P. 1
Biota Perairan Terancam Punah Cetak

Biota Perairan Terancam Punah Cetak

|Views: 227|Likes:
Published by parapencarituhan
b
b

More info:

Published by: parapencarituhan on Nov 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/05/2014

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. LATAR BELAKANG
  • 1.2. TUJUAN
  • 1.3. MANFAAT DOKUMEN
  • 1.4. RUANG LINGKUP
  • 2.1. PROSES
  • 2.2. METODOLOGI
  • 3.1. Carcharhinus longimanus
  • 3.2. Sphyrna lewini
  • 3.3. Sphyrna mokarran
  • 3.4. Sphyrna zygaena
  • 3.5. Alopias pelagicus
  • 3.6. Alopias superciliosus
  • 3.7. Manta birostris
  • 3.8. Manta alfredi
  • 3.9. Pterapogon kauderni
  • 3.10. Himantura oxyrhyncha
  • 3.11. Himantura signifer
  • 3.12. Himantura polylepis
  • 3.13. Himantura pastinacoides
  • 3.14. Balantiocheilos melanopterus
  • 3.15. Neolissochilus thienemanni
  • 3.16. Adryanichthys kruyti
  • 3.17. Adryanichthys ooporus
  • 3.18. Adryanichthys poptae
  • 3.19. Adryanichthys roseni
  • 3.20. Mugilogobius amadi
  • 4.1. Barbourula kalimantanensis
  • 4.2. Ingerophrynus claviger A. Klasifikasi
  • 4.3. Leptophryne cruentata
  • 4.4. Philatus jacobsoni
  • 4.5. Batagur borneoensis
  • 4.6. Chelodina gunaleni
  • 4.7. Chelodina mccordi
  • 4.8. Chelodina reimanni
  • 4.9. Leucocephalon yuwonoi
  • 4.10. Pelochelys cantorii
  • 4.11. Amyda cartilaginea
  • 4.12. Cuora amboinensis
  • 5.1. Turbo chrysostomus
  • 5.2. Turbo petholatus
  • 5.3. Chicoreus ramosus
  • 5.4. Syrinx aruanus
  • 5.5. Tectus pyramis
  • 5.6. Trochus conus
  • 5.7. Conus litteratus
  • 5.8. Conus marmoreus A. Klasifikasi
  • 5.9. Conus textile
  • 5.10. Laevistrombus canarium
  • 5.11. Tylomelania patriarchalis
  • 5.12. Tylomelania towutensis
  • 5.13. Tylomelania kruimeli
  • 5.14. Sulcospira kawaluensis A. Klasifikasi
  • 5.15. Sulcospira sulcospira
  • 5.16. Sulcospira pisum A. Klasifikasi
  • 5.17. Miratesta celebensis
  • 5.18. Pila ampullacea
  • 5.19. Pila scutata
  • 5.20. Pila polita
  • 5.21. Batissa violace
  • 5.22. Physunio superbus A. Klasifikasi
  • 5.23. Physunio eximius A. Klasifikasi
  • 5.24. Pseudodon vondenbuschianus
  • 5.25. Rectidens sumatrensis A. Klasifikasi
  • 5.26. Contradens contradens
  • 5.27. Contradens ascia verbeeki A. Klasifikasi
  • 5.28. Contradens semmelinnki laticeps A. Klasifikasi
  • 5.29. Corbicula celebensis A. Klasifikasi
  • 5.30. Corbicula matannensis A. Klasifikasi
  • 5.31. Corbicula possoensis A. Klasifikasi
  • 5.32. Corbicula subplanata A. Klasifikasi
  • 5.33. Corbicula linduensis A. Klasifikasi
  • 5.34. Corbicula moltkeana A. Klasifikasi
  • 5.35. Corbicula tobae A. Klasifikasi
  • 5.36. Corbicula javanica A. Klasifikasi
  • 6.1. Panulirus homarus
  • 6.2. Panulirus longipes
  • 6.3. Panulirus ornatus
  • 6.4. Panulirus penicillatus
  • 6.5. Panulirus polyphagus
  • 6.6. Panulirus versicolor
  • 6.7. Fenerropenaeus indicus
  • 6.8. Fenerropenaesus merguiensis
  • 6.9. Penaeus monodon
  • 6.10. Penaeus semisulcatus
  • 6.11. Thenus orientalis
  • 6.12. Scylla serrata
  • 6.13. Scylla tranquebarica
  • 6.14. Scylla olivacea
  • 6.15. Scylla paramamosain
  • 6.16. Portunus pelagicus
  • 6.17. Caridina dennerli
  • 6.18. Caridina glaubrechti
  • 6.19. Caridina holthuisi
  • 6.20. Caridina lanceolata
  • 6.21. Caridina loehae
  • 6.22. Caridina profundicola
  • 6.23. Caridina spinata
  • 6.24. Caridina spongicula
  • 6.25. Caridina striata
  • 6.26. Caridina woltereckae
  • 6.27. Caridina caerulea
  • 6.28. Caridina ensifera
  • 6.29. Caridina longidigita
  • 6.30. Caridina sarasinorum
  • 6.31. Parathelphusa pantherina
  • 6.32. Parathelphusa ferruginea
  • 6.33. Syntripsa matannensis
  • 6.34. Syntripsa flavichela
  • 6.35. Nautilothelphusa zimmeri
  • 7.1. Tachypleus tridentatus
  • 7.2. Carcinoscorpius rotundicauda
  • 8.1. Holothuria scabra
  • 8.2. Holothuria nobilis
  • 8.3. Holothuria fuscogilva
  • 8.4. Stichopus variegatus
  • 8.5. Stichopus ananas
  • 8.6. Bohadschia argus

BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA Prioritas Perlindungan Penanggung Jawab: Ir. Agus Dermawan, M. Si Dr.

Bambang Sunarko

Tim Penyusun : Prof. Dr. Rosichon Ubaidillah M.Phill, P2B – LIPI Ir. Ristiyanti M. Marwoto, M.Si, P2B – LIPI Dra. Renny K. Hadiaty, P2B – LIPI Fahmi, S. Pi., M. Phil, P2O – LIPI Dr. Daisy Wowor, M. Sc., P2B – LIPI Ir. Mumpuni, P2B – LIPI Dra. Rianta Pratiwi, M. Sc., P2O – LIPI Drs. Agus H. Tjakrawidjaja, P2B – LIPI Drs. Mudjiono, M. Si., P2O – LIPI Dra. Sri Turni Hartati, M. Si, P4KSI – Balitbang KP Ir, Heryanto, M. Sc., P2B – LIPI Awal Riyanto, S. Si P2B – LIPI Nova Mujiono, S. Si P2B – LIPI Editor : Ir. Didi Sadili Sarmintohadi, S.Pi, M. Si Cora Mustika, A.Pi, M. Si ISBN : 978-602-7913-08-0 Diterbitkan Oleh : Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan Bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 2013

1

SAMBUTAN DIRJEN KELAUTAN, PESISIR, DAN PULAU – PULAU KECIL
Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementrian Kelautan bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah membentuk Kelompok Kajian Spesies Biota air yang terancam punah. Kelompok ini kemudian di pandu oleh Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (KKJI) dalam mempersiapkan materi dan dsikusi kelompok. Kelompok ini kemudian melakukan pertemuan dan mengundang para pakar terkait untuk menyiapkan buku panduan pengenalan biota air yang terancam punah yang perlu dilakukan perlindungannya. Buku Panduan ini memberikan informasi mengenai berbagai faktor yang digunakan untuk menilai biota air yang di kategorikan terancam punah. Tujuan dari diterbitkannya buku panduan ini adalah (1) untuk mempromosikan penerapan metode penilaian risiko untuk spesies biota air yang terancam punah, (2) untuk memperkenalkan species, klasifikasi, ciri morfologi, habitat dan penyebaran, status perlindungannya, ancaman dari biota yang dikategorikan terncam punah untuk mendorong pendekatan yang konsisten terhadap manajemen pengelolaan spesies biota air, dan (3) meningkatkan aksesibilitas literatur yang dapat diterapkan pada tataran implementasi di lapang. Sebagian besar dokumen merangkum spesies biota untuk 111 spesies mencakup ikan, amfibi dan reptile, moluska (keong dan kerang), udang dan kepiting, mimi serta teripang. Selain itu, kami menyertakan sebuah bab metode penetapan spesies biota terancam punah. Pada bagian penutup kami memberikan penjelasan tentang istilah teknis yang diuraikan secara alpabet di bagian daftar istilah. Saya mengharapkan bahwa buku panduan ini akan meningkatkan tingkat kesadaran semua lapisan masyarakat dalam upaya pemanfaatan biota air secara berkelanjutan dan memperkuat upaya kami dalam menunjang kegiatan konservasi.

Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulaupulau Kecil Dr. Sudirman Saad, M. Hum.

2

KATA PENGANTAR DIREKTUR KONSERVASI KAWASAN DAN JENIS IKAN
Indonesia memiliki potensi sumber daya perairan umum daratan dan laut yang besar termasuk kekayaan keanekaragaman hayati dan non hayati. Dalam hal kondisi Sumber Daya Ikan selain terdapat potensi dan peluang yang besar sebagai sumber pembangunan ekonomi bangsa, namun disatu sisi telah terjadi degradasi dari stok SDI tersebut. Agar tidak terjadi kolaps dari sumber daya ikan, maka perlu terus-menerus dikembangkan upaya pengelolaan perikanan berkelanjutan, antara lain melalui perlindungan dan pelestarian spesies ikan yang terancam punah. Permasalahannya adalah data dan informasi serta kajian tentang biodiversity, khususnya untuk spesies-spesies ikan terancam punah sampai dengan saat ini masih terbatas, dan kalaupun ada umumnya masih tersebar di beberapa instansi. Dalam rangka menjawab permasalah tersebut di atas maka diperlukan kolaborasi dan kerjasama antara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai Scientific Authority dan dukungan dari lembaga-lembaga penelitian dalam memberikan rekomendasi dan masukan terhadap spesies-spesies yang perlu diprioritaskan ditetapkan status perlindungannya. Melalui penyusunan buku “Biota Perairan Terancam Punah Di Indonesia : Prioritas Perlindungan” ini kami berharap kita mempunyai satu database tentang spesies-spesies ikan terancam punah pada masing-masing kelompok taksa, dan sekali lagi bahwa data dan informasi ini dapat menjadi acuan dalam program konservasi spesies di masa yang akan datang, khususnya dalam upaya perlindungan spesies – spesies ikan yang langka dan terancam punah di perairan Indonesia. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak, khususnya para pakar dari LIPI yang telah membantu dan bekerjasama sehingga penyusunan buku ini dapat diselesaikan dengan baik.

Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan

Ir. Agus Dermawan, M. Si

3

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PENELITIAN BIOLOGI

Sebagai negara yang kaya Keanekaragaman Hayati, Indonesia telah meratifikasi beberapa konvensi internasional kenekargaman hayati. Namun demikian, sekedar meratifikasi konvensi saja belum cukup untuk menunjukkan komitmen yang kuat pemerintah untuk menjaga, dan memberdayakan, dan memanfaatkan sumber daya hayati secara optimal dan berkelanjutan. Komitmen tersebut harus diwujudkan dalam bentuk nyata, yaitu dengan mengimplementasikan prinsip prinsip keberlanjutan tersebutnya dengan melakukan pengelolaan dengan baik dan benar. Kehati-hatian dalam pengelolaan biota perairan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komitmen nasional dalam upaya pengelolaan sumber daya hayati. Kekayaan biota perairan Indonesia yang tinggi masih memerlukan pendataan yang menyeluruh, sehingga diperoleh informasi yang lengkap dan dapat digunakan sebagai landasan untuk penyusunan kebijakan dan perbaikan pengelolaannya. Banyak spesies biota perairan memiliki kekhasan habitat dan hanya hidup pada lokasi tertentu (endemic), serta memiliki fungsi ekologi yang sangat penting, namun belum banyak diketahui oleh dan diinformasikan kepada pengambil kebijakan dan masyarakat. Hilangnya spesies tertentu akibat perusakan habitat dan eksploitasi berlebihan telah dan sedang terjadi dihadapan kita semua. Hal ini merupakan awal dari kerusakan jejaring ekologi yang akhirnya akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Atas dasar itu, maka perlindungan dan pemanfaatan biota perairan secara bijak sangat diperlukan. Kebijakan pengelolaan biota perarian perlu didukung oleh informasi yang selalu diperbaharui. Oleh karena itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, sebagai otoritas

keilmuan sumber daya hayati, menyambut baik penyusunan buku ”Biota perarian Terancam punah di Indonesia, prioritas perlindungan”. Beberapa spesies yang diuraikan dalam buku ini perlu mendapatkan perhatian dan segera dilindungi, menyusul beberapa spesies biota perairan yang sebelumnya sudah mendapat ketetapan hukum perlindungan. Buku” Biota perarian Terancam punah di Indonesia, prioritas perlindungan”, merupakan hasil kajian dari para peneliti LIPI dibidangnya dan masukan dari pakar dari perguruan tinggi dan lembaga riset di kementrian teknis terkait. Dengan diterbitkannya buku panduan ini, para pengambil kebijakan dan masyarakat diharapkan dalam memanfaatkan biota perairan akan mengacu informasi yang tersedia di dalam buku tersebut. 4 Dengan mengetahui beberapa

spesies biota perairan yang terancam punah dan dampak dari kepunahannya, maka upaya perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya tersebut secara bijaksana dapat segera dilakukan. Akhir kata, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada para peneliti yang telah bekerja keras dalam menghimpun data dan menyusun buku ini. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Dirjen Direktorat Jendral Kelautan, Pesisir dan Pulau Pulau Kecil (KP3K) yang telah memberi dukungan secara penuh pada upaya pengkajian jenis biota perairan ini dan dalam pengelolaan biota perairan, meskipun masih banyak hambatan. .

Kepala Pusat Penelitian Biologi, LIPI

Dr. Bambang Sunarko

5

1. Himantura polylepis 3.4. Carcharhinus longimanus 3. Pterapogon kauderni 3. Sphyrna lewini 3.2. IKAN (PISCES) 3. Manta birostris 3. Metodologi 3.4. Himantura signifier 3. Himantura pastinacoides 3. Tujuan 1. Leptophryne cruentata 6 2 3 4 6 10 10 11 12 12 13 13 14 18 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40 43 45 47 49 51 53 55 57 59 59 61 63 . Adryanichthys ooporus 3.12.14. Alopias superciliosus 3. Ruang Lingkup 2.11.2.1. Manfaat Dokumen 1.19.9. Adryanichthys roseni 3. Balantiocheilos melanopterus 3. PENDAHULUAN 1.16.1.7. Ingerophrynus claviger 4.13. PROSES DAN METODOLOGI 2. Mugilogobius amadi 4.1. Himantura oxyrhyncha 3.3. Barbourula kalimantanensis 4.20.3.10. Adryanichthys poptae 3.8.6. Sphyrna zygaena 3.18. Adryanichthys kruyti 3.5.3.2.DAFTAR ISI SAMBUTAN DIRJEN KP3K KATA PENGANTAR DIREKTUR KKJI KATA PENGANTAR KEPALA P2B – LIPI DAFTAR ISI 1.17.2. Proses 2. Alopias pelagicus 3. Manta alfredi 3. Neolissochilus thienemanni 3. Sphyrna mokarran 3.15. Latar Belakang 1. AMFIBI DAN REPTIL 4.

19.8.14.28. Tylomelania patriarchalis 5.10.23. Trochus conus 5. Tectus pyramis 5. 4.21.12.8. KEKERANGAN 5.6.3. Corbicula subplanata .11. Sulcospira sulcospira 5. Corbicula matannensis 5. Sulcospira kawaluensis 5.11. Conus textile 5. 4.32.9. Corbicula possoensis 5.24.5. 4.10.17. Tylomelania kruimeli 5.12.5. Physunio superbus 5.15. Miratesta celebensis 5. Philatus jacobsoni Batagur borneoensis Chelodina gunaleni Chelodina mccordi Chelodina reimanni Leucocephalon yuwonoi Pelochelys cantorii Amyda cartilaginea Cuora amboinensis 65 67 69 72 74 76 80 82 84 88 88 90 92 94 96 98 100 102 104 106 108 110 112 114 116 118 120 122 124 126 128 130 132 134 136 137 139 141 143 144 145 146 7 5. Turbo petholatus 5.22. Conus litteratus 5.7. Pila scutata 5. 4.20. Sulcospira pisum 5.18. 4. Pila ampullacea 5.6. Turbo chrysostomus 5.29.26. Rectidens sumatrensis 5. 4. Pseudodon vondenbuschianus 5.4.4.31. 4.9. Syrinx aruanus 5.1.2.7.16. Chicoreus ramosus 5. Batissa violace 5. Conus marmoreus 5. Tylomelania towutensis 5.4.25. 4.27. Contradens semmelinnki laticeps 5. Contradens ascia verbeeki 5. Corbicula celebensis 5.13. Pila polita 5. Laevistrombus canarium 5.30. Contradens contradens 5. Physunio eximius 5.

26.21. Penaeus semisulcatus 6.19. Caridina caerulea 6.12. Fenerropenaeus merguiensis 6. Caridina lanceolata 6.35. Caridina woltereckae 6. Caridina striata 6. Panulirus versicolor 6.16. Caridina longidigita 6. Corbicula linduensis Corbicula moltkeana Corbicula tobae Corbicula javanica 148 149 150 152 154 154 156 158 160 162 164 166 168 170 172 174 176 178 180 182 184 187 189 191 193 195 197 199 201 203 205 207 209 211 213 215 217 219 221 223 6.20.4.23. Caridina sarasinorum 6. Scylla tranquebarica 6. 5. Syntripsa matannensis 6. Caridina ensifera 6.29.22.18. Caridina spinata 6.35. Caridina holthuisi 6. Fenerropenaeus indicus 6. Caridina dennerli 6.5.2.11.5.8.13.24.17.10.32. Caridina loehae 6.6. Scylla olivacea 6. Syntripsa flavichela 6. Panulirus penicillatus 6. Caridina profundicola 6. 5. Panulirus longipes 6. Penaeus monodon 6.9.1. Nautilothelphusa zimmeri 8 . Caridina glaubrechti 6.25. UDANG DAN KEPITING 6. Panulirus homarus 6.33.33.14.34.15. Parathelphusa pantherina 6. Thenus orientalis 6.36.34.7. Caridina spongicola 6.28. Parathelphusa ferruginea 6. Panulirus ornatus 6. Scylla serrata 6. Portunus pelagicus 6.3. 5. Scylla paramamosain 6.30.27. Panulirus polyphagus 6.31.

Holothuria scabra 8. Bohadschia argus DAFTAR PUSTAKA DAFTAR ISTILAH INDEKS 225 225 227 229 229 231 233 235 237 239 241 250 255 9 .1.7.6. Holothuria nobilis 8.4. Stichopus ananas 8. Tachypleus tridentatus 7. MIMI 7.3.2. Holothuria fuscogilva 8.5. Stichopus variegatus 8.2. TERIPANG 8.1. Carcinoscorpius rotundicauda 8.

Menurut Fishbase. Indonesia memiliki 4605 spesies ikan bersirip yang terdiri dari 1193 spesies ikan air tawar.181 km (World Resources Institute. Sehingga sangat pantas bila masyarakat dunia menempatkan Indonesia sebagai Negara mega biodiversity (Dahuri. Capungan Banggai. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas laut dan jumlah pulau yang besar.BAB I. mengakibatkan terjadinya penurunan populasi beberapa biota perairan. Belum lagi posisi Indonesia yang berada di wilayah pusat segitiga terumbu karang dunia atau biasa disebut “The Coral Triangle” yang dikenal pula oleh masyarakat dunia sebagai wilayah “The Amazone Sea”.1 juta km2. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati serta tingkat endemisme yang sangat tinggi sehingga menjadi salah satu negara megabiodiversity. dengan jumlah marga berkisar 70-80. 144 spesies ikan bersirip di Indonesia termasuk kedalam ikan yang terancam punah. Hal ini menyebabkan beberapa biota perairan seperti ikan Terubuk. 104 spesies ikan pelagis. meningkatnya kebutuhan manusia dan tekanan terhadap lingkungan khususnya sumberdaya hayati laut. Dugong. dan Labi-Labi menjadi langka dan terancam punah. serta spesies lebih dari 500 spesies. Untuk mengatasi penurunan populasi yang terus menerus dan mengantisipasi atau jangan sampai terlambat dalam penyelamatan biota perairan ini 10 . Demikian pula memiliki berbagai spesies mangrove dengan luasan mencapai 4. yaitu hampir 25 % terumbu karang dunia. dan 310 spesies ikan perairan dalam. memiliki berbagai spesies terumbu karang yang tersebar luas diseluruh wilayah Indonesia. padang lamun diperkirakan 12 juta Ha dan sumber daya ikan lainnya.504.1. 1998) dengan luas wilayah laut 5.4 juta km2. dengan luasannya diperkirakan mencapai 50. 2003).000 km2. atau merupakan hampir 75 % keanekaragaman spesies terumbu karang di dunia. mendominasi total luas teritorial Indonesia sebesar 7. panjang pantai Indonesia mencapai 95. Indonesia memiliki jumlah pulau sebanyak 17. Potensi tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara yang dikaruniai sumber daya kelautan yang besar termasuk kekayaan keanekaragaman hayati dan non hayati kelautan terbesar. Menurut Fishbase. Penyu. Napoleon. PENDAHULUAN 1.5 juta Ha. Kekayaan keanekaragaman hayati tersebut adalah aset bagi pembangunan dan kemakmuran bangsa karena sebagian besar pembangunan nasional mengandalkan keanekaragaman hayati. Namun demikan. 3496 spesies ikan air laut. Hiu.

30 spesies mamalia laut. 14 spesies bivalvia.3. Kemudian melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan. langka. TUJUAN Tujuan dari penyusunan dokumen Biota Perairan Terancam Punah Di Indonesia ini adalah: 1. dan pemanfaatan. dan endemik di perairan Indonesia maka pemerintah Indonesia perlu memberikan perhatian khusus dan prioritas dalam upaya pelestarian serta perlindungannya. pemerintah Indonesia juga telah menetapkan ikan terubuk. Menyadari nilai penting keanekaragaman hayati tersebut. Namun demikian. mengingat semakin banyaknya biota perairan yang terancam punah. 31 spesies reptil. 3. dan hiu paus sebagai ikan yang dilindungi. 2.dimasa yang akan datang. 1 spesies krustasea. Merumuskan rekomendasi tipe perlindungan spesies prioritas biota perairan terancam punah per masing-masing taksa 1. napoleon. 1 spesies mimi. Para pengguna atau pemangku kepentingan diharapkan dapat memanfaatkan dokumen ini sebagai berikut : 11 . Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berupaya untuk mengantisipasi permasalahan tersebut dengan menyusun Arahan dan Prioritas Penetapan Status Perlindungan Biota Perairan Yang Terancam Punah kedalam sebuah bentuk dokumen yang disebut dengan “Biota Perairan Terancam Punah Di Indonesia : Prioritas Perlindungan”. perlindungan. MANFAAT DOKUMEN Dokumen ini disusun dan dipublikasi untuk dapat digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu dibutuhkan arahan/rekomendasi dan ditentukan prioritas penetapan status perlindungan biota perairan yang terancam punah.2. 1. dan 1 spesies karang hitam sebagai spesies dilindungi. pemerintah Indonesia melalui PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Spesies Tumbuhan dan Satwa liar telah menetapkan 7 spesies ikan bersirip. maka perlu dilakukan upaya konservasinya meliputi aspek pelestarian. Menentukan prioritas biota perairan terancam punah per masing-masing taksa yang perlu ditetapkan status perlindungannya. Menginventarisasi biota perairan terancam punah dan rawan terancam punah untuk masing-masing taksa.

Sebagai bahan dalam mengambil kebijakan terkait penetapan status perlindungan biota perairan yang terancam punah. mollusca (kerang. 1. 3. siput. dan sebangsanya). dan pengembangan terhadap biota perairan yang terancam punah. penelitian. 12 . RUANG LINGKUP Dokumen Biota Perairan Terancam Punah Di Indonesia ini memuat daftar spesies terancam punah yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan.1. Sebagai bahan dalam mengembangkan pendidikan. gurita. crustacea (udang . dan biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan spesies-spesies tersebut di atas. cumi-cumi.rajungan. Sebagai informasi yang dapat dimanfaatkan untuk ikut mendukung konservasi biota perairan dan juga mendukung kehidupan masyarakat pada umumnya. amphibia (kodok dan sebangsanya). kepiting dan sebangsanya). reptilia (kurakura). echinodermata (tripang).4. 2. mimi. tiram. meliputi spesies yang termasuk dalam kelas : pisces (ikan bersirip).

presentasi gabungan. Cibinong para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok diskusi yang merupakan taksa-taksa yang dianggap dapat mewakili seluruh spesies yang terancam punah. Pada tahapan selanjutnya. dan perumusan. PROSES DAN METODOLOGI 2. Hasil perumusan workshop prioritas penetapan status perlindungan kemudian di dideskripsikan oleh ahli/peneliti di setiap taksa dan dibahas dalam diskusi kelompok taksa. Pada Workshop Prioritas Penetapan Status Perlindungan I bulan Juli 2012 di LIPI. Coelenterata. Group 1 (Pisces) 2.1. Ketiga kelompok diskusi taksa tersebut adalah. dan Echinodermata) Kemudian. seluruh peserta dari ketiga kelompok dipersatukan dalam sebuah forum di mana setiap kelompok mempresentasikan daftar spesies ikan terancam punah yang telah mereka susun. Selanjutnya. Dalam presentasi-presentasi ini berbagai tanggapan dari forum dicatat sebagai masukan untuk menyempurnakan daftar spesies terancam punah dari setiap taksa. peserta dengan jumlah terbatas merumuskan daftar prioritas spesies terancam punah yang perlu dilindungi. Mollusca. Hasil dari diskusi kelompok taksa kemudian diangkat dalam pertemuan Workshop Prioritas Penetapan Status Perlindungan II pada bulan November 2012 di Hotel Shantika. PROSES Penyusunan dokumen ini dilaksanakan dengan proses yang bersifat partisipatif yang diikuti oleh ahli/peneliti dan praktisi biologi dan konservasi Indonesia. Para pakar tersebut telah terlibat secara aktif dalam seri Workshop dan Focus Group Discussion yang diadakan di Bogor. baik dari kalangan pemerintah maupun nonpemerintah/Lembaga Swadaya Masyarakat. Jawa Barat. Setiap workshop terbagi menjadi beberapa sesi. Pada wokshop II kedua dihasilkan daftar prioritas spesies terancam punah yang perlu 13 . 1. Fasilitator bertugas memandu proses agar kegiatan berjalan lancar dan efektif tetapi tidak terlibat dalam isi/substansi hasil. Group 2 (Reptil) 3. Group 3 (Crustacea. yang terdiri dari sesi-sesi pemaparan umum. diskusi kelompok.BAB II. Bogor. Proses-proses dalam setiap sesi dipandu oleh fasilitator. para peserta di setiap kelompok taksa diminta untuk mendiskusikan dan merumuskan kriteria spesies prioritas dan menetapkan spesies prioritas (berdasarkan kriteria tersebut) dalam taksa yang bersangkutan.

Bogor. Satwa lain yang tidak berhibernasi akan melakukan 14 . spesies tersebut adalah yang memiliki kriteria : 1. banyak tumbuhan yang tertutup salju dan kebanyakan serangga dalam fase telur atau kepompong yang sulit ditemukan. draft I tersebut dibagikan kepada peserta untuk dimintakan tanggapan dan masukan. Hasil dari workshop II kemudian disusun oleh tim penyusun menjadi sebuah dokumen yang disebut “ Draft Biota Perairan Terancam Punah Di Indonesia : Prioritas Perlindungan”. Karena itu mereka cenderung berpindah tempat mengikuti ketersediaan makanan. Hal ini menyebabkan persediaan makan menjadi terbatas.2. 4. Kerusakan habitat dalam daerah lingkaran jalur makan tahunan tersebut akan mengancam kelangsungan hidup satwa megaherbivora. Pada pertemuan penyusunan dan pembahasan draft dokumen keanekaragaman hayati spesies ikan terancam punah di Hotel Royal . maka keturunan yang sifatnya seragam akan mudah binasa sehingga secara langsung mengancam kelestarian spesies tersebut. METODOLOGI Penentuan prioritas biota perairan yang dilindungi didahului dengan menilai suatu spesies menggunakan “kriteria satwa yang perlu dilindungi” yang disusun oleh Noerdjito & Maryanto (2005) sebagai berikut: A. Perlindungan setiap spesies supaya tidak punah dan tetap dapat hidup di alam. Apabila ada tekanan lingkungan. Migrasi Saat musim dingin tiba. Memiliki sebaran sempit Spesies yang daerah persebarannya sempit cenderung melakukan perkawinan yang sekerabat sehingga keturunannya cenderung seragam. Memiliki populasi rendah atau cenderung turun Kematian individu dari spesies yang memiliki populasi kecil akan menghasilkan prosentase kematian yang besar. 3. Hasil pembahasan draft kemudian disempurnakan dan dicetak dalam sebuah dokumen/buku yang disebut “Biota Perairan Terancam Punah Indonesia : Prioritas Perllindungan” 2. Gerak perpindahan ini biasanya membentuk pola lingkaran jalur pakan tahunan yang bersambung. 2. Spesies yang memiliki populasi minimal 500 individu/kurang dari itu harus segera dilindungi hukum.dilindungi yang telah dideskripsikan. Bersifat megaherbivora Satwa megaherbivora mampu makan sebanyak 30% dari bobotnya.

Tujuannya sama untuk mencari persediaan makanan. Karena itu satwa yang bermigrasi perlu dilindungi 5. Apabila tubuhnya terangkat ke permukaan. Satwa yang menjadi pemasok nutrisi bagi ekosistem goa seperti kelelawar dan burung walet harus dilindungi karena keberadaanya menjadi awal rantai makanan dalam goa. 8. Satwa tersebut sangat beradaptasi dengan kondisi goa yang gelap. Karena itu mereka perlu dilindungi. Memiliki adaptasi rendah terhadap perubahan lingkungan Satwa yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen ekosistem tertentu dengan tujuan bereproduksi/bersarang perlu dilindungi. sehingga rentan terhadap perubahan lingkungan yang kecil. 7. Ada 3 tipe ruaya : Anadromus (dari hulu sungai ke hilir mencapai lautan lepas). Karena itu mereka perlu dilindungi. Katadromus (dari lautan menuju hulu sungai) dan Amphidromus (dari hulu sungai ke hilir dan hanya mencapai pantai). Tujuannya mencari makan dan berkembangbiak. Satwa yang tinggal dan tak pernah keluar dari goa memiliki ciri yang khas seperti tubuhnya tanpa pigmen dan matanya buta. 9. Pemasok energi dan gizi Lingkungan ekstrim seperti dalam goa serta ekosistem laut dalam tidak dapat tembus cahaya matahari. Memiliki ekosistem spesifik Goa adalah contoh ekosistem spesifik. misal oleh jaring/pancing. Satwa yang beruaya juga perlu dilindungi. Ruaya Ruaya pada prinsipnya adalah migrasi yang dilakukan satwa perairan. Migrasi bisa mencapai jarak ribuan km melintasi samudera sehingga rentan akan bahaya. mereka makan dari detritus yang tenggelam dari permukaan. Meski hanya berjarak dekat.migrasi mencari sumber pakan. karenanya mereka sebaiknya dilindungi. Memiliki ekosistem perairan laut dalam Satwa yang hidup di laut dalam terbiasa hidup dengan tekanan air yang sangat besar. 15 . Saat ini satwa laut dalam belum banyak diketahui. maka akan mudah mati oleh perbedaan tekanan air. 6. 10. Migrasi lokal Migrasi juga dilakukan satwa meski hanya berjarak dekat. namun resikonya sama besar sehingga sama-sama perlu dilindungi. karenanya perlu pemasok nutrisi dari luar.

17. 14. 18. Karena itu perlu dilindungi. Stadia juvenile (larva yang morfologinya belum sempurna) yang lama sangat rentan terhadap ancaman lingkungan. Mecapai tingkat dewasa lama Untuk bereproduksi. karena itu perlu dilindungi. Sex rasio terbatas Satwa yang dalam perkawinannya perlu melakukan seleksi pasangan dalam jumlah banyak. satwa perlu mencapai stadia dewasa terlebih dahulu. Fekunditas rendah Beberapa satwa mampu bertelur dalam jumlah banyak. 13. maka apabila ada kematian pada stadia juvenile/muda akan sangat mempengaruhi jumlah populasi. Karena itu satwa yang mencapai tingkat dewasa lama perlu dilindungi. maka perlu waktu lama lagi bagi populasinya untuk melakukan reproduksi. Satwa tersebut hanya ada di Papua saja dengan sebaran 16 . karenanya perlu dilindungi. Mereka akan kehilangan kemampuan reproduksi dan secara langsung mengancam kelestarian spesiesnya. Satwa seperti ini perlu dilindungi. 16. Apabila sang induk mati. Apabila hal ini perlu waktu yang lama. Karenanya perlu dilindungi. namun yang menetas jumlahnya sangat sedikit sehingga disebut memiliki fekunditas rendah. Stadia larva lama Beberapa spesies satwa memiliki metamorfosis dalam siklus hidupnya. hanya 1 individu saja biasanya mereka tidak mau kawin. 15. Memiliki kemampuan bergerak lambat Satwa yang bergerak lambat sangat mudah ditemukan dan ditangkap pemburu. Satwa dengan pola perkawinan seperti ini perlu dilindungi. Bertelur beranak (ovovivipar) Pola reproduksi dengan bertelur sekaligus beranak (ovovivipar) hanya dilakukan oleh spesies satwa tertentu saja. Berpasangan tetap Satwa yang hanya sekali memilih pasangan seumur hidup sangat rentan bila pasangannya tertangkap.11. Masa mengandung anak lama Lama masa mengandung sebanding dengan ukuran tubuh mamalia dan biasanya jumlah anakan sedikit/tunggal. Apabila tidak ada kandidat pasangan lain. meskipun hanya kawin dengan satu pasangan saja. 12.

terbatas. terutama yang sebarannya terbatas di Indonesia.000 km2 (endemik) perlu dilindungi. Sebaran terbatas Semua spesies satwa yang memiliki daerah sebaran < 50. C. maka akan semakin luas pula proses penyebaran biji. Tidak menangkap satwa pada masa perkembangbiakannya. Perannya sebagai pemangsa sangat diperlukan dalam pengendalian keseimbangan ekosistem. Melindungi spesies yang memiliki fungsi mempertahankan keseimbangan dan kelestarian ekosistem : 19. 21. Hanya menangkap satwa (ikan dan reptil) yang telah melewati puncak perkembangbiakannya yang dinyatakan dengan ukuran /lingkar leher. karnivora puncak berperan sebagai pengendali pertumbuhan populasi mangsanya yang biasanya adalah herbivora. karena sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan. Satwa pemancar biji Banyak spesies herbivora yang organ pencernaanya tidak dapat mencerna biji buah yang dimakannya. Pengendali populasi hama atau penyebar penyakit Spesies satwa yang memakan satwa lain yang bersifat hama atau yang berperan sebagai vektor penyakit perlu untuk dilindungi guna mencegah terjadinya ledakan populasi hama atau penyebaran penyakit yang merugikan secara ekonomis. Belum diketahui keuntungan/kerugian mekanisme ini. Karenanya satwa tersebut perlu dilindungi. B. 20. 22. sehingga biji akan keluar bersama kotorannya. 17 . meskipun bukan spesies endemik D. Mengatur supaya spesies yang langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan E. Semakin luas daerah jelajah satwa ini. Melindungi spesies yang berpotensi menghasilkan devisa. Hal ini sangat membantu dalam proses suksesi hutan yang telah rusak. Stabilisator ekosistem Dalam setiap ekosistem. F. Karena itu satwa pemancar biji perlu dilindungi. Karena itu satwa ini perlu dilindungi. Satwa karnivora puncak hanya berbiak pada saat ketersediaan pakan melimpah.

Carcharhinus longimanus Ikan hiu koboy. 1961) Gambar 1.terdapat gurat di antara sirip punggung 4. Carcharhinus longimanus (Sumber : Fahmi. Klasifikasi Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Marga Spesies : Carcharhiniformes : Carcharhinidae : Carcharhinus : Carcharhinus longimanus (Poey.1. biasa ditemukan jauh di lepas pantai atau di dekat pulau-pulau terpencil yang memiliki 18 . Habitat dan Penyebaran Merupakan hiu pelajik-oseanik yang ditemukan pada lapisan permukaan hingga kedalaman 152 meter. ujung sirip berwarna putih pada hiu dewasa (berujung hitam pada juvenil) 3 . IKAN (PISCES) 3. 2011) B. moncong pendek dan bulat melebar (tampak dari arah bawah) C. cucut koboy Oceanic whitetip shark A. Morfologi 1. sirip punggung pertama dan sirip dada sangat lebar dan membundar di ujungnya 2.BAB III.

Di perairan Indonesia tercatat ditemukan di perairan Samudera Indonesia. upaya perlindungan Carcharhinus longimanus sedang dilakukan dengan menyusun KepMen Kelautan dan perikanan tentang perlindungan ikan hiu tahun 2013. Di lain pihak. D. CITES – Appendiks II. 19 . Sebaran spesies hiu ini diketahui sangat luas di seluruh perairan tropis dan subtropis yang bersuhu hangat. Umumnya ukuran ikan yang tertangkap dan didaratkan nelayan adalah ikanikan yang belum dewasa sehingga merupakan ancaman terhadap populasi spesies ikan ini di masa mendatang karena peluang dalam proses berkembangbiakannya menjadi lebih kecil. yaitu nelayan hanya diambil siripnya sedangkan bagian tubuh lainnya dibuang ke laut. Status Di Indonesia. E.paparan yang sempit. Spesies ikan ini merupakan salah satu hasil tangkapan sampingan (bycatch) dari perikanan rawai tuna dan jaring insang tuna. IUCN – Vulnerable. adanya kemungkinan praktek finning. F. Ancaman Upaya penangkapan ikan hiu sudah berlangsung sejak tahun 1980an. Saran Diperlukan adanya peningkatan kesadaran bagi masyarakat nelayan untuk tidak melakukan praktek finning dan melakukan pembatasan ukuran hasil tangkapannya. mulai dari barat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara.

mungsing capil Scalloped hammerhead shark A. sirip punggung pertama tinggi. 3. lebarnya kurang dari sepertiga panjang tubuhnya. agak lancip melengkung. Selat 20 .2. Di perairan Indonesia. sirip punggung kedua pendek. terdapat lekukan dangkal pada bagian tengahnya. 1834) Gambar 2. Morfologi 1. Sphyrna lewini Ikan hiu martil. sebarannya mencakup Samudera Hindia. Klasifikasi Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Marga Spesies : Carcharhiniformes : Sphynidae : Sphyrna : Sphyrna lewini (Griffith & Smith. kepala melebar ke samping. hiu bingkoh. hiu topeng. 4. Habitat dan Penyebaran Merupakan kelompok hiu martil yang biasa ditemukan di perairan paparan benua. tepi kepala bagian depan sangat melengkung. C. 2. mulai dari perairan pantai hingga laut lepas. Sphyrna lewini (Sumber foto: Fahmi. 2011) B. hiu caping.3. hidup di lapisan permukaan semi oseanik pelajik hingga pada kedalaman 275 m. dengan ujung belakang panjang dan bagian tepi yang agak cekung.

IUCN – Endangered. upaya perlindungan Sphyrna lewini sedang dilakukan dengan menyusun KepMen Kelautan dan perikanan tentang perlindungan ikan hiu tahun 2013. adanya kemungkinan praktek finning. yaitu nelayan hanya mengambil siripnya saja sedangkan bagian tubuh lainnya dibuang ke laut. barat dan timur Kalimantan. Umumnya ikan yang tertangkap nelayan di perairan pesisir adalah ikan-ikan anakan (juvenil) sehingga merupakan ancaman terhadap populasi spesies ikan ini di masa mendatang.Sunda. E. Di lain pihak. Ancaman Upaya penangkapan ikan hiu sudah berlangsung sejak tahun 1980an. Status Di Indonesia. D. Laut Cina Selatan. Spesies ikan ini merupakan salah satu hasil tangkapan sampingan (bycatch) dari berbagai alat tangkap yang dioperasikan baik di perairan pesisir maupun perairan lepas. Saran Diperlukan adanya peningkatan kesadaran bagi masyarakat nelayan untuk tidak melakukan praktek finning dan melakukan pembatasan ukuran hasil tangkapan minimumnya. CITES – Appendiks II. Laut Jawa. Sulawesi. 21 . Maluku dan Papua. F.

sirip punggung pertama sangat tinggi. 2006) B. Klasifikasi Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Marga Spesies : Carcharhiniformes : Sphynidae : Sphyrna : Sphyrna mokarran (Ruppel. Sphyrna mokarran (Sumber: White. lebarnya kurang dari sepertiga panjang tubuhnya 2. Sphyrna mokarran Ikan hiu martil.3. hiu topeng. kepala melebar ke samping. 3. et al. bagian depan kepala hampir lurus. dasar sirip anal lebih lebar daripada dasar sirip punggung kedua 22 . mungsing capil Great hammerhead shark A. hiu bingkoh. 1837) Gambar 3. sirip punggung kedua tinggi.3. terdapat lekukan dangkal pada bagian tengahnya.. hiu caping. lancip dan melengkung ke belakang pada ikan dewasa 4. Morfologi 1. dengan ujung belakang yang pendek dan bagian tepi sangat cekung 5.

