You are on page 1of 42

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Traumatic Brain Injury merupakan salah satu penyebab kematian, kesakitan dan kecacatan serta bertanggung jawab pada proporsi yang signifikan terhadap kematian akibat trauma di Amerika Serikat. Insidensi tahunan dari trauma kepala yaitu sekitar 600 hingga 900 orang per 100.000 populasi. Terdapat 200 hingga 500 orang dirawat di unit gawat darurat, 150 hingga 250 orang dirawat di rumah sakit dengan Traumatic Brain Injury, dan 20 hingga 30 orang meninggal ( 50% di rumah sakit dan 50% di luar rumah sakit) per tahunnya (Bruns and Hauser, 2003). Data menunjukkan bahwa, rata-rata sekitar 1.400.000 orang mengalami Traumatic Brain Injury setiap tahun di Amerika Serikat, dimana 50.000 orang meninggal dan 235.000 orang dirawat di rumah sakit. Penyebab utama dari Traumatic Brain Injury antara lain akibat jatuh (28%), kecelakaan lalu lintas berupa tabrakan kendaraan bermotor (20%), bertubrukan dengan benda yang bergerak maupun diam (19%), dan penyebab lainnya.1 Puncak insidensi dari Traumatic Brain Injury yaitu antara umur 15 - 24 tahun dan orang yang berumur > 64 tahun. Laki-laki memiliki kemungkinan mengalami Traumatic Brain Injury dua kali lipat lebih besar daripada wanita. Pada populasi warga sipil, alkohol terlibat pada lebih dari setengah kasus Traumatic Brain Injury. Menurut penelitian, kecelakaan kendaraan bermotor terutama kecelakaan sepeda motor, terhitung sebagai salah satu penyebab traumatic brain injury terbanyak pada warga sipil.2 Menurut Akbar (2000), insiden trauma kepala pada tahun 1995 sampai 1998 terdiri dari tiga tingkat keparahan trauma kepala yaitu trauma kepala ringan sebanyak 60,3% (2463 kasus), trauma kepala sedang sebanyak 27,3% (1114 kasus) dan trauma kepala berat sebanyak 12,4% (505 kasus). Kematian akibat trauma kepala mencatatkan sebanyak 11% berjumlah 448 kasus. Angka kejadian trauma kepala pada tahun 2004 dan 2005 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), FKUI mencatat sebanyak 1426 kasus.

2

Salah satu akibat dari cedera kepala adalah epidural hematoma. Di Amerika Serikat, 2% dari kasus trauma kepala mengakibatkan hematoma epidural dan sekitar 10% mengakibatkan koma. Secara Internasional frekuensi kejadian hematoma epidural hampir sama dengan angka kejadian di Amerika Serikat. Orang yang beresiko mengalami EDH adalah orang tua yang memiliki masalah berjalan dan sering jatuh.4,11

1.2. Tujuan Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Senior Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan meningkatkan pemahaman penulis maupun pembaca mengenai manajemen anestesi pada kasus epidural hematom.

1.3. Manfaat Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mengenai perdarahan epidural sehingga dapat diterapkan dalam menangani kasuskasus cedera kepala yang dicurigai sebagai perdarahan epidural di klinik sesuai kompetensi dokter umum.

3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Otak Otak di lindungi dari cedera oleh rambut, kulit dan tulang yang membungkusnya,tanpa perlindungan ini, otak yang lembut yang membuat kita seperti adanya, akan mudah sekali terkena cedera dan mengalami kerusakan. Selain itu, sekali neuron rusak, tidak dapat di perbaiki lagi. Cedera kepala dapat mengakibatkan malapetaka besar bagi seseorang. Sebagian masalah merupakan akibat langsung dari cedera kepala. Efek-efek ini harus dihindari dan di temukan secepatnya dari tim medis untuk menghindari rangkaian kejadian yang menimbulkan gangguan mental dan fisik dan bahkan kematian.3 Tepat di atas tengkorak terletak galea aponeurotika, suatu jaringan fibrosa, padat dapat di gerakkan dengan bebas, yang memebantu menyerap kekuatan trauma eksternal. Di antar kulit dan galea terdapat suatu lapisan lemak dan lapisan membran dalam yang mngandung pembuluh-pembuluih besar. Bila robek pembuluh ini sukar mengadakan vasokontriksi dan dapat menyebabkan kehilangan darah yang berarti pada penderita dengan laserasi pada kulit kepala. Tepat di bawah galea terdapat ruang subaponeurotik yang mengandung vena emisaria dan diploika. Pembuluh-pembuluh ini dapat membawa infeksi dari kulit kepala sampai jauh ke dalam tengkorak, yang jelas memperlihatkan betapa pentingnya pembersihan dan debridement kulit kepala yang seksama bila galea terkoyak.3 Pada orang dewasa, tengkorak merupakan ruangan keras yang tidak

memungkinkan perluasan intrakranial. Tulang sebenarnya terdiri dari dua dinding atau tabula yang di pisahkan oleh tulang berongga. Dinding luar disebut tabula eksterna, dan dinding bagian dalam di sebut tabula interna. Struktur demikian memungkinkan suatu kekuatan dan isolasi yang lebih besar, dengan bobot yang lebih ringan. Tabula interna mengandung alur-alur yang berisiskan arteria meningea anterior, media, dan posterior. Apabila fraktur tulang tengkorak menyebabkan terkoyaknya salah satu dari arteri-arteri ini,

4

perdarahan arterial yang di akibatkannya, yang tertimbun dalam ruang epidural, dapat manimbulkan akibat yang fatal kecuali bila di temukan dan diobati dengan segera. Pelindung lain yang melapisi otak adalah meningens. Ketiga lapisan meningens adalah dura mater, arakhnoid, dan pia mater.3 Duramater kranialis, lapisan luar yang tebal dan kuat. Terdiri atas dua lapisan: Lapisan endosteal (periosteal) sebelah luar dibentuk oleh periosteum yang membungkus dalam calvaria, Lapisan meningeal sebelah dalam adalah suatu selaput fibrosa yang kuat yang berlanjut terus di foramen mágnum dengan dura mater spinalis yang membungkus medulla spinalis.4 Arachnoidea mater cranialis, lapisan antara yang menyerupai sarang laba-laba.5 Pia mater cranialis, lapis terdalam yang halus yang mengandung banyak pembuluh darah.

