LAPORAN PENDAHULUAN EMFISEMA

A. PENGERTIAN Menurut Brunner & Suddarth (2002), Emfisema didefinisikan sebagai distensi abnormal ruang udara di luar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli. Kondisi ini merupakan tahap akhir proses yang mengalami kemajuan dengan lambat selama beberapa tahun. Pada kenyataannya, ketika pasien mengalami gejala, fungsi paru sering sudah mengalami kerusakan yang ireversibel. Dibarengi dengan bronchitis obstruksi kronik, kondisi ini merupakan penyebab utama kecacatan. Sedangkan merurut Doengoes (2000), Emfisema merupakan bentuk paling berat dari Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM) yang dikarakteristikkan oleh inflamasi berulang yang melukai dan akhirnya merusak dinding alveolar sehingga menyebabkan banyak bula (ruang udara) kolaps bronkiolus pada ekspirasi (jebakan udara). Definisi emfisema menurut beberapa ahli : 1. Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terus menerus terisi udara walaupun setelah ekspirasi (Kus Irianto, 2004, hlm. 216). 2. Emfisema merupakan morfologik didefisiensi sebagai pembesaran abnormal ruang-ruang udara distal dari bronkiolus terminal dengan desruksi dindingnya (Robbins, 1994, hlm. 253). 3. Emfisema adalah penyakit obtruktif kronik akibat kurangnya elastisitas paru dan luas permukaan alveoli (Corwin, 2000, hlm. 435). 4. Empisema adalah suatu perubahan anatomis paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara bagian distal bronkus terminal, yang disertai kerusakan dinding alveolus atau perubahan anatomis parenkim paru yang ditandai pelebaran dinding alveolus, duktus alveolaris dan destruksi dinding alveolar (The American Thorack society 1962).

B. ETIOLOGI Menurut Brunner & Suddarth (2002), merokok merupakan penyebab utama emfisema. Akan tetapi pada sedikit pasien (dalam presentasi kecil) terdapat predisposisi familiar terhadap emfisema yang yang berkaitan dengan abnormalitas protein plasma, defisiensi antitripsin-alpha1 yang merupakan suatu enzim inhibitor. Tanpa enzim inhibitor ini, enzim tertentu akan menghancurkan jaringan paru. Individu yang secara ganetik sensitive terhadap faktor-faktor lingkungan (merokok, polusi udara, agen-agen infeksius, dan alergen) pada waktunya akan mengalami gejala-gejala obstruktif kronik. Sangat penting bahwa karier genetik ini harus diidentifikasikan untuk memungkinkan modifikasi faktor-faktor lingkungan untuk menghambat atau mencegah timbulnya gejala-gejala penyakit. Konseling genetik juga harus diberikan.

C. FAKTOR PENCETUS 1. Faktor Genetik Faktor genetik mempunyai peran pada penyakit emfisema. Faktor genetik diataranya adalah atopi yang ditandai dengan adanya eosinifilia atau peningkatan kadar imonoglobulin E (IgE) serum, adanya hiper responsive bronkus, riwayat penyakit obstruksi paru pada keluarga, dan defisiensi protein alfa – 1 anti tripsin. 2. Hipotesis Elastase-Anti Elastase Didalam paru terdapat keseimbangan antara enzim proteolitik elastase dan anti elastase supaya tidak terjadi kerusakan jaringan.Perubahan keseimbangan menimbulkan jaringan elastik paru rusak. Arsitektur paru akan berubah dan timbul emfisema. 3. Rokok Rokok adalah penyebab utama timbulnya emfisema paru. Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia pada jalan nafas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi dan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia epitel skuamus saluran pernapasan. 4. Infeksi Infeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru lebih hebat sehingga gejalanya lebih berat. Penyakit infeksi saluran nafas seperti pneumonia,

