengobatan. Fitokimia atau kimia tumbuhan merupakan disiplin ilmu yang mempelajari aneka ragam senyawa organik pada tumbuhan, yaitu mengenai struktur kimia, biosintesis, metabolism, penyebaran secara ilmiah dan fungsi biologisnya. Pendekatan secara penapisan fitokimia meliputi analisis kualitatif kandungan dalam tumbuhan atau bagian tumbuhan (akar, batang, daun, bunga, buah dan biji) terutama kandungan metabolit sekunder yang merupakan senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, glikosida, terpenoid, saponin, tanin dan polifenol. Metode yang dilakukan untuk melakukan penapisan fitokimia harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain: sederhana, cepat, dapat dilakukan dengan peralatan minimal, selektif terhadap golongan senyawa yang dipelajari, semikualitatif dan dapat memberikan keterangan tambahan ada atau tidaknya senyawa tertentu dari golongan senyawa yang dipelajari.

3

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

Uji fitokimia yang dapat dilakukan adalah uji kualitatif secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan secara uji kualitatif secara kimiawi.

1. Alkaloid Alkaloid dari tanaman kebanyakan merupakan senyawa amina tersier dan yang lainnya terdiri dari nitrogen primer, sekunder, dan quartener (Poither, 2000). Semula alkaloid mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan sebagian besar atom nitrogen ini merupakan cincin aromatis (Achmad, 1986). Berdasarkan asam amino penyusunnya, alkaloid asiklis yang berasal dari asam amino ornitin dan lisin. Alkaloid aromatis jenis fenilanin berasal dari fenilalanin, tirosin dan 3,4-dihidrosifenilalanin. Alkaloid indol yang berasal dari trifon. Untuk mengetahui senyawa alkaloid, digunakan reagen wagner ditandai dengan terbentuknya endapan. Endapan tesebut diperkirakan adalah kalium-alkaloid. Pada pembuatan pereaksi wagner, iodium bereaksi dengan I- dari kalium iodida menghasilkan ion I3- yang berwarna coklat pada uji wagner, ion logam K+ akan membentuk ikatan kovalaen koordinat dengan nitrogen pada alkaloid membentuk kompleks kaliumalkaloid yang mengendap (Marliana, dkk., 2005).

2. Glikosida Glikosida merupakan salah satu kandungan aktif tanaman yang termasuk dalam kelompok metabolit sekunder. Di dalam tanaman

4

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

glikosida tidak lagi diubah menjadi senyawa lain, kecuali bila memang mengalami peruraian akibat pengaruh lingkungan luar (misalnya terkena panas dan teroksidasi udara). Glikosida adalah senyawa yang terdiri atas gabungan dua bagian senyawa, yaitu gula dan bukan gula. Keduanya dihubungkan oleh suatu ikatan berupa jembatan oksigen (O –glikosida, dioscin), jembatan nitrogen (N-glikosida, adenosine), jembatan sulfur (S-glikosida, sinirgin), maupun jembatan karbon (C-glikosida, barbaloin). Bagian gula biasa disebut glikon sedangkan bagian bukan gula disebut sebagai aglikon atau genin. Apabila glikon dan aglikon saling terikat maka senyawa ini disebut sebagai glikosida.

3. Tannin Tannin merupakan gambaran umum senyawa golongan polimer fenolik (Cowan, 1999). Tannin merupakan bahan yang dapat merubah kulit mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya

menyambung silangkan protein dan mengendapkan gelatin dalam larutan. Untuk mengetahui senyawa tannin, digunakan larutan gelatin dan FeCl3. Perubahan warna yang terjadi karena penambahan FeCl3 karena terbentuknya Fe3+- tanin dan Fe3+- polifenol. Atom oksigen pada tannin dan polifenol mempunyai pasangan elektron yang mampu mendonorkan elektronnya pada tannin dan polifenol mempunyai pasangan elektronyang mampui mendonorkan elektronnya pada Fe3+ yang mempunyai orbital d

5

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

kosong membentuk ikatan kovalen koordinat sehingga menjadi suatu kompleks (Syarifuddin, 1994).

