Gastroparesis diabetik adalah kondisi klinik yang mengenai pasien-pasien diabetes mellitus.

Kondisi ini ditandai oleh perlambatan pengosongan lambung dan dihubungkan dengan gejala gastrointestinal bagian atas tanpa adanya obstruksi mekanik. Perlambatan pengosongan lambung pada pasien-pasien diabetes diakibatkan oleh hiperglikemia yang tidak terkontrol, gizi buruk, dan dehidrasi, yang akan menyebabkan kualitas hidup yang buruk, perawatan lama di rumah sakit, dan menurunnya tingkat produktivitas. Mengenai definisi gastroparesis diabetik belum ada konsensus yang jelas. Bell et al. menjelaskan gastroparesis diabetik sebagai neuropati yang terjadi di saluran cerna pada pasien diabetes. Talley menggunakan istilah diabetik gastropati merujuk pada sindrom klinik dari gejala saluran cerna atas yang memperlihatkan gangguan motilitas pada pasien diabetes dengan atau tanpa keterlambatan pengosongan lambung. Namun, seluruhnya setuju bahwa keterlambatan pengosongan lambung pada gastroparesis diabetik terjadi tanpa adanya obstruksi mekanik. Pedoman dari American Gastroenterological Association (AGA) tentang diagnosis dan terapi gastroparesis menyatakan bahwa diagnosis gastroparesis sebaiknya didasarkan pada adanya gejala dan tanda yang sesuai, perlambatan pengosongan lambung, dan tidak adanya lesi obstruksi struktural di lambung atau usus halus. Diagnosis Gastroparesis diabetik didiagnosis melalui adanya gejala saluran cerna atas yang mendukung perlambatan pengosongan lambung pada pasien diabetes, tanpa adanya obstruksi mekanik yang dapat menyebabkan gejala saluran cerna atas, dan terdapat tanda-tanda perlambatan pengosongan lambung. Obstruksi usus halus dan lambung disebabkan oleh massa intraabdomen harus diekslusi menggunakan radiografi abdomen, computed tomography, dan magnetic resonance imaging. Endoskopi dibutuhkan untuk menyingkirkan adanya striktur, massa, atau ulkus. Pemeriksaan yang dibutuhkan untuk menyingkirkan infeksi, metabolik, dan penyebab imunologis menyebabkan gejala saluran cerna atas yaitu pemeriksaan darah lengkap, pemantauan metabolik komprehensif meliputi elektrolit dan tes fungsi hati, urinalisis, tingkat sedimentasi eritrosit, dan pemeriksaan biokimia dan imunologis untuk thyroid stimulating hormone. Setelah menyingkirkan etiologi lain yang mungkin dan obstruksi dengan endoskopi dan pencitraan abdomen, gastroparesis diabetik didiagnosis dengan menunjukkan adanya perlambatan pengosongan lambung.

Teknik melibatkan pencampuran penanda radioisotop pada makanan standar dan mengikuti jejaknya di dalam lambung menggunakan kamera gamma. Untuk sebuah pemeriksaan yang dikatakan standar baku emas. kedua dan keempat. perlu diperhatikan bahwa tidak terdapat standarisasi teknik scintigraphy. dan .Berbagai jenis penelitian pengosongan lambung meliputi scintigraphy dengan gambar yang diambil pada jam pertama. 13C-octanoat diserap secara cepat di usus halus dan dimetabolisme menjadi 13CO2 yang dikeluarkan oleh paru-paru saat respirasi. dan pemeriksaan ultrasonografi. suatu trogliseride medium. dan bahwa korelasi antara gejala dengan gastroparesis diabetik dan tingkat pengosongan lambung tidak jelas. tes napas. Pengukuran hidrogen pernapasan 12 jam setelah mengkonsumsi makanan mengandung potatoes starch dan laktulosa berkaitan dengan waktu transit disaluran cerna atas dan telah dinyatakan sebagai alat skrining untuk gastroparesis sebelum menggunakan pemeriksaan yang lebih mahal dan definitif. dibuktikan dengan adanya perbedaan zat yang digunakan antara pusat yang satu dengan pusat yang lain. Pengosongan lambung dari makanan fase padat oleh scintigraphy diperkirakan merupakan teknik terbaik yang diterima untuk mendiagnosis perlambatan pengosongan lambung karena scintigraphy dapat mengukur jumlah pengosongan makanan berkalori fisiologis yang dapat menilai fungsi motorik lambung. Tingkat 13CO2 terdeteksi di pernapasan sejalan dengan tingkat pengosongan lambung. Tes pernapasan yaitu mengkonsumsi makanan standar yang mengandung octanoat yang dilabeli radioisotop karbon.