Infeksi pernapasan bagian atas pasien bronkitis kronik selalu menyebabkan infeksi paru bagian dalam. 6. obstruksi dapat di sebabkan oleh defek tulang rawan bronkus. Jarang yang hanya bronkitis kronis saja atau emfisema saja. Pada jenis yang terakhir. mungkin kerena perbedaan pola merokok. EPIDEMIOLOGI Bronkitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang penderita. polusi tidak begitu besar pengaruhnya tetapi bila ditambah merokok resiko akan lebih tinggi. D. Obstruksi Jalan Nafas Emfisema terjadi karena tertutupnya lumen bronkus atau bronkiolus. Faktor Sosial Ekonomi Emfisema lebih banyak didapat pada golongan sosial ekonomi rendah. Kadang-kadang bronkitis kronis yang lebih banyak. 7. tumor intrabronkial di mediastinum. Pengaruh Usia 8. kadangkadang emfisema paru yang lebih banyak. konginetal. Emfisema terdapat pada 65 % laki-laki dan . Emfisema menduduki peringkat ke-9 diantara penyakit kronis yang dapat menimbulkan gangguan aktifitas. 5. dapat menyebabkan gangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar. polusi udara seperti halnya asap tembakau. sehingga terjadi mekanisme ventil. Bakteri yang di isolasi paling banyak adalah haemophilus influenzae dan streptococcus pneumoniae. Etiologinya adalah benda asing di dalam lumen dengan reaksi local. Di Amerika Serikat kurang lebih 2 juta orang menderita emfisema. serta menyebabkan kerusakan paru bertambah.bronkiolitis akut dan asma bronkiale. dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas. Sebagai faktor penyebab penyakit. Udara dapat masuk ke dalam alveolus pada waktu inspirasi akan tetapi tidak dapat keluar pada ekspirasi. selain itu mungkin disebabkan faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih jelek. yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya emfisema. Insiden dan angka kematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang padat industrialisasi. Polusi Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema.

merupakaan urutan ke-enam terbanyak. Dengan demikian AAT dapat melindungi paru dari kerusakan jaringan pada enzim proteolitik. Perjalanan udara akan tergangu akibat dari perubahan ini. Pada saat alveoli dan septum kolaps. udara akan tertahan di antara ruang alveolus yang disebut blebsdan di antara parenkim paru-paru yang disebut bullae. Dimana AAT merupakan suatu protein yang menetralkan enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan paru. Perubahan keseimbangan menimbulkan kerusakan jaringan elastic paru. Yaitu penyempitan saluran nafas ini disebabkan elastisitas paru yang berkurang. selanjutnya terjadi penurunan perfusi O2 dan penurunan ventilasi. Proses ini akan menyebabkan peningkatan ventilatory pada ‘dead space’ atau area yang tidak mengalami pertukaran gas atau darah. UPF /Laboratorium Penyakit Dalam RS Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran Unpad Bandung selama tahun 1968-1978 adalah 6. jalan nafas kolaps sebagian.21% dari seluruh penderita paru. Emfisema juga menyebabkan destruksi kapiler paru-paru. Penderita bronkitis kronis dan emfisema paru yang dirawat di Subunit Pulmonologi. tetapi jika hal ini timbul pada pasien yang berusia muda biasanya berhubungan dengan bronkhitis dan merokok. Kerja nafas meningkat dikarenakan terjadinya kekurangan fungsi jaringan paru-paru untuk melakukan pertukaran O2 dan CO2. Sedangkan data epidemiologis di Indonesia sangat kurang. Penyempitan saluran nafas terjadi pada emfisema paru. . Didalam paru terdapat keseimbangan paru antara enzim proteolitik elastase dan anti elastase supaya tidak terjadi kerusakan. Sumber elastase yang penting adalah pankreas. Penyebab dari elastisitas yang berkurang yaitu defiensi Alfa 1-anti tripsin. Emfisema masih dianggap normal jika sesuai dengan usia. PATOFISIOLOGI Emfisema merupakan kelainan di mana terjadi kerusakan pada dinding alveolus yang akan menyebebkan overdistensi permanen ruang udara. Arsitektur paru akan berubah dan timbul emfisema.15 % wanita. E. dan kehilangan elastisitas untuk mengerut atau recoil. Kesulitan selama ekspirasi pada emfisema merupakan akibat dari adanya destruksi dinding (septum) di antara alveoli.

