P. 1
MENCAPAI VISI 2030: SEBUAH MODEL MAKROEKONOMI INDONESIA DENGAN PEMODELAN SYSTEM DYNAMICS

MENCAPAI VISI 2030: SEBUAH MODEL MAKROEKONOMI INDONESIA DENGAN PEMODELAN SYSTEM DYNAMICS

5.0

|Views: 6,757|Likes:
Thesis ini menguraikan keunggulan dan kelemahan yang dimiliki Indonesia untuk menjadi negara dengan kekuatan PDB terbesar pada tahun 2030. System Dynamics digunakan sebagai metodologi yang digunakan untuk membuat model makroekonomi Indonesia guna menganalisa kemampuan Indonesia untuk menjadi salah satu negara dengan PDB terbesar didunia.
Thesis ini menguraikan keunggulan dan kelemahan yang dimiliki Indonesia untuk menjadi negara dengan kekuatan PDB terbesar pada tahun 2030. System Dynamics digunakan sebagai metodologi yang digunakan untuk membuat model makroekonomi Indonesia guna menganalisa kemampuan Indonesia untuk menjadi salah satu negara dengan PDB terbesar didunia.

More info:

Published by: Muhamad Khairul Bahri on Aug 11, 2009
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

Sections

MENCAPAI VISI 2030: SEBUAH MODEL MAKROEKONOMI INDONESIA DENGAN PEMODELAN SYSTEM DYNAMICS

TESIS

Karya tulis sebagai salah satu syarat Untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung

Oleh

MUHAMAD KHAIRUL BAHRI NIM : 24007044 Program Studi : Studi Pembangunan

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2008

ABSTRAK
MENCAPAI VISI 2030: SEBUAH MODEL MAKROEKONOMI INDONESIA DENGAN PEMODELAN SYSTEM DYNAMICS

Oleh MUHAMAD KHAIRUL BAHRI NIM : 24007044

Dua lembaga konsultan keuangan dunia, Price Water House Coopers (2006) dan Goldman Sachs (2007), memprediksi bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar pada tahun 2050. Goldman Sachs dalam makalahnya yang berjudul N-11: More than Acronym menggolongkan Indonesia dalam kelompok Next-Eleven (N-11) pada urutan ke 7. N-11 adalah kelompok 11 negara yang mempunyai potensi pertumbuhan ekonomi besar dan diprediksi akan merajai PDB dunia setidaknya paling lambat tahun 2050. Senada dengan Goldman Sachs, Price Water House Coopers juga menetapkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor 6 paling lambat pada tahun 2050 dalam artikel berjudul “The World in 2050”. Bahkan untuk menguatkan prediksi itu telah terbit visi 2030 (www.indforum.org) yang menyatakan bahwa Indonesia akan mampu tampil sebagai negara dengan kekuatan ekonomi ke-lima didunia dengan pendapatan per kapita US$ 18.000 per tahun pada tahun 2030. Perkembangan ekonomi Indonesia tahun-tahun terakhir ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke arah yang positif. Peningkatan besaran PDB (Produk Domestik Bruto) yang ditandai dengan tingkat inflasi yang relatif rendah dan nilai tukar yang relatif stabil menunjukkan peluang Indonesia untuk tampil sebagai negara adidaya ekonomi. Analisis dengan suatu pendekatan system dynamics menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia mempunyai peluang untuk mewujudkan visi 2030, jika arah pembangunan diarahkan dengan meletakkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada peningkatan investasi dan penguasaan teknologi. Pendekatan business as usual dalam perekonomian Indonesia tidak memadai untuk memandu Indonesia mencapai visi 2030. Hasil studi menunjukkan bahwa: a) perekonomian Indonesia cenderung ke arah overheating economy, karena mengandalkan konsumsi sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi; b) perlunya pengarahan pembangunan Indonesia pada sektor investasi dan daya saing iptek sehingga pertumbuhan ekonomi sejalan dengan penyediaan kesempatan kerja dan kemandirian perekonomian; c) diperlukan orientasi pengembangan industri yang mengurangi kebergantungan

ii

pada produk impor; dan d) peningkatan kerjasama industri, perguruan tinggi dan pemerintah dalam mewujudkan visi 2030. Kata kunci : teknologi , visi 2030, system dynamics

iii

ABSTRACT

ACHIEVING THE VISION 2030: AN INDONESIA MACROECONOMIC MODEL WITH SYSTEM DYNAMICS MODELING

BY

MUHAMAD KHAIRUL BAHRI NIM : 24007044

Price Water House Coopers (2006) and Goldman Sachs (2007), predict that Indonesia will be one of the great economic blockbusters in year 2050. Goldman Sachs in a titled article N-11: More than Acronym supposed that Indonesia will be the seventh world economic blockbuster. N-11 is a group of eleven countries around the world that will dominate world GDP by year 2050. In line with Goldman Sachs, Price Water House Coopers also predict that Indonesia has potential chance to be the sixth economy blockbuster by late 2050 in an article of “The World in 2050”. Indonesian experts who named themselves as Yayasan Indonesia Forum (www.indforum.org) also has same prediction with those institusions’s prediction. Yayasan Indonesia Forum account Indonesia’s vision of 2030 which suppose that Indonesia will be the top of five of the world largest GDP by year 2030 with predicted income per capita US$ 18.000. Within later decade, Indonesia noted good economic growth. Indonesia’s economic growth reached (4-6) % per year accompanied by low inflation and stable exchange rate that show Indonesia’s chance to be one of the world largest GDP. Analysis with system dynamics reveals that Indonesia has chance to achieve the vision 2030, if the economy strengthen investment as leading sector with enhancing technology capability. Analysis also show that business as usual approach not suitable to reach the vision 2030. This study summarize of the following results a) Indonesia economy tend to be overheating economy, caused consumption being a dominant factor in economic growth b) we shall arrange the economic development to account investment as leading sector and enhance our technological capability so that economic development in line with labor demand and high economic foundation c) we shall

iv

minimize our dependency to import by developing suitable industry; and d) enhancing coordination beneath industry, university and government to achieve the vision of 2030. Keyword: technology, the vision of 2030, system dynamics

v

PEDOMAN PENGGUNAAN TESIS
Tesis S2 yang tidak dipublikasikan terdaftar dan tersedia di Perpustakaan Institut Teknologi Bandung, dan terbuka untuk umum dengan ketentuan bahwa hak cipta ada pada pengarang dengan mengikuti aturan HaKI yang berlaku di Institut Teknologi Bandung. Referensi kepustakaan diperkenankan dicatat, tetapi pengutipan atau peringkasan hanya dapat dilakukan seizin pengarang dan harus disertai dengan kebiasaan ilmiah untuk menyebutkan sumbernya.

Memperbanyak atau menerbitkan sebagian atau seluruh tesis haruslah seizin Direktur Program Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung.

vi

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur atas segala rahmat dan karunia-Nya, penulis telah berhasil menyelesaikan penulisan tesis S2 pada Program Magister Studi Pembangunan ITB ini dengan Judul: Mencapai Visi 2030: Sebuah Model Makroekonomi Indonesia Dengan Pemodelan System Dynamics. Selama pembuatan tesis, penulis menyadari bahwa tesis ini takkan dapat diselesaikan tanpa bantuan dari banyak pihak baik bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan dan ketulusan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada: 1. Bapak Dr. Ir. Muhammad Tasrif, M.Eng, selaku Ketua Program Studi Pembangunan dan sekaligus sebagai dosen pembimbing penulis, yang telah memberikan arahan dan masukan yang sangat berguna dalam penyelesaian penelitian dan penulisan tesis ini. 2. Bapak Dr. Ir. Sonny Yuliar dan Dr. Ir. Indra Budiman Syamwil selaku dosen dan sekaligus sebagai penguji tesis. Banyak sumbangan pemikiran yang kemudian menyempurnakan tesis ini. 3. BPKSDM Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mendapatkan beasiswa tugas belajar di Institut Teknologi Bandung. 4. Pemerintah Daerah Kota Mataram yang telah memberikan dukungan kepada penulis selama dalam selama proses pendidikan. Terima kasih khususnya kepada Bapak Mustaan dan Mas Rudi atas bantuan untuk ijin belajarnya. 5. Seluruh staf administrasi Program Studi Pembangunan ITB yang telah banyak membantu penulis selama proses perkuliahan dan menyelesaikan tesis ini. Terima kasih untuk Pak Gunawan, Pak Tarsiwad, Mbak Fitri dan Mbak Yani atas segala bantuannya selama penulis mengikuti studi.

vii

6.

Seluruh rekan-rekan Angkatan 2007 SP-ITB khususnya kelas PU-Bandung, terutama kepada Jopi Herlian Joeniaga, Sri Damar Agustina, Fitri Novitasari, Adri Yanti Rivai serta Nurul Fajri (Rully) yang telah membantu baik berupa saran maupun dukungan moril sehingga penulis dapat merampungkan penulisan tesis ini.

Penghargaan yang setulus-tulusnya penulis sampaikan kepada Aurik Gustomo yang telah sangat banyak membantu selama penulis melaksanakan studi, baik bantuan moril dan materiil. Tesis ini juga saya persembahkan untuk Bapak-Ibu, my beloved wife (Rida), dan my funny little girls (Ema dan Alia) atas kesabaran, doa dan dukungan kepada penulis selama dalam menyelesaikan studi. Yang terakhir, semoga saja tesis ini memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi pembangunan Indonesia.

Bandung, September 2008

Muhamad Khairul Bahri

viii

DAFTAR ISI
ABSTRAK ......................................................................................... ABSTRACK ........................................................................................ PEDOMAN PENGGUNAAN TESIS ............................................... KATA PENGANTAR ....................................................................... DAFTAR ISI ........................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................... DAFTAR GAMBAR …..................................................................... DAFTAR TABEL ................................................................................ BAB I Pendahuluan I.1 I.2 I.3 I.4 I.5 I.6 BAB II Latar belakang .......................................................... 1 Perumusan masalah ………………………………… 2 Tujuan penelitian ....................................................... 5 Lingkup Permasalahan ......................................... 5 i iii v vi viii xi xii xiv

Metodologi penelitian ................................................ 5 Sistematika Pembahasan ............................................. 6

Landasan Pustaka II.1 II.1.1 II.2 II.3 II.3.1 II.3.2 II.4 Pengertian Produk Domestik Bruto Beberapa Indikator Ekonomi Masalah Pengangguran Teori Pertumbuhan Solow Potensial Output Pengertian Produktivitas System Dynamics ……............. 7

……….…………….. 9 …………………… 12 …………… 14

……………………… ……………………… ………………………

15 17 19 19 20 21 26 27

II.4.1 Sejarah dan Prospeknya di Masa Datang ………… II.4.2 Sejarah dan Asal-Muasal ……………… ………… II.4.3 Prinsip System Dynamics …………… ………… II.4.4 Aplikasi-Aplikasi System Dynamics …………….. II.5 Visi Indonesia 2030 ……………….

ix

BAB III

Metodologi Penelitian III.1 III.2 System Dynamics Sebagai suatu Metodologi ............. 31 Pemodelan System Dynamics ……………………….. 32 33 35 35 37 43

III.2.1 Proses Pengenalan Masalah ………………………. III.2.2 Konseptualisasi Sistem .………………………… III.2.3 III.2.4 Formulasi Model .………………………………… Pengujian dan Pengembangan Model ……………

III.2.5 Analisis Kebijakan dan Penggunaan Model ……… BAB IV

Gambaran Umum Perekonomian Indonesia dan Model Makroekonomi IV.1 IV.1.1 IV.1.2 IV.2 IV.2.1 Gambaran Makroekonomi Indonesia ……………. 45 Pertumbuhan PDB dari segi Pengeluaran …………. 45 Pertumbuhan PDB dari segi Lapangan Usaha …….. 46 Model Dasar Makroekonomi dalam Sistem Dinamis . 50 Sektor Pengeluaran Pemerintah (GS-Government

Spending)………………………………………………………. 53 IV.2.2 Sektor Potensial Output, Aggregate Demand dan Net

Ekspor ………………………………………………………….. 55 IV.2.3 Sektor Permintaan Jangka Panjang dan Jangka Pendek

(Long Run Expexted Demand = LED dan Short Run Expected Demand=SED) …………………………………………………… 57 IV.2.4 Sektor Tenaga Kerja, Kapital, dan Pendapatan Per Kapita …58 IV.3 IV.4 BAB V Uji Validitas Model ……………………………….. Perilaku Model ….…………………………….. 59 62

Analisis Dan Pembahasan V.1 V.1.1. V.1.2. V.1.3. V.2 V.3 Simulasi Berbagai Skenario ……..…………………….. 66 Skenario Business as Usual ……………………………. 66 Skenario pertumbuhan Macan Asia ……………………. 66 Skenario peningkatan (Industri Padat Modal) ……….. 67

Analisis Hasil Simulasi……….…………….…………… 68 Perbandingan Pertumbuhan Output dan Tingkat Pengangguran ………..………………….……………. 74

V.4

Fungsi Intermediasi Perbankan ……………………….. 76

x

V.5

Struktur Industri Indonesia dan Kemampuan Iptek Indonesia …………………………………………… 76

V.6 BAB VI

Modal Sosial Pembangunan ………………………… 79

Kesimpulan dan Saran VI.1 VI.2 Kesimpulan ............................................................... 81 Saran-saran ............................................................... 82

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... ........... 85

xi

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Persamaan model (dalam Powersim) ……………………. 86 Prosedur Statistik Pengujian Model ………...……………. 89 Fitting ( )Alpha …………………….…………………… 93 Pentingnya TPF (Total Productivity Factor) dan Interaksi TPF dengan ……………………. 94

Lampiran 5 Perbandingan Sumber Daya Iptek Indonesia dengan Negara Lain .96 Lampiran 6 Pengembangan Sektor Industri di Indonesia ……………… 98

xii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Rasio Hutang Indonesia terhadap PDB ……….…………….. 2 Gambar 1.2 Pertumbuhan PDB dan PDB per kapita …………………….. 3 Gambar 2.1 PDB harga konstan 1993 & 2000 dan PDB harga berlaku …. 8 Gambar 2.2 Perbandingan Deflator PDB dan IHK (tahun dasar 2000)….… 10 Gambar 2.3 System Dynamics sebagai suatu metoda …………………… 22 Gambar 2.4 PDB Per Kapita Indonesia, 1990 – 2030 …………………….. 28 Gambar 2.5. GDP Harga Berlaku 5 Negara Terbesar, 2005 dan 2030 …… 28 Gambar 3. 1 Sebuah sistem ………………. ……………………………… 31 Gambar 3.2 Prosedur pemodelan system dynamics menurut Saeed (1994) . 33 Gambar 4.1 Pertumbuhan PDB Indonesia dan Persentase Sektor Pertanian vs Sektor Pengolahan terhadap PDB Indonesia ……………………………. 49 Gambar 4.2 Causal Loop Model Makroekonomi ……..…………………. 51 Gambar 4.3 Flow Diagram Sektor Government dan Permanent Income . 54 Gambar 4.4 Flow Diagram Sektor Aggregate Demand, Potential Output dan Inflasi serta Net Export ……………………………….…………………. 56 Gambar 4.5 Flow Diagram Sektor Kapital, SED dan LED ……………… 57 Gambar 4.6 Flow Diagram Sektor Tenaga Kerja dan Pendapatan per Kapita.58 Gambar 4.7 Flow Diagram Sektor Padat Modal ………………………… 59 Gambar 4.8 Hasil berbagai simulasi skenario dasar (business as usual)…. 63 Gambar 5.1 Causal loop dan TPF …………… …………..............…... 65

Gambar 5.2 Output PDB (Rp) ................……………………………….. 67 Gambar 5.3 Pendapatan Per Kapita (US$ per jiwa-thn) ………………... 67 Gambar 5.4 Potential Output (Rp) ……………………………………….. 67 Gambar 5.5 Kapital Output Ratio ……………………………………….. 67 Gambar 5.6 Koefisien (Betha) ……………………………………..…. 68

Gambar 5.7 Capital Labour Ratio ………………………………………. 68 Gambar 5.8 Price Level (P) …………………………………………….. 68 Gambar 5.9 Rasio Investasi-PDB .………………………………………… 68 Gambar 5.10 Desired Investment vs Investment……………………….…. 68 Gambar 5.11 Jumlah Tenaga Kerja ……………………………………... 68

xiii

Gambar 5.12 Peranan Investasi sebagai leading pertumbuhan ekonomi …. 69 Gambar 5.13 Diagram Flow yang menjelaskan hubungan antara tingkat investasi yang tersedia …………….…………………………………………. 73

Gambar 5.14 Tingkat Investasi yang Tersedia ……………………………. 73 Gambar 5.15 Indikator Kemudahan Berinvestasi di Indonesia …………… 75

xiv

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Karakteristik System Dynamics (Myrtveit, 2005) ………………. 32 Tabel 3.2 Pengujian-pengujian dalam System Dynamics…….……………. 41

Tabel 4.1 PDB Indonesia 1995-2006 (PDB Berdasarkan Jenis Pengeluaran). 47 Tabel 4.2 Persentase Jenis Pengeluaran terhadap PDB Indonesia 1995-2006. 47 Tabel 4.3 Persentase Pengeluaran terhadap Pertumbuhan PDB Indonesia 19952006 ……..………………………. 47

Tabel 4.4 PDB Indonesia 1995-2006 (PDB Berdasarkan Sektor Industri )… 48 Tabel 4.5 Persentase Sektor Industri Terhadap PDB Indonesia 1995-2006 .. 48 Tabel 4.6 Persentase pertumbuhan sektor industri terhadap pertumbuhan PDB Indonesia 1995-2006 ……………………………………………. 49 Tabel 4.7 Daftar Variabel Model …………………………………..…….. Tabel 4.8 Uji Validitas Penduduk ……………………………………… 50 60

Tabel 4.9 Uji Validitas Output …………………………………………….. 60 Tabel 4.10 Uji Validitas PDB per kapita ……….…………………………. 61 Tabel 4.11 Uji Validitas Price Level ………………………………..……. 61

Tabel 4.12 Data yang digunakan untuk simulasi model dasar ……………. 61 Tabel 5.1 Persentase Impor Indonesia menurut golongan barang …..…… Tabel 5.2 Perbandingan Hasil Simulasi ……..…………………………… 72 71

Tabel 5.3 Dana Pihak Ketiga Yg Terhimpun di Perbankan Indonesia (Milyar).72 Tabel 5.4 Realisasi FDI ………………………………………………….. 73 Tabel 5.5 Tingkat Pengangguran vs Pertumbuhan PDB ………………… 74 Tabel 5.6 Persentasi Investasi Terhadap PDB …………………………… 74 Tabel 5.7 Data Perkembangan Perbankan Indonesia …………………… 76 Tabel 5.8 Jumlah Paten Indonesia dan Negara Tetangga ………………. 78 Tabel 5.9 Perbandingan modal sosial dan institusi penelitian ………….. 80

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Dua lembaga konsultan keuangan dunia, Price Water House Coopers (2006) dan Goldman Sachs (2007), memprediksi bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar pada tahun 2050. Goldman Sachs dalam makalahnya yang berjudul N-11: More than Acronym menggolongkan Indonesia dalam kelompok Next-Eleven (N-11) pada urutan ke 7. N-11 adalah kelompok 11 negara yang mempunyai potensi pertumbuhan ekonomi besar dan diprediksi akan merajai PDB dunia setidaknya paling lambat tahun 2050. Senada dengan Goldman Sachs, Price Water House Coopers juga menetapkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor 6 paling lambat pada tahun 2050 dalam artikel berjudul “The World in 2050”. Ada banyak pertimbangan kedua lembaga tersebut menempatkan Indonesia layak sebagai salah satu bakal kekuatan ekonomi terbesar pada tahun 2050 yang akan datang. Antara lain adanya pertumbuhan ekonomi yang mempunyai rentang 4% 6% per tahun, jumlah populasi yang besar dan stabilnya nilai tukar rupiah dalam tahun-tahun terakhir ini. Indonesia sendiri, berdasarkan perkiraan di atas, telah membuat visi Indonesia 2030 (YIF, 2007) yang pada intinya merumuskan visi Indonesia untuk menjadi negara industri tangguh pada tahun 2030, dimana pada saat itu pendapatan per kapita Indonesia diperkirakan akan mencapai US$ 18.000 per tahun. Dari segi ekonomi sendiri, Indonesia sendiri mempunyai beberapa keunggulan yaitu: a) jumlah populasi yang sangat besar (Indonesia termasuk negara berpenduduk terbesar ke empat di dunia), b) kekayaan alam yang melimpah, c) kemandirian Indonesia dari IMF – dengan melunasi semua komitmen utang luar negeri Indonesia (sesuai Letter of Intent yang ditandatangani tahun 1997), dan d) keberhasilan Indonesia meraih pertumbuhan ekonomi yang mendekati angka 6% per tahun (sama dengan pertumbuhan ekonomi sebelum krisis moneter). Yang tidak kalah penting ialah menurunnya rasio utang luar negeri terhadap PDB yang

2

berkisar 80% (pada tahun 2000) menjadi kurang 40% tahun 2007, seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 1.1 di bawah ini (Bank Dunia, 2008). Beberapa perubahan positif di atas jika dimanfaatkan dengan baik, dapat menempatkan Indonesia pada posisi terhormat sesuai perkiraan di atas.

Gambar 1.1 Rasio Hutang Indonesia terhadap PDB (sumber: Bank Dunia)

Untuk itu perlu disadari pentingnya kita memahami struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk meraih visi Indonesia 2030 sekaligus meraih posisi terhormat sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia terbesar pada tahun 2050. Pemahaman struktur perekonomian suatu negara sangatlah penting, di antaranya untuk mengetahui kelebihan dan kelemahannya. Dengan memahami kelebihan dan kekurangannya, kita dapat mengambil kebijakan-kebijakan yang strategis untuk meraih kemajuan yang kita harapkan. Di sisi lain, selama ini kajian makroekonomi Indonesia yang ada hanya berkutat mengenai peran TPF (Total Productivity Factor=Faktor Produktivitas Total) dalam pertumbuhan ekonomi. Dengan metodologi system dynamics, penulis akan melakukan pendekatan yang dinamis dan menyeluruh dengan melihat interaksi di antara
1

dan TPF sehingga kita dapat mengenali kelebihan dan kelemahan

perekonomian kita. Dan dari itu kita dapat menetapkan strategi yang paling tepat bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang kita harapkan bersama. Yang juga menjadi sumber perbedaan pendapat dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah “ bagaimana sebaiknya pengembangan sektor industri ? ”. Suatu pendapat menyatakan pentingnya pengembangan sektor industri padat

1

adalah bagian prosentase output yang dihasilkan kapital

3

karya agar pertumbuhan ekonomi mampu menyerap tenaga kerja yang relatif banyak daripada kita mengembangkan industri padat modal. Pendapat lain juga menyatakan perlunya kita mengembangkan industri padat modal karena produk padat modal merupakan produk yang bernilai tambah tinggi sehingga dapat meningkatkan profitabilitas usaha. Kenyataan yang kita hadapi memberikan fakta bahwa industri padat karya seperti industri sepatu, TPT (tekstil dan produk tekstil) mengalami masa-masa sulit akibat serbuan produk impor dengan harga jauh lebih murah. Industri padat karya yang selama ini kita andalkan untuk meningkatkan kesediaan lapangan kerja justru yang paling pertama mengurangi jumlah karyawannya belakangan ini. Timbul pertanyaan bagaimana seharusnya kita membangun industri yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi jumlah pengangguran. I.2 Perumusan Masalah Standar kehidupan suatu negara sangat ditentukan oleh fungsi produksinya (Mankiew, 2003). Semakin tinggi nilai fungsi produksi atau makin tinggi tingkat produksinya, maka makin besar potensi negara tersebut untuk meningkatkan standar kehidupannya. Besaran fungsi produksi dipengaruhi oleh jumlah kapital, tenaga kerja dan faktor produktivitas total (total productivity factor). Ketiga faktor ini sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi.

