Artikel Penelitian

Kekuatan Otot dan Mobilitas Usia Lanjut Setelah Latihan Penguatan Isotonik Quadriceps femoris di Rumah

Indah Retno Wardhani,* Siti Annisa Nuhoni,* Tirza Z Tamin,* Edy Rizal Wahyudi,** Aria Kekalih***
*Departemen Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta **Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta ***Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Abstrak: Kekuatan otot dan mobilitas menurun seiring pertambahan usia. Latihan penguatan dapat mencegah penurunan kekuatan otot dan mobilitas. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh latihan penguatan otot Quadriceps femoris di rumah pada usia lanjut (usila) dan hubungannya dengan mobilitas fungsional yang diukur dengan tes Timed Up and Go (TUG). Analisis dilakukan terhadap 33 subjek berusia lebih dari 60 tahun. Dilakukan pemeriksaan TUG dan kekuatan otot Quadriceps femoris berdasarkan beban pada pergelangan kaki yang menghasilkan persepsi “cukup berat” menurut Skala Borg RPE. Latihan dilakukan di rumah tiga kali seminggu, sebanyak 3x10 repetisi. TUG dan kekuatan otot dinilai kembali pada minggu ke-4 dan ke-8. Rerata beban pergelangan kaki sebesar 1,4 (0,4) kg pada awal penelitian. Terjadi peningkatan kekuatan sebanyak 46,61% pada minggu ke-4 menjadi 2,0 (0) kg dan peningkatan 95,91% pada minggu ke-8 menjadi 2,6 (0,6) kg. Nilai TUG pada awal latihan adalah 11,3 (1,4) detik dan setelah 4 minggu didapatkan perbaikan nilai TUG menjadi 10,0 (1,3) detik. Setelah 8 minggu nilai TUG kembali mengalami perbaikan menjadi 9,33 (1,40) detik. Terdapat korelasi sedang (r=-0,354) antara peningkatan kekuatan otot Quadriceps femoris dan perbaikan hasil TUG pada usila. Disimpulkan bahwa latihan penguatan otot Quadricep femoris di rumah dapat meningkatkan kekuatan otot dan mobilitas pasien usila. Kata Kunci: Usia lanjut, TUG, kekuatan otot, quadriceps femoris, latihan penguatan di rumah

Maj Kedokt Indon, Volum: 61, Nomor: 1, Januari 2011

3

jatuh. Volum: 61. After 4 weeks. TUG improved to 10.4) kg. Quadriceps femoris strengthening exercise can improve muscle strength and mobility in elderly. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti peran latihan penguatan otot Quadriceps femoris di rumah pada kelompok usila dan hubungannya dengan mobilitas fungsional.61% increment to 2.91% increment was recorded with ankle weight of 2. there was 46. Januari 2011 . Department of Internal Medicine. Program latihan di rumah memungkinkan individu untuk latihan secara mandiri di lingkungan yang nyaman tanpa harus mengeluarkan biaya untuk transportasi. Jakarta Pusat. Modest correlation (r=-0. Faculty of Medicine. Faculty of Medicine. Latihan penguatan dapat mencegah penurunan kekuatan otot dan mempertahankan massa otot. tidak menggunakan peralatan mahal dan rumit. home based strengthening exercise.6 (0. TUG test and ankle weights was re-examined on 4th and 8th week. Exercise was done at home three times a week.40) seconds. Penelitian dilakukan di Paguyuban Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) Bungur dan Senen. Jakarta Abstract: Muscle strength and mobility decrease with