Dalam keadaan demikian terjadi penimbunan udara yang bertambah di sebelah distal dari alveolus. Tergantung pada kerusakannya dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang/tidak ada akan tetapi perfusi baik sehingga penyebaran udara pernafasan maupun aliran darah ke alveoli tidak sama dan merata. Emfisema paru merupakan suatu pengembangan paru disertai perobekan alveolus-alveolus yang tidak dapat pulih. akan menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang.Asap rokok.1 protease inhibator terutama enzim alfa -1 anti tripsin (alfa -1 globulin). Pada orang normal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal. Sedangkan pada paru-paru normal terjadi keseimbangan antara tekanan yang menarik jaringan paru keluar yaitu yang disebabkan tekanan intra pleural dan otot-otot dinding dada dengan tekanan yang menarik jaringan paru ke dalam yaitu elastisitas paru. Sehingga timbul hipoksia dan sesak nafas. Pada pasien emfisema saluran nafas tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. polusi. tekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang sehingga saluran nafas bagian bawah paru akan tertutup. dapat bersifat menyeluruh atau terlokalisasi. dan infeksi ini menyebabkan elastase bertambah banyak. . mengenai sebagian atau seluruh paru. Akibatnya tidak ada lagi keseimbangan antara elastase dan anti elastase dan akan terjadi kerusakan jaringan elastin paru dan menimbulkan emfisema. Sedang aktifitas system anti elastase menurun yaitu system alfa. Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari obstrusi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaran udara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pemasukannya. Cepatnya saluran nafas menutup serta dinding alveoli yang rusak.

Pathway .

Kimia darah Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa emfisema primer. Analisis gas darah Ventilasi yang hamper adekuat masih sering dapat di pertahankan oleh pasien emfisema paru. Sputum . mendatarnya diafragma. Oligoemia penyempitan pembuluh darah pulmonal dan penambahan corakan kedistal. Sinar x dada Dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru. 6. Gambaran defesiensi arteri overinflasi terlihat diafragma yang rendah dan datar. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan foto dada sangat membantu dalam menegakkan diagnosis dan menyingkirkan penyakit – penyakit lain. hasil normal selama periode remisi (asma).pulmonal pada hantaran II. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis). Bila sudah terdapat kor pulmonal terdapat defiasi aksis ke kanan dan P. kadang-kadang terlihat konkaf. V1 rasio R/S lebih dari 1 dan di V6 rasio R/S kurang dari 1. b. Pemeriksaan EKG Kelainan EKG yang paling dini adalah rotasi clockwise jantung. Pemeriksaan kedistal fungsi paru Pada emfisema paru kapasitas difusi menurun karena permukaan alveoli untuk difusi berkurang. 5. yaitu : a. 2. Overinflasi tidak begitu hebat.F. Sehingga PaCO2 rendah atau normal. dan Avf. Voltase QRS rendah . sering terdapat pada kor pulmonal. Corakan paru yang bertambah. penurunan tanda vaskularisasi/bula (emfisema). Saturasi hemoglobin pasien hampir mencukupi. 7. Foto dada pada emfisema paru terdapat dua bentuk kelainan foto dada pada emfiseama paru. 3. peningkatan area udara retrosternal. III. 4. emfisema sentrilobular dan bloaters.

Bronkodilator Digunakan untuk mendilatasi jaln nafas karena preparat ini melawan baik edema mukosa maupun spasme muskular dan membantu baik dalam mengurangi obstruksi jalan nafas maupun dalam memperbaiki pertukaran gas. dan untuk mengatasi obstruksi jalan nafas untuk menghilangkan hipoksia. isoproterenol dan metilxantin (teofilin. PENATALAKSAAN (MEDIS & PERAWATAN) Tujuan utama pengobatan adalah untuk memperbaiki kualitas hidup. Regimen atautrimetroprim-sulfametoxazol (bactrim) diresepkan. Terapi antimikroba dengan tetrasiklin. pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi. Ukuran partikel dalam kabut aerosol harus cukup kecil untuk memungkinkan medikasi dideposisikan dalam-dalam di dalam percabangan trakeobronkial. Aerosol yang dinebuliser menhilangkan bronkospasme. Pneumonia. 1. membantu mengendalikan proses inflamasi. amoksisilin. subkutan.Kultur untuk menentukan adanya infeksi. yang menghasilkan dilatasi bronkial melaui mekanisme yang berbeda. dan mengencerkan sekresi bronkial. mengidentifikasi patogen. Terapi aerosol Aerosolisasi (proses membagi partikel menjadi serbuk yang sangat halus) dari bronkodilator salin dan mukolitik sering kali digunakan untuk membantu dalam bronkodilatasi. nebuliser balon-genggam. .medikasi ini mencakup agonis betha-adrenergik (metaproterenol. dan memperbaiki fungsi ventilasi. untuk memperlambat kemajuan proses penyakit. per rektal atau inhalasi. aminofilin). Hal ini memudahkan proses pembersihan bronkiolus. H. atau IPPB. 2. dan Branhamella catarrhalis adalah organisme yang paling umum pada infeksi tersebut. Pengobatan Infeksi Pasien dengan emfisema sangat rentan terhadap infeksi paru dan harus diobati pada saat awal timbulnya tanda-tanda infeksi. Bronkodilator mungkin diresepkan per oral. intravena. inhaler dosis terukur. G. biasanya ampisilin. S. 3. menurunkan edema mukosa. nebuliser dorongan-pompa. Influenzae. Medikasi inhalasi dapat diberikan melalui aerosol bertekanan.