CITES – Appendiks II. E. Habitat dan Penyebaran Merupakan kelompok hiu martil terbesar yang hidup di perairan pantai dan daerah semi oseanik mulai dari lapisan permukaan hingga kedalaman 80m. D. Status Di Indonesia. IUCN – Vulnerable. 23 . Walaupun tidak banyak data hasil tangkapan untuk spesies ikan ini.C. Selat Sunda dan Laut Cina Selatan. sebarannya mencakup Samudera Hindia. Ancaman Upaya penangkapan ikan hiu sudah berlangsung sejak tahun 1980an. namun adanya praktek finning. turut menyumbang terancamnya populasi ikan tersebut di alam. Di perairan Indonesia. Saran Diperlukan adanya peningkatan kesadaran bagi masyarakat nelayan untuk tidak melakukan praktek finning dan melakukan pembatasan ukuran hasil tangkapan minimumnya. F. upaya perlindungan Sphyrna mokarran sedang dilakukan dengan menyusun KepMen Kelautan dan perikanan tentang perlindungan ikan hiu tahun 2013. Spesies ikan ini merupakan salah satu hasil tangkapan sampingan (bycatch).

sirip punggung kedua pendek. mulai dari lapisan permukaan hingga kedalaman 20 24 . dasar sirip anal dan sirip punggung panjangnya hampir sama. kepala melebar ke samping. Morfologi 1. agak lancip melengkung pada ukuran dewasa. Klasifikasi Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Marga Spesies : Carcharhiniformes : Sphynidae : Sphyrna : Sphyrna zygaena (Linnaeus. 5. C. Sphyrna zygaena Ikan hiu martil.. bagian depan kepala depan sangat melengkung. 3. Habitat dan Penyebaran Merupakan kelompok hiu martil yang hidup di daerah paparan benua dan daerah kepulauan dekat pantai hingga ke arah lepas pantai. sirip punggung pertama tinggi. 4.4. Sphyrna zygaena (Sumber: White. et al. lebarnya kurang dari sepertiga panjang tubuhnya. dengan ujung belakang yang panjang dan bagian tepi agak cekung. 1758) Gambar 4. 2006) B. hiu caping Smooth hammerhead shark A. 2. tidak terdapat lekukan pada bagian tengahnya.3.

Ancaman Upaya penangkapan ikan hiu sudah berlangsung sejak tahun 1980an. Walaupun tidak banyak data hasil tangkapan untuk spesies ikan ini. 2006). Status Di Indonesia. Spesies ikan ini merupakan salah satu hasil tangkapan sampingan (bycatch). E. IUCN – Vulnerable.meter atau lebih (White et al. namun adanya praktek finning. Saran Diperlukan adanya peningkatan kesadaran bagi masyarakat nelayan untuk tidak melakukan praktek finning dan melakukan pembatasan ukuran hasil tangkapan minimumnya. diketahui sebarannya di perairan Samudera Hindia. upaya perlindungan Sphyrna zygaena sedang dilakukan dengan menyusun KepMen Kelautan dan perikanan tentang perlindungan ikan hiu tahun 2013. D. Di perairan Indonesia. 25 . CITES – Appendiks II. F. turut menyumbang terancamnya populasi ikan tersebut di alam..

3. 1935 Gambar 5. Sebaran spesies hiu ini diketahui sangat luas di wilayah perairan Indo Pasifik. posisinya hampir ditengah-tengah bagian sisi kepala 4 pangkal sirip punggung pertama lebih dekat dengan ujung belakang sirip dada dari pada dengan dasar sirip perut 5 warna putih pada bagian perut tidak sampai ke dasar sirip dada C. Di perairan Indonesia. 2011) B. Morfologi 1. Klasifikasi Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Marga Spesies : Carcharhiniformes : Alopiidae : Alopias : Alopias pelagicus Nakamura.. Alopias pelagicus Ikan hiu tikus. hiu monyet. ekor bagian atas hampir sepanjang ukuran tubuhnya 2 bentuk kepala melengkung di bagian antara mata.5. Habitat dan Penyebaran Merupakan spesies ikan hiu oseanik yang hidup di lapisan permukaan hingga kedalaman 152 m (White et al. Pelagic thresher shark A. spesies hiu ini tercatat ditemukan di perairan Samudera 26 . 2006).. Alopias pelagicus (Sumber: Fahmi. tidak terdapat lekukan yang dalam di bagian tengkuk 3 mata agak lebar.

Laut Banda dan Laut Arafura. mulai dari barat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara.Indonesia. F. Penurunan jumlah hasil tangkapan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor seperti jumlah armada penangkapan yang menurun hingga adanya dugaan penurunan populasi. Laut Cina Selatan. Ancaman Alopias pelagicus merupakan salah satu spesies ikan hiu yang umum tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan di dalam perikanan tuna dan pelagis besar. 27 . Laut Sulawesi. terjadi penurunan jumlah hasil tangkapan terhadap spesies ikan hiu ini secara nasional dalam kurun sepuluh tahun (2002-2011) yaitu mencapai 300%. jumlah anak yang dihasilkan sedikit dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai dewasa. Selat Makassar. Secara umum. maka keberadaan populasinya di alam sangat mudah terancam apabila terjadi tangkapan lebih (overfishing). IOTC 10/12. Saran Diperlukan adanya pengawasan terhadap penegakan peraturan perundangan yang sudah dibuat dan peningkatan kesadaran bagi masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap spesies ikan ini. pertumbuhannya lambat. IUCN – Vulnerable. Laut Pasifik. E. Alopias pelagicus sudah ditetapkan sebagai salah satu satwa yang dilindungi sejak tanggal 30 Juni 2012 dengan mengadopsi resolusi Indian Ocean Tuna Comission. D. Karena sifat biologi hiu yang pada umumnya berumur panjang. Status Di Indonesia.

Morfologi 1. 28 . dengan bagian atasnya hampir mencapai bagian atas kepala 4 sirip punggung pertama lebih dekat dengan sirip perut daripada ujung belakang sirip dada 5 warna putih di bagian perut tidak melewati bagian atas dasar sirip dada C.. Bigeye Thresher Shark A. ekor bagian atas hampir sepanjang ukuran tubuhnya 2 bentuk kepala hampir lurus di bagian antara mata.3.6. 1840 Gambar 6. dari lapisan permukaan hingga kedalaman 600 m (White et al. 2006) B. Klasifikasi Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Marga Spesies : Carcharhiniformes : Alopiidae : Alopias : Alopias superciliosus Lowe. terdapat lekukan yang dalam di bagian tengkuk 3 mata sangat besar. et al. 2006). Habitat dan Penyebaran Merupakan spesies ikan hiu oseanik yang hidup mulai dari perairan pantai hingga laut lepas. Alopias superciliosus Hiu lutung. Di perairan Indonesia. hiu pahitan. Alopias superciliosus (Sumber: White..

29 . maka keberadaan populasinya di alam sangat mudah terancam apabila terjadi tangkapan lebih (overfishing). Saran Diperlukan adanya pengawasan terhadap penegakan peraturan perundangan yang sudah dibuat dan peningkatan kesadaran bagi masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap spesies ikan ini. Ancaman Alopias superciliosus diketahui merupakan salah satu spesies ikan hiu yang tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan di dalam perikanan tuna dan pelagis besar. E. Status Di Indonesia. Karena sifat biologi hiu yang pada umumnya berumur panjang. Secara umum telah terjadi penurunan populasi A. F. IOTC 10/12. Alopias superciliosus sudah ditetapkan sebagai salah satu satwa yang dilindungi sejak tanggal 30 Juni 2012 dengan mengadopsi resolusi Indian Ocean Tuna Comission. pertumbuhannya lambat. IUCN – Vulnerable.spesies hiu ini tercatat ditemukan di perairan Samudera Indonesia. mulai dari barat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara. terutama di wilayah perairan Samudera Hindia. D. superciliosus secara global. Laut Sulawesi dan Laut Banda. jumlah anak yang dihasilkan sedikit dan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai dewasa. Laut Pasifik. Selat Makassar.

1798) Gambar 7.7. namun sejak tahun 2009. et al. Klasifikasi Marga Manta sebelumnya diketahui hanya terdiri dari satu spesies (monotipik). 1829 : Manta birostris (Donndorff. 2010) 30 . pari cawang kalung Giant Manta Ray A. Bagi sebagian orang. plampangan. Pari Manta kadang sulit dibedakan dengan kelompok pari yang lain dari Marga Mobula. 2009). Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Sub–Suku Marga Spesies : Myliobatiformes : Myliobatidae : Mobulidae : Manta Bancroft. Manta birostris (Sumber: Last.. Manta birostris Pari manta. Manta alfredi dan manta oseanik (Manta birostris) (Marshall et al. marga tersebut dievaluasi kembali dan diputuskan terdiri dari dua spesies yaitu spesies manta karang.3.

C. upaya perlindungan Manta birostris sedang dilakukan dengan menyusun KepMen Kelautan dan perikanan tentang perlindungan ikan hiu dan pari tahun 2013. Berukuran sangat besar . Bagian atas tubuh berwarna hitam dengan corak-corak putih yang melintang. spesies ikan ini memiliki umur yang panjang. pertumbuhan yang lambat. Saran Diperlukan adanya upaya perlindungan terhadap pari manta dan melakukan upaya-upaya peningkatkan kesadaran masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap spesies ikan ini. Bentuk kepala sangat lebar 2. Letak mulut di ujung/terminal 3. Habitat dan Penyebaran Merupakan ikan pelagis dengan sebaran yang luas di perairan tropis dan perairan hangat subtropis. 31 . Terdapat tonjolan yang mengeras di belakang sirip punggung. CITES – Appendiks II. D. jumlah anak yang dihasilkan hanya satu ekor dalam satu siklus reproduksinya. Tapis insangnya yang bernilai ekonomi tinggi merupakan bagian tubuh yang paling dicari untuk dijadikan bahan baku obat tradisional Cina. F. E. Pari Manta memiliki sifat biologi yang amat rentan terhadap kepunahan apabila populasinya di alam terganggu. Morfologi 1. serta membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai dewasa. Ancaman Manta birostris sering tertangkap oleh jaring insang tuna sebagai tangkapan sampingan ataupun sengaja ditangkap dengan cara ditombak.B. Status Di Indonesia. Sebarannya di Indonesia mencakup perairan Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan dan sekitarnya. lebar tubuhnya dapat mencapai lebih dari empat meter. IUCN – Vulnerable. Tidak terdapat gigi pada rahang bagian atas 4.

Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Sub–Suku Marga Spesies : Myliobatiformes : Myliobatidae : Mobulidae : Manta Bancroft. marga tersebut dievaluasi kembali dan diputuskan terdiri dari dua spesies yaitu spesies manta karang. Manta alfredi Pari manta karang Reef Manta Ray A. Manta alfredi 2009). Manta alfredi (Foto: Darmawan Ahmad. Klasifikasi Marga Manta sebelumnya diketahui hanya terdiri dari satu spesies (monotipik). Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes dan manta oseanik (Manta birostris) (Marshall et al. 2011) 32 .8. namun sejak tahun 2009.3. 1829 : Manta alfredi (Krefft. 1868) Gambar 8.

Sebarannya tidak seluas M. Tapis insangnya yang bernilai ekonomi tinggi merupakan bagian tubuh yang paling dicari untuk dijadikan bahan baku obat tradisional Cina. selatan Jawa. 33 . Morfologi 1. birostris dan cenderung menetap di wilayah perairan tertentu. Habitat dan Penyebaran Umum ditemukan di perairan karang. Letak mulut di ujung/terminal 3. Bagian atas tubuh berwarna hitam dengan corak-corak putih yang melintang. Bentuk kepala sangat lebar 2. gosong karang atau di dekat gunung-gunung karang. Laut Cina Selatan. Ukurannya relatif lebih kecil dibandingkan dengan M. Di Indonesia sering ditemukan di perairan karang yang masih relatif baik dan belum banyak terganggu oleh aktivitas penangkapan. tidak terdapat tonjolan yang mengeras di belakang sirip punggung. spesies ikan ini memiliki umur yang panjang. Bali. Tidak terdapat gigi pada rahang bagian atas 4. Maluku dan Papua. jumlah anak yang dihasilkan hanya satu ekor dalam satu siklus reproduksinya. IUCN – Vulnerable. pertumbuhan yang lambat. F. serta membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai dewasa. dengan ukuran lebar tubuhnya tidak lebih dari empat meter. Saran Diperlukan adanya upaya perlindungan terhadap pari manta dan melakukan upaya-upaya peningkatkan kesadaran masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap spesies ikan ini. Status Di Indonesia. C. Ancaman Manta alfredi kerap tertangkap oleh jaring insang maupun rawai hanyut sebagai tangkapan sampingan ataupun sengaja ditangkap dengan cara ditombak oleh nelayan yang beroperasi di dekat perairan karang. mulai dari perairan barat Sumatera. Pari Manta memiliki sifat biologi yang amat rentan terhadap kepunahan apabila populasinya di alam terganggu. D. E. birostris. CITES – Appendiks II. timur Kalimantan. perairan Sulawesi.B. Laut Banda. upaya perlindungan Manta alfredi sedang dilakukan dengan menyusun KepMen Kelautan dan perikanan tentang perlindungan ikan hiu dan pari tahun 2013. Nusa Tenggara.

3. C. Banggai cardinalfish A. Klasifikasi Filum Kelas Sub Kelas Ordo Sub Kelas Famili Genus Spesies : Chordata : Osteichthyees : Actynoptrerygii : Perciformes :Teleostei : Apogonidae : Pterapgon : Pterapogon kauderni (Koumans 1933) Gambar 9.9. Adrim. tiga garis hitam tepi putih melaui mata. tubuh berwarna putih hingga krem. coral brancing dan anemone (Heteractis crispa) sehingga penyebarannya hanya terbatas di lokasi tersebut 34 . Pterapogon kauderni (Foto: M. awal sirip dorsal hingga sirip ventral dan dorsal 2nd hingga sirip anal. Morfologi Genus Pterapogon dibedakan dengan genus-genus lain dalam family Apogonidae dengan ciri sirip dorsal memiliki 14 duri lunak. Pterapogon kauderni Ikan capungan Banggai. koleksi pribadi) B. Habitat dan Penyebaran Mendiami pantai berpasir yang ditumbuhi lamun (Enhalus acoroides) sedangkan individu muda hidup berkelompok 2-60 ekor berasosiasi dengan bulu babi (Diadema setosum). Sirip caudal berwarna hitam pinggir berspot putih. Sedangkan ciri spesies.

Sebanyak 118. Lunn and Moreau. baik melalui upaya budidaya ataupun pembatasan kuota tangkapan. Saran Diperlukan adanya upaya perlindungan terhadap ikan capungan Banggai dan melakukan upaya-upaya pengelolaan yang lestari terhadap spesies ikan ini. E. Status Di Indonesia.A. 2008).000 ekor setiap bulan atau lebih dari 1 juta ekor setiap tahun diambil dari habitat aslinya dan diperdagangkan (K. Allen. 2000. Ancaman juga berasal dari kerusakan habitat P kauderni. akibat dari kegiatan penangkapan dengan menggunakan bahan peledak dinamit dan cyanide (Vagelli.pada kedalaman hingga 16 m.. 2007). 2003). bahkan informasi terbaru menyebutkan jika spesies ini telah gterdistribusi hingga perairan Bali.. F. Ancaman Kegiatan overfishing serta pengambilan pada semua ukuran menjadi ancaman yang serius akan kelestarian ikan ini. IUCN – Endangered. D. (Allen. A. Sebaran awalnya hanya ada di Kepulauan Banggai. 2004). Terlebih hingga saat ini belum diketahui stok alaminya di alam dan recruitment populasi yang lambat. namun akibat adanya introduksi pada tahun 2000 di perairan Selat Lembeh Bitung Sulawesi Utara dan di Luwuk Sulawesi Tengah (Allen & Donaldson. upaya perlindungan Pterapogon kauderni sedang diupayakan untuk dibuat peraturan perundangan untuk status perlindungannya. 35 .

3. Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Marga Spesies : Rajiformes : Dasyatidae : Himantura : Himantura oxyrhyncha (Sauvage. dan Himantura oxyrhynchus (Sauvage. 1878. Klasifikasi Himantura oxyrhyncha merupakan ikan pari air tawar yang dideskripsikan dari lima spesimen yang tersebar di beberapa museum dunia pada tahun 1878. Bagian perut berwarna putih dengan bagian tepi berwarna kelabu atau kehitaman. dengan tiga spesimen syntype dari Kamboja. 1923). 1878) Gambar 10. warna tubuh bagian punggunya coklat dengan corak berupa spot-spot hitam. ekor panjang seperti cambuk dengan pangkal yang lebar dan 36 . et al. Nama ilmiah awal dari spesies ini adalah Trygon oxyrhynchus Sauvage. Morfologi Bentuk lempeng tubuh oval dengan bagian depan lancip. Himantura oxyrhyncha Pari tutul sungai Longnose Marbled Whipray A.. 1878).10. Himantura oxyrhyncha (Sumber: Last. dengan nama sinonim yang lain adalah Himantura krempfi (Chabanaud. 2010) B.

transportasi dsb) dan adanya usaha penangkapan oleh nelayan terhadap spesies ikan ini baik dijadikan sebagai ikan hias maupun ikan konsumsi. Di Indonesia. Saran Diperlukan adanya upaya perlindungan terhadap pari tutul sungai Himantura oxyrhyncha dan melakukan upaya-upaya peningkatkan kesadaran masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap spesies ikan ini serta perbaikan habitat di sepanjang aliran sungai. D. loging. menyebabkan keberadaan populasinya di alam menjadi sangat terancam. F. E. Habitat dan Penyebaran Hidup di dasar perairan tawar dan estuaria dengan substrat dasar yang lunak dan arus sungai yang tidak kencang. Ancaman Himantura oxyrhyncha merupakan ikan endemik di Kalimantan yang keberadaannya diketahui hanya di aliran Sungai Kapuas dari bagian tengah hingga ke arah muara. et al. kedua mata relatif kecil dan tidak menonjol keluar. C.tidak memiliki selaput kulit pada ekornya. Status Belum dilindungi UU-RI. 37 . spesies ini diketahui hanya ditemukan di daerah aliran sungai (DAS) Kapuas di Kalimantan (Last.. Bagian tengah punggung terdapat sebuah dentikel berbentuk bulatdan terdapat satu baris duri-duri kecil di sepanjang pangkal ekor pada ikan dewasa. 2010). Tingginya aktifitas antropogenik di daerah aliran sungai (pencemaran. IUCN – Endangered.

1982 Gambar 11. Morfologi Bentuk lempeng tubuh membulat. terdapat spot-spot kecil berwarna hitam yang tersebar di 38 . 2010) B.. Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Marga Spesies : Rajiformes : Dasyatidae : Himantura : Himantura signifer Compagno & Roberts.3. bagian punggung berwarna kekuningan atau coklat keabuan dengan bagian tepi berwarna putih.11. Himantura signifer Pari sungai White-edge Freshwater Whipray A. Klasifikasi Himantura signifer merupakan ikan pari air tawar yang dideskripsikan dari spesimen yang diperoleh di Sungai Kapuas pada tahun 1982. Himantura signifer (Sumber: Last. et al.

E. transportasi dsb) dan adanya usaha penangkapan oleh nelayan terhadap spesies ikan ini baik dijadikan sebagai ikan konsumsi terutama sepanjang musim kemarau..bagian punggungnya. Habitat dan Penyebaran Hidup di dasar perairan tawar dengan substrat dasar yang lunak dan arus sungai yang tidak kencang. Ancaman Himantura signifer merupakan ikan pari sungai yang sebarannya sangat terbatas di Kalimantan dan Sumatera. loging. menyebabkan keberadaan populasinya di alam menjadi sangat terancam.duri sengat terdapat di bagian pangkal ekor dan tidak terdapat duri-duri kecil di sepanjang pangkal ekornya. Saran Diperlukan adanya upaya perlindungan terhadap pari tutul sungai Himantura oxyrhyncha dan melakukan upaya-upaya peningkatkan kesadaran masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap spesies ikan ini serta perbaikan habitat di sepanjang aliran sungai. Di Indonesia. F. spesies ini diketahui hanya ditemukan di daerah aliran sungai (DAS) Kapuas di Kalimantan (Last. D. ekor panjang seperti cambuk dengan pangkal yang lebar dan tidak memiliki selaput kulit pada ekornya. Tingginya aktifitas antropogenik di daerah aliran sungai (pencemaran. C. et al. mulai dari daerah hulu hingga pertengahan sungai. Status Belum dilindungi UU-RI. Bagian perut berwarna putih. Sungai Indragiri dan Sungai Musi di Sumatera. kedua mata relatif kecil dan tidak menonjol keluar. 39 . 2010). IUCN – Endangered.

Jawa. 1852) Gambar 12. Himantura polylepis (Sumber foto: Last.. 2010) 40 . Jenis ini sebelumnya dikenal dengan nama H. pari emas Giant Freshwater Whipray A. et al. Last & Manjaji-Matsumoto (2008) akhirnya menvalidasi nama spesies ini sebagai Himantura polylepis (Bleeker.3. namun sebelumnya jenis pari yang sama sudah terlebih dahulu dideskripsikan oleh Bleeker tahun 1852 dengan nama Trygon polylepis berdasarkan spesimen pari yang ditemukan di Sungai Ciliwung. Himantura polylepis Pari raksasa. Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Marga Spesies : Rajiformes : Dasyatidae : Himantura : Himantura polylepis (Bleeker.12. Thailand. Klasifikasi Himantura polylepis merupakan ikan pari yang berukuran besar dan hidup di perairan tawar. 1852) berdasarkan hasil perbandingan setiap holotype dan material lainnya. estuaria dan perairan pesisir. chaopraya Monkolprasit & Roberts. 1990 berdasarkan deskrispsi ikan pari yang ditemukan di sungai Chao Phraya.

Seperti halnya ikan-ikan bertulang rawan lainnya. C. Ancaman Himantura polylepis merupakan ikan pari berukuran besar yang dapat hidup di sungai dan danau. Keberadaannya di sungai-sungai Pulau Jawa diduga sudah mengalami kepunahan karena banyaknya pendangkalan dan alih fungsi lahan dan pembangunan bendungan. D. berwarna polos dan tidak memiliki selaput kulit. Jawa Barat kemudian dipelihara dan bahkan menjadi maskot di Seaworld Jakarta. bagian perut berwarna putih dengan tepi berwarna gelap. Bagian punggung berwarna polos coklat atau keabuan dengan deretan dentikel kecil di bagian tengah. Status Belum dilindungi UU-RI.B. sedangkan ukuran terkecilnya sekitar 40 cm. Di Indonesia. estuaria dan perairan pesisir dengan substrat dasar yang lunak. namun tidak jarang ditemukan pula di perairan pesisir. Kemungkinan spesies ini memiliki kemampuan untuk mentoleransi perbedaan salinitas dan berpindah antara air tawar dan payau (amphidromous). jenis ini ditemukan di beberapa sungai besar seperti Sungai Musi dan Indragiri di Sumatera. selain itu pernah ditemukan pula di pesisir Palabuhanratu Jawa Barat dan pesisir Tarakan. Habitat dan Penyebaran Hidup di dasar perairan tawar. pertumbuhan ikan ini relatif lambat dan jumlah anak yang dihasilkan sedikit. 41 . ekor panjang seperti cambuk. Ukuran ikan ini dapat mencapai lebar hingga 5 meter bahkan lebih. duri sengat terdapat di bagian pangkal ekor dan tidak terdapat duri-duri kecil di sepanjang pangkal ekornya. Sedangkan keberadaannya di sungai-sungai Sumatera dan Kalimantan pun diduga semakin terancam karena belum adanya upaya perlindungan terhadap jenis ikan ini. E. serta di DAS Mahakam di Kalimantan Timur. loging. pendangkalan. IUCN – endangered. Morfologi Bentuk lempeng tubuh membulat dan berujung lancip bagian moncongnya. transportasi) dan adanya usaha penangkapan ikan oleh nelayan baik di perairan sungai maupun pesisir. Ancaman terhadap populasi ikan pari ini adalah dari tingginya aktifitas antropogenik di daerah aliran sungai hingga ke daerah pesisir (pencemaran. kedua mata relatif kecil dan tidak menonjol keluar. yang memungkinkan ikan ini ikut tertangkap karena ukurannya yang besar. Jenis ikan pari ini pernah tertangkap hidup-hidup di pesisir Palabuhanratu.

42 . hingga jumlah populasinya kembali pulih. Saran Diperlukan adanya upaya perlindungan terhadap pari raksasa Himantura polylepis dan melakukan upaya-upaya peningkatkan kesadaran masyarakat nelayan untuk tidak melakukan penangkapan terhadap jenis ikan ini ataupun melepaskannya kembali ke alam apabila tidak sengaja tertangkap.F. pemerintah setempat menutup sebagian Sungai Mekong tempat ikan pari ini biasa ditemukan terhadap seluruh kegiatan perikanan dan kegiatan lain yang dapat mengganggu populasi ikan tersebut di alam. Upaya pelestarian yang dilakukan Thailand untuk mengembalikan populasi jenis ikan ini sekiranya perlu ditiru.

Himantura pareh (Bleeker. pari coklat Round Whipray A. Filum Kelas : Chordata : Chondrichthyes Adapun sinonim dari spesies ini adalah Sub–Kelas : Elasmobranchii Bangsa Suku Marga Spesies : Rajiformes : Dasyatidae : Himantura : Himantura pastinacoides (Bleeker. 1852).3. Himantura pastinacoides (Foto: Fahmi.13. Jenis ini sebelumnya dikenal dengan nama Trygon pareh Blekeer. Klasifikasi Himantura pastinacoides merupakan ikan pari yang hidup di perairan estuaria dan perairan pesisir. koleksi pribadi) 43 . Himantura pastinacoides Pari air. 1852) Gambar 13. 1852 berdasarkan spesimen pari yang ditemukan di perairan Jawa.

berwarna polos dan tidak memiliki selaput kulit. kadang bagian tepinya berwarna keabuan. kedua mata relatif kecil dan tidak menonjol keluar. Ancaman Himantura pastinacoides merupakan ikan pari berukuran sedang yang hidup di perairan pesisir. transportasi) dan adanya usaha penangkapan ikan oleh nelayan baik di perairan pesisir. duri sengat terdapat di bagian pangkal ekor dan tidak terdapat duri-duri kecil di sepanjang pangkal ekornya. Habitat dan Penyebaran Hidup di dasar perairan pesisir dan estuaria dengan substrat dasar yang lunak. Morfologi Bentuk lempeng tubuh membulat dan bagian moncongnya membulat. E.B. kadang di temukan di dekat hutan bakau (mangrove) dan dekat mulut sungai. Bagian punggung berwarna polos coklat atau keabuan dengan deretan dentikel kecil dan sebuah thorn di bagian tengah. Di Indonesia. Saran Diperlukan adanya upaya pengelolaan terhadap usaha perikanan pesisir. Saat ini diduga populasinya telah mengalami penurunan berdasarkan indikasi makin jarangnya jenis ikan pari ini tertangkap oleh nelayan pesisir. C. IUCN – vulnerable. bagian perut berwarna putih polos. sedimentasi. merupakan ancaman terhadap keberlangsungan populasi ikan pari ini di alam. Tingginya aktifitas antropogenik di daerah muara sungai dan perairan pesisir (pencemaran. Sebaran ikan ini sangat terbatas hingga kedalaman maksimal 30 meter dan tidak pernah jauh dari muara sungai. ekor panjang seperti cambuk. Status Belum dilindungi UU-RI. dengan melakukan pembatasan jumlah alat tangkap dan ukuran tangkapannya 44 . jenis ini ditemukan di pesisir Kalimantan. timur Sumatera dan utara Jawa. D. F. terutama pada lokasilokasi dimana pari Himantura pastinacoides ditemukan.

Daerah sebarannya sebenarnya cukup luas. Balantiocheilos melanopterus (Sumber: Wikimedia) 45 . Saat ini populasi spesies ikan ini di alam sudah sulit didapat. Balantiocheilos melanopterus Ikan Balasak. Terinformarsikan di Thailand sudah berhasil memijahkan spesies ikan ini dan banyak dipasarkan di pasar ikan hias Indonesia. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Teleostei (Pisces) : Cypriniformes : Cyprinidae : Balantiocheilos : Balantiocheilos melanopterus (Bleeker 1850) Gambar 14.14. baik di Kalimantan. ikan ini merupakan komoditi perdagangan ikan hias. maka populasi di habitatnya semakin mengkhawatirkan dan sudah sulit didapat. Ridi Hangus Bala Shark Ikan ini dikenal dengan istilah perdagangan ikan hias dengan nama ikan Balashak. Klasifikasi Di dunia. namun karena eksploitasi yang berlebihan. namun di Indonesia hanya dijumpai satu jenis yaitu Balantiocheilos melanopterus. marga Balantiocheilos ada dua spesies. mungkin karena sepintas seperti ikan hiu. A.3. maupun di Sumatra.

IUCN Red List Status : Endangered (EN) E.RI. Kamboja. Morfologi Bentuk badan spesies ini seperti layaknya jenis dari suku Cyprinidae yang telah dikenal masyarakat umum. dan Laos. sirip ekor. Tubuhnya keperakan. jari-jari sirip punggung mengeras dan bagian pinggirannya bergerigi. dan sirip perut berpinggiran hitam. Saran: Segera ditetapkan status perlindungannya secara terbatas oleh Undang-undang Republik Indonesia. Lingkungan habitatnya saat ini banyak tertekan akibat eksploitasi yang berlebihan dan alih fungsi lahan sehingga dapat menurunkan kualitas air sebagai habitat ikan ini. sirip dubur. 46 . Malaya. di bagian kepala mulutnya memiliki bibir bawah tebal menanjang ke arah belakang dan membentuk celah yang menjadi kantung yang membuka kebelakang. tidak bersungut. bibir atas berlekuk-lekuk.). seperti ikan mas (Cyprinus carpio). Nilem (Ostechilus vittatus). Thailand. Borneo. F. karena termasuk ikan hias yang populer. Penyebarannya adalah Sumatra. D.B. Ancaman: Berupa dampak kegiatan perdagangan. sirip punggung. Status : Belum dilindungi Undang-undang . Habitat dan Penyebaran Habitat berupa sungai. Tawes (Barbonymus goionotus. C.

Ikan konsumsi ini secara adat dijadikan status sosial oleh etnis Batak. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Teleostei (Pisces) : Cypriniformes : Cyprinidae : Neolissochilus : Neolissochilus thienemanni (Ahl. soro. misalnya yang paling dikenal masyarakat umum. Neolissochilus thienemanni Ikan Batak Bentuk tubuh spesies ini seperti layaknya anggota suku Cyprinidae lainnya. ikan Tawes (Barbonymus gonionotus) dan Nilem (Ostechilus vittatus). 1993) 47 . ikan dewa atau kancra. Klasifikasi: Sistematika pada ikan ini masih perlu diteliti lebih lanjut. atau ikan semah. bedanya ikan batak ini bibir di rahang bawahnya tidak mempunyai tonjolan berdaging. Penampilan morfologi luar sepintas ikan ini mirip ikan Tor sp.3. A. Neolissochilus thienemanni (Sumber: Kottelat. Jenis ini dikenal dengan istilah ikan Batak.15. seperti ikan mas (Cyprinus carpio). namun spesies ini telah diberi deskripsi secara tentatif dan diakui secara sah. 1933) Gambar 15. pemanfaatannya sebagai ikan konsumsi yang banyak dicari dengan harga yang relatif mahal.

yang menambah kompetitor ikan Batak. Beberapa tahun lalu ditebar pula ikan Bilih Singkarak. Disamping itu. 10 baris pori-pori yang tidak teratur (masing-masingmemiliki tubus yang keras) pada masingmasing sisi moncong dibawah mata. IUCN Red List Status: Critically Endangered (CR) E. Morfologi. Saran: Segera ditetapkan status perlindungannya baik habitat maupun spesies tersebut. Mystacoleucus padangensis di D. Habitat dan penyebaran di Indonesia Habitat berupa Danau dan Sungai. 10 sisik didepan sirip punggung. Toba. Ancaman: Penggundulan hutan dan eksploitasi yang berlebihan dengan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan terutama menggunakan dinamit dan racun.B. mengingat spesies ini endemik pulau Sumatra. Lebar badan 4 kali lebih pendek dari pada panjang standar. Kemudian diaharapkan adanya upaya rehabilitasi habitat dan lingkungannya. penebaran ikan Mujair (Oreochromis spp) bertahun lalu merupakan kompetitor baik pakan maupun ruang bagi ikan ini. F. khususnya hanya ada di danau Toba dan sekitarnya. Penyebarannya adalah Danau Toba. alur dari bagian belakang sampai ke bibir bawah terputus dibagian tengah. Lingkungan disekitar habitatnya banyak dialih fungsikan yang tentu berpengarus terhadap kualitas perairan danau Toba sebagai habitat ikan ini. Indonesia D. 48 . Status : Belum dilindungi Undang-undang-RI. mengingat sebarannya terbatas dan adanya keterancaman. Sumatra. C.

Marga Adrianichthys terdiri dari empat spesies. Spesies ini merupakan anggota dari suku Adryanichthydae yang hanya terdiri dari 2 marga. 1993) 49 . Klasifikasi: Spesies ini merupakan anggota dari suku Adryanichthydae yang beranggotakan marganya kecil. hanya terdiri adri 2 marga. yaitu Adrianichthys dan Oryzias. A. Spesies ini dideskripsi oleh Prof. Dr.3. spesies ini merupakan spesies tunggal dari marga Adrianichthys. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Teleostei (Pisces) : Cyprinodontiformes : Adryanichthydae : Adrianichthys : Adrianichthys kruyti (Weber. yaitu Adryanichthys kruyti.16. A. A. salahsatunya adalah marga dari spesies ini yakni Adrianichthys. poptae dan A. Sulawesi. Adryanichthys kruyti Ikan Paruh Bebek Duck-billed buntingi Ikan ini biasa disebut ikan paruh. Max Carl Wilhelm Weber. Ooporus. Keempat spesies tersebut merupakan jenis endemik di Danau Poso. Adrianichthys kruyti (Sumber: Kottelat. 1913) Gambar 16. roseni.

Bola mata berukuran relatif besar. Status : Belum dilindungi Undang – Undang – RI. moncong relatif panjang dan besar. Habitat dan penyebaran di Indonesia Habitat berupa Danau air tawar. Morfologi Bentuk paruhnya yang sangat unik.16 jari-jari lemah.5 – 8. dengan pH sekitar 7. menyerupai paruh bebek membuatnya sangat berbeda dengan anggota suku lainnya. IUCN Red List Status: Critically Endangered (CR) (A1ae). Saran: Mengingat spesies ini endemik ikan airtawar danau Poso. sisik di sisi tubuh sekitar 75. Sirip punggungnya berjumlah 14 . Sulawesi. 50 . dengan dengan beberapa deret gigi kecil.25°C. Penyebarannya hanya dijumpai di Danau Poso. maka segera ditetapkan status perlindungan baik habitat maupun spesies tersebut. sirip dubur 24 . Jari-jari terakhir pada sirip perut tidak dihubungkan oleh sebuah membran dengan badan. rahang bawah masuk kedalam rahang atas. kerena termasuk komoditi perdagangan ikan hias. Sirip punggung 14 – 17. Ancaman: Berupa perdagangan. selain endemik spesies ini sebarannya terbatas dan adanya keterancaman punah di habitatnya. temperatur sekitar 22°C . D. E.B. C. Badan relatif silinder.5. matanya menyembul di atas bagian punggung dan dapat terlihat dari bawah.25. F.

A. atas betina. maupun bahasa Inggris yang berarti ikan pembawa telur. bawah jantan (Sumber: G Ott 2013) 51 . Maurice Kottelat ini sangat menarik perhatian. Adrianichthys ooporus. Adryanichthys ooporus Ikan Pembawa telur Eggcarrying buntingi Spesies ini merupakan anggota dari suku Adryanichthydae. Nama yang diberikan dalam bahasa latin. Klasifikasi: Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Teleostei (Pisces) : Cyprinodontiformes : Adryanichthydae : Adrianichthys : Adrianichthys ooporus (Kottelat 1990) Gambar 17. karena ikan betinanya membawa telur diluar tubuh yaitu diantara sirip perutnya. Spesies ini dideskripsi oleh Dr.17.3.

D. Saran: Jenis ini endemik dan hanya di danau Poso. E. suhu sekitar 24°C . Ancaman: Berupa perdagangan. Status : Belum dilindungi Undang – Undang – RI. karena termasuk komoditi perdagangan ikan hias. Panjang total maksimal mencapai 8. perlu segera ditetapkan status perlindungan baik habitat maupun spesies tersebut.yaitu sekitar 33-35 % dari panjang kepala.5 cm. Morfologi Tubuhnya gilig memanjang. Berbeda dengan A. IUCN Red List Status: Endangered (E) (A2e). Penyebarannya hanya dijumpai di Danau Poso. C. Sulawesi.B.10.22.29°C.5 cm.5 – 8. F. selain endemik spesies ini sebarannya terbatas dan terancam punah di habitatnya 52 . sisik di sisi tubuhnya sekitar 58-65. sirip anal berkisar 20 . Diameter mata hampir sama dengan panjang moncongnya. Habitat dan Penyebaran Habitat berupa Danau air tawar.5. Semua sirip ditubuhnya berupa jari-jari lemah. pH sekitar 7. rahang atas dan bawahnya hampir sama panjangnya. sirip punggung terdiri dari 8 . namun umumnya panjang standar berukuran 6. kruyti.

Adryanichthys poptae Popta’s Buntingi Spesies ini merupakan anggota dari suku Adryanichthydae yang dideskripsi oleh Prof. A. Dr. Dr. Gambar 18. atas: jantan(foto: Kottelat 1993). Lieven Ferdinand de Beaufort pada tahun 1922.18. Klasifikasi: Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Teleostei (Pisces) : Cyprinodontiformes : Adryanichthydae : Adrianichthys : Adrianichthys poptae (Weber & de Beaufort 1922).3. Spesies in mempunyai beberapa kesamaan dengan kerabatnya A ooporus. bawah: betina (foto: LR Paremti) 53 . MC Wilhelm Weber dan Prof. Adrianichthys poptae.

Panjang total maksimal mencapai 17. IUCN Red List Status: Critically Endangered (CR) (A1ae). sirip anal berkisar 24-27. Sulawesi. pH sekitar 7. F. sisik di sisi tubuhnya sekitar 75-85. C. E. selain endemik spesies ini sebarannya terbatas dan terancam punah di habitatnya 54 . Habitat dan Penyebaran Habitat berupa Danau air tawar. suhu sekitar 24°C . Semua sirip ditubuhnya berupa jari-jari lemah.5 – 8.5. sirip punggung terdiri dari 11-13. Sama halnya dengan A. Diameter mata jelas terllihat lebih kecil dari panjang moncongnya. Status : Belum dilindungi Undang – Undang – RI. rahang atas dan bawahnya hampir sama panjangnya.29°C.B. Morfologi Tubuhnya gilig memanjang. D.yaitu sekitar 33-35 % dari panjang kepala. Telur melekat ditubuh. Ancaman: Berupa perdagangan. karena termasuk komoditi perdagangan ikan hias. Penyebarannya hanya dijumpai di Danau Poso. Saran: Jenis ini endemik dan hanya di danau Poso. perlu segera ditetapkan status perlindungan baik habitat maupun spesies tersebut.1 cm. diantara sirip perut. ooporus.