age. meningkatkan metabolisme. khususnya kekuatan otot Quadriceps femoris. Pendahuluan Kekuatan otot akan menurun seiring dengan pertambahan usia. Jakarta ***Department of Community Medicine. Faculty of Medicine.5-9 Studi oleh Runnels et al. Latihan penguatan juga mampu mencegah penurunan massa tulang.10 menunjukkan bahwa penurunan kekuatan otot Quadriceps femoris lebih cepat terjadi pada kelompok usia lebih dari 59 tahun. Jakarta Barat. Keywords: elderly. latihan penguatan ditargetkan pada otot-otot besar tungkai bawah.* Siti Annisa Nuhoni.0 (0) kg and after 8 weeks 95. The purpose of this study is to evaluate the effects of home-based Quadriceps femoris strengthening exercise in elderly subjects and its correlation with functional mobility. measured using Timed Up and Go (TUG) test. Pada kelompok usila. University of Indonesia. University of Indonesia.11 Mengingat banyaknya manfaat yang diperoleh. Metode Penelitian ini adalah studi intervensi pra dan pasca perlakuan. poliklinik Rehabilitasi Medik RSCM. Nomor: 1.33 (1. 4 murah. Jakarta **Geriatric Division. TUG test at initial was 11. Pelaksanaan dilakukan pada bulan Januari-Maret 2010 setelah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian FKUI. Thirty-three subjects aged 60 years and above were analyzed in this study.3 (1. merupakan faktor risiko jatuh pada usia diatas 50 tahun. Initial quadriceps strength was 1. Strengthening exercise can prevent decreased muscle strength and mobility.** Aria Kekalih*** *Department of Physical Medicine and Rehabilitation.1. muscle strength.* Edy Rizal Wahyudi.354) was recorded between Quadriceps femoris strength improvement and TUG improvement. mudah dilakukan. dan dalam jangka panjang menurunkan tekanan darah. dan kelompok usila di kelurahan Kebon Jeruk. Quadriceps femoris strength was determined using ankle weights that give a perception of “somewhat hard” in Borg Scale after 10 repetitions.2 Penurunan kekuatan otot anggota gerak bawah berhubungan dengan gangguan pola jalan (gait).0 (1. disarankan untuk melakukan latihan penguatan pada kelompok usia lanjut (usila). Selain itu program ini sangat bermanfaat bagi kelompok usila yang tidak dapat pergi ke pusat latihan. khususnya otot kuadrisep sangat penting untuk mencegah penurunan kekuatan otot sehingga diharapkan menurunkan prevalensi jatuh.4) seconds. University of Indonesia. fraktur panggul dan ketergantungan karena gangguan ambulasi.6) kg. Agar dapat diterima kelompok usila bentuk latihan penguatan harus cukup menyenangkan. After 4 weeks of exercise. termasuk otot Quadriceps femoris. quadriceps femoris. Identifikasi dan intervensi rehabilitasi medik untuk kekuatan otot usila. TUG. serta mampu laksana tanpa supervisi ketat. in 3x10 repetitions.3-5 Kelemahan otot.3) seconds and after 8 weeks to 9.* Tirza Z Tamin.Kekuatan Otot dan Mobilitas Usia Lanjut Setelah Latihan Penguatan Isotonik Muscle Strength and Mobility in Elderly After Home-based Quadriceps femoris Isotonic Strengthening Exercise Indah Retno Wardhani.4 (0. Maj Kedokt Indon. yang merupakan prediktor jatuh dan penentu kemampuan fungsional aktivitas kegiatan sehari-hari.