. Efek samping termasuk gangguan gastrointestinal dan peningkatan nafsu makan. mungkin mengalami ulkus peptikum. dan pembentukan katarak. Oksigenasi Terapi oksigen dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien dengan emfisema berat. Pada emfisema berat oksigen diberikan sedikitnya 16 jam per hari. dengan 24 jam per hari lebih baik. batuk meningkat. miopati steroid. Jangka panjang. Hipoksemia berat diatasi dengan konsentrasi oksigen rendah untuk meningkatkan PaO2 hingga antara 65 – 85 mmHg. Kortikosteroid digunakan setelah tindakan lain untuk melebarkan bronkiolus dan membuang sekresi. seperti dibuktikan dengan sputum purulen. Prednison biasa diresepkan. dan demam. Kortikosteroid Kortikosteroid menjadi kontroversial dalam pengobatan emfisema. 4. 5. supresi adrenal. osteoporosis.antimikroba digunakan pada tanda pertama infeksi pernafasan. Dosis disesuaikan untuk menjaga pasien pada dosis yang terendah mungkin.

dan nyeri di daerah dada sebelah kanan pada saat bernafas.TEORI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN EMFISEMA I. dan nama penanggungjawab. Identitas Pasien Pada tahap ini perlu mengetahui tentang nama. pekerjaan pasien. batuk. Kanker.Pneumonia dan lain-lain. dan nyeri di daerah dada sebelah kanan pada saat bernafas. 4. merasa cepat lelah ketika melakukan aktivitas. Riwayat Penyakit Dahulu Perlu ditanyakan juga apakah pasien sebelumnya pernah menderita penyakit lain seperti TB Paru. nomor registrasi. status perkawinan. Riwayat Penyakit Keluarga Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama atau mungkin penyakit-penyakit lain yang mungkin dapat menyebabkan penyakit emfisema. batuk. DM. 2. Riwayat Kesehatan 1. berwarna kuning kental. Keluhan Utama Keluhan utama yang sering muncul pada pasien dengan penyakit emfisema bervariasi. . umur. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien dengan penyakit emfisema biasanya diawali dengan sesak nafas . PENGKAJIAN Pengkajian dilakukan dengan melakukan anamnesis pada pasien. B. Hal ini perlu diketahui untuk melihat ada tidaknya faktor predisposisi. Banyak sekeret keluar ketika batuk. secret berwarna kuning kental . Data-data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi : A. suku bangsa. merasa cepat lelah ketika melakukan aktivitas. antara lain: sesak nafas. 3. jenis kelamin. Asma. pendidikan terakhir. alamat rumah. agama. banyak secret keluar ketika batuk.

batuk. 6. Berapa kali pasien mandi ? 7. pireksia/demam(38°-40°C). 2. seberapa banyak. ada darah tau tidak. Bernafas Pasien umumnya mengeluh sesak dan kesulitan dalam bernafas karena terdapat sekret.5°C. Kebersihan Diri Kaji bagaimana toiletingnya apakah mampu dilakukan sendiri atau harus dibantu oleh orang lain. 8. Rasa Nyaman Observasi adanya keluhan yang mengganggu kenyamanan pasien. bagaimana BAB atau BAK nya normal atau bermasalah. Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual 1. 5. normal(36°-37°C). Istirahat dan tidur Kaji kebutuhan/kebiasaan tidur pasien apakah nyenyak/sering terbangun di sela-sela tidurnya. Pasien dengan penyakit emfisema biasanya mengalami sesak nafas. Rasa Aman Kaji pasien apakah merasa cemas atau gelisah dengan sakitnya. Makan dan Minum Observasi seberapa sering pasien makan dan seberapa banyak pasien menghabiskan makanan yang diberikan. seperti dalam hal warna feses /urine.C. Biasanya pasien dengan anemia mengalami kelemahan pada tubuhnya akibat kurangnya suplai oksigen ke jaringan tubuh. seberapa sering. 3. 4. cair atau pekat. Eliminasi Observasi BAB dan BAK pasien. hiperpireksia=40°C< ataupun hipertermi <35.dll. dan nyeri di daerah dada. Gerak dan Aktivitas Observasi apakah pasien masih mampu bergerak. Pengaturan suhu tubuh Cek suhu tubuh pasien. melakukan aktivitas atau hanya duduk saja(aktivitas terbatas). Minum seberapa banyak dan seberapa sering pasien minum. . 9.

