PERGESERAN PENDEKATAN

DALAM PRAKTEK PERENCANAAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA

PENDAHULUAN

Perkembangan perencanaan pembangunan wilayah di Indonesia dibagi dalam lima periode (Deni dan Jumantri; 2002), yaitu : Periode 60-an Periode 70-an Periode 80-an Periode 90-an Periode 2000-an

 

Pendekatan historis tersebut menjadi dasar bagi analisis praktek perencanaan wilayah yang berkembang di Indonesia. Berdasarkan perkembangan tersebut dapat diidentifikasikan pendekatan-pendekatan pengembangan wilayah yang pernah digunakan, dan dikaji relevansinya untuk mengantisipasi perkembangan ke depan. Praktek pengembangan wilayah ke depan harus lebih realisitis, acceptable dan mudah diterapkan, dengan mengakomodasi paradigma terkini, untuk membuka wawasan yang lebih luas.

I.

PERIODE ENAM PULUHAN
Periode 60-an merupakan awal bagi pembangunan terencana setelah mengalami keterpurukan akibat penjajahan dan perang. Gambarannya adalah sebagai berikut : Kebijakan pembangunan nasional lebih menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Perencanaan diwarnai oleh pendekatan sektoral dan parsial; ada pembedaan kota dan desa (dikotomi desa-kota). Konsentrasi diarahkan ke perkotaan, sementara di perdesaan ditemui stagnasi, kemunduran dan kemiskinan. Dikotomi perencanaan kota dan perencanaan desa memberi dampak yang tidak menguntungkan secara regional, karena interdependency desa-kota tidak terjadi. Cara pandang perencana yang mempertentangkan urban dan rural, yang menimbulkan friksi karena tidak adanya koordinasi lintas sektoral. Muncul disparitas kegiatan ekonomi dan kependudukan antara kota sebagai growth pole dengan desa sebagai hinterland-nya. Mulai terjadi polarisasi kota-kota yang dicirikan oleh tingginya angka indeks primacy (di atas 2,0 untuk kota-kota besar dan di atas 3,0 untuk kota-kota metro).

-

. Pengembangan wilayah melalui pembangunan infrastruktur. yaitu : 1. PERIODE TUJUH PULUH-AN Pada era 70-an terdapat enam pendekatan yang digunakan di Indonesia. 5. 6. 4. 2. Pendekatan pengembangan wilayah. Pengembangan melalui sinkronisasi program pembangunan. Pendekatan sektoral.II. Pengembangan melalui koordinasi antar daerah administrasi. 3. Pengembangan wilayah berbasis sistem kegiatan ekonomi.

kondisi tanah. Di dalam Rencana Induk Pariwisata dikenal clustering berdasarkan WTW dan DTW. morfologi.1. iklim. Di sektor kehutanan diintroduksi cara penetapan status/fungsi hutan berupa pembagian unit hutan yang disebut rencana tata guna hutan. normative dan supply-driven oriented. struktur jaringan jalan dan pola sebaran transportasi. . konflik kepentingan. Di sektor pertanahan dilakukan perencanaan tata guna tanah yang didasarkan pada potensi tanah sehingga diperoleh rencana penggunaan tanah (zoning plan). walaupun konsepnya baru sebatas kepentingan sektoral dan masih berjalan sendiri-sendiri. dengan titik berat kepentingan sektor.        PENDEKATAN SEKTORAL Pada awal 70-an perencanaan kewilayahan sudah mulai dilakukan. sehingga terjadi duplikasi pendanaan. Departemen Perhubungan menyusun sistem transportasi nasional dengan memanfaatkan hasil OD survei. Perencanaan sektoral bertujuan meningkatkan optimasi penggunaan ruang dan sumberdaya. Dalam pengembangan pertanian dianut pembagian unit lahan yang menggambarkan kelas kesesuaian lahan pertanian berdasarkan sifat. sentralistis.

