NAMA : VICKY ANDREAN NIM : 08121006006

KELAS : GANJIL (A)

UJI BATAS MIKROBA

Uji ini dilakukan untuk memperkirakan jumlah mikroba aerob yang terdapat dalam sediaan farmasi (dari bahan baku sampai bahan jadi). Uji ini dapat dipakai sebagai pengganti uji yang akan disajikan dengan ketentuan cara uji ini telah divalidasi sedemikian rupa hingga menunjukan hasil yang sama atau mungkin lebih baik. Selama penyiapan juga pelaksanaan uji ini harus dilakukan secara aseptik, jika tidak dinyatakan lain, disebut “inkubasi”, menempatkan wadah dalam ruangan yang terkendali secara termostatik pada suhu antara 30°C dan 35°C selama 24 jam sampai 48 jam. Istilah tumbuh ditujukan untuk kemungkinan adanya perkembangan dari mikroba. UJI PENDAHULUAN Hasil uji disajikan berdasarkan bahwa spesimen uji tidak menghambat pertumbuhan mikroba yang terdapat dalam spesimen uji itu sendiri. Uji ini dilakukan dengan inokulasi secara terpisah dengan biakan variabel Staphylococcus aureus, Escherchia coli, Pseudomonas aeruginosa dan Salmonella, pengujian ini dilakukan dengan menambahkan 1ml dari tidak kurang biakan berumur 24 jam kepada spesimen. Jika penambahan inakktivator dan peningkatan volume masih tidak dapat menumbuhkan variabel mikroba di atas serta tidak cocok diuji dengan penyaringan membran, maka dapat disimpulkan hal tersebut dapat dikatakan sebagai kegagalan isolasi mekroba yang mungkin disebabkan karena daya bakterisida dari sediaan. Pematauan perlu dilakukan untuk menetapkan besarnya daya hambat dan daya bakterisida dari bahan tersebut. Terdapat larutan dapar yang sering digunakan dalam uji batas mikroba ini, yaitu : larutan dapar fosfat pH 7,2. Dimana sebelum digunakan larutan ini sebelumnya diencerkan 1 bagian dalam 800 bagian air dan disterilkan. Sedangkan media yang sering dipakai dalam pengujian batas mikroba meliputi : media FCDSLP (Fluid Casein Digest-Soy Lecithin-Polysorbate 20 Medium), media SCDA ( Soybean Casein Digest Agar Medium), media FSCD ( Fluid Casein Digest Medium), dan masih banyak media yang lainnya terdapat dalam literatur Farmakope Indonesia IV beserta pembuatannya. PROSEDUR Spesimen yang diuji dilarutkan atau disuspensikan sesuai prosedur uji yang akan dilaksanakan. Untuk bahan padat yang tidak seluruhnya tidak melarut, diusahakan untuk memperkecil ukuran bahan hingga cukup halus, lalu suspensikan ke dalam pembawa tertentu , dan lakukan uji angka mikroba aerob total, uji Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa, uji Salmonella sp dan Escherchia coli. Sedangkan spesimen cair disuspensikan ke dalam air atau suatu pembawa hidroalkoholik yang mengandung etanol kurang dari 30%, dan untuk bahan padat yang