Prestasi dan Produktivitas Prestasi apa yang pernah diraih pasien selama pasien berada di bangku sekolah hingga saat usianya kini. seberapa besar dukungan keluarganya. tidak berbau. mukosa terlihat pecah-pecah. Mata ( kanan/kiri ) Posisi mata simetris. dan kulit kepala bersih. 11. 12.10. dan berfungsi dengan baik. dan respon cahaya baik. dll. konjungtiva merah muda. dan pupil isokor. skelera putih. Tujuannya untuk mengetahui teknik yang tepat saat depresi. Mulut dan tenggorokan Rongga normal. 14. 4.Disinilah peran kita untuk memberikan HE yang tepat. Leher . 6. 13. kaji berapa kalipasien sembahyang. Pemeriksaan Fisik 1. rambut tumbuh subur. tidak ada pembengkakkan. Ibadah Ketahui agama apa yang dianut pasien. 5. Sosialisasi dan Komunikasi Observasi apakah pasien mampu berkomunikasi dengan keluarganya. D. tonsil tidak ada pembesaran. 2. Rekreasi Observasi apakah sebelumnya pasien sering rekreasi dan sengaja meluangkan waktunya untuk rekreasi. tidak ada serumen. Hidung Simetris kiri dan kanan. Pengetahuan atau belajar Seberapa besar keingintahuan pasien untuk mengatasi mual yang dirasakan dan caranya meningkatkan nafsu makannya. Rambut dan hygene kepala Warna rambut hitam. Telinga Simetris kiri dan kanan. 3. dan pendengaran tidak terganggu.

Pernapasan abnormal tidak efektik dan penggunaan otot-otot bantu napas (sternokleidomastoideus). Setelah infeksi ini terjadi.Kelenjer getah bening. . Dada/ thorak a. Paru yang mengalami emfisematosa tidak berkontraksi saat ekspirasi dan bronkhiolus tidak dikosongkan secara efektif dari sekresi yangf dihasillkan. Pengkajian batuk produktif dengan sputum purulen disertai demam mengindikasi adanya tanda pertama infeksi pernapasan b. Pada tahap lanjut. klien biasanya tampak mempunyai bentuk dada barrel chest (akibat udara yang terperangkap). dan sekitar telinga tidak ada pembesaran. Pada waktunya. Vena jugularis mungkin mengalami distensi selama ekspirasi. Klien rentan terhadap reaksi inflamasi dan infeksi akibat pengumpulan sekresi ini. c. dan pernapasan dengan bibir dirapatkan. Auskultasi Sering didapatkan adanya bunyi napas ronkhi dan wheezing sesuai tingkat beratnya obstruktif pada bronkhiolus. penipisan massa otot. didapatkan kadar oksigen yang rendah (hipoksemia) dan kadar karbondioksida yang tinggi (hiperkapnea) terjadi pada tahap lanjut penyakit. Pada inspeksi. penurunan berat badan. dan kelemahan merupakan hal yang umum terjadi. 7. bahkan gerakan ringan sekalipun seperti membungkuk untuk mengikatkan tali sepatu. Anoreksia. d. mengakibatkan dispnea dan keletihan (dispnea eksersional). klien mengalami mengi yang berkepanjangan saat ekspirasi. Inspeksi Pada klien dengan emfisema terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan serta penggunaan otot bantu napas. sub mandibula. Pada pengkajian lain. Perkusi Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma menurun. ekspansi meningkat dan taktil fremitus biasanya menurun. dispnea terjadi saat aktivitas bahkan pada aktivitas kehidupan sehari-hari seperti makan dan mandi. Palpasi Pada palpasi.

