GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU PADA SMP NEGERI KOTA BANDA ACEH

Oleh Musriadi, S.Pd., M.Pd

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh Gaya kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor penentu peningkatan kinerja guru dan keberhasilan pendidikan di sekolah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru yang tercermin dalam peningkatan tentang tanggung jawab, disiplin dan komitmen guru sebagai indikator kinerjanya. Dengan mengunakan metode deskriptif kualitatif. Tehnik pengumpulan data observasi, wawancara, studi dokumentasi. Subjek penelitian adalah kepala sekolah dan guru. Penelitian ini memberikan kesimpulan menunjukkan bahwa: (1) Kepala Sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam meningkatkan tanggung jawab guru seperti menjunjung nilai-nilai kebersamaan dan mensosialisaikan visi dan misi sekolah mengunakan gaya kepemimpinan delegatif sedangkan untuk mesosialisasikan tata tertib dan peraturan sekolah yang telah ditetapkan mengunakan gaya kepemimpinan intruktif, (2) Kepala Sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam meningkatkan disiplin guru seperti ketepatan waktu hadir kesekolah dengan jadwal yang telah di tentukan mengunakan gaya intruktif sedangkan pembagian tugas secara fair sesuai denagn keahliannya masing-masing mengunakan gaya kepemimpinan konsultasi, dan (3) Kepala Sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam meningkatkan komitmen guru seperti kepala sekolah bersikap adil dalam pembagian tugas maupun kesejahteraan yang berpedoman kepada regulasi dan program mengunakan gaya kepemimpinan delegatif
ABSTRAK:

Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan dan Kinerja Guru
PENDAHULUAN Era globalisasi merupakan era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah menimbulkan persaingan dalam berbagai bidang, yang menuntut masyarakat Indonesia untuk memantapkan diri dalam peningkatan kualitas dan sumber daya manusia yang unggul, mampu berdaya saing, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi serta mempunyai etos kerja yang tinggi. Di Indonesia sekolah harus dengan kesungguhannya melaksanakan tugas dan fungsinya untuk mewujudkan tujuan nasional sebagaimana yang tercantum dalam UndangUndang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta penjelasannya Bab II Pasal 3 bahwa: “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab” Keberhasilan untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut kepala sekolah mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menselaraskan sumber daya pendidikan yang tersedia, kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran melalui program sekolah yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13/2007 tentang standar kepala sekolah, kepala sekolah harus memiliki kompetensi versi Permen Diknas adalah (1) kompetensi kepribadian (2) kompetensi manajerial (3) kompetensi kewirausahaan (4) kompetensi supervise (5) kompetensi sosial. Peran kepala sekolah sebagai pemimpin diharapkan mampu mewujudkan fungsi-fungsi kepemimpinan dalam keseluruhan dan proses pendidikan disekolah. Keberhasilan pendidikan disekolah ditentukan oleh kemampuannya mempengaruhi, membimbing, menggerakkan dan memotivasi individuindividu (guru-guru) yang terlibat dalam tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Kepala Sekolah adalah seorang pemimpin yang merupakan organ yang seharusnya dapat mempengaruhi sikap dan perilaku bawahannya. Dalam hal ini targetnya adalah para guru yang diharapkan dapat meningkatkan kerjanya setelah mendapat pengaruh dari atasannya. Agar proses mempengaruhi bisa berjalan lancar, maka pemimpin harus memperlakukan individu secara manusiawi. Manusia dalam melaksanakan kegiatannya senantiasa dipengaruhi oleh kepribadian yang berbedabeda, misalnya sifat, sikap nilai-nilai, keinginan dan minat, untuk itu akan berpengaruh pada gaya kepemimpinannya juga pada kerjanya. Gaya kepemimpinan adalah pola perilaku konsisten yang diterapkan pemimpin melalui orang lain yaitu melalui perilaku yang diperlihatkan pemimpin pada saat mempengaruhi orang lain, seperti dipersepsikan orang lain. Gaya bukanlah soal bagaimana pendapat pimpinan tentang perilaku mereka sendiri dalam memimpin tetapi bagaimana persepsi orang lain terutama bawannya tentang perilaku pimpinannya (Hersey dan Blanchard, 1992).

memerngaruhi orang lain dalan situasi tertentu agar bersedia bekerja sama untuk Tilaar (1992:63) mengemukakan bahwa: “kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agaer mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan”. Selanjutnya Lipham (1984:66) melihat kepemimpinan sebagai berikut: “Leadership is the behaviour of an individual that initiates a new structure in interaction within a social system by changing the goals, objectives, configurations, procedures, inputs, processes, or output of the system.” Kepemimpinan merupakan tingkah laku individu dalam interaksi dengan sistem sosial untuk mencapai suatu tujuan. Tercapai tidaknya tujuan ini bergantung pada kepemimpinan seorang pemimpin. Ini sejalan dengan pandangan Fiedler dan Chermier (1974:107) yang mendefinisikan perilaku kepemimpinan sebagai: “Dengan perilaku kepemimpinan dimaksudkan pada umumnya adalah beberapa tindakan khusus, dimana pemimpin itu terlibat dengan cara pengarahan dan pengkoodinasian pekerjaan anggota kelompok. Keikutsertaan dalam tindakantindakan ini dapat berupa hubungan kerja yang terstruktur dalam menghadapi atau mengeritik anggota kelompok, dan menunjukkan konsiderasi bagi kesejahteraan dan perasaan-perasaan anggota mereka. Kepemimpinan disini ikut bekerja sama mengerjakan apa yang dikerjakan anggotanya sehingga permasalahan yang muncul dalam kelompok dapat diketahui dengan cepat”. Kepemimpinan yang bersifat umum memberikan landasan pengertian kepemimpinan secara khusus dalam bidang pendidikan. Banyak pendapat tentang kepemimpinan, Daryanto (2005:9) mengemukakan:

Winardi (2000:47) mengemukakan kepemimpinan adalah: “ suatu kemampuan yang melekat pada diri seseorang yang memimpin dan tergantung dari bermacammacam faktor internal maupun eksternal”. Kepemimpinan sebagai rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan

Kepemimpinan Pendidikan adalah segenap kegiatan dalam usaha mempengaruhi personil di lingkungan pendidikan pada situasi tertentu agar melalui kerjasama mau bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dan ikhlas demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Dalam konteks kepemimpinan pendidikan, pemimpin dimaknai semua orang yang bertanggung jawab dalam proses perbaikan yang berada pada semua level kelembagaan pendidikan. Dengan demikian keberadaan personil tersebut penting dalam sebuah sekolah. Ouzs dan Posner (1993:94) menjelaskan “there is no leadership witout someone following”. Ini berarti bahwa kepemimpinan sekolah tidak akan berjalan tanpa peran personil pendukungnya. Seorang pemimpin, tidak terkecuali dengan kepemimpinan manjerial dalam organisasi, dalam mencapai suatu tujuan tidak bekerja sendirian.

dengan bawahan atau “Concern for people. Jadi pada setiap lembaga/organisasi pada umumnya gaya yang digunakan atau dimunculkan oleh pemimpin berbeda. Kepala Sekolah Pendidikan Sebagai Pemimpin

Kinerja merupakan terjemahan bebas dari kata Bahasa Inggris “Performance” yang berarti prestasi kerja atau pelaksanaan kerja atau pencapaian kerja atau hasil kerja/penampilan kerja (Lembaga Administrasi Negara, 1992:3). Dalam mengartikan suatu kinerja, berbagai ahli memiliki pendapat yang berbeda, tergantung dari sudut pandang dan kepentingan masing-masing. Namun rumusan mereka pada hakikatnya memiliki kesamaan arti. Upaya kepemimpinan menyelenggarakan lembaga pendidikan hendaknya berorientasi peningkatan prestasi baik tenaga pengajar maupun peserta didik. Sehubungan dengan masalah ini Castetter (1981:320) mengemukakan upaya peningkatan kemampuan tenaga pengajar dapat ditempuh melalui: “Lectures, conference, seminar, guided discussion, workshop, postion rotation, program instruction, meeting, special assignment, written materials, courses, case studies, assistenship, special study, exchange program individualized activity, corporate study, role pleying, in basket technique, brainstorming institute, dan travel”. Upaya peningkatan kemampuan tenaga pengajar berdasarkan tulisan diatas berupa kursus, pelatihan dan kegiatan pula tentang peningkatan kemampuan tenaga pengajar sebagai berikut: Improved of teaching staff comprice those techniques and procedurs that are designed to exchange the teacher’s performance and effectiveness, classroom visits, observation and individual conferences constitute the care of

Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan dilahirkan oleh prilaku dan sifat seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan. Jadi gaya kepemimpinan dapat dilihat dari segi perilaku dan sifat yang dimunculkannya. Istilah gaya (style) kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat ia mencoba mempengaruhi perilaku orang lain, yaitu dengan istilah kepemimpinan maka dengan sendirinya orang yang bertindak sebagai bawahan mengaku pemimpin ini memiliki kelebihan baik dari segi pengalaman, pendidikan ataupu kematangan emosional, sehingga tanpa disadari bawahan tadi akan menghormati pemimpin tersebut (Thoha, 2002:49). Fattah (1996:93) menyatakan bahwa: berbagai gaya perilaku pemimpin berfokus pada dua gaya dasar yang berorientasi pada tugas atau “Concern For production” dan gaya yang berorientasi pada hubungan

staff improvement program. Other components include associations, using the professional library, student teaching supervision, and inserve training programs. Indikator Kinerja Guru Dharma (1984:211) mengemukakan bahwa kinerja yang terindikasi antara lain: “disiplin, komitmen yang kuat, disiplin dan tanggung jawab”.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja Guru

administrasi, sebagai upaya memperkecil resiko atau kerugian dalam pelaksanaan manajemen pendidikan dibawah tanggung jawabnya sebagai pemimpin.
METODE

Motivasi, disiplin, kemampuan dan komitmen sebagai alat yang menyebabkan, ,menyalurkan dan mendukung pelaku manusia supaya mau bekerja dan antusias untuk mencapai hasil yang optimal. Tidak mudah bagi seorang pemimpin menumbuhkan rasa motivasi, disipli, kemampuan danm komitmen kerja bagi bawahannya, hal ini disebabkan oleh keyakinan dan sikap setiap orang yang bervariasi serta berubah-ubah yang dipengaruhi oleh sitiuasi dan kondisi.
Hubungan Gaya Kinerja Guru Kepemimpinan dan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode diskriptif. Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif digunakan untuk mengkaji permasalahan dan memperoleh makna yang lebih mendalam tentang Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru pada SMP Negeri Kota Banda Aceh. Moleong, (2007:242) menegaskan bahwa penelitian kualitatif pada hakekatnya mengawasi orang dalam lingkungannya, berintegrasi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsirannya tentang dunia sekitarnya. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini adalah berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut: pertama; peneliti bermaksud mengembangkan konsep pemikiran, pemahaman dari pola yang terkandung dalam Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru pada SMP Negeri Kota Banda Aceh. Menurut Moleong (2005:127) rancangan kegiatan penelitian melalui tiga tahapan yaitu tahap pralapangan, tahap pekerjaan lapangan, dan tahap analisis data. Rancangan penelitian yan dilaksanakan oleh peneliti terdapat beberapa tahapan yaitu: membuat rancangan, memilih lapangan, mengurus izin, menjejaki lapangan tempat penelitian, memamfaatkan informasi, dan menyiapkan perlengkapan. Bogdan dan Biklen (Moleong, 2005:248) mengemukakan analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilahmilahnya menjadi satuan yang dapat di

Wahjosumidjo (1993:110) mengatakan: “Bahwa seorang kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemampuan guru, membuka komunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas”. Kepala sekolah sebagai Leader harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profeisonal, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan. Sagala (2000:70) menjelaskan bahwa “Kebutuhan para guru antara lain ruangan kerja yang diinginkan, kesempatan untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan, menghilangkan hambatan professional”. Kepala sekolah sebagai pemimpin harus benar-benar arif mengambil kebijakan dalam tugas-tugas

kelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memusatkan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Tahapan pekerjaan lapangan adalah tahapan mulainya pengumpulan data. Tahap pekerjaan lapangan di bagi atas tiga bagian, yaitu : 1. Memahami latar penelitian dan persiapan diri, 2. Memasuki lapangan, dan 3. Berperan serta sambil mengumpulkan data. Latar yaitu suatu kondisi data yang diambil yakni ada latar terbuka dan latar yang tertutup. Lofland dan Lofland (Moleong, 2005:137) mengemukakan latar terbuka terdapat di lapangan umum misalnya tempat orang berkumpul di lapangan, berpidato, toko, bioskop, dan ruang-ruang tertentu. Sedangkan latar tertutup terdapat di tempat tertutup. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan keduanya yaitu latar terbuka dan latar tertutup. Pada latar terbuka peneliti melakukan pengamatan sedangkan pada latar tertutup peneliti memfokuskan kan wawancara. Analisis data pada tahap terakhir adalah mengemukakan analisis data kualitatif yaitu upaya yang dilakukan dengan cara bekerja dengan menggunakan data, memilah-milah sehingga menjadi kesatuan yang dapat di olah, mensintesiskannya, mencari dan mendapatkan sebuah pola, sehingga perlu untuk dipalajari oleh sipeneliti. Subjek penelitian Moleong (2002:165-166) mengemukakan bahwa ciri-ciri sampel penelitian kualitatif adalah : a. Sampel tidak dapat ditentukan atau di tarik lebih dahulu b. Pemilihan sampel secara berurutan untuk memperoleh informasi yang

telah lebih dahulu sehingga dapat dipertentangkan atau ada kesenjangan informasi c. Penyesuaian berkelanjutan dari sampel. Pada awalnya sampel di anggap sama, kemudian informasi mengembang ternyata semakin luas, sehingga sampel akan berakhir jika sudah mulai terjadi pengulangan informasi, sudah terjadi ketuntasan atau kejenuhan karena tidak diproleh tambahan informasi yang berarti. Sedangkan yang menjadi subjek penelitian adalah Kepala Sekolah dan 2 orang guru. Instrumen Penelitian Instrumen dalam penelitian adalah peneliti sendiri, sebab dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif peneliti merupakan instrumen pokok sebagai mana yang dikatakan oleh Nasution (1998:55-56) indikasi manusia sebagai peneliti yaitu: 1. Peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakan bermakna, 2. Peneliti sebagai alat yang dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan serta dapat mengumpulkan aneka data sekaligus, 3. Tiap situasi merupakan suatu keseluruhan. Tidak ada suatu instrumen berupa tes atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi, kecuali manusia. 4. Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia tidak dapat dengan pengetahuan semata-mata. Untuk memahami, kita perlu merasakannya, menyelaminya berdasarkan penghayatan kita. 5. Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh dan menafsirkannya. 6. Hanya manusia sebagai instrumen yang dapat mengambil kesimpulan

berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan segera mengunakannya sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan dan penolakan E. Uji kredibilitas Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru pada SMP Negeri Kota Banda Aceh. Peneliti melakukan uji kredibilitas. Menurut. Sugiyono (2007) pengujian validitas dan reliabilitas data dalam penelitian kualitatif meliputi uji kredibilitas terhadap data hasil penelitian kualitatif antara lain : 1) Perpanjangan pengamatan. Peneliti kembali melakukan pengamatan dilapangan/lokasi penelitian. Artinya hubungan peneliti dengan partisipan/ narasumber semakin akrab, terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi. 2) Peningkatan ketekunan dalam penelitian. Peneliti melakukan pengecekan kembali apakah data yang yang telah ditemukan salah atau benar. Peneliti juga dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis. 3) Triangulasi. Pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. 4) Analisis kasus negatif. Peneliti mencari data yang berbeda atau behkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuannya, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya. 5) Memberchek. Proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuan membercek untuk mengetahui sejauhmana data yang diperolh sesuai apa yang diberikan pemberi data. Teknik Pengumpulan Data

Karena penelitan menggunakan deskriptif dengan pendekatan kualitatif, maka penelitin merupakan instrumen utama penelitian. Dalam hal ini Nasution (2001:55-56) tentang ciri-ciri manusia (peneliti) sebagai instrumen kunci penelitian, yaitu: (1) peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakan bermakna; (2) peneliti sebagai alat dan menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka data sekaligus; (3) tiap situasi merupakan suatu keseluruhan. Tidak ada suatu instrumen berupa tes dan angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi kecuali manusia; (4) suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata-mata. (5) Peneliti sebagai sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh dan menafsirkannya; (6) hanya manusia sebagai instrumen yang dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan ada suatu saat dan segera menggnakannya sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan dan penolakan. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan menurut Nanang (2008: 216), sebagai berikut: 1. Observasi (pengamatan), yaitu mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Meleong (2005:157) pencatatan sumber data utama melalui wawancara atau pengamatan berperanserta merupakan hasil usaha gabungan dari kegiatan melihat, mendengar, dan bertanya.

2. Wawancara (interview) yaitu pengumpulan data yang dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individu dengan tujuan untuk menggali dan memperoleh data atau informasi yang lebih mendalam dan relevan dengan masalah yang diteliti. 3. Studi dokumentasi, yaitu pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalasis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Teknik Analisis Data

dengan tujuan penelitian secara keseluruhan dan berkesinambungan. Verifikasi data dilakukan untuk menguji atau memeriksa kesimpulan yang diambil dibandingkan dengan teori-teori yang relevan apakah sudah tepat atau belum dalam mencapai tujuan penelitian. Seluruh kegiatan analisa data tersebut dilakukan secara terus-menerus dan saling berhubungan dari awal sampai akhir tujuan. Untuk mendapat keabsahan data yang diperoleh juga perlu cek kembali untuk menghasilkan suatu penelitian
Analisis Hasil Penelitian

Proses analisis data dalam penelitian kualitatif ini dilakukan secara terus menerus dari awal hingga akhir, baik dilapangan maupu diluar lapangan. Analisis data dilapangan meliputi pencatatan, pemberian kode dan penefsiran sementara terhadap berbagai informasi yang diperoleh pada berbagai langkah penelitian. Analisis data dilakukan dengan mengikuti prosedur sebagaimana yang disarankan oleh Nasution (2002:129-130), yaitu: 1. Reduksi data, adalah membuat abstraksi dari seluruh data yang diperoleh dari dilapangan yang sesuai dengan fokus penelitian 2. Pengorganisasian dan pengolahan data sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru pada SMP Negeri Kota Banda Aceh, baik yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, maupun hasil. 3. Penafsiran data sesuai dengan tujuan penelitian yaitu merakit unsur-unsur data penelitian serta memberi makna berdasarkan pandangan penelitian untuk mencapai suatu kesimpulan sesuai

Gaya kepemimpinan Kepala Sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam Meningkatkan Tanggung Jawab Guru.

Kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan tanggung jawab kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Upaya yang lakukan dalam meningkatkan tanggung jawab guru adalah dengan menciptakan situasi dan kerjasama yang harmonis antar guru, berusaha memenuhi perlengkapan yang diperlukan guru dalam melaksanakan tugasnya, memberikan penghargaan dan hukuman”. Kepala sekolah pada SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam meningkatkan tanggung jawab guru menerapkan Situasi dan hubungan kerjasama yang harmonis di suatu sekolah memang sangat penting, dalam penerapannya saya menciptakan suasana terbuka maksudnya setiap guru diberi hak untuk menyatakan pendapat dan keinginan-keinginan terhadap perkembangan sekolah dan apabila ada masalah maka akan dipecahkan bersama, dan juga melibatkan guru untuk berbagai kegiatan. Selain itu juga memberikan penjelasan tentang tujuan yang harus dicapai sekolah. Yang dilakukan Kepala sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam

meningkatkan tanggung jawab dalam meningkatkan kinerja guru memberikan penjelasan tentang tujuan-tujuan dan target yang harus dicapai sekolah kepada para guru untuk mencapai tujuan tersebut merupakan tanggung jawab bersama, juga diharapkan dengan pemahaman tentang tujuan dan target yang harus dicapai dapat menumbuhkan motivasi dalam diri para guru sendiri untuk berusaha semaksimal mungkin melakukan pengembanganpengembangan sekolah dan meningkatkan kinerjanya. Kepala sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh Penghargaan diberikan kepada para guru yang telah berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, bentuk penghargaan yang saya berikan bukan berupa materi akan tetapi berupa dukungan mental untuk terus mengembangkan potensi yang dimilikinya, berupa pujian dan kesempatan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi” Kepala sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh tidak memberikan penghargaan dengan bentuk materi dengan harapan para guru dalam melaksanakan tugasnya benar-benar tulus dari dalam hatinya bukan semata-mata hanya untuk memperoleh dan mengejar penghargaan, dan yang dikhawatirkan dengan penghargaan bentuk materi, apabila nanti tidak ada lagi penghargaan yang berupa materi para guru akan bekerja semaunya sendiri dan tidak mau untuk melakukan peningkatan-peningkatan. Hukuman diberikan bagi guru yang tidak disiplin dan tidak mentaati tata tertip guru, adapun langkah yang saya terapkan adalah memberi peringatan, dan apabila diperingatkan tidak bisa maka langkah selanjutnya adalah memberi hukuman dengan mengurangi jam mengajar, dan langkah yang paling akhir adalah mengusulkan pindah guru tersebut.

Bentuk motivasi dan pembinaan tanggung jawab yang diberikan kepala sekolah kepada guru, beliau menyatakan bahwa : Kepala sekolah dalam memberikan motivasi dan pembinaan kepada guru dalam meningkatkan tanggung jawab dengan cara memberikan kebebasan kepada guru mengeluarkan pendapat untuk perkembangan sekolah, sehingga apabila guru mempunyai keinginankeinginan diharapkan supaya diungkapkan, dan yang paling berkesan bagi saya dalam setiap kesempatan atau pertemuan beliau selalu memperhatikan dan menanyakan tentang kelengkapan kebutuhan guru dalam mengajar, apabila ada yang kurang beliau berusaha untuk memenuhinya. Begitu juga beliau selalu memberikan penghargaan. Dari hasil wawancara dengan guru pada SMP Negeri Kota Banda Aceh, guruguru juga mengatakan bahwa guru diberi wewenang untuk memilih dan menetapkan pekerjaan sesuai dengan keahliannya masing-masing dalam rangka untuk meningkatkan tanggung jawabnya, bahkan guru-guru diwajibkan mengikuti secara rutin kegiatan mata pelajaran masingmasing, kalau seandainya ada masalah dalam proses belajar mengajar, kepala sekolah bersama wakil membuat rapat, dalam rapat tersebut guru diberikan kesempatan untuk memberikan pendapat berupa saran, usul, kritikan dan sebagainya yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Tanggung jawab dalam melaksanakan tugas merupakan motivasi antara hasil kerja dengan tugas dan program sekolah yang telah ditetapkan sebelumnya, tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dapat dilihat dari penggunaan waktu, materi, sarana dan

prasarana dalam proses disetiap kegiatan belajar-mengajar dan kemampuan guru dalam merencanakan pengajaran, kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar dan kemampuan mengevaluasi penilaian pengajaran. Menurut kepala sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh bahwa pelaksanaan tugas guru dapat dikatagorikan cukup baik. Guru selalu berusaha melaksanakan tugas dengan waktu yang telah ditentukan, hal ini sesuai dengan pendapat guru di SMP Negeri Kota Banda Aceh bahwa, kami disini merupakan personal dalam mendidik peserta didik merupakan personal dalam mendidik peserta didik sesuai dengan tugas yang menjadi tanggung jawab dan wewenang kami baik itu tugas Kurikuler maupun tugas Ekstrakurikuler. Menurut kepala sekolah tanggung jawab terhadap hasil pembelajaran merupakan tanggung jawab pokok dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan program kerja, dari hasil pelaksanaan tugas, umumnya guru sudah melaksanakan kegiatan belajar-mengajar dalam katagori baik, walaupun masih ditemukan ada beberapa guru yang belum melaksanakan tugasnya secara optimal, pernyataan tersebut juga didukung oleh hasil wawancara peneliti dengan guru yang mangatakan bahwa mereka mengajar dan melaksanakan tugas lainnya merupakan tanggung jawab kami terhadap seluruh kegiatan yang ada pada SMP Negeri Kota Banda Aceh. Dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi gaya kepemimpinan kepala sekolah yang sering dimunculkan untuk meningkatkan tanggung jawab guru adalah gaya kepemimpinan delegatif dan gaya kepemimpinan intruktif.
Gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Disiplin Guru pada SMP Negeri Kota Banda Aceh.

pembinaan yang direncanakan untuk membantu guru dalam melakukan pekerjaan secara efektif. Untuk memperoleh data tentang Gaya Kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan disiplin guru dalam hal pembinaan disiplin guru, kepala sekolah menyatakan bahwa: Sebagai kepala sekolah, pembinaanpembinaan terhadap guru yang telah saya lakukan yang pertama kali adalah pembinaan disiplin, artinya untuk melakukan kegiatan pendidikan secara efektif dan efisien, maka segenap tenaga kependidikan harus mempunyai disiplin yang tinggi dalam segala bidang. Langkah selanjutnya adalah melakukan pembinaanpembinaan yang berkaitan dengan kompetensi profesional dan kemampuan yang dimiliki guru. Kepala sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh Memberikan pengarahan secara langsung dalam membina dan meningkatkan disiplin guru. Dalam setiap kali rapat/pertemuan, saya selalu mengingatkan akan pentingnya disiplin guru dan pentingnya mentaati tata tertib guru yang telah dibuat bersama, dalam kegiatan sehari-hari sebagai kepala sekolah, berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan disiplin diri dengan harapan dapat dicontoh dan diteladani oleh para guru. Bentuk nyata dari keteladanan yang telah dilakukan dan diberikan oleh kepala sekolah terhadap kedisiplinan para guru, kepala sekolah, dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, selalu tepat waktu, artiya dalam melaksanakan program yang ditetapkan saya selalu berusaha untuk menepati waktu yang telah dijadwalkan. Menerapkan disiplin sangat penting bagi semua bawahnya, melalui disiplin ini kepala sekolah berharap dapat mencapai tujuan secara efektif dan efesien serta dapat meningkatkan produktifitas sekolah.

Pembinaan disiplin guru terhadap kinerja merupakan salah satu aktifitas

Beberapa bentuk dan strategi yang di terapkan kepala sekolah dalam membina disiplin guru yaitu : a. Membantu para tenaga kependidikan mengembangkan pola prilakunya b. Membantu para guru dalam meningkatkan standar prilaku c. Melaksanakan semua aturan yang telah di sepakati Hasil pengamatn menunjukan bahwa dalam penegakkan disiplin, maka kepala saekolah lebih menekankan pada keteladanan dari segala bentuk dan tingkah laku kepala sekolah itu sendiri dalam menjalankan fungsi, tugas dan tanggung jawabnya dalam melaksanakan tugas-tugas di sekolah. Dalam penerapan displin kepala sekolah menerapkan sistem terbuka bagi setiap para guru sehingga peraturan dan tata tertib di di buat berdasarkan hasil keputusan bersama dapat berjalan dengan apa yang di harapkan, tata tertib dan peraturan dalam ruang lingkup sekolah wajib di jalankan oleh semua pihak yang bersangkutan karena tata tertib dan peraturan tersebut di buiat berdasarkan hasil musyawarah dan kesepakatan bersama oleh kepala sekolah, dewan guru dan staf. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa kedisplinan yang di terapkan oleh kepala sekolah sudah cukup baik, kepala sekolah memberikan yang teladan kepada guru dengan memulainya dari diri sendiri dan dari hal yang kecil-kecil seperti kehadiran kepala sekolah lebih awal di bandingkan dengan guru yang lain dan dalam menjalankan tugas kepala sekolah tidak menunda nujnda waktu melainkan langsung di kerjakan sehingga prilaku tersebut memacu guru untuk mengikuti kebiasaan yang di contohkan oleh kepala sekolah kepada bawahnya. Menerapkan prinsip penghargaan dan hukumam oleh kepala sekolah menerpakan prinsip ini sangat penting karena mengingat perlu adanya keadilan dalam melaksanakan tugas dan kewajiban

menurut fungsi pelaksanaan masingmasing guru. Dengan adanya prinsip penghargaan maka guru yang melakasanakan tugas dan kewajiban secara professional serta produktif sehingga memilki prestasi yang lebih tinggi di antara guru-guru yang lain perlu di berikan penghargaan. Mengenai kedisplinan dan sanksi di kemukan oleh guru : Kepada guru yang mengabaikan disiplin akan di berikan sanksi atau berupa hukuman sesuai dengan ketentuan yang di sepakti bersama dan tertulis berdasarkan hasil musyawarah dan rapat yang tertuang dalam keputusan Kepala Sekolah SMP Negeri kota Banda Aceh tentang tata sekolah untuk guru dan pengawai. Sanksi yang di berikan biasa nmasehat atau teguran lisan dan teguran tertulis. Gaya kepemimpinan yang di munculkan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan disiplin guru, bahwa gaya kepemimpinan intruktif, gaya ini dilakukan dengan menemui guru secara satu persatu, itu tidak secara sengaja dilakukannya, sesuai dengan permasalahan yang timbul pada saat itu. Gaya kepemimpinan instruktif ini juga dilakukan oleh kepala sekolah pada saat rapat guru, sehubungan dengan gaya instruktif melakukannya setiap pagi, cara yang dilakukannya dengan duduk dikantor guru kepala sekolah memantau setiap guru yang datang dan langsung mengingatkannya bila saat jam mengajar tiba. Kadang kala kepala sekolah melakukan gaya intruktif dengan cara mengingatkan kepada seorang guru yang kurang disiplin ketika guru yang bersangkutan berada di ruang kantor kepala sekolah. Ada juga kejadian pada sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh kepala sekolah sangat bijaksana ketika memperingatkan kepada seorang guru yang terlambat datang kesekolah akan tetapi guru lain tidak sampai mengetahui bahwa guru yang bersangkutan itu telah

dipanggil oleh kepala sekolah hal itu dilakukan oleh kepala sekolah sematamata untuk menjaga nama baik guru, sehingga guru tersebut menjadi sadar dan akan berusaha menjaga tanggung jawabnya. Hasil Wawancara dengan kepala sekolah, bahwa kepala sekolah menentukan tugas personal guru sesuai dengan Job Description yang telah disepakati bersama pada saat diadakan rapat kerja. Setiap tugas yang diberikan oleh kepala sekolah kepada masingmasing guru selalu diawali dengan pengarahan dan petunjuk untuk dapat dilaksanakan apa yang ditugaskan dan kemudian mengadakan koordinasi dalam pelaksanaan tugas tersebut, supaya tugas yang dilaksanakan itu dapat terlaksana dengan baik dan benar. Sejauh yang didapati dari hasil penelitian tidak ada guru yang menghindari pekerjaan dan tidak ada yang merasa senang jika tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan, karena tugas dan tanggung jawab seorang guru harus benar-benar dipahami dan dilaksanakan dengan baik dan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah dalam memimpin sekolah jarang didapati informasi dari guru-guru bahwa kepala sekolah dalam memimpin sangat jarang emosional atau marah-marah. Keadaan pada SMP Negeri Kota Banda Aceh antara kepala sekolah kepada sesama guru selalu membangun rasa hormat-menghormati dan menumbuh kembangkan rasa percaya diri pada masing-masing guru, dengan terpeliharanya hubungan yang cukup baik dan harmonis dengan masing-masing komponen sekolah, maka semua program sekolah akan terlaksanakan dengan baik, karena setiap tugas yang diberikan kepada guru, guru tersebut dapat menyelesaikan tepat waktu, sebelum tugas diberikan kepala sekolah terlebih dahulu membina, membimbing serta mengarahkan guru sehingga guru sehingga guru tidak merasa tertekan atau ada semacam paksaan dari

kepala sekolah, guru dapat menerima karena kepala sekolah menerapkan gaya konsultasi. Dari hasil wawancara dengan guru, terungkap bahwa dalam meningkatkan disiplin guru di SMP Negeri Kota Banda Aceh kepala sekolah langsung menegur, membuat absen kehadiran dan mengontrol ke setiap kelas jika ada guru yang terlambat memasuki kelas dan untuk meningkatkan kedisiplinan guru maka semua guru dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu.
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam Meningkatkan Komitmen Guru

Bentuk Komitmen terhadap tugas yang di lakukan guru dalam melaksanakan tugas selama ini, kepala sekolah mengatakan : Untuk mencapai tujuan pendidikan, bentuk-bentuk komitmen yang harus di lakukan yaitu komitmen profesi, komitmen organisasi dan komitmen mengajar. Kepala sekolah mengatakan kalau komitmen masih rendah upaya yang di lakukan menciptakan rasa aman dan nyaman disekolah melakukan komunikasi pembinaan secara indivual. Kepemimpinan Kepala SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam pembinaan Komitmen guru yang dilakukan oleh kepala sekolah, beliau mengatakan bahwa: Dalam melakukan pembinaan Komitmen, saya mengirim para guru untuk mengikuti seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan, mendatangkan para ahli, memberikan kesempatan kepada para guru untuk melanjutkan pendidikannya, menempatkan guru pada proporsi yang sesuai dengan bidangnya. Dan mengadakan rapat guru setiap satu semester yang dimaksudkan untuk mengevaluasi kinerja guru sekaligus memberikan pengarahan-pengarahan terhadap

kekurangan-kekurangan. Berusaha mengadakan dan melengkapi alatalat perlengkapan sekolah yang diperlukan bagi kelancaran dan keberhasilan proses belajarmengajar. Berkaitan dengan pembinaan komitmen guru yang dilakukan oleh kepala sekolah, peneliti juga berusaha mewawancarai lebih detail kepada guru Peneliti menanyakan tentang pembinaan yang telah dilakukan kepala sekolah kepada para guru dalam meningkatkan komitmen guru, beliau mengatakan bahwa:“Pembinaan Komitmen guru selalu dilakukan oleh kepala sekolah secara terus menerus dan berkesinambungan, diantaranya pada tahun kemarin saya dan beberapa guru dikirim untuk mengikuti pelatihan tentang pengelolaan pembelajaran Kab/Kota dan seminar kompetensi keguruan yang diadakan di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Banda Aceh. Dalam upaya meningkatkan komitmen guru, kepala sekolah memiliki peran dan tugas serta tanggung jawab yang penting dalam pembinaan dan meningkatkan komitmen guru dapat melaksanakan tugas sebagai guru berjalan lancar. Tidak dapat dibantah bahwa peran kepala sekolah dalam mendorong dan menggerakkan guru dalam bekerja sangat diharapkan. Pembinaan yang dilakukan kepala sekolah terhadap guru ditempuh dengan cara yang berupa pembinaan baik secara kelompok maupun individu. Pembinaan tersebut dilaksanakan secara terus menerus dan terjadwal, hal ini tergambar dari cara yang dilakukan bilamana ada guru yang mempunyai kesulitan, terutama sekali guru yang memiliki masalah dengan proses pembelajaran, maka kepala sekolah melakukan pembinaan khusus secara individual. Hal tersebut dilakukan hanya kepada guru yang benar-benar menghadapi

kendala yang amat berarti, dengan pendekatan tersebut sedikit banyaknya guru merasa termotivasi dan bangga kepada kepala sekolah yang perhatian kepada guru. Dalam pembinaan terhadap peningkatan kualitas kemampuan mengajar guru akan terlihat adanya perubahan sikap-sikap guru yang mengarah kepada perbaikan. Dalam pelaksanaannya, gaya kepemimpinan kepala sekolah diterapkan dalam bentuk membiasakan menerima perbedaan individu, menurut hasil pengamatan dilapangan penerapan gaya kepemimpinan delegatif ini oleh kepala sekolah melalui pemberdayaan guru dalam melaksanakan tugasnya, dimana kepala sekolah melaksanakan pembagian tugas yang dilakukan secara adil untuk menghindari timbulnya kecurigaan kepada sesama guru. Selain pembagian tugas secara adil, kepala sekolah juga sangat konsisten dalam pelaksanaan tugasnya dimana dalam hal ini kepala sekolah selalu memegang teguh komitmen tersebut terlebih dahulu dibuat oleh kepala sekolah yang dirumuskan secara terbuka dalam rapat. Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala sekolah sangat bervariasi, dimana kepala sekolah memiliki teknik tersendiri dalam memimpin bawahannya yang dianggap sebagai mitra kerja, penerapan gaya kepemimpinan berdasarkan pengamatan dan juga wawancara dengan guru-guru, kepala sekolah menerapkan gaya kepemimpinan yang tidak kaku, dimana semua tergantung dengan keadaan dilapangan apabila keadaan dilapangan kondisinya relative baik, maka dengan sendirinya kepala sekolah selalu berusaha untuk dapat terus meningkatkan semangat kerja dengan harapan terus memacu mutu dalam pelaksanaan pembelajaran. Menurut hasil wawancara dengan guru, terungkap bahwa target utama kepala sekolah adalah selalu pada peningkatan

mutu, terutama mutu kelulusan, dimana setiap lulusan SMP Negeri Kota Banda Aceh mereka nantinya akan bersaing. Dalam hubungan mutu ini, kepala sekolah sangat menekankan pada aspek hubungan kerja dalam kelompok, menurut kepala sekolah apabila hubungan kerja dalam kelompok diabaikan, akan sangat berpengaruh dalam pencapaian hasil yang sangat maksimal.
Pembahasan Hasil Penelitian

Oleh karena itu bawahan pada iklim delegatif tidak cocok diserahi tanggung jawab merancang pekerjaannya secara inisiatif atau pekerjaan yang menuntut prakarsa. Pertanyaan yang diajukan kepada kepala sekolah “Apakah Bapak memberikan wewenang yang lebih besar untuk memilih dan menetapkan pekerjaan seorang guru dalam meningkatkan tanggung jawabnya?, Untuk meningkatkan tanggung jawab masing-masing guru kepala sekolah memberikan kesempatan dan wewenang yang lebih besar kepada guru sesuai dengan bidang studinya masing-masing, hal ini didukung dari hasil wawancara dengan wakil kepala sekolah bidang humas yang menyatakan, kepala sekolah memberi kesempatan dalam pendelegasian kepada guru-guru sesuai dengan keahliannya masing-masing. Kemudian wakil kepala sekolah bagian humas menambahkan, kepala sekolah memberi kesempatan dalam wewenang kepada guru sesuai dengan keahliannya masing-masing misalnya mengirim guru sebagai wakil/atas nama SMP Negeri Kota Banda Aceh untuk mengikuti penataranpenataran. Pertanyaan berikutnya yang diajukan kepada guru : “Apakah kepala sekolah memberikan wewenang yang lebih besar kepada guru dalam pengambilan keputusan, Kepala sekolah dalam mengambil keputusan dan kebijakan mengenai kemajuan dan perkembangan sekolah serta cara meningkatkan tanggung jawab guru dalam bentuk keputusan ada yang langsung diputuskan, guru hanya mengikuti saran dan melaksanakan keputusan tersebut, karena keputusan tersebut dianggap oleh kepala sekolah tidak perlu melibatkan guru, sedangkan keputusan yang berhubungan dengan visi dan misi sekolah, kepala sekolah sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan untuk membawa sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh kearah yang lebih

Pembahasan hasil penelitian ini dilaksanakan untuk biasa menjelaskan pokok-pokok temuan yang diperoleh di lokasi penelitian, baik berupa penguat untuk mengambil kesimpulan maupun berupa implikasi dari penemuan itu sendiri yang mengandung konsep-konsep atau teori-teori yang perlu dikembangkan, berikut ini akan dijelaskan pokok bahasan yang sesuai dengan masalah yang dikaji.
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Tanggung Jawab Guru pada SMP Negeri Kota Banda Aceh.

Hasil wawancara bahwa Upaya dilakukan Kepala Sekolah dalam meningkatkan tanggung jawab guru adalah dengan menciptakan situasi dan kerjasama yang harmonis antar guru, berusaha memenuhi perlengkapan yang diperlukan guru dalam melaksanakan tugasnya, memberikan penghargaan dan hukuman dan guru dalam melaksanakan tugas bukan didasari oleh rasa takut melainkan rasa segan apabila tidak dapat menyelesaikan tugas yang telah diberikan, Sutarto (1991:77) mengatakan bahwa: Dalam melaksanakan peran kepemimpinannya, para pemimpin delegatif percaya bahwa orang cenderung lebih senang diarahkan, menjadi pekerja yang ditentukan prosedurnya dan pemecahan masalahnya dari pada harus memikul sendiri tanggung jawab diatas segala tindakan dan keputusan yang diambil.

berkualitas, gaya kepemimpinan yang digunakan gaya delegatif dan intruktif. dalam hal ini Wahjosumidjo (2001:6) mendefinisikan kepemimpinan delegatif adalah “Kepemimpinan yang mempunyai visi dan misi untuk masa depan, sebagai agenda perubahan yang unggul, sebagai pembimbing yang dapat mengarahkan bawahannya ke arah profesionalisme kerja yang diharapkan”.
Gaya kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Disipilin Guru pada SMP Negeri Kota Banda Aceh

para siswa juga akan meniru kedisiplinan yang telah diterapkan para guru, begitu juga sebaliknya apabila guru tidak disiplin, maka program pembelajaran yang direncanakan akan tidak berjalan sesuai dengan harapan dan yang lebih dikhawatirkan para siswa juga akan tidak disiplin. Disiplin kerja adalah reaksi mental dan emosional dari seseorang terhadap pekerjaannya. Seseorang memiliki disiplin kerja yang tinggi apabila merasa puas terhadap pekerjaannya, apabila kepala sekolah ingin meningkatkan disiplin kerja guru, ia harus memperhatikan kesejahteraan anggotanya, dari hasil penelitian pertanyaan yang diajukan kepada kepala sekolah “Bagaimana bentuk pembinaan yang bapak lakukan untuk meningkatkan disiplin guru?, kepala sekolah menjawab, dalam meningkatkan disiplin guru terutama disiplin dalam melaksanakan tugas, kepala sekolah membantu guru mengembangkan pola prilaku, meningkatkan standar prilakunya dan membina rasa hormat-menghormati terhadap wewenang, hal ini seperti yang dikatakan Mulyasa (2002:125) sebagai berikut: Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan disiplin Guru yaitu: (1) membantu guru mengembangkan pola prilakunya, (2) membantu guru meningkatkan standar prilakunya dan (3) menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pentingnya disiplin guru untuk menambah: (1) rasa hormat terhadap wewenang, (2) upaya menanam kerjasama (3) kebutuhan untuk berorganisasi dan (4) rasa hormat terhadap orang lain. Selanjutnya pertanyaan diajukan kepada guru “Untuk meningkatkan disiplin guru jika ada guru yang datang terlambat

Langkah-langkah yang di tempuh Kepala sekolah dalam membina dan meningkatkan disiplin guru, beliau menyebutkan bahwa: Dalam setiap kali rapat/pertemuan, saya selalu mengingatkan akan pentingnya disiplin guru dan pentingnya mentaati tata tertib guru yang telah dibuat bersama, dalam kegiatan sehari-hari sebagai kepala sekolah saya berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan disiplin diri dengan harapan dapat dicontoh dan diteladani oleh para guru. Dalam rangka melakukan pengawasan terhadap disiplin guru saya juga membentuk staf khusus bidang kedisiplinan guru, adapun koordinatornya saya percayakan kepada Wakil kepala sekolah bidang Humas Peneliti juga menanyakan tentang sejauh mana pentingnya disiplin guru dalam peningkatan kinerja, Kepala sekolah menjelaskan bahwa: Disiplin guru dalam berbagai bidang adalah suatu hal yang sangat penting karena disiplin guru merupakan salah satu faktor yang menentukan efektitas kelancaran pembelajaran disekolah. Apabila guru telah benar-benar disiplin dalam segala hal, maka segala program yang direncanakan akan berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan dan waktu yang ditetapkan, maka guru harus bisa menjadi teladan bagi para siswa, sehingga apabila guru telah benar-benar disiplin diharapkan

hadir ke sekolah dan terlambat masuk kelas apa yang dilakukan kepala sekolah?, guru menjawab, kepala sekolah langsung menegur, menasihati serta membuat absen hadir dan mengontrol ke setiap kelas jika ada guru yang datang terlambat memasuki kelas. Dokumentasi yang penulis dapatkan bentuk apresiasi Pemerintah dalam meningkatkan disiplin guru melalui Peraturan Walikota Banda Aceh Nomor 72 tahun 2009 pada Bab II Ayat 2 yang bunyinya sebagai berikut : Memberikan penghargaan kepada PNS dan tenaga honorer terhadap kinerja dan disiplin PNS yang bekerja di lingkungan pemerintahan Kota Banda Aceh dalam pembayaran TPK dan honor. Bab III Pasal 3 dan 4 tentang pembayaran TPK dan honorer pembayaran TPK kepada guru PNS dan Honor kepada guru honorer sebagaimana di maksud dalam Pasal 3 ayat (2) di hitung berdasarkan tingkat disiplin, jam efektif berdasarkan jam mengajar, pelaksanaan tugas pada saat jam mengajar dan laporan kepala sekolah terhadap PNS dan tenaga honorer yang dikenakan sanksi pekerjaannya dengan tepat waktu. Membina guru agar disiplin,kepala sekolah harus terlebih dahulu disiplin, Bafadal (2006) mengungkapkan bentukbentuk pembinaan yang di kepala sekolah harus untuk pengembangan disiplin secara individu adalah senbagai berikut : 1. Memberikan petunjuk-petunjuk secara informal pada saat di butuhkan 2. Menampung berbagi keluhan 3. Nenyedikan kotak saran. 4. Menyediakan waktu melakukan disiplin secara empat mata pada saat di butuhkan guru.

5. Membuat catatan tentang prestasi dan pelanggran yang di lakukan oleh guru 6. Memberikan hukuman yang sesuai dan penghargaan tehadap jasa prilaku guru Dalam hal ini kepala sekolah membuat aturan untuk mewujudkan aturan, untuuk mewujudkan kedisiplinan guru dalam menjalankan tugas di sekolah. Hal tersebut sesuai dengan Instruksi Menteri Pendidikan RI Nomor 14/V/2004 sebagai berikut: 1. Setiap guru harus datang dan berada di sekolah pada setiap hari. 2. Setiap guru harus bertanggung jawab terhadap tugas dan pelajaran secara teratur. 3. Setiap guru berkewajiban menunjang dan membentuk usaha untuk mengembangkan usaha sekolah. 4. Setiap guru harus patuh dan disiplin serta taat dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya. Kutipan di atas menjelaskan bahwa disiplin kerja pada suatu lembaga sekolah merupakan peraturan dan tata tertib atau cara yang harus ditaati oleh setiap guru dalam menjalankan tugasnya. Seorang guru yang baik mampu menjalankan disiplin kerja di sekolah, sehingga kegiatan pembelajaran berjalan secara lancar. Pertanyaan kepada guru yang berikutnya adalah “Jika kepala sekolah memberikan pekerjaan untuk guru-guru sesuai dengan keahliannya masing-masing apakah guru-guru dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Danim (2004:57) mengemukakan gaya konsultasi, yaitu gaya yang bercirikan konsultasi. Pemimpin masih banyak memberikan pengarahan kepada guru-guru, tetapi hal ini meningkatkan

komunikasi dua arah. Meskipun demikian dukungan ditingkatkan tetapi pengendalian atas pengambilan keputusan tetap pada kepala sekolah. Dalam melakukan pembinaan disiplin guru, kepala sekolah berusaha untuk memberikan pengarahan tentang arti dan pentingnya disiplin guru, menjadi contoh atau teladan dengan menerapkan disiplin pada diri kepala sekolah sendiri, dengan menerapkan disiplin diri diharapkan para guru akan mengikuti sebagaimana disiplin yang diterapkan kepala sekolah dengan penuh kesadaran diri dan tanpa adanya paksaan. Selain itu, dalam pembinaan disiplin kepala sekolah juga membentuk tim khusus bidang kedisiplinan guru, tim khusus ini bertugas sebagai pemantau terhadap kedisiplinan guru dalam menjalankan tugasnya. Apabila kedisiplinan guru sudah tercapai maka kelancaran proses pengajaran akan berjalan dengan baik dan lancar juga prestasi kerja yang dihasilkan akan sesuai dengan yang diharapkan. Penegakan disiplin di terapkan dengan menjalankan semua ketentuan yang telah di buat kepala sekolah berdasarkan hasil keputusan Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri Kota Banda Aceh Nomor : 422/17/2010 tentang peraturan kedisiplinan guru yang berbunyi : tata tertib sekolah agar adanya pengendalian dan keteraturan serta pelaksanaan tugas secara bertanggung jawab sedangkan sanksi atau hukum akan di kenakan kepada guru yang menyalahi aturan tata tertib sebagai pendidik berjalan dengan baik. Seperti yang di ungkapkan oleh Sutisna dan Irma (2008: 13) bahwa pengertian disiplin adalah : a. Latihan mengembangkan kepribadiandiri, karakter atau keadaan teratur dan efesien b. Hasil latihan serupa itupengendalian diri, prilaku yang tertib

c. Penerimaan atau kepatuhan terhadap kekuasan dan control d. Prilaku yang menghukum atau menyiksa Gaya kepemimpinan intruktif diterapkan dalam meningkatkan disiplin guru tepat waktu memasuki kelas, sedangkan gaya kepemimpinan konsultasi diterapkan dalam pemecahan pendisiplinan dan pembagian tugas secara adil dan fair.
Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Komitmen Guru pada SMP Negeri Kota Banda Aceh

Bentuk dalam pembinaan Komitmen guru yang dilakukan oleh kepala sekolah, mengirim para guru untuk mengikuti seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan, mendatangkan para ahli, memberikan kesempatan kepada para guru untuk melanjutkan pendidikannya, menempatkan guru pada proporsi yang sesuai dengan bidangnya. Dan mengadakan rapat guru setiap satu semester yang dimaksudkan untuk mengevaluasi kinerja guru sekaligus memberikan pengarahan-pengarahan terhadap kekurangan-kekurangan. Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah yang diperlukan bagi kelancaran dan keberhasilan proses belajar-.Pembinaan Komitmen guru selalu dilakukan oleh kepala sekolah secara terus menerus dan berkesinambungan, beberapa guru dikirim untuk mengikuti pelatihan tentang pengelolaan pembelajaran Kab/Kota dan seminar kompetensi keguruan yang diadakan di Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Banda Aceh . Dalam melakukan peningkatan komitmen terhadap guru bapak kepala sekolah menyuruh guru untuk mengikuti MGMP (musyawarah guru mata pelajaran), dan memberikan kesempatan kepada guru untuk saling mengadakan supervisi KBM dari tiap-tiap guru, sehingga setiap guru dapat saling memberi masukan dan saling

menyempurnakan terhadap kekurangan dan kelemahan guru dalam menjalankan tugasnya. Berdasarkan dari beberapa data diatas, menunjukkan bahwa peningkatn komimen terhadap guru sangat penting dilakukan oleh kepala sekolah dengan maksud untuk membantu mengembangkan komitmen yang dimiliki guru dalam rangka meningkatkan kinerja demi Guru merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan program pengajaran dan tujuan sekolah, sehingga para guru dituntut untuk mempunyai tanggung jawab, komitmen dan disiplin dalam menjalankan tugasnya dan selalu meningkatkan kinerjanya. Untuk meningkatkan kinerja guru, kepala sekolah harus berupaya untuk mengadakan pembinaan terhadap kinerja guru. Adapun upaya yang dilakukan kepala SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam melakukan komimen guru antara lain: Mengadakan dan menyuruh guru untuk mengikuti seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan, dan mengadakan kerja sama dengan sekolah-sekolah lain, mendatangkan para ahli, memberikan kesempatan kepada para guru untuk melanjutkan pendidikannya, menempatkan guru pada proporsi yang sesuai dengan bidangnya, mengevaluasi kerja guru dan memberi pengarahan-pengarahan, memberikan kesempatan kepada guru untuk saling mengadakan supervisi, menyediakan, mengoptimalkan sarana dan perlengkapan pendidikan. Motivasi tanggung jawab merupakan faktor pendorong untuk melakukan sesuatu, agar para guru dapat menjalankan dan meningkatkan prestasi kerjanya, maka kepala sekolah harus berupaya memotivasi guru. Adapun kepemimpinan yang kepala SMP Negeri Kota Banda Aceh dalam memotivasi guru yaitu menekankan pada motivasi instrinsik dan ekstrinsik dengan cara: Menciptakan situasi dan kerjasama yang harmonis antar guru, memberikan