Pada minggu kedelapan. Latihan penguatan kuadrisep dilakukan menggunakan beban pada tungkai bawah yang diikat pada proksimal maleolus seperti yang telah digunakan oleh Tamin12 dengan beban pemberat dari besi yang dimasukkan ke dalam bahan kain busa.4) kg.5 15. gangguan keseimbangan yang dinilai dari hasil tes Romberg positif. Pada populasi terjangkau dilakukan seleksi subjek sesuai dengan kriteria penerimaan dan penolakan. Volum: 61. pemeriksaan fungsi kognitif.4 (+ 0.4) detik. Nomor: 1. mandiri secara fisik. infark miokard akut dalam 3 bulan terakhir. didapatkan rata-rata peningkatan sebesar 46. Kriteria penerimaan adalah usia diatas 60 tahun. kondisi medis stabil.13 Subjek duduk tegak di kursi. Beban diangkat dengan kecepatan dua detik untuk naik dan empat detik untuk turun.0 18. Mobilitas fungsional pada kelompok usila yang menjadi subyek penelitian ini digambarkan dengan hasil tes TUG. bersedia mengikuti program penelitian secara sukarela dengan mengisi formulir persetujuan. Status ambulasi pada usila dinilai sebagai skor mobilitas fungsional dengan tes TUG. Latihan penguatan dilakukan selama delapan minggu. beban ditingkatkan.8 3. Setelah 4 minggu dilakukan latihan. Pasien dikeluarkan dari penelitian bila tidak menjalankan latihan penguatan lebih dari 3 kali berturut-turut (selama lebih dari seminggu). Diberikan brosur berupa gambar gerakan latihan yang harus dilakukan di rumah dan evaluasi dilakukan pada minggu ke-4 dan ke-8 latihan.62% dengan rata-rata beban 2 kg (+ 0 kg). Kriteria penolakan adalah gangguan neuromuskular berupa gangguan saraf pusat. gangguan visus yang belum dikoreksi. mampu berjalan setidaknya 6 meter tanpa alat bantu. tidak menderita penyakit progresif seperti kanker. Subjek dipilih secara konsekutif yang telah memenuhi kriteria penerimaan dan penolakan.6 9. warga di Kelurahan Kebon Jeruk serta pasien poliklinik Rehabilitasi Medik RSCM. panggul fleksi 90o dan lutut fleksi 90o. didapatkan peningkatan kekuatan sebesar 95.2 39.4 60.18) % 48.2 15. Pemeriksaan TUG meliputi komponen keseimbangan statis duduk di kursi. umur. Beban ini dapat diatur dari 0. penderita artritis pada sendi lutut yang sedang aktif. Pengawasan dilakukan oleh anggota keluarga atau pengasuh pasien untuk memastikan frekuensi latihan minimal tiga kali seminggu tercapai.55 (+3. Subjek mengekstensikan lutut dan mengangkat beban sebanyak tiga set dengan masing-masing 10 repetisi. tidak rutin mengikuti program latihan fisik atau olahraga terstruktur selama minimal tiga kali per minggu. alamat. Penentuan beban latihan dilakukan menggunakan beban pada pergelangan kaki dan diangkat sebanyak 10 kali yang memberikan persepsi skala RPE Borg sebesar 12-13 (cukup berat).3 (+ 1.6 (+ 0.15 Hasil Karakteristik subjek penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. Peneliti mengisi formulir data dasar yang meliputi nama. dan riwayat jatuh dalam 1 tahun terakhir. Selanjutnya dilakukan penilaian waktu bangkit dari duduk dan berjalan dengan tes TUG dan pengukuran kekuatan otot kuadrisep femoris.Kekuatan Otot dan Mobilitas Usia Lanjut Setelah Latihan Penguatan Isotonik Subjek penelitian adalah kelompok usila berusia diatas 60 tahun yang tercatat di PUSAKA XXXIX Bungur-Senen.2 30. nomor telepon. Penggunaan tes TUG di klinik digunakan sebagai pemeriksaan untuk mengukur mobilitas. Kepada tiap subjek diberikan penjelasan mengenai program penelitian.4 15. Januari 2011 tergantung dari