Aktif bersama

Fokus Utama: Indonesia
ASIA
Tenggara
1
PERTUMBUHAN BERKELANJUTAN, SEIMBANG, DAN MENYELURUH
1.1 Kebijakan Ekonomi 8
1.2 Outlook Perekonomian Asia Tenggara 10
1.3 Pertumbuhan Berwawasan Lingkungan 13
1.4 Kebijakan Pasar Tenaga Kerja dan Sosial 14
1.5 Pengembangan Keterampilan dan Lapangan Kerja di Tingkat Daerah 17
1.6 Pertanian dan Ketahanan Pangan 19
1.7 Kerjasama Pembangunan 22
1.8 Statistik 25
Aktif bersama
Asia Tenggara
Daftar Isi
KATA PENGANTAR
Angel Gurría, Sekretaris Jenderal OECD
Rezlan Ishar Jenie, Duta Besar Indonesia untuk Perancis
Fokus Utama: Indonesia
2
MEMPERKUAT PASAR
2.1 Investasi 26
2.2 Perdagangan 28
2.3 Kredit Ekspor 30
2.4 Persaingan 32
2.5 Pasar Keuanga 33
2.6 UKM dan Kewirausahaan 35
2.7 Jaringan Pasar yang Baru Berkembang 36
2.8 Komite Penasehat Bisnis dan Industri 36
3
TATA KELOLA PUBLIK DAN PERUSAHAAN
3.1 Reformasi Peraturan dan Penyederhanaan Administratif 37
3.2 Anggaran dan Belanja Publik 38
3.3 Perpajakan 39
3.4 Pemberantasan Korupsi 42
3.5 Tata Kelola Perusahaan 43
4
MASYARAKAT
4.1 Masyarakat, Pensiun, dan Kesehatan 45
4.2 Pendidikan dan Pelatihan 48
4.3 Pendidikan Keuangan 50
4.4 Migrasi Internasional 51
5
INOVASI DAN INDUSTRI
5.1 Teknologi Informasi dan Inovasi 52
5.2 Pembuatan Kapal dan Baja 55
5.3 Kimia 57
5.4 Transportasi 57
6
LINGKUNGAN DAN ENERGI
6.1 Lingkungan 58
6.2 Perubahan Iklim 60
6.3 Air 62
6.4 Energi 63
LAMPIRAN
Publikasi OECD yang Terkait dengan Asia
Tenggara 65
Pusat OECD Tokyo 70
Keterlibatan OECD dengan Ekonomi Asia
Tenggara: Sebuah Snapshot (November 2011) 71
Jaringan Kerjasama Asia-OECD
dan Pesertanya 74
Tentang OECD 75
1
2
encapai kemakmuran global, keterbukaan
sosial, dan kesejahteraan penduduk dunia
adalah tujuan utama dari OECD. Misi kami
adalah untuk membangun ekonomi dunia yang
lebih stabil, bersih, dan adil. Dengan adanya
huruf ‘D’ pada OECD untuk kata development,
kami berusaha untuk berkontribusi dalam
pembangunan negara-negara di seluruh dunia, melalui analisa
dan usulan kebijakan yang berlandaskan fakta serta berbagi
pengetahuan dan praktik terbaik (best practice).
Brosur “Aktif Bersama Asia Tenggara” ini secara sekilas
menyampaikan ruang lingkup dan kedalaman dari kerjasama
kami dengan negara-negara Asia Tenggara serta memberi
penekanan pada besarnya potensi untuk memperkuat kerjasama
tersebut. Selain itu, brosur ini memberikan fokus khusus pada
kerjasama kami dengan Indonesia, sebuah negara dengan
kekuatan ekonomi yang berkembang pesat, dimana hubungan
kami dapat dikatakan maju dan sukses.
Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan di dunia yang
paling dinamis dan beraneka ragam dengan pengaruh yang
M
terus meningkat terhadap perekonomian dunia serta memiliki
rencana integrasi regional yang ambisius. Asia Tenggara
juga merupakan kawasan yang sangat strategis bagi OECD.
Kami berusaha menciptakan jalur kerjasama dua arah yang
menggabungkan kegiatan spesifik suatu negara dengan inisiatif
regional, misalnya melalui kolaborasi dengan organisasi
regional seperti Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN),
Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Kerjasama Ekonomi Asia
Pasifik (APEC).
Hubungan kami dengan Asia Tenggara, terutama Indonesia,
meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini.
Saat ini, kemitraan tersebut menjadi semakin penting karena
adanya kepentingan bersama dalam mensukseskan kerjasama
multilateral yang diarahkan untuk meningkatkan prospek
pertumbuhan dan pembangunan, serta mengatasi tantangan-
tantangan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan
dan energi, dan juga stabilitas keuangan internasional.
Selain itu, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya
telah meningkatkan partisipasi mereka dalam berbagai komite
dan kelompok kerja OECD, berbagai penelitian dan peer review,
KATA PENGANTAR
3
serta pengumpulan data statistik dan pelatihan penyetaraan
internasional seperti Programme for International Student
Assessment (PISA). Beberapa negara Asia Tenggara juga telah
menerapkan norma dan standar OECD dalam berbagai bidang
seperti transparansi pajak, kajian bahan kimia, dan kerjasama
pembangunan untuk mempercepat agenda reformasi negara
tersebut.
Di OECD, kami menyadari pentingnya memahami pengalaman-
pengalaman negara yang baru ataupun sedang berkembang,
serta mengambil pelajaran baik dari pendekatan yang
digunakan mereka maupun proses pengembangannya untuk
dapat merancang kebijiakan-kebijakan yang lebih baik. Telah
banyak yang dapat dipelajari oleh OECD dari negara-negara
Asia Tenggara. Sebaliknya, OECD dapat berbagi dalam hal best
practices yang bersifat internasional, memfasilitasi dialog
kerjasama, dan menyediakan pedoman untuk mendukung
implementasi strategi-strategi pengembangan nasional dan
regional Asia Tenggara (misalnya, “Master Plan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia/MP3EI, 2012-2025”).
Melalui proses tersebut, organisasi ini telah mengembangkan
keahlian khusus dalam menangani permasalahan kebijakan
yang relevan bagi ASEAN, seperti pengadaan jasa publik
yang efektif, integritas publik dan pemberantasan korupsi,
penyederhanaan administratif (memotong mata rantai
birokrasi), kebijakan tenaga kerja dan sosial, inovasi, serta
pengembangan pendidikan dan keterampilan.
Merayakan 50 tahun berdirinya organisasi ini, OECD merasa
terhormat bahwa pemerintah negara-negara Asia Tenggara dan
juga institusinya semakin meningkatkan hubungan kerjasama
kemitraan. Kami akan tetap mengerahkan seluruh keahlian
kami untuk bekerja bersama dengan pemerintah di kawasan
Asia Tenggara dalam merancang kebijakan untuk mencapai
kehidupan yang lebih baik.
Angel Gurría,
Sekretaris Jenderal OECD
4
Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki
banyak peluang. Sebagai anggota G20, Indonesia adalah
negara demokrasi ketiga terbesar di dunia yang dapat
memberikan stabilitas politik, pasar domestik yang
besar, serta kekayaan sumber daya alam yang beraneka
ragam. Tenaga kerja muda dan dinamis menjadi
penggerak pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dimana setengah
dari populasi tenaga kerja tersebut berumur di bawah 30 tahun.
Indonesia juga mampu untuk bertahan dengan baik dari krisis
finansial dan ekonomi global karena memiliki berbagai kebijakan
makroekonomi yang kuat serta reformasi makroekonomi dan
struktural yang telah berjalan sejak krisis Asia tahun 1997/1998.
Peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) diprediksi mendekati
6,5% pada tahun 2011 sehingga menjadikannya sebagai negara
yang paling tinggi pertumbuhannya di antara negara anggota
ASEAN lainnya.
Beberapa waktu lalu, pemerintah meluncurkan Master Plan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
(MP3EI) dalam usahanya mendorong pengembangan ekonomi
daerah serta meningkatkan kesejahteraan rakyat. Rencana kerja
ini menetapkan suatu target pembangunan yang ambisius tetapi
tetap realistis untuk menjadikan Indonesia salah satu negara
maju pada tahun 2025.
Saya mencatat bahwa kerjasama Indonesia dengan OECD sejak tahun
2007 telah berkembang dengan signifikan bahkan telah meluas
ke berbagai topik kebijakan yang memiliki kepentingan bersama,
seperti kebijakan makroekonomi dan reformasi struktural, investasi,
perpajakan, kegiatan finansial, pendidikan, reformasi peraturan
dan penyederhanaan administratif, serta kebijakan pertanian.
Kerjasama ini merupakan suatu sarana penting dalam mendukung
usaha kami mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
dan menyeluruh.
Selain itu, dengan berpartisipasi dalam berbagai komite dan program
kerja reguler OECD, Indonesia semakin berkontribusi dan berperan
dalam pembahasan internasional mengenai isu-isu kebijakan global,
seperti pemberantasan penggelapan pajak dan penyuapan lintas
batas negara, dan perlindungan investasi yang berlebihan. Interaksi
dan dialog kerjasama reguler antara negara anggota dan mitra
OECD memungkinkan Indonesia untuk belajar dari pengalaman
negara lain serta mengambil manfaat tata kelola yang baik secara
internasional seraya memulai proses reformasinya sendiri.
KATA PENGANTAR
I
5
Sebagai Ketua ASEAN tahun ini, Indonesia menyambut baik
serta mendukung peningkatan kerjasama antara OECD dengan
negara Asia Tenggara lainnya dan organisasi-organisasi
regional. Negara anggota ASEAN dapat mengambil banyak
manfaat dari berbagai pengalaman OECD untuk mempercepat
agenda reformasi ekonomi dalam negeri. Dengan tema
keketuaan “Komunitas ASEAN dalam Komunitas Global Bangsa-
Bangsa”, Indonesia berusaha untuk meningkatkan peran ASEAN
di forum internasional dan meningkatkan partisipasinya dalam
mengatasi tantangan global yang sejalan dengan tujuannya
membentuk komunitas ASEAN pada tahun 2015.
Akhir kata, saya menyampaikan pujian dan selamat pada OECD
atas semangat kerja yang terus menerus dalam penyusunan
Outlook Perekonomian Asia Tenggara dan berharap bahwa
publikasi tersebut akan sangat bermanfaat bagi para perumus
kebijakan di kawasan ASEAN.
Yang Mulia Rezlan Ishar Jenie,
Duta Besar Republik Indonesia untuk Perancis
6
7
he text text text text
Key links:
www.oecd.org/aboutoecd
www.oecd.org/china
www.oecdchina.org
PERTUMBUHAN BERKELANJUTAN, SEIMBANG, DAN
MENYELURUH
CLIMATE CHANGE
MEETING THE CHALLENGES
MEMPERKUAT PASAR
TATA KELOLA PUBLIK DAN PERUSAHAAN
MASYARAKAT
INOVASI DAN INDUSTRI
LINGKUNGAN DAN ENERGI
11
22
33
44
55
6
infrastruktur, mengurangi hambatan usaha, memperkuat
lembaga anti-korupsi, dan pengurangan subsidi energi secara
bertahap.
OECD juga secara rutin mempublikasikan Survei Ekonomi dari
negara-negara anggota dan mitranya sebagai hasil kerjasama
dengan pejabat negara dan tenaga ahli independen.
1
PERTUMBUHAN YANG BERKELANJUTAN,
SEIMBANG, DAN MENYELURUH
1.1 Kebijakan Ekonomi
OECD melakukan kajian kebijakan dan pertumbuhan
makroekonomi dan struktural, serta interaksi diantaranya.
Diterbitkan dua kali setahun, Publikasi Outlook Perekonomian OECD,
menganalisa tren-tren utama makroekonomi di 40 negara OECD
dan negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
Laporan tahunan OECD, Menuju Pertumbuhan, menyediakan
ringkasan komparatif tentang kebijakan pengembangan
struktural di berbagai negara, dimana edisi tahun 2011 lebih
menekankan pada potensi keuntungan yang dapat diperoleh
Indonesia dengan adanya reformasi berkelanjutan dari sistem
pendidikan dan peraturan tenaga kerja yang ketat. Indonesia juga
dapat memperoleh manfaat dari perbaikan peraturan mengenai
Menciptakan suatu lingkungan yang nyaman untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan, seimbang, dan
menyeluruh, membantu negara beralih menuju model pertumbuhan yang ramah lingkungan, menciptakan lapangan
kerja yang lebih banyak dan lebih baik, memperbaiki efisiensi pertanian dan ketahanan pangan, serta memberikan
bantuan efektif kepada negara-negara berpenghasilan lebih rendah. Poin–poin tersebut adalah area dimana keahlian
OECD telah teruji dan secara akitf berinteraksi dengan Indonesia dan negara mitra lainnya di Asia Tenggara.
Tahukah Anda?
Pertumbuhan PDB di Indonesia diperkirakan mencapai
hampir 6,5% di tahun 2011 (6,1% di tahun 2010) karena
adanya peningkatan investasi dan ekspor.
8
9
Situs Terkait:
www.oecd.org/eco
Komite OECD:
Komite Kebijakan Ekonomi
Komite Pengkajian Ekonomi dan Pembangunan
1.2 Outlook Perekonomian
Asia Tenggara
Pusat Pembangunan (Development Center) OECD setiap tahunnya
mempublikasikan Outlook Perekonomian Asia Tenggara, yang
memonitor tantangan ekonomi makro jangka pendek dan tren
ekonomi jangka menengah di Asia Tenggara, serta memiliki fokus
tematik yang bervariasi dari tahun ke tahun (“Pertumbuhan
berwawasan lingkungan” di tahun 2011 dan “Mengurangi
kesenjangan pembangunan” di tahun 2012).
Outlook ini juga berisi catatan tentang suatu negara secara khusus
yang membahas reformasi kebijakan struktural di negara-negara
ASEAN terpilih. Edisi 2011 berisi catatan dari Indonesia, Malaysia,
Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Outlook tersebut bertujuan untuk mendukung dialog kebijakan
dan pembelajaran bersama antara OECD dan negara-negara Asia
Tenggara. Mulai tahun 2012, publikasi ini akan diproduksi melalui
kolaborasi dengan sekretariat ASEAN dan ADB.
Indonesia
Indonesia telah mencapai kemajuan ekonomi dan sosial yang
signifikan dalam beberapa dekade belakangan ini serta mampu
bertahan dalam krisis ekonomi global. Sehubungan dengan
rencana pencapaian target pertumbuhan jangka menengah dan
pengurangan angka kemiskinan yang ambisius, Survei Ekonomi
Indonesia yang diterbitkan OECD pada tahun 2010 mengusulkan
beberapa poin sebagai berikut:
Perluasan program peningkatan pertumbuhan, misalnya
investasi infrastruktur dan pendidikan, serta perluasan
cakupan jaring pengaman sosial yang dapat didanai
dari penerimaan pajak yang lebih baik dan pengurangan
subsidi energi. Perencanaan yang menyeluruh untuk
program-program sosial sangat penting untuk menjamin
kelanjutannya dalam jangka panjang.
Dalam tahap pembangunan Indonesia saat ini, investasi
untuk pengembangan infrastruktur akan menghasilkan
imbal balik yang besar dan dapat didanai dari penambahan
pengeluaran publik secara moderat. Menghilangkan
hambatan hukum untuk pembebasan lahan harus dijadikan
prioritas untuk mendukung investasi.
Memperkenalkan suatu bentuk asuransi pemutusan
hubungan kerja (PHK) akan lebih melindungi pekerja.
Sementara itu, menurunkan pesangon yang jumlahnya
besar serta membatasi peningkatan upah minimum akan
memicu perluasan lapangan pekerjaan formal.
10
Pendekatan dari bawah ke atas yang tidak terkordinasi
dalam pemberian label karbon dapat mengakibatkan
munculnya bermacam skema pemberian label sehingga
menjadi kendala dalam ekspor ASEAN.
Pemberian label karbon seharusnya menjadi bagian dari
perencanaan berkelanjutan ASEAN yang berwawasan
lingkungan.
Pusat pembangunan OECD, setiap empat bulan sekali, menerbitkan
laporan Kuartal Terkini di Asia untuk memonitor siklus bisnis di
kawasan Asia.
Situs Terkait:
www.oecd.org/dev/asiapacific
www.oecd.org/dev/asiapacific/abcis
Kebijakan dan rekomendasi utama dari Outlook Perekonomian Asia
Tenggara edisi 2011 adalah sebagai berikut:
Outlook untuk Asia Tenggara bersifat moderat akan tetapi
tetap tangguh dalam jangka menengah.
Sumber pertumbuhan akan berubah secara bertahap.
Dimana permintaan domestik akan memainkan peranan
yang lebih penting ke depannya.
Tekanan inflasi dan dampak negatif dari aliran dana
masuk yang besar, perlu diatur dengan menggabungkan
berbagai kebijakan makro tanpa mengabaikan pentingnya
tersedianya kebijakan struktural yang memadai.
Reformasi kebijakan struktural yang tepat sasaran dan
terkoordinasi dengan baik sangat diperlukan untuk
mengimplementasikan berbagai rencana pembangunan
nasional agar tepat waktu.
Negara-negara ASEAN sebaiknya memainkan peran yang
lebih aktif dalam proses standardisasi untuk pemberian
label karbon tingkat internasional.
Tahukah Anda?
Pertumbuhan PDB di 6 negara ASEAN (Indonesia, Malaysia,
Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam) diperkirakan
mencapai rata-rata 5,6% pada tahun 2012-2016. Pertumbuhan
PDB pada tahun 2010 adalah sebesar 7,6%.
11
12
1.3 Pertumbuhan
Berwawasan Lingkungan
Dalam rapat OECD tingkat mentri pada tahun 2011, para mentri
anggota OECD telah mengesahkan “Strategi Pertumbuhan
Berwawasan Lingkungan”. Strategi ini mengusulkan suatu kerangka
kebijakan yang fleksibel yang memungkinkan setiap negara
meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa mengakibatkan
degradasi lingkungan dengan tetap meningkatkan kualitas hidup.
Kerangka kerja ini dapat disesuaikan dengan kondisi dan tahap
pembangunan di setiap negara. Strategi ini juga mengkaji hubungan
kerjasama internasional menuju pertumbuhan berwawasan
lingkungan. OECD juga telah mempublikasikan tiga laporan yang
terkait dengan strategi pertumbuhan berwawasan lingkungan, yaitu
Menuju Pertumbuhan Berwawasan Lingkungan, Memantau Perkembangan:
Indikator OECD, dan Metodologi untuk Mencapai Pertumbuhan Berwawasan
Lingkungan.
Strategi Pertumbuhan Berwawasan Lingkungan semakin menjadi
bagian penting dari berbagai kegiatan analisis organisasi ini.
OECD ingin melihat apakah implementasi strategi tersebut dapat
memaksimalkan hasil-hasil pembangunan baik secara global
maupun di negara berkembang serta menentukan cara terbaik
memantau perkembangannya dalam masa transisi menuju ekonomi
yang berwawasan lingkungan.
Strategi pertumbuhan berwawasan lingkungan, yang menawarkan
cara untuk menurunkan tingkat kemiskinan sekaligus menjaga
kelestarian lingkungan, semakin diminati oleh negara-negara
ASEAN. Dalam Rapat Menteri Energi ASEAN Ke-28 pada bulan Juli
2010, para menteri memastikan kembali komitmen mereka untuk
memperkuat usaha-usaha penanggulangan perubahan iklim dan
meningkatkan kerjasama energi ASEAN menuju perekonomian
rendah karbon dan pertumbuhan berwawasan lingkungan. Outlook
Perekonomian Asia Tenggara edisi 2011, telah memformulasikan
kebijakan dan rekomendasi untuk membantu negara-negara ASEAN
menyesuaikan rencana pengembangan jangka menengahnya
agar sejalan dengan pertumbuhan berwawasan lingkungan serta
menyusun suatu strategi pertumbuhan berwawasan lingkungan di
tingkat regional.
Situs Terkait:
www.oecd.org/greengrowth
Komite OECD (proyek horisontal):
Komite Kebijakan Ekonomi
Komite Kebijakan Lingkungan
Tahukah Anda?
Potensi peluang bisnis yang terkait dengan kelestarian
lingkungan di sektor sumber daya alam diperkirakan mencapai
2,1 hingga 6,3 triliun USD pada tahun 2050.
13
1.4 Kebijakan Pasar Tenaga
Kerja dan Sosial
OECD mengumpulkan dan mengkompilasi statistik tenaga kerja
yang memungkinkan dilakukannya perbandingan lintas negara
