P. 1
kendali-elektromagnetik

kendali-elektromagnetik

|Views: 97|Likes:
Published by Roni Develo

More info:

Published by: Roni Develo on Nov 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2014

pdf

text

original

BAB.

I PENDAHULUAN
A. Deskripsi
Modul dengan judul Mengoperasikan Mesin Produksi dengan Kendali Elektronik merupakan kelanjutan dari modul PTL. KON.007 dan PTL.KON.008, pada program keahlian pemanfaatan energi listrik/ bidang keahlian Ketenaga Listrikan, kurikulum edisi 2004. Modul mengoperasikan mesin produksi dengan kendali elektronik diberi kode modul PTL OPS 005 (2) A. Modul ini berisikan system pengendali yang menggunakan peralatan elektronik, kemudian dimanfaatkan pada mesin produksi sehingga cara mengoperasikan mesin produksi akan lebih aman dan praktis. Setelah menguasai modul ini peserta DikLat memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap bagaimana cara mengendalikan mesin produksi dengan menggunakan kendali elektronik.

B. Prasyarat
Modul ini merupakan modul yang menunjang pada modul PTL.HAR.007 dan PTL.HAR.01208.

C. Petunjuk Penggunaan Modul
1. Petunjuk bagi Peserta DikLat Sebelum mempelajari materi pada bahan ajar ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: a. Memahami tujuan pembelajaran system dengan kompetensi yang harus dicapai. b. Membaca tahap demi tahap seluruh materi yang disajikan.

Modul PTL OPS 005 (2) A

1

c. Materi bahan modul ini bersifat konsep dasar system pengendali elektronik, yang pelaksanaan prakteknya dapat dilakukan diruangan praktek sedangkan untuk pengembangannya dapat dilakukan industri. d. Untuk meyakinkan pemahaman materi bahan ajar ini, peserta DikLat harus menyelesaikan semua tugas pada lembaran tugas di akhir modul ini dan diserahkan pada guru pembimbing secara individu/ perseorangan. e. Jika nilai hasil belajar kurang dari 80% Anda belum berhasil dan harus mengulang lagi seluruh materi pada kegiatan belajar tersebut. f. Jika melaksanakan kegiatan praktek ikutilah prosedur petunjuk yang ditentukan pada lembar kerja dan bertanyalah pada guru pembimbing setiap ada kesulitan. 2. Petunjuk bagi Guru Pembimbing Guru pembimbing berperan sebagai motivator, evaluator, serta di

administator sebagai berikut: a. Membantu siswa/peserta DikLat dalam melaksanakan proses belajar. b. Membimbing siswa/peserta DikLat melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar. c. Membantu siswa/peserta DikLat dalam memahami konsep-konsep teori maupun praktek melalui dialog/tanya jawab. d. Membantu siswa/peserta DikLat untuk menambah wawasan melalui pengalaman membaca buku-buku referensi atau melalui nara sumber dari luar sekolah misal dari DUDI. e. Merencanakan perangkatnya. f. Menjelaskan tentang kompetensi yang harus dikuasai serta merencanakan pembelajaran selanjutnya. dan melaksanakan penilaian serta menyiapkan

Modul PTL OPS 005 (2) A

2

g. Mencatat pencapaian kemajuan siswa.

D. Tujuan Akhir
Pada akhir pembahasan/pembelajaran peserta didik diharapkan dapat: 1. Menggambar rangkaian mesin produksi dengan kendali elektronik. 2. Menjelaskan cara kerja rangkaian mesin prodiksi dengan kendali elektronik. 3. Mengidentifikasikan komponen pada rangkaian mesin produksi dengan kendali elektronik. 4. Membuat rangkaian kendali mesin produksi dengan kendali elektronik 5. Mengoperasikan mesin produksi dengan kendali elektronik. 6. Membuat elektronik. laporan mengoperasikan mesin produksi dengan kendali

