PELUANG PEMANFAATAN ENZIM KITINASE DI INDUSTRI GULA

Aris Toharisman

Sekilas tentang Kitin Kitin adalah polimer kedua terbanyak di alam setelah selulosa. Kitin merupakan komponen penyusun tubuh serangga, udang, kepiting, cumi-cumi, dan artropoda lainnya, serta bagian dari dinding sel kebanyakan fungi dan alga. Setiap tahun dari perairan (laut) dihasilkan sekitar 1011 ton kitin, namun kurang dari 0.1% yang
P P

dimanfaatkan kembali. Kitin memiliki struktur yang mirip selulosa. Bila selulosa tersusun atas monomer glukosa, maka kitin tersusun dari monomer N-asetilglukosamin (Gambar 1). Keduanya memiliki kelarutan sangat rendah dalam air serta mengalami biodegradasi melalui mekanisme yang hampir serupa dengan melibatkan komplek enzim.

Gambar 1. Struktur Kitin, Kitosan, dan Selulosa (Skjak-Braek and Sanford, 1989)

1 Kitinase – Toharisman (P3GI, 2007)

Tabel 2. Aplikasi Kitin, Kitosan dan Turunannya
T

Bidang Nutrisi Pangan

Applications Serat yang dapat dikonsumsi Pengawet dan pengkaya rasa Perbaikan tektur Bahan emulsi Bahan penjernih

Biomedis

Obat luka Kontak lensa Membran dialisa darah Antitumor Antikolesterol Pelangsing tubuh

Perawatan Kulit dan Rambut

Lotion dan krim pelembab Produk-roduk perawatan rambut

Pertanian dan Lingkungan

Fungisida Pemupukan Perawatan benih Pengolahan limbah

Lain-lain

Industri kertas Penyerap warna Baterai padat Aditif pakan Kromatografi

2 Kitinase – Toharisman (P3GI, 2007)

Penghilangan gugus asetil (deasetilasi) dari kitin menghasilkan kitosan. Kitin dan kitosan memiliki kandungan nitrogen sekitar 6.98%, jauh lebih tinggi dibanding polimer sintetik yang hanya 1.25%. Oleh karenanya, keduanya menarik secara Selain itu, karena kitin dan komersial karena bisa dipakai sebagai agen pengkelat.

kitosan merupakan bahan alam maka keduanya lebih bersifat biocompatible dan biodegradable dibanding polimer sintetik. Kitin, kitosan, serta senyawa turunannya telah banyak diaplikasikan dalam berbagai industri (Table 2). Nilai total perdagangan bahan-bahan tersebut pada tahun 2002 mencapai 1.2 trilyun rupiah.

Kitinase Kitinase (EC 3.2.1.14) merupakan enzim yang mampu menghidrolisa polimer kitin menjadi kitin oligosakarida atau monomer N-asetilglukosamin. Enzim ini dihasilkan oleh bakteri, fungi, tanaman, dan hewan. Atas dasar cara kerjanya dalam mendegradasi substrat, kitinase dibedakan kedalam 2 kelompok utama: endokitinase dan eksokitinase. Endokitinase memotong polimer kitin secara acak menghasilkan dimer, trimer, tetramer dan atau oligomer gula. Eksokitinase memotong kitin hanya dari ujung non reduksi. Bila hasil protongan berupa monomer maka enzim tersebut dinamakan Nacetylheksosaminidase, namun bila potongan yang dihasilkan berupa dimer maka enzim tersebut disebut sitobiosidase (Cohen-Kupiec and Chet, 1998). Berdasarkan homologi sekuen asam aminonya, kitinase dibedakan atas famili 18 dan 19. Famili 18 meliputi kitinase dari bakteri, fungi, serangga, tanaman (kelas III dan V), hewan (Gijzen et al, 2001) dan satu kitinase dari Streptomyces griseus (Ohno et al, 1996). Kitinase tanaman kelas I tersusun atas sekuen yang conserved pada struktur utamanya, serta domain kaya cystein pada ujung N. Kitinase kelas II secara struktural homolog dengan kelas I, tetapi tidak memiliki domain kaya cystein. (Fukamizo. 2000). Selain oleh kitinase, polimer kitin juga bisa didegradasi oleh enzim kitin deasetilase dan kitosanase (Gambar 2). Kitin deasetilase (EC 3.5.1.41) menghilangkan gugus Oligomer kitosan kemudian asetil dari kitin menghasilkan kitosan. Kitosan akan dipotong-potong oleh kitosanase (EC 3.2.1.1.32) menghasilkan kitosan oligomer kitosan. dipotong-potong lagi oleh β-D-glukosaminidase menghasilkan monomer glukosamin. Sementara, kitinase kelas III dan V tidak memiliki homologi dengan kitinase kelas I, II dan IV

3 Kitinase – Toharisman (P3GI, 2007)

Oleh karena itu, seperti ditunjukkan Gambar 1 kitin dan kitosan memiliki struktur yang serupa tetapi disusun oleh monomer gula yang berlainan. Kitin tersusun atas monomer N-asetil glukosamin, sementara kitosan disusun oleh monomer glukosamin.

Gambar 2. Jalur degradasi kitin secara enzimatis (Gooday, 1994)

Fungsi Biologis Berbagai organisme menghasilkan aneka jenis kitinase, dengan spesifitas terhadap substrat yang bervariasi, juga karakteristik yang berlainan. Bakteri mengeluarkan kitinase sebagai sarana memperoleh nutrisi dan agen parasitisme, sementara fungi, protozoa dan invertebrata mengeluarkan enzim tersebut untuk proses morfogenesis. Tanaman mengeluarkan kitinase untuk mempertahankan diri dari serangan patogen. Baculovirus, yang biasa dimanfaatkan untuk kontrol hama serangga, juga menghasilkan kitinase bagi patogenesitas. Baru-baru ini kitinase dilaporkan juga dihasilkan oleh darah manusia, dan diduga terlibat dalam pertahanan diri terhadap patogen fungi. Kitinase dari organisme laut berperan dalam proses daur ulang kitin. Banyak bakteri dan fungi mengeluarkan kitinase untuk menguraikan kitin menjadi karbon dan nitrogen. Dua senyawa terakhir ini selanjutnya dipakai sebagai sumber enersi biota lainnya.

4 Kitinase – Toharisman (P3GI, 2007)

Dengan adanya kitinase penguraian kitin berlangsung kontinyu sehingga tidak terjadi akumulasi kitin dari sisa cangkang udang, kepiting, cumi dan organisme laut lainnya. Secara alami, kitinase dihasilkan serangga untuk proses morfogenesis. Dalam perkembangan pertumbuhan serangga, kitin pada kutikel tua didegradasi kitinase, kemudian diganti kitin baru hasil enzim kitin sintase. Proses ini terus berlangsung selama siklus pertumbuhan serangga. Tanaman tidak memiliki mekanisme sistem kekebalan terhadap serangan hama dan penyakit. Sebagai gantinya, tanaman melakukan proteksi terhadap organ vegetatif dan reproduktifnya melalui berbagai mekanisme dimana salah satunya melibatkan kitinase. Pada saat diserang patogen, kitinase terinduksi sehingga kemudian dikeluarkan oleh tanaman. Enzim ini selanjutnya akan mendegradasi dinding sel fungi atau serangga penyerang. Banyak laporan menunjukkan bahwa tanaman transgenik yang disispi gen kitinase dan mampu menghasilkan kitinase dalam jumlah cukup memiliki resistensi yang tinggi terhadap serangan fungi. Dalam bintil akar legum, kitinase melindungi zona simbiotik bakteri-akar dari serangan patogen luar .

Peluang Pemanfaatan Kitinase di Industri Gula Secara langsung kitinase belum pernah dilaporkan telah dimanfaatkan dalam industri gula. Namun dengan kararakter dan fungsi biologis yang dimilikinya seperti diuraikan diatas, enzim ini memiliki peluang diaplikasikan di industri gula. 1. Pengendalian Hama Pada serangga, kitinase berperan mendegradasi kutikel dinding sel sebagai rangkaian dari proses morfogenesis. Pelepasan kitinase oleh serangga dilakukan pada kondisi dan waktu yang tepat, serta diatur secara hormonal. Hanya ketika benar-benar dibutuhkan enzim ini baru dikeluarkan. Fenomena ini mengindikasikan bahwa kitinase bersifat detrimental (mematikan) terhadap serangga, sehingga membuka peluang pemanfaatan kitinase dalam mengendalikan hama. Aplikasi kitinase dalam pengendalian serangga hama melalui kloning gen tersebut ke tanaman telah banyak dilaporkan (Leger et al, 1996; Barboza-Corona et al, 2003), namun penggunaannya dalam menekan hama tebu masih sangat sedikit. Penelitian Downing et al (2000) menunjukkan bahwa bahwa kloning gen kitinase dari Serratia marcescens ke bakteri yang hidup pada daun tebu (Pseudomonas aeruginosa) mampu

5 Kitinase – Toharisman (P3GI, 2007)

menekan hama penggerek batang, Eldana saccharina. Kitinase bakteri dilaporkan pula oleh Regev et al (1996) bersinergi dengan endotoksin dari B. thuringiensis dalam menekan larva Spodoptera littoralis pada tebu Secara umum efektivitas pengendalian hama tanaman menggunakan gen kitinase yang introduksi masih relatif rendah. Hal ini diduga akibat pemilihan kitinase yang tidak sesuai dengan kitin yang akan dijadikan target degradasi. Secara alami, kitinase dan kitin sangat bervariasi lebar. Dalam famili yang sama kitinase memiliki spesifikasi terhadap substrat yang berlainan dan mode of action yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan masing-masing organisme serta variasi bentuk-bentuk kitin di alam. Kitin bervariasi dalam derajat kristalinitas, panjang rantai polimer, derajat deasetilasi, dan ikatan kovalen dengan senyawa lain. Oleh karena itu, introduksi gen kitinase kedalam tanaman harus didahului oleh pemilihan kitinase yang memiliki aktivitas tinggi terhadap target, serta memiliki karakteristik yang sesuai dengan kondisi inang. Untuk keperluan pengendalian hama penggerek pucuk tebu, dibutuhkan kitinase yang mampu mendegradasi kutikel atau sistem pencernaan penggerek, optimum bekerja pada pH alkalin (pH pencernaan penggerek), inducible (diinduksi oleh perlukaan supaya bersifat selektif), dan tahan terhadap kadar gula tinggi. Kitinase merupakan salah satu enzim yang berperan penting dalam entomopatogenisitas. Berbagai riset melaporkan bahwa inisiasi invasi patogen terhadap serangga melibatkan kitinase. Enzim ini dipakai oleh bakteri dan fungi dalam menyerang serangga, dengan cara mendegradasi kitin pada kutikel dan membran pencernaan. Fungi entomopatogenik seperti Beauveria bassiana, Metharizium anisoplae and Verticillium lecanii adalah agen biokontrol yang bisa menekan hama tebu seperti uret, boktor, apid, dll. Pemanfaatan kitinase dari fungi-fungi ini secara langsung ke tanah dilaporkan bisa mengurangi serangan hama (Harman et al, 2002). 2. Pengendalian Penyakit Sebagaimana pada serangga, dinding sel fungi juga tersusun atas kitin. Oleh karena itu melalui mekanisme yang serupa dengan pengendalian hama, berbagai penyakit tanaman bisa ditekan oleh enzim kitinase. Sebagai ilustrasi, salah satu fungi penyebab penyakit utama beberapa tanaman, Fusarium oxysporum, spektra dinding selnya serupa dengan kitin yang memiliki tingkat asetilasi 65-75% (Gambar 3). Ini

6 Kitinase – Toharisman (P3GI, 2007)

menunjukkan bahwa sebagian besar komponen penyusun dinding sel fungi tersebut adalah kitin. Fukamizo (2000) menamfaatkan hasil uji spektra ini untuk menekan F. oxysporum memakai kitinase.

Gambar 3. Spektra NMR dari sel kering F. oxysporum (A), fraksi dinding sel F. oxysporum (B), kitin dengan tingkat asetilasi 65-75% (C) , dan kitin dengan asetilasi 100% (D) (Fukamizo, 2000)

Aplikasi kitinase dalam pengendalian hama bisa dilakukan secara langsung melalui penaburan ke tanah (berbentuk granul) atau dengan cara introduksi gen penyandi enzim ini ke tanaman tebu. Cara yang lebih sederhana pernah dilakukan oleh Metcalfe et al (2002) dengan metoda tidak langsung memakai kitin. Kitin ditaburkan ke tanah sekitar tanaman, kemudian akan menginduksi kitinase dari mikroba tanah. Enzim ini selanjutnya dilepaskan ke lingkungan dan mampu menyerang fungi di sekitarnya.

7 Kitinase – Toharisman (P3GI, 2007)

Meskipun secara spesifik penggunaan kitinase dalam pengendalian penyakit tebu belum pernah dilakukan, dengan analogi yang sama seperti diatas kemungkinan besar penyakit-penyakit tebu juga bisa dikendalikan oleh kitinase.

Pustaka Barboza-Corona JE, Nieto-Mazzocco E, Velazquez-Robledo R, Salcedo-Hernandez R, Bautista M, Jimenez B, Ibarra JE. 2003. Cloning, sequencing, and expression of the chitinase gene chiA74 from Bacillus thuringiensis. Appl Environ Microbiol 69: 1023-1029. Cohen-Kupiec R, Chet I. 1998. The molecular biology of chitin digestion. Curr Opinion Biotechnol 9: 270-277. Downing KJ, Lelie G, Thomson JA. 2000. Biocontrol of the sugarcane borer Eldana saccharina by expression of the Bacillus thuringiensis cry1Ac and Serratia marcescens chiA genes in sugarcane-associated bacteria. Appl Environ Microbiol 66: 2804-2810. Fukamizo T. 2000. Chitinolityc enzymes: catalysis, substrate binding, and their application. Curr Prot Peptide Sci 1: 105-124. Gijzen M, Kuflu K, Qutob D, Chernys JT. 2001. A class I chitinase from soybean seed coat. J Exp Bot 52: 2283-2289. Gimenez-Pecci MDLP, Bogo RM, Santi L, de Moraes CK, Correa CT, Vainstein MH, Schrank A. 2002. Characterization of mycoviruses and analysis of chitinase secretion in the biocontrol fungus Metharizium anisopliae. Curr Microbiol 45: 334-339. Gooday GW. 1994. Physiology of microbial degradation of chitin and chitosan. In Ratledge C, editor. Biochemistry of Microbial Degradation. Netherlands: Kluwer Academic Publ. p: 279-312. Harman GE, Broadway RM, Tronsmo A, dan Lorito M. 5,173,419. Purified chitinases and use thereof. 1992. US Patent No.

Leger RJST, Joshi L, Bidochka MJ, Rizzo NW, Roberts DW. 1996. Characterization and ultrastructural localization of chitinases from Metharizium anisopliae, M. flavoviride and Bauveria bassiana during fungal invasion of a host (Manduca sexta) cuticle. Appl Environ Microbiol 62: 907-912. Metcalfe AC, Krsek M, Gooday GW, Prosser J, Wellington EMH. 2002. Molecular analysis of a bacterial chitinolytic community in an upland pasture. App Environ Microbiol 68: 5042-5050. Ohno T, Armand S, Hata T, Nikaidou N, Henrissat B, Mitsutomi M, Watanabe T. 1996. A modular family 19 chitinase found in the prokaryotic organism Streptomyces griceus HUT 6037. J Bacteriol 178: 5065-5070.

8 Kitinase – Toharisman (P3GI, 2007)

Regev A, Keller M, Strizhov N, Sneh B, Prudovsky E, Chet I, Ginzberg I, KonczKalman Z, Koncz C, Schell J, Zilberstein A. 1996. Synergistic activity of a Bacillus thuringiensis endotoxin and a bacterial endochitinase against Spodoptera littoralis larvae. Appl Environ Microbiol 62: 3582-3586. Skjak-Braek GA, Athonsen T, Sandford PT. 1989. Chitin and Chitosan: Sources, Chemistry, Biochemistry, Physical Properties and Applications. Elsevier Appl Sci, London. p:561.

9 Kitinase – Toharisman (P3GI, 2007)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful