UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS KEDOKTERAN Nama Dokter Muda NIM Gelombang Periode Rumah Sakit

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA STATUS PASIEN Aziz Andriyanto 05.711.131 20-12-2010 – 15-01-2011 RSUD Muntilan Tanda Tangan

I.

IDENTITAS PASIEN Bp.H 36 Tahun Laki-Laki Islam Bojong, Mungkid, Magelang Karyawan

Nama Pasien Umur Jenis Kelamin Agama Alamat Pekerjaan Tanggal Masuk No.RM

13.24.38

II.

ANAMNESIS

Keluhan Utama Mata kanan merah dan pegal Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke poliklinik mata RSUD Muntilan dengan keluhan mata kanan merah dan pegal. Keluhan dirasa sejak ± 1 minggu yang lalu. Pasien juga mengeluhkan mata nyerocos dan kelopak mata bagian atas terasa gatal, terasa kelilipan. Saat bangun tidur mata lengket. Untuk melihat agak kabur. Sebelumnya pasien tidak

1

5 Tidak dilakukan Tidak dilakukan Baik. Riwayat kelilipan (-). Kesimpulan Anamnesis Bp.kelopak bagian atas terasa gatal. HT(-). dapat Warna hitam. III. tumbuh teratur.H.dapat Simetris Simetris. simetris dan distribusi merata OD OS 2 . pegal. hijau) Tidak dilakukan karena visus pasien masih bias dinilai dengan kartu Snellen. DM(-). tumbuh teratur.♂ 36 tahun datang dengan keluhan mata kanan merah. nyerocos. PEMERIKSAAN SUBYEKTIF OD 6/20 →PH 6 / 9 Tidak dilakukan Tidak dilakukan Baik. dapat mengenali arah sinar OS 6/9 →PH 6 / 7. simetris dan distribusi merata 2. IV. dapat mengenali arah sinar Pemeriksaan Visus Jauh Koreksi Visus Dekat Proyeksi Sinar Persepsi Warna (merah. Kelopak Mata   Pasangan Gerakan Simetris Simetris.memeriksakan keluhannya ke dokter dan belum diobati. terasa kelilipan dan lengket saat bangun tidur . Sekitar Mata  Supercilia Warna hitam. PEMERIKSAAN OBYEKTIF Pemeriksaan 1. pandangan kabur.

membuka dan menutup sempurna   Lebar Rima Kulit ± 1 cm Peradangan (-) Perdarahan (-) Hematom (-) Sikatrik (-)          Tepi Kelopak Normal. Ektropion(-) Normal 3. Apparatus Lakrimalis Sekitar Gld. Konjungtiva  K. tanda inflamasi (-) Normal. Lakrimalis Normal. Entropion (-). tanda inflamasi (-) Tidak Dilakukan Tidak Dilakukan 4. Bola Mata Pasangan Gerakan Ukuran Simetris Normal ke segala arah Normal Enoftalmus (-) Eksoftalmus (-) 5. tanda inflamasi (-) Tidak Dilakukan Tidak Dilakukan Normal. Tekanan Bola Mata 6. Palpebra Superior Hiperemi (+) Perdarahan (-) Hiperemi (-) Perdarahan (-) N (+) Simetris Normal ke segala arah Normal Enoftalmus (-) Eksoftalmus (-) N(0) 3 . Entropion (-). Ektropion(-) Margointermarginalis Normal membuka dan menutup sempurna ± 1 cm Peradangan (-) Perdarahan (-) Hematom (-) Sikatrik (-) Normal. tanda inflamasi (-) Sekitar Saccus Lakrimalis Uji Fluoresin Uji Regurgitasi Normal.