hasil uji kemampuan angkat beban pasien.5-5 kg atau lebih Maj Kedokt Indon.2 48.3 72.6) kg (lihat tabel 2).3 5 . Dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan data awal berupa berat badan dan tinggi badan.2 33. keseimbangan dinamis bangkit dari kursi. atau mengalami keterbatasan lingkup gerak sendi pada lutut. tidak dapat mengingat edukasi maupun penjelasan yang diberikan oleh peneliti (diperiksa dengan MMSE) serta bila subjek penelitian menolak untuk ikut serta dalam penelitian. gangguan pendengaran berat.3 24. Didapatkan 41 subjek dan 8 dikeluarkan dari penelitian sehingga hanya 33 subjek yang dianalis.14.7 27. tidak sedang mendapat tindakan rehabilitasi medik pada saat penelitian dilakukan (minimal dalam dua minggu). jalan sepanjang 3 meter dan kembali lagi duduk ke kursi.91% dengan rata-rata beban menjadi 2. tingkat pendidikan terakhir. Peneliti juga memantau dengan menghubungi melalui telepon. gangguan intelektual berupa gangguan memori atau kognitif yang membuat subjek penelitian sulit atau tidak dapat memahami. gangguan saraf tepi.79(+2.79) 8 25 1 6 5 16 5 13 20 3 14 5 11 24 9 27. Didapatkan waktu untuk rerata awal tes TUG sebesar 11.1 42. Subjek yang bersedia mengikuti program penelitian menandatangani surat persetujuan untuk mengikuti penelitian.2 75. Pada awal penelitian didapatkan besar beban rata-rata 1. Pada evaluasi minggu ke-4 didapatkan perbaikan Tabel 1. keseimbangan dan pergerakan pada usila. serta nilai waktu uji awal tes Timed Up and Go (TUG) dibawah 30 detik. Sebaran Frekuensi Karakterintik Subjek Penelitian Karakteristik Asal rekruitmen Kebun Jeruk Poli RM RSCM Pusaka Usia (Rata-rata + SD) Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah SD SMP SMA PT Toilet Duduk Jongkok Indeks Massa Tubuh Kurang Normal Overweight Obesitas Kepatuhan latihan Patuh Kurang MMSE (Rata-rata+SD) N = 33 16 7 10 64.5 21.

Korelasi antara Frekuensi Latihan.383* .383* . Didapatkan korelasi bahwa dengan semakin bertambahnya kekuatan otot kuadrisep femoris.19 1.57% dari nilai awal dengan ratarata 9.813 33 -.63 44.4 0 0. Korelasi antara Peningkatan Kekuatan Otot Kuadrisep Femoris dan Perbaikan Kecepatan Tes TUG Mean MiniMaksimum m u m 1. dan alat yang digunakan.813 33 -. Keluhan yang terjadi pada subjek pada penelitian ini adalah rasa pegal yang dilaporkan pada empat orang.043 .05 level (2-tailed) 6 Maj Kedokt Indon.33 200. Nomor: 1.62 beban minggu ke-4 Persen kenaikan 95.6 13.5 6. Pada akhir penelitian seluruh subyek mengatakan merasakan manfaat latihan dan merasa lebih baik serta ingin meneruskan latihan secara teratur.33 (+ 1. dan Persentase Perbaikan TUG Frekuensi % peningkatan % perbaikan latihan beban awal-8 mg TUG Spearmen’s rho frekuensi latihan Correlation Coefficient Sig (2-tailed) N Correlatioan Coefficient Sig (2-tailed) N Correlation Coefficient Sig. Dinilai korelasi antara persentase peningkatan kekuatan otot kuadrisep femoris dengan hasil tes TUG.00 100.3 9.354* .57 TUG 8 minggu 1.5 4.6 24. Besar peningkatan kekuatan otot yang didapatkan pada penelitian ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Reyes.000 33 -.Kekuatan Otot dan Mobilitas Usia Lanjut Setelah Latihan Penguatan Isotonik waktu tes TUG lebih cepat 10. Angka tersebut berlaku pada kelompok disabilitas intelektual usia 10-30 tahun yang mengalami obesitas dan diukur dengan metode 10 RM.33 100.19 TUG 11. dengan tingkat korelasi sedang1 (p=0.21% dengan rata-rata menjadi 