Rahang bawah lebih pendek dan masuk kedalam rahang atas. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Teleostei (Pisces) : Cyprinodontiformes : Adryanichthydae : Adrianichthys : Adrianichthys roseni (Parenti & Soeroto.19. Bila A ooporus dan A poptae mempunyai rahang atas dan bawah yang relatif sama. Matanya menyembul dari profil kepala bagian atas. Adrianichthys roseni (Sumber: Lynne R Parenti 2004) B. maka spesies ini lebih menyerupai A kruyti yang memiliki rahang atas lebih panjang dari rahang bawahnya. Klasifikasi: Spesies ini merupakan anggota dari suku Adryanichthydae yang beranggotakan marganya kecil. Adryanichthys roseni Rosen buntingi Spesies ini merupakan anggota dari suku Adryanichthydae yang dideskripsi oleh Dr. Semua 55 . 2004) Gambar 19. Lynne R Parenti dan Dr. Bambang Soeroto pada tahun 2004. spesies ini merupakan spesies tunggal dari marga Adrianichthys.3. A. Morfologi Bentuk badan relatif gilig memanjang. namun moncongnya lebih kecil. salahsatunya adalah marga dari spesies ini yakni Adrianichthys. hanya terdiri dari 2 marga. namun rahang atas ini tidak sebesar dan melebar seperti pada A kruyti. Sisik di sisi tubuhnya berkisar antara 63-65.

Panjang standar maksimalnya mencapai 9 cm.siripnya berupa jari-jari lemah. IUCN Red List Status: tidak terevaluasi. karena termasuk komoditi perdagangan ikan hias. Sulawesi. sirip punggung berkisar antara 13-15. Habitat dan Penyebaran Habitat berupa Danau air tawar. perlu segera ditetapkan status perlindungan baik habitat maupun spesies tersebut. F. C. sedang sirip anal 25. Ancaman Berupa perdagangan. Penyebarannya hanya dijumpai di Danau Poso. Status Belum dilindungi Undang – Undang – RI. E. D. selain endemik spesies ini sebarannya terbatas dan terancam punah di habitatnya 56 . Saran Jenis ini endemik dan hanya di danau Poso.

disamakan dengan spesies ikan lainnya dari kelompok suku Gobiidae. Klasifikasi Ikan unik ini merupakan spesies tunggal dari marga Mugilogobius. Sulawesi Filum Kelas Bangsa Sub—bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Teleostei (Pisces) : Perciformes : Gobioidei : Gobiidae : Mugilogobius : Mugilogobius amadi (weber. warna badan hitam.3. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan spesies ini bisa saja suatu saat dimungkinkan untuk didapat kembali. sebarannya endemik danau Poso. 1993) 57 . sebarannya endemik ikan air tawar danau Poso. Sulawesi. A. danau Poso merupakan satu-satunya habitat dari ikan ini. Mugilogobius amadi Ikan Batu Ikan ini biasa juga disebut ikan batu. karena belakangan spesies ini tidak pernah lagi ditemukan di danau Poso.20. Namun paling tidak ini menunjukan dengan jelas spesien ini tergolong spesies terancam punah. Mugilogobius amadi (Sumber: Kottelat. karena kebiasaannya menempel di batu dengan organ tubuhnya berupa sucker. Mugilogobius amadi merupakan spesies tunggal dari marga Weberogobius. 1913) Gambar 20. saat ini spesies ini ada yang menduga telah punah. dan perlu segera dilindungi dengan peraturan perlindungan secara penuh. Panjang standar spesies ini hanya bisa mencapai 120 mm. yang merupakan dua serip perutnya yang menyatu dan berfungsi untuk berpegangan dibatu dalam rangka menahan tubuhnya dari air deras.

Morfologi Badan ikan relatif pipih dan silinder. sirip duri lunak 9-10. 28 – 30 sisik didepan sirip pnggung. Duri keras sirip dubur 1. panjang standar spesies ini bisa mencapai 120 mm. Indonesia. Saran: Mengingat spesies ini endemik ikan air tawar khusus danau Poso. sungut relaif panjang. 58 . Penyebarannya adalah Danau Poso. Sulawesi. Sulawesi. D. mulutnya terminal. F. warna badan hitam. Habitat dan Penyebaran Habitat berupa Danau. Status : Belum dilindungi UU-RI. IUCN Red List Status: Critically Endangered (CR) E. C. Duri keras sirip punggung 7.B. 60 – 65 deret sisik sepanjang sisik badan. maka segera dibuatkan dasar hukum perlindungannya secara penuhdalam Undang-undang Republik Indonesia. duri lunak sirip dubur 10 – 12. Ancaman: Berupa pencemaran dan eksploitasi berlebihan.

AMFIBI DAN REPTIL 4.1. 1926 : Barbourula kalimantanensis Iskandar. Barbourula kalimantanensis Katak Kalimantan Berkepala Pipih Katak Tak Berparu Kalimantan The Bornean Flat-headed Frog A. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Amphibia : Anura : Bombinatoridae : Barbourula Tailor & Noble. Melawi. Iskandar pada tahun 1978 seorang pakar herpetologi dari ITB. Spesimen kedua diperoleh pada tahun 1995 pada lokasi yang sama yaitu Nanga Pinoh. Katak Tak Berparu Kalimantan. Klasifikasi Katak ini dideskripsi oleh Djoko T. Kalimantan Barat. 1978 (Foto: DT Iskandar) 59 . Barbourula kalimantanensis Iskandar.BAB IV. 1978 Gambar 21. berdasarkan spesimen tunggal.

dan sungai telah menjadi rusak parah sebagai akibat dari pengendapan dan juga pencemaran limbah merkuri. Betina mempunyai otot mirip segitiga di kedua sisi kloaka dikenal sebagai claspers anal. lubang hidung di ujung moncong sedikit tertutup kulit. tetapi tidak memiliki tuberkular metatarsal luar. Habitat dan Penyebaran Katak ini hidup dalam perairan tawar yang jernih. E. Pada telapak kaki terdapat bonggol metatarsal dalam. Ujung jari seperti cakram. Kulit punggung berkerut. Kepala sangat pipih.17 oC). kecepatan arus 2 . Saat masih hidup berwarna coklat dengan bintik-bintik hitam. Saran Segera ditetapkan status perlindungan penuh baik habitat maupun spesies tersebut mengingat sebaran yang sangat terbatas dan keterancaman pada habitat. Jari kedua dan ketiga pada tangan hampir sama panjang demikian juga pada jari ketiga dan keempat kaki. dingin (14 . Lengan dan kaki kokoh berselaput penuh mirip dayung.5 m per detik di sungai Kapuas (Kalimantan Barat) dalam area hutan hujan primer. C. Tidak mempunyai baik canthus rostralis maupun lores. Tidak mempunyai glottis dan pembukaan esofagus mengarah langsung ke lambung. Kulit perut halus. dengan tuberkular kecil atau spinula yang terletak di bagian belakang dan lengan. IUCN-Endangered. individu jantan dapat mencapai 66 mm dan betina mencapai 77 mm. Status Belum dilindungi Undang-Undang RI. Rahang atas dan bawah bergigi. Ancaman Habitat ditemukannya spesies ini sekarang sangat terganggu akibat adanya penambangan emas ilegal. F. Disepanjang tepi median jari pertama kaki terdapat kulit tebal.B. Gigi vomer menyerupai sepasang tuberkular dan terletak di atap mulut di belakang koane. Mata terletak di depan samping kepala. Tidak mempunyai paru-paru. D. tetapi tidak memiliki alur circummarginal. Jantan dewasa tidak mempunyai kantung suara. tetapi tidak memiliki tuberkular subarticular. moncong bulat. 60 . Morfologi Katak berukuran sedang. Terdapat lipatan kulit di sepanjang paha dan di sepanjang tibia. Pada telapak tangan terdapat tiga tuberkular metakarpal. Disamping itu juga dipengaruhi oleh pendangkalan perairan akibat deforestasi di hulu.

Green and Wheeler. Bain. Donnellan. Blotto. Drewes. Ujung jemari tumpul. 1863) (Dok. Raxworthy.Faivovich. tidak mencapai setengah. Nussbaum. tunggal.4. Moler. de Sá. Supraorbital dan alur parietal menyatu. Ingerophrynus claviger (Peter. Metatarsal dalam lebih besar daripada metatarsal luar. Jari kaki sedikit berselaput. Channing. di sekujur kulit punggung dan sisi tubuh dipemuhi struktur seperti kutil. Panjang tubuh mencapai 81 mm. Campbell. Wilkinson. Morfologi Perawakan gemuk. Tidak mempunyai lipatan tarsal. Tuberkular subartikular kecil. Lynch.Haas. DT Iskandar) B. 61 . Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga : Chordata : Amphibia : Anura : Bufonidae : Ingerophrynus Frost. 2006 Spesies : Ingerophrynus claviger (Peter. Haddad. Grant. Jari pertama tangan sedikit lebih panjang dari jari kedua tetapi lebih pendek dari jari keempat. Ingerophrynus claviger A. Memiliki sepasang alur parietal dari ujung moncong hingga bagian atas kepala. 1862) Gambar 22. alur parietal menebal ke arah belakang.2.

Status Belum dilindungi Undang-Undang RI. E. D.C. maka spesies ini disarankan untuk dilindungi secara penuh. Ancaman Alih fungsi lahan hutan dan akibat kegiatan logging. 62 . Larva tumbuh dalam aliran berarus lambat di sungai dalam hutan dataran rendah. F. Habitat dan Penyebaran Hidup dalam hutan dataran rendah di provinsi Bengkulu sebelah utara. IUCN–Endangered. Saran Mengingat sebaran yang terbatas dan mendapat ancaman berupa kerusakan habitat dan alih fungsi lahan.

Jari kaki ketiga dan kelima berselaput sampai ke tuberkular subartikuler. beberapa individu memiliki tanda 63 .1843 : Leptophryne cruentata (Tschudi. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Amphibia : Anura : Bufonidae : Leptophryne Fitzinger.3. Leptophryne cruentata Kodok Merah Bleeding toad. (Foto: Mumpuni) B. Kodok Merah. Punggung berwarna hitam dengan bercak merah dan kuning. Kelenjar paratoid kecil sering kali tidak jelas. panjang jantan dewasa dapat mencapai 20-30 mm dan betina dewasa mencapai 25-40 mm. Tidak memiliki alur bertulang di kepala. Fire toad A. 1838). Morfologi Katak berukuran kecil. 1838) Gambar 23.4. Leptophryne cruentata (Tschudi.

Habitat dan Penyebaran Endemik Jawa (baru tercatat di Jawa Barat dan Jawa Tengah). ancaman dan statusnya maka perlu segera ditetapkan status perlindungan penuh baik habitat maupun spesies tersebut. E. Lebak Saat. Hidup di sepanjang sungai berbatu dengan arus cukup deras dan kolam tepi sungai. Cikeris di kawasan TN Gunung Halimun dan Guci di lereng gunung Slamet Jawa Tengah. Bagian bawah berwarna kemerahan atau kekuningan. F. Sejauh ini dijumpai di Cibeureum. Ancaman Berkurang bahkan hilangnya aliran-aliran sungai di daerah pegunungan. C. Ciapus. Saran Oleh karena sebaran dan populasi terbatas. Selabintana dan Curug Luhur di Sukabumi Selatan. D. 64 . Status Belum dilindungi Undang-Undang RI. IUCN–Critically Endangered. Rawa Denok dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango.jam pasir di punggung dengan pinggiran merah dan kuning di tengah-tengah hitam atau ada yang hanya memiliki bercak kuning tersebar di seluruh warna hitam.

Status Belum dilindungi Undang-Undang RI . E. IUCN–Critically Endangered. Permukaan kulit sebelah bawah badan seperti perut.4. 1912 : Ixalus jacobsoni van Kampen. 1848 : Philautus jacobsoni (van Kampen. perut lebih gelap dan paha putih krem. Habitat dan Penyebaran Endemik Jawa dan hanya diketahui dari tipe lokasi yaitu Gunung Ungaran di Jawa Tengah. C.4. Klasifikasi Dideskripsi oleh van Kampen pada tahun 1912. Jari kaki setengah berselaput. 65 . seorang kolektor satwa yang sangat aktif untuk Sumatera dan Jawa sebelum pecah Perang Dunia Pertama. Morfologi Kepala sama ukuran antara panjang dan lebar. Timpanum 1/3 atau 2/5 dari setengah diameter mata. Tumit mencapai ujung moncong. D. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Chordata : Amphibia : Anura : Rhacophoridae : Philautus Gistel. Ancaman Habitat di gunung Ungaran semakin terdesak dengan adanya alih fungsi penggunaan lahan. Nama katak ini didedikasikan untuk Edward Jacobson. Ukuran cakram pada jari tangan luar lebih besar daripada diameter timpanum. Philatus jacobsoni Katak Pohon Jacobson Jacobson’s Tree Frog A. 1912 B. Permukaan kulit punggung halus/licin dengan sedikit tuberkular pada kepala bagian depan. Jarak antar orbital lebih lebar daripada jarak antar kelopak. Punggung coklat violet. Habitat berupa hutan sekunder di Gunung Ungaran. kerongkongan dan paha bergranular. Sejak dideskripsi hingga sekarang belum pernah ditemukan lagi.

Oleh karena itu disarankan untuk dilindungi penuh demikian juga habitat hutan alam (sekunder dan primer) yang masih tersisa di Gunung Ungaran.F. Saran Spesies ini endemik dengan sebaran yang terbatas di Gunung Ungaran dan setelah dideskripsi tidak pernah ditemukan lagi. 66 .

(Foto: J. Painted Terrapin. Perbandingan keping vertebral adalah keping pertama hingga ketiga dan keping 67 .4.5. 1881 Callagur picta Boulenger. Batagur borneoensis (Schlegel & Müller.5 cm. kanan jantan. 1889 Kachuga brookei Bartlett. Morfologi Karapas panjang dewasa dapat mencapai 62 cm sedangkan anakan yang baru menetas berukuran 3. Ciri-ciri yang khas berupa alur-alur hitam yang terdiri atas garis lebar sebanyak 3 buah pada karapas. 1844) : Emys borneoensis Schlegel & Müller. Batagur borneoensis Tuntong. Three-Striped Batagur A. 1844 Batagur borneensis Hubrecht. Kura Semangka Painted Batagur. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Chordata : Reptilia : Testudinata : Geoemydidae : Batagur : Batagur borneoensis (Schlegel & Müller. Kura Semangka. 1895 Gambar 24. Saw-Jawed Turtle. Kiri betina. 1844). Guntoro) B. Jantan dewasa lebih kecil dari betina dengan ekor yang lebih panjang dan tebal.

Status Dilindungi PP 7/1999. individu anak akan tinggal di perairan tawar dan saat dewasa lebih menyukai perairan berair payau di daerah muara-muara sungai besar atau perairan pasang surut air. C. terlihat adanya lunas (keel) pada keping vertebral. Daerah sebarannya di Sumatera dan Kalimantan. D. sedangkan jari kaki belakang berselaput penuh. Jari kaki depan bercakar. Induk betina membuat sarang untuk bertelur di pantai berpasir dan seringkali menggunakan sarang penyu hijau. misalnya di Hutan Lindung Seruway di Propinsi Aceh yang merupakan salah satu habitat peneluran spesies ini. Pada individu anakan. Keping vertebral keempat lebih kecil dari pada keping vertebral ketiga. Ancaman Karena habitat hidupnya kebanyakan di muara-muara sungai besar dan daerah rawa-rawa dekat sungai besar. Panjang keping dada dengan urutan keping abdominal > femoral > pektoral > anal >< humeral > gular. maka seringkali terganggu dengan adanya lalu lintas kapal dan perahu.kelima lebar daripada panjangnya keping. F. E. Lunas ini akan semakin menghilang seiring dengan meningkatnya umur. Saran Berdasarkan ancaman tersebut di atas maka spesies ini perlu dilindungi secara penuh disamping itu juga dicarikan lokasi sebagai kawasan konservasinya. CITES–Appendiks II. Disamping itu ancaman datang dari perdagangan illegal dan pemanfaatan telur. 68 . Habitat dan Penyebaran Umumnya mendiami habitat yang berbeda berdasarkan tingkatan umurnya. bagian dorsum kepala individu jantan berwarna putih dengan keping frontal hingga nostrilnya berwarna merah. Saat musim musim kawin. IUCN–Critically Endangered.

Nama diberikan sebagai dedikasi kepada Dani Gunalen sebagi orang yang mengkoleksi. Chelodina gunaleni Kura-Kura Leher Panjang Gunalen Gunalen’s Longneck Turtle A. Chelodina gunaleni McCord & JosephOuin. Tampak bawah. 1826 : Chelodina gunaleni McCord & Joseph-Ouni. Filum Kelas Bangsa Sub–bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Reptilia : Testudinata : Pleurodira : Chelidae : Chelodina Fitzinger. perisai punggung. D. B. Sumber foto: McCord & Joseph-Ouni. 69 . 2007. Tampak atas. Gunalen’s Longneck Turtle.6. Kura-kura Leher Panjang Gunalen. Tampak samping individu dewasa. Kura-Kura Leher Panjang Gunalen.4. 2007. C. Klasifikasi Dideskripsi oleh McCord dan Joseph-Ouni pada tahun 2007. 2007 Gambar 25. Tampak samping kepala dan leher individu anakan. perisai perut. A.

Peta daerah sebaran Chelodina gunaleni. Kabupaten Mimika. Keping nukhal sekitar 10% panjang perisai punggung. Habitat dan Penyebaran Hidup di rawa-rawa lembah sungai Uta. tidak terdapat lunas. Provinsi Papua (Irianjaya). keping marginal nomor tujuh paling lebar. pada betina dewasa relatif besar. (Sumber: McCord & JosephOuni. Gambar 26. C. Keping marginal pertama sedikit lebih besar daripada keping marginal kedua. Kepala kecil pada individu jantan dewasa. Titik merah menunjukkan lokasi Uta dan Timika.B. Morfologi Panjang karapas mencapai 24 cm. 2007). 70 . Keping punggung tampak membulat. selatan pesisir Papua. Diduga ditemukan di rawa-rawa dari lembah sungai Uta hingga sungai Baliem yang meliputi Kabupaten Mimika dan Asmat. Iris mata kuning. Panjang leher berkisar antara 50-60% panjang perisai punggung. Warna hijau menunjukkan daerah sebaran.

E.D. Ancaman Perdagangan illegal F. lokasi maka 71 . IUCN–Not Evaluated. Saran Mengingat informasi penyebaran yang terbatas dan hanya berdasarkan tipe spesies ini disarankan untuk dilindungi secara penuh. Status Belum dilindungi Undang-Undang RI.

J. Filum Kelas Bangsa Sub—bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Reptilia : Testudinata : Pleurodira : Chelidae : Chelodina Fitzinger. 1994 Gambar 27: A. Karapas berwarna coklat kehijauan. Chelodina mccordi Kura. Deskripsi spesies ini berdasarkaan spesimen yang dikoleksi oleh Dr. 2005). Panjang karapas dewasa bisa mencapai 22 cm atau lebih. Plastron berwarna putih kekuningan. Sebelumnya spesies ini dianggap sebagai Kura-kura berkepala ular New Guinea (Chelodina novaeguineae) yang tersebar luas di bagian barat daya Papua New Guinea dan Papua.7. McCord yang dikoleksi dari pulau Rote (Rhodin 1994 dalam Shepherd & Ibarrondo. 1994). Tampak kepala dari samping. 3. Ten Kate yang disimpan di NMNH serta 6 spesimen dari Dr. 2. Morfologi 1. Chelodina mccordi (Rhodin. terdapat variasi warna karapas yaitu coklat kemerahan. Rhodin pada tahun 1994 sebagai spesies endemik Pulau Rote.kura berleher ular Pulau Rote Rote Island Snake-necked Turtle A. Klasifikasi Pertama kalinya dideskripsi oleh Anders G. 72 .4. (Foto: David Gower) B. pada beberapa individu terkadang terdapat warna coklat muda sepanjang sambungan diantara sisik pada plastron. B. 1826 : Chelodina mccordi Rhodin. William P.

rawa-rawa dan aliran sungai yang sangat terbatas di pulau Rote. Status : Belum dilindungi UU-RI. Habitat dan penyebaran di Indonesia Habitat berupa lahan basah seperti persawahan.Appendiks II E. predasi terhadap anakan kura-kura ini oleh spesies-spesies ikan introduksi (Ibarrondo. IUCN . F. Karena habitat di luar kawasan lindung sebaiknya menyisihkan lahan habitat untuk pemulihan dan perlindungan 73 .4. C. Plastron anakan yang baru lahir terdapat bintik-bintik kuning. Habitat di luar kawasan lindung. D. Ancaman: Berupa perdagangan ilegal. komunikasi pribadi) dan penggunaan bahan kimia di persawahan yang menjadi habitat menyebabkan kematian bagi spesies kura-kura ini. Terdapat bintil-bintil kecil pada permukaan leher. CITES .Critically Endangered . 5. Saran: Mengingat spesies ini endemik pulau Rote dan mendapatkan ancaman dari perdagangan illegal serta polusi perairan yang menjadi habitat maka disarankan untuk dilindungi secara penuh. danau-danau kecil. Spesies ini endemik pulau Rote.

Perisai vertebra berjumlah 5. Status Belum dilindungi Undang-Undang RI. 1990. Karapas berwarna coklat dengan guratan-guratan menyebar. D. Nukhal berbentuk segi empat. Kepala oval. Morfologi Karapas relatif pipih dan panjang mencapai 21 cm. 1990 Gambar 28. Plastron berwarna krem dengan sisik intergular besar. besar dan lebar. C. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Sub–bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Reptilia : Testudinata : Pleurodira : Chelidae : Chelodina Fitzinger. 1826 : Chelodina reimanni Philippen & Grossmann. IUCN–Near Threarened. (Foto: Mumpuni) B. Chelodina reimanni Kura Leher Panjang Reimanni Reimann's snake-necked turtle A.8. 74 . Chelodina reimanni Philippen & Grossmann. Habitat dan penyebaran di Indonesia Saat ini hanya di ketahui dari bagian selatan Papua dan Pulau Kimam.4. yang pertama berukuran paling besar dan lebar sedangkan yang kelima paling kecil. Anakan plastron berwarna oranye.

E. Ancaman Diperdagangkan. baik biologi. perdagangan international perlu ditekan sehingga perlu perlindungan. 75 . ekologi maupun populasinya. F. Saran Belum banyak data yang terungkap. Sebaran yang terbatas.

4. 1995 Heosemys yuwonoi (McCord. Iverson. 2000 : Leucocephalon yuwonoi (McCord. Spinks & Shafer. Iverson dan Boeadi pada tahun 1995 dengan nama Geoemyda yuwonoi. Iverson & Boeadi. 1995) 76 . Spinks & Shafer. Iverson. Nama didedikasikan kepada eksportir satwa yang pertamakali menunjukkan spesies ini. Iverson & Boeadi. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Chordata : Reptilia : Testudinata : Geoemydidae : Leucocephalon McCord.9. Leucocephalon yuwonoi Kura-Kura Hutan Sulawesi Sulawesi Forest Turtle A. Iverson & Boeadi. Klasifikasi Dideskripsi oleh McCord. 1995) : Geoemyda yuwonoi McCord. Pada tahun 2000 oleh McCord. dinyatakan sebagai marga tersendiri yaitu Leucocephalon.

Leucocephalon yuwonoi (McCord. A. C. (Foto: A. Kepala betina dewasa. Betina dewasa. Riyanto) 77 . D. Kura-kura Hutan Sulawesi. Jantan dewasa. Kepala jantan dewasa. B.Gambar 29. Tampak ventral. Anakan. F. 1995). E. Iverson& Boeadi.

CITES–Appendiks II.4 cm (Iskandar. Morfologi Dewasa mencapai 25 cm. Pada perisai punggung terdapat tiga lunas yang memanjang baik pada individu muda maupun dewasa. Habitat dan penyebaran di Indonesia Endemik Sulawesi. kepala berbentuk triangular.5-18. E. Ancaman Sebaran yang endemik dan sempit/terbatas terancam oleh perdagangan illegal baik lokal maupun internasional. Nukhal sangat kecil. C. dengan urutan panjang 2 > 3 > 1 > 4 > 5. substrat pasir dan batu serta kedalaman air dari 15 cm hingga 100 cm. 2000. Betina mulai dewasa pada ukuran panjang karapas 17. Daya reproduksi rendah setahun hanya menghasilkan satu hingga dua butir telur. Derris elliptica. Keping vertebral berjumlah lima. 2006).B. Hidup di daerah hutan dataran rendah (ketinggian sekitar 130 m dpl). Innis. Tampak dari atas. Diplazium esculentum dan Vitis trifolia. terbatas di Sulawesi Tengah dari sekitar Palu hingga perbatasan provinsi Gorontalo. 78 . Perisai perut berwarna lebih terang coklat jingga tanpa bercak. Status Belum dilindungi Undang-Undang RI. bening. Disamping itu faktor internal yaitu daya reproduksi yang rendah. Keping marginal bagian depan dan belakang bergerigi. Urutan panjang keping perisai perut adalah humeral > femoral > abdominal > pektoral > anal > gular. Selaginella plana. Riyanto. berwarna coklat muda. Saat dewasa. pada anakan tepi marginal dengan duri yang sangat dangkal. Rusak bahkan hilangnya habitat akibat deforesasi dimana Sulawesi tingkat deforesisasinya termasuk yang paling besar tinggi dunia serta kepastian keberadaan di kawasan konservasi sebagai asuransi keberlangsungan hidupnya masih perlu verifikasi. IUCN–Critically Endangered. kepala jantan berwarna kuning atau krem dengan bercak hitam di bagian atas sedangkan betina coklat tua dengan bercak putih pada dagu. substrat umumnya pasir berlumpur kadang berbatu dengan vegetasi yang terdiri atas Colocasia esculenta. 2003. Kabupaten Toli-Toli ditemukan pada rawa-rawa kecil dan saluran air diantara perkebunan kopi dan kelapa. Perisai punggung berwarna coklat dengan bercakbercak besar dan kecil tak teratur berwarna coklat tua. Keping gular sangat sempit. Di Bangkir. Pada anakan. D. Perisai perut cembung sehingga keping marginal tidak menyentuh tanah. Alocasia macrorhiza. individu betina dalam setahun hanya mampu menghasilkan telur satu hingga dua butir saja. punggung berwarna abu kehijauan dan perut Warna kepala saat masih anakan baik jantan maupun betina gelap keabu-abuan sehingga sulit dibedakan. dalam sungai dan anak sungai yang berarus.

Saran Dengan pertimbangan endemik dengan sebaran yang terbatas dari sekitar Palu (Sulawesi Tengah) hingga Gorontalo. Disamping itu perlu dilakukan klarifikasi keberadaan di kawasan konservasi atau perlindungan suatu lokasi untuk konservasi spesies tersebut beserta lingkungannya. kerusakan habitat dan daya reproduksi yang rendah serta status kritis oleh IUCN maka spesies ini disarankan untuk dilindungi secara penuh.F. 79 .

Labi-labi Sorak. Pelochelys cantorii Sorak . Bagian plastron berwarna kekuningan. Anakan berwarna coklat orange dengan bercak warna kuning dan ditutupi dengan bintil-bintil dan terdapat lunas di bagian vertebral. Terdapat bintil-bintil tersebar di bagian depan karapas. Serak Cantor's giant softshell turtle A. Indragiri) dan Kalimantan (sungai Berau). Morfologi Karapas berbentuk bulat berwarna kecoklatan. 1864 : Pelochelys cantorii Gray. leher keputihan dengan bercak warna gelap. Mata terletak sangat dekat dengan moncongnya yang serupa corong pendek. Habitat penyebaran di Indonesia Hidup di sungai besar yang berpasir di Sumatera (sungai Siak.4.10. 1864. Kepala dan tengkuk berwarna hijau kecoklatan. Kaki dengan selaput penuh. 1864 Gambar 30. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Chordata : Reptilia : Testudinata : Trionychidae : Pelochelys Gray. 80 . (Foto: Mumpuni) B. panjang mencapai 150 cm. Pelochelys cantorii Gray. C. Ekor pendek.

E.D. Saran Mengingat status dan ancaman yang dihadapi spesies ini perlu dilindungi penuh dan studi biologi beserta ekologinya perlu lebih digalakkan 81 . F. Ancaman Kerusakan habitat akibat perubahan penggunaan lahan maupun penggalian pasir sungai selain itu juga perdagangan illegal. IUCN–Endangered. CITES–Appendiks II. Status Belum dilindungi Undang-Undang RI.

Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Chordata : Reptilia : Testudinata : Trionychidae : Amyda Geoffroy Saint –Hilaire. 1809a : Amyda cartilaginea (Boddaert. Amyda cartilaginea. lubang hidung di ujung. Riyanto). Hidung relatif pendek mengacung ke depan. B. Amyda cartilaginea Labi-Labi Asia Asiatic Softshell Turtle A. (Foto: A. Kepala terkadang dengan bercak kuning. A. benjolan-benjolan mengecil ke arah belakang.11. 1770 Gambar 31.4. Masing-masing anggota gerak dengan tiga jari bercakar/kuku. B. Tepi perisai punggung bagian depan dilengkapi dengan benjolan-benjolan dalam satu atau dua baris. Dewasa. Perisai punggung berwarna cokelat. dari atas tubuh berbentuk oval dan melebar pada bagian belakang. 1770) : Trionyx cartilagieous Boddaert. Jantan mempunyai ekor yang lebih panjang. Labi-Labi Asia. 82 . Morfologi Berperisai lunak (tulang rawan). hijau-cokelat atau kehitaman biasanya terpengaruh oleh warna perairan habitat. ukuran dapat mencapai 83 cm. Anakan.

persawahan. Saran Mengingat spesies ini mempunyai sebaran yang cukup luas dengan habitat yang cukup bervariasi tetapi mendapat ancaman dari perdagangan illegal dan polusi perairan maka spesies ini disarankan untuk dilindungi secara terbatas yaitu dengan mengatur jumlah dan ukuran yang diijinkan untuk ditangkap. Jawa. Daerah persebaran di Indonesia cukup luas meliputi Sumatera dan pulau kecil di sekitarnya. penggunaan bahan kimia di perairan baik langsung maupun tak langsung yaitu dengan membunuh mangsa akan mempengaruhi kelestariannya. adapun jumlah di tiap provinsi setiap tahunnya mengikuti mekanisme kuota tangkap tahunan. E. sungai Palu. bahkan saluran irigasi. Ancaman Eksploitasi cukup besar disertai perdagangan illegal yang disinyalir cukup besar pula. Bali dan Lombok serta introduksi di Sulawesi tepatnya di sungai Gumbasa. Lokasi tangkap di setiap provinsi disarankan untuk dilakukan mekanisme pergiliran setiap dua tahun. D. Ukuran yang diijinkan untuk ditangkap adalah dibawah 5 kg dan diatas 15 kg. Status Belum dilindungi Undang-Undang RI.C. F. 83 . IUCN–Vulnerable. sungai. CITES–Appendiks II. Sulawesi Tengah. Kalimantan. Habitat dan Penyebaran Hidup pada habitat perairan berlumpur baik rawa-rawa.

Cuora amboinensis amboinensis 2.a. Cuora amboinensis lineata Hanya sub spesies C. Cuora amboinensis couro 3. 84 . Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sub–spesies : Chordata : Reptilia : Testudinata : Geoemydidae : Cuora : Cuora amboinensis (Riche in Daudin. Cuora amboinensis Kuya Batok. Cuora amboinensis kamaroma 4. lineata yang tidak terdapat di Indonesia. 1801) : 1.4.12. Kura-kura Patah Dada The Asian Box Terrapin A.

Schoppe.a. C. couro asal Sumatera Barat.Gambar 32. C.a. C. Tampak sisi punggung. C. (Foto: Mumpuni. Cuora amboinensis. kamaroma asal Kalimantan Barat. Riyanto. A. Kura-Kura Batok. amboinensis asal Sulawesi. 2009) 85 . Tampak sisi perut. A.a. E. D. B.

persawahan. Gambar 33. Jawa. Perisai punggung relatif tinggi. Sumber: Schoppe (2009). Ancaman Ancaman lebih disebabkan eksploitasi yang berlebihan (illegal) baik untuk keperluan konsumsi maupun pemanfaatan tempurung. Ciri khas lainya adalah adanya engsel pada bagian dada sehingga perisai perut dapat tertutup sempurna. Maluku. Daerah penyebaran di Indonesia meliputi Sumatera. Perisai perut berwarna putih pucat atau krem dengan bercak-bercak hitam yang lebar. C. Sumbawa dan Timor. E. Iris mata berwarna kuning. Bali. Sebaran Kura Batok (Cuora amboinensis). D. Sulawesi. Natuna. Keping inguinal dan aksilar sangat kecil. Status Belum dilindungi Undang-Undang RI. kolam dan rawa. 86 . IUCN-Vulnerable. Habitat dan Penyebaran Sungai (besar. Kalimantan. Keping anal pada bagian belakang tidak berlekuk. Keping vertebral kedua dan ketiga paling panjang dan keping kostal kedua dan ketiga paling lebar. kecil) dengan arus yang lambat sampai sedang. Morfologi Panjang perisai punggung dapat mencapai 25 cm.B. Apendiks II CITES. Salah satu ciri khas spesies ini adalah garis kuning pada bagian kepala yang mengelilingi tepi bagian atas dan pada bagian pipi. dengan tiga baris lunas.

F. Saran Disarankan untuk dilindungi secara terbatas dengan mengikuti mekanisme kuota yang sudah ada. 87 . Disarankan pula lokasi pemanenan hendaknya dirotasi/digilir setiap dua tahun.

C. kuat. Habitat dan Penyebaran Hidup di daerah rataan terumbu karang (Reef coral). Linnaeus.1. Turbo chrysostomus Keong A. tersebar di perairan Indo-Pasifik Barat dan di Indonesia banyak dijumpai di perairan Indonesia Timur. KEKERANGAN 5. Pada bagian dalam cangkang berwarna kuning dan warna dasar cangkang putih kecoklatan. Cangkang Turbo crysostomuss tampak muka dan belakang (Foto : Mudjiono) B. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Moluska : Gastropoda : Archaeogastropoda : Turbinidae : Turbo : Turbo crysostomuss. Habitat karang mati atau pecahan karang mati (rubber / gravel) di perairan dangkal 88 . Morfologi Cangkang berukuran sedang bisa mencapai 7-8 cm. 1758 Gambar 34.BAB V. permukaan kasar dengan garis garis puntiran yang jelas dan bergranula.

Saran Upaya budidaya dan konservasi habitat.D. Status Belum terdaftar di IUCN Redlist. E. Bisa diusulkan dalam daftar IUCN Redlist 89 . Ancaman Banyak di buru dari alam oleh masyarakat lokal untuk dikonsumsi dagingnya karena rasa yang lezat dan gizi yang tinggi F.

1798. 1758 : Turbo (Turbo) petholatus Linnaeus. Turbo humerosa Smith. Turbo petholatus Turbo permadani Tapestry turban Dideskripsi oleh Linnaeus pada tahun 1758 berdasarkan spesimen dari Barbados. Turbo elegans Philippi. seluk cembung.5 cm. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Moluska : Gastropoda : Archaeogastropoda : Turbinidae : Turbo : Turbo petholatus. tanpa pusar. 1901. Turbo obscura Röding. Mulut cangkang bulat telur. Turbo dinegrata Rôding. 1798. 1847. Cangkang Turbo petholatus tampak muka (Foto : Mudjiono) B. Linnaeus. Morfologi Cangkang cukup besar. dengan inti agak ke pinggir. Turbo euthymi Jousseaume. Panjang cangkang sama/sedikit lebih besar dari lebarnya. 1798. 1881. berbentuk turbinate. Tepi luar mulut cangkang tipis. 1758. Kolumela halus. umumnya 6 cm. Turbo reevei Philippi. 1798. Turbo aruginosa Röding. Sulur cukup besar dan runcing. Tutup mulut cangkang hampir bulat. Turbo cingulata Röding. Permukaan cangkang halus dang mengkilap. 1847. 90 . A. mencapai 8. 1798. sekitar setengah dari panjang cangkang. Lunatica porphyria Röding. bagian dalamnya halus. Gambar 35.5.2.

Permukaan luar tutup mulut cangkang cembung dan halus. Warna dan pola permukaan cangkang bervariasi, dari coklat, merah, oranye dan hijau. Sering dihiasi dengan garis spiral gelap atau garis aksial tipis warna pucat. Bagian dalam mulut cangkang putih perak dengan tepian berwarna kuning, oranye atau hijau. Permukaan luar tutup mulut cangkang mengkilap, berwarna hijau kebiruan di tengah,coklat di pinggir. C. Habitat dan Penyebaran Habitatnya di terumbu karang dangkal dan pantai berkarang pada daerah sublittoral hingga kedalaman 40 cm. Persebarannya di seluruh perairan laut Indonesia.

Gambar 36. Sebaran Turbo petholatus (Sumber : Poutiers, 1998) D. Status Belum terdaftar di IUCN Redlist E. Ancaman Spesies turbo ini mempunyai cangkang yang indah dan mengkilap, corak yang eksotik sehingga banyak diambil orang sebagai koleksi. Populasi di alam sangat kecil (soliter) F. Saran Di usulkan masuk daftar IUCN Redlist

91

5.3.

Chicoreus ramosus Ramose murex

Dideskripsi oleh Linnaeus pada tahun 1758 dengan nama Murex ramosus berdasarkan spesimen dari Phillipina A. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Mollusca : Gastropoda : Neogastropoda : Muricidae : Chicoreous : Chicoreous ramosus (Linnaeus, 1758) : Murex fortispinna François, 1891; Murex frondosus sensu Martini Mörch, 1852; Murex inflatus Lamarck, 1822; Murex ramosus Linnaeus, 1758; Purpura fusiformis Röding, 1798; Purpura incarnata Röding, 1758

Gambar 37. Cangkang Chicoreous ramosus tampak muka (Foto : Mudjiono)

B. Morfologi Cangkang besar, mencapai 33 cm, umumnya 20 cm, berbentuk bulat telur dengan sulur

berbentuk kerucut rendah dan seluk tubuh membesar. Terdapat 3 garis aksial berduri dan 2 simpul berbeda ukuran pada setiap putarannya. Duri-duri tebal mirip daun, relatif pendek dan melengkung, yang terbesar dan terpanjang di sekitar bahu. Mulut cangkang besar, bulat telur dengan celah yang sempit dan dalam pada bagian bawahnya. Sisi luarnya bergelombang, sisi dalamnya halus. Bagian depan sifonal kanal lebar, pendek dan sedikit terbuka, sedikit melengkung dengan 3-4 duri. Warna cangkang abu-abu, duri dan gariss piral coklat/hitam terkadang oranye. Mulut cangkang merah muda) 92

C. Habitat dan Penyebaran Hidup di daerah terumbu karang atau di daerah rataan terumbu dengan dasar karang mati (rubber), Hidup di perairan yang relatif jernih dan bisa mencapai kedalaman 10 meter. Di Indonesia tersebar di daerah terumbu karang, terutama di Indonesia bagian tengah dan Timur. Di dunia tersebar di daerah Indo-Pasifik Barat (Indo-West Pasifik) dari Afrika Selatan,

Madagaskar, Teluk Oman ,Polinesia, Jepang sampai Queensland dan Kalidonia Baru.

Gambar 38. Sebaran Chicoreous ramosus (Sumber : Poutiers, 1998) D. Status Belum terdaftar di IUCN Red List E. Ancaman Spesies keong ini mempunyai cangkang yang eksotik dan indah, sehingga banyak diambil orang sebagai koleksi dan diperdagangkan sebagai cindera mata. F. Saran Diusulkan masuk dalam IUCN Red List

93

5.4.

