DEFINISI Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum dan mempunyai beberapa sifat, yaitu

: perjalanan penyakitnya sangat kronis, dalam perjalanannya dapat menyerang semua organ tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dapat kambuh kembali (rekuren), dan dapat ditularkan dari ibu ke janinnya sehingga menimbulkan kelainan congenital. Selain ibu ke bayinya juga dan melalui hubungan seksual, sifilis juga ditularkan melalui luka, transfuse dan jarum suntik. 3

SIFILIS TERSIER (S III) Pada stadium ini lesi pertama umumnya terlihat antara tiga sampai sepuluh tahun setelah S I (buku perkembangan dan penanggulangan terakhir sifilis dan frambusia hal 28). kelainan khas ialah guma, yakni infiltrate sirkumskrip, kronis, biasanya melunak, dan deksrtuktif. Besarnya guma bervariasi dari lentikular sampai sebesar telur ayam. Kulit diatas mula-mula tidak menunjukan tanda-tanda radang akut dan dapat digerakan. Setelah beberapa bulan mulai melunak, biasanya mulai dari tengah, tanda-tanda radang mulai tampak, kulit menjadi eritematosa dan livid seta melekat terhadapa guma tersebut. Kemudian terjadi perforasi dan keluarlah cairan seropurulen, kadang-kadang sanguinolen. 1 Tempat perforasi akan menjadi ulkus berbentuk bulat/lonjong, dindingnya curam, seolaholah kulit tersebut terdorong keluar. Beberapa ulkus berkonfluensi sehingga membentuk pinggir yang polikistik. Jika telah menjadi ulkus, maka infiltrate yang terdapat dibawahnya yang semula sebagai benjolan menjadi datar. Tanpa pengobatan guma tersebut akan bertahan beberapa bulan hingga beberapa tahun. Biasanya guma soliter , tetapi dapat pula multiple, umumnya asimetrik. Gejala umum biasanya tidak ada, tetapi jika guma multiple dan perlunakannya cepat dapat disertai demam 1 Selain guma dapat juga timbul nodus. Mula-mula di daerah kutan kemudian ke epidermis, pertumbuhannya lambat yakni beberapa minggu/bulan dan umumnya meninggalkan sikatrik yang hipertrofi. Nodus tersebut dalam perkembanganya mirip guma, mengalami nekrosis ditengah dan membentuk ulkus. Dapat pula tanpa nekrosis dan menjasi sklerotik 1 Guma juga ditemukan di selaput lendir, dapat setempat atau menyebar. Yang setempat biasanya pada mulut dan tenggorokan atau septum nasi. Pada lidah yang tersering adalah guma yang nyeri dengan fisur-fisur tidak teratur serta leukoplakia 1

penderita telah mendapat obat antitreponema secara sistemik atau .4 I. tengkorak bahu. Pemeriksaan T. femur dan fibula dan humerus dengan gejala nyeri biasanya pada malam hari 1 PEMERIKSAAN PENUNJANG Diagnosis sifilis dapat ditegakkan dengan cara melihat langsung organisme dengan mikroskop lapangan gelap atau pewarnaan antibodi fluoresen langsung dan kedua dengan mendeteksi adanya antibodi dalam serum dan cairan serebrospinal. Pemeriksaan dilakukan tiga hari berturut-turut jika hasil pada hari pertama dan kedua negative. Tes serologis merupakan tes konfirmasi untuk melihat adanya antibodi terhadap organisme penyebab sifilis. Treponema tampak berwarna putih berlatar belakang gelap. Hasil negative dalam pemeriksaan dapat terjadi karena jumlah kuman dalam sediaan terlampau sedikit. Ada dua kelompok tes serologis yang dapat digunakan dalam mendiagnosis penyakit sifilis yaitu tes serologis antibodi non treponema dan antibodi treponema. Pergerakan memutar terhadap sumbunya . Tes serologis juga diperlukan untuk menegakkan diagnosis infeksi sifilis pada masa laten sifilis dimana tidak tampak adanya gejala-gejala penyakit. bergerak perlahan-lahan melintasi lapangan pandang 1 Ket: gambar Treponema pallidum dibawah mikroskop Jika dalam pemeriksaan mikroskop tidak berhasil ditemukan kuma bukan berarti diagnosis sifilis dapat disingkirkan.Pada tulang paling sering menyerang tibia.pallidum dengan mikroskop lapangan gelap. Cara pemeriksaan adalah dengan mengambil serum dari lesi kulit dan dilihat bentuk dan pergerakannya dengan mikroskop lapangan gelap.

1 Tes Non Treponemal yaitu antibodi yang terbentuk akibat adanya infeksi oleh penyakit sifilis atau penyakit infeksi lainnya.T. Digunakan untuk skrining penderita dan monitoring penyakit setelah pemberian terapi. merupakan tes yang penting bagi sifilis. dibagi menjadi 2 berdasarkan antigen yang dipakai yaitu : Nontreponemal (tes regain). keganasan. Antibodi ini terbentuk setelah penyakit menyebar ke kelenjar limpe regional dan menyebabkan kerusakan jaringan serta dapat menimbulkan reaksi silang dengan beberapa antigen dari jaringan lain. lesi telah menyembuh. dan treponemal1. Tes-tes seperti Veneral Disease Research Laboratory (VDRL). penyakit autoimun dan infeksi virus. Antibodi . lesi berasal dari late sifilis atau memang bukan lesi yang disebabkan oleh penyakit sifilis. Veneral Disease Research Laboratory (VDRL) b. Imunoasai ini menggunakan antibodi nontreponemal dan lipoid sebagai antigen.topical.S. Toulidone Red Unheated Serum Test (TRUST) f.S.4. Termasuk tes ini adalah Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) dan Rapid Plasma Reagen (RPR) yang memberikan hasil positif setelah 4 – 6 minggu terinfeksi (positif pada 70% pasien dengan lesi primer dan stadium lanjut). kecanduan obat. Rapid Plasma Reagin (RPR). pallidum. 2. 2. Rapid Plasma Reagin (RPR) c. Unheated Serum Reagin (USR) e.S. Tetapi tes ini dapat memberikan positif palsu pada kondisi seperti kehamilan. Cardiolipin Wassermann (CWR) d. kolesterol dan kardiolipin dan digunakan untuk skrining adanya infeksi oleh T. Serologis Test for Syphilis (S. Unheated Serum Reagin (USR) dan Toulidone Red Unheated Serum Test (TRUST) mendeteksi adanya reaksi antigen-antibodi dengan menilai presipitasi yang terbentuk baik secara makroskopik (RPR dan TRUTS) maupun mikroskpoik (VDRL dan USR).S. ELISA Tes ini bertujuan untuk mendeteksi adanya reaksi antara antibodi dari sel yang rusak dan kardiolipin dari treponema.S) T. T. termasuk pemeriksaan ini adalah: 4 a. Tes serologis non treponema mendeteksi antibodi yang merupakan kompleks dari lecitin.