Gambar 1.2 Pertumbuhan PDB dan PDB per kapita

Seperti yang yang dapat kita amati dalam Gambar 1.2 diatas (Thomson, Western, 2007) ada perbedaan yang mencolok dalam pertumbuhan standar kehidupan antar

4

negara. Negara-negara di benua Afrika umumnya mengalami pertumbuhan standar kehidupan yang relatif datar, di sisi lain negara-negara Macan Asia tumbuh sangat pesat. Bahkan pertumbuhan Macan Asia (Taiwan, Korea Selatan, Singapore dan Hongkong) jauh lebih pesat dibandingkan dengan pertumbuhan negara maju (Amerika Serikat dan Eropa Barat). Studi terakhir menunjukkan bahwa pertumbuhan standar kehidupan Macan Asian didukung oleh peningkatan rasio investasi terhadap PDB (yang akan meningkatkan jumlah kapital) dan peningkatan produktivitas (Mankiew, 2003). Pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu negara dipengaruhi oleh jumlah tenaga kerja, jumlah kapital dan tingkat penguasaan teknologi. Makin tinggi salah satu faktor di atas (jumlah kapital, tenaga kerja dan faktor produktivitas total), maka makin tinggi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Karena itu memahami peran kapital, tenaga kerja dan faktor produktivitas total dalam struktur ekonomi suatu negara menjadi hal yang amat penting difahami untuk menggiring ekonomi suatu negara ke arah yang lebih baik. Dalam pandangan ekonomi, jumlah populasi dan kapital merupakan suatu keniscayaan untuk melakukan kegiatan ekonomi. Jumlah populasi kita yang besar merupakan suatu faktor penting yang jika dapat kita kelola dengan baik dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang penting. Di sisi lain, jumlah kapital yang berasal dari investasi (dalam dan luar negeri) merupakan alat produksi yang kita butuhkan untuk meningkatkan jumlah produksi. Sedangkan untuk menggunakan kapital itu sendiri diperlukan pengetahuan dan penguasaan teknologi yang memadai. Tanpa penguasaan teknologi yang memadai, maka kita takkan dapat menggunakan kapital tersebut secara memadai. Inilah gambaran keterkaitan penting antara tenaga kerja, kapital dan tingkat penguasaan teknologi. Tingkat penguasaan teknologi erat kaitannya dengan faktor produktivitas total, makin tinggi penguasaan teknologi dan makin kondusif interaksi di antara masyarakat-swasta-pemerintah, makin besar potensi untuk meningkatkan produktivitas output suatu negara.

5

Dalam penelitian ini yang akan dikaji ialah ”Bagaimana peran kapital, tenaga kerja dan penguasaan teknologi dalam struktur ekonomi Indonesia ?”. Dalam kaitan dengan rumusan permasalahan akan dikaji hal-hal sebagai berikut: 1) bagaimana struktur dan perilaku sistem perekonomian Indonesia; 2) apa saja faktor-faktor pendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia; dan 3) dengan memahami jawaban pertanyaan di atas, bagaimana skenario pertumbuhan agar Indonesia dapat mencapai visi 2030. I.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini antara lain : membuat model struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia jangka panjang untuk memprediksi pertumbuhan ekonomi ke depan guna menyusun skenario menuju visi Indonesia 2030, khususnya mencapai sasaran kuantitatif pendapatan per kapita US$ 18.000 per tahun. Selain itu juga dapat diketahui pengaruh pertumbuhan kapital dan tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. I.4 Lingkup Permasalahan Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini dibatasi untuk menyusun skenario-skenario kebijakan ekonomi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju visi Indonesia 2030. Pemahaman atas struktur ekonomi dilakukan dengan pemodelan sistem yang dibangun dari serangkaian proses tiruan dunia nyata. Melalui pemahaman atas perilaku sistem yang tidak diinginkan akan ditemukan pilihan skenario kebijakan yang dapat mengurangi atau dalam kondisi yang tidak kita inginkan, sehingga kita dapat membangun suatu struktur ekonomi yang kokoh dan mampu membimbing kita ke arah yang kita cita-citakan. I.5 Metodologi Penelitian Penelitian dimulai bulan Juli 2008 dengan melakukan pengumpulan data-data pertumbuhan ekonomi Indonesia. Data-data yang dikumpulkan antara lain: data PDB (Produk Domestik Bruto), jumlah tenaga kerja dan jumlah investasi. Metodologi dinamika sistem (system dynamics) digunakan untuk menyusun struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia jangka panjang dan merumuskan skenario-skenario guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Kemampuan system dynamics dalam mempresentasikan struktur dan perilaku

6

sistem serta kemampuan simulasinya untuk memprediksi masa depan merupakan faktor penting pemilihan system dynamics sebagai metodologi penelitian. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, kemampuan system dynamics untuk mempresentasikan interaksi dan Faktor Produktivitas Total (TPF) juga dan TPF

merupakan alasan lain yang dianggap penting. Interaksi dinamis

mampu membantu kita melakukan pendekatan yang dinamis dan menyeluruh untuk memahami struktur perekonomian kita sehingga dapat mengenali kelebihan dan kelemahan perekonomian kita. Langkah-langkah analisis adalah sebagai berikut ini: 1) menelaah faktor-faktor pertumbuhan Indonesia. Termasuk pengaruh sektor konsumsi, pemerintah, impor dan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi. Termasuk mengkaji peran kapital dan jumlah tenaga kerja Indonesia; 2) membuat model system dynamics yang menggambarkan struktur

perekonomian Indonesia; dan 3) hasil simulasi model yang dibuat di atas dibandingkan dengan data aktual pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika ditemukan kesamaan, maka model selanjutnya digunakan untuk memprediksi pertumbuhan ekonomi ke depan dengan sejumlah skenario. Skenario pertumbuhan ekonomi ke depan dibuat berdasarkan telaah butir 1 di atas. I.6 Sistematika Penulisan Bab I terdiri atas latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, lingkup permasalahan, metodologi penelitian dan sistematika penulisan yang akan memberi batas dan arahan dalam tesis ini. Bab II mencakup konsep-konsep ilmu ekonomi, system dynamics dan visi 2030 yang menjadi dasar penulisan tesis ini. Bab III akan menguraikan tentang metodologi penelitian yang akan menjadi guidelines dalam proses penelitian tesis ini, sedangkan Bab IV menguraikan gambaran umum perekonomian Indonesia dan model dasar yang digunakan dalam penelitian ini. Bab V merupakan tahapan simulasi, analisis dan pembahasan perilaku model untuk semua skenario kebijakan. Bab VI berisi kesimpulan dan saran dari hasil simulasi dan analisis kebijakan.

7

BAB II LANDASAN PUSTAKA
II.1 Pengertian Produk Domestik Bruto (PDB) Kegiatan ekonomi secara garis besarnya dapat digolongkan dalam kegiatan

produksi dan konsumsi barang dan jasa. Sejumlah perusahaan memproduksi barang dan jasa yang menghasilkan pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh berbagai golongan dalam masyarakat, sehingga dari pendapatan ini masyarakat akan membeli barang dan jasa baik untuk keperluan konsumsi maupun investasi. Karena itu, nilai produk akhir dari barang dan jasa yang diproduksi suatu golongan akan sama dengan pendapatan yang diterima oleh golongan-golongan lain dalam masyarakat dan akan sama pula dengan jumlah pengeluaran oleh berbagai golongan dalam masyarakat. Atas prinsip dasar di atas maka PDB yang didasarkan jumlah produksi, PDB berdasarkan jumlah pendapatan dan PDB berdasarkan jumlah pengeluaran sebenarnya sama. Hanya cara melihatnya saja yang berbeda : Kalau ditinjau dari segi produksi, PDB adalah merupakan jumlah nilai produk akhir atau nilai tambah dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh unitunit produksi yang dimiliki oleh suatu negara dalam jangka waktu tertentu. Ditinjau dari segi pendapatan, PDB adalah merupakan jumlah pendapatan yang diterima oleh faktor produksi yang dimiliki oleh seluruh masyarakat di suatu negara dalam jangka waktu tertentu. PDB yang dihitung berdasarkan jumlah pengeluaran konsumsi keseluruhan masyarakat disuatu negara dinamakan PDB atas pengeluaran. Hubungan antara PDB di atas dapat dirumuskan dalam persamaan berikut, PDB atas produksi = PDB atas pendapatan = PDB atas pengeluaran. Dalam format laporannya, PDB disajikan 2 bentuk nilai tukar yaitu PDB atas harga konstan (GDP at constant prices) dan PDB atas harga berlaku (GDP at current prices). PDB atas harga konstan adalah PDB yang dihitung atas harga dasar pada tahun yang telah ditetapkan (standar internasional mempersyaratkan tahun dasar PDB

8

harus digit 0 atau 5, misal tahun dasar 2000 dan 2005). PDB atas harga berlaku ditetapkan berdasarkan harga tahun berjalan. Perbandingan antara PDB harga berlaku dan PDB harga konstan dapat dipakai sebagai indikator umtuk melihat tingkat inflasi atau deflasi yang terjadi (deflator PDB). Penyajian PDB secara sektoral dapat memperlihatkan struktur ekonomi di wilayah itu. Bila angka PDB dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja, atau jumlah input yang digunakan, akan dapat menggambarkan tingkat produktifitas secara sektoral maupun menyeluruh. Sejak tahun 2004, BPS mempublikasikan pertumbuhan ekonomi dan nilai PDB atas dasar harga konstan 2000 (sebelumnya menggunakan harga konstan 1993) untuk menjelaskan pertumbuhan ekonomi yang lebih realistis dan memperlihatkan perubahan struktur ekonomi terkini. Nilai PDB atas harga konstan tahun 2000 lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi atas dasar harga konstan 1993. Sebagai contoh, nilai PDB pada tahun 2003 atas dasar harga konstan 1993 sebesar Rp. 444.453,5 milyar atau tumbuh sebesar 4,10 persen jika dibandingkan tahun 2002. Sementara nilai PDB pada tahun 2003 atas dasar harga konstan 2000 menjadi Rp. 1.579.558,9 milyar atau tumbuh sebesar 4,51 persen. Gambar 2.1 mengilustrasikan PDB atas harga konstan 1993 dan 2000.
3.000.000

2.500.000

PDB harga berlaku (Rp.billion) PDB 2000=100 (Rp.billion) PDB 1993=100 (Rp.billion)

2.000.000

1.500.000

1.000.000

500.000

0 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005

Gambar 2.1 PDB harga konstan 1993 & 2000 dan PDB harga berlaku

9

PDB yang disajikan dalam bentuk neraca akan menggambarkan bagaimana barang dan jasa itu di produksi, di konsumsi, di investasikan maupun di ekspor, dan bagaimana sumber-sumber pembiayaan terhadap konsumsi, investasi maupun ekspor atau impor. Dengan demikian kita dapat memahami bahwa angka-angka yang disajikan oleh PDB dapat menggambarkan kondisi ekonomi yang terjadi, baik mengenai struktur ekonomi di masa lalu, keadaan yang sedang berjalan maupun kemungkinankemungkinan dimasa yang akan datang. Dengan demikian PDB berfungsi sebagai: Indikator pertumbuhan ekonomi; Indikator pertumbuhan pendapatan per kapita; Indikator inflasi dan deflasi; Indikator struktur perekonomian; Indikator hubungan antar sektor. Karena itu PDB menyajikan data-data yang sangat berguna jika kita ingin melakukan perencanaan ekonomi (jangka pendek atau jangka panjang) atau untuk menilai kebijakan ekonomi suatu negara. II.1.2 Beberapa Indikator Ekonomi Dalam memahami pertumbuhan ekonomi suatu negara dikembangkan-lah beberapa indikator ekonomi yang umumnya dapat kita temui dalam berbagai media massa atau laporan ekonomi: a. Inflasi Harga dari waktu ke waktu selalu berubah. Secara umum semakin stabil keadaan ekonomi suatu negara, makin rendah tingkat inflasinya. Ada dua jenis perubahan harga atau inflasi yang dikenal yaitu a) Indeks Harga Konsumer dan Deflator PDB. IHK (Indeks Harga Konsumen) merupakan perhitungan yang digunakan untuk menghitung perubahan harga atas komoditi yang telah ditetapkan jenisnya. Karena IHK sering dinamakan inflasi dengan komoditi tetap. Penetapan komoditi dalam perhitungan IHK didasarkan atas perhitungan barang dan jasa yang paling sering dikonsumsi oleh golongan masyarakat atau rumah tangga. Sedangkan

10

deflator PDB merupakan hasil bagi PDB harga berlaku dengan PDB harga konstan untuk tahun yang sama. Para ahli ekonomi sering bertanya-tanya ukuran inflasi yang manakah yang paling efektif dalam menggambarkan keadaan ekonomi suatu negara ?. Apakah inflasi dari IHK atau Deflator PDB lebih baik dari yang lain dalam menggambarkan perubahan harga ? Jawabannya ternyata tidak ada satu yang paling unggul diantara kedua cara perhitungan inflasi diatas (Mankiew, 2003). Ilustrasinya demikian. Jika suatu hari, terjadi kegagalan panen jeruk, maka IHK akan cenderung menghitung inflasi yang terlalu tinggi karena tidak menghitung kemungkinan subsitusi jeruk dengan apel. Disisi lain, deflator PDB dalam kasus yang sama mungkin tidak dapat menangkap penurunan daya beli masyarakat karena kenaikan harga jeruk. Untungnya dalam praktek perbedaan atas inflasi yang dihitung dari IHK dan deflator PDB mempunyai perbedaan yang tidak terlalu besar (Mankiew, 2003). Kedua ukuran inflasi biasanya dapat memberi cerita yang sama tentang seberapa harga naik.
Grafik Deflator and IHK
1,80 1,60 1,40 1,20
Deflator IHK

Nilai

1,00 0,80 0,60 0,40 0,20 0,00
1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun

Gambar 2.2 Perbandingan Deflator PDB dan IHK (tahun dasar 2000)

11

b. Pembiayaan Pemerintah Pembiayaan pemerintah merupakan unsur penting dalam perekonomian negara. Pembiayaan ini biasanya mencakup proyek pemerintah dan gaji para pegawai pemerintah. Biasanya pembiayaan pemerintah mencakup 20-30% dari PDB suatu negara. Dilihat dari tujuannya, pembiayaan pemerintah digolongkan atas a) government spending dan government transfer. Government spending boleh dikatakan merupakan pengeluaran pemerintah yang ditujukan untuk masyarakat luas mencakup pengeluaran proyek pemerintah, administrasi pemerintahan dan gaji pegawai. Sedangkan government transfer, merupakan pengeluaran pemerintah yang ditujukan untuk meredistribusi ulang kekayaan masyarakat. Dimanapun kita berada, selalu ada kesenjangan dalam pendapatan ekonomi. Melalui subsidi dan bantuan langsung tunai kita dapat mengurangi ketimpangan pendapatan. Inilah tujuan dari goverment transfer. c. Investasi Pemerintah dan swasta, dalam sebuah perekonomian, membeli barang-barang investasi. Perusahaan membeli investasi untuk menambah persediaan modal dan mengganti modal yang sudah aus. Rumah tangga, disisi lain, membeli rumah baru yang juga merupakan bagian dari investasi. Jumlah barang modal yang diminta tergantung pada tingkat suku bunga, makin rendah suku bunga makin tinggi investasi yang diminta dan sebaliknya. d. Konsumsi Rumah tangga membelanjakan pendapatan yang didapatnya dengan membeli makanan, pakaian dan perlengkapan. Setelah membayar bermacam-macam pajak, rumah tangga membagi pendapatannya dalam konsumsi dan tabungan. e. Net Ekspor Net Ekspor merupakan selisih antara ekspor dan impor. Impor, karena bukan bagian dari produksi, akan dikurang dari ekspor (hasil produksi suatu negara) untuk menghasilkan tingkat net ekspor.

12

f. Pendapatan Permanen (Permanent Income) Definisi pendapatan permanen merupakan karya monetaris terkenal, Milton Friedman. Friedman beranggapan bahwa kenaikan pendapatan rumah tangga tidak berarti serentak akan meningkatkan pengeluaran rumah tangga, karena pendapatan rumah tangga mengandung 2 jenis pendapatan yaitu pendapatan transitoris dan pendapatan permanen. Dalam jangka panjang pendapatan permanen yang akan meningkatkan konsumsi dan pendapatan transitoris umumnya akan ditabung masyarakat. Contoh pendapatan permanen dan pendapatan transitoris. Pak Jopi yang mempunyai pendidikan lebih tinggi dibanding Pak Tofid, mempunyai pekerjaaan dengan penghasilan lebih tinggi, maka dapat dikatakan Pak Jopi mempunyai pendapatan permanen yang lebih tinggi dibanding Pak Tofid. Tapi dalam suatu ketika, Pak Tofid menang undian (kuis) maka hadiah uang yang diterima Pak Tofid tadi termasuk pendapatan transitoris (sementara). Dalam pandangan Friedman, hadiah uang yang diterima Pak Tofid, tidak otomatis akan meningkatkan konsumsi Pak Tofid ( karena merupakan pendapatan sementara/transitoris) tapi cenderung akan dikonsumsi sepanjang hidup atau ditabung. Disisi lain kenaikan penghasilan Pak Jopi dipandang sebagai pendapatan permanen yang akan meningkatkan konsumsi masyarakat secara umum (Mankiew, 2003). g. Pendapatan Disposable (Disposable Income) Pendapata per kapita seseorang tidak lantas dapat langsung dibelanjakan untuk keperluan sehari-hari. Karena ada pajak atau pengeluaran wajib yang harus bayar individu setiap kali menerima pendapatan atau gajinya. Ini menimbulkan istilah baru yang dinamakan pendapatan disposable. Pendapatan disposable merupakan pendapatan individu setelah dikurangi dengan pajak-pajak. Termasuk pajak disini ialah iuran pensiun, pajak penghasilan dan iuran ASKES. Pendapatan disposable dapat juga didefinisikan sebagai pendapatan yang siap dibelanjakan. II.2 Masalah Pengangguran Masalah pengangguran merupakan masalah yang selalu menghantui pengambil kebijakan ekonomi di hampir semua negara didunia ini. Disaat kita menekan

13

inflasi, pengangguran cenderung meningkat dan sebaliknya, disaat kita menurunkan tingkat pengangguran, inflasi cenderung meningkat. Inilah yang dinamakan trade off inflasi-pengangguran. Hubungan antara negatif antara inflasi dan pengangguran ini pertama kali dikemukakan oleh A.W Philip, dan kemudian istilah kurva Philip dikenal untuk merumuskan secara grafis hubungan diantara keduanya. Pada awalnya, kurva Philip hanya mengandung hubungan antara tingkat upah dan pengangguran. Namun dalam perkembangan selanjutnya kurva Philip

mengandung hubungan antar tingkat inflasi dan pengangguran. Penambahan dalam kurva Philip modern juga mencakup inflasi yang diharapkan (Mankiew, 2003). Umumnya teori pertumbuhan dibangun dengan asumsi bahwa perekonomian selalu menyerap tenaga kerja atau dalam kondisi full employment (Mankiew, 2003). Kenyataan-nya tentu saja semua perekonomian mempunyai masalah pengangguran. Ada beberapa definisi pengangguran: a. Pengangguran friksional; Dalam kenyataan-nya, walau ada lowongan pekerjaan, tidak semua semua pekerjaan dapat segera penuhi. Para pekerja bisa saja mempunyai preferensi dan kemampuan yang berbeda dengan yang diharapkan oleh dunia kerja. Karena itu mencari pekerjaan membutuhkan waktu dan usaha. Pengangguran friksional adalah karakteristik pengangguran yang disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan untuk mencari pekerjaan. b. Pengangguran struktural Alasan lain yang menyebabkan adanya pengangguran ialah kekakuan harga. Kadang-kadang upah tertahan diatas tingkat equilibriumnya, sehingga tingkat penawaran dan tingkat permintaan tenaga kerja tidak bersesuaian.

Pengangguran struktural ialah pengangguran yang disebabkan kekakuan harga (atau karena adanya peraturan upah minimum). Pengangguran jenis ini timbul bukanlah karena pencari kerja tidak sesuai dengan kriteria dunia kerja, tapi karena pada tingkat upah tertentu penawaran kerja melebihi permintaanya.