dalam tabung yang dinyatakan kontrol akan dihasilkan tabung yang jernih dan berdasarkan ada tidaknya pertumbuhan dikelompokan menjadi kelompok 1. Letakkan kertas saring yang sebelumnya dicelupkan pada N. Masing masing kelompok terdiri dari 3 tabung. inkubasi dalam penangas air suhu 37°C amati tabung setelah 3 jam dan lakukan pengamatan setelah 24 jam. dan satu tabung masing-masing tiap kelompoknya diberi (100’’) kelompok 1. uji Salmonella sp dan Escherchia coli. uji Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Dan lakukan uji sterilitas pengujian angka mikroba aerob total. dinginkan dalam wadah campuran alkohol dan es kering selama lebih kurang 1jam. pindahkan bakteri dalam bentuk suspensi ke dalam media FLM hingga 100ml kemudian inkubasi. kelompok 2. UJI OKSIDASE DAN PIGMEN (untuk Pseudomonas aeroginosa). balikkan. Spesimen dinyatakan bebas dari Staphylococcus aureus. inkubasi 24 jam. (10’’) kelompok 2. dan inkubasi. Dan sisa tabungnya dinyatakan sebagai tabung A dan B. Sedangkan untuk spesimen cair yang berbentuk aerosol. inkubasi. spesimen dinyatakan bebas dari Pseudomonas aerugnosa. campur.praktis larut sempurna dalam 90ml larutan fosfat pH 7. ANGKA MIKROBA AEROB TOTAL UNTUK spesimen yang cukuo melarut hingga dapat diuji dengan metode lempeng. Tutup cawan petri kemudian inkbasi selama 48 jam hingga 72 jam. krim. (1’’) kelompok 3. pindahkan koloni bakteri dengan permukaan media VJA ke dalam tabung berisi plasma mamalia ( kelinci dan kuda). Jika tidak terjadai perubahan warna merah muda menjadi lembayung. Setelah melakukan inkubasi hitung jumlah mikroba dan dari kedua lempeng nyatakan rata-rata jumlah mikroba tiap gram. Metode lempeng diuraikan sebagai berikut. Jika pada pengamatan tidak terdapat koloni yang bercirikan bewarna merah. UJI Salmonella sp dan Escherchia coli. pusat bewarna hitam. berarti spesimen tersebut bebas dari genus Salmonella.2. Bagi dalam 12 tabung dimana mecakup ke dalam 4kelompok. Amati pertumbuhan pada media dan jika ada pertumbuhan campur dengan cara mengocoknya secara perlahan. Sedangkan metode tabung ganda dilakukan dengan menginokulasikan suspensi bakteri ka dalam tabung yang berisi media FSCD steril. Setelah dimasukkan suspensi bakteri. jika sama sekali tidak terjadi koagulasi. atau hingga sampai dapat digunakan untuk metode tabung ganda. UJI KOAGULASE (untuk Staphylococcus aureus). tutup. warna koloni merah muda hingga putih buram. . Tutup dan balikkan media setelah diinokulasi dan inkubasi pada suhu 35°±2° selama tidak kurang dari 3 hari. Pindahkan suspensi ke dalam media PAF untuk fluoresensi ke dalam cawan petri. dan kelompok 3. ukuran koloni kecil. Untuk cair tidak bisa bercampur dengan air. uji Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Cairan suspensi didiencerkan sampai mendapat 30-300 koloni dalam 1ml. buka tutup wadah dan biarkan propelan terbebas. Lakukan pengujian angka mikroba aerob total. Pada masing-masing kelompok diambil satu tabung dinyatakan sebagai kontrol. Amati permukaan cawan yang telah diinokulasi di bawah cahaya ultraviolet untuk menghitung jumlah koloni. atau pun hitam. Kemudian ambil 1ml taruh dalam 10ml media FTM. UJI Salmonella sp. uji Salmonella sp dan Escherchia coli. salep. dan malam dibuat suatu suspensi dengan menggunakan emulgator steril dalam jumlah sesuai. pindahkan suspensi bakteri ke permukaan media BGA yang terdapat dalam cawan petri.N-dimetil-p-fenilamida-dihidroksida. Kemudian ditaruh dalam media SCDA yang berada dalam cawan petri.

Coli. atau juga dapat digunakan campuran kering yang menghasilkan formulasi sama asalkan sesuai petunjuk pabrik. Tempatkan media dalam tabung yang sesuai. asalkan hasil uji yang diperoleh setara dengan kendalanya. dan inkubasi. Jika pengamatan tidak ditemukan koloni bewarna merah bata dan dikelilingi endapan empedi serta bergram negatif dengan bentuk benang.5g 0.0g 15.5g 0. Atur pH larutan setelah sterilisasi 7.0g 0. Jika perlu saring selagi panas menggunakan kertas saring. tutup cawan. Media Tioglikolat Cair L-Sistin P Natrium klorida Glukosa P ( ) Agar P. Media Tioglikolat Alternatif . Sterilisasi dengan autoklaf. maka spesimen tersebut dinyatakan bebas dari E. mempunyai sifat merangsang pertumbuhan yang sama atau lebih baik dari formula yang tertera di bawah ini .5g 2. Kegagalan menunjukan adanya kontaminasi dari mikroba. yang memberikan perbandingan permukaan dengan kedalaman media yang sedemikian rupa sehingga tidak melebihi dari setengah bagian atas media yang mengalami perubahan warna sebagai indikasi masuknya oksigen pada akhir masa inkubasi. media dapat diperbaiki hanya Cuma satu kali dengan melakukan pemanasan di atas penangas air hingga warna merah muda hilang. Hasil positif dapat diperoleh jika dilakukan dengan aseptik. jika lebih dari sepertiga bagian atas akan muncul warna merah muda.3ml 1. lalu balikkan. granul (kadar air tidak lebih dari 15%) Ekstrak ragi P (larut dalam air) Digesti pankreas kasein P Natrium Tioglikolat Asam tioglikolat Larutan natrium rezurin P (1 dalam 1000) dibuat segar Air pH setelah sterilisasi 7. Media ini digunakan untuk inkubasi kondisi aerob.0ml 1000ml Campur dan panaskan hingga larut.1 0. batang atau pun bulat.1 0.2 0. goreskan sisa media FLM ke dalam media MCA. Prosedur pengganti yang dapat menentukan apakah produk tersebut steril. Media siap digunakan jika tidak lebih dari sepersepuluh bagian atas media bewarna merah muda. UJI STERILITAS Uji sterilitas ini bertujuan untuk menentukan bahan dari farmakope memenuhi syarat sterilitas seperti yang tertera dalam monografi.2 menggunakan Natrium hidroksida 1N.UJI Escherchia coli.5g 5.75g 5. Media Media untuk pengujian dapat dibuat seperti tertera dibawah ini.