10.000 33 -.22 (0.4 Beban minggu ke-4 2 Beban minggu ke-8 2.21 TUG 4 minggu Persen kenaikan -16. maka terjadi perbaikan kecepatan tes TUG (semakin cepat). Hasil Tes Timed Up and Go Sebelum dan Setelah Latihan Penguatan Isotonik Otot Kuadrisep femoris Standard Deviasi Median Mean Mini mum 8. Satu subyek mengeluh pegal karena mencoba beban melebihi yang dianjurkan.4 1.25 18.3) detik.4 6.043 dengan r=0. Tamin TZ12 mendapatkan rata-rata besar kekuatan isotonik otot kuadrisep femoris dengan beban pergelangan kaki yang juga digunakan pada penelitian ini adalah 1. Kekuatan Otot Kuadrisep Femoris dengan Beban Pergelangan Kaki Sebelum dan Sesudah Latihan Standard Deviasi Median Gambar 1. Pada evaluasi minggu ke-8 didapatkan perbaikan lagi sebesar 16.93 Maksimum 14.354* . Selama penelitian tidak didapatkan efek samping serius. Keluhan berkurang setelah frekuensi latihan dilakukan sebanyak tiga kali seminggu.40) detik. Diskusi Penilaian besar kekuatan otot dipengaruhi oleh jenis kontraksi.3 1.44 13.46 -9. Umumnya keluhan hilang dengan menggunakan koyo atau dipijat.0 20.3 10.3 TUGT minggu 4 10.0 (+ 1. Januari 2011 .354). Volum: 61. Kenaikan beban setelah 8 minggu dengan perbaikan kecepatan TUG setelah 8 minggu melalui uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi cukup bermakna.33 Persen perbaikan -10.5 1 3 1.45 8.00 Tabel 4.46 -34.043 .6 Persen kenaikan 46.5 2 2.00 Beban Awal 1.00 satu orang subyek mengeluhkan pegal pada otot paha karena latihan dilakukan setiap hari (tidak sesuai prosedur yang diajarkan). metode pengukuran.17 Tabel 3. Persentase Peningkatan Beban minggu ke-8.028 33 -.91 beban minggu ke-8 0.0 2.028 33 1.000 33 % peningkatan beban awal-8 mg % perbaikan TUG *Correlation is significant at the 0.09 11. Sebanyak Tabel 2.5 33. Keluhan rasa pegal cukup ringan.043 33 1.0 13.24 -18.00 33.043 33 -.64 -38. tidak membutuhkan obatobatan khusus. (2-tailed) N 1.40) kg.0 TUGT minggu 8 9.40 10.

tendon dan ligamen.05.62% setelah 4 minggu latihan dan 95. yaitu peningkatan jumlah miofibril. Winaktu20 melakukan studi pada 34 usila dengan rerata umur 68. Peningkatan kekuatan otot yang cukup besar ini disebabkan perubahan anatomis.2 (6.74% setelah 6 minggu. dan drop-out (data tidak diikutkan dalam analisis) Maj Kedokt Indon.58) kg pada kuadrisep kanan dan 11. penelitian lain mengungkapkan adanya adaptasi sistim saraf yang menyangkut sinkronisasi dan rekurtmen unit motorik. Nomor: 1. mengalami gangguan mobilitas. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian latihan penguatan dengan intensitas ringan– sedang sudah dapat meningkatkan kekuatan otot secara bermakna pada usia lanjut. frekuensi latihan yang juga harus adekuat untuk terjadinya peningkatan kekuatan.7) tahun) dengan intensitas tinggi (80% dari 1 RM) dan mendapatkan peningkatan 50. Frontera1 mendapatkan pada pria dewasa non-atlet.7 (2. Selain intensitas.19 Pada penelitian ini dilakukan pengukuran mobilitas fungsional dengan tes TUG sebelum dan sesudah melakukan latihan penguatan isotonik otot kuadrisep femoris. yaitu 11.3 (2.l4) tahun di Jakarta rerata nilai TUG senilai 10. meningkat secara linear hingga 75% batas kekuatan. didapatkan beban pergelangan kaki berkisar antara 1–3 kg. Namun.18 yaitu 46. Hal ini tidak termasuk dalam tujuan penelitian.9+(6. Hasil yang lebih berbeda ini dikarenakan karena adanya perbedaan teknik pengukuran dan jenis latihan. Persentase peningkatan kekuatan isometrik otot kuadrisep femoris sebesar 21. serta perubahan sistem saraf sulit diidentifikasi secara akurat. Selain itu. sampai dengan mencapai batas kekuatan. Hal ini terlihat dari korelasi antara frekuensi latihan dan persentase peningkatan kekuatan otot kuadrisep femoris. Satu data dari subjek yang jatuh. dan mampu menyelesaikan TUG dengan waktu kurang dari 20 detik. Volum: 61. Sesuai konsep batas kekuatan otot (limiting strength) oleh Muller dan Rohmert yang dikutip oleh Reyes17 bahwa semakin tidak terlatih otot pada awal latihan akan semakin besar peningkatan kekuatan yang didapatkan. isotonik atau isokinetik akan menghasilkan peningkatan kekuatan otot yang berbeda. peningkatan ukuran miofibril. Latihan isometrik.7% untuk ekstensi tungkai. ambulasi di komunitas tanpa alat bantu. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa intensitas beban pergelangan kaki sebagai stimulus latihan penguatan otot kuadrisep femoris cukup adekuat pada usia lanjut. Semakin sering latihan dilakukan maka persentase peningkatan kekuatan otot akan semakin besar.16 (+3.95) kg pada otot kuadrisep kiri yang dinilai menggunakan tensiometer kabel. Besar peningkatan kekuatan otot dipengaruhi oleh jenis latihan. Pada penelitian ini teknik pengukuran yang digunakan yaitu dengan kontraksi isotonik menggunakan beban pergelangan kaki (ankle weight). kecepatan peningkatan kekuatan otot akan berkurang secara progresif. peningkatan konsentrasi kreatin fosfat dan ATP dan peningkatan glikogen. Ini menunjukkan mulai terdapatnya gangguan keseimbangan ringan pada subjek yang diteliti.4) detik. Tetapi dengan kontraksi isotonik.4) tahun didapatkan nilai TUG 10. Podsialo dkk menemukan bahwa orang dewasa tanpa gangguan keseimbangan mampu melakukan tes TUG kurang dari 10 detik.2 (1. alat yang digunakan. Di atas 75% batas kekuatan. Dikatakan bahwa peningkatan kekuatan akan maksimal pada kontraksi isometrik.20 meneliti pada wanita usia lanjut (rerata usia 64 tahun). Semua subyek penelitian mandiri (Indeks Barthel 20).Kekuatan Otot dan Mobilitas Usia Lanjut Setelah Latihan Penguatan Isotonik yaitu kecepatan peningkatan kekuatan otot dengan latihan maksimum adalah sekitar 12% tiap minggunya (96% dalam 8 minggu). Hagerman2 dan Hikida20 juga meneliti latihan penguatan pada pria usia lanjut (rerata usia 63+(0. kekuatan otot meningkat pada seluruh lingkup gerak sendi.91% setelah 8 minggu. dan usia. Karakteristik hasil yang didapat adalah adanya peningkatan secara bermakna. Persentase peningkatan kekuatan otot yang didapat pada penelitian ini lebih besar daripada hasil yang diperoleh Widjanantie. Hakkinen19. Penyebab peningkatan kekuatan otot pada 8 minggu pertama latihan terutama disebabkan adaptasi sistem saraf ini. dengan latihan penguatan selama 21 minggu terjadi peningkatan 29% kekuatan otot kuadrisep yang dinilai dari 1 RM.1) detik dan setelah 8 minggu latihan SKJ sebanyak 3 kali seminggu terjadi perubahan nilai TUG menjadi 8.73 (+3. sedangkan pada kontraksi isometrik. Kurva ini sama untuk setiap otot. peningkatan kekuatan otot terjadi pada sudut yang dilatih. usia dan jenis kelamin. Frontera seperti dikutip oleh Wilmore19 meneliti pada kelompok pria usia lanjut (usia 60-72 tahun) menunjukkan peningkatan kekuatan dengan latihan isotonik 80% dari 1 RM (intensitas tinggi) selama 12 minggu terjadi peningkatan kekuatan ekstensor lutut sebesar 107%. peningkatan kepadatan pembuluh kapiler dan peningkatan kualitas jaringan