1.

Pengertian Diare

Definisi diare menurut WHO, dikatakan diare bila keluarnya tinja yang lunak atau cair dengan frekuensi 3x atau lebih per hari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja. Atau ibu merasakan adanya perubahan konsistensi dan frekuensi BAB pada anaknya.

Berdasarkan waktu, WHO membagi diare menjadi diare akut dan diare kronik. Diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, disebut diare akut. Sedangkan, diare yang berlangsung lebih dari 14 hari disebut diare kronik.

Empat unsur utama, pengelolaan diare yang dianjurkan WHO, yaitu: pemberian cairan, diet, obat-obatan dan edukasi terhadap keluarga dan penderita.

Definisi Secara epidemiologi, diare didefinisikan sebagai keluarnya tinja yang lunak atau cair dengan frekuensi 3x atau lebih per hari dengan atau tanpa darah atau lender dalam tinja. Atau ibu merasakan adanya perubahan konsistensi dan frekuensi BAB pada anaknya.

Etiologi Sebagian besar (85%) diare disebabkan oleh virus dan sisanya (15%) disebabkan oleh bakteri, parasit, jamur, alergi makanan, keracunan makanan, malabsorpsi makanan dan lain-lain.

Golongan virus penyebab diare, terdiri dari Rotavirus, virus Norwalk, Norwalk like virus, Astrovius, Calcivirus, dan Adenovirus. Golongan bakteri penyebab diare, antara lain Escherichia coli (EPEC, ETEC, EHEC, EIEC), Salmonella, Shigella, Vibrio cholera, Clostridium difficile, Aeromonas hydrophilia, Plesiomonas shigelloides, Yersinia enterocolitis, Campilobacter jejuni, Staphilococcus aureus dan Clostridium botulinum. Golongan parasit penyebab diare, antara lain Entamoeba histolytica, Dientamoeba fragilis, Giardia lamblia, Cryptosporidium parvum,

Cyclospora sp, Isospora belli, Blastocyctis hominis dan Enterobius vermicularis. Golongan cacing penyebab diare, antara lain Strongiloides stercoralis, Capillaria philippinensis dan Trichinella spiralis. Golongan jamur penyebab diare, antara lain Candidiasis, Zygomycosis dan Coccidioidomycosis.

Patofisiologi Patofisiologi dasar terjadinya diare adalah absorpsi yang berkurang dan atau sekresi yang meningkat. Adapun mekanisme yang mendasarinya adalah mekanisme sekretorik, mekanisme osmotik dan campuran.

Mekanisme sekretorik atau disebut juga dengan diare sekretorik disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus. Hal ini terjadi, bila absorpsi natrium oleh villi gagal sedangkan sekresi klorida di sel epitel berlangsung terus atau meningkat. Kalau pada diare infeksi prinsip dasarnya adalah kemampuan bakteri mengeluarkan toksin-toksin yang bertindak sebagai reseptor untuk melekat pada enterosit, merusak membran enterosit

dan kemudian menghancurkan membran enterosit, mengaktifkan enzimenzim intraseluler sehingga terjadi peningkatan sekresi, sehingga terjadi diare sekresi. Tapi jika ada kerusakan enterosit, maka disamping diare sekresi juga dapat terjadi diare osmotik tergantung dari derajat kerusakannya.

Diare osmotik terjadi karena tidak dicernanya bahan makanan secara maksimal, akibat dari insufisiensi enzim. Makanan dicerna sebagian, dan sisanya akan menimbulkan beban osmotik intraluminal bagian distal. Hal ini memicu pergerakan cairan intravascular ke intraluminal, sehingga terjadi okumulasi cairan dan sisa makanan. Di kolon sisa makanan tersebut akan didecomposisi oleh bakteri-bakteri kolon menjadi asam lemak rantai pendek, gas hydrogen dan lain-lain. Adanya bahan-bahan makanan yang sudah didecomposisi ini menyebabkan tekanan osmotik intraluminal kolon akan lebih meningkat lagi, sehingga sejumlah cairan akan tertarik lagi ke intraluminal kolon sehingga terjadi diare osmotik.