4. Flavonoid Salah satu kelas yang banyak tersebar dari senyawa fenolat adalah flavonoid. Golongan ini memberikan warna pada buah dan bunga. Flavonoid telah banyak dikarakterisasi dan digolongkan berdasarkan struktur kimianya. Flavonoid adalah senyawa fenolat yang terhidroklisasi dan merupakan senyawa C6-C3-C6 dimana C6 diganti dengan cincin benzena dan C3 adalah rantai alifatik yang terdiri dari cincin piran. Ada 7 tipe flavonoid yaitu flavon, flavonol, khalkon, xanton, isoflavon, dan biflavon. Uji flavonoid dengan HCl untuk mendeteksi senyawa yang mengandung inti benzopiranon. Warna merah atau warna ungu yang terbentuk merupakan garam benzopirilium, yang disebut juga garam flavilium (Achmad, 1986).

5. Saponin Saponin mempunyai bagian utama berupa turunan triterpen dengan sedikit steroid. Residu gula dihubungkan oleh gugugs –OH biasanya C3OH dari aglikon (monodesmoside saponin) dan jarang dengan 2 gugus OH atau satu gugus OH dan satu gugus karboksil (bis-desmiside sponin). Saponin dapat diketahui dengan penambahan air. Timbulnya busa menunjukan adanya glikosida yang mampu membentuk buih dalam air.

6

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

Senyawa glikosida terhidrolisis menjadi glukosa dan aglikon. Saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada banyak macam tanaman. Saponin ada pada seluruh tanaman dengan kosentrasi tinggi macam tanaman pada bagian-bagian tertentu, dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan.

6. Terpenoid Terpenoid adalah senyawa yang mengandung karbon dan hydrogen, atau karbon, hydrogen dan aksigen yang tidak bersifat

aromatis. Terfenoid merupakan senyawa-senyawa yang mudah menguap terdiri dari 10 atom C dan merupakan senyawa penyusun minyak atsiri. Terpenoid dengan titik didih yang lebih tinggi disususn oleh diterpen (C20), triterpen (C30), dan tertaterpen (C40) dengan penambahan atom oksigen.

B. Analisis Kualitatif Secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) 1. Pengertian dan Manfaat KLT Kromatografi merupakan metode pemisahan secara fisik yang didasarkan pada perbedaan migrasi/ distribusi analit pada fase gerak yang mengalir melalui fase diam. Dalam metode ini terdapat metode pemisahan fisikokimia yang terdiri dari fase diam dan fase gerak. Fase diam merupakan (lapisan penyerap) sedangkan fase gerak merupakan larutan pengembang (pelarut).

7

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II 2. Bagian-Bagian KLT

DIPLOMA III

Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponenkomponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang bebeda bergerak pada laju yang berbeda. Pelaksanaan Kromatografi Lapis Tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. 3. Prinsip kerja KLT Prinsip dari percobaan ini adalah pada dasarnya campuran yang akan dipisah berupa bercak (pita awal). Plat KLT disimpan dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang (pelarut), pemisahan terjadi selama perambatan kapiler pengembang, senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan atau dideteksi pada sinar UV atau dengan metode semprot. Ada beberapa kondisi baku kromatografi lapis tipis diantaranya adalah : a. Fase diam Fase diam atau penyerap yang umum serta silika gel, aluminium oksida, klesergur selulosa, dan poliamida dengan ukuran 200 x 200 mm atau 200 x 100 mm. Untuk analisis tebal platnya adalah 0,1- 0,3 mm.