14

Karena itu alasan-alasan yang diuraikan diatas, maka setiap perekonomian umumnya mempunyai tingkat pengangguran alamiah. Yaitu tingkat pengangguran yang ada dalam jangka panjang (Mankiew, 2003). II.3 Teori Pertumbuhan Solow Robert M. Solow mengasumsikan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara bergantung pada fungsi produksi yang mencakup faktor input kapital (sebagai modal) dan tenaga kerja. Dalam pandangan Solow, semakin tinggi input kapital (atau tenaga kerja), maka makin tinggi pertumbuhan ekonomi. Walau demikian faktor input kapital dan tenaga kerja bersifat diminishing returns. Artinya pertambahan output akan berkurang sejalan dengan pertambahan input. Karena mengandung sifat diminishing returns ini teori Solow sering juga digolongkan sebagai teori pertumbuhan neoklasik Lebih jelasnya, teori pertumbuhan Solow dapat di uraikan sebagai kombinasi dari tiga persamaan berikut ini (Bergman, 2005): 1. Fungsi Produksi Agregat: Y = F(K, L)= A*K*L , ………………………………………….. [2.1]

dengan pemenuhan kondisi dibawah ini : a) jumlah Kapital (K) dan Tenaga Kerja (L) >0; Fk > 0, Fl > 0, dimana Fk=fungsi turunan pertama Y atas Kapital dan Fl =fungsi turunan Y atas Tenaga Kerja (L). Dimana Fk=Y/K dan Fl=Y/L; b) faktor kapital dan tenaga kerja bersifat penambahan output menurun sejalan dengan peningkatan faktor kapital dan tenaga kerja: Fkk < 0, Fll < 0; dimana Fkk=-Y/K2 dan Fll=-Y/L2; c) fungsi produksi di atas mempunyai sifat “skala pengembalian konstan” (constant returns to scale – artinya penambahan suatu faktor akan meningkatkan output sebesar jumlah yang sama dengan penambahan faktor tesebut): AF ( K, N) = AF (K, N) Dalam banyak kajian makroekonomi fungsi produksi yang sejalan dengan karakteristik di atas adalah fungsi produksi Cobb-Douglas : F = A K(t)a L(t)1- ………………………………………….. [2.2] Y/L=F/L=A (K/L)a …………………………………………. [2.3]

15

Pada awalnya teori pertumbuhan Solow mengasumsikan A sebagai technological change atau technological progress (tingkat penguasaan teknologi). Dimana peningkatan perekonomian selain dipicu penambahan kapital dan tenaga kerja, juga disebabkan meningkatnya penguasaan teknologi. Setelah mengaplikasikan teori Solow untuk menjelaskan pertumbuhan sejumlah negara, konstanta A kemudian didefinisikan sebagai faktor produktivitas total (TPF=total productivity factor) yang menginterprestasikan efisiensi pada sistem pasar atau produksi dan efisiensi penggunaan input produksi (mencakup instabilitas politik, proteksi industri dalam negeri). Jika r = tingkat hasil kapital (return of capital), w=tingkat upah, =bagian output yang dihasilkan kapital, Y=output (PDB) maka: =r*K/Y dan =w*L/Y, dimana + =1 ………………….……….. [2.4] Y=rK+wL atau Y= K+ L ………..………………….……….. [2.5] =bagian output yang dihasilkan tenaga kerja dan

Sedangkan tingkat kapital dan tenaga kerja yang diinginkan dapat dirumuskan sebagai berikut: Dk= * (AG/(1/t+i) dan Dl = * (AG/w), ………………..… [2.6]

Dimana Dk= tingkat kapital yang diinginkan, Dl=tingkat kebutuhan tenaga kerja yang dinginkan, AG=Aggregate Demand, t=harapan hidup kapital dan i= tingkat suku bunga riil. Menurut Tasrif (1995), variabel berikut: = (ln A+ln KOR)/(ln KLR), …………………………………… [2.7] = 1 - (ln A+ln KOR)/(ln KLR), ……………………………..… [2.8] dimana KOR = kapital output ratio = K/Y dan KLR = kapital labor ratio=K/(L*w). II.3.1 Potensial Output Dalam literatur makroekonomi seringkali fungsi produksi Cobb-Douglas diatas diberi nama lain yaitu “Potensial Output”. Fungsi produksi atau potensial output menunjukkan kemampuan penduduk dan kapital suatu negara dalam dapat dirumuskan sebagai

menghasilkan barang dan jasa. Semakin besar nilai fungsi produksi ini semakin

16

tinggi besar potensi suatu negara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang diidamkan. Misalkan A=1 (tetap), maka perubahan output_Y (PDB) sebanding dengan

perubahan input K dan L. Tapi jika output_Y > Potensial Output, menandakan adanya pertumbuhan produktivitas dari tiap input. Pada awalnya Solow melabeli A sebagai technological change. Belakangan, para ahli melabeli A sebagai TPF (Total Producitivity Factor=Faktor Produktivitas Total) yang menyatakan A mencakup peningkatan output_Y (PDB) sebagai efisiensi yang lebih luas, yaitu mencakup peningkatan output_Y karena meningkatnya tingkat pendidikan, perluasan skala pasar ekspor (dari produk suatu negara/daerah) dan kebijakan pemerintah yang kondusif (Mankiew, 2003). Menurut Hornstein dan Krussel (1996), TPF tidak selalu mengandung perubahan teknologi, tapi juga dapat mencakup monetary shocks, military spending dan perubahan politik. Sebagai perbandingan A sebagai technological change dan A sebagai faktor produktivitas total, dibawah ini dilampirkan tabel di bawah ini: A sebagai technological change A sebagai Faktor Produktivitas Total

Pertambahan output_Y [yang lebih Pertambahan output_Y [yang lebih besar dari tambahan input K atau L] besar dari tambahan input K atau L] diakibatkan oleh peningkatan diakibatkan oleh peningkatan

penguasaan teknologi. Padahal dalam penguasaaan teknologi plus adanya prakteknya mungkin saja peningkatan peningkatan kondisi ekonomi secara teknologi terjadi, tapi peningkatan umum.

teknologi tidak terlihat karena kondisi perekonomian mendukung. negara tidak

Dengan melihat persamaan 2.3 diatas kita dapat melihat bahwa peningkatan output (produksi) per pekerja suatu negara akan dipengaruhi oleh jumlah kapital, tenaga kerja, besaran variabel Dalam banyak literatur dan nilai TPF. yang menggunakan pendekatan

makroekonomi

ekonometrika (dimana variabel

diasumsikan konstan), peningkatan nilai TPF

17

akan meningkatkan output (fungsi produksi). Tapi jika kita memodelkan pertumbuhan output dengan system dynamics, maka meningkatnya nilai fungsi produksi (output) juga ditunjukkan dengan peningkatan nilai variabel Meningkatnya variabel menunjukkan tingkat penggunaan .

teknologi

(produktivitas parsial tenaga kerja atas output, yaitu peningkatan produktivitas tenaga kerja untuk memproduksi lebih besar). Seperti yang telah diuraikan TPF akan mencakup perluasan ekspor, eksternalitas positif (negatif) terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara.Menurut Mankiew (2003) TPF mencakup semua yang merubah hubungan antara input dan output. Nilai TPF ini umumnya sering dihitung sebagai residu (residu Solow) sebagai berikut:

Y Y

A A

K K

L L

; ……………………………. (2.5)

Dengan sedikit modifikasi kita dapat mencari nilai TPF sebagai berikut: Y=AK L , dimana Y=output (PDB); tetapkan A=1; dengan Yo output awal, Lo tenaga kerja awal dan Ko kapital awal, maka persamaan (2.5) dapat diturunkan sebagai berikut:

Y

Yo Yo

K

Ko Ko (

L

Lo Lo

, selanjutnya,

Y K 1 ( 1) Yo Ko Y Yo * (

L 1) ; karena 1- - =0, maka Lo

K L ) ˆ * ( ) ˆ , jika Potential Output (PTY) atau Fungsi Produksi Ko Lo
K L ) ˆ * ( ) ˆ , maka Ko Lo

PTY= Yo * (

TPF=Y/PTY

…………………………..….. (2.6)

atau dengan kata lain TPF merupakan hasil pembagian antara output (PDB) dengan fungsi produksi atau potential output (PTY).

18

II.3.2 Pengertian Produktivitas Menurut Mali dalam Nugroho artikel “Total Produktivitas Faktor” (2005), produktivitas adalah pengukuran seberapa baik sumber daya yang digunakan bersama dalam suatu organisasi untuk menyelesaikan kumpulan hasil-hasil. Sedangkan Dewan Produktivitas Nasional (dalam artikel sama) menyatakan bahwa produktivitas adalah sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari ini dan hari ini adalah lebih baik dari hari ini. Sedangkan definisi yang cukup diantaranya, perbandingan antara elemen-elemen produksi dengan yang dihasilkan merupakan ukuran produktivitas (ILO). Dalam prakteknya, produktivitas dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain: teknologi, pabrik dan peralatan, tenaga kerja dan metode kerja. Dilain pihak lain kebijakan pemerintah dan kondisi sosial ekonomi merupakan faktor eksternal yang mempengaruhi produktivitas. Produktivitas sangat penting dalam suatu fungsi produksi, karena kenaikan produktivitas dapat meningkatkan output lebih besar daripada kenaikan input dengan kata lain, jika kenaikan output lebih besar dari kenaikan faktor input, maka telah terjadi peningkatan produktivitas. Produktivitas dapat membantu kita menghasilkan produk yang lebih yang lebih baik atau lebih banyak dengan jumlah jumlah input yang sama. Dalam skala negara, Produk Domestik Bruto merupakan output yang dihasilkan oleh seluruh input modal dan tenaga kerja yang dimiliki suatu negara. Perbandingan antara output dan jumlah inputlah yang dinamakan Faktor Produktivitas Total. Perlu diketahui juga bahwa perekonomian suatu negara tidak saja dipengaruhi oleh jumlah tenaga kerja dan kapital-nya, tapi juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan situasi politik, sosial dan ekonomi-nya.

19

II.4 System Dynamics 2 II.4.1 Sejarah dan Prospeknya di Masa Datang System Dynamics berhubungan dengan interaksi berbagai unsur-unsur dari suatu sistem pada waktunya dan menangkap aspek yang dinamis dengan konsep-konsep utama seperti stok dan flow, umpan balik dan delay, dan dengan demikian berusaha membangun satu pengertian yang mendalam dari perilaku dinamis sebuah sistem dari waktu ke waktu. Sebagai suatu ranah pengetahuan, SD dapat dimengerti sebagai suatu perluasan logis rancang-bangun sistem (System Engineering) dan analisis sistem (System Analysis). SD dengan tegas mempertimbangkan perilaku yang dinamis yang timbul akibat adanya delay dan feedback di dalam sistem. Salah satu definisi system dynamics yang dikenal luas ialah : System Dynamics adalah suatu perspektif dan sekumpulan perkakas konseptual (conceptual tools) yang membantu kita untuk memahami struktur dan dinamis dari sistem kompleks. System Dynamics juga merupakan metoda pemodelan yang padat dan memungkinkan kita membangun model komputer untuk

mensimulasikan sistem kompleks serta menggunakan model tersebut untuk mendesain kebijakan dan organisasi yang lebih efektif (Sterman., 2001). System Dynamics sebagai suatu metoda telah sukses diterapkan di dalam lingkup persoalan bisnis dan ekonomi-sosial untuk memahami permasalahan dan membangun satu pengertian yang mendalam tentang perilaku unsur-unsur dalam sebuah sistem dengan melakukan berbagai intervensi-intervensi kebijakan. Beberapa aplikasi system dynamics yang paling sering dibicarakan para ahli ialah World Dynamics (1971) dan The Limits to Growth (1972). Walau model-model diatas mendapat kecaman dan kritik dari banyak pakar dari berbagai disiplin ilmu, mereka sukses di dalam menjawab tantangan-tantangan dan isu-isu sangat penting yang sedang dihadapi oleh umat manusia kini dan masa datang.

2

Sebagian besar dari deskripsi system dynamics ini merupakan kompilasi karya Victor Tang and Samudra Vijay ( System Dynamics Origins, development, and future prospects of a method ) dan tugas system dynamics penulis

20

II.4.2 Sejarah dan Asal-Muasal Jay W.Forrester, penemu system dynamics, adalah lulusan jurusan teknik elektro yang belakang hari bekerja pada Gordon S.S. sebagai asisten riset di dalam laboratorium mekanisme servo yang ditemukan pada tahun 1940. Selama Perang Dunia II, ia merancang dan mengembangkan mekanisme servo untuk kendali dari antena-antena radar, dan peralatan-peralatan militer lain. Selama periode ini, ia secara ekstensif menggunakan teori kontrol matematika (the mathematical theory of controls) dan konsep feedback dan stabilitas dalam aplikasi-aplikasi rekayasa. Sesudah itu ia memimpin desain dan pengembangan Whirlwind I, komputer cacahan yang pertama di Digital Computer Laboratory MIT. Ia juga sempat memimpin Division 6 Lincoln Laboratory, yang merancang komputer-komputer untuk SAGE (Ground Environment Semi-Automatic) sistem pertahanan udara untuk kawasan Amerika Utara. Forrester kemudian bergabung ke sekolah binis MIT (Sloan School of Business) tahun 1956, di mana ia mulai meletakkan pondasi bagi system dynamics, sebagai suatu metoda untuk memahami perilaku dinamis dari berbagai persoalan. Dalam suatu kesempatan, dia mencoba membantu GE (General Electric) memecahkan masalah fluktuasi permintaan alat elektrik rumah tangga. Forrester memecahkan masalah ini dengan menggunakan feedback loop untuk mensimulasikan persediaan perusahaan GE ( "sistem pengendalian persediaan pertama itu dengan simulasi pensil adalah permulaan system dynamics" Forrester, 1991). Professor Jay W Forrester kemudian memperluas penggunaan system dynamics dalam bidang manajemen bisnis dan secara formal mengartikulasikan metodologi system dynamics dalam bukunya yang berjudul Industrial Dynamics yang diterbitkan tahun 1961. Pertemuannya dengan walikota Boston memberi kesempatan untuk menerapkan aplikasi system dynamics untuk memecahkan perumahan di area Boston Metro. Hasil kajiannya atas masalah perumahan di Boston Metro dirangkum dalam bukunya yang berjudul Urban Dynamics, dimana kesimpulan dari masalah perumahan diatas "kebijakan membangun perumahan murah merupakan sumber permasalahan utama". Kesimpulan ini mendapat kecaman karena bernuansa politik, tapi Prof. Jay W Forrester berargumentasi bahwa kebijakan pembangunan

21

rumah telah berimplikasi pada mengurangnya ketersediaan lahan produktif untuk pengembangan bisnis dan kesempatan kerja sehingga menimbulkan masalah pengangguran yang akut dan kebutuhan perumahan murah yang lebih besar dimasa datang. Sejak itu, secara perlahan tapi mantap, system dynamics berkembang dan diaplikasikan pada banyak pemecahan masalah yang menghasilkan solusi yang lebih baik. Sekolah bisnis MIT kemudian memperluas aplikasi system dynamics untuk permasalahan bisnis seperti masalah inventori dan siklus bisnis. Dewasa ini, banyak sekolah manajemen di seluruh dunia menawarkan kursus system dynamics. II.4.3 Prinsip System Dynamics Prinsip-prinsip dari system dynamics berdasarkan pada 2 prinsip utama, 1) pertama ialah stock dan flows, dan delays menentukan perilaku sistem. Hal ini dapat kita amati di dalam kehidupan sehari-hari. Air mengalir lewat pipa dan terkumpul di reservoir-reservoir, bak mandi, dan wadah-wadah air lainnya. Air menghangat pelan-pelan setelah tombol air panas dihidupkan. Prinsip stock dan flows, dan delays merupakan sumber inspirasi untuk Forrester untuk mengkonseptualisasikan perilaku unsur-unsur sistem dan sistem sosial yang ada disekitar kita; 2) kedua rasionalitas yang terbatas (Simon 1957). Simon menggunakan kiasan dari sebuah gunting, di mana satu mata pisau nya adalah "pembatasan-pembatasan teori" (cognitive limitations) dan yang lainnya "struktur dari lingkungan." System Dynamics tidak menyatakan alamat semua variabel dari suatu masalah, tapi lebih berkonsentrasi pada beberapa variabel yang merupakan kunci masalah dan konteksnya, yaitu "lingkungan" seperti yang digambarkan oleh pemodel. System Dynamics tidak mengoptimalkan, tetapi cenderung pada pembentukan aturan-aturan yang seminimal mungkin yang mampu ditangkap oleh analis sistem sesuai pemahamannya tentang suatu masalah (Gigerenzer dan Selten 2000).

22

S y s t e m D y n a m ic s is a m e t h o d

g o v e rn m e n ta l s y s te m s p r in c i p le s e p a r a t io n o f p o w e rs p rim a ry e le c tio n s v o t in g m a c h in e s

a ir d e fe n s e s y s te m s s u p e r -s y s te m o f h e te ro g e n e o u s s y s te m s i n t e r o p e r a b i lit y o f s y s te m s o f s y s te m s n e t w o r k s o f n e tw o r k s c o m p u te rs , n e tw o r k s , o th e r a r t if a c t s

e c o n o m ic a n d s o c ia l s y s te m s b o u n d e d ra tio n a l, g ro u n d e d th e o r y s to c k s , flo w s , d e la y s

m e th o d

system d y n a m ic s
V e n s im DYNAMO S t e lla

t o o ls

©

s lid e 1 1

Gambar 2.3 System Dynamics sebagai suatu metoda Prof. John D. Sterman dalam artikelnya berjudul “All Models are Wrong: Reflections on Becoming a System Scientist” mengemukakan karakteristikkarakteristik yang dimiliki system dynamics antara lain: 1) Mengandung dasar-dasar matematika yang padat dan elegan untuk membuat dan mengembangkan suatu model. 2) Mengandung pengertian System Thinking dan Modeling Complex World. Dengan kata lain system dynamics diawali dengan pemikiran bagaimana sebaiknya kerja sebuah sistem dan apa saja unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah sistem bersama keterkaitan antar unsurnya. Baru setelah itu kita dapat membuat pendekatan model dari dunia nyata untuk memecahkan masalah. 3) System Dynamics adalah alat (tool) untuk untuk membantu pengambil kebijakan untuk memecahkan masalah penting. 4) System Dynamics dapat digunakan banyak kalangan dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu. Baik yang berlatar belakang ilmu sosial maupun ilmu teknik. 5) System Dynamics mengajak kita untuk berpikir counterintuitive (tidak menerima begitu saja sebuah model sistem yang dibangun oleh orang lain/diri kita sendiri. Walaupun orang lain itu adalah seorang ahli). Berpikir

23

counterintuitive akan mengembangkan mental model sehingga kita mampu melihat permasalahan secara menyeluruh (holistik) dan tidak melihat permasalahan secara spasial (sepotong-potong). 6) Untuk meningkatkan kemampuan kita dalam membuat sebuah model (modeling a complex world), diperlukan pemahaman system thinking. Yaitu kemampuan melihat sebuah dunia sebagai sistem yang kompleks dan memahami bagaimana semua koneksitas unsur-unsur yang ada didalamnya. System thinking meliputi pemahaman tentang stock & flows (kapasitas dan aliran), time delays (waktu tunda), nonlinearitas, system boundary dan feedback. 7) Pemecahan masalah dalam system dynamics menggabungkan semua aspek ilmu pengetahuan termasuk diantaranya ilmu teknik, sosial, ekonomi dan ekologi. Penggabungan diperlukan karena real world merupakan interaksi dari semua ilmu yang dikenal oleh manusia. Professor John D. Sterman juga menyatakan “ Jika seorang sistem

thinker/modeler mampu membuat sebuah sistem yang baik maka tidak akan terjadi policy resistance dan side effects. Yang ada hanyalah efek biasa (kejadian yang bisa kita perkirakan) ”.
a. Dinamic Complexity, Feedback dan Policy Resistance

Kemampuan mental kita untuk untuk melakukan pemodelan sistem nyata (modeling a complex world) sangat terbatas, inkonsisten dan tidak dapat diandalkan. Tindakan kita sehari-hari sering didasarkan atas perspektif yang sempit dan bersifat jangka pendek. Professor John D. Sterman juga menyatakan bahwa pemahaman yang dangkal akan sebuah sistem, sudut pandang/ perspektif yang sempit dan pemecahan masalah yang event oriented serta pemahaman yang rendah tentang feedback akan menyebabkan terjadinya policy resistance dan side effects (efek-efek samping) yang seringkali tidak atau terlambat untuk diantisipasi. Policy resistance didefinisikan sebagai kecendrungan suatu sistem untuk memberikan reaksi (baik seketika maupun tunda/delay) atas aksi yang diberikan kepada suatu sistem. Bahkan sebuah sistem juga dapat memberikan reaksi

24

melawan (mengalahkan) suatu aksi yang diberikan kepada sistem tersebut. Policy resistance dapat menimbulkan side effect yang tidak atau terlambat untuk diantisipasi. Contoh Policy resistance dan side effect: penyemprotan hama (serangga perusak tanaman) dengan pestisida dikemudian hari membuat serangga tersebut semakin resistan (baca:kebal) terhadap pestisida itu sendiri. Resistansi serangga terhadap pestisida tersebut dinamakan juga efek samping (side effects). Untuk membangun model system dynamics yang utuh dan handal, kita harus memahami karakterisitik yang dimiliki system dynamics. Karakteristik ini terkandung dalam kalimat kompleksitas dinamis (dynamic complexity).

Kompleksitas sebuah system dynamics selalu berkembang disebabkan faktorfaktor sebagai berikut: System dynamics selalu berubah setiap waktu. Aktor-aktor yang ada dalam sistem saling berinteraksi dengan dinamis. Rentan terhadap feedback. Aksi yang kita lakukan pada satu aktor akan mempengaruhi tingkah laku aktor-aktor lain dalam sistem. Ini dikarenakan antar aktor terjadi interaksi yang dinamis dan kuat. Nonlinearitas. Reaksi yang diberikan sebuah sistem (atas suatu aksi) seringkali tidak bersifat proporsional. Counterintuitive. Hubungan sebab akibat sering tidak terjadi dalam waktu yang berdekatan. Kadang-kadang suatu aksi menimbulkan reaksi yang jarak waktunya sangat lama. Policy resistance. Diterangkan dalam bahasan pada halaman berikutnya.
b. Event Oriented

Policy resistance juga terjadi karena kita melihat bahwa suatu sistem bersifat event oriented. Event oriented ialah pemahaman bahwa suatu masalah disebabkan oleh suatu masalah dalam urutan sebab akibat. Ini dapat menyesatkan kita. Sistem tidak bereaksi sekuensial, sistem dapat bereaksi secara bersamaan (unsurunsur suatu sistem bereaksi bersamaan terhadap suatu aksi) sehingga metode

25

event oriented bukanlah metode yang cocok untuk memecahkan masalah dunia nyata yang kompleksitasnya tinggi dan bersifat tidak linear.
c. Exogenous dan Time Delays

Unsur yang berada dalam sebuah sistem dinamakan Endogenous dan sebaliknya dinamakan Exogenous. Karena terbatasnya pemahaman akan sebuah sistem, kita dapat saja

menggolongkan sebuah (atau lebih) unsur sebagai exogenous (karena bisa saja suatu unsur yang pada saat kita membangun model tidak ada hubungan dengan model yang kita buat karena unsur-unsur tersebut mempunyai time delay). Time delays didefinisikan sebagai tenggang waktu antara suatu aksi dengan reaksi/efek dalam sebuah sistem. Dalam artian unsur tersebut mempunyai sifat menunda pengiriman feedback kepada sebuah sistem dalam jangka waktu tertentu. Padahal jika saatnya tiba, unsur yang semula exogenous berubah menjadi endogenous dan memberikan feedback yang powerful. Time delays juga mengaburkan pandangan kita akan sebuah sistem yang berujung adanya perbedaan antara hasil yang kita inginkan dengan hasil nyata (discrepancies between desired result and actual result).
d. Stock and Flows

Pemahaman tentang Stock and Flows sangat penting dalam kerangka kerja system dynamics. Dalam kenyataannya banyak mahasiswa pascarsarjana (termasuk sarjana teknik) gagal memberikan jawaban benar dalam kasus bathtub. Stock dan Flows berubah selalu berubah sejalan dengan waktu. Stock berarti tempat akumulasi materi dan/atau informasi dalam sebuah model sedangkan Flow menyatakan rata-rata aliran materi dan/atau informasi.
e. System Boundary (Batas Sistem)

System Boundary dalam dunia nyata dibuat untuk mengurangi kompleksitas masalah. System boundary juga diperlukan dan kadang tidak dapat dihindarkan. Namun dalam membangun suatu model ( dengan prinsip system dynamics ), kita harus memperluas system boundary tersebut dengan prinsip system dynamics. Dan hanya melakukan system boundary untuk memfokuskan penyelesaian masalah bukan untuk menyederhanakan masalah.

26

II.4.4 Aplikasi-aplikasi System Dynamics System Dynamics kini sudah diaplikasikan dalam berbagai bidang kehidupan. Kita akan menggambarkan beberapa diantara contoh aplikasi System Dynamics yang mampu menjelaskan keampuhan system dynamics.
o

Simulasi Portofolio. Suatu model portofolio yang terkenal adalah 2x2 model

BCG, yang menggambarkan pangsa pasar relatif di sumbu-x dan pertumbuhan pasar di sumbu-y. Model BCG adalah statis dan menghilangkan umpan balik dalam perumusan-perumusan kebijakannya. Model BCG dalam bentuk system dynamics dibuat oleh Mertern, Löffler, dan Wiedmann (1987) mampu mengidentifikasi kekurangan-kekurangan model BCG yang pertama. Mereka menunjukkan bagaimana dan mengapa kebijakan BCG gagal ketika pesaingpesaing mengadopsi tanggapan-tanggapan tidak lazim. System Dynamics mampu menunjukkan perilaku kompetitif dinamis dari perusahaan (bandingkan dengan hasil model BCG statis yang hanya menampilkan perilaku statis perusahaan).
o

Pengembangan Produk. Ada faktor-faktor penting yang menentukan mutu

suatu produk dan kemampuan tim dalam memenuhi tenggat waktu produksi. Suatu isu yang kritis adalah menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan dan mengantsipasi permasalahan yang tidak terduga. Isu kritis lainnya adalah interaksi-interaksi antara proses dan struktur-struktur fisik seperti manufakturing produk di pabrik. Repenning dan Sterman (1997) dengan System Dynamics mampu menunjukkan bahwa ketidaksinkronan (asynchronicas) proses-proses ini menjurus kepada disfungsi performansi organisasi (dysfunctional organizational performance).
o

Jaringan Suplai (Suppy Chain). Volatilitas suatu jaringan suplai adalah

masalah yang penting bagi suatu perusahaan. Masalah supply chain ini dapat menimpa setiap jenis bisnis baik yang kekurangan persediaan, atau mereka mempunyai persediaan produk melimpah di gudang. Dengan system dynamics, masalah supply chain dapat dipecahkan dengan hasil tingkat persediaan pada masing-masing langkah jaringan suplai dan perilakunya yang dinamis dapat ditirukan dengan ketepatan yang luar biasa (Sterman 2000). Selain aplikasi diatas, system dynamics juga digunakan untuk menelaah masalah makroekonomi seperti yang dilakukan John W. Hines dan Nathan Blair Forrester.

27

John W Hines berhasil memperkirakan perilaku suku bunga dengan memodelkan sistem makroekonomi Amerika Serikat dengan system dynamics. Sedangkan Nathan B Forrester (Forrester, 1993) membuat model untuk yang menggambarkan fluktuasi output Amerika Serikat dan juga menguji berbagai pengaruh kebijakan pemerintah (fiskal dan moneter) terhadap unjuk perekonomian Amerika Serikat. II.5 Visi Indonesia 2030 Negara Maju yang Unggul dalam Pengelolaan Kekayaan Alam Ditopang oleh empat pencapaian utama, yaitu: Masuk dalam 5 besar kekuatan ekonomi dunia, dengan pendapatan perkapita sebesar US$ 18 ribu per tahun; Pemanfaatan kekayaan alam yang berkelanjutan; Perwujudan kualitas hidup moderen yang merata (shared growth); Mengantarkan sedikitnya 30 perusahaan Indonesia dalam daftar Fortune500 Companies. Visi 2030: Negara Maju Yang Unggul Dalam Pengelolaan Kekayaan Alam Kata kunci visi tersebut ialah negara maju dan pengelolaan kekayaan alam. Keduanya dijelaskan di bawah ini. Negara Maju. Indonesia akan mencapai pendapatan per kapita sebesar US$ 18 ribu yang menempatkan Indonesia dalam lima besar perekonomian dunia, dan representasi kelompok usaha yang terkemuka di dunia. Saat ini Indonesia berada pada kelompok negara berpendapatan menengah ke bawah (lower middle income). Posisi ini akan terus bertahan hingga tahun 2015 dan setelah itu Indonesia masuk sebagai negara berpendapatan menengah ke atas (upper middle income). Proses industrialisasi akan menjadi katalisator akumulasi modal menuju negara maju dengan kontribusi terbesar dari sektor jasa.

28

Gambar 2.4 PDB Per Kapita Indonesia, 1990 - 2030 Sumber: Proyeksi YIF Dengan mengasumsikan pertumbuhan ekonomi riil rata-rata sebesar 7,62 persen per tahun, laju inflasi rata-rata sebesar 4,95 persen per tahun, dan pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 1,12 persen per 4 tahun, maka pada tahun 2030

Indonesia akan mencapai PDB per kapita sebesar US$ 18.000 per tahun (lihat Gambar 2.4). Dengan jumlah penduduk sebesar 285 juta jiwa, PDB Indonesia mencapai US$ 5,1 trilyun, dan pada saat itu Indonesia masuk ke dalam lima besar perekonomian dunia (lihat Gambar 2.5).

Gambar 2.5. GDP Harga Berlaku 5 Negara Terbesar, 2005 dan 2030 Sumber: Proyeksi YIF

29

Perekonomian nasional akan dimotori oleh sektor jasa. Walaupun awalnya sektor jasa tergantung kepada gerak sektor lainnya di perekonomian, namun pada akhirnya sektor jasa akan memperoleh momentum untuk tumbuh lebih cepat. Sektor jasa akan tumbuh lebih cepat dari sektor industri mulai tahun 2020, namun kontribusi sektor jasa dalam GDP akan mengungguli kontribusi sektor industri mulai tahun 2025. Kontribusi sektor pertanian terus menurun hingga tahun 2030 namun dibarengi oleh peningkatan kesejahteraan, produktifitas dan keterkaitannya dengan sektor lain. Produktifitas sektor pertanian akan meningkat seiring dengan kemajuan teknologi sehingga menghasilkan nilai tambah per pekerja yang lebih besar. Kontribusi sektor industri terhadap PDB relatif stabil namun terjadi pergeseran struktur industri ke arah sektor-sektor yang menghasilkan nilai tambah yang tinggi dan peningkatan produktifitas SDM. Sumber peningkatan nilai tambah tersebut berasal dari inovasi teknologi, perbaikan kualitas input, dan perbaikan sistem distribusi dan pemasaran. Kedekatan dengan pasar input dan output menyebabkan perusahaan-perusahaan di Indonesia mendapatkan manfaat untuk mempunyai efisiensi produksi yang tinggi. Dengan keunggulan kompetitif tersebut, diharapkan pada tahun 2030 setidaknya 30 perusahaan Indonesia masuk dalam daftar 500 perusahaan terbaik dunia. Unggul dalam Pengelolaan Kekayaan Alam. Pengelolaan kekayaan alam Indonesia secara optimal dilakukan melalui interaksi sumber daya manusia dan teknologi dengan mengikuti prinsip keberlanjutan untuk menghasilkan

pertumbuhan ekonomi yang merata dalam rangka mewujudkan kualitas hidup modern.

30

Gambar 2.6 Misi untuk Mencapai Visi 2030

31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
III. 1 System Dynamics sebagai suatu Metodologi System Dynamics mendesak para pengambil keputusan untuk melihat arena kebijakannya sebagai suatu paradigma atau model yang meyeluruh (world view) (Meadows dalam Myrtveit, 2005). System dynamics tidak saja merupakan sebuah pandangan holistik atas suatu masalah, ia juga merupakan sebuah metodologi. Tujuan utama pemodelan system dynamics ialah meningkatkan pemahaman kita tentang suatu masalah dan mengidentifikasi kebijakan yang sedang berjalan dengan tujuan akhir untuk meningkatkan hasil atau output sistem sesuai dengan yang kita inginkan. Sebuah sistem (termasuk system dynamics) memuat sejumlah komponen dan relasi diantara komponen-komponennya. Jenis komponen dan interrelasi-nya membentuk identitas sistem dan cara sistem sistem mencapai tujuannya. Dengan menggambarkan relasinya (grafik 3.1) kita dapat melihat struktur suatu sistem termasuk boundary-nya.

X1

X2

Batas Sistem Struktur Sistem

X3

X4 Gambar 3. 1 Sebuah sistem

System Dynamics difokuskan pada pemahaman antara penyebab dan efek (the causes and effects) yang diekspresikan dengan hubungan antara stok (level) dan flow (rate). Dalam system dynamics dinamika model merupakan fungsi dari kondisi awal model dan struktur dari modelnya. System Dynamics utamanya ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dan identifikasi penyebab dan solusi dari masalah dunia nyata, karena itu amat penting bagi pemodel untuk membangun model yang sesederhana mungkin tanpa melupakan tujuan pembuatan dan kompleksitas dunia nyata yang dimodelkan. Dengan membuat model yang sederhana kita akan lebih mudah meningkatkan

32

pemahaman kita tentang sistem nyata yang kita amati. Sebaliknya dengan membuat model yang besar dan kompleks kita akan kehilangan peluang untuk meningkatkan pemahaman. Karena itu sebelum membangun suatu model peneliti disarankan untuk mempelajari problem dengan tingkat pemahaman yang holistik dan tidak spasial. Tujuan utama dari pembuatan system dynamics ialah process oriented (Myrtveit, 2005). Pemahaman process oriented dimaksudkan untuk meningkatkan

pengetahuan kita melalui simulasi model dengan menjawab pertanyaanpertanyaan kita dan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Dengan kata lain, pemodelan system dynamics merupakan proses pembelajaran (learning process) bukan sekedar sebuah model belaka. Tujuan pemodelan system dynamics ialah untuk memahami perilaku sistem ke depan (long term prediction) dan tidak sekedar memahami perilaku historis dan fisik sistem. Metodologi system dynamics, dalam memprediksi masa depan, menekankan pentingnya pemahaman tentang delay, efek samping untuk memahami perilaku sistem lebih baik. Meningkatkan pemahaman tentang penyebab dan efek-efek yang menghasilkan masalah. Identifikasi solusi dan membangun sejumlah kebijakan untuk mencapai solusi Perspektif holistik, mencakup semua faktor penting yang menyebabkan masalah. Perspektif sistem secara agegrasi dengan menggabungkan eventevent dalam proses simulasi yang berjalan kontinu. Perilaku sistem merupakan fungsi keadaan awal dan struktur sistem. Pemahaman kualitatif sistem dibangun dari sejumlah umpan-balik Berfokus pada pemahaman proses (process oriented) Tabel 3.1 Karakteristik System Dynamics (Myrtveit, 2005) III. 2 Pemodelan System Dynamics Menurut Richardson dan Pugh (1981), dalam membangun sebuah model, replika sistem nyata, kita selalu dihadapkan pada pertanyaan klasik mengenai keabsahan model sebagai replika sistem nyata. Pertanyaan klasik tersebut:

Maksud Lingkup

Asumsi

Hasil Akhir

33

a. Apakah suatu model telah baik ditinjau dari tujuan pembuatan dan masalah yang ingin dipecahkan ? b. Pertanyaan kedua, apakah model konsisten dengan realita (sistem nyata) yang ingin dimodelkan ? Langkah-langkah dalam pemodelan system dynamics (Khalid Saeed, 1994) sebagai berikut:
Mental Model, Pengalaman

Mental Model, Pengalaman, Literatur Bukti Empirik Persepsi Struktur Sistem

Data empiris (time series)

Konseptualisasi Sistem Perbandingan dan Rekonsiliasi Proses validasi struktur Proses validasi perilaku

Perbandingan dan Rekonsiliasi

Formulasi Model

Representasi Struktur Model

Deduksi Prilaku Model

Tool diagram dan deskripsi

Perlengkapan Komputer

Gambar 3.2 Prosedur pemodelan system dynamics menurut Saeed (1994) III.2.1 Proses Pengenalan Masalah Identifikasi masalah dalam sistem yang kita amati perlu diidentifikasi terlebih dahulu, sebelum kita mulai membuat modelnya. Identifikasi masalah biasanya disertai dengan menetapkan struktur dan perilaku fenomena yang kita amati. Pembentukan struktur-perilaku pada tahap ini dipengaruhi oleh literatur,

34

pengalaman yang kemudian membentuk mental model kita. Fase ini melingkupi penetapan jangka waktu simulasi dan boundary model.

Pola referensi (reference mode) Pola referensi dihasilkan dari pola historis yang menggambarkan perilaku persoalan (problem behaviour). Dalam tahap ini kita juga bisa mempelajari reference mode dari moel system dynamics yang telah ada sebelumnya dan mengembangkannya sesuai dengan tujuan pembuatan model. Pola referensi ini merupakan gambaran perubahan variabel-variabel penting dan variabel lain yang terkait, dari waktu ke waktu. Hipotesa Dinamik Hipotesa dinamik merupakan proses iterasi (berulang) dari kombinasi hipotesa awal dan interaksi sistem sesuai yang sesuai dengan hasil yang kita dapat pada tahap reference mode. Hipotesa dinamik juga mengandung perbandingan dengan bukti empiris dan reformulasi akan diperlukan untuk sampai pada suatu hipotesa yang logis dan sahih sesuai data empirik. Batas Model Dinamika sebuah sistem dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang mempengaruhinya dinamakan faktor endogenous dan merupakan variabel yang penting dalam menganalisa sistem. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi sistem dinamakan faktor exogenous. Karena itu penentuan batas model perlu ditentukan terlebih dahulu dengan jelas agar kita mudah mendefinisikan faktor endogenous dan exogenous model. Batas model ini

membantu kita untuk memisahkan proses-proses yang menyebabkan adanya kencenderungan internal yang diungkapkan dalam pola referensi dari prosesproses yang merepresentasikan pengaruh-pengaruh eksogen, yaitu pengaruh yang berasal dari luar sistem. Waktu Simulasi Setelah batas model ditetapkan bersamaan dengan penetapan variabel exogenous dan endogenous-nya, pemodel harus menetapkan dengan cermat jangka waktu simulasi model. Jangka waktu simulasi amat penting untuk mendapatkan

35

dinamika perubahan yang

dibawa oleh interaksi diantara faktor internal dan

eksternal model. Jika waktu simulasi tidak cermat, bisa saja interaksi dalam model tidak teramati dengan baik. III.2.2 Konseptualisasi Sistem Pada fase ini kita mulai untuk membangun struktur feedback sistem yang kita amati. Pemahaman struktur umpan-balik ini penting karena struktur inilah yang membangun dinamika model yang kita buat. Kita juga harus membangun struktur informasi, menguji validitas model dan rancangan untuk melakukan eksplorasi kebijakan. Dalam tahap ini kita mulai menggambarkan sistem dalam fase kualitatif yaitu membangun diagram causal loop. Dan mengembangkan diagram causal loop ke dalam diagram alir (flow diagram) komputer. III.2.3 Formulasi Model Fase ini termasuk tahap pembangunan model yang bersifat kuantitatif. Yaitu melengkapi model yang kita buat dengan persamaan-persamaan matematika yang menghubungkan antara variabel satu dengan variabel lainnya – dalam bahasa program simulasi yang kita gunakan. Proses kuantitatif ini memungkinkan model kita untuk melakukan simulasi untuk menentukan perilaku dinamis yang sesuai dengan konseptualisasi yang kita lakukan sebelumnya. Menurut Richardson (2008) ada beberapa yang perlu diperhatikan dalam menulis persamaan model: Parameter yang dikenal (Recognizable parameters) Menggunakan parameter yang mudah dimengerti atau sudah dikenal luas. Persamaan yang handal (Robust equation forms) Menggunakan persamaan yang handal dalam artian mampu menjelaskan dinamika model dalam keadaan ekstrim. Fase relasi (Phase relations) Membangun relasi yang jelas antara persamaan dalam model. Richardson’s sesederhana Rule: Menggunakan persamaan matematika yang

mungkin. Dalam pandangan Richardson (2008) persamaan

36

matematika yang kompleks dan berlebihan akan mengurangi tingkat konfidensi model.

Prinsip-prinsip untuk membuat model dinamik menurut Sterman (1981): keadaan yang diinginkan dan keadaan yang terjadi harus secara eksplisit dinyatakan dan dibedakan di dalam model; adanya struktur stok dan aliran dalam kehidupan nyata harus dapat direpresentasikan di dalam model: aliran yang secara konseptual berlainan cirinya harus secara tegas dibedakan di dalam menanganinya; hanya informasi yang benar-benar tersedia bagi aktor-aktor di dalam sistem yang harus digunakan dalam pemodelan keputusan-keputusannya; struktur kaidah pembuatan keputusan di dalam model haruslah sesuai (cocok) dengan praktek-praktek manajerial; dan model haruslah robust dalam kondisi-kondisi ekstrim. Struktur dasar dalam pemodelan system dynamics yaitu: State Variabel, variabel ini sering dinamakan level atau stock, yang berfungsi sebagai media storage perubahan yang terjadi dalam simulasi model. Variabel ini sangat penting karena perubahan-perubahan variabel lain diakumulasikan dalam variabel ini. Level pada suatu loop hanya bisa didahului oleh rate, tetapi bisa diikuti oleh auxiliary atau rate. Persamaan rate atau flow, menggambarkan aliran materi atau informasi yang ada dalam model. menggambarkan aliran materi atau informasi yang ada dalam model. Nilainya dipengaruhi oleh informasi-informasi atau materi yang melaluinya. Persamaan auxiliary, sesuai dengan namanya persamaan ini berfungsi sebagai persamaan bantu dalam merumuskan persamaan rate, yang digunakan untuk mendefinisikan faktor-faktor yang menentukan persamaan rate secara terpisah.

37

Persamaan sisipan (supplementary). Untuk mempermudah pemahaman tentang model, kita juga dapat mencantumkan persamaan sisipan yang dipergunakan untuk mempermudah pembacaan model. Persamaan nilai awal (initial value), variabel level harus ditentuksn terlebih dahulu nilai initial-nya agar dapat disimulasikan.Terkadang nilai awal rate harus terlebih dahulu ditentukan sebelum siklus pertama perhitungan persamaan model dilakukan. Aliran material, yaitu aliran benda fisik dari suatu variabel ke variabel lain yang perpindahannya per waktu dinyatakan dalam persamaan rate. Aliran informasi, yaitu suatu struktur yang berperan dalam fungsi-fungsi keputusan yang tidak mempengaruhi variabel secara langsung. III.2.4 Pengujian dan Pengembangan Model a. Pengujian Model Untuk mengetahui kesahihan model sebagai replika sistem nyata, perlu dilakukan pengujian model. Uji model dilakukan dengan membandingkan perilaku model dengan perilaku sistem yang sebenarnya yang direpresentasikan oleh data empirik di lapangan. Jika perbandingan hasil simulasi model mempunyai kesesuaian dengan data empirik, maka model dapat dinyataakan sebagai replika sistem nyata yang baik atau valid. Validasi ialah proses untuk menguji konfidensi struktur dan perilaku model sebagai suatu representasi sistem nyata yang dapat dipercaya. Validasi diperlukan dalam upaya untuk membandingkannya dengan pola referensi dan secara terusmenerus memodifikasi dan memperbaiki struktur model. Suatu model secara struktur dapat dikatakan valid jika model tidak hanya dapat membuat reproduksi perilaku sistem, akan tetapi juga dapat mengungkapkan bagaimana sistem bekerja dalam menghasilkan perilaku tersebut. Oleh karena itu model dapat dikatakan baik jika model dapat menambah pemahaman terhadap perilaku sistem yang dimaksud, mudah dikomunikasikan dan dapat menolong perbaikan pada sistem tersebut. Bila ada korespondensi antara model dan sistem nyata, makamodel yang dibuat dapat diterima sebagai suatu representasi persoalan yang sahih dan dapat digunakan kebijakan. untuk analisis

38

Validasi model dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu: Validasi melalui komparasi grafik hasil simulasi dengan data statistik; Validasi jenis ini ditampilkan dengan menyatukan representasi data empirik dan data hasil simulasi dalam satu grafik. Validasi dengan uji statistik (Theil Statistics). Dalam uji statistik, standar yang digunakan untuk mengukur kesalahan adalah rataan kuadrat kesalahan (mean square error; MSE), yang dinyatakan dengan persamaan berikut (Sterman, 1984) : n MSE = 1/n n=1 dimana: [(St – At)/At]2 ………….. (3.1)

MSE = Mean Square Error; St = nilai simulasi pada waktu t; At = nilai aktual pada waktu t; n = jumlah pengamatan (t = 1, …, n);

Semakin rendah nilai MSE menunjukan tingkat kesalahan yang kecil, dan demikian sebaliknya. Penafsiran kesalahan-kesalahan hasil simulasi

dipresentasikan dengan Root Mean Square Percent Error (RMSPE), yang dinyatakan dengan persamaan berikut : n RMSPE =

..……….. (3.2) [(St – At)/At]2

v 1/n
n=1

Kesalahan-kesalahan yang termaktub dalam MSE dapat disusun dalam 3 jenis kesalahan. Uji statistik Theil didasarkan pada perhitungan bahwa error dalam model merupakan proporsi ketidaksamaan bias (Um), ketidaksamaan varian (Us) dan ketidaksamaan kovarian (Uc). Dalam meningkatkan kepercayaan terhadap model, model yang ideal seharusnya memiliki kesalahan yang

39

sangat kecil dan terkonsentrasi pada UC dan US. Namun dari semua uji statistik dimaksud, penentuan signifikansi dan tingkat tolerasinya bergantung pada tujuan model dibuat dan karakteristik datanya.