Syrinx aruanus Terompet Australia Australian trumpet

Dideskripsi oleh Linnaeus pada tahun 1758 dengan nama Murex aruanus berdasarkan spesimen dari Papua New Guinea A. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Mollusca : Gastropoda : Neogastropoda : Melonginidae : Syrinx : Syrinx aruanus (Linnaeus, 1758) : Murex aruanus Linnaeus, 1758; Megalatractus aruanus (Linnaeus, 1758); Murex gigas Born, 1780; Fusus proboscidiferus Lamarck, 1822; Cerithium brazieri Tryon, 1887

Gambar 39. Cangkang Syrinx aruanus tampak muka dan belakang (Foto : Mujiono) B. Morfologi Cangkang sangat besar, dapat mencapai 80 cm, umumnya sekitar 60 cm, berbentuk fusiform dengan sulur berbentuk kerucut yang tinggi dan saluran sifon yang panjang. Puncak dari sulur sangat tinggi, dengan sekitar 5 putaran cangkang. Seluk dari sulur sangat menonjol di 94

sepanjang bahu. Seluk tubuh memipih, terkadang menyudut pada bagian bawah. Seluruh permukaan cangkang dihiasi garis spiral. Periostrakum tebal. Mulut cangkang lebar, bulat telur, halus di kedua sisi dalam dan luar. Tanpa lipatan kolumela. Pusar seperri celah yang memanjang. Bagian depan saluran sifon menyempit dan lurus, terbuka lebar. Warna cangkang kekuningan. Periostrakum coklat C. Habitat dan Penyebaran Habitat di dasar yang berpasir pada daerah intertidal dan sublittoral sampai kedalaman 30 m. Persebaran di perairan Indonesia hanya terdapat pada perairan selatan mulai pulau Bali sampai Papua. Spesies keong ini sudah jarang ditemukan

Gambar 40. Sebaran Syrinx aruanus (Sumber : Poutiers, 1998) D. Status Belum terdaftar IUCN. Belum dilindungi di Indonesia E. Ancaman Spesies keong ini dieksploitasi untuk cangkangya yang berukuran raksasa dan dagingnya. Populasinya terancam karena koleksi cangkang dan perdagangan. Hidup soliter dan populasi sangat kecil serta pertumbuhannya lambat F. Saran Dimasukkan dalam IUCN Redlist : Endangered (EN)

95

Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Moluska : Gastropoda : Archaeogastropoda : Trochidae : Tectus : Tectus pyramis (Born.5. Penyebarannya di seluruh perairan laut Indonesia. 96 . 1778) Gambar 41. Status Belum terdaftar di IUCN Redlist. Habitat dan Penyebaran Habitat di sekitar terumbu karang perairan dangkal sampai kedalaman 10 cm. Morfologi Cangkang berbentuk kerucut. Warna dasar putih kekuningan dan Panjang / tinggi bisa mencapai 15-20 cm C. Mudjiono) B. Cangkang bagian dalam mengkilap.5. Cangkang Tectus pyramis (Foto . tebal (solid). Tectus pyramis Keong A. permukaan agak halus. D.

E. Ancaman Banyak diburu untuk cangkang dan dagingnya. di alam keberadaannya sudah kritis F. Saran Dimasukkan dalam IUCN Red List : Endangered (EN). upaya budidaya dan konservasi 97 .

populasi kecil dan di alam keberadaannya sudah kritis 98 .5. Penyebarannya di seluruh perairan laut Indonesia. Cangkang Trochus conus (Foto : Mudjiono) B. Trochus conus Keong A. C. Status Belum terdaftar di IUCN Red List. Ancaman Banyak diburu untuk cangkang dan dagingnya. Morfologi Bentuk dan ukuran cangkang mirip dengan Trochus niloticus. 1791 Gambar 42. tetapi di sudut kaki kerucut agak membulat (rounded). Habitat dan Penyebaran Habitat di sekitar terumbu karang perairan dangkal sampai kedalaman 10 cm. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Moluska : Gastropoda : Archaeogastropoda : Trochidae : Trochus : Trochus conus Gmelin. E.6. Warna dasar cangkang putih dengan corak strip merah kecoklatan. Spesimen didapatkan di perairan Natuna dalam rangka Ekspedisi Widya Nusantara (E-Win) 2011 D.

F. upaya budidaya dan konservasi 99 . Saran Dimasukkan dalam IUCN Red List : Endangered (EN).

Mulut cangkang persegi. Tepi atas lebih sempit dari tepi bawah. berbentuk gasing dengan sulur yang pipih atau cekung karena mengalami erosi. Conus litteratus Lettered cone Dideskripsi oleh Linnaeus pada tahun 1758 dengan nama Strategoconus litteratus berdasarkan spesimen dari Samudera di Asia A. sempit memanjang dan lebar dan melengkung. dengan benang spiral tipis. Warna cangkang putih dengan 3 garis spiral berwarna kuning sampai oranye pada seluk tubuh dan banyak baris spiral titik –titik berbentuk persegi. mencapai 17 cm. 1810. Seluk sulur cekung dangkal. 1758 : Strategoconus litteratus (Linnaeus. Titik–titik dekat bahu cenderung 100 . 1844. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Specie Sinonim : Mollusca : Gastropoda : Neogastropoda : Conidae : Conus : Conus litteratus Linnaeus. Cucullus pardus Röding. Seluk tubuh mengkilap dan halus.5. cukup besar dan berwarna coklat gelap. 1798. Conus arabicus Lamarck. 1758). Conus grüneri Reeve. permukaannya sedikit cekung pada bagian tengah. Conus moncuri Filmer. Cangkang Conus litteratus tampak muka dan belakang (Foto : Mujiono) B.7. Morfologi Cangkang cukup besar. Bahu cangkang menyudut tajam. 2005 Gambar 43. umumnya 13 cm.

Karena trend populasinya belum dapat diketahui. Habitat dan Penyebaran Habitat pasir kasar di sekitar terumbu karang perairan dangkal sampai kedalaman 10 cm. Mulut cangkang putih mengkilap. Saran Dimasukkan dalam IUCN Red List. Apendiks 2 101 . dengan ujung lingkarnya berwarna coklat/hitam C. Seluk sulur dengan banyak garis warna coklat/hitam. Gambar 44. Ancaman Oleh masyarakat lokal sering diburu dagingnya. Sebaran Conus litteratus (Sumber : Poutiers. 1998) D. sedangkan cangkangnya yang sangat menarik dijadikan hiasan. Ujung depan cangkang berwarna ungu gelap/coklat kehitaman.memanjang ke arah sulur. Status Belum terdaftar di IUCN Red List E. Persebarannya di seluruh perairan laut Indonesia. spesies ini perlu dilindungi untuk pemanfaatan berkelanjutan F.

Conus marmoreus L. 1758 (Foto : Mudjiono) B. 1758 : Conus bandanus Hwass. Morfologi Bentuk luar (morfologi) dari keong genus conus dapat dikenal dari bentuk cangkangnya. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Mollusca : Gastropoda : Neogastropoda : Conidae : Conus : Conus marmoreus Linnaeus. Bentuk umum conus menyerupai kerucut. 1792 Gambar 45.5.. Bagian yang menyempit adalah bagian depan (anterior). Conus marmoreus A. Celah bibir (aperture) merupakan jalan keluar masuknya tubuh organisme pada saat mereka bergerak maupun 102 . sedangkan bagian yang melebar merupakan pangkal cangkang yang merupakan bagian belakang (posterior).8. Dalam keadaan hidup cangkang keong ini ditutupi oleh semacam lapisan tipis seperti membran dan disebut mantel (periostracum).

Karena trend populasinya belum dapat diketahui. Cangkang spesies ini bekisar marmer hitam dengan titik-titik putih. Saran Dimasukkan dalam IUCN Red List 103 . Belum dilindungi di Indonesia E. jenis ini perlu dilindungi untuk pemanfaatan berkelanjutan F. sedangkan cangkangnya yang sangat menarik dijadikan hiasan. C. Ukuran cangkang dewasa dapat bervariasi antara 30 mm dan 150 mm. Persebarannya di seluruh perairan laut Indonesia D. Ancaman Oleh masyarakat lokal sering diburu dagingnya.menghindarkan diri dari bahaya. Habitat dan Penyebaran Habitat di sekitar terumbu karang perairan dangkal sampai kedalaman 10 cm. Status Belum terdaftar IUCN.

Conus gloriamaris Perry. 1798. Cucullus auriger Röding. mencapai 15 cm. 1843. Conus dilectus Gould. 1758). Darioconus textilis osullivani Iredale. Conus concatenatus Kiener. Cucullus gloriamaris Röding. ponderosa Dautzenberg. Conus scriptus Sowerby. 1931. Darioconus textile (Linnaeus. Sulur kecil dan lancip. Conus reteaureum Perry. Conus panniculus Lamarck. mencapai 5/6 panjang total. Conus verriculum Reeve. 1758). Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Mollusca : Gastropoda : Neogastropoda : Conidae : Conus : Conus textile Linnaeus. Seluk tubuh sangat besar. permukaannya rata. 1810. 1798. Cangkang Conus textile tampak muka dan belakang (Foto : Mujiono) B.9. 1845. berbentuk seperti gasing. 104 . Conus textile var. Cucullus auratus Röding. 1850. Morfologi Cangkang cukup besar.5. 1811. 1858. Conus textile Textile Cone A. 1798. Cucullus aurelius Röding. umumnya 10 cm. 1758 : Cylinder textile (Linnaeus. Conus tigrinus Sowerby. 1858. 1798. 1932758 Gambar 46. 1810.

sedangkan cangkangnya yang sangat menarik dijadikan hiasan atau diperdagangkan sebagai souvenir. Persebarannya di seluruh perairan laut Indonesia. Cangkang mengkilap C. Habitat dan Penyebaran Habitatnya di substrat berpasir. garis aksial coklat tua dengan celah diantaranya berwarna lebih muda. spesies ini perlu dilindungi untuk pemanfaatan berkelanjutan. Terdapat pola segitiga berukuran tidak sama yang saling tumpang tindih diantara garis aksial yang rapat. Sebaran Conus textile (Sumber : Poutiers.permukaannya cembung. sengatannya dapat berakibat fatal. 1998) D. Belum dilindungi di Indonesia E. Tepi atas lebih sempit dari tepi bawah. Saran Dimasukkan dalam IUCN Red List 105 . F. Warna cangkang coklat kekuningan. dibawah bebatuan atau bongkahan karang pada daerah intertidal dan sublittoral dangkal sampai kedalaman 10 m. Status Belum terdaftar IUCN. Mulut cangkang persegi. garis pola se tiga berwarna coklat. memanjang dan lebar dan melengkung. Namun oleh masyarakat lokal sering diburu dagingnya. Karena tren populasinya belum dapat diketahui. Gambar 47. Ancaman Spesies ini sangat berbisa.

1798). 1876. Gambar 48. Cangkang Laevistrombus canarium tampak muka dan belakang (Fota : Mujiono) B. 1758 : Strombus canarium Linnaeus. Gallinula gibba Schröter.5. Strombus vanikorensis Quoy & Gaimard. Strombus taeniatus Quoy & Gaimard.10. 1834. 1834. umumnya 6. 1834. 1758. Seluk pada 106 . Morfologi Cangkang cukup besar. mencapai 10 cm. Strombus gibbus Issel & Tapparone-Canefri. Laevistrombus canarium Siput Gonggong Dog conch Dideskripsi oleh Linnaeus pada tahun 1758 dengan nama Strombus canarium berdasarkan spesimen dari Ambon. Strombus isabella Lamarck. berbentuk seperti belah ketupat dengan sulur kerucut tinggi. Strombus taeniatus Quoy & Gaimard. 1788.5 cm. 1822. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Mollusca : Gastropoda : Mesogastropoda : Strombidae : Laevistrombus : Laevistrombus canarium Linnaeus. Maluku-Indonesia A. Laevistrombus turturella (Röding. Bagian tepi mulut cangkang menebal dan melebar.

sulur cekung. Warna cangkang bervariasi. 1998) D. Saran Diusulkan masuk dalam IUCN Redlist. kadang dengan coklat keemasan atau abu-abu metalik pada penebalan tepi luar mulut cangkang dan kalus kolumela pada individu dewasa. Gambar 49. dengan garis aksial jelas berwarna coklat tua. setidaknya pada dua pulau tersebut dan dikendalikan volume perdagangannya untuk kelestarian spesies dan pemanfaatan berkelanjutan. Ancaman Spesies ini banyak dieksplotasi untuk makanan dan hiasan. 2011. Saluran siphon pendek. memiliki rusuk yang tipis. Sebaran Laevistrombus canarium (Sumber : Poutiers. bagian luar mulut cangkang halus dan membentuk seperti sayap. coklat kekuningan atau abu-abu. sayangnya belum diketahui tren populasinya (Nasution & Siska. Viruly. F. Seluk tubuh membulat dan melebar pada bahu. Diupayakan untuk bududaya dan konservasi habitat 107 . Status Belum terdaftar IUCN. Habitat dan Penyebaran Habitat di pantai pasir berlumpur dan dasar yang berganggang pada daerah littoral dan sublittoral sampai kedalaman 55 cm. Di Jawa dan Riau sangat ekstensif dieksplotasi. Karenan itu perlu dilindungi. sangat tebal pada bagian tepi. Mulut cangkang putih. Kolumela halus. C. 2011). Persebarannya di seluruh perairan laut Indonesia. halus kecuali pada beberapa lekuk spiral bagian depan. lebar dan lurus. Belum dilindungi di Indonesia E.

(2003. Sulawesi Selatan. 2007) dikembalikan dalam marga Tylomelania. kemudian direvisi oleh Rintelen dkk.M. Warna cangkang kehitaman atau coklat tua. Spesies ini endemik di danau purba (“ancient”) Danau Matano. Permukaan cangkang memiliki rusuk 108 . Klasifikasi Keong ini pertama kali dideskripsi oleh Sarasin & Sarasin pada tahun 1897 sebagai spesies Melania patriarchalis. lebar cangkang mencapai 38 cm.Marwoto.5.koleksi pribadi) A.walled shell A. Tylomelania patriarchalis Keong danau totol thick. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Mollusca : Gastropoda : Sorbeoconcha : Pachychilidae : Tylomelania Sarasin & Sarasin. sedangkan jumlah seluk (whorls) 4-13. 1897) : Melania patriarchalis Sarasin & Sarasin. Cangkang Tylomelania patriarchalis (Foto: R. 1897 Gambar 50. 1897 : Tylomelania patriarchalis (Sarasin & Sarasin.11. Morfologi Tinggi cangkang mencapai 117 cm.

Hewan lunak nya berwarna hitam dengan bintik – bintik putih. mulai kedalaman sekitar 50 cm sampai kedalaman 40 m (Rintelen dkk. Ancaman • • Diperdagangkan (di eksport ke Eropa) sebagai “keong hias” (dipelihara di akuarium) Penangkapan yang berlebihan untuk dieksport akan mempengaruhi populasi spesies ini. 109 . Habitat dan penyebaran di Indonesia Habitat substrat pasir berlumpur. sementara belum ada kegiatan budidaya. C.tegak dan rusuk lingkar yang saling berpotongan membentuk tonjolan-tonjolan yang berderet tegak beraturan. E. Endemik di Danau Matano. Status Belum dilindungi UU-RI. B. 2007). Saran Mengingat spesies ini endemik di Danau Matano dan ditangkap untuk eksport maka disarankan untuk dilindungi terbatas (diatur dalam jumlah penangkapannya). D.

Jumlah seluk (whorls) 4 – 10. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Mollusca : Gastropoda : Sorbeoconcha : Pachychilidae : Tylomelania Sarasin & Sarasin. koleksi pribadi) B. lebar cangkang mencapai 31 cm.2007) dikembalikan dalam marga Tylomelania. Permukaan cangkang memiliki rusuk tegak dan rusuk lingkar yang saling berpotongan membentuk tonjolan-tonjolan yang berderet melengkung 110 . 1897 : Tylomelania towutensis (Sarasin & Sarasin.M. Cangkang Tylomelania towutensis (Foto: R.5. Warna cangkang kehitaman atau coklat tua. kemudian direvisi oleh Rintelen & Glaubrecht (2003. Klasifikasi Keong ini pertama kali dideskripsi oleh Sarasin & Sarasin pada tahun 1897 sebagai spesies Melania towutensis. Tylomelania towutensis Keong danau zebra thick. Sulawesi Selatan.12. Morfologi Tinggi cangkang mencapai 86 cm. 1897) : Melania towutensis Sarasin & Sarasin.walled shell A. Spesies ini endemik di danau purba (“ancient”) Danau Towuti. Marwoto. 1897 Gambar 51.

F. 2007). 111 . sementara belum ada kegiatan budidaya. (Rintelen dkk. Habitat dan Penyebaran Habitat substrat pasir berlumpur. C. E. mulai daerah dangkal sampai beberapa meter. Saran Mengingat spesies ini endemik di Danau Towuti & Sungai Tominanga dan ditangkap untuk eksport maka disarankan untuk dilindungi terbatas (diatur dalam jumlah penangkapannya). Status Belum dilindungi UU-RI. D. Hewan lunak nya berwarna hitam dengan bintik – bintik putih atau kekuningan. Endemik di Danau Towuti dan Sungai Tominanga.secara beraturan. Ancaman: • • Diperdagangkan (di eksport ke Eropa) sebagai “keong hias” (dipelihara di akuarium) Penangkapan yang berlebihan akan mempengaruhi populasi spesies ini.

merupakan spesies endemik di Danau Mahalona. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Gastropoda : Sorbeoconcha : Pachychilidae : Tylomelania Sarasin & Sarasin. Tylomelania kruimeli Keong danau Thick. Cangkang Tylomelania kruimeli (Foto: R. koleksi pribadi) B.walled shell A. Warna cangkang kehitaman atau coklat tua. 1897 : Tylomelania kruimeli Rintelen & Glaubrecht. Sulawesi Selatan. Jumlah seluk (whorls) 4 – 9. 112 .5. permukaan cangkang memiliki rusuk lingkar yang tidak terlalu tebal.M.13. Morfologi Tinggi cangkang mencapai 69 cm. Klasifikasi Keong ini pertama kali dideskripsi Rintelen & Glaubrecht (2003) . lebar cangkang mencapai 29 cm. 2003 Gambar 52. Ornamen (sculpture). Hewan lunak nya berwarna hitam. Marwoto.

Saran Mengingat spesies ini endemik di Danau Mahalona dan ditangkap untuk eksport maka disarankan untuk dilindungi terbatas (diatur dalam jumlah penangkapannya). belum 113 . sementara ada kegiatan budidaya.C. Endemik di Danau Mahalona. Sulawesi Selatan. mulai daerah dangkal sampai beberapa meter. Ancaman Penangkapan yang berlebihan akan mempengaruhi populasi spesies ini. F. akar pandan. batang pohon mati (hard substrat). (Rintelen dkk. E. Status Belum dilindungi UU-RI. Habitat dan Penyebaran Habitat batuan. D. Dalam IUCN dicatat sebagai spesies yang kritis terancam punah (critically endanger species). 2003).

Jawa Barat. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Gastropoda : Caenogastropoda : Pachychilidae : Sulcospira Troschel. C. A. Sulcospira kawaluensis (Foto: R.14. 114 . lebar cangkang 13 mm. Habitat dan Penyebaran Sungai dengan dasar berbatu dan berpasir. permukaan cangkang halus tidak memiliki guratan – guratan. Jumlah seluk (whorls) 4 – 6. Warna cangkang kehitaman atau kecoklatan seringkali dengan bercak-bercak coklat kemerahan.M. 2012 Gambar 53. daerah Kawalu).5. Marwoto. 1858 : Sulcospira kawaluensis Marwoto & Isnaningsih. Morfologi Cangkang kecil sampai sedang. Endemik Jawa (hanya dijumpai di Tasikmalaya. Keong endemik Jawa. koleksi pribadi) B. tinggi cangkang mencapai 22 mm. Sulcospira kawaluensis Klasifikasi Keong ini pertama kali dideskripsi oleh Marwoto & Isnaningsih (2012) berdasarkan material yang berasal dari daerah Kawalu di Tasikmalaya. Ornamen (sculpture).

115 . hanya di daerah Kawalu. Tasikmalaya. spesies sebaran terbatas hanya di daerah Kawalu. E.namun karena dijumpai terbatas. perlu dilindungi ekosistem sungai di kawasan tersebut. karena dikhawatirkan tingkat pencemaran sungai semakin meningkat bersamaan dengan bertambahnya penduduk dan kawasan industri . Saran Perlindungan ekosistem sungai di kawasan Tasikmalaya.sungai di kawasan Tasikmalaya dan sekitarnya cenderung kualitasnya airnya menurun.D. Tasikmalaya. Ancaman Kondisi sungai. F. dengan adanya polusi dari industri dan rumah tangga. Status Belum dilindungi UU-RI.

1858 : Sulcospira sulcospira (Mousson. Klasifikasi Keong ini pertama kali dideskripsi oleh Mousson pada tahun 1849 dengan nama Melania sulcospira. 1849 Gambar 54. Van Benthem Jutting (1956).. berdasarkan karakter tutup cangkang (operculum) dan morfologi embrionya ternyata termasuk dalam marga Sulcospira. bagian ujung cangkang terkikis. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Mollusca : Gastropoda : Sorbeoconcha : Pachychilidae : Sulcospira Troschel. permukaan cangkang memiliki rusuk lingkar yang semakin jelas pada bagian dasar cangkang. 1849) : Melania sulcospira Mousson. Ornamen (sculpture).15. Cangkang Sulcospira sulcospira (Foto : Frank Köhler. namun pada tahun 2008 . tinggi cangkang mencapai mencapai 23 mm (material type). Kὄhler dkk. 2005) B. Warna cangkang kehitaman atau kecoklatan dengan bercak – bercak berwarna coklat tua. Morfologi Cangkang sedang. Jumlah seluk 6 .5. menguraikan bahwa spesies ini merupakan satu satunya marga Sulcospira di Jawa. Sulcospira sulcospira Keong sawah/ sungai A. merevisi spesies yang sebelumnya disebut Balanochochlis pisum.7. 116 .

Status Diduga telah punah (Kὄhler dkk. D.. Habitat dan Penyebaran Tidak ada keterangan.C.. E. hanya ada material (spesimen type) yang disimpan di Museum Amsterdam dan Museum Paris. 2008). Kὄhler dkk. 1956. Endemik Jawa (van Benthem Jutting. Cagar Alam di Jawa). disuga spesies ini sangat rentan dan tidak mampu hidup di kawasan sungai-sungai tercemar. 2008). Saran Diperlukan survey di kawasan sungai-sungai di Jawa yang masih relatif baik kondisinya (sungai-sungai di kawasan Taman Nasional. 117 . F. namun tidak dijelaskan letak pastinya. Ancaman Kondisi sungai-sungai di Jawa yang umumnya sudah tercemar. untuk memastikan spesies ini masih ada atau sudah punah.

2008 Gambar 55. Klasifikasi Keong ini pertama kali dideskripsi oleh Brot pada tahun 1868 dengan nama Melania pisum. Van Benthem Jutting (1956) memasukkannya dalam marga Balanocochlis . 2008) B. sedangkan Kὄhler & Glaubrecht (2002) menyebutnya sebagai Balanocochlis glans.16. Sulcospira pisum . Sulcospira pisum A. Balanocochlis pisum –van BenthemJutting. 1956. kecil. namun pada tahun 2008 Kὄhler dkk. lebar cangkang 8 mm.5. 2002. permukaan cangkang halus. Glaubrecht. Brinkman.Kὄhler&Glaubrecht. merevisi berdasarkan morfologi dan anatomi dan mengelompokkan sebagai anggota marga Sulcospira. Jumlah seluk (whorls) < 3. tinggi cangkang mencapai 11mm. 1868. Balanocochlis gland [ partim]. Morfologi Cangkang membulat. Ornamen (sculpture). Cangkang Sulcospira pisum sulcospira (Foto : Frank Köhler. Warna cangkang coklat kekuningan. 118 .Kὄhler. 1868) : Melania pisum Brot. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Mollusca : Gastropoda : Caenogastropoda : Pachychilidae : Sulcospira : Sulcospira pisum (Brot.

namun tidak dijelaskan letak pastinya. 119 .. Cagar Alam di Jawa). F. 2008) E. Saran Diperlukan survey di kawasan sungai-sungai di Jawa yang masih relatif baik kondisinya (sungai-sungai di kawasan Taman Nasional. disuga spesies ini sangat rentan dan tidak mampu hidup di kawasan sungai-sungai tercemar. D. Ancaman Kondisi sungai-sungai di Jawa yang umumnya sudah tercemar. Marwoto & Isnaningsih. Endemik Jawa (Kὄhler dkk.. Habitat dan Penyebaran Tidak diketahui. Status Diduga telah punah (Kὄhler dkk.C. 2012).2008. untuk memastikan spesies ini masih ada atau sudah punah.

Marwoto.M. Jumlah seluk (whorls) 4 – 6. Keong ini endemik di Danau Poso. Warna cangkang kehitaman atau abu-abu tua. 1898 sebagai marga dan jenis baru. Ornamen (sculpture). Sulawesi Tengah. permukaan cangkang bergurat – gurat tebal (rusuk tegak). Menara cangkang menyerupai tanduk sehingga dinamakan keong tanduk biri-biri.17. 120 . Klasifikasi Keong ini pertama kali dideskripsi oleh Sarasin & Sarasin. lebar cangkang 13 mm. Habitat dan Penyebaran Habitat perairan danau dengan dasar pasir berlumpur dan ditumbuhi tanaman air. 1898 : Miratesta celebensis Sarasin & Sarasin. Morfologi Cangkang sedang. Sulawesi Tengah.5. tinggi cangkang mencapai 22 mm. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Gastropoda : Basommatophora : Planorbidae : Miratesta Sarasin & Sarasin. 1898 Gambar 56. Tidak memilki tutup cangkang Mulut cangkang di sebelah kiri (sinistral) menyempit dibagian atasnya.biri Ram’s horn snail A. Miratesta celebensis Keong tanduk biri . Cangkang Miratesta celebensis (Foto: R. Endemik Danau Poso. C. koleksi pribadi) B.

Saran Perlindungan terbatas (penangkapan yang diatur karena belum ada usaha budidayanya dan populasi di alam rendah). E. juga perlindungan ekosistem dan habitat di kawasan Danau Poso.D. IUCN – Vulnerable . Ancaman Habitat di perairan Danau Poso yang terpolusi dan pendangkalan. F. 121 . Sulawesi Tengah. Status Belum dilindungi UU-RI. Keong ini juga dieksport sebagai keong hias yang dipelihara di akuarium.

Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Gastropoda : Architaeniglossa : Ampulariidae : Pila Röding. Morfologi Cangkang besar. 1758 Gambar 57. Ukuran cangkang . berwarna kuning kehijauan atau hijau kecoklatan. Terdapat ornamen berupa pita spiral berwarna gelap.79 mm 122 . Isnaningsih. Klasifikasi Keong ini pertama kali dideskripsi oleh Linnaeus pada tahun 1758 dan merupakan keong yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat lokal terutama di Jawa dan Sumatra Meskipun spesies ini menyebar luas di Asia Tenggara.24-60. Cangkang tebal. puncak cangkang umumnya berwarna coklat atau ungu.74 mm. berbentuk bulat dengan sudut puncak 120o.R. Pila ampullacea Keong gondang besar. Cangkang Pila ampullacea (Foto : N. Permukaan cangkang halus.5.1798 : Pila ampullacea Linneaeus. tottan Apple snail A. Seluk berjumlah 5. lebar 42.56-68. tinggi 49.18.25-5. terutama terlihat pada seluk tubuh dan tepat pada garis sutura. koleksi pribadi) B.5. namun keberadaannya di Indonesia saat ini makin berkurang karena terdesak dengan masuknya spesies keong hama Pomacea canaliculata ( keong emas).

kolam. Sulawesi. saluran irigasi.C. Sumatra. (keong 123 . E. Jawa. Sulawesi. danau. F. Kalimantan. Status Belum dilindungi UU-RI. IUCN. least – concern. Kalimantan. Saran Perlindungan ekosistem dan habitat di kawasan perairan rawa dan danau-danau di Sumatra. Ancaman Populasi terdesak dengan masuknya spesies keong invasif Pomacaea canaliculata emas). Sebaran di Jawa. D. Habitat dan Penyebaran Perairan tenang seperti rawa.

Morfologi Cangkang berukuran sedang. dengan sulur yang rendah. Cangkang Pila scutata (Foto: N. koleksi pribadi) B.02-44. Pila scutata Keong gondang kecil Apple snail A. Pada beberapa cangkang dijumpai pita spiral berwarna gelap.30 mm. Puncak cangkang tidak tajam dan berbentuk bulat. Klasifikasi Keong ini pertama kali dideskripsi oleh Housson pada tahun 1848 dan merupakan keong yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat lokal terutama di Jawa dan Sumatra Meskipun spesies ini menyebar luas di Asia Tenggara. berbentuk bulat dengan sudut puncak 115o. Seluk berjumlah 5. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Mollusca : Gastropoda : Architaeniglossa : Ampulariidae : Pila Röding. 1848) : Pila conica Gray. . 1798 : Pila scutata (Housson. lebar 28. pada seluk tubuh. tetapi biasanya terkikis. Isnaningsih. 1828 Gambar 58.5. R.19. coklat. 124 .54-51. Ukuran cangkang. tinggi 33.25-6. Permukaan cangkang halus . atau kuning. namun keberadaannya di Indonesia saat ini makin berkurang karena terdesak dengan masuknya spesies keong hama Pomacea canaliculata ( keong emas).26 mm. berwarna hijau kecoklatan. Cangkang agak tebal.

Saran Perlindungan ekosistem dan habitat di kawasan perairan rawa dan danau-danau di Sumatra. Ancaman Populasi terdesak dengan masuknya spesies keong invasif Pomacaea canaliculata emas). saluran irigasi. kolam. Sebaran di Jawa. Sulawesi. Sumatra. Sulawesi Jawa. E. F. Status Belum dilindungi UU-RI. danau. Habitat dan Penyebaran Perairan tenang seperti rawa. Kalimantan. Kalimantan. D. (keong 125 .C.

20. Morfologi Cangkang berukuran besar . kool Apple snail A. Habitat dan Penyebaran Tidak banyak diketahui . Jumlah seluk 6. 1798 : Pila polita (Deshayes. polita jarang ditemukan. Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Gastropoda : Architaeniglossa : Ampulariidae : Pila Röding. diduga karena populasinya yang rendah. Jenis ini hanya dilaporkan dijumpai di Jawa. tinggi mulut cangkang 50 mm. dan agak transparan. Pangandaran. Surabaya). Tinggi cangkang mencapai sekitar 75 mm.5. namun di Jawa dilaporkan ditemukan di selokan-selokan irigasi. 126 . Madura dan Nusakambangan. Sukalelo. 1830) Gambar 59. Pila polita Keong gondang . jenis P. Klasifikasi Keong ini pertama kali dideskripsi oleh Deshayes tahun 1830. Isnaningsih. mirip dengan cangkang P. Keong gondang Pila polita ((Foto:N. ampullacea namun menara cangkangnya lebih tinggi. Dibandingkan P. sedangkan lebarnya sekitar 60 mm.R. atau di anak-anak sungai yang berdekatan dengan muara ( Cilacap. scutata. Keong ini umum dijumpai di Kamboja dan Cina. koleksi pribadi) B. ampullacea dan P. C.

Saran (keong Perlindungan ekosistem dan habitat di beberapa sungai sekitar muara 127 . Status Belum dilindungi UU-RI. F.D. E. Ancaman: Populasi terdesak dengan masuknya jenis keong invasif Pomacaea canaliculata emas).

Morfologi Batissa violacea B. Epidermis kerang 128 . Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Sub—bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : Veneroida : Corbiculoidea : Corbiculidae Gray. Di bagian luar. 1897 Gambar 60. relatif besar. Batissa violace Pokea A. cangkang kerang mempunyai rusuk-rusuk konsentrik yang cukup meninggi. Gigi kardinal berjumlah tiga dengan gigi tengah terbelah dua. Peralihan dari dorsal ke ke posterior dan dari posterior ke sisi basal membundar pada kerang muda tetapi cenderung menyudut pada kerang dewasa. berbentuk membundar agak memanjang. Ligamen di luar cangkang. Sisi dorsal lurus atau agak cekung di bagian depan apex dan umumnya cembung di belakang. 1853 : Batissa violacea Martens. Sisi anterior meningggi hampir bersamaan dengan sisi basal. Morfologi Cangkang besar dan tebal. 1847 : Batissa Gray. Puncak berada di tengah-tengah atau sedikit ke arah anterior.5.21.

Saran Perlu perlindungan tempat hidupnya dan pengaturan pemanenan karena kerang ini dikonsumsi oleh semua penduduk di sekitar hutan mangrove. tanpa akses sifon ke permukaan. Mereka juga mampu bertahan dalam kondisi kekeringan dalam waktu yang cukup lama dengan hanya mengandalkan air bawah tanah yang masuk melalui celah di bagian anterior cangkang Gambar 61. dasar sungai atau muara. Sebaran Batissa violacea D. C. cangkang berwarna putih dengan sedikit warna ungu di luar garis palial. Terkubur dengan puncak cangkang di bagian bawah dan ujung cangkang muncul di permukaan sedimen dengan ujung sifon keluar sedikit di antara kedua keping. air mengalir. di air tawar dan dan payau. Status Belum dilindungi E.muda berwarna hijau kekuningan. Habitat dan Penyebaran Bagian dalam Hidup dalam lumpur dan pasir. Ancaman Kehilangan habitat karena hidup di hutan mangrove yang semakin berkurang F. kerang tua berwarna coklat kehitaman. 129 . Kerang ini mampu hidup jauh di dalam sedimen lumpur.

C. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Sub—bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : Unionida : Unionidea : Unionidae : Physunio : Physunio superbus Gambar 62. Morfologi Cangkang bersayap. amat gembung. Umbo tinggi. Epidermis berwarna cokelat tua. Gigi kardinal amat panjang. Morfologi Physunio superbus (Foto : Heryanto) B. Rongga umbo amat dalam dan menyudut. Lapisan dalam cangkang kuning keemasan. dua di kiri dan satu di kanan. Sebaran di Sumatera dan Jawa D. pipih dan lengkung. membulat. Gigi lateral juga panjang. Habitat dan Penyebaran Habitat di sungai dan anak sungai. ligamen amat panjang dan tipis. Dinding cangkang cukup tebal walapun lebih tipis di bagian belakang. dengan tiga garis nyata ke sisi posterior. Physunio superbus A. Status Belum dilindungi 130 .5. berbentuk segitiga inequilateral. mengkilat.22. dan iridesen.

Saran pengelolaan pembuangan limbah ke sungai dan penanaman kembali hutan 131 .E. Ancaman Sungai di Jawa dan Sumatera terancam akibat polusi dan pembabatan hutan F.

terdapat garis-garis kerutan radial yang berjalan zig-zag. sedikit mengkilat. melingkar. Cangkang cukup tipis. Morfologi Physunio eximus B. Umbo tidak terlalu besar. Physunio eximius A. Epidermis kuning kehijauan. Permukaan cangkang mempunyai garis tumbuh konsentrik yang halus dengan kerutan-kerutan halus pada arah dorsal.23. Sisi dorsal melingkar sedikit. miring ke arah posterior. dengan tiga garis hijau ke arah posterior. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : Unionoida : Unionidae : Physunio : Physunio eximius (Lea. sedikit 132 . Lapisan cangkang dalam putih kebiruan. 1856) Gambar 63. sedikit menyudut di bagian atas. Ujung anterior lebih tipis lagi. Morfologi Cangkang hampir segitiga. Sisi ventral sedikit melengkung tetapi cenderung lurus. pada peralihan posterior dorsoventral hampir membentuk sudut menyiku yang melengkung ke atas. Sisi posterior rendah yang berakhir pada garis tengah cangkang. inequilateral.5. terdapat sayap pipih di luar batas sisi dorsal. ligamen panjang dan pipih.

Gigi kardinal pipih. Status Belum dilindungi E. dua di kanan dan tiga di kiri. Gigi lateral panjang. dan sedikit melengkung. pipih. dua di belahankanan dan satu di belahan kiri. C. Habitat dan Penyebaran Habitatnya di sungai dan anak sungai. Penyebaran meliputi Sumatra dan Jawa (barangkali Sulawesi) D.iridesen. Ancaman habitat terancam akibat polusi dan pembabatan hutan F. Saran Pengelolaan pembuangan limbah ke sungai dan penanaman kembali hutan 133 .

Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Sub—bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : Unionoida : Unionoidae : Unionoidea : Pseudodon : Pseudodon vondenbuschianus (Lea. inequilateral. Pseudodon vondenbuschianus A.24. Morfologi Pseudodon vondenbuschianus B. Ujung 134 . Sisi posterior terlihat agak berlapis yang berakhir setelah garis tengah cangkang.5. Morfologi Cangkang bulat telur. dindingnya relatif tipis. Umbo nyata terlihat walaupun tidak terlalu tinggi dan cembung. tidak terlalu pipih tidak terlalu cembung. 1840) Gambar 64. Baris besar dorsal hampir lurus atau sedikit lengkung dan meninggi di bagian belakang menjadi semacam sayap.

Kalimantan D. sisi dorsal seperti terputus. Ancaman Perubahan habitat yang umumnya karena pencemaran dan penggundulan hutan F. C. sisi ventral lengkung. Permukaan cangkang hampir halus. Epidermis kuning-cokelat dengan garis-garis yang berwarna gelap pada sisi posterior dan lebih terang pada sisi basal/ventral. Habitat dan Penyebaran Habitat: air tawar seperti rawa. Status Belum dilindungi E. Saran Penghilangan unsur pencemar dan penghutanan kembali 135 .sisi anterior sedikit sempit. sungai dan danau. Sumatera. Sebaran: Jawa. melingkar dan juga membelok ke atas.terlebih lagi pada garis tengah.

Sisi posterior dan anterior membundar. Garis engsel tipis dengan gigi halus. Ancaman Perubahan habitat akibat pembabatan hutan dan polusi F. Sebaran di Indonesia di Sumatera dan Jawa.25. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Sub—bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : Unionoida : Unionoidea : Unionoidae : Rectidens : Rectidens sumatrensis (Dunker. Morfologi Cangkang lonjong panjang. Rectidens sumatrensis A. Status Data deficient E. Permukaan cangkang agak kasar. berwarna kemerahan atau ungu. D. Habitat dan Penyebaran Habitat di Indonesia adalah air tawar misalnya di sungai. dan danau. terdapat garis konsentrik. Morfologi Rectidens sumatrensis (Foto : Heryanto) B. tajam dan sedikit melengkung cenderung lurus di bagian ventral. Agak menyudut pada peralihan dari posterior ke bagian dorsal. dengan bintil-bintil kecil. Epidermis berwarna gelap zaitun atau coklat kehitaman.5. C. Saran Penghutanan kembali dan penghilangan polusi 136 Lapisan nacre di bagian dalam . rawa. Cangkang tidak terlalu gembung. 1852) Gambar 67. panjang sisi posterior dan anterior tidak sama (inequilateral).

Diameter cangkang terbesar berada di tengah sisi ventral agak ke samping ke anterior. Sisi posterior.ventral sampai dorsal pipih membundar sedangkan peralihan anterior sampai dorsal agak menyudut. Morfologi Contradens contradens B. membentuk semacam sayap. 1838) Gambar 68.26. Contradens contradens Kijing A. sedikit menggembung. Morfologi Cangkang berbentuk bundar telur memanjang. Cangkang kerang muda tipis dan transparan dengan warna hijau 137 . Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Sub—bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : Unionoida : Unionoidea : Unionidae : Contradens : Contradens contradens (Lea.5.

berwarna hijau kekuningan. Habitat dan Penyebaran Habitat kerang ini adalah di lumpur di sungai. Apex berada pada ¼ sampai ⅓ dari panjang cangkang. C.kebiruan cerah sedangkan cangkang kerang dewasa sedikit tebal dengan warna hijau ke kecoklatan. Umbo sedikit besar. Sebaran di Indonesia adalah di Jawa. kolam. Cangkang di bagian luar mempunyai garis konsentrik. pada cangkang kerang dewasa biasanya terkikis. Saran Perbaikan kondisi habitat. Sebaran Contradens contradens D. Ancaman kehilangan habitat karena pencemaran sungai dan danau. Status Kurang mendapat perhatian E. danau. Sumatera Gambar 69. Kalimantan. Cangkang mempunuai 2 gigi kardinal dan 2 gigi lateral. Ligament agak panjang dan tipis. termasuk hutan di bagian hulu perairan 138 . F.

Habitat dan penyebaran di Indonesia Habitat di air tawar. Ujung sisi posterior dengan sisi ventral membentuk sudut yang tajam melingkar. Morofologi Contradens ascia verbeeki (Foto : Heryanto) B. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Sub—bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : Unionoida : Unionoidea : Unionidae : Contradens : Contradens ascia verbeeki (Martens. Status Belum dilindungi 139 .5. 1897) Gambar 70. Gigi lateral anterior pendek dan kasar sedangkan gigi lateral posterior memanjang dan sedikit lengkung.27. Peralihan dorsal dan posterior. Posterior memanjang berhaluan dengan sisi yang tabel. Contradens ascia verbeeki A. terdapat sudut tumpul . C. agak gembung dengan rusuk yang tinggi pada permukaannya. Cangkang kanan dengan satu gigi kardinal. Gigi kardinal kecil. Anterior amat lengkung. tidak jauh dari ligamen yang mendatar. Sebarannya Sumatera (Danau Singkarak) D. Morfologi Cangkang lonjong. cangkang kiri mempunyai dua gigi yang miring. Ventral cukup cembung.

