Tinjauan Pustaka

Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial

Iris Rengganis
Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Abstrak: Asma merupakan penyakit inflamasi kronik saluran napas yang ditandai dengan mengi episodik, batuk, dan rasa sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas. Secara umum faktor risiko yang dapat memicu terjadinya asma terbagi atas faktor genetik dan lingkungan. Tujuan pengobatan asma adalah tercapainya kontrol asma secara klinis. Tatalaksana asma yang efektif merupakan hasil hubungan yang baik antara dokter dan pasien, dengan tujuan pasien mandiri. Edukasi merupakan bagian dari interaksi antara dokter dan pasien. Kata kunci: asma, inflamasi kronik, faktor risiko, kontrol asma, edukasi

Diagnosis and Management of Bronchial Asthma Iris Rengganis
Department of Internal Medicine Faculty of Medicine, University of Indonesia, Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta

Abstract: Asthma is a chronic inflammatory disorder of the airways associated with airway hyperresponsiveness that leads to recurrent episodes of wheezing, breathlessness, chest tightness, and coughing. These episodes are usually associated with widespread, but variable, airflow obtruction. Factors that influence the risk of asthma can be divided into those that trigger asthma symptoms, the former include host factors which are primarily genetic and the later are environmental factors. The goal of asthma treatment is to achieve and maintain clinical control. The effective management of asthma requires the development of a partnership between doctor and patient. Education should be an integral part of all interactions between doctors and patients. Keywords: asthma, chronic inflammation, risk factor, asthma control, education

444

Maj Kedokt Indon, Volum: 58, Nomor: 11, Nopember 2008

Hal itu akan menimbulkan efek edema lokal pada dinding bronkiolus kecil. sehingga meningkatkan reaksi yang terjadi. Peregangan vagal menyebabkan refleks bronkus. Bandung. sel T. Obat ini dapat diberikan secara oral.3 Definisi Asma Asma didefinisikan menurut ciri-ciri klinis. Asma dapat terjadi melalui 2 jalur. terutama pada malam hari yang sering disertai batuk. Neuropeptida itulah yang menyebabkan terjadinya bronkokonstriksi.2 Di Indonesia. yang berhubungan erat dengan bronkiolus dan bronkus kecil. fisiologis dan patologis. Nomor: 11. virus. mengingat patogenesisnya tidak jelas. Beberapa mediator yang dikeluarkan adalah histamin. Pada pemeriksaan fisik. Jakarta. yaitu jalur imunologis dan saraf otonom. kabut dan SO2. terjadi fase sensitisasi. batuk. Reaksi alergi timbul pada orang dengan kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibodi IgE abnormal dalam jumlah besar. makrofag alveolar.Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial Pendahuluan Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang ditandai dengan mengi episodik. sesak napas.1 Karena dasar penyakit asma adalah inflamasi. asap. Hampir separuh dari seluruh pasien asma pernah dirawat di rumah sakit dan melakukan kunjungan ke bagian gawat darurat setiap tahunnya.3-6 Pada jalur saraf otonom. faktor kemotaktik eosinofil dan bradikinin. Jalur imunologis didominasi oleh antibodi IgE. Dalam 30 tahun terakhir prevalensi asma terus meningkat terutama di negara maju. Alergen kemudian berikatan dengan antibodi IgE yang melekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini berdegranulasi mengeluarkan berbagai macam mediator. Hasil penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuesioner ISAAC (International Study on Asthma and Allergy in Children) tahun 1995 melaporkan prevalensi asma sebesar 2. yang merupakan parameter objektif Maj Kedokt Indon. yang umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan. Palembang.1. sedangkan pada anak SMP di Jakarta Pusat sebesar 5.7-6.4%. antara lain alergen.4 Asma dipengaruhi oleh dua faktor yaitu genetik dan lingkungan. merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I (tipe alergi). Hasil survey asma pada anak sekolah di beberapa kota di Indonesia (Medan.2. eksudasi plasma. Pada keadaan tersebut reaksi asma terjadi melalui refleks saraf. yang ditandai oleh keterbatasan arus udara pada ekspirasi. inhalasi alergen akan mengaktifkan sel mast intralumen. inhalasi maupun sistemik. inhalasi udara dingin.4 Patofisiologi Asma Pencetus serangan asma dapat disebabkan oleh sejumlah faktor. neurokinin A dan Calcitonin