panaskan hingga larut.5g 2. Dinginkan larutan sampai suhu kamar. masukkan ke dalam sejumlah wadah 100ml.2 menggunakan natrium hidroksida 1 N. .5g 0. secara aseptik tambahkan penisilinase ke dalam cairan A yang digunakan dalam membilas membran untuk menginaktifkan residu antibiotik pada membran setelah larutan spesimen uji disaring.0g 0. atur pH 7.3ml 1000ml panaskan semua bahan dalam wadah yang sesuai dan larutkan. Dengan catatan penggunaan ketiga medium ini dapat digunakan untuk menetapkan spesimen yang mengandung antibiotik golongan penisilin atau sefalosporin. Catatan : jika cairan A digunakan untuk uji sterilitas pada spesimen yang mengandung antibiotik penisilin.1 0.5g 5. Atur pH dengan menggunakan natrium hidroksida 1 N.5g 2.2 0.0g 3.3±0.Casein Digest Medium Digesti pankreas kasein P Digesti papaik tepung kedele Natrium klorida Kalium fosfat dibasa P Glukosa P ( ) Air pH setelah sterilisasi 7.2 17.1 0. Media dibuat segar atau panas. secara aseptik tambahkan penisilin ke dalam tabung media untuk menginaktifkan antibiotik dalam spesimen uji. Ditaruh pada tabung yang sesuai. Medium ini digunakan untuk inkubasi aerob. saring hingga jernih.1±0. sterilisasi dengan uap air.0g 15. indikator dan campuran larutan ditambah air hinggan 1L. dan jika perlu atur pH campuran larutan hingga setelah sterilisasi 7.5g 1000ml larutkan semua bahan padat dalam air. Cairan Pengencer dan Pembilas Dengan membuat cairan A dilarutkan dalam 1g digesti peptik jaringan hewan P.(untuk media yang mempunyai lumen kecil) L-Sistin P Natrium klorida Glukosa P ( ) Ekstrak ragi P (larut dalam air) Digesti pankreas kasein P Natrium Tioglikolat Asam tioglikolat Air pH setelah sterilisasi 7.2.5g 5. Tetapkan jumlah penisilin yang dimasukkan dengan cara menguji daya penginaktifannya. Media ini tidak boleh dipanaskan kembali. Media ini digunakan untuk menjamin keadaan anaerob selama masa inkubasi. sterilisasi dengan uap air. Soybean.0g 5. Campur.0g 2.