Persamaan-persamaan ketidaksamaan tersebut diuraikan di bawah ini : ( S– A)2 UM = 1/n [ S t – A t ]2 n=1
n

………….. (3.3)

( SS– SA)2 US = 1/n [ St – A t ] 2 n=1
n

………….. (3.4)

2 ( 1– r) SS . SA U = 1/n
C

[ St – At ]2 n=1 ………….. (3.6)

n

………….. (3.5)

U M + US + U C = 1 Dimana : Nilai dari masing-masing besaran di atas

diberikan oleh persamaan-

persamaan berikut ini: S = 1/n St

………….. (3.7)

ˆ A = 1/n

At

………….. (3.8)

SS = v 1/n

[ St – S ]2

………….. (3.9)

SA = v 1/n

[ At – A ]2

40

………….. (3.10)

1/n r =

[ St – S ]2 [ At – A ]2 SS.SA

………….. (3.11)

dimana: UM = proporsi MSE karena bias US = proporsi MSE karena varian UC = proporsi MSE karena kovarian
ˆ S

= rata-rata nilai simulasi

ˆ A = rata-rata nilai aktual
St = nilai simulasi pada waktu t At = nilai aktual pada waktu t SS = standar deviasi nilai simulasi SA = standar deviasi nilai aktual n = jumlah pengamatan (t = 1, …, n)

Hasil uji ketidaksamaan Theil menjelaskan hal-hal sebagai berikut: a. Kesalahan karena bias diindikasikan dengan nilai UM yang besar, sementara nilai US dan UC kecil. Kesalahan karena bias dianggap berpotensi serius dan biasanya merupakan kesalahan dalam mengestimasi parameter. Kesalahan ini dikategorikan antara model dengan kenyataan. b. Kesalahan karena ketidaksamaan varian yang besar juga termasuk kesalahan sistematis. Terdapat dua kasus kesalahan yang tergolong dalam kelompok ini, yaitu: Jika nilai US mendominasi kesalahan, dengan nilai UM dan UC kecil, berarti terdapat rata-rata yang sama dan korelasi yang tinggi, tetapi jarak varian rata-ratanya berbeda. Keadaan ini menunjukkan nilai simulasi dan nilai aktual yang mempunyai kecenderungan berbeda. Jika US besar, tetapi memiliki rata-rata yang sama (UM = 0) dan UC kecil, berarti kesalahan terjadi karena gangguan acak (random noise) sebagai kesalahan sistematis

41

atau nilai aktual mempunyai siklus yang berbeda dengan nilai simulasi. Interpretasi atas kesalahan ini sangat ditentukan oleh tujuan membuat model. Jika model dibuat untuk menyelidiki pola siklus sistem, maka kesalahan ini dapat dikategorikan sebagai kesalahan sistematis. Akan tetapi apabila tujuan membuat model untuk menganalisa perilaku jangka panjang, maka kesalahan ini tidak penting dan tidak bersifat sistematis. Kesalahan karena ketidaksamaan kovarian yang diindikasikan dengan nilai UC yang besar, sedangkan nilai UM dan US kecil. Hal ini

menunjukkan bahwa nilai tiap-tiap titik (point by point) antara simulasi dengan hasil aktual tidak sama Nilai UC meskipun model dapat dikatakan

memiliki nilai rata-rata dan kecenderungan yang sama dengan nilai aktualnya. yang besar merupakan indikasi terjadinya

gangguan (noise) pada pola siklus (cyclical modes) pada data historis yang tidak dapat ditangkap oleh model. Kesalahan ini pada umumya bukan merupakan kesalahan sistematis. Proses validasi harus pula dilengkapi dengan proses-proses pengujian validasi struktur dan perilaku. Selengkapnya pengujian-pengujian yang dapat dilakukan dalam suatu proses pemodelan system dynamics dapat dinyatakan dalam tabel dibawah ini. Tabel 3.2 Pengujian-pengujian dalam System Dynamics
Tipe Uraian Pengujian Pengujian Proses pengujian Verifikasi struktur model Struktur Verifikasi Paramater Kondisi Ekstrim Kecukupan Bts (Struktur) Konsistensi Dimensional Pertanyaan selama pengujian model Apakah struktur model konsisten dengan pengetahuan deskriptif yang relevan tentang sistem? Apakah parameter-parameter konsisten dengan pengetahuan deskriptif dan numerik mengenai sistem? Apakah masing-masing persamaan masuk akal kendati inputnya memiliki nilai-nilai ekstrim? Apakah konsep-konsep yang penting menyangkut persoalan telah tercakup (endogenus) dengan model ? Apakah masing-masing persamaan konsisten secara dimensional tanpa menggunakan parameter-parameter yang tidak ada di dunia nyata ?

42

Pengujian Perilaku Model

Reproduksi Perilaku

Anomali Perilaku Family Member

Perilaku Mengejutkan Kebijakan Ekstrim Kecukupan Batas (Perilaku) Sensitivitas Perilaku Karakter Statistika Perbaikan Sistem Prediksi Perilaku Kecukupan Batas (Kebijakan) Sensitivitas Kebijakan

Pengujian Implikasi Kebijakan

Apakah model secara endogenus membangkitkan gejala-gejala dari persoalan, mode-mode perilaku, frekuensi, dan karakteristik lain dari perilaku sistem ril ? Apakah perilaku abnormal muncul jika suatu asumsi model ditiadakan ? Dapatkah model mereproduksi perilaku dari contoh-contoh sistem lain dalam kelas yang sama seperti model (mis.: dapatkah sebuah model perkotaan membangkitkan perilaku kota New York, Dallas, Carson City, dan Calcutta bilamana diberi parameter masing-masing kota tersebut) ? Apakah model menunjukkan adanya suatu mode perilaku yang sebelumnya tidak dikenali dalam sistem ril? Apakah model berperilaku sebagaimana mestinya bila dihadapkan pada kebijakan-kebijakan ekstrim atau input-input pengujian ? Apakah perilaku model sensitif terhadap penambahan atau perubahan struktur untuk mewakili teori-teori alternatif yang dapat dapat diterima ? Apakah perilaku model sensitif terhadap variasivariasi yang dapat diterima dalam parameterparameternya ? Apakah output model memiliki karakter statistika yang sama dengan “output” dari sistem ril ? Apakah kinerja sistem ril meningkat melalui penggunaan model ? Apakah model dengan benar menjabarkan hasilhasil dari kebijakan yang baru ? Apakah rekomendasi kebijakan sensitif terhadap penambahan atau pengubahan struktur untuk merepresentasikan teori-teori alternatif yang dapat diterima ? Apakah rekomendasi-rekomendasi kebijakan sensitif dengan variasi-variasi yang masuk akal dalam parameter-parameternya ?

Dikutip dari Taufik (2008, Sumber: Diadaptasi dari Sterman (1984)) b. Pengembangan Model Dalam tahapan-tahapan awal pemodelan sampai dengan pengujian model (dalam tiap tahapannya) mungkin saja dilakukan perubahan struktur model, baik dengan melakukan penambahan atau pengurangan struktur model. Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk memperoleh suatu model yang sesuai dengan sistem yang sebenarnya, atau sesuai dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai, dan dapat dimengerti dengan baik. Pengembangan model dapat dilakukan dengan

43

menambah/mengurangi variabel, menambah/mengurangi umpan-balik, atau memperkecil/memperluas boundary model. Pengembangan model pada

peinsipnya ditujukan untuk process oriented, yaitu meningkatkan pemahaman tentang struktur sistem nyata yang kita amati. III.2.5 Analisis Kebijakan dan Penggunaan Model Menurut Tasrif (2005) analisa kebijakan ialah menggunakan model untuk melacak kebijakan-kebijakan yang dapat memberikan efek perubahan perilaku sistem nyata sesuai dengan yang diinginkan (menanggulangi/ memperbaiki perilaku sistem yang tidak diinginkan atau mewujudkan perilaku sistem yang diinginkan). Analisa kebijakan mencakup 1) apa kebijakannya, mengapa 2) besaran dan 3) kapan kebijakan diterapkan (Tasrif, 2005). Analisis lebih mendalam dapat dilakukan untuk menyelidiki kemungkinan dampak dari berbagai kebijakan yang dipilih. Penyusunan alternatif kebijakan merupakan tindakan atau kombinasi dari dua jenis intervensi terhadap model yaitu perubahan parameter (nilai konstanta atau besaran variabel) dan perubahan struktural (yang mencakup bentuk dan variasi persamaan variabel model). a. Perubahan Parameter Perubahan parameter menurut Tasrif (2005) mengandung perubahan parameterparameter kebijakan yang sensitif dalam suatu model yang mengindikasikan titiktitik pengungkit (leverage points) dalam sistem nyata, tempat suatu perubahan dapat dilakukan dalam sistem nyata yang akan mengubah (memperbaiki) perilaku sistem. Menguji sensitivitas model terhadap suatu nilai parameter kebijakan merupakan uji sensitivitas sistem kebijakan. yang sebenarnya dalam kaitannya dengan perubahan

Di dalam model terdapat sejumlah parameter yang dikategorikan

sebagai parameter kebijakan, yaitu sejumlah nilai yang berada di bawah kendali para pengambil kebijakan dalam sistem nyata. b. Perubahan Struktural Perubahan struktur dalam model mencakup penambahan/pengurangan struktur umpan balik dalam model. Perubahan struktur ini menandakan adanya perubahan kaidah keputusan. Perubahan struktur juga dapat dimaksudkan untuk mengubah

44

arah model ke arah yang diinginkan (desired state). Dengan kata lain perubahan struktur ditujukan untuk meningkatkan pemahaman kita mengenai pengaruh keputusan-keputusan terhadap hasil simulasi model. Struktur umpan-balik dalam pemodelan system dynamics seringkali digunakan untuk meningkatkan pemahaman kita tentang kompleksitas sistem amatan. Umpan-balik timbul jika efek variabel satu ke variabel lainnya ditransfer ke variabel asal. Ini biasanya menghasilkan efek-efek yang sering tidak disadari oleh pengambil kebijakan. Karena itu banyak pakar menyatakan bahwa struktur umpan balik merupakan salah satu keunggulan system dynamics khususnya dalam memahami rangkaian halus (coupling subtle) yang bekerja dalam sistem nyata. c. Hasil Akhir Analisis Kebijakan Hasil akhir analisa kebijakan ialah menyusun rekomendasi kebijakan yang didasarkan atas hasil simulasi dengan berbagai perubahan (parameter dan struktural) yang dibuat pemodel. Hasil analisa kebijakan juga mencakup bagaimana keadaan aktual kini dan berbagai intervensi kebijakan membawa perubahan sistem di masa datang. Menurut Richardson dan Pugh (1981), rekomendasi kebijakan dianggap memiliki kekuatan yang memadai jika kebijakan tersebut dianggap sebagai kebijakan terbaik meskipun dilakukan sejumlah perubahan dalam parameter model sewaktu menghadapi kondisi exogenus yang berbeda. Dalam pandangan Sterman (2000) tidak ada model yang benar-benar sesuai dengan sistem sebenarnya (Sterman, 2002) karena itu, kekuatan rekomendasi merupakan hal vital dalam mengusulkan suatu rekomendasi kebijakan. Kemampuan kebijakan dapat dilihat dari kemungkinan pelaksanaan kebijakan itu dalam dunia nyata. Jika perubahan parameter dan struktur dimungkinkan dalam dunia nyata, maka semakin besar kekuatan rekomendasi kebijakan itu sendiri.

45

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA DAN MODEL MAKROEKONOMI
IV.1 Gambaran Makroekonomi Indonesia Pertumbuhan PDB Indonesia sebelum krisis moneter berada pada kisaran 7 % per tahun. Ini umumnya ditopang oleh pertumbuhan investasi dan net ekspor. Setelah krisis moneter menimpa Indonesia, PDB kita hanya tumbuh maksimal 6,7% per tahun. Bahkan pada saat krisis PDB mengalami pertumbuhan negatif. IV.1.1 Pertumbuhan PDB dari segi Pengeluaran PDB dari segi pengeluaran terdiri atas konsumsi swasta dan pemerintah, ditambah dengan jumlah investasi dan ekspor dan dikurangi impor barang dan jasa. Konsumsi masyarakat (swasta) adalah pendorong terbesar pertumbuhan ekonomi, ini tak terlepas dari persentasi konsumsi atas PDB yang rata-rata 60%. Sebelum tahun 1998, sumbangan pertumbuhan konsumsi atas PDB berada dibawah angka 55 % per tahun dan kemudian meningkat rata-rata 4 % per tahun setelah krisis moneter. Dapat dikatakan bahwa sumbangan konsumsi swasta (sebelum dan sesudah krisis moneter) merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan PDB. Pada tahun 2006, sumbangan pertumbuhan konsumsi atas pertumbuhan PDB menurun 1,86 % yang diimbangi dengan peningkatan sumbangan investasi atas pertumbuhan PDB 4,14 %. Disisi investasi, terlihat pertumbuhan yang bersifat fluktuatif dari tahun-tahun, bahkan pertumbuhan investasi mengalami penurunan pada tahun 1998-1999. Fluktuasi pertumbuhan investasi menunjukkan minat investor yang menurun. Pada tahun 2006, investasi memberi sumbangan terbesar atas pertumbuhan PDB 4,14% dibandingkan dengan sumbangan konsumsi yang hanya 1,86 %. Net Ekspor (selisih ekspor dan impor) sempat menunjukkan pertumbuhan negatif, namun pada tahun 2006 mengalami pertumbuhan 4,14 %. Pertumbuhan net ekspor yang positif menandakan bahwa Indonesia mempunyai peluang untuk meningkatkan cadangan devisa. Pertumbuhan investasi dan net ekspor mempunyai implikasi penguatan devisa negara dalam jangka panjang, ini penting

46

untuk menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia yang masih dibelenggu hutang luar negeri. IV.1.2 Pertumbuhan PDB dari segi Lapangan Usaha PDB dari segi lapangan usaha terdiri atas sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik gas dan air bersih, bangunan, perdagangan hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan persewaan dan jasa perusahaan dan jasa-jasa. Sumbangan pertumbuhan industri pertanian terhadap pertumbuhan PDB semakin menurun, dari 0,66% pada tahun 1995 menjadi hanya 0,38 % pada tahun 2006. Penurunan ini dialami juga sektor industri pengolahan yang peran-nya menurun menjadi 1,27 % pada tahun 2006 dibandingkan dengan 2,73 % pada tahun 1995. Industri Jasa dan Komunikasi mempunyai peran yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Industri Jasa tumbuh menjadi 0,61% tahun 2006 dari hanya 0,29% pada tahun 1995. Demikian juga industri komunikasi yang semula 0,39% tahun 1995 menjadi 0,92% pada tahun 2006. Industri keuangan persewaan dan hotel juga mengalami penurunan peranan terhadap pertumbuhan PDB. Kedua industri pada tahun 1990-an mempunyai sumbangan diatas 1% dan hanya menyumbang 1% pada tahun 2000-an. Peranan sektor pertanian semakin menurun atas PDB. Namun penurunan itu diimbangi dengan makin besarnya peranan sektor industri (terutama sektor industri pengolahan) dalam pertumbuhan ekonomi. Disisi lain, pemerintah perlu menggalakkan peranan industri hotel dan restoran sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi. Demikian juga sektor-sektor lain yang peranannya harus ditingkatkan. Terlihat bahwa Indonesia, walaupun mengalami pertumbuhan PDB, setelah krisis moneter, mengalami kemacetan pertumbuhan disektor riil. Ini perlu dibenahi pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

47

Tabel 4.1 PDB Indonesia 1995-2006 (PDB Berdasarkan Jenis Pengeluaran)
Uraian 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 PDB 1.340.101,6 1.444.873,3 1.512.780,9 1.314.202,0 1.324.599,0 1.389.770,2 1.442.984,6 1.506.124,4 1.579.558,9 1.656.825,7 1.749.546,9 1.846.654,9 Konsumsi Swasta 726.185,3 796.776,5 859.089,0 806.097,6 843.445,5 856.798,3 886.736,0 920.749,6 956.593,4 1.004.109,0 1.043.805,1 1.076.928,1 Konsumsi Pmrintah 97.352,2 99.973,9 100.035,1 84.658,1 85.246,4 90.779,7 97.646,0 110.333,6 121.404,1 126.248,7 136.424,9 147.563,7 Investasi Total 346.857,7 397.201,9 431.234,5 288.891,8 236.326,6 275.881,2 293.792,7 307.584,6 310.776,9 354.561,3 389.757,2 404.606,6 Perubahan Stok 42.669,6 14.323,0 24.490,3 28.859,6 34.795,6 20.138,6 32.658,5 23.539,6 12.034,1 36.403,5 52.806,3 13.095,1 Ekspor Brng &Jasa 512.137,2 550.854,9 593.821,4 660.229,5 450.243,6 569.490,3 573.163,4 566.188,4 612.559,4 680.465,7 739.006,9 864.503,5 Impor Barang &Jasa 488.016,0 521.516,3 598.263,5 566.614,6 336.142,7 423.317,9 441.012,0 422.271,4 433.809,0 544.962,5 612.253,5 684.077,8 8,2 7,8 4,7 (13,1) 0,8 4,9 3,8 4,4 4,9 4,9 5,6 5,6 PDB Riil (%) Tabel 4.2 Persentase Jenis Pengeluaran terhadap PDB Indonesia 1995-2006
Uraian Konsumsi Swasta (%) Konsumsi Pemerintah (%) Investasi Total (%) Perubahan Stok (%) Ekspor Barang dan Jasa (%) Impor Barang dan Jasa (%) Net Ekspor Barang dan Jasa 1995 54,2 7,3 25,9 3,2 38,2 36,4 1,8 1996 55,1 6,9 27,5 1,0 38,1 36,1 2,0 1997 56,8 6,6 28,5 1,6 39,3 39,5 -0,29 1998 61,3 6,4 22,0 2,2 50,2 43,1 7,1 1999 63,7 6,4 17,8 2,6 34,0 25,4 8,6 2000 61,7 6,5 19,9 1,4 41,0 30,5 10,5 2001 61,5 6,8 20,4 2,3 39,7 30,6 9,2 2002 61,1 7,3 20,4 1,6 37,6 28,0 9,6 2003 60,6 7,7 19,7 0,8 38,8 27,5 11,3 2004 60,6 7,6 21,4 2,2 41,1 32,9 8,2 2005 59,7 7,8 22,3 3,0 42,2 35,0 7,2 2006 58,3 8,0 21,9 0,7 46,8 37,0 9,8

Tabel 4.3 Persentase Pengeluaran terhadap Pertumbuhan PDB Indonesia 1995-2006
URAIAN Konsumsi Swasta (%) Konsumsi Pemerintah (%) Investasi Total (%) Perubahan Stok (%) Ekspor Barang dan Jasa (%) Impor Barang dan Jasa (%) Net Ekspor Barang dan Jasa 1995 4,45 0,91 0,35 0,45 3,28 2,81 0,38 1996 5,36 0,19 3,99 -0,66 2,88 2,48 0,44 1997 4,44 0,00 2,44 1,15 3,06 5,82 0,34 1998 -3,78 -0,99 -7,26 0,39 5,62 -2,28 15,61 1999 2,95 0,04 -3,25 0,54 -10,81 -10,32 1,89 2000 0,98 0,42 3,32 -0,61 10,85 7,90 2,96 2001 2,15 0,51 1,32 1,41 0,26 1,28 -0,88 2002 2,34 0,95 0,96 -0,44 -0,46 -1,19 0,85 2003 2,36 0,77 0,20 -0,37 3,18 0,75 2,74 2004 3,01 0,30 3,01 4,45 4,55 8,43 -1,98 2005 2,36 0,63 2,21 1,36 3,63 4,32 -0,47 2006 1,85 0,65 0,83 -0,53 7,95 4,35 4,14

Perbedaan Statistik PBD*

1,61

0,31

-0,31

-0,81

-0,09

0,00

48

Tabel 4.4 PDB Indonesia 1995-2006 (PDB Berdasarkan Sektor Industri )
Sektor 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertanian 209.033,4 211.132,3 208.318,5 212.824,2 216.831,4 225.685,7 232.973,5 243.076,0 248.222,8 254.391,3 261.296,8 Pertambangan dan Penggalian 162.704,1 166.147,9 161.559,9 158.937,8 167.692,2 168.244,3 169.932,0 168.426,7 160.100,4 162.642,0 168.729,9 Industri Pengolahan 375.581,4 395.304,4 350.095,3 363.824,0 385.597,9 398.323,8 419.388,1 441.754,7 469.952,4 491.699,5 514.192,2 Listrik gas dan air bersih 6.226,0 6.995,9 7.208,1 7.804,0 8.393,7 9.058,3 9.868,2 10.448,1 10.889,8 11.596,6 12.263,6 Bangunan 108.299,8 116.269,1 73.897,8 72.484,3 76.573,4 80.080,4 84.469,8 90.103,4 96.333,6 103.403,8 112.762,2 Perdagangan hotel dan restoran 245.579,2 259.890,5 212.548,8 212.418,0 224.452,6 234.273,1 243.409,3 256.299,5 271.104,9 294.396,3 311.903,5 Pengangkutan dan komunikasi 66.418,7 71.073,0 60.322,7 59.868,8 65.012,1 70.276,1 76.173,1 84.979,0 96.896,7 109.467,1 124.399,0 Keuangan persewaan dan jasa persh. 153.046,4 162.127,2 118.951,5 110.395,2 115.463,1 123.085,5 130.928,1 140.117,3 151.187,8 161.959,6 170.495,6 Jasa-jasa 124.838,9 129.353,3 124.378,2 126.795,8 129.753,8 133.957,4 138.982,3 144.354,2 152.137,3 159.990,7 170.612,1 Pendapatan Domestik Bruto 1.444.873,31.512.780,91.314.202,01.324.599,01.389.770,21.442.984,61.506.124,41.579.558,91.656.825,71.749.546,91.846.654,9 Pertumbuhan PDB Riil (%) 7,8 4,7 (13,1) 0,8 4,9 3,8 4,4 4,9 4,9 5,6 5,6 Tabel 4.5 Persentase Sektor Industri Terhadap PDB Indonesia 1995-2006 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik gas dan air bersih Bangunan Perdagangan hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan persewaan &jasa persh. Jasa-jasa 1995 15,12 11,42 25,11 0,41 7,17 16,94 4,56 10,77 9,01 1996 14,47 11,26 25,99 0,43 7,50 17,00 4,60 10,59 8,64 1997 13,96 10,98 26,13 0,46 7,69 17,18 4,70 10,72 8,55 1998 15,85 12,29 26,64 0,55 5,62 16,17 4,59 9,05 9,46 1999 16,07 12,00 27,47 0,59 5,47 16,04 4,52 8,33 9,57 2000 15,60 12,07 27,75 0,60 5,51 16,15 4,68 8,31 9,34 2001 15,64 11,66 27,60 0,63 5,55 16,24 4,87 8,53 9,28 2002 15,47 11,28 27,85 0,66 5,61 16,16 5,06 8,69 9,23 2003 15,39 10,66 27,97 0,66 5,70 16,23 5,38 8,87 9,14 2004 14,98 9,66 28,36 0,66 5,81 16,36 5,85 9,13 9,18 2005 14,54 9,30 28,10 0,66 5,91 16,83 6,26 9,26 9,14 2006 14,15 9,14 27,84 0,66 6,11 16,89 6,74 9,23 9,24

49

Tabel 4.6 Persentase pertumbuhan sektor industri terhadap pertumbuhan PDB Indonesia 1995-2006
Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik gas dan air bersih Bangunan Perdagangan hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan persewaan & jasa persh. Jasa-jasa 1995 0,66 0,77 2,73 0,07 0,93 1,35 0,39 1,19 0,29 1996 0,45 0,71 3,01 0,06 0,96 1,39 0,40 0,64 0,29 1997 0,14 0,23 1,37 0,06 0,57 1,00 0,33 0,64 0,31 1998 -0,21 -0,34 -3,05 0,02 -2,05 -2,95 -0,69 -2,41 -0,36 1999 0,35 -0,19 1,08 0,05 -0,10 -0,01 -0,03 -0,60 0,19 2000 0,29 0,66 1,66 0,05 0,31 0,92 0,40 0,38 0,22 2001 0,64 0,04 0,91 0,05 0,25 0,71 0,39 0,56 0,30 2002 0,50 0,11 1,47 0,06 0,31 0,63 0,42 0,55 0,35 2003 0,67 -0,09 1,49 0,04 0,38 0,86 0,62 0,62 0,35 2004 0,32 -0,48 1,81 0,03 0,40 0,95 0,82 0,72 0,50 2005 0,36 0,15 1,30 0,04 0,43 1,45 0,81 0,66 0,47 2006 0,38 0,34 1,27 0,04 0,55 1,00 0,92 0,49 0,61

Pertumbuhan
10,0

Persentase Konsumsi atas Pertumbuhan PDB
Pertumbuhan

Persentase Sektor Pertaninan & Ind. Pengolahan atas PDB 10,0 5,0 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
Tahun

5,0

1995 (5,0) 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006

Pertumbuhan PDB Riil (%) Konsumsi Swasta (%) Konsumsi Pemerintah (%)

Tahun

(5,0)
Pertumbuhan PDB Riil (%)

(10,0)

(10,0) (15,0)

Pertanian Industri Pengolahan

(15,0)