Gene-Related Peptide (CGRP). terlihat bahwa asma telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius. sel mast dan Antigen Presenting Cell (APC) merupakan sel-sel kunci dalam patogenesis asma.1.3-6 Hipereaktivitas bronkus merupakan ciri khas asma. Ciri-ciri utama fisiologis adalah episode obstruksi saluran napas. hipersekresi lendir. Kortikosteroid merupakan obat antiinflamasi yang paten dan banyak digunakan dalam penatalaksanaan asma. edema bronkus.8%. golongan ini disebut atopi. Ciri-ciri klinis yang dominan adalah riwayat episode sesak. antibodi IgE orang tersebut meningkat.1. Bila seseorang menghirup alergen. dan sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas.1. Ujung saraf eferen vagal mukosa yang terangsa menyebabkan dilepasnya neuropeptid sensorik senyawa P. Sel-sel inflamasi seperti eosinofil. Malang dan Denpasar) menunjukkan prevalensi asma pada anak SD (6 sampai 12 tahun) berkisar antara 3. dengan gejala episodik berulang berupa batuk.2%. Pada reaksi alergi fase cepat. antibodi IgE terutama melekat pada permukaan sel mast pada interstisial paru. dan iritan yang dapat menginduksi respons inflamasi akut. terdiri dari fase cepat dan fase lambat.2. leukotrien. Pada fase lambat. Yogyakarta.1. Semarang. Volum: 58. dan aktivasi sel-sel inflamasi. asma didefinisikan secara deskripsi yaitu penyakit inflamasi kronik saluran napas yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan. dan spasme otot polos bronkiolus. Pada asma alergi. nervus vagus dan mungkin juga epitel saluran napas. sehingga menyebabkan inflamasi saluran napas. Berdasarkan gambaran tersebut. mengi dan rasa berat di dada terutama pada malam dan atau dini hari. Kerusakan epitel bronkus oleh mediator yang dilepaskan pada beberapa keadaan reaksi asma dapat terjadi tanpa melibatkan sel mast misalnya pada hiperventilasi. sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi 5. tanda yang sering ditemukan adalah mengi. Studi di Asia Pasifik baru-baru ini menunjukkan bahwa tingkat tidak masuk kerja akibat asma jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Amerika Serikat dan Eropa. Sedangkan ciri-ciri patologis yang dominan adalah inflamasi saluran napas yang kadang disertai dengan perubahan struktur saluran napas. besarnya hipereaktivitas bronkus tersebut dapat diukur secara tidak langsung. bahkan kadang-kadang sampai beberapa minggu. sekresi mukus yang kental dalam lumen bronkiolus. obstruksi saluran napas terjadi segera yaitu 10-15 menit setelah pajanan alergen. sedangkan mediator inflamasi yang dilepaskan oleh sel mast dan makrofag akan membuat epitel jalan napas lebih permeabel dan memudahkan alergen masuk ke dalam submukosa. Peningkatan terjadi juga di negara-negara Asia Pasifik seperti Indonesia.1%. prevalensi asma belum diketahui secara pasti. reaksi terjadi setelah 6-8 jam pajanan alergen dan bertahan selama 16--24 jam. Hal tersebut disebabkan manajemen dan pengobatan asma yang masih jauh dari pedoman yang direkomendasikan Global Initiative for Asthma (GINA). Nopember 2008 445 . Spasme bronkus yang terjadi merupakan respons terhadap mediator sel mast terutama histamin yang bekerja langsung pada otot polos bronkus. maka obatobat antiinflamasi berguna untuk mengurangi reaksi inflamasi pada saluran napas.

prevalensi asma pada anak laki-laki adalah 1. Jenis kelamin Pria merupakan risiko untuk asma pada anak.5-2 kali dibanding anak perempuan. kacang tanah. dan pewarna makanan. 3. yang berarti bahwa derajat berat asma persisten dapat berkurang atau bertambah. Karena jika stresnya belum diatasi.2 Sebenarnya derajat berat asma adalah suatu kontinum. Ras/etnik e. dan lain-lain). b. jeruk. Namun hal itu sulit dilakukan antara lain oleh karena bahan tersebut sering tidak diketahui. penderita asma yang mengalami stres/gangguan emosi perlu diberi nasihat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Nopember 2008 446 . kiwi. b. istilah kontrol menunjukkan penyakit yang Maj Kedokt Indon. Serangan asma karena aktivitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktivitas tersebut. dan lain lain.1. Sebelum usia 14 tahun. Bahan yang mengiritasi Contoh: parfum. f. Pajanan asap rokok. Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. merupakan faktor risiko asma. e. penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkial jika terpajan dengan faktor pencetus. dan spora jamur). inhalasi udara dingin. inhalasi antigen.Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial beratnya hipereaktivitas bronkus. b. Klasifikasi Menurut Etiologi Banyak usaha telah dilakukan untuk membagi asma menurut etiologi. household spray. kecoa. Menurut derajat besar asma diklasifikasikan sebagai intermiten. Atopi/alergi Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya. bahan penyedap pengawet. Tetapi menjelang dewasa perbandingan tersebut lebih kurang sama dan pada masa menopause perempuan lebih banyak. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Exercise-induced asthma Pada penderita yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas/olahraga tertentu.2. Alergen luar rumah (serbuk sari. udang. kepiting. analgesik.7-10 Secara umum faktor risiko asma dipengaruhi atas faktor genetik dan faktor lingkungan. 1. dan lain-lain. Dengan adanya bakat alergi ini. Asap rokok bagi perokok aktif maupun pasif Asap rokok berhubungan dengan penurunan fungsi paru. meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya. Pada umumnya. persisten sedang dan persisten berat. Volum: 58. selain itu juga dapat memperberat serangan asma yang sudah ada. Faktor Genetik a. ikan laut. c. persisten ringan. d. terutama dengan bahan lingkungan yang mensensititasi. Polusi udara dari luar dan dalam ruangan g. Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat. Serangan kadang-kadang berhubungan dengan musim. maupun inhalasi zat nonspesifik. kucing. c. morbiditas dan status kesehatan. spora jamur. maka gejala asmanya lebih sulit diobati.2 Faktor Risiko Asma1. Hipereaktivitas bronkus Saluran napas sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun iritan. sebelum dan sesudah kelahiran berhubungan dengan efek berbahaya yang dapat diukur seperti meningkatkan risiko terjadinya gejala serupa asma pada usia dini. antara lain dengan uji provokasi beban kerja. penurunan berat badan penderita obesitas dengan asma. dapat memperbaiki gejala fungsi paru. Faktor lingkungan a. tetrasiklin. sefalosporin. Di samping gejala asma yang timbul harus segera diobati. golongan beta laktam lainnya. Mediator tertentu seperti leptin dapat mempengaruhi fungsi saluran napas dan meningkatkan kemungkinan terjadinya asma. i. Ekspresi emosi berlebih Stres/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma. Berbagai cara digunakan untuk mengukur hipereaktivitas bronkus tersebut. telur. Klasifikasi Menurut Derajat Berat Asma Klasifikasi asma menurut derajat berat berguna untuk menentukan obat yang diperlukan pada awal penanganan asma. d. serpihan kulit binatang seperti anjing. Nomor: 11. antipiretik. Status ekonomi Klasifikasi Asma1. Faktor lain a. musim bunga (serbuk sari beterbangan). Derajat gejala eksaserbasi atau serangan asma dapat bervariasi yang tidak tergantung dari derajat sebelumnya. 2. Klasifikasi Menurut Kontrol Asma Kontrol asma dapat didefinisikan menurut berbagai cara. Atmosfer yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Alergen dalam rumah (tungau debu rumah. Alergen obat-obatan tertentu Contoh: penisilin. coklat. musim kemarau. seperti: musim hujan. eritrosin. Meskipun mekanismenya belum jelas. h. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga alergi. Alergen makanan Contoh: susu. Obesitas Obesitas atau peningkatan Body Mass Index (BMI).

VEP1 >80% nilai prediksi APE >80% nilai terbaik. Bronkodilator setiap hari.VEP1 <60% nilai prediksi APE <60% nilai terbaik . Dalam melakukan penilaian berat ringannya serangan asma. dan eksem atopi. diperlukan pengkajian kondisi klinis serta pemeriksaan penunjang. pengukuran respons dapat membantu diagnosis. asma juga dapat dinilai berdasarkan berat ringannya serangan. batuk yang sering kambuh (kronik) disertai mengi. persisten ringan. Global Initiative for Asthma (GINA) melakukan pembagian derajat serangan asma berdasarkan gejala dan tanda klinis. persisten sedang. uji fungsi paru. >2 kali sebulan APE 60-80% . Klasifikasi itu sangat penting untuk penatalaksanaan asma. pemberian obat inhalasi β-2 agonis. Aktivitas fisik terbatas Sering Maj Kedokt Indon. Pada penderita dengan gejala konsisten tetapi fungsi paru normal. dan persisten berat (Tabel 1). sehingga penyakit ini dapat ditangani dengan baik. Tidak ada satu pemeriksaan tunggal yang dapat menentukan berat-ringannya suatu penyakit. dan tanpa efek samping.2 Diagnosis asma yang tepat sangatlah penting.VEP1 >80% nilai prediksi APE >80% nilai terbaik . namun hal itu dapat berubah dengan waktu. tidak harus lengkap untuk setiap pasien. pemeriksaan gejala-gejala dan uji faal paru berguna untuk mengklasifikasi penyakit menurut berat ringannya.Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial tercegah atau bahkan sembuh. Anamnesis Ada beberapa hal yang harus diketahui dari pasien asma antara lain: riwayat hidung ingusan atau mampat (rhinitis alergi).VEP1 60-80% nilai prediksi APE 60-80% nilai terbaik. adanya hambatan beraktivitas karena masalah pernapasan (saat berolahraga). sering terbangun Tabel 1. . Kontrol yang lengkap biasanya diperoleh dengan pengobatan. Asma dapat diklasifikasikan menjadi intermiten. gejala malam hari. Pengukuran fungsi paru digunakan untuk menilai berat keterbatasan arus udara dan reversibilitas yang dapat membantu diagnosis. dan berair (konjungtivitis alergi). Asma pada anak-anak umumnya hanya menunjukkan batuk dan saat diperiksa tidak ditemukan mengi maupun sesak. <2 kali sebulan Persisten ringan . hal itu tidak realistis. Diagnosis klinis asma sering ditegakkan oleh gejala berupa sesak episodik. Untuk dapat mendiagnosis asma. pemeriksaan fisis. Tujuan pengobatan adalah memperoleh dan mempertahankan kontrol untuk waktu lama dengan pemberian obat yang aman. mata gatal. Sering kambuh. Harian Gejala setiap hari.Serangan mengganggu aktivitas dan tidur.Variabiliti APE <20%. merah. Klasifikasi Asma Berdasarkan Gejala Asma dapat diklasifikasikan pada saat tanpa serangan dan pada saat serangan. APE >80% >2 kali sebulan Persisten sedang . sakit akibat perubahan musim atau pergantian cuaca. dan uji faal paru) serta obat-obat yang digunakan untuk mengontrol asma (jenis obat. dan asma serangan berat. Derajat serangan menentukan terapi yang akan diterapkan. kombinasi obat dan frekuensi pemakaian obat). Selain klasifikasi derajat asma berdasarkan frekuensi serangan dan obat yang digunakan sehari-hari. Penggolongannya harus diartikan sebagai prediksi dalam menangani pasien asma yang datang ke fasilitas kesehatan dengan keterbatasan yang ada.Variabiliti APE >30% Persisten berat . mengi. APE <60% . Klasifikasi Derajat Asma Berdasarkan Gejala pada Orang Dewasa1 Derajat Asma Intermiten Gejala Bulanan Gejala <1x/minggu tanpa gejala diluar serangan Serangan singkat Mingguan Gejala>1x/minggu tetapi<1x/hari. asma serangan sedang. Variabiliti APE 20-30%. mengi (wheezing) berulang dan/atau batuk kronik berulang merupakan titik awal untuk menegakkan diagnosis. Volum: 58. Klasifikasi tersebut adalah asma serangan ringan. maksud kontrol adalah kontrol manifestasi penyakit. dianjurkan klasifikasi asma menurut ambang kontrol. Diagnosis Asma1. Mengukur status alergi dapat membantu identifikasi faktor risiko. Berat ringan asma ditentukan oleh berbagai faktor seperti gambaran klinis sebelum pengobatan (gejala. Untuk membantu penanganan klinis. Kontinyu Gejala terus menerus. Diagnosis asma didasarkan anamnesis. Nomor: 11. Nopember 2008 447 . dan pemeriksaan laboratorium. eksaserbasi. Namun pada asma. batuk dan dada sakit/sempit. Asma diklasifikasikan menurut derajat berat. dan pemeriksaan penunjang. flu berulang. Serangan dapat mengganggu aktivitas dan tidur Gejala Malam Faal Paru APE >80% . Dalam hal ini perlu adanya pembedaan antara asma kronik dengan serangan asma akut.Variabiliti APE >30%.

Volum: 58. sekolah · Faktor sosial yang berpengaruh · Derajat pendidikan · Pekerjaan · Tanda prodromal dan gejala · Cepatnya awitan. jamur. Spirometer lebih diutamakan dibanding PFM oleh karena. Peak flow meter merupakan alat pengukur faal paru sederhana. kimiawi/alergen lingkungan kerja · Perubahan lingkungan · Iritan (asap rokok. episodik. pola hidup dan efek ekonomi · Pengetahuan mengenai asma: penderita. pengawet · Perubahan udara. napas cepat. rinitis atau alergi lainnya dalam keluarga). Pada inspeksi dapat ditemukan.2. kecoa. alat tersebut digunakan untuk mengukur jumlah udara yang berasal dari paru. uap. partikulat. menentukan adanya episode gejala dan obstruksi saluran napas. Pemeriksaan Penunjang1. orang lain yang merokok di rumah atau lingkungan kerja. derajat berat· Jumlah eksaserbasi dan beratnya/tahun · Penanganan biasanya · Episode perawatan di luar jadwal (gawat darurat. obat yang digunakan pasien. tungau debu rumah. riwayat keluarga (riwayat asma. frekuensi. X-ray dada/thorax. aditif. Nopember 2008 . debu. kesulitan bernapas. Nomor: 11. PFM mengukur terutama saluran napas besar. Apakah sesak dengan bau-bauan seperti parfum. Gejala-gejala Kunci Diagnosis Asma 12-14 Gejala kunci Gambaran gejala Faktor presipitasi Batuk. hamil. 