dan wadah sejenis. hari ke-4. Untuk kapas murni. salep. terlebih dahulu harus menetapkan tingkat bekteriostatik dan fungistatik. tidak lebih dari 300mg tiap wadah. dan hari terakhir pada masa uji. hari ke-7. kekurangnya satu kali pada hari ke-3 dan ke-7 sejak pengujian dimulai. Pemilihan Spesimen Uji dan Masa Inkubasi Untuk bahan cair digunakan volume dan media tertentu sesuai dengan jumlah tiap unit. Inkubasi wadah tersebut selama 7 hari. cairan 10ml alikot. dilakukan uji 20 unit bahan dengan masing-masing media. ZAT PADAT Ambil sejumlah bahan padat yang kering. Jika zat uji menyebabkan kekeruhan sehingga ada atau tidaknya pertumbuhan mikroba tidak dapat ditentukan hanya dengan cara di atas saja. Jika pertumbuhan mikroba sesuai dengan pertumbuhan dalam tabung kontrol gunakanlah media tersebut. Inokulasikan masing-masing ke dalam 40ml media tioglikolat cair dan soybean casein digest. buka kemasan secara aseptis. hari ke-5. Prosedur Umum Prosedur ini terdiri dari inokulasi langsung ke dalam media uji dan teknik penyaringan membran. gunakan wadah sebanyak dua buah.Bakteriostatik dan Fungistatik Sebelum melakukan uji sterilitas dengan cara inokulasi langsung terhadap suatu bahan. atau krim yang dapat melarut ke dalam larutan pengencer yang bukan bakteriostatik atau fungistatik. Inokulasi media uji dengan 10-100 mikroba. dibagi atas 2 kelompok tediri dari 10 wadah. Bahan dapat ditambahkan ke dalam dua media. perban. . Biasanya media yang paling sering digunakan dalam uji sterilitas ini berupa media tioglikolat cair. pembalut. Amati pertumbuhan pada media pada hari ke-3. Metode penyaringan membran berguna untuk cairan dan serbuk yang dapat larut dan bersifat bakteriostatik untuk memisahkan kontaminan dari penghambat pertumbuhan. Lanjutkan ke tahap inokulasi dan inkubasi selama 14 hari. SALEP DAN MINYAK YANG TIDAK LARUT DALAM ISOPROPIL MERISTAT Pilih 20 wadah yang mewakili. tetapi harus dialakukan pemeriksaan lanjut dengan cara memindahkan media yang keruh tadi ke dalam media baru yang sama. dam perlakukan wadah tiap kelompok berbeda dalam hal jumlah pengisian air steril. Wadah diinkubasi lalu diamati pertumbuhan mikroba seperti yang ada pada cairan. Inkubasi tidak kurang dari 14 hari. Inokulasikan secara aseptik ke dalam media tabung. benang. Metode ini pun dapat digunakan untuk bahan minyak. Produk Uji Inokulasi Langsung ke Dalam Media Uji CAIRAN Pindahkan cairan dengan jarum suntik steril. dan lainnya. Cara Membuka Wadah Bersihkan permukaan luar ampul dan tutup vial menggunakan bahan dekontaminan yang sesuai dan ambil isi secara aseptik. Uji ini dilakukan dengan membuat pengenceran pada biakan bakteri dan jamur. Untuk bahan bukan cairan. hari ke-8. inkubasi selama 14 hari dengan suhu 30° hingga 35° atau media Soybean Casein Digest pada suhu 20°-25°.

pindahkan isi ke dalam tidak kurang 10 wadah melalui tiap penyaringan dari dua rakitan membran saring. . inkubasi seperti prosedur umum. lalu inkubasi. PERBAN. ALAT KESEHATAN STERIL Untuk alat yang memungkinkan tercaelup keseluruhan. CAIRAN YANG TIDAK BERCAMPUR DENGAN PEMBAWA AIR (KURANG DARI 100 ML PER WADAH) Menggunakan isi tidak kurang dari 20 wadah pindahkan volume media yang diinginkan ke dalam dua media. DAN BAHAN SEJENISNYA Dari setiap kemasan kapas perban dan yang lainnya diuji secara aseptik dengan mengambil 100-500mg dari bagian yang paling dalam. Membran yang sesuai biasanya mempunyai ukuran porositas 0. Alat yang sudah kosong ini dimasukkan ke dalam media steril yang sesuai. Jika cairan sangat kental dan tidak mudah disaring melalui satu atau dua membran maka perlu gunakan dua rakitan penyaring. dan setelah melakukan pengeringan. Jika volume cairan dalam wadah kurang dari 50 ml atau 50-100ml dan tidak dimaksudkan untuk pemberian intravena. Pindahkan bahan uji ini ke dalam wadah media yang sesuai. diperlukan 20 wadah untuk mewakili satu membran. membran dapat disterilkan terpisah. bilas lumen masing-masing dari 20 unit dengan secukupnya media hingga diperleh kembali 15ml dari setiap media. Amati pertumbuhan bakteri seperti pada cairan di atas. Lewatkan tiap spesimen melalui penyaringan dengan bantuan pompa vakum atau tekanan. Sedangkan untuk alat yang mempunyai pipa seperti infus. langsung ke dalam satu atau dua corng penyaringan membran terpisah ke dalam dua tabung steril. atau ke dalam tabung penampung steril. BENANG BEDAH. Jika bahan uji berupa minyak.KAPAS MURNI. ALAT SUNTIK KOSONG ATAU TERISI STERIL Uji ini dilakukan sama dengan uji alat steril dalam ampul atau pun vial. CAIRAN YANG DAPAT BERCAMPUR DENGAN PEMBAWA AIR Secara aseptik pindahkan volume tertentu ke dalam corong penyaring membran. unit dirakit secara aseptik. Jika spesimen uji mempengaruhi uji ini karena bakteriostatik atau fungistatik bilas dengan cairan pembilas sesedikit mungkin.45 mikrometer. Prosedur Uji Menggunakan Penyaringan Membran Teknik penyaringan membran digunakan untuk bahan cair yang dapat diuji dengan cara inokulasi langsung ke dalam media uji. keluarkan isi obat pasang jarum suntik steril. selanjutnya akan mengikuti prosedur dan cairan di atas. Jika cairan ini dimaksudkan untuk pemberian intravena atau jumlah volume 100-500ml. Inkubasi media tersebut. diameter 47 mm. lalu amati media tioglikolat yang tidak mengalir diinkubasi secar anaerob. PEMBALUT. Jika bahan berupa cairan kental atau suspensi yang tidak sesuai dengan penyaringan cepat. Cara inokulasi langsung dapat digunakan untuk penetapan bakteriostatik dan fungistatik telah menunjukkan aktivitas yang tidak merugikan dalam kondisi pengujian. Alat penyaring membran yang sesuai terdiri dari seperangkat yang aseptik dan membran telah diproses dapat dipindahkan secara aseptik untuk inokulasi ke dalam media yang sesuai. uji alat ini digunakan media yang sesuai. kecepatan penyaringan air 55-75 ml permenit pada tekanan 75cmHg. Untuk yang sudah terisi. serta amati media seperti yang tertera pada cairan.