Palpebra Inferior Hiperemi (+) Perdarahan (-) Folikel dan Papil (-) Sikatrik (-)  K. Ikterik (-) 8. Fornik Hiperemi (+) Perdarahan (-) Secret (-)  K.Folikel dan Papil (-) Sikatrik (-)  K. edema (-) Tidak Dilakukan Tidak Dilakukan Tidak Dilakukan 9. Kornea Ukuran Kecembungan Limbus Permukaan Medium Dinding Belakang Uji Fluoresin Placido ± 11mm Normal Arkus Senilis (-) Infiltrat (+) Jernih. Ikterik (-) Folikel dan Papil (-) Sikatrik (-) Hiperemi (-) Perdarahan (-) Folikel dan Papil (-) Sikatrik (-) Hiperemi (-) Perdarahan (-) Secret (-) Hiperemi (-) Perdarahan (-) Subkonjungtiva (-) Pinguekula (-) Pterygium(-) Normal . Ikterik (-) Normal .           Sklera Episklera Normal . Bulbi Hiperemi (+) Perdarahan (-) Subkonjungtiva (-) Pinguekula (-) Pterygium(-) 7. licin Jernih. Ikterik (-) Normal . edema (-) Tidak Dilakukan Tidak Dilakukan Tidak Dilakukan ± 11mm Normal Arkus Senilis (-) Rata. Camera Occuli Anterior 4 .

Iris Warna Pasangan Gambaran Bentuk Coklat Kehitaman Simetris Radier Bulat Coklat Kehitaman Simetris Radier Bulat 11. Pupil Ukuran Bentuk Tepi Reflek Direk Reflek Indirek ±3mm Bulat Reguler (+) (+) ±3mm Bulat Reguler (+) (+) 12. Lensa Ada / Tidak ada Kejernihan Letak Warna Kekeruhan Ada Jernih Sentral Keruh (-) Jernih Positif Ada Jernih Sentral Keruh (-) Jernih Positif 13. Reflek Fundus 5 . Korpus Vitreum 14.               Ukuran Kedalaman Isi Dalam Jernih Dalam Jernih 10.

injeksi konjungtiva (+).5   Slit Lamp Ophtalmoskop TERAPI        PROGNOSIS Ad Vitam Ad bonam Tarivid / 3 jam Glaucon 2 x 1/2 tablet KCL 1 x 125 mg Acyklovir 5 x 400 mg Hervis 5 dd gtt 1 OD Neurosanbe 1 x 1 tablet Vitamin A 1 x 1 tablet 6 . infiltrate kornea (+) DIAGNOSIS BANDING OD Keratokonjungtivitis suspek Herpes Simpleks DD Herpes Zoster PEMERIKSAAN TAMBAHAN OD & OS Visus 6/9 → PH 6/7. KESIMPULAN PEMERIKSAAN OS : OD : Visus 6/20 → PH 6/9.V.

Masa inkubasi 5 sampai 10 hari. Gejala radang mata timbul akut dan selalu pada satu mata terlebih dahulu berupa konjungtivitis folikular akut. Gejala-gejala subjektif berupa mata berair. superficial. yang dengan cepat akan diikuti dengan hiperplasi akibat proliferasi jaringan yang menghasilkan pembentukan jaringan ikat yang tidak terkendali. Pada setengah jumlah kasus. Untuk penyakit ini tidak ada pengobatan yang spesifik. Patofisiologi Perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya dengan timbulnya radang insterstitial yang banyak didominasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I dan IV. Sensibilitas kornea tidak terganggu. Kelainan kornea ini terdapat pada 50% kasus. berbulan-bulan. sub-epitel. Dianjurkan member obat lokal sulfasetamid atau antibiotic untuk mencegah infeksi sekunder. Kondisi ini akan diikuti oleh hyalinisasi dan 7 . Disebabkan infeksi adenovirus tipe 8. Pada konjungtiva akan dijumpai hiperemia dan vasodilatasi difus. Radang akut berlangsung 8 sampai 10 hari dengan kelopak mata yang membengkak. Tidak pernah timbul neovaskularisasi kornea. konjungtiva tarsal yang hiperemi dan konjungtiva bulbi yang kemosis. Gejala radng akut mereda dalam tiga minggu. baru timbul gejala-gejala di kornea. Pada akhir minggu pertama perjalanan penyakit. mata lainnya meradang sesudah minggu kedua. Terdapat perdarahan subkonjungtiva. bahkan bertahun-tahun setelah sembuhnya penyakit. Penyakit ini dapat mengenai anak-anak dan dewasa. tetapi kelainan kornea dapat menetap berminggu-minggu. Pada kornea terdapat infiltrasi bulat kecil. Kelenjar pre-aurikular dapat membesar dan nyeri tekan.Ad Fungsionam Ad Kosmetikam Ad bonam Ad bonam KERATOKONJUNGTIVITIS Keratokonjungtivitis merupakan suatu peradangan konjungtiva dan kornea yang bersifat dwipihak. silau dan seperti ada pasir.

mengandung banyak mukopolisakarida serta asam hyaluronat. Pada tingkat yang berat. Dalam hal ini memungkinkan timbulnya tarikan sel epitel kornea dan gesekan dari papil tarsal pada kornea akan mengakibatkan kerusakan kornea yang meluas ke tepi. Menyusul kerusakan kornea ini dapat menjadi difus. Proliferasi yang spesifik pada konjungtiva tarsal. Di samping itu. Hipertrofi papil pada konjungtiva tarsal tidak jarang mengakibatkan ptosis mekanik dan dalam kasus yang berat akan disertai keratitis serta erosi epitel kornea.menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga terbentuklah gambaran cobblestone. Kerusakan kornea diduga juga berkaitan dengan infiltrasi sel radang yang berasal dari konjungtiva. Dalam kaitan ini. kekeruhan pada limbus sering menimbulkan gambaran distrofi dan menimbulkan gangguan dalam kualitas maupun kuantitas stem cells limbus. dan perubahan degeneratif lainnya seperti pseudogerontoxon. Jaringan ikat yang berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan sehingga konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau. Pembentukan ulkus epitelial non-infeksi yang berbentuk oval atau perisai dapat terjadi yang mendasari timbulnya kekeruhan stroma kornea di sentral maupun superior. pembentukan ulkus. Kondisi yang terakhir ini mungkin berkaitan dengan konjungtivalisasi pada penderita keratokonjungtivitis dan di kemudian hari berisiko timbulnya pterigium. Gambaran Histopatologik Tahap awal keratokonjungtivitis ditandai oleh fase prehipertrofi. menurut Neumann dan Krantz. Limbus konjungtiva juga memperlihatkan perubahan akibat vasodilatasi dan hipertropi yang menghasilkan lesi fokal. akan tampak pembentukan neovaskularisasi dan pembentukan papil yang ditutup oleh satu lapis sel epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta di antara papil serta 8 . kurvatura kornea juga akan memperlihatkan perubahan disertai astigmatisme miopik dan pada tahap lanjut dapat terjadi keratokonus serta keratoglobus. juga terdapat kista-kista kecil yang dengan cepat akan mengalami degenerasi. Lebih jauh. oleh von Graefe disebut pavement like granulations. Sekresi mukus yang kental dan melekat pada penderita keratokonjungtivitis.

Hiperplasia jaringan ikat meluas ke atas membentuk giant papil bertangkai dengan dasar perlekatan yang luas. Deposisi kolagen dan substansi dasar maupun seluler mengakibatkan terbentuknya deposit stone yang terlihat secara nyata pada pemeriksaan klinis. serta reduksi sel radang secara keseluruhan. hialuronidase. Tahap berikutnya akan dijumpai sel-sel mononuklear seperti limfosit makrofag. peningkatan vaskularisasi yang lebih mencolok. lapisan epitel akan mengalami atrofi di apeks sampai hanya tinggal satu lapis sel yang kemudian akan mengalami keratinisasi. namun masih ada sel PMN dan limfosit. Horner-Trantas dot`s yang terdapat di daerah ini sebagian besar terdiri atas eosinofil. basofil. Hasil penelitian histopatologik terhadap 675 konjungtivitis mata yang dilakukan oleh Wang dan Yang menunjukkan infiltrasi limfosit dan sel plasma pada konjungtiva. Keberadaan eosinofil dan basofil. hampir 80% sel mast dalam kondisi terdegranulasi. menghasilkan bahan sitotoksik yang berperan dalam kekambuhan keratokonjungtivitis.pseudomembran milky white. Di dalam ulkus kornea non-infeksi pada kasus keratokonjungtivitis dapat 9 . tetapi juga di fornix. debris selular yang terdeskuamasi. Tidak hanya di konjungtiva bulbi dan tarsal. Kolagen maupun pembuluh darah akan mengalami hialinisasi. dan sel mast. Dalam hal ini. Dalam penelitian tersebut juga ditemukan adanya reaksi hipersensitivitas. bahkan dapat terbentuk 30-40 lapis sel (acanthosis). Pembentukan papil ini berhubungan dengan infiltrasi stroma oleh sel-sel PMN. Fase vaskular dan selular dini akan segera diikuti dengan deposisi kolagen. beberapa granula eosinofilik dilepaskan dari sel eosinofil. sudah cukup menandai adanya abnormalitas jaringan. Sementara itu. khususnya di dalam konjungtiva. eosinofil. Sel mast dan eosinofil yang dijumpai dalam jumlah besar dan terletak superficial. Prolifertasi limfosit akan membentuk beberapa nodul limfoid. serta pada beberapa kasus melibatkan reaksi radang pada iris dan badan siliar. Seiring dengan bertambah besarnya papil. Epiteliumnya berproliferasi menjadi 5-10 lapis sel epitel yang edematous dan tidak beraturan. Pada limbus juga terjadi transformasi patologik yang sama berupa pertumbuhan epitel yang hebat meluas.

berwarna merah muda keabuan. Papil akan tumbuh lebih besar secara perlahan. Bentuk palpebra hampir terbatas pada konjungtiva tarsalis superior dan terdapat cobble stone. Eksudat konjungtiva pada keratokonjungtivitis sangat spesifik. atau keduanya. Papil yang besar memiliki puncak yang datar dan dipisahkan satu dengan lainnya oleh celahcelah berisi mukus. lengket. Membuat Diagnosis Keratokonjungtivitis Keluhan utama adalah gatal yang menetap. Pada yang lebih berat akan menjadi difus. dan dapat mencapai diameter 7-8 mm. dan biasanya terletak setengah di bagian atas kornea. Cobble stone ini dapat demikian berat sehingga timbul pseudoptosis. berair. gambaran yang tampak akan sesuai dengan perkembangan penyakit yang memiliki 3 bentuk. kemudian membentuk ulkus dwipihak tanpa vaskularisasi. mengakibatkan eksudat menjadi lengket. Penebalan ini disertai pertumbuhan papil. Penebalan konjungtiva palpebra superior akan menghasilkan pseudomembran yang pekat dan lengket. Hal ini memberikan keluhan adanya sensasi seperti tali atau cacing pada matanya.ditemukan kristal Charcot Leyden yang merupakan granula eosinofil dan plak mukoid. disertai oleh gejala fotofobia. Kadang-kadang epitelnya terkelupas. yang mungkin bisa dilepaskan tanpa timbul perdarahan. Jika semula hanya elevasi 0. dan fibrinous. Adanya gambaran spesifik pada konjungtivitis ini disebabkan oleh hiperplasi jaringan konjungtiva di daerah tarsal. berwarna putih susu kental. Ulkus ini mempunyai permukaan 10 . elastik.l mm. Lesi limbal yang meluas ke tepi kornea akan menimbulkan keratitis pungtata superfisialis. Peningkatan sekresi mukus yang kental pada tear film dan adanya peningkatan jumlah asam hyaluronat. yaitu palpebra. dalam perkembangannya papil dapat berbentuk deposit poligonal yang tidak beraturan. dan rasa mengganjal pada mata. kemudian bersatu menjadi papil raksasa. dan campuran. daerah limbus. Bentuk limbal disertai hipertrofi limbus yang dapat disertai bintikbintik yang sedikit menonjol keputihan dikenal sebagai Horner-Trantas dot`s. limbal. Selanjutnya.