2. musiman atau keduanya. banyak barang di kamar tidur. orang tua.Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial pada malam hari. perut dan dada. mengi dan sesak atau frekuensi napas cepat. banyak kecoa. lama. gas) · Stres · Obat (aspirin.5 1. terus-menerus. alergi. tanyakan apakah menggunakan karpet berbulu. antiinflamasi. mengi. tempat kerja. sofa kain bludru. mebel dibungkus kain) · Latihan jasmani. ekspirasi memanjang. 3. penyakit tiroid) · Usia awitan dan diagnosis · Riwayat cedera saluran napas · Progres penyakit · Penanganan sekarang dan respons. respons terhadap bronkodilator Perenial. terdapat bagian yang lembab di dalam rumah. awitan. Dilakukan untuk menyingkirkan penyakit yang tidak disebabkan asma Perkembangan penyakit Riwayat keluarga Riwayat sosial Riwayat eksaserbasi Efek asma terhadap penderita dan keluarga Persepsi penderita dan keluarga terhadap penyakit 448 Maj Kedokt Indon. spray pembunuh serangga. lama. apakah ada beta blocker. sering ditemukan perubahan cara bernapas. sistem pendingin/pemanas. polutan udara. apakah pasien merokok. lokasi. bau menyengat. pelembab. eksim atau polip nasal pada anggota keluarga dekat · Perawatan/ daycare. Spirometer. sinusitis. frekuensi (jumlah hari/malam/minggu/bulan). Alergen lingkungan. istri/suami/teman untuk menolong penderita · Sumber ekonomi dan sosiokultural dapat ditemukan. pekerjaan. karpet. untuk diagnosis obstruksi saluran napas. dirawat di RS) · Keterbatasan aktivitas terutama latihan jasmani· Riwayat bangun malam · Efek terhadap perilaku. harus dilakukan anamnesis secara rinci. variasi diurnal terutama nokturnal dan waktu bangun pagi hari · Infeksi virus. serpih hewan atau produk sekretorinya) dan outdoor (serbuk sari/pollen) · Ciri-ciri rumah (usia. Peak Flow Meter/PFM. sekolah. Pada pemeriksaan fisis pasien asma. istri/suami atau teman dan mengetahui kronisitas asma · Persepsi penderita mengenai penggunaan obat pengontrol jangka lama · Kemampuan penderita. sering waktu malam. membakar kayu. Pemeriksaan Klinis1 Untuk menegakkan diagnosis asma. PFM tidak begitu sensitif dibanding FEV. Oleh karena pemeriksaan jasmani dapat normal. selain penting untuk menegakkan diagnosis juga untuk menilai beratnya obstruksi dan efek pengobatan. kasur kapuk. Untuk mengetahui adanya tungau debu rumah. antara lain rencana penanganan eksaserbasi · Frekuensi menggunakan SABA · Keperluan oral steroid dan frekuensi penggunaannya Riwayat asma. menggunakan otot napas tambahan di leher. β-bloker termasuk tetes mata) · Makanan. produksi sputum. PFM dibuat untuk pemantauan dan bukan alat diagnostik. atau keduanya. dalam menegakkan diagnosis asma diperlukan pemeriksaan obyektif (spirometer/FEV1 atau PFM). APE dapat digunakan dalam diagnosis untuk penderita yang tidak dapat melakukan pemeriksaan FEV1. rinitis. dalam rumah (jamur. udara dingin · Faktor endokrin (haid. orang tua. Pada auskultasi Tabel 2. dan terjadi perubahan bentuk anatomi toraks. hewan piaraan. Alat pengukur faal paru. aspirin atau steroid. memelihara binatang di dalam rumah. Gejala-gejala kunci untuk menegakkan diagnosis asma dirangkum dalam Tabel 2.

Pengobatan ditingkatkan (stepping up) bila diperlukan. dan metakolin. Uji tusuk kulit (skin prick test) untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spesifik pada kulit. Volum: 58. atau bila mungkin stepping down. yaitu gangguan dan risiko. pemantauan seterusnya adalah penting agar kontrol asma dapat dipertahankan serta menentukan tahap dan dosis obat terendah. Nopember 2008 449 . inhalasi udara dingin atau kering. Respons sejenis dengan dosis yang lebih besar. jumlah dan jadwal obat ditentukan oleh ambang berat asma atau kontrol asma. Pemeriksaan darah IgE Atopi dilakukan dengan cara radioallergosorbent test (RAST) bila hasil uji tusuk kulit tidak dapat dilakukan (pada dermographism). Pendekatan stepwise adalah untuk menolong. setiap penderita dilakukan penilaian derajat berat asma. 6. HRB dapat dibuktikan dengan berbagai tes provokasi. evaluasi kepatuhan pasien terhadap penggunaan obat. Ambang derajat berat ditentukan oleh domain gangguan terberat (nilai dari 2-4 minggu yang akhir. Bila asma sudah terkontrol. tidur. karena FEV1 yang buruk merupakan prediktor eksaserbasi. Uji tersebut untuk menyokong anamnesis dan mencari faktor pencetus. Seleksi terapi alternatif berdasarkan atas pertimbangan pengobatan yang efektif untuk penderita (gangguan. penanganan eksaserbasi dan menggunakan kortikosteroid/KS oral terutama untuk penderita dengan riwayat eksaserbasi berat. Analisis sputum yang diinduksi menunjukkan hubungan antara jumlah eosinofil dan Eosinophyl Cationic Protein (ECP) dengan inflamasi dan derajat berat asma.12-14 Penilaian derajat berat dan kontrol dilakukan menurut 2 domain yang sama yaitu gangguan (gejala. Biopsi endobronkial dan transbronkial dapat menunjukkan gambaran inflamasi. Kortikosteroid inhalasi merupakan obat anti-inflamasi yang efektif untuk semua usia pada semua tahap perawatan asma persisten. serta menggunakan 2 domain dalam evaluasi derajat berat dan kontrol asma. penanganan asma dibuat dalam 3 golongan umur yaitu 0-4 tahun. Stepping up mungkin diperlukan. lakukan step up. Uji alergen yang positif tidak selalu merupakan penyebab asma. kontrol lingkungan (pajanan baru) dan penanganan komorbid. teknik inhalasi. ukuran alergen dalam alam yang terpajan pada subyek alergi biasanya berupa partikel dengan berbagai ukuran dari 2 um sampai 20 um. nilai derajat gangguan paru dan pertimbangkan stepup. Derajat berat asma dan pengobatannya dalam klinik sebenarnya tidak berdasarkan atas penilaian obyektif inflamasi saluran napas. Pada penderita yang menunjukkan FEV1 >90%. Pengobatan awal diberikan sesuai dengan regimen (tahap) pengobatan. bukan untuk menggantikan. risiko atau keduanya) dan riwayat penderita mengenai respons sebelumnya (sensitivitas dan respons terhadap berbagai obat asma dapat berbeda di antara penderita) serta kesediaan dan kemampuan penderita ataupun keluarga untuk menggunakan obat-obatan. Derajat berat adalah intensitas intrinsik proses penyakit yang diukur praterapi. Pendekatan pengobatan bertahap menggabungkan kelima komponen yang diperlukan dalam penanganan asma. Uji Hipereaktivitas Bronkus/HRB. Provokasi bronkial dengan menggunakan nebulasi droplet ekstrak alergen spesifik dapat menimbulkan obstruksi saluran napas pada penderita yang sensitif. terjadi pada subyek alergi tanpa asma. dapat menggunakan PFM) dan risiko. 4-12 tahun dan diatas 12 tahun. dan kadar oksida nitrit udara yang dikeluarkan dengan napas. tetapi jarang atau sulit dilakukan di luar riset. Jenis. Bila obstruksi yang menetap tidak menerangkan kontrol yang kurang. menimbulkan asma tidak terkontrol dan merupakan beban bagi penderita. Konsep Baru Pengobatan Awal – Penilaian Derajat11-14 Banyak penderita asma tidak diobati menurut pedoman mutakhir. Oleh karena asma adalah penyakit kronis. Pengobatan Bertahap pada Berbagai Usia1. Tes provokasi sebenarnya kurang memberikan informasi klinis dibanding dengan tes kulit. keluarga serta seluruh sistem perawatan kesehatan. Di samping itu. Tes provokasi nonspesifik untuk mengetahui HRB dapat dilakukan dengan latihan jasmani.Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial 4. histamin. Penilaian Kontrol Asma: Memantau dan Mempertahankan dengan Pendekatan Bertahap11-14 Evaluasi kontrol dalam 2-6 minggu (tergantung derajat berat awal atau kontrol). pemantauan adalah esensial. asma persisten dapat dikontrol terbaik dengan pemberian obat pengontrol jangka lama untuk menekan inflamasi setiap hari. dan dapat memberikan informasi kepada dokter untuk mengembangkan rencana pengobatan awal. Derajat berat asma ditentukan oleh domain gangguan dan risiko terberat. Pemeriksaan IgE. Bila diagnosis asma sudah ditegakkan. Nomor: 11. Pemantauan dan penilaian secara terus menerus penting untuk keberhasilan penanganan klinis. pertimbangkan obstruksi yang menetap dan nilai ukuran lainnya. pemeriksaan sel eosinofil dalam sputum. 5. tidak dalam bentuk nebulasi. oleh karena asma dapat berbeda dengan waktu. Pendekatan bertahap (stepping up dan stepping down) dianjurkan untuk memperoleh dan mempertahankan kontrol asma. dan aktivitas) dan risiko eksaserbasi yang memerlukan steroid oral. Bila asma sudah terkontrol. Menurut konsep baru. Penilaian semi-kuantitatif inflamasi saluran napas dapat dilakukan melalui biopsi paru. Gejala klinis dan spirometri bukan merupakan petanda ideal inflamasi. Bila kontrol asma tidak didapat dengan cara tersebut. identifikasi obat minimal diperlukan dalam mempertahankan kontrol asma. Bila riwayat eksaserbasi menunjukkan kontrol buruk. dan diturunkan (stepping down) bila mungkin. PFM digunakan pada penderita ³ 6 tahun. Maj Kedokt Indon. Petanda inflamasi. Bila hasil spirometri menunjukkan kontrol buruk dibanding tanda kontrol lainnya.

Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial Keputusan berdasarkan data klinis untuk memenuhi kebutuhan penderita. tidak ada bukti intervensi yang dapat mencegah perkembangan asma. Penatalaksanaan Asma Bertujuan: 1. B. Tetapi biasanya penderita bereaksi terhadap banyak faktor lingkungan sehingga usaha menghindari alergen sulit untuk dilakukan. agar pasien dapat mengobati dirinya sendiri saat serangan di rumah sebelum ke dokter. Mencegah Sensititasi Cara-cara mencegah asma berupa pencegahan sensitisasi alergi (terjadinya atopi. kontrol lingkungan dan komorbiditas. Untuk kortikosteroid. dianggap sebagai penderita asma persisten. agar kualitas hidup meningkat Mencegah eksaserbasi akut Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin Mempertahankan aktivitas normal termasuk latihan jasmani dan aktivitas lainnya Menghindari efek samping obat Mencegah terjadinya keterbatasan aliran udara ireversibel Meminimalkan kunjngan ke gawat darurat Komunikasi yang baik dan terbuka antara dokter dan pasien adalah hal yang penting sebagai dasar penatalaksanaan. sehingga dapat Maj Kedokt Indon. yaitu mengembangkan hubungan dokter pasien. Penderita asma terkontrol dengan steroid inhaler.11-14 A. gejala. Selain menghindari pajanan dengan asap rokok. alergen outdoor seperti polen. infeksi virus. bila diberikan dalam waktu kurang dari satu minggu. Nomor: 11.14-15 1. Volum: 58.2. misalnya bila menderita infeksi virus saluran napas. baik in utero atau setelah lahir. atau beberapa kombinasi gejalagejala tersebut. Kemampuan pasien untuk mendeteksi dini perburukan asmanya adalah penting. pengobatan dan monitor asma serta penatalaksanaan asma eksaserbasi akut. penderita tersebut masih dapat mengalami eksaserbasi. obesitas. mengi. pertimbangkan terapi penyesuaian atau alternatif. Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma. polutan dan obat. kecoa. Penderita dengan dua atau lebih eksaserbasi. aditif. kontrol lingkungan dan pemberian obat. dan dada sakit. menghindari asap rokok. 450 hewan berbulu. penilaian. teknik penggunaan inhaler. jamur. tidak perlu tapering off. atau juga keuntungan pemberian intravena dibanding oral. 4. Penatalaksanaan Asma Kronik Pasien asma kronik diupayakan untuk dapat memahami sistem penanganan asma secara mandiri.2. Penanganan eksaserbasi yang efektif juga melibatkan keempat komponen penanganan asma jangka panjang.14 1. 3. penyuluhan. Pada prinsipnya penatalaksanaan asma diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu:1. 2. Mencegah Eksaserbasi Eksaserbasi asma dapat ditimbulkan berbagai faktor (trigger) seperti alergen (indoor seperti tungau debu rumah. makanan. itu merupakan kunci keberhasilan pengobatan. Namun. Nopember 2008 . 2. emosi-stres dan berbagai faktor lainnya. 7. Eksaserbasi ditandai dengan menurunnya arus napas yang dapat diukur secara obyektif (spirometri atau PFM) dan merupakan indikator yang lebih dapat dipercaya dibanding gejala. makanan dan aditif. Pada prinsipnya tidak diperkenankan pemeriksaan faal paru dan laboratorium yang dapat menyebabkan keter-lambatan dalam pengobatan/tindakan. 6. Untuk waktu sedikit lebih lama (10 hari) juga mungkin tidak perlu tapering off bila penderita juga mendapat kortikosteroid inhaler. obat yang menimbulkan gejala dapat memperbaiki kontrol asma serta keperluan obat. hentikan penggunaannya sebelum step up. Sebelum step up. Jumlah pemberian steroid sistemik untuk eksaserbasi asma yang memerlukan kunjungan gawat darurat dapat berlangsung 3-10 hari. Dilakukan penilaian berat serangan berdasarkan riwayat serangan. Hipotesis higiene untuk mengarahkan sistem imun bayi kearah Th1. memiliki risiko yang lebih kecil untuk eksaserbasi. dan jamur. Penanganan harus cepat dan sebaiknya dilakukan di rumah sakit/gawat darurat. Tidak ada keuntungan dari dosis steroid lebih tinggi pada eksaserbasi asma. Pencegahan1. Mengurangi pajanan penderita dengan beberapa faktor seperti menghentikan merokok. Dewasa ini tidak cukup bukti hubungan antara frekuensi eksaserbasi dengan berbagai ambang derajat berat asma. perlu dievaluasi kepatuhan penderita minum obat. Hal-hal lain yang harus pula dihindari adalah polutan indoor dan outdoor.11-14 Eksaserbasi asma adalah episode akut atau subakut dengan sesak yang memburuk secara progresif disertasi batuk. diduga paling relevan pada masa prenatal dan perinatal) atau pencegahan terjadinya asma pada individu yang disensitisasi. lingkungan kerja. identifikasi dan menurunkan pajanan terhadap faktor risiko. Penatalaksanaan Asma Akut Serangan akut adalah keadaan darurat dan membutuhkan bantuan medis segera. yaitu pemantaan. Komponen yang dapat diterapkan dalam penatalaksanaan asma. 5. agar dapat diberikan pengobatan yang tepat. Eksaserbasi Asma1. Bila diberikan pengobatan alternatif. respons nonalergi atau modulasi sel T regulator masih merupakan hipotesis.13. pemeriksaan fisis dan bila memungkinkan pemeriksaan faal paru. meskipun tidak disertai ambang gangguan yang konsisten dengan asma persisten. memerlukan steroid oral dalam 6 bulan akhir atau empat episode mengi dalam satu tahun terakhir. Diharapkan agar dokter selalu bersedia mendengarkan keluhan pasien. Bila perbaikan tidak dicapai dalam 4-6 minggu walaupun teknik pengobatan dan ketaatan cukup baik.