penghargaan, melibatkan guru dalam setiap kegiatan sekolah, memberi hak kepada guru untuk mengeluarkan pendapat untuk perkembangan-perkembangan madrasah, berusaha untuk memenuhi keinginan-keinginan guru dan melengkapi segala kebutuhan yang diperlukan dalam menjalankan tugasnya. Kepala sekolah merupakan pimpinan sekaligus manajer di sekolah sebagai seorang pemimpin dan manajer harus bersikap adil kepada stafnya, menaruh perhatian yang sama kepada stafnya, bersikap ramah, dalam memberikan tugas kepada guru harus memperhatikan kemampuan individual guru dalam penelitian adapun pertanyaan yang diajukan kepada kepala sekolah “Usaha apa saja yang bapak lakukan di sekolah dalam meningkatkan komitmen guru? “Kepala sekolah menjawab memberikan bimbingan dan teguran kepada guru yang belum menjalankan tugasnya dengan baik, memberikan penghargaan dan kesejahteraan kepada guru yang berhasil dan berprestasi baik. Kepala sekolah menganggap guru sebagai mitra kerja yang selalu dapat diajak bertukar fikiran dan dapat berkomunikasi dimanapun berada tidak mesti di ruang kepala sekolah. Hal ini mencerminkan bahwa kepala sekolah yang berjiwa besar dan rendah hato tidak menganggap jabatan sebagai sesuatu yang dapat dibanggakan tetapi jabatan merupakan amanah yang harus diemban, dikelola dan dipertanggung jawabkan baik kepada manusia maupun kepada Allah SWT. Wahjosumidjo (2001:1530) Mengungkapkan bahwa: “Komitmen dalam kerja baik individu, kelompok maupun organisasi di pengaruhi oleh lingkungan kerja dan teman kerja”. Lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap komitmen seseorang untuk bekerja lebih baik atau sebaliknya. Karena lingkungan kerja merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dengan unsur

emosional seseorang. Dalam melaksanakan tugas kesehariannya dilembaga organisasi sanagt dituntut kepada profesionalisme dalam bekerja, hal tersebut akan terlaksana dan terwujud jika didukung oleh teman kerja yang kompak dan bersahaja dalam melaksanakan tugas. Komitmen dalam bekerja tertanam oleh bawahan sangat didukung oleh teman kerja yang saling mengingatkan, membantu dalam bekerja, mendorong jika pekerjaannya benar dan menasehati jika pekerjaannya kurang benar sehingga rasa bersama dan sepenanggungan dalam bekerja akan terjalin. Pertanyaan yang diajukan kepada guru berikutnya “Bagaimana kepala sekolah dalam memberikan pembinaan komitmen dan kenyamanan dalam meningkatkan kinerja guru ?, Dalam hal ini kepala sekolah sangat memperhatikan terhadap kenyamanan guru, terutama kenyamanan dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar, kepala sekolah menyediakan tempat dan buku-buku yang dibutuhkan oleh guru, misalnya buku paket yang berkaitan dalam bidang studinya masing-masing. Dalam hal ini kepala sekolah mengatakan bahwa, selaku pimpinan kepala sekolah selalu memberikan perhatian penuh dalam memberikan kenyamanan kepada guru dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan. Karena kepala sekolah berpendapat bahwa mekanisme kerja yang telah dirancang dan tidak baku dalam membagi tugas kepada guru karena melihat kepada situasi serta kondisi yang ada. Cirri kepemimpinan dalam melihat kepada keadaan guru secara menyeluruh dapat dikatakan dengan cirri kepemimpinan delegatif.
Kesimpulan

kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru pada SMP Negeri Kota Banda Aceh sebagai berikut: Upaya kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan tanggung jawab guru, menciptakan situasi dan kerjasama yang harmonis antar guru, berusaha memenuhi perlengkapan yang diperlukan guru dalam melaksanakan tugasnya, memberikan penghargaan dan hukuman. Langkah-langkah meningkatkan tanggung jawab guru, menciptakan Situasi dan hubungan kerjasama yang harmonis di suatu sekolah memang sangat penting, dalam penerapannya kepala sekolah menciptakan suasana terbuka maksudnya setiap guru diberi hak untuk menyatakan pendapat dan keinginan-keinginan terhadap perkembangan sekolah dan apabila ada masalah maka akan dipecahkan bersama, dan juga melibatkan guru untuk berbagai kegiatan. Selain itu juga memberikan penjelasan tentang tujuan yang harus dicapai sekolah.. Gaya kepemimpinan delegatif diterapkan dalam mensosialisasikan Visi dan Misi sekolah, kepala sekolah sangat menjunjung nilainilai kebersamaan untuk membawa sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh ke arah yang lebih berkualitas. Gaya kepemimpinan intruktif diterapkan dalam mensosialisasikan taat tertib/aturan-aturan sekolah yang telah ditetapkan bersama misalnya, setiap guru (masing-masing bidang studi) harus tercapai target Kurikulum yang telah ditentukan oleh sekolah, Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga di tingkat Kabupaten, Provinsi maupun tingkat Pusat. Gaya Kepemimpinan
Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Disiplin Guru pada SMP Negeri Kota Banda Aceh menggunakan gaya kepemimpinan intruktif dan konsultasi.

Berdasarkan hasil penelitian dan temuan-temuan dalam penelitian yang mengacu pada pembahasan penelitian yang dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan tentang gaya

Gaya kepemimpinan intruktif yang diterapkan oleh kepala SMP Negeri Kota Banda Aceh, dalam hal ketepatan waktu kehadiran di sekolah dan ketepatan waktu untuk memasuki kelas sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dan

membantu guru dalam mengembangkan pola prilaku dan keilmuan, melaksanakan tata tertib yang telah di sepakati bersama dari hasil musyawarah. Disiplin guru dalam berbagai bidang adalah suatu hal yang sangat penting karena disiplin guru merupakan salah satu faktor yang menentukan efektitas kelancaran pembelajaran disekolah. Kepemimpinan kepala sekolah dalam pembinaan disiplin guru, melakukan pembinaan-pembinaan terhadap guru yang terutama kali adalah pembinaan disiplin, artinya untuk melakukan kegiatan pendidikan secara efektif dan efisien, maka segenap tenaga kependidikan harus mempunyai disiplin yang tinggi dalam segala bidang. Langkah selanjutnya adalah melakukan pembinaan-pembinaan yang berkaitan dengan kompetensi profesional dan kemampuan yang dimiliki guru. Langkah-langkah yang di tempuh kepala sekolah dalam membina dan meningkatkan disiplin guru, dalam setiap kali rapat/pertemuan, selalu mengingatkan akan pentingnya disiplin guru dan pentingnya mentaati tata tertib guru yang telah dibuat bersama, dalam kegiatan sehari-hari sebagai kepala sekolah saya berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan disiplin diri dengan harapan dapat dicontoh dan diteladani oleh para guru. Dalam rangka melakukan pengawasan terhadap disiplin guru, kepala sekolah juga membentuk staf khusus bidang kedisiplinan guru, sejauh mana pentingnya disiplin guru dalam peningkatan kinerja, Disiplin guru dalam berbagai bidang adalah suatu hal yang sangat penting karena disiplin guru merupakan salah satu faktor yang menentukan efektitas kelancaran pembelajaran disekolah. Apabila guru telah benar-benar disiplin dalam segala hal, maka segala program yang direncanakan akan berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan dan waktu yang

ditetapkan, maka guru harus bisa menjadi teladan bagi para siswa, sehingga apabila guru telah benar-benar disiplin diharapkan para siswa juga akan meniru kedisiplinan yang telah diterapkan para guru, begitu juga sebaliknya apabila guru tidak disiplin, maka program pembelajaran yang direncanakan akan tidak berjalan sesuai dengan harapan dan yang lebih dikhawatirkan para siswa juga akan tidak disiplin. Gaya kepemimpinan delegatif yang diterapkan oleh kepala sekolah SMP Negeri Kota Banda Aceh, seperti memberikan kesempatan kepada guru untuk saling mengadakan supervisi KBM dari tiap-tiap guru, sehingga setiap guru dapat saling memberi masukan dan saling menyempurnakan terhadap kekurangan dan kelemahan guru dalam menjalankan tugasnya. Kepala sekolah bersikap adil terhadap stafnya, menaruh perhatian yang sama kepada stafnya bersikap ramah, bersikap adil dalam pembagian tugas maupun dalam pembagian kesejahteraan yang berpedoman kepada beban tugas yang diemban oleh guru. Bentuk komitmen guru dalam melaksanakan tugas selama ini, komitmen langkah awal untuk mencapai tujuan pendidikan, bentuk-bentuk komitmen yang harus di lakukan yaitu komitmen profesi, komitmen organisasi dan komitmen mengajar, kalau komitmen masih rendah upaya yang di lakukan menciptakan rasa aman dan nyaman disekolah melakukan komunikasi pembinaan secara indivual. Dalam melakukan pembinaan Komitmen, kepala sekolah mengirim para guru untuk mengikuti seminar-seminar dan pelatihan-pelatihan, mendatangkan para ahli, memberikan kesempatan kepada para guru untuk melanjutkan pendidikannya, menempatkan guru pada proporsi yang sesuai dengan bidangnya. Dan mengadakan rapat guru setiap satu semester yang dimaksudkan untuk

mengevaluasi kinerja guru sekaligus memberikan pengarahan-pengarahan terhadap kekurangan-kekurangan. Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah yang diperlukan bagi kelancaran dan keberhasilan proses belajar-mengajar.
Implikasi