Penatalaksanaan Keratokonjungtivitis Vernalis 11 . Hasil pemeriksaan menunjukkan banyak eosinofil dan granula-granula bebas eosinofilik. Pada kelainan ini. Konjungtivitis vernalis kadang-kadang perlu didiagnosis banding dengan trakhoma stadium II yang disertai folikel-folikel yang besar mirip cobble stone. pada atopik bisa didapatkan keratitis epitel. Diagnosis banding pada umumnya tidak sulit. Dengan dilepasnya lensa kontak. Seperti pada konjungtivitis vernalis. Pemeriksaan sitologi hanya menunjukkan sedikit eosinofil. bila sembuh akan menyisakan daerah oval abu-abu. perlu juga dipikirkan kemungkinan adanya Giant Papillary Conjunctivitis pada pemakaian lensa kontak. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan berupa kerokan konjungtiva untuk mempelajari gambaran sitologi. Biasanya. Pada pemeriksaan kerokan konjungtiva jarang dijumpai eosinoil dan tidak dijumpai granula-granula eosinofilik yang bebas. Gejalanya mulai dengan gatal disertai banyak mukus serta timbulnya atau ditemukannya papil raksasa di konjungtiva tarsalis superior. Kadangkadang. likenisasi.kasar keputihan dan tampaknya berhenti pada membran Bowman. terdapat basofil dan granula basofilik bebas. dalam keadaan ini terjadi keratokonus dan pada tahap akhir terjadi keratoglobus8. Di samping itu. Trantas dot’s juga bisa dijumpai pada atopik meskipun tidak sesering pada konjungtivitis vernalis. dan dapat dijumpai pada konjungtiva tarsalis superior. konjungtiva hiperemi dan kemosis. karena mungkin suatu keratokonjungtivitis atopik. tidak ada pengaruh musim. dan kekeruhan stroma. Kelainan mata pada keratokonjungtivitis atopik berupa kelopak mata yang tebal. ulserasi. papil ini bisa besar mirip cobble stone. baik yang hard maupun yang soft. Kelainan ini dapat timbul baik satu minggu sesudah pemakaian lensa kontak maupun setelah lama pemakaian. kecuali yang dihadapi penderita dewasa muda. gejala-gejalanya akan berkurang. Selain keratokonjungtivitis atopik. disertai papil-papil di konjungtiva tarsalis inferior. Pada atopik cepat terjadi neovaskularisasi. Pada perkembangan selanjutnya.

Pemakaian lensa kontak justru harus dihindari karena lensa kontak akan membantu retensi allergen. penatalaksanaan pada pasien ini akan terbagi ke dalam tiga bentuk yang saling menunjang untuk dapat memberikan hasil yang optimal. juga untuk mencegah superinfeksi yang 12 . g. Pengganti air mata (artifisial). Beberapa tindakan tersebut antara lain: a. Untuk itu. b. efektivitasnya yang cukup dramatis patut diperhitungkan sebagai alternatif bila keadaan memungkinkan. anamnesis yang teliti baik pada pasien maupun orang tuanya akan dapat membantu menggambarkan aktivitas dan lingkungan mana yang harus dihindari. c. d. Ketiga bentuk penatalaksanaan tersebut meliputi: (1) tindakan umum. Kompres dingin di daerah mata. mengingat tingginya biaya yang dibutuhkan.Seperti halnya semua penyakit alergi lainnya. (2) terapi medikasi. Menghindari tindakan menggosok-gosok mata dengan tangan atau jari tangan. 1. e. Namun. Cara ini memang kurang praktis. Menghindari daerah berangin kencang yang biasanya juga membawa serbuksari. karena telah terbukti dapat merangsang pembebasan mekanis dari mediatormediator sel mast. Di samping itu. Dengan demikian. Memindahkan pasien ke daerah beriklim dingin yang sering juga disebut sebagai climato-therapy11. Menggunakan kaca mata berpenutup total untuk mengurangi kontak dengan alergen di udara terbuka. f. Tindakan Umum Dalam hal ini mencakup tindakan-tindakan konsultatif yang membantu mengurangi keluhan pasien berdasarkan informasi hasil anamnesis tersebut di atas. dan (3) pembedahan. terapi keratokonjungtivitis vernalis bertujuan mengidentifikasi alergen dan bahkan bila mungkin mengeliminasi atau menghindarinya. Pemakaian mesin pendingin ruangan berfilter. Selain bermanfaat untuk cuci mata juga berfungsi protektif karena membantu menghalau allergen.