sebagai reaksi atas kelemahan pendekatan sektoral. Pendekatan pengembangan wilayah merupakan kajian terhadap hubungan sebab akibat dari faktor-faktor utama pembentuk wilayah yang meliputi aspek fisik. sosialbudaya dan ekonomi. yang akhirnya melahirkan pendekatan pengembangan wilayah yang menekankan pada keterpaduan analisis wilayah (Regional Science). PENDEKATAN PENGEMBANGAN WILAYAH Pada pertengahan 70-an mulai berkembang penggunaan teori dan model pembangunan yang terkait dengan aspek pembangunan ekonomi. Untuk mendukung pendekatan tersebut banyak dikembangkan model analisis wilayah seperti backward-forward linkage. economic-treeshold dan lainnya. demografi dan geografi.  Pada era ini dikembangkan pendekatan komprehensif dengan tujuan agar pembangunan saling sinergi yang secara totalitas menunjukkan resultante perkembangan optimum (pareto optima).    . urban-rural linkage. input-output. shift and share.2. Kompleksitas permasalahan mendorong para pakar untuk mencari pendekatan yang lebih komprehensif.

Sebagai contoh. Konsepnya didasarkan pada interaksi antara manusia dengan alam dan lingkungan yang membentuk keserasian. pencetakan sawah. pembangunan prasarana dilaksanakan untuk mendukung program intensifikasi dan ekstensifikasi. antara lain pembangunan waduk. Kemudian disusun program pembangunan prasarana dan sarana untuk meningkatkan aksesbilitas kegiatan bermukim dan berproduksi tanpa merusak lingkungan.      Soetami (1973) menggagas konsep pengembangan wilayah bersamaan dengan pembangunan infrastruktur.3. pengembangan rawa. yang membutuhkan pembangunan sosial ekonomi yang didukung pembangunan fisik infrastruktur sesuai dengan kondisi geografi Indonesia. . dan sebagainya. keselarasan dan keseimbangan (Ilmu Wilayah). PENGEMBANGAN WILAYAH MELALUI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR Pendekatan ini didasari oleh kebijakan pembangunan nasional (Pelita I) yang menekankan pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian. pada sub sektor pertanian tanaman pangan. Dalam implementasinya lebih bersifat mendukung pengembangan sentra-sentra produksi. lahan pasang surut. jaringan irigasi.

SOETAMI MENTERI PU 1966-1978 .BENDUNGAN SOETAMI (DULU BERNAMA BENDUNGAN KARANGKATES) IR.

PENGEMBANGAN WILAYAH BERBASIS SISTEM KEGIATAN EKONOMI Konsep ini dikembangkan oleh Poernomosidi Hadjisarosa melalui pendekatan satuansatuan wilayah ekonomi yang bertumpu pada teori Losch. masing-masing berbentuk Satuan Wilayah Ekonomi (SWE) dimana luas dan batasnya sangat bergantung pada kemampuan jangkauan pelayanan kotanya (pusat pengembangan) sebagai simpul jasa koleksi dan distribusi barang. distribusi dan transmigrasi.   . sehingga kota-kota mempunyai hirarki dan fungsi dalam sistem perkotaan (system of cities) yang diidentifikasikan sebagai kota ordo kesatu.     Pendekatan ini juga mengadopsi teori interdependency yang menyatakan bahwa antara wilayah satu dengan lainnya akan terjadi saling ketergantungan melalui mekanisme pasar (hubungan supply-demand). Pendekatan Poernomosidi ini sangat mewarnai hirarki jalan (Undang-undang tentang Jalan) dan hirarki permukiman dalam perencaaan lokasi transmigrasi. Konsep ini diarahkan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan struktur ekonomi bertumpu pada sektor pertanian secara luas (kebijakan Pelita II). kolektor primer/ sekunder dan lokal primer/sekunder. Jaringan transportasi untuk mendukung sistem tersebut mempunyai fungsi dan hirarki yang diidentifikasi sebagai jalan arteri primer/sekunder. kedua. Pembangunan yang menonjol pada saat itu adalah kegiatan produksi. koleksi. Setiap wilayah yang mempunyai pengaruh ekonomi yang berbeda. ketiga dan seterusnya.4.

IR.DR. POERNOMOSIDHI HADJISAROSA MENTERI PU 1978-1983 .

sistem prasarana wilayah. Hal ini disebabkan karena kurang kuatnya faktor pengikat yang mampu membangkitkan rasa kebersamaan. Permasalahan : Dalam prakteknya upaya keterpaduan ini belum menunjukkan hasil optimal. dan lainnya. dan mencari pemecahan bersama. antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. karena forum konsultasi lebih banyak dimanfaatkan untuk adu argumentasi dalam mempertahankan program dan proyeknya masing-masing. Hariri Hady (Beppenas) mengintroduksikan sistem perwilayahan nasional.5.   Sistem perwilayahan ini merupakan pendekatan untuk menjamin tercapainya pembangunan yang serasi. Karena itu perlu kerjasama antar Pemerintah Daerah. yakni pengelompokan beberapa daerah administrasi menjadi suatu Wilayah/Sub wilayah Pembangunan berdasarkan kekuatan perdagangan. Walaupun secara konseptual dilaksanakan secara regional. dan antar sektor. tetapi dalam pelaksanaannya tetap dilakukan menurut prosedur administrasi pembangunan yang ada. kegiatan produksi. selaras dan seimbang.   . Pendekatan ini dilakukan melalui forum konsultasi regional dan nasional. dimana perencanaan dan program dirumuskan bersama. baik antar sektor maupun antar wilayah pembangunan. keuangan. jasa. PENGEMBANGAN WILAYAH MELALUI KOORDINASI ANTAR DAERAH ADMINISTRASI Pertengahan tujuh puluhan.

  Pendekatan dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. SD Inpres. kampoong improvement. Sebagai perwujudannya muncul pembangunan yang memusatkan perhatiannya pada persoalan urgen. sementara program daerah belum mencerminkan kehendak masyarakat.6. puskesmas. dan lainnya. Meskipun pada umumnya dikembangkan melalui community based development (CBD) namun pada dasarnya masih merupakan program pusat (sektoral) yang “dititipkan” di daerah. seperti basic needs. harus dilihat sebagai satu kesatuan sesuai dengan proses alamiah perkembangan di suatu wilayah. Muncul mekanisme perumusan program pembangunan dengan melibatkan seluruh perangkat pemerintah melalui mekanisme rembug desa – temu karya – rakorbang II – rakorbang I – konreg – konnas. land consolidation. dan bottom-up approach. PENGEMBANGAN WILAYAH MELALUI SINKRONISASI PROGRAM PEMBANGUNAN Pendekatan ini merupakan penyempurnaan pendekatan sebelumnya dengan memperjelas mekanisme penyusunan program pembangunan. teknologi tepat guna.    . Dalam praktek perumusan program masih didominasi oleh pusat (sentralistik). posyandu. Muncul pendekatan perencanaan yang disebut top-down approach. Asas desentralisasi masih dikalahkan oleh asas dekonsentrasi dan pembantuan (medebewind).

yaitu : 1. Desentralisasi perencanaan. 2. 4. 3.III. . Pengembangan wilayah melalui program pembangunan perkotaan. Pengembangan wilayah melalui pendekatan lingkungan. Pengembangan berdasarkan pendekatan penataan ruang dinamis. PERIODE DELAPAN PULUH-AN Pada era 80-an ada empat pendekatan perencanaan.

1. PENDEKATAN PEMBANGUNAN PERKOTAAN Pada awal delapan puluhan dirumuskan pengembangan kota berdasarkan fungsi dan hirarkinya melalui strategi nasional pembangunan perkotaan (NUDS). Berdasarkan fungsi pelayanan. No. Interregional Development Centre (IRDC). Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Regional Development Centre (RDC) dan Local Service Centre (LSC). dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Berdasarkan RTRWN (PP. kota diklasifikasikan menjadi kota metropolitan. Pengaturan perencanaan kota dipisahkan dengan pengaturan pembangunan prasarana kota.  . kota besar. Permasalahan yang muncul adalah : P3KT yang seharusnya mengacu pada rencana detil dalam kenyataannya tidak demikian. kota sedang dan kota kecil. karena rencana detil belum dipersiapkan dengan baik. kota diklasifikasikan ke dalam National Development Centre (NDC). Untuk mengimplementasikan strategi tersebut disusunlah rencana-rencana tata ruang kota dan program-program P3KT dengan mengembangkan sistem jaringan transportasi melalui pendekatan keterpaduan. 47/1997 dikembangkan menjadi Pusat Kegiatan Nasional (PKN).  Klasifikasi kota : Berdasarkan besaran penduduk. sehingga timbul kontroversi. Keterpaduan masih terbatas pada prasarana ke-ciptakaryaan.

yang menuai kecaman para ecologist dan environmentalist tentang permasalahan lingkungan (global issue). dan sebagainya. analisis dampak lingkungan. pariwisata. Setelah diterimanya konsep sustainable development dan Ramsar Convention tentang pengelolaan lahan basah. 4/1982 tentang Ketentuan Pokok Lingkungan Hidup. industri. dan upaya untuk mempertahankan keseimbangan lingkungan. Pada era ini berbagai kegiatan sektor ekonomi digalakkan. seperti kehutanan. pertambangan. transportasi. Sebagai implikasinya muncul pendekatan yang mengarah pada upaya pemanfaatan sumberdaya alam sehemat mungkin tanpa merusak lingkungan. carriryng capacity. perkebunan. pemerintah mempertajam kebijakannya melalui keterpaduan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan manusia. Model pengembangan tersebut antara lain adalah : economic treeshold.   PENGEMBANGAN MELALUI PENDEKATAN LINGKUNGAN Kebijakan pembangunan pada awal 80-an (Pelita III) adalah pemerataan pembangunan ekonomi dengan dominasi sektor industri yang saling menguatkan dengan pertanian. Untuk mengoperasionalkan kebijakan tersebut maka dikeluarkanlah UU No.2. analisis sumber daya. ecodevelopment.     . Keppres 32/1990 tentang Kawasan Lindung.

Kegiatan amdal masih bersifat parsial dan sektoral. Peraturan perundangan yang berlaku masih bersifat normatif. Keterpaduan antara pengembangan prasarana (pengairan. sehingga masih diperlukan pengaturan yang lebih operasional dan lebih tegas dalam memberlakukan sangsi terhadap pelanggaran. Permasalahan dalam implementasi pendekatan lingkungan ini adalah : Belum terintegrasinya perencanaan berdasarkan wilayah administrasi dengan perencanaan berdasarkan wilayah fungsional SWS dan wilayah fungsional lainnya. pengelolaan lingkungan) dengan kesatuan wilayah fungsional. yaitu Satuan Wilayah Sungai (SWS dan Daerah Pengaliran Sungai (DPS). transportasi. Suyono Sosrodarsono kemudian mengembangkan : Pendekatan wilayah fungsional yang merupakan satu ekosistem.  .

SUYONO SOSRODARSONO MENTERI PU 1983-1988 .IR.

3. kualitas dan kuantitas) karena rendahnya akuntabilitas. Banyak peraturan yang dibuat masing-masing sektor lebih mengutamakan kepentingan sektor.   Dalam rangka memperbaiki mekanisme pembangunan dari sentralistis ke desentralistis. antara lain :    Terjadinya kebocoran dan duplikasi pendanaan pembangunan karena penyusunan program sektoral yang tumpang tindih. masyarakat dan swasta/dunia usaha. DESENTRALISASI PERENCANAAN Menjelang akhir 80-an (akhir Pelita IV) disadari bahwa mekanisme yang terlalu sentralistis telah menimbulkan banyak permasalahan. No. maka dirumuskan kebijakan desentralisasi. Kurangnya keterlibatan peranserta daerah. . target group. Keterlambatan dalam mewujudkan hasil pembangunan karena terlalu birokratif. yang sebenarnya dapat membantu pemerintah dalam pendanaan. Dalam pelaksanaan kebijakan pembangunan seringkali tidak tepat sasaran (lokasi. termasuk penyerahan urusan rencana tata ruang ke urusan di bidang Cipta Karya. waktu. antara lain dengan diterbitkannya PP. 14/1987 tentang penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah di Bidang ke-PU-an kepada daerah.