menjamin hidrasi dan nutrisi yang cukup. Secara umum. Cisapride dihubungkan dengan peningkatan risiko aritmia kardiak. tetapi efek samping pada sistem saraf pusat (somnolen. Penatalaksanaan Tujuan pengobatan pasien gastroparesis diabetik adalah untuk menjaga kadar glukosa darah terkontrol. dibandingkan plasebo. Penelitian menggunakan tes pernapasan pada pasien diabetes terbatas dan validasi tambahan pada pasien dengan gastroparesis dibutuhkan sebelum penggunaan secara luas dapat disosialisasikan. agen antiemetik. pankreas. dan analgesik dibutuhkan untuk mengontrol gejala gastroparesis diabetik. cemas dan depresi) dilaporkan pada pasien yang menerima metoklopramid. mengontrol gejala saluran cerna atas. Pencitraan ultrasound dari pengosongan makanan cair di lambung hanya untuk penelitian dan tidak digunakan di klinik. hati. metoklopramid dan domperidon sama efektif untuk mengulangi gejala. Namun. Randomized controlled trials memperlihatkan manfaat simptomatik dari agen ini sama baiknya dengan cisapride dan domperidon. Pada penelitian lain. Eritromicin intravena (3 mg per . Penatalaksanaan medis dengan obat-obatan prokinetik. Beberapa gejala dan komplikasi dari gastroparesis diabetik berat dan refrakter dapat diatasi dengan bedah melalui pyloroplasty dan antrectomy. agen-agen tersebut dapat meningkatkan pengosongan lambung sekitar 2572% dan mengurangi keparahan gejala(diukur dengan menggunakan Likert scales) sekitar 2568%.hasilnya berkaitan erat dengan hasil scintigraphy. meningkatkan pengosongan lambung. dan perawatan di rumah sakit. Agen prokinetik Agen prokinetik sebagian besar digunakan untuk mengobati gastroparesis meliputi metoklopramid dan eritromicin. dan mencegah komplikasi seperti dehidrasi. dan fungsi paru. Pendekatan nonfarmakologi untuk tatalaksana gastroparesis diabetik refrakter meliputi injeksi toksin botulinum dan stimulasi elektrik lambung. termasuk torsades de pointes. malnutrisi. Sebuah penelitian menyatakan bahwa metoklopramid dan domperidon lebih superior dari cisapride. gangguan fungsi. Narkotika sebaiknya dihindari pada pasien gastroparesis diabetik. Pengukuran ultrasonografi dari perubahan pada regio antral lambung setelah konsumsi makanan cair sangat berhubungan dengan tingkat pengosongan lambung. sejak diketahui agen ini (seperti morfin) dapat memperlambat pengosongan lambung. tes ini mengasumsikan tidak ada kelainan pada usus besar.