Fungsi paru normal atau hampir normal 6.122 (3): 475-80. Arbor A. Mumbai: Vicas Medical Publishers. Paxman D. European Journal of Allergy and Clinical Immunology. Bochner BS. Penyuluhan bagi pasien dan keluarga tentang pencegahan dan penanggulangan asma. televisi dan media elektronik lainnya. Suprihati. Asthma in handbook of allergic disorders. Siregar SP. Plumb J. Bronkodilator merupakan pengobatan saat serangan untuk mengatasi eksaserbasi/serangan. 5. Challenges in asthma patient education. 11.115 (6):1225-7. Volum: 58. Busse WW.2005.”Step-down” therapy for asthma: Why. Corrigan C. and How? JACI. House dust mite control measures for asthma: systematic review in European Journal of Allergy and Chronic Urticaria. Allergy and Asthma.USA: Marcel Dekker.Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial mengetahui kondisi kronik dan variasi keadaan asma. USA. Karger AG.62-71. 2003.editor. Tanpa keterbatasan aktivitas harian 3. 4.2005. pamflet.2005. Asthma in allergy. Daftar Pustaka 1. 15. leaflet.2007. Kunjungan ke gawat darurat. Informasi dan Edukasi yang meliputi:1.10 1. Menurunnya angka kematian akibat asma Untuk melaksanakan tujuan tersebut. Meningkatkan pengetahuan. 8. Kebutuhan obat pelega meningkat. karena serangan akut 3.62 (3).213-5. Meningkatkan kemandirian pasien dalam upaya pencegahan asma 2. Le TT. motivasi dan partisipasi pasien dalam pengendalian asma. Meningkatkan kemandirian pasien dalam ketrampilan penggunaan obat/alat inhalasi Pelaksanaan KIE tentang asma dan faktor risikonya dapat dilakukan melalui berbagai media penyuluhan.26-38. Bateman ED.a global perspective in Allergy. Terlaksananya deteksi dini pada kelompok masyarakat berisiko asma 4. Kartasasmita CB. Menurunkan jumlah kelompok masyarakat yang terpajan faktor risiko asma 3. Soebaryo RW. Asthma and obesity: Common early-life influences in the inception of disease JACI. In: Zweiman B. 2002. Menurunnya angka kesakitan akibat asma 6.5.15 1. Brisbon N. 3. Louis S. Philadelphia: Lipincott Williams & Wilkins.JACI. Diet as a risk factor for atopy and asthma.2008 Mei.707-36. Rak S. Global strategy for asthma management and prevention.115 (5):953-9. Gotzsche CP. et al. 2. The bronchial epithelial origins of asthma in immunological mechanisms in asthma and allergic disease. 2.325-54.2. radio. 2007. seperti penyuluhan tatap muka. China: Elsevier Mosby. 121. Sundaru H. Brawer R. Tanpa gejala harian atau d” 2x/minggu 2. New perspectives on mechanisms underlying chronic allergic inflammation and asthma in 2007. 4. Anti inflamasi merupakan pengobatan rutin yang yang bertujuan mengontrol penyakit serta mencegah serangan dikenal sebagai pengontrol. The asthma and obesity epidemics: The role played by the built environment-a public health perspective.115 (6):1109-17. Asma malam (terbangun malam hari karena gejala asma) 2. Asthma and allergy .646. In: Shaikh WA. Holgate ST. 10. 13.2008.volume 63. Seaton A. The scenario in Indonesia.73-102. Allergy and asthma. poster. Terlaksananya penegakan diagnosis dan tatalaksana pasien asma sesuai standar/kriteria 5. Bacharier LB. MS/FR Maj Kedokt Indon. Nopember 2008 451 . surat kabar. Principles and practice of tropical allergy and asthma.2002. Pengendalian asma bertujuan:1.JACI. Basel. Broide D. Cabana MD. Robinson DS (ed). Switzerland. majalah dan media cetak lainnya. 9.(5):1075. S. Tanpa gejala asma malam 4. 109 (6):916. Tanpa pengobatan pelega atau d” 2x/minggu 5. Jithoo A. Devereux G. National Institutes of Health. Schwartz LB. Ciri-ciri asma terkontrol: 1. 6. JACI. JACI. dikenal pelega. Nomor: 11.115 (5):1024-8. Eapen SS.p. Baratawidjaja KG.JACI. Asthma in inflammatory mechanisms in allergic diseases. 2004. 3.2005. When. 12. Augusto A.2006. 2000. Tanpa eksaserbasi Ciri-ciri asma tidak terkontrol 1. salah satu cara dapat dilakukan dengan Komunikasi. 7. Bernstein JA. Busse WW. 14.editors. Untuk merubah sikap dan perilaku pasien dalam pengendalian asma.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful