Vol. 2 N0.

1 Maret 2011

ISSN: 2087-2178

AL-INFAQ
JURNAL EKONOMI ISLAM
Peran Strategis Organisasi Zakat dalam Menguatkan Zakat di Dunia Didin Hafidhuddin

Globalisasi dan Tantangan bagi Sistem Keuangan Islam: Perspektif Filsafat Ekonomi Islam Bambang Wahyu

The Impact of US Monetary Policy and Stock Markets toward Indonesia Stock Markets Muhamad Abduh

Analisa Tingkat Pengembalian Pembiayaan Bank Syariah yang Lebih Tinggi Dibandingkan dengan Bank Konvensional: Studi Kasus Malaysia Laily Dwi Arsyianti dan Irfan Syauqi Beik

Determinants of Banking Credit Default in Indonesia: A Comparative Analysis Muhammad Imaduddin

Musyarakah, Mudharabah dan Pertumbuhan Sektor Riil Hilman Hakiem dan Desi Silfiaratih Waluyo 1

Vol. 2 No. 1 Maret 2011

ISSN: 2087-2178

DEWAN REDAKSI JURNAL EKONOMI ISLAM AL-INFAQ Vol. 2 No. 2 Maret 2011 Penanggungjawab: H. Ahmad Sobari, Lc, M.Ag Dewan Pakar: Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, Dr. H. Ibdalsyah, M.A., Dr. H. Fahrudin Sukarno, Dr. H. Irfan Syauqi Beik, Dr. A Mulyadi Kosim, H. Hendri Tanjung, S.Si., M.M., M.Ag., M.Phil, Ph.D (ABD), Muhamad Abduh, MEc., Laily Dwi Arsyianti, S.E., M.Sc. Pemimpin Redaksi: Hilman Hakiem, S.P., M.E.I Anggota Dewan Redaksi: Hidayah Baisa, Dra., M.Pd.I, Suyud Arief, Drs., M.Ag, Maemunah Sa’diyah, S.Ag, M.Ag, H.M. Kholil Nawawi, Drs., M.Ag Editor: Hilman Hakiem, S.P., M.E.I Kesekretariatan: Meliani, S.Pd, Moch. Hobir, S.Ag, Hamidah, A.Md, Teddy Rahyanto, Sulaeman, Yeni Sugiarti, Asep Suryaman, Asep Sudur Periode Terbit: 2 kali setahun Terbit Pertama Kali: September 2010 Alamat Redaksi: Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor Jl. K.H. Sholeh Iskandar km2 Bogor 16164 Telp/Fax 0251-8349529 e-mail: jurnaleifai@yahoo.com

2

PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR

3

PERAN STRATEGIS ORGANISASI ZAKAT DALAM MENGUATKAN ZAKAT DI DUNIA1

Didin Hafidhuddin Sekretaris Jenderal World Zakat Forum (WZF) Ketua Umum BAZNAS

Abstract One of the potentials which are still not utilized by the ummah is zakat fund. In Indonesia, this potential reaches 2 percent of GDP, which is not less than Rp 100 trillion per annum. As could be witnessed in the history, the use of zakat was able to alleviate poverty, especially during the glorious era of Caliph Umar bin Abdul Aziz. This paper attempts to discuss the strategies needed in order to realize the country's zakat potential. In addition, strengthening global zakat cooperation and network is highly needed as an effective way to overcome poverty which still exists in the Muslim world.

Keywords: zakat potential, zakat empowerment, zakat organization

I.

Pendahuluan

Jika diamati secara seksama, sesungguhnya umat Islam itu di samping memiliki berbagai persoalan yang berat dan kompleks, seperti persoalan pemahaman keagamaan yang belum lurus, persoalan kemiskinan yang masih melilit sebagian besar umat, persoalan kebodohan, dan sebagainya, umat Islam pun memiliki banyak potensi yang belum digali dan belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut, sekaligus untuk membangkitkan kembali peradaban Islam di era globalisasi ini. Potensi tersebut antara lain adalah zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) yang tersebar merata di negaranegara mayoritas penduduknya muslim, seperti Indonesia. Zakat, di samping sebagai rukun Islam yang ketiga, bagian dari ibadah mahdah kepada Allah SWT, juga ibadah maliyah iztimaiyah yang memiliki berbagai fungsi sosial yang sangat strategis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan umat. Secara empirik, hal ini pernah terbukti dalam sejarah pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis. Ketika itu, zakat dikelola oleh para petugas (amil zakat) yang amanah dan profesional, di bawah kendali pemerintah yang adil dan bertanggung jawab, ternyata telah mampu meningkatkan kesejahteraan umat dan meminimalisir hal-hal yang berkaitan dengan kemiskinan dalam waktu yang relatif tidak lama.
1

Disarikan dari Makalah yang disampaikan pada World Zakat Forum (WZF) di Yogyakarta, tanggal 28-30 September 2010. 4

Dalam kaitan dengan hikmah dan fungsi zakat misalnya.II. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagai contoh membuat klasifikasi penyaluran melalui lima program. terpercaya. hanyalah zakat (QS At-Taubah: 60 dan QS At-Taubah: 103 serta beberapa hadis Nabi). Indonesia Takwa (bidang kehidupan beragama mustahik). hanya akan dapat diaktualisasikan melalui amil yang kuat. Misalnya. pengetahuan tentang fiqih zakat. Amil zakat pun diharapkan memiliki data base mustahik dan muzaki yang akurat dan up to date sehingga pengumpulan dan penyaluran zakat dapat dipetakan dengan baik. Langkah-Langkah Menggali Potensi Zakat Untuk menggali potensi tersebut. Dalam menyalurkan zakat kepada para mustahik. 5 . Semua hikmah dan fungsi zakat di atas. penyaluran zakat yang tepat sasaran sesuai dengan ketentuan syariah dan memperhatikan aspek-aspek manajemen yang transparan. Ar-Rum: 39). Di zaman Nabi dan para sahabat. dan kaitan zakat dengan pajak. maka insya Allah berbagai masalah kemiskinan dan problem umat lainnya akan dapat segera teratasi. harta objek zakat sekaligus tata cara perhitungannya. Sejak beberapa tahun terakhir. pantaslah satu-satunya ibadah yang secara eksplisit dikemukakan dalam Al-Quran ada petugasnya. kesadaran masyarakat muslim Indonesia cukup tinggi untuk berzakat. Pertama. Hal ini dipastikan akan meningkatkan perolehan pengumpulan zakat sekaligus pengumpulan pajak. tidak pernah zakat disalurkan langsung oleh muzakki kepada mustahik tanpa melalui amil. kecuali infak dan sedekah. diperlukan SDM-SDM zakat yang memiliki akhlakul karimah. Al-Hasyr: 7). Untuk mencapai hal ini. membantu dan menolong kaum dhuafa dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya (QS. menjernihkan pikiran dan jiwa (QS. dan manajemennya secara baik. Indonesia Cerdas (bidang pendidikan mustahik). yang kesemuanya untuk para mustahik. juga diberikan untuk meningkatkan kegiatan usaha dan kerja mustahik/zakat produktif (al-hadis). penguatan amil zakat sehingga menjadi amil yang amanah. dan masih banyak fungsi serta hikmah lainnya. paling tidak diperlukan empat langkah yang harus dilakukan secara simultan. Al-Baqarah : 276 dan QS. At-Taubah: 60). At-Taubah: 103). sekaligus memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat karena harta tidak hanya terakumulasi di tangan sekelompok orang kaya saja (QS. Oleh karena itu. Adapun kelima program tersebut adalah Indonesia Peduli (terutama mengatasi musibah). mengembangkan dan memberkahkan harta (QS. dan Indonesia Makmur (bidang peningkatan kehidupan ekonomi mustahik). Al-Mu’minun: 1-4). yakni menurut Riset Habib Ahmed (IRTI-IDB/Islamic Research and Training Institute-Islamic Development Bank) adalah 2 persen dari GDP Indonesia (Rp 5 ribu trilyun) atau sebesar Rp 100 triliun per tahun. Indonesia Sehat (bidang kesehatan mustahik). baik perorangan maupun lingkungan perusahaan (korporasi) terus tumbuh untuk menunaikan zakat. zakat di samping diberikan secara konsumtif untuk memenuhi kebutuhan primer secara langsung (QS AlBaqarah : 273). sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait dengan hukum dan hikmah zakat. diharapkan ada upaya sungguh-sungguh dari pihak legislatif dan eksekutif agar zakat bisa mengurangi pajak. Jika kesadaran masyarakat. Indonesia yang secara demografis merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi zakat yang sangat besar. Dalam hubungannya dengan pajak. Ketiga. dan profesional. bahwa kesediaan berzakat akan membangun etos dan etika kerja (QS. Kedua.

dan lain-lain. Persoalan kemiskinan adalah persoalan kemanusiaan yang bersifat universal. jurnal. Tentu saja di samping tugas dari pemerintah masing-masing untuk mengatasinya. lembaga pendidikan Islam. baik pengumpulan.Keempat. organisasi-organisasi Islam. III. majalah. Kerja sama dalam bidang penyaluran zakat pun perlu dilakukan. organisasi. dan pendistribusiannya akan memberikan kontribusi secara nyata dalam rangka penguatan zakat di dunia. serta publikasi-publikasi (buku. Penguatan kelembagaan melalui pelatihan-pelatihan bersama dalam bidang SDM zakat. Jika langkah-langkah tersebut di atas dilakukan dengan sungguh-sungguh. Penguatan Organisasi Zakat Internasional Keempat langkah tersebut di atas seyogyanya merupakan agenda utama dan agenda bersama dari organisasi zakat internasional. 6 . dan internasional) maupun dengan komponen umat yang lain seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI). yang menurut data terakhir dari PBB jumlahnya hampir mendekati satu milyar jiwa. pendayagunaan. sistem teknologi dan informasi (IT) zakat. nasional. lembaga-lembaga pemerintah. hasil riset. fiqih zakat. media massa. regional. maka optimalisasi zakat di tingkat nasional maupun internasional. perguruan tinggi. manajemen zakat. lingkungan. Diharapkan aktualisasi potensi zakat merupakan sebuah gerakan bersama yang masif yang lintas etnis. dan teritorial (perhatikan QS Al-Maidah: 2 dan QS At-Taubah: 71). Organisasi zakat internasional seyogyanya merumuskan keempat langkah tersebut secara konseptual maupun secara operasional. Misalnya sosialisasi dan edukasi dengan materi dan substansi yang sama agar masyarakat internasional memiliki pandangan yang sama tentang urgensi zakat dalam kehidupan sosial. peningkatan ekonomi. kesehatan. juga merupakan tugas dari organisasi zakat di masing-masing negara maupun secara internasional. sinergi dan koordinasi atau taawun baik antarsesama amil zakat (tingkat daerah. dengan membuat pilot project bersama beberapa daerah miskin yang penanganannya di berbagai bidang kehidupan (pendidikan. dan lain-lain). dan sebagainya) melalui zakat. Misalnya.

(1993). Fiqhuz Zakat. (2002). PhD Dissertation. Jakarta: Gema Insani Press. D. 7 . D. Malaysia. International Islamic University. Hafidhuddin. Y. Zakat dalam Perekonomian Modern. D. Jakarta: Institut Manajemen Zakat. Economic Role of Zakat in Reducing Poverty and Income Inequality in the Province of DKI Jakarta. A. I. Indonesia: Case Study of the Government Board of Zakat and Dompet Dhuafa Republika. ”Analisis Efektifitas Promosi Lembaga Amil Zakat dalam Penghimpunan Zakat Bagi Peningkatan Kesejahteraan Keluarga Dhuafa: Studi Kasus Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa Republika”. and Juwaini. (2006).DAFTAR PUSTAKA Al-Qardawi. Hafidhuddin. S. Jurnal Media Gizi dan Keluarga. Hafidhuddin. Beik. Jakarta: Litera AntarNusa. (2006). Membangun Peradaban Zakat: Meniti Jalan Kegemilangan Zakat. (2010).

risk-shifting via fixed price debt contract. aset portofolio. The risksharing and profit-sharing as core of Islamic finance be improved in order to increase the final solution of modern financial problems. assetbased securitization. AC. Beberapa contoh dapat dikemukakan seperti pemadatan (embedding) ruang dan waktu kerja manusia berdasarkan teknologi dalam sistem kapitalisme mengakibatkan semua ruang kehidupan (ruang keluarga. Ruang kerja tidak lagi membutuhkan tempat khusus seperti ruang kantor. ruang hotel. Contemporary Critic of Historical Materialism (London: MacMillan. loss and profit sharing. manajemen risiko. Perkembangan dramatis dalam sektor finansial dunia semakin kuat karena keikutsertaan pihak luar. dll) menjadi wahana untuk menjual produk (TV Plasma. Keywords: Risk-spreading and sharing. memperoleh tingkat suku bunga yang lebih murah dari sebelumnya. Semua transaksi bisnis dapat dilakukan di restoran. akselerasi inovasi teknologi keuangan. dll). Perkembangan ini de facto memacu individu berinvestasi dalam ragam bisnis.GLOBALISASI DAN TANTANGAN BAGI SISTEM KEUANGAN ISLAM: PERSPEKTIF FILSAFAT EKONOMI ISLAM Bambang Wahyu Dosen Program Studi Ekonomi Islam FAI-UIKA Bogor Abstract The challenge of Islamic financial system today faced on globalization which has numerous power to influence the character and development of Islamic financial system. seperti pemerintah dan lembaga internasional. Derasnya arus teoritisasi sistem finansial. DVD. subprime mortgage. globalisasi. seperangkat sofa. Pendahuluan Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berakibat langsung pada struktur pasar dan institusi keuangan dunia. But such ways has discussed mainly related to lack of financial instruments and diversification of portfolio. 1981) hal. ruang tidur. Waktu kerja pun bisa ditambah sesuai dengan kebutuhan produktivitas (jam lembur. serta berbagi risiko dengan individu atau lembaga lain. sektor finansial dan sektor riil I. 69 8 . sistem keuangan Islam. Struktur pasar global yang selama ini menjadi prerogatif individu dan perusahaan 2 Anthony Giddens. sift malam. ruang tamu. deregulasi dan reformasi institusi telah merubah wajah sistem dan mekanisme finansial sehingga mendorong munculnya perkembangan sistem keuangan global. sistem fiskal dan moneter. atau rumah pribadi. dll)2. intermediasi keuangan.

investasi global dan produksi yang melibatkan regulasi. 35 5 Zamir Iqbal&Abbas Mirakhor. The End of Nation-State: The Rise of Regional Economies (New York: The Free Press. Hal ini disebabkan tidak ada negara yang mampu mengisolasi diri dalam ranah ekonomi global. kemudahan investasi dan transportasi. Dalam konteks ini terlihat bahwa globalisasi merupakan proses pertumbuhan yang multidimensi dan multibentuk melalui keterhubungan antar negara dan antar individu di seluruh dunia. Pelaku pasar dunia melakukan kolaborasi aktif dengan pihak-pihak lain dengan tujuan membakukan (fixing) globalisasi secara mondial di mana pemerintah tidak lagi merujuk pada posisi administratif dan supervisi melainkan telah menjadi penjual atau pembeli dalam konstelasi pasar kompetitif. An Introduction To Islamic Finance (Singapore: John Wiley&Sons (Asia) Pte Ltd. standarisasi. akuntabilitas. Peran negara-bangsa bahkan semakin dominan dari masa sebelumnya karena perkembangan teknologi membuat masyarakat dunia terjaring dalam suatu networking bisnis tanpa batas geografis dan teritorial. Masyarakat dunia.multinasional mengalami perubahan signifikan karena selain masuknya pemerintah (nationstate) dan lembaga internasional juga mengakibatkan posisi individu dan perusahaan multinasional menjadi dominan3. dan individu saling bahu membahu memfiksasikan wacana globalisasi secara sistematis. teknologi informasi yang menjadi ikon globalisasi memungkinkan keterjaringan manusia modern dalam networking. Jika sebelumnya sistem kedua mendominasi perdagangan global maka pemikiran dan analisis risiko bisnis global yang fluktuatif menyebabkan pelaku usaha memilih sistem pertama. dalam perspektif ekonomi. sekuritas berbasis aset (asset-based securitization). Negara-bangsa bekerja sama dengan lembaga internasional. 1998) hal. pergerakan mata uang. serta bebasnya aliran modal mampu memobilisir pertumbuhan ekonomi dunia secara global. 2007) hal. Maka keputusan individu sering memiliki implikasi global berkenaan dengan dinamika dan akselerasi struktur pasar finansial4. Dalam dimensi ekonomi. Maka lanskap sistem finansial internasional mendorong tumbuhnya sistem risk-sharing. Tenaga kerja murah. Dalam pengelolaan risiko bisnis di atas. budaya. liberalisi perdagangan. dan sosialpolitik. Kontestasi Sistem Keuangan Global dan Sistem Keuangan Islam Sistem keuangan Islam pun tidak luput dari euphoria globalisasi di atas. 1984) hal. Anthony Giddens. Banyak negara Islam yang terlibat semenjak lama dengan perdagangan internasional. perusahaan multinasional. dan transaksi bagi hasil (loss and profit sharing) dengan tujuan menjaga stabilitas perdagangan internasional. Lihat pula pembahasan Kenichi Ohmae. II. proses ini mencakup pertumbuhan angka perdagangan. Dan proses pertumbuhannya menyangkut aspek ekonomi. Inovasi baru dalam bisnis mengharuskan analisis harga risiko yang dikaitkan dengan ketersediaan informasi serta mengadopsi standar internasional dalam prinsip transparansi. The Third Way: The Renewal of Social Democracy (Cambridge: Polity Press. George Soros dengan Quantum Fund-nya sanggup merekayasa dan mengguncang pasar dunia melalui spekulasi perdagangan valas. The Constitution of Society (Cambridge: Polity Press. dan eksistensi kelembagaan. 296 3 9 . 182-183. adalah masyarakat yang terintegrasi oleh satu Dengan demikian. 1995) 4 Anthony Giddens. dan tata kelola yang baik (good corporate governance).Tentu saja. investor dan pelaku usaha cenderung memberlakukan “penyebaran dan pembagian risiko” (risk-spreading and sharing) dibandingkan “pemindahan risiko dengan kontrak harga tetap” (risk-shifting via fixed price debt contract)5. prediksi Kenichi Ohmae tentang memudarnya peran negara-bangsa dalam konstelasi perdagangan dunia tidak benar.

Bank hanya menyalurkan dana kepada nasabah untuk memiliki rumah. Bruyette&Woods. Tahun 2007 pertumbuhan ekonomi AS mengalami perlambatan akibat tingginya harga minyak mentah dunia. Inggris yang dulunya memegang teguh konservatisme pasar bebas pada akhirnya membuka diri untuk menjadi salah satu pusat keuangan syariah internasional. Fenomena ini mengakibatkan sektor properti ambruk. Hal ini berbeda dengan sistem keuangan konvensional yang tidak memberi jaminan stabilisasi sistem finansial dan tingkat keuntungan. dan lain-lain berlomba membeli saham hipotek yang ditawarkan. Krisis ekonomi subprime mortgage pada akhir tahun 2007 dan awal 2008 menjadi contoh rapuhnya fondasi sistem finansial itu. masing-masing pelaku usaha bebas memilih sistem transaksi yang menguntungkan dan menjaga stabilitas keuntungan itu. dan lain-lain. Pemilik rumah pun tertarik menjamin rumahnya ke bank untuk memperoleh pinjaman (home equity loan) untuk memenuhi kebutuhan konsumtifnya. 6 10 . The Moral Dimension: Toward A New Economics (New York: MacMillan. Wells Fargo. 1998) dan James Robertson. Pihak bank kemudian mengemas kredit ini dalam berbagai instrumen keuangan termasuk obligasi yang dilempar ke pasar obligasi internasional (mortgage bond market) sehingga menarik minat banyak perusahaan keuangan internasional7. yang jumlahnya sekitar 30-40 persen dari total jumlah nasabah. total kerugian penghapusan buku mencapai US$ 15-250 miliar. Countrywide Financial. Lihat Emitay Etzioni. analis ekuitas Bear Stearns. Gedung Putih Permasalahan ini dapat dilihat pada sejumlah kritik terhadap konsep pembangunan ekonomi dunia yang tidak berpihak pada kesejahteraan umat manusia. SIV (structural Investment Vehicle). Baru pada tahun ketiga dan selanjutnya. Jumlah obligasi hipotek yang terkumpul senilai US$ 27 triliun (lebih besar dari treasury bond). Dalam konseptualisasi seperti ini. Future Wealth: A New Economic for 21st Century (London: Cassel Publication. Harian Republika edisi Senin. Citigroup. Sektor moneter terkena imbas karena angka inflasi membumbung tinggi. Banyak nasabah mengalami kesulitan membayar cicilan kredit sehingga harus menjual rumahnya kembali. Ketika kredit sudah cair. Maka booming penjualan rumah menyebabkan harga properti hancur. Kondisi perekonomian AS yang baik jangka waktu 2002-2006 turut andil memperbesar margin keuntungan sektor properti sehingga bank di AS berani menawarkan kredit hipotek dengan bunga rendah pada 2 tahun pertama peminjaman. HSBC. Para broker properti pun membujuk rayu para pemilik rumah untuk memperoleh pinjaman dengan jaminan rumahnya selagi bunga rendah. Morgan Stanley. Ceritanya seperti ini: Krisis bermula dari booming sektor properti di AS yang mengakibatkan harga rumah melambung tinggi. Pihak bank dihadapkan pada menyusutnya nilai jaminan aset dan uang tidak kembali. 28 Januari 2008. Berdirinya pusat keuangan syariah internasional (hub) di sejumlah negara Eropa tidak terlepas dari faktor ini. nasabah memiliki rumah dan tinggal mencicil kredit pinjamannya setiap bulan. sistem bunga dibuat naik tak pasti dan berubah-ubah (adjustable rate). Bear Stearns. 1990) 7 Sebenarnya mekanisme kredit hipotek ini sederhana.9 miliar ditambah kerugian saat tutup buku sebesar US$ 18 miliar. Citigroup pada kuartal IV tahun 2007 mengalami kerugian US$ 8. Perusahaan keuangan internasional mengalami kondisi paling parah karena krisis ini ternyata menjadi “gunung es” krisis keuangan dunia sehingga mengguncang pasar uang AS dan Eropa. Indymac. Negara Islam Timur Tengah yang kuat memegang prinsip transaksi syariah diakomodasi oleh sistem global dengan mendirikan pusat keuangan syariah. Perusahaan seperti Merril Lynch. Lehman Brothers. Masalahnya menjadi rumit ketika bank membuat kemasan baru yang berlapis untuk menarik minat perusahaan keuangan internasional di pasar obligasi seperti CDO ( collateralized Debt Obligation). Kepentingan negara-negara Eropa adalah pengelolaan keuangan investasi Timur Tengah. Menurut David Hiller. Washington Mutual. Maka rasionalitas ekonomi melihat kondisi ini sebagai alternatif sistem finansial internasional yang menguntungkan. Nasabah yang tidak mampu melunasi kredit akhirnya membiarkan bank menyita (foreclosure) rumah mereka.sistem dunia untuk mencari bentuk tata baru perekonomian yang lebih adil6. Akhirnya pemerintah AS turun tangan mengatasi krisis keuangan tersebut. JP Morgane Chase.

Pasar bekerja berdasarkan hukum demand-supply yang mensyaratkan suatu komoditas yang tradable. dan kontrak. dan pelaku usaha untuk menjalankan aktivitas ekonomi mutlak diperlukan. Dengan demikian kerja sama strategis antara pemerintah. pemerataan distribusi pendapatan dan sirkulasi kekayaan tidak selamanya mampu dilakukan pasar. masalah eksternalitas. sebagaimana yang ditawarkan sistem keuangan Islam. Pada ranah operasional. hambatan perdagangan. Institusi keuangan Islam telah menunjukkan kinerja positif dalam menjamin hak dan kontrak tersebut sehingga sistem surplus sharing dapat diperluas dalam formulasi kebijakan. Dan institusi keuangan yang kuat berkaitan dengan upaya melindungi hak milik. Sistem keuangan profit sharing didasarkan pada transaksi saling percaya (mutual trust) di mana tingkat kepercayaan publik merupakan fondasi utama untuk mengembangkan kegiatan bisnis dan investasi yang berpengaruh pada kinerja institusi. perkembangan sistem keuangan didukung oleh kuatnya fondasi institusi. Penanganan terhadap komoditas seperti itu membutuhkan intervensi pemerintah agar komoditas dapat diperdagangkan kembali dalam mekanisme pasar kompetitif. operasional. 297 11 . perkembangan dan inovasi teknologi. hak investor. Dalam kenyataannya banyak komoditas yang tak dapat diukur (unsizeable) sehingga tidak memiliki harga dan tak dapat diperdagangkan atau tak dapat disediakan oleh pasar.cit. op. Ada dua pelajaran menarik dari krisis subprime mortgage yaitu: (a) sistem keuangan global ternyata dibangun dengan dasar optimisme yang besar pada kinerja mekanisme pasar bebas walaupun de facto sering menimbulkan distorsi ekonomi dan (b) pada akhirnya membutuhkan “intervensi terbatas” pemerintah untuk menyelamatkan mekanisme pasar tersebut. dan perekonomian negara. 8 Zamir Iqbal& Abbas Mirakhor. Dalam rasional ekonomi. Market failure. Komoditas itu harus memiliki harga sedangkan harga harus terukur (sizeable). Tantangan Baru. pemerintah AS mengeluarkan kebijakan bail-out yaitu tindakan penyelamatan sementara dalam bentuk jaminan finansial agar efek berantai krisis finansial itu tidak mengganggu laju pertumbuhan ekonomi dan tidak mempengaruhi sektor keuangan yang lain. Secara implementatif juga harus diupayakan langkah-langkah membumikan sistem keuangan Islam sebagai sub sistem ekonomi Islam. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar. dan lain-lain). III. kesejahteraan masyarakat. dan implementasinya8. monopoli dan oligopoli. penyediaan barang publik. Kegiatan ekonomi tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar karena cara kerja pasar tidak selamanya berjalan efektif dan efisien. hal. keadilan. Tapi kebijakan ini justru membuat panik para pelaku pasar di Wall Street. pasar. dan manajemen risiko dapat diejawantahkan secara komprehensif. Kesempatan Baru Tantangan baru sistem keuangan Islam terdapat pada akumulasi teori.memangkas 1 persen PDB (Gross Domestic Product) masyarakat AS dan The Fed (Federal Reserve) memotong suku bunga di bursa saham sebesar 75 poin untuk mempermudah nasabah mencicil kredit. intermediasi keuangan. Kondisi ini disebabkan de facto realitas pasar tidak dapat beroperasi karena tidak terpenuhinya syarat-syarat pasar kompetitif (asimetri informasi. Optimisme publik terhadap institusi keuangan sangat tergantung dari jaminan ini. Akumulasi teori keuangan Islam sebagaimana dikembangkan ilmuwan dan ekonom Islam harus menjadi landasan teoritis untuk membangun sistem keuangan berbasis profit sharing yang produktif dan menguntungkan.

hal. Maka ketidakseimbangan informasi ini menghasilkan spekulasi pelaku usaha dan mekanisme operasional perbankan. investasi. Stabilitas yang ditunjukkan oleh kinerja operasional institusi keuangan dalam bidang perdagangan. semakin tinggi tingkat kepercayaan publik terhadap institusi keuangan maka makin seimbang tingkat investasi dan akselerasi pasar barang pun makin meningkat. Dengan kata lain. Pada akhirnya sistem suku bunga menjadikan bank sebagai “pemberi pinjaman terakhir” (the lender of last resort) untuk menyelesaikan berbagai persoalan keuangan. Fungsi lembaga intermediasi pun sebatas menjalankan otoritas mereduksi angka transaksi. Pengalihan sistem perbankan pada suku bunga tetap dalam mengamankan kinerja operasional perbankan menjadi penyebab in-efisiensi dunia keuangan. Salah satu penyebabnya adalah sistem perbankan modern melakukan intermediasi untuk menyediakan uang bagi pelaku usaha dengan tingkat bunga sesuai kontrak9. 3. Kebijakan pemerintah dalam memperkuat institusi keuangan adalah: 1. bahkan produksi membuat sistem risk-sharing menjadi alternatif pilihan sistem keuangan global sehingga mampu mengambil hati banyak investor. IV. Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan urgensi menerapkan sistem risk-sharing yang menegaskan sikap saling percaya antara mekanisme operasional dan pelaku usaha. 302 12 . 5. 2. Kondisi ini berbanding terbalik dengan institusi keuangan yang mengalami penurunan kepercayaan maka keseimbangan partisipasi publik tergantung dari aturan dan institusi hukum yang melindungi hak milik investor dan pihak lain yang diikat kontrak. Dari sisi negara.Di samping itu. yang disebut moral hazzard. Maka institusi keuangan yang memiliki tingkat pertumbuhan minimal tidak hanya disebabkan rendahnya tingkat kepercayaan tapi juga minimnya perlindungan hak dan kepemilikan investor. serta memperkuat kontrak. mendorong transparansi. akuntabilitas. Melakukan liberalisasi perdagangan dan investasi luar negeri (foreign direct investment). moneter. Sebagai lembaga intermediasi dan menjaga kepentingan institusi perbankan. Meningkatkan supremasi hukum untuk melindungi hak dan kepemilikan investor. dan faktor eksternal yang 9 Ibid. Melakukan reformasi sektor finansial dengan partisipasi masyarakat dan pelaku pasar. dan tata kelola yang baik melalui keterbukaan informasi dan edukasi dalam sistem profit sharing dan risk sharing. V. 4. Meningkatkan jaminan hukum pada sistem fiskal dan pasar modal. hal ini dapat diantisipasi dengan memperkuat institusi hukum. sistem suku bunga ternyata gagal melakukan stabilisasi keuangan baik di tingkat lokal ataupun global. Memperkuat basis transparansi. dan menjalankan manajemen risiko tanpa menjelaskan struktur kredit yang tak seimbang. akuntabilitas. Tawaran Sistem Keuangan Risk-Sharing Sistem risk-sharing telah lama hilang dari khazanah sistem keuangan modern. dan tata kelola organisasi yang baik di sektor privat dan publik. informasi keuangan publik ditutup sehingga sisi pembiayaan dan sisi penghimpunan dana menjadi tidak seimbang. Implementasi Secara Luas Tantangan utama pengembangan sistem keuangan risk-sharing adalah ketidakseimbangan keuangan secara fiskal. memonitor harga.

fa’i. Dengan demikian. Islam juga mengatur pembelanjaan pemerintah dengan menerapkan prinsip efektif-efisien demi kemaslahatan umum dan asas manfaat yang maksimal. Pendapatan reguler diperoleh dari zakat. ushr. atau penentuan cadangan wajib sektor perbankan. (b) instrumen ekuitas tidak Ibid. titik keseimbangan sistem fiskal terdapat pada pilihan berbagai instrumen kebijakan pajak dan zakat serta pola pembelanjaan negara. Kebijakan fiskal akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengantisipasi distorsi pertumbuhannya. pendapatan reguler diambil dari sejumlah komponen seperti zakat.mempengaruhinya10. 14 Metwally. penentuan tingkat suku bunga. karena tidak ada aset berbasis bunga maka ia dihadapkan pada pilihan berinvestasi dengan profit-sharing dengan risiko tertentu atau mendiamkan uangnya menjadi tidak produktif (idle asset)14. hal. 1995) hal. 12 Pada masa Rasulullah. jizyah. Walaupun demikian. kharaj. dan harta temuan. Adapun sistem moneter Islam13 menerapkan variabel cadangan uang bukan suku bunga. Selain pendapatan negara. dan moral suassion (himbauan moral). Teori dan Praktik Ekonomi Islam (Jakarta: Bangkit Daya Insana. sistem fiskal dipahami sebagai langkah pemerintah/negara untuk mengatur perubahan sistem pajak (pendapatan negara) dan government expenditure (pembelanjaan negara). Menurut Chapra15. infak. 13 Sistem moneter adalah langkah kebijakan pemerintah untuk memperbaiki dan mengatur kondisi perekonomian dengan mengendalikan jumlah peredaran uang. 71 15 M. Dalam perspektif pelaku usaha. Salah satu solusi Islam dalam kebijakan fiskal adalah membedakan antara pendapatan reguler dan pendapatan aksidental. (b) sebagai konsekuensi dari (a) maka hubungan antara bank sentral dengan bank komersial mampu merekayasa situasi kondusif untuk pertumbuhan ekonomi. Penyertaan modal bank sentral di bank komersial dan perusahaan akan menjamin kebijakan dan peraturan bank sentral dipatuhi. dan tujuan sosial ekonomi lainnya. The Future of Economic: An Islamic Perspective (United Kingdom: The Islamic Foundation. Padahal kebutuhan utama sistem keuangan Islam atau risk-sharing terletak pada kebijakan struktural atas sistem fiskal dan moneter. kebijakan moneter akan berlaku efektif. dan shadaqah sedangkan pendapatan temporer/aksidental dari harta ghanimah. stabilitas harga. Umer Chapra. Instrumen yang biasa digunakan adalah open market operation. titik keseimbangan belum sepenuhnya mampu diaplikasikan. Dengan demikian. Jumlah ini akan mempengaruhi tingkat output perekonomian dan stabilitas harga. Dengan demikian. 305 Dalam konteks ini. Fenomena ini sering dialami negara-negara Islam sehingga sulit mengimplementasikan sistem keuangan Islam. 2000) hal. Di samping itu akan tersedia berbagai peluang bisnis dengan tingkat risiko berbeda. Investor akan memilih peluang investasi sesuai perkiraan laju keuntungan yang diharapkan. Khulafar Rasyidah dan kekhalifahan Islam setelahnya. sementara pendapatan aksidental dari pajak12. Bank sentral mengimplementasikan kebijakan moneter dengan tujuan menghasilkan pertumbuhan sirkulasi uang untuk mencukupi pembiayaan pertumbuhan ekonomi potensial dalam output periode menengah panjang. ada beberapa kelemahan: (a) keterlibatan bank sentral dalam transaksi saham emiten swasta akan menimbulkan distorsi karena motifnya berbeda kecuali dalam saham-saham pemerintah. Jika pilihan kedua maka nilai uangnya akan dikurangi zakat. sistem moneter Islam mengaitkan sektor finansial dan sektor riil di mana investasi dan produktivitas sektor riil berpengaruh pada return sektor finansial. Sistem fiskal11 memegang peran penting dalam institusi negara Islam karena berkaitan dengan kebijakan pemerintah untuk mengatur sistem pajak (pendapatan negara) dan belanja pemerintah (government expenditure). Di sini terlihat sistem keuangan risk-sharing berbanding seimbang dengan kebijakan fiskal dan moneter di mana (a) bank sentral terlibat langsung dalam kepemilikan perusahaan dengan memberi pengaruh (leverage) pada bank sentral. Titik keseimbangan sistem moneter terletak pada eliminasi bunga (zero interest) sehingga tingkat keuntungan berdasarkan kegiatan investasi dan pembiayaan sektor riil yang dilakukan perbankan. 115-117 11 10 13 .

dan likuiditas serta keamanan investor. Sejumlah tantangan akan dihadapi sistem keuangan Islam dalam konteks globalisasi. Kebijakan moneter bertujuan mengurangi defisit dengan cara mempertahankan batas harga dan mengeliminasi suku bunga. Sebagaimana disebutkan sebelumnya. Integrasi akan mencipta pasar uang yang lebih mudah dan transparan dengan susunan instrumen variatif. Di samping itu. dan jumlah peminjaman sangat potensial. (c) intervensi bank sentral pada bank komersial dan perusahaan bisa menimbulkan principle agency problem dan moral hazzard karena tujuan intervensi untuk menjaga target dan sasaran kebijakan moneter. operasi pasar keuangan domestik dapat dilakukan secara berkala serta memberi tekanan pada operasi keuangan untuk menaikkan tingkat keuntungan pemegang saham atau nasabah penabung. Kedua hal ini mengakibatkan sistem keuangan Islam memiliki risiko tinggi dan konsentrasi aset portofolio bersifat jangka pendek dan terbatas aset perdagangan. Dalam hal ini. Di samping itu. negara-negara Islam tidak memiliki pasar modal dan pasar uang potensial untuk menyediakan kebutuhan modal dan jaminan aset investor. sistem transaksi Islam yang menekankan analisis risiko membutuhkan kebijakan fiskal dan moneter untuk memastikan tingkat investasi dan bisnis di masyarakat. Pembelian saham perusahaan dengan sistem profit-sharing mempunyai dampak kecil dibandingkan obligasi pemerintah. Sistem fiskal bertujuan mengoptimalkan alokasi sumber daya ekonomi terutama dalam penyediaan kebutuhan pokok. stabilitas harga. penyimpanan dana. Kebijakan fiskal yang bertujuan meningkatkan pendapatan pemerintah dilakukan secara reguler dengan zakat dan mengefektifkan anggaran government expenditure. Pada sebab pertama. Jika institusi negara tidak mampu menjamin kepastian itu maka investor dan pelaku usaha akan menolak sistem risk-sharing. lembaga intermediasi keuangan. Permasalahan yang muncul adalah aset portofolio bank Islam tidak memiliki komponen yang kuat untuk melakukan transaksi profit-sharing karena (a) minimnya kerangka hukum dan institusi yang memfasilitasi kontrak dan persetujuan dalam aset portofolio sehingga yang menentukan tingkat keuntungan aset adalah sektor riil bukan sebaliknya. dan sustainability of economic growth. (b) kurangnya jumlah dan variasi instrumen keuangan yang diaplikasikan bank Islam. struktur yang establish. rekayasa finansial pada bank Islam memerlukan komitmen stakeholder dalam memahami karakter “pendapatan berisiko” (the risk return) pada sistem keuangan Islam serta menyusun instrumen baru yang berbeda dengan the risk return sesuai dengan permintaan investor. Selama ini terlihat bahwa pasar uang syariah belum mampu menaungi pasar antar bank sementara kebutuhan transaksi. dan diversifikasi portofolio dan manajemen risiko serta permintaan pasar jangka pendek dan panjang.efektif bagi kebijakan moneter karena tidak berpengaruh dominan pada pertumbuhan ekonomi. Situasi global dan integrasi sistem keuangan global akan mempengaruhi cara kerja pasar modal. menyusun perangkat manajemen risiko. Sebab kedua biasanya berhubungan dengan kurangnya instrumen yang mendukung formasi modal sehingga tidak ada instrumen finansial jangka pendek untuk menyediakan likuiditas. Tantangan itu antara lain memperkenalkan produk baru yang disari dari hukum syariah dalam menjalankan likuiditas di pasar. sistem keuangan Islam akan berjalan efisien manakala tidak terjadi paradox of growth atau angka keuntungan sektor finansial berkaitan erat dengan sektor riil. 14 . serta memisahkan portofolio.

1995. Emitay. Anthony. The Future of Economic: An Islamic Perspective. 1981. 15 . The End of Nation-State: The Rise of Regional Economies. London: Cassel Publication Harian Republika edisi Senin. 1984. 1990. 28 Januari 2008. Jakarta: Bangkit Daya Insana Ohmae. Kenichi. 1998. Zamir& Abbas Mirakhor. The Third Way: The Renewal of Social Democracy. Contemporary Critic of Historical Materialism. Umer. 1998. New York: The Free Press Robertson. Cambridge: Polity Press ___________. An Introduction to Islamic Finance. 2000. Singapore: John Wiley& Sons (Asia) Pte Ltd Metwally. Teori dan Praktik Ekonomi Islam. New York: MacMillan Giddens. Cambridge: Polity Press Iqbal. London: MacMillan ___________. The Constitution of Society. Future Wealth: A New Economic for 21st Century. James. M. 2007. The Moral Dimension: Toward A New Economics. 1995. United Kingdom: The Islamic Foundation Etziony.DAFTAR PUSTAKA Chapra.

causing changes in real economic 16 . This happens because the value of their wealth. the federal funds rate [FFR]). Keywords: Indonesia. One of the policy implications is that the authority of Indonesia stock markets should strengthen and improve their regulations so that the susceptible of the stock markets can be minimized. Assume a change in one of the monetary policy instruments. Error Correction Model. A 1 percent increase in US stock markets contributes to Indonesia stock markets by 0. Therefore. in turn. forces investors to revalue their equity holdings.e.e. a shift in monetary policy stance will induce changes in the consumption patterns of individuals and in the investment plans of firms.THE IMPACT OF US MONETARY POLICY AND STOCK MARKETS TOWARD INDONESIA STOCK MARKETS Muhamad Abduh Lecturer of Islamic Economics Program Bogor Ibn Khaldun University Alumni of Master of Economics of IIU Malaysia PhD student at Department of Business Administration of IIU Malaysia Abstract The aim of this paper is to examine the interdependence revulsion of Indonesia Stock Markets (JCI) with the changes in US Monetary policy and Stock Markets (DJCI). such as the money supply or the instrumental rate (i. is affected by an easing or tightening of monetary policy through either expected earnings or through the discount rate. The result reveals a short-term and long-term dynamic relationship between the US stock markets and the Indonesia one.. I. cointegration test. Granger’s causality and Vector Error Correction Model (VECM). Introduction Understanding how monetary policy is transmitted to the economy by the way it affects the stock market and other macroeconomic magnitudes remains one of the most important challenges among economists. the unit root test. United States. Such a change leads to changes in market interest rates which. The methodology used in this study is time series econometric techniques i. given by the sum of the discounted future cash flows (or dividends). Granger Causality. The significance of this issue is underscored by the following scenario.4 percent over the next 10 months.

private wealth. there are also Nissim and Penman (2003). down 11. In this view.719. with the benchmark Straits Times Index dropping 84.1 percent and financials' 6 percent.7 per cent. Gangopadhyay (2008). There are many views about how monetary policy might cause an asset price boom. down 258. which examine the association between 1month Fed interest rate as US monetary policy and stock market return in the US. Still another view. In this view. Reilly et.45 points. II. Indonesia's stock market plunged by 4. Besides Chen (2007).4 points to 2. monetary policy can encourage asset price booms simply by credibly stabilizing the price level. Lehman Brothers. Stock markets plunged throughout Asia. New Zealand and Australia.8 percent to become the day's biggest loser. The Weighted Price Index of Taiwan Stock Exchange opened sharply lower and continued its downward trend to close at 6052. as authorities issued calming messages that had little effect. Nowadays. The Stock Exchange of Thailand (SET) index ended at 642. All eight major sectors dropped. This paper. with the collapse of the one of the most respected American investment banks. and ultimately real economic activity (Laopodis. however. Stocks on the Singapore Exchange slumped 3. the transmission of monetary policy via changes in the short-term interest rates influences asset prices which. 2004). Asian markets have felt the full force of the shock wave from the latest financial meltdown in the United States.486. stable inflation. Literature Review Many journal articles have been written under the discussion about the association between stock market and monetary policy for both domestic monetary policy and international monetary policy. followed by cement's 6.al (2007). with construction falling 6. in turn. affect borrowing costs.al (2005) examine the impact of both domestic and foreign interest rate policy on stock returns across seven selected national equity markets using VAR model specifications and Johansen’s cointegration analysis.39.808 points. argues that asset price bubbles can result from the failure of monetary policy to credibly stabilize the price level. thereby causing their prices to rise. For example. stimulating the economy as a whole.21. Very interesting to know and understand the relationship between the US monetary condition and other country’s stock market reaction.09 percent.8 percent. or 1.254 points. or 4. added liquidity increases the demand for assets. a traditional view focuses on the response of asset prices to a change in money supply. Taiwan's stocks shed 4.i As reported in MalaysiaSunii. tries to examine only the linkage between the 1-month interest rate of the Federal Reserves of US as one of her monetary policy’s instrument and the movement of her stock market as revisit study toward Indonesia stock market.23 points. 17 . as the Indonesia Composite Index closed at 1. or down 84.09 percent on reports that US investment banker Lehman Brothers Holdings Inc would declare bankruptcy. coming from the dynamic general-equilibrium macroeconomics literature.95 points. A second view (see Bordo and Wheelock. and that Merrill Lynch would be bought out by Bank of America. Simply put. 2006). voiced by Austrian economists in the 1920s and more recently by economists of the Bank for International Settlements (BIS). argues that asset price booms are more likely to arise in an environment of low.29 percent.activity and ultimately affecting inflation. Chen (2007) focuses on domestic news in the USA and use modified versions of the Markov-switching model developed by Hamilton (1989) to present a strong and negative effect of a contractionary monetary policy on stock returns while Hamid et.