Modul PTL OPS 005 (2) A

3

005(2).A : 40 Jam @ 45 menit LEVEL KOMPETENSI KUNCI A 1 B 1 C 1 D 1 E 1 F 1 G 1 Dalam melaksanakan kompetensi ini harus didukung dengan tersedianya: Kebijakan yang berlaku diperusahan harus dipatuhi KONDISI KINERJA Peralatan dan sarana yang terkait untuk pelaksanaan harus disediakan Dalam melakukan pekerjaan ini harus diperhatikan SOP yang berlaku ditempat kerja serta peraturan keselamatan kerja yang berlaku diperusahaan harus dipatuhi SUB KOMPETENSI Mempersiapkan operasi mesin produksi dengan kendali elektronik KRITERIA KINERJA Peralatan yang berkaitan dengan pengoperasian di-identifikasi masingmasing fungsinya sesuai SOP Diagram kerja dan sistem kelistrikan dipahami berdasar-kan standar LINGKUP BELAJAR Meliputi jenis pengasutan motor listrik sebagai peng-gerak mesin produksi MATERI POKOK PEMELAJARAN SIKAP Mengikuti standar K3 dalam pengoperasian pengoperasian mesin produksi dengan kendali elektro mekanik Mengkoordinasikan persiapan pengoperasian mesin produksi dengan PENGETAHUAN Memahami SOP pengoperasian mesin produksi dengan kendali elektro-nik Mengidentifikasi komponen pengoperasi-an mesin produksi dengan kendali elektronik KETERAMPILAN Mempersiapkan pekerja-an pengoperasian mesin produksi dengan kendali elektronik Memeriksa komponen pengoperasian mesin produksi dengan kendali elektronik Modul PTL OPS 005 (2) A 4 .E.OPS. Kompetensi KOMPETENSI KODE DURASI PEMELAJARAN : Mengoperasikan mesin produksi dengan kendali elektronik : PTL.

SUB KOMPETENSI KRITERIA KINERJA praktis Tombol dan indikator operasi diidentifikasi sesuai dengan diagram dan urutan operasi Kebijakan dan prosedur K3 dipahami LINGKUP BELAJAR MATERI POKOK PEMELAJARAN SIKAP kendali elektro mekanik kepada pihak lain yang berwenang PENGETAHUAN Memahami fungsi komponen pengoperasian mesin produksi dengan kendali elektronik Memahami diagram kerja dan sistem kelistrikan Memahami urutan operasi mesin produksi dengan kendali elektronik Memahami kebijakan dan prosedur K3 pengoperasian mesin produksi dengan kendali elektronik KETERAMPILAN Melaksanakan operasi Personel yang berwenang di-koordinasi untuk meyakinkan bahwa pelaksanaan persiapan terkoordinasi secara efektif dengan pihak lain yang ter-kait Tombol atau indikator yang berkaitan dengan operasi dipersiapkan sesuai SOP Meliputi jenis pengasutan motor listrik sebagai peng-gerak mesin produksi Melakukan koordinasi persiapan pengoperasian dengan pihak lain yang berwenang Mengidentifikasi gambar rangkaian kendali elektronik sesuai dengan rencana kerja Mengidentifikasi bahan dan perlengkapan kerja pemeliharaan kendali elektonik Mengidentifikasi perlengkapan dan lokasi kerja pemeliharaan kendali Menyiapkan tombol dan indikator pengoperasian mesin produksi dengan kendali elektronik Mengoperasikan mesin produksi dengan kendali elektronik Modul PTL OPS 005 (2) A 5 .

dengan memperhatikan toleransi yang ditetapkan sesuai instruksi manual Penyimpangan yang teriden-tifikasi penyebabnya ditentukan alternatif penanggulang-annya Alternatif penyelesaian masalah dikonsultasikan dengan pihak terkait di tempat kerja Pemecahan masalah ganggu-an dilaksanakan Meliputi jenis pengasutan motor listrik sebagai peng-gerak mesin produksi Mengkonsultasikan alternatif pemecahan masalah gangguan pada pihak terkait Menganalisa gangguan pada pengoperasian mesin produksi dengan kendali elektronik Memahami cara meng-atasi gangguan pada pengoperasian mesin produksi dengan kendali elektronik Mengatasi gangguan pada pengoperasian mesin produksi dengan kendali elektronik Modul PTL OPS 005 (2) A 6 .SUB KOMPETENSI KRITERIA KINERJA Operasi dilaksanakan sesuai deskripsi/urutan kerja pada SOP LINGKUP BELAJAR MATERI POKOK PEMELAJARAN SIKAP PENGETAHUAN elektronik Mengidentifikasi lokasi dan keselamatan kerja pada pekerjaan pemeliharaan kendali elektronik Memilih bahan dan spare part kendali Elektronik KETERAMPILAN Mengamati dan menangani masalah operasi Gangguan yang berkaitan dengan penyimpangan operasi diidentifikasi.

Format laporan disimpan/diarsipkan sesuai prosedur yang ditetapkan Meliputi jenis pengasutan motor listrik sebagai peng-gerak mesin produksi Mengikuti prosedur pembuatan laporan Mengikuti prosedur penyimpanan/ pengarsipan laporan Memahami cara mem-buat laporan pengopera-sian mesin produksi dengan kendali elektronik Membuat laporan pengoperasian mesin produksi dengan kendali elektonik Modul PTL OPS 005 (2) A 7 .SUB KOMPETENSI KRITERIA KINERJA sampai dengan gangguan diselesai-kan LINGKUP BELAJAR MATERI POKOK PEMELAJARAN SIKAP PENGETAHUAN KETERAMPILAN Membuat laporan pengoperasian Laporan dibuat sesuai dengan format dan prosedur yang ditetapkan oleh perusahaan.

Jelaskan bagaimana cara menentukan kaki gate pada SCR? 7. Gambarkan symbol TRIAC lengkap dengan notasi dari ketiga 10. Apakah fungsi dari DIAC? kakinya? Modul PTL OPS 005 (2) A 8 . Gambarkan symbol dari sebuah SCR? 6. Singkatan dari apakah UJT? 9. Tuliskan 2 fungsi transistor? 2. 1.F. Tuliskan 3 macam type SCR yang Anda ketahui? 8. Anda bisa langsung mengajukan uji kompetensi assessor internal atau eksternal melalui guru pembimbing. Gambarkan symbol transistor jenis PNP dan NPN? 3. Apakah yang dimaksud transistor dalam keadaan saturasi? 4. Jelaskan bagaimana cara menentukan kaki basis pada transistor? 5. Cek Kemampuan Pelajari dan coba jawab pertanyaan–pertanyaan dibawah ini secara lengkap! Jika merasa telah menguasai dan mampu.

A. Rencana Belajar Peserta DikLat Kompetensi Sub Kompetensi : A. Melaksanakan operasi.3. dengan Jenis Kegiatan Tanggal Waktu Tempat Belajar Alasan Perubahan Tanda Tangan Modul PTL OPS 005 (2) A 9 . Membuat laporan pengoperasian. : A. II PEMELAJARAN A. Mengoperasikan mesin produksi dengan kendali elektronik.4.1. Mempersiapkan operasi mesin produksi kendali elektronik.2. Mengamati dan menangani masalah operasi A. A.BAB.

Mejelaskan cara kerja transistor sebagai switch. 2.B. Tujuan Kegiatan Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran 1. Transistor NPN Modul PTL OPS 005 (2) A 10 . Pada saat berfungsi sebagai resistor non linear. Gambar di bawah ini merupakan susunan bahan dari transistor. yang akan dibahas dalam job ini. b. Transistor PNP Base Kolektor Gambar 1b. Menjelaskan susunan bahan dan symbol transistor. transistor yang paling digunakan adalah junction transistor. 4. peserta DikLat akan dapat: 1. 3. P N P N P N Kolektor Emitter Base Emitter Gambar 1a. Kegiatan Belajar Peserta Diklat KEGIATAN BELAJAR 1. Memahami dasar kerja latching. Susunan Bahan dan Symbol Transistor Kata transistor berasal dari dua kata transfer dan resistor ini menandakan bahwa transistor ialah alat yang dapat memindahkan daya dari suatu rangkaian ke rangkaian lain. Uraian materi 1. Transistor a. Mengidentifikasi komponen-komponen pada pengendali beban menggunakan transistor.

Modul PTL OPS 005 (2) A 11 . Transistor sebagai Switch a. Simbol Transistor NPN Transistor bekerja berdasarkan arus basis yang masuk pada junction jika basis diberi arus positif atau negatif sesuai dengan jenisnya. 2. Kolektor Base Emitter Base Kolektor Emitter Gambar1c. transistor junction terbentuk dari dua cara menempatkan lempeng bahan type-N. dibawah ini memperlihatkan transistor yang dirangkai sedemikian rupa (rangkaian Common-Emitter). Seperti terlihat pada gambar 1a & 1b. Simbol Transistor PNP Gambar 1d. Keduanya digunakan pada system pengontrolan.Transistor junction sama sederhananya dengan dioda junction. Jika emitter dan kolektor terbuat dari bahan type-N. dimana tahanan beban RL dianggap terhubung seri dengan lainnya. Tegangan total yang terdapat pada ujung-ujung rangkaian seri ini sama dengan tegangan catunya (UCC) dan diberi notasi UR dan UCE. Kondisi CUT-OFF Transistor Gambar2a. Jika emitter dan kolektor terbuat dari bahan tipe-P maka disebut transistor PNP. maka disebut transistor NPN. Untuk membuat hubungan dengan rangkaian luar. maka emitter dan kolektor akan konduk dan dapat memberikan arus pada beban. Diantara bahan type-P atau lempeng bahan type-P atau diantara bahan lempeng type-N. Setelah itu dua kali terpasang pada dua sisi dan satu kaki di sisi lainnya.

maka pada keadaan ini dapat ditulis: IC . RL = UCC Dari persamaan: UCC = IC . RL Misalkan basis memperoleh bias negatif (reverse) yang Sedemikian besar sehingga memutuskan (cut-off) arus kolektor. RL = 0 sehingga UCC = UCE Bila transistor kita anggap sebagai switch. maka pada keadaan ini switch tersebut akan ada dalam keadaan terbuka (OFF).RL sehingga UCC = UCE + IC .RL IC. RL + UCE Modul PTL OPS 005 (2) A 12 .RL=0 RL RL IC. dan untuk keadaan ini arus kolektor sama dengan nol.RL=Ucc RL Uce=Ucc IB Uce=0 Gambar 2a. b. Kondisi Saturasi Transistor Bila sekarang basis diberi bias arus maju (forward) sampai pada titik dimana seluruh tegangan UCC muncul sebagai drop tegangan pada RL. Rangkaian Commen – Emitter Menurut hukum Kirchoff: UCC = UCE + UR Arus kolektor IC mengalir melalui RL dan drop tegangannya adalah IC. IC .

Dan jika transistor dianggap sebagai sakelar (switch). maka tidak tersisa tegangan pada kolektor. c. Modul PTL OPS 005 (2) A 13 . Dasar Latching Dua buah transistor dari tipe PNP dan NPN dikatakan komplement jika mempunyai karakteristik yang serupa. maka pada kondisi ini switch tersebut dalam keadaan tertutup (ON). RL Karena IC . memperlihatkan cara menghubungkan transistor yang komplementer tadi sedemikian rupa sehingga membentuk rangkaian Cascade.UCE = UCC – IC . Gambar 2c & 2d. RL = UCC maka dan UCC – IC . + Ucc TR1 TR2 RL TR1 Picu TR2 Gambar 2 c. Gambar 2d. RL = 0 UCE = 0 Dengan demikian bila IC diperbesar pada suatu titik dimana seluruh tegangan UCC muncul pada RL. Keadaan seperti ini dikatakan kondisi saturasi (jenuh) dari transistor tersebut.

dan dalam keadaan saturasi ini transistor akan merupakan rangkaian hubung singkat sehingga tegangan pada latch akan sama dengan nol dan arus yang mengalir adalah: IC = UCC RL Guna menutup latch tersebut dapat juga dilakukan dengan memberi trigger negatif pada basis Q1 yang mana akan menyebabkan forward bias pada Q1. Dalam keadaan demikian ini transistor tidak bekerja (cut-off).Rangkaian ini bila diberi catu daya sedemikian rupa seperti yang terlihat pada gambar 2c & 2d. maka timbul kolektor yang akan diterima basis transistor berikutnya dan diperkuat dan cara ini disebut sebagai “Break Over System”. Cara lain adalah dengan memberi tegangan UCC sedemikian besar sehingga melampaui tegangan break-down dari dioda kolektor salah satu dari transistor tersebut. Dengan mengabaikan arus bocor. Misal trigger positif diberikan pada basis dari Q2 ini berarti emitter basis Q2 memperoleh forward bias dan Q2 mulai menghantar. Dengan terjadinya break-down ini. Proses penguatan ini berlangsung terus sehingga transistortransistor tersebut mencapai keadaan saturasi. dan dimana basis dalam keadaan terbuka serta dengan suatu kancing (latch). maka dapat dikatakan I C = 0. Karena kolektor Q2 dihubungkan langsung dengan basis Q1 maka Q1 memperoleh input dan selanjutnya akan memberikan penguatan sehingga timbul IC pada Q1 dan arus ini merupakan input bagi Q2 dan akan diperkuat lagi oleh Q2 tersebut. Modul PTL OPS 005 (2) A 14 . atau sama saja dengan switch dalam keadaan terbuka. Salah satu cara guna menutup latch ini adalah dengan system penyulutan (triggering) pada elektroda basis dari salah satu transistor tersebut.

c. Jelaskan bagaimana cara memberi penyulutan pada trasistor jenis PNP? 2. Bawalah lima buah trasistor lengkap dengan jenis dan spesifikasinya! e. Tugas 1. yaitu:  Mengurangi tegangan catu UCC sehingga arus beban berkurang. Pengaturan arus basis tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan potensiometer atau tahanan sebagai Drop Devider. Apakah yang akan terjadi jika kaki basis transisor jenis NPN diberi polaritas negatif? 3.Guna membuka latch tersebut ada beberapa cara. Pada transistor selain beban dapat dijalankan dan dimatikan juga dayanya dapat diatur dengan mengatur arus yang masuk ke basis dari transistor tersebut. Gambar dan jelaskan dua buah trasistor yang digunakan sebagai latching? 4. Buat gambar rangkaian pengontrolan pintu garasi menggunakan trasistor dengan sensor cahaya! 2. Apakah yang membedakan antara transistor jenis PNP dengan transistor jenis NPN? Modul PTL OPS 005 (2) A 15 .  Memperbesar nilai RL atau sama sekali mencabutnya. d. Tes Formatif 1. Switch statis berbeda dengan switch/sakelar manual atau sakelar elektromagnetik dimana pada sakelar manual atau saklar elektromagnetik hanya mengenal dua keadaan yaitu ON dan OFF. Rangkuman Transistor selain digunakan sebagai penguat juga dapat digunakan sebagai switch yang disebut Switch Statis.

5. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 1a. Lembar Kerja 1. 3) Yakinkan sakelar (S) pada posisi OFF dan potensiometer pada tahanan maximum! Modul PTL OPS 005 (2) A 16 . 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja! c. 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 6) Kabel Penghubung ……………………………………………. 2) Transistor C 1060 ……………………………………………. Apakah keuntungan pengontrolan beban menggunakan transistor dibandingkan sakelar mekanik? f. 4) Tahanan 10KΩ/5W……………………………………………. Alat dan Bahan 1) Power Supplay 12V/ 3A ……………………………………. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan kompenen lain dengan baik! 2) Periksalah peralatan dan kompenen sebelum digunakan. 5) Motor DC 12V …………………………………………………. 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan pada saat membuat dan membongkar rangkaian pengawatan. secukupnya b. Pengaturan Putaran Motor Menggunakan Transistor a. 3) Potensiometer 100KΩ/1W ………………………………….

Apakah putaran motor dapat diatur? Jelaskan! 8) Dari hasil pengukurani langkah 2.Motor DC 10K + 12V S 100K TR Gambar 1a.4. Masukan pada tabel 1a. 9) Matikan sakelar (S). s/d 2.6. Lepaskan semua rangkaian! Kembalikan semua peralatan pada tempat semula! Modul PTL OPS 005 (2) A 17 . Pengaturan Putaran Motor menggunakan Transistor 4) Gerakkan sakelar (S) pada posisi ON! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan yang jatuh pada: a) Motor b) Emiter – Kolektor c) Emitter – Basis 5) Atur potensiometer pada tahanan ½ maximum! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Motor b) Emitter – Kolektor c) Emitter – Basis 6) Atur potensiometer pada tahanan minimum! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Motor b) Emitter – Kolektor c) Emitter – Basis 7) Dengan mengatur tahanan potensiometer.

Potensiometer Motor Maximum ½ Maximum Minimum Tegangan pada E-B E-K Keadaan Motor 2. 3) Transistor A 971 ………………………………………………. 5) Tahanan 1. 7) Motor DC 12V …………………………………………………..5KΩ ……………………………………………….. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. Membalik Arah Putaran Motor DC Menggunakan Transistor a. Alat dan Bahan 1) Transformator CT..Tabel 1a... 4) Tahanan 1KΩ ………………………………………….. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan pada saat membuat rangkaian pengawatan! 4) Ikuti langkah kerja! 1 Buah 4 Buah 2 Buah 1 Buah 2 Buah 2 Buah 1 Buah Modul PTL OPS 005 (2) A 18 ... b. 3A ………………………. 6) Kapasitor 470μF ……………………………………………….. 2) Dioda IN4002 …………………………………………………. 220V/12V..

3) Yakinkan sakelar SPDT pada posisi OFF! 4) Masukan sumber AC. sampai motor berhenti berputar! 7) Gerakan sakelar SPDT pada posisi 2! Amati arah putaran motor! Ukur tegangan pada: a) Emiter – Kolektor Transistor 1 b) Emiter – Kolektor Transistor 2 c) Motor 8) Gerakkan sakelar SPST pada posisi OFF.5K TR2 Motor DC Gambar 1b. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 1b.c. Membalik Putaran Motor DC Menggunakan Transistor 6) Gerakkan sakelar SPDT pada posisi OFF.! Apakah yang terjadi pada motor? 5) Gerakkan sakelar SPDT pada posisi 1! Amati arah putaran motor? Ukur tergangan pada: a) Emitter – Kolektor Transistor 1 b) Emitter – Kleoktor Transistor 2 c) Motor MCB D1 D2 470uF/ 50V 1K + 220V AC 220V 12V 12V CT D3 D4 470uF/ 50V 1 OFF 2 1. dan lepaskan sumber AC! 9) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb! Modul PTL OPS 005 (2) A 19 .5K TR1 + 1.

Potensiometer 1M/1W ……………………………………......... Tahanan 27 KΩ ……………………………………………… 1 Buah 4 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 2 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah Kolektor TR2 Arah putaran Motor Tegangan pada Motor 10) Tahanan 150 Ω ……………………………………………… 11) Tahanan 47 Ω………………………………………………… 12) Switch SPDT…………………………………………………. Potensiometer 100 KΩ ……………………………………..... 13) Motor Universal 220V/75W ……………………………… 14) Motor Shaded Pole 220V/25W ………………………… 15) Kabel Penghubung ………………………………………… secukupnya Modul PTL OPS 005 (2) A 20 . Alat dan Bahan 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Transformator 220V/12V. Dioda IN4002 ………………………………………………… Kapasitor 470μF/50V ……………………………………… Kapasitor 500 μF/50V …………………………………….. 3A ..... Pengontrolan Start pada dua buah Motor secara Berurutan a.......10) Dari data hasil pengukuran masukan pada table 1b... 11) Lepaskan semua rangkaian! Kembalikan alat pada tempat semula! Tabel 1b.... Transistor 2N404 …………………………………………… Relay 12VDC …………………………………………………. Tegangan pada Emitter Sakelar SPDT TR1 OFF POSISI 1 POSISI 2 3..

Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. siapkan sebuah AVO meter pada range 50VDC dimana jack positif dari AVO meter terhubung pada kaki kolektor dan jack negatif AVO meter pada negatif sumber tegangan (tegangan pada CR2). Pengontrolan Start Pada Dua Buah Motor Secara Berurutan Modul PTL OPS 005 (2) A 21 . 3) Yakinkan sakelar (S) pada posisi OFF. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan pada saat membuat rangkaian pengawatan! 4) Ikuti langkah kerja! c. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik.b. 1A S CR1 CR2 Trafo 12VAC 47 Bridge Diode P2 100K 500uF/50V P1 1M + 150 220V AC L1 L2 Motor Shaded Pole Motor Universal 470uF/ 50V + TR CR1 CR2 27K Gambar 1c. potensiometer 1 pada tahanan minimum dan potensiometer 2 pada tahanan ¼ maximum. 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 1c.

lakukan pengamatan pada gerakan jarum meter.4.4 7) Matikan sakelar (S). 6) Matikan sakelar (S)! Atur potensiometer 1 pada tahanan maximum dan potensiometer 2 pada tahanan minimum! Ulangi langkah 33 s/d 3. 9) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb.3 s/d 3. Tabel 1c.3 pada table 1e. dengan kapasitor 1100µF/50V! 8) Ulangi langkah 3. Potensiometer (1) Maximum Minimum Maximum Minimum Minimum Minimum Potensiometer (2) 14 Maximum s /d 3.6. dan lepaskan sumber tegangan gantilah kondensator 500µF/50V (C2). dan dengan menggunakan stop watch catat selisih waktu start dari motor shaded pole dengan motor universal! 5) Matikan sakelar (S)! Atur potensiometer 1 pada tahanan minimum dan potensiometer 2 pada tahanan maximum! Ulangi langkah 3.4) Gerakkan sakelar (S) pada posisi ON! Pada saat sakelar (S) ON. Masukan data hasil pengukuran Kapasitor 500F 500F 500F 1100F 1100F 1100F Penundaan Waktu Maximum Minimum Mzximum 14 Maximum Minimum Modul PTL OPS 005 (2) A 22 .

2HP... 220V……………………… Tangki air ……………………………………………………… Sekering.. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan. 2NC ……………………………………… Transistor 2N1008 ………………………………………… Sakelar Pelampung ……………………………………….. 1 Buah 1 Buah 1 Buah 3 Buah 1 Buah 1 Buah 2 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 3 Buah 1 Buah 1 Buah 4 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 10) Elektroda/ Level Kontrol ……………………………… 11) Lampu Indikator ………………………………………. 13) Dioda IN5402………………………………………………. b. 15) Tahanan 220Ω/1W ……………………………………….. 17) Sakelar SPST ………………………………………………. 200Ω/1W ……………………………. 10A ………………………………………………… MCB 1 Fasa. 4) Lakukan percobaan sesuai langkah kerja! Modul PTL OPS 005 (2) A 23 . 10A …………………………… Relay 12V.. Alat dan Bahan 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Tranformator 220V/12V. 14) Dioda IN4003 ……………………………………………. 2A ………………………………………… ….3A …………………………….4. pada saat membuat rangkaian pengawatan. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2NO. 16) Potensiometer.. Kontaktormagnit 220V. Pengontrolan Level Air Secara Otomatis a. 3A ……………………………………………. … 12) Over Load. Motor induksi 3 Fasa..

potensiometer pada posisi ½ maximum dan jarak kedua elektroda 10 Cm! 4) Gerakkan sakelar SPST pada posisi ON! Apakah yang terjadi pada motor pompa air (motor 3 fasa)? Ukur tegangan pada a) Transistor b) Relay 1 c) Relay 2 d) Kontaktormagnit 5) Masukan air ke dalam tangki sampai permukaan air menyentuh sakelar pelampung (batas minimum).c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 1d. Apakah yang terjadi pada motor pompa? Ukur tegangan pada: a) Transistor b) Relay 1 c) Relay 2 d) Kontaktormagnit Modul PTL OPS 005 (2) A 24 . tangki air dalam keadaan kosong. Apakah yang terjadi pada motor pompa? Ukur tegangan pada: a) Transistor b) Relay 1 c) Relay 2 d) Kontaktormagnit 6) Masukan kembali air ke dalam tangki sampai permukaan air menyentuh elektroda (batas maximum). 3) Yakinkan sakelar SPST pada posisi OFF. sehingga kontaknya terdorong ke atas.

Pengontrolan Level Air Secara Otomatis.MCB S 12V Bridge Diode Relay 1 CR1 D1 220V AC Hijau 220V/ 2W + - 2N1008 TR 200 NC CR1 R NO CR2 S T NO CR2 Batas Maximum Level Control Relay 2 CR2 Merah 220V/ 2W K Batas Mini mum Tangki Air OL 95 96 97 98 Kuning 220V/ 2W Motor 3 Fasa Gambar 1d. 7) Kosongkan air sampai permukaan air tidak menyentuh elektroda! Apakah yang terjadi pada motor pompa? Ukur tegangan pada: a) Transistor b) Relay 1 c) Relay 2 d) Kontaktor Modul PTL OPS 005 (2) A 25 .

Tabel 1d. KeadaanTangki Air Kosong Batas Minimum Batas Maximum Batas Minimum Tegangan pada Relay 1 Tegangan pada Relay 2 Tegangan pada Emiter-Kolektor Keadaan Motor 3Fasa Modul PTL OPS 005 (2) A 26 .4 s/d 3.8) Kosongkan air sampai permukaan air tidak menyentuh sakelar pelampung! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Transistor b) Relay 1 c) Relay 2 d) Kontaktormagnit 9) Data hasil pengukura dari langkah 3.7 masukan pada table 1d. 10) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb.

adanya Modul PTL OPS 005 (2) A 27 . Thyristor dibuat dari susunan bahan silicon dan sifat-sifatnya yang hampir mirip dengan silicon rectifier juga dengan dioda 4 lapis. Beberapa laboratorium elektronika berusah menemukan suatu jenis Solid State yang dapat dipergunakan untuk mengendalikan daya listrik sebagai pengganti tabung air raksa yang biasa dikenal dengan nama THYRATRON. 3. 4. Dioda. Mengidentifikasi komponen-komponen pada pengendali beban menggunakan SCR. Ternyata keinginan ini telah dicapai dengan ditemukannya apa yang disebut ”THYRISTOR” Nama telah diambil dari gabungan Thyaratron dan Transistor. dll. 2. 5. Uraian Materi 1. Memahami cara memberi peyulutan pada SCR. Menjelaskan cara kerja rangkaian pengedali menggunakan SCR 6. 7. UJT sebagai relaxation oscillator. Silicon Controlled Rectifier (SCR) dan Uni Junction Transistor (UJT) a. Memahami dasar kerja dan fungsi UJT. Keistimewaan dari Thyristor dibanding dengan silicon rectifier. Tujuan Kegiatan Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan belajar 2. UJT.KEGIATAN BELAJAR 2. Pada tahun 1957 Thyristor telah direproduksi dan telah dipasarkan pula. b. Menjelaskan susunan fisis dan prinsip kerja SCR. Mejelaskan cara kerja SCR sebagai switch. Susunan Fisis dan Prinsip Kerja SCR Pengembangan elektronika akhir-akhir ini maju dengan sangat pesat setelah ditemukan beberapa jenis rumpun Solid State diantaranya Transistor. peserte DikLat akan dapat: 1.