Penyusunan pedoman dan petunjuk teknis penataan ruang.Desentralisasi perencanaan berimplikasi pada pemberdayaan daerah di bidang perencanaan. sosialisasi pedoman/petunjuk teknis penataan ruang. dan dikembangkannya pusat informasi dan dokumentasi penataan ruang daerah.   . pelatihan perencanaan tata ruang di daerah. Pembinaan teknis penataan ruang melalui kegiatan desiminasi dan sosialisasi produk hukum yang terkait penataan ruang. melalui beberapa kegiatan :  Pembentukan unit perencanaan di daerah.

sudah waktunya dirubah. atau hanya menampung visi perencanaan saja.4. serta mempertimbangkan kepentingan semua pihak (stakeholders). tertutup. supply oriented. Untuk mengantisipasi adanya pengaruh globalisasi ekonomi. dengan memasukan rencana tata ruang dalam dokumen resmi perencanaan pembangunan (Buku Repelita IV dan Repelita V). tanggap terhadap dinamika pembangunan yang berubah cepat. PENDEKATAN PENATAAN RUANG DINAMIS  Di akhir 80-an pendekatan pengembangan wilayah semakin diperjelas. legalistik. Berawal dari pendekatan yang terlalu normatif. Aternatifnya adalah pendekatan perencanaan yang lebih partisipatif.  - . dikembangkan pendekatan penataan ruang yang tanggap terhadap dinamika pembangunan melalui pendekatan penataan ruang dinamis (Tarudin).

penataan ruang dinamis dikembangkan sebagai instrumen dalam : Keterpaduan pelaksanaan pembangunan dan sinkronisasi program pebangunan sektoral dan daerah. Kerjasama atau peranserta masyarakat dan swasta dengan pemerintah. Dalam upaya menarik investasi. .  Pada era ini juga sudah mulai dirintis pengembangan sistem informasi penataan ruang dan sistem informasi geografis. Acuan dalam alokasi investasi Mendorong dan membuka peluang serta memberi kemudahan dalam kegiatan investasi.

Adanya perkembangan ekonomi nasional/global melalui kerjasama regional . sehingga lebih dituntut adanya transparansi. yaitu : 1. Pendekatan strategic management untuk perencanaan yang berwawasan implementasi. Adanya tuntutan efisiensi pembangunan.  Selain itu mulai muncul Revolusi 3 T (telekomunikasi. Penataan ruang berdasarkan pendekatan wilayah.IV. 2. yang berdampak pada : Meningkatnya kepekaan masyarakat dalam pembangunan. desentralisasi dan peranserta masyarakat. dan pembangunan ramah lingkungan. Adanya perubahan kebijakan sektoral yang berdampak pada alokasi kegiatan pembangunan dan kegiatan ekonomi yang membutuhkan lahan berskala besar. . transportasi dan tourism) mempercepat arus globalisasi yang menciptakan kebutuhan transformasi di segala aspek kehidupan.  PERIODE SEMBILAN PULUH-AN Selama periode 90-an ada dua pendekatan pengembangan wilayah yang diintroduksi di Indonesia.