Jika tidak terjadi kekeruhan berarti spesimen uji memenuhi syarat. ZAT PADAT YANG TIDAK DAPAT DISARING Uji spesimen ini dilakukan dengan cara penyaringan yang tidak dianjurkan kecuali dinyatakan spesimen tidak menyumbat filter. Jika zat yang diuji mengandung petrolatum. Goyang labu untuk melarutkan salep. Pindahkan larutan campuran ke dalam satu atau dua corong penyaring membran. maka tahap kedua dapat diulang. gunakan cairan K. Jika spesimen bersifat bateriostatik atau fungistatik yang mengandung pengawet. Jika dapat dibuktikan pada uji tahap kedua tidak absah karena kesalahan teknik aseptik tidak memadai. bilas dengan cairan A sampai 3 kali tiap 100 ml. aduk hingga larut. ALAT KESEHATAN Alat yang mempunyai saluran steril dapat dilakukan dengan cara mengalirkan cairan D dengan volume tertentu. saring dengan bantuan pompa vakum atau takanan. Secara aseptik masukkan ke dalam tabung berisi 200 ml cairan A. TAHAP KEDUA Jumlah spesimen uji diseleksikan minimun dua kali pada tahap uji pertama. Basahi membran dengan lebih kurang 200 mikroliter media pembilas sebelum melakukan penyaringan. Saring salep yang talah larut. Jika spesimen tidak larut sempurna tambahkan sampai 400 ml cairan A dan uji tiap 200 ml. Kumpulan cairan dalam wadah aseptik lalu dimasukkan ke dalam media yang sesuai. Penafsiran Hasil Uji Sterilitas TAHAP PERTAMA Pada interval waktu tertentu dan akhir waktu inkubasi. Jika tidak ditemukan pertumbuhan mikroba bahan uji memenuhi syarat. ini akan menambahkan kecepatan alir dari penyaringan spesimen. Lewatkan spesimen melalui penyaringan dengan bantuan vakum atau takanan. SALEP DAN MINYAK YANG LARUT DALAM ISIPROPIL MIRISTAT Larutkan tidak kurang dari 100 mg dari tiap isi wadah dalam tidak kurang 100 ml isopropil miristat dengan pH air tidak kurang dari 6. Jika pertumbuhan mikroba teramati pada tahap pertama hal tersebut belum absah dan harus melewati tahap kedua. Dan jika spesimen uji mengandung lesitin atau minyak bilas dengan cairan D ZAT PADAT YANG DAPAT DISARING Ambil ± 6 g spesimen dalam bentuk padatan kering. jika ditemukan pertumbuhan mikroba pada tahap pertama perlu dilakukan uji dengan tahap kedua. . amati isi semua wadah akan adanya pertumbuhan mikroba seperti kekeruhan pada media. bilas membran satu sampai tiga kali dengan cairan A.secara aseptik ditambahkan cairan pengencer secukupnya. Secara aseptik pindahkan cairan salep yang telah disaring ke dalam satu atau dua corong penyaring membran. kemudian di taruh ke dalam satu atau dua corong membran penyaringan dan penyaringan dilakukan.5. Jika spesimen mengandung bakteriostatik.