Gambar 4.1 Pertumbuhan PDB Indonesia dan Persentase Sektor Pertanian vs Sektor Pengolahan terhadap PDB Indonesia

IV.2 Model Dasar Makroekonomi dalam System Dynamics Dalam bagian ini akan dibahas struktur dan perilaku model, sebelum beranjak pada tingkatan simulasi. Pemahaman struktur dan perilaku model akan meningkatkan pemahaman kita bagaimana variabel model berinteraksi satu sama lain untuk menghasilkan tujuan model. Berbeda dengan penelitian makroekonomi yang menetapkan diambil konstan

sepanjang waktu, model system dynamics yang dikembangkan di sini tidak mengasumsikan kekonstanan . Dalam model yang -nya konstan, perubahan

teknologi akan ditangkap oleh variabel TPF (Total Productivity Factor= Faktor Produktivitas Total). Dalam model system dynamics ini, peningkatan penguasaan teknologi ditangkap oleh peningkatan koefisien faktor eksternal ditangkap oleh TPF. Dalam pemodelan system dynamics ada beberapa istilah yang patut diingat yaitu variabel endogenous, exogenous dan excluded variabel. Variabel endogenous dan exogenous adalah variabel yang tercakup dalam model. Perbedaannya ialah variabel endogenous nilainya berubah selama simulasi model, sedangkan variabel exogenous dibuat untuk mengurangi kompleksitas model. Variabel excluded adalah variabel yang berada di luar pengamatan model. Jenis variabel model dapat dilihat dalam Tabel 4.7 dibawah ini. Tabel 4.7 Daftar Variabel Model Endogenous
o Output Y, Yo (output awal) [Rp/tahun] o Desired Capital [DK=Rp] o Desired Investment, Investment [Rp/tahun] o Desired Labor (DE), Labor (Lw) [Jiwa] o Fraksi Pengangguran (U), Lagged Unemployment (LU), nru [%] o SED, LED [Rp/tahun] (Short dan Long Run Expect.Demand) o Final Sales (FS) [Rp/tahun] o Price Level (P), U_ratio [dimensionless] o Inventory (IV), Desired Inventory(DIV) [Rp]; Populasi [Jiwa] o Betha_aktual=dimensionless o o o

dan peningkatan output karena

Exogenous
Real Interest Rate [%/tahun] Tingkat pertumbuhan Net Ekspor [%/tahun] tae, tai, tak, tsy (time adjust.Employment, Investment,kapital, pendapatan ), nic (normal inventory coverage) [tahun] o spc (slope philip curve), apc, Fraksi Angkatan Kerja (fraksi AK), initial alpha, [dimensionless] o alk (average life time capital) [tahun] o Time adjustment KLR [tahun] o Exchange Rate [US$/Rp] o fcu (flexibility capital utilization)dimensionless o Growth Population Rate (fract_growth)[%/tahun]

51

o AG (Aggregate Demand), PTY (potential output) [Rp/tahun] ; Kapital (Kw) [Rp] o Capital Depreciation [KD=Rp/tahun] o Permanent Income (PY), Consumption (C) & pendapatan disposable (CDY)[Rp/tahun] o Pendapatan Per kapita [US$/tahun-jiwa] o Real Wage (RW) [Rp/tahun-jiwa]

Excluded
o o o Pengaruh Balance of Payment terhadap PDB World Supply and Demand Utang Luar Negeri

Model system dynamics selalu diawali dengan tampilan diagram causal loop. Diagram non teknis ditandai dengan tanda + (plus) dan – (minus). Tanda + menunjukkan bahwa kedua variabel (variabel dipangkal dan ujung garis panah) mempunyai sifat searah (membesarnya variabel satu akan memperbesar variabel yang terletak diujung garis). Untuk tanda – pernyataan sebelumnya berlaku sebaliknya. Model makroekonomi tesis ini mempunyai diagram causal loop sesuai di Gambar 4.2.
Government Spending Net Ekspor

+

+

+
Konsumsi

Aggregate Demand

+ +
Output Y

+ +
Permanent Income

Short Run Expected Demand Potential Output

+

+ -

Desired Labor

+ +

2

+

+

+

+
Kapital

Long Run Expected Demand

3
-

Employment Unemployment

+
Investasi

+1

-

--

+
Desired Kapital

4
Labor Intensity ( )

Real Wage

+

+
Capital Labor Ratio Operating Goal

+ +

-

Explicit Capital Labor Ratio Goal

b

+ Change Capital in Labor Ratio

a

+
Recognized Capital Labor Ratio

+

Capital Intensity ( )

Gambar 4.2 Causal Loop Model Makroekonomi

52

Dalam diagram causal loop juga dikenal istilah loop positip dan loop negatif. Loop positip menyatakan adanya pertumbuhan dan sebaliknya loop negatif bersifat saling meniadakan atau menuju ekuilibrium (goal seeking). Loop positip akan meningkatkan nilai variabel yang satu atas pertambahan nilai variabel yang mempengaruhinya. Sementara dalam loop negatif, pertambahan satu variabel akan mengurangi besaran variabel lain sehingga tercapai keseimbangan. Loop yang ada dalam Gambar 4.2 diatas diuraikan dalam paragraf berikut ini.

Loop 1: Desired Kapital-Investasi-Kapital-Potential Output-Output-Aggregate Demand-Long Run Expected Demand-Desired Kapital
Loop ini bermakna peningkatan desired kapital merupakan akselerator

pertumbuhan output melalui peningkatan permintaan investasi. Makin tinggi desired kapital maka semakin tinggi pula permintaan investasi yang berujung pada peningkatan output. Loop 2: Desired Labor-Employment-Potential Output- Output-Aggregate Demand- Short Run Expected Demand - Desired Labor Loop ini menerangkan bahwa permintaan tenaga kerja dan output adalah loop positip yang akan terus berkembang nilainya selama tingkat permintaan tenaga kerja terpenuhi. Loop 3: Desired Labor- Employment- Unemployment-Real Wage -Desired Labor Ini merupakan loop negatif dimana variabel satu meniadakan pengaruh variabel
+ lainnya. Loop ini disebut juga loop labor market clearing. Dimana peningkatan

pengangguran (unemployment) akan menurunkan real wage. Dan peningkatan real wage akan menurunkan tingkat tenaga kerja yang dinginkan (desired labor). Loop 4: Desired Labor- Employment- Unemployment-Real Wage –Capital Labor Ratio Operating Goal – Recognized-Labor Intensity-Desired Labor Loop ini juga loop negatif, dimana capital labor ratio (KLR) berfungsi sebagai technology mix. Dimana peningkatan KLR akan mengurangi permintaan tenaga kerja namun disisi lain pengurangan permintaan tenaga kerja akan mengurangi real wage. Dimana real wage ini kembali akan meningkatkan nilai variabel KLR.

53

Dapat juga ditambahkan bahwa peningkatan Capital-Labor Ratio (KLR) akan meningkatkan nilai variabel yang berarti industri bergerak menuju industri akan mengurangi permintaan tenaga

padat modal. Sebaliknya peningkatan

kerja. Sekilas kita melihat seolah-olah perubahan industri padat modal akan meningkatkan pengangguran. Jika kita lihat lebih dalam, loop 1 mengandung pernyataan bahwa peningkatan permintaan kapital (yang disebabkan membesarnya KLR) akan meningkatkan aggregate demand yang juga berarti peningkatan desired labor. Secara serentak peningkatan aggregate demand akan meningkatkan permintaan tenaga kerja dan kapital yang akan meningkatkan semua variabel penting dalam pertumbuhan ekonomi yaitu: tingkat investasi, naiknya tingkat produksi potensial (potential output) dan tingkat pendapatan serta tingkat konsumsi. Dengan kata lain penurunan permintaan tenaga kerja akibat peningkatan capital-labor ratio akan dieliminasi oleh peningkatan permintaan investasi, meningkatnya pendapatan, tingkat produksi dan konsumsi sebuah perekonomian yang pada akhirnya akan menaikkan permintaan tenaga kerja. Gambar 4.2 diatas juga menjelaskan bahwa capital labor ratio (KLR) dapat dikembangkan dengan arah garis a dan garis b. Garis a menunjukkan bahwa target KLR (capital labor ratio operating goal) akan meningkat jika real wage lebih besar dibandingkan marginal productivity labor. Garis b menunjukkan bahwa capital labor ratio operating goal dapat di tingkatkan sesuai dengan sasaran ekplisit. Makin padat modal, maka makin tinggi tingkat produksi yang dapat dihasilkan oleh suatu perekonomian. Pentingnya fungsi produksi diperkuat oleh pernyataan Gregory N Mankiew, seorang ekonom terkenal, dalam buku “Mengenal Pembangunan dan Analisis Kebijakan” (Partowidagdo, 2004) beliau menyatakan bahwa “makin tinggi nilai fungsi produksi suatu negara, maka makin mampu negara itu meningkatkan standar kehidupannya”. IV.2.1 Sektor Pengeluaran Pemerintah (GS-Government Spending) Pengeluaran pemerintah digolongkan dalam 2 kategori, yakni government spending dan government transfer. Government Spending ialah pembiayaan rutin

54

yang dilakukan oleh pemerintah dalam pelaksanaan kegiatan perekonomian. Termasuk diantaranya pengeluaran gaji dan pembiayaan proyek pembangunan. Disisi lain, government transfer merupakan pengeluaran pemerintah yang ditujukan untuk meredistribusi ulang pendapatan masyarakat dengan tujuan menghilangkan kesenjangan pendapatan. Misalnya beras miskin, biaya

operasional sekolah dan asuransi kesehatan miskin serta subsidi BBM.
SEKTOR GOV TRANSFER & SPENDING & PERMANENT INCOME

Yo

GT

Yo T

G_Spending tr

GT PY CDY Yo T PY1 tsy apc KD

fcu

nic

plsh

C persentase_GS

IV SED plst Y Y_aktual DII PTY kurva_normal_Y sdvY DIV taiInvestasi_aktual G_Spending_awal FS G_Spending

Gambar 4.3 Flow Diagram Sektor Government dan Permanent Income Model yang ditampilkan disini merupakan pengembangan model yang ditulis Nathan Blair Forrester dalam disertasi yang berjudul “A Dynamic Synthesis of Basic Macroeconomic Therory: Implications for Stabilization Policy Analysis” (Forrester, 1993). Dalam submodel ini terlihat bahwa Output (Y=PDB) mempunyai variabel noise yang diasumsikan berdistribusi normal dengan tingkat noise 1%. Variabel noise untuk representasi dari gangguan internal dan eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi. Aggregate Demand (AG) juga diasumsikan berdistribusi normal dengan noise 2%.

55

Model ini mengasumsikan bahwa hubungan antara laju inflasi dan tingkat pengangguran dinyatakan dengan kurva Philip. Dimana kemiringan kurva philip diasumsikan sebesar 0,26 (variabel spc=0,26). Laju inflasi dipengaruhi oleh inersia inflasi dan tingkat pengangguran siklis (Mankiew, 2003). Tingkat pengangguran siklis merupakan selisih tingkat pengangguran sekarang dengan tingkat pengangguran alamiah. Inflasi juga dinyatakan mempunyai gangguan yang berdistribusi normal dengan rataan nol dan noise 7%. Besaran noise ini menggambarkan besarnya tekanan dalam pengendalian inflasi di Indonesia. Semakin besar nilai noise ini juga merupakan indikasi bahwa pelaku ekonomi mempunyai backward looking inflation. Artinya pelaku ekonomi melakukan aktivitas ekonominya berdasarkan pengalaman inflasi masa lalu. Inflasi tinggi yang terjadi sebelumnya akan mendominasi tingkah laku pelaku ekonomi (bahkan lebih dominan dibanding laju inflasi yang ditetapkan otoritas moneter) dalam mengambil keputusan dalam bidang ekonomi. IV.2.2 Sektor Potensial Output, Aggregate Demand dan Net Ekspor Potensial Output (PTY) menyatakan fungsi produksi yang diwakili dengan fungsi produksi Cobb-Douglas. Variabel ini menyatakan kemampuan (kapasitas) produksi suatu negara berdasarkan jumlah tenaga kerja (penduduk usia produktif) dan kapital yang dimiliki. Makin besar kapasitasnya makin besar kemampuan produksi suatu area.
SEKTOR POTENTIAL OUTPUT
SEKTOR AGGREGATE DEMAND

KOR

Lo

Net_Export

DII

Yo PTY betha_aktual Kw Lw

AG_aktual

AG

kurva_normal_AG

sdvAG

FS

56

SEKTOR INFLASI

SEKTOR NET EXPORT

Uo Po Ue_1

Ue

Net_export_growth
nru

Net_Export
P spc P_dot KLR_target

P_dot_aktual

Net_Export_DOT switch

kurva_normal_P

sdP

Gambar 4.4 Flow Diagram Sektor Aggregate Demand, Potential Output dan Inflasi serta Net Export Variabel betha_aktual merupakan pernyataan numerik seberapa besar peran tenaga kerja bagi pertumbuhan ekonomi. Semakin besar sumbangan output yang dihasilkan tenaga kerja terhadap pertumbuhan, maka makin tinggi besaran variabel ini. Indonesia belum mempunyai data statistik yang lengkap dalam data kapital (Kw) sehingga diasumsikan bahwa rasio KOR (kapital-output ratio) konstan (2,39). Asumsi ini juga sejalan dengan banyak literatur ekonomi yang menunjukkan konstanitas variabel ini dalam jangka panjang. Khusus untuk variabel Aggregate Demand (AG) dilengkapi dengan variabel noise dengan tingkat noise 2% yang diasumsikan berdistribusi normal. Asumsi ini digunakan untuk mewakili keadaan perekonomian yang selalu mengalami siklus bisnis (Forrester, 1993). Dalam model dasar ini net ekspor (selisih ekspor dan impor) tumbuh 5,87% per tahun (sesuai dengan data pada Tabel 4.3). Sedangkan pertumbuhan investasi diperkirakan sebesar 6,67% per tahun. Data-data ini sesuai dengan tampilan Tabel 4.3 untuk pertumbuhan ekonomi dari tahun 2000-2006.

57

IV.2.3 Sektor Permintaan Jangka Panjang dan Jangka Pendek (Long Run Expexted Demand = LED dan Short Run Expected Demand=SED)
SEKTOR KAPITAL
SEKTOR SHORT DAN LONG EXP DEMAND

laju_investasi Yo Investasi_Awal
SED1 SED

AG_aktual

available_investment KOR Kw KD alk tak Desired_Investment Investasi_aktual
Yo

Yo

tssd nic

LED LED1 tsld AG_aktual DIV

LED

Real_Interest_rateDK

betha_aktual

Gambar 4.5 Flow Diagram Sektor Kapital, SED dan LED Model juga menjelaskan bahwa tingkat investasi dan pertumbuhan kapital dipengaruhi permintaan jangka panjang (LED=Long Run Expected Demand) (Forrester, 1993). Sedangkan permintaan tenaga kerja akan dipengaruhi oleh permintaan jangka pendek – Short Run Expected Demand (SED). Model kapital juga menyatakan bahwa tingkat investasi yang ingin dicapai ditentukan oleh kapital yang diinginkan (DK=desired kapital). Makin besar nilai semakin besar variabel DK (jumlah kapital yang diinginkan). Dalam kenyataannya, jumlah investasi yang tersedia (available investment) dipengaruhi oleh kondisi perekonomian suatu negara. Investasi aktual dalam sektor ini dipengaruhi oleh kesediaan investasi (available investment), jika investasi

tersedia (available investment) < DK (desired kapital) maka investasi aktual sama dengan tingkat available investment. Kesediaan investasi ini dipengaruhi laju investasi, makin tinggi laju investasi, maka makin tinggi available investment.

58

IV.2.4 Sektor Tenaga Kerja, Kapital, dan Pendapatan Per Kapita
SEKTOR TENAGA KERJA DAN PENDAPATAN PER KAPITA

initial_alpha P konversi_USD Y Lw

Yo

populasi growth_pop fract_growth Ue income_per_kapita nru labour_supply fraksi_AK Uo jumlah_TK adjusted_labor_supply Uo LU tsu Lw Y_USD tae U_ratio

Lw_dot Ue Lo RWo

Rw

labour_supply Uo

DE adjusted_labor_supply

betha_aktual SED

Ue LU1

Gambar 4.6 Flow Diagram Sektor Tenaga Kerja dan Pendapatan per Kapita Model juga menjelaskan bahwa tingkat tenaga kerja yang tersedia dibatasi oleh tingkat kesediaan tenaga kerja (labour supply). Disini diasumsikan bahwa perbandingan usia produktif dibandingkan jumlah total penduduk adalah konstan 46,4%. Pendapatan per kapita disini berdasarkan pendapatan per kapita menurut harga berlaku yang dinyatakan dengan US$ dengan konversi rupiah ke US$ bernilai tetap Rp. 9.200 per US$ (exogenous). Dalam model diasumsikan tingkat pertumbuhan penduduk tetap 1,2% per tahun. Angka ini merupakan angka rataan pertambahan penduduk dari tahun 2000-2006. Selama simulasi diasumsikan laju pertambahan penduduk diasumsikan tetap dalam jangka panjang. Diagram sektor diatas menyatakan hubungan diantara MPL (Marginal Productivity Labour) dan tingkat pertumbuhan variabel . Selama Rw > MPL

(upah riil), maka makin tinggi permintaan kapital (variabel KLR=rasio kapitallabour akan meningkat). Ini menunjukkan bahwa perusahaan akan meningkatkan jumlah investasinya, jika upah riil lebih besar dari tingkat pertambahan output untuk pertambahan 1 tenaga kerja dan sebaliknya. Peningkatan rasio ini akan

59

meningkatkan nilai modal.

sehingga industri akan cenderung bergerak ke arah padat

SEKTOR PADAT MODAL

Kw Lw switch_1 KLR_aktual KOR

KLR

MPL

A betha

KLR_target

Rw

KLR_goal U_ratio KLR_aktual

betha_aktual

betha_dot

ta_KLR U_ratio

KLR_dot

tadjus_betha MPL Rw RWo Lw Y

Gambar 4.7 Flow Diagram Sektor Padat Modal IV.3 Uji Validitas Model Sebelum menggunakan model untuk menganalisa menaksir pertumbuhan ekonomi kedepan, kita perlu melakukan uji validitas model. Pengujian model yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan membandingkan perilaku sistem dalam model dengan perilaku sistem yang sebenarnya yang direpresentasikan oleh data empirik di lapangan. Jika hasil simulasi model, memperlihatkan trend yang sesuai dengan data aktual lapangan, maka model dapat diterima sebagai suatu representasi persoalan yang dunia nyata dapat digunakan untuk analisis kebijakan. Dalam uji statistik, standar yang digunakan untuk mengukur kesalahan adalah rataan kuadrat kesalahan (MSE=mean square error), dan rincian distribusi

kesalahan-kesalahan yang timbul diuji dengan statistik ketidaksamaan Theil. Dengan memisahkan kesalahan-kesalahan menjadi proporsi ketidaksamaan bias (inequality bias proportion),UM, ketidaksamaan varian (variance inequality proportion),US, dan proporsi ketidaksamaan kovarian (inequality covariance proportion),UC. Uji prilaku model dilakukan atas 4 komponen variabel, yaitu :

60

variabel populasi penduduk Indonesia, tingkat pendapatan per kapita dan output (PDB) serta indeks harga (P=price level).
Tabel 4.8 Uji Validitas Penduduk
Tahun Penduduk Penduduk

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jumlah Rataan MSE RMSE Um Us Uc Total U

Simulasi 206.265.000 208.754.152 211.273.342 213.822.933 216.403.292 219.014.790 221.657.803 1,27553E+09 2,12589E+08 0,000 0,13% 0,191 0,064 0,745 1,00

Aktual 206.265.000 208.647.000 211.057.000 213.494.000 215.960.000 218.869.000 222.051.000 1,27429E+09 2,12382E+08

Grafik Populasi Penduduk
Jiwa 2,250E+08

2,200E+08

2,150E+08

2,100E+08

2,050E+08

Hasil Simulasi Data Aktual

2,000E+08

Tahun

1,950E+08 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006

Untuk variabel penduduk Indonesia dan output (PDB) kesalahan lebih besar pada Uc sedangkan kesalahan Us dan Um relatif kecil. Ini mengindikasikan adanya pengaruh perubahan siklis yang tidak dapat ditangkap oleh model. Ketiga variabel juga mempunyai derajat MSE dan RMSPE yang mendekati 0 (nol). Umumnya kesalahan ini bukanlah kesalahan sistematis.
Tabel 4.9 Uji Validitas Output (PDB) Tahun PDB PDB Simulasi Aktual 2000 1,38977E+15 1,38977E+15 2001 1,53700E+15 1,44298E+15 2002 1,56300E+15 1,50612E+15 2003 1,60800E+15 1,57956E+15 2004 1,65266E+15 1,65683E+15 2005 1,72680E+15 1,74955E+15 2006 1,79100E+15 1,84665E+15 2007 1,87000E+15 1,96299E+15 Jumlah 1,33740E+16 1,31345E+16 Rataan 1,67175E+15 1,64181E+15 0,00 MSE 3% RMSE 0,363 Um Us 0,187 0,451 Uc 1,00 Total U

Grafik PDB
3E+15 Rp

2E+15

2E+15 Tahun 1E+15

PDB PDB_aktual

5E+14

0E+00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

61
Tabel 4.10 Uji Validitas PDB per kapita PDB/kapita Simulasi 2000 732,37 2001 888,00 2002 1.000,00 2003 1.089,00 2004 1.199,00 2005 1.351,00 2006 1.500,00 2007 1.636,00 7.759,37 Jumlah 1.108,48 Rataan 0,0078 MSE RMSE Um Us Uc Total U 8,82% 0,002 0,369 0,630 1,00 Tahun PDB/kapita Aktual 789 775 932 1.116 1.167 1.321 1.663 1.947 7.763,00 1.109,00

2.500

Grafik Income Per Kapita
US$

2.000

1.500

1.000 Tahun 500

Income/Kapita Simulasi Income/kapita Aktual
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

-

Tabel 4.11 Uji Validitas Price Level Tahun Indeks Harga Indeks Harga Simulasi Aktual 2000 1,000 1 2001 1,109 1,115 2002 1,243 1,2474 2003 1,333 1,3296 2004 1,444 1,4126 2005 1,576 1,5603 2006 1,708 1,7648 2007 1,807 1,8307 9,41 9,43 Jumlah 1,34 1,35 Rataan 0,0009 MSE RMSE Um Us Uc Total U 2,94% 0,365 0,031 0,604 1,00
2,00 1,90 1,80 1,70 1,60 1,50 1,40 1,30 1,20 1,10 1,00
20

Nilai Grafik Price Level (P)

P rice Level Simulasi P rice Level A ktual

Tahun
01 02 03 04 05 06 20 20 20 20 20 20 20 07

Fakta yang sama juga menjelaskan bahwa variabel pendapatan per kapita (income per kapita=PDB per kapita) dan price level (P) mempunyai Uc yang relatif besar dibandingkan Um dan Us. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tiap-tiap titik (point by point) antara simulasi dengan hasil aktual tidak sama meskipun model dapat dikatakan memiliki nilai rata-rata dan kecenderungan yang sama dengan nilai

00

62

aktualnya. Nilai UC yang besar merupakan indikasi terjadinya gangguan (noise) pada pola siklus (cyclical modes) pada data historis yang tidak dapat ditangkap oleh model. Kesalahan ini pada umumya bukan merupakan kesalahan sistematis. IV.4 Perilaku Model Untuk melihat perilaku model dalam skenario business as usual, pemodel mesti menampilkan perubahan nilai variabel sesuai variabel yang telah diuji validitasnya. Hasil simulasi variabel yang populasi, output dan pendapatan per kapita dari tahun 2000 sampai dengan 2050 ditampilkan dalam grafik-grafik dibawah ini: Populasi dalam model standar
350.000.000

hasil simulasi sesuai perilaku

tumbuh 1,2% per tahun. Jumlah populasi pada tahun 2030:

populasi

300.000.000 250.000.000 200.000.000 2.000

295.605.802 jiwa dan pada tahun 2050 mencapai: 375.754.822 jiwa penduduk.
2.020 2.050

Time
Grafik Output (PDB) 3e16 3e16 2e16 2e16 1e16 5e15 2.000 2.010 2.020 2.030 2.040 2.050

Output rill (PDB riil) akan tumbuh mencapai: Rp. 8 milyar.