Dow Jones stock markets. S Fed = Indonesia stock markets index (JCI) = 1-month Federal funds market rate 18 (1) . Australia. they find that the causality runs one-way from Singapore. By contrast. After Asian financial crisis 1997. Data and Methodology We used monthly data covering 134 months from July 1997 to August 2008 for all endogenous variables. and United States-find no evidence that those three developed markets share long-run relationship with the markets in ASEAN. the following model is derived: S t   0   1 Fed   2 DJ  u t Where. decade by decade. However.econstats. In the case of Indonesia. To study the relationship between the Indonesia stock markets and the US monetary policy and stock markets. The measure of stock prices.com). Germany. Singapore. and 1-month fed interest rate.e. Ozun and Cifter (2007) employed the Wavelets analysis and Granger Causality tests to come to conclusion that the changes in the US interest rates affect the return on the Istanbul Stock Exchange National 100 Index. Indonesia. Dow Jones Composite Index and 1-month fed interest rate are taken from the econstats website (www. Cheung and Mak (1992) and Dunnis and Shannon (2005) find the evidence of cointegrating relationship between ASEAN and central Asia emerging markets with the US markets.Bredin et. Indonesian stock markets. Ibrahim (2005) finds that the Indonesian market does not share a longrun relationship with other ASEAN and advanced markets pre-crisis and post-crisis. ASEAN markets have motivated some researchers to focus on financial integration among them and between them and some established markets (US and Japan). leads the price movements of all other stock markets in the region during the crisis. since Indonesia being one of the worst affected economies in the region by the financial turmoil. (2005) examine long-run relations of five ASEAN stock indices during the financial crisis. Goh et al find that there is no long-run equilibrium exists during the crisis. Indonesia and Thailand to the Philippines. and the Philippines. i. Ibrahim (2005) also finds no evidence of long-run relationship between ASEAN markets and the US markets. Malaysia. Daly (2003) that incorporates three developed markets-namely. Malaysia. Goh et al. Laopodis (2006) examines the dynamic linkages between the federal funds rate and the S&P500 index for the 1970-2003 periods. using cointegration and error-correction methodologies. In the causality test.al (2005) examine the association between Irish stock market volatility and the US monetary policy announcement that result in an asymmetric volatility of Irish stock return as US tightening her monetary policy. III. it becomes more responsive to the advanced markets during the post-crisis period. furthermore. Applying Vector Autoregression model and pursued with Granger-causality test. Thailand. Jakarta Composite Index (JCI).

the OLS will not produce consistent parameter estimates.b) if: (i) All components of Yt is I(d) 19 . the data are not stationary) H1: δ < 0 (does not contains a unit root. the linear combination between two or more variables may be stationary. the data are stationary) (3) The equations presented above include both drift term and deterministic trend.DJ = US stock markets index (DJCI) Step 1: Stationary test A unit root is tested with Augmented Dickey-Fuller (ADF) and Phillip-Perron (PP) test. the data are not stationary) H1: δ < 0 (does not contains a unit root. the data are stationary) m (2) While PP test can be determined as in Equation (3). Hence. To test cointegration. the regression between variables is spurious. Step 2: Cointegration test Cointegration means that even though the variables are not stationary individually. Components in vector Yt is said to be cointegrated at d. Yt   1   2 t  Yt 1   i i Yt 1   t The hypothesis tested: H0: δ = 0 (contains a unit root. presented by CI (d. Yt   0  1t  Yt 1  vt The hypothesis tested: H0: δ = 0 (contains a unit root.b degree. ADF test is can be determined as in Equation (2). Johansen cointegration test is used. Do the variables observed have a tendency to return to the long-term trend following a shock or the variables follow a random walk? If the variables follow a random walk after a temporary or permanent shock. All series should be stationary at the same level.

Consider VAR model for yt: A( L) xi   t (4) The parameter can be presented in the form of Vector Autoregressive Error Correction Mechanism: p 1 Yt    i Yt i   Yt  p   t i 1 (5) Where vector β = (-1. cointegration only shows the existence or non-existence of Granger’s causality. If cointegration is found from the variable series. β2. and speed of adjustment parameter is given as α = (α1. are found to be cointegrated. If this is the case. The result from the cointegration relationship between variables has set aside the probability of spurious estimation. …. In the case of b=d=1. if Yt and Xt have the same stochastic trend and current variable of Yt 20 . hypothesis testing on α and β can be performed. αn) when rank β=r<k. Yt is I(1) and their linear combination is I(0). Lag length specification for the model can be determined by VAR equation using the AIC and SBC criteria. Step 3: Granger’s Causality test and Vector Error Correction Model (VECM) Cointegration techniques of Granger (1986). and Johansen and Juselius (1990) have given a significant contribution to Granger’s Causality test. α2. Nevertheless. they will show the existence of long-term relationship if the variables contain mutual stochastic trend. Engle and Granger show that if the variables. k is the number of endogenous variables. represented by the error correction term and by other explanatory variables. Engle and Granger (1987).(ii) There is a non-zero vector β = (β1. If the number of cointegration relations is known. 1981). Vector β is the cointegration vector. which gives an implication that changes in dependent variable are a function of the imbalance in cointegration relation. Intuitively. VECM specification restricts the long-run behavior of endogenous variables to converge to their cointegrating relationship whilst allowing for short-run adjustment dynamics. VECM is a restricted VAR designed and used for non-stationary variables known to be cointegrated. When two or more variables are cointegrated. …. β2. βn) so that the linear combination of βYt = β1Y1t + β2Y2t + … + βnYnt will be cointegrated at (d – b) degree where b>0. …. βn) that contain r cointegration vectors. error correction term (ECT) obtained from cointegration regression must be taken into consideration in the causality test to avoid the problem of miss-specification (Granger. Johansen (1991) and Johansen and Juselius (1990) produce the maximum likelihood approach using the VAR model to estimate the cointegration relationship amongst components in vector k variable Yt. but does not indicate the direction of causality between variables. say Yt and Xt. there exists at least one Granger’s causality either in one or bi-directional (feedback effect). there will be an error representative which is linked to the said equation.

in other words. Information gathered from VDC can also be presented with Impulse Response Function (IRF). Step 4: Impulse Response Function (IRF) and Variance Decomposition (VDC) F. Hence. The VAR constraint model may derive a VECM model as shown below: n i 1 n Yt   i   Ai Yt i    i  t i  vt i 1 (6) where Yt : in the form of (n x 1) vector Ai and ξi : estimated parameters Δ vt : different operator : reactional vector which explains unanticipated movements in Yt and Θ (error correction term) In the Granger’s causality test. or through the F-test applied to the lags of the coefficients of each variable separately of the non-dependent variable. they do not indicate the degree of exogeneity between variables outside of the sampling period.(dependent variable) is in part. Error term with lagged parameter (ECT(e1. Both are obtained from Moving Average (MA) model acquired from the original VAR model. VDC shows the percentage of forecast error variance for each variable that may be attributed to its own shocks and to fluctuations in the other variables in the system. the result of Yt moves in line with the trend value of Xt (independent variable). VECM method allows the differentiation of short-term and long-term relationships. the degree of exogeneity can be identified through the ttest for the lagged error correction term. VDC decomposes variation in an endogenous variable into component shocks to the endogenous variables in the VAR.and t. Through the ECT. IRF measures the predictable response to a one standard deviation shock to one of the 21 .tests in VECM can be classified as causality tests within sampling period. Furthermore. Variance Decomposition (VDC) can be described as the causality test outside of the estimated period. the VDC gives information about the relative importance of each random shock to the variable in the VAR. In addition. VECM allows the discovery of Granger’s causality relation. They do not provide indicators for the dynamic nature of the system.t-1)) is an adaptive parameter measuring the short-term dispersal from long-term equilibrium. Those tests will only determine the degree of endogeneity or exogeneity of dependent variables in the estimated period. In short-run. the statistical significance of the coefficient associated with ECT provides us with evidence for an error correction mechanism that drives the variables back to their long-term relationship. the variables may disperse from one another which will cause system inequilibrium.

1529 -2. the Choleski’s clarification method is utilized to orthogonalize all innovations/shocks. Then. Accordingly.44 as their critical value at 5% significance level. it is found that the null hypothesis of non-stationarity at level for all the time series fails to be rejected. The test to be employed is the cointegration test of Johansen and Juselius (1990). Step 2: Cointegration test After knowing that those three variables are non-stationary and they have the same order of integration. It indicates clearly that all variables are stationary at I(1). From the results.9801 -4. Therefore. After ensuring that there is no autocorrelation exist in the residuals. Empirical Results Step 1: Stationary test The results of the ADF (Augmented Dickey Filler) and PP (Phillip Perron ) tests for the unit root test are presented in Table 1. it is clearly indicate that. In fact.system’s variables on other variables in the system. Table 1. the Indonesia stock markets seem has a long-run co-movement with the advanced Dow Jones markets in the US and or the 1-month Fed interest rate.3747 -1.9384 -2.4521 -1.5927 1st Difference -10. we proceed to test whether the linear combination of the series is stationary.3338 Level -2. As the VAR model used is underidentified. all null hypotheses are rejected for every test at first difference. the IRF shows how the path of these variables changes in response to the shock. they can be viewed as dynamic multipliers giving about the size and the direction of the effect. IV. They 22 . at least one cointegration exists at 10 percent level of significance. Stated differently. The value of ADF t-statistic and PP z-statistic will be compared to the critical value given by Mackinnon (1991). at lag interval equal to 2. Nevertheless.4145 PP 1st Difference -10.1600 -7. Indonesia markets can drift arbitrarily closer to the advanced Dow Jones markets in the long run. In other words.9376 Notes: ADF and PP t-statistic with trend have -3.7730 -11. The results of analysis are reported in Table 2. Stationary tests at level and first difference ADF Variables Level JCI DJ Fed -2. The IRF is normalized to zero to represent the steady state of the variable reacted upon. it is to test the cointegration among the variables in the model. These results conform well to those documented by Cheung and Mak (1992) and Dunnis and Shannon (2005).9043 -12.

1 level Step 3: Granger’s Causality test and Vector Error Correction Model (VECM) The long-run relationship exists between the fundamental variables. There is also short-term relationship between Indonesia stock markets and US stock markets. The general to specific technique is used to get the optimum lags. Johansen and Julesius’ Cointegration Test Lag Intervals Null Hypothesis 1 r=0 r=1 r=2 Trace 16.0012 24.133b 3.05 Max. while the Fed’s policy for short-term interest is not statistically significant influencing the movement in Indonesia stock markets. including Indonesia stock markets.31 1. However. the movements in US stock markets will Granger’s causes the movement in Indonesia stock market but not as reverse.43 1.89 0.33 0. Table 2.80a 3. The statistical significance of the coefficients associated with the ECT provides evidence of an error correction mechanism driving the variables back to their long-run relationship. In other words. as the error correction term is significant. the feedback effect does not exist between the variables.05 level Rejection of the hypothesis at the 0.05 2 r=0 r=1 r=2 28.0012 a) b) Rejection of the hypothesis at the 0. 14. 23 . and the results are presented in Table 3.33 0. Only US stock markets influences Indonesia stock markets.conformed that cointegrating relationship exist between ASEAN and central Asia emerging markets with the US markets.84 0.

**indicates significance at less than 5%.507069 Step 4: Impulse Response Function (IRF) and Variance Decomposition (VDC) Dynamic simulations are used to compute VDC and visualize the IRF in order to strengthen the results obtained through VECM. and the accumulated response of Indonesia stock markets and US stock markets toward the independent variables’ shocks is presented in Table 4.022528 -0.22 (0.57 (0.741820 -2. 24 . Vector Error Correction Model Results for Variables S (JCI) Dependent Variable: ∆S Explanatory Variables ECT ∆S(-1) ∆S(-2) ∆DJ(-1) ∆DJ(-2) ∆FED(-1) ∆FED(-2) Coefficient -0.7 (0. Therefore.658242 0.086112* 2.Table 3.64) ARCH = 0.068264 0.552144** 4.459395 0. t-statistic -2. (iii) the probability value of each diagnostic test is given in brackets and is within the acceptable norms (iv) The ECM term emanates from the cointegrating equation of the unique vector.491750** 0.070279 -0.45) Notes: (i) *indicates significance at less than 1%.552845** -0. A shock to variables in particular US stock markets has an impact on Indonesia stock markets. and there is relatively persistent effect on Indonesia stock markets. An analysis of IRF is presented in Figure 1. the IRF appears to be broadly consistent with earlier VECM results.53 Diagnostics LM = 0. (ii) LM refers to the Lagrange Multiplier statistic for serial correlation. A ten-period horizon is employed to allow the dynamics of the system to work out. and ARCH represents the test for Autoregressive Conditional Heteroscedasticity.216792 0.723411 0. RESET refers to Ramsey’s test of misspecification of the functional form.5) RESET = 0.24 F-Statistic = 5.051794 R2 = 0.

Figure 1. the accumulated response over 10 months is 0. At the same time. Impulse Response Functions of One Standard Deviation Shocks/Innovations As far as US stock markets (DJCI) shocks are concerned. 25 .4 percent which is almost seventh times the impact of 1-monthFed shock. it confirms that an increase in DJCI leads to an increase in Indonesia stock markets (JCI) in the short-run.

Decomposition of variance in S.010932 0.002797 0.000000 0. Accumulated GIRFs for the VEC Model Accumulated Response of JCI: Period DJCI shock 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0.022032 0. Granger’s causal chain implied by the analysis of VDC tends to suggest that the FED variable is the leading variable.118660 0.008669 0.041221 0.213212 0.017028 0.000000 0.000882 0.002854 0.024393 0.061212 0. about 96 percent of the forecast error is explained by its own shocks compared to the other variables.128522 0.006159 0.260762 0.030167 0.402970 1-monthFed shock 0. 26 .032992 0.060679 JCI shock 0.187824 1-monthFed shock 0. in the model.022458 0.167637 0.171123 0. For instance.Table 4.081575 0.086618 0.045819 0.136546 0.100577 0.042747 0.307172 0.000000 0.015273 0. besides being explained by its own variable.354333 0.033891 0.053560 Accumulated Response of DJCI: The results of VDCs are reported in Table 5.038068 0. even after five and 10-month horizons.053368 0.154083 0. A ten-period horizon is employed to convey a sense of a system dynamics. can be explained also by DJ. being the most exogenous of all.

353369 0.01465 82. 0. 0.78368 17.000000 0.91229 96.E.459979 FED 99.020721 0.184571 0.122803 0.78985 16.53333 16.736832 .13196 95.36676 79.230567 0.270092 0.269925 0.159447 0.960047 1. Variance Decompositions (VDCs) VD of S: Period 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 VD of FED: Period 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 S.245773 1.359445 1.970471 2.33342 19.201674 0.644398 1.150185 0.208052 0.46257 18.078690 0.289265 0.93781 19.582823 0.258597 2.773520 0.80319 27 S.Table 5.49563 96.237128 0.03777 98.149272 0.117239 1.306810 0.063738 0.536017 0.303911 DJ 0.93592 FED 0.39555 96.E.62986 84.349418 15.42528 97.288200 0.103570 0.06088 83.76016 DJ 0.316708 0.991898 1.154061 0.15098 81.388026 0.299820 0.339968 1.426214 0.60846 18.086418 0.420799 S 0.251112 0.194081 0.508596 2.69319 99.240559 0.000000 7.88651 97.000000 0.77293 80.0000 92.26750 80.125264 0.277874 0.72314 99.38025 83.305503 S 100.

04264 29.E.01435 67.99833 75.092951 0.105008 S 25.21944 FED 0.59242 V.57610 27.097314 0. The analysis leads to the finding that a 1 percent increase in US stock markets contributes to Indonesia stock markets by 0.146422 1.97122 31.075782 0.82474 70.034820 0. One of the policy implications is that the authority of Indonesia stock markets should strengthen and improve their regulations so that the susceptible of the stock markets can be minimized. However.29190 30. 0.89096 32. the results are not conformed on the immediate effect of US monetary policy through 1-monthFed interest rate to the fluctuations of Indonesia stock markets.93818 24.082641 0.77810 65.70758 64.92610 69.063488 0.38908 72.401455 3.058936 0.70865 30. 28 .4 percent over the next 10 months.11937 29.VD of DJ: Period 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 S.717591 2.365249 0. using the VEC model we have empirically demonstrated the effects of US monetary policy and stock markets on the Indonesia stock markets covering 134 months from July 1997 to August 2008 for all endogenous variables. this research may offer some insight into the relationship between US monetary policy and stock markets towards Indonesia stock markets.88236 66.101319 0.088191 0.50431 31.188141 DJ 73.055894 0. Conclusion In this study. Notwithstanding the sample size.067980 0.156527 0.043260 0.80083 69.693750 1.

Cheung. Chen. F. 357-381. No.. Federal Reserve Bank of St. Partha. 28. pp. 20. J.” Econometrica.and Post-October 1997. Vol. No. Vol. 73-85. Vol. No. G. 2-3 (March-April 2007). Kevin James.. (2005) “International linkage of stock prices: The case of Indonesia.” Oxford Bulletin of Economics and Statistics.C. 39.” ASEAN Economic Bulletin. Johansen. 93-115. (2007) “Does monetary policy has asymmetric effects on stock returns?” Journal of Money. (2005) “Emerging markets of south-east Asia and central Asia: Do they still offer a diversification benefit?” Journal of Asset Management.... C. (2005) “High-frequency contagion of currency crises in Asia.L.” Review of Quantitative Finance and Accounting. 19. Y. R. Ito.” Applied Financial Economics. 68-74. K. 48: 213-228. 1. S. Engle. K. C. Credit and Banking. 29 .. 19– 44. No. Granger. 24. (2004) “Monetary policy and asset prices: A look back at past U. 17.” Review. J.” Quarterly Journal of Finance and Accounting. 43-47. and O’Reilly. No. 667-88. 359-377.” Management Research News. Ito. W. issue Nov.. W. Don. pp. Yuko.L. 1. (1986) “Development in the study of cointegrated economic variables.S. Vol. and Wheelock. 168-190. Caroline. Katsuya. pp. 47. M. 2. 69-95. C. Mansor H. and Granger. (2008) “Monetary policy and pricing of cash-flow and discount-rate risk.D.” Applied Financial Economics. and Kok. Goh.. (1990) “Maximum likelihood estimation and inference on cointegration with application to the demand for money. (2005) “US monetary policy announcements and Irish stock market volatility. Gangopadhyay. (2005) “Financial crisis and intertemporal linkages across the ASEAN-5 stock markets. No. 55: 251-276. pp.C. pp. (1992) “The international transmission of stock market fluctuation between the developed markets and the Asian-pacific markets.” Asian Economic Journal.References Bordo. pp. Vol. Daly. pp.” International Research Journal of Finance and Economics. 52: 169-210. 6. S. Vol. (2003) “Southeast Asian stock market linkages: Evidence from Pre.L. 124350. and Shannon. Wong. Bredin. Gavin.L. pp. Shiu-Sheng. Y.” Oxford Bulletin of Economics and Statistics. Takatoshi and Hashimoto. Louis. Ibrahim. 4. and Mak. (1987) “Cointegration and error correction: Representation. estimation. K. stock market booms. Dunis. 4.C. 3. 15. Gerard. and testing. and Juselius. D. (2008) “Oil Price and The Russian Economy: A VEC Model Approach.