Gambar 1. Lapisan meningens otak

2.2. Epidural Hematoma 2.2.1. Definisi Epidural hematom adalah salah satu jenis perdarahan intrakranial yang paling sering terjadi karena fraktur tulang tengkorak. Otak ditutupi oleh tulang tengkorak yang kaku dan keras. Otak juga di kelilingi oleh sesuatu yang berguna

Venous epidural hematom berhubungan dengan robekan pembuluh vena dan berlangsung perlahan-lahan. Angka kematian meningkat pada pasien yang berusia kurang dari 5 tahun dan lebih dari 55 tahun. Arterial hematom terjadi pada middle meningeal artery yang terletak di bawah tulang temporal. ketika pembuluh darah mengalami robekan maka darah akan terakumulasi dalam ruang antara dura dan tulang tengkorak. Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding perempuan dengan perbandingan 4:1.2. Epidural hematoma akut (58%). Epidemiologi Di Amerika Serikat. Ketika seorang mendapat benturan yang hebat di kepala kemungkinan akan terbentuk suatu lubang. dan membentuk periosteum tabula interna.4.3. Secara Internasional frekuensi kejadian hematoma epidural hampir sama dengan angka kejadian di Amerika Serikat.5 sebagai pembungkus yang disebut dura. bila terjadi perdarahan arteri maka hematom akan cepat terjadi.5 Epidural hematom sebagai keadaan neurologis yang bersifat emergency dan biasanya berhubungan dengan linear fraktur yang memutuskan arteri yang lebih besar. keadaan inilah yang dikenal dengan sebutan epidural hematom. 2% dari kasus trauma kepala mengakibatkan hematoma epidural dan sekitar 10% mengakibatkan koma.4. Fungsinya untuk melindungi otak. kronik hematoma (11%) perdarahan dari vena.tipe :8 1. sehingga menimbulkan perdarahan. menutupi sinus-sinus vena. subakut hematoma (31%). pergerakan dari otak mungkin akan menyebabkan pengikisan atau robekan dari pembuluh darah yang mengelilingi otak dan dura.11 60 % penderita hematoma epidural adalah berusia dibawah 20 tahun. Orang yang beresiko mengalami EDH adalah orang tua yang memiliki masalah berjalan dan sering jatuh.2. Perdarahan masuk ke dalam ruang epidural. . dan jarang terjadi pada umur kurang dari 2 tahun dan di atas 60 tahun.11 Tipe.17 2.

Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu cabang arteria meningea media robek. beberapa keadaan yang bisa menyebabkan epidural hematom adalah misalnya benturan pada kepala pada kecelakaan motor. Di tempat ini terdapat nuklei saraf cranial ketiga (okulomotorius). Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium.6 2. Tekanan pada saraf ini mengakibatkan dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata.11 2. desakan oleh hematoma akan melepaskan durameter lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom bertambah besar. yang biasanya berhubungan dengan fraktur tulang tengkorak dan laserasi pembuluh darah.3 Tekanan dari herniasi unkus pada sirkulasi arteria yang mengurus formatio retikularis di medula oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran.4.4. perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan durameter. Hematoma epidural terjadi akibat trauma kepala. Hematom dapat pula terjadi di daerah frontal atau oksipital. Etiologi Hematoma Epidural dapat terjadi pada siapa saja dan umur berapa saja. . Patofisiologi Pada hematom epidural.10 Arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara durameter dan tulang di permukaan dan os temporale.2. Keadaan ini menyebabkan timbulnya tanda-tanda neurologik yang dapat dikenal oleh tim medis.10 Hematoma yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada lobus temporalis otak ke arah bawah dan dalam. Robekan ini sering terjadi bila fraktur tulang tengkorak didaerah bersangkutan.2.3. Perdarahan yang terjadi menimbulkan hematom epidural.

menyebabkan tekanan intrakranial yang besar. kemudian kesadaran berangsur menurun. penderita akan merasakan nyeri kepala yang progersif memberat. refleks hiperaktif atau sangat cepat. Gambaran perdarahan pada epidural hematoma Tekanan pada lintasan kortikospinalis yang berjalan naik pada daerah ini. Masa antara dua penurunan kesadaran ini selama penderita sadar setelah terjadi kecelakaan disebut interval lucid. dan tanda babinski positif. menyebabkan kelemahan respons motorik kontralateral. Fenomena lucid interval terjadi karena cedera primer yang ringan pada epidural hematom. maka darah akan terpompa terus keluar hingga makin lama makin besar. maka seluruh isi otak akan terdorong ke arah yang berlawanan. Ketika kepala terbanting atau terbentur mungkin penderita pingsan sebentar dan segera sadar kembali. Kalau pada subdural hematoma cedera primernya hampir selalu berat atau epidural hematoma dengan . Timbul tanda-tanda lanjut peningkatan tekanan intrakranial antara lain kekakuan deserebrasi dan gangguan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan. Dalam waktu beberapa jam.3 Dengan makin membesarnya hematoma.3 Karena perdarahan ini berasal dari arteri.7 Gambar 2.

2.5.5 Setiap orang memiliki kumpulan gejala yang bermacam-macam akibat dari cedera kepala. bisa sampai koma • Bingung • Penglihatan kabur • Susah bicara • Nyeri kepala yang hebat • Keluar cairan darah dari hidung atau telinga • Nampak luka yang adalam atau goresan pada kulit kepala.10 Sumber perdarahan: • Artery meningea ( lucid interval : 2–3 jam ) • Sinus duramatis • Diploe (lubang yang mengisi kalvaria kranii) yang berisi a. Banyak gejala yang muncul bersaman pada saat terjadi cedera kepala. Pasien dengan kondisi seperti ini seringkali tampak memar di sekitar mata dan di belakang telinga. • Mual • Pusing • Berkeringat . Pasien seperti ini harus di observasi dengan teliti.8 trauma primer berat tidak terjadi lucid interval karena pasien langsung tidak sadarkan diri dan tidak pernah mengalami fase sadar. Karena itu setiap penderita dengan trauma kepala yang mengeluh nyeri kepala yang berlangsung lama. harus segera di rawat dan diperiksa dengan teliti.10. Gambaran Klinis Gejala yang sangat menonjol ialah kesadaran menurun secara progresif.12 2. diploica dan vena diploica Epidural hematoma merupakan kasus yang paling emergensi di bedah saraf karena progresifitasnya yang cepat karena durameter melekat erat pada sutura sehingga langsung mendesak ke parenkim otak menyebabkan mudah herniasi trans dan infratentorial.10 • Penurunan kesadaran. Sering juga tampak cairan yang keluar pada saluran hidung atau telinga. apalagi progresif memberat. Gejala yang sering tampak: 5.

sedangkan gejala dan tanda lainnya menjadi kabur. Pasien dengan kondisi seperti ini seringkali tampak memar di sekitar mata dan di belakang telinga. kesadaran menurun sampai koma dalam. keluar darah dari hidung atau telinga. Setiap orang memiliki kumpulan gejala yang bermacam-macam akibat dari cedera kepala. terlihat luka yang dalam atau goresan pada kulit kepala. Banyak gejala yang muncul bersaman pada saat terjadi cedera kepala. pelebaran pupil akan mencapai maksimal dan reaksi cahaya pada permulaan masih positif menjadi negatif. Pasien seperti ini harus di observasi dengan teliti.10 . bingung. hemiparesis kontralateral. bisa sampai koma. Gejala-gejala respirasi yang bisa timbul berikutnya. interval bebas tidak akan terlihat. pusing. pupil kontralateral juga mengalami pelebaran sampai akhirnya kedua pupil tidak menunjukkan reaksi cahaya lagi yang merupakan tanda kematian. Terjadi pula kenaikan tekanan darah dan bradikardi. Inilah tanda sudah terjadi herniasi tentorial. Gejala dan tanda EDH10 :    Hilangnya kesadaran posttraumatik / posttraumatic loss of consciousness (LOC) secara singkat. nyeri kepala yang hebat. dilatasi pupil ipsilateral. Pada perjalannya. susah bicara. Terjadi “ lucid interval” untuk beberapa jam. mual. bisa dijumpai hemiparese atau serangan epilepsi fokal. berkeringat.13 Jika epidural hematom di sertai dengan cedera otak seperti memar otak. pupil anisokor. Sering juga tampak cairan yang keluar pada saluran hidung atau telinga.9 • Pucat • Pupil anisokor. Keadaan mental yang kaku (obtundation). penglihatan kabur . yaitu pupil ipsilateral menjadi melebar. pucat. Pada tahap akhir. Gejala yang sangat menonjol ialah kesadaran menurun secara progresif. Pada tahap kesadaran sebelum stupor atau koma. mencerminkan adanya disfungsi rostrocaudal batang otak. Gejala yang sering tampak seperti penurunan kesadaran.

Gambaran Radiologi Dengan CT-Scan dan MRI. perdarahan intrakranial akibat trauma kepala lebih mudah dikenali. Densitas darah yang homogen .11 Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan lokasi.2. volume.10 Gambar 3. dan potensi cedara intracranial lainnya. efek.6. Batas dengan corteks licin. Pada epidural biasanya pada satu bagian saja (single) tetapi dapat pula terjadi pada kedua sisi (bilateral). bila meragukan dapat diberikan injeksi media kontras secara intravena sehingga tampak lebih jelas.12 Computed Tomography (CT-Scan) Dengan pemeriksaan CT Scan akan tampak area hiperdens yang tidak selalu homogeny. paling sering di daerah temporoparietal. melekat pada tabula interna dan mendesak ventrikel ke sisi kontralateral (tanda space occupying lesion). Perjalanan klinik EDH pada pasien trauma kepala 2. Dengan proyeksi Antero-Posterior (A-P). densitas duramater biasanya jelas.4 Foto Polos Kepala Pada foto polos kepala. berbentuk bikonfeks. kita tidak dapat mendiagnosa pasti sebagai epidural hematoma. bentuknya biconvex sampai planoconvex. lateral dengan sisi yang mengalami trauma pada film untuk mencari adanya fraktur tulang yang memotong sulcus arteria meningea media.

Biasanya di sertai dengan perdarahan jaringan otak. CT-Scan kepala menunjukkan epidural hematoma.18 Gambar 4. Diagnosis Banding 1. kortikalis. berbatas tegas.10.18 2.14 2.2. Secara klinis hematoma subdural akut sukar dibedakan dengan hematoma epidural yang berkembang lambat.11.8. ditandai dengan adanya peregangan dari pembuluh darah. Hematoma Subarachnoid Perdarahan subarakhnoid terjadi karena robeknya pembuluh-pembuluh darah didalamnya. Bisa di sebabkan oleh trauma hebat pada kepala yang menyebabkan bergesernya seluruh parenkim otak mengenai tulang sehingga merusak a. Gambaran CT-Scan hematoma subdural. midline terdorong ke sisi kontralateral. MRI merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dipilih untuk menegakkan diagnosis. Terdapat pula garis fraktur pada area epidural hematoma. berada diantara tulang tengkorak dan duramater.12.14 .11 (hiperdens). Hematoma subdural Hematoma subdural terjadi akibat pengumpulan darah diantara dura mater dan arachnoid. densitas yang tinggi pada stage yang akut (60 –90 HU). dimana tampak lesi hiperdens berbentuk cembung pada bagian frontal Magnetic Resonance Imaging (MRI) MRI akan menggambarkan massa hiperintens bikonveks yang menggeser posisi duramater.7. tampak penumpukan cairan ekstraaksial yang hiperdens berbentuk bulan sabit. MRI juga dapat menggambarkan batas fraktur yang terjadi.

10 Terapi Operatif Operasi di lakukan bila terdapat:17 • Volume hamatom > 30 ml ( kepustakaan lain > 44 ml) • Keadaan pasien memburuk • Pendorongan garis tengah > 3 mm Indikasi operasi di bidang bedah saraf adalah untuk life saving dan untuk fungsionalsaving.9 Pengobatan yang lazim diberikan pada cedera kepala adalah golongan dexametason (dengan dosis awal 10 mg kemudian dilanjutkan 4 mg tiap 6 jam).2. Jika untuk keduanya tujuan tersebut maka operasinya menjadi . Penatalaksanaan Penanganan darurat : • Dekompresi dengan trepanasi sederhana • Kraniotomi untuk mengevakuasi hematom Terapi medikamentosa Elevasi kepala 30° dari tempat tidur setelah memastikan tidak ada cedera spinal atau gunakan posisi trendelenburg terbalik untuk mengurang tekanan intracranial dan meningkakan drainase vena. Tri-hidroksimetil-amino-metana (THAM) merupakan suatu buffer yang dapat masuk ke susunan saraf pusat dan secara teoritis lebih superior dari natrium bikarbonat. dalam hal ini untuk mengurangi tekanan intracranial. Barbiturat dapat dipakai unuk mengatasi tekanan inrakranial yang meninggi dan mempunyai efek protektif terhadap otak dari anoksia dan iskemik dosis yang biasa diterapkan adalah diawali dengan 10 mg/kgBB dalam 30 menit dan kemudian dilanjutkan dengan 5 mg/ kgBB setiap 3 jam serta drip 1 mg/kgBB/jam unuk mencapai kadar serum 3-4mg%.8. Dianjurkan untuk memberikan terapi profilaksis dengan fenitoin sedini mungkin (24 jam pertama) untuk mencegah timbulnya focus epileptogenic dan untuk penggunaan jangka panjang dapat dilanjutkan dengan karbamazepin.12 2. mannitol 20% (dosis1-3 mg/kgBB/hari) yang bertujuan untuk mengatasi edema cerebri yang terjadi akan tetapi hal ini masih kontroversi dalam memilih mana yang terbaik.

dan edema (adanya daerah hipodensitas). efek samping kelainan serebral. Biasanya keadaan emergensi ini di sebabkan oleh lesi desak ruang. obliterasi sisterna basalis. CT scan menunjukkan adanya peningkatan tekanan intrakranial dengan adanya midline shift. dalam kasus hidrosefalus). MRI dll. karena kerusakan otak secara menyeluruh dapat dibatasi.4.2. hilangnya ventrikel (atau pembesaran. Manajemen Anestesi 2.13 operasi emergensi. hasil CT-scan. hanya ditambah dengan evaluasi tekanan intrakranial.3. prognosis hematoma epidural biasanya baik.10 Indikasi untuk life saving adalah jika lesi desak ruang bervolume : • > 25 cc = desak ruang supra tentorial • > 10 cc = desak ruang infratentorial • > 5 cc = desak ruang thalamus Sedangakan indikasi evakuasi life saving adalah efek masa yang signifikan : • Penurunan klinis • Efek massa dengan volume > 20 cc dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif. .1 Pemeriksaan prabedah Pemeriksaan prabedah sama seperti pemeriksaan rutin untuk tindakan anestesi lain. Prognosis sangat buruk pada pasien yang mengalami koma sebelum operasi. Prognosis Prognosis tergantung pada :10 • Lokasinya ( infratentorial lebih jelek ) • Besarnya • Kesadaran saat masuk kamar operasi. Angka kematian berkisar antara 7-15% dan kecacatan pada 5-10% kasus.9.16 2. Jika ditangani dengan cepat. 2.3. terapi dan pemeriksaan sebelumnya. hilangnya sulkus. • Tebal epidural hematoma > 1 cm dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif.

Second-tier terapi adalah: 1) hiperventilasi agresif. 2) dosis tinggi barbiturat dan. 2) CT scan normal dan GCS 3-8 dan disertai dua atau lebih : umur > 40 tahun. Terapi untuk menurunkan tekanan intrakranial umumnya dimulai pada level tekanan intrakranial 20-25 mmHg. Bila tindakan ini gagal untuk menurunkan tekanan intrakranial. dan pemberian sedasi dan obat pelumpuh otot bila diperlukan.25-1. Hiperventilatisi moderat untuk mencapai PaCO2 antara 35 sampai 40 mmHg juga menurunkan tekanan intrakranial dengan mengurangi aliran darah otak. suhu tubuh normal. tidak ada obstruksi drainase vena jugularis. 0.14 Indikasi untuk pemasangan monitor tekanan intrakranial adalah 1) CT scan abnormal dan GCS 3-8 setelah resusitasi syok dan hipoksia adekuat. 3) craniektomi decompresif. dipertahankan euvolemia atau sedikit hipervolemia selama terapi mannitol dan osmolaritas serum dipantau serta dipertahankan dibawah 320 mOsm/L. Hiperventilasi harus dilakukan dengan singkat untuk mengobati gangguan neurologis akut atau peningkatan tekanan intrakranial yang refrakter terhadap drainase cairan serebrospinal dan pemberian mannitol. Hiperventilasi agressif untuk mencapai PaCO2 < 30 mmHg mungkin diperlukan untuk peningkatan tekanan intrakranial yang . ventilasi PaCO2 normal rendah (35 mmHg). 3) hiperventilasi moderat. terutama pada fase resusitasi awal bila tidak dipasang alat pantau invasif dan adanya cedera lain tidak diketahui. Pengobatan hipertensi intrakranial adalah level kepala 150 sampai 300. Karena itu. Pemantauan tekanan intrakranial menggunakan kateter intraventrikuler lebih disukai karena selain dapat membaca tekanan intrakranial juga dapat digunakan untuk terapi peningkatan tekanan intrakranial dengan cara drainase cairan serebrospinal. tekanan sistolik < 90 mmHg. mengendalikan kejang. tambahan terapi diberikan dalam manuver first-tier dan second-tier terapi. First-tier terapi adalah : 1) drainase CSF secara inkremental melalui kateter intraventricular. 2) Diuresis dengan mannitol. mannitol dapat menyebabkan diuresis dan hipotensi. Akan tetapi.5 g/kg diberikan lebih dari 10 menit. Tujuannya untuk mempertahankan tekanan perfusi otak > 70 mmHg. posturing. Mannitol menurunkan tekanan intrakranial dengan cara mengurangi edema otak dan memperbaiki aliran darah otak. optimal resusitasi cairan dan semua homeostasis fisiologis.

Karena itu. Pengelolaan klinis sindroma herniasi adalah sama dengan pengelolaan hipertensi intrakranial yaitu dirancang untuk mengurangi volume otak dan volume darah otak yaitu dengan cara: berikan mannitol. Bila akan digunakan pelumpuh otot. motor posturing timbul sebagai konsekwensi adanya massa hemisperic. hiperventilasi. Bila tekanan darah naik. Pengelolaan pasien tanpa adanya tanda klinis herniasi otak. penggunaannnya pada pasien tanpa tanda herniasi otak adalah bila pemberian sedatif saja tidak cukup untuk menjamin keamanan dan kemudahan transportasi pasien. Tanda pertama dan ketiga akan hilang bila pasien dianestesi dan yang kedua memerlukan pemantauan pupil yang sering. Dari pasien cedera kepala yang berkembang menjadi herniasi transtentorial. glukokortikoid (hanya untuk tumor atau abses otak. Pelumpuh otot mempunyai keterbatasan untuk evaluasi pupil serta dalam pemeriksaan CT scan. Herniasi otak adalah satu hal yang paling ditakutkan sebagai akibat penyakit intrakranial misalnya tumor otak atau cedera kepala. dilatasi pupil. didefinisikan sebagai good recovery atau moderate disability. posisi leher netral (untuk menghindari penekanan vena jugularis). pakailah yang masa kerjanya pendek. harus dikurangi secara hati-hati karena hipertensi umumnya sekunder bukan primer (merupakan komponen dari trias Cushing). Tambahan tindakan yang mungkin digunakan adalah posisi kepala head-up (supaya drainase vena serebral baik).15 tidak berespon terhadap first-tier terapi. Bila digunakan aggresif hiperventilasi. Secara klasik. hanya 18% mempunyai outcome yang baik. Agitasi. confus sering terdapat pada pasien cedera kepala dan memerlukan pertimbangan pemberian sedasi. Tidak perlu mannitol karena . pelumpuh otot dan terapi demam (lakukan hipotermi ringan). sedasi dan pelumpuh otot harus digunakan selama transportasi pasien untuk kemudahan dan keamanan selama transportasi. pemantauan jugular venous oxygen saturation (SJO2) atau cerebral tissue oxygenation dianjurkan untuk menilai pengaruh penurunan aliran darah otak pada metabolisme oksigen serebral. pola ventilasi yang tepat. trias yang dihubungkan dengan herniasi transtentorial yaitu penurunan kesadaran. sedasi. Bila tidak ada tanda herniasi transtentorial. tidak efektif untuk stroke dan kerusakan akibat hipoksia).

hipovolemia. dan cervical spine injury.5 mg/kg diberikan. Rapid sequence induction dapat dipertimbangkan pada pasien dengan hemodinamik yang stabil walaupun prosedur ini dapat meningkatkan tekanan darah dan tekanan intrakranial. Bila ada tanda herniasi transtentorial atau perubahan progresif dari memburuknya neurologis yang bukan disebabkan akibat ekstrakranial. akan tetapi keadaan ini tidak dapat dipastikan. Pada pasien dengan hemodinamik tidak stabil dosis induksi diturunkan atau tidak diberikan.3 mg/kg dapat diberikan pada pasien dengan status sirkulasi diragukan. terutama pada pasien dengan hipovolemia. Tidak perlu dilakukan hiperventilasi tapi asal optimal oksigenasi dan normal ventilasi. Succinylcholin tetapi . Akan tetap. Bila belum adekuat jangan dulu diberi mannitol.5 mg/kg lalu dilakukan intubasi endotrakheal.16 dapat menimbulkan hipovolemia. Succinylcholin dapat meningkatkan tekanan intrakranial. diindikasikan untuk melakukan terapi agresif peningkatan tekanan intrakranial. Spesialis anestesi harus waspada bahwa pasien ini mungkin dalam keadaan lambung penuh. Hiperventilasi mudah dilakukan dengan meningkatkan frekuensi ventilasi dan tidak tergantung pada sukses atau tidaknya resusitasi volume. Disebabkan hipotensi dapat menimbulkan memburuknya neurologis dan hipertensi intrakranial maka pemberian mannitol hanya bila volume sirkulasi adekuat.2 Anestesi Pasien dengan cedera kepala berat (GCS 3-8) biasanya telah dilakukan intubasi di unit gawat darurat atau untuk keperluan CT-scan. Pemberian dosis kecil pelumpuh otot nondepolarisasi dapat mencegah kenaikkan tekanan intrakranial. Selama pemberian oksigen 100%. depresi kardiovaskuler selalu menjadi pertimbangan.3. Beberapa teknik induksi dapat dilakukan dan keadaan hemodinamik yang stabil menentukan pilihan teknik induksinya.2-0. Bila pasien datang ke kamar operasi belum dilakukan intubasi. dilakukan oksigenasi dan bebaskan jalan nafas. Etomidate 0. lidokain 1. Pengelolaan pasien dengan adanya tanda klinis herniasi otak. 2. dosis induksi pentotal 3-4 mg/kg atau propofol 1-2 mg/kg dan succinylcholin1.