Klasifikasi Klasifikasi diare ada beberapa macam. Berdasarkan waktu, diare dibagi menjadi diare akut dan diare kronik. Berdasarkan manifestasi klinis, diare akut dibagi menjadi disentri, kolera dan diare akut (bukan disentri maupun kolera). Sedangkan, diare kronik dibagi menjadi diare persisten dan diare kronik. Berdasarkan derajat dehidrasi, diare dibagi menjadi diare tanpa dehidrasi, diare dengan dehidrasi ringan-sedang dan diare dengan dehidrasi

Setiap diare akut yang disertai darah dan atau lender dianggap disentri yang disebabkan oleh shigelosis sampai terbukti lain. diare dibagi menjadi diare akut dan diare kronik. . Rata-rata 95% diare akut terjadi dalam 3-5 hari. karena itu ada istilah diare prolong dimana diare yang melanjut lebih dari 7 hari. Sedangkan kasus yang bukan disentri dan kolera dikelompokkan kedalam diare akut. diare kronik lebih ditujukan untuk diare yang memiliki manifestasi klinis hilang-timbul. umumnya disebabkan oleh agen infeksi. Sedangkan. umur anak lebih dari 3 tahun dan ada KLB dimana penyebaran pertama pada orang dewasa kemudian baru pada anak. Berdasarkan waktu. Derajat dehidrasi ditentukan berdasarkan gambaran klinis. yaitu keadaan umum. memiliki manifestasi klinis antara lain diare profus seperti cucian air beras. Diare akut adalah kumpulan gejala diare berupa defikasi dengan tinja cair atau lunak dengan atau tanpa darah atau lendir dengan frekuensi 3x atau lebih per hari dan berlangsung kurang dari 14 hari dan frekuensi kurang dari 4x per bulan. kelopak mata. rasa haus dan turgor. umumnya disebabkan oleh agen non infeksi. Sedangkan kolera. Dan dikatakan diare kronik bila diare berlang sung lebih dari 14 hari.berat. sering berulang atau diare akut dengan gejala yang ringan yang melanjut lebih dari 14 hari. Diare persisten lebih ditujukan untuk diare akut yang melanjut lebih dari 14 hari. berbau khas seperti “bayklin/sperma”.

obat-obatan. Tapi setelah rehidrasi tercapai secepat mungkin beralih ke pemberian oral. Diet. antara lain terapi awal. meneruskan ASI dan makanan lainnya. 1. WHO merekomendasikan pemakaian zinc.Penatalaksanaan Pengelolaan diare yang dianjurkan menurut WHO. untuk mengobati dan mencegah dehidrasi. Pemberian cairan peroral diberikan pada diare tanpa dehidrasi dan dehidrasi ringan sedang. berikan dulu loading cairan 20 ml/kgbb secepatnya. edukasi atau penyuluhan. Sedangkan. dan jika gagal dapat diberikan personde NGT dengan kecepatan maksimal 20 ml/KgBB/jam. memakai antibiotik untuk kasus kolera dan disentri. ditujukan untuk memperbaiki sirkulasi dinamik dan fungsi ginjal dengan cara reekspansi cepat volume . ada 4 yaitu pemberian cairan. Sedangkan penilaian lengkap status dehidrasi dilakukan setelah syok teratasi. Pemberian Cairan Pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral dan parenteral. Tahapan-tahapan terapi rehidrasi cairan parenteral pada diare dengan dehidrasi berat. Pemberian cairan pada dehidrasi berat merupakan tindakan kedaruratan medis. pada diare dengan dehidrasi berat pemberian cairan dilakukan secara parenteral. Atau pada diare dehidrasi ringan sedang yang gagal URO terapi cairan dapat kita berikan secara parenteral. apalagi jika terjadi syok.

CES. rehidrasi dilakukan selama 24 jam (berbeda dengan diare murni yang hanya 3-6 jam). dengan ketentuan 4 jam pertama cairan diberikan 1/3 sampai dengan 1/4 dan sisanya 20 jam kemudian. Tujuannya. Yang terdiri dari NaCl 15% 10 ml. Cairan yang diberikan adalah cairan modifikasi Sutejo. karena pada saat diare terjadi kekurangan kalori. perhatikan status glikosa. HCO3 12. Pada diare akut murni tanpa penyulit rehidrasi ditujukan untuk mengganti previous water loss (PWL). ditujukan untuk mengganti defisit air dan elektrolit dengan kecepatan pemberian cairan yang lebih rendah. diare dengan bronkiolitis. pada diare dengan penyulit pemberian cairan selama 24 jam. terapi lanjutan. mengandung Na 63. KCl 10% 4 ml . Cl 61.3 mEq/L.4 mEq/L. agar keadaan dehidrasi terutama yang berat cepat teratasi. Untuk kepentingan terapi. diare dengan ensefalitis. dan mengganti cairan yang hilang melalui keringat dan pernapasan atau inssible water loss (IWL). diare dengan penyakit ginjal dan diare dengan hipernatremia. mencukupi kehilangan abnormal dari cairan yang sedang berlangsung atau concomitant water loss (CWL). seperti diare dengan penyakit jantung. diare dengan BP. ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan yang terjadi atau PWL. K 10. diare dengan meningitis. Sedangkan. Pada diare dengan penyulit atau komplikasi.6 mEq/L dan 200 kalori. Pemberian rehidrasi cepat (3-6 jam) parenteral ditujukan untuk memperbaiki sirkulasi dinamik dan mengganti defisit cairan yang terjadi.4 mEq/L. diare dapat pula dikelompokkan menjadi diare murni dan diare dengan penyulit atau komplikasi.