8

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II b. Fase gerak

DIPLOMA III

Fase gerak merupakan medium akut dan terdiri atas satu atau beberapa pelarut. Pelarut pengembang dapat dikelompokan ke dalam deret elutropik berdasarkan elusinya. c. Bejana pemisah Bejana pemisah harus dapat menampung pelat KLT dengan ukuran 200 x 200 mm yang tertutup rapat dengan pengisian fase gerak 5-8 mm. d. Awal dan jumlah cuplikan. Bercak dan pipet ditotolkan pada jarak 2 cm dari tepi bawah lapisan. Jarak antar satu bercak awal dengan bercak lainnya 2 cm. Dan jarak bercak paling pinggir dengan tepi samping adalah 10 mm. Lapisan tidak boleh rusak selama penotolan berlangsung, penotolan dilakukan dengan alat mikropipet. e. Pengembang. Pengembang merupakan proses pemisahan campuran cuplikan

akibat pelarut pengembang merambat naik dalam lapisan. Jarak pengembangan normal yaitu jarak antara garis awal dan garis depan ialah 100 mm. f. Larutan pembanding Larutan pembanding atau campuran uji/ baku campuran ini terdiri atas 1-5 senyawa yang diketahui dan dengan konsentrasi yang telah diketahui juga.

9

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II g. Larutan cuplikan

DIPLOMA III

Merupakan sampel bentuk jumlah obat : 0,1-1,9, maserasi dengan memakai pelarut : 0,5-5. h. Deteksi Deteksi menggunakan lampu sinar UV dengan panjang gelombang 254 nm atau 366 atau bisa juga dengan menggunakan pereaksi semprot. i. Nilai Rf Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus sebagai berikut: Rf = Jarak yang ditempuh oleh komponen per jarak yang ditempuh oleh pelarut. Rf juga menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fase diam. Karena itu Rf juga disebut faktor referensi. Rf = Jarak yang ditempuh oleh komponen Jarak yang ditempuh pelarut C. Uraian Ekstrak 1. Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Buah cabai mengandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid, resin, minyak menguap, vitamin (A dan C). Kapsaisin memberikan rasa pedas pada cabai, berkhasiat untuk melancarkan aliran darah serta pematirasa kulit. Biji mengandung solanine, solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, dan steroid saponin (kapsisidin) (Dalimartha, 2000).

2. Daun Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) Daun katuk mengandung 7% protein kadar tinggi, beta karoten,

vitamin C, kalsium, besi dan magnesium serta vitamin K. Selain itu, juga
10

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

kaya akan vitamin A, vitamin B1 dan vitamin C. Disamping kaya protein, lemak, vitamin, dan mineral, daun katuk juga memiliki kandungan tannin, saponin flavonoid dan alkaloid papaverin (Agoes, 2011).

3. Kulit Kayu Manis (Cinnamomum burmanii Ness) Kulit kayu manis mengandung minyak esensial, seperti eugenol, citral, safrole, dan cinnamaldehyde. Terdapat pula tannin, kalsium oksalat, dammar dan zat penyamak. Daun mengandung eugenol dan linalool (Dalimartha, 2000).

4. Daun Pandan (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Kandungan kimia daun pandan antara lain alkaloid, saponin, flavonoida, tanin, polifenol dan zat warna hijau (Anonim, 2011).

5. Jahe Merah (Zingiber officinale Var. Rubrum) Tanaman jahe mengandung minyak atsiri 0,6-3% yang terdiri dari αpinen, β-phellandren, borneol, limonene, linalool, citral, nonylaldehyde, decylaldehyde, methyleptenon, 1,8 sineol, bisabilen, 1-α-curcumin, farnese, humulen, 60% zingiberen dan zingiberole menguap, zat pedas gingerol. Kandungan minyak tidak menguap disebut oleoresin, suatu komponen yang memberi rasa pahit. Komponen dalam oleoresin jahe terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol,minyak atsiri dan resin. Pemberi rasa pedas dalam jahe yang utama adalah zingerol (Khaerani, 2012).