Tiopental dan pentobarbital mempunyai efek proteksi melawan iskemia otak fokal. dan tekanan intrakranial. mempertahankan pasokan oksigen yang adekuat ke otak. Intubasi dengan pipa endotrakheal sebesar mungkin yang bisa masuk. Tiopental dan pentobarbital menurunkan aliran darah otak. Penurunan tekanan intrakranial oleh obat ini berhubungan dengan penurunan aliran darah otak dan volume darah otak akibat depresi metabolisme. Jangan dipasang melalui nasal disebabkan kemungkinan adanya fraktur basis kranii dapat menyebabkan masuknya pipa nasogastrik kedalam rongga cranium. dengan rocuronium 0. volume darah otak.5 mg/kg intravena diberikan 90 detik sebelum laringoskopi dapat mencegah kenaikan tekanan intrakranial. Berikan dosis intubasi pelumpuh otot tanpa diberikan priming terlebih dulu. tapi tidak ada penelitian Randomized Controlled Trial yang menunjukkan . Rocuronium 0. Pada cedera kepala. dan pasang pipa nasogastrik untuk aspirasi cairan lambung dan biarkan mengalir secara pasif selama berlangsungnya operasi. kondisi sistemik. dan adanya multiple trauma. Fentanyl 1-4 ug/kg diberikan untuk menumpulkan respon hemodinamik terhadap laringoskopi dan intubasi.6-1 mg/kg diperoleh kondisi intubasi yang baik dalam watu 60-90 detik. Bila pasien stabil dan tidak ada lambung penuh. dan melindungi otak dari akibat iskemia. induksi intravena dapat dilakukan dengan titrasi pentotal atau propofol untuk mengurangi efeknya pada sirkulasi. iskemia merupakan sequele yang umum terjadi. Pemilihan obat anestesi berdasarkan pertimbangan patologi intrakranial.6 -1 mg/kg merupakan alternatif yang memuaskan disebabkan karena onsetnya yang cepat dan sedikit pengaruhnya pada dinamika intrakranial. untuk memfasilitasi laringoskopi dan intubasi yang cepat.17 merupakan pilihan. Pemeliharaan anestesi dipilih dengan obat yang ideal yang mampu menurunkan tekanan intrakranial. Sebagai contoh. Lidokain 1. Obat-obat ini juga mempunyai efek pada pasien yang respon terhadap CO2nya terganggu. terutama. Walaupun barbiturat mungkin efektif pada brain trauma.

Nutrisi enteral dimulai dalam 24 jam pascabedah. isoosmoler. Sebagai tambahan. normotermia (35-360C). Harus diperhatikan bahwa pasien dalam keadaan posisi netral-head up. pasien mungkin dilakukan ventilasi mekanik atau nafas spontan. normovolemia. pasca bedah tetap diintubasi. jalan nafas bebas sepanjang waktu. Berikan fenitoin sampai 1 minggu pascabedah untuk profilaksis kejang. Bila masih tidak sadar. normokapni.3 Pascabedah Bila pasien prabedah GCS 8 kebawah.18 secara definitif memperbaiki outcome setelah cedera otak traumatika. normotensi.3. tiopental dapat mempunyai efek buruk bila tekanan darah turun. normoglikemia. oksigenasi adekuat. 2. .

shock: (-) : Sens: Compos mentis . Snoring: (-). Gurgling: (-). Crowing: (-). perempuan. bloody rinorrhea (-). Jarak Mentum Hyoid (JMH) : >6cm . Buka mulut (BM): 3 jari . Pneumohematotoraks (-) : Akral: H/M/K.19 BAB 3 LAPORAN KASUS Identitas Pasien Anamnesis Mode of Injury Injury sustain : MP. battle sign (-). Crowing: (-). vol : 50 cc. SpO2: 99%. kateter terpasang. Respiratory rate : 20 x/menit .  B3 : Sens: GCS 15 . Temp: 37. pneumohematotoraks (-).  B4 : UOP (+). Secondary Survey  B1 : Airway: Clear. Malampati (MLP): 1 . reguler. frekuensi: 98 x/i. Pulse: (+). TD: 130/80 mmHg. Gurgling: (-). BB = 50 kg : Nyeri kepala : Bertabrakan dengan sepeda motor lainnya : Perdarahan intrakranial Primary Survey (12 September 2013 pukul 00.. pupil bulat isokor: Ø: ki 3 mm / ka 3 mm. Pulse: (+). Suara Tambahan (ST): .15 WIB)  A  B  C  D  E : Airway: Clear. frekuensi: 98 x/i. TD: 130/80 mmHg. batuk (-). asma (-). Snoring: (-).  B2 : Akral: H/M/K. Suara Tambahan (ST): . pupil bulat isokor: Ø: ki 3 mm / ka 3 mm. reguler. C-Spine: tidak terpasang : RR: 20 x/i. bloody otorrhoe (-). alergi (-). Suara Pernafasan (SP): Vesikuler. TB =155 cm.00C. warna kuning . RC +/+. umur 14 tahun. t/v: cukup. t/v: cukup. Gerak leher (GL): bebas . Suara Pernafasan (SP) : vesikuler. Riwayat sesak:(-). RC +/+ : Fraktur di ekstremitas (+) deformitas pada femur fx..

-Berikan cairan maintanance RSol : Holiday Segar : =1500 + (30x20)cc =2100 cc/24 jam =87. Pasien mengendarai sepeda motor dan bertabrakan dengan sepeda motor lain. kejang (-) RPT RPO Penanganan di IGD Primary Survey A Gejala Snoring: (-). Riwayat pingsan (+).00 (12/09/2013)  B6 : Fraktur di ekstremitas (+) deformitas pada femur fx. Gargling: (-). HST. muntah (+). frek 98 x/i TD 130/80 mmHg Kesimpulan Airway: clear Tindakan Evaluasi : Tidak ada : Tidak ada B O2 nasal kanul 3 L/i C .Inj.5 cc/jam =30 gtt/jam . Crowing: (-) RR: 20 x/I SP/ST: vesikuler/SpO2: 99% Akral: H/M/K Pulse: (+). RFT.Cek lab DR. peristaltik (+).Cross match darah .20  B5 : Abdomen: soepel.IVFD Manitol LD: 250cc MD:100cc/ 6 jam . MMT: Makan terakhir pukul 15. t/v cukup.IV line 20G dan three way . Telaah : Hal ini dialami pasien ± sejak 8 jam sebelum masuk RSHAM. reg. albumin & KGD ad random . elektrolit.

Malampati (MLP): sulit dilnilai . Phenytoin 100mg/8 jam D Sens: Compos mentis .  B2 : Akral: H/M/K. bloody rinorrhea (-).00 WIB)  B1 : Airway: Clear. warna : kuning keruh. Respiratory rate : 20 x/menit . reguler. kateter terpasang. Crowing: (-). Gerak leher (GL): bebas . Pulse: (+).00C  B3 : Sens: GCS 7 (E1M4V2) .Inj.Inj. t/v: kuat/cukup. batuk (-).  B4 : UOP (+).Inj. Suara Pernafasan (SP): Vesikuler. pupil isokor ki 3mm/ka 3mm RC: +/+ Pemeriksaan di Ruangan (13 September 2013 pukul 12. . RC +/+. racoon eyes (+). terpasang sungkup non rebreathung dengan O2 5 L/menit. battle sign (-). Ranitidine 50 mg/8 jam . bloody otorrhoe (-). asma (-).21 Ketorolac 30 mg/8 jam . Snoring: (-). Jarak Mentum Hyoid (JMH) : >6cm . Suara Tambahan (ST): . Buka mulut (BM) : 3 jari .. frekuensi: 102 x/i. alergi (-). pupil anisokor: Ø: ki 4 mm / ka 3 mm. Temp: 39. Gurgling: (-). Riwayat sesak: (-). Ceftriaxon 1 gr/ 8 jam . TD: 130/80 mmHg.

Ranitidine 50 mg/ 12 jam Inj.  B4 : UOP (+). Malampati (MLP): sulit dilnilai . frekuensi: 90 x/i. Buka mulut (BM): 3 jari .  B6 : Edema (-) . Ketorolac 30 mg/8 jam Inj. RC +/+. bloody rinorrhea (-). asma (-). Gurgling: (-). SpO2: 100%. warna : kuning jernih. pupil anisokor: Ø: ki 4 mm / ka 3 mm. reguler. Fraktur di ekstremitas (+) deformitas pada femur fx. Suara Tambahan (ST): . peristaltik (+) normal. alergi (-). Pulse: (+). Farmadol 1000 mg/8 jam k/p Pemeriksaan di COT (13 September 2013 pukul 15. Temp: 37.. batuk (-). . Jarak Mentum Hyoid (JMH) : >6cm . TD: 130/80 mmHg.  B5 : Abdomen: soepel. Fraktur di ekstremitas (+) deformitas pada femur fx. bloody otorrhoe (-). Ceftriaxone 1 gr/ 12 jam Inj. Riwayat sesak: (-). peristaltik (+) normal. vol : 30 cc/ jam. Penanganan di Ruangan         Bed rest dan head up 300 O2 6 Lt/menit via simple face mask IVFD RSol 30 gtt/menit Inj. Respiratory rate : 20 x/menit . Crowing: (-). MMT: Makan terakhir 12/09/2013  B6 : Edema (-) .22  B5 : Abdomen: soepel. kateter terpasang.30C  B3 : Sens: GCS 8 (E2M4V2) . racoon eyes (+). Novalgin 1000 mg ekstra 1x Inj. Suara Pernafasan (SP): Vesikuler.30 WIB)  B1 : Airway: Clear. battle sign (-). Snoring: (-).  B2 : Akral: H/M/K. Gerak leher (GL): bebas . terpasang masker non re-breathing dengan O2 5 l/menit. t/v: kuat/cukup.

5 detik 16.00 mg/dl Kimia Klinik < 200 mg/dl Hati Albumin Ginjal Ureum Creatinin Elektrolit Natrium (Na) Kalium (K) Chloride (Cl) Faal Hemostasis PT INR APTT TT 17.20 – 4.4 g % 4.57.79 x 103/mm3 32.87 Hasil Nilai Normal Parameter Metabolisme Karbohidrat KGD ad random Hasil Nilai Normal 190.5 detik 15.1 mEq/L 110 mEq/L 135 – 155 3.2 – 4.3 g % 19.0 detik 32.8 detik 1.30 % 356 x 103/mm3 4.5 96 – 106 39.0 mg/dl 0.44 % 150 – 450 x103/mm3 4.0.5 – 11.87 mg/dl 4.9 mg/dl < 50 mg/dl 0.9 detik 14 detik 139 mEq/L 4.0 x103/mm3 38 .30 35.23 Pemeriksaan Laboratorium : Tes (12/09/2013) Pukul: 20.5 g/dl .6 – 5.15 WIB Darah Lengkap Hemoglobin (Hb) Leukocyte (WBC) Hematocrite Trombocyte (PLT) Eritrocyte (RBC) 11.2 g/dl 3.10 x 106 /mm3 12-14.

tulang-tulang dan soft tissue baik. trakea di tengah. . CTR < 50%. tidak tampak infiltrat pada kedua lapangan paru. Kesan : Tidak ada kelainan pada cor dan pulmo. jantung ukuran normal.24 Foto Thorax Kedua sinus costophrenicus lancip. kedua diafragma licin.

25 CT Scan .

26 Dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala potongan axial dengan hasil sebagai berikut : Infratentorial serebelum dan ventrikel ke-4 tampak normal. etmoidalis kanan kiri. . Ventrikular sistem dan sisterna mulai menyempit. Tampak midline shift ± 1.2 cm ke arah kiri. sfenoidalis kanan dan fraktur segmental frontalis kanan dan parietal kanan. dan parietal kanan disertai hematosinus paranasalis. sfenoidalis kanan. Tampak fraktur dinding anterior dan posterior sinus maxilaris kanan. Tampak juga lesi hiperdens memanjang di ekstraaksial frontoparietal kanan dengan bayangan udara di dalamnya. Edema serebri Fraktur dinding anterior dan posterior sinus maksilaris kanan. etmoidalis bilateral. Supratentorial tampak lesi hiperdens bentuk bikonveks atas tegas di temporal kanan (volume ± 40 cc). Tampak kista septum pellucidum. Kesan : • • • • Perdarahan epidural di temporal kanan (volume ± 40 cc) Perdarahan subdural dengan pneumocephal frontoparietal kanan. Tampak perselubungan sinus paranasalis. frontalis kanan.

Foto Scheedel : tampak fraktur linear pada temporoparietal kanan. Foto Servikal : tidak tampak kelainan pada foto servikal. Foto Pelvis : tidak tampak kelainan pada foto pelvis. persiapkan :   SIA (Surat Izin Anestesi) Surat izin tranfusi .27 Foto Femur Kiri Fraktur suprakondilar os femur sinistra. Diagnosa :HI GCS 15 + Macrofacial injury + EDH o/t (R) PO + SDH o/t (R) FPO Rencana Tindakan : Craniotomy evakuasi EDH Pre-Op -ACC untuk tindakan Anestesi pasien.

28  Hitung EBV dan EBL pasien untuk transfusi darah durante op. sleep non apnea Inj. Sedia darah WB 2 bag. EBL 10 – 20 – 30 = 325 mL– 650 mL– 975 mL. Rocuronium 50 mg  sleep apnea . Fentanyl 150 mcg  sedasi analgesia nondepresi Sellick maneuver Induksi Propofol 100 mg  blink refleks (-). Oral dan Personal higine Persiapan Alat dan Obat: Teknik Anestesi:         Tilt Test Suction aktif Pre Oksigenasi O2 100% 3-5 menit Head up 300 Premedikasi midazolam 3 mg.      Injeksi ceftriaxone 1 gr 1 jam sebelum operasi Cukur botak licin Puasa Pasang IV line dan pastikan lancar. EBV 65 x 50 = 3250 cc.

5 cuff (+). O2:air = 2:2 Rocuronium 10 mg/20 menit Fentanyl 50 mcg/30 menit Maintenance EtCO2 : 30-35mmHg Foto Pre-Operasi . fiksasi Sevoflurane 0.5 – 1 %.29     Intubasi ETT 6. Sp ki = ka.