Bagaimanapun belum ada percobaan yang membandingkan eritromicin dan agen lain. lebih baik untuk mencoba terapi yang lebih murah (dymenhidrinate atau meclizine) sebagai pilihan pertama. Agen nonsteroid dilarang karena potensial merusak ginjal pada pasien dengan diabetes. Tidak ada data dari percobaan terkontrol yang memandu pilihan agen yang dapat digunakan pada pasien gastroparesis. Tramadol dan opiates sebaiknya dihindari karena efek penghambatannya serta risiko ketagihan. Injeksi endoskopi dari toksin botulinum . jika tidak efektif. Agen muskarinik kolinergik (betanechol). (pyridostigmine) dan 5-HT4 agonis tegaserod diperkirakan mempercepat pengosongan lambung.kilogram dari berat badan) per 8 jam dengan infus lebih efektif dari plasebo dalam meredakan gastroparesis akut pada pasien di rumah sakit. Meskipun beberapa penelitian telah membandingkan berbagai efek agen antiemetik pada pasien dengan gastroparesis. Agen antiemetic Agen antiemetik menolong untuk meringankan gejala. antikolinesterase. Agen lain Analgesik kadang-kadang dibutuhkan. Tetapi data penelitian yang menilai efeknya pada gejala gastroparesis masih sangat sedikit. Agen yang digunakan pada praktik klinik meliputi antidepresan (trisiklik dosis rendah atau duloxetine) dan pregabalin (direkomendasikan pada pasien dengan diabetik neuropati). 5-HT3 antagonis mungkin bisa dicoba meskipun kelas ini belum secara eksplisit dipelajari untuk digunakan dalam pengobatan gastroparesis.

Am J Gastroenterol 2003. Namun.3 tahun telah dilaporkan mengurangi gejala dan mengurangi kebutuhan dukungan nutrisi.8 kali tanpa stimulator. Stimulasi elektrik gaster Stimulasi elektrik gaster menggunakan alat elektrode yang ditempatkan dengan laparoskopi di dinding otot antrum lambung. medtronik) telah disahkan oleh FDA. Hospitalizations and outcomes for diabetic gastroparesis in North Carolina. Diabetic gastropathy and prokinetics. Sumber: Bell RA. Pada percobaan terkontrol melibatkan 33 pasien dengan idiopatik atau diabetik gastroparesis. stimulasi elektrik tidak memiliki efek signifikan pada gejala keseluruhan tetapi mengurangi frekuensi muntah mingguan. Menghilangkan saraf yang berhubungan yang ada di usus kecil akan menghasilkan gejala persisten pada pasien dengan diabetes bahkan setelah gastrektomi.[prz] 1. dengan periode tindak lanjut rata-rata 3. 98:264–71. frekuensi median dari episode muntah per minggu adalah 6 kali dengan stimulator dan 12. Penelitian jangka panjang dari stimulasi gastrik. Mekanisme bagaimana stimulasi elektrik meningkatkan pengosongan lambung tidak jelas. Jones-Vessey K. Kajian sistematik menyimpulkan bahwa data yang ada tidak cukup untuk mendukung bedah sebagai terapi untuk gastroparesis diabetik.Hasil dari beberapa percobaan tanpa kontrol memperlihatkan bahwa injeksi endoskopi dari botulinum toksin ke pilorus memiliki manfaat. Dari 17 pasien dengan diabetes pada penelitian tersebut. Summerson JH. Bedah Bedah jarang diindikasikan untuk terapi gastroparesis. Alat stimulasi ini (seperti enterra. Talley NJ. kecuali untuk menghilangkan kelainan lain atau untuk dekompresi atau pemasangan tabung makanan. South Med J 2002. Elektrode tersebut berhubungan dengan stimulator saraf di kantung dinding abdomen.95:1297–9 2.7 – 4. Data memperlihatkan bahwa pendekatan ini akan mengontrol gejala gastroparesis. . percobaan dengan kontrol memperlihatkan tidak ada manfaat terapi ini pada gastroparesis. Tetapi tidak ada percobaan acak jangka panjang yang menghubungkannya.

Camilleri M. Available from: http://nejm. Hospital physician 2008. Griffin RA. Available from: http://www.org/cgi/content/extract/356/8/820 . Diabetic gastroparesis: evaluation and management.27-35. Diabetic gastroparesis.3.highwire.pdf 4. N Engl J Med 2007. Ajumobi AB.php?PubCode=hp_mar08_gastro.com/memberfile. p.turner- white.356:820-9.