You are on page 1of 23

Px Fisik

Fahmi F.A.

JVP
Perbedaan antara denyut vena jugularis dengan arteri karotis: Venous • Berdenyut ke dalam • Dua puncak dalam satu siklus (pada irama sinus) • Dipengaruhi oleh kompresi abdomen • Dapat menggeser earlobes (bila tekanan vena meningkat) Arterial • Berdenyut keluar • Satu puncak dalam satu siklus • Tidak dipengaruhi oleh kompresi abdomen • Tidak menggeser earlobes

Mengetahui ada tidaknya distensi vena jugular (JVD) 2. Tujuan Adapun tujuan dari pengukuran JVP antara lain: 1. Memperkirakan tekanan vena sentral (central venous pressure) .

pola gelombang sulit ditentukan karena pasien menjadi hipotensi bila duduk .Penyebab dan ciri-ciri peningkatan JVP Sering • Payah jantung kongestif • Tricuspid reflux • Bentuk gelombang normal • Gelombang ‘V’ yang besar Agak jarang • Pericardial tamponade • Massive pulmonary embolism • Peningkatan tekanan vena.

Jarang • Superior caval obstruction • Constrictive pericarditis • Tricuspid stenosis Alat dan Bahan: • 2 buah penggaris (skala sentimeter) • Senter .

p 1112. 2. Tempat tidur bagian kepala ditinggikan: o 15° . 2000. 1993. Prosedur 1. . p. atau o 45° . Atur klien pada posisi supine dan relaks. p 1112). p. 1188).30° (Luckman & Sorensen. atau o 30° . 1997. Lanros & Barber.45° (LeMone & Burke. 141).90° — pada klien yang mengalami peningkatan tekanan atrium kanan yang cukup bermakna (Luckman & Sorensen. 1993.

5. Gunakan bantal untuk menopang kepala klien dan hindari fleksi leher yang tajam. Lepaskan pakaian yang sempit/menekan leher atau thorak bagian atas. Anjurkan kepala klien menengok menjauhi arah pemeriksa.3. 4. .

6. . Gunakan lampu senter dari arah miring untuk melihat bayangan (shadows) vena jugularis. jika tidak tampak gunakan vena jugularis eksterna. Identifikasi pulsasi vena jugular interna (bedakan denyutan ini dengan denyutan dari arteri karotis interna di sebelahnya).

dimana ujung yang satu tepat di titik tertinggi pulsasi vena (meniscus). o Penggaris ke-2 diletakan mendatar (horizontal). Pakailah sudut sternum (sendi manubrium) sebagai tempat untuk mengukur tinggi pulsasi vena. o Penggaris ke-1 diletakan secara tegak (vertikal). 8. Gunakan penggaris. dimana salah satu ujungnya menempel pada sudut sternum. Tentukan titik tertinggi dimana pulsasi vena jugularis interna/eksterna dapat dilihat (Meniscus). 9.7. sementara ujung lainnya ditempelkan pada penggaris ke-1. Titik ini ± 4 – 5 cm di atas pusat dari atrium kanan. .

10. p. 12. . 1993. pada posisi tempat tidur bagian kepala ditinggikan 30° . Nilai normal: kurang dari 3 atau 4 cm diatas sudut sternum. Ukurlah jarak vertikal (tinggi) antara sudut sternum dan titik tertinggi pulsasi vena (meniscus). Catat hasilnya.45° (Luckman & Sorensen. 11. 1113).

Menulis dan Membaca Hasil • Misal = 5+2 • 5: adalah jarak dari atrium ka ke sudut manubrium. dan ini adalah konstanta • +2: hasilnya—meniscus .

misalnya terjadi pada: a.Hasil Pengukuran dan Interpretasinya 1. Perikardial tamponade 2. 3. Nilai kurang dari normal. . Gagal jantung kanan b. Regurgitasi trikuspid c. mengindikasikan peningkatan tekanan atrium/ventrikel kanan. Distensi unilateral. Nilai lebih dari normal. mengindikasikan deplesi volume ekstrasel. mengindikasikan obstruksi pembuluh pada salah satu sisi.

.

.

.

Perkusi  Perkusi berguna untuk menetapkan batas-batas jantung terutama pd pembesaran jantung atau untuk menetapkan adanya konsolidasi jaringan paru pd keadaan dekompensasi. . emboli paru atau efusi pleura.

dan 3. 4. Perkusi batas kiri redam jantung (LBCD= left border of cardiac dullness) dilakukan dr lateral ke media dimulai dr sela iga 5.  LBCD akan terdapat kurang lebih 1-2 cm medial dr linea klavikularis kiri dan bergeser lebih ke medial 1 cm pd sela iga 4 dan 3 .

. Batas kanan redam jantung (RBCD= right border of cardiac dullness) dilakukan dgn perkusi bagian lateral kanan dr sternum.  Pd keadaan normal RBCD akan berada di dalam batas dalam sternum.  Kepekaan RBCD diluar batas kanan sternum mencerminkan adanya bagian jantung yg membesar atau bergeser ke kanan.

. Bising pansistolik dapat muncul pada beberapa kelainan jantung. Bising terjadi akibat aliran turbulen darah melalui jalan yang sempit. misalnya insufisiensi / regurgitasi mitral atau pun pada ventricle septal defect (VSD).Murmur pansistolik  Bising pansistolik (holosistolik) merupakan bising yang terjadi selama fase sistol berlangsung.

bising pansistolik terjadi akibat katup mitral tidak menutup sempurna saat fase sistol sehingga terjadi aliran balik ke atrium sinistrum sehingga darah yang melewati bagian katup tersebut mengasilkan bising. Pada insufisiensi mitral. Bising pada penyakit ini terdengar di apeks menjalar ke aksila. .

Tanda-tanda kongestif  Tanda dan Gejala Penyakit Gagal Jantung Tanda serta gejala penyakit gagal jantung dapat dibedakan berdasarkan bagian mana dari jantung itu yang mengalami gangguan pemompaan darah. lebih jelasnya sebagai berikut : .

detak jantung cepat (tachycardia). batuk-batuk serta irama detak jantung tidak teratur (arrhythmia). menyebabkan pengumpulan cairan di dalam paru-paru (edema pulmoner). tetapi sejalan dengan memburuknya penyakit maka sesak napas juga akan timbul pada saat penderita tidak melakukan aktivitas. gelisah/cemas (anxity). Pada awalnya sesak napas hanya dirasakan saat seseorang melakukan aktivitas. yang menyebabkan sesak napas yang hebat. . 1. Sedangkan tanda lainnya adalah cepat letih (fatigue). Gagal jantung sebelah kiri .

sehingga hal ini menyebabkan pembengkakan di kaki. tungkai. pergelangan kaki. . 2. detak jantung cepat serta sering buang air kecil di malam hari (Nocturia). Tanda lainnya adalah mual dan muntah. keletihan. Sedangkan Gagal jantung sebelah kanan . cenderung mengakibatkan pengumpulan darah yang mengalir ke bagian kanan jantung. perut (ascites) dan hati (hepatomegaly).