pertambangan. pariwisata. Pelaksanaan Agenda 21 Rio de Janeiro. transportasi dan telekomunikasi. Peningkatan desentralisasi dan peranserta masyarakat. Pengembangan kawasan strategis. 45/1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah yang kemudian disempurnakan dalam UU No. Hal ini mewarnai kebijakan pebangunan era 90-an. No. yakni : Pertumbuhan sekaligus pemerataan pembangunan ekonomi dengan dominasi sektor industri dan pemasaran yang saling menguatkan dengan sektor pertanian.  Operasionalisasi kebijakan tersebut antara lain dikeluarkannya PP. . Peningkatan penanaman modal asing dan domestik. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Prinsip-prinsipnya adalah : Pendekatan wilayah adalah cara pandang untuk memahami kondisi. ciri. sosial. -  Hasilnya bukan hanya berupa identifikasi fenomena atau hubungan sebab akibat. Bersifat futuristik melalui langkah-langkah menentukan arah pengembangan. tata guna hutan dan tata guna sumberdaya lainnya dalam satu kesatuan tata lingkungan yang harmonis. sumberdaya alam. Tata ruang disusun berdasarkan pola terpadu melalui pendekatan wilayah dengan memperhatikan sifat alam dan lingkungan sosial. Rencana tata ruang dikembangkan ke arah wawasan lingkungan dan manusia. yang menserasikan tata guna tanah. tetapi juga pemahaman bagaimana mengembangkan kegiatan sektor ekonomi. dan hubungan sebab akibat dari unsur-unsur pembentuk wilayah. 24/1992 tentang Penataan Ruang.  PENATAAN RUANG BERDASARKAN PENDEKATAN WILAYAH Pendekatan ini diwarnai oleh penataan wilayah berdasarkan UU No. IV/MPR/199 tentang GBHN 1999 dan UU Propenas (2000-2004). . seperti penduduk.1. ekonomi. dan termuatnya rencana tata ruang sebagai dasar perencanaan pembangunan dalam GBHN 1993 yang diikuti dengan TAP MPR No. sumberdaya alam. bersifat preskriptif menuju kondisi masa depan yang diharapkan bertitik tolak dari data. yang dituangkan dalam “spatial planning”. sumberdaya buatan. budaya. pengembangan infrastruktur. fisik lingkungan. perlindungan lingkungan. fenomena. iptek. informasi.

dengan keikutsertaannya dalam revolusi 3 T. karena masih ada stakeholders yang mempertahankan paradigma lama. 1997). beberapa pendekatan yang disarankan Toeffler banyak diterapkan. peranserta masyarakat. yang terkait dengan rantai kegiatan yang seharusnya bersifat melayani.  Dampak globalisasi yang paling terasa menjelang akhir 90-an adalah munculnya blok ekonomi. HAM. desentralisasi. Saat itu Asia dalam proses memegang peranan ekonomi dunia (John Naisbitt. berkembanglah tuntutan masyarakat akan transparansi. misalnya : Change management. Quality management.  Di Indonesia. Procces management.  Menghadapi situasi ini para ahli menyarankan re-orientasi arah pembangunan terutama pemanfaatan ruang perlu diperkaya dengan rencana tindak (action plan). yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya secara berkualitas.  Dalam kaitannya dengan perbaikan struktur ekonomi nasional.2. . People/man management.  Dalam perkembangannya action plan banyak mengadopsi model manajemen yang disebut strategic plan. karena masih buruknya profesionalisme. “Megatrend Asia”. dan implementasinya disebut manajemen strategis. 1996) karena revolusi 3 T lebih terkonsentrasi di sini. “The Third Wave”. PENDEKATAN STRATEGIC MANAGEMENT PERTAMA  Globalisasi mempercepat “gelombang ketiga” yakni peralihan dari ekonomi dunia yang bertumpu pada industrialisasi kepada ekonomi informasi (Alvin Tofler.

ALVIN TOFFLER PENULIS BUKU THE THIRD WAVE JOHN NAISBIT PENULIS BUKU MEGATREND ASIA .

Mempertemukan kebutuhan costumer. Lebih banyak pendapatan dari pada pebelanjaan. Lebih merupakan organisasi yang berperan sebagai penggerak perubahan. bukan birokrasi. Lebih berorientasi pada pasar. . Dalam rangka peningkatan kinerja birokrasi. Mengubah pendekatan dari hirarki menuju partisipatori. Lebih baik mencegah dari pada mengobati. Lebih bersifat pemberdaya (enabler) dari pada penyedia (provider). pemerintah menerima pendekatan dari Osborne. Penggunaan dana untuk memperoleh hasil. bukan untuk input. Lebih baik mendelegasikan (desentralisasi) dari pada dipusatkan. yang menawarkan perubahan paradigma cara kerja birokrat : Lebih bersifat menyetir dari pada mendayung.