” Econometrica. 16. (2006) “Dynamic interactions among the stock market. Spring 2007. J. D.K. Nikiforos T. Long-run Economic Relationship. 41. Vol. Vol.” Asian Economic Journal. 12-23.G.” In R. MacKinnon.” The Financial Review. 30 . (2007) “Analysis of the interest rate sensitivity of common stocks. inflation. 353-377. R. (2002) “Stock market linkages in south-east asia. F. Alper. Ng. Atilla. (1981) “Critical values for cointegration tests. Thiam Hee. Granger (eds). 4. and Johnson. 513-545. federal funds rate.. A07.” The Journal of Portfolio Management.Johansen. Wright. Laopodis. 1. No.. pp.R. pp. (1991) “Estimation and hypothesis of cointegrating vectors in Gaussian vector autoregressive models. and Cifter. Reilly. and economic activity.” Bulletin of Statistics and Economics. Ozun. (2007) “Time-scale effects of international risk factors on emerging equity markets: the case of Turkey. F. Oxford: Oxford University Press. 59 (6): 1551-1580. No. S.J. Engle and C.

particularly in the last three decades. the top three of Islamic banks and conventional banks are selected for comparison. the Islamic banks should diversify their assets and implement universal banking concept. universal banking system 31 . Hence. This paper attempts to analyze factors that determine high rate of financing in Islamic banks. It finds that high default premium contribute significantly to the high financing rate. rate of financing. Keywords: Islamic bank. It has attracted various entrepreneurs and enterprises to get its financing. by taking the case of Malaysian Islamic banks. This less competitiveness encourage the demand for Islamic products may fall leaving the Islamic banks.ANALISA TINGKAT PENGEMBALIAN PEMBIAYAAN BANK SYARIAH YANG LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN DENGAN BANK KONVENSIONAL: STUDI KASUS MALAYSIA Laily Dwi Arsyianti Dosen Program Studi Ekonomi Islam FAI-UIKA Bogor Irfan Syauqi Beik Dosen Program Studi Ekonomi Islam FAI dan Pascasarjana UIKA Bogor Ketua Tim Implementasi Program Studi Ekonomi Syariah FEM IPB Abstract Islamic banking industry has become financial-nerve centre in today’s world economy. while the overheads per capital is no more significantly contribute to it. NPF (Non-Performing Financing). In this paper. Islamic banks tend to have a higher rate of financing compared to the conventional ones. Good debtors opted for conventional loans since the interest rates paid were relatively lower and the rest (the bad debtors) successfully made their way to Islamic banks. Therefore. the non-performing financing of Islamic banks is high. However.

16 Bahkan. penelitian ini ingin melihat lebih jauh faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat bagi hasil dari perbankan syariah.27 0.68 1.87 Des 2004 49.3 0.7 29.89 0. penelitian ini mengelaborasi mengenai masing-masing faktor tersebut sehingga dapat diketahui kedalaman faktor tersebut. bank-bank syariah lebih mendominasi jenis transaksi yang termasuk model kedua. dapat dilihat bahwa transaksi musyarakah dan mudharabah masih di bawah 1 persen. Transaksi Pembiayaan Bai Bithaman Ajil (BBA) Ijarah Ijarah tsumma al-bai Murabahah Musharakah Mudarabah Istisna lainnya Des 2002 49. Model yang pertama terdiri dari jenis transaksi seperti musyarakah dan mudharabah.7 0. Oleh karena itu.30 Des 2003 47.55 0.18 7.62 6.04 1. BBA mendominasi sampai lebih dari separuh transaksi pembiayaan yang dilakukan bank-bank syariah di Malaysia.07 0.40 Sept 2005 42.97 23.06 1. Demikian pula negara Muslim di kawasan Asia Tenggara.37 27.10 19.25 0.00 0.23 17. akad BBA mendominasi jenis transaksi pembiayaan yang dilakukan oleh bank syariah.6 15.28 7. 32 . Demikian pula di Malaysia.8 23. Sementara.4 0.02 0. Pendahuluan Pertumbuhan industri perbankan syariah di Indonesia yang kini telah menembus 100 trilyun pada sisi asetnya ternyata masih menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat bahwa mengapa harga pembiayaan pada bank syariah lebih tinggi dibdaningkan pada bank konvensional. Tinjauan Pustaka Produk pembiayaan pada bank syariah dapat dikelompokkan ke dalam dua model: model bagi-hasil dan model pendapatan tetap. Hal ini dapat disebabkan oleh tingkat resiko yang harus ditanggung bank jika menggunakan transaksi model pertama lebih tinggi dibdaning model kedua. Lebih jauh lagi.20 2.I. Sementara model yang kedua terdiri dari jenis transaksi seperti murabahah (jual beli).70 0. Hingga saat ini.63 6. II.5 0.27 15.

Formulasi konvensional tersebut adalah sebagai berikut: Bunga kredit = cost of deposits + biaya overheads + premi resiko inflasi + premi resiko kegagalan nasabah (spread) Oleh karena itu. kita hanya dapat membdaningkan tiga variabel saja. seperti berikut ini: BBA marjin keuntungan = cost of Islamic deposits + biaya overheads + premi resiko inflasi + premi resiko kegagalan nasabah pembiayaan (spread) Formulasi tersebut mirip dengan formula yang dipakai untuk menghitung bunga kredit yang diajukan bank konvensional di Malaysia. Syaiful Azhar Rosly (2005). Jika kita mengambil tiga bank terbesar dari industri perbankan konvensional dan tiga bank 33 . Formulasi yang dirumuskan Prof. dan premi resiko kegagalan (spread). yaitu premi resiko inflasi. yaitu: cost of deposits. IV. Sekilas Perbankan Syariah di Malaysia Industri perbankan Malaysia telah lebih dulu membuka dunia perbankan syariah. III. termasuk marjin keuntungan yang disepakati kedua pihak. yang terlibat.BBA merupakan pembiayaan jual beli yang pembayarannya dilakukan secara berangsur dalam jangka panjang (Rosly. 2005:88). nasabah dan bank syariah. diasumsikan kedua industri menghadapi premi resiko yang sama. Bank Negara Malaysia (2006) mendefinisikan BBA sebagai transaksi jual beli dengan pembayaran tertunda pada harga tertentu. Data diperoleh dari laporan tahunan seluruh bank syariah di Malaysia dan sepuluh besar bank konvensional di Malaysia. Sementara variabel lainnya. Marjin keuntungan di luar harga pokok pembelian yang termasuk dalam harga pembiayaan BBA dipengaruhi oleh beberapa faktor. biaya overhead. Metodologi Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif terhadap data sekunder. berdasarkan kedua formulasi di atas. Pemaparan hasil penelitian disajikan sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat suku bunga serta bagi hasil dalam industri perbankan syariah berdasarkan studi literatur.

terbesar lainnya dari industri perbankan syariah (dilihat dari sisi aset) dan kita bdaningkan keduanya.98 5.98 6.48 5.06 8.73 6.61 7.53 7. V.84 5.52 5.80 Dari tabel di atas memberikan gambaran bahwa tingkat harga efektif pembiayaan bank syariah lebih tinggi secara rata-rata dibdaningkan pada bank konvensional dari tahun 2006 hingga 2009 di Malaysia.51 6.14 2008 6. Effective Profit/Interest Rate Bank 2009 Maybank Islamic Berhad Bank Islam Malaysia Berhad Public Islamic Bank Berhad Malayan Banking Berhad Public Bank Berhad CIMB Bank Berhad Average Islamic financing rate Average conventional interest rate 5.89 8. Meskipun sebelum menjadi bank syariah penuh.47 6.10 2007 6.47 7. Komponen ini memengaruhi harga pembiayaan karena bank syariah memiliki tanggung jawab dalam mengelola dana nasabah penabung sehingga hasilnya kemudian dapat dibagi bersama.15 6. Analisis dan Hasil Penelitian Cost of (Islamic) Deposits Cost of deposits adalah biaya yang dikeluarkan bank untuk dibagi kepada nasabah penabung.93 7.46 2006 7.82 6.60 6.37 7. Maybank Islamic Berhad telah menunjukkan nilai aset yang lebih tinggi dari seluruh bank syariah yang telah berdiri penuh. maka dapat dilihat harga pembiayaan pada bank syariah ternyata tetap masih lebih tinggi dibdaningkan mereka di bank konvensional.38 5.25 6.07 6. 34 .08 4.24 6.43 8.56 5.42 6. Masuknya Maybank Islamic Berhad dan Public Islamic Bank Berhad dalam daftar bank syariah menggeser posisi Bank Muamalat Malaysia Berhad dan AmBank Islamic Berhad yang lima tahun lalu menduduki posisi kedua dan ketiga secara berturut.33 6.14 6.

seperti gaji atau upah.12 1. Namun.16 3.06 2.95 3.14 2. Sementara itu.71 3.84 2006 3.79 2008 1.08 3. 35 .66 Secara keseluruhan.14 2.99 2.49 2.88 2.57 2. capital adalah modal dasar yang dimiliki bank untuk menjalankan usahanya.23 1. Biaya Overheads – Capital Ratio Biaya overheads adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank untuk membayar biaya operasional tidak langsung. dapat dilihat pula perbedaan di antara kedua industri tidak terlalu mencolok melainkan dapat dikatakan keduanya saling bersaing dalam usaha menarik nasabah penabung.04 2.74 2. bank syariah membayar tingkat pengembalian kepada nasabah penabung lebih kecil dibdaningkan dengan yang diberikan bank konvensional.19 2. dan sejenisnya.42 2. tagihan listrik.71 2.09 3.64 2.04 2.51 2.27 1.36 2. Effective Profit/Interest Rate Bank 2009 Maybank Islamic Berhad Bank Islam Malaysia Berhad Public Islamic bank Berhad Malayan Banking Berhad Public Bank Berhad CIMB Bank Berhad Average cost of Islamic deposits Average cost of conventional deposits 1.Tabel di bawah ini menunjukkan cost of deposits tiga bank teratas dari kedua industri perbankan di Malaysia. kecuali pada tahun 2006.72 2007 3.55 1.55 2.64 1.78 1.

103 0.145 0. setelah kedua bank tersebut terlepas dari induknya secara utuh (namun masih satu grup perusahaan).090 0. Rasio ini menunjukkan seberapa besar porsi modal yang dimiliki digunakan untuk pengeluaran biaya overheads bank.220 0.Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan rasio biaya overheads yang dikeluarkan dengan total modal yang dimiliki masing-masing bank. Sehingga pada waktu itu terlihat bahwa bank syariah belum seefisien bank konvensional (Beik dan Arsyianti.171 0.138 Lima tahun sebelumnya. Default Premium Tingkat premi resiko kegagalan dapat berbeda antara bank yang satu dengan lainnya. maka yang dapat kita lakukan adalah menambah modal bank. peran kedua bank sangat berarti dalam meningkatkan keefisienan industri perbankan syariah.141 0.103 0.145 0. Berbeda dengan lima tahun lalu.169 -0.093 0. Agar performanya terus berkembang. rasio overheads/capital dari bank syariah terus menunjukkan perbaikan.138 2007 0.139 0. bank syariah menunjukkan perbaikan dalam mengelola modalnya.117 0. Jika nasabah tersebut dapat dipercaya. pihak bank perlu mengelola pengeluarannya dengan bijak. Overheads/Capital Bank 2009 Maybank Islamic Berhad Bank Islam Malaysia Berhad Public Islamic bank Berhad Malayan Banking Berhad Public Bank Berhad CIMB Bank Berhad Average ratio of Islamic banks Average ratio of conventional banks 0.143 2008 0. Sementara itu.216 0.153 2006 0.197 0.137 0. yaitu ketika Maybank Islamic Berhad dan Public Islamic Bank Berhad masih berupa Unit Usaha Syariah (UUS – jika dilihat dari konteks Indonesia) dan belum menjadi Bank Umum Syariah (BUS).085 0. Hal ini sangat dimungkinkan karena kedua bank tersebut lahir dari dua bank terbesar se-Malaysia jika ditinjau dari sisi aset. Dari sisi ini.155 0. maka bank mungkin akan mengajukan tingkat premi resiko yang rendah terhadapnya.021 0. 36 .095 0.008 -0.094 0. rasio overheads/capital pada industri perbankan syariah masih mencapai nilai yang lebih tinggi dibdaningkan dengan konvensional. Penentuan komponen ini sangat ditentukan oleh karakter dan kemampuan nasabah pembiayaan.151 0.099 0.038 0. 2006).094 0.120 0. Sementara itu.692 0.037 0.

516.039 .91 % 2.038 0.758 769. penggunaan kata “pembiayaan” rasanya lebih tepat dipakai daripada “pinjaman”.358.78 % 1.64 % 3.99 0 1. NPL/NPF Bank 2009 Maybank Islamic Berhad Bank Islam Malaysia Berhad Public Islamic bank Berhad Malayan Banking Berhad Public Bank Berhad CIMB Bank Berhad Average ratio of Islamic banks Average ratio of convention al banks rasio 1.Indikator yang biasa digunakan untuk melihat tingkat kegagalan nasabah pembiayaan suatu bank adalah dengan melihat NPL (Non-Performing Loan) atau NPF (Non-Performing Financing).201.66 % 0.16 % 115. Oleh karena bank syariah tidak mengenal pinjaman selain qard hasan (pinjaman tanpa bunga).98 4 1.75 1 4.192 556.49 9 3.004 482.025 0. NPL / NPF dapat menunjukkan pengalaman bank pada masa lalu.14% 10.88 % 4.28 2 0.67 % 1.31 % 3.054 0.29% 150.220 779.513 112.31 2 1.93 % 1.11% 732. sementara NPF terkait dengan bank syariah.205.264.66 1 1.566 4.002 859.55 % 141.176.84 % 484.62 % 7.64 % 6.820 2.62 % 8.054 0.012 0. Berikut ini ditunjukkan tabel yang menggambarkan kondisi bank syariah dan bank konvensional dari segi pembiayaan.731.76 % 1.858 2. sehingga bank yang bersangkutan dapat menentukan tingkat premi resiko kegagalan dalam situasi tersebut. NPL terkait dengan bank konvensional.697 4.018 37 0.154 721.607 4.28% 0.06 6 0.31 5 1.029 0.773 943.90 % 2008 rasio 2.82 % 2007 rasio 2006 rasio 5.951.88 % 973.189. Rasio menunjukkan tingkat NPL/NPF terhadap total financing dan advances setiap tahunnya.86 % 0.32% 996.998 2.343 4.

cost of deposits di kedua industri perbankan di Malaysia cukup bersaing. bank syariah nampaknya masih menghadapi nasabah yang kurang dapat dipercaya dibdaningkan bank konvensional. Oleh karena itu. setiap bank masih terus digalakkan untuk memperbesar skalanya.Meskipun performa kedua industri mengalami peningkatan dari segi penanganan kredit/pembiayaan macet. Bank perlu dengan lebih cermat memperhitungkan nasabah pembiayaannya agar tidak terjerumus dalam pembiayaan macet yang baru. Sementara itu. yang telah bergabung dalam kelompok full-pledge bank syariah membuktikan bahwa skala menentukan keringanan biaya overhead bagi suatu bank. Secara keseluruhan. Dengan demikian. Namun demikian. yaitu menjalankan usaha bukan hanya dari tabungan dan pembiayaan. melainkan juga berinvestasi di pasar modal serta berperan dalam manajemen resiko dengan mengembangkan produk asuransi. kita sebagai masyarakat dapat berperan langsung dengan membantu meningkatkan performa bank syariah melalui menambah jumlah saldo tabungan/deposito pada bank syariah. biaya overhead per capital tidak lagi dirasakan signifikan bagi industri secara keseluruhan. Oleh karena itu. Kesimpulan Dua bank besar di Malaysia. biaya overheads tidak dirasakan berat porsinya pada bank syariah. dari semua komponen yang memengaruhi marjin keuntungan pada harga pembiayaan yang diajukan kepada nasabah pembiayaan terutamanya dipengaruhi oleh premi resiko kegagalan nasabah penabung dan overheads/capital. bank syariah perlu lebih berhati-hati dalam memilih nasabah pembiayaannya. Dari segi NPL/NPF. 38 . Salah satu cara adalah melalui pembentukan bank universal. VI. mereka sepertinya menghadapi nasabah yang tidak sebaik pada bank konvensional. bank syariah dapat dikatakan menghadapi premi resiko kegagalan yang lebih tinggi dibdaningkan bank konvensional. Maybank dan Public Bank. Oleh karena itu. Sementara itu. saat ini di Malaysia.

Malaysian Institute of Economic Research.12 (4):89-104.” The Effects of Conventional Interest Rates and rate of Profit on Funds Deposited with Islamic Banking System in Malaysia” International Journal of Islamic Financial Services.12.32. ______ Norafifah A.L.” Key Factors influencing Credit Risk of Islamic Bank: A Malaysian Case” Proceedings the National Seminar in Islamic Banking Finance (iBAF) 2004: Global Challenges & Competitiveness of Malaysian Financial Institutions” 2-3 march 2004. Management. S.M. N (2004). N H dan Ahmad.4. Saiful Azhar (2005).” The Effect of Rates of Profit on Islamic Bank’s Deposits: A note” Journal of Islamic Banking dan Finance. Putrajaya Malaysia. Bank Negara Malaysia (2011) www. S. D. Marriott Hotel. Ahmad. (2000). Kuala Lumpur: Malaysia. 2006. [Accessed 15. dan Planisek. Vol 1. Kaleem. S.gov.. International Economic Journal. “Adverse Selection and Bad Debts: Case for Islamic Banking in Malaysia”. Kuala Lumpur: Malaysia. Vol 12 No.. I. No 2.A. Rosly.” Danamas Publishing. ______(2005). Turkey. ______dan Shanmugam. dan Arsyianti. Vol. D.B. dan Noraffifah A. dan Isa. 18-28. Haron. No. Pp.02.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. 39 . 15 – 18 Juni 2006. M. Proceeding of 2nd International Conference on Business.” Bank patronage factors of Muslims and nonMuslim Customers”. Money growth variability and stock returns: An Innovations accounting analysis.” International Journal of Islamic Financial Services.(2003). PP. “Critical Issues on Islamic Banking and Financial Markets. Why the Rate of Financing in Islamic Banks is high? An Analysis based on Malaysian Case. and Economics. (1995).A 1998. No. L.bnm.4.3.” Causal Relationship Between Islamic and Conventional Banking Instruments in Malaysia.2011] Beik.my.1. International Journal of Bank Marketing. (1994).

Bangladesh Bank (2005). Mohammed (2005).Obaidullah. King Abdul Aziz University. Jeddah: Saudi Arabia. 40 . Rating of Islamic Financial Institutions: Some Methodological Suggestions. Islamic Economics Research Centre. Managing Core Risk of Financial Institutions: Internal Control and Compliance Framework.

The study is divided into two models. the three-month lagged of non-performing loan (DDDNPL). three-month as well as two-month period lagged of total loan (DDDCRED and DDCRED). The results showed that two-month lagged of non-performing financing (NPF). has found the opposite. The result also implied that the general election in 2004 had a significant influence to the ratio of non-performing financing (NPF) in Islamic banking. Albeit. and growth of gross-domestic product (GDPG) variables have significant impact to the ratio of non-performing financing (NPF) in Islamic banking. total asset (CASSET). inter-bank money market (PUAB). This is because the result implied that the level of Islamic banking’s R-squared. Meanwhile. 41 . however. respectively. we cannot assume that Islamic banking is performing poorly in managing credit default problems. The values of non-performing financing (NPF) in Islamic banking and nonperforming loan (NPL) in conventional banking are treated as the dependent variables. This study utilised time-series analysis. one-month lagged of total financing (DFIN). R-bar-squared and DW values are good. the amount of third-party-funds (TPF). total asset (ASSET). Islamic banking showing a good long-run as well as short-run dynamics among all variables in the beginning. In this regard. after modifying the model into autoregressive in the main analysis. 40 monthly data observations from January 2003 until April 2006 are used. results showed that conventional banking has a better performance than Islamic banking with higher correlation of determination. it has shown a good performance in the banking credit risk management and can compete head-on with conventional banking. and growth of gross-domestic (GDPG) are significant to influence the ratio of nonperforming loan (NPL) in conventional banking. this study aims to analyse the determinants of Islamic banking credit default compared with conventional banking in Indonesia. although Islamic banking is relatively a new comer in the Indonesian banking industry. by which ordinary least square method is adopted. Therefore. this study. it seems Islamic banking has a better performance than conventional banking by having a relatively low NPF. Abstract Departing from the model developed by Jimẽnez and Saurina (2006).DETERMINANTS OF BANKING CREDIT DEFAULT IN INDONESIA: A COMPARATIVE ANALYSIS Muhammad Imaduddin Alumni of Markfield Institute of Higher Education (Loughborough University) United Kingdom and currently is an Islamic banker. Eventough from the outset. namely Islamic banking model and conventional banking model.