11

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

6. Sambiloto (Andrographis paniculata Nees.) Daun dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari deoxy andrographolide, neoanrographolide, 14 deoxy-11,12

didehydroandrogapholide dan hormoandrographolide. Flavonoid dari akar berupa polimetoxyflavone, andrographin, panicolin, mono-o-methilwithin dan apigenin-7, 4-dimethyl ether, alkana, keton, aldehid, kalium, kalsium, natrium, dan asam kersik. Andrograpolida sekurangnya-kurangnya 1%,kalmegin, zat amorf dan hablur kuning, pahit sampai sangat pahit. Zat aktif andrografolid terbukti berkhasiat sebagai hepatoprotektor (melindungi sel hati dari zat toksik) (Maulana, 2010).

12

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan 1. Alat yang Digunakan a. Beker gelas 100 mL, 500 mL b. Cawan penguap c. Chamber d. Corong pisah e. Corong gelas f. Gelas ukur 10 mL g. Hot plate h. Kertas saring 2. Bahan yang Digunakan a. Alumunium foil b. Alkohol 95 % c. Aquadest d. Etil Asetat e. FeCl3 f. Gelatin 1% g. HCl pekat h. i. j. k. l. HCl 2 N Kloroform Logam Zn Metanol Minyak kelapa i. Labu ukur 100 mL, 200 mL j. Pipa kapiler k. Pipet tetes l. Pipet volume m. Plat KLT n. Tabung reaksi o. Timbangan digital

m. NaCl 10% n. Pereaksi Mayer

13

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II B. Prosedur Kerja Identifikasi dengan KLT 1. Identifikasi Saponin a. Disiapkan alat dan bahan.

DIPLOMA III

b. Dibuat eluen dengan perbandingan Kloroform : Metanol : Air (64 : 50 : 10). c. Eluen dimassukkan ke dalam chamber, lalu jenuhkan menggunakan kertas saring. d. Ekstrak sampel ditotolkan pada plat KLT, biarkan mengering e. Dimasukkan plat KLT tersebut ke dalam chamber yang berisi eluen yang sudah jenuh. f. Dihitung nilai Rf. 2. Identifikasi Flavonoid a. Disiapkan alat dan bahan. b. Dibuat eluen dengan perbandingan Kloroform : Etil Asetat (6 : 4). c. Eluen dimassukkan ke dalam chamber, lalu jenuhkan menggunakan kertas saring. d. Ekstrak sampel ditotolkan pada plat KLT, biarkan mengering. e. Dimasukkan plat KLT tersebut ke dalam chamber yang berisi eluen yang sudah jenuh f. Dihitung nilai Rf

14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II C. Prosedur Kerja Identifikasi dengan Pereaksi Kimia 1. Identifikasi Saponin (Metode Buih) a. Timbang 100 mg ekstrak

DIPLOMA III

b. Ditambahkan 10 mL aquadest ke dalam tabung reaksi c. Ditutup dan kocok selama 30 menit d. Reaksi positif saponin jika terbentuk buih seperti sarang lebah di permukaan cairan. 2. Identifikasi Alkaloid a. Ditimbang ekstrak sebanyak 100 mg b. Dipanaskan di atas penangas air sampai kental seperti sirup, lalu didinginkan. c. Ditambahkan 5 mL HCl 2 N, lalu panaskan lagi selama 2-3 menit d. Setelah dingin, tambahkan 0,25 g NaCl lalu saring e. Filtratnya ditambahkan 5 mL HCl 2 N dan pereaksi Mayer secukupnya f. Jika terjadi kekeruhan atau terdapat endapan berarti positif alkaloid 3. Identifikasi Tanin dan Senyawa Polifenol a. Ditimbang 100 mg ekstrak b. diuapkan di atas penangas air sampai kental seperti sirup, lalu dinginkan c. Setelah dingin, tambahkan 20 mL aquadest panas, lalu kocok hingga homogen d. Tambahkan 5 tetes NaCl 10% untuk mengendapkan zat-zat lain

15

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II e. Filtrat kemudian dibagi ke dalam 3 tabung reaksi f. Tabung I sebagai blanko.

DIPLOMA III

g. Tabung II ditambahkan larutan gelatin 1% dan NaCl 10%, lalu amati jika terjadi endapan. h. Tabung III ditambahkan 3 tetes larutan FeCl3, lalu amati perubahan warna.