Pada diare dengan dehidrasi berat. Zinc merupakan micronutrien esensial bagi tubuh. makanan diberikan setelah keadaan umum membaik. menjaga stabilitas dinding sel dan ikut serta dalam proses ekspresi dari gen dan pengaturan ion intraseluler. antibiotik hanya digunakan pada kasus kolera dan disentri. Penggunaan antibiotik yang tepat adalah berdasarkan hasil kultur.dan NaHCO3 2. 3. . maka 4 jam pertama 50 ml/kgbb dan 20 jam berikutnya 150 ml/kgbb. pemberian diet secara dini dapat mempercepat penyembuhan dan mencegah penurunan berat badan lebih lanjut. 2. Cara pemberiannya. WHO juga menganjurkan pemakaian zinc.Obat-obatan Sebagian besar diare disebabkan oleh virus untuk itu. pemberian antibiotik tidak diperlukan. pada diare kebutuhan diet meningkat 50% untuk itu dianjurkan untuk tetap memberikan ASI.Diet Prinsipnya.5% 7 ml dalam 500 ml D5% atau menggunakan KAEN 3A atau KAEN 3B. Pada kasus diare. Menurut WHO dan Depkes. maka 4 jam pertama 60 ml/kgbb dan sisanya 20 jam berikutnya 190 ml/kgbb. antara lain bila diare dehidrasi dengan ringan sedang. Atau antibiotik juga dapat dipertimbangkan penggunaannya pada diare akut yang melanjut lebih dari 7 hari sambil menunggu hasil kultur dan resistensi feses. pada diare dengan dehidrasi berat. Sedangkan. Ingat. Zinc berperan dalam proses pertumbuhan dan diferensiasi sel. makanan dan minuman seperti biasanya dengan penambahan porsi.

Pokok penyuluhan meliputi usaha pencegahan diare dan KKP. defisiensi zinc menyebabkan atropi timus akibatnya kandungan limfosit berkurang dan prekursor limfosit di sum-sum tulangpun berkurang akibatnya limfosit dalam darah menurun dan respons imun antibodi juga menurun. Dosis zinc untuk bayi kurang dari 6 bulan adalah 10 mg dan 20 mg untuk yang lebih dari 6 bulan. diberikan selama 14 hari. hal inilah yang menyebabkan anak rentan terhadap infeksi terutama infeksi di GIT karena GIT memiliki kandungan limfosit terbanyak setelah timus.Disamping itu. . usaha pertolongan untuk mencegah dehidrasi pada diare dengan menggunakan oralit.Edukasi atau Penyuluhan Penyuluhan kesehatan dilakukan pada saat visite dan di ruangan khusus di mana orang tua penderita dikumpulkan. 4. imunisasi dan keluarga berencana.

Keluhan utama pasien dengan kanker kolorektal berhubungan dengan besar dan lokasi dari tumor. dimana isi kolon berupa cairan. Tumor yang berada pada kolon kiri cenderung mengakibatkan perubahan pola defekasi sebagai akibat iritasi dan respon refleks. Arteri mesenterika superior memperdarahi belahan bagian kanan (caecum. cenderung tetap tersamar hingga lanjut sekali. 2. Tumor yang . mengecilnya ukuran feses. perdarahan. dan konstipasi karena lesi kolon kiri yang cenderung melingkar mengakibatkan obstruksi. Perbedaan Kanker Colon Kanan & Kiri Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan sejalan dengan suplai darah yang diterima. perdarahan dan symptomatic anemia (menyebabkan kelemahan. Sedikit kecenderungan menyebabkan obstruksi karena lumen usus lebih besar dan feses msih encer. dan arteri mesenterika inferior yang memperdarahi belahan kiri (sepertiga distal kolon transversum.1 Gejala Subakut Tumor yang berada di kolon kanan seringkali tidak menyebabkan perubahan pada pola buang air besar (meskipun besar). Tumor yang berada pada kolon kanan. kolon ascendens dan duapertiga proksimal kolon transversum). kolon descendens dan sigmoid.2. nyeri abdomen. Tanda dan gejala dari kanker kolon sangat bervariasi dan tidak spesifik. pusing dan penurunan berat badan). Gejala klinis sering berupa rasa penuh. dan bagian proksimal rektum).