inkubasi lalu bilas hati-hati. 2.2 Tes Treponemal Antibodi treponemal yang bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen treponema dan sebagai konfirmasi dari hasil positif tes skrining nontreponemal atau konfirmasi adanya proses infeksi pada hasil negatif tes nontreponemal pada fase late atau laten disease. Tambahkan konjugat antibodi antiimunoglobulin human yang dilabel dengan tetrametil-rodamin isotiosinat [TMRITC] tutup dengan kaca penutup.4 a. Tes Treponema pallidum Immobilization (TPI) Sensitifitas tes rendah pada beberapa stadium penyakit terutama stadium I . Hasil positif terlihat dengan T. Sebelum tes serum pasien diinaktifkan dengan pemanasan dan diserap dengan sorbent untuk membersihkan dari antibodi terhadap treponema komensal. lalu diinkubasi pada suhu 35° C selama 16 jam selanjutnya dilihat di bawah mikroskop. b. Positif palsu terjadi karena adanya penyakit bersifat akut seperti hepatitis. Dapat ditemukan hasil tes positif palsu maupun negatif palsu. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya treponema berfluoresensi-TMRITC pada apusan. Tes menggunakan serum penderita yang tidak aktif ditambah dengan T. Fluorescent treponemal antibody-absorbed double strain test (FTA-ABS DS). tetapi spesifisitasnya paling baik dibanding tes serologis lain dan merupakan satu-satunya tes yang hampir tidak memberi hasil positif semu. pallidum pada kaca obyek. inkubasi dan bilas. infeksi virus. kemudian dicampur dengan apusan T. Periksa apusan di bawah mikroskop pengcahayaan ultraviolet. Pengambilan spesimen pada stadium primer akan mempengaruhi sensitivitas tes dimana titer antibodi meningkat selama tahun pertama dan selanjutnya menurun secara nyata sehingga memberikan hasil negatif pada pemeriksaan ulang. pallidum yang mobil dan komplemen. Tes FTA adalah imunoasai yang sangat sensitif dan spesifik sehingga baik digunakan .yang terdeteksi biasanya timbul 1 – 4 minggu setelah munculnya chancre primer. Sedang hasil negatif palsu terjadi karena tingginya titer antibodi (prozone phenomenon) yang sering ditemukan pada sifilis sekunder 4. kehamilan atau proses kronik seperti kerusakan pada jaringan penyambung. pallidum yang tidak mobil 4.

Pada stadium dini yang diobati . . Sel darah merah kalkun yang diliputi Ag T . mudah dan sederhana serta harganya relatif murah. Sensitivitas dan spesifisitas cukup 11 baik kecuali untuk sifilis stadium I. 10 % mengalami sifilis kardiovaskular. Tes Treponema pallidum Hemagglutination (TPHA) Merupakan uji hemaglutinasi pasif secara kualitatif dan semi kuantitatif yang dapat mendeteksi anti T.untuk diagnosis tetapi tidak dipakai dalam pemantauan terapi sebab hasil tes positif akan tetap positif walaupun telah diberi pengobatan sampai sembuh4. dan S II1. Kegagalan terapi sebanyak 5% pada S I. pallidum dalam serum akan mengikat antigen pada sel darah merah membentuk kompleks Ag-Ab dan hasil positif dinilai dengan melihat adanya aglutinasi . S III. c. tes ini juga cukup praktis. Juga pada sifilis kardiovaskuler misalnya untuk melihat aneurisma aorta4. PROGNOSIS Dengan ditemukannya penisilin maka prognosis sifilis lebih baik.pallidum strain Nichol dan sebagai carrier digunakan sel darah merah kalkun. 5 % akan mendapat S III . Sebagai antigen dipakai T . pallidum antibodi dalam serum atau plasma. 23 % akan meninggal. Foto Rontgen Foto rontgen dapat dipakai untuk melihat kelainan khas pada tulang yang dapat terjadi pada S II. dan sifilis congenital. angka penyembuhan 95 %. 4. antibodi T. 3. Jika tidak diobati maka seperempatnya akan kambuh. di mana hasil positif didapatkan bila terjadi aglutinasi. Histopatologi Kelainan yang utama pada sifilis adalah proloferasi sel-sel endotel terutama terdiri atas infiltrate perivaskular tersusun oleh sel-sel limfoid dan sel-sel plasma 4. wanita 5 %. pallidum dan Ab serum penderita lalu diinkubasi. neurosifilis pada 9 % pria.

Aspek Imunologis Penyakit Sifilis. Sjaiful Fahmi Daili. Jakarta: Penerbit FKUI. 2007 2. Sifilis Didapat. .Vol. E. ISSN.Sifilis.DAFTAR PUSTAKA 1. Surabaya : Perdoski 2008 4. Natahusada dan Adhi Djuanda. Tahun 2009.1979-2287. Perkembangan Terakhir Penanggulangan Sifilis Dan Frambusia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Madani. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.edisi ke-5.03.C. Sri Julyani. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Dwi Murtiastutik. 1988 3. Symposium On Dermatology and Venereology In Daily Practice.02 No.