WB 350 cc .30 Durante Operasi Lama operasi TD HR RR SpO2 Perdarahan : 4 jam : 110-120/ 55-65 mmHg : 65-80 x/mnt : 16 x/mnt : 99-100% : 300 cc Penguapan + maintenance: 200cc/jam UOP = 300 cc jernih Cairan : PO DO : R Sol 500 cc : R Sol 2000cc.

31 Foto Durante Operasi .

7 C B3 : Sens: GCS 7T (E2VTM5). warna kuning jernih. φ 3 mm/3 mm. pupil isokor. reguler. T/V kuat/cukup. B4 : UOP (+). vol. SP vesikuler. terintubasi dan terhubung dengan ventilator modus PCMV. Fraktur (+) deformitas pada femur kiri. SpO2 99%. NGT terpasang. RR 18x/menit. . RC +/+. PI 20 cmH20. peristaltik (-). ST -/-. HR: 85x/men. B6 : Oedem (-). B5 : Abdomen soepel. TD: 120/70 mmHg.      B2 : Akral: H/M/K. PEEP 5 cmH2O. FiO2 70%. ± 30cc/ jam.32 Pemeriksaan Fisik Post Operasi  B1 : Airway clear . T: 36.

33 Hemodinamik Post Operasi Terapi Post Operasi di Pasca Bedah               Rawat di PICU Bed rest. head up 300 Rencana anjuran weaning pagi ini Diet SV 1500 kkal/hri (250 cc/4jam) IVFD R Sol 20 gtt/mnt Inj. kesadaran selama di PICU . Ranitidine 50 mg/ 8 jam IV Inj. Ceftriaxone 1 g/12 jam IV Inj. UOP. Elektrolit. HST. O2sat. Ketorolac 30 mg/ 8 jam IV Inj. HR. TD. Midazolam 15 mg +Fentanyl 200 mcg dalam 50 cc NaCl 0. Phenitoin 100 mg/8 jam IV Cek Darah Rutin. LFT Bila Ht < 30% → transfusi Monitoring kesadaran. RR. Vecuronium 3mg/jam/SP Inj. AGDA.9% -> 5 cc/jam Inj. RFT. KGD ad random.

4/22.10/98.7 Foto Pasien Post Op FOLLOW UP Tanggal 14 September 2013 S - O Sens : GCS 7T (E2VTM5) TD : 120/70 mmHg HR : 97 x/menit A P Post op .55/184  HST : 17.2/10.5/ 0.61  Na/K/Cl : 141/3.03 WIB)  DL : 7.506/15.Terpasang + Fraktur o/t R ventilator Femur distal PCMV dengan (L).5(32)/18.3(17)  Alb : 3.5)/1.34 Pemeriksaan Laboratorium Post Operasi (13 September 2013 pukul 22. evakuasi EDH . PIP 20 PEEP 5 RR .9/188/12.9/116  AGDA : pH/pCO2/pO2/HCO3/CO2T/BE/O2sat 7.3/12. FiO2 70%.8/.1  KGD ad Random : 107  Ur/Cr : 57.45/33.Elevasi kepala craniectomy 30° midline (H1) a/i position.5 (12.

Citicolin 250 mg/8 jam. .35 15 September 2013 - Sens: GCS:14 (E4V4M6) TD: 110/70 mmHg HR: 101 x/i Post op craniectomy (H2) a/i evakuasi EDH + Fraktur o/t R Femur distal (L).5 cc/jam.Ecron 10 mg dalam 10 cc NaCl 0.9% 25cc/jam . . .9% : 250 cc/ 12 jam . Miloz 30mg dlm 10 cc .Inj. .9%: 0.Diet 60 cc/ 3 jam.IVFD NaCl 3% habis dalam 1 jam.Elevasi kepala 30° midline position .2 cc/jam.5 mcg/ kgBB = 1.Inj. Ranitidine 50 mg/8 jam (aff). .Inj.Terpasang Tpiece O2 3 lpm .Midazolam 15 mg + fentanyl 200mcg = 0.7 . Ceftriaxone 1gr/12 jam (H1) . Ketorolac 80 mg/ 8 jam . 18 T 0. .Inj.IVFD NaCl 0.IVFD NaCl 0.5 mcg/kgBB/jam atau 6.

Diet Ensure dgn 200 cc/ 3jam via NGT .4 cc/jam .Inj.6 mcg/kgBB → 7. Ceftriaxone 1gr/12jam .Elevasi kepala 30° midline position .Inj.Inj.Inj.36 16 September 2013 - GCS: 15 Post op TD:110/70mmHg craniectomy HR: 98 x/i (H3) a/i evakuasi EDH + Fraktur o/t R Femur distal (L). Farmadol 500mg/6jam .9% 25cc/jam .Diet Ensure dgn 120 cc/ 3jam via NGT . . Farmadol 500mg/6jam .IVFD NaCl 0. Ceftriaxone 1gr/12jam . Fentanyl 200 mcg → 0.6 mcg/kgBB → 7.Inj.4 cc/jam .Inj. Fentanyl 200 mcg → 0.

289 sepeda motor lain. anterior dan posterior sinus maksilaris . pr. salah satu penyebab kematian utama datang dengan keluhan nyeri kepala setelah stroke. kemudian. kasus. Gejala klinisnya adalah didapati lucid interval.37 BAB 4 DISKUSI Teori Kasus Di Indonesia cedera kepala merupakan OS. pneumocephal penilaian penurunan kesadaran dengan edema serebri. bernotor. Perdarahan terletak riwayat anatara tulang tengkorak dan sebelumnya. umur 14 tahun. Sebagian besar kasus epidural hematom Pada kasus dijumpai gejala klinis yaitu diakibatkan oleh robeknya arter nyeri kepala pada saat di IGD dengan pingsan dan muntah meningea media. TB dan hipertensi. Dari pemeriksaan fisik sensorium GCS 15 dan duramater. Puncak insidensi cedera kepala yaitu pada usia15-24 tahun dan >64 tahun. BB = 50 kg. Dari pemeriksaan penunjang : trauma penurunan kranioserebral kesadaran yang dengan CT Scan didapati : perdarahan epidural terjadi di temporal kanan (volume ± 35 cc). dan fraktur dinding GCS. Biasanya waktu perubahan perdarahan kesadaran ini kurang dari 24 jam. Menurut kendaraan penelitian. Gejala lain adalah nyeri kepala. kecelakaan terutama kecelakaan sepeda motor merupakan penyebab cedera kepala terbanyak pada warga sipil. setelah kecelakaan lalu lintas dimana os Cedera kepala karena kecelakaan lalu mengendarai sepeda motor dan ditabrak lintas dialami 4089 (19.6%) dari 20. subdural frontoparietal dengan kanan. yaitu selang waktu antara keadaan hemodinamik dalam batas pasien masih sadar setelah kejadian normal.