Pasien mungkin memperhatikan perubahan warna feses menjadi gelap. Karena perdarahan yang disebabkan oleh tumor biasanya bersifat intermitten. Ketika seorang wanita post menopouse atau seorang pria dewasa mengalami anemia defisiensi besi. sehingga jika ditemukan orang dewasa yang mempunyai gejala obstruksi total atau parsial dengan intususepsi. 2. kolonoskopi dan double kontras barium enema harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan kanker kolon. hasil negatif dari tes occult blood tidak dapat menyingkirkan kemungkinan adanya kanker kolon.memproduksi mukus dapat menyebabkan diare. Meskipun kemungkinannya kecil tetapi kanker kolon dapat menjadi tempat utama intususepsi.2 Gejala akut Gejala akut dari pasien biasanya adalah obstruksi atau perforasi. Kehilangan darah dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. yang mereda setelah buang air besar. maka kemungkinan kanker kolon harus dipikirkan dan pemeriksaan yang tepat harus dilakukan. Gejala lain yang jarang adalah penurunan berat badan dan demam. Pasien ini biasanya menyadari adanya perubahan pada pola buang air besar serta adanya darah yang berwarna merah keluar bersamaan dengan buang air besar. tetapi tumor seringkali menyebabkan perdarahan samar yang tidak disadari oleh pasien. Sakit perut bagian bawah biasanya berhubungan dengan tumor yang berada pada kolon kiri. sehingga jika ditemukan pasien usia lanjut dengan gejala obstruksi. maka .

Metastasis ke hepar dapat menyebabkan pruritus dan jaundice. Patofisiologi. 1994. dan yang sangat disayangkan hal ini biasanya merupakan gejala pertama kali yang muncul dari kanker kolon. . United States of America: The McGraw-Hill Companies. lebih jauh lagi nekrosis akan menyebabkan peritonitis dan sepsis. Manual of Clinical Oncology 5th ed. Jika obstruksi tersebut tidak mendapat terapi maka akan terjadi iskemia dan nekrosis kolon. Perforasi juga dapat terjadi pada tumor primer. kram perut dan perut yang menegang.kemungkinan besar penyebabnya adalah kanker. Obstruksi total muncul pada < 10% pasien dengan kanker kolon. Casciato DA. 2004. 2005. Lippincott Willi ams & Wilkins: USA.p 201 19. p. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. dan hal ini dapat disalah artikan sebagai akut divertikulosis. Schwartz’s Principles of Surgery 8th Ed. (ed). 27. Schwartz SI. Perforasi juga bisa terjadi pada vesika urinaria atau vagina dan dapat menunjukkan tanda tanda pneumaturia dan fecaluria. Price SA. Wilson LM. tetapi hal ini adalah sebuah keadaan darurat yang membutuhkan penegakan diagnosis secara cepat dan penanganan bedah. Pasien dengan total obstruksi mungkin mengeluh tidak bisa flatus atau buang air besar.420 2. Jakarta:EGC.

Pada percobaan dengan satu liter darah dimasukkan kedalam lambung. Tes perdarahan saluran pencernaan. Warna hitam dari melena karena hematin sebagai hasil oksidasi haeme oleh bakteri dan enzim pencernaan. melena dapat berlangsung 3 sd 5 hari. Hematochezia : Yaitu keluar darah segar dari anus. dan Hematoschezia a. Perdarahan 10 sd 50 cc per hari akan menghasilkan test benzidine positif. dapat bercampur feces atau darah saja. c. Bila perdarahan dari saluran cerna bagian atas banyak dengan peristaltik yang cepat. Hemetesis : adalah muntah darah. muntahan dapat berbentuk darah segar atau darah kehitaman biasanya sumber perdarahan lebih proksimal dari ligamentum Treitz. Melena dapat terjadi minimal 50 sd 100 cc darah. rectum. Melena. Jadi melena tidak selalu berarti perdarahan pencernaan masih aktif. dan anus. Perbedaan Hematemesis. tetapi dapat juga berasal dari saluran cerna bagian bawah. Muntah hitam ( Coffee grown. setelah perdarahan berhenti dapat saja terdapat melena beberapa hari.3. Biasanya karena perdarahan dari colon. karena darah cukup lama didalam lambung sehingga sempat hemoglobin berubah menjadi met Haemoglobin) b. dapat saja keluar darah segar dari anus. . Melena : BAB berwarna hitam atau seperti aspal ( Terry stools ) biasanya gejala dari perdarahan saluran cerna bagian atas. bila perdarahan 50 sd 100 cc per hari sudah memberikan gejala melena.