Tabel Reaksi Warna Untuk Tanin dan Senyawa Polifenol No. Reaksi Pengamatan Keterangan Tanin (-) 1. FeCl3 Phenol (-) 2. FeCl3 3. FeCl3 Hijau Biru, Hijau-Hitam Biru-Hitam Tidak terjadi pengendapan, tetapi 4. Gelatin 1% + NaCl 10% setelah + FeCl3 Tanin (-) terbentuk warna hijau biru hitam Polifenol (+) Tanin tipe Lathecol Tanin tipe Polygalol

4. Identifikasi Glikosida-Flavonoid a. Pembuatan larutan percobaan 1) Ditimbang 100 mg sampel. 2) Ditambahkan 10 mL methanol, kemudian dipanaskan selama 10 menit diatas penangas air. 3) Disaring selagi panas, agar pelarut tidak menguap.

16

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

4) Filtrat yang diperoleh diencerkan dengan 10 mL aquadest. 5) Dipindahkan ke corong pisah dan ditambahkan 5 mL petroleum eter, dikocok hati-hati. 6) Diamkan hingga terbentuk lapisan, lapisan bawah dibuang. 7) Lapisan atas (fase methanol) diuapkan hingga kering. 8) Residu yang tersisa dilarutkan dalam 5 mL etil asetat. 9) Untuk larutan percobaan diambil bagian yang jernih. b. Uji Glikosida 3-flavol 1) Diambil larutan percobaan ± 1 mL, diuapkan hingga kering. 2) Dilarutkan dalam 2 ml etanol 95%. 3) Ditambahkan logam Zn secukupnya dan 2 mL HCl 2 N, diamkan selama 1 menit. 4) Ditambahkan HCl pekat secukupnya 5) Jika dalam 2-5 menit terjadi perubahan warna, maka positif glikosida 3-flavol. c. Uji Flavonoida 1) Diambil larutan percobaan ± 1 mL, diuapkan hingga kering. 2) Sisa dilarutkan kembali dalam 1 ml etanol 95%. 3) Diamati perubahan warna yang terjadi. 4) Jika terjadi warna merah sampai merah ungu, positif flavonoid 5) Jika terjadi warna kuning jingga, positif flavol, kalkon.

17

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II 5. Identifikasi Minyak Asiri

DIPLOMA III

a. 1) Diteteskan 1 tetes minyak atsiri pada permukaan air 2) Minyak atsiri akan menyebar dan air tidak akan menjadi keruh 3) Bandingkan dengan minyak lemak yang tidak akan menyebar dan berada di permukaan air. b. 1) Diteteskan 1 tetes minyak atsiri pada sepotong kertas saring 2) Jika dibiarkan maka minyak atsiri akan menguap dengan sempurna tanpa meninggalkan noda transparan. 3) Kemudian dibandingkan dengan minyak lemak yang

akan meninggalkan noda pada kertas saring.

18

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II BAB IV HASIL PERCOBAAN

DIPLOMA III

A. Identifikasi Secara KLT Tabel 1. Hasil Uji KLT untuk Saponin dengan eluen Kloroform : Metanol : Air (64 : 50 : 10) Sampel Jarak yang ditempuh sampel a. 11,2 cm b. 11,2 cm
1a. 11,8 cm

Jarak yang ditempuh pelarut 16 cm 16 cm 16 cm 16 cm 16 cm 16 cm 16 cm 16 cm

Nilai Rf 0,7 0,7 0,737 0,737 0,85 0,85 0,662 0,662

Ekstrak sambiloto

Ekstrak daun katuk

1b. 11,8 cm 2a. 13,6 cm 2b. 13,6 cm

Ekstrak daun pandan

a. 10,6 cm b. 10,6 cm

19

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III Keterangan: Keterangan: 1a : ekstrak sambiloto