E. Ancaman perubahan habitat akibat pencemaran dan pelumpuran akibat penggundulan hutan F. Saran

Ppenghilangan unsur pencemar dari perairan dan penghutanan.

140

5.28.

Contradens semmelinnki laticeps

A. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Sub—bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : Unionoida : Unionoidea : Unionidae : Uniandra : Contradens semmelincki laticeps (Martens, 1900)

Gambar 71. Morofologi Contradens ascia verbeeki (Foto : Heryanto) B. Morfologi Cangkang bulat lonjong, padat, bergaris-garis konsentrik. Periostracum cokelat, anterior Umbo

melingkar, posterior memanjang berhaluan, seperti sudut terpotong dan memutar .

cukup besar dan cukup menonjol, berada di 1/3 dari garis longitudinal. Peralihan antara dorsal dengan anterior dan posterior mendatar dan menipis, sisi posterior menurun, sementara sisi ventral sedikit lengkung. Gigi kardinal tidak besar. Bagian dalam cangkang berwarna putih kebiruan sedangkan di bagian umbo berwarna sedikit jingga

141

C. Habitat dan Penyebaran Habitat di sungai. Sebaran di Sumatera dan Kalimantan D. Status Belum dilindungi E. Ancaman Penurunan kualitas air sungai di habitat kerang ini karena penambangan pasir dan batu (galian C) serta pengurangan debit air sungai F. Saran

Penghentian penambangan galian C dan penghutanan kembali

142

5.29.

Corbicula celebensis

A. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : : Cyrenidae : Corbicula : Corbicula celebensis

B. Morfologi Cangkang berbentuk lonjong atau segitiga lebar, tanpa garis besar yang menyudut. Cangkang menggembung. Umbo besar, menonjol, mengarah ke bagian anterior. Periostracum berwarna kuning sampai cokelat, mengkilat. Warna cangkang bagian dalam biasanya putih bernuansa kebiruan, dengan pola-pola warna ungu pada gigi lateral. Cangkang bagian luar dihiasi dengan rusuk konsentrik yag kasar dan berjauhan satu dengan lainnya (8-11 rusuk per cm). Puncak rusuk biasanya bergelombang dan tidak tajam. Bidang engsel relatif sempit, gigi kardinal kecil, gigi lateral panjang dan melengkung. C. Habitat dan Penyebaran Sebaran di Indonesia adalah di Sulawesi, Lombok, dan Jawa D. Status : Tidak diketahui E. Ancaman Penangkapan dan kehilangan habitat akibat pelumpuran akibat penebangan hutan F. Saran

Pengaturan penangkapan dan penghutanan kembali

143

5.30.

Corbicula matannensis

A. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : : Cyrenidae : Corbicula : Corbicula matannensis

Gambar 72. Morfologi Corbicula matannensis B. Morfologi Cangkang berupa jajaran genjang pada kerang dewasa, dan lingkaran pada kerang muda. Arah posteroventral menyudut tumpul. Periostracum berwarna kuning muda sampai ungu tua pada kerag muda sedangkan kerang dewasa berwarna hitam. Cangkang bagian dalam putih dengan warna ungu pada bagian tepi. Rusuk konsentrik amat jelas, puncaknya tajam, tersusun rapat . Bidang engsel biasanya lebar, gigi kardinal lebar, gigi lateral lurus. C. Habitat dan Penyebaran Habitat di air tenang. Sebaran di danau-danau Matano, Mahalona dan Towuti. D. Status Tidak diketahui E. Ancaman Penebangan kayu hutan di sekeliling danau F. Saran

Penghentian penebangan kayu hutan di sekeliling danau

144

walaupun pada kerang mudaseringkali berwarna kekuningan. Sisi posterior seperti terpotong. Ancaman Eutrofikasi yang diakibatkan oleh polusi limbah dan pupuk F.31. Rusuk pada cangkang luar kecil berjumlah 25-30 per cm. danau). sementara pada kerang tua sudah tidak terlihat lagi karena terkikis. Morfologi Cangkang segitiga atau jajaran genjang. Morfologi Corbicula matannensis B. Status Terancam dan belum dilindungi E. Sulawesi D. Bidang engsel cukup lebar. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : : Cyrenidae : Corbicula : Corbicula possoensis Gambar 73. sering kali dengan lunas tumpul pada ujung posterior. Habitat dan Penyebaran Habitatnya di air tawar (sungai.5. berwarna potih pada kerang muda. rawa. Gigi kardinal besar. Periostracum mengkilat. Cangkang bagian dalam berwarna ungu. Corbicula possoensis A. Umbo agak maju. C. Saran 145 Perbaikan sistem pembuangan limbah . sedangkan gigi lateral kecil. Perostracum berwarna ungu tua sampai hitam. Kerang ini endemik di Danau Poso.

Anterior cembung. bagian luar cangkang hitam. Morfologi Cangkang segitiga-bulat telur. agak lengkung C. Morfologi Corbicula subplanata (Foto : Heryanto) B. dengan satu sama lain jarak tidak sama.5. bagian dalam berwarna kelabu-biru walau di bagian posterior kehitaman. Status tidak diketahui 146 . Habitat dan Penyebaran Habitat di Sungai. posterior berlunas melingkar. berwarna ungu pucat. Penyebarannya di Sulawesi D. rusuk konsentris agak mendatar. tidak terlalu pipih. Corbicula subplanata A. lengkungan ventral tidak terlalu besar. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : : Cyrenidae : Corbicula : Corbicula subplanata Gambar 74. sisi peralihan antara anterior dan superior mempunyai kemiringan yang tidak sama. gigi lateral anterior dan posterior berukuran hampir sama.32.

Ancaman Pencemaran limbah domestik dan eutrofikasi F. Saran Manajemen danau dan sungai yang lebih baik 147 .E.

rawa. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : : Cyrenidae : Corbicula : Corbicula linduensis Gambar 75. berada di tengah. danau). C.33. Bidang engsel cukup lebar. Status Tidak diketahui E. dengan sudut posteroventral melingkar. Sebaran kerang ini di Sulawesi D. Periostracum Umbo berwarna kuning sampai cokelat. Warna bagian dalam cangkang putih atau ungu. Saran Perbaikan sistem pembuangan limbah 148 . kecil dan rendah.5. Corbicula linduensis A. Permukaan luar cangkang dihiasi oleh rusuk-rusuk pendek yang berjarak jaun antar rusuk (10-12 rusuk per 1 cm). Morfologi Cangkang lonjong memanjang. Morfologi Corbicula linduensis B. gigi lateral relatif pendek dan lurus. Lipatan-lipatan kecil terlihat berada di antara rusuk tersebut. . gigi kardinal kecil-kecil.Ancaman Eutrofikasi yang diakibatkan oleh polusi limbah dan pupuk F. Habitat dan Penyebaran Habitatnya di air tawar (sungai.

Habitat dan Penyebaran Habitat di air tenang. Corbicula moltkeana A. Morfologi Corbicula moltkeana B. Bidang engsel cukup lebar. Periostracum berwarna kuning. Gigi kardinal cukup berkembang. tetapi tidak menonjol. C. Status : Tidak diketahui E. lurus atau sedikit lengkung. hijau tua atau coklat tua kehitaman. Garis-garis konsentrik tidak mempunyai jarak yang tetap. posisi di tengah atau sedikit ke anterior. Saran Penghentian penebangan kayu hutan di sekeliling dana 149 . sudut posteroventral tumpul. berjumlah 9-12 garis/ cm2. mengkilat. D. Mahalona dan Towuti. gigi lateral anterior padat. Klasifikasi Filum Kelas Suku Bangsa Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : Cyrenidae : : Corbicula : Corbicula moltkeana Gambar 76. Sebaran di danau-danau Matano.34. Puncak sempit. Morfologi Cangkang biasanya berbentuk segitiga atau trapesium. Sisi posterior seperti yang terpotong.5. Ancaman Penebangan kayu hutan di sekeliling danau F. Dari puncak (umbo=paruh) sampai ke bagian terpanjang memipih.

. gigi lateral anterior padat.5. Puncak sempit. bagian terpanjang memipih. Bidang engsel cukup lebar. Garis-garis konsentrik tidak mempunyai jarak yang tetap. lurus atau sedikit lengkung. Habitat dan Penyebaran Sebaran di Indonesia adalah di Sumatera D. berjumlah 9-12 garis/ cm2. Dari puncak (umbo=paruh) sampai ke Sisi anterior membulat dan posterior seperti yang terpotong. Morfologi Corbicula tobae B. posisi di tengah atau sedikit ke anterior. Bagian dalam cangkang berwarna putih keunguan. Corbicula tobae A. Status Tidak diketahui 150 . Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : : Cyrenidae : Corbicula : Corbicula tobae Gambar 77. Gigi kardinal cukup berkembang. Periostracum berwarna kuning. hijau tua atau coklat tua kehitaman. C. mengkilat. tetapi tidak menonjol. Morfologi Cangkang biasanya berbentuk segitiga membulat.35.

E. Saran Penghutanan kembali daerah-daerah gundul 151 . Ancaman Perubahan habitat akibat penggundulan hutan F.

Status Tidak diketahui 152 . tanpa sudut sama sekali. dan Sulawesi D. sedangkan pada kerang dewasa puncak cangkang bergeser ke arah posterior. Terdapat sayap kecil di bagian peralihan dari dorsal ke anterior. Warna epidermis kuning coklat kehijauan dengan nuansa lebih muda di cangkang bagian ventral. kolam. Morfologi Corbicula javanica (Foto : Heryanto) B. Sebaran di Indonesia adalah di Sumatera. cangkang equilateral. Corbicula javanica A. Cangkang bagian luar bergaris konsentrik yang kasar dan cukup tinggi berjumlah sekitar 8-11 garis per 1 cm. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Mollusca : Bivalvia : : Cyrenidae : Corbicula : Corbicula javanica Gambar 78. Sisi engsel tipis.5. Habitat dan penyebaran di Indonesia Habitat di sungai. Sumbawa. Cangkang bagian dalam biasanya putih kebiruan dengan pola ungu pada gigi lateral. dan sawah. Pada kerang muda. Gigi kardinal kecil dengan gigi lateral yang panjang . C. danau. pulau-pulau kecil sekiat Jawa. Bali. Morfologi Cangkang berbentuk segitiga lebar.36. Jawa. Lombok.

Saran Perbaikan lingkungan dengan menghilangkan bahan pencemar 153 .E. Ancaman Terancam hilangnya habitat akibat pencemaran lingkungan F.

UDANG DAN KEPITING 6. crayfish. udang karang. udang patung. 1841) Gambar 79. Dibelakang duri tersebut terdapat masing-masing sebaris duri terdiri dari dua sampai enam buah duri kecil dan duri paling belakang berukuran besar. spiny lobster. Pasangan kaki jalannya tidak mempunyai chela 154 . Antena pada lobster tumbuh baik terutama antena kedua yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya. lobster bergigi berduri Green sand lobster. sand lobster. Panulirus homarus Lobster hijau pasir. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Malacostraca : Decapoda : Palinuridae : Panulirus : Panulirus homarus (Linnaeus. Lobster mempunyai tubuh besar yang diselubungi dengan kerangka kulit dan berzat kapur. 2011). rock lobster. Milne Edwards. B. 1758) (Foto : Pratiwi. 1758) : Panulirus dasypus (H. Morfologi Lempeng antennule dengan dua buah duri besar yang terletak pada bagian muka. lobster pasir. 1837) Panulirus burgeri (De Haan. scalloped spiny lobster A. serta terdapat duri-duri keras dan tajam terutama di bagian atas kepala dan antena atau sungut. tetapi masih lebih kecil dibandingkan dengan duri besar yang terletak di sebelah muka.BAB 6.1. Panulirus homarus (Linnaeus.

kecuali pasangan kaki lima pada lobster betina. panjang karapas 12 cm dan rata-rata panjang tubuh antara 20 –25 cm. juga menyebar hingga Australia. Di daerah terumbu karang. C. perairan dangkal (perairan pesisir). Ancaman: Merupakan salah satu marga dari Crustacea laut yang mempunyai potensi ekonomi penting. dari sublittoral turun ke kedalaman 15 m. Maluku (Ambon). serta dalam IUCN Redlist: Vulnerable (VU) (rentan). homarus sebarannya mulai dari Sumatera Barat. Jawa (Panaitan. Sulawesi Selatan (Makassar). Sulawesi Utara (Manado).atau capit. Sangat diburu terutama restoran-restoran sea food. perlu dilindungi keberadaan di alam yang semakin dicari baik untuk eksport maupun untuk dikonsumsi oleh masyarakat setempat dan untuk pelestarian spesiesnya. karena perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. dekat mulut sungai. 155 . Status: Belum di lindungi oleh Undang-undang RI. Warna karapas hijau atau kecoklatan dengan hiasan bintik-bintik terang tersebar di seluruh permukaan segmen abdomen. sering ditemukan pada tepi arah laut dari dataran terumbu. Pada substrat berpasir dan berlumpur. P. kadang-kadang di bawah berbatuan. Saran: Perlu segera dimasukan dalam undang-undang RI dan dimasukkan ke dalam appendix 2. di Indonesia mulai berkembang dan dibeberapa daerah juga sangat berpotensi untuk di eksport. Habitat dan Penyebaran Habitat di laut. D. kadang-kadang sedikit keruh. Khusus induk betina bertelur dilarang dipanen. F. E. Sudah masuk IUCN dengan status Least Concern ver 3..1 (diperhatikan). Dalam periode pertumbuhan lobster selalu berganti kulit (molting). Kaki memiliki bercak-bercak putih. Ukuran panjang tubuh maksimum adalah 31 cm. Kepulauan Seribu). Penyebaran tropis Indo-Pasifik.

6.2. Panulirus longipes Lobster bunga, udang karang, lobster berkaki panjang berduri Flower lobster, rock lobster, long legged spiny lobster A. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Malacostraca : Decapoda : Palinuridae : Panulirus : Panulirus longipes (A. Milne Edwards, 1868) : Panulirus longipes femoristriga (Von Martens, 1872) Panulirus japonicus (Von Siebold, 1824)

Gambar 80. Panulirus longipes (A. Milne Edwards, 1868) (Foto : Pratiwi, 2011). B. Morfologi Lempeng antennule dengan dua buah duri terletak pada bagian muka. Di belakang duri

tersebut terdapat masing-masing sebaris duri kecil berjumlah satu sampai enam buah pada tiap barisnya, umumnya jumlah duri kecil ini tiga buah. Badan besar dan dilindungi kulit keras yang mengandung zat kapur. mempunyai duri-duri keras dan tajam, terutama di bagian atas kepala dan antena atau sungut; pasangan kaki jalan tidak punya chela atau capit, kecuali pasangan kaki kelima pada betina; Dalam periode pertumbuhan lobster selalu berganti kulit (molting); memiliki warna bermacam-macam yaitu, ungu, hijau, merah, dan abu-abu, serta membentuk pola yang indah; antena tumbuh baik, terutama antena kedua yang melebihi panjang tubuhnya. Abdomen berbintik-bintik putih. Kaki jalan berbintik bintik putih dengan warna pucat memanjang pada tiap-tiap ruas kaki. Ukuran panjang tubuh 156

maksimum adalah 30 cm dengan rata-rata panjang tubuh antara 20 –25 cm, dan maksimum panjang karapas 12 cm dengan rata-rata panjang karapas antara 8 –10 cm. C. Habitat dan Penyebaran Habitat di laut, perairan dangkal (perairan pesisir), dari sublittoral turun ke kedalaman 15 m, kadang-kadang sedikit keruh. Di daerah terumbu karang, sering ditemukan pada tepi arah laut dari dataran terumbu. Pada substrat berpasir dan berlumpur, kadang-kadang di bawah berbatuan, dekat mulut sungai. Penyebaran tropis Indo-Pasifik, juga menyebar hingga Australia. P. longipes sebaran dimulai dari Jawa Tengah, Karimun Jawa, Sulawesi Selatan (Makassar) dan Manado dan Pulau Talaud. D. Status Belum dilindungi UU RI, tetapi sudah masuk IUCN dengan status Least Concern ver 3.1 (diperhatikan). E. Ancaman Merupakan salah satu marga dari Crustacea laut yang mempunyai potensi ekonomi penting, di Indonesia mulai berkembang dan dibeberapa daerah juga sangat berpotensi untuk di eksport. Sangat diburu terutama restoran-restoran sea food, perlu dilindungi keberadaan di alam yang semakin dicari baik untuk eksport maupun untuk dikonsumsi oleh masyarakat setempat dan untuk pelestarian spesiesnya. F. Saran Perlu dilindungi oleh undang-undang RI dan dimasukkan ke dalam appendix 2, karena perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Khusus induk betina bertelur dilarang dipanen.

157

6.3. Panulirus ornatus Lobster mutiara, udang karang Ornate spiny lobster, rock lobster A. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Malacostraca : Decapoda : Palinuridae : Panulirus : Panulirus ornatus (Fabricius, 1798) : Palinurus ornatus Fabricius, 1798

Gambar 81. Panulirus ornatus (Fabricius, 1798) (Foto : Pratiwi, 2011). B. Morfologi Tubuh lobster mutiara terdiri dari dua bagian utama, yaitu kepala yang menyatu dengan dada (cephalothorax), dibungkus oleh karapas yang keras berduri, melekat 5 pasang kaki jalan (periopod) dan bagian badan terdiri dari daging, punggung dibungkus oleh karapas, tempat melekat kaki renang (pleopod) 4 pasang dan ekor (telson). Pada lobster puerulus (larva) belum terbentuk kaki renang. Dalam periode pertumbuhan lobster selalu berganti kulit (molting). Warna karapas lobster mutiara dewasa dominan coklat muda bergaris-garis hitam, tingkat warna coklat sangat dipengaruhi oleh habitat/media pemeliharaan. Lobster mutiara (Panulirus ornatus) biasanya ukurannya jauh lebih kecil, yaitu antara 30 –35 cm.

158

C. Habitat dan Penyebaran Habitat di laut, perairan dangkal (perairan pesisir), dari sublittoral turun ke kedalaman 15 m, kadang-kadang sedikit keruh. Di daerah terumbu karang, sering ditemukan pada tepi arah laut dari dataran terumbu. Pada substrat berpasir dan berlumpur, kadang-kadang di bawah berbatuan, dekat mulut sungai. Penyebaran tropis Indo-Pasifik, juga menyebar hingga Australia. P. ornatus sebaran dimulai dari Aceh, Utara Jawa, dan Tengah, Makassar, Manado, Ambon, Maluku Utara, Halmahera dan Ambon. D. Status Belum dilindungi oleh Undang-undang RI., Belum terdaftar dalam list IUCN. E. Ancaman Merupakan salah satu marga dari Crustacea laut yang mempunyai potensi ekonomi penting, di Indonesia mulai berkembang dan dibeberapa daerah juga sangat berpotensi untuk di eksport. Sangat diburu terutama restoran-restoran sea food, perlu dilindungi keberadaan di alam yang semakin dicari baik untuk eksport maupun untuk dikonsumsi oleh masyarakat setempat dan untuk pelestarian spesiesnya. F. Saran Perlu dilindungi oleh undang-undang RI dan dimasukan ke dalam appendix 2, serta dimasukkan dalam IUCN Redlist: Vulnerable (VU) (rentan), karena perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Khusus induk betina bertelur dilarang dipanen

159

6.4. Panulirus penicillatus Lobster bertanduk bercabang dan berduri, udang jaka, udang karang Pronghorn spiny lobster, rock lobster A. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Malacostraca : Decapoda : Palinuridae : Panulirus : Panulirus penicillatus (Olivier, 1791) : Astacus penicillatus Olivier, 1791 Palinurus penicillatus Olivier

Gambar 82. Panulirus penicillatus (Olivier, 1791) (Pratiwi, 2011). B. Morfologi Lempeng antenulla dengan empat buah duri dan bagian dasar saling berhubungan, tanpa duriduri tambahan disebelah belakangnya. Permukaan bagian atas ruas abdomen dengan bulubulu keras terletak menyebar, rambut terdapat pada tepi bagian belakang abdomen dan lekuk pada bagian sisi. Dalam periode pertumbuhan lobster selalu berganti kulit (molting). Warna hijau muda sampai hijau kecoklatan. Udang jantan biasanya berwarna lebih gelap. Kaki bergaris putih. Panjang tubuh maksimum sekitar 40 cm, panjang tubuh lobster dewasa sekitar 30 cm. Lobster jantan biasanya memiliki ukuran tubuh jauh lebih besar dibandingkan betina. C. Habitat dan Penyebaran Habitat di laut, perairan dangkal (perairan pesisir), dari sublittoral turun ke kedalaman 15 m, kadang-kadang sedikit keruh. Di daerah terumbu karang, sering ditemukan pada tepi arah laut dari dataran terumbu. Pada substrat berpasir dan berlumpur, kadang-kadang di bawah berbatuan, dekat mulut sungai. 160

Sumbawa. penicillatus sebaran mulai dari: Aceh (Simeleu). Khusus induk betina bertelur dilarang dipanen 161 . Ancaman Merupakan salah satu marga dari Crustacea laut yang mempunyai potensi ekonomi penting. dan dimasukkan dalam IUCN Redlist: Vulnerable (VU) (rentan). Tondano.1 (diperhatikan) E. Nias. Gorontalo.Penyebaran tropis Indo-Pasifik. karena perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Saran Perlu dilindungi dengan undang-undang RI. di Indonesia mulai berkembang dan dibeberapa daerah juga sangat berpotensi untuk di eksport. D. perlu dilindungi keberadaan di alam yang semakin dicari baik untuk eksport maupun untuk dikonsumsi oleh masyarakat setempat dan untuk pelestarian spesiesnya. Tengah dan Timur. Timor Timur dan Ambon. juga menyebar hingga Australia. F. Jawa Barat. Sangat diburu terutama restoran-restoran sea food. Manado. Sudah masuk IUCN dengan status Least Concern ver 3. Status Belum dilindungi Undang-undang RI. P. Pulau Salebaru. Nusa Tenggara Timur. Dimasukkan ke dalam appendix 2.

kadang-kadang di bawah berbatuan. kadang-kadang sedikit keruh. Kaki berbercak putih. dari sublittoral turun ke kedalaman 15 m. Dalam periode pertumbuhan lobster selalu berganti kulit (molting). Panjang tubuh maksimum dapat mencapai 40 cm dengan rata-rata panjang tubuh antara 20 –25 cm. B. 1798) Gambar 83. Morfologi Lempeng antennulla dengan dua buah duri besar terletak pada bagian sebelah muka. dekat mulut sungai. Di daerah terumbu karang. Penyebaran tropis Indo-Pasifik. dan Tengah). juga menyebar hingga Australia. Sulawesi Selatan (Makassar) dan Manado. Pada substrat berpasir dan berlumpur. Warna dasar hujau muda kebiruan dengan garis melintang pada setiap segmen. Habitat dan Penyebaran Habitat di laut. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Malacostraca : Decapoda : Palinuridae : Panulirus : Panulirus polyphagus (Herbst. longipes 162 . rock lobster A. 1793) : Palinurus fasciatus (Fabricius. P. perairan dangkal (perairan pesisir). Panulirus polyphagus Lobster lumpur berduri. 2011). Panulirus polyphagus (Herbst. 1793) (Pratiwi. P.5. C. polyphagus menyebar di Pulau Jawa (Barat. sering ditemukan pada tepi arah laut dari dataran terumbu. udang karang Mud spiny lobster.6. Bagian sebelah belakang dari permukaan atas ruas abdomen di tandai oleh garis putih melintang dari tepi sebelah kiri ke tepi sebelah kanan.

di Indonesia mulai berkembang dan dibeberapa daerah juga sangat berpotensi untuk di eksport. Sudah masuk IUCN dengan status Least Concern ver 3. Sangat diburu terutama restoran-restoran sea food. Maluku Utara.1 (diperhatikan). Ambon dan Pulau-pulau sekitar Banda D. Karimun Jawa. karena perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Makassar. versicolor mulai dari Aceh. Timor. Sumbawa. Ancaman Merupakan salah satu marga dari Crustacea laut yang mempunyai potensi ekonomi penting. 163 . perlu dilindungi keberadaan di alam yang semakin dicari baik untuk eksport maupun untuk dikonsumsi oleh masyarakat setempat dan untuk pelestarian spesiesnya. Sulawesi Selatan (Makassar) dan Manado dan Pulau Talaud. Nusa Tenggara TImur. Sumatera Barat. Jawa Barat. E. Khusus induk betina bertelur dilarang dipanen. Nusa Tenggara Barat. serta masukkan dalam IUCN Redlist: Vulnerable (VU) (rentan). Manado.sebaran dimulai dari Jawa Tengah. Halmahera. Status Belum dilindungi oleh undang-undang RI. P. F. Tengah dan Timur. Ternate. Saran Segera dilindungi dengan undang-undang RI dan dimasukkan ke dalam appendix 2. Nias.

udang barong. Panulirus versicolor Lobster hijau. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Malacostraca : Decapoda : Palinuridae : Panulirus : Panulirus versicolor Latreille. Warna udang ini bervariasi. 2011). 1804 : Palinurus versicolor Latreille. Panjang tubuh maksimum dapat mencapai 40 cm dan rata-rata panjang tubuh adalah kurang dari 30 cm. 164 . bamboo lobster. udang karang Green lobster. Udang muda warna dasar kebiruan atau keunguan.6. Bagian belakang permukaan atas abdomen ditandai oleh garis putih melintang yang bergerak dari tepi sebelah kiri ke tepi sebelah kanan. rock lobster A. 1804 Gambar 84. Dalam periode pertumbuhan lobster selalu berganti kulit (molting). kecuali pada bagian tepi belakang dan lekuk bagian sisi.6. Permukaan bagian atas ruas abdomen tidak mempunyai alur melintang dan tidak mempunyai rambut. B. 1804 (Pratiwi. warna dasar hijau terang dengan garis putih melintang diapit oleh garis hitam. lobster bambu. Morfologi Lempeng antennule dengan empat buah duri terletak terpisah dan tanpa tambahan duri-duri kecil. Panulirus versicolor Latreille. Antenna warna merah muda.

dari sublittoral turun ke kedalaman 15 m. karena perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Nusa Tenggara Barat. E. dan Tengah. juga menyebar hingga Australia. Timor. Ambon dan Pulau-pulau sekitar Banda. Manado. Habitat dan Penyebaran Habitat di laut. Manado. Halmahera. Makassar. P. Pada substrat berpasir dan berlumpur. Di daerah terumbu karang. Nias. ornatus sebaran dimulai dari Aceh. Ancaman Merupakan salah satu marga dari Crustacea laut yang mempunyai potensi ekonomi penting. Jawa Barat. Halmahera dan Ambon. Ambon.C. di Indonesia mulai berkembang dan dibeberapa daerah juga sangat berpotensi untuk di eksport. perairan dangkal (perairan pesisir). Sumbawa. F. sering ditemukan pada tepi arah laut dari dataran terumbu. Ternate. Penyebaran tropis Indo-Pasifik. Maluku Utara. Nusa Tenggara TImur. D. Sangat diburu terutama restoran-restoran sea food. Sumatera Barat. Utara Jawa. kadang-kadang di bawah berbatuan. P. perlu dilindungi keberadaan di alam yang semakin dicari baik untuk eksport maupun untuk dikonsumsi oleh masyarakat setempat dan untuk pelestarian spesiesnya. dekat mulut sungai. Maluku Utara. versicolor mulai dari Aceh. Tengah dan Timur. Khusus induk betina bertelur dilarang dipanen 165 . serta dimasukkan dalam IUCN Redlist: Vulnerable (VU) (rentan). Status Belum dilindungi UU-RI dan belum terdaftar dalam list IUCN. Makassar. Saran Perlu dilindungi oleh undang-undang RI dan dimasukkan ke dalam appendix 2. kadang-kadang sedikit keruh.

1969 : Fenneropenaeus indicus (H. Habitat dan Penyebaran Habitat: Kedalaman 10. hidup pada permukaan dasar laut. cucuk) jumlah gigi bagian atas 8. Indian Prawn A. Udang bersifat benthik. 1892 Gambar 85. Milne Edwards. C. Kulit putih bersih.co. seperti di Indonesia (daerah 166 . Habitat yang disukai adalah dasar laut yang lunak (soft) yang terdiri dari campuran pasir dan lumpur. 1837) Sinonim : Penaeus indicus longirostris De Man. udang popet Banana Prawn. Klasifikasi Filum Anak Kelas Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda : Penaeidae : Fenneropenaeus Péres Farfante. sedangkan pada bagian bawah 5. Fenneropenaeus indicus H. Dasar substrat lumpur. yaitu 13 cm di alam.za. white prawn. 1837 (www. Rostrum sangat kuat baik yang muda maupun dewasa. Milne Edwards. Perairan berbentuk teluk dengan aliran sungai yang besar merupakan daerah udang yang sangat baik. Antennule pendek belang-belang berwarna kuning coklat. Pesisir pantai dan laut.7. Fenerropenaeus indicus Udang kelong. Morfologi Rostrum (tanduk. lebih tebal dibandingkan Penaeus merguiensis. 2013) B.45 m.diakses 18 Juni. Ukuran lebih kecil dari Penaeus merguiensis. Rostrum dengan Rumus gigi 8/5. Di Aceh paling banyak ditemukan di tambak.maritime.6.

karenanya perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pemanfaatan berkelanjutan. 1965).pemusatan fishing ground) adalah di: Sumatera Timur mendapat aliran sungai Asaha. pantai Kalimantan. 1979). serta perairan Aru dan Arafuru. pantai selatan pulau Jawa (Cilacap khususnya). Indonesia. sungai Indragiri. F. di beberapa daerah pantai selatan pulau Jawa (Cilacap serta Pangandaran). Penyebaran: Sebaran di dunia Indo-West Pacific: mulai dari Teluk Persian ke Thailand. 1965). dilarang eksport untuk induk dan calon induk. Ancaman Dari banyaknya spesies udang laut yang terdapat diperairan Indonesia. 214/Kpts/Um/V/1973. pantai Sulawesi Selatan. Menurut Naamin (1977) udang ini tersebar hampir di seluruh perairan laut yang relatif dangkal. Saran Dimasukan dalam list IUCN: Fenerropenaeus indicus Milne Edwards. sungai Rokan. pantai utara pulau Jawa. Philippines. penangkapan udang telah melampaui lestari. Maluku dan laut Aru selatan Papua. ada 11 spesies yang dapat dikategorikan mempunyai nilai niaga penting. Daerah potensial untuk udang adalah di laut sekitar Sulawesi (Teluk Bone. Marga Penaeus merupakan komoditi eksport terpenting. Mentan No. New Caledonia dan utara Australia (north of 29°S). sedangkan Kepulauan Bangka dan Riau memberi lindungan terhadap perairan tersebut dari arus laut Cina selatan yang terbuka dan lewat Laut Jawa. New Guinea. marga Metapeaeus merupakan spesies penting yang kedua dan disusul oleh udang air tawar yaitu Macrobrachium dan Panulirus (Lobster) (Toro & Soegiarto. E. Belum terdaftar dalam list IUCN. D. Diperkirakan populasinya kian menurun. Walaupun sedikit menyerupai teluk dan sungai yang mengalir hanya kecil. Pantai selatan Nusa Tenggara dan pantai selatan Kalimantan. Teluk Tomini. Hong Kong. 167 . sungai Kampar. pantai utara Jawa. (Indian Prawn) dilarang untuk dieksport untuk induk dan calon induk. Di Indonesia mulai dari Selat Malaka. Status Telah dilindungi SK. pantai utara Jawa antara Cirebon dan Jawa tengah dapat memenuhi kesuburan dan merupakan daerah penting pemusatan udang (Unar. penangkapan udang belum dilakukan secara memadai. sebelah utara Nusa Tenggara (laut Flores) dan pantai selatan Nusa Tenggara (Unar. Selat Makasar dan laut Sulawesi). Penaeus indicus Milne Edwards. terutama sepanjang pantai timur pulau Sumatera.

45 m. peci. Kulit sangat tipis. Ukuran panjang total 25 cm di alam. Habitat dan Penyebaran Habitat: Kedalaman 10. C. halus dan licin serta mudah sekali mati. panjang. umumnya 7/5. Saat dewasa rostrum lurus dan pendek dengan bagian pangkal besar berbentuk segitiga. 1888) (www. pesayan besar.6. kuat. sedangkan pada bagian bawah 4-6.. perempuan. pepet. manis.8. Warna putih polos sedikit gelap (yang hidup di laut lebih bersih dan berwarna putih bening kemerah-merahan. Fenerropenaesus merguiensis Udang jerbung. diakses 18 Juni. Dasar substrat lumpur. cucuk) jumlah gigi bagian atas 7-8.babyshrimp. Morfologi Rostrum (tanduk. pada bagian ekor kipasnya terdapat belang hijau bersih). Habitat yang disukai adalah dasar laut yang lunak 168 . 1888) : Penaeus merguiensis de Man. kertas dan udang banana Banana prawn. 1888 Gambar 86. udang putih. 1969 : Fenneropenaeus merguiensis (de Man. Klasifikasi Filum Anak Kelas Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda : Penaeidae : Fenneropenaeus Péres Farfante. Rostrum disaat udang muda relatif kecil. Udang bersifat benthik. penganten. white prawn.net. hidup pada permukaan dasar laut. 2013) B. Fenneropenaeus merguiensis (de Man. Pesisir pantai dan laut. Rostrum dengan Rumus gigi 7-8/4-6. banana shrimp A.

seperti di Indonesia (daerah pemusatan fishing ground) adalah di: Sumatera Timur mendapat aliran sungai Asaha. penangkapan udang telah melampaui lestari. Belum terdaftar dalam list IUCN. Philippines. di beberapa daerah pantai selatan pulau Jawa (Cilacap serta Pangandaran). terutama sepanjang pantai timur pulau Sumatera. F. 1965). Penyebaran: Sebaran di dunia Indo-West Pacific: mulai dari Teluk Persian ke Thailand. Indonesia. Ancaman Dari banyaknya spesies udang laut yang terdapat diperairan Indonesia. Dilarang eksport untuk induk dan calon induk. sebelah utara Nusa Tenggara (laut Flores) dan pantai selatan Nusa Tenggara (Unar. pantai utara pulau Jawa. D. Di Indonesia mulai dari Selat Malaka. Hong Kong. sungai Kampar. sedangkan Kepulauan Bangka dan Riau memberi lindungan terhadap perairan tersebut dari arus laut Cina selatan yang terbuka dan lewat Laut Jawa. 1979). Status Belum dilindungi undang-undang RI. Fenerropenaeus merguiensis de Haan. pantai utara Jawa. Perairan berbentuk teluk dengan aliran sungai yang besar merupakan daerah udang yang sangat baik. pantai selatan pulau Jawa (Cilacap khususnya). 1965). Marga Penaeus merupakan komoditi eksport terpenting. Pantai selatan Nusa Tenggara dan pantai selatan Kalimantan. New Guinea. New Caledonia dan utara Australia (north of 29°S). sungai Rokan. pantai Kalimantan. Teluk Tomini. Walaupun sedikit menyerupai teluk dan sungai yang mengalir hanya kecil. sungai Indragiri. Selat Makasar dan laut Sulawesi). penangkapan udang belum dilakukan secara memadai. ada 11 spesies yang dapat dikategorikan mempunyai nilai niaga penting. karenanya perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pemanfaatan berkelanjutan.(soft) yang terdiri dari campuran pasir dan lumpur. Saran Perlu dilindungi dan diatur dalam undang-undang RI. Diperkirakan populasinya kian menurun. Daerah potensial untuk udang adalah di laut sekitar Sulawesi (Teluk Bone. Menurut Naamin (1977) udang ini tersebar hampir di seluruh perairan laut yang relatif dangkal. pantai Sulawesi Selatan. serta perairan Aru dan Arafuru. pantai utara Jawa antara Cirebon dan Jawa tengah dapat memenuhi kesuburan dan merupakan daerah penting pemusatan udang (Unar. Dimasukan dalam list IUCN: Fenerropenaeus merguiensis de Haan dilarang eksport untuk induk dan calon induk 169 . marga Metapeaeus merupakan spesies penting yang kedua dan disusul oleh udang air tawar yaitu Macrobrachium dan Panulirus (Lobster) (Toro & Soegiarto. Maluku dan laut Aru selatan Papua. E.

6. grass prawn A. 1852 Penaeus tahitensis Heller. sito. Kulit tebal dan keras. lotong Jumbo tiger prawn. 170 . 1798 (Foto : Pratiwi. blue tiger. 1798 : Penaeus monodon Fabricius. 1862 Gambar 87. cucuk) jumlah gigi bagian atas 7. Warna tersebut jelas sekali pada udang yang masih hidup. Morfologi Rostrum (tanduk. Klasifikasi Filum Anak Kelas Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda : Penaeidae : Penaeus Fabricius. Warna kaki pada umumnya berwarna merah. tetapi tidak kaku. Sedang umumnya 20-25 cm. giant tiger prawn. pancet. plasplas. Penaeus monodon Udang windu.2011) B. Ukuran panjang total dapat mencapai 35 cm di alam. menjangan. 1798 : Penaeus carinatus Dana. Badan bewarna loreng-loreng besar vertikal hijau kebiruan atau kehitaman bagi individu yang hidup di laut. sedangkan pada bagian bawah 3. Yang merupakan tanda istimewa ialah pada badan terdapat ban ungu hitam yaitu pada masing-masing ruas terdapat 2 ban. leader. Penaeus monodon Fabricius. Rostrum dengan Rumus gigi 7/3. liling. bago. black tiger prawn.9.

1979). serta perairan Aru dan Arafuru. Dimasukan dalam list IUCN: Penaeus monodon Fabricius. New Caledonia dan utara Australia (north of 29°S). 1798 dilarang eksport untuk induk dan calon induk. New Guinea. Ancaman Dari banyaknya spesies udang laut yang terdapat diperairan Indonesia. pantai Sulawesi Selatan. Selat Makasar dan laut Sulawesi). Status Belum dilindungi undang-undang RI. Saran Perlu dilindungi dan diatur dalam undang-undang RI. Penaeus monodon Fabricius. E. ada 11 spesies yang dapat dikategorikan mempunyai nilai niaga penting. Philippines. marga Metapeaeus merupakan spesies penting yang kedua dan disusul oleh udang air tawar yaitu Macrobrachium dan Panulirus (Lobster) (Toro & Soegiarto. Belum terdaftar dalam list IUCN.C. sebelah utara Nusa Tenggara (laut Flores) dan pantai selatan Nusa Tenggara (Unar. penangkapan udang telah melampaui lestari. pantai selatan pulau Jawa (Cilacap khususnya). F. 1965). Di Indonesia mulai dari Selat Malaka. Menurut Naamin (1977) udang ini tersebar hampir di seluruh perairan laut yang relatif dangkal. sungai Indragiri. Maluku dan laut Aru selatan Papua. Habitat dan Penyebaran Habitat: Kedalaman 10. Indonesia.45 m. D. sungai Kampar. Habitat yang disukai adalah dasar laut yang lunak (soft) yang terdiri dari campuran pasir dan lumpur. 1798 dilarang eksport untuk induk dan calon induk. sungai Rokan. Daerah potensial untuk udang adalah di laut sekitar Sulawesi (Teluk Bone. 1965). penangkapan udang belum dilakukan secara memadai. Marga Penaeus merupakan komoditi eksport terpenting. Diperkirakan populasinya kian menurun. pantai utara Jawa. pantai Kalimantan. pantai utara pulau Jawa. Teluk Tomini. karenanya perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pemanfaatan berkelanjutan. Hong Kong. Pesisir pantai dan laut. di beberapa daerah pantai selatan pulau Jawa (Cilacap serta Pangandaran). Daerah fishing ground di: Sumatera Timur mendapat aliran sungai Asahan. Dasar substrat lumpur. Penyebaran: Sebaran di dunia Indo-West Pacific: mulai dari Teluk Persian ke Thailand. Pantai utara Jawa antara Cirebon dan Jawa tengah merupakan daerah penting pemusatan udang (Unar. 171 . sedangkan Kepulauan Bangka dan Riau memberi lindungan terhadap perairan tersebut dari arus laut Cina selatan yang terbuka dan lewat Laut Jawa. terutama sepanjang pantai timur pulau Sumatera. Pantai selatan Nusa Tenggara dan pantai selatan Kalimantan.