Sifat-Sifat SCR Gambar 1. A A G G K K Gambar 1. Bahkan dalam industriindustri sekarang ini SCR digunakan sebagai sarana pelengkap automat yang menggantikan alat-alat yang sangat peka. Gate ini merupakan tempat dimana Thyristor dikendalikan (controlled) karena itu Thyristor juga disebut “Silicon Controlled Rectifier” disingkat menjadi SCR.tambahan elektroda yang disebut Gate. 2) Apabila tegangan picu (meskipun hanya sesaat) diberikan pada gate. Symbol SCR 1) Dalam keadaan gate tidak diberikan picu (trigger).1b. Penggunaan yang nyata pada saat sekarang ini adalah untuk switching daya listrik yang besar yang dapat mengendalikan pengaturan beban putaran motor listrik. relay dan alat-alat alarm yang sangat peka. Hal ini dapat dipersamakan (antara anoda dan katoda) dengan switch dalam keadaan terbuka. maka SCR akan menghantar atau “ON”. SCR tidak menghantrakan arus. pengaturan alat pemanas listrik. Jadi. SCR akan bekerja sebagai silicon dioda biasa yang dapat menghantar arus Modul PTL OPS 005 (2) A 28 . Pada saat sekarang ini penggunaan arus listrik SCR sangat luas karena SCR dapat yang cukup besar dan dapat pula mengendalikan dipergunakan langsung untuk jaringan arus tukar (AC).1a. istilahnya dalam keadaan demikian ini “OFF” atau “Blocked”. Susunan Fisis SCR a. pengatur lampu penerangan.

kita tak mendapat kesulitan sebab setiap setengah periode positif akhir. Apabila sekarang SCR digunakan untuk keperluan arus tukar AC. 3) Sewaktu SCR telah “ON”. 5) Apabila SCR telag dalam keadaan ON. Dalam pemakain SCR dapat dipergunakan oleh pemakai/beban. SCR akan bekerja terus-menerus seperti halnya silicon rectifier biasa bahkan kita dapat melakukan pengendalian SCR dengan memberikan pulse positif pada gatenya.pada jurusan dari anoda ke katoda. kemudian secara mendadak tegangan positif pada gate kita putuskan. maka SCR tetap ON. sehingga antara gate dan katoda berimpedansi rendah pada rah forward (conduct).am pemakain tegangan (DC). Modul PTL OPS 005 (2) A 29 . Rangkaian untuk keperluan tersebut dapat mempergunakan DC maupun AC. Pengendalian tegangan gate dibutuhkan antara 1-2 volt saja dengan arus gate beberapa puluh miliampere. melainkan kita harus menurunkan besarnya arus anoda-katoda sampai batas dibawah nilai Ih “holding current” (nilai mendekati nol). tegangan arus AC akan menurun dan kemudian nol sahingga SCR secara otomtis OFF dengan sendirinya. akan tetapi ”blocked” pada jurusan yang sebaliknya. 4) Hubungan antara gate dan katoda pada SCR bersifat seperti dioda silicon. tegangan dan arus ini sudah cukup untuk membuat SCR yang berkemampuan menghantar arus sebesar beberapa puluh ampere (arus anoda-katoda). Jelasnya untuk membuat SCR dapat ON cukup dengan memberikan tegangan positif dalam waktu yang pendek karena da. cara untuk meng-OFF kan kembali tak dapat dilakukan melalui gate.

memperlihatkan sudut konduk dan sudut picu. Di dalam rangkaian kenverter AC. Sistim picu gate Sebagaimana telah dibahas sebelumnya. sehinggga dengan tegangan yang kecil komponen tsb dapat mengalirkan arus (konduk). dan gambar 1.3c. Rangkain Dasar Pengontrol dengan SCR dan Triac Modul PTL OPS 005 (2) A 30 .2e. memperlihatkan sudut konduk SCR 120o maka sudut picunya 60o dan bila sudut konduknya 45o. tetapi dengan mengatur melalui sinyal picu yang diberikan pada gate.3b. sudut picunya 135o.3a. SCR Load AC Pemicu Load AC Pemicu Triac Gambar 1.b. bahwa Thyristor merupakan kompenen break over. Thyristor merupakan komponen utama melalui pengontrolan lebar sudut konduk (conduction angle) atau sudut penundaan picu (firing delay angle). Rangkaian dasar SCR dan Triac beban dan sumber tegangan diperlihatkan pada gambar 1. Selanjutnya gambar 1. khususnya SCR dan triac adalah kompenen break over yang tinggi tegangan konduknya.

Sudut Konduk dan Sudut Penyalaan pada Rangkian SCR UTriac = 150o UTriac = 60o = 30o =120o Gambar 1. Sudut Konduk dan Sudut Penyalaan pada Rangkaian Triac Modul PTL OPS 005 (2) A 31 .3b.UAK 60o t UAK 135o t URL URL 120o 45o Gambar 1.2c.

Tahanan antara basis R BB dari batang silicon tipe N. Rangkian ekuivalen dari UJT yang sederhana dapat dilihat pada gambar 2. Makin besar IG makin rendah UBRF sehingga makin lebar sudut konduk atau maakin sempit sudut picunya.