13,6cm 11,2 cm

13,6cm

1b : ekstrak sambiloto
11,8 cm 11,8cm m 10,6cm

2a : ekstrak daun katuk
10,6cm

16 cm

2b : ekstrak daun katuk 3a : ekstrak daun pandan 3b : ekstrak daun pandan

2 cm

1a

1b

2a

2b

3a

3b

Gambar 1. Noda pada plat KLT untuk identifikasi saponin Tabel 2. Hasil Uji KLT untuk Flavonoid dengan eluen Kloroform : Etil asetat (6 : 4) Sampel Jarak yang ditempuh sampel a. 14,7 cm Ekstrak sambiloto b. 14,7 cm
1a. 14,2 cm

Jarak yang ditempuh pelarut 16 cm 16 cm 16 cm 16 cm 16 cm 16 cm 16 cm 16 cm

Nilai Rf 0,918 0,918 0,887 0,887 0,181 0,181 -

Ekstrak daun katuk

1b. 14,2 cm 2a. 2,9 cm 2b. 2,9 cm

Ekstrak daun pandan

a. b.

-

20

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

14,7 cm 14,7 14,7 cm cm 14,2 cm 14,2cm m

Keterangan: Keterangan: 1a : ekstrak sambiloto 1b : ekstrak sambiloto 2a : ekstrak daun katuk 2b : ekstrak daun katuk 3a : ekstrak daun pandan

16 cm
2,9cm 2,9cm

3b : ekstrak daun pandan

2 cm

1a

1b

2a

2b

3a

3b

Gambar 2. Noda pada plat KLT untuk identifikasi flavonoid

B. Identifikasi dengan Uji Pereaksi Kimia Tabel 3. Hasil Identifikasi Saponin Sampel Ekstrak cabe Ekstrak daun katuk Ekstrak kayu manis Ekstrak daun pandan Hasil Terbentuk buih Tidak terbentuk buih Terbentuk buih Terbentuk buih Keterangan Positif (+ ) Saponin Positif (+ ) Saponin Negatif (-) Saponin Positif (+ ) Saponin

21

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II Tabel 4 Hasil Identifikasi Alkaloid Sampel Ekstrak cabe Ekstrak daun katuk Ekstrak kayu manis Ekstrak daun pandan Hasil Terbentuk endapan coklat kemerahan Terbentuk endapan Tidak terbentuk endapan Berwarna coklat kemerahan dan terjadi kekeruhan

DIPLOMA III

Keterangan Positif (+) Alkaloid Positif (+) Alkaloid Negatif (- ) Alkaloid Positif (+) Alkaloid

Tabel 5 Hasil Identifikasi Tanin dan Senyawa Polifenol Sampel Ekstrak cabe Hasil - + FeCl3 tdk berwarna - + Gelatin & NaCl tidak terjadi pengendapan - + FeCl3 tdk berwarna - + FeCl3 Hijau - + Gelatin & NaCl tidak terjadi pengendapan - + FeCl3 Hijau - + FeCl3 Hijau - + Gelatin & NaCl tidak terjadi pengendapan - + FeCl3 Hijau - + FeCl3 Hijau - + Gelatin & NaCl tidak terjadi pengendapan - + FeCl3 Hijau Keterangan Negatif (-) Tanin Negatif (-) Polifenol

Ekstrak daun katuk

Positif (+) Tanin tipe Lathecol Positif (+) Polifenol Positif (+) Tanin tipe Lathecol Positif (+) Polifenol Positif (+) Tanin tipe Lathecol Positif (+) Polifenol

Ekstrak kayu manis

Ekstrak daun pandan

22

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II Tabel 6 Hasil Identifikasi Glikosida 3- flavol Sampel Ekstrak cabe Ekstrak daun katuk Ekstrak kayu manis Ekstrak daun pandan Hasil Tidak terjadi perubahan warna Tidak terjadi perubahan warna Tidak terjadi perubahan warna Tidak terjadi perubahan warna

DIPLOMA III

Keterangan Negatif flavol Negatif flavol Negatif flavol Negatif flavol (- ) glikosida 3(- ) glikosida 3(- ) glikosida 3(- ) glikosida 3-