mengenai indikator pasar tenaga kerja, kebijakan dan institusinya.
Laporan tahunan OECD tentang Outlook Ketenagakerjaan menganalisis
tren pasar tenaga kerja dan memantau reformasi di bidang-bidang
seperti kebijakan pasar tenaga kerja aktif, perlindungan pekerja, dan
upah minimum di negara anggota dan mitra OECD.
OECD juga melakukan analisis dan membuat rekomendasi kebijakan
bagi negara tertentu untuk membantu menciptakan pekerjaan,
terutama untuk golongan yang masih sulit mendapat pekerjaan
seperti anak putus sekolah, orang tua, dan pekerja cacat.
Tantangan yang harus diatasi oleh perekonomian Asia Tenggara
dalam mengembangkan sistem perlindungan sosial yang memadai
adalah untuk memastikan sistem-sistem tersebut tidak merugikan
insentif kerja atau menghalangi pembukaan lapangan kerja di sektor
formal. Hasil analisa OECD menyarankan bahwa perluasan sistem
perlindungan sosial tidak harus merugikan pasar tenaga kerja. Jika
dirancang dengan baik, sistem tersebut dapat berkontribusi dalam
peningkatan pasar tenaga kerja, tetapi perlu dipastikan bahwa:
Menargetkan kebijakan penunjang pendapatan bagi mereka
yang paling membutuhkan (tepat sasaran). Menyediakan
transfer uang tunai kepada golongan yang paling
miskin akan meningkatkan partisipasi tenaga kerja dan
mengurangi ketidaksesuaian pasar tenaga kerja (contohnya,
memungkinkan tenaga kerja yang paling miskin untuk
terlibat dalam pencarian kerja yang lebih efektif ).
Integrasi yang lebih baik untuk berbagai macam program
dan kebijakan jaminan sosial, untuk meningkatkan
efektivitas biaya yang dikeluarkan.
Mempromosikan perlindungan mandiri dengan memiliki
tabungan perorangan bagi mereka yang mampu. Ini akan
memberi semangat pada pekerja untuk tetap bekerja atau
kembali bekerja bila menganggur, meningkatkan insentif
untuk bekerja di sektor formal, dan memungkinkan
tersedianya dana untuk membantu pekerja yang
tabungannya tidak mencukupi.
Tahukah Anda?
Pengeluaran sosial publik di Indonesia adalah sebesar 5% dari
PDB, sedangkan rata-rata negara OECD mencapai 20%. Pangsa
tenaga kerja yang berkontribusi terhadap rencana pensiun
dan/atau asuransi kesehatan adalah sekitar 10%.
14
Indonesia
Survei Ekonomi Indonesia telah mengkaji kondisi pasar tenaga
kerja di Indonesia, yang terdiri dari dua jenis: pasar formal
yang sifatnya lebih kaku dan sektor nonformal yang lebih luas.
Untuk meningkatkan lapangan kerja formal, hasil analisa OECD
menyarankan untuk membuat aturan tenaga kerja yang lebih
fleksibel, mengurangi pembayaran pesangon yang berlebihan,
memperkenalkan skema asuransi jaminan PHK, dan membatasi
peningkatan upah minimum.
Outlook Ketenagakerjaan OECD pada edisi tahun 2010 dan 2011
mencakup sebuah bab yang berfokus pada dampak kebijakan
jaminan sosial (misalnya, kompensasi PHK, transfer dana, dan
tunjangan kesehatan) terhadap kondisi pasar tenaga kerja di
negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Situs Terkait:
www.oecd.org/els
www.oecd.org/els/social/inequality/emergingeconomies
Komite OECD:
Komite Lapangan Kerja, Tenaga Kerja, dan Urusan Sosial
15
16
1.5 Pengembangan
Keterampilan dan
Lapangan Kerja di Tingkat
Daerah
OECD memiliki program khusus yang bernama, OECD Programme
on Local Economic and Employment Development (LEED) untuk
mendukung pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan
ekonomi dan terciptanya lapangan kerja serta penyertaannya
pada tingkat lokal dengan belajar dari pengalaman 50 negara di
Amerika, Asia, dan Eropa.
Pada tahun 2008, LEED bersama Organisasi Tenaga Kerja
Internasional (International Labour Organisation/ILO) dan ASEAN,
meluncurkan sebuah gagasan bernama Employment and Skills
Strategies in Southeast Asia (ESSSA) atau bisa disebut juga
Strategi Ketenagakerjaan dan Keterampilan di Asia Tenggara.
Gagasan ini bertujuan untuk membantu negara–negara di
kawasan Asia Tenggara dalam merancang suatu kebijakan
lintas sektor yang efektif, menyusun mekanisme pengelolaan
yang memadai, dan memperkuat kapasitas pemerintah untuk
mengimplementasikan strategi pengembangan keterampilan
dan ketenagakerjaan lokal yang efektif.
ESSSA mempersatukan para perumus kebijakan, praktisi,
dan peneliti dari negara-negara maju ataupun berkembang,
termasuk Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos,
Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam,
Cina, Taiwan, Mongolia, India, Jepang, Korea, Australia, dan
Selandia Baru.
ESSSA menekankan bahwa perubahan sumber pertumbuhan
dari yang berorientasi pada ekspor ke permintaan domestik dan
regional akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan
keberhasilan ekonomi di Asia Tenggara. Pemerintah daerah
dapat memainkan peran penting dalam masa transisi dengan
cara:
Meningkatkan keselarasan antara kebijakan nasional
dengan kebijakan pemerintah di tingkat daerah,
Menerapkan kebijakan pasar tenaga kerja aktif (contohnya,
melalui layanan lapangan kerja publik yang lebih lengkap
dan pelatihan yang lebih efektif bagi orang-orang yang
menganggur),
Mengontrol pengembangan infrastruktur dan transisi ke
ekonomi rendah karbon untuk menciptakan lapangan kerja
baru,
Mempromosikan lingkungan bisnis yang stabil untuk usaha
kecil dan menengah (UKM),
Membangun sistem jaminan sosial yang lebih kuat.
17
18
Situs Terkait:
www.oecd.org/cfe/leed/employment/esssa
https://community.oecd.org/community/esssa
Komite OECD:
Kelompok Kerja OECD tentang UKM dan Kewirausahaan
Program Aksi Bersama dalam Pengembangan Ekonomi dan
Ketenagakerjaan Lokal
1.6. Pertanian dan
Ketahanan Pangan
OECD telah menganalisa dan memberikan masukan kebijakan
yang dapat membantu Pemerintah dalam merancang dan
mengimplementasikan kebijakan pertanian yang mendukung
produktivitas, persaingan, dan kesinambungan sekaligus
menghindari distorsi yang tidak perlu di dalam produksi maupun
perdagangan. Beberapa waktu lalu, OECD telah memberlakukan
suatu mekanisme terstruktur untuk meningkatkan hubungan
kerjasama dengan negara anggota G20, termasuk Indonesia,
melalui pertemuan dua tahun sekali yang memungkinkan
terjadinya dialog antar perumus kebijakan untuk membahas isu-
isu penting kebijakan pertanian global.
OECD juga tengah menyiapkan hasil analisa untuk mendukung
dialog G20 mengenai pertanian dengan berkoordinasi dengan
badan pangan PBB atau FAO untuk menyusun laporan Ketidakstabilan
Harga Pasar Pangan dan Pertanian: Respon Kebijakan. Ketidakstabilan
yang ekstrim dari harga-harga komoditas pertanian di pasar
internasional akan mempengaruhi perekonomian negara-negara
Asia Tenggara. OECD berkolaborasi dengan FAO untuk memantau
perkembangan pasar komoditas global melalui publikasi tahunan
Outlook Pertanian OECD-FAO.
OECD juga mengadakan forum dialog tingkat tinggi tentang
kebijakan efektif di beberapa bidang seperti dukungan agrikultur,
ketahanan pangan, dan bahan bakar nabati (BBN). Banyak negara-
Tahukah Anda?
Pada tahun 2009, hampir 60% dari tenaga kerja di Asia Pasifik
(sekitar 1,1 milyar) terancam PHK. Jumlah terbanyak terdapat di
Asia Selatan dengan persentase sebesar 77%, kemudian di Asia
Tenggara sebesar 62% dan Asia Timur sebesar 51%.
19
Tahukah Anda?
Sektor Pertanian Indonesia menyumbang 14% untuk PDB
negara dan 40% dari total lapangan pekerjaan.
negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia,
dan Vietnam, yang masih tetap mengadakan dialog berkelanjutan
dengan OECD melalui Forum Global tentang Pertanian dan
pertemuan-pertemuan regional OECD.
Laporan berjudul, Kepentingan Ekonomi dari sektor Pertanian
untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Pemberantasan Kemiskinan,
merupakan hasil penelitian terkini OECD mengenai peran sektor
pertanian terhadap pengurangan angka kemiskinan dengan
menampilkan hasil kajian mendalam di Indonesia dan Vietnam.
Dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa peningkatan
produktivitas tenaga kerja pertanian memberikan kontribusi
yang signifikan kepada penurunan angka kemiskinan di Vietnam.
Sedangkan di Indonesia, pengaruh paling besar dalam penurunan
angka kemiskinan berasal dari peningkatan produktivitas tenaga
kerja di sektor jasa.
Indonesia
Indonesia merupakan subjek dari kajian “Kajian Kebijakan Pertanian
OECD” yang akan diterbitkan di tahun 2012. Kegiatan tersebut
akan secara komprehensif mengkaji perubahan-perubahan yang
terjadi di sektor pertanian Indonesia selama dua dekade terakhir.
Publikasi ini akan mengevaluasi reformasi kebijakan pertanian
Indonesia, memberi rekomendasi untuk memperbaiki kinerja
kebijakan tersebut, dan menyertakan bab khusus mengenai
promosi investasi pertanian yang berkelanjutan.
Situs Terkait:
www.oecd.org/agriculture
Komite OECD:
Komite untuk Pertanian
20
21
1.7 Kerjasama
Pembangunan
Komite Bantuan Pembangunan OECD atau Development
Assistance Committee (DAC) berusaha mempersatukan
pendonor utama dunia dan berkontribusi dalam berbagai
usaha international untuk memberantas kemiskinan
sehingga tercapai Target Pembangunan Milenium PBB. Hal ini
dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mempublikasikan
berbagai data penting tentang aliran dana bantuan dan dana
pembangunan, serta dengan menyusun, mempromosikan,
dan memantau good practice dalam kerjasama pembangunan.
Komite ini berinteraksi dengan banyak pemangku kepentingan
baik swasta maupun publik untuk mempromosikan
pembelajaran bersama dan memfasilitasi beberapa
pendekatan yang inovatif dan terintegrasi dalam kerjasama
pembangunan. Indonesia dan negara lain di Asia Tenggara
merupakan mitra penting dalam kegiatan ini, baik dalam
kapasitasnya sebagai penerima bantuan maupun sebagai
pemberi bantuan.
Kamboja, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam
merupakan anggota dari Kelompok Kerja OECD tentang
Efektivitas Bantuan, sebuah forum internasional yang
bekerja untuk meningkatkan kualitas pengiriman dana
bantuan. Bersama dengan Laos dan Malaysia, Forum ini telah
mendukung, Deklarasi Paris tahun 2005 tentang Efektivitas
Bantuan. Kemajuan dalam implementasi dasar-dasar
pemikiran deklarasi tersebut dibahas pada Forum Tingkat
Tinggi Keempat tentang Efektivitas Bantuan di Busan, Korea
pada tanggal 29 November s.d. 1 Desember 2011. Pertemuan
tersebut mendiskusikan hasil survey, terutama bagian
khusus mengenai efektivitas bantuan di Kamboja, Indonesia,
Laos, Filipina, dan Vietnam.
Melalui Kerjasama Statistik untuk Pembangunan di Abad 21,
OECD telah membantu Kamboja, Laos, dan Vietnam dalam
mendesain dan mengimplementasikan Strategi Nasional
dalam Pengembangan Statistik.
Indonesia
Indonesia telah mencapai kemajuan dalam
mengimplementasikan Deklarasi Paris, dimana pemerintahan
pusat dengan 26 mitra kerjanya menyetujui aksi-aksi yang
tertulis dalam “Komitmen Jakarta ( Jakarta Commitment)”
tahun 2009.
Indonesia juga berperan sebagai ketua bersama, sebuah
kelompok kerja yang bertugas menyusun rekomendasi untuk
mengadaptasi dasar-dasar Deklarasi Paris ke dalam lingkup
dan kegiatan yang lebih spesifik dari kerjasama Selatan-
Selatan (kerjasama pembangunan antar negara berkembang).
22
Situs Terkait:
www.oecd.org/dac
www.oecd.orgdac/opendoors
www.oecd.org/dac/cdsg
www.paris21.org
Komite OECD:
Komite Bantuan Pembangunan
Tahukah Anda?
Meskipun sangat bergantung kepada bantuan eksternal
(24% dari anggaran negara) selama krisis Asia tahun 1998-
1999, Indonesia sejak tahun 2008 telah berhasil mengurangi
ketergantungan bantuannya secara drastis hingga hanya
sebesar 4% dari anggaran negara.
23
24
1.8 Statistik
Direktorat Statistik OECD menyediakan data statistik yang
dapat dibandingkan secara internasional untuk digunakan
dalam kegiatan analitik yang dilakukan organisasi ini maupun
oleh lembaga atau individu lainnya di seluruh dunia. Direktorat
tersebut mempromosikan dan mengembangkan standar
statistik internasional serta mengkoordinasikan berbagai
kegiatan statistik dalam internal OECD maupun dengan
institusi internasional lainnya.
Indonesia
Hal penting dalam kerjasama OECD dengan Indonesia adalah
penyertaan data Indonesia dalam Database statistik OECD.
Organisasi ini telah memperkuat hubungan dengan Biro Pusat
Statistik (BPS) Indonesia dan penyedia data statistik resmi lainnya,
seperti Bank Indonesia. Kerjasama yang telah terjalin selama ini
menghasilkan peningkatan cakupan data Indonesia di dalam
publikasi unggulan OECD, seperti Indikator Utama Ekonomi, yang
menampilkan data perbandingan dari berbagai perkembangan
ekonomi terkini antara negara-negara OECD dengan kekuatan
ekonomi lainnya.
Selain itu, semakin banyak serial tentang Indonesia yang
dimasukkan dalam OECD Factbook yang dijadikan referensi
banyak orang. Kegiatan yang sedang berlangsung sekarang akan
memasukkan juga Indonesia dalam neraca nasional, statistik
keuangan, dan Database OECD lainnya.
Indonesia juga berpartisipasi dalam proyek unggulan OECD, yaitu
Mengukur Kesejahteraan dan Kemajuan Masyarakat, yang meneliti
kegunaan berbagai indikator untuk mengukur kesejahteraan
masyarakat dan kemajuan sosial di luar indikator ekonomi
seperti PDB. Proyek ini memunginkan terjadinya dialog antara
negara-negara berkembang melalui konferensi regional, seperti
Konferensi Asia Pasifik tentang Pengukuran Kesejahteraan dan
Membina Kemajuan Masyarakat, yang telah dilaksanakan pada
5-6 Desember 2011 di Tokyo dan Forum Dunia OECD tentang
Statistik, Pengetahun, dan Kebijakan.. Berbagai kegiatan tersebut
bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang bagaimana
mengukur kesejahteraan dan kemajuan masyarakat serta untuk
menyusun kerangka kerja di masa depan.
Situs Terkait:
www.oecd.org/std
www.oecd.org/statistics
Komite OECD:
Komite Statistik
Tahukah Anda?
Pada tahun 2010, tingkat pengangguran di Indonesia adalah
sebesar 7,4% sedangkan di negara-negara OECD, tingkat
pengangguran mencapai rata-rata 8,5%.
25
2
MEMPERKUAT PASAR
2.1 Investasi
OECD berusaha mengumpulkan dan menyusun statistik investasi
asing langsung, memantau perlindungan investasi dalam lingkup
diskusi G20, serta mengembangkan instrumen internasional yang
dapat digunakan secara luas. Instrumen tersebut diantaranya, Kode
Liberalisasi Pergerakan Modal, Deklarasi tentang Investasi Internasional
dan Perusahaan Multinasional, serta Pedoman untuk Perusahaan
Multinasional.
OECD telah membuat Kajian Kebijakan Investasi khusus untuk suatu
negara yang didasarkan pada Kerangka Kebijakan Investasi, yaitu
sebuah alat penilaian mandiri yang bertujuan untuk membantu
pemerintahan merancang dan mengimplementasikan perubahan
kebijakan investasi secara efektif. OECD telah melaksanakan Kajian
Kebijakan Investasi Vietnam pada tahun 2009, bekerjasama dengan
Kementerian Perencanaan dan Investasi Vietnam.
Kerjasama OECD dengan sekretariat ASEAN juga semakin erat dengan
diadakannya Konferensi Kebijakan Investasi pertama ASEAN-OECD
yang diadakan pada bulan November 2010 di Jakarta. Acara tersebut
merupakan ajang berbagi pengalaman serta good practices antara ASEAN
dan pemangku kepentingan OECD. Diskusi tersebut menekankan
bahwa iklim investasi semakin membaik, namun negara anggota
harus terus bersaing dengan pasar yang baru berkembang lainnya,
seperti Cina, untuk menarik minat investasi asing.
Indonesia
Bersama dengan Kementrian Keuangan Indonesia, OECD telah
melaksanakan Kajian Kebijakan Investasi Indonesia pada tahun 2010.
Pasar yang berfungsi dengan baik sangat berperan dalam pertumbuhan dan pembangunan. OECD secara
aktif membagi pengalamannya dengan pemerintah dalam kebijakan-kebijakan penting seperti investasi,
perdagangan, kompetisi, dan pasar keuangan.
26
27
Kajian tersebut menekankan pada keberhasilan Indonesia dalam
menerapkan ekonomi yang terbuka, termasuk investasi asing.
Namun, kebijakan investasi asing langsung Indonesia masih relatif
lebih ketat dibandingkan dengan rata-rata negara OECD. Kajian
tersebut menyarankan agar Pemerintah Indonesia meninjau kembali
hambatan yang masih berlaku untuk investasi asing dan mencari
solusi yang memenuhi kepentingan publik tanpa mendiskriminasi
peluang investor asing.
Indonesia adalah salah satu peserta dalam pertemuan meja bundar
Kebebasan Berinvestasi OECD. Pertemuan yang diikuti oleh 50
negara ini merupakan ajang saling berbagi informasi mengenai
kebijakan investasi dan mengembangkan panduan umum untuk
mempromosikan kebijakan investasi yang terbuka, transparan, dan
tidak diskriminatif.
Situs Terkait:
www.oecd.org/daf/investment
Komite OECD:
Komite Investasi
2.2 Perdagangan
OECD menganalisa dan memfasilitasi dialog yang mendukung
liberalisasi perdagangan multilateral dalam suatu kondisi non-
formal dan tanpa negosiasi. Organisasi ini terus mengembangkan
hubungan dengan negara-negara G20 melalui pertemuan dua kali
setahun yang mempertemukan para perumus kebijakan untuk
mendiskusikan permasalahan penting yang menyangkut kebijakan
perdagangan global.
Forum Global OECD mengenai perdagangan merupakan media
penting lainnya bagi dialog antara anggota OECD dengan negara
mitranya dalam membahas kebijakan yang terkait dengan
perdagangan. Pertemuan Forum Global bulan November 2011
berfokus pada perdagangan, ketenagakerjaan, dan pertumbuhan
yang menyeluruh.
Pengalaman dari kebijakan di Indonesia, Thailand, dan Vietnam
telah diteliti dalam konteks Kolaborasi Inisiatif Internasional
dalam Perdagangan dan Ketenagakerjaan, yaitu sebuah kelompok
beranggotakan 10 organisasi internasional, termasuk OECD,
UNCTAD, Bank Dunia, WTO, dan ADB, yang bekerja bersama untuk
lebih memahami mekanisme interaksi antara perdagangan dengan
ketenagakerjaan.
OECD juga telah meluncurkan sebuah proyek jangka panjang yang
ambisius untuk mengidentifikasi, mendata, dan menganalisa
hambatan perdagangan internasional dalam bidang jasa
(contohnya, peraturan pemerintah yang berdampak pada jasa
Tahukah Anda?
Indonesia menarik lebih dari 13 milyar USD aliran investasi asing
langsung tahun 2010 yang merupakan angka tertinggi sepanjang
sejarah Indonesia. Angka ini merepresentasikan 2% dari PDB. Sebagai
perbandingan, rasio investasi asing/PDB negara-negara OECD rata-
rata sebesar 1,5% pada tahun 2010.
28
kawasan Asia Tenggara serta menampilkan sejumlah studi kasus
di Kamboja, Indonesia, Laos, Thailand, dan Vietnam.
Situs Terkait:
www.oecd.org/trade
www.oecd.org/trade/stri
Komite OECD:
Komite Perdagangan
perdagangan). Peraturan-peraturan ini sedang dimasukkan ke
dalam Database dan akan digunakan untuk menghitung sebuah
indeks yang dinamakan Services Trade Restrictiveness Indices
(STRI). Sejauh ini, proses tersebut sudah selesai untuk seluruh
34 negara anggota OECD yang dibagi dalam 4 sektor, yaitu: jasa
bidang komputer dan yang terkait, jasa profesional, konstruksi,
dan telekomunikasi. Sepanjang 2011-2012, OECD akan memeriksa
kembali keseluruhan rantai logistik dan memperluas proyek STRI
ke negara mitranya, termasuk yang berada di Asia Tenggara.
Proyek ini memungkinkan para perumus kebijakan dan juru
runding perdagangan untuk mendapatkan informasi dan alat ukur
yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi hambatan, memperbaiki
kondisi kebijakan domestik, melakukan negosiasi perjanjian
internasional, dan membuka perdagangan internasional di bidang
jasa.
OECD juga berusaha mengumpulkan informasi dari sekitar 100 negara,
termasuk Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya, tentang
larangan ekspor bahan mentah. Informasi ini akan dikumpulkan
dalam sebuah Database yang akan digunakan untuk menganalisa
pengaruh larangan ekspor tersebut terhadap perekonomian, baik bagi
negara-negara pengekspor maupun pengimpor.
OECD juga secara aktif bekerjasama dengan badan-badan
internasional lain untuk terus memperbaiki efektivitas bantuan
perdagangan. OECD menyambut baik keaktifan negara-negara Asia
Tenggara di dalam Inisiatif Bantuan Perdagangan OECD/WTO. Edisi
ketiga dari publikasi yang dikerjakan bersama OECD/WTO, yang
berjudul Sekilas tentang Bantuan Perdagangan, menitikberatkan pada
tujuan, tantangan, dan proses terkait dari bantuan perdagangan di
Tahukah Anda?
Sektor jasa menghasilkan lebih dari dua pertiga PDB
secara global dan menyediakan lebih dari 70% lapangan
kerja dalam perekonomian OECD. Di Indonesia, sektor jasa
merepresentasikan lebih dari 47% PDB dan menyerap 40% dari
total tenaga kerja.
29
2.3 Kredit Ekspor
Pemerintah menyediakan kredit ekspor resmi melalui Badan
Kredit Ekspor untuk mendukung pengekspor nasional untuk
bersaing dengan negara lain. OECD mengembangkan dan
memantau disiplin internasional dalam masalah kredit ekspor
untuk memastikan keseimbangan persaingan antar pengekspor
dan untuk mengurangi distorsi perdagangan.
Aturan dalam Kredit Ekspor yang Didukung Secara Resmi,
menetapkan persyaratan keuangan yang paling memadai dan
kondisi pengadaan kredit ekspor yang didukung secara resmi.
OECD juga menyediakan forum untuk berdiskusi dan bekerjasama
dalam kebijakan kredit ekspor nasional.
Situs Terkait:
www.oecd.org/trade/xcred
Komite OECD:
Kelompok Kerja tentang Kredit Ekspor dan Jaminan Kredit (Komite
Perdagangan)
30
31
2.4 Persaingan
Kebijakan yang mengatur persaingan merupakan kunci dalam
perbaikan kinerja ekonomi, memaksimalkan kesejahteraan
konsumen, serta meningkatkan inovasi, perdagangan luar negeri,
dan investasi. Dalam rangka mempromosikan prinsip persaingan
yang sehat dan membantu terbentuknya kesepahaman bersama
dan konvergensi internasional, OECD telah mengembangkan
Seperangkat Alat Kajian Persaingan yang merupakan suatu metodologi
dasar untuk mengkaji undang-undang dan peraturan yang dapat
menghalangi kompetisi. Prinsip dari alat tersebut cukup mudah dan
sangat fleksibel untuk diaplikasikan ke dalam berbagai kegiatan
pemerintahan meskipun berbeda sektor dan negara. OECD juga
telah menyusun suatu publikasi berjudul Pedoman untuk Mengatasi
Kolusi Tender dalam Pengadaan Publik untuk membantu pemerintah
agar lebih menyadari risiko dan biaya dari kolusi dalam pengadaan
barang.
OECD bekerjasama dengan negara anggota ASEAN dan Sekretariat
ASEAN untuk mendukung usaha mereka memberlakukan kebijakan
dan perundangan persaingan nasional pada tahun 2015. Melalui
lokakarya di tingkat nasional dan regional, OECD membantu
negara-negara untuk membangun kapasitas persaingan domestik.
Program persaingan pada Pusat Kebijakan OECD di Korea menjadi
penghubung untuk membantu pejabat pemerintah dari seluruh
Asia dalam mengembangkan dan mengimplementasikan peraturan
persaingan yang kompetitif. Peer review Indonesia menitikberatkan
pada langkah kebijakan yang diperlukan untuk mendukung lebih
jauh reformasi kebijakan yang mendukung persaingan.
Indonesia
Kajian Kebijakan Investasi Indonesia tahun 2011 menyertakan
analisa mengenai kerangka regulasi persaingan Indonesia sejak
diberlakukannya Hukum Persaingan pertama pada tahun 1999 dan
pembentukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pada
tahun 2000. Kerangka regulasi tersebut telah berkembang secara
signifikan sejak tahun 1999 dan telah berkontribusi dalam terciptanya
lingkungan usaha yang lebih adil. Namun, dengan tetap menerapkan
perlakuan yang sama tanpa memandang struktur kepemilikannya,
kajian tersebut menemukan sejumlah kebijakan yang dapat diambil
untuk lebih memperkuat iklim persaingan, termasuk:
Meninjau kembali pasal-pasal tertentu untuk lebih
memperkuat wewenang KPPU dan mengklarifikasi pasal-
pasal yang sama dalam undang-undang atau peraturan.
Mengeluarkan peraturan implementasi untuk meninjau
penggabungan usaha dan akuisisi yang anti-kompetisi.
Melanjutkan usaha-usaha yang menangani praktik-praktik
anti-kompetisi oleh BUMN.
Tahukah Anda?
Saat ini, Indonesia, Singapura, Thailand, dan Vietnam memiliki
hukum dan kebijakan persaingan ekonomi yang luas. Malaysia
akan memberlakukan hukum persaingan yang baru di tahun 2012.
32
Situs Terkait:
www.oecd.org/competition
Komite OECD:
Komite Persaingan (Competition Committee)
2.5 Pasar Keuangan
OECD mendukung sistem keuangan berorientasi pasar yang terbuka,
efisien, stabil, dan sehat berdasarkan tingkat keterbukaan, keyakinan,
dan integritas yang tinggi. OECD memonitor dan mensurvei
perkembangan pasar terkini dan perubahan strukturalnya, serta
setiap dua kali setahun mempublikasikan penemuan-penemuan
utamanya dalam jurnal, Tren Pasar Uang OECD. OECD juga memberi
saran mengenai reformasi yang terkait dengan perbankan, sekuritas,
dan lembaga investasi khususnya untuk perusahaan asuransi dan
skema pensiun yang dikelola swasta.
Pada tahun 2010, laporan mengenai Tantangan dan Perkembangan
Sistem Keuangan dalam Perekonomian Asia Tenggara tahun 2010
meneliti sistem keuangan Asia Tenggara dan berfokus pada
tantangan dan perkembangan di seluruh wilayah. OECD juga
memfasilitasi negara-negara di Asia untuk melakukan dialog
kebijakan dan berbagi pengalaman dengan OECD mengenai berbagai
isu, seperti reformasi pasar modal dan pendidikan keuangan.
Forum meja bundar OECD dan ADB tentang Reformasi Pasar
Modal Asia, yang dibentuk pada 1999, mengadakan pertemuan
setahun sekali di Tokyo sebagai sarana bagi para perumus
kebijakan, tenaga ahli, praktisi, dan cendikiawan negara-negara
Asia dan anggota OECD untuk membahas perkembangan terakhir
dalam reformasi pasar modal di Asia. Forum ini telah meninjau
perkembangan pasar obligasi Asia serta kerangka kebijakan untuk
peraturan keuangan yang efektif dan efisien di Asia Tenggara.
OECD juga berharap dapat meningkatkan pemahaman keuangan
melalui Jaringan Internasional OECD tentang Pendidikan Keuangan
yang telah mengelompokkan 170 institusi dari 86 negara dan
bekerjasama dengan Bank Indonesia.
OECD bersama-sama dengan Kementerian Keuangan Indonesia
telah mengembangkan program kerjasama yang menyangkut
topik-topik sebagai berikut: (1) Lembaga keuangan dan lembaga
investor, (2) Mempromosikan pendidikan dan kesadaran keuangan
di sektor asuransi dan pensiun swasta, (3) Data statistik asuransi,
(4) Perkembangan pasar asuransi di Indonesia, (5) Pensiun swasta
dan reformasinya, (6) Pengelolaan hutang dan pengembangan
pasar sekuritas pemerintah, (7) Efektivitas peraturan keuangan
dan pengawasan lembaga keuangan dan pasar uang, dan
(8) Pendidikan keuangan, kesadaran, dan mitigasi risiko.
Situs Terkait:
www.oecd.org/daf/fin
www.oecd.org/daf/fmt
Tahukah anda?
Pada 2008, portofolio investasi sebagai persentase PDB lebih
besar di Singapura, Hong Kong, Cina, dan Malaysia dibandingkan
dengan rata-rata OECD.
33
34
Komite OECD:
Komite Pasar Keuangan
Komite Asuransi dan Pensiun Swasta
2.6 UKM dan
Kewirausahaan
Pemerintah di seluruh dunia menyadari pentingnya Usaha Kecil
dan Menengah (UKM) dan kontribusinya dalam pertumbuhan
ekonomi, kerukunan sosial, lapangan kerja, dan ekonomi daerah.
Kelompok Kerja OECD untuk UKM dan Kewirausahaan merupakan
sarana bagi perumus kebijakan negara-negara anggota dan mitra
OECD untuk saling berdiskusi mengenai pengalaman dalam
menjalankan kebijakan serta mengidentifikasi best practices dalam
mempromosikan pengembangan program kewirausahaan dan
UKM. Beberapa topik yang dibahas antara lain adalah iklim usaha
dan kerangka regulasi, inovasi, keuangan, perpajakan, sumber
daya manusia, akses pasar, e-commerce, dan kewirausahaan untuk
perempuan.
OECD telah menjalin kerjasama dengan negara-negara Asia
Tenggara mengenai kebijakan di area UKM dan kewirausahaan
dalam berbagai cara. Sebagai contoh, Indonesia, Vietnam, dan
Filipina telah ikut menyetujui Piagam Bologna yang dicetus OECD
tentang Kebijakan UKM pada bulan Juni 2000. Piagam ini berisi
panduan untuk menyusun kebijakan UKM yang efektif dan ajakan
untuk meningkatkan kerjasama dan dialog antara negara-negara
dunia. Thailand adalah pengamat tetap di Kelompok Kerja OECD
mengenai UKM dan Kewirausahaan. OECD juga mengeluarkan
Studi Kebijakan UKM dan Kewirausahaan yang tematik untuk tiap
negara, dimana salah satunya berfokus pada Thailand.
Kajian berjudul Isu dan Kebijakan UKM dan Kewirausahaan di Tingkat
Nasional dan Lokal di Thailand pada tahun 2011 dilaksanakan
atas permintaan Kementerian Urusan Luar Negeri Thailand
dan Kantor Pemasaran UKM Thailand yang bertujuan untuk
mendukung persiapan “Master Plan UKM Ketiga Thailand, 2012-
2016”. Kajian tersebut membahas beberapa rekomendasi, seperti:
mengurangi kesenjangan pembangunan yang cukup besar antara
UKM yang beroperasi di pusat kota dengan yang beroperasi di
daerah; mempersiapkan Thailand untuk menghadapi Masyarakat
Ekonomi ASEAN 2015; meningkatkan jumlah kewirausahaan
berbasis inovasi; pengembangan UKM lebih jauh lagi sebagai motor
pertumbuhan ekonomi; dan meningkatkan jumlah UKM Thailand
yang beroperasi di tingkat internasional.
Situs Terkait:
www.oecd.org/cfe
Komite OECD:
Kelompok Kerja OECD tentang UKM dan Kewirausahaan
Tahukah Anda?
Seperti halnya di negara-negara OECD, UKM di Thailand
memiliki pangsa yang besar (78% dari total lapangan kerja) serta
berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi (43% dari PDB non-
pertanian) dan perdagangan internasional (30% dari total ekspor).
35
2.8 Komite Penasehat Bisnis
dan Industri
Komite Penasehat Bisnis dan Industri untuk OECD atau disebut
juga Business and Industry Advisory Comittee (BIAC), yang dibentuk
pada tahun 1962, telah diakui sebagai wakil resmi komunitas bisnis
OECD. Komite tersebut mewakili 41 organisasi bisnis dan pengusaha
nasional utama di negara anggota OECD dan memiliki program
sebagai pengamat sehingga organisasi bisnis nasional dari negara-
negara non-OECD dapat tetap terlibat dalam kegiatan-kegiatan
kebijakan komite ini secara aktif. Organisasi-organisasi bisnis dari
Argentina, Brasil, India, Latvia, Moroko, Rusia, dan Afrika Selatan
telah beberapa tahun berpartisipasi sebagai pengamat.
BIAC menerima Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia
sebagai Pengamat pada bulan April 2011. Dengan demikian,
KADIN dapat memberikan pandangan dan pendapatnya terhadap
kerjasama OECD-Indonesia, serta kegiatan-kegiatan OECD lain
yang lebih luas, melalui 37 komite kebijakan dan satuan tugas
BIAC di berbagai bidang, seperti investasi, perdagangan, kebijakan
ekonomi, anti-suap, ketenagakerjaan, dan perpajakan. BIAC
berencana untuk memperbanyak jumlah Pengamat BIAC dengan
mengajak organisasi bisnis nasional Asia lainnya.
Situs Terkait:
www.biac.org
2.7 Jaringan Pasar yang
Baru Berkembang
Jaringan Pasar yang Baru Berkembang atau disebut juga Emerging
Markets Network (EmNet) dibentuk oleh Pusat Pembangunan OECD
pada tahun 2007 yang ditujukan untuk sektor swasta. Jaringan
tersebut berfungsi sebagai sarana bagi perusahaan multinasional
anggota OECD untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan
mitra kerjanya di negara-negara berkembang. Diskusi tersebut
berfokus kepada isu ekonomi global, sosial, dan lingkungan yang
penting bagi bisnis, seperti prospek ekonomi global, investasi
internasional, pasar keuangan, dan infrastruktur. EmNet juga
menyediakan berbagai jenis jasa bagi para anggotanya berupa hak
khusus untuk mengakses informasi dan tenaga ahli di OECD.
Dengan banyaknya jumlah perusahaan anggota EmNet yang
beroperasi dan berinvestasi di wilayah Asia Tenggara, jaringan
ini berusaha untuk mengikutsertakan lebih banyak perusahaan
lokal sebagai mitra usaha, termasuk melalui kegiatan tahunan di
Beijing yang bekerjasama dengan Dewan Internasional Cina untuk
Promosi Perusahaan Multinasional, yaitu sebuah asosiasi yang
terkait dengan Kementerian Perdagangan Cina untuk melakukan
promosi bisnis. Salah satu perusahaan lokal yang saat ini telah
menjadi anggota EmNet adalah Bank Pembangunan Singapura.
Situs Terkait:
www.oecd.org/dev/emnet
36
3
TATA KELOLA PUBLIK
DAN PERUSAHAAN
3.1 Reformasi Peraturan
dan Penyederhanaan
Administratif
Dengan menerapkan peraturan yang berkualitas dan bersifat best
practices di dalam mengatur kebijakan, lembaga, dan perangkat
yang digunakan, OECD berusaha membantu negara tersebut untuk
merancang dan menerapkan peraturan yang akan meningkatkan
fungsi pasar; untuk melindungi kesehatan, keselamatan, dan
lingkungan; untuk melakukan deregulasi apabila diperlukan; dan
untuk mendorong persaingan terbuka.
OECD mengembangkan berbagai instrumen yang bersifat
internasional, seperti Pedoman Dasar untuk Menentukan Kualitas
dan Kinerja Peraturan dan Checklist Terintegrasi APEC-OECD tentang
Reformasi Peraturan, melakukan peer review untuk suatu negara
tertentu, dan memfasilitasi dialog kebijakan antara OECD
dengan negara-negara berkembang. Pekerjaan OECD meliputi
penyederhanaan administratif, kepatuhan dan penegakkan
peraturan, pengkajian dampak peraturan, transparansi dan
komunikasi, serta alternatif dari peraturan yang ada.
Pengelolaan sektor publik secara efektif, pengurangan rantai birokrasi, dan tata kelola perusahaan yang
sehat merupakan kunci bagi pertumbuhan dan pembangunan suatu negara. Dalam hal ini, OECD telah
bekerjasama dengan negara-negara Asia Tenggara di area ini dan termasuk perlawanan global untuk
memberantas penggelapan pajak dan penyuapan pejabat publik asing sebagai usaha menciptakan tata
kelola yang baik di seluruh dunia.
Tahukah Anda?
Merancang dan memperbaiki peraturan nasional merupakan
inti pokok dari Master Plan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.
37
Indonesia
Kedepannya, OECD akan membuat Kajian Reformasi Peraturan
Indonesia yang bertujuan untuk mendukung upaya pemerintah
guna memperbaiki perancangan dan penegakkan peraturan yang
diperlukan, untuk menarik dan mempertahankan investasi serta
meningkatkan pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat.
Isu-isu yang akan didalami dalam kajian tersebut antara lain:
Pengelolaan administrasi dan kelembagaan yang diperlukan
untuk memastikan peraturan yang efektif dan efisien.
Penetapan peraturan untuk meningkatkan konektivitas
infrastruktur di seluruh Indonesia.
Kendala penegakkan peraturan di bidang pelabuhan, rel,
dan pelayaran.
Anggaran dan tata pengaturan untuk manajemen Kemitraan
Swasta Publik (Public Private Partnership).
Kajian ini akan melibatkan kerjasama dari berbagai pemangku
kepentingan, termasuk Kementerian Keuangan Indonesia,
Kementerian Perdagangan, Komisi Pengawas Persaingan
Usaha, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, dan
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Situs Terkait:
www.oecd.org/gov/regref
Komite OECD:
Komite Kebijakan Peraturan
3.2 Anggaran dan Belanja
Publik
Sistem belanja publik suatu negara harus mendukung disiplin
fiskal, alokasi dan re-alokasi sumber daya tepat sasaran, serta
efisiensi kegiatan operasional pemerintah. Kelompok Kerja Pejabat
Senior Penganggaran OECD adalah forum terkemuka di dunia yang
membahas isu anggaran internasional dan memiliki Jaringan
Pejabat Senior Penganggaran untuk Asia. Jaringan tersebut
merupakan sarana bagi para direktur penganggaran dan pejabat
senior dari negara-negara Asia dan OECD untuk saling berbagi
pengalaman dalam menjalankan kebijakan dan membahas
isu bersama terkait anggaran. Sembilan negara ASEAN, yaitu
Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina,
Singapura, Thailand, dan Vietnam, berpartisipasi dalam jaringan
tersebut..
Kegiatan yang dilakukan oleh jaringan ini didasarkan pada tiga
pilar: 1) melakukan analisa studi lintas negara dalam rangka
mengidentifikasi best practices berdasarkan pengalaman di wilayah
Asia di negara-negara OECD. Kegiatan yang dilakukan saat ini
meliputi studi tentang respon fiskal terhadap krisis keuangan
global, 2) melakukan peer review mengenai sistem penganggaran
negara di kawasan tersebut yang dalam hal ini telah dilakukan
untuk Thailand, Singapura, Indonesia, dan Filipina; 3) tersedianya
Database yang ekstensif menyangkut institusi dan praktik
penganggaran di kawasan Asia yang sedang diintegrasikan ke
dalam keseluruhan Database Penganggaran OECD.
38
39
Pertemuan terbaru Jaringan Pejabat Senior Penganggaran untuk
Asia diselenggarakan oleh Biro Anggaran Thailand di Bangkok.
Indonesia
Laporan OECD tentang Penganggaran di Indonesia menunjukkan
bahwa, sejak krisis ekonomi, perbaikan penting telah
diperkenalkan bagi sistem penganggaran di Indonesia, termasuk
pembentukan kerangka hukum modern untuk penganggaran
dan penyatuan anggaran. Menyadari bahwa Parlemen Indonesia
mempunyai peran dalam mereformasi proses anggaran dan
diperkenalkannya fungsi perencanaan nasional di samping
penganggaran, laporan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan
lebih lanjut dapat dicapai dengan :
Memperkenalkan aturan fiskal yang lebih berbasis
pengeluaran operasional.
Menghindari konsentrasi pengeluaran pada bulan-bulan
terakhir dari tahun fiskal.
Mengurangi penekanan pada detail yang tidak perlu dalam
dokumentasi anggaran resmi. Detail yang berlebihan dapat
menghambat beberapa inisiatif reformasi yang sedang
dilakukan di Indonesia.
Situs Terkait:
www.oecd.org/gov/budget
Komite OECD:
Kelompok Kerja Pejabat Senior Penganggaran (Komite Tata Kelola
Publik)
3.3 Perpajakan
OECD menganalisa dan memberikan saran untuk berbagai isu
yang terkait dengan kebijakan dan administrasi pajak domestik
maupun internasional, termasuk pajak langsung dan tidak
langsung, kepatuhan pajak, kerjasama perpajakan internasional,
dan perpajakan berwawasan lingkungan, serta terlibat secara aktif
memerangi penggelapan pajak lintas batas negara. OECD telah
mengembangkan dan mengawasi implementasi dari instrumen
perpajakan internasional, termasuk Model Konvensi Pajak OECD
tentang Penghasilan dan Modal serta Pedoman Penentuan Transfer
Pricing untuk Perusahaan Multinasional.
Tahukah Anda?
Pada tahun 2003, Indonesia mengadopsi aturan fiskal yang
ditutup dengan defisit tahunan sebesar 3% dari PDB dan utang
terakumulasi sebesar 60% dari PDB. Namun, kinerja nyata
fiskal Indonesia saat ini secara konsisten telah jauh lebih baik.
Tingkat utang terus menurun hingga mencapai 26% dari PDB
pada 2010 dan defisit tahunan menjadi berkisar antara 0,5%
dan 1,2% dari PDB sejak tahun 2003.
Tahukah Anda?
Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura merupakan
anggota Forum Global tentang Transparansi dan Pertukaran
Informasi untuk Keperluan Pajak yang sangat penting untuk
memerangi penggelapan pajak lintas batas negara di dunia.
40
OECD telah menyelenggarakan sekitar 20 seminar dan dialog
kebijakan per tahun di Asia Tenggara sebagai ajang pertemuan
petugas pajak yang berasal dari kawasan ini maupun negara-
negara anggota OECD untuk saling berbagi pengalaman dan
keahliannya di bidang perpajakan dalam menghadapi masalah
teknis, kebijakan, dan administratif. Pada tahun 2011, Malaysia,
Indonesia, Singapura, dan Thailand menjadi tuan rumah dalam
kegiatan yang berfokus pada perjanjian pajak, penentuan transfer
pricing, pertukaran informasi, administrasi pajak, dan hal-hal
penting lain yang berhubungan dengan pajak. Negara-negara di
wilayah ini juga aktif berkontribusi pada studi OECD.
Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Singapura memainkan peran
penting sebagai anggota Forum Global OECD tentang Transparansi
dan Pertukaran Informasi untuk Keperluan Pajak. Forum global
yang mengumpulkan lebih dari seratus negara OECD dan non-
OECD tersebut memantau implementasi dari standar transparansi
pajak yang telah disepakati secara internasional melalui peer
review tiap negara. Hasil peer review mengenai kerangka hukum dan
peraturan tentang transparansi dan pertukaran informasi untuk
keperluan pajak di Singapura dan Filipina telah dipublikasikan
pada bulan Juni 2011. Review yang serupa juga telah dipublikasikan
untuk Indonesia pada bulan November 2011. Keempat negara
tersebut telah mengesahkan dan mengimplementasikan standar
internasional tentang transparansi dan pertukaran informasi
untuk keperluan pajak. Lebih jauh lagi, Indonesia dan Malaysia
berpartisipasi sebagai pengamat dalam beberapa pertemuan
Komite Urusan Fiskal OECD. Pada 3 November 2011, Indonesia
telah menandatangani Konvensi OECD tentang Bantuan Timbal
Balik Administratif dalam Urusan Perpajakan.
Semakin cepatnya integrasi perekonomian Asia Tenggara ke
dalam perekonomian global menekankan pentingnya membina
kerjasama antara negara-negara Asia Tenggara dan OECD dalam
menghadapi isu perpajakan. Kerjasama tersebut telah membantu
negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk merancang
dan mengimplementasikan langkah-langkah perpajakan dan
administratif yang didasari best practices secara internasional.
Situs Terkait:
www.oecd.org/taxation dan www.oecd.org/tax/globalrelations
www.itdweb.org
Komite OECD:
Komite Urusan Fiskal
Forum Global tentang Transparansi dan Pertukaran Informasi
untuk Keperluan Pajak
41
42
3.4 Memberantas Korupsi
Korupsi merupakan hambatan utama bagi pembangunan
ekonomi karena merusak tata kelola yang baik dari pembangunan
berkelanjutan dan praktik bisnis yang adil. Untuk itu, OECD
telah menyusun dan mengembangkan Konvensi OECD tentang
Pemberantasan Penyuapan Pejabat Publik Asing dalam Transaksi
Bisnis Internasional atau biasa disebut Konvensi Anti-Suap OECD
dan kemudian memantau pelaksanaannya melalui peer review yang
dibahas oleh Kelompok Kerja OECD tentang Penyuapan. Instrumen
internasional ini telah diadopsi oleh 38 negara di seluruh dunia.
Kelompok Kerja OECD tentang Penyuapan telah mengidentifikasi
Thailand, Malaysia dan Singapura sebagai negara yang dapat
bekerjasama lebih erat. Sekarang ini, Thailand dan Malaysia sudah
berpartisipasi sebagai Pengamat dalam Kelompok Kerja tersebut.
Sedangkan Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura,
Filipina, dan Kamboja merupakan anggota aktif dari Inisiatif Anti-
Korupsi ADB/OECD untuk Asia dan Pasifik. Inisiatif ini merupakan
gabungan dari 28 negara Asia-Pasifik yang telah bersama-sama
menyusun Rencana Aksi Anti-Korupsi untuk Asia dan Pasifik dan
bekerja bersama dalam pelaksanaanya. Inisiatif Anti-Korupsi ADB/
OECD untuk Asia dan Pasifik mendukung upaya pemerintah negara-
negara anggotanya melalui tiga sarana, yaitu dialog kebijakan,
analisis kebijakan, dan peningkatan kapasitas.
Indonesia
Di Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah berpartisipasi
aktif dalam Kelompok Kerja tentang Penyuapan sebagai Pengamat
sejak 2009. Pemerintah Indonesia juga mendanai dan melakukan
kerjasama dalam penyelenggaraan konferensi internasional tentang
penyuapan asing dengan OECD pada bulan Mei 2011, bersamaan
dengan pertemuan Kelompok Kerja Anti Korupsi G20.
Pada bulan September 2010, Inisiatif Anti-Korupsi ADB/OECD telah
mempublikasikan Kriminalisasi Suap di Asia Pasifik, yaitu sebuah kajian
tematik yang menyediakan analisis pelanggaran penyuapan domestik
dan asing dari masing-masing 28 anggota inisiatif ADB/OECD. Salah
satu temuan dari kajian ini adalah bahwa hukum Indonesia tidak
mengatasi urusan pelanggaran penyuapan pihak asing, baik aktif
maupun pasif. Untuk memenuhi standar internasional, Indonesia
dapat mempertimbangkan untuk mengadopsi peraturan khusus
yang dapat mengkriminalisasi penyuapan oleh pejabat negara asing
dan organisasi internasional publik yang sesuai dengan aturan bisnis
internasional.
Situs Terkait:
www.oecd.org/corruption
www.oecd.org/corruption/asiapacific
Tahukah Anda?
Rencana Aksi Anti-Korupsi G20 menugaskan Kelompok
Kerja tentang Penyuapan OECD untuk berperan aktif dalam
keterlibatannya dengan semua negara-negara G20 pada
standar Konvensi Anti-Suap OECD.
43
Komite OECD:
Kelompok Kerja tentang Penyuapan dalam Transaksi Bisnis
Internasional (Komite Investasi)
3.5 Tata Kelola Perusahaan
OECD bekerja pada tata kelola perusahaan yang didasarkan
pada dua instrumen internasional, yaitu:
1) Prinsip Tata Kelola Perusahaan OECD yang merupakan
salah satu dari 12 standar kunci untuk stabilitas keuangan
internasional dari Forum Stabilitas Keuangan, dan 2) Pedoman
OECD tentang Tata Kelola Perusahaan Milik Negara/BUMN
yang memberikan saran konkret untuk membuat perusahaan
tersebut lebih kompetitif, efisien, dan transparan.
Jaringan Tata Kelola BUMN Asia mempersatukan para
pembuat kebijakan tingkat tinggi di 14 negara Asia, termasuk
Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, dan
Filipina untuk mempromosikan reformasi tata kelola di
BUMN dengan menggunakan Pedoman OECD tentang Tata
Kelola BUMN sebagai referensi. Jaringan Asia tersebut telah
mengembangkan Kebijakan Singkat di tingkat regional
dan memberikan satu set rekomendasi dan prioritas untuk
reformasi kebijakan dalam rangka meningkatkan tata kelola
BUMN di Asia.
Laporan Tata Kelola Perusahaan di Asia: Kemajuan dan Tantangan
pada tahun 2011 menyoroti perbaikan dalam tata kelola
perusahaan di Asia selama satu dekade terakhir, khususnya
yang berkaitan dengan kerangka hukum dan peraturan suatu
negara. Laporan ini juga menyoroti tantangan yang sedang
berlangsung dan membuat rekomendasi sebagai berikut:
Semua yurisdiksi harus berusaha untuk melaksanakan
hukum perusahaan dan peraturan pemerintahan secara
efektif.
Kinerja Dewan perlu lebih ditingkatkan melalui pelatihan
dan evaluasi.
Kualitas pengungkapan informasi perlu ditingkatkan
secara tepat waktu dan transparan. Yurisdiksi harus
mempromosikan penerapan good practices untuk
pengungkapan non-keuangan.
Kerangka hukum dan peraturan harus memastikan bahwa
pemegang saham tanpa pengendalian dilindungi dari
pengambilalihan oleh orang dalam dan pemegang saham
pengendali.
Institusi penjaga seperti auditor eksternal, lembaga
pemeringkat, penasehat, dan perantara harus menghindari
konflik kepentingan.
Keterlibatan Pemegang Saham harus didorong, khususnya
oleh investor yang berupa lembaga.
Pemerintah harus meningkatkan upaya mereka untuk
memperbaiki peraturan dan tata kelola perusahaan pada
bank.
4
44
Indonesia
Pertemuan meja bundar Tata Kelola Perusahaan Asia berfungsi
sebagai penghubung di tingkat regional untuk bertukar
pengalaman dan mengedepankan agenda reformasi tata kelola
perusahaan di Asia berdasarkan Prinsip Tata Kelola Perusahaan
OECD. Pada tahun 2011, Indonesia menyelenggarakan
pertemuan tersebut dimana para pesertanya mengevaluasi
pelaksanaan dan penegakkan tata kelola yang baik serta
menganalisis pilihan-pilihan kebijakan untuk mendukung
layak dan efektifnya reformasi tata kelola perusahaan.
Sebuah dialog kebijakan program bilateral antara OECD
dan Indonesia diluncurkan pada bulan Oktober 2011. Dialog
ini berfokus pada pengungkapan kepemilikan dan kontrol
keuntungan yang menjadi prioritas bagi Pemerintah Indonesia.
Situs Terkaits:
www.oecd.org/daf/corporateaffairs
www.oecd.org/daf/corporateaffairs/roundtables/asia
Komite OECD:
Komite Tata Kelola Perusahaan
Tahukah Anda?
Perusahaan milik negara merupakan bagian penting dari
kapitalisasi pasar saham total di Asia: di Singapura besarnya
sekitar 20%, di India dan Thailand masing-masing sebesar
25%, di Indonesia dan Pakistan masing-masing sekitar 33%,
sedangkan di Malaysia besarnya adalah sekitar 50% dan di
Cina besarnya mendekati 60%.
4
MASYARAKAT
4.1 Masyarakat, Kesehatan,
dan Pensiun
Masyarakat Asia Tenggara mengalami perubahan yang signifikan
ketika situasi keuangan global memberikan tekanan tambahan
pada jaminan sosial dan sistem kesehatan. Karena itu, kebijakan
sosial dan kesehatan regional harus disesuaikan dengan situasi
dan kondisi yang berlaku saat ini.
Masyarakat
Setiap dua tahun sekali, Pusat Kebijakan Korea/OECD
menerbitkan sebuah laporan yang berjudul Sekilas tentang
Masyarakat - Asia/Pasifik. Laporan ini memberikan gambaran
yang luas tentang keadaan ekonomi Asia-Pasifik dengan
menggunakan berbagai indikator sosial dan ekonomi yang
membantu dalam menginformasikan kebijakan pada berbagai
masalah sosial. Laporan ini juga menunjukkan bagaimana
indikator-indikator sosial dapat digunakan untuk mengukur
kesejahteraan masyarakat di negara-negara Asia Tenggara.
Pensiun
Pensiun merupakan isu kebijakan yang penting di Asia Tenggara
dan beberapa negara OECD. Terkait hal tersebut, OECD telah
membuat suatu standar internasional dan menyiapkan data
statistik untuk membantu memantau industri yang bergerak
dalam bidang pensiun. Di samping itu, OECD juga sedang
menyusun pedoman keamanan investasi dana pensiun. Pada
tahun 2009, untuk pertama kalinya Pusat Kebijakan Korea/OECD,
OECD, dan Bank Dunia menerbitkan laporan mengenai pension
OECD membantu merancang kebijakan sosial di berbagai bidang seperti pendidikan dan kejuruan,
kesehatan dan pensiun, pendidikan keuangan, dan migrasi internasional yang secara keseluruhan
akan memajukan kesejahteraan warga, meningkatkan hubungan sosial, dan mencapai pertumbuhan
ekonomi yang lebih menyeluruh.
45
yang berjudul, Sekilas tentang Pensiun: Edisi Asia/Pasifik. Laporan
ini menganalisa sistem pendapatan pensiun di beberapa negara
Asia Tenggara dan memberikan referensi untuk perbandingan
pensiun di seluruh kawasan.
Kesehatan
OECD menggunakan data kesehatan untuk memberikan suatu
rekomendasi praktis dalam meningkatkan kinerja sistem
kesehatan. Selain itu, OECD juga mendorong pengembangan
sistem akuntansi kesehatan untuk melacak arus pengeluaran dan
pendanaan untuk kesehatan di kawasan Asia-Pasifik. Laporan
OECD 2010 tentang kesehatan yang tertuang dalam, Sekilas
Kesehatan: Asia/Pasifik, menyediakan data kesehatan dan tren
yang dapat saling dibandingkan dari beberapa negara di Asia/
Pasifik. Sementara itu, laporan Sistem Pencatatan Kesehatan yang
dituangkan dalam suatu makalah berjudul, Health Accounts Systems
Green Papers, merupakan suatu analisis khusus untuk suatu negara
tertentu. Laporan ini diterbitkan untuk Malaysia pada tahun 2009,
Thailand diterbitkan pada tahun 2007, dan Indonesia diterbitkan
pada tahun 2011.
OECD dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengkaji
efektivitas dan efisiensi kebijakan pencegahan penyakit yang
bertujuan untuk melawan penyakit kronis, seperti penyakit
kardiovaskular. Diperkirakan bahwa penyakit kronis tersebut
mengakibatkan penurunan PDB sebesar 1%-5% bagi negara
berpendapatan rendah dan menengah. Sementara itu, biaya untuk
mengatasi faktor risiko utamanya, seperti merokok dan tekanan
darah tinggi, setidaknya diperlukan 1,5 USD per kapita per tahun.
Situs Terkait:
www.oecd.org/health
www.oecdkorea.org
Komite OECD:
Komite Kesehatan
Komite Lapangan Kerja, Tenaga Kerja, dan Urusan Sosial
Tahukah Anda?
Perekonomian Asia menghabiskan dana kesehatan setiap
tahunnya rata-rata sebesar 526 USD per kapita (4% dari PDB),
lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata negara OECD
yang mencapai 3.060 USD per kapita (9% dari PDB).
46
47
4.2 Pendidikan dan
Pelatihan
Pendidikan, bukan hanya sebagai pilar pertumbuhan ekonomi
tetapi juga prasyarat pembangunan jangka panjang, yang dapat
memberdayakan individu untuk menjadi warga negara aktif. OECD
berusaha memahami dampak pendidikan terhadap pertumbuhan
nasional dan kesejahteraan individu, serta perannya dalam
memberantas kemiskinan dan hambatan sosial. Organisasi ini juga
menyediakan data dan analisis lintas negara serta memberikan
saran yang spesifik untuk suatu negara dalam menyusun kebijakan
pendidikan mulai dari anak usia dini hingga usia sekolah dasar dan
menengah, pendidikan tinggi, dan pembelajaran orang dewasa.
Negara Asia Tenggara telah lama terlibat dengan suatu program
OECD untuk menilai siswa secara internasional atau lebih dikenal
dengan, Programme for International Student Assessment (PISA).
Program ini berusaha menilai kemampuan pemahaman membaca,
matematika, dan sains untuk siswa berumur 15 tahun. Indonesia
dan Thailand telah berpartisipasi dalam semua survei PISA sejak
tahun 2000. Malaysia dan Singapura berpartisipasi dalam PISA 2009
dan, bersama dengan Vietnam, akan berpartisipasi dalam PISA 2012.
Sedangkan untuk tingkat pengajar, OECD melakukan survey
yang bernama, The Teaching and Learning International Survey (TALIS)
untuk memberikan wawasan terhadap kondisi kerja guru serta
kegiatan belajar mengajar di sekolah. Malaysia telah berpartisipasi
dalam TALIS 2008 dan Singapura diharapkan untuk berpartisipasi
pada tahun 2013. Dalam TALIS pertama OECD, guru di Malaysia
menyatakan adanya manfaat dari sistem penilaian dan umpan
balik yang menyediakan rencana pengembangan dan memberi
penghargaan untuk meningkatkan kualitas pengajaran atau menjadi
lebih inovatif.
Sebagai tambahan untuk pelatihan penyetaraan lintas negara, OECD
juga telah melakukan kajian khusus, seperti Pendidikan Lebih Tinggi
dalam Pembangunan Wilayah dan Kota: Penang, Malaysia, pada
tahun 2011. Kajian mengenai Kebijakan Pendidikan di Indonesia,
rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2013 untuk memeriksa
keseluruhan sistem pendidikan Indonesia.
Situs Terkait:
www.oecd.org/education
www.oecd.org/edu/learningforjobs
www.oecd.org/edu/pisa
Komite OECD:
Komite Pendidikan
Tahukah Anda?
Di Singapura, satu dari enam siswa (16%) menunjukkan
kemampuan matematika yang sangat tinggi (kemahiran
tingkat 6) dibandingkan dengan rata-rata OECD yang hanya
sebesar 3%.
48
49
4.3 Pendidikan Keuangan
Pendidikan keuangan diperlukan untuk membangun kesadaran
dan keahlian finansial, baik untuk konsumen maupun investor.
Pada tahun 2008, OECD membentuk Jaringan Internasional tentang
Pendidikan Keuangan yang mempersatukan lebih dari 200 pejabat
pemerintah senior dari 88 negara, termasuk Malaysia, Filipina,
Singapura, Thailand, dan Kamboja. Pejabat-pejabat tersebut saling
bertukar pengalaman dan mendiskusikan program dan penelitian
yang berkaitan dengan pendidikan keuangan dengan tujuan untuk
mengidentifikasi tata kelola yang baik dan prinsip yang sesuai.
Untuk meningkatkan pemahaman akan keuangan, OECD
merekomendasikan agar pemerintah mengembangkan strategi
nasional yang ditujukan untuk pendidikan keuangan. Strategi
tersebut harus bersifat holistis secara alami, yang mencakup
semua bagian, dan didasarkan pada diagnosis akurat tentang
tingkat pendidikan keuangan yang nyata di masyaratakat. Bila
memungkinkan, strategi tersebut juga harus dapat menyertakan
pendidikan keuangan dalam kurikulum sekolah.
Situs Terkait:
www.financial-education.org
www.oecd.org/daf/financialeducation
Komite OECD:
Komite Pasar keuangan
Komite Asuransi dan Pensiun Swasta
Indonesia
OECD telah mengembangkan program-program bilateral dengan
Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan Indonesia. Tujuannya
adalah untuk memfasilitasi adanya kolaborasi di bidang
pendidikan keuangan dan bidang lainnya, termasuk asuransi
(statistik, pengembangan pasar, dan kesadaran konsumen),
manajemen utang, reformasi pensiun swasta, pengembangan
pasar sekuritas, serta pengaturan dan pengawasan keuangan.
Kerjasama dengan Bank Indonesia juga bertujuan untuk
mendukung pengembangan strategi nasional pada penyertaan
pendidikan keuangan. Kegiatan terakhir dari kerjasama tersebut
sudah termasuk penyelenggaraan seminar regional gabungan
serta pertemuan meja bundar Bank Sentral Asia mengenai
pemahaman keuangan.
Tahukah Anda?
Bank Sentral Filipina mengeluarkan Master Plan Pendidikan
Keuangan pada tahun 2008 yang didasarkan pada visi bahwa
"Pendidikan Keuangan adalah fondasi untuk Perekonomian
yang Lebih Kuat”. Target program tersebut adalah mahasiswa,
profesional muda, pengusaha, pensiunan, dan individu dari
sektor marginal.
50
4.4 Migrasi Internasional
Dalam beberapa dekade terakhir, arus migrasi di seluruh dunia
meningkat pesat. Akibatnya, hubungan antara migrasi dan
pembangunan ekonomi di negara-negara asal telah menjadi
topik yang semakin penting. Untuk memantau arus dan
kebijakan migrasi, OECD memiliki suatu database OECD tentang
Imigran di Negara-Negara OECD. Di dalamnya juga terdapat
informasi rinci tentang imigrasi Asia Tenggara ke negara-
negara OECD. Database tersebut sudah diperluas cakupannya
untuk meliputi arus imigrasi ke sebagian besar negara Asia
Tenggara. Untuk tahun 2012, OECD akan mempublikasikan,
Outlook Migrasi Internasional, yang akan mencakup bab khusus
mengenai migrasi di Asia.
Kegiatan OECD yang menyangkut dinamika migrasi dan
kebijakan di Asia Tenggara telah memfokuskan diri pada
berbagai isu seperti brain drain, migrasi kembali, dan mobilitas
internasional untuk profesional kesehatan. Penelitian di bidang
ini khususnya menentukan penerapan manajemen migrasi
tenaga kerja yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi
di negara asal. Selain itu, OECD dan ADB bersama-sama telah
mengorganisir pertemuan meja bundar tentang Migrasi Tenaga
Kerja di Asia (pertemuan pertama dilaksanakan pada bulan
Januari 2011).
Negara-negara di Asia Tenggara mempunyai perhatian yang
sama dengan negara-negara OECD pada isu-isu kunci seperti
pengelolaan migrasi buruh, penanganan migrasi yang tidak
teratur, dan dampak dari remitan (pengiriman uang buruh di
luar negeri) terhadap pembangunan.
Antara tahun 2000 dan 2005, jumlah imigran dari negara-negara
Asia Tenggara yang tinggal di negara-negara OECD meningkat
sekitar 20%. Namun, jumlah imigran dari Indonesia tidak
meningkat. Migrasi legal dan ilegal tetap menjadi masalah yang
mendesak bagi negara-negara Asia Tenggara. Selama krisis
keuangan global 2008, banyak migran dipaksa untuk kembali
ke tanah airnya. Akhirnya para migran menghadapi pilihan
antara dideportasi atau menjadi pekerja ilegal di negara tuan
rumah. Hal ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
kebanyakan pekerja dengan upah rendah, Sementara itu, terjadi
peningkatan mobilitas di antara pekerja yang sangat terampil,
baik di dalam maupun di luar Asia Tenggara.
Situs Terkaits:
www.oecd.org/migration
www.oecd.org/migration/DIOC
www.oecd.org/migration/imo
Tahukah Anda?
Pada tahun 2009, sekitar 290.000 orang meninggalkan Asia
Tenggara menuju negara-negara OECD. Angka tersebut
tercatat hampir 6% dari total arus imigrasi yang masuk ke
dalam wilayah OECD. Lebih dari setengahnya berasal dari
Filipina.
51
5
INOVASI DAN INDUSTRI
5.1 Teknologi Informasi
dan Inovasi
OECD mengumpulkan dan menyusun indikator kuantitatif dan
kualitatif di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. OECD
juga menganalisis kebijakan nasional, memberikan saran tentang
strategi ilmu pengetahuan, tenologi, dan inovasi yang efektif
kepada pemerintah negara anggota dan mitra, serta mendukung
kerjasama internasional di bidang-bidang tersebut. Publikasi utama
OECD di bidang ini termasuk terbitan dua kali setahun berjudul
Papan Skor Sains, Teknologi, dan Industri serta Outlook Sains, Teknologi,
dan Industri yang memiliki profil negara Indonesia.
Asia Tenggara sekarang ini berada dalam masa transisi dimana
ekonomi negara anggotanya semakin terintegrasi ke dalam
jaringan pengetahuan dan produksi pada tingkat regional dan
global. Pada saat yang sama, dengan semakin meningkatnya
kegiatan-kegiatan sains, teknologi, dan inovasi di kawasan ini
membuka kesempatan bagi perekonomian negara anggotanya
untuk bisa bergerak ke tingkat value chain yang lebih tinggi, dan
juga mampu mengejar ketinggalan dalam hal pendapatan per
kapita dan meningkatkan kesejahteraan sosial penduduknya.
OECD telah meluncurkan sebuah inisiatif untuk memetakan
kapasitas sains, teknologi, dan inovasi negara-negara Asia
Tenggara dengan tujuan untuk mengidentifikasi peluang
kerjasama negara-negara di kawasan ini dengan OECD. Hal Ini
merupakan inisiatif yang sangat dinantikan oleh Komite Sains
dan Teknologi ASEAN.
Dalam perekonomian berbasis-pengetahuan, ilmu dan teknologi, serta aplikasinya pada sektor
industri dan jasa merupakan sumber utama dari pertumbuhan ekonomi. OECD memberikan saran
kepada pemerintah tentang kebijakan inovasi dan transportasi, analisis tren utama baja, serta
mempromosikan pemahaman yang sama tehadap data yang terkait dengan bahan kimia.
52
Kedepannya, OECD akan menerbitkan kajian mengenai Inovasi di
Asia Tenggara yang berjudul, Kajian OECD mengenai Inovasi di Asia
Tenggara, yang akan mencakup satu set catatan negara di kawasan
ini yang menggambarkan dinamika sistem inovasi nasional dan
hubungannya dengan arus pengetahuan internasional. Fokus
utamanya adalah pada arus pengetahuan antara negara di
kawasan Asia Tenggara dan Uni Eropa, Jepang, Amerika Serikat,
Cina, dan India. Kajian tersebut akan berfungsi sebagai dasar
kegiatan pengkajian yang lebih mendalam tentang kebijakan
inovasi khusus suatu negara. Kajian Sains, Teknologi, dan Inovasi
Vietnam yang sekarang masih dalam tahap persiapan merupakan
kerjasama pertama OECD dengan Bank Dunia di bidang tersebut.
Analisis terbaru OECD menemukan bahwa Asia Tenggara bisa
mendapatkan keuntungan dari:
Pendayagunaan yang lebih baik dari inovasi untuk
diversifikasi ekonomi dan bergerak naik di value chain.
Meningkatkan investasi pada aset yang terkait dengan
inovasi, termasuk modal untuk R&D dan sumberdaya
manusia.
Menuju sistem inovasi yang digerakkan oleh perusahaan
dan meningkatkan keterkaitan dan kerjasama.
Reformasi tata kelola sistem inovasi, dengan
mempertimbangkan pengalaman internasional dan tata
kelola yang baik.
OECD juga membangun sistem manajemen pengetahuan
online yang baru, yaitu Wahana Kebijakan Inovasi atau disebut
juga Innovation Policy Platform untuk mendukung analisis dan
perancangan kebijakan inovasi bagi para pengguna di negara
anggota dan mitra OECD.
Situs Terkaits:
www.oecd.org/sti/stpolicy
www.oecd.org/sti/innovation
Komite OECD::
Komite tentang Kebijakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Komite tentang Kebijakan Informasi, Komputer, dan Komunikasi
Tahukah Anda?
Sumber daya manusia dalam sains dan teknologi memainkan
peran kunci dalam inovasi. Pekerja bidang ini di Indonesia
menyumbangkan 7% dari total angkatan kerja pada tahun 2008.
53
54
5.2 Pembuatan Kapal dan Baja
Kelompok Kerja OECD tentang Pembuatan Kapal adalah satu-satunya
forum internasional yang memungkinkan pemerintah dan industri
membahas isu-isu ekonomi dan kebijakan yang berkaitan dengan industri
pembuatan kapal secara global serta mempertimbangkan solusi untuk
permasalahan multilateral. Kelompok kerja tersebut telah melakukan
usaha-usaha signifikan untuk melibatkan negara-negara ASEAN dan
keterlibatannya yang lebih lanjut tetap menjadi prioritas tinggi.
Sementara Cina, Korea dan Jepang adalah produsen kapal utama dunia
(hampir 85% dari produksi dunia pada tahun 2010), beberapa negara
ASEAN juga memiliki sektor perkapalan yang signifikan. Analisis OECD
menunjukkan bahwa:
Antara 2008 dan 2010, Vietnam dan Filipina memproduksi kapal lebih
dari dua kali lipat di saat produksi di negara-negara pembuat kapal
tradisional menurun akibat dampak krisis keuangan global.
Aktivitas produksi galangan kapal bergeser ke Asia Timur dan Tenggara
(terutama Cina, tetapi juga ke beberapa negara ASEAN), produsen tradisional
lainnya (terutama di Eropa) semakin berfokus pada pasar khusus.
Komite Baja OECD adalah sebuah forum global yang membahas isu-isu
industri baja multilateral dan mengeksplorasi solusi-solusi kebijakannya.
Malaysia adalah Pengamat Tetap, komite tersebut. Institut Besi dan Baja
Asia Tenggara (perwakilan produsen baja di kawasan tersebut) juga
berpartisipasi dalam beberapa pekerjaan Komite. Enam negara Asia
Tenggara memiliki industri baja utama: Malaysia, Thailand, Indonesia,
Vietnam, Filipina, dan Singapura. Produksi baja mentah negara-negara
tersebut telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini. Namun,
karena sejumlah besar pengerolan baja tidak membuat baja mentah
sendiri, produksi baja akhir di kawasan ini masih jauh lebih tinggi dari
pada produksi baja mentah.
Publikasi OECD yang diterbitkan dua kali setahun berjudul, Perkembangan
Kapasitas Pembuatan Baja Negara Non-OECD telah memantau tren industri
baja di Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Analisis terbaru
OECD menunjukkan bahwa produsen di kawasan tersebut berencana
memperluas kapasitas produksi baja mentah mereka secara signifikan,
sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor di masa mendatang
dan nantinya akan menyebabkan terjadinya perubahan dalam arus
perdagangan baja regional.
Situs Terkaits:
www.oecd.org/sti/industry-issues
Komite OECDs:
Dewan Kelompok Kerja tentang Pembuatan Kapal
Komite Baja
Tahukah Anda?
Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam bersama-sama
menyumbang sekitar 4% dari produksi kapal global pada tahun 2010.
Tahukah Anda?
Pada tahun 2010, Malaysia, Thailand, Indonesia, Vietnam,
Filipina, dan Singapura menghasilkan hampir 16 juta ton baja
mentah, tercatat lebih dari 1% dari produksi baja global.
55
56
5.3 Kimia
Dengan maksud untuk lebih melindungi kesehatan manusia dan
lingkungan, OECD bekerjasama dengan beberapa negara untuk
memperbaiki keamanan bahan kimia untuk merancang kebijakan
pengendalian bahan kimia yang lebih transparan dan efisien,
menghemat sumber daya bagi pemerintah dan industri, serta
mencegah distorsi yang tidak perlu dalam perdagangan bahan kimia
dan produk kimia.
Mutual Acceptance of Data (MAD)
Mutual Acceptance of Data (MAD) atau kesepakatan/perjanjian bersama
mengenai data OECD dalam Penilaian Sistem Kimia adalah perjanjian
multilateral yang memungkinkan hasil non-klinis pengujian
keselamatan bahan kimia dan produk kimia, seperti bahan kimia
industri dan pestisida, disebarluaskan ke semua peserta perjanjian.
Beberapa negara di Asia Tenggara terlibat dalam sistem MAD OECD.
Singapura adalah negara dengan status peserta penuh bersama mitra
ekonomi lainnya seperti Argentina, Brasil, India, dan Afrika Selatan.
Dengan status yang demikian, anggota OECD dan negara lain yang
bergabung akan menerima data uji yang dihasilkan MAD sesuai
kondisi yang ada di Singapura. Hal ini akan menghilangkan potensi
terjadinya hambatan perdagangan non-tarif antara Singapura dan
negara-negara lain yang bergabung dalam MAD. Malaysia dan
Thailand adalah pengikut sementara.
Situs Terkait:
www.oecd.org/ehs
Komite OECD:
Komite Kimia
5.4 Transportasi
Forum Transportasi Internasional, yang memiliki 52 negara anggota,
bertindak sebagai think tank kebijakan strategis untuk transportasi
yang menyelenggarakan pertemuan puncak tahunan untuk menteri.
Pertemuan tingkat menteri tersebut juga mempertemukan para
pembuat keputusan dan pelaku dari sektor swasta, masyarakat sipil,
dan penelitian untuk membahas berbagai isu strategis di sektor
transportasi. India dan Cina baru saja bergabung dengan forum
ini sebagai anggota. Indonesia telah diidentifikasi sebagai negara
prioritas bagi kegiatan forum tersebut dalam lima tahun ke depan
bersama Brasil, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, Kolombia, dan Peru.
Situs Terkait:
www.internationaltransportforum.org
Tahukah Anda?
Sistem MAD OECD itulah berhasil menghemat pengeluaran
pemerintah dan produsen kimia pesertanya lebih dari 150 juta
Euro per tahun.
57
6
LINGKUNGAN & ENERGI
6.1 Lingkungan
OECD memberikan bantuan ke banyak negara untuk merancang
kebijakan lingkungan yang efisien secara ekonomi dan efektif
secara lingkungan. Indonesia telah berpartisipasi dalam berbagai
aspek kegiatan lingkungan OECD sejak 2008, termasuk mendukung
perumus kebijakan dalam mengatasi tantangan global dan dalam
menganalisis aspek-aspek ekonomi dari perubahan iklim dan
konservasi keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman hayati merupakan dasar untuk mempertahankan
hidup, menyediakan pelayanan untuk ekosistem yang kritis, dan
mengatur iklim. Analisis kebijakan OECD berfokus pada penilaian
keekonomian dari jasa keanekaragaman hayati dan ekosistem, serta
penggunaan insentif ekonomi dan instrumen berbasis pasar untuk
menggalakkan konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati
yang berkelanjutan. Hasil analisa ini mendukung Konvensi PBB
tentang Keanekaragaman Hayati. Publikasi OECD berjudul Membiayai
Keanekaragaman Hayati: Meningkatkan Efektivitas Biaya dari Pembiayaan
Program Jasa Ekosistem, berusaha mengidentifikasi tata kelola yang
baik dalam perencanaan dan pelaksanaan Program Pembiayaan
Jasa Ekosistem sehingga dapat meningkatkan efektivitas biaya dan
lingkungan.
Melindungi lingkungan, mengatasi perubahan iklim, dan mengembangkan sumber energi baru
adalah tantangan global utama yang menguji kapasitas pemerintah untuk menjalin kerjasama.
OECD telah berkecimpung pada isu-isu tersebut selama bertahun-tahun dan mendukung para
perumus kebijakan Asia Tenggara dalam menyusun dan melaksanakan respon kebijakan yang
memadai di tingkat domestik dan internasional.
Tahukah Anda?
Menurut Outlook Lingkungan OECD, untuk tahun 2030, tanpa
adanya pembaharuan upaya-upaya internasional, 10% dari
keanekaragaman hayati global akan hilang antara tahun 2000
dan 2030.
58
59
Situs Terkaits:
www.oecd.org/env and www.oecd.org/env/biodiversity
Komite OECD
Komite Kebijakan Lingkungan
6.2 Perubahan Iklim
Dengan kemampuan analisis perubahan iklim yang terdepan,
OECD mempromosikan kebijakan lingkungan dan ekonomi yang
efisien yang berkaitan dengan adaptasi, mitigasi, teknologi,
pembiayaan, dan pengembangan.
Kerjasama Pembangunan dan Adaptasi Perubahan
Iklim
Perubahan iklim merupakan tantangan serius bagi semua
negara, tapi negara berkembang adalah kelompok yang paling
rentan. Di Asia Tenggara, Indonesia dan beberapa negara
lainnya memproduksi sejumlah besar emisi gas rumah kaca dan
tentunya juga memiliki dampak besar pada perubahan iklim yang
mempengaruhi populasi, sumber daya alam, dan ternak.
Publikasi OECD tahun 2009 yang berjudul, Mengintegrasikan
Adaptasi Perubahan Iklim ke dalam Kerjasama Pembangunan,
mencoba menganalisa cara terbaik untuk mengintegrasikan isu
adaptasi dalam proses perencanaan nasional dan anggaran. Saran
kebijakan dari laporan tersebut menekankan pada pentingnya
peningkatkan kapasitas di seluruh tingkat pemerintahan,
sehingga dapat memiliki relevansi bagi pengambil keputusan di
Asia Tenggara. OECD juga telah menganalisis biaya dan manfaat
adaptasi perubahan iklim di sektor-sektor terkait serta telah
menjajaki potensi dari berbagai instrumen ekonomi dan kebijakan
yang dapat dijadikan insentif bagi tindakan adaptasi. Laporan
OECD tahun 2008 mengenai perubahan iklim yang berjudul,
Aspek Ekonomi dalam Adaptasi Perubahan Iklim: Biaya, Manfaat, dan
Instrumen Kebijakan, dapat menjadi panduan bagi negara-negara
Asia Tenggara dalam mengkaji dampak perubahan iklim dengan
lebih rinci.
Merancang strategi adaptasi yang efektif untuk daerah perkotaan
sangat penting dalam membuat respon kebijakan yang berbiaya
efektif dalam menghadapi perubahan iklim. Laporan OECD
mengenai Kota dan Perubahan Iklim, mengidentifikasi beberapa
strategi untuk meningkatkan kontribusi daerah perkotaan
terhadap isu adaptasi. Kegiatan serupa menjadi relevan untuk
Indonesia, mengingat Jakarta, sebagai ibukota, merupakan salah
satu dari 20 kota di dunia yang terkena banjir yang disebabkan
oleh perubahan iklim.
Mitigasi Perubahan Iklim dan Pembiayaan
Pengembangan Karbon Rendah
OECD mengkaji bagaimana kebijakan dapat diterapkan dengan
biaya yang efektif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Outlook Lingkungan OECD hingga Tahun 2050 membandingkan kinerja
lingkungan dan ekonomi dari berbagai kebijakan, termasuk
reformasi subsidi bahan bakar minyak (BBM), perluasan pasar
karbon global, dan investasi R&D (Riset dan Pengembangan).
60
Sehubungan dengan subsidi BBM, OECD dan IEA (Badan Energi
Internasional) menunjukkan bahwa penghapusan subsidi akan
menghemat uang bagi pemerintah, mengalihkan kegiatan
ekonomi dari kegiatan yang mengeluarkan CO2, mendorong
efisiensi energi, serta memicu pengembangan teknologi rendah
karbon dan sumber energi terbarukan. Namun, hasil analisa juga
menunjukkan bahwa langkah-langkah kompensasi yang tepat
sasaran mungkin perlu lebih dilakukan, terutama di negara-
negara berkembang yang penduduknya paling rentan terhadap
biaya transisi yang akan dikeluarkan terkait dengan pertumbuhan
berwawasan lingkungan. OECD juga memberi bantuan kepada
berbagai negara dalam upaya mencari solusi jangka panjang
untuk membiayai aksi perubahan iklim, termasuk identifikasi best
practices dalam pendayagunaan investasi swasta untuk mencapai
pembangunan ketahanan iklim yang rendah karbon.
Kerangka Perubahan Iklim Pasca 2012
OECD dan IEA bersama-sama telah membentuk sekretariat Kelompok
Ahli Perubahan Iklim pada Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang
Perubahan Iklim. Kelompok ini memberikan masukan analitis untuk
negosiasi perubahan iklim internasional dan mengadakan seminar
yang mempertemukan negara maju dengan negara berkembang,
termasuk negara di Asia Tenggara, untuk bertukar informasi
mengenai berbagai kebijakan dan isu perubahan iklim.
Situs Terkait:
www.oecd.org/env/cc/ccxg
www.oecd.org/sd-roundtable
www.oecd.org/env/cc/adaptation
www.oecd.org/env/cc/econ/beyond2012
www.oecd.org/environment/outlookto2030
Komite OECD:
Komite Kebijakan Lingkungan
Tahukah Anda?
Pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk sepenuhnya
menghilangkan subsidi bahan bakar fosil pada tahun 2014.
61
6.3 Air
Penetapan Target Pembangunan Milenium PBB mengharuskan
pemerintah di tiap negara untuk mampu mengurangi setengah
dari jumlah orang yang tidak memiliki akses terhadap air dan
sanitasi, pada tahun 2015. Tentunya hal ini membutuhkan
peningkatan yang signifikan dalam investasi di sektor air dan
reformasi dalam tata kelola air.
Program Horisontal Air OECD bertujuan untuk membantu para
perumus kebijakan di negara-negara dan mitra OECD mengatasi
tantangan tersebut serta mempromosikan pengelolaan
air yang berkelanjutan. Pekerjaan OECD difokuskan pada:
1) pengelolaan air (mengatasi hambatan pelaksanaan reformasi,
meningkatkan koordinasi antara aktor di tingkat pemerintahan,
dan memungkinkan partisipasi sektor swasta di sektor air
dan sanitasi); 2) pendanaan air (pilihan untuk menjamin
kesinambungan pendanaan pengelolaan air), 3) Koherensi
kebijakan antara kebijakan air, energi, dan pertanian, dan
4) pengelolaan air pertanian.
Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya berpartisipasi dalam
Forum Global OECD tentang Lingkungan Hidup: "Mewujudkan
Reformasi Air” di Paris pada tanggal 25-26 Oktober 2011 yang
merupakan ajang pertemuan untuk berbagi pengalaman dengan
negara-negara lain dalam reformasi kebijakan air.
Situs Terkait:
www.oecd.org/water
Komite OECD:
Komite Kebijakan Lingkungan
Komite Kebijakan Peraturan
62
6.4 Energi
The International Energy Agency (IEA) merupakan pusat kegiatan
dialog global tentang energi yang menyediakan berbagai statistik,
riset, analisis, dan rekomendasi tentang kebijakan energi. Sebagai
afiliasi dari OECD, IEA bertindak sebagai penasihat kebijakan
energi untuk 28 negara anggota.
Asia Tenggara merupakan suatu kawasan yang mempunyai
nilai strategis bagi IEA. Pada tahun 2002, IEA menandatangani
Memorandum of Understanding dengan Pusat Energi ASEAN sebagai
kerangka bagi program kerjasama IEA-ASEAN. Dari tahun 2003
hingga 2009, program regional difokuskan pada tiga bidang:
1) statistik energi, analisis, dan pelatihan, 2) kesiapan darurat
minyak, serta 3) kerangka regulasi listrik dan gas.
Dalam pelaksanaannya, IEA menerapkan pola dua-jalur. Pada
satu sisi, IEA mempertahankan beberapa program regional dan di
sisi lainnya IEA juga mengembangkan berbagai program bilateral
dengan negara-negara ASEAN yang berminat, seperti Indonesia,
Singapura, dan Thailand. Pada tahun 2008, IEA dan Kementrian
Energi dan Sumberdaya Mineral Indonesia bersama-sama telah
meluncurkan sebuah laporan berjudul, Tinjauan Kebijakan Energi
Indonesia. Baru-baru ini, IEA menerapkan kajian best practices untuk
prosedur dan kebijakan tanggap darurat Thailand di masa depan.
ASEAN semakin memegang peranan penting di pasar energi
global pada dekade-dekade yang akan datang. Konsumsi energi
di kawasan ini mendekati Timur Tengah, dan diperkirakan
semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan
penduduk yang cepat serta proses urbanisasi dan industrialisasi
yang terus berlangsung. Tantangan utama kawasan ini adalah
untuk mengamankan akses energi agar dapat memenuhi
permintaan yang meningkat dengan harga terjangkau dan secara
berkelanjutan.
Pada tanggal 20 September 2011, IEA dan ASEAN menandatangani
Memorandum ASEAN-IEA untuk lebih meningkatkan dan
mengkonsolidasikan kerjasama, serta memperluas cakupan
kerjasama ke bidang seperti penentuan kebijakan peningkatan
efisiensi energi, lingkungan, dan perubahan iklim yang berbiaya
efektif, serta pengembangan dan penyebarluasan teknologi
energi bersih. Kerjasama ini akan melibatkan kegiatan seperti
pelatihan dan perbantuan; penelitian bersama di bidang yang
saling diminati; serta pengadaan proyek-proyek percontohan dan
percobaan bersama.
Situs Terkait:
www.iea.org
63
Tahukah Anda?
Permintaan energi primer ASEAN diperkirakan meningkat
sebesar 84% antara 2008 dan 2035.
64
65
LAMPIRAN
Publikasi tersedia untuk dijual atau pratinjau melalui
Online Bookshop OECD (www.oecdbookshop.org), dan untuk
berlangganan melalui iLibrary OECD (www.oecd-ilibrary.org).
Publikasi/Laporan Terbaru
Sekilas tentang Kesehatan: Asia/Pasifik 2010
(Health at a Glance: Asia/Pacific 2010)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264096189
http://dx.doi.org/10.1787/9789264096202-en
Outlook Perekonomian Asia Tenggara 2010
(Southeast Asian Economic Outlook 2010)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264087002
http://dx.doi.org/10.1787/10.1787/9789264096004-en
Outlook Perekonomian OECD, Volume 2011 Edisi 1
(OECD Economic Outlook, Volume 2011 Issue 1)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264063471
http://dx.doi.org/10.1787/eco_outlook-v2011-1-en
Reformasi Kebijakan Ekonomi 2011: Menuju Pertumbuhan
(Economic Policy Reforms 2011: Going for Growth)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264092570
http://dx.doi.org/10.1787/growth-2011-en
Pertumbuhan dan Ketahanan di Brasil, Cina, India, Indonesia,
dan Afrika Selatan
(Growth and Sustainability in Brazil, China, India, Indonesia and South
Africa)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264090194
http://dx.doi.org/10.1787/9789264090200-en
Pertumbuhan Lapangan Kerja di Asia: Strategi untuk Lapangan
Kerja Lokal, Pengembangan Keterampilan, dan Perlindungan
Sosial
(Job-Rich Growth in Asia: Strategies for Local Employment, Skills
Development and Social Protection)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264110977
http://dx.doi.org/10.1787/10.1787/9789264110984-en
Pemetaan Gender dan Pembangunan: Bagaimana Norma-norma
Sosial Mempengaruhi Kesetaraan Gender di Negara Non-OECD
(Atlas of Gender and Development: How Social Norms Affect Gender
Equality in Non-OECD Countries)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264075207
http://dx.doi.org/10.1787/9789264077478-en
Outlook Sains, Teknologi, dan Industri OECD 2010
(OECD Science, Technology and Industry Outlook 2010)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264084674
http://dx.doi.org/10.1787/sti_outlook-2010-en
Publikasi OECD Terkait Asia Tenggara
66
Sekilas tentang Pensiun 2011: Sistem Penghasilan Pensiun di
Negara OECD dan G20
(Pensions at a Glance 2011: Retirement-income Systems in OECD and
G20 Countries)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264096288
http://dx.doi.org/10.1787/pension_glance-2011-en
Tren dan Kebijakan Pariwisata OECD 2010
(OECD Tourism Trends and Policies 2010)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264077423
http://dx.doi.org/10.1787/tour-2010-en
UKM, Kewirausahaan, dan Inovasi
(SMEs, Entrepreneurship and Innovation)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264080317
http://dx.doi.org/10.1787/9789264080355-en
Kriminalisasi terhadap Penyuapan di Asia dan Pasifik
(The Criminalisation of Bribery in Asia and the Pacific)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264097438
http://dx.doi.org/10.1787/9789264097445-en
Survei Ekonomi OECD: Indonesia 2010
(OECD Economic Surveys: Indonesia 2010)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264083400
http://dx.doi.org/10.1787/eco_surveys-idn-2010-en
Kajian Kebijakan Investasi OECD: Indonesia 2010
(OECD Investment Policy Reviews: Indonesia 2010)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264087002
http://dx.doi.org/10.1787/9789264087019-en
Pendidikan Tinggi dalam Pembangunan Wilayah
dan Kota:
Negara Penang, Malaysia 2011
(Higher Education in Regional and City Development: State of Penang,
Malaysia 2011)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264089457
http://dx.doi.org/10.1787/9789264089457-en
Peer Review dalam Forum Global tentang Transparansi dan
Pertukaran Informasi untuk Keperluan Pajak: Filipina 2011: Fase
1: Kerangka Hukum dan Peraturan
(Global Forum on Transparency and Exchange of Information for
Tax Purposes Peer Reviews: The Philippines 2011:Phase 1: Legal and
Regulatory Framework)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264114616
http://dx.doi.org/10.1787/9789264114623-en
Jurnal OECD tentang Penganggaran: Penganggaran di Filipina
(OECD Journal on Budgeting: Budgeting in the Philippines)
http://dx.doi.org/10.1787/budget-10-5km7rqpf57hb
Peer Review oleh Forum Global tentang Transparansi dan
Pertukaran Informasi untuk Keperluan Pajak: Singapura 2011:
Fase 1: Kerangka Hukum dan Peraturan
(Global Forum on Transparency and Exchange of Information for Tax
Purposes Peer Reviews: Singapore 2011: Phase 1: Legal and Regulatory
Framework)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264114630
http://dx.doi.org/10.1787/9789264114647-en
Penyederhanaan Administrasif di Viet Nam: Mendukung Daya
Saing Ekonomi Vietnam
(Administrative Simplification in Viet Nam: Supporting the
Competitiveness of the Vietnamese Economy)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264096639
67
Memberantas Penyuapan dalam Pengadaan Publik di Asia dan
Pasifik
(Fighting Bribery in Public Procurement in Asia and the Pacific)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264046955
http://dx.doi.org/10.1787/9789264046955-en
Bantuan Hukum Timbal Balik, Ekstradisi, dan Pemulihan Akibat
Korupsi di Asia dan Pasifik: Kerangka dan Praktik dalam 27
Yurisdiksi Asia dan Pasifik - Laporan Akhir, 2008
(Mutual Legal Assistance, Extradition and Recovery of Proceeds of
Corruption in Asia and the Pacific: Frameworks and Practices in 27 Asian
and Pacific Jurisdictions – Final Report, 2008)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264100411
http://dx.doi.org/10.1787/9789264043701-en
Pelengkap Dana Pensiun dan Pensiun Swasta di Dunia 2008
(Complementary and Private Pensions throughout the World 2008)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264048829
http://dx.doi.org/10.1787/9789264048829-en
Kebijakan Anti-Korupsi di Asia dan Pasifik: Reformasi Hukum
dan Kelembagaan di 25 Negara, 2007
(Anti-Corruption Policies in Asia and the Pacific: Legal and Institutional
Reform in 25 Countries, 2007)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264041349
http://dx.doi.org/10.1787/9789264041349-en
Penganggaran di Singapura, Jurnal OECD tentang Penganggaran:
Volume 6 Edisi 1, 2006
(Budgeting in Singapore, OECD Journal on Budgeting: Volume 6 Issue 1,
2006)
http://dx.doi.org/10.1787/budget-v6-art3-en
Penganggaran di Thailand, Jurnal OECD tentang Penganggaran:
Volume 5 No. 3, 2006
(Budgeting in Thailand, OECD Journal on Budgeting: Volume 5 – No. 3,
2006)
http://dx.doi.org/10.1787/budget-v5-art16-en
http://dx.doi.org/10.1787/10.1787/9789264096646-en
Indikator-indikator Utama Ekonomi: Januari Volume 2009 Edisi 1
(Main Economic Indicators: January Volume 2009 Issue 1)
http://dx.doi.org/10.1787/mei-v2009-1-en-fr
Sekilas tentang Pensiun: Asia/Pasifik 2009
(Pensions at a Glance: Asia/Pacific 2009)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264059771
http://dx.doi.org/10.1787/9789264059771-en
Globalisasi dan Perekonomian Baru Berkembang: Brasil, Rusia,
India, Indonesia, Cina, dan Afrika Selatan
(Globalisation and Emerging Economies: Brazil, Russia, India, Indonesia,
China and South Africa)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264044814
http://dx.doi.org/10.1787/9789264044814-en
Membentuk Reformasi Kebijakan dan Peer Review di Asia
Tenggara: Mengintegrasikan Ekonomi dalam Keanekaragaman,
2008
(Shaping Policy Reform and Peer Review in Southeast Asia: Integrating
Economies amid Diversity, 2008)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264039445
http://dx.doi.org/10.1787/9789264039445-en
Survei Ekonomi OECD: Indonesia 2008 - Penilaian Ekonomi
(OECD Economic Surveys: Indonesia 2008 – Economic Assessment)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264049017
http://dx.doi.org/10.1787/eco_surveys-idn-2008-en
Kajian Kebijakan Energi Indonesia, 2008
(Energy Policy Review of Indonesia, 2008)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264048294
http://dx.doi.org/10.1787/9789264048294-en
68
Menolak Penyembunyian Korupsi dan Hasil Korupsi, 2006
(Denying Safe Haven to the Corrupt and the Proceeds of Corruption,
2006)
http://www.oecd.org/bookshop?9789264041370
http://dx.doi.org/10.1787/9789264041370-en
Tersedia secara bebas di iLibrary OECD
Kertas Kerja Departemen Perekonomian OECD: Tahapan
Pengurangan Subsidi Energi di Indonesia
(OECD Economics Department Working Papers: Phasing Out Energy
Subsidies in Indonesia)
http://dx.doi.org/10.1787/5km5xvc9c46k-en
Kertas Kerja Departemen Perekonomian OECD: Mengatasi
Tantangan Infrastruktur di Indonesia
(OECD Economics Department Working Papers: Tackling the
Infrastructure Challenge in Indonesia)
http://dx.doi.org/10.1787/5km5xvc1kk47-en
Kertas Kerja Departemen Perekonomian OECD: Apakah
Desentralisasi Fiskal Memperkuat Modal Sosial?: Fakta Lintas
Negara serta Pengalaman Brasil dan Indonesia
(OECD Economics Department Working Papers: Does Fiscal
Decentralisation Strengthen Social Capital?: Cross-Country Evidence and
the Experiences of Brazil and Indonesia)
http://dx.doi.org/10.1787/5km347ntdnxn-en
Kertas Kerja Departemen Perekonomian OECD: Tantangan
Pertumbuhan dan Kebijakan Jangka Panjang di Negara Baru
Berkembang Terbesar
(OECD Economics Department Working Papers: Long-term growth
and policy challenges in the large emerging economies)
http://dx.doi.org/10.1787/5kmh79tm3n9r-en
Jurnal OECD: Makalah Umum: Masa Depan Migrasi Cina dan Asia
Tenggara ke Negara OECD
(OECD Journal: General Papers: The future of Chinese and South-East
Asian migration to OECD countries)
http://dx.doi.org/10.1787/gen_papers-v2009-art8-en
Makalah Energi IEA: Membudayakan Energi Terbarukan di Asia
Tenggara: Tren dan Potensi
(IEA Energy Papers: Deploying Renewables in Southeast Asia: Trends
and Potentials)
http://dx.doi.org/10.1787/5kmd4xs1jtmr-en
Masukan Kebijakan Pusat Pembangunan OECD: Integrasi
Regional di Asia Tenggara: Kerjasama Makroekonomi yang Lebih
Baik Dapat Mengurangi Risiko
(OECD Development Centre Policy Insights: Regional Integration in
Southeast Asia: Better Macroeconomic Co-operation Can Mitigate Risks)
http://dx.doi.org/10.1787/225082730565
Kertas Kerja Pengembangan Ekonomi dan Ketenagakerjaan
Lokal OECD:: Strategi Ketenagakerjaan dan Keterampilan di Asia
Tenggara: Mengatur Keadaan
(OECD Local Economic and Employment Development Working Papers:
Employment and Skills Strategies in Southeast Asia: Setting the Scene)
http://dx.doi.org/10.1787/5kmbjglh34r5-en
Kertas Diskusi Pusat Penelitian Transportasi Gabungan OECD
/ ITF: Pengalaman Singapura: Evolusi teknologi, biaya dan
manfaat, serta pembelajaran
(OECD/ITF Joint Transport Research Centre Discussion Papers: The
Singapore Experience: The evolution of technologies, costs and benefits,
and lessons learnt)
http://dx.doi.org/10.1787/5kmjp6fk71f6-en
69
70
Pusat OECD Tokyo (OECD Tokyo Centre)
Didirikan pada 1973, pusat OECD Tokyo berfungsi sebagai
sumber informasi untuk publikasi OECD dan sarana menjangkau
masyarakat di wilayah Asia dan Pasifik dengan memfokuskan
pada Negara ASEAN.
Pusat organisasi regular adalah sebagai berikut:
º Forum Kebíjakan, dengan tema seperti reformasi regulasi
untuk Negara ASEAN, Pertumbuhan Berwawasan
Lingkungan, Inovasi, Outlook Migrasi Internasional, dan
Outlook Perekonomian Asia Tenggara.
º Konferensí Pers dalam rangka peluncuran publikasi
unggulan seperti Outlook Perekonomian Asia Tenggara.
º Bríefíng Pers untuk jurnalis tentang studi OECD terbaru dan
rekomendasi kebijakan yang dihasilkan.
º Kunjungan ke perpustakaan akademía di negara ASEAN
dan seminar untuk publikasi OECD dan layanan online
º Partísípasí daIam pameran tertentu, seperti pada Informasi
Online Asia-Pasifik 2011 di Hong Kong dan Pameran Buku di
Malaysia, Thailand dan Indonesia.
º Promosí pubIíkasí OECD dalam kerjasamanya dengan lebih
dari 10 distributor di setiap negara anggota ASEAN

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kontak:
OECD Tokyo Centre
Nippon Press Center Bldg. 3F
2-2-1 Uchisaiwaicho, Chiyoda-ku, Tokyo 100-0011
Japan
Tel: (81-3) 5532-0021 Fax: (81-3) 5532-0035
Email: tokyo.contact@oecd.org
71
Keterlibatan OECD dengan Ekonomi Asia Tenggara: Sebuah Snapshot (November 2011)
OECD menawarkan kemungkinan mitra terpilih untuk bergabung dengan berbagai instrumen OECD dan untuk berpartisipasi dalam
Badan-Badan OECD (Komite, Kelompok Kerja, dll.). Untuk non-anggota, partisipasi dalam Komite OECD tidak hanya menyediakan akses
ke saran kebijakan dan analisis untuk dapat bertukar secara bebas dan terbuka, tetapi juga kesempatan untuk mempengaruhi pola
pikir para pembuat kebijakan antar anggota OECD dan pengembangan instrumen internasional yang baru.
Peserta penuh
Badan OECD, Proyek, dan Instrumen Indonesia Malaysia Singapura Thailand Filipina Vietnam
Dewan Pimpinan Pusat Pembangunan
(Development Center)
√ √ √
Proyek Kebebasan Berinvestasi (Komite Investasi)

Forum Global tentang Transparansi dan Pertukaran
Informasi untuk Keperluan Pajak
√ √ √ √
Rapat Gabungan Komite Kimia dan Kelompok Kerja
tentang Bahan Kimia, Pestisida, dan Bioteknologi (Komite
Kebijakan Lingkungan) - khusus untuk masalah MAD

Kelompok Kerja Praktik Laboratorium yang Baik

Kelompok Kerja Koordinator Nasional untuk
Program Pedoman Pengujian

72
Pengamat Reguler
Badan OECD, Proyek, dan Instrumen Indonesia Malaysia Singapura Thailand Filipina Vietnam
Komite Kebijakan Informasi, Komputer, dan Komunikasi
beserta badan turunannya

Komite Persaingan

Komite Perikanan

Kelompok Ahli Indikator Kualitas Layanan Kesehatan
(Komite Kesehatan)

Program Penilaian Siswa Internasional (PISA)
1
√ √ √
Komite Baja

Satuan Tugas untuk Ketahanan Novel Food dan Feed
(Makanan dan Pakan Baru) (Kelompok Kerja tentang
Bahan Kimia, Pestisida, dan Bioteknologi)

Kelompok Kerja Praktik Laboratorium yang Baik
√ √
Kelompok Kerja Koordinator Nasional untuk
Program Pedoman Pengujian
√ √
Kelompok Kerja tentang Efektivitas Bantuan
(Komite Bantuan Pembangunan)
√ √ √ √
Kelompok Kerja tentang UKM dan Kewirausahaan
(Komite Industri, Inovasi, dan Kewirausahaan)

73
Instrumen OECD
Badan OECD, Proyek dan Instrumen Indonesia Malaysia Singapura Thailand Filipina Vietnam
Piagam Bologna tentang Kebijakan UKM
√ √ √
Keputusan Dewan tentang Penerimaan Mutual Data
(MAD) dalam Penilaian Kimia

2
√ √
2
Deklarasi dalam Membina Pertumbuhan UKM yang
Inovatif dan Kompetitif Secara Internasional
(Deklarasi Istanbul)
√ √ √
Deklarasi untuk Masa Depan Ekonomi melalui Internet
(Deklarasi Seoul)

Pedoman Keamanan Sistem Informasi dan Jaringan

Standar Internasional tentang Transparansi dan
Pertukaran Informasi untuk Keperluan Pajak

3
√ √ √
Deklarasi Paris tentang Efektivitas Bantuan dan Agenda
Aksi Accra
√ √ √ √ √
(1)
Singapura, Thailand, dan Indonesia berpartisipasi dalam PISA dan bertindak sebagai pengamat di Dewan Pimpinan PISA. Malaysia
berpartisipasi tetapi bukan sebagai pengamat di Dewan.
(2)
Keterikatan sementara.
(3)
Indonesia juga tercantum pada Konvensi Bantuan Timbal Balik Administratif dalam Urusan Perpajakan.
Untuk informasi lebih lanjut tentang partisipasi dalam Badan OECD dan Instrumennya, silakan kunjungi: www.oecd.org/globalrelations
74
Jaringan OECD-Asia dan Pesertanya
Jaringan OECD-Asia Peserta Tanggal Berdiri
Forum Meja Bundar OECD/ADBI tentang Reformasi
Pasar Modal di Asia
(OECD/ADBI Roundtable on Capital Market Reform in
Asia) (‘Tokyo Roundtable”)
India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, RRC (Cina),
Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam
1999
Forum Meja Bundar Asia tentang Tata Kelola
Perusahaan
(Asian Roundtable on Corporate Governance)
Singapura, Thailand, Malaysia, Hong Kong (Cina), Taiwan,
RRC, Indonesia, India, Korea, Vietnam, Filipina, Pakistan,
Bangladesh
1999
Inisiatif Anti-Korupsi ADB/OECD untuk Asia-Pasifk
(ADB/OECD Anti-Corruption Initiative for the Asia-
Pacific)
Australia, Bangladesh, Butan, Kamboja, RRC, Cook Islands,
Kepulauan Fiji, Hong Kong (Cina), India, Indonesia, Jepang,
Kazakhstan, Korea, Kirgizstan, Makau, Malaysia, Mongolia,
Nepal, Pakistan, Palau, Papua Nugini, Filipina, Samoa,
Singapura, Sri Lanka, Thailand, Vanuatu, Vietnam
1999
Inisiatif kooperatif APEC/OECD tentang Reformasi
Peraturan
(APEC/OECD Cooperative Initiative on Regulatory
Reform)
Negara-negara anggota OECD dan APEC 2000
Jaringan Pejabat Senior Penganggaran untuk Asia
(Network of Senior Budget Officials for Asia)
Semua negara anggota OECD, Bangladesh, Brunei
Darussalam, Kamboja, Taiwan, Timor Timur, Hong Kong
(Cina), Indonesia, Laos, Makau (Cina), RRC, Filipina,
Singapura, Sri Lanka, Thailand, Vietnam
2001
Jaringan OECD tentang Tata Kelola Perusahaan untuk
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Asia
(OECD-Asia Network on Corporate Governance of
State-Owned Enterprises)
Australia, Taiwan, Hong Kong (Cina), India, Indonesia,
Jepang, Korea, Malaysia, RRC, Filipina, Singapura, Thailand,
Vietnam
2006
75
Pertumbuhan Global yang Kuat, Berkelanjutan, dan Seimbang”
yang membahas perpajakan, korupsi, pengembangan
keterampilan dan lapangan kerja, proteksi perdagangan, serta
investasi dan pembangunan.
OECD memperluas keanggotaannya dan hubungan kemitraannya
dengan lebih dari seratus negara di dunia seraya berusaha
untuk menjadi organisasi yang lebih representatif dan peka
terhadap berbagai langkah dalam mencapai pertumbuhan dan
pembangunan. Pada tahun 2010, OECD menambah empat negara
anggota baru, yaitu Chili, Israel, Slovenia, dan Estonia, dan saat
ini sedang memproses keanggotaan Federasi Rusia. Di samping
itu, OECD sedang mempererat kemitraannya dengan lima negara
Tentang OECD (Organisasi untuk
Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi)
OECD merupakan suatu organisasi antar pemerintah yang
didirikan pada tahun 1961. Saat ini sudah ada 34 negara yang
menjadi anggota OECD. Misi utama OECD adalah untuk membantu
pemerintah dalam merancang dan menjalankan berbagai
kebijakan domestik secara efektif sambil membantu terjalinnya
kerjasama antar anggota yang lebih terkoordinasi menuju
ekonomi global yang lebih kuat, bersih, dan adil.
Melalui jaringan kerjasama oleh lebih dari 250 komite khusus dan
kelompok kerja, OECD menyediakan forum dimana pemerintahan
negara anggota dan mitra OECD dapat saling membandingkan
pengalaman dalam menjalankan kebijakan, mencari solusi
terhadap permasalahan bersama, mengidentifikasi good practices,
dan menetapkan berbagai standar global. Mengadakan dialog,
memperoleh konsensus, dan peer review oleh pemerintah
merupakan inti pokok dari aktivitas multidisiplin OECD.
OECD memiliki sejumlah keahlian di berbagai bidang
kebijakan publik, termasuk pertanian, kompetisi, pendidikan,
ketenagakerjaan, migrasi, dan inovasi, serta merupakan salah satu
sumber terbesar dan paling dapat diandalkan dalam penyediaan
data ekonomi dan sosial yang dapat diperbandingkan.
Bersama organisasi internasional lainnya, OECD mendukung
kegiatan G20 sejak bulan Desember 2008 dengan memberikan
kontribusi dalam diskusi mengenai “Kerangka Pencapaian
This document and any map included herein are without prejudice to the status of or sovereignty over any territory, to the delimitation of international frontiers and
boundaries and to the name of any territory, city or area.
76
berkembang yang penting bagi perekonomian global, yaitu Brasil,
India, Indonesia, Cina, dan Afrika Selatan.
Merayakan 50 tahun berdirinya organisasi ini, prioritas OECD
saat ini adalah untuk membantu mengembalikan kepercayaan
pasar dengan tata kelola publik dan perusahaan yang lebih baik;
untuk mendorong dan mendukung sumber-sumber pertumbuhan
baru melalui inovasi dan strategi pertumbuhan berwawasan
lingkungan; untuk melatih keterampilan tenaga kerja segala
usia guna memperoleh pekerjaan di masa mendatang; untuk
menangani ketidakmerataan yang semakin meningkat melalui
kebijakan sosial tepat sasaran; dan untuk mempromosikan
kebijakan yang saling berhubungan mengenai pembangunan.
77
© February 2012 Original design and layout: www.ad-nova.com
Sekretariat Hubungan Global (Global Relation Secretariat) mengembangkan
dan mengawasi orientasi strategis dari hubungan global OECD dengan negara
non-anggota.
GRS adalah kontak utama di OECD untuk negara non-anggota.
OECD Global Relations Secretariat
2 rue André Pascal, F-75775 Paris Cedex 16, France
Tel.: +33 1.45.24.82.00, Fax: +33 1 45 24 91 77
E-mail: ccnmcont@oecd.org URL: www.oecd.org/globalrelations

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.