Nyeri dada ada.Saturasi hemoglobin menurun. melihat obstruksi. Irama jantung regular. b. Sputum patogen 3. Data Penunjang 1. Muskuloskeletal/integument a. Bentuk alat kelamin normal c. Saturasi Hb O2 hipoksia 9. Pencernaan a.Pa O2 . Foto sinar X rontgen .8. Keluhan pusing ada b. biasanya skala 6 dari 10 c. . . Berat badan menurun 12. Akral lembab d. Perkemihan B4 (bladder) a.Eritropoesis bertambah 2. Massa otot menurun E. Uretra normal 11. Kebersihan normal b. Tes fungsi paru : Untuk menentukan penyebab dispnoe. Persyarafan a. Berkeringat b. S1.Pa CO2 : rendah (normal 80 – 100 mmHg) : tinggi (normal 36 – 44 mmHg). Kardiovaskular a. Analisa gas darah . Anoreksi disertai mual b. : Kultur untuk menentukan adanya infeksi. mengidentifikasi 4. Gangguan tidur ada 10.S2 tunggal.

DIAGNOSA KEPERAWATAN A.  Kecepatan pernapasan teratur.II. RR = 16-20 ×/menit. tidak tampak adanya sianosis. DS :  Pasien mengatakan kesulitan bernapas.  Pernafasan reguler. pasien tidak batuk. tampak pasien gelisah. Analisa Data Data Fokus DS :  Pasien sesak. RR = 24 ×/menit. otot-otot pernapasan. nilai PO2 : menurun. DO :  Frekuensi pernafasan tidak tampak bantu pasien teratur. DO :  Dispnea. untuk  Pasien tidak mengatakan mengalami Bersihan jalan nafas tidak efektif kesulitan bernapas bunyi napas normal. 100 mmHg). Pa CO2 : (normal 36 44 mmHg). (normal Pa 80 O2 – – : tampak sianosis pada bibir pasien . tidak ada otot bantu pernapasan. mengatakan Data Standar  Pasien tidak sesak Masalah Keperawatan pertukaran mengatakan Kerusakan gas pasien tidak gelisah.nilai PCO2 : menurun. .

DO :  Berat badan pasien menurun.  Pernafasan normal : 16-20 ×/menit  Pasien melakukan aktivitas lelah saat tidak cepat beraktivitas lelah saat beraktivitas B.bunyi nafas tidak normal pasien batuk. Analisa Masalah 1. P : Kerusakan pertukaran gas E : Ketidaksamaan ventilasi-perfusi. DS :  Pasien mengeluh dan lemas DO :  Pernafasan meningkat  Cepat setelah selalu kelelahan pasien badan otot ideal. tonus otot menurun. pasien tampak segar Intoleransi aktivitas  Pasien tampak segar. normal. pasien tidak merasa mual.  Berat tonus nutrisi (ronchi) tampak kurang dari kebutuhan dan mual. tampak lemah. .  RR : 30 x/menit DS :  Pasien tidak mengatakan nafsu makan  RR : 16-20×/menit Perubahan  Nafsu makan pasien tubuh meningkat.

2. RR = 24 ×/menit. frekuensi pernafasan pasien tidak teratur. 3. tampak sianosis pada bibir pasien . dispnea. dispnea. P : Bersihan jalan nafas tidak efektif E : Peningkatan produksi sekret. Diagnosa Keperawatan 1. frekuensi pernafasan pasien tidak teratur. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasiperfusi yang ditandai dengan pasien mengatakan sesak. RR = 24 ×/menit. 2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret yang ditandai dengan pasien mengatakan kesulitan untuk bernapas. tampak otot-otot bantu pernapasan. pasien tampak gelisah. S : Pasien selalu mengeluh kelelahan dan lemas. pernafasan meningkat setelah melakukan aktivitas. P : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh E : Anoreksia dan mual S : Pasien mengatakan tidak nafsu makan dan mual. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia dan mual yang ditandai dengan pasien mengatakan tidak nafsu . pasien tampak lemah. tampak otot-otot bantu pernapasan.nilai PCO2 menurun. tampak sianosis pada bibir pasien .nilai PCO2 menurun. pasien tampak gelisah. nilai PO2 menurun. tonus otot menurun. pasien tampak batuk. pasien tampak batuk. 4. S : Pasien mengatakan kesulitan untuk bernapas. P : Intoleransi aktivitas E : Keletihan dan hipoksemia. nilai PO2 menurun. cepat lelah saat beraktivitas C. 3. RR : 30 x/menit. berat badan pasien menurun. bunyi nafas tidak normal (ronchi). RR : 30 x/menit.S : Pasien mengatakan sesak. bunyi nafas tidak normal (ronchi).