Tabel 7 Hasil Identifikasi Flavonoida Sampel Ekstrak cabe Ekstrak daun katuk Ekstrak kayu manis Ekstrak daun pandan Hasil Tidak terjadi perubahan warna Tidak terjadi perubahan warna Tidak terjadi perubahan warna Tidak terjadi perubahan warna Keterangan Negatif (- ) Flavonoida Negatif (- ) Flavonoida Negatif (- ) Flavonoida Negatif (- ) Flavonoida

23

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II Tabel 8 Hasil Identifikasi Minyak Atsiri Sampel Minyak atsiri Hasil - Menyebar pada permukaan air - Tidak meninggalkan noda pada kertas saring - Tidak menyebar/berada di permukaan air - Meninggalkan noda pada kertas saring

DIPLOMA III

Keterangan Positif (+) minyak atsiri

Minyak lemak

Positif (+) minyak lemak

24

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

BAB V PEMBAHASAN

Skrining fitokimia merupakan analisis kualitatif terhadap senyawa-senyawa metabolit sekunder. Suatu ekstrak dari bahan alam terdiri atas berbagai macam metabolit sekunder yang berperan dalam aktivitas biologinya. Senyawa-senyawa tersebut dapat diidentifikasi dengan pereaksi-pereaksi yang mampu memberikan ciri khas dari setiap golongan dari metabolit sekunder. Berbagai metode yang dapat digunakan untuk identifikasi metabolit sekunder yang terdapat pada suatu ekstrak antara lain dengan cara Kromatografi Lapis Tipis dan uji peraksi kimia. Senyawa-senyawa yang akan di identifikasi dengan uji pereaksi kimia pada praktikum kali ini adalah senyawa saponin, alkaloid, tannin dan polifenol, glikosida, flavonoid dan minyak atsiri. Sedangkan secara KLT akan diidentifikasi senyawa saponin dan flavonoid. Sampel yang akan diuji adalah ekstrak dari cabai merah, daun katuk, kulit kayu manis, daun pandan, sambiloto dan minyak atsiri jahe merah. Pada identifikasi saponin dengan KLT diperoleh nilai Rf dari ekstrak sambiloto sebesar 0,7 ekstrak daun katuk untuk noda 1 dengan nilai Rf 0,737 dan noda 2 sebesar 0,85 sedangkan untuk ekstrak daun pandan nilai Rf sebesar 0,662. Untuk identifikasi senyawa flavonoid diperoleh nilai Rf dari ekstrak sambiloto sebesar 0,918 ekstrak daun katuk untuk noda 1 dengan nilai Rf 0,181 dan noda 2 sebesar 0,887 sedangkan untuk ekstrak daun pandan tidak tampak noda pada plat KLT.

25

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

Pada identifikasi saponin, menggunakan metode buih dengan sampel ekstrak cabai, daun katuk, kulit kayu manis dan daun pandan. Masing-masing sampel ekstrak di timbang 100 mg dan ditambahkan 10 mL aquadest, kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan di kocok kuat selama 30 menit. Jika terjadi buih setinggi 3 cm dari permukaan larutan maka menandakan positif (+) saponin. Pada sampel ekstrak cabai, daun katuk dan daun pandan terbentuk buih atau menandakan positif saponin, sedangkan dan ekstrak kulit kayu manis tidak menghasilkan buih, maka hasilnya negatif (-) saponin. Hasil yang diperoleh tersebut sudah sesuai dengan literatur, dimana cabai merah, daun katuk dan daun pandan mengandung saponin sedangkan kayu manis tidak mengandung saponin. Pada identifikasi senyawa alkaloid dengan sampel yang sama. Pertama, ditimbang masing-masing ekstrak 100 mg yang kemudian dipanaskan hingga kental lalu di tambahkan 5 mL HCl 2 N dan dipanaskan kembali selama 2-3 menit. Kemudian ditambahkan 0,25 g NaCl dan di saring, hasil filtrat

ditambahkan 5 mL HCl 2 N dan pereaksi Mayer, jika terjadi kekeruhan atau endapan maka hasilnya positif (+) alkaloid. Diperoleh hasil positif pada ekstrak cabai, daun katuk dan daun pandan sedangkan ekstrak kulit kayu manis negatif alkaloid. Hasil yang diperoleh sesuai dengan literatur. Identifikasi senyawa tannin dan polifenol pada ekstrak cabai, daun katuk, kayu manis dan daun pandan, diperoleh hasil negatif pada ekstrak cabai merah. Sedangkan hasil positif senyawa tannin dan polifenol pada sampel ekstrak daun katuk, kayu manis dan daun pandan. Hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan literatur.

26

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

Untuk identifikasi glikosida dan flavonoida diperoleh hasil yang negatif untuk semua sampel. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kesalahan pada saat pembuatan larutan percobaan sehingga senyawa glikosida dan flavonoida tidak dapat diidentifikasi. Pengujian minyak atsiri pada jahe merah dilakukan dengan cara meneteskan minyak atsiri di atas kertas saring, dan terlihat pada kertas saring tidak meninggalkan bekas/noda. Kemudian dibandingkan dengan minyak lemak yang diteteskan pada kertas saring, maka akan meninggalkan noda. Demikian juga jika minyak atsiri diteteskan pada permukaan air, maka minyak atsiri akan menyebar, sedangkan minyak lemak tetap berada dipermukaan. Hasil yang diperoleh yaitu sampel positif minyak atsiri.

27

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II BAB VI PENUTUP

DIPLOMA III

A. Kesimpulan Dari praktikum yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan bahwa : 1. Pada analisis secara KLT diperoleh nilai Rf pada uji saponin pada ekstrak sambiloto yaitu 0,7 ekstrak daun katuk 0,737 dan 0,85 ekstrak daun pandan 0,662. 2. Pada analisis secara KLT diperoleh nilai Rf pada uji flavonoid pada ekstrak sambiloto yaitu 0,918 ekstrak daun katuk 0,887 dan 0,181

sedangkan pada ekstrak daun pandan tidak tampak bercak noda. 3. Pada identifikasi saponin, menggunakan metode buih ekstrak cabai merah, daun katuk dan daun pandan positif (+) saponin sedangkan ekstrak kayu manis negatif (-) saponin. 4. Pada identifikasi senyawa alkaloid diperoleh hasil positif pada ekstrak cabai, daun katuk dan daun pandan sedangkan ekstrak kulit kayu manis negatif alkaloid. 5. Pada identifikasi senyawa tannin dan polifenol diperoleh hasil negatif pada ekstrak cabai merah. Sedangkan hasil positif senyawa tannin dan polifenol pada sampel ekstrak daun katuk, kayu manis dan daun pandan.

28

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II B. Saran

DIPLOMA III

1. Agar dalam praktikum harus dijaga ketertiban dan kedisiplinan selama praktikum. 2. Agar disiapkan baku pembanding untuk senyawa-senyawa yang di identifikasi dengan Kromatografi Lapis Tipis, sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.

29

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II DAFTAR PUSTAKA

DIPLOMA III

Anonim, 2012. Penuntun Praktikum Farmakognosi II. AKFAR Bina Husada Kendari. Agoes, A., 2011. Tanaman Obat Indonesia. Salemba Medika. Jakarta. Dalimarta, Setiawan. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Penebar Swadaya. Harborne, J.B., 1987. Metode Fitokimia, Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan, Terbitan II, ITB Bandung. Khairani. 2012. Minyak Atsiri Jahe . avalaible at http://emmakhairaniharahap. blogspot.com/2012/05/minyak-atsirijahe.html, diakses tanggal 10/12/2012 Maulana,A., 2010. Sambiloto Sebagai Tanaman Obat , avalaible at http:// worldplant. multiply.com /journal/item/22/Sambiloto-Sebagai-TanamanObat diakses tanggal 14 Oktober 2012

30

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

DIPLOMA III

31

Related Interests