Realita di lapangan dengan hasil penelitian, mengenai gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru, dapat dirumuskan rekomendasi yang merupakan implikasi lebih lanjut untuk peningkatan kualitas gaya kepemimpinan kepala sekolah: 1. Kepala sekolah sebagai pimpinan pendidikan menampilkan variasi gaya kepemimpinan dalam berbagai kegiatan di sekolah, menciptakan suasana kondusif bagi personil sekolah. Kepercayaan, keterbukaan dan tanggung jawab bersama sangat penting untuk meningkatkan kepuasan kerja yang berdampak pada peningkatan kinerja guru. Kepala sekolah dalam menerapkan gaya kepemimpinannya harus sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang berlaku di sekolah, kebenaran kondisional memberikan setiap partisipasi peluang benar dan hak untuk didengarkan sebelum kesimpulan digambarkan atau keputusan dibuat. 2. Kepala sekolah harus selalu memberikan motivasi yang tinggi kepada guru-guru terutama kesadaran guru terhadap disiplin, kompromi, paling efektif sebagai pemecahan perbedaan atau pertukaran konsekuensi dalam meningkatkan kinerja guru. 3. Kepala sekolah dan guru-guru adanya suatu komitmen yang kuat dalam penyelesaian tugas secara tepat waktu, kepala sekolah memiliki peran dan tugas serta

tanggung jawab yang penting dalam pembinaan dan meningkatkan komitmen guru dalam melaksanakan tugas sebagai guru berjalan lancar agar tercapainya kinerja yang optimal. Kepala sekolah menyediakan bukubuku tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah, sehingga pengetahuan tentang gaya kepemimpinan meningkatkan pemahaman kinerja guru agar tercapainya pendidikan yang bermutu. A. Saran saran 1. Kepala sekolah selaku pimpinan tertinggi di sekolah diharapkan dapat menerapkan gaya kepemimpinannya, menggunakan gaya kepemimpinan intruktif bisa berdampak (1) wibawa kepala sekolah bisa hilang, (2) guru akan semakin malas dalam melaksanakan tugas, (3) tanggung jawab guru akan terabaikan, (4) guru akan lebih agresif dari kepala sekolah. 2. Kepala sekolah juga diharapkan bisa meningkatkan kepedulian kepada guru sehingga memberikan rasa tanggung jawab yang lebih besar, ini memfokuskan semua partisipasi pada tujuan bersama dan memberikan peluang kepada semua guru di sekolah untuk memberikan kontribusi mereka masing-masing. 3. Dalam upaya meningkatkan kinerja guru, kepala sekolah untuk benarbenar memahami sekaligus menerapkan fungsi dan peranannya. Kepala sekolah untuk selalu berusaha untuk meningkatkan strategi dalam membina, memotivasi, dan meningkatkan kompetensi guru, mengetahui kelemahan atau hambatan yang ada serta berusaha mengatasi hambatan yang ada dan

guru berusaha meningkatkan kompetensi kinerja profesionalnya. Kepada peneliti yang akan datang diharapkan penelitian mengenai kepemimpinan kepala sekolah pada umumnya dan gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru pada khusunya, untuk dikaji lebih mendalam dengan berbagai metode penelitian yang lain agar diperoleh penemuan-penemuan baru sehingga dapat dimanfaatkan oleh pihak lembaga pendidikan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Atmodiwiryo. Soebagio. (2002). Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Ardadizya Jaya. Burhanuddin. (1994). Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Castetter, William B. (1981). The Personal Function in Education Administration. New Cork. Mac Millan Publishing Co.Inc Danim, S, (2004). Motivasi, Kepemimpinan dan Efektifitas Kelompok, Jakarta: Rineka Cipta. Daryanto, (2005). Administrasi Pendidikan, Jakarta: Asdi Mahasatdya. Dedi Supriadi. (1998). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adi Cipta Karya. Dharma, A, (1984). Gaya Kepemimpinan yang Efektif Bagi Para Manager, Bandung: Sinar Baru. Efendi (1995). Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Gunung Agung. Engkoswara, (1987). Dasar-dasar Administrasi Pendidikan. Penerbit Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Fattah, Nanang (1996). Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management). Bandung. CV. Aditra. Fiedler, F.E. dan Chermier, M.M. (1974). Leadership and Effectives Management. Glen View: Scout, Foreman and Company.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Rojali. (2000). Pelaksanaan Otonomi Luas. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Ali, Z. Abidin. (2007). Gaya Kepemimpinan Kepala sekolah Di SMA Negeri Kota Lhokseumawe. Tesis Program Pascasarjana Unsyiah, tidak di terbitkan.

Ahmad, Ajali. (2006). Pengelolaan Sekolah Dasar. Bandung: PPS IKIP Bandung Almasdi, Yusuf S, (1996). Aspek Sikap Mental dalam Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Ghalia Indonesia. Anoraga, (1998). Psikologi Kerja. Jakarta: Rineka Cipta. Arifin, R. (1999). Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Efektif. Jurnal Manajemen Pendidikan. Tahun 9 Nomor 1 Agustus 1999 As-Suwaidan, M. T. dan Basyaril , U.F, (2005). Melahirkan Pemimpin Masa Depan, Jakarta: Gema Insani

Gaffar. M. Fakry. (1985).”Perencanaan Pendidikan Teori dan Metodologi”. Jakarta: P2LPTK. Gaffar. M. Fakry. (1985).”Perencanaan Pendidikan Teori dan Metodologi”. Jakarta: P2LPTK Depdikbud. Gagne, RM; and Briggs, LJ. (1979). Principles of Intructional Design. New Cork. Holt Rinehart and Winstons. Goble, NM. (1983). Perubahan Peranan Guru: Jakarta, Gunung Agung. Handoko, Y. (1999). Manajemen. Jakarta: BPFE. Hani, Handoko, T. (1993). Manajemen. Yogyakarta: BPFE. Harahap, B. (1983). Supervisi Pendidikan yang Dilakukan oleh Guru, Kepala Sekolah, Penilik dan Pengawas Sekolah. Jakarta: Damai Jaya. Hasan. M Ani. (2005). Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad Pengetahuan(Outline) Hasibuan M. (2001). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara. Hermanti. (2005). Gaya Kepemimpinan. Jakarta: Unipres Terbuka. Hersey, Paul dan Ken Blanchard. (1999). Manajemen Perilaku Organisasi. Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud. Idris. Jamaluddin (2005). Analisis Kritis Mutu Pendidikan. Yogyakarta: Suluh Pres. Indrafachruddin. (1995). Mengantar Bagaimana Memimpin Sekolah yang Baik. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Kartini, Kartono. (1998). Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Kouzes, James M. And Barry Z. Posner, (1993). Credibility. San Francisco: Jose Bass, Inc. Publisher. Lazarut, Soewadji. (1994). Kepala Sekolah dan Tanggung Jawabnya. Yogyakarta: Kanisiua. Liphan, James M. (1984). The Principalship: Consepts, Competence and Casses. New York dan London the Longman. Mengunhardjana, AM. (1998). Kepemimpinan Teori dan Pengembangannya. Jakarta: Kanisiua. Mc. Afee, R. Bruce dan Williamn Poffen Berger, (1982). Productivity Strategies. NJ: Prentice-Hall. Moleong, L.J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosda Karya. Nasution. S. 1992. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Bandung : Tarsito. O’Leary. E. (1990). Yogyakart: Andi. Kepemimpinan.

Owens, RG. (1991). Organizaciona Behaviorm in Educational Administration Engelewood Cliffs. New Jersey, Printice Hall, Inc. Perrot, E. (1982). Effective Teaching: A practical Guide to Improving yout Teaching. New York, Longman Group. Prawirosentono, Suyadi (1999). Manajemen Sumber Daya Manusia Kebijakan Kinerja Karyawan (Kiat Membangun Organisasi Kompetitif

Menjelang Perdagangan Bebas Dunia). Edisi Pertama. Yogyakarta. BPFE. Ravianto, J. (1985). Seri Produktivitas III. Jakarta: Lembaga Sarana Informasi Usaha dan Produktivitas. Rival,V (2004).Kepemimpinan Perilaku Organisasi,Jakarta: Grafindo Persada Sahertian, I.A. (1989). Administrasi Pendidikan. Malang: IKIP Malang. Sagala, S. (2000). Administrasi Pendidikan. Malang: IKIP Malang. Salim, (1996). Aspek Sikap Mental Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta. Siagian, Sondang P. (1993). Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Jakarta: Bina Aksara. Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta Sutarto. (1991). Dasar-dasar Kepemimpin Administrasi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Sutisna, Oteng. (1993). Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis dan Praktek Profesional. Bandung: Aksara. Thoha. S.(2002). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Tilaar, HAR. (1992). Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Uno, Hamzah B.(2007).Teori Motivasi dan pengukurannya: Analisis di

Bidang Aksara

Pendidikan,Jakarta:Bumi

Wahjosumidjo. (2001). Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta: Ghalia Indonesia. Wahjosumidjo. (2001). Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: Ghalia Indonesia. Winardi. (2000). Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: Rineka Cipta. Winardi. (2002). Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen, Jakarta: Raja Grafindo Persada.