dapat digunakan irigasi saline steril dan mukolitik seperti asetil sistein 10%--20% tetes mata. prednisolone fosfat. sekalipun tidak efektif sepenuhnya4. Kemudian dilanjutkan dengan reduksi dosis sampai ke dosis terendah yang dibutuhkan oleh pasien tersebut. bisa juga digunakan steroid sistemik seperti prednisolone asetat. baik lokal maupun sistemik. Salah satu faktor pertimbangan yang penting dalam mengambil langkah untuk memberikan obat-obatan adalah eksudat yang kental dan lengket pada keratokonjungtivitis vernalis. terutama dalam pemakaian steroid. untuk pemakaian dalam dosis besar harus diperhitungkan kemungkinan timbulnya risiko yang tidak diharapkan. Jelaskan juga mengenai keuntungan dan kemungkinan komplikasi yang dapat timbul dari pengobatan yang ada. karena kemampuannya untuk mengurangi rasa gatal yang dialami pasien. Namun. Dalam hal ini. dapat dipertimbangkan sebagai pilihan lain. 6-8 kali sehari selama satu minggu. Dosisnya tergantung pada kuantitas eksudat serta beratnya gejala. Bila sudah terdapat ulkus kornea maka kombinasi antibiotik steroid terbukti sangat efektif. Untuk menghilangkan sekresi mucus. Satunya-satunya terapi yang dipandang paling efektif untuk pengobatan KKV adalah kortikosteroid. Antihistamin. Satu hal yang perlu diingat dalam kaitan dengan pemakaian preparat steroid adalah "gunakan dosis serendah mungkin dan sesingkat mungkin"10. baik topikal maupun sistemik. Pada kasus yang lebih parah. larutan 10% lebih dapat ditoleransi daripada larutan 20%. yang pada gilirannya akan memainkan peran penting dalam timbulnya gejala. karena merupakan indikator yang sensitif dari aktivitas penyakit. atau deksamethason fosfat 2--3 tablet 4 kali sehari selama 1--2 minggu. Terapi Medik Dalam hal ini. 2. terlebih dahulu perlu dijelaskan kepada pasien dan orangtua pasien tentang sifat kronis serta self limiting dari penyakit ini.pada akhirnya berpotensi ikut menunjang terjadinya glaukoma sekunder dan katarak. bisa diberikan steroid topikal prednisolone fosfat 1%. 13 . Larutan alkalin seperti 1-2% sodium karbonat monohidrat dapat membantu melarutkan atau mengencerkan musin. Untuk KKV yang berat.