Intestinum tenue menghubungkan dari gaster hingga valvulla ileocaecal (bauhini) yg merupakan batas antara intestinum tenue dengan intestinum crassum. Duodenum melengkung di sekitar caput pancreas.4. suspensorium . Dimana saluran cerna dipisahkan mjd saluran cerna atas dan bawah oleh adanya lig. Ileum) Anatomi Intestinum tenue Intestinum tenue merupakan organ pencernaan yang sering juga disebut sebagai small intestine atau usus kecil/ usus halus. Intestinum tenue terdiri atas : • Duodenum Duodenum atau juga disebut dg usus 12 jari merupakan usus yg berbentuk seperti huruf C yg menghubungkan antara gaster dg jejunum. Duodenum merupakan bagian terminal/ muara dr system apparatus biliaris dr hepar maupun dr pancreas. Jejunum . Anatomi Fisiologi Intestinum Tenue (Duodenum . Seluruh organ yg termasuk dalam intestinum tenue juga merupakan organ2 intraperitoneal. Treitz (m. Selain itu duodenum jg merupakan batas akhir dr saluran cerna atas.

Duodenum memiliki penggantung yg disebut dg mesoduodenum. a. Di dalam lumen duodenum terdapat lekukan2 kecil yg disebut dg plica sircularis. cava inferior Superior : foramen epiploica winslow Inferior : caput pancreas .duodeni) yg terletak pd flexura duodenojejunales yg merupakan batas antara duodenum dan jejunum. Duodenum terdiri atas beberapa bagian : + Duodenum pars Superior Bagian ini bermula dari pylorus dan berjalan ke sisi kanan vertebrae lumbal I dan terletak di linea transylorica. vesica felle Posterior : bursa omentalis. ductus choledocus. portae hepatis dan V. v. dan memiliki syntopi : Anterior : lobus quadratus hepatis. Bagian ini terletak setinggi Vertebrae Lumbal I. gastroduodenalis. Duodenum terletak di cavum abdomen pd regio epigastrium dan umbilikalis.

colon transversum. flexura coli dextra. yg merupakan muara dr ductus pancreaticus major dan ductus choledocus.- Duodenum pars Descendens Merupakan bagian dr duodenum yg berjalan turun setinggi Vertebrae Lumbal II – III. Posterior : ureter dextra. vasa. Duodenum bagian ini memiliki syntopi : Anterior : fundus vesica fellea. VCS. lekukan usus halus. lekukan jejunum Posterior : ureter dextra. m. lobus hepatis dextra. Duodenum bagian ini memiliki syntopi Anterior : mesenterium usus halus. hilus renalis dextra Medial : caput pancreas Lateral : colon ascendens. jg oleh ductus pancreaticus minor yg merupakan organ apparatus biliaris yg merupakan organ2 system enterohepatic. Mesenterica superior. psoas dextra. aorta Superior : caput pancreas Inferior : lekukan jejunum . Pd duodenum bagian ini terdapat papilla duondeni major dan minor. lobus hepatis dextra - Duodenum pars Horizontal Merupakan bagian dr duodenum yg berjalan horizontal ke sinistra mengikuti pinggir bawah caput pancreas dan memiliki skeletopi setinggi Vertebrae Lumbal II.

divaskularisasi . Posterior : pinggir kiri aorta . psoas sinistra Vaskularisasi Duodenum - Vaskularisasi duodenum baik arteri maupun vena nya terbagi menjadi 2. lekukan jejunum. Utk duodenum pars superior hingga duodenum pars descendens diatas papilla duodeni major (muara ductus pancreticus major). Pd flexura duodenojejunales ini terdapat ligamentum yg menggantung yg merupakan lipatan peritoneum yg disebut dg lig. Duodenum bagian ini memiliki syntopi : - Anterior : mesenterium. Duodenum bagian ini memiliki skeletopi setinggi Vertebrae Lumbal I atau II. Treitz (m.- - Duodenum pars Ascendens Merupakan bagian terakhir dr duodenum yg bergerak naik hingga pada flexura duodenujejunales yg merupakan batas antara duodenum dan jejunum. pinggir medial m. suspensorium duodeni) yg dimana ligamentum ini juga merupakan batas yg membagi saluran cerna mjd saluran cerna atas dan saluran cerna bawah.

Dimana duodenum mendapatkan muara dr ductus pancreaticus. dan aliran vena nya langsug bermuara ke sistem portae. X) Fisiologi Duodenum Pada duodenum pars superior scr histologist terdapat adanya sel liberkeuhn yg berfungsi utk memproduksi sejumlah basa. vagus (n. shg permukaan duodenum tdk teriritasi dg adanya chymus yg asam td. sdgkn persarafan parasimpatis nya oleh n. pancrearicoduodenalis cabang dr a. pd duodenum tjd proses pencernaan karbohidrat scr enzymatic yg telah berbentuk disakarida. mesenterica superior. mesenterica superior yg dicabangkan dr aorta setinggi Vertebrae Lumbal I. dimana pd pancreas diproduksi enzyme maltase. superior a. duodenalis a. Sedangkan dibawah papilla duodeni major. duodenum divaskularisasi oleh R. lactase dan sukrase. Sdgkn lactase akan merubah 1 gugus gula laktosa mjd 1 gugus glukosa dan 1 gugus galaktosa. Innervasi Duodenum Duodenum di innervasi oleh persarafan simpatis oleh truncus sympaticus segmen thoracal VI-XII. . Dimana enzyme maltase akan berfungsi utk memecah 1 gugus gula maltose mjd 2 gugus gula glukosa. hepatica communis. Basa ini berfungsi utk menaikkan pH dr chymus yg masuk ke duodenum dr gaster. Sedangkan aliran vena nya bermuara ke v. cabang dr a. gastroduodenalis.oleh R. Selain itu. cabang dr triple hallery yg dicabangkan dr aorta setinggi Vertebae Thoracal XII – Vertebrae Lumbal I.

Setelah itu. emulsi lemak tadi akan diubah oleh enzyme lipase pancreas mjd asam lemak dan 2 diasilgliserol.di dalam duodenum jg terjadi pencernaan lipid secara enzymatic. Jejunum dan ileum ini sama2 merupakan organ intraperitoneal. Berikut adalah perbedaan antara jejunum dan duodenum : .Sementara itu. enzyme sukrase akan memecah 1 gugus sukrosa mjd 1 gugus fruktosa dan 1 gugus glukosa. Selain itu. Pd bagian akhir dr ileum akan terdapat sebuah katup yg disebut dg valvulla ileocaecal (valvulla bauhini) yg merupakan suatu batas yg memisahkan antara intestinum tenue dg intestinum crassum. Jejunum dan ileum memiliki penggantung yg disebut sg mesenterium yg memiliki proyeksi ke dinding posterior abdomen dan disebut dg radix mesenterii. Sementara itu. • Jejunum dan Ileum Jejunum dan ileum juga srg disebut dg usus halus/ usus penyerapan membentang dr flexura duodenojejunales sampai ke juncture ileocacaecalis. Dimana lipid dalam bentuk diasilgliserol akan teremulsi oleh adanya getah empedu yang dialirkan mll ductus choledocus dr vesica fellea dan hepar. juga berfungsi utk mencegah terjadi nya refluks fekalit maupun flora normal dalam intestinum crassum kembali ke intestinum tenue. dan jg utk mengatur pengeluara zat sisa penyerapan nutrisi.

Vaskularisasi Jejunum Ileum .

galaktosa. jejunales dan v. peptide. Dimana a. ileales jg sama2 bermuara ke v. mesenterica superior. Jejunales dan ileum divaskularisasi oleh vasa ileales. mesenterica superior yg dicabangkn dr aorta setinggi Vertebrae Lumbal I. asam lemak dan 2 asilgliserol. Innervasi Jejunum Ileum Jejunum dan ileum memiliki innervasi yg sama yaitu parasimpatis oleh n. . fruktosa. Fisiologi Jejunum Ileum Dilihat secara histologik. ileales sama2 merupakan cabang dr a. Sedangkan v. Dimana vili chorialis ini berfungsi utk menyerap zat2 gizi hasil akhir dr proses pencernaan spt glukosa.Jejunum divaskularisasi oelh vasa. vagus dan simpatis oleh plexus mesenterica superior dr medulla spinalis segmen thoracal VI – XII. jejunum dan ileum memiliki vili vhorialis. jejunales dan a.

ed.Sumber : Diktat Anatomi.the Ileocecal Valve Gambar resolusi tinggi: Katup ileocaecal. Dasar Teori Laporan Biokimia Sistem Pencernaan. 5. Batas antara saluran cerna bagian atas dan bagian bawah Normal Findings in Endoscopy: Valvula Bauchini . Valvula Bauhini . 2011. Laboratorium Anatomi FK Unissula. Laboratorium Biokimia FK Unissula.

Inilah gambaran katup ileosekal Pada kasus obesitas. mencegah terjadinya reflux dari colon ke bagian distal dari ileum.Valvula Bauchini – Katup ileosekal – terletak di antara caecum dan bagian ascendens dari colon.. . Katup ini terdiri atas upper dan lower lip. dan dari biopsi dapat terlihat lemak di dalam mukosa. dan bersifat seperti sphincter. seperti pada gambar. katup ileocecal dapat sangat menonjol. seperti terlihat pada gambar. "lipomatoses" Katup ileosekal dapat terlihat rata.

Gambar Resolusi Tinggi: Katup ileocaecal. Valvula Bauhini Slideshow: Valvula Bauhini .

.