DAVID OSBORNE DAN TED GAEBLER PENULIS BUKU REINVENTING GOVERNMENT .

debirokratisasi. Dengan kesadaran perlunya melakukan reorientasi arah pembangunan. reward dan punishment kepada pelaku pembangunan. Restrukturisasi organisasi pemerintah. Mempromosikan kawasan-kawasan bernilai strategis.  . Penyederhanaan mekanisme pembangunan melalui deregulasi. Model yang pertama kali dikembangkan adalah KAPET (Kawasan Pertumbuhan Ekonomi Terpadu) yang merupakan gabungan strategic planning dan strategic management yang dinamakan IDEP (Integrated Area Developent Plan). pemberian insentif/disinsentif. Pengembangan model pembangunan dalam engembangkan kawasan strategis dan sektor unggulan. Pengembangan model-model kerjasama dalam proses pebangunan. maka dilakukan upaya : Pergeseran tupoksi pemerintah dari provider menjadi enabler. Kebijakan fiskal dan moneter. Dalam tata ruang wilayah mulai diprakarsai pengembangan “kawasan andalan” sebagai sektor unggulan.

 . No. KIG). Misalnya : Penyusunan rencana pembangunan bagian wilayah kota yang melibatkan developer (Surabaya Barat. relokasi dan pembangunan Terminal Tambak Oso Wilangon. Hal ini mendorong keterlibatan penyediaan dana pembangunan. 69/1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Serta Bentuk dan Tata Cara Peranserta Masyarakat dalam Penataan Ruang.KEDUA  Desakan untuk menerapkan peranserta masyarakat. menciptakan keragaman alternatif. dalam penyusunan rencana pembangunan yang melibatkan pihak swasta. mendorong dikembangkannya pendekatan penataan ruang yang lebih memperhatikan hak masyarakat yang dituangkan dalam PP. Pengembangan CBD Mega Kuningan.

dan UU No. yang berlanjut pada krisis ekonomi yang berkepanjangan. Pengembangan pendekatan action plan. 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN. diperlukan dukungan informasi yang handal. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah. yang melahirkan UU No. Pada akhir 90-an telah dilakukan : Pengembangan SIGNAS (Sistem Infromasi Geografi Nasional) Pengembangan Sistem Informasi Penataan Ruang Wilayah Propinsi dan Kabupaten.KETIGA  Berkaitan dengan revolusi 3 T. Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Pembangunan Perkotaan. Periode 90-an diakhiri dengan terjadinya turbulensi ekonomi yang dipicu oleh krisis moneter. UU No.  . Hal ini menyadarkan masyarakat untuk melakukan reformasi hukum dan perundangan. reformasi ekonomi dan sistem pemerintahan. Pengembangan pola-pola kerjasama masyarakat dan dunia usaha dengan pemerintah. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan.

lokal dan sosio kualitatif. Dari pendekatan perencanaan yang terlalu general. top-down approach. sektoral. berfikir ke depan secara global. makro dan nasional. bottom up approach. ke kontrol yang yang menekankan kepada umpan balik dan penyempurnaan proses. dan local based. sentralistik dan model ekonomi kuantitatif. yaitu memasuki era otonomi daerah.  PERIODE DUA RIBU-AN Pada era 2000-an muncul paradigma baru dalam pengembangan wilayah/kawasan. Dari kontrol yang menekankan pada auditing pencapaian goal. model abstrak ideal. dan partisipatory. parsial. ke sasaran yang menitikberatkan pada kesejahteraan. kontemporer. menuju ke pembangunan yang interaktif. melalui pergeseran paradigma sebagai berikut : Dari sasaran yang terfokus pada pertumbuhan. mikro. - . menuju ke pendekatan perencanaan yang lebih lokal spesifik dengan pandangan holistik. dan arahan pemerintah yang dominan.5. keterpaduan. Dari implementasi berdasarkan pembangunan terencana.