tetapi keluarga daerah temporal berbentuk cembung. etmoidalis bilateral. sfenoidalis anisokor dengan midriasis di sisi lesi kanan. Pada tanggal 13/09/2013 pasien mengalami penurunan kesadaran (GCS 7). pupil kanan.38 bisa disertai muntah proyektil. menolak. Racoon eyes dapat terjadi akibat fraktur basis kranii yang telah dikonfirmasi dengan pemeriksaan CTScan (pneumocephal frontoparietal kanan. + Macrofacial injury + EDH o/t (R) PO Pada gambaran CT Scan kepala + SDH o/t (R) FPO.  Pemasangan . dan fraktur dinding etmoidalis bilateral. Dari sini tampak adanya lucid interval.III→dilatasi pupil ipsilateral). hemiparesis. Pasien dianjurkan didapati lesi hiperdens umumnya di untuk evakuasi EDH. Tekanan dari herniasi unkus pada sirkulasi arteria yang mensuplai formatio oblongata retikularis di medula hilangnya menyebabkan kesadaran. dan parietal akibat herniasi uncal. Didapati pula pupil anisokor (ka/ki: 4mm/3mm) yang dapat timbul akibat herniasi tentorial (herniasi lobus temporalis di bawah tentorium serebeli→kompresi n. dan kanan disertai hematosinus paranasalis. refleks patologis babinski (+) Pasien didiagnosis dengan HI GCS 15 kontralateral lesi yang terjadi terlambat. Penatalaksanaan :  Atasi dahulu ABCDE Pada kasus dilakukan penatalaksanaan berupa : • O2 3l/I via nasal canule kateter juga • Pemasangan IV line 20G dan  Pipa lambung untuk mencegah Penanganan di IGD : terjadinya aspirasi. frontalis kanan). frontalis kanan.

.2 cm ke arah kiri.EDH tipis dengan penurunan kesadaran operasi.EDH progresif. Ketorolac 30 mg/8 jam • Inj. RFT.  Penanganan operatif diindikasikan pada kasus : .  Elevasi kepala 30° atau posisi antitredelenburg untuk three way Berikan cairan maintanance RSol : Holiday Segar : =1500 + (30x20)cc =2100 cc/24 jam =87. . elektrolit. Ceftriaxon 1 gr/ 8 jam • Inj. albumin & KGD ad random • Cross match darah • IVFD Manitol LD: 250cc MD:100cc/6 jam • Inj.> 40 cc dengan midline shifting pada daerah temporal / frontal / parietal dengan fungsi batang otak masih baik. . .39 dipasang untuk mengosongkan kandung kemih dan menilai urin.  Pemberian terapi profilaksis dengan fenitoin sedini mungkin (24 jam pertama) untuk mencegah timbulnya fokus epileptogenik. Ranitidine 50 mg/8 jam • Inj.5 cc/jam =30 gtt/jam • Pemasangan NGT • Pemasangan kateter urine • Cek lab DR.  Pemberian mannitol 20% untuk mengatasi edema serebri.> 30 cc pada daerah fossa posterior dengan tanda-tanda penekanan batang otak atau hidrosefalus dengan fungsi craniotomy karena dari pemeriksaan CT Scan epidural (volume didapati di ± perdarahan kanan dengan batang otak masih baik. HST. Phenytoin 100mg/8 jam • Pasien diindikasikan evakuasi untuk EDH mengurangi tekanan intrakranial dan meningkatkan drainase vena. bukan indikasi temporal 40 cc) midline shift ± 1.

8 : Cegah secondary brain injury Pertahankan normovolemik. Hindari kejang dgn pemberian phenitoin prophylaxis 100 mg/8 jam selama 1 minggu post op. cegah hipoksia. ETT tertutup doek: fiksasi kuat.5 – 1 cc/kg bb/jam Pertahankan normokapni 30 – 35 mmHg Pertahankan CPP  dimana MAP > 90.urin.40 Manajemen Anestesi a. c. Monitoring cairan  hematokrit dipertahankan >33% dan prod. cegah hiperkarbia. Operasi potensial perdarahan → siapkan darah. anestesi cukup. 0. head up 30°   Observasi Patensi Airway. vital sign dan GCS Operasi daerah kepala. Post Operasi • • • • • • • • • Posisi head up 30 derajat. EBV 65 x 50 = 3250 cc. Pre Operasi    Pasien Emergency  NPO Pastikan iv line terpasang dan lancar Hitung EBV dan EBL pasien untuk transfusi darah durante op. Potensial terjadi infeksi antibiotik yang adekuat Nyeri post Operative  pemberian analgetik kuat Evaluasi GCS . EBL 10 – 20 – 30 = 325 mL– 650 mL– 975 mL. b. cegah nyeri. pasang prekordial. perhatikan pressure manometer dan SpO2. pasang abocath dengan bore besar & pastikan lancar serta hitung EBV dan EBL. Durante Operasi   Teknik anastesi: GA-ETT Head Injury GCS 7 .

Dahnert W.htm. Neurologi Kilinis Dasar. Anonym. The Brain And Spinal Cord. Traumatic Brain Injury. Dian Rakyat. Edisi Kedua. Essentials of Roentgen Interpretation. Anugrah P.1996. Edisi 4.Jakarta. 1014-1016 4.. Fourth Edition.gov/ncipc/factsheets/tbi.com 15. 1993. Price D. Anonym.. Neuropsychiatric Sequelae of Traumatic Brain Injury. Hafid A. Edisi kedua. Arizona. 1981. 2007. 402-404 . Epidural Hematoma. Patofisiologi. Mekanisme Trauma Susunan Saraf.Gajah Mada University Press. McCarty L. Buku Ajar Ilmu Bedah.com 12. Intracranial Hemorrhage. Harsono.org 6.nyp.braininjury.emedicine.cdc. 2005. 2009. EGC. Yogyakarta. Balai Penerbit FKUI. Paul..Donald D. Available from: www. Jakarta. Center for Disease Control and Prevention. 2006. Buergener F. J. Edisi Kedua.com/epidural-subdural-hematoma. Williams & Wilkins. Anderson S. Juhl’s.Epidural Hematoma. 314 13. Harper & Row.Thieme Medical Publisher. Available from: www. Jong W. 2. Sidharta P.L. and LaFrance. Baert A. Kapita Selekta Neurologi. Nicholl.C. Mc. Available from : www. EGC.html.medscape.ispub. 22 8. Available from: www. Trauma Kapitis. Radiologi Diagnostik. Semin Neurol . Cambridge.com/viewarticle/706300 3. 359-366 10. National Center for Injury Prevention and Control. Jakarta. Markam S. 818-819 11.1995. Available from: www.emedicine. Jakarta.com 7. New York.A. Anonym. Differential Diagnosis in Computed Tomography. W.41 DAFTAR PUSTAKA 1. Epidural Hematoma. Cedera Susunan Saraf Pusat. Epidural Hematoma. Brain Disorders. Available from : http://www. 254-259 14. Second Edition. MD.29(3) : 247–255. Available from: www. Epidural Hematoma..D. 117–178 9. 2004. Angiografi.. 5. 2003.. Ekayuda I. Radioogy Review Manual. Mardjono M..

Churchill Living Stone..1993. com/2007 17. 1423 . Soertidewi L. Fifth Edition.wordpress. http://iwansain. Updates In Neuroemergencies. Jakarta.42 16. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Trauma Kapitis. Sutton D. Textbook of Radiology and Imaging. Balai Penerbit FKUI. Sain I. 2002.. London.. Neuroradiology of The Spine. 80 18. Penatalaksanaan Kedaruratan Cedera Kranio Serebral. Tjokronegoro A.