Abdomen yang terbuka adalah antara prosesus xiphodeus – simfisis pubis. Katup ini memiliki fungsi mencegah fekal refluks ke usus halus. Untuk menjaga relaksasi dinding perut:    Vesika urinaria harus kosong. satu bantal dibawah lutut. Palpasi.Katup Ileosekal atau valvula bauhini menghubungkan dari ileum dan caput colli. Persiapan pemeriksaan: Ruangan nyaman cahaya dan suhu cukup hangat. . Pemeriksaan Fisik Abdomen Prosedur pemeriksaan fisik:     Inspeksi. Posisi terlentang –> kepala diatas satu bantal. sedangkan pada anak – anak saluran cerna bagian atas dan bagian bawah dibagi oleh valvula bauhini. yang mana bagian katupnya dapat berdistensi seperti kolon. Saluran cerna bagian atas dan bagian bawah pada orang dewasa dibagi oleh iliocaecal junction. Lengan disisi badan. Auskultasi. Perkusi. 6. Katup ini memiliki bentuk elips yang terbuka dan datar.

Tangan pemeriksa yang hangat. .    Tungkai bawah –> fleksi pada sendi lutut. kuku yang pendek. Garis ini terbagi di dalam 8 titik (S1 sampai S8). Titik Mc Burney: Titik pada kuadran kanan bawah yang terletak pada 1/3 lateral dari garis yang menghubungkan SIAS dengan umbilikus. Garis ini dipergunakan untuk menyatakan pembesaran limpa. Tanyakan daerah yang sakit untuk dipalpasi terakhir. Perhatikan muka/ekspresi –> nyeri pada abdomen. Garis Schuffner: Garis yang menghubungkan titik SIAS kanan dengan umbilikus dan diteruskan sampai arkus kosta.

Pembesaran lokal ditemukan pada:    Vesika urinaria yang penuh. Dehidrasi. Rambut suprapubis: --> Masa pubertas (tanda kelamin sekunder). Bentuk Abdomen: Perut yang membesar ditemukan pada:      Orang sangat gemuk –> penimbunan lemak. Kehamilan. Pasien dengan peritonitis –> tidak bergerak di tempat tidur/lutut ditarik ke atas untuk membantu relaksasi otot perut dan mengurangi tekanan intra abdominal. dan lain-lain. .INSPEKSI Keadaan Umum:    Tampak nyeri atau tidak. Perut yang sangat cekung (scapoid). Kolik ginjal/empedu –> menggeliat di tempat tidur. Karsinoma lambung. Meteorismus –> penimbunan gas. ditemukan pada:   Gizi buruk (cachexia). Penimbunan cairan. Pembesaran organ.

Gerakan-gerakan/kontur usus: Gerakan usus disebut darm steifung. hipogonadisme. cava inferior (bendungan). AUSKULTASI   Auskultasi –> stetoskop diafragma diatas mid abdomen. dan kontur usus (darm countur). dan penyakit Hirschprung. adrenal virilis dan hipopituitarisme. Jaringan parut post operasi. --> gerakan udara dan cairan di dalam saluran cerna. . Posisi umbilikus:  Posisi pusat (umbilikus) –> hernia umbilikus atau posisi pusat tergeser –> dorongan organ tubuh. Kelainan kulit:     Perubahan warna.  Tanda cullen –> umbilikus kebiru-biruan yang disebabkan oleh hemoperitoneum karena sebab apapun.--> Berubah pada sirosis. Benjolan: hemangioma. cava superior/v. Keduanya terlihat pada ileus obstruksi yang berat. Striae: ungu – merah muda adalah tanda klasik kelebihan adrenokortikal. Gerakan pernapasan: Gerakan pernapasan pada abdomen berkurang sampai tidak ada pada peritonitis. Vena-vena mengambang atau vena kolateral: Pada sirosis hepatis –> obstruksi v.  Posisi reversi –> peningkatan tekanan abdominal biasanya karena asites atau masa yang besar.

Dengan perkusi abdomen. PERKUSI Pada keadaan normal. 1995. hal 251). terdengar seperti ada arus “denting” bernada tinggi yang disebut borborigmi. perkusi abdomen menghasilkan bunyi timpani.  --> meningkat pada ileus obstruksi. --> bising usus normal timbul kira-kira tiap 5 – 10 detik. (Dari Mark H. pemeriksa dapat menentukan: . Swartz. Gambar teknik “succussion splash” untuk memeriksa distensi visera abdomen. 1995. Gambar teknik memeriksa bunyi usus. Swartz. Jika 2 menit tidak terdengar bunyi usus –> “tidak ada bunyi usus”. hal 250). (Dari Mark H. dan menurun pada ileus paralitik atau peritonitis.