 Sejalan dengan itu maka paradigma baru dalam penataan ruang wilayah adalah sebagai berikut . Penyusunan rencana tata ruang dilakukan dengan mengikut sertakan masyarakat (public participation). Pemerintah tidak lagi sendiri tetapi bersama masyarakat menciptakan rencana. Pemerintah daerah proaktif dan kebijakan tata ruang diketahui semua pihak. melaksanakan dan melakukan pengendalian. . Pemerintah daerah aktif memberikan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat. Penataan ruang desentralistik (lebih bottom up approach).

implementasi dan pengendalian. Rencana dapat dijadikan pedoman investasi. Berwawasan luas. Melibatkan semua pelaku pembangunan (stakeholders). Realistis terhadap tuntutan dunia usaha dan masyarakat. . Memberi perhatian besar pada tuntutan jangka pendek. maka pada awal 2000-an lebih disempurnakan lagi dengan mengakomodasi jiwa otonomi : Lebih menitikberatkan pada pendekatan bottom up. dengan perhatian pada kawasan yang lebih detail. acceptable dan mudah diterapkan. Transparan dalam perencanaan. Menjaga dan meningkatkan mutu lingkungan sambil mendorong dan memfasilitasi pembangunan. Agar pendekatan wilayah lebih realistis. Mempunyai visi pembangunan dan manajemen pembangunan.

yang sudah mempertimbangkan aspek pemanfaatan ruang dan aspek pengendaliannya. Namun demikian pendekatan tersebut bukanlah satu-satunya obat mujarab yang dapat memecahkan semua masalah. karena masih memerlukan pengujian-pengujian. Sebagai respons terhadap berbagai pendekatan yang pernah diterapkan sebelumnya. yang mampu membangkitkan kesadaran masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya untuk berperanserta dalam pembangunan wilayah  . dan perlu diintegrasikan dengan pendekatan lain. maka pendekatan pada periode 2000-an adalah pendekatan tata ruang wilayah melalui proses perencanaan berwawasan otonomi daerah.

Pemanfaatan ruang yang menciptakan keuntungan bagi yang lain. Tranparency (politically accepted) Terbuka.Pemanfaatan ruang yang menimbulkan kerugian bagi yang lain. Long term (berkesinambungan) Pembangunan diperhitungkan manfaatnya untuk jangka panjang dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. kriteria. Probisnis (layak ekonomi) Memperhitungkan seluruh korban termasuk lingkungan dan sumberdaya lainnya.  WAWASAN KE DEPAN Dengan mengadopsi nilai-nilai yang berkembang. wajib membayar atas kerugian yang ditimbulkannya. idealnya pendekatan pengembangan wilayah memiliki wawasan (Deni dan Jumantri.VI. - - . dapat di”adjust” sesuai kesepakatan berdasarkan kebutuhan masyarakat yang selalu berkembang. . layak mengenakan biaya kepada pemanfaat yang mendapat keuntungan. melibatkan masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya sejak awal. . 2002) : Local based flexible (conditional) Dapat dimodifikasi. Semua pihak mentaati norma. Integrated (holistik) Program dan kegiatan diselenggarakan oleh pelaku pembangunan dengan mengacu pada kesepakatan yang telah dipahami bersama. prosedur yang telah disepakati bersama.

 Selain itu dalam konteks pembangunan dewasa ini perlu dikembangkan pendekatan holistik.  . Untuk mewujudkan tujuan akhir ini tidak dapat dilakukan sendiri. tetapi harus bekerjasama dengan pihak lain sejak awal sampai akhir. yaitu cara pandang yang menyatakan bahwa pembangunan fisik bukanlah tujuan tetapi lebih merupakan alat untuk mewujudkan tujuan akhir yang telah disepakati bersama.