penghubung. Selain itu. latihan penguatan isotonik dengan squat selama 10 minggu menunjukkan peningkatan 4-5% peningkatan ekstensor panggul dan lutut. peningkatan kekuatan otot juga disebabkan perubahan biokimia otot yaitu peningkatan konsentrasi kreatin. Hasil TUG yang didapat pada penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil yang didapat dari penelitian sebelumnya.95% setelah 4 minggu latihan dan 36. Pada awal penelitian ini. dikarenakan otot yang belum terlatih pada awal latihan.1) detik. namun dari data yang didapat dilakukan uji korelasi Spearman dan didapatkan korelasi yang signifikan dengan r=0. Tulaar ABM18 juga mendapatkan peningkatan otot kuadrisep pada latihan isometrik yang tidak jauh berbeda. peningkatan jumlah total protein kontraktil khususnya kontraktil miosin.3 (1. Widjanantie18 mendapatkan kekuatan isometrik otot kuadriseps kelompok umur 50-65 tahun dengan NK Table sebesar 9. Dari intensitas yang dinilai berdasarkan Skala Borg dengan bantuan karikatur. intensitas latihan. Wijayalaksmi21 mendapatkan pada 42 usila umur 70. Januari 2011 7 .4) detik. rerata nilai TUG lebih dari 10 detik.

Leg extensor power and functional performance in very old men and women. and the occurrence of falls. Volum: 61. Riffenburgh RH. Systematic review of progressive resistance strength training in older adults.91. Exercise It’s never to late: the strong-for-life program. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Baltimore. Wilmore JH. Human Kinetics. Ploutz-Snyder RJ. 9. Khan KK. Chu LW. Influence of age on isometric. Carter MD. 2003. J Gerontol A Biol Sci Med Sci. Bell C. 1995. Edisi ke-4. 11. Evans WJ. 10. 1978. 2000. Aging of skeletal muscle: a 12-year longitudinal study. Elsevier Academic Press. Podsiadlo D. Pengukuran fungsi lutut dengan timed up and go test dan stair climbing test pada latihan isometrik kuadrisep femoris pasien osteoartirits lutut [tesis]. American Geriatrics Society. Wijayalaksmi P. Statistics in medicine. Wall JC. Colby LA.h. Bemben MG. Korelasi antara konsentrasi vitamin D dan mobilitas fungsional dasar pada perempuan usia lanjut [tesis]. Clin Sci. Whipple R. Nakamura M. Akan tetapi hasil dari Sousa dan Sampaio mendapatkan perubahan bermakna nilai TUG kelompok latihan dibandingkan kelompok kontrol pada populasi usila dengan rerata umur 73 (6) tahun. Campbell S. 1991.89:66-72.1:61-5. 2009. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.22 Untuk kegiatan bangkit dari duduk dan berjalan. Kimuro Y. 2001.116-8. Bennet DA. Rehfeld G. Liu-Ambrose T.34:60-72. 2000. et al. 6. Kesimpulan Peningkatan kekuatan otot kuadriseps femoris memperbaiki waktu TUG pada usia lanjut. Oya Y.8 detik. Tabata E. 2006. J Rehabil Res Dev.58:M862-6. Physiology of sport and exercise.88:1321-6. Widjanantie SC. J Am Geriatr Soc. Volume five of Philippine physical therapy textbook series. Runnels ED. banyak hal yang mempengaruhi TUG selain kekuatan otot.h. Anderson MA. J Geriatr Phys Ther. 2004. Kelly M. Cotton RT. Philadelphia: FA Davis. untuk mempertahankan fungsi mobilitas yang ditunjukkan oleh tes TUG. 1979. Phys Ther J. Costill DL. Dalam: Therapeutic exercise foundations and techniques. J Appl Physiol. 2.74:321-7. 