Menurut Richard et al. Sodium kromolin 4% pada kasus KKV terbukti bermanfaat karena kemampuannya sebagai pengganti steroid bila pasien sudah dapat dikontrol. Bila dibandingkan.Apabila dikombinasi dengan vasokonstriktor. Suatu hal yang tidak disukai adalah efek samping obat antihistamin. Titik tangkapnya. tentang penggunaan siklosporin A2% untuk 30 kasus KKV. Studi ini dibedakan atas 3 kelompok. Menurut Iwasaki et al. kelompok II mendapat steroid 14 . Lodoksamid digolongkan sebagai stabilasator sel mast. Kelompok I mendapat siklosporin A 2%. yaitu rasa ngantuk. Ini juga berarti dapat membantu mengurangi kebutuhan akan pemakaian steroid. Studi klinik dan imunohistokimia telah dilakukan oleh Bayoumi et al. Pada anak-anak. sodium kromolin lodoksamid lebih unggul karena pengikatan terhadap CD4(+) cells lebih kuat15. namun tidak mampu menghambat pengikatan IgE terhadap sel maupun interaksi sel – IgE dengan antigen spesifik13. terutama eosinofil dalam konjungtiva. hal ini dapat menganggu kinerja sehari-hari.l% terbukti bermanfaat karena aktivitas antialergi yang akan mengurangi infiltrat radang. diduga sodium kromolin memblok kanal kalsium pada membran sel serta menghambat pelepasan histamin dari sel mast dengan cara mengatur fosforilasi . Bahkan. dengan membandingkan antara lodoksamid dengan levokabastin ternyata khasiatnya cukup seimbang. dapat memberikan kontrol yang memadai pada kasus yang ringan atau memungkinkan reduksi dosis. Levokabastin tetes mata merupakan suatu H1 antihistamin yang spesifik dan sangat poten terhadap konjungtivitis vernalis. Emedastine adalah antihistamin paling poten yang tersedia di pasaran dengan kemampuan mencegah sekresi sitokin. Lodoksamid 0. mencegah terlepasnya beberapa mediator yang dihasilkan pada reaksi alergi tipe I. sodium kromolin cukup toleran terhadap pasien pengguna lensa kontak dan tidak terjadi kumulasi pada lensa kontak lunak14. Sementara olopatadine yang dipasarkan sebagai Patanol‚ juga merupakan antihistamin yang juga berfungsi sebagai inhibitor degranulasi sel mast konjungtiva. Sodium kromolin berperan sebagai stabilisator sel mast. menangguhkan pemakaian steroid topikal. dan simptom KKV hilang dalam 14 hari16.

Apabila segala bentuk pengobatan telah dicoba dan tidak memuaskan. Beberapa kasus steroid glaukoma pada penderita KKV yang tidak membaik dengan penghentian steroid maupun dengan terapi medikasi sebaiknya dilakukan trabekulektomi. maka metode dengan tandur alih membran mukosa pada kasus KKV tipe palpebra yang parah perlu dipertimbangkan8. terbukti adanya penurunan MHC+ cell. Pada pasien-pasien yang tidak kooperatif. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi steroid dan siklosporin merupakan yang terbaik. dan kelompok III mendapatkan keduanya.tetes mata. perlu dilakukan injeksi steroid supratarsal 0. tetapi apabila tidak sembuh dengan antibiotik dan steroid topikal maupun terapi konservatif lainnya bisa dicoba dilakukan transplantasi membran amnion. Transplantasi membran amnion dianjurkan pada kasus-kasus ulkus kornea yang berat18. sekali lagi perlu ditekankan bahwa KKV biasanya berlangsung selama 4-6 tahun dan bisa sembuh sendiri apabila anak sudah dewasa. Injeksi steroid ini dapat berefek dalam l bulan. krioterapi. dan IgG sel plasma17. Berbagai terapi pembedahan. dan diatermi pada papil raksasa konjungtiva tarsal kini sudah ditinggalkan mengingat banyaknya efek samping dan terbukti tidak efektif. Akhirnya. Terapi Pembedahan Ulkus kornea yang terjadi pada KKV biasanya ringan. Hal tersebut untuk menjaga kesinambungan pengobatan. Kesimpulan 15 . IgA stroma. Membran amnion mampu memacu epitelisasi kornea. Disebutkan pula bahwa papil-papil besar mulai menghilang pada minggu ketiga pasca pengobatan dengan siklosporin A topikal. 3.5 ml triamsinolon asetonid (40 mg/ml)13. karena dalam waktu dekat akan tumbuh lagi.