10. sedangkan Kepulauan Bangka dan Riau memberi lindungan terhadap 172 . mempunyai 7 duri dorsal dan duri epigastrik yang terletak di tengah karapas. Selain itu. Penaeus semisulcatus de Haan. Habitat dan Penyebaran Habitat: Hidup pada kedalaman 10. Morfologi Mempunyai ciri yang sama dengan udang windu. 1900 Penaeus semisulcatus paucidentatus Parisi. Daerah fishing ground di: Sumatera Timur mendapat aliran sungai Asahan. sungai Kampar. Hepatik karina sebagian besar berada pada anterior ventrally. udang bago Green Tiger Prawn. Bear Shrimp A. Klasifikasi Filum Anak Kelas Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda : Penaeidae : Penaeus Fabricius. 2011) B.45 m dengan dasar substrat berlumpur. pleopod. C. 1844 : Penaeus ashiaka Kishinouye. sungai Rokan. Penaeus semisulcatus Udang kembang. rostrum agak pendek dibandingkan dengan udang windu. periopod.6. 1919 Gambar 88. Flower Prawn. 1844 (Pratiwi. antena dan bagian lainnya. Ukurannya bisa mencapai 22. Habitat yang disukai adalah dasar laut yang lunak (soft) yang terdiri dari campuran pasir dan lumpur. gastro orbital. sungai Indragiri. 1798 : Penaeus semisulcatus de Haan.8 cm di alam. tetapi dibedakan atas strip (garis merah) dan putih dan juga berupa titik-titik yang indah pada lateral karapas.

1844 dilarang eksport untuk induk dan calon induk. Saran Perlu dilindungi dan diatur dalam undang-undang RI. pantai utara Jawa. Menurut Naamin (1977) udang ini tersebar hampir di seluruh perairan laut yang relatif dangkal. Dimasukan dalam list IUCN: Penaeus semisulcatus de Haan. Ancaman Dari banyaknya spesies udang laut yang terdapat diperairan Indonesia. F. penangkapan udang belum dilakukan secara memadai. marga Metapeaeus merupakan spesies penting yang kedua dan disusul oleh udang air tawar yaitu Macrobrachium dan Panulirus (Lobster) (Toro & Soegiarto. Daerah potensial untuk udang adalah di laut sekitar Sulawesi (Teluk Bone. E. pantai Sulawesi Selatan. sebelah utara Nusa Tenggara (laut Flores) dan pantai selatan Nusa Tenggara (Unar. New Caledonia dan utara Australia (north of 29°S).perairan tersebut dari arus laut Cina selatan yang terbuka dan lewat Laut Jawa. Di Indonesia mulai dari Selat Malaka. pantai selatan pulau Jawa (Cilacap khususnya). 1979). terutama sepanjang pantai timur pulau Sumatera. Belum terdaftar dalam list IUCN. karenanya perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pemanfaatan berkelanjutan. Hong Kong. Penyebaran: Sebaran di dunia Indo-West Pacific: mulai dari Teluk Persian ke Thailand. di beberapa daerah pantai selatan pulau Jawa (Cilacap serta Pangandaran). Status Belum dilindungi undang-undang RI. 173 . 1965). ada 11 spesies yang dapat dikategorikan mempunyai nilai niaga penting. penangkapan udang telah melampaui lestari. serta perairan Aru dan Arafuru. Teluk Tomini. D. New Guinea. Diperkirakan populasinya kian menurun. 1844 dilarang eksport untuk induk dan calon induk. Selat Makasar dan laut Sulawesi). Indonesia. Maluku dan laut Aru selatan Papua. pantai utara pulau Jawa. Penaeus semisulcatus de Haan. Pantai selatan Nusa Tenggara dan pantai selatan Kalimantan. Marga Penaeus merupakan komoditi eksport terpenting. Pantai utara Jawa antara Cirebon dan Jawa tengah merupakan daerah penting pemusatan udang (Unar. pantai Kalimantan. Philippines. 1965).

Thenus orientalis Udang kutu pasir. 2011). bay lobster. Dijumpai 174 . Ada empat gigi. lobster teluk. kokoh dan lebih tinggi bentuknya. B. 1816a : Thenus orientalis (Lund. 1793 Gambar 89. Morfologi Warna tubuh merah muda atau coklat muda. Bentuk bagian dorsal agak cembung. Ukuran tubuh besar berukuran 95 mm panjang karapas. kutu karang Sand bug shrimp. Klasifikasi Filum Induk Kelas Anak Kelas Induk Bangsa Bangsa Anak Bangsa Suku Anak Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Crustacea : Eumalacostraca : Eucarida : Decapoda : Reptantia : Scyllaridae : Theninae : Thenus Leach. reef bug A. kokoh dan bentuk bagian rostrum tumpul. Terdapat bintik hitam (pigmen) yang jelas pada pereipod dan telson. Pleopod dan telson atau uropod berwarna merah muda atau merah. Thenus orientalis (Pratiwi. gigi-gigi di bagian anterolateral kurang jelas dan melengkung ke belakang. Segmen kedua antena gigi di bagian anteromarginal besar dan lebar. 1793) : Syllarus orientalis Lund.11. Pereiopod kokoh dan kuat.6.

Saran Harus segera dilindungi Undang-undang RI dan masuk ke dalam Appendix 2. Status Belum dilindungi Undang-undang RI. pasir dan lumpur. Merupakan spesies umum yang sangat berlimpah ditemukan oleh para nelayan trawl. Penyebaran: Perairan dangkal Indonesia dengan substrat lembut. tetapi ada pula yang ditemui hingga kedalaman 50 meter dengan substrat yang lembut seperti lumpur dan pasir. Ancaman Hewan ini memiliki daging yang sangat gurih dan bergizi serta dipasaran memiliki nilai ekonomi tinggi. F. substrat pasir dengan butiran yang agak kasar (Pratiwi. Kedalaman T. perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Habitat: Udang pasir banyak dijumpai di perairan dangkal tropik maupun sub tropik. Karenanya perlu dilindungi untuk kelestarian spesies. 2007). Substrat C. Induk betina bertelur dilarang dipanen 175 . Mulai banyak dijual di restoran-restoran makanan laut sebagai hidangan dari laut yang sudah merupakan komoditas ekspor. 2011). dapat berenang dengan jarak tempuh yang jauh dan membenamkan diri dalam sedimen (substrat lumpur atau pasir) (Lavalli & Spanier. sehingga menjadi hidangan laut yang menjanjikan dan selalu diminati oleh konsumen penggemar makanan laut.1 (diperhatikan). Habitat dan Penyebaran Pasir dengan butiran yang agak kasar. D.230 butir (Jones. 1990). Sudah masuk dalam list IUCN dengan status Least Concern ver. Udang-udang tersebut memiliki kemampuan yang unik untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. sehingga udang tersebut tergolong ke dalam udang ekonomi penting penunjang hingga kini. E.3.pada kedalaman 30 – 60 meter. Rata-rata dapat bertelur hingga 32. orientalis adalah 30 – 60 meter.

Bentuk rambut atau setae hanya terdapat pada hepatic area saja Estampador (1949a) dalam: Siahainenia.. 1985). 2009) B. Habitat dan Penyebaran Habitat: hampir disemua perairan pantai terutama yang ditumbuhi mangrove. 1833 : Scylla serrata (Forskal. Scylla serrata Kepiting lumpur besar. 1834 Achelous crassimanus MacLeay. et al. 1775) : Cancer serratus Forsskål. 1838 Gambar 90. Bentuk duri depan tumpul dan bentuk duri pada “fingerjoint” tidak ada dan berubah menjadi vestigial. 1775 Lupa lobifrons H. Morfologi Memiliki warna karapas coklat merah seperti karat. Klasifikasi: Filum Anak Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda : Portunidae : Scylla De Haan. Giant mud crab. Milne Edwards. Scylla serrata (Forskal.. Kepiting Cina atau Kepiting Hijau (Sumatera). Katang Nene (Maluku Tengah). mangrove crabs A. Kepiting Bakau (Jawa). Bentuk alur “H” pada karapas tidak dalam. rawa-rawa bakau (payau). Ketam Batu. estuari dan pantai berlumpur (Moosa. 1775) (Purwati et al.12. Tidak memiliki sumber pigmen Polygonal. C. daerah pasang surut yang berubungan dengan daerah estuari (pesisir). 2008. muara kawasan 176 .6. perairan dangkal dekat hutan mangrove. mud crab.

Mengingat pentingnya nilai manfaat ekologi maupun ekonomi yang dimiliki komoditas kepiting bakau. 2008. Induk betina bertelur dilarang dipanen. F. 2011). D. Appendix 2. seperti Teluk Pelita Jaya. Kalimantan Barat. Ancaman Banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan dijual di restoran-restoran sea food dengan harga tinggi. perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Di daerah Maluku Tengah.mangrove dan bahkan di air tawar serta di bagian yang terlindung dari garis pantai pesisir (Hyland et al. terutama disaat moulting (ganti kulit) hingga karapasnya mengeras. Pratiwi. harganya lebih mahal dari kepiting bertelur. 177 . Untuk kepiting soka (kepiting yang baru molting. Seram Barat juga mengalami penurunan (hasil tangkapan dan ukuran juga kecil). Jawa Timur. Untuk itu perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pembatasan pengambilan. 2011). Kalimantan Timur. Dimasukkan dalam IUCN Redlist : Vulnerable (VU). karena kemungkinan adanya degradasi lingkungan dan tangkap lebih (over exploitation) (Siahainenia. 1984). Nusa Tenggara Timur dan Riau. Penyebaran: mempunyai sebaran yang sangat luas dan didapatkan hampir di seluruh perairan Indonesia (Pratiwi.. Rata-rata pertumbuhan produksi kepiting bakau di beberapa provinsi penghasil utama mengalami penurunan dan cenderung lambat diantaranya Sumatera Utara. baik melalui tindakan konservasi bagi populasi yang masih stabil. Belum masuk list IUCN. maka masalah penurunan produksi kepiting bakau di alam harus segera diatasi dengan melakukan upaya-upaya pengelolaan. Spesies ini tinggal di lubang yang digali di dasar berlumpur atau berpasirlumpur. Status Belum dilindungi oleh undang-undang RI. maupun melalui tindakan rehabilitasi (restocking) bagi populasi yang sudah tidak stabil dan perlindungan spesies. berukuran kecil dan berkulit lunak). Saran Perlu dilindungi dengan undang-undang RI. E.

1834 Gambar 91..13. 1985). kedua duri jelas dan satu agak tumpul. 2008. 1798) : Lupa tranquebarica H. 1834 Lupa lobifrons H. daerah pasang surut yang berubungan dengan daerah estuari (pesisir). Morfologi Memiliki warna karapas hijau buah zaitun. Milne Edwards. muara kawasan 178 . 1833 : Scylla tranquebarica (Fabricus. et al. Bentuk duri depan tajam dan bentuk duri pada “fingerjoint”. Habitat dan Penyebaran Habitat: hampir disemua perairan pantai terutama yang ditumbuhi mangrove. Sumber pigmen polygonal hanya pada bagian terakhir kaki jalan. estuari dan pantai berlumpur (Moosa. 2009) B. Estampador (1949a) dalam: Siahainenia. Klasifikasi: Filum Anak Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda : Portunidae : Scylla De Haan. mud crab A. Scylla tranquebarica (Fabricus. C. Milne Edwards.. perairan dangkal dekat hutan mangrove. 1798) (Purwati et al. Tidak ada rambut atau setae. Bentuk alur “H” pada karapas dalam.6. rawa-rawa bakau (payau). Scylla tranquebarica Kepiting hijau. kepiting lumpur ungu Purple mud crab.

Kalimantan Timur. Induk betina bertelur dilarang dipanen 179 . Nusa Tenggara Timur dan Riau. Seram Barat juga mengalami penurunan (hasil tangkapan dan ukuran juga kecil). Status Belum dilindungi oleh undang-undang RI. terutama disaat molting (ganti kulit) hingga karapasnya mengeras. Untuk itu perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pembatasan pengambilan. Pratiwi. Appendix 2. harganya lebih mahal dari kepiting bertelur. Saran Perlu dilindungi dengan undang-undang RI. seperti Teluk Pelita Jaya. 2008. maupun melalui tindakan rehabilitasi (restocking) bagi populasi yang sudah tidak stabil dan perlindungan spesies. maka masalah penurunan produksi kepiting bakau di alam harus segera diatasi dengan melakukan upaya-upaya pengelolaan. berukuran kecil dan berkulit lunak). Di daerah Maluku Tengah. karena kemungkinan adanya degradasi lingkungan dan tangkap lebih (over exploitation) (Siahainenia. Ancaman Banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan dijual di restoran-restoran sea food dengan harga tinggi.. Mengingat pentingnya nilai manfaat ekologi maupun ekonomi yang dimiliki komoditas kepiting bakau. F.mangrove dan bahkan di air tawar serta di bagian yang terlindung dari garis pantai pesisir (Hyland et al. Rata-rata pertumbuhan produksi kepiting bakau di beberapa provinsi penghasil utama mengalami penurunan dan cenderung lambat diantaranya Sumatera Utara. perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Jawa Timur. 2011). D. Penyebaran: mempunyai sebaran yang sangat luas dan didapatkan hampir di seluruh perairan Indonesia (Pratiwi. Untuk kepiting soka (kepiting yang baru molting. Dimasukkan dalam IUCN Redlist : Vulnerable (VU). Spesies ini tinggal di lubang yang digali di dasar berlumpur atau berpasirlumpur. 1984). baik melalui tindakan konservasi bagi populasi yang masih stabil. 2011). Kalimantan Barat. E. Belum masuk list IUCN.

. kepiting bakau Orange mud crab. perairan dangkal dekat hutan mangrove. 1796) : Cancer olivaceous Herbst. Scylla olivacea (Herbst. 1833 : Scylla olivacea (Herbst. 2009) B. 1796) (Purwati et al.14. Rambut atau setae melimpah pada karapas. kedua duri jelas dan runcing. estuari dan pantai berlumpur (Moosa. C. Estampador (1949a) dalam: Siahainenia. Habitat dan Penyebaran Habitat: hampir disemua perairan pantai terutama yang ditumbuhi mangrove. Bentuk alur “H” pada karapas dalam. 1794 Gambar 92. rawa-rawa bakau (payau). et al. Sumber pigmen polygonal hanya pada capit dan semua kaki jalan. mud crab A. 2008. Klasifikasi: Filum Anak Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda : Portunidae : Scylla De Haan.. Morfologi Memiliki warna karapas hijau keabu-abuan. muara kawasan mangrove dan bahkan di air tawar serta di bagian yang terlindung dari garis pantai pesisir 180 .6. daerah pasang surut yang berubungan dengan daerah estuari (pesisir). 1985). Scylla olivacea Kepiting lumpur oranye. Bentuk duri depan tajam dan bentuk duri pada “fingerjoint”.

Appendix 2. Nusa Tenggara Timur dan Riau. Mengingat pentingnya nilai manfaat ekologi maupun ekonomi yang dimiliki komoditas kepiting bakau. karena kemungkinan adanya degradasi lingkungan dan tangkap lebih (over exploitation) (Siahainenia. harganya lebih mahal dari kepiting bertelur. perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Pratiwi. berukuran kecil dan berkulit lunak). Di daerah Maluku Tengah. terutama disaat molting (ganti kulit) hingga karapasnya mengeras. Induk betina bertelur dilarang dipanen. Spesies ini tinggal di lubang yang digali di dasar berlumpur atau berpasirlumpur. Jawa Timur.. Penyebaran: mempunyai sebaran yang sangat luas dan didapatkan hampir di seluruh perairan Indonesia (Pratiwi. seperti Teluk Pelita Jaya. Kalimantan Timur. D. 181 . Kalimantan Barat. Status Belum dilindungi oleh undang-undang RI.(Hyland et al. Belum masuk list IUCN. maka masalah penurunan produksi kepiting bakau di alam harus segera diatasi dengan melakukan upaya-upaya pengelolaan. baik melalui tindakan konservasi bagi populasi yang masih stabil. Dimasukkan dalam IUCN Redlist : Vulnerable (VU). Rata-rata pertumbuhan produksi kepiting bakau di beberapa provinsi penghasil utama mengalami penurunan dan cenderung lambat diantaranya Sumatera Utara. Saran Perlu dilindungi dengan undang-undang RI. 2008. Seram Barat juga mengalami penurunan (hasil tangkapan dan ukuran juga kecil). Untuk kepiting soka (kepiting yang baru molting. 2011). F. 2011). Untuk itu perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pembatasan pengambilan. maupun melalui tindakan rehabilitasi (restocking) bagi populasi yang sudah tidak stabil dan perlindungan spesies. 1984). Ancaman Banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan dijual di restoran-restoran sea food dengan harga tinggi. E.

. daerah pasang surut yang berubungan dengan daerah estuari (pesisir). 2008. Bentuk duri depan sedang. rawa-rawa bakau (payau). Estampador (1949a) dalam: Siahainenia. Scylla paramamosain Kepiting lumpur putih. Sumber pigmen polygonal terdapat pigmen putih pada bagian terakhir dari kaki-kaki. Habitat dan Penyebaran Habitat: hampir disemua perairan pantai terutama yang ditumbuhi mangrove. perairan dangkal dekat hutan mangrove. 1949 Scylla oceanica (nec Dana.6. muara kawasan mangrove dan bahkan di air tawar serta di bagian yang terlindung dari garis pantai pesisir 182 . 1949 : Scylla serrata var. kepiting bakau White mud crab. 1833 : Scylla paramamosain Estampador. mud crab. et al. Morfologi Memiliki warna karapas coklat kehijauan. 1985). mangrove crab A. C. paramamosain Estampador. Bentuk alur “H” pada karapas relatif tidak begitu dalam. estuari dan pantai berlumpur (Moosa. 1949 (Purwati et al. 2009) B. 1852) Serène. 1952 Gambar 93. Scylla paramamosain Estampador..15. Klasifikasi Filum Anak Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda : Portunidae : Scylla De Haan.

Belum masuk list IUCN. 1984). D. Dimasukkan dalam IUCN Redlist : Vulnerable (VU). Mengingat pentingnya nilai manfaat ekologi maupun ekonomi yang dimiliki komoditas kepiting bakau. karena kemungkinan adanya degradasi lingkungan dan tangkap lebih (over exploitation) (Siahainenia. Ancaman Banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan dijual di restoran-restoran sea food dengan harga tinggi. Kalimantan Timur.. Saran Perlu dilindungi dengan undang-undang RI. Di daerah Maluku Tengah. Induk betina bertelur dilarang dipanen 183 . Kalimantan Barat. Untuk kepiting soka (kepiting yang baru molting. Appendix 2. baik melalui tindakan konservasi bagi populasi yang masih stabil. maupun melalui tindakan rehabilitasi (restocking) bagi populasi yang sudah tidak stabil dan perlindungan spesies. Nusa Tenggara Timur dan Riau. perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. harganya lebih mahal dari kepiting bertelur. Status Belum dilindungi oleh undang-undang RI.(Hyland et al. Spesies ini tinggal di lubang yang digali di dasar berlumpur atau berpasirlumpur. Pratiwi. 2011). E. Penyebaran: mempunyai sebaran yang sangat luas dan didapatkan hampir di seluruh perairan Indonesia (Pratiwi. terutama disaat molting (ganti kulit) hingga karapasnya mengeras. seperti Teluk Pelita Jaya. Seram Barat juga mengalami penurunan (hasil tangkapan dan ukuran juga kecil). 2011). Jawa Timur. berukuran kecil dan berkulit lunak). 2008. F. maka masalah penurunan produksi kepiting bakau di alam harus segera diatasi dengan melakukan upaya-upaya pengelolaan. Rata-rata pertumbuhan produksi kepiting bakau di beberapa provinsi penghasil utama mengalami penurunan dan cenderung lambat diantaranya Sumatera Utara. Untuk itu perlu dilindungi untuk kelestarian spesies dan pembatasan pengambilan.

1758) (Foto : Pratiwi. Rajungan mempunyai 5 pasang kaki. di mana duri yang terakhir berukuran lebih panjang. Milne-Edwards. yang terdiri atas 1 pasang kaki (capit) berfungsi sebagai pemegang dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. 1861 Gambar 94.16. 3 pasang kaki 184 . 1758 Lupa pelagica H. Morfologi Memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya. Portunus pelagicus (Linnaeus. 2011) B. 1834 Neptunus pelagicus A. Klasifikasi: Filum Anak Filum Kelas Bangsa Anak Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda : Brachyura : Portunidae : Portunus : Portunus pelagicus (Linnaeus.6. Milne-Edwards. 1758) : Cancer pelagicus Linnaeus. Portunus pelagicus Rajungan Swimming crab A. Karapas berbentuk bulat pipih. pada bagian mata sebelah kiri dan kanan terdapat sembilan buah duri.

Sedang yang betina berwarna sedikit lebih coklat. dan setelah mencapai tingkat rajungan muda akan kembali ke estuaria. Muncar (pantai selatan Jawa Timur). Ukuran rajungan antara yang jantan dan betina berbeda pada umur yang sama. sedangkan betina berwarna dasar kehijauhijauan dengan bercak-bercak putih agak suram. daerah Lampung. Sementara itu tempat penangkapan rajungan terdapat di daerah Gilimanuk (pantai utara Bali). pasir berlumpur dan di pulau berkarang. Sehingga rajungan disebut juga “swimming crab” atau kepiting yang dapat berenang. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya. Australia dan Selandia Baru. rajungan jantan berwarna kebiru-biruan dengan bercak-bercak putih terang. Perbedaan warna ini jelas pada individu yang agak besar walaupun belum dewasa. propodos. D. Rajungan mempunyai ukuran karapas sekitar 300 mm (12 inchi) dan bisa mencapai panjang 18 cm. Penyebaran: mempunyai sebaran yang sangat luas mulai dari Hindia dan Samudra Pasifik (pantai Asia) dan Timur Tengah. C. Pengambengan (pantai selatan Bali). 185 . Kepiting-kepiting tersebar luas di bagian timur Afrika. Ancaman Banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan dijual di restoran-restoran sea food dengan harga tinggi. Perbedaan lainnya adalah warna dasar.sebagai kaki jalan dan sepasang kaki terakhir mengalami modifikasi menjadi alat renang yang ujungnya menjadi pipih dan membundar seperti dayung. Jantan lebih besar dan berwarna lebih cerah serta berpigmen biru terang. dan merus. Oleh sebab itu rajungan digolongkan ke dalam kepiting berenang (swimming crab). karpus. Selain itu menyebar luas juga pada lautan Indo-Pasifik dan India. Belum masuk list IUCN. daerah Medan dan daerah Kalimantan Barat. Pada malam hari akan keluar naik ke permukaan untuk mencari makan. Status Belum dilindungi oleh undang-undang RI. Pasuruan (pantai utara Jawa Timur).pantai di Laut Mediterania. Asia Timur. Kaki jalan pertama tersusun atas daktilus yang berfungsi sebagai capit. Asia Tenggara. E. juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m) sampai kedalaman 65 meter.). pantai bersubstrat pasir. Habitat dan Penyebaran Habitat: hidup di perairan laut (dasar laut).

Appendix 2. Saran Perlu dilindungi dengan undang-undang RI. Induk betina bertelur dilarang dipanen 186 . Dimasukkan dalam IUCN Redlist: Vulnerable (VU). perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen.F.

dan 5-11 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah. induk ovigerous memiliki 8-14 butir telur.7 mm. 2009 :- Gambar 95. Terdapat 15-25 gigi pada sisi bagian atas rostrum dengan 3-7 gigi dibelakang mata.2 x 0.50. Caridina dennerli (Foto: C. White Gloves Red Shrimp A. Lukhaup. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina dennerli von Rintelen & Cai. 0.6. White Socks Shrimp. Panjang karapas dapat mencapai 3. ujungya hampir mencapai tepi luar skaposerit. 1 bintik putih yang jelas di abdomen terakhir bagian atas 187 . Matano Blue Dot Shrimp. Caridina dennerli Udang Bintik Putih Cardinal Shrimp. berbentuk bulan sabit. Terdapat bintik-bintik putih yang tidak begitu nyata diseluruh tubuhnya.17. Diameter telur berukuran 1. Morfologi Rostrum agak panjang. 2009) B. Badan dan hampir semua kaki berwarna merah tua atau ungu.4 mm.3 panjang karapas.9-1. Mata berkembang sempurna.0-1.

diintroduksinya 14 jenis ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair. antennula dan skaposerit juga putih. Telur berwarna coklat tua. ikan Sapu-sapu. Jenis udang ini juga tersedia di perdagangan ikan hias internasional. Udang jenis ini endemik Danau Matano dan terdistribusi luas di seluruh bagian danau. IUCN – Endangered.dekat ekor. dari daerah yang dangkal sampai pada kedalaman lebih-kurang 10 meter. serta diantara batu-batu besar. Udang ini ditemukan di atas dan di bawah batu-batu berukuran kecil. F. potensi dampak pencemaran dari pertambangan nikel. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang hias jenis ini. D. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. E. Antenna. 188 . Status Di Indonesia Caridina dennerli belum dilindungi undang-undang. Habitat dan Penyebaran Caridina dennerli adalah penghuni substrat keras seperti bongkahan batu yang terdapat pada berbagai kedalaman. C. Danau Mahalona dan Danau Towuti). Hal ini mengingat habitat. ikan Mas dan lain-lain (Herder dkk. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. Kaki jalan pertama dan kedua putih. 2012) dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini. ikan Lou Han.

ujungya melebihi tepi luar skaposerit. Terdapat 1117 gigi pada sisi bagian atas rostrum dengan 2-5 gigi dibelakang mata. Caridina glaubrechti (Foto: C.18. Udang ini terutama berwarna coklat dengan beberapa pita dan bercak-bercak putih diseluruh tubuhnya termasuk semua kaki dan ekornya.6. Telur berwarna coklat. Lukhaup. Caridina glaubrechti Udang Anggrek Orchid Shrimp.6 mm. Mata berkembang sempurna.4 mm. Diameter telur berukuran 0. induk ovigerous memiliki 20 butir telur. Morfologi Rostrum panjang. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina glaubrechti von Rintelen & Cai. Panjang karapas dapat mencapai 3.7 panjang karapas. dan 5-16 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah. Red Orchid Shrimp. 189 . 2009) B. Orchidee Garnele A. 2009 :- Gambar 96.5-0. 0.0 x 0.9-1.8-1.

ikan Lou Han. F. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini 190 . Hal ini mengingat habitat. Status Di Indonesia Caridina glaubrechti belum dilindungi undang-undang. ikan Mas dan lain-lain (Herder dkk. Udang ini juga dapat ditemukan pada kedalaman lebih dari 3 meter pada batu-batu besar. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang hias jenis ini.C. Caridina glaubrechti adalah udang endemik Danau Towuti dan terutama ditemukan di sisi barat danau ini saja. Habitat dan Penyebaran Caridina glaubrechti adalah penghuni substrat keras seperti bongkahan batu (rocks) dan terutama dijumpai di perairan dangkal di atas batu-batu yang lebih kecil. D. potensi dampak pencemaran dari pertambangan nikel. Danau Mahalona dan Danau Towuti). diintroduksinya 14 jenis ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair. Jenis udang ini juga tersedia di perdagangan ikan hias internasional. IUCN – Endangered. ikan Sapu-sapu. E. 2012) dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano.

6-1.50.0 x 0. Caridina holthuisi (Foto: C.8 mm. 2009 :- Gambar 97. Morfologi Rostrum umumnya lebar. ada juga yang memiliki beberapa pita putih melintang di sepanjang punggungnya atau seluruh tubuhnya berwarna hitam. Black Tiger Shrimp. Terdapat 14-28 gigi pada sisi bagian atas rostrum dengan 4-8 gigi dibelakang mata. Panjang karapas dapat mencapai 3. ujungya hampir mencapai atau sedikit melebihi tepi luar skaposerit. Telur berwarna coklat tua. induk ovigerous memiliki 19-25 butir telur. Matano Tiger Shrimp A.6. Caridina holthuisi Udang Coklat Six Banded Blue Bee. Mata berkembang sempurna. Lukhaup.2 panjang karapas. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina holthuisi von Rintelen & Cai.19. yaitu sampah daun. 2009) B.8-1.6 mm. 0. Diameter telur berukuran 0. 191 . Badan dan semua kaki berwarna coklat gelap seperti warna substratnya. dan 3-7 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah.

F. Habitat dan Penyebaran Caridina holthuisi adalah penghuni substrat lunak. potensi dampak pencemaran dari pertambangan nikel. E. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. IUCN – Endangered. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang hias jenis ini. Danau Mahalona dan Danau Towuti). Mahalona dan Towuti) dan sungai Petea yang menghubungkan Danau Matano dan Danau Mahalona. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. Status Di Indonesia Caridina holthuisi belum dilindungi undang-undang. ikan Sapu-sapu. terutama dijumpai di bawah sampah daun dan menggantung di antara tanaman air diberbagai pantai danau yang dangkal. Udang ini endemik pada sistim danau Malili. Hal ini mengingat habitat. ikan Mas dan lain-lain (Herder dkk. Jenis udang ini juga tersedia di perdagangan ikan hias internasional. dijumpai terdistribusi luas di seluruh tiga danau utama (Matano. 2012) dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini 192 .C. ikan Lou Han. diintroduksinya 14 jenis ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair. Adanya turbin pembangkit tenaga listrik di sungai Petea juga dapat mempengaruhi populasinya. D.

193 . Mata berkembang sempurna.0 mm.9 x 0. Badan dan semua kaki transparan dengan bintik-bintik (pigmen) kemerahan. langsing dan selalu melengkung keatas. Diameter telur berukuran 0.5-2. dan kadangkadang bintik-bintik tersebut berwarna hijau-kekungingan. Caridina lanceolata (Foto: C. Telur berwarna hijau. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina lanceolata Woltereck. Caridina lanceolata Lama.6.20. Terdapat 8-19 gigi pada sisi bagian atas rostrum terutama di sekitar atas mata dan 0-4 gigi diujungnya dengan 1-3 gigi dibelakang mata. 2009) B. Morfologi Rostrum sangat panjang. Lukhaup.4-0. 1937 :- Gambar 98.3 panjang karapas. Udang Bening Crystal Shrimp A. 1.6 mm. ujungya jauh melebihi tepi luar skaposerit. induk ovigerous memiliki 15-69 butir telur.6-0. dan 413 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah. Panjang karapas dapat mencapai 4.

E. Hal ini mengingat habitat. Danau Towuti dan sungai-sungai yang menghubunginya. Danau Mahalona dan Danau Towuti). 2012) dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau.C. kecuali sponge. 194 . potensi dampak pencemaran dari pertambangan nikel. ikan Lou Han. dan berbagai macam tanaman air di pantai danau yang dangkal sampai dengan sekitar kedalaman 10 meter. Status Di Indonesia Caridina lanceolata belum dilindungi undang-undang. ikan Mas dan lain-lain (Herder dkk. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. yang terdapat di sistim danau Malili seperti kerikil sampai batu-batu berukuran besar. Petea dan Tominanga. IUCN – Endangered. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang jenis ini. ikan Sapu-sapu. yaitu sungai-sungai Larona (dekat dengan outlet Danau Towuti). Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. Habitat dan Penyebaran Caridina lanceolata terdapat diberbagai macam substrat. Caridina lanceolata terutama ditangkap sebagai bahan pembuatan udang kering untuk konsumsi masyarakat setempat. dijumpai terdistribusi luas dan melimpah di Danau Matano. sampah daun. keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini. D. Danau Mahalona. diintroduksinya 14 jenis ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair. Udang ini endemik pada sistim danau Malili. kayu. F. Adanya turbin pembangkit tenaga listrik di sungai Petea juga dapat mempengaruhi populasinya.

Telur berwarna merah. Mata berkembang sempurna. Morfologi Rostrum pendek. 195 . Badan dan semua kaki bervariasi warnanya.9 mm. serta ujung ekor berwarna putih.6.8-1. Caridina loehae (Foto: C.5-1. Panjang karapas dapat mencapai 2. 0. 1937 :- Gambar 99.21. dari merah terang sampai merah tua. 2009) B. Lukhaup.50. induk ovigerous memiliki 10-19 butir telur.3 panjang karapas. Mini Blue Bee Shrimp A. Terdapat 3 pita putih melintang yang jelas di abdomennya dan bintik-bintik putih kecil yang tersebar merata diseluruh badan.7 mm.1 x 0. ujungya hanya hampir mencapai tepi akhir segmen kedua dari tangkai antennula. dan 1-8 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah. Caridina loehae Udang Tawon Merah Red Bee Shrimp. Orange Delight Shrimp. Diameter telur berukuran 0. Terdapat 14-20 gigi pada sisi bagian atas rostrum dengan 3-5 gigi dibelakang mata. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina loehae Woltereck.

potensi dampak pencemaran dari pertambangan nikel. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks.C. 2012) dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. F. Hal ini mengingat habitat. ikan Lou Han. Saran perlindungan Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. D. ikan Sapu-sapu. Jenis udang ini juga tersedia di perdagangan ikan hias internasional. terutama berada diatas dan dibawah batu-batu yang lebih kecil dan kerikil di perairan dangkal. IUCN – Endangered. Status Di Indonesia Caridina loehae belum dilindungi undang-undang. Habitat dan Penyebaran Caridina loehae adalah penghuni substrat keras. pada kedalaman kurang dari 5 meter. keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini 196 . diintroduksinya 14 jenis ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair. Danau Mahalona dan Danau Towuti). Udang ini endemik pada sistim danau Malili. Adanya turbin pembangkit tenaga listrik di sungai Petea juga dapat mempengaruhi populasinya. E. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang hias jenis ini. namun hanya dijumpai di outlet Danau Towuti dan sekitar Pulau Loeha di Danau Towuti. terdistribusi luas di Danau Matano dan sungai Petea. ikan Mas dan lain-lain (Herder dkk.

2009) B. induk ovigerous memiliki 4180 butir telur. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina profundicola von Rintelen & Cai.9 x 0. Sun-Stripe Shrimp A.6. 197 .22. Mata berkembang sempurna.9 mm.7-0.4-0. Morfologi Rostrum sangat panjang dan langsing. Caridina profundicola (Foto: C.8 panjang karapas. Lukhaup. dan 13-24 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah. 1. Panjang karapas dapat mencapai 4. Caridina profundicola Udang Pinokio Pinochio Shrimp. Diameter telur berukuran 0. Terdapat 16-25 gigi yang tersebar merata pada sisi bagian atas rostrum dengan 2-3 gigi di belakang mata. ujungya jauh melebihi tepi luar skaposerit.4-2. 2009 :- Gambar 100.6 mm. bagian proximal berbentuk segitiga lebar.

ikan Lou Han. potensi dampak pencemaran dari pertambangan nikel. Jenis udang ini juga tersedia di perdagangan ikan hias internasional. Habitat dan Penyebaran Caridina profundicola adalah penghuni substrat keras. keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini 198 . ikan Sapu-sapu. umumnya dijumpai di antara batu-batu besar. diintroduksinya 14 jenis ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair. kadang-kadang agak merah. D. F. dan biasanya terdapat 2 pita kuning melintang yang jelas pada abdomen. Status Di Indonesia Caridina profundicola belum dilindungi undang-undang.Badan dan semua kaki transparan kekuningan. Danau Mahalona dan Danau Towuti). Hal ini mengingat habitat. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. outlet danau dan sidikit pantai di sisi timur danau saja. Caridina profundicola adalah udang endemik Danau Towuti dan terutama ditemukan di sekitar Pulau Loeha. IUCN – Endangered. Telur berwarna hijau. 2012) dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang hias jenis ini. ikan Mas dan lain-lain (Herder dkk. Adanya turbin pembangkit tenaga listrik di sungai Petea juga dapat mempengaruhi populasinya. E. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. C. Namun sedikit juvenil ditemukan di antara sampah daun di perairan dangkal.

0 mm.6. 2009) B. 0.9-1. Terdapat 14-24 gigi pada sisi bagian atas rostrum dengan 3-5 gigi dibelakang mata. Sulawesi Yellow Nose A. Caridina spinata Udang Titik kuning. Caridina spinata (Foto: C. Beberapa bintik kuning menyala terdapat diberbagai bagian tubuh dan ujung ekor. 199 .7 panjang karapas.6-0.7 mm. Diameter telur berukuran 1. induk ovigerous memiliki 17-31 butir telur. Yellow Cheek Shrimp. Udang Sungut Putih Red Goldflake Shrimp.23. dan 5-12 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah. 1937 :- Gambar 101. ujungya melebihi atau jauh melebihi tepi luar skaposerit. Lukhaup.1 x 0. Morfologi Rostrum panjang. sering terdapat 2 atau 3 pita melintang berwarna kuning menyala atau jingga yang terdapat di belakang karapas dan abdomen. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina spinata Woltereck.0-1. Badan dan semua kaki berwarna merah cerah sampai merah tua. Panjang karapas dapat mencapai 5. Mata berkembang sempurna.

Juvenil biasanya ditemukan di atas batu-batu di perairan dangkal. Habitat dan Penyebaran Caridina spinata adalah penghuni substrat keras. Antenula biasanya putih transparan. D. keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini 200 . Adanya turbin pembangkit tenaga listrik di sungai Petea juga dapat mempengaruhi populasinya. E. potensi dampak pencemaran dari pertambangan nikel. ikan Lou Han. IUCN – Endangered. 2012) dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang hias jenis ini. Hal ini mengingat habitat. Danau Mahalona dan Danau Towuti). diintroduksinya 14 jenis ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair.Seluruh kaki bercapit dan ekor dapat juga berwarna kuning atau jingga. Telur berwarna merah cerah sampai merah tua seperti warna badannya. F. ikan Mas dan lain-lain (Herder dkk. ikan Sapu-sapu. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. Caridina spinata adalah udang endemik Danau Towuti yang terdistribusi luas di danau ini. Udang dewasa lebih menyukai batu-batu besar diperairan yang lebih dalam. Jenis udang ini juga tersedia di perdagangan ikan hias internasional. lebih-kurang pada kedalaman 3-5 meter. Saran perlindungan Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. C. Status Di Indonesia Caridina spinata belum dilindungi undang-undang.

2 pita pertama biasanya bergabung pada bagian dorsal membentuk sebuah pita huruf “n” pada tampak samping. 2006) B. Diameter telur berukuran 0.8-0. induk ovigerous memiliki 12-18 butir telur. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina spongicola Zitzler & Cai.9 x 0. sepertiga depan agak melengkung ke atas. Terdapat 14-25 gigi pada sisi bagian atas rostrum dengan 3-5 gigi dibelakang mata. Zitzler.6. Panjang karapas dapat mencapai 2.24. dan bagian belakang rostrum 201 .7-3. dasar antena. 2006 :- Gambar 102. Caridina spongicola (Foto: K. Caridina spongicula Udang Harlequin Harlequin Shrimp A. dan 3-15 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah. peduncle dari antenula.4-0. Morfologi Rostrum pendek.6 mm. Pada karapas terdapat 3 pita melintang berwarna coklat gelap. 0. ujungya hampir mendekati atau mencapai segmen ketiga tangkai antenula. Mata berkembang sempurna.8 mm. lurus dan langsing. Bagian depan kepala-dada.0 panjang karapas.

Penyebarannya hanya di Danau Towuti saja. Sungai ini adalah satu-satunya outlet (sungai yang keluar) dari Danau Towuti. Telur berwarna coklat gelap. potensi dampak pencemaran dari pertambangan nikel. antenna dan ujung antenula tidak memiliki pigmen. F. D. 202 . E. C. keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. dan merupakan jenis endemik Danau Towuti. Habitat dan Penyebaran Caridina spongicola tinggal di dan dalam sponge air tawar yang terdapat di mulut sungai Larona. Status Di Indonesia Caridina spongicola belum dilindungi undang-undang. IUCN – Endangered. Hal ini mengingat habitat. pada punggung terdapat banyak pita coklat gelap. Kaki jalan pertama dan kedua putih dengan garis-garis coklat gelap. Jenis udang ini juga tersedia di perdagangan ikan hias internasional. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang hias jenis ini. Ekor bagian belakang terdapat pita berwarna coklat gelap. ikan Lou Han. Sponge tempat tinggal udang Caridina spongicola belum dipertelakan jenisnya.berpigmen sama. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. pada abdomen terdapat 1 pita putih yang nyata membujur di sepanjang tiap sisi abdomen. 2012) dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. ikan Mas dan lain-lain (Herder dkk. sedangkan ujungnya berwarna putih. Adanya turbin pembangkit tenaga listrik di sungai Petea juga dapat mempengaruhi populasinya. diintroduksinya 14 jenis ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair. Sponge ini termasuk kedalam subordo Spongillina. sedangkan bagian depan rostrum. ikan Sapu-sapu. Danau Mahalona dan Danau Towuti).

ujungya melampaui tepi luar skaposerit. diakses Juli 2013) B. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina striata von Rintelen & Cai.8-2.5 mm. Red Line Bee. Diameter telur berukuran 0. bagian samping terdapat garis-garis putih membujur di sepanjang badan. Caridina striata Udang Liris Besar Red Stripes Shrimp. kedua: lebih pendek dan lebar yang ujungnya hanya sedikit melebihi tepi luar skaposerit.8 mm. bagian depan melengkung ke atas.25. Morfologi Rostrum biasanya panjang sampai sangat panjang. Caridina striata (dari website Google. pertama: sangat panjang dan langsing yang ujungnya jauh melebihi tepi luar skaposerit. 0. Mata berkembang sempurna. 2009 :- Gambar 103.4 panjang karapas. Rostrum memiliki 2 bentuk.6.9 x 0. Rib Line Bee. Pada ekor kadang-kadang 203 . Blue Dot Red A.8-0. Badan berwarna merah. Dynamite Shrimp. Red Line Yellow Tail Bee. induk ovigerous memiliki 17-38 butir telur. dan 4-28 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah. dan bagian punggung terdapat beberapa bintik putih. Panjang karapas dapat mencapai 3. Terdapat 3-25 gigi pada sisi bagian atas rostrum dengan 3-5 gigi dibelakang mata.

Kaki-kaki umumnya transparan atau merah transparan. Hal ini mengingat habitat. 2012) dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. tetapi juga dapat ditemukan di Danau mahalona.terdapat bercak-bercak merah dan putih di ujungnya. Danau Mahalona dan Danau Towuti). E. diintroduksinya 14 jenis ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair. Udang ini terdistribusi luas dan sering melimpah di Danau Towuti. F. ikan Sapu-sapu. keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini 204 . potensi dampak pencemaran dari pertambangan nikel. Caridina striata adalah endemik pada sistim danau Malili. di atas dan di bawah batu yang lebih kecil dan di perairan dalam (kedalaman lebih dari 3 meter) di antara batu-batu besar. D. Udang ini ditemukan di perairan dangkal. Kaki jalan pertama dan kedua biasanya putih. C. Status Di Indonesia Caridina striata belum dilindungi undang-undang. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. ikan Mas dan lain-lain (Herder dkk. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. Habitat dan Penyebaran Caridina striata adalah penghuni substrat keras pada bebatuan. IUCN – Endangered. Jenis udang ini juga tersedia di perdagangan ikan hias internasional. ikan Lou Han. Adanya turbin pembangkit tenaga listrik di sungai Petea juga dapat mempengaruhi populasinya. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang hias jenis ini.

2009) B.5-0. Caridina woltereckae Udang Leher Putih Celebes Beauty. induk ovigerous memiliki 1929 butir telur.26. Karapas dengan 3 pita melintang berwarna coklat gelap (kadang-kadang merah). Hampir seluruh bagian kaki-kaki 205 . Mata berkembang sempurna. Panjang karapas dapat mencapai 3. Caridina woltereckae (Foto: C. Diameter telur berukuran 0. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina woltereckae Cai. 2009 :- Gambar 104.6.8-1.0-1.6 mm. Lukhaup. Terdapat 13-22 gigi pada sisi bagian atas rostrum dengan 3-4 gigi dibelakang mata. Wowor & Choy.0 x 0. 1.6 panjang karapas. Kaki-kaki transparan atau sedikit berpigmen. 2 pita pertama biasanya bergabung pada bagian dorsal membentuk sebuah pita huruf “n” pada tampak samping.8 mm. Morfologi Rostrum panjang. Harlequin Shrimp. Harlekin Garnele A. ujungya melampaui tepi luar skaposerit. dan 3-13 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah.

kecuali di sekeliling belakang karapas terdapat 1 ban lebar berwarna putih. potensi dampak pencemaran dari pertambangan nikel. ikan Lou Han. Habitat dan Penyebaran Caridina woltereckae adalah penghuni substrat keras. 206 . E. dan di antara batu-batu besar di perairan dalam (kedalaman lebih dari 3 meter). ikan Sapu-sapu. Telur biasanya berwarna coklat gelap. 2012) dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau.jalan pertama dan kedua berwarna putih menyala. Bagian punggung terdapat banyak pita coklat gelap. dan pada abdomen terdapat 1 pita putih yang nyata membujur di sepanjang tiap sisi abdomen. di atas batu-batu berukuran lebih kecil di perairan dangkal. keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini. Status Di Indonesia Caridina woltereckae belum dilindungi undang-undang. ikan Mas dan lain-lain (Herder dkk. Hal ini mengingat habitat. IUCN – Endangered. Adanya turbin pembangkit tenaga listrik di sungai Petea juga dapat mempengaruhi populasinya. C. F. Ujung ekor berpigmen putih atau tidak berpigmen. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. Jenis udang ini diminati di perdagangan ikan hias internasional. diintroduksinya 14 jenis ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. Caridina woltereckae adalah endemik Danau Towuti yang tersebar luas di danau ini. Danau Mahalona dan Danau Towuti). D. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang hias jenis ini.

Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina caerulea von Rintelen & Cai. induk ovigerous memiliki 16-32 butir telur. Badan transparan kekuningan atau kemerahan. 207 .6 panjang karapas. Morfologi Rostrum sangat panjang dan langsing. Caridina caerulea (Foto: C.7 mm. antenula kemerahan. ujungya jauh melebihi tepi luar skaposerit. Lukhaup. 1. Terdapat 11-20 gigi yang tersebar di sekitar atas mata pada sisi bagian atas rostrum (sisa 2/3 rostrum tidak bergigi) dengan 2-4 gigi di belakang mata. 2009) B. Tiap kipas ekor bagian dalam terdapat bercak biru memanjang di ujungnya. dan 26-48 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah. Blue Poso Shrimp A. Panjang karapas dapat mencapai 4. Caridina caerulea Udang Poso Ekor Biru Blue Morph Shrimp.5 mm. semua kaki dan rostrum kebiruan.6.6-0. 2009 :- Gambar 105.1 x 0.9-1. Diameter telur berukuran 0.9-2.27. Blue Leg Shrimp. Mata berkembang sempurna.

IUCN – Vulnerable. Habitat dan Penyebaran Caridina caerulea terutama ditemukan di substrat keras seperti kayu. F.C. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. D. Hal ini mengingat keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini 208 . Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang jenis ini dan diintroduksinya ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair dapat berpotensi menurunkan populasinya di alam. E. Status Di Indonesia Caridina caerulea belum dilindungi undang-undang. batu-batuan. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Poso. Caridina caerulea bersama udang spesies lainnya yang hanya ditemukan di Danau Poso terutama ditangkap sebagai bahan pembuatan udang kering untuk konsumsi masyarakat setempat. Udang ini adalah endemik Danau Poso. tetapi secara sporadik dijumpai juga di substrat lunak seperti tumbuhan air. terdistribusi luas di danau ini walaupun tidak semelimpah udang Caridina ensifera.

0 x 0. 1902 :- Gambar 106. Terdapat 9-15 gigi yang tersebar di sekitar atas mata pada sisi bagian atas rostrum (sisa 2/3 rostrum tidak bergigi) dengan 1-3 gigi di belakang mata. Tiap kipas ekor bagian luar terdapat bercak merah memanjang di bagian ujungnya. ujungya jauh melebihi tepi luar skaposerit.5-0. Panjang karapas dapat mencapai 5. Mata berkembang sempurna. dan antenula kemerahan.3 mm. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina ensifera Schenkel. Lukhaup.6. Caridina ensifera Udang Poso Bening Red Morph Shrimp. Poso Glass Shrimp A. Morfologi Rostrum sangat panjang dan langsing. Caridina ensifera (Foto: C. Diameter telur berukuran 0.6 mm. Crystal Bee Shrimp.4-2.9-1.28. dan 16-29 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah. 1. 209 . Badan transparan kekuningan dengan beberapa bintik putih atau lebih gelap.3 panjang karapas. induk ovigerous memiliki 19-25 butir telur. 2009) B.

kayu. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang jenis ini dan diintroduksinya ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair dapat berpotensi menurunkan populasinya di alam. D. Status Di Indonesia Caridina ensifera belum dilindungi undang-undang. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. Udang jenis ini adalah endemik Danau Poso dan paling melimpah dijumpai dan tersebar luas di danau ini. Hal ini mengingat keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini 210 . E. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Poso. namun tidak terdapat di sungai-sungai inlet maupun outlet. Caridina ensifera bersama udang spesies lainnya yang hanya ditemukan di Danau Poso terutama ditangkap sebagai bahan pembuatan udang kering untuk konsumsi masyarakat setempat. F. IUCN – Vulnerable. pasir dan tanaman air. Habitat dan Penyebaran Caridina ensifera adalah generalis dan sering dijumpai bergerombol di perairan permukaan (pelajik) atau secara sporadis di berbagai jenis substrat seperti batu-batuan.C.

Lukhaup. Terdapat 16-21 gigi yang tersebar di sekitar atas mata pada sisi bagian atas rostrum (sisa sepertiga sampai setengah rostrum tidak bergigi) dengan 46 gigi di belakang mata. 0.6. induk ovigerous memiliki 24-29 butir telur. Pink Boxer Shrimp A. Capit kaki jalan pertama dan kedua panjang dan langsing. Caridina longidigita (Foto: C. Panjang karapas dapat mencapai 4.1 mm. 211 . Mata berkembang sempurna.0-1.7 mm. Poso Blue Shrimp. umumnya ujungya melampaui tepi luar skaposerit. dan 13-23 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah.29. 2007 :- Gambar 107. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina longidigita Cai & Wowor.9-1.4 panjang karapas. 2009) B. Caridina longidigita Udang Kipas Sulawesi Sulawesi Fan Shrimp. Diameter telur berukuran 1.6-0.2 x 0. Morfologi Rostrum panjang dan ujungnya melengkung ke atas.

IUCN – Vulnerable. Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang jenis ini dan diintroduksinya ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair dapat berpotensi menurunkan populasinya di alam. Status Di Indonesia Caridina longidigita belum dilindungi undang-undang. Caridina longidigita adalah endemik Danau Poso. D. Hal ini mengingat keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini 212 . Habitat dan Penyebaran Caridina longidigita adalah penghuni substrat keras. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Poso.Badan transparan kecoklatan sampai kehijauan (atau lebih gelap) dengan bintik-bintik kecil menutupi seluruh tubuh. terdistribusi luas di danau ini namun tidak semelimpah Caridina ensifera. tetapi tidak memiliki pola tertentu. C. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. Telur berwarna coklat tua. Udang jenis ini juga ditemukan bertengger di kayu. terdapat diantara koral pada perairan dangkal dengan kedalaman kurang dari 3 meter dan batu-batu besar pada kedalaman lebih dari 3 meter. Caridina longidigita bersama udang spesies lainnya yang hanya ditemukan di Danau Poso terutama ditangkap sebagai bahan pembuatan udang kering untuk konsumsi masyarakat setempat. F. E. Jari-jari kaki bercapit berwarna jingga.

cubeclub. 1902 :- Gambar 108.9-1.net. Panjang karapas dapat mencapai 3. Caridina sarasinorum 213 . Caridina sarasinorum Udang Sarasin A. Habitat dan Penyebaran Caridina sarasinorum dijumpai di berbagai macam substrat. diakses Juli 2013) B.5-0. Morfologi Rostrum panjang. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Caridea Suku Marga Spesies Sinonim : Atyidae : Caridina : Caridina sarasinorum Schenkel. sampah daun dan tanaman air. 1.6 mm.6 mm. dan 8-14 gigi di sepanjang sisi rostrum bagian bawah. Badan transparan kekuningan atau kehijauan namun tak memiliki pola tertentu. Caridina sarasinorum (Foto: www. Diameter telur berukuran 0.30.0 x 0. induk ovigerous memiliki 1923 butir telur.0-1. seperti kayu. C. Mata berkembang sempurna. ujungya melampaui tepi luar skaposerit. Udang jenis ini khususnya terdapat di tanaman air dan kayu.6.2 panjang karapas. Terdapat 15-21 gigi yang tersebar di sekitar atas mata pada sisi bagian atas rostrum (sisa sepertiga sampai setengah rostrum tidak bergigi) dengan 4-6 gigi di belakang mata.

D. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk udang endemik sistim Danau Poso. IUCN – Vulnerable.adalah endemik Danau Poso. E. Hal ini mengingat keberadaan berbagai jenis ikan asing/ invasive maupun penangkapannya di alam dapat mengancam keberadaan jenis udang endemik ini 214 . Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap udang jenis ini dan diintroduksinya ikan asing yang bersifat invasive antara lain ikan Mujair dapat berpotensi menurunkan populasinya di alam. Caridina sarasinorum bersama udang spesies lainnya yang hanya ditemukan di Danau Poso terutama ditangkap sebagai bahan pembuatan udang kering untuk konsumsi masyarakat setempat. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. Status Di Indonesia Caridina sarasinorum belum dilindungi undang-undang. F. terdistribusi luas di danau ini namun tidak semelimpah Caridina ensifera.

Pantherkrabbe A.6. koleksi pribadi) B. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Brachyura Suku Marga Spesies Sinonim : Gecarcinucidae : Parathelphusa : Parathelphusa pantherina (Schenkel. Morfologi Karapas pipih dan permukaan halus. 1915 Para[thelphusa] (Mesothelphusa) pantherina – Balss. 1902) : Potamon (Parathelphusa) pantherina Schenkel. Tonjolan-tonjolan epigastrik dan postorbital menyambung. 1902 Potamon (Parathelphusa) pantherinus – Rathbun. 1905 Parathelphusa (Mesothelphusa) pantherina – Roux. Gigi-gigi epibrachial besar dan 215 . Parathelphusa pantherina (Foto: D. 1934 Gambar 109. Lekukan servik dangkal tetapi jelas.31. Kepiting Macan Tutul Panther Crab. Parathelphusa pantherina Bungka nggori. hampir mencapai sisi anterolateral sebelum dasar gigi pertama epibranchial. jelas. Wowor. subparalel dengan sisi frontal.

Ancaman Penangkapan yang berlebihan terhadap kepiting hias jenis ini. Habitat dan Penyebaran Parathelphusa pantherina banyak dijumpai di substrat pasir.nyata. bersembunyi di bawah batang kayu dan di antara batu-batu besar. F. Danau Mahalona dan Danau Towuti). Hal ini mengingat penangkapannya di alam dan pengaruh kualitas air danau dapat mengancam keberadaan jenis kepiting endemik ini. E. potensi dampak pencemaran air dari pertambangan nikel dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. Kepiting ini adalah endemik Danau Matano di Sulawesi Selatan. 216 . Status Di Indonesia Parathelphusa pantherina belum dilindungi undang-undang. IUCN – Vulnerable. Jenis kepiting ini juga tersedia di perdagangan ikan hias internasional. Karapas dan semua kakinya berbercak coklat tua semasa hidupnya seperti wana kulit Macan Tutul. Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk kepiting endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. C. Jari-jari kaki bercapit dan ruas terakhir kaki-kaki jalan berwarna oranye/ jingga. CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. D.

Morfologi Karapas agak cembung dan permukaan kasar. Parathelphusa ferruginea Kepiting Towuti Rostbraube Sulawesikrabbe. tidak mencapai sisi anterolateral. 2006 :- Gambar 110. subparalel dengan sisi frontal. koleksi pribadi) B.32. berakhir sebelum permulaan lekukan servik. Parathelphusa ferruginea: white claw (kiri). Karapas berwarna ungu-coklat kemerahan. Ada dua macam pola warna kaki bercapit dan kaki jalan. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Brachyura Suku Marga Spesies Sinonim : Gecarcinucidae : Parathelphusa : Parathelphusa ferruginea Chia & Ng. Lekukan servik sangat dangkal dan tidak jelas. Wowor. 217 . Gigi-gigi epibrachial besar dan nyata. jelas. Towuti Krabbe A. Tonjolan-tonjolan epigastrik dan postorbital menyambung. yaitu putih (dikenal sebagai “White claw”) dan ungu (disebut “Purple”).6. purple (kanan) (Foto: D.

E. IUCN – Least Concern. Ancaman Penangkapan terhadap kepiting jenis ini antara lain sebagai sumber protein bagi masyarakat setempat. Danau Mahalona dan Danau Towuti). Jenis kepiting ini juga tersedia di perdagangan ikan hias internasional. CITES – non-appendiks. Hal ini mengingat penangkapannya di alam dan pengaruh kualitas air danau dapat mengancam keberadaan jenis kepiting endemik ini. 218 . Habitat dan Penyebaran Parathelphusa ferruginea banyak ditemukan pada substrat pasir dengan batu-batu besar maupun lebih kecil dimana mereka bersembunyi. Kepiting jenis ini adalah endemik Danau Towuti dan Danau Mahalona di Sulawesi Selatan. Status Di Indonesia Parathelphusa ferruginea belum dilindungi undang-undang. Saran perlindungan Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk kepiting endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. D.C. potensi pencemaran air dari pertambangan nikel dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. F.

dan permukaannya kasar. 1902) : Potamon (Parathelphusa) matannensis Schenkel. mencapai sisi anterolateral dan berhenti tepat diatas dasar gigi pertama epibranchial. cembung. 1970 Gambar 111. Syntripsa matannensis (Foto: D. kurang jelas.6. Syntripsa matannensis Bungka ito Purple Matano Crab. Wowor. Lekukan servik dangkal dan tidak jelas. 1934 Nautilothelphusa matannensis – Bott. subparalel dengan sisi frontal. 1915 Parathelphusa matannensis – Balls. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda Anak Bangsa : Brachyura Suku Marga Spesies Sinonim : Gecarcinucidae : Syntripsa : Syntripsa matannensis (Schenkel. Violet panther crab. Matano-Riesenkrabbe A. Tonjolan-tonjolan epigastrik dan postorbital menyambung. Tangkai mata 219 . Morfologi Karapas berbentuk trapezium Syntripsa matannensis menyempit sampai seperti kotak. 1902 Parathelphusa (Parathelphusa) matannensis – Roux. koleksi pribadi) B.33.

menggembung. potensi dampak pencemaran air dari pertambangan nikel dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. kaki bercapit besar sangat kekar. IUCN – Least Concern. 220 . Saran Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk kepiting endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano. Karapas dan semua kakinya berwarna hitam. Kaki bercapit tidak simetris. terdapat sepasang gigi molar besar berwarna putih pada pangkal jari capit. Status Di Indonesia Syntripsa matannensis belum dilindungi undang-undang. CITES – non-appendiks. C. Habitat dan Penyebaran Syntripsa matannensis ditemukan di berbagai substrat. Danau Mahalona dan Danau Towuti). berbentuk segitiga. Jenis kepiting ini juga tersedia di perdagangan ikan hias internasional. bagian dalam capit pada bagian pangkal jari dan telapak berwarna merah tua keunguan semasa hidupnya. Hal ini mengingat penangkapannya di alam dan pengaruh kualitas air danau dapat mengancam keberadaan jenis kepiting endemik ini. Gigi-gigi epibrachial besar. nyata dan mengarah keluar. tetapi kepiting dewasa paling senang bersembunyi di bawah batu-batu besar. F.berwarna putih. Seperti kepiting Parathelphusa pantherina. D. batu-batu dan kayu. Ancaman Penangkapan terhadap kepiting jenis ini antara lain sebagai sumber protein bagi masyarakat setempat. kepiting Syntripsa matannensis juga endemik Danau Matano di Sulawesi Selatan. E. seperti pasir.

6.34. Syntripsa flavichela Kepiting Capit Putih White Claw Crab, Weißarm Leopardkrabbe A. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda

Anak Bangsa : Brachyura Suku Marga Spesies Sinonim : Gecarcinucidae : Syntripsa : Syntripsa flavichela Chia & Ng, 2006 :-

Gambar 112. Syntripsa flavichela (Foto: D. Wowor, koleksi pribadi) B. Morfologi

Karapas berbentuk trapezium menyempit sampai seperti kotak, cembung, dan permukaannya agak kasar. Lekukan servik dangkal tetapi jelas. Tonjolan-tonjolan epigastrik dan postorbital menyambung, jelas, subparalel dengan sisi frontal, tidak mencapai sisi anterolateral dan berhenti sebelum dasar gigi pertama epibranchial. Tangkai mata berwarna putih-kekuningan. Gigi-gigi epibrachial besar, berbentuk segitiga, nyata dan mengarah keluar. Kaki bercapit tidak simetris; kaki bercapit besar sangat kekar, menggembung, terdapat sepasang gigi molar besar berwarna putih pada pangkal jari capit. Karapas berwarna bercak-bercak merah dengan dasar putih kekuningan, dan kaki bercapit berwarna emas putih kekuningan dengan jari-jari berwarna hitam semasa hidupnya. 221

C.

Habitat dan Penyebaran

Syntripsa flavichela mendiami substrat pasir dimana terdapat tanaman air Otelia sp. Biasanya kepiting ini bersembunyi di antara akar-akar Otelia sp. Kepiting Syntripsa flavichela adalah endemik Danau Towuti dan Danau Mahalona di Sulawesi Selatan. D. Status IUCN/lindungan Di Indonesia Syntripsa flavichela belum dilindungi undang-undang; IUCN – Least Concern; CITES – non-appendiks. E. Ancaman

Penangkapan yang berlebihan terhadap kepiting hias jenis ini, potensi dampak pencemaran air dari pertambangan nikel dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. Jenis kepiting ini paling laris di perdagangan ikan hias internasional. F. Saran

Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk kepiting endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano, Danau Mahalona dan Danau Towuti). Hal ini mengingat penangkapannya di alam dan pengaruh kualitas air danau dapat mengancam keberadaan jenis kepiting endemik ini.

222

6.35. Nautilothelphusa zimmeri Bungka wanta A. Klasifikasi Filum Anak filum Kelas Bangsa : Arthropoda : Crustacea : Malacostraca : Decapoda

Anak Bangsa : Brachyura Suku Marga Spesies Sinonim : Gecarcinucidae : Nautilothelphusa : Nautilothelphusa zimmeri (Balss, 1933) : [Parathelphusa] (Nautilothelphusa) zimmeri Balls, 1933 Para-Nautilo-thelphusa zimmeri – Balss, 1934

Gambar 113. Nautilothelphusa zimmeri (Foto: D. Wowor, koleksi pribadi) B. Morfologi

Karapas berbentuk persegi empat, pipih dan permukaannya kasar. Lekukan servik dangkal dan sempit. Tonjolan epigastrik kurang nyata tetapi ada, sedangkan tonjolan postorbital kurang nyata sampai tidak ada. Tonjolan epigastrik subparalel dengan sisi frontal. Sisi frontal jelas melekuk. Sudut tepi luar mata berbentuk segi tiga besar, dan 2 gigi epibrachial kecil, berbentuk segitiga yang nyata Tangkai mata berwarna putih-kekuningan. Kaki bercapit relatif kecil dan simetris. Telapak kaki bercapit agak menggembung dengan jari-jari yang langsing berwarna coklat. Kaki-kaki tak bercapit relatif langsing, panjang dan licin. Propodus (segmen kedua dari ujung terluar) kaki jalan terakhir sangat melebar dan pipih seperti dayung. Karapas dan semua kaki-kakinya berwarna putih kecoklatan. 223

C.

Habitat dan Penyebaran

Nautilothelphusa zimmeri banyak ditemukan di subtrat pasir berlumpur. Pada siang hari kepiting ini bersembunyi di dalam substrat atau berlindung di antara akar-akar tanaman rumput air pada sekitar kedalaman 3 meter. Nautilothelphusa zimmeri hanya ditemukan di sistim Danau Malili saja, yaitu Danau Towuti, Danau Mahalona dan Danau Matano di Sulawesi Selatan. D. Status Di Indonesia Nautilothelphusa zimmeri belum dilindungi undang-undang; IUCN – Vulnerable; CITES – belum dimasukkan dalam appendiks. E. Ancaman

Penangkapan terhadap kepiting jenis ini antara lain sebagai sumber protein masyarakat lokal, potensi dampak pencemaran air dari pertambangan nikel dan pembuangan bahan organik akibat lajunya pertambahan penduduk di sekitar danau. Walaupun Nautilothelphusa zimmeri dijumpai di ketiga danau utama sistim Danau Malili, tetapi jenis kepiting ini memiliki populasi yang kecil. F. Saran

Segera ditetapkan status perlindungannya oleh undang-undang RI baik habitat maupun spesies untuk kepiting endemik sistim Danau Malili (termasuk Danau Matano, Danau Mahalona dan Danau Towuti). Hal ini mengingat penangkapannya di alam dan pengaruh kualitas air danau dapat mengancam keberadaan jenis kepiting endemik ini

224

BAB VII. MIMI

7.1.

Tachypleus tridentatus Mimi mintuno (Jawa Tengah), kepiting tapak kuda, belangkas Horse shoe crab, tri-spine horseshoe crab (Inggris), king crab.

A. Klasifikasi
Filum Anak Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Chelicerata : Merostomata : Xiphosurida : Limulidae : Tachypleus Leach, 1819 : Tachypleus tridentatus (Leach, 1819) : Limulus longispina van der Hoeven, 1838 Limulus tridentatus Leach, 1819

Gambar 114. Tachypleus tridentatus (Leach, 1819) www.tfrin.gov.tw (diakses tanggal 22 Juli, 2013) B. Morfologi Tubuhnya seperti “tempurung baja”, berwarna kecoklatan, berduri belakang panjang dan runcing. Tubuh terbagi atas tiga bagian: 1. Bagian depan (anterior prosoma) : yang menyerupai tapal kuda. Permukaan licin, menutupi ruas-ruas kepala dan ruas-ruas dada (Cephalothorax). 225

Penyebaran: India. maka dilakukan tindakan perlindungan terhadap hewan tersebut dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: 12/Kpts. 3. Sedangkan C. tridentatus biasanya berukuran lebih besar (75 cm panjang total) dan ekor berbentuk segitiga dalam potongan melintang. rotundicauda ber-ukuran lebih kecil (35 cm panjang total). Thailand. Nelayan justru hanya memakan telur-telurnya saja. Indonesia. Singapore. Philippines. Saran Masuk dalam Appendix 2. sehingga banyak juga yang sudah dijual ke Malaysia secara illegal. Taiwan. Borneo.II/1987 PPSDAHP (1987/1988). Malaysia.II/1987 PPSDAHP (1987/1988). D. Sudah masuk Red List Category & Criteria dalam list IUCN dengan status Data. Japan.2. F. Perbedaan Tachypleus tridentatus dengan Carcinoscorpius rotundicauda: Perbedaan hanyalah pada ukurannya saja. Vietnam. Induk betina bertelur dilarang dipanen 226 . tetapi cenderung sering terjaring dan ditangkap oleh nelayan. Mengingat status dari hewan ini belum diketahui dengan pasti. Tetapi di Madura dan Malaysia hewan ini dipercaya memiliki zat yang dapat dijadikan obat kuat. Philippines. meskipun tidak ada bagian yang relative dapat dimakan. E. ekor bulat atau lonjong dalam potongan melintang. Status Dilindungi dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: 12/Kpts. Bagian paling belakang: dengan bentuk menyerupai duri yang panjang dan runcing dan disebut sebagai duri ekor. perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. C. Belum masuk di PP 07/1999. dimana pada bagian tepinya terdapat duru-duri panjang yang ukurannya bervariasi tergantung dari jenis kelamin hewan tersebut. Habitat dan Penyebaran Habitat: di laut. Merupakan jenis umum yang sangat berlimpah ditemukan oleh para nelayan. Bagian tengah (opisthosoma): menutupi 7 ruas perut (abdomen). perairan dangkal Indonesia dengan pasir dan lumpur. tetapi juga sering dijumpai di muara sungai. Ancaman Hewan ini dianggap sebagai hewan laut langka (primitive marine animal) dan sudah dikelompokkan dalam katagori rawan atau jarang. Province of China. T.

1802) www. 227 . 2. belangkas padi Horse shoe crab.com (diakses tanggal 22 Juli. berwarna kecoklatan. Tubuh terbagi atas tiga bagian: 1. berduri belakang panjang dan runcing.2. Permukaan licin. Carcinocorpius rotundicauda (Latreille.7. 3. Kepiting tapak kuda. dimana pada bagian tepinya terdapat duru-duri panjang yang ukurannya bervariasi tergantung dari jenis kelamin hewan tersebut. 1802 Gambar 115. menutupi ruas-ruas kepala dan ruas-ruas dada (Cephalothorax).flickr. Bagian depan (anterior prosoma): yang menyerupai tapal kuda. Klasifikasi Filum Anak Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies Sinonim : Arthropoda : Chelicerata : Merostomata : Xiphosurida : Limulidae : Carcinocorpius Pocok. 2013. 1902 : Carcinocorpius rotundicauda (Latreille. keronco. Bagian paling belakang: dengan bentuk menyerupai duri yang panjang dan runcing dan disebut sebagai duri ekor. 1802) : Limulus rotundicauda Latreille. tri-spine horseshoe B. silindris. Carcinoscorpius rotundicauda Ketam tapak kuda. Morfologi Tubuhnya seperti “tempurung baja”. B. Bagian tengah (opisthosoma): menutupi 7 ruas perut (abdomen).

Tetapi di Madura dan Malaysia hewan ini dipercaya memiliki zat yang dapat dijadikan obat kuat.iucnredlist. maka dilakukan tindakan perlindungan terhadap hewan tersebut dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: 12/Kpts. Mengingat status dari hewan ini belum diketahui dengan pasti. Habitat dan Penyebaran Habitat: di laut. Malaysia. Borneo. perlu pembatasan ukuran individu yang dipanen. Vietnam. Merupakan jenis umum yang sangat berlimpah ditemukan oleh para nelayan. Taiwan. Philippines.3. Nelayan hanya memakan telur-telurnya saja. Saran Masuk dalam Appendix 2. Penyebaran: India.II/1987 PPSDAHP (1987/1988). perairan dangkal Indonesia dengan pasir dan lumpur.org>. Status Dilindungi dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: 12/Kpts. sehingga banyak juga yang sudah dijual ke Malaysia secara illegal. <www. Berdasarkan World Conservation Monitoring Centre 1996 Carcinoscorpius rotundicauda dalam: IUCN 2013 tergolong IUCN Red List status dilindungi Versi 2013.II/1987 PPSDAHP (1987/1988). tetapi juga sering dijumpai di muara sungai.C. tetapi cenderung sering terjaring dan ditangkap oleh nelayan. Singapore. Thailand. E. 228 . Indonesia. Japan. Province of China. Induk betina bertelur dilarang dipanen. meskipun tidak ada bagian yang relative dapat dimakan. D. Philippines. F. perlu diperbaharui dan di cek kembali. Di unduh pada tanggal 24 Juli 2013. Ancaman Hewan ini dianggap sebagai hewan laut langka (primitive marine animal) dan sudah dikelompokkan dalam katagori rawan atau jarang.1. Sudah masuk Red List Category & Criteria dalam list IUCN dengan status Data Data Deficient ver 2.

teripang putih (P. 1986) Gambar 116. punggung berwarna abu-abu sampai kehitaman. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Echinodermata : Holothuroidea : Aspidochirotda : Holothuriidae : Holothuria : Holothuria (Metriatyla) scabra Jaeger. Seluruh permukaan bagian tubuh kasar. teripang buang kulit (Lampung). versicolor (Conand.Roti). Holotuhuria scabra dari perairan Teluk Lampung (Sumber : Hartati. Morfologi Bentuk badan bulat memanjang. teripang gamat (Riau) Sand Fish (EN) A. bagian perut umumnya berwarna kuning keputih-putihan.1.BAB VIII. 1833 Holothuria (Metriatyla) scabra var. teripang susuan (Menado). Seribu). teripang buang kulit (Bangka). dengan garis-garis melintang berwarna hitam. Holothuria scabra Teripang pasir (Kep. 229 . 2008) B. TERIPANG 8.

sehingga tertangkap hampir semua ukuran. dan dekat mangrove. dan konservasi pada beberapa wilayah habitatnya. spesies ini menjadi sumber utama produksi perairan tropis indopasifik pada perikanan artisanal. sangat jarang ditemukan pada perairan dengan kedalaman lebih dari 10 m. Status Belum dilindungi UU-RI. Saran Penelitian untuk rekomendasi kebijakan pengelolaan teripang spesies Holothuria scabra. segera ditetapkan status perlindungannya. Teripang ini terdistribusi luas pada perairan tropis indo-pasifik.C. Spesies ini senang menenggelamkan diri kedalam dasar perairan berlumpur maupun lumpur-berpasir dan dapat mencapai kepadatan tinggi hingga 1 ind/m2. Reproduksi seksual berlangsung pada saat perairan menjadi lebih hangat. Spesies ini memiliki potensi fekunditas (jumlah telur) tinggi dan lebih cepat mencapai kematangan sexual. 230 . termasuk Indonesia. F. karena gerakannya lamban dan bergerombol. D. umumnya ditemukan pada terumbu karang type reef-flat dan cekungan (lagoon). Habitat dan Penyebaran Ditemukan diperairan dangkal. Penangkapan dilakukan dengan menggunakan tangan (diselam). Ancaman Lebih tangkap (Overfishing). menjadi isu dan dibahas pada COP 14 CITES E.

1867 Gamba 117. Morfologi Bentuk tubuh oval. Klasifikasi Filum Bangsa Suku Marga Spesies : Echinodermata : Holothuroidea : Holothuriidae : Holothuria : Holothuria (microthele) nobilis Slenka. punggung cembung. Ketebalan dinding tubuh mencapa 12 mm. panjang mencapai 55 cm. menjadi isu dan dibahas pada COP 14 CITES E. mempunyai banyak kaki.8. menyebabkan populasi sangat rentan karena dieksploitasi secara berlebihan. sering ditutupi dengan pasir. C. Penangkapan dilakukan oleh nelayan dengan cara dipungut tangan pada saat surut. berat badan mencapai 1. NTT (Sumber : Hartati. Penangkapan dengan cara diselam menggunakan peralatan selam. Status Belum dilindungi UU-RI.2. pada umumnya 37 kg. Daerah penyebaran meluas di daerah tropis indo-pasific D. berada pada batu pasir dan karang karang mati. dinding tubuh halus dan tebal.7 kg sampai 4 kg. Holothuria nobilis dari perairan Lembata. 2002) B. Ancaman Jenis teripang Holothuria nobilis memiliki potensi fekunditas (jumlah telur) sedang atau menengah. jarang dijumpai. warna coklat tua sampai hitam. Habitat dan Penyebaran Neritic bentik. 231 . Holothuria nobilis Teripang susuan Black teatfish (EN) A. berbeda dengan teripang lainnya. kedalam perairan hingga 20 m.

segera ditetapkan status perlindungannya. dan upaya konservasi pada beberapa wilayah habitatnya 232 . Saran Dilakukan penelitian kebijakan pengelolaan teripang jenis Holothuria nobilis.F.

Habitat dan Penyebaran Sebagian besar ditemukan pada kedalaman antara 10-40 m. Holothuria fuscogilva dari Lembata. Klasifikasi Filum Bangsa Suku Marga Spesies : Echinodermata : Holothuroidea : Holothuriidae : Holothuria : Holothuria (microthele) fuscogilva Cherbonnier.4 kg. atau pada paparan lamun yang dangkal.8. 1980 Gambar 118. Panjang mencapai 57cm. Warna coklat dengan banyak atau sedikit keputihan. Holothuria fuscogilva Teripang susuan White teatfish (EN) A. NTT (Sumber : Hartati. Sebagian besar ditemukan di kedalaman antara 10-40 m. Kepadatan populasi tidak setinggi. pada terumbu penghalang luar. kepadatan hanya kurang lebih 0.4 . Berat dapat mencapai 2. gemuk. pada umumnya 42 m. 2002) B. Morfologi Bentuk badan agak oval. misalnya Holothuria nobilis.001 / m2. Status Belum dilindungi UU-RI. Karakteristik papila lateral besar dan sering tertutup oleh pasir.3. pada terumbu penghalang luar dan juga dikenal paparan lamun yang dangkal. Terdapat bintik-bintik di sisi trivium ringan generallywhitish. Daerah penyebaran meluas di daerah tropis indo-pasific D. Tebal Dinding badan 12 mm C. kuat dan kaku. menjadi isu dan dibahas pada COP 14 CITES 233 .

F. Ancaman Jenis teripang Holothuria nobilis memiliki potensi fekunditas (jumlah telur) rendah. dan upaya konservasi pada beberapa wilayah habitatnya 234 . Penangkapan dilakukan oleh nelayan dengan cara dipungut tangan pada saat surut. segera ditetapkan status perlindungannya. menyebabkan populasi sangat rentan karena dieksploitasi secara berlebihan.E. Saran Dilakukan penelitian kebijakan pengelolaan teripang jenis Holothuria nobilis. Penangkapan dengan cara diselam menggunakan peralatan selam. dan kematangan sexual lambat.

Banyak ditemukan pada daerah padang lamun. Habitat dan Penyebaran Merupakan spesies yang hidup di perairan dangkal.005/m2 . ditemukan pada terumbu karang dan laguna. panjang mencapai 25 – 35 cm. Teripang ini terdistribusi luas pada perairan tropis indo-pasifik.4. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Echinodermata : Holothuroidea : Aspidochirotda : Holothuriidae : Stichopus : Stichopus variegatus Semper. Morfologi Bentuk badan bulat panjang. dan dasar perairan yang berpasir-lumpur. Reproduksi sexual terjadi selama musim hangat dimana suhu perairan lebih hangat. warna coklat mulus dengan bercak-bercak yang tidak teratur. pecahan karang. Spesies ini memiliki fekunditas rendah dan lambat mengalami kematangan seksual. 235 . Populasinya tidak dapat mencapai densitas tinggi. Terdapat duri yang sebagian berwarna coklat tua dan sebagian lagi berwarna coklat muda. 2002) B. C. Stichopus variegatus Teripang duri/ kasar/ gama (Kepulauan Sribu) Curryfish (EN) A. Stichopus variegatus dari perairan Lembata (Sumber : Hartati. 1868 Gambar 119. umumnya terdistribusi dekat permukaan perairan hingga pada kedalaman 25 m. dengan rata-rata kepadatan sekitar 0. termasuk seluruh perairan pantai karang di Indonesia.8.

Saran Penelitian untuk rekomendasi kebijakan pengelolaan teripang spesies Stichopus variegatus. F. 236 .D. sehingga akan terancam mengalami kepunahan bila ditangkap berlebihan (Overfishing). Ancaman Spesies teripang ini memiliki fekunditas rendah dan lambat mengalami kematangan seksual. segera ditetapkan status perlindungannya. dan upaya konservasi pada beberapa wilayah habitatnya. menjadi isu dan dibahas pada COP 14 CITES E. Satus Belum dilindungi UU-RI.

kaku. bagian trivium umumnya berwarna merah Terdapat spikula yang berbentuk silang. Warna keseluruhan bervariasi. Klasifikasi Filum Kelas Bangsa Suku Marga Spesies : Echinodermata : Holothuroidea : Aspidochirotda : Holothuriidae : Thelenota : Thelenota ananas Jaeger. 1868 Gambar 120. 2002) B. Aru. 237 . Seluruh tubuh bagian atas ditutup oleh papillae yang berbentuk daun. Stichopus ananas Teripang nanas/ teripang ebnas (Mnado. rata berlubang dan berbiji. Morfologi Bentuk tubuh bulat memanjang. Thelenota ananas dari perairan Lembata (Sumber : Hartati.5. Timor. . Banda. Timor. cabang spikula lebih runcing. Ternate) Prickly redfish (EN) A. bagian perut rata.8. pada bagian bivium sedikit kemerahan-orange hingga coklat.

Ancaman Spesies teripang ini memiliki potensi fekunditas (jumlah telur) yang rendah dan lambat mengalami kematangan seksual. termasuk seluruh perairan pantai karang di Indonesia. Populasinya tidak dapat mencapai kepadatan yang tinggi. banyak ditemukan pada perairan dekat permukaan hingga pada kedalaman 25 m. Habitat dan Penyebaran Merupakan spesies yang umum ditemukan pada terumbu karang. dengan rata-rata kepadatan 0. Bersifat simbiosis dengan spesies pearlfish (Carapidae. Penangkapan langsung dengan menggunakan tangan. ophidiiformes) yang banyak ditemukan dalam mulutnya. Teripang ini terdistribusi luas pada perairan tropis indo-pasifik. pecahan karang dan permukaan terumbu karang. dan bantuan perlengkapan selam. segera ditetapkan status perlindungannya. umumnya terdapat pada dasar perairan yang keras. Kondisi sudah terancam punah sebagai akibat dari overekploitasi. Satus Belum dilindungi UU-RI. D. 238 . Saran Penelitian untuk rekomendasi kebijakan pengelolaan teripang spesies Thelenota ananas. Reproduksi seksual terjadi pada saat musim hangat dimana suhu perairan lebih hangat.003 ind/m2. F.C. dan upaya konservasi pada beberapa wilayah habitatnya. menjadi isu dan dibahas pada COP 14 CITES E.

01 ind/m2 .8 -2. Daerah penyebaran Barat Samudera Hindia dan Laut Pasifik. bobot mencapai 1. ketebalan dinding tubuh kurang lebih 10 mm. Habitat dan Penyebaran Ditemukan di perairan dangkal. menjadi isu dan dibahas pada COP 14 CITES 239 . C. Bohadschia argus dari perairan Lembata.2 kg. warna putih kecoklatan dengan bintik-bintik warna kuning. atau laguna luar dengan pasir putih. pada kisaran 0. Sebagai spesies karang yang khas.6. 2002) B. Morfologi Tubuh silindris. Populasi dengan kepadatan rendah. Klasifikasi Filum Bangsa Suku Marga Spesies : Echinodermata : Holothuroidea : Holothuriidae : Bohadschia : Bohadschia argus Jaeger. panjang mencapai 60 cm.001-0.8. 1833 Gambar 121. jarang berada di kedalaman lebih dari 30 m. Status Belum dilindungi UU-RI. pada umumnya kurang lebih 36 cm. Bohadschia argus Teripang kridou bintik Leopard fish (EN) A. NTT (Sumber : Hartati. hidup pada rataan/lereng terumbu karang penghalang. D.

F.E. dan upaya konservasi pada beberapa wilayah habitatnya 240 . Seperti jenis-jenis teripang pada umumnya. Saran Dilakukan penelitian kebijakan pengelolaan teripang jenis Bohadschia argus. kemungkinan termasuk potensi jumlah telur atau fekunditas. penangkapan dengan cara diselam dengan menggunakan peralatan selam akan menyebabkan overfishing atau tangkap lebih. segera ditetapkan status perlindungannya. Ancaman Biologi dari teripang Bohadchia argus belum banyak diketahui.

Scient. C.. E. K. Mancusi. 1868). S. J. Reef fish identification tropical pacific.. P. G. Panulirus longipes (A. S. 1933 Apogonidae.. Allen. Trejo.. and N. IUCN Red List of Threatened Species.marinespecies.. 1: 1-16. G. G.org>. INC. <www. Holothurians (Sea Cucumber. New world publications. Alopias superciliosus. 1990. B. 2005.M. M. Version 2012. Barnard. Version 2009. Anonim. A vec des observations sur la peche. R. S. Senri Ethnological Studies 67:77-85. Bleeker.. Mengenal Birgus latro Lewat Aktifitas Penangkapan di Pulau Salibabu.2.H. Indigenous use and management of whales and other marine resources in East Flores and Lembata. Vol 57:142. Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indië v. 1998. M. M. 2003. & Valenti. 1974. Fergusson. [Date of publication from Kottelat 2011:41 [ref. Indonesia. Bijdrage tot de kennis der ichthyologische fauna van Borneo. Belg. Humann. Decapodes marcheurs (Repantia) et Stomatopodes recueillis a l'ile Maurice par M.] Boneka...org/aphia.. Enviromental biology of fishes.. la preparation.org>. Bull.R.1.H. met beschrijving van 16 nieuwe soorten van zoetwatervisschen. R. La beche de mer dans le pacifique tropical.J. Cailliet. Downloaded on 17 June 2013. Descriptive catalogue of South African decapod Crustacea (crabs and shrimps).C. Conand. Myers. Baum. 31413] as after Mar. Treatened Fishes on the World : Pterapogon kauderni Koumans. P.. S.L. 2009. Florida USA. Accessed through: Register of Marine Species World at http://www.. Class Holothuroidea. In: IUCN 2012. Vacchi. D. FAO Species Identification Guide for Fishery Purpose. C. Chan. le conditionnement et le marche de la beche-de-mer. Fr. 2007. Gonzalez. Manual sur I’ identification des especes commerciales d’holothuries (concombres de mer). T. 2000. F.. Paul Carie.. In: IUCN 2009. A.DAFTAR PUSTAKA Allen.php?p=taxdetails&id=210354 on 2012-10-29. Macias. Barnes. IUCN Red List of Threatened Species.— Annals of the South African Museum 38: 1-837.V..R. T. Donaldson. 1915.iucnredlist. Reardon. 3 (48): 178-318. Amorim. Jurnal Fakultas Perikanan Unsrat Manado Bouvier. G. 1850. 2012. Allen. Deloach. Clarke. Clò.. and before Oct.R. 1850. dan T.iucnredlist. Milne Edwards. P. I. Roger. Mancini. <www. 241 . 1950. Pterapogon kauderni. Di download September 2012.

Queensland Departement of Primary Industries. IUCN Red List of Threatened Species.R.F. 15: 344349 Fischer. Crabs farming in Japan. 1949. The Amphibian Tree of Life. The freshwater crabs of Sulawesi.M.H. R.W.S.C. Version 2012. T. Hass. O.. Campbell. Downloaded on 17 June 2013. J. Cook. 1802. Bianchi.C. FAO Species identification sheets For Fisheries Purposes: Western Indian Ocean. B.C. 242 . FAO.org>. Drewes.F. des Grenouilles et des Crapauds.A. L. Moler.N. and Barbour.C.V. 2005. T. Himantura oxyrhyncha. Malacologia 45(1): 1-40. Korniushin. Compagno. Bulletin of the American Museum of Natural History (297). Biol. S. In: IUCN 2012.V. M. Pristis microdon. In: IUCN 2012. J. Toward a systematic revision of brooding freshwater Corbiculidae in southeast Asia (Bivalvia. 2006.Revision of the genus. 370 pp.O. Downloaded on 17 June 2013 Cowan. 54(2): 381-428 Compagno. Downloaded on 17 June 2013.iucnredlist.J. & Ng.D.iucnredlist.K. R.Chia. 2006.2. Brisbane. Mar. E. Sci. A. Turtles of the World. Channing. Blotto. A. Studies on Scylla (Crustacea: Portunidae). P. L.1972. Estampador.. Washington D. P. 1989. 2005. Histoire Naturelle des Rainettes.. Lynch.iucnredlist.L. S. IUCN Red List of Threatened Species.R.J. D.. 2003. 1984. Raxworthy. D. R.S. 108 S.J. Wilkinson. W. Dannellan. E. Himantura signifer.Desa’. London.2.D. C. Glaubrecht. Faivovich. Nussbaum. C. M. Bain.V. In: IUCN 2012.org>. Version 2012. R. Haddad. A. Veneroida): on shell morphology. with descriptions of two genera and four new species (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Parathelphusidae). S.A. Paris. J. The Raffles Bulletin of Zoology. anatomy and molecular phylogenetics of endemic taxa from islands in Indonesia. Queensland. 78 : (95) 108-353 Farmer. <www. A bilateral gynandromorph of (Decapoda: Nepropidae).2.L. Grant. <www.C. Green and W. Taiwan and Philippines.. Philipp.org>. Rome. L. 85 p Daudin. <www.H. Smithsonian Institution Press. 2006. 1984 (Eds. IUCN Red List of Threatened Species. & Fowler. and G.K. Compagno. Wheeler. Ernst. Version 2012. Frost.V.L.). J.J.. von Rintelen & A.P. I. M.B.L.

Badan Riset Kelautan Perikanan Hartnoll. 1987. U. Lee. FAO Fisheries Synopsis. Aquatic Invasions.S. 1992. Hill. I. Queensland Departement of Primary Industry.J. 2003. Pusat Riset Perikanan Tangkap. Chelonian Conservation and Biology 4(3):720– 721. University of Queensland Press. Jakarta Hartati. 2002. Hadiaty. 125 (13):292 p. J. A. Wahyuni & U. with descriptions of some new species. S. Poster. S. 1991. vol 13. Setyadi. New York.F. The Biology of Crustacea: Embryology. L.. 80: 57-61 Innis. Schliewen. Marine lobsters of the world. R..P. B. C. J..K. Marine Biology.. McKinnon. Haryadi. Soc.B. 2: 111 –196 Herder. 16 (2): 161-181 Hartnoll. B. 2. R. An annotated and illustrated catalogue of species of interest to fisheries known to date. Series F1 8210 Queensland.N. URL: http://www.. Tanggal akses 19 Maret 2008. Marine Lobster of the World. 1982. The Queensland Mud Crabs Fishery.J. Mating in Brachyura. & Jobst Pfaender. Vol 13.G. 243 dan . Die Unioniden. Movement within and between different habitas by the Portunid Scylla serrata. New York. Balai Riset Perikanan laut. R. Jenis-jenis teripang di Indonesia. Badri. K.org. Proc. h. No. Hutching. Revision of the species of Trionychidae found in Asia and Africa. Holthuis. F. .P. with an annotated checklist of fish species introduced to the Malili Lakes system in Sulawesi. 1864. FAO fisheries Synopsis. 13 p Holthuis. Morphology and Genetics. Gray.. 1984.M. B. S.B. 1969. I.. Academic Press. [in] H. Pedoman Tehnis Teknologi Pembenihan Rajungan Portunus pelagicus. Saenger. E. 1920. L. J.lobster. R. M.J. 52): 304 pp Hanafi.Gray.C. 388 pp Hyland.S.. Crustaceana. and P.. Zool.G. Preliminary observations on reproductive parameters of the Sulawesi forest turtle (Leucocephalon yuwonoi) in captivity. 7(4): 521–535.T. FAO Rome: 139-141. Pusat Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan. B. Lucia. Küster. Hill and C. Ecology of Mangrove. F. Susanto. 1982. London 1864: 76-98. Haas.. 125. FAO species catalogue. Walter. Alien invasion in Wallace’s Dreamponds: records of the hybridogenic “flowerhorn” cichlid in Lake Matano. St. Geiger. 2012. Systematisches Conchylien-Cabinet von Martini und Chemnitz 9 (pt.. 2005..

1): 49-67. synonymis. K. M. Mus. G. D. species. dan E. 2001. C... 1978. KARI. 400 pp Linnaeus. Jakarta. 1990. Latham. Adrianichthys kruyti. A revision of the gobiid fish genus Mugilogobius (Teleostei: Gobioidei). 190 pp Juwana.L. London New York. and its systematic placement. Rec. Marshall. M. H. S. Bandung. IUCN Red List of Threatened Species. No. 2011. Manta birostris. Jones.org>.LAVALLI and EHUD SPANIER (eds). Galvan-Magana.E. locis. S. D. In: IUCN 2013. (Suppl. T.. F. Bennett. ii. 1996.1. secundum classes.org>. 1794.D. 191 pp.org/details/systemanaturae01linnuoft.. Synopsis of the endangered buntingi (Osteichthyes: Adrianichthyidae and Oryziidae) of Lake Poso.M. Coral Reefs (2004) 23:344341. Moreau. Ph. available decima. cum characteribus. Hinojosa-Alvarez. Australia. & Kashiwagi.K. 1988. West. Kodja. Downloaded on 20 July 2013 Kottelat. Lavalli. C. University of Queensland.2. Turtles and Crocodiles of Insular Southeast Asia and New Guinea. The Biology and behaviour of Lobsters Bay. Iskandar.. Version 2013. Editio reformata. A New Species of Barbourula: First Record of a Discoglossid Anuran in Borneo. Transactions of the Linnean Society of London. Djambatan. Perikanan Cara Budidaya dan Cara Masak.T. CRC Press. Australia. Introduction to the Biology and Fisheries of Slipper Lobsters. 2000. Rajungan. online http://www. 62):1-233.B. G. In: IUCN 2012. with a new reproductive guild and descriptions of three new species.L. Laurentius Salvius: Holmiae.. Version 2012.. Ichthyological Exploration of Freshwaters v. Stevens. J. <www.M. An essay on the various species of Sawfish.archive. differentiis. Harding. 824 pp. M. Spanier. Downloaded on 17 June 2013.Iskandar. 1 (no. 2000. <www. Indonesia. 1758. M. Unmonitored trade in Marine Ornamental Fishes: the Case of Indonesia's Banggai Cardinalfish (Pterapogon kauderni). 2 pl. on 2012-10-29 Lunn K. (Decapoda: Scyllaridae) in Northern Queensland.iucnredlist. Aust. In: The Biology and Fisheries of the Slipper Lobster. 2: 273-282. genera. Central Sulawesi. 203 hal Kottelat. 2007. Indonesia: PALMedia Citra. 2004. dissertation: Brisbane. dan Romimohtarto. 244 . A.T. Thenus spp. Larson.. ordines.. Systema Naturae per regna tria naturae. dan A.iucnredlist.. IUCN Red List of Threatened Species. Copea (4): 564–566.

and M. M. In: IUCN 2012. with description a new species from Tasikmalaya. A New Species of Chelodina (Testudines: Chelidae) from Southwestern New Guinea (Papua. T. Udang karang (Panulirus spp. H. Clark. Mousson. J. The freshwater snail genus Sulcospira Troschel. De Fretes dan G. Ishihara. F. "Redescription of the genus Manta with resurrection of Manta alfredi (Krefft. 1868) (Chondrichthyes. <www. & Sato. Kasry.K. McCord.. A. 10 : 303–309 Marwoto. Compagno. 966 hal Moosa. Kashiwagi. M.. Seminar ke II.. 2000. Bennett. 1994. 2007. Prenhallindo. Q. West Java. A. V. Lembaga Oseanologi Nasional..) dari perairan Indonesia. McCord. 2011. M.C.2. Struktur komunitas biologi padang lamun di pantai Selatan Lombok dan kondisi lingkungannya. The probable method of fertilization in terrestrial hermit crabs based on a comparative study of spermatophores.. dan I. 2012.. W. Iverson. Reptilia (GB): 47-52. G. Deakos. Aswandy dan A. Krustasea dari padang lamun di perairan Lombok Selatan. 1985. Jakarta. Proyek Studi Potensi Sumber Daya Alam Indonesia. Downloaded on 17 June 2013. McGregor.K. 1 (4): 14 –18 Moosa.und Süsswasser-Mollusken von Java: 126 pp. 1956.iucnredlist. Rajungan dari Teluk Jakarta dan Pulau-Pulau Seribu. M. Ekologi Nusa Tenggara dan Maluku. R.R. 1849. L.P.Isnaningsih. Jakarta. Sci. Shaffer.. Bennett. 49 hal Moosa M. Aswandy. The Raffles Bulletin of Zoology 60(1): 1-10.B. P. Indonesia).Marshall..P.. J. Die Land. Indonesia (Mollusca:Gastropoda:Pachychilidae).B. Aswandy. Res. & N.. Jakarta Mathews.K. 1985. Studi Potensi Sumber Daya Hayati Ikan. M. Marshall. Hutan bakau dan peranannya dalam perikanan udang. 15 hal Moosa. D. A new genus of Geoemydid turtle from Asia. Zootaxa 2301: 1–28. Reksodihardjo-Liley. D.. Joseph-Ouni. T. Hama dryad 25(2): 20 – 24. Y. Monk A. dan I.. (2009)..M.. M.. Kepiting Bakau Scylla serrata (Forskal) Through the Zoea and Megalopa Stages to the Crabs Stages. A. 2000.. 1857 from Java. Rangkuman beberapa hasiil penelitian Pelita 11. K. Pac. Surnberdaya hayati Bahari. P. IUCN Red List of Threatened Species. Martosubroto. Rep. Spinks and H..B. I. B.Q. Perikanan udang.K. 1977. 42-51 245 . Myliobatoidei. 1984. Stevens. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Mobulidae)". Version 2012. Manta alfredi. W.org>.

Puslit. 1997. Monatsberichte der Ko¨niglichen Preussische Akademie des Wissenschaften zu Berlin 1862: 144–152. Maryanto (ed). Townville. Oseana. J. Institut Pertanian Bogor. 2006. Biologi laut suatu pendekatan ekologis. Boese) Pp. Pacem in Maribus XXXI Conference. Canberra. Pusat Penelitian Biologi .LIPI & World Agroforestry Centre-ICRAF. 2004. Oseana. R. XXX VI (2):41-48. olivacea. 2011.. Balantiocheilos ambusticauda. 2009 Ramli M. 459 hal Parenti.. M & I. Mimi (Horse Shoe Crabs) Penyebar Maut Yang Dilindungi.Mustika. International Ocean Institute Regional Operational Centre for Australia & the Western Government. Pratiwi. 31 October – 3 November 2005 (eds. Kriteria spesies hayati yang harus dilindungi oleh dan untuk masyarakat Indonesia. Queensland. R.) Dewasa di Pulau Siompu dan Liwutongkidi Buton. 2009. Pratiwi.I.). U¨ ber die Batrachier-Gattung Hemiphractus. 1993. A. 1862. W. tranquebarica. Udang Pasir yang Belum Banyak Dikenal.. Ichthyological research (2004) 51: 10-19. Tesis. Sulawesi. In: Proceedings.L. Departemen Kehutanan Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. Pt Gramedia. Terjemahan. LR & B Soeroto.1007/s10228003-0187-1 Peters. 97 pp Nybakken. S. Kepiting Bakau: Scylla serrata. Prasetyo dan Y.. 1987/1988. two new ricefishes (Atherinomorpha: Beloniformes: Adryanichthyidae) from Lake Poso.C.Ulumuddin. 2007.W. Zootaxa 1463: 13-20 Noerdjito. 2011. S. G. and C. Sulawesi Tenggara. XXX VI (1):1-11 PROYEK PENGEMBANGAN SUMBER DAYA ALAM HAYATI PUSAT. Jakarta. Oseana. 63 hal XVIII 246 .H. Australia. 1992. 2005.R.. Adryanichthys roseni and Oryzias nebulosus. South. R. paramamosain. DOI 10. a new and possibly extinct species of cyprinid fish from Indochina (Cypriniformes: Cyprinidae). 469-482. Bogor: 170 hal Purwati. (1):25-34 Pratiwi. Bogor.K. Studi Preferensi Habitat Kepiting Kelapa (Birgus latro L. P. 10 hal. Oseanografi-LIPI. Mengenal spesies-spesies Kepiting Bakau (Scylla spp. . S. Linking the two seas: Lessons learned from Savu Sea (Indonesia) for marine mammal conservation in Timor Sea. P. Ng. Indonesia. Diskripsi biota laut langka. Pratiwi. HH & M Kottelat. R.

W.. C. K. <www. Limbong.Reardon. 1897 (Gastropoda: Cerithioidea: Pachychilidae) from the Malili Lake system on Sulawesi. Population Status. and FIELDER. LINNAEUS 1767) Di Pulau Salibabu.. Rintelen.P. 2009. I.C. 2007. Indonesia. & Sarasin.2. Sulawesi Utara. IUCN Red List of Threatened Species.. Alopias pelagicus. ACIAR Mono-graph 8 : 128 pp 247 . Kepulauan Talaud.Anz. 2003. 20 hal Rondo M. C. Breviora 498: 1-31. Notes on Exploitation. J. S. Early Life History and Recruitment. Rintelen. 2006. and Natural History of the Sulawesi Forest Turtle (Leucocephalon yuwonoi) in North-Central Sulawesi. Chelonian Conservation and Biology 5(2): 320–323. Indonesia. 1992 Assessment of the coconut crab Birgus latro on Niue island with recommendations Schiller.iucnredlist. A. 1994. Riyanto. I. Kertas kerja seminar ke II. M. F.I: 1-104.539/540: 308 – 320.R. A. Über die Mollusken-fauna der großen Süßwasser-Seen von Central-Celebes III. Distribution.69: 3.M. Trejo. 1977. A new species of Chelodina from Roti Island. Wiesbaden (Kreidel Verlag). T. & Sarasin.1897. Glaubrecht. 152 pp. D. T von. & Glaubrecht. Die Süsswasser-Mollusken von Celebes – Materialien zur Naturgeschichte der Insel Celebes. 2: 87-94 Sarasin. Rhodin.von . South Pacific Aquaculture Development Project.Zool.org>. Ancient lakes as hotspots of diversity: a morphological review of an endemic species flock of Tylomelania (Caenogastropoda:Pchychilidae) in the Malili lake system on Sulawesi.R. Reproduc-tion.T. Downloaded on 17 June 2013. dan D.Moll. Indonesia.P. and A. 1991. BROWN. 15 -18 Maret 1977. (eds..W.17. D. Obed. Hydrobiologica 592: 11-94. In: IUCN 2012. Brown. Penelitian benthos dan masalah udang pemijah (spawner) dalam penelitian budidaya udang di Indonesia.). Fielder. Jakarta. New discoveries in old lakes: three new species of Tylomelania Sarasain & Sarasin. & Clarke. In : The Coconut Crab : Aspects of Birgus latro biology and ecology in Vanuatu. Perikanan udang. Schiller regarding an appropriate resource management strategy. Indonesia. Bouchet. 1990.P. Márquez. Sarasin. Chelid turtles of the Australian archipelago: II. Bioekologi Ketam Kenari (Birgus Latro. F. Jurnal Fakultas Perikanan Unsrat.Stud. F.. Version 2012.1898. Romimohtarto.J. M.G.

M. Jakarta. Beberapa aspek tentang fishing ground udang di perairan Indonesia. Soegiarto (Eds). in: Costello. and B. B. Status. A. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Ann. 2008. Bogor. Soegiarto. Villaluz. V. Teknologi Produksi Bibit Ketam Kenari (Birgus latro): Penetasan Telur Ketam Kenari. Soegiarto. Gonzaga.A. Petaling Jaya. Refiani. Papathanassiou. S. 2009. 1923. 2005. Türkay. Shepherd. Kertas kerja Simposium Udang. Biologi. V. Ibadillah. 2001. J. Bioekologi Kepiting Bakau (Scylla spp. and its case in CITES. Disertasi. Van Kampen P. S. Brill. Production. 50: pp. A.K. produksi dan udang sebagai bahan makanan. Jurnal Akuakultur Indonesia.A. Villaluz. 6(2): 183–189 Sulistiono. Lembaga Oseanologi Nasional-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Udang. trade dynamics and management of the Southeast Asian Box Turtle Cuora amboinensis in Indonesia TRAFFIC Southeast Asia. D. The Amphibians of the Indo-Australian Archipelago. Rev. Kajian Awal Penangkaran Kepiting Kelapa (Birgus latro). Mar. Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian IPB.R.Y. Ladrera.. L. budidaya. P. The Trade Of The Roti Island Snake-necked Turtle Chelodina mccordi . Zenetos. Jakarta. Vitas dan C. potensi. Globalisation in marine ecosystems: the story of non-indigenous marine species across European seas. M. 248 . 2005. Simanjutak. Oceanogr. SPC Live Reef Fish Information Bulletin #18 – November.Schoppe. Siahainenia. dan K. 266 halaman Streftaris.. (Ed. 533-548 Toro. Philip. E. 43: 419-453 Sulistiono. 1965. 244 hal. The unfortunate journey of Pterapogon kauderni: A remarkable apogonid endangered by the international ornamental fish trade. Vagelli. TRAFFIC Southeast Asia. Malaysia.. 4 hal. larva development and cultivation of sugpo (Penaeus monodon FABICIUS).. C. A. Collection Patrimoines Naturels. 284-292 Unar. Proyek Penelitian Potensi Sumber Daya Ekonomi. M. and E. F. Biol. N. Tantu dan Muslihuddin. Ibarrondo. 1972. Sheik dan A. Toro dan K.. 1979. European register of marine species: a check-list of the marine species in Europe and a bibliography of guides to their identification. 2007. Selangor. di Indonesia. 98 (3). N. 2009. Leiden.) (2001).J.) di Ekosistem Mangrove Subang. Sci. A. M. Jawa Barat. A. J. Decapoda. 2008. et al.

Crustaceana. <www. Uca lactea (de Haan 1835) (Decapoda. Leiden. 124 pp. London.2. Downloaded on 21 May 2013 White WT. E. Survival rate and age estimation of the fiddler crab. The Raffles Bulletin of Zoology. The biology of crabs. 4: i-xiii + 1-410 World Conservation Monitoring Centre 1996. 57(2): 343-452 Warner. & Cai. Indonesia. Eleck Science. IUCN Red List of Threatened Species. Süss.Von Martens. Radiation of endemic species flocks in ancient lakes: systematic revision of the freshwater shrimp Caridina H. Last PR. 2002. 1913.iucnredlist. 54(2): 271-276. Fahmi. ACIAR. T. Percesoces. J. & Cai. Milne Edwards. Y. K. Weber. Economically 249 . Ocypodidae). Dharmadi . Zoologische Ergebnisse einer Reise Niederländisch Ost-Indien 4: 1-381 Von Rintelen. Brachyura. 2006. Weber.F. Neue Beiträge zur Kenntnis der Süsswasserfische von Celebes. Yamaguchi. M. 1837 (Crustacea: Decapoda: Atyidae) from the ancient lakes of Sulawesi. F. M. a freshwater shrimp (Crustacea: Decapoda: Atyidae) from the ancient Malili lake system of Sulawesi. Microcyprini. E. with description of eight new species. The Raffles Bulletin of Zoology. In: IUCN 2012. IV.2006. Indonesia. 2009.org>. v. Brill. K. de Beaufort 1922. 75(8):993-1014 Zitzler. 1897. Canberra 329p. important sharks and rays of Indonesia. Y. Version 2012. Stevens JD. Caridina spongicola. The fishes of the Indo-Australian Archipelago.und brackwasser-mollusken des Indischen Archipels. Labyrinthici. 1977. Heteromi. and L. Bijdragen tot de Dierkunde 1913: 197-213. Tachypleus gigas. a new species. Synentognathi. Yearsley GK. Solenichthyes. G.

terutama Calcium (zat kapur) CITES : Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora merupakan perjanjian atau konvensi internasional yang mengkombinasikan antara tema hidupan liar dengan instrumen hukum yang mengikat untuk mencapai tujuan perdagangan yang berkelanjutan Critically Endangered (CR) : Kriteria ini diberikan kepada spesies yang sedang menghadapi risiko kepunahan dalam waktu dekat.DAFTAR ISTILAH Abdomen : Bagian tubuh pada udang dan kepiting. Antennula : Sepasang embelan beruas berbentuk cambuk pendek pada kepala di bawah bagian-bagian mata. hewan dan mikroorganisme hidup Canthus rostralis: bagian kepala yang terletak diantara lubang hidung dan mata Cangkang : bagian luar keong/kerang yang menutupi tubuh lunaknya tersusun dari campuran bahan organik. Apex : bagian menonjol dari setiap katup pada cangkang kerang moluska (=umbo) Appendiks : pengelompokan spesies terancam dalam CITES berdasarkan tingkat ancaman dari perdagangan internasional. Alur circum marginal: alur yang memisahkan ujung jari dari bagian atas dan bawah Antenna : Sepasang embelan beruas berbentuk cambuk panjang pada kepala di atas bagianbagian mulut. dan umumnya berfungsi sebagai indra Anterior : arah yang sejajar dengan sumbu kardinal. dan umumnya berfungsi sebagai indra. Dilarang diperdagangkan kecuali hasil pengembangbiakan Appendiks II : Memuat spesies belum terancam punah namun perdagangannya dikendalikan secara Internasional Appendiks III : Memuat spesies yang oleh suatu negara tertentu yang perdagangannya membutuhkan bantuan pengendalian Internasional Bangsa : suatu tingkat atau takson antara kelas dan suku Basal : sisi cangkang yang berseberangan dengan engsel (=ventral) Biota : tumbuh – tumbuhan. Keberadaannya semakin sulit ditemukan di habitat alaminya 250 . di samping depan terhadap. tempt berdanya ulut kerang (=depan) Anterolateral : Samping depan. Appendiks I : Memuat spesies-spesies yang telah terancam punah. dan tindakan yang perlu diambil terhadap perdagangan tersebut.

Endangered (EN) : Status konservasi endangered (EN) atau kondisi genting menyatakan status spesies yang sedang menghadapi risiko tinggi kepunahan di alam liar atau habitat alaminya Endemik : keberadaan suatu jenis hanya disuatu habitat dan/lokasi tertentu dan tidak dijumpai ditempat lain. Dorsal : bagian cangkang. telur : Garis tengah telur. walaupun beberapa kelompok telah beradaptasi dengan kehidupan darat.Crustacea : hewan yang tidak bertulang belakang (avertebrata) dan berbuku . Contoh: (endemik Danau Poso. hidup di air tawar atau laut. serta terhubung bebas denganlaut terbuka Extinc (EX) : Status konservasi yang diberikan kepada spesies yang dipastikan tidak ditemukan lagi di habitat. (endemik Sulawesi. tonjolan : bagian perut kepiting. Diameter. Co : Black Softshell Turtle Filum : kelompok takson biota yang besar yang berada dibawah kingdom di atas kelas Fitoplankton : plankton nabati atau planton tumbuh – tumbuhan Frontal : bagian dahi Gigi cardinal : gigi yang langsung bersebelahan dengan umbo Gigi lateral : gigi yang bersebelahan dengan gigi kardinal Garis palial : garis yang dibentuk oleh penempelan mantel kerang pada cangkangnya Gigi vomer: sepasang deret gigi pada langit-langit rongga mulut 251 . Co : Harimau Bali. hanya ada di Danau Poso dan tidak dijumpai di Danau lain). Estuari : badan air setengah tertutup di wilayah pesisir. tonjolan sejajar terhadap frontal.buku (Arthropoda). Epibranchial : Bagian sudut depan paru-paru kepiting. dengan satu sungai atau lebih yang mengalir masuk ke dalamnya. Tttapi masih tersisa atau ditemukan di penangkaran di luar habitat alaminya. Sapi Laut. Data Deficient (DD) : Kriteria ini diberikan kepada spesies yang belum memiliki informasi dan data2 yang cukup. tempat engsel berada (=belakang) Ekosistem : suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. hanya ada di Sulawesi tidak ada di pulau lain). terletak tepat di belakang mata setelah rongga mata Epidermis : bahan organik yang menutup/melapis katup cangkang yang terbuat dari zat kapur Epigastrik. Extinct in The Wild (EW) : Kriteia ini diberikan kepada spesies yang tidak lagi ditemukan di habitat alaminya. seperti kepiting darat.

Kelas : suatu tingkat atau takson dalam klasifikasi ilmiah hewan dan tumbuhan dalam biologi. Karapas : Kulit keras luar pada bagian kepala-dada udang atau kepiting. Iridesen : suatu sifat bagian dalam cangkang kerang yang mengluarkan warna-warna seperti pekangi Iris : lingkaran biji mata IUCN : International Union for Conservation of Nature and Natural Resources merupakan suatu organisasi profesi tingkat dunia yang memantau keadaan populasi suatu spesies hidupan liar (flora dan fauna) dan banyak memberikan rekomendasi dalam hal penanganan terhadap suatu spesies hidupan liar yang hampir punah. Tingkat ini berada di bawah filum dan di atas bangsa. terdapat di antara keping abdominal dan marginal Keping marginal : keping kecil sebagai pembatas tepi perisai punggung 252 . Telur-telur ini telah dibuahi dan telah berbentuk embrio Inequilateral : belahan cangkang yang tidak simetris sepanjang garis pertengahan Invasive : Organisme asing yang terintroduksi baik sengaja maupun tidak yang kehadirannya mengancam keberadaan organisme asli suatu tempat atau kawasan geografi IOTC : Indian Ocean Tuna Commission merupakan sebuah organisasi antar pemerintah untuk mengelola spesies seperti tuna di Samudra Hindia dan lautan sekitarnya yang saling berbatasan. Kekerangan : kekerangan atau mollusca adalah hewan bertubuh lunak tanpa segmen dan biasanya memiliki pelindung tubuh yang berbentuk cangkang yang terbuat dari zat kapur untuk perlindungan diri dari serangan predator dan gangguan lainnya. bentuk sama dengan ikan dewasa tapi belum matang secara sexual. Juvenil : ikan muda. Keping abdominal : sisik plastron bagian perut (kura-kura) Keping aksilar: keping inframarginal yang terdapat di antara keping pektoral dan marginal Keping anal : sepasang perisai perut terakhir Keping femoral : sisik plastron bagian paha (kura-kura) Keping gular : sepasang keping terdepan pada perisai perut Keping humeral : sisik plastron bagian kaki depan (kura-kura) Keping inguinal: keping inframarginal kecil.Glotis : pangkal tenggorokan Habitat : tempat atau lingkungan luar dimana tumbuh – tumbuhan dan hewan hidup Herbivor : hewan pemakan tumbuh – tumbuhan Induk ovigerous : induk krustasea yang membawa telur di antara kaki renangnya.

ER. berfungsi sebagai pegas pembuka cangkang Logging : Kegiatan penebangan. Ovipar : bertelur. Ornamen (Sculpture) : hiasan – hiasan pada permukaan cangkang berupa guratan. maupun NT. duri-duri. tonjolantonjolan.Keping nukhal: keping tengkuk dan terletak di antara dua keping marginal Keping pectoral : sisik bagian dada (kura-kura) Keping vertebral : barisan sisik yang terletak di bagian tengah karapas Kipas ekor : Bagian ekor yang berbentuk kipas. dan penjualan kayu. Lekukan servik : Lekukan yang terdapat pada karapas. Ligamen : bahan zat tanduk yang menggabungkan dua katup pada kerang. ada dua pasang. Oseanik : hidup di laut lepas. Marga : salah satu bentuk pengelompokan dalam klasifikasi makhluk hidup. telur menetas setelah dikeluarkan dari dalam tubuh betina yang telah matang Papilla : Tonjolan atau gembungan yang ada di bagian punggung teripang 253 . melintang dari tepi luar epigastrik sampai tepi dalam paru-paru. Norstril : lubang hidung Not Evaluted (NE) : Kriteria untuk spesies yang belum dievaluasi. pada udang Klasifikasi : adalah suatu cara memilah dan mengelompokkan makhluk hidup menjadi golongan atau unit tertentu. pengangkutan. apabila tidak ada usaha pengelolaannya. Kloaka : lubang dubur Koane : sepasang lubang di langit-langit rongga mulut Least Concern (LC) : Kriteria diberikan untuk spesies yang diidentifikasikan tidak memiliki tanda-tanda terpenuhinya kriteria EX. VU. Anggota-anggota genus memiliki kesamaan morfologi dan kekerabatan yang dekat. EW. Metakarpal : Telapak tangan Metatarsal : Telapak kaki Nacre : Struktur cangkang yang terdiri dari berlapis-lapis bahan aragonit di permukaan dalam cangkang yang berkilau Near Threatened (NT) : Kriteria untuk spesies yang diperkirakan akan terancam keberadaanya dimasa mendatang. Spesies dengan populasi yang besar tetapi memiliki peluang yang sangat kecil untuk punah dimasa depan Lebar cangkang : ukuran dari sisi kanan luar cangkang hingga sisi kiri luar cangkang pada bagian seluk akhir.

Rusuk-rusuk konsentrik : setiap rusuk yang mengikuti garis tepi Seluk. Rostrum : Tanduk yang terdapat di depan kepala udang. Skaposerit : Lempengan pipih pada kepala di bawah bagian mata. mulai bagian ujung hingga pangkal cangkang. berdarah dingin (poikilotermik).Pelagis : berenang bebas di laut atau perairan terbuka dan tidak berasosiasi dengan dasar perairan Pisces atau ikan : anggota hewan bertulang belakang (vertebrata). Plastron : tempurung bagian bawah atau perut (kura-kura) Postorbital. tonjolan sejajar rongga mata Reptil : atau binatang melata adalah kelompok vertebrata yang berdarah dingin dan memiliki sisik yang menutupi tubuhnya. Suku : suku atau keluarga dalam klasifikasi ilmiah adalah suatu takson yang berada antara ordo dan marga. hidup di air dan bernapas dengan insang. bersirip. Alat seperti cambuk yang mengandung indera peraba. Thorn : dentikel yang membesar dan berbentuk seperti duri pada permukaan tubuh pari Timpanum: gendang telinga Tinggi cangkang : ukuran dari bagian bawah cangkang hingga bagian ujung cangkang Tuberkular: tonjolan pada permukaan kulit Tutup cangkang : bagian dari tubuh keong yang menutup mulut cangkang. tonjolan : Bagian belakang mata. adalah bagian-bagian cangkang yang dibatasi oleh sulur (garis lengkung). Dalam sistem tatanama binomial. Tentakel : Sungut. Vulnerable (VU) : Kondisi rentan (VU) merupakan batas awal dari status konservasi atas flora dan fauna yang dinyatakan berada dalam ambang kepunahan. Subparalel : Hampir sejajar Substrat : substansi yang membentuk dasar perairan. Sisik intergular : sisik plastron bagian depan diantara keping gular. nama suatu spesies makhluk hidup terdiri atas dua kata: nama genus dan nama penunjuk spesiesnya. 254 . cambuk. Supraorbital: bagian di atas mata Spesies : suatu takson yang dipakai dalam taksonomi untuk menunjuk pada satu atau beberapa kelompok individu (populasi) yang serupa dan dapat saling membuahi satu sama lain di dalam kelompoknya (saling membagi gen) namun tidak dapat dengan anggota kelompok yang lain. merupakan bagian dari antennula.

INDEKS NAMA – NAMA UMUM A Amfibi B Belangkas Bungka ito Bungka nggori Bungka wanta 225 – 226 219 – 220 215 – 216 223 – 224 57 – 66 Katak tak berparu Kepiting Kepiting bakau Kepiting Capit Putih Kepiting cina Kepiting hijau Kepiting lumpur oranye Kepiting lumpur putih Kepiting Macan Tutul Kepiting tapak kuda 59 – 60 176 – 183 176 – 183 221 – 222 176 – 177 176 – 177 179 – 180 182 – 183 215 – 216 225 – 228 108 – 113 121 – 123 124 – 125 63 – 64 116 – 117 72 – 73 76 – 79 69 – 71 74 – 75 67 – 68 C Cucut koboy H Hiu bingkoh Hiu caping Hiu koboy Hiu lutung Hiu martil Hiu monyet Hiu tikus I Ikan Ikan balashak Ikan batu Ikan capungan banggai Ikan paruh bebek Ikan pembawa telur K Katak Kalimantan Katak pohon jacobson 59 – 60 65 – 66 255 18 – 58 45 – 46 57 – 58 34 – 35 49 – 50 51 – 52 20 – 23 20 – 25 18 – 19 28 – 29 20 – 25 26 – 27 26 – 29 18 – 19 Keong danau Keong gondang besar Keong gondang kecil Kodok merah Keong sawah Kura berleher ular P. Rote Kura hutan Sulawesi Kura leher panjang gunalen Kura leher panjang reimani Kura semangka L Labi – labi asia Lobster bambu Lobster bergigi Lobster berkaki panjang Lobster bertanduk Lobster bunga Lobster hijau pasir Lobster lumpur Lobster mutiara Lobster pasir Lobster teluk 82 – 83 164 – 165 154 – 155 156 – 157 160 – 161 156 – 157 164 – 165 162 – 163 158 – 159 154 – 155 174 – 175 .

208 168 -169 213 – 214 199 – 200 195 – 196 170 – 171 U Udang Anggrek Udang bago Udang banana Udang barong 189 – 190 172 – 173 168 – 169 164 – 165 256 .M Mimi mintuno P Pari sungai Pari tutul sungai Pari manta Pari manta karang Pari raksasa Pokea R Rajungan S Siput gonggong Sorak T Teripang Teripang duri Teripang nanas Teripang pasir Teripang susuan Terompet Australia Tuntong Turbo permadani 229 – 240 235 – 236 237 – 238 229 – 230 231 – 233 94 – 95 67 – 68 90 – 91 106 – 107 80 – 81 184 – 186 38 – 39 36 – 37 30 – 33 32 – 33 40 – 41 128 – 129 225 -226 Udang Bening Udang Bintik Putih Udang Coklat Udang Harlequin Udang jaka Udang jerbung Udang Kipas Sulawesi Udang kelong Udang kembang Udang kutu pasir Udang Leher Putih Udang Liris Besar Udang patung Udang Pinokio Udang popet Udang Poso Bening Udang Poso Ekor Biru Udang putih Udang Sarasin Udang Sungut Putih Udang Tawon Merah Udang windu 193 – 194 187 – 188 191 – 192 201 – 202 160 – 161 168 – 169 211 – 212 167 – 168 172 – 173 174 – 175 205 – 206 203 – 204 154 – 155 197 – 198 166 – 167 209 – 210 207 .

257 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->