    Timpani gaster. Jika Ruang Traube terisi. Pembesaran limpa. pekak hati 6 – 12 cm. Pembesaran hati. bagian anterior bawah kiri. berarti ada pembesaran limpa. Ruang ini dinamakan Ruang Traube. pekak hati 4 – 8 cm. Timpani gaster: Perkusi gaster dilakukan pada cavum iga. pada linea midklavikularis. Pada linea sternalis kanan. Teknik perkusi limpa: Perkusi dilakukan pada iga X kiri. Adanya cairan bebas. Teknik pemeriksaan asites:  Shifting dullness –> Pada penderita yang terlentang. Gambar teknik perkusi hati. Teknik perkusi hati: Pekak hati –> pada linea midklavikularis kanan. dicari batas timpani pekak (permukaan cairan) di bagian lateral abdomen. . dengan pemeriksaan shifting dullness.

Swartz. maka batas timpani pekak menjadi bergeser. Bila posisi penderita dimiringkan. (Dari Mark H. hal 252). Gambar teknik fluid wave Fluid Wave . Daerah berwarna menunjukkan daerah timpani. Gambar teknik untuk memeriksa redup yang berpindah. 1995. pada sisi ulnar ditekan ke dinding abdomen. Undulasi:   Dua telapak tangan ditaruh di kiri dan kanan dinding abdomen. Telapak tangan penderita atau pemeriksa kedua. maka telapak tangan yang lain merasakan adanya gelombang.  Ujung-ujung jari memberikan tekanan pada satu sisi.

PALPASI Yang dihasilkan dari pemeriksaan palpasi yaitu:  Rasa sakit –> nyeri tekan karena peregangan organ-organ. Kutub bawah ginjal kanan. letakkan telapak tangan yang satu berlawanan dengan telapak tangan yang lain untuk mendengarkan adanya cairan asites.  Defans muskuler. Vertebra L3 – L5 terutama orang kurus. Gambar teknik pudle sign Pudle Sign Pasien pada posisi bertumpu pada lutut dan siku tangan. yang mana akan menyebabkan cairan asites berkumpul di bagian bawah abdomen. Pembesaran organ yang bisa dipalpasi:     Hepar: pinggir hati 1 cm di bawah arcus costa. Pulsasi aorta abdominalis. Lakukan perkusi dari bagian samping perut (lank) ke garis tengah.Pemeriksaan asites bisa dilakukan dengan cara menekan secara dalam ke arah garis tengah dinding abdomen (untuk mencegah vibrasi sepanjang dinding abdomen). dan tumor. Pada area asites suara perkusi akan lebih mengeras. peregangan peritonium. .

Pulsasi arteri iliaka (lower quadran). tentukanlah:       Pembesaran lien. tentukanlah:     Besar hepar. Konsistensi. Permukaan hepar. Vesika urinaria atau uterus yang terisi. Nyeri tekan. Permukaan.   Sigmoid: terisi feses. apakah tumpul atau tajam. Bila hepar teraba. Pinggir hepar. garis schuffner (1 – 8). . Pinggir. berapa cm di bawah arcus costa. kenyal atau tidak. Limpa Bila teraba. Diingat adanya incisura lienalis. Nyeri tekan. ada atau tidak.

(Dari Mark H. Swartz. (Dari Mark H. 1995. atau retroperitoneal. Swartz. Murphy’s Sign pada cholecystitis acuta yaitu tangan diletakkan di abdomen pada garis midklavikularis. 1995.Gambar teknik palpasi limpa. caranya:  Tumor dari dinding perut: dengan mengangkat dinding perut –> pembengkakan bertambah atau tetap.  Pasien bernapas dalam dan tangan kanan naik ke atas. hal 255). Palpasi Tumor: Palpasi tumor –> dinding perut. Gambar teknik lain untuk palpasi limpa. Palpasi Kandung Empedu   Palpasi midklavikularis kanan. suatu saat napas pasien terhenti berarti Murphy’s Sign positif. dengan cara seperti palpasi hepar. intraperitoneal. . hal 256).

Konsistensi. Hubungan dengan alat-alat lain. Posisi. Pemeriksaan Apendix Gambar teknik guarding . ballotementnya positif. Nyeri. Permukaan. Palpasi untuk tumor dilakukan untuk mengetahui:          Lokasi: intra abdominal atau retroperitoneal. Pulsasi. Tumor dari intraperitoneal: dengan menegangkan dinding perut –> pembengkakan menghilang berarti tumor berasal dari intra abdominal. Perlengketan.  Tumor retroperitoneal: dengan pemeriksaan bimanual. Besar.

Gambar teknik rebound hand down Gambar teknik rebound hand up Gambar teknik psoas sign .

Gambar teknik obturator sign .

Satya Adi Nugraha ( 0918011077) 2. B SMF BEDAH 2013 Disusun oleh : 1. Yusmaidi. SP. Widhi Astuti ( 0918011087 ) Fakultas Kedokteran Universitas Lampung . H.TUGAS PRECEPTOR DR.