In 2005.7 trillion IDR (31.718 trillion IDR.1. Currently. During the period of 1998 to 2001. wadiah current account increased by 0. This risk is associated with the problem of credit default. Likewise. or financing risk in Islamic banking term. while mudharabah time deposit increased by 2. is the risk that counterparty will fail to meet its obligations timely and fully in accordance with the agreed terms (Khan and Ahmed.4%).58 trillion IDR.6 billion IDR in 2005. Indonesia. Islamic banking was able to record a profit level of 238. increased by 76. One of which is the issue of risk management. 16 Data from Bank Indonesia (www. and TimeSeries Analysis I. The development of Islamic banking in terms of number of banks has shown a sound improvement. the increasing trend raised the share of Islamic banking third party’s funds in the national banking industry for 1.1 trillion IDR (33.38%. When financial crisis took place in Indonesia during 1998-2001. mudharabah saving increased by 1. Credit risk.3 billion (47%) compared to 2004.9%). INTRODUCTION 1.id) 42 . From the account type. the Indonesian banking sector has been badly hit by the depreciation of Indonesian rupiahs (IDR) against the US dollar. from 479 billion IDR to 2. Despite showing a good performance. Since Bank Muamalat Indonesia (BMI) was established in 1992. Background of Study Islamic banking has been performing a remarkable growth in Indonesia.2 trillion IDR (31. third party’s funds collection activity of Islamic banking increased from 3. Islamic banking could still perform better to manage credit default problems compared to conventional banking as indicated by having a relatively low level of nonperforming loan (NPL) just after the economic crisis in Indonesia. Conventional Banking. Credit Default. 2001). This risk is often measured by a specific financial ratio. This risk can occur in the banking and trading books of the bank.go.4 trillion IDR (26. IDR fall has multiplied the value of the banks foreign debts as well as the value of their US dollar loans. Credit risk arises when counter-party fails to meet its loan or financing obligations fully in the stipulated time.Keywords: Islamic Banking. another seventeen Islamic banks were also established from 1998-2005. namely non-performing loan (NPL).4%) to 15. The revenue of Islamic banking (79%) mostly resulted from the margin of murabahah and the profit sharing from musharakah and mudharabah financing16.6 trillion IDR. Interestingly.2%). Islamic banking has to bear with several challenges. which mostly fall under the non-performing category due to the real sectors bleak performance and their failure to make the necessary credit risk assessments. From profitability side. particularly credit risk. there is uncertainty of net-income and market value of equity arising from non-payment and delayed payment. the total asset of Islamic banking is increasing to the level of 20. Due to this risk.bi. Islamic banking has grown rapidly in terms of assets size at about 74% annually.

and prudential regulation with Spain as a case study. the growth rate of gross domestic products (GDPG). trading and construction) was also relatively controllable as reflected in the non-performing loan ratio against the total financing per sector which was under 5%. 2. II. Aim and Objectives This study aims to model the determinants of banking credit default in Indonesia through comparative analysis between Islamic and conventional banking.2. H2: Conventional banking has a better performance in managing credit default problem than Islamic banking. Jimẽnez and Saurina (2006) had analysed a study of credit cycles. H1: Islamic banking has a better performance in managing credit default problem than conventional banking. In order to know the position of Islamic banking. this present study is conducted to model the determinants of credit default in Islamic banking. The objectives of study are briefly explained as follows: 1. 1. To measure the determinants problems of credit default in Islamic banking compared to the conventional banking. 43 . Question now arises. PREVIOUS STUDIES: A SURVEY Recent empirical works have been attempted by several scholars in the area of credit risk management in banking context. credit risks. It is expected that this study will give the latest picture of Islamic banking to manage the problem of credit default in Indonesia.In 2005. How Indonesian Islamic banking cater the problem of credit risk as a result of credit default? What are the determinants of credit default in Indonesian Islamic banking compared to conventional banking? To answer these questions. To analyse on how Islamic banking manage its credit risk. to examine on how conventional banking solves the credit risk problems. 3. independent variables are represented by the lagged one year of NPL. total collaterized loans. the concentration risk from financing allocated to the three main sources (business service. size of the banks. The study utilised the ratio of non-performing loan (NPL) as a dependent variable. On the other place. and two Herfindhal indexes (one for region and one for industry). the real interest rate as a proxied of interbank interest rate less the inflation of period. to postulate these aim and objectives. Hence. the following hypothesis is used to give a proper direction in this study. and on the other side. this study will utilise conventional banking as a benchmark analysis.

the findings indicate an upward bias towards type II errors. i.and three-year-ahead forecasts for country default probabilities. and off-balance-sheet financing. and favorable macroeconomic and business conditions lead to lowering of NPLs. Predictive performance is satisfactory with a reasonable reduction in accuracy in the out-ofsample period. On the other study. changes in the cost of credit in terms of expectation of higher interest rate induce rise in NPLs. loan volatility.e. The study analysed Islamic Bank of Brunei Berhad (IBB) in terms of the performance of this bank profitability over the last ten years as well as its effectiveness in managing its credit risk. Nevertheless. however. bear a much heavier weight than global conditions. Karim.Using GMM estimator. the proportion of loan sales to total liabilities and bank size are significant determinants of interest-rate risk. the study found that commercial banks with Islamic financing have significantly lower credit and liquidity risks but significantly higher interest-rate risk than banks without Islamic financing. Kalotychou and Staikouras (2003) had measured a study of loan concentration risk in Latin America. The size of the bank does not have a significant to the problem loan ratio. A number of domestic and international signals are found to be important in determining earlier as well as recent incidents. The empirical results from panel regression models suggest that terms of credit variables have significant effect on the banks' non-performing loans in the presence of bank size induced risk preferences and macroeconomic shocks. altough not significant. On the other hand. How. factors like horizon of maturity of credit. Therefore. The empirical analysis had evaluated on how banks’ non-performing loans are influenced by three major sets of economic and financial factors. Business cycle may have differential implications adducing to differential response of borrowers and lenders. the rate of loan growth lagged four years is positive and significant at the 1 percent level. In regard to terms of credit variables. Using Malaysian data. interest-rate risk. The analysis used a modification of the default indicator to explicitly incorporate country arrear capacity.e.. rapid credit growth today results in lower credit standards that eventually bring about higher problem loans. are both significant and have the expected signs. i. the extent of securitization. bank capital. and liquidity risk. The loan growth rate lagged three years is also positive. There is also evidence that bank size is significantly related to credit risk. The main focus of the study was on the risk 44 . and Verhoeven (2005) had examined whether Islamic financing can explain three important bank risks in a country with a dual banking system: credit risk. alternative measures of bank size could give rise to differential impact on bank's nonperforming loans. and bank size are statistically significant related to liquidity risk. Furthermore. Lastly. The parameter of collaterized loans. The acceleration of GDP as well as decline in real interest rates brings about decline in problem loans. is not significant. Ranjan and Dahl (2003) had explored an empirical approach to the analysis of commercial banks' non-performing loans (NPLs) in the Indian context. the study found that the macroeconomic control variables. Finally. two. terms of credit. this study focuses on the out-of-sample classification accuracy of the proposed estimator using various criteria and provides one-. bank size induced risk preferences and macroeconomic shocks. GDPG and real interest rates. implying that policy-makers still enjoy some freedom in preventing crises by monitoring country vulnerability. Dy Nora’ain Hj Awg Besar (2005) had employed the topic of credit risk management as for her MA dissertation. although positive. A logit framework was employed based on macroeconomic and financial data to determine the causes of Latin American debt crises in the last two decades. Moreover. Domestic fundamentals. better credit culture.

(2) Monthly Indonesian Financial Statistics (Published by Bank Indonesia). i. 2002).e. The reason why this study adopts this method is that under certain condition the OLS estimator can be shown to be more efficient than many competing estimators. quarterly. (Koop.e. since it covers the data for the last three years. It uses time series analysis by utilising Ordinary Least Square (OLS) method. Due to availability of data in Indonesia. the reason for this terminology is that an estimator which yields more accurate estimates can be thought of as utilising and defining the information available in the sample more efficiently. Data are mainly collected from four sources. where it employs monthly secondary data of Islamic as well as conventional banking in Indonesia. Research Method Research method is divided into two categories. Departing from these. qualitative and quantitative (Umar. the latest capture of determinants of non-performing financings in Indonesia will be represented. III. namely dependent and independent variables. In contrast. time series data and crosssectional data (Koop. These several previous studies had concluded that the study of credit risk management in the banking sector is very important. this study focuses on 40 observations from January 2003 to April 2006. Considering the aims and objectives. Time series data can be observed at many frequencies. According to Pesaran and Pesaran (1997). 45 . quantitative method is applied in this research. OLS is a method to estimate and find the best fitting line which minimises the sum of squared residuals (SSR). METHODOLOGY OF STUDY 3. economic data can be divided into two types. In order to analyse the profitability and effectiveness of its risk management. the minor part is the performance measurement. this study aims to examine the performance of Islamic banking in credit risk management. OLS is a statistical technique that uses sample data to estimate the true population relationship between two variables. the ordering of data in cross-sectional does not matter.1. Data Mainly. 3. One estimator is said to be more efficient than another if on average the former yields more accurate estimates than the latter. 2000:5-6). and monthly-basis.management aspect whilst. ratio analysis will be employed to measure its profitability. as follows: (1) Monthly Islamic Banking Statistics (Published by Bank Indonesia).2. It is expected that by choosing this period. A comprehensive ratio analysis utilised to provide the descriptive or as a non-parametric approach then proceed with the parametric studies to facilitate a more rigorous and dynamic analytical approach. 2000:40). This study adopts time series data. i. such as: annually. whereas financing loss provision will be used to study its credit risk management.

published on the International Journal of Central Banking. and (4) Monthly Data from Indonesian Statistic Centre Bureau. which have written a paper with the tittle: “Credit Cycle. Banco de Espaňa. model specifications of determinants of banking financing defaults are explained from these following steps: A. The models are estimated as follows: 46 . Model Specification and Defining Variables Basically. conventional banking model represents the determinants of loan credit default in conventional banking.(3) Monthly Indonesian Economic and Banking Review. where the ratio of non-performing financing is treated as a dependent variable. and  Industrial index that represent the real sector of business activities Hence. which emphasises on measuring problem loan ratios. five variables that have to be considered to measure the determinants of non-performing loan ratio that are as follows:  Size of the banks  Total loans  Real interest rates as a proxy of inter-bank money market  Growth of gross domestic product as a macroeconomic indicator.3. 3. Meanwhile. by which the non-performing loan ratio is utilsed as a dependent variable. Credit Risk. Basic Model This study starts from this following basic regression model equation: Y    X   where: Y is referring to the dependent variable X the independent or explanatory variable α and β are the coefficients ε is the error term (1) Since it applies a different case study. The study presented the model of determinants of banking credit default. and Prudential Regulation”. In this regard. the credit risk is mostly resulted from the possibility of non-performing loan ratio occurred in the banking practice. this study modifies the model with the variables that are available in the data sources. at least. namely Islamic banking model and conventional banking model. Islamic banking model is the model of determinants credit default in Islamic banking. the departure point of this study is based on assumption adopted from Jimẽnez and Saurina (2006). This study divides into main models. There are.

this study controls for the macroeconomic indicator of credit default through the real rate of growth of the grossdomestic product and the real interest rate. The availability of data is in quarterly basis. Since the availability of data is in quarterly basis. CASSET is the total assets of conventional banking which represent the size of the banks. MANI is a manufacturing industrial index that represents the real sector.For Islamic Banking Model NPFt     1 ASSET   2TPF   3 FIN   4 PUAS   5 GDPG   6 MANI   where: NPF is the ratio of non-performing financing over total financings for Islamic banking in year t. CTPF is the total amount of third party’s funds in conventional banking. It is the ratio of non-performing financing/loans over total financing/loans. PUAB is a proxy as the inter bank money market in each period. the third party’s funds are used as a control variable for the effectiveness of banks. The dependent variable in both models is NPF/L. which is interest-free rate. GDPG is the real growth rate of the gross domestic product in Indonesia. hence GDP growth is transformed via a Chow-Lin interpolation procedure into a monthly series data. CRED is the total financing to the customer in conventional banking. hence GDP growth is transformed via a Chow-Lin interpolation procedure into a monthly series data. Also. ASSET is the total assets of Islamic banking which represent the size of the banks. FIN is the total financings to the customer in Islamic banking. proxies as the inter-bank money market. The more financing given the more possibility suffer from problem of financing default. In addition. is established in Indonesia. Since Islamic inter-bank money market. MANI is a manufacturing industrial index that represents the real sector. PUAS is a proxy as the Islamic inter bank money market in each period. GDPG is the real growth rate of the gross domestic product in Indonesia. which is total asset in each period of time. TPF is total amount of third party’s funds in Islamic banking. This study includes as a control variable the size of the banks. For Conventional Banking Model NPLt     1CASSET   2 CTPF   3CRED   4 PUAB   5 GDPG   6 MANI   (3) where: NPL is a ratio of non-performing loan over total loans for Islamic banking in year t. this 47 (2) . Total financings/loans are also applied to consider the relationship with the non-performing ratio.

It is a regression model where the independent variables are lags of the dependent variable (Koop. Hence. 2004:613). Plotting all the variables graphs will be utilised as well. 3. The distributions of estimators and test statistics associated with first integration iteration regressors may well differ sharply from those associated with regressors that are at the level. two.4. This study adds one. it can be important to know whether or not an economic time series has a unit-root (Davidon and Mackinnon. in order to describe the data trend from January 2003 until April 2006. In this part. Although deterministic relationships among the variables in any one of the sets of model are usually assumed to hold only in the long-run. whereby the model will not suffer from this problem if the value of DW is in between 1. Jimenez and Saurina (2006) suggested to modify the model into autoregressive (AR) model. 2004:624). Hence. The 48 . the study will explain the behaviour of all data by presenting descriptive statistic test. B. 2.2. Non-stationary data often has important economic implications. economic theory often suggests that two or more economic variables should be linked more or less closely (Davidson and Mackinnon. where this study will adopt this test before estimating the model. in case of the possibility of these two problems might occurs in both models. The procedure steps in the analysis of empirical result chapter are as follows: 1. the unit root test is a necessary prelude to analyse the empirical result. Rectified Model The basic model usually presents a lot of persistence from the problem of autocorrelation and heteroscedasticity. it is very important to be able to detect the presence of unit roots in the time series. Preliminary Analysis of Data Before this study estimates the model. Furthermore. Unit-Root Test For a number of reasons. economic forces are expected to act in the direction of eliminating short run deviations from these long term relationships. or three period lagged of variable nonperforming financing/loans and replaces total financings/loans with one lagged period of the total financing/loans to the right hand side of the equation.study uses this variable for Islamic banking model. heteroscedasticity is the situation when the error terms on the regression model do not have the same variance (Davidson and Mackinnon. 2004:197). econometric procedure of empirical analysis is utilised. If the error terms do have a same variance and it is said to be homoscedasticity. Co-Integration Test and Error Correction Model After testing for unit-root problems. 2000:190).8 and 2. Steps of Empirical Analysis To measure Islamic and conventional banking models. Meanwhile. 3. it will apply preliminary analysis of data. Therefore. Autocorrelation comes up when the error terms of a regression model are correlated among themselves. this study controls the riskdiversification strategies of banks through the inclusion of manufacturing industrial index. Durbin-Watson (DW) statistic is used to detect the presence of autocorrelation problem.

ANALYSIS OF EMPIRICAL RESULTS 4.1. ECM is a tool to measure the relationship among all variables in the model for the short-run dynamics. short-run dynamics should be tested. 4. this study then will detect the short-run relationship by applying error correction model (ECM). Asutay (2005) said that after detecting the long-run relationship. This augmented specification is then used to test this following hypothesis: Ho:  = 0 H1:  < 0 The Augmented Dickey-Fuller (ADF) statistics is used to test the unit root problem. and testing for the presence of autocorrelation and heteroscedasticity problems in both model. which has zero mean. Estimation of the model is the procedure by which the study infers information about the true but unknown values of the population parameter from the sample observations (Azid.variables should have a long-run relationship and have to be co-integrated. error correction model. After having confirmed of the co-integration test. model estimation. The analysis will emphasise on testing the significance of each individual coefficients using the t test and the overall model using the F test. Moreover. constant variance and is non-autocorrelated and Y is the time series. IV. co-integration test. The time series of dependent variable as well as independent variables are the examples of non-stationary time series. Model Estimation After utilising unit-root test. and error-correction model. comment on the R 2 and R 2 values as correlation determination between dependent and independent variables. hence the regression of unit root test based will be used on the following equation: Yt    Yt 1   1Yt 1   t where this study adds the lagged difference terms of dependent variable Y to the right-hand side of equation (4). 49 . this study will estimate the models by applying ordinary least square method (OLS). Hence. and we also need to solve this unit root problem. 2006). It is generated by random process and can be written as follow: Yt  Yt 1   t where  t is the stochastic error term that follows the classical assumptions. Since this study needs to apply the stationary time series for the next cointegration test. Unit Root Test Unit-Root test is applied to consider the trend-cycle decomposition of a time series equation [yt] (James. the cointegration test will be employed in this study in order to detect whether there are a long run relationship in all variables or not. 2005).

50 .9591 -3.5562 First Differences ADF -3.5615 -2. the result shows that all variables of non-performing financing in Islamic banking are stationary at the first difference [I(1)].7921 (0) CV (5%) -3.6492 (2) CV (5%) -3.5615 -3.1 Unit Root Test for Islamic Banking Model Variables Statictical Test and Critical Value Levels ADF NPF ASSET TPF FIN PUAS GDPG MANI -1.Islamic Banking Table. by which both variables are stationary at the level [I(0)]. except the variable of Islamic inter-bank money market (PUAS) and manufacturing industrial index.40648 (0) -4.5562 -2.6208 (0) -3.1165 (0) -9.1571 (0) -3.5562 -3.5562 -3.5615 -3.5615 -3.5768 (7) -3.8675 (2) -4.37572 (4) -2.5562 -3.9906 (7) -2.9066 (1) -.9558 -3.5615 -3.5562 -3.4757 (2) -4.6397 (2) -5.3111 (0) -.5615 I (1) I (1) I (1) I (1) I (0) I (1) I (0) Integration Levels Source: Author’s Own Calculation Under the unit root test.

40648 (0) -4.1571 (0) -3.5562 First Differences ADF -4.5615 -3. 4.9558 -3.5562 -3.5615 -3.2 Unit Root Test for Conventional Banking Model Variables Statictical Test and Critical Value Levels ADF NPL CASSET CTPF CRED PUAB GDPG MANI -1. 2004:624).5562 -3.5562 -3.0906 (7) -1.5684 (0) -4. When variables are cointegrated.5562 -3.32735 (7) -.6492 (2) CV (5%) -3.5562 -2.7921 (0) CV (5%) -3. Co-Integration Test Co-integration test is employed to obtain the existence of a long-run relationship between time-series variables (Asutay.4951 (1) -3. When it happens.5615 I (1) I (1) I (1) I (1) I (1) I (1) I (0) Integration Levels Source: Author’s Own Calculation On conventional banking model.5615 -2. It can be summarised that all of the variables in both Islamic and conventional banking models are stationary and the unit-root problem will not occur in both models.4368 (0) -5. 51 .75453 (7) -2.2. 2005).5615 -3. The Residual-based ADF Test for cointegration is used to analyse this co-integration relationship. they satisfy one or more long-run relationships (Davidson and Mackinnon. the result shows that only manufacturing industrial index (MANI) variable that is able to reject the null hypothesis (H0) at the levels.0666 (7) -.0838 (0) -8. the variables are said to be co-integrated.5615 -3.0997 (0) -4. The rest variables are stationary at the first difference.Conventional Banking Table.9591 -3.7845 (7) -.

DDDCRED. this study needs to analyse the short-term relationship among all variables in the short-run. PUAS. DDNPL. MANI) Calculated ADF Residuals -5. MANI) Calculated ADF Residuals -5. It can be concluded that there are long run relationship among all variables in Islamic banking model. ASSET. DCTPF.9333 (0) Critical Value – (5%) -5. TPF.1757 Source: Author’s Own Calculation Under the residual-based ADF test. since the calculated ADF residual is higher than the critical value.Islamic Banking Table.5264 (0) Critical Value – (5%) -5. GDPG.4 Co-integration Test for Conventional Banking Model Co-integration Regression NPL = f (DDDNPL. DFIN. 52 . the result shows that the calculated ADF residual is higher than the critical value. hence we reject the null hypothesis that said there is no cointegration in the model.1757 Source: Author’s Own Calculation Similarly with Islamic banking model. Hence.3 Co-integration Test for Islamic Banking Model Co-integration Regression NPF = f (DDNPF. PUAB. GDPG. all variables in conventional banking model have relationship in the long run. Conventional Banking Table. DDCRED. CASSET.

5 Error Correction Model Test for Islamic Banking Model Dependent Variable DNPF Constant DDNPF DASSET DTPF DFIN DPUAS DGDPG DMANI RES1 RES2 R2 Ř bar 2 DW 4.033] -3. The result finds that variable RES2 is statistically significant at 1% level. then this study runs another regression.2333[0.747] 0. it can be concluded that there is a short-run relationship among all variables in every two month period.000] 4. which means that in one month period the variables do not have a short-run relationship.714] -2.3656[0. In order to know the relationship for every two month period.92627 0. After taking the relevant variables in difference and residuals in one period lagged. this study then will find the short-run relationship by constructing error correction model test.32511[0.5617[0.8568 Source: Author’s Own Calculation Having confirmed the long run or cointegration relationship in the Islamic banking model.4.001] 0.000] 0.4462[0.441] 0.3.331] 11. Hence.78167[0.98825[0.000] 0. The result shows that residual in one period lagged (RES1) is not significant. Error Correction Model Islamic Banking Table.000] -3. 53 .9878[0.37054[0.90593 1. this research then adds variable RES2.4691[0.