2006. Fall risk assessment and knee extensor muscle activity in older people. Resistance Exercise. fleksibilitas tulang belakang dan panggul. Guideline for the prevention of falls in older persons.h. Chiu AYY. 2002. Jette AM. 1999. Morizono R. Oleh karena itu. RW/KN 8 Maj Kedokt Indon. and isokinetic force production characteristics in men. penyunting. Strength is a major factor in balance. Human Kinetics. Hasil ini menunjukkan bahwa TUG bisa digunakan untuk tes penapis untuk menyingkirkan kemungkinan risiko tinggi untuk jatuh. Fiatarone MA. Model dan efektivitas latihan endurans untuk peningkatan kebugaran penyandang disabilitas intelektual dengan obesitas [disertasi]. Journal of Gerontology: Medical Sciences. Judge J. 2002. Reyes TM.Kekuatan Otot dan Mobilitas Usia Lanjut Setelah Latihan Penguatan Isotonik menunjukkan TUG awal 14 detik dan TUG minggu ke-8 (setelah jatuh.59A:48. 7. 15. ShumwayCook et al. dalam tes TUG diperlukan hubungan biomekanik antar sendi tubuh yang baik. Fiatarone M. et al. Manila: UST Printing Office. Am J Publ Health. Stretton CM. Bemben DA. Roubenoff R. 1998. The timed get-up-and-go test revisited: Measurement of the component tasks. McKay HA. Ekeroth C. Hughes VA. 16. King M. 18. Larsson L. dan kontrol postural sistem keseimbangan yang terkait dalam koordinasi neuromus-kuloskeletal. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Davis J. Meta-analisis oleh Latham23 mengenai latihan penguatan progresif belum menunjukkan hasil yang signifikan antara TUG. Jakarta: Program Studi Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik. 1996. Nomor: 1. Edisi kedua. Resnicek E. Exercise for older adults. Giorgetti MM. Balance training and exercise in geriatric patients. ada rasa takut jatuh) menjadi 19.354) antara perubahan kekuatan otot kuadrisep dan perbaikan waktu TUG.39:142-8. Tamin TZ.457:136.49:664-72.454. 3. Yancy H. J Am Geriatr Soc. Hal tersebut menunjukkan pentingnya mempertahankan dan meningkatkan kekuatan otot. Eng KT. Wolfson L. Ann Acad Med Singapore. gait. Westhoff juga mendapatkan perbaikan nilai TUG setelah intervensi latihan penguatan. isotonic. American Academy of Orthopedic Surgeons Panel on Falls Prevention. Jakarta: Program Studi Ilmu Penyakit Dalam.57:B144-52. Incidence and predictors of falls in Chinese elderly. Anderson CS. 17. Fielding RA. The timed up and go: a test of basic functional mobility for frail elderly persons. Kisner C. Morphological and functional characteristics of the ageing skeletal muscle in man. Reyes OBL. Bassey E. Frontera WR. 5. Older women with osteoporosis have increased postural sway and weaker quadriceps strength than counterparts with normal bone mass: overlooked determinants of fracture risk? J Gerontol A Biol Sci Med Sci. Lipsitz L. lingkup gerak sendi panggul dan anggota gerak bawah. 14. 2000. Mori S. 21. Functionally relevant tresholds of quadriceps femoris strength. 19. 20. Lachman M. Kenney L. Evans W. O’Neil E. Runge M. Januari 2011 . Chi I. British Geriatrics Society. 37:109-14. 13. Acta Physiol Scand. 22.28:74-84. Therapeutic exercie I. 2005.12 menentukan batas nilai 14 detik untuk membedakan kelompok jatuh dan kelompok non-jatuh. 8. Pada penelitian ini didapatkan korelasi sedang (r =-0. 23. khususnya otot kuadrisep femoris.h. Richardson S.50A:B64-7. 2008. J Gerontol Biol Sci. J Musculoskel Neuron Interact. ACE guidelines for fitness professionals. Daftar Pustaka 1. 2005. Wolf DA.124-40. 4. kekuatan otot penopang postur. 1992. Akan tetapi waktu tes TUG antara 20-30 detik tidak berarti menyingkirkan risiko. 12. Manini TM. Latham NK. Ploutz–Snyder LL. 2005.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.