Sedangkan pada pada tahun 2050 diperkirakan akan mencapai Rp. 30,5 milyar.

Y

Time

63

Grafik Pendapatan per Kapita

Pendapatan per kapita dinyatakan dalam US$. Dimana nilai pada tahun 2030: US$13.683 per jiwatahun dan akhir simulasi US$

income_per_kapita

60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 0 2.000 2.010 2.020 2.030 2.040 2.050

diperkirakan

mencapai:

63.421 per jiwa-tahun.

Time
Grafik Price Level 7 6 5

Tingkat harga (P-price level) yang juga dikenal dengan istilah indeks harga konsumen bernilai 4,71 pada tahun 2030 dan 7,18 pada tahun 2050.

P

4 3 2 1 2.000 2.010 2.020 2.030 2.040 2.050

Time

Gambar 4.8 Hasil berbagai simulasi skenario dasar (business as usual) Tabel 4.12 Data yang digunakan untuk simulasi model dasar. Uraian 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Rataan Laju Konsumsi Pemerintah 7,56% 12,99% 10,03% 3,99% 8,06% 8,16% 8,47% Laju Investasi Riil 6,49% 4,69% 1,04% 14,09% 9,93% 3,81% 6,67% Noise Output (Y-PDB) 1% Noise Permintaan Agregat (AG) 2% Noise Price Level (P) 7% 1 Nilai awal 0,24 Skenario model dasar ini didasarkan pada asumsi pertumbuhan investasi riil 6,67 % per tahun, peningkatan konsumsi pemerintah 8,47% per tahun, tingkat noise output 1% dan gangguan permintaan agregat (aggregate demand) 2% dan price level 7%. Yang menarik kita lihat disini ialah besaran noise price level (P) menunjukkan bahwa selama 7 tahun terakhir ini terlihat tekanan yang kuat terhadap

1

Nilai awal

di tentukan dengan fitting sesuai lampiran 3.

64

pengendalian inflasi di Indonesia. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah mencabut subsidi BBM 3 kali dalam 5 tahun terakhir ini. Fakta ini juga menunjukkan bahwa pelaku ekonomi Indonesia mempunyai karakteristik backward looking inflation, yang menunjukkan tingkat ekspektasi inflasi yang tinggi atau kepercayaan yang rendah pelaku ekonomi Indonesia terhadap kapabilitas otoritas moneter dan fiskal dalam mengendalikan laju inflasi di Indonesia. Gangguan output ini dapat dilihat dari dari grafik output (Y) yang tidak “smooth”. Uji validitas model yang menghasilkan nilai Uc yang dominan menunjukkan bahwa noise atau gangguan sangat mempengaruhi merupakan besaran hal variabel patut

makroekonomi

Indonesia.

Penetapan

noise

yang

diperhitungkan karena Indonesia termasuk “the small open economy”. Istilah ini dikaitkan dengan perekonomian Indonesia yang terbuka dan dipengaruhi oleh perekonomian dunia. Sedangkan istilah “small” merujuk kepada kekuatan ekonomi Indonesia yang relatif kecil sehingga variabel ekonomi Indonesia akan dipengaruhi oleh perubahan variabel ekonomi dunia.

65

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Model telah teruji validitasnya dapat dianggap merupakan repesentasi sahih dari dunia nyata yang kita yang amati. Simulasi ditujukan untuk melihat hubungan struktur dan perilaku setiap variabel yang ada dalam model. Dari bab terdahulu telah disimulasikan model dengan tanpa intervensi kebijakan, hasil simulasi ini dinamakan hasil simulasi skenario dasar. Perilaku skenario dasar dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan intervensi-intervensi kebijakan terhadap model. Jika kita menetapkan konstan sepanjang waktu, peningkatan produktivitas

(penguasaan teknologi) dalam fungsi produksi direpresentasikan dengan peningkatan nilai TPF. Tapi berbeda dalam pemodelan dinamika sistem (system dynamics), peningkatan produktivitas fungsi produksi direpresentasikan dengan peningkatan koefisien (penguasaan teknologi/perubahan industri ke arah padat

modal) dan peningkatan produktivitas total input lainnya direpresentasikan oleh TPF. Penguasaan Teknologi + K/L ratio + + L + + PTY + + TPF + Y

+ K

+ Gambar 5.1 Causal loop

dan TPF

Sesuai dengan diagram causal loop di atas, penguasaan teknologi akan tercermin oleh peningkatan variabel dan faktor eksternal yang mempengaruhi output

seperti: kenaikan harga minyak, economy shock dan proteksi tercermin oleh TPF. Tapi jika mengambil konstan, maka TPF akan mencerminkan penguasaan

teknologi dan faktor eksternal yang mempengaruhi output (karena TPF bisa

66

negatif atau positif, maka garis hubungan antara TPF dan Y tidak ditandai dengan tanda + atau -). V.1 Simulasi Berbagai Skenario Skenario dapat dimaksudkan sebagai suatu cara untuk mencapai situasi yang kita inginkan di masa datang. Dalam tulisan ini tujuan yang ingin dicapai, sesuai visi 2030, adalah pendapatan per kapita US$ 18.000 per tahun pada tahun 2030. Skenario dasar ini sesuai dengan keterangan pada bab sebelumnya. V.1.1 Skenario Business as Usual Hasil simulasi pada skenario dasar ini sering dinamakan business as usual.

Simulasi dengan skenario dasar ini telah dibahas dalam bab sebelumnya dan garis simulasi 1 merupakan representasi dari simulasi dengan skenario ini. Secara umum dapat dikatakan bahwa skenario ini merupakan representasi pertumbuhan ekonomi tanpa adanya intervensi kebijakan. V.1.2 Skenario pertumbuhan Macan Asia Pada saat pertumbuhan pendapatan per kapita Amerika Serikat tumbuh 2% per tahun dari tahun 1966-1990, Macan Asia Timur (Hongkong, Singapura, Taiwan dan Korea Selatan) mengalami pertumbuhan pendapatan per kapita lebih dari 7% per tahun (Mankiew, 2003). Dalam studi terbaru tentang Macan Asia Timur ini, didapatkan bahwa pertumbuhan ekonomi ditopang oleh peningkatan rasio investasi terhadap PDB yang semula 5% menjadi 30% (Mankiew, 2003). Ini meningkatkan ketersediaan jumlah kapital dan lapangan kerja. Skenario ini bertujuan melihat bagaimana pengaruh kenaikan investasi di Indonesia terhadap variabel pendapatan per kapita, pertumbuhan ekonomi dan faktor produktivitas total. Sasaran operasional dari skenario ini peningkatan tingkat investasi mulai tahun 2010 sebesar 9% per tahun. Simulasi menunjukkan bahwa skenario ini akan meningkatkan pendapatan per kapita dan nilai (sehingga industri bergerak ke arah industri yang lebih padat

modal). Dibandingkan dengan model standar, fungsi produksi (potential output)

67

pada skenario ini lebih besar dibandingkan dengan fungsi produksi skenario 1 di atas. Beberapa hasil simulasi skenario ini ditunjukkan oleh garis simulasi 2. V.1.3 Skenario peningkatan (Industri Padat Modal)

Pada kajian ini skenario 2 (skenario diatas) digabungkan dengan sasaran operasional peningkatan nilai yang bertujuan mengubah industri Indonesia ke

arah padat modal. Sasaran operasional skenario ini ialah peningkatan KLR (capital labour ratio) 4% per tahun. Simulasi menunjukkan adanya peningkatan fungsi produksi dan yang sangat

mencolok dibandingkan dengan hasil simulasi skenario sebelumnya. Simulasi juga menunjukkan bahwa perubahan menuju padat modal ini membutuhkan investasi yang lebih besar. Untuk skenario ini, grafiknya ditunjukkan oleh garis simulasi 3.
2 6e16 4e16 2 2e16 123 123 2.000 2.010 2.020 3 12 1 2.030 2.040 2.050 23 1

income_per_kapita

120.000 100.000 80.000 60.000 40.000 20.000 3 12 1 2 3 2 1 3 1 2

Y

3

1

01 2 3 1 2 3 2.000 2.010 2.020 2.030 2.040 2.050

Time

Time

Gambar 5.2 Output PDB (Rp)
2e16 3 2e16

Gambar 5.3 Pendapatan Per Kapita (US$ per jiwa-thn)

2,5

1

K_per_Y

2,0 1,5 1,0 0,5

23

12

3

123

123

123

PTY

1

1e16 3 5e15 1 123 123 2.000 2.010 2.020 23 12 2.030 3 1 2 1

2.040

2.050

0,0 2.000

2.010

2.020

2.030

2.040

2.050

Time

Time
Gambar 5.5 Kapital Output Ratio

Gambar 5.4 Potential Output (Rp)

68

123 0,7

12

3

12 3

12

12

1

600 500

3

betha_aktual

KLR_aktual
3

0,6

400 300 200 100

3

0,5

0,4 3 2.050

2.000

2.010

2.020

2.030

2.040

01 2 3 123 2.000 2.010

123 2.020

123 2.030

3 12 2.040

1 2.050

Time

Time

Gambar 5.6 Koefisien (Betha)
1 5 4 12 12 1 3 2.010 2.020 2.030 2.040 2.050 2 3 3 3 12 3

Gambar 5.7 Capital Labour Ratio

0,30

I_per_Y

2 0,25 1 0,20 1 2 2.000 3

P

3

23 1

23 1

23

2

3 2 11 2 2.000

1

1

2.010

2.020

2.030

2.040

2.050

Time

Time

Gambar 5.8 Price Level (P)
2e17 2e17 1e17 5e16 3 2 3 1 2 3 4 5 6 Desired_Investment

Gambar 5.9 Rasio Investasi-PDB1
160.000.000

1 1 1 2 3 2 3

140.000.000

Lw

Desired_Investment Desired_Investment Investasi_aktual

120.000.000

1
100.000.000

2

3

3 2 1 2 3 6 01 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 4 5 4 2.000 2.020 2.050

Investasi_aktual Investasi_aktual

2 1 2.000

3

1

2

3

2.010

2.020

2.030

2.040

2.050

Time

Time

Gambar 5.11 Jumlah Tenaga Kerja

Gambar 5.10 Desired Investment vs Investment

V.2 Analisis Hasil Simulasi Walaupun skenario dasar menunjukkan peningkatan pendapatan per kapita US$ 13.683 pada tahun 2030 dan US$ 63.421 pada tahun 2050, hal ini tidak ditopang
1

Dalam ketiga simulasi di atas, Gambar 5.5, menunjukkan bahwa asumsi KOR konstan diimbangi oleh hasil simulasi yang menunjukkan variabel K_per_Y relatif konstan sepanjang jalannya simulasi. Variabel K_per_Y=KOR=kapital output ratio.

69

oleh peningkatan persentasi investasi (persentase investasi terhadap PDB dalam jangka panjang menurun) dan fungsi produksi (potential output) hanya meningkat relatif sedikit. Jika terjadi peningkatan permintaan dikhawatirkan suplai dalam negeri berkurang, akibat kemampuan produksi yang relatif rendah. Ini bisa menimbulkan overheating economy, situasi dimana suplai tersendat pada saat demand meningkat. Causal loop yang dapat menyatakan pentingnya investasi sebagai leading pertumbuhan ekonomi dapat kiranya dinyatakan dalam Gambar 5.12 di bawah ini. Loop positif (loop 1 di atas) menunjukkan bahwa peningkatan investasi (yang berasal dari tabungan dalam negeri) bersifat pengganda bagi peningkatan PDB dan pendapatan. Sebaliknya loop negatif (loop 2 di atas) menunjukkan bahwa konsumsi merupakan faktor pelemah bagi peningkatan PDB dan pendapatan.

Pendapatan + + PDB + Kapital + Gambar 5.12 Peranan Investasi sebagai leading pertumbuhan ekonomi Ini menandai pentingnya kita untuk meningkatkan peran investasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ibaratnya, konsumsi adalah gerbong dan investasi adalah lokomotif, “ terlalu banyak gerbong, lokomotif tidak dapat menarik gerbong yang terlalu banyak, sebaliknya lokomotif yang lebih banyak memungkinkan peningkatan jumlah gerbong yang dapat ditarik”. Pernyataan ini sejalan dengan sejarah pertumbuhan Macan Asia Timur yang mampu meningkatkan pendapatan per kapitanya 7% per tahun (dengan meningkatkan peran investasi dalam pertumbuhan ekonomi) pada saat pendapatan per kapita Amerika Serikat (anggota G-8) hanya tumbuh 2% per tahun. + 1
Investasi

2 -

+ Konsumsi

-

70

Dalam skenario 2 dan 3, simulasi menghasilkan output dan pendapatan per kapita yang relatif sama. Namun perbedaan yang terpenting adalah, pada skenario 3 perekonomian mampu meningkatkan besaran fungsi produksi (PTY-potential output) dengan laju eksponensial. Ini membawa implikasi penting, karena peningkatan kemampuan produksi (PTY-potential output) akan meningkatkan kemampuan suatu negara untuk meningkatkan standar hidupnya (Mankiew dalam Partowidago, 2003). Selain itu, melalui Gambar 5.8 kita dapat melihat perubahan pertumbuhan dengan mengandalkan investasi sebagai faktor penting pertumbuhan dan skenario ke arah sektor industri padat modal menunjukkan bahwa price level relatif konstan pada ketiga skenario. Peningkatan modal sebagai peran utama tidak menyebabkan kita terjerumus pada inflasi yang tinggi. Simulasi juga menunjukkan bahwa grand scenario ke arah industri padat modal sama sekali tidak menunjukkan penurunan lapangan kerja tapi justru akan meningkatkan kesediaan lapangan kerja jika kita mampu mencapai tingkat investasi sesuai sasaran investasi (sesuai Gambar 5.9 dan Gambar 5.10). Pencapaian skenario 2 dan 3 ini jelas memerlukan kerja keras, karena membutuhkan tingkat investasi yang memadai, yang didukung oleh peningkatan penguasaan teknologi dan situasi dalam negeri kondusif sejalan dengan dukungan pemerintah bagi pengembangan industri. Kita juga dapat menyimpulkan bahwa skenario dasar tidak mampu membawa kita menuju visi 2030 (pendapatan per kapita US$ 18.000 per tahun) tapi mampu membawa kita menuju impian E-7 (Emerging-Seven versi The Price WaterHouse Coopers) atau N-11 (Next-Eleven versi Goldman Sachs). Goldman Sachs (2007) dan PriceWater House Coopers (2006) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan ekonomi nomor 7 (Goldman Sachs) atau 6 (PriceWater House Coopers) dengan besaran PDB US$ 10.000 milyar atau pendapatan per kapita US$ 30.000 pada tahun 2050. Apakah prediksi itu memiliki alasan kuat ? Simulasi (sesuai skenario 2) menunjukkan bahwa pencapaian besaran PDB per kapita tersebut dapat dicapai sebelum tahun 2050 yaitu pada tahun 2040. Ini

71

menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan potensi besar untuk menjadi negara dengan pendapatan per kapita pada kisaran US$ 146.000 pada tahun 2050. Goldman Sachs memperkirakan bahwa pada tahun 2025 Indonesia mencapai pendapatan per kapita US$ 5.100. Simulasi menunjukkan bahwa pencapaian pada tahun yang sama dapat mencapai US$ 8.000 jika ada peningkatan peranan investasi dalam perekonomian Indonesia. Dalam model, terjadi peningkatan nilai variabel (variabel mengecil) yang

menunjukkan perubahan menuju industri padat modal. Yang perlu ditekankan dalam perubahan menuju industri padat modal ialah pengembangan industri yang dapat mengurangi ketergantungan pada produk impor dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat (lihat Tabel 5.1). Sehingga diperoleh efek ganda, yaitu peningkatan pendapatan masyarakat dan kemandirian perekonomian. Tabel 5.1 Persentase Impor Indonesia menurut golongan barang
URAIAN TOTAL BARANG KONSUMSI BAHAN BAKU PENOLONG BARANG MODAL

2000 100% 8% 78% 14%

2001 100% 7% 77% 16%

2002 100% 8% 77% 14%

2003 100% 9% 78% 13%

2004 100% 8% 78% 14%

2005 100% 8% 78% 14%

2006 100% 8% 77% 15%

2007 100% 9% 76% 15%

Perubahan industri ke arah padat modal banyak memberi keuntungan diantaranya: peningkatan fungsi produksi yang tinggi dibandingkan dengan fungsi produksi sesuai skenario 1 dan 2; peningkatan output (PDB) yang tajam; peningkatan peranan investasi sebagai motor pembangunan; dan mempunyai potensi peningkatan lapangan kerja jika sasaran investasinya terpenuhi (tingkat desired investment-nya tercapai); Karena fungsi produksinya lebih tinggi, maka kebergantungan impor atas consumer good, barang modal dan bahan baku penolong dapat dikurangi. Keseluruhan hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan input kapital dan manusia (tenaga kerja) yang tidak disertai penguasaaan teknologi akan

72

menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih lambat dibandingkan jika kita meningkatkan tiga input secara bersamaan yaitu input kapital, tenaga kerja dan penguasaan teknologi (ditunjukkan dengan peningkatan nilai ). Ini sejalan

dengan pandangan Robert M. Solow yang menyatakan hanya teknologi-lah penjamin pertumbuhan ekonomi berkelanjutan (Mankiew, 2003). Tabel 5.2 Perbandingan Hasil Simulasi Indikator Pendapatan per kapita (US$ ) PDB (Rp) Fungsi Produksi (PTY-Potential Output) Price Level (P) Investasi Skenario 1 US$ 13.683 (2030) US$ 63.421 (2050) Rp 8 Milyar (2030) Rp 30,5 Milyar (2050) Relatif lebih rendah pada tahun 2030 dan 2050 Skenario 2 US$ 22.386 (2030) US$ 146.886 (2050) Rp 12,9 Milyar (2030) Rp 70,6 Milyar (2050) Relatif lebih tinggi pada tahun 2030 dan 2050 Skenario 3 US$23.275 (2030) US$ 148.977 (2050) Rp 13 Milyar (2030) Rp 71,7 Milyar (2050) Sangat tinggi baik tahun 2030 dan 2050

Karakter Industri

Relatif tidak berbeda Relatif tidak berbeda Relatif tidak berbeda jauh jauh jauh Membutuhkan investasi Membutuhkan investasi Membutuhkan investasi yang rendah yang relatif lebih tinggi yang relatif sangat tinggi Masih Padat Karya; Relatif lebih padat Sangat padat modal; meningkat dari 0,24 modal; meningkat meningkat menjadi ke 0,249 menjadi 0,251 0,54

Kemungkinan peningkatan investasi untuk mendukung intervensi kebijakan dapat disimak dari Tabel 5.3 yang menampilkan data investasi dan dana pihak ketiga (DPK).
Tabel 5.3 Dana Pihak Ketiga Yang Terhimpun di Perbankan Indonesia (Milyar) Uraian 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Dana Pihak Ketiga (triliun) 699.100 797.400 835.800 888.600 963.100 1.127.900 1.287.00 Investasi 275.881 323.875 353.967 392.789 515.381 657.625 800.083

Diagram alir (Gambar 5.13 di halaman berikut) menggambarkan hubungan antara tingkat investasi tersedia dengan tingkat tabungan dan dana perbankan yang tersedia, dimana fraksi investasi=50% per tahun dan tingkat pertumbuhan FDI (Foreign Direct Investment=Investasi Asing Langsung) 10% per tahun. Hasil simulasi (Gambar 5.14 di halaman berikut) menunjukkan bahwa dana investasi

73

yang tersedia lebih besar dari tingkat investasi aktual yang dibutuhkan untuk skenario 2 dan 3. Tabel 5.4 Realisasi FDI Tahun Rp (Juta) 2000 90.872.080 2001 32.286.480 2002 28.439.040 2003 50.145.520 2004 42.341.160 2005 82.014.320 2006 54.988.400 2007 78.608.480 Rata-Rata Pertumbuhan 10% per tahun3

Investasi_Tersedia_dlm_Negeri PY Dana_Perbankan Tingkat_Tabungan C dana_investasi_tersedia fraksi_investasi

FDI

Gambar 5.13 Diagram Flow yang menjelaskan hubungan tingkat investasi
3e16

2 1

2e16 2e16 2 1e16 1 5e15 1 01 2 2.000 1 2 2.010 1 2 2.020 2.030 2.040 2

1 2

Investasi_aktual dana_investasi_tersedia

2.050

Time

Gambar 5.14 Tingkat Investasi yang Tersedia
3

FDI mengalami pertumbuhan negatif pada tahun 2001, 2002, 2004 dan 2006.

74

V.3 Perbandingan Pertumbuhan Output dan Tingkat Pengangguran Jika kita sandingkan data tingkat pengangguran dan pertumbuhan ekonomi (Tabel 5.5) terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak sejalan dengan penyediaan tenaga kerja. Ini dapat disebabkan peranan tingkat konsumsi yang sangat dominan4 terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia (Zen dkk 2005). Dengan kata lain jika peningkatan produksi tidak diimbangi peningkatan peran investasi maka pertumbuhan ekonomi tidak akan disertai peningkatan kesempatan kerja. Tabel 5.5 Tingkat Pengangguran vs Pertumbuhan PDB Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tingkat Pengangguran 6,1% 8,1 % 9,1% 9,5% 9,8% 10,2% 9,8% Laju PDB riil 4,9 % 3,8 % 4,4 % 4,9 % 4,9 % 5,6 % 5,6 %

Menurut Tabel 5.6 dibawah ini, terjadi konstanitas persentase investasi atas PDB Indonesia, namun yang menjadi pertanyaan mengapa tingkat pengangguran tidak turun ? Pertanyaan di atas disebabkan karena tersedianya investasi belum tentu memberi solusi kesulitan sektor produksi untuk memperbaiki efisiensi dan daya saing sektor produksi khususnya akibat tekanan biaya yang muncul dari kegiatan non produksi. Tabel 5.6 Persentasi Investasi Terhadap PDB
Uraian Investasi Total (%) 2000 19,9 2001 20,4 2002 20,4 2003 19,7 2004 21,4 2005 22,3 2006 21,9

Sepanjang perbaikan efisiensi pembiayaan investasi sulit dilakukan maka ekspansi usaha tidak akan ekonomis. Dengan demikian pengusaha akan lebih memilih mempertahankan tingkat produksi kini dan sebagai akibatnya enggan

meningkatkan jumlah tenaga kerja akibat tidak tertarik meningkatkan produksi. Bank Dunia telah menerbitkan laporan yang menilai kemudahan bisnis di Indonesia (Bank Dunia, 2008). Dalam laporan itu beberapa penyebab
4

Pertumbuhan konsumsi yang dominan dapat dilihat pada Tabel 4.3 (hal. 47). Dari tahun 20002006 tabel menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi lebih dominan dibanding pertumbuhan investasi.

75

pengembangan investasi adalah semakin sulitnya akses mendapat kredit, investor merasa kurang terlindungi, aplikasi sistem perpajakan, dan lalu lintas perdagangan yang kurang mendukung. Buruknya indikator-indikator tersebut telah

melemahkan fondasi sektor produksi untuk mampu bertahan dan ekspansi. Yang juga perlu ditingkatkan ialah perlindungan terhadap investor yang melakukan usaha di Indonesia relatif tidak banyak berubah. Indikator lain yang melemahkan daya tarik berbisnis di Indonesia adalah sistem perpajakan yang dianggap belum memudahkan investor. Indikator lain yang masih harus diperbaiki adalah kendala bea cukai dan perizinan usaha yang kurang business friendly akan meningkatkan opportunity cost dalam berbisnis.

Gambar 5.15 Indikator Kemudahan Berinvestasi di Indonesia Sumber: Laporan Bank Dunia – April 2008 Yang juga perlu diperhatikan dalam mengurangi jumlah pengangguran ialah peningkatan kompetensi tenaga kerja. Menurut Suparno (2008) minimnya kompetensi tenaga kerja Indonesia terlihat dari tidak terpenuhinya 30% lowongan kerja yang ada di bursa kerja walaupun peminat kerja di bursa lowongan kerja meningkat. Disini terlihat diperlukan kerjasama antara institusi pendidikan dan dunia industri dalam memenuhi permintaan dunia kerja dengan menciptakan

76

tenaga kerja yang kompetensinya sesuai dengan kompetensi yang diinginkan oleh dunia industri. V.4 Fungsi Intermediasi Perbankan Data perbankan di Indonesia, sesuai tabel 5.6, menunjukkan lemahnya fungsi intermediasi perbankan. Dalam tabel terlihat bahwa rasio CAR (current asset ratio) berada pada kisaran 20%, jauh lebih tinggi daripada CAR5 minimum yang dipersyaratkan Bank Indonesia (8%). Ini menunjukkan bahwa perbankan di Indonesia kelebihan likuiditas. Pengalaman krisis moneter (tahun 1997) yang menghancurkan perbankan Indonesia kemungkinan masih membayangi peran perbankan dalam penyediaan investasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Tabel 5.7 Data Perkembangan Perbankan Indonesia Indikator 1999 2000 LDR (%) 44,9 45,8 CAR (%) -8,1 12,7 Sumber Bank Indonesia 2001 45 20,5 2002 49,1 22,5 2003 53,7 19,4 2004 61,8 19,4 2005 64,7 19,5 2006 64,7 20,5 2007 69,2 19,2

V.5 Struktur Industri dan Kemampuan Iptek Indonesia Menurut Buntoro (Buntoro, 2004) sebagian besar sifat industri di Indonesia cenderung tidak inovatif karena mempunyai kategori sebagai berikut:
o o o o

Usaha turun-temurun; Peluang yang diciptakan (proyek pemerintah); Previlege (hak-hak istimewa); Kekuatan Permodalan.

Belajar dari industri yang berkembang di negara-negara seperti Jepang, Taiwan dan Korea Selatan (yang juga kelompok Macan Asia), terlihat sekali bahwa seberapapun skalanya, industri pada awalnya dibangun oleh orang-orang yang memiliki kompetensi, terutama kompetensi dalam teknologi proses. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau ragam produk industrinya bisa sedemikian banyaknya (Buntoro, 2004). Kalau kita cermati, industri-industri yang selama ini tumbuh di Indonesia, kebanyakan hanya mengandalkan keunggulan komparatif, baik komparatif
5

CAR=current asset ratio adalah perbandingan antara aset lancar (current asset) dengan utang lancar (current liabilities).

77

(permodalan, penguasaan berbagai resources) dengan industri-industri sejenis di dalam negeri maupun komparatif (upah buruh yang murah, proteksi pemerintah) terhadap pesaing di manca negara. Pertumbuhan industri semacam itu secara alamiah akan terhenti karena keunggulan komparatif tidak bisa secara terus-menerus dieksploitasi (ada batasnya) dan cenderung menimbulkan kontroversi dan distorsi ekonomi. Karena itu kita harus membangun suatu industri yang berdasarkan proses pengembangan ilmu pengetahuan (Buntoro, 2004). Dalam kaitan dengan pengembangan industri padat modal amatlah penting kita mengembangkan konsep sistem industri yang berkelanjutan bahkan Saswinadi Sasmodjo (2004) menekankan pentingya untuk membangun suatu kerangka institusi industri teknologi sebagai wadah pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Keberhasilan Jepang dalam memajukan teknologi telah dikaji oleh Christopher Freeman dalam penelitiannya yang berjudul “Technology and Economics Performance: Lessons from Japan” (Freeman, 1987 dalam LIPI (2006)). Penelitian tersebut mengungkap bahwa pesatnya kemajuan iptek Jepang hingga menjadi adidaya di bidang teknologi tidak lain disebabkan adanya interaksi dan sinergi antara pemerintah dalam hal ini Ministry for International Trade and Industry (MITI) dengan pelaku (aktor) iptek lainnya seperti industri (Keiretsu), institusi litbang, dan pendidikan.Pemerintah Jepang (MITI) memainkan peran penting sebagai regulator sehingga melahirkan kebijakan-kebijakan yang mendukung interaksi yang kondusif antar aktor di dalam memperkuat Sistem Inovasi Nasional (SIN)6. Di Indonesia sendiri, penerapan SIN tidaklah jauh berbeda dengan negara-negara berkembang lainnya. Beberapa studi menyimpulkan bahwa SIN di Indonesia belum berjalan dengan baik (Aiman, Hakim, & Simamora 2004 dalam LIPI (2006)). Selain karena secara konseptual SIN masih merupakan hal yang baru
6

SIN adalah sebuah konsep tentang penataan jejaring yang kondusif di antara para pelaku (aktor lembaga) lembaga iptek dalam suatu sistem yang kolektif dalam penciptaan (creation), penyebaran (diffussion), dan penggunaan (utilization) ilmu pengetahuan (knowledge) untuk pencapai inovasi (Nelson, 1993, dalam LIPI (2006)).

78

(infancy stage), institusi yang bertanggung untuk mengembangkan dan mengkoordinasikan SIN juga belum teridentifikasi dengan baik. Ditambah lagi, kondisi dari iptek nasional sendiri yang masih dilingkupi permasalahan yang sangat kompleks, diantaranya adalah sebagai berikut: pertama, kurangnya komitmen pemerintah di dalam membangun/ memperkuat ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) nasional. Dalam konteks pembangunan nasional, iptek masih belum dianggap sebagai sektor prioritas dalam proses pembangunan negara. Menurut Amir (2003 dalam LIPI (2006)) masih terdapat discrepancies antara kebijakan ekonomi (economic policy) dengan kebijakan teknologi (technology policy) sebagai dampak adanya perbedaan paradigma dalam orientasi kebijakan publik. kedua, masih dominannya pemerintah dalam pendanaan dan kegiatan litbang iptek. Hampir 70 persen pembiayaan litbang di negara kita masih dilakukan oleh pemerintah melalui lembaga litbang. Di negara lain seperti Singapura, Taiwan, dan Amerika Serikat kontribusi pemerintah untuk kegiatan litbang sekitar 40 persen. Bahkan beberapa negara seperti Korea dan Jepang tidak lebih dari 20 persen. ketiga, tidak adanya koordinasi dan sinergi di antara pelaku iptek yaitu perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri. Disisi sistem pengetahuan walaupun beberapa universitas kita, termasuk ITB dan UGM, telah mencanangkan diri sebagai “universitas berbasis riset”, tingkat penelitian yang mahasiswa dan dosen masih relatif jarang. Sementara itu, lembaga litbang, meskipun telah banyak menghasilkan penemuan dan inovasi, namun hasil-hasil tersebut masih bersifat ilmiah penelitian semata dan kurang berorientasi kepada penelitian yang dapat memenuhi kebutuhan industri. Padahal faktor utama pemicu ambruknya industri nasional di Indonesia pada saat krisis ekonomi pada tahun 1997 lampau karena ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi dari luar dan sangat sedikitnya kegiatan inovasi baik yang teknik maupun manajerial dilakukan oleh industri (Buntoro, 2004). Lemahnya kegiatan litbang di Indonesia menyebabkan rendahnya kemampuan iptek kita yang tercermin dari rendahnya tingkat paten yang terdaftar (lihat tabel 5.8). Ditinjau dari dana pengembangan iptek, Indonesia tergolong negara yang rendah kesediaan dana untuk melakukan riset. Pengembangan dana riset sangat penting, karena kemajuan atau kemakmuran suatu negara tidaklah mungkin tanpa ditopang

79

oleh aktivitas litbang Iptek (Zahar, 2007). Data dari LIPI (2006) menyatakan bahwa terjadi penurunan persentase dana riset terhadap PDB dari tahun ke tahun. Pada tahun 1980-an persentase dana riset berkisar 0,3 %-0,5% dari PDB, dan setelah era reformasi persentase dana riset turun dibawah 0.2% dari PDB (dana riset yang memadai menurut UNESCO ialah 2% dari PDB –

www.uis.unesco.org). Lebih lanjut mengenai daya saing iptek lihat lampiran 5. Tabel 5.8 Jumlah Paten Indonesia dan Negara Tetangga

Dalam kerangka Sistem Inovasi Nasional pemerintah bisa merangsang para pengusaha untuk mau melakukan investasi dibidang riset dengan memberikan berbagai kemudahan insentif, seperti: insentif fiskal atau insentif perpajakan. Singkatnya untuk membangun suatu kerangka industri yang kokoh diperlukan sinergi diantara pemerintah (sistem otoritas), sistem pasar (penyedia jasa dan material) dan sistem pengetahuan (sumber-sumber ilmu pengetahuan) --- inilah sistem inovasi ideal. V.6 Modal Sosial Pembangunan Menurut Bank Dunia (Partowidagdo, 2003) modal pembangunan yang juga tidak kalah penting adalah modal sosial. Nilai-nilai nasionalisme (dalam arti luas) dan

80

semboyan membangun seperti yang ditunjukkan oleh rakyat Jepang (semangat bushido) atau semboyan membangun yang ditunjukkan rakyat Korea (Beat Japanese Everywhere) juga penting dalam pembangunan suatu negara. Dengan kata lain, masalah pembangunan bukan sekedar input kapital dan tenaga kerja (ataupun penguasaan teknologi) tapi juga merupakan budaya membangun. Yaitu timbulnya kesadaran bahwa membangun adalah untuk kepentingan bersama bangsa kita, kini dan masa datang. Pencapaian cita-cita sebagai negara maju, harus pula ditambahkan dengan kalimat atau semboyan yang menantang atau yang membangkitkan rasa nasionalisme. Korea dalam membangun perekonomian-nya mempunyai semboyan “Beat Japanese Everywhere” (kalahkan Jepang dimana saja). Sebaliknya Jepang, setelah kekalahan yang menyakitkan dalam Perang Dunia II, membangun negerinya dengan semboyan pengabdian yang (semangat bushido) tinggi kepada kaisar. Bahwa Jepang boleh kalah perang, tapi jangan kalah dibidang lain dan bangsa Jepang adalah bangsa yang bisa maju. Sebagai perbandingan modal sosial dan peranan institusi penelitian diberbagai negara ditampilkan dalam tabel 5.9. Tabel 5.9 Perbandingan modal sosial dan institusi penelitian Indikator
Modal Sosial Korea Selatan Jepang (G8) (Macan Asia Timur) Beat Japanese Semangat bushido Everywhere, cinta (pengabdian kpd produk dlm kaisar) negeri India (BRICs)7 Indonesia

Institusi Penelitian

Cenderung Perlu membeli membeli produk produk dlm dalam negeri negeri untuk mendukung industri nasional Institusi Institusi penelitian yang Institusi Membangun penelitian yang dikembangkan sesuai penelitian yang institusi dikembangkan kebutuhan industri menggabungkan penelitian yang sesuai kebutuhan (gabungan sistem sistem pasarmenggabungkan industri pasar-science-otoritas). science-otoritas. sistem pasar(gabungan sistem Dana riset yang Dana riset yang science-otoritas. pasar-sciencememadai. memadai. Peningkatan dana otoritas). riset dan Dana riset yang mendorong memadai. peningkatan swasta dalam litbang

7

BRICs singkatan dari Brazil, Rusia, India dan China. BRICs adalah kelompok negara yang pertumbuhan ekonominya akhir-akhir ini di kagumi oleh banyak pengamat ekonomi dunia.

81

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
VI.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil simulasi dan analisisnya dapat kiranya penulis menarik kesimpulan sebagai berikut: Peranan tenaga kerja Indonesia dalam perekonomian masih relatif besar (ditunjukkan oleh > ) dibanding peranan kapital terhadap

perekonomian Indonesia. Simulasi juga menunjukkan perubahan industri ke arah padat modal justru mampu meningkatkan kemandirian dan mengkombinasikan pertumbuhan ekonomi dengan penyediaan lapangan kerja. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak sejalan dengan penyediaan kesempatan kerja. Penanganan masalah pengangguran memerlukan kerjasama antara institusi pendidikan dan dunia industri agar tercipta tenaga kerja yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pengurangan pengangguran juga memerlukan peningkatan peran investasi dalam perekonomian Indonesia. Perekonomian Indonesia sejauh ini masih tergantung pada produk impor untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Ini menunjukkan bahwa sejumlah sektor industri di Indonesia belum mempunyai kombinasi industri hulu dan hilir yang padu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tidak sejalan dengan daya saing iptek Indonesia. Ini tercermin dari rendahnya dana riset yang bernilai kurang dari 2% (dari nilai total PDB) dan jumlah paten peneliti Indonesia yang relatif rendah dibandingkan negara-negara lain. Jika hal ini tidak diatasi dapat menghambat arah kebijakan menuju industri padat modal. Peran konsumsi lebih dominan dibandingkan peran investasi dalam perekonomian Indonesia. Ini menunjukkan kecenderungan overheating

82

ekonomi. Keterbatasan pasokan energi listrik, transportasi dan akses kredit seperti yang dilaporkan Bank Dunia (2008) membuat investasi belum tumbuh, sehingga kegiatan produksi semata-mata hanya memanfaatkan kapasitas terpasang yang ada. Sesungguhnya Indonesia mempunyai peluang untuk maju ditinjau dari aspek populasi dan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang semakin baik. Namun pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap membutuhkan intervensiintervensi kebijakan untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih bermanfaat. Intervensi kebijakan yang dapat membawa Indonesia untuk mencapai visi 2030 adalah peningkatan peran investasi dalam

pertumbuhan ekonomi yang diimbangi dengan peningkatan peran iptek dalam proses pembangunan ekonomi di Indonesia. Peningkatan peran investasi dan iptek (sesuai skenario 3) menunjukkan potensi Indonesia untuk mencapai visi 2030 (pendapatan per kapita US$ 18.000 per tahun) yang diimbangi oleh peningkatan kemandirian perekonomian. Peningkatan peran investasi dan daya saing iptek memerlukan kerjasama erat antara pemerintah, swasta dan dunia pendidikan. Dengan kerjasama antara ketiga unsur ini diharapkan dapat dicapai pertumbuhan ekonomi yang searah dengan peningkatan daya saing iptek sehingga pertumbuhan ekonomi di imbangi dengan peningkatan fungsi produksi yang makin tinggi. VI.2 Saran Untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih bermanfaat, kita harus melakukan hal-hal sebagai berikut: Keberhasilan perekonomian yang telah dicapai, seperti: kestabilan nilai tukar, pengendalian inflasi dan pengurangan rasio utang atas PDB tidak cukup, tapi perlu ditindaklanjuti dengan mengarahkan pembangunan Indonesia ke arah yang lebih produktif, yaitu dengan mengubah struktur perekonomian yang mengarah pada peningkatan peran investasi dan daya saing iptek.

83

Meningkatkan peran investasi sebagai leading sector bagi pertumbuhan ekonomi, sehingga mampu menghasilkan pertumbuhan yang lebih bermanfaat. Investasi sebaiknya ditujukan untuk membangun struktur industri hilir ke hulu yang padu, sehingga kebergantungan kita pada bahan baku impor dapat berkurang. Keterpaduan industri hilir dan hulu dapat meningkatkan kestabilan makroekonomi Indonesia. Peningkatan sumber daya iptek nasional, meliputi peningkatan dana riset, peningkatan integrasi antara litbang, dunia industri dan institusi pendidikan. Peningkatan integrasi antara ketiga unsur di atas agar dapat tercipta tenaga kerja yang kompetensinya diakui oleh dunia kerja. Peningkatan dana riset diperlukan karena pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan iptek tidak saja penting sebagai sumber pertumbuhan dan daya saing ekonomi, tetapi juga sumber terbentuknya iklim inovasi dan menjadi landasan bagi tumbuhnya kreativitas sumberdaya manusia. Selain itu iptek menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi proses transformasi sumberdaya menjadi sumberdaya baru yang lebih bernilai. Dengan demikian peningkatan kemampuan iptek sangat diperlukan untuk meningkatkan standar kehidupan bangsa dan negara. Peningkatan dana riset dapat dilakukan dengan mendorong peranan swasta dalam kegiatan riset (litbang). Sesungguhnya pembangunan ekonomi tidak mencakup masalah kapital dan tenaga kerja, tapi juga memerlukan kerjasama pemerintah, masyarakat swasta dan institusi pendidikan dalam membangun suatu kerangka kerjasama yang sedemikian rupa sehingga mampu menuntun kita untuk membangun visi dan menjalankan misi pembangunan yang komprehensif dan efektif. Kerjasama ini mencakup penciptaan iklim investasi yang kondusif dan pembentukan institusi industri dan teknologi yang merupakan kombinasi pasar, pemerintah dan institusi pendidikan. Dengan penciptaan kondisi di atas, maka kita mampu meningkatkan Faktor Produktivitas Total setinggi mungkin.

84

DAFTAR PUSTAKA

1. Buntoro, (2008)., Masa Depan Industrialisasi Indonesia., Artikel Online. 2. Berman, Michael (2005). Properties of Production Function. University of Copenhagen. 3. Coopers PriceWaterHouse, (2006)., The World in 2050, Price WaterHouse Coopers. 4. Dunia, Bank (2008)., Indonesia: Economic and Social Update-April 2008, Bank Dunia, Jakarta. 5. OECD (1999)., National Innovation System, OECD 6. Forum, Yayasan Indonesia (2007)., Visi Indonesia 2030. Yayasan Indonesia Forum.
7. Hornstein

and Krussel (1996)., Can Technology Improvement Cause Productivity Slowdown ?, Macroeconomics Annual 1996,Cambridge MA: MIT Press, pp. 209-259.

8. Indonesia, Bank (2008)., Laporan Tahunan Bank Indonesia: 2007, Bank Indonesia, Jakarta, Indonesia 9. LIPI (2006)., Laporan Indikator Iptek Nasional 2006. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bandung. 10. LIPI (2006)., Studi Jejaring Aktor Inovasi dalam mendukung Sistim Inovasi Nasional. www.pappitek.lipi.go.id 11. Magne, Myrtveit (2005)., The World Model Controversy, Department Geography University Bergen. 12. Mankiew, Gregory, (2003)., Teori Makroekonomi, Penerbit Airlangga, Jakarta, 13. Nugroho, Baskoro Agung (2005), Total Faktor Produktivitas, Hasil Bimbingan Teknis Pengukuran TPF untuk tingkat Makro, Sektor dan Mikro. DPN Apindo, Jakarta. 14. Partowidagdo, Widjajono (2004)., Mengenal Pembangunan dan Analisis Kebijakan, Program Pasca Sarjana Studi Pembangunan-ITB, Bandung. 15. Perindustrian, Departemen (2007). Laporan Perkembangan Komoditi Industri Terpilih. Departemen Perindustrian Republik Indonesia. Jakarta 16. Ramelan, Rahardi ( ) Pengembangan Teknologi Industri. Sebuah Artikel Strategi Pengembangan Industri Nasional. 17. Roberts, Nancy, et al. (1983), System Dynamics Approach, London. Introduction to Coputer Simulation: The Addison-Wesley Publishing Company,

18. Richardson, George P., Alexander L. Pugh III (1981), Introduction to System Dynamics Modeling with Dynamo, The MIT Press, Cambridge.

85

19. Sachs, Goldman Global Economic Group (2007)., BRICs and Beyond, Goldman Sachs Inc. 20. Saeed, Khalid & Dennis L. Meadows; (1994), Development Planning and Policy Design, A System Dynamics Approach, Avebury, England 21. Sasmojo, Saswinadi (2004), Sains, Teknologi, Masyarakat & Pembangunan, Program Pascasarjana Studi Pembangunan ITB, Bandung. 22. Sterman, John D. (2000), Business Dynamics; System Thinking and Modeling for a Complex World, International Edition, McGraw-Hill, Singapore. 23. Sterman, John D. (1984), Apropriate Summary Statistics for Evaluating the Historical Fit of System Dynamics Models, Dynamica Vol. 10 Part II, Winer 1984. 24. Sterman, John D. (2002), All Models are Wrong: Reflections on Becoming a System Scientist; System Dynamics Review, Vol. 18, No. 4 (Winter 2002), John Wiley & Sons, Ltd. 25. Suparno, Erman (2008). Penganggur Terdidik 4,5 Juta. Artikel di Kompas tanggal 22 Agustus 2008. 26. Tasrif, Muhammad (1995). Developing Countries Dilemma: Labor Intensive or Capital Intensive Technology”. Center for Research on Energy ITB. Bandung. Indonesia 27. Tasrif, Muhammad (2007), Analisis Kebijakan Menggunakan Model System Dynamics (Buku 2; Modul Kuliah/Kursus), Program Magister Studi Pembangunan-SAPPK ITB, Bandung. 28. Thomson, South Western (2007)., Production and Growth., Thomson South Western Inc. 29. Eng, Peter Van der (2006). Accounting for Indonesia’s growth: Recent past and near future. School of Management, Marketing and International Business, The Australian National University, Canberra Australia. 30. Zahar, Malikus (2007). Melongok Iptek Indonesia. 31. Zen, Suparman dkk (2005)., Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (PDB) terhadap penciptaan kesempatan Kerja, Kajian Ekonomi dan Keuangan-September 2005. 32. ------------- (2007), Indikator Makroekonomi Indonesia; Biro Pusat Statistik, Jakarta.

This document was created with Win2PDF available at http://www.win2pdf.com. The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only. This page will not be added after purchasing Win2PDF.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->