528] 0. i.6 Error Correction Model Test for Conventional Banking Model Dependent Variable DNPL Constant DDNPL DCASSET DCTPF DCRED DPUAB DGDPG DMANI RES1 RES2 R2 Ř bar 2 DW 1.175] 0. Empirical Results: Model Estimation The empirical results analysis will be divided into two main models.3917[0.e.528] 0.0014[0.823] -. 4.63906[0.2343[0. 54 .62138 2.Conventional Banking Table.70324 0.17336[0.864] . Thus.675] -1.307] 5.0402[0.000] -.2806 Source: Author’s Own Calculation Contrary with Islamic banking model.4.42307[0.22576[0. Islamic banking model is more controllable than conventional banking model in terms of short-run relationship among all variables.63906[0.37140[0. It is confirmed by the variables of RES1 and RES2 which are not significant at any level.227] -.713] -1. the result implies that all variables in conventional banking model do not have short-run relationships for one month period as well as two month period. Islamic banking model and conventional banking model.

In contrast. Unfortunately.1. It is supported by showing a significant t-ratio of these variables.1524 Significant at 0. and FIN have significant impact to the ratio of non-performing financing (NPF) in Islamic banking. Hence.8515 R2 = 0. the ratio of NPF will be decreased by 1.5 ASSET Coef: 0.1 Not Significant PUAS Coef: 0.0085129 T-Ratio 0.320] Source: Author’s Own Calculation The heteroscedasticity problem will not occur in the model and the value of F-statistic finds that this model is overall significant. a negative relationship occurs between TPF and NPF.33) 12.1164. GDPG. Meanwhile. if total financings in Islamic banking increase for 1 unit.36600 T-Ratio 2. this model might suffer from the autocorrelation problem since the value of DW-statistic less than 1.0159[0. F(6.38)= 1.6739[0. The change in growth of gross domestic product for unit will affect the increasing of ratio of NPF for 0.000] DW-statistic 1.2838.4.69737 Ř bar 2 = 0. Significant at 0. Table. this study modifies the model into autoregressive in order to remove the problem of autocorrelation.3053 FIN Coef: 0.64234 F-stat.2838 T-Ratio 4.01 TPF Coef: -1.7 Summary of Regression Result for Islamic Banking Basic Model Equation NPF Constant = 1.4.4883 Heteroscedasticity *F(1.0089445 T-Ratio 0. the ratio of NPF increases by 0. The value of R-squared and R-bar-squared are relatively high.57293.57293 T-Ratio 2.5855 GDPG Coef: 0.366.18938 MANI Coef: 0. The problem of autocorrelation occurs when the error terms of a regression model are correlated among themselves. the ratio of NPF will increase for 0.0393 Significant at 0. TPF.11640 T-Ratio 3.7 confirms that only variables ASSET.70398 55 . Islamic Banking Model The result on table. The slope coefficient ASSET indicates that for every 1 unit change in total assets of Islamic banking.8. It means that for every change of third party funds in every 1 unit.

Final Model Interestingly.5060 2 Significant at 0.75950 Ř bar 2 = 0. Heteroscedasticity problem will not occur in this model since the value of *F which is not significant at any level.5 MANI Coef: 0.1566 PUAS Coef: 0. the ratio of NPF in one period is also affected by the total financings in the previous period.51163 T-Ratio 3.2904 ASSET Coef: 0.74158.6392 TPF Coef: -1. the value of DW statistic is 1. but the problem of autocorrelation cannot be removed since the value of DW statistic still less than 1.1588 Source: Author’s Own Calculation Since the problem of credit default presents a lot of persistence.31) 13.3451 Significant at 0.01 DNPF Coef: 0. 56 . the result shows that although the variable DNPF is satistically significant.32216 T-Ratio 1. after processing another regression analysis by adding the variable DDNPF and DFIN in the model.88546 T-Ratio 4.70520 F-stat.79047. F(7.8 Summary of Regression Result for Islamic Banking Rectified Model Equation NPF Constant = 0. this research adds the NPF variable in right-hand-side lagged one month.023983 T-Ratio 2. Řbar2 = 0. this research adds variable DDNPF as a two month lagged of NPF to replace DNPF. hence variable of DFIN is introduced to replace the variable FIN. this model is overall statistically significant by showing a good F-statistic result.9857[0. Therefore.3407 Significant at 0. Meanwhile.0053959 T-Ratio 0.11452 T-Ratio 3. this study uses this calculation as the final model of Islamic banking model.083] GDPG Coef: 0.12350 Heteroscedasticity T-Ratio 5.2076 *F(1. namely DNPF. To solve this problem.1688[0. where this variable is a proxy of lagged one month of variable FIN. Hence.063783 R = 0. From table. the problem of autocorrelation can be removed from the model.8.9763.1 - Not Significant DFIN Coef: -0.Rectified Model: Introducing the Lagged Variables of NPF and FIN Table. With a high value of R2 = 0.8.000] DW-statistic 1.37)= 3.

whereby the more financing should impact the more possibility suffers from problem of financing default.01 DDNPF Coef: 0.1494 Heteroscedasticity T-Ratio -4. the ratio of NPF increases by 0.74158 F-stat. the less possibility of Islamic banking might suffer from financing default. the ratio of NPF in the next month will decrease for 0.36)= GDPG 2. 57 .97871 R2 = 0. For every change of third party funds in every 1 unit.60655 DFIN  0.000] DW-statistic 1.1680[0.3738 ASSET Coef: 0.1228 T-Ratio 2.6878 T-Ratio 4. the ratio NPF will increase for 0.76558 T-Ratio 4.9763 Significant at 0.76558 ASSET  1. The more financings are given to the customer.60655 Significant at 0.60655.79047 Ř bar 2 = 0.55670 MANI Coef: 0.5 DFIN Coef: -0.10927 T-Ratio 2. This result contradicts with the early hyphothesis used in this research.Table.9 Summary of Regression Result for Islamic Banking Final Model Equation NPF Constant = 0.129] Coef: 0.1706 TPF Coef: -1.48787 Significant at 0.024073 T-Ratio 0.721 *F(1. a negative relationship still occurs between TPF and NPF.48787. The result also finds that if total financings in Islamic banking increase for 1 unit. the ratio of NPF will be decreased by 1. In contrast.4155[0.1494.97871  0.10927 GDPG It can be interpreted that the slope coefficient DDNPF indicates that for every change in 1 unit of ratio of NPF in two month behind.016707 T-Ratio 1.8963 Source: Author’s Own Calculation The regression model of determinants of financing default in Islamic banking is now as follows: NPFt  0.1 Not Significant PUAS Coef: 0.30) 16.48787 DDNPF  0. F(7.1494 TPF  0.76558. The coefficient ASSET indicates that for every 1 unit change in total assets of Islamic banking.

76741 F-stat.10927. Conventional Banking Model Table.10 Summary of Regression Result for Conventional Banking Basic Model Equation NPL R2 = 0.80319 Ř bar 2 = 0. since the value of R2 (0.087] Significant at 0. since the t-calculated values of both variables are less than t-table.From macro variable.000] DW-statistic 1.23228 Source: Author’s Own Calculation This model is strong.48898 T-Ratio 6. F(6. Fstatistic result also confirms that this model is overall significant.4712 Heteroscedasticity *F(1.4463[0. Only variable PUAB and GDPG have significant impact to the ratio of non-performing loan in conventional banking. Although both variables have a positive correlation. the change in growth of gross domestic product for a unit will affect the increasing of ratio of NPF for 0.01 PUAB Coef: 0. 58 .55932 CRED Coef: 0.0040249 T-Ratio 0.4.0010200 T-Ratio 0.1 Not Significant CASSET Coef: 0.5550 MANI Coef: 0.0097176 T-Ratio 1.20876 CTPF Coef: 0.23345 T-Ratio 5.6570 GDPG Coef: -0.76741) are high.2.38)= 3.80319) and Ř bar 2 (0. The result also shows that variable PUAS and MANI are not significant.0103 Significant at 0.5 Significant at 0.0029590 T-Ratio 0.0907[0. but from the model it can be concluded that Islamic inter-bank money market and manufacturing industrial index do not statistically give significant influence to the NPF ratio in Islamic banking.33) 22. 4.

82345 F-stat F(7.013925 T-Ratio 2. this study modifies the model by introducing oneperiod-lagged from the variables. Rectified Model 1: Introducing Lagged Variables of NPL and CRED Table.000] DW-statistic 1. like the previous model.01 DNPL Coef: 0.92410 MANI Coef: 0.7617 59 .0447[0. but the result reports that the problem of autocorrelation still occurs since the value of DW statistic decreases from 1. namely DCRED.313] T-Ratio 5.5846 R2 = 0.0790 Significant at 0.0251 GDPG Significant at 0.7192 Significant at 0.0043268 T-Ratio 0.11 Summary of Regression Result for Conventional BankingRectified Model (1) Equation NPL Constant = -4.0790.31570 DCRED Coef: 0.0013676 T-Ratio 0.37)= 1.5 CTPF Coef: 0. the DW statistic result confirms model might suffer from the problem of autocorrelation. Hence. Thus. Eventhough the values of R2 and Ř bar 2 increase and the variable DNPL is significant and the heteroscedasticity problem will not occurs in the model. this study adds DDNPL as the value of two-period-lagged of NPL to substitute DNPL variable. heteroscedasticity problem also occurs in the model since the value *F is significant at 10% level.63241 T-Ratio 3. Heteroscedasticity Coef: -0.40383 T-Ratio 10. Similarly. similarly with Islamic banking model.85597 Ř bar 2 = 0.0092865 T-Ratio 0. Unfortunately.21413 *F(1.1 Not Significant CASSET Coef: 0.3201[0.31) 26.37251 Source: Author’s Own Calculation This study modifies the model by adding variable DNPL (one period lagged of NPL) and replacing CRED with its lagged variable.6349 PUAB Coef: 0.as it is shown by the result of both t-ratios.4712 to 1.

85837 Ř bar 2 = 0.096417 DCRED Coef: 0.9390E-3 T-Ratio 0.Rectified Model 2 Table.30) 25. Unfortunately.4038[0.3897 R2 = 0. Significant at 0.7003 PUAB Coef: 0.4430 which means that it still in the range of autocorrelation problem.088100 MANI Coef: 0.012071 T-Ratio 2.82532 F-stat F(7.081349 60 .3056 Source: Author’s Own Calculation After running another regression.20565 T-Ratio 5.3113 Significant at 0.9743[0.37130 T-Ratio 8.36)= 1. the value of DDNPL is significant at 1% level.4430 Heteroscedasticity *F(1.000] DW-statistic = 1.01 DDNPL Coef: 0. the result in table 5.4198E-3 T-Ratio 0.5 CTPF Coef: 0.9495E-3 T-Ratio 0.44050 T-Ratio 3.1 Not Significant CASSET Coef: 0.6119 GDPG Coef: 0.244] Significant at 0.12 still finds that the value of DW-statistics is 1.12 Summary of Regression Result for Conventional Banking Rectified Model (2) Equation NPL Constant = -3.

000] DW-statistic 1. meanwhile growth of domestic product has a negative relationship with the value of NPL.031205 T-Ratio 2.6869 R2 = 0.86035 DCTPF Coef: 0.2861 MANI Coef: 0.19772 T-Ratio T-Ratio 2.01 DDDNPL Coef: 0. This study also uses three-month lagged as well as two month lagged of variable CRED.5 DDCRED Coef: 0.0044692 Source: Author’s Own Calculation This study then adds DDDNPL as a three-month-lagged of variable NPL and DCTPF as a one-month lagged of variable CTPF.2006 Significant at 0. PUAB.21641 T-Ratio 5.4799 PUAB Coef: 0.89072 Ř bar 2 = 0. CASSET. and CRED Table.4522[0. CASSET and PUAB have a positive impact to the ratio of nonperforming loan. in this fourth process of regression.0088884 T-Ratio 1.74597[0. lots of variables are significant in the model.5476 Significant at 0. and MANI are not significant at any level. in order to run another regression analysis.Final Model: Utilising Lagged Variables of NPL. Two-month and three-month lagged variable of variable CRED are significant at 5% and 10% level of significant.85429 F-stat F(9. Variable DDDNPL as a three-month lagged variable of NPL is significant at 1% and has a positive relationship with the value of NPL.57187 T-Ratio 2.394] Significant at 0. namely DDDCRED and DDCRED.9903 CASSET Coef: 0. DDNPL. CTPF. Interestingly.0467 0. 61 .3290 GDPG Coef: -0.35)= 0.0082605 T-Ratio 4.13 Summary of Regression Result for Conventional Banking Final Model Equation NPL Constant = -2. This study still utilises variable DDNPL in the model. DCTPF.8641 Heteroscedasticity *F(1. and GDPG are also significant at 1% level. On the other side.4829E-4 T-Ratio -0.019508 Not Significant DDNPL Coef: -0.39127 T-Ratio 8.1 DDDCRED Coef: 0.27) 24.

Conclusion This study attempted to analyse the determinants of banking credit default in Indonesia. This study utilised time-series analysis. by which ordinary least square method is adopted. 62 .1 shows that two-month lagged of non-performing financing (NPF). total amount of third-party-funds (TPF). CONCLUSION AND RECOMMENDATION 5. 40 monthly data observations from January 2003 until April 2006 are used. Departing from the model developed by Jimẽnez and Saurina (2006). Meanwhile. inter-bank money market (PUAS/PUAB). The values of non-performing financing (NPF) in Islamic banking and non-performing loan (NPL) in conventional banking are treated as the dependent variable. and manufacturing industrial index (MANI). the independent variables are represented by total assets (ASSET). namely Islamic banking model and conventional banking model. and growth of gross-domestic product (GDPG) variables have significant impact to the ratio of non-performing financing (NPF) in Islamic banking. one-month lagged of total financing (DFIN).5. Table 6. The study is divided into two models. the amount of third party’s funds (TPF).1.14 Significant Variables in Both Models Significant Variables Islamic Banking      Two-month lagged of NPF (DDNPF) Total asset (ASSET) The amount of third-party-funds (TPF) One-month lagged of total financing (DFIN) Growth of gross domestic product (GDPG)  Conventional Banking The three-month lagged of nonperforming loan (DDDNPL)  Total asset (CASSET)  Three-month lagged of total loan (DDDCRED)  Two-month lagged of total loan (DDCRED)  Inter-bank money market (PUAB)  Growth of gross domestic product (GDPG) Source: Author’s own calculation In terms of significant variables. this study aims to analyse the quality of Islamic banking in managing credit default problem compared with conventional banking in Indonesia. total financing/loan (FIN/CRED). Table. growth of gross domestic product (GDPG). total asset (ASSET).

9763 Heteroscedasticity *F(1. F(7. has found the opposite.74597[0.74158 F-stat. R-bar-squared and DW values are good.Meanwhile. this study.30) = 16. results showed that conventional banking has a better performance than Islamic banking with higher correlation of determination.35)= 0. Implications for Islamic Banking in Indonesia Islamic banking can consider the study findings as an essential input in formulating credit risk management strategy for its operations.89072 Ř bar 2 = 0. three-month as well as two-month period lagged of total loan (DDDCRED and DDCRED). the three-month lagged of non-performing loan (DDDNPL). after modifying the model into autoregressive in the main analysis. Despite attaining a value of correlation of determination not as strong as conventional banking.1680[0. it has shown a good performance in the banking credit risk management and can compete head-on with conventional banking. The result also implied that the general election in 2004 had a significant influence to the ratio of non-performing financing (NPF) in Islamic banking.36)= 2. however.79047 Ř bar 2 = 0. Islamic banking showing a good long-run as well as short-run dynamics among all variables in the beginning.4155[0.8641 Heteroscedasticity *F(1.000] DW-statistic = 1. and growth of gross-domestic (GDPG) are significant to influence the ratio of non-performing loan (NPL) in conventional banking.15 Summary of Regression Result of Final Model Final Model Islamic Banking Conventional Banking      R2 = 0. Therefore. There are five variables which have a significant impact on the ratio of non-performing financing (NPF) in Islamic banking.85429 F-stat F(9.129]      R2 = 0.394] Source: Author’s own calculation Even tough from the outset.4522[0. Albeit.2. 6. total asset (CASSET).27) = 24.000] DW-statistic = 1. Table. These variables can be used as important determinants to cater the financing default problems. These variables are as follows: 63 . it seems Islamic banking has a better performance than conventional banking by having a relatively low NPF. This is because the result shows that the level of Islamic banking’s Rsquared. even though Islamic banking is relatively a new comer in the Indonesian banking industry. we cannot assume that Islamic banking is performing poorly in managing credit default problems. inter-bank money market (PUAB).

Hence. Size of the bank. however. therefore. The increasing trend of inflation in Indonesia. Islamic banking. This finding contradicts with the previous study result conducted by Jimenez and Saurina (2006). Two-period lagged of non-performing financing has a positive correlation with the ratio of non-performing financing itself. particularly credit default problems. 3. 2. Islamic banking can control the financing given by allocating it to prospective and controllable businesses as well as to the growing industry sector. This is due to analyse whether inflation has a significant influence to the financing default in both Islamic banking as well as in conventional banking. This can affect the problem of credit default as a result of high interest rate as well as total cost of production.1. Comparison between Islamic banks will be beneficial as well. Islamic banking should analyse the behavior of the previous ratio trend in order to detect the trend movement in the future ratio. further studies might utilise inflation rate as the independent variable in the model. In particular. which is represented by the total assets.3. in terms of analysing the effectiveness performance of each individual bank in managing credit risk. Suggestions for Further Studies Further studies need to be conducted. has a positive relationship with the ratio of non-performing financing. 6. 64 . The negative relationship between the ratio of non-performing financing and the amount of third party’s funds can be utilised to attract more investor to invest their funds in Islamic banking. this study examined the performance of Islamic banking to manage credit default problem in the context of aggregate or macro perspective. Islamic banking should consider the trend of the growth of gross-domestic product in formulating the credit risk management strategy as well as financing policy to the customer. The determinants of credit default in future period are strongly influenced by credit default problems at the current as well as previous period. The previous total financing given to the demand side of customer gives a strong influence to the non-performing financing ratio. Thus. Furthermore. will result in increasing the interest rate. 5. can control this ratio by synergising the total assets with the risk management policy. which stated that size of the bank is not significant. 4. Gross-domestic product as an external indicator is significant to the ratio. Hence. It would be interesting to focus attention on the analysis on individual banks or micro level.

Boston. Monthly Islamic Banking Statistics 2003-2006. Banco de Espana. Bank Indonesia.nl. Research Article. United Kingdom: The Markfield Institute of Higher Education. EC 721 Topics in Development Economics. Examining the Financial Crisis in Indonesia: The Effect of Financial Disintermediary. Indonesia. D. Morton. Glantz. Access date: 13 August 2003.wiley. 65 . (2004). Jesus.go. Business Watch Indonesia.bi. and Staikouras. Islamic Financing and Bank Risks: The Case of Malaysia.somo.cass.ac.city. (2003). Jakarta. USA: University of Boston. and MacKinnon. R. Managing Bank Risk: An Introduction to Broad-Base Credit Engineering. G. Monthly Indonesian Financial Statistics 2003-2006. New York. (2005). An Empirical Investigation of Loan Concentration Risk in Latin America. Modelling the Behavior of Money Demand in Interest-Free Financial System: A Case Study of Indonesia. Hylmun. Available at: http://www3. Elena. (2006).id.go. USA: Oxford University Press. The Markfield Institute of Higher Education: MA Dissertation. Lecture Handouts on Quantitative Methods. Available at: www. Indonesia. (2002). Edited by Somo. USA: Academic Press. Cicilia. United Kingdom: The Markfield Institute of Higher Education.. Jakarta. Credit Cycle.bi.id. Indonesia. K. Kalotychou. Monthly Indonesian Economic and Banking Review 2003-2006.BIBLIOGRAPHY Asutay. and Prudential Regulation. Bank Indonesia. International Journal of Central Banking. (2005). Karim. Bank Indonesia. How. Lecture Handout 10 on Quantitative Methods: Time-Series Analysis. Access date: 31 July 2006. (2005).id. James. The Markfield Institute of Higher Education: MA Dissertation.bi. Gabriel. Access date: 13 August 2006.go.com. Econometric Theory and Methods. Gregory. (2003). Credit Risk. Fall Semester 2003. Izhar. Harun. Dy Nora’ain. Available at: www. Available at: www. Toseef. Azid. and Saurina. Access date: 31 July 2006. Inc. Available at: www. Sotiris.interscience. Mehmet. Measuring the Performance and the Credit Risk Management of the Islamic Bank of Brunei Berhad (IBB). Hj Awg Besar. and Verhoeven. Report on the Financial Sector in Indonesia 2004. James.. Access date: 6 March 2006. Lecture Handouts on Quantitative Methods. (2006).. (2005). Jimenez. Available at: www. Access date: 31 July 2006.uk. Davidson. Jakarta. (2005). United Kingdom: The Markfield Institute of Higher Education.

Reserve Bank of India Occasional Papers Vol. 66 .. Hashem. and Ahmed. (2001). Sharat. Ltd. Koop. Islamic Development Bank. Ranjan. Umar. (2000).5.. Available at: www. Analysis of Economic Data. (2002). Indonesia. USA: Oxford University Press. Jakarta. 3. (2003).in. 24.0: Interactive Econometric Analysis. Metode Riset Bisnis (Research Method for Business). (1997).org. Pesaran.bps. Risk Management: An Analysis of Issues in Islamic Financial Industry. Indonesia: PT Gramedia Pustaka Utama. Gary. Statistic Centre Beureau of Indonesia. No. Rajiv. Working with Microfit 4. Occasional Paper no.rbi.id. Access date: 31 July 2006. Chandra. Tariqullah. Access date: 29 August 2006. Jeddah. Husein. Bahram. and Pesaran. Winter 2003. New York. and Dhal. Available at: www.Khan. M. Non-Performing Loans and Terms of Credit of Public Sector Banks in India: An Empirical Assessment. Jakarta.go. United Kingdom: John Wiley And Sons. Habib. Saudi Arabia: Islamic Research Training Institute. Monthly Data 2003-2006.

2 Agustus 2006. This condition requires immediate implementation of an integral and gradual system of Islamic banks as a solution to solving the problem.MUSYARAKAH. this policy can reduce inflation. but on the other hand will result in the real sector become slow. otherwise the real sector less attention. which is then reinvested in the financial sector. menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi semakin 17 Disarikan dari makalah yang disampaikan pada acara Kajian Rutin (Kantin) Ekonomi Syariah yang diselenggarakan oleh Committee of Discussion of Islamic Economics (CDIE) UIKA Bogor. PENDAHULUAN Kondisi perekonomian Indonesia belum menunjukkan performa yang memuaskan. The contradiction of real-monetary sector was due to the high interest rate policy of Bank Indonesia. through the scheme musyarakah and mudharabah. monetary policy. Kamis 24 Mei 2007. real sector. the bank funds are not channeled into the real sector reached Rp 393 trillion. This is caused by too much focus on strengthening the monetary policy. On the one hand. Keywords: economic growth. mudharabah I. This paper aims to describe how Islamic banks. 67 . MUDARABAH DAN PERTUMBUHAN SEKTOR RIIL 17 Hilman Hakiem Dosen Program Studi Ekonomi Islam FAI-UIKA Bogor Desi Silfiaratih Waluyo Alumni Departemen Manajemen FEM-IPB Abstract Indonesia's economic growth declined in the period 2004-2006. musyarakah. Staf Peneliti Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) FEUI Yusuf Wibisono dalam tulisan di harian Republika. As of May 2006. can improve the real sector growth in the context of overcoming the economic problems of Indonesia.

Dengan demikian. sektor riil akan kesulitan.5 triliun pada Januari 2006 menjadi Rp 15. Amerika Serikat saja yang sejak Juni 2004 telah 17 kali menaikkan the fed fund rate yang kini bertengger di 5. dan pengangguran meledak. Biaya pengendalian moneter pada 2005 adalah Rp 18 triliun dan diperkirakan meningkat menjadi Rp 20 triliun pada tahun 2006 ini. dan maraknya penyelundupan. Sementara bagi nasabah pembiayaan. Sektor finansial dalam posisi yang kuat. Namun.500 pada awal Mei 2006 lalu. salah satu yang tertinggi di dunia. hanya mampu menawarkan suku bunga riil tidak lebih dari 1. Ini berdampak pada potensi kredit macet yang meningkat. namun terjadi fenomena decoupling. Kebijakan suku bunga tinggi diyakini penentu kebijakan akan membuat tekanan inflasi mereda. nasabah pembiayaan tak perlu khawatir suku bunga naik karena mereka tidak 18 Direktur Bank Muamalat Indonesia (BMI) 68 . tingginya BI rate. Saefudin Noer18 menyatakan bahwa pergerakan bunga akan berpengaruh pada financing dan funding. jumlah uang beredar semakin tinggi. bunga pinjaman pun harus dinaikkan jika tidak terjadi negative spread. lambatnya restitusi pajak.75 persen. bank menjanjikan bunga tinggi. Ketika senjang antara sektor riil dan moneter membesar. Imbasnya. Sedangkan di bank syariah. menjadi 4. yang sejak diperkenalkan pertama kali pada 5 Juli 2005 telah mengalami lima kali kenaikan. Pada waktu yang sama.9 persen diyakini sulit tercapai. Saat ekspor Mei 2006 mencatat rekor tertinggi sepanjang republik ini berdiri yaitu 8. Penurunan kinerja emiten-emiten industri manufaktur di BEJ pada semester I 2006 menjadi bukti nyata bahwa terpuruknya sektor riil nasional bukan lagi sekedar wacana belaka.25 persen. sektor moneter ternyata tidak merasakan hal yang sama. Sektor riil masih berjalan tertatih-tatih di tengah prestasi stabilitas makroekonomi. Saat sektor finansial dengan konsep bungaberbunga terus menuntut imbalan yang meningkat menuju tak terbatas. Tingginya suku bunga ditengarai merupakan salah satu strategi BI untuk menarik modal asing sehingga nilai tukar menjadi tampak stabil bahkan menguat. yang kemudian ditransmisikan pada kenaikan harga aset. membuat industri nasional harus menanggung beban yang sangat berat. U. yang kemudian ditanam kembali di sektor finansial yaitu di SBI dan instrumen lain. Per Mei 2006. Tingginya BI rate justru membuat sektor finansial terus menikmati keuntungan berlimpah tanpa kerja. dana perbankan yang tersimpan dan tidak disalurkan ke sektor riil mencapai Rp 393 triliun. kontradiksi sektor riil-moneter tersebut bersumber dari kebijakan suku bunga tinggi dari Bank Indonesia (BI).6 persen pada kuartal I 2006. rendahnya kucuran kredit. Dampaknya.1 persen pada kuartal IV 2004 saat pemerintahan baru dilantik. Target pertumbuhan ekonomi 2006 sebesar 5. sektor riil justru menuju titik nadir.8 triliun pada Mei 2006. sektor riil justru terpuruk. naiknya suku bunga adalah tambahan beban. inflasi melambung. Indonesia menawarkan suku bunga riil lebih dari 4 persen. Kondisi sektor riil yang terutama diwakili oleh industri manufaktur kini sudah dalam tahap merisaukan. perusahaan mengalami kebangkrutan. aset perbankan nasional bertambah Rp 49. Anjloknya penjualan. dan terciptalah bubble economy. Untuk menarik nasabah.menurun dari 7. pada titik tertentu dipastikan akan meledak dan berakhir dengan krisis ekonomi.34 miliar dolar AS.3 triliun. Industri perbankan secara konsisten terus meningkat labanya dari Rp 1. surplus perdagangan mencatat surplus 3 miliar dolar AS pada triwulan II 2006 juga nilai tukar semakin stabil dan menguat. IHSG juga booming dan sempat menyentuh level 1. Lebih jauh Wibisono berpendapat. tipisnya likuiditas. Dengan BI rate bertengger di atas 12 persen dan ekspektasi inflasi 8 persen. membuat sektor riil lesu. Di saat sektor riil tertimpa beban luar biasa berat. Biaya operasi moneter menjadi sangat signifikan dan terus meningkat seiring kenaikan suku bunga. produksi terhenti.

tanpa mengorbankan kebebasan individu maupun keseimbangan alam (Chapra. penerapan bunga secara sistemik akan membuat upaya-upaya mendapatkan laba jangka pendek semakin marak sehingga mendorong eksploitasi sumber daya manusia dan alam secara berlebihan. yaitu pertukaran dua barang/benda yang berlainan jenis. 2001). 2006). bukan sebaliknya. Penerapan bunga membuat output di sektor riil diharuskan tumbuh sesuai tingkat yang diinginkan sektor finansial. Sedangkan dalam sistem ekonomi konvensional. Contoh riba al-fadl adalah A dan B melakukan transaksi dengan pertukaran 10 kg beras dengan 12 kg beras. dalam praktiknya. riba/bunga menjadi satu-satunya instrumen yang digunakan dalam setiap transaksi (Usmani. meskipun ekonomi syariah dalam konteks perbankan syariah. Begitu juga dengan deposan. Riba artinya pertukaran dua barang/benda yang sejenis dengan adanya perbedaan/selisih nilai. Hanya saja. 14 Nopember 2005). PERBANDINGAN EKONOMI SYARIAH DAN EKONOMI KONVENSIONAL Ekonomi syariah adalah suatu sistem ekonomi yang berlandaskan pada Alquran yang bertujuan untuk mencapai keadilan sosial ekonomi masyarakat. menjadi penting bagi pemerintah dan otoritas moneter untuk selalu mengarahkan kegiatan sektor keuangan sebagai pendukung sektor riil.000 dengan kesepakatan akan dibayar dalam tempo tiga bulan.terpengaruh. Di sinilah sistem ekonomi syariah yang selalu terkait dengan sektor riil. maka akan dibagikan kepada deposan dalam jumlah besar. namun belum mencapai kondisi yang optimal. dengan adanya perbedaan/selisih nilai. Tidak disebut riba jika 10 kg beras ditukar dengan 12 kg gandum karena berlainan jenis meskipun ada selisih berat. Pendapatan mereka berdasar kinerja bank dan dibagi sesuai rasio yang ditetapkan. Sebagai contoh. Ini salah satunya disebabkan oleh belum komperehensifnya pemahaman tentang karakteristik bank syariah. Jika A tidak dapat membayar tepat waktu. namun ditemui banyak hambatan dalam implementasinya. Riba terbagi menjadi dua kategori yaitu riba al-fadl (yang berhubungan dengan materi / benda) dan riba an-nasi’ah (yang berhubungan dengan waktu). Disebut riba karena harga berubah karena perubahan waktu. Dengan demikian. Disebut riba karena barang yang ditukarkan adalah sama yaitu beras dengan adanya selisih berat. begitu juga sebaliknya (Republika. Bunga adalah akar dari semua krisis finansial perekonomian modern. Dalam konteks inilah. Dalam sistem ekonomi syariah dikenal dengan istilah jual beli. maka harga barang tersebut akan bertambah menjadi Rp 120. Ekonomi syariah dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem yang berfungsi memenuhi kebutuhan hidup manusia melalui alokasi dan distribusi sumberdaya yang berlandaskan nilai-nilai syariah. Sektor riil-lah yang menentukan imbal hasil di pasar keuangan. Jika hasil pembiayaan besar. secara bertahap mampu menunjukkan perkembangan positif. II. Contoh riba an-nasi’ah adalah A dan B melakukan transaksi di mana A membeli barang milik B seharga Rp 100. 2004). Meskipun masyarakat tidak setuju bunga sebanyak 51 % 19.000. 69 . tampil tidak hanya sebagai alternatif sistem konvensional yang menjanjikan namun juga menjadi model solutif masalah perekonomian Indonesia (Wibisono. A 19 Hasil penelitian BNI Syariah 2005.

Perbedaan kualitas Spesifikasi Referensi: Usmani. Saat transaksi A memesan kijang dengan spesifikasi tertentu dan B menunjukkan mobil yang diinginkan A. Sebagai contoh : pena sebagai alat untuk menulis. Maka Rp 2. artinya barang dapat digunakan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mobil kijang tua keluaran 1990 harganya lebih murah dibandingkan mobil kijang baru keluaran 2006. Transaksi jual beli barang dikhususkan pada spesifikasi tertentu. Dan B tidak dapat memaksa bahwa dia harus mendapatkan lembaran uang bernomor seri A11.000 nomor seri A11 pada saat transaksi. Seseorang dapat menjual barang senilai Rp 10.000 kepada B dengan harga Rp 12.000 adalah keuntungan bagi A. Sebagai contoh : A membeli barang B senilai Rp 1.000 dengan harga Rp 12. Fungsi uang hanyalah sebagai alat ukur dan alat tukar.000 dengan harga Rp Rp 12.000 keluaran 2006 sama nilainya dengan lembaran uang lama Rp 1. yang karenanya harus diperlakukan secara berbeda pula. Barang dapat memiliki perbedaan kualitas. Akan tetapi A boleh membayar dengan lembaran uang bernomor seri A12 atau A13.dan B melakukan transaksi dengan pertukaran 10 kg beras dengan 12 kg gandum.M. Karakteristik lainnya. 70 . Perbedaan Uang dan Barang Menurut Perspektif Ekonomi Syariah Poin Kegunaan intrinsik Uang Uang tidak memiliki kegunaan intrinsik. Transaksi yang menggunakan uang tidak dapat dikhususkan pada lembaran uang tertentu. artinya uang tidak dapat digunakan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup.000. Lain halnya dengan sistem ekonomi syariah yang membedakan uang dengan barang. Uang tidak memiliki perbedaan kualitas. dalam sistem ekonomi konvensional tidak dibedakan antara uang dan barang.2004 Jadi jelas bahwa uang dan barang memiliki karakteristik yang berbeda. Uang hanya dapat digunakan untuk membeli barang / jasa. Uang hanyalah sebagai alat ukur dan alat tukar yang karenanya tidak boleh diperdagangkan. dll. Contoh lain adalah A menjual buku miliknya senilai Rp 10. Barang Barang memiliki kegunaan intrinsik. Kemudian terjadi transaki. An Introduction to Islamic Finance. sajadah untuk salat. Lembaran uang baru Rp 1.000.000 dengan menunjukkan lembaran uang Rp 1. dengan kesepakatan mobil akan diambil setelah 2 hari. B harus menyerahkan mobil kijang yang dipesan A.Karachi. Sebagai contoh : A membeli mobil kijang di showroom milik B. Taqi. Berikut ini tiga perbedaan mendasar antara uang dan barang berdasarkan perspektif ekonomi syariah: Tabel 1.000 sama halnya dengan menjual uang Rp 10.Maktaba Ma’ariful Qur’an. Setelah 2 hari.000 keluaran 2001.

yakni utang yang terjadi karena pinjam-meminjam uang dan utang yang terjadi karena pengadaan barang (Hafidhuddin.000/lembar atau bahkan lebih rendah Rp 80. tidak diperbolehkan. ada dua jenis utang yang berbeda satu sama lainnya. Tidak boleh dijual dengan harga Rp 90. dengan syarat pada saat transaksi salah satu pilihan harus ditentukan (Usmani. Sebagai contoh. B harus menentukan dalam transaksi apakah akan membeli secara tunai ataukah secara kredit. Sedangkan jika saham berupa non-liquid property (komoditi/barang/benda). Sebagai contoh. harganya Rp 10. karena memiliki kemungkinan untung atau rugi. 2006).000 dan jangka 3 bulan harganya Rp 14. B memilih pilihan 3 yaitu ia membeli barang A seharga Rp 14. Pertukaran barang sejenis harus sama nilainya.000/lembar. Pada saat transaksi A menawarkan pada B bahwa jika barangnya dibeli secara tunai. Jual beli semacam ini diperbolehkan dalam ekonomi syariah dengan syarat salah satu pilihan harus ditentukan pada saat transaksi. kecuali dengan alasan yang pasti dan jelas. karena akan masuk dalam kategori riba. karena uang tidak memiliki definite return. Konsep inilah yang tidak berlaku dalam sistem ekonomi konvensional di mana sistem ini memiliki prinsip bahwa saham berupa uang senilai Rp 100. Karena berubahnya harga disebabkan perubahan waktu termasuk kategori riba an-nasi’ah. A menawarkan kepada B jika barang dibeli dalam jangka 1 bulan harganya Rp 10. seperti biaya materai.Terkait dengan transaksi jual beli beli barang secara tunai dan kredit dalam saat yang bersamaan.000/lembar.000/lembar boleh dijual dengan harga Rp 120. Utang yang terjadi karena pembiayaan pengadaan barang harus jelas dalam satu kesatuan yang utuh atau disebut harga jual. Jadi B harus menentukan apakah pilihan 1. saham berupa bangunan senilai Rp 100. dan studi kelayakan. tapi jika dibeli secara kredit selama 1 bulan harganya Rp 12. saham berupa uang senilai Rp 100. Contoh lain adalah A menawarkan 3 harga pada 1 barang kepada B dengan sistem kredit. Sekali harga jual telah disepakati. seperti inflasi dan deflasi. hal ini diperbolehkan dalam ekonomi syariah.000/lembar atau Rp 110. maka tidak ada denda uang. 71 . biaya notaris. sedangkan pertukaran barang yang berlainan jenis boleh berbeda nilainya. Harga jual itu sendiri terdiri dari harga pokok barang plus keuntungan yang disepakati. yang muncul adalah kewajiban dalam bentuk utang pengadaan barang. Sebagai contoh. Atau sebaliknya. Dalam transaksi lembaga keuangan syariah seperti bank syariah. sama halnya dengan menjual saham berupa komoditi senilai Rp 100. 2004).000/lembar dapat dijual dengan harga Rp 120. Utang yang terjadi karena pinjam-meminjam uang tidak boleh ada tambahan.000/lembar atau Rp 140. maka harga tidak boleh berubah. Jika dia terlambat membayar.000 selama 3 bulan. Harus ada kepastian sejak awal. ekonomi syariah memperbolehkan dengan kondisi jika saham berupa liquid property (uang).000.000/lembar.000/lembar. A melakukan jual beli dengan B.000 jangka 2 bulan harganya Rp 12. boleh dijual melebihi harga asli barang tersebut. Dan pada saat harga telah ditentukan. Uang yang kembali tidak dapat dipastikan. tidak ada pengurangan harga. Tambahan lainnya yang sifatnya tidak pasti dan tidak jelas. 2 atau 3 yang akan dipilihnya sejak awal. Dalam konteks jual beli saham. Terkait dengan utang. Sebagai contoh. Ekonomi syariah tidak mengenal istilah opportunity cost. maka harga yang dijual harus sama dengan nilai uang tersebut.000.000/lembar boleh dijual dengan harga Rp 120. maka selamanya tidak boleh berubah naik.000/lembar.000/lembar harus dijual dengan harga Rp 100.000. jika B membayar lebih cepat. bukan utang uang.

Kesimpulannya adalah menjual uang dengan uang harus sama nilainya, begitu pula menjual barang dengan barang yang sejenis harus sama nilainya. Sedangkan sistem ekonomi konvensional menganggap uang sama seperti komoditi. Dihubungkan dengan sistem perbankan, ada perbedaan karakteristik antara bank syariah dan bank konvensional. Dalam bank syariah, penentuan besarnya rasio bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi; besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh; bagi hasil tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan; bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak (bank dan depositor); serta jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan. Sedangkan dalam sistem bank konvensional, penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung; besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan; pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi; serta jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang booming. Ada beberapa dampak negatif dari sistem riba/bunga. Dampak tersebut di antaranya adalah bunga akan mencegah terjadinya kondisi full employment. Hal ini bisa ditinjau dari dua aspek (Beik, 2003) : Pertama, institusi bunga akan membentuk komponen biaya produksi tersendiri. Akibat dari hal ini adalah adanya peningkatan pada struktur harga, yang berimplikasi pada penurunan daya beli masyarakat. Turunnya daya beli ini akan menyebabkan terjadinya penurunan tingkat konsumsi masyarakat, investasi dan lapangan pekerjaan. Dengan kata lain, bunga akan memiskinkan masyarakat. Aspek selanjutnya, tidak tercapainya kondisi optimum untuk marjinal efisiensi permodalan. Kondisi ini mengakibatkan segala sumberdaya yang tersedia tidak dapat dimanfaatkan dan digunakan secara maksimal, sehingga berdampak pada penurunan tingkat investasi. Untuk itu, sebagai solusinya adalah nilai bunga harus direduksi hingga nol persen (bebas bunga) agar efisiensi permodalan ini dapat mencapai level yang maksimal sehingga investasi dapat mencapai tingkat yang paling optimal. Kemudian dampak negatif lain dari sistem bunga adalah terkait dengan pemusatan kekayaan di tangan segelintir kaum kapitalis. Bunga adalah institusi yang menyebabkan tingginya konsentrasi ekonomi di kalangan golongan the have. Dalam kegiatan perekonomian kapitalis, bunga dibebankan kepada konsumen sebagai bagian dari harga barang yang dikonsumsi. Selanjutnya, pendapatan bunga ini akan mengalir kepada kaum kapitalis pemegang modal baik secara langsung maupun melalui institusi perbankan. Dalam sistem ekonomi seperti ini, terjadi aliran kekayaan dari masyarakat banyak kepada segelintir orang saja. Yang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin akan semakin miskin. Dengan demikian jelaslah bahwa bunga merupakan institusi ekonomi yang memiskinkan masyarakat.

III. MUSYARAKAH, MUDHARABAH DAN PERTUMBUHAN SEKTOR RIIL Ekonomi syariah, dalam konteks bank syariah, sifatnya menguntungkan semua pihak. Bank syariah adalah lembaga keuangan yang memobilisasi dana berdasarkan mekanisme profit and loss sharing, dan juga berfungsi sebagai media penyalur dana berdasarkan aturan syariah, yang dalam pelaksanaannya berada di bawah pengawasan dewan pengawas syariah (Tahir, 2006). Adapun produk bank syariah yang utama adalah musyarakah dan mudharabah. Musyarakah adalah jenis usaha bersama antara 2 pihak atau lebih dengan keuntungan dan
72

kerugian ditanggung bersama. Sedangkan mudharabah adalah jenis musyarakah di mana salah satu pihak sebagai rabbul-mal20 dan pihak lain sebagai mudharib21 (Usmani, 2004). Pada tabel 2 berikut akan ditampilkan perbandingan musyarakah dan mudharabah.