Berikan bronkodilator dalam gas. 4. bunyi nafas tidak normal (ronchi). tonus otot menurun. pernafasan meningkat setelah melakukan aktivitas. III. yaitu: No 1 Diagnosa Keperawatan Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan Tujuan & Kriteria hasil Intervensi Rasional 1. 2. Kriteria hasil: pertukaran sesuai yang diresepkan.makan dan mual. pernafasan meningkat setelah melakukan aktivitas. 3. RR : 30 x/menit. pasien tampak lemah. tampak otot-otot bantu pernapasan. berat badan pasien menurun. cepat lelah saat beraktivitas. B. cepat lelah saat beraktivitas. 4. Prioritas Diagnosa Keperawatan 1. tonus otot menurun. dispnea. tampak sianosis pada bibir pasien . pasien tampak batuk. pasien tampak gelisah. pasien tampak lemah. berat badan pasien menurun. Evaluasi tindakan . Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret yang ditandai dengan pasien mengatakan kesulitan untuk bernapas. RR = 24 ×/menit. INTERVENSI A.nilai PCO2 menurun. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan dan hipoksemia yang ditandai dengan pasien selalu mengeluh kelelahan dan lemas. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ketidaksamaan ventilasi- perfusi yang ditandai dengan pasien mengatakan sesak. Intervensi Keperawatan Intervensi keperawatan yang muncul pada pasien dengan emfisema. B. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan dan hipoksemia yang ditandai dengan pasien selalu mengeluh kelelahan dan lemas. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia dan mual yang ditandai dengan pasien mengatakan tidak nafsu makan dan mual. nilai PO2 menurun. frekuensi pernafasan pasien tidak teratur. Bronkodilator mendilatasi jalan napas dan membantu melawan Tujuan: Perbaikan A.

2. 4. 1. 3. Mengungkapkan pentingnya bronkodilator. Pertukaran gas diperbaiki. C. 4. nebuliser. 2. Teknik ini akan membantu memperbaiki . Beri pasien 6-8 gelas cairan/hari. Hidrasi sistemik menjaga sekresi tetap lembab dan memudahkan untuk pengeluaran. 2 Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret. Menunjukkan gas-gas darah arteri yang normal. Berikan oksigen dengan metode yang diharuskan. Oksigen akan memperbaiki hipoksemia. inhaler dosis terukur. kecuali terdapat kor pulmonal. D. Ajarkan dan berikan dorongan penggunaan teknik pernapasan diafragmaik dan 1. Mengungkapkan pentingnya untuk minum 6- 1. Mengkombinasikan medikasi dengan aerosolized bronkodsilator nebulisasi biasanya digunakan untuk mengendalikan bronkokonstriksi. 2. edema mukosa bronchial dan spasme muscular.ketidaksamaan ventilasiperfusi. Tujuan: Pencapaian bersihan jalan napas. Teknik ini memperbaiki ventilasi dengan membuka jalan napas dan membersihkan jalan napas dari sputum. Instruksikan dan berikan dorongan pada pasien pada pernapasan diafragmatik dan batuk efektif. Melaporkan penurunan dispnea. 3. Kriteria hasil: 1. 2. atau IPPB. Menunjukkan perbaikan dalam laju aliran ekspirasi.

4. 5. 4. Berikan antibiotik sesuai yang diresepkan. 3. aerosol. Iritan bronkial menyebabkan bronkokonstriksi dan meningkatkan pembentukan lendir. Tindakan ini menambahakan air ke dalam percabangan bronchial dan pada sputum menurunkan kekentalannya. 2. Lakukan drainage postural dengan perkusi dan vibrasi pada pagi hari dan malam hari sesuai yang diharuskan. seperti asap rokok. 6. Instruksikan pasien untuk menghindari iritan. ventilasi dan untuk menghasilkan sekresi tanpa harus menyebabakan sesak napas dan keletihan. Jalan napas kembali efektif. Menggunakan gaya gravitasi untuk membantu membangkitkan sekresi sehingga sekresi dapat lebih mudah dibatukkan atau diisap. yang kemudian mengganggu klirens jalan napas. 3. . batuk.8 gelas/hari. dan asap pembakaran. Bantu dalam pemberian tindakan nebuliser. 5. 3. Batuk berkurang. sehingga memudahkan evakuasi sekresi. inhaler. atau IPPB.

Antibiotik mungkin diresepkan untuk mencegah atau mengatasi infeksi. Menurunkan rasa tidak enak karena sisa sputum/obat yang merangsang pasien muntah. 6. Menunjukkan peningkatan BB 2. Berikan perawatan mulut 4. volume. Kriteria hasil: 1. Motivasi orang 6. ketidakmampuan menelan.6. Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan. Berguna dalam mendefinisikan derajat/luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat. Membuat 3. Melakukan perilaku/peruba han pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahanka n BB yang tepat. Catat status nutrisi pasien pada penerimaan . 2. 3. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia dan mual Tujuan: Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi. 4. 1. Catat kemungkinan dengan obat. Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan khusus. Anjurkan makan sedikit tapi sering dengan makanan TKTP 5. mual dan muntah. . awasi frekuensi. catat turgor kulit. konsistensi feses. Selidiki anoreksia. 1. 3. Awasi pemasukan/pengeluar an dan BB secara periodik. Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan. 2. Nilai laboratorium normal dan tidak tanda malnutrisi. BB dan derajat kekurangan BB. 5. menurunkan iritasi gaster.

2. tekanan darah sistolik menurun. 3. 1. irama dan kualitas. Kolaborasi dengan ahli diet untuk menentukan komposisi diet.terdekat untuk membawa makanan dari rumah dan untuk membagi dengan pasien kecuali kontraindikasi 7. Mengetahui kebiasaan dalam serta klien beristirahat membantu menentukan langkah yang tepat untuk mengoptimalkan . Mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi aktifitas 2. Melaporkan reduksi gejalagejala intoleransi aktivitas toleransi istirahat dan segera setelah aktivitas serta frekuensi. 2. Untuk ketahanan melatih muskuloskeletal klien. Ukur tanda vital saat dalam aktivitas. Memperlihatkan kamajuan (ketingkat yang lebih tinggi dari mobilitas yang mungkin) 3. Ajarkan klien metode penghematan energi untuk aktifitas. vertigo/konvusi. agar tidak terjadi syok. frekuensi nadi. pernapasan. Kriteria hasil: 1. dyspnea. Hentikan aktifitas bila respon klien : nyeri dada. lingkungan sosial lebih normal selama makan dan membantu memenuhi kebutuhan personal. 3. Penghematan energi seperti sangat bed-rest membantu meningkatkan keadekuatan pernapasan klien. Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat 4 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan dan hipoksemia Tujuan : Perbaikan 1. 7.

memantau dan mencatat respon pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan serta mendokumentasikan pelaksanaan perawatan. memperlambat memperburuknya kondisi. intervensi keperawatan/hasil pasien yang mungkin diperlukan. Menunjukkan gas-gas darah arteri yang normal. revisi. Remcana Asuhan Keperawatan) V. Mengungkapkan pentingnya untuk minum 6-8 gelas/hari.periode klien. Diagnosa II Individu atau pasien akan: a. Melaporkan penurunan dispnea. Diagnosa I Individu atau pasien akan: a. IMPLEMENTASI Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. c. karena setiap tindakan keperawatan. istirahat IV. memberikan informasi tentang proses penyakit (Doenges Marilynn E. . b. Evaluasi merupakan proses yang interaktif dan kontinyu. 1. meningkatkan masukan nutrisi. Menunjukkan perbaikan dalam laju aliran ekspirasi. Agar implementasi/pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan. 2000. Pada pelaksanaan keperawatan diprioritaskan pada upaya untuk mempermudah pertukaran gas. d. EVALUASI Pada tahap akhir proses keperawatan adalah mengevaluasi respon pasien terhadap perawatan yang diberikan untuk memastikan bahwa hasil yang diharapkan telah dicapai. respon pasien dicatat dan dievaluasi dalam hubungannya dengan hasil yang diharapkan kemudian berdasarkan respon pasien. 2. Mengungkapkan pentingnya bronkodilator. mencegah komplikasi.

Mengidentifikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi aktifitas b. Diagnosa IV Individu atau pasien akan : a. Melaporkan reduksi gejala-gejala intoleransi aktivitas . Batuk berkurang. Tidak mengalami tanda malnutrisi. Diagnosa III Individu atau pasien akan : a. Jalan napas kembali efektif. c. Memperlihatkan kamajuan (ketingkat yang lebih tinggi dari mobilitas yang mungkin) c. Menunjukkan peningkatan BB b. 3.b. c. Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan BB yang tepat 4.