Tabel 2. Perbandingan Musyarakah/Mudharabah Poin Investasi Manajemen Kerugian Utang Aset Musyarakah Semua pihak Semua pihak Mudharabah Rabbul-mal Mudharib

Ditanggung oleh semua pihak sesuai Ditanggung oleh rabbul-mal22. proporsi modal. Ditanggung oleh semua pihak sesuai Terbatas pada proporsi masing-masing. rabbul-mal23. Menjadi milik bersama, dengan Milik rabbul-mal. proporsi kepemilikan sesuai dengan investasi masing-masing. investasi dari

Sumber : Usmani,M. Taqi, An Introduction to Islamic Finance,Maktaba Ma’ariful Qur’an,Karachi,2004 Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa musyarakah dan mudharabah mempunyai karakteristik yang hampir sama. Yang membedakan keduanya hanyalah dalam mudharabah terdapat pemisahan fungsi antara pemilik modal dengan pihak yang terlibat langsung dalam manajemen usaha/bisnis. Bank syariah tidak muncul dengan model yang formal dan baku. Dalam konteks kekininan, model bank syariah terus mengalami perkembangan dan inovasi, yang merupakan buah dari kerjasama empat komponen: individu berkualitas, bankir profesional, ekonom syariah dan ahli syariah. Musyarakah/mudharabah merupakan skema pembiayaan bank syariah yang memiliki korelasi positif dengan pertumbuhan sektor riil. Model ini akan terus berkembang sesuai kondisi perekonomian. Berikut ini secara singkat digambarkan lima buah contoh terkait dengan skema pembiayaan musyarakah/mudharabah. Contoh pertama berhubungan dengan kegiatan ekspor kerajinan batik. A (klien) adalah pengusaha ekspor pengrajin batik yang telah beberapa kali sukses mengekspor produknya ke luar negeri. Pada satu waktu ia mendapatkan pesanan dari luar negeri dengan omzet sebesar Rp 800 juta. Total biaya produksi yang dibutuhkan termasuk biaya pengemasan dan pengiriman adalah Rp 400 juta, namun pada saat itu ia tidak
20 21

Pihak yang memiliki modal. Pihak yang bertanggungjawab dalam hal manajemen. 22 Dengan syarat mudharib telah melakukan usaha sesuai prosedur. 23 Kecuali rabbul-mal mengijinkan mudharib untuk mendatagkan utang.

73

memiliki uang. A kemudian mengajukan proposal kepada B (bank) agar diberikan modal usaha sejumlah yang diminta. Setelah dinilai layak, B memberikan modal usaha tersebut. Dalam L/C disepakati bahwa proporsi keuntungan dibagi rata. Dan ternyata dalam jangka waktu 3 bulan, produk batik tersebut dapat dijual sesuai perkiraan omzet. Maka keuntungan bersih yang didapat adalah sebesar Rp 400 juta yang kemudian dibagi rata, masing-masing mendapat Rp 200 juta. Contoh lainnya adalah berkaitan dengan usaha kerajinan rotan dalam negeri. A (klien) memiliki keahlian dalam kerajinan rotan dan memiliki keinginan untuk berusaha rotan, namun ia tidak memiliki modal. Kebutuhan modal untuk usaha ini adalah Rp 200 juta. A kemudian mengajukan permohonan kepada B (bank). Setelah dinilai layak, B memberikan modal usaha Rp 200 juta kepada A. Disepakati dalam transaksi24 bahwa proporsi keuntungan 40 % untuk A dan 60 % untuk B. Dalam tempo 3 bulan, hasil kerajinan dijual ke pasar dan mendapatken keuntungan bersih Rp 100 juta. Maka distribusi keuntungan adalah Rp 40 juta untuk A dan Rp 60 juta untuk B. Keuntungan yang didapat B kemudian didistribusikan kepada investor dan nasabah sesuai proporsi. Dan jika ada kelebihan likuiditas, dapat disalurkan kepada klien lain yang membutuhkan. Sehingga dana yang ada tidak mengendap, melainkan diputar dan digulirkan. Contoh selanjutnya bersinggungan dengan usaha produksi pakaian jadi di sebuah pabrik yang memasarkan produknya di dalam negeri. A (klien dan pemilik pabrik) melakukan usaha bersama dengan B (bank) untuk melakukan produksi pakaian dalam kurun waktu 1 tahun. Total biaya yang dibutuhkan sebesar Rp 500 juta meliputi pembelian bahan mentah, gaji pegawai yang terkait langsung dengan proses produksi, biaya listrik, sewa bangunan dan mesin. Disepakati dalam perjanjian, keuntungan yang diperoleh dibagi sama, masing-masing 50 %. Setelah 1 tahun, didapatkan keuntungan bersih Rp 400 juta. Maka keuntungan dibagi rata, masing-masing pihak memperoleh Rp 200 juta. Contoh berikutnya adalah berkenaan dengan usaha taxi. A (klien) berkeinginan untuk memiliki sebuah mobil taxi, namun ia kekurangan modal. Harga taxi adalah Rp 100 juta namun ia hanya memiliki alokasi uang sebesar Rp 20 juta. A kemudian mengajukan proposal kepada B (bank) agar dapat melakukan usaha bersama. Sejak awal A menginginkan agar dalam jangka panjang taxi menjadi miliknya. Di sinilah berlaku mekanisme diminishing musyarakah25. Disepakati modal awal dari A sebesar Rp 20 juta dan dari B sebesar Rp 80 juta. Proporsi kepemilikian taxi adalah 20% milik A dan 80 % milik B. Kemudian kepemilikan B dibagi menjadi 8 unit yang masing-masing bernilai Rp 10 juta. Setiap hari A diperkirakan mampu mendapatkan keuntungan bersih Rp 1 juta. Maka setiap harinya A wajib menyetor Rp 800 ribu kepada B sesuai dengan proporsi kepemilikian B. Dalam tempo 3 bulan, disepakati bahwa B akan membeli 1 unit kepemilikan A, yaitu B membayar Rp 10 juta/3 bulan. Dengan demikian setelah 3 bulan kepemilikan A menjadi 30 % dan B menjadi 70 %. Uang setoran yang wajib dibayarkan A kepada B mengalami penyesuaian yaitu Rp 700 ribu sesuai proporsi kepemilikan B. Begitu seterusnya sampai akhir tahun kedua di mana A memiliki 100 % kepemilikan taxi. Contoh serupa dapat ditelaah dari proses KPR (Kredit Pemilikan Rumah). A (klien) ingin memiliki rumah seharga Rp 100 juta namun tidak memiliki uang cukup. A hanya
24

Dalam konteks musyarakah/mudharabah berlaku prinsip, setiap keuntungan yang didapat, didistribusikan sesuai dengan kesepakatan pihak-pihak yang terlibat. Akan tetapi kerugian yang ditanggung harus sesuai proporsi modal investasi. 25 Diminishing musyarakah adalah skema musyarakah yang menunjukkan proses kepemilikan saham satu pihak tertentu oleh pihak lain secara bertahap sesuai kesepakatan, hingga satu titik di mana seluruh kepemilikan saham berpindah.

74

memiliki uang Rp 20 juta. Kemudian ia mengajukan proposal kepada B (bank) agar dapat memiliki rumah dengan skema diminishing musyarakah. Disepakati modal awal sebesar Rp 20 juta dari A dan Rp 80 juta dari B. Proporsi kepemilikan awal adalah 20 % milik A dan 80 % milik B. Kemudian kepemilikan B dibagi menjadi 8 unit yang masing-masing bernilai Rp 10 juta. Harga sewa rumah setiap bulannya adalah Rp 1 juta. Maka setiap bulannya A wajib membayar uang sewa sebesar Rp 800 ribu kepada B sesuai dengan proporsi kepemilikian B. Dalam tempo 3 bulan disepakati bahwa B akan membeli 1 unit kepemilikan A, yaitu B membayar Rp 10 juta/3 bulan. Dengan demikian setelah 3 bulan kepemilikan A menjadi 30 % dan B menjadi 70 %. Uang sewa yang wajib dibayarkan A kepada B mengalami penyesuaian yaitu Rp 700 ribu sesuai proporsi kepemilikan B. Begitu seterusnya sampai akhir tahun kedua di mana A memiliki 100 % kepemilikan rumah. Yang berbeda dari sistem bank konvensional adalah bahwa dalam bank syarah harga tidak akan berubah sesuai dengan berubahnya waktu, karena ini termasuk kategori riba. Harga tidak akan berkurang jika membayar lebih cepat atau harga tidak akan bertambah jika membayar lebih lambat. Kelima contoh inilah yang menjadikan bank syariah sebagai solusi dari keberadaan sistem bank konvensional. Contoh-contoh lain dapat dikembangkan sesuai prinsip yang berlaku. Namun di samping keuntungan yang bakal diperoleh, skema musyarakah/mudharabah ini mengandung resiko kerugian bagi klien dan bank, yaitu perolehan keuntungan yang tidak sesuai perkiraan. Hambatan lain, dalam praktiknya, bank syariah belum menjadikan skema ini sebagai produk utama pembiayaan. Bank syariah masih memprioritaskan pada skema pembiayaan lain seperti murabahah yang tidak berkaitan langsung dengan sektor riil (yang dalam tulisan ini tidak dibahas). Terlepas dari resiko kerugian yang kemungkinan terjadi, sesungguhnya skema musyarakah/mudharabah akan memberikan manfaat positif bagi perekonomian Indonesia (Beik, 2006) : Pertama, akan menggairahkan sektor riil. Investasi akan meningkat yang disertai dengan pembukaan lapangan kerja baru. Dampaknya, tingkat pengangguran akan dapat dikurangi dan pendapatan masyarakat akan bertambah. Yang kedua, ditinjau dari sisi nasabah. Nasabah akan memiliki 2 pilihan, apakah akan mendepositokan dananya pada bank syariah atau bank konvensional. Nasabah akan membandingkan secara cermat antara expected rate of return yang ditawarkan bank syariah dengan tingkat suku bunga yang ditawarkan oleh bank konvensional, dimana selama ini fakta telah membuktikan, ternyata rate of return bank syariah lebih tinggi bila dibandingkan dengan interest rate yang berlaku pada bank konvensional. Sehingga ini akan menjadi faktor pendorong meningkatnya jumlah nasabah. Dampak yang ketiga adalah akan mendorong tumbuhnya pengusaha / investor yang berani mengambil keputusan bisnis yang beresiko. Hal ini akan menyebabkan berkembangnya berbagai inovasi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing bangsa ini. Inovasi adalah kata kunci di dalam memenangkan persaingan global. Dampak selanjutnya adalah dapat mengurangi peluang terjadinya resesi ekonomi dan krisis keuangan. Hal ini dikarenakan bank syariah adalah institusi keuangan yang berbasis aset (asset-based). Artinya, bank syariah adalah institusi yang berbasis produksi (production-based). Bank syariah bertransaksi berdasarkan aset riil dan bukan mengandalkan pada kertas kerja semata. Sementara di sisi lain, bank konvensional hanya bertransaksi berdasarkan paper work dan dokumen semata, kemudian membebankan bunga dengan prosentase tertentu kepada calon investor. Pola pembiayaan musyarakah/mudarabah adalah pola pembiayaan yang berbasis pada produksi. Krisis keuangan dapat diminamilisir karena balance sheet perusahaan relatif stabil. Hal ini dikarenakan posisinya sebagai mudharib, dimana perusahaan tidak
75

Selanjutnya. secara profit depositor/investor akan menanamkan uangnya di bank syariah jika ternyata rate of return bank syariah lebih besar dibandingkan interest rate di bank konvensional. Dengan demikian. 76 . pola musyarakah/mudarabah dapat menjadi solusi alternatif atas masalah over likuiditas yang saat ini terjadi. dapat disimpulkan bahwa bank syariah perlu menggarap sektor riil secara lebih optimal dan matang melalui pembiayaan berdasarkan skema musyarakah/mudharabah. Musyarakah/mudharabah merupakan model bank syariah yang memiliki korelasi positif dengan pertumbuhan sektor riil. keadaan tersebut terjadi secara tidak disengaja dan diluar batas kemampuan. apabila kerugian tersebut disebabkan oleh kondisi luar biasa yang tidak diprediksikan sebelumnya.menanggung kerugian yang ada. pembukaan lapangan kerja baru. semua beban kerugian akan ditanggung oleh bank syariah sebagai rabbul-mal. misalnya diakibatkan oleh bencana alam. 3. Hambatan yang dihadapi dalam pembiayaan musyarakah/mudharabah yaitu resiko kerugian dalam usaha/bisnis. Dari penjelasan tersebut. Kondisi over likuiditas ini dapat disiasati dengan menyalurkannya pada sektor riil. 2. Keuntungan yang akan didapat melalui mekanisme musyarakah/mudharabah: investasi akan meningkat. dan bank syariah belum menjadikan skema ini sebagai produk utama. Maksudnya. IV. tingkat pengangguran dapat dikurangi dan pendapatan masyarakat akan bertambah. bank syariah dapat berperan lebih signifikan di dalam upaya mengatasi permasalahan ekonomi Indonesia. Hambatan ini dapat direduksi dengan cara inovasi. Dengan demikian. KESIMPULAN Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil. Keuntungan lain. 1.

2006. 2006... IRTI. …………………… Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia. Sayyid. What is Islamic Economics? IDB.. Suku Bunga dan Stagnasi Ekonomi.. Acara PPMI PakistanKBRI Islamabad. www. Resep Islam untuk Mengentaskan Kemiskinan. Chapra.. Didin... IIU-I.. Maktaba Ma’ariful Qur’an.republika. 14 Februari 2006. IIIE. Islamic Financial Paradigm.co. Advance Usul-ul-Fiqh. 2001.. Taqi. Prinsip-prinsip Muamalah. Naiknya Suku Bunga Picu Pergerakan ke Bank Syariah... Text of Lecture for IDB Prize in Islamic Banking awarded to Institute. 2004... 77 .. Irfan S. Lecture Course of Islamic Banking Theory and Practice.republika. Tahir.co.. Aula KBRI Islamabad-Pakistan. Yusuf. . IIU-I. www... Hafidhuddin. Karaci.. ……………….co. Materi Kajian.id 2 Agustus 2006..DAFTAR PUSTAKA Beik. An Introduction to Islamic Finance.pesantrenvirtual. 2006.. IIIE’s Blueprint of Islamic Financial System. Husni... Usmani. Wibisono... IIIE. www. Nawaz-ul.com 28 Maret 2006. Lecture Course. www.id 14 Nopember 2005. International Islamic University Islamabad... 2000. Umar. M.id 10 Februari 2003..republika.. Bank Syariah dan Pengembangan Sektor Riil.

Saat ini juga ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal World Zakat Forum (WZF). Juga tercatat sebagai Guru Besar IPB dan Direktur Pascasarjana UIKA Bogor. Master of Science in Economics diselesaikan pada tahun 2005 di International Islamic University of Islamabad. Sebelumnya. Merupakan lulusan Agribisnis IPB tahun 2002. Selain itu. Wakil Ketua Pengurus Pleno Dewan Syariah Nasional MUI. Telah menerbitkan sebuah buku dan artikel dalam banyak jurnal dan surat kabar. 78 . Beberapa kali menjadi pembicara pada konferensi internasional di luar negeri. Telah menulis puluhan artikel popular di berbagai media nasional dan internasional. Muhamad (abduh. mendapat gelar sarjana dan doktor dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain aktif menulis buku (ada 33 judul buku yang terpublikasi). mendapatkan gelar Master of Economics dari International Islamic University Malaysia (IIUM) pada tahun 2009. Institut Pertanian Bogor. meraih gelar sarjana statistik pada tahun 2004 dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan gelar magister dalam bidang Studi Islam pada tahun 2006 dari Universitas Ibn Khaldun Bogor.com). adalah ekonom syariah yang ikut berkontribusi dalam memajukan ekonomi Islam di Indonesia. juga menulis makalah untuk seminar dan konferensi dalam dan luar negeri. Juga menjadi Konsultan Keuangan Syariah pada Majalah Bulanan AULIA. Juga tercatat sebagai Direktur Islamic Economic Forum for Indonesia Development (ISEFID) dari tahun 2007 sampai 2009. Saat ini menjabat sebagai Ketua Tim Implementasi Program Studi Ekonomi Syariah. serta Ketua dan Anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS) di beberapa lembaga keuangan syariah. Didin (hafidhuddin@yahoo. HAFIDHUDDIN. Institut Pertanian Bogor dan melanjutkan Master of Science in Finance di International Islamic University Malaysia sehingga lulus pada tahun 2007. Irfan Syauqi (qibeiktop@yahoo. serta diperbantukan sebagai Staf Khusus Bidang Research and Foreign Affairs pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). serta menulis di media massa nasional.com). menyelesaikan Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen.iium@gmail. Laily Dwi (arsyianti@gmail. serta gelar magister dari Institut Pertanian Bogor. Juga pengasuh Klinik Syariah pada Republika On Line serta Rubrik Iqtishodia pada Harian Republika. BEIK.com). ARSYIANTI. Saat ini adalah mahasiswa PhD di Departemen Administrasi Bisnis IIUM. telah memaparkan hasil beberapa penelitian di lebih dari 10 negara berbeda di seluruh dunia dalam konferensi tingkat internasional. Saat ini aktif mengajar di Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Institut Pertanian Bogor. serta tulisan di berbagai jurnal nasional. Meraih gelar Doctor in Islamic Economics di International Islamic University Malaysia pada tahun 2010. Saat ini aktif di berbagai lembaga ekonomi dan keuangan syariah.com). antara lain sebagai Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).TENTANG PENULIS ABDUH. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

com). mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dari Departmen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor pada tahun 2005. WALUYO. Selain sebagai dosen Fakultas Agama Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor. Hilman (hilman2106@yahoo. juga aktif sebagai konsultan manajemen SDM pada Santana Consulting and Training Jakarta. Muhammad (imadudz@yahoo. Desi SIlfiaratih (deizie_silfia@yahoo. staf divisi Syiar dan Syariah Sharia Economics Student Club (SES-C) FEM periode 2004/2005. dan Centre Of M@nagement (COM@) Himpro Manajemen FEM IPB. manajemen risiko. Juga aktif di berbagai kepanitiaan yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEM IPB. Sejak tahun 2008 hingga saat ini tercatat sebagai Ketua Program Studi Ekonomi Islam FAI-UIKA Bogor. Fokus pada pengembangan filsafat ekonomi Islam dan pemikiran ekonomi Islam. Leicestershire United Kingdom dan lulus tahun 2006. WAHYU. pembiayaan. 79 . dan asuransi syariah.co. Kemudian melanjutkan studi S2 dan mendapatkan gelar Master of Arts (MA) in Islamic Banking. Selama mengikuti perkuliahan aktif di organisasi kemahasiswaan yaitu sebagai Ketua divisi Kajian dan Pelatihan Sharia Economics Student Club (SES-C) FEM periode 2003/2004.id). mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dari Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. mendapatkan gelar Sarjana Pertanian dari Institut Pertanian Bogor tahun 2003 dan gelar Magister Ekonomi Islam dari Universitas Ibn Khaldun Bogor tahun 2007.com). IMADUDDIN. dan kandidat doktor filsafat pada Universitas Indonesia. Saat ini bekerja sebagai officer di sebuah bank syariah dengan posisi terakhir pada bidang pembiayaan sindikasi. and Management dari Markfield Institute of Higher Education (validated by Loughborough University).HAKIEM. Dosen Tidak Tetap Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Agama Islam Unversitas Ibn Khaldun Bogor ini sebelumnya pernah bekerja di sebuah perusahaan Asuransi Umum Syariah dan mendapatkan gelar profesi Ajun Ahli Asuransi Indonesia Kerugian (AAAIK) tahun 2008. Finance. Memiliki minat penelitian dalam bidang perbankan syariah. menyelesaikan D3 Sastra Prancis Universitas Padjajaran Bandung (1995). Thesis S2 berjudul "Determinants of Banking Credit Default: A Comparative Analysis" dan pernah mempresentasikan sebuah paper di sebuah kolokium di Kuala Lumpur pada tahun 2006.com). Magister of Philosophy Program Studi Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (2004). Sarjana Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung (1998). Bambang (bambangwahyu_1972@yahoo.

INDEKS zakat potential zakat empowerment zakat organization Risk-spreading and sharing risk-shifting via fixed price debt contract asset-based securitization loss and profit sharing subprime mortgage globalisasi sistem keuangan Islam intermediasi keuangan manajemen risiko sistem fiskal dan moneter aset portofolio sektor finansial sektor riil Indonesia United States Error Correction Model Granger Causality Islamic bank rate of financing NPF (Non-Performing Financing) universal banking system Conventional Banking 80 .

2008. entitled “Fallout from US financial crisis hits Asia hard”. ii MalaysiaSun.Credit Default Time-Series Analysis economic growth monetary policy real sector musyarakah mudharabah i ABC (Australian Broadcasting Corporation) reported this story on Tuesday. September 16. Monday. September 15. entitled “Asian markets fall as US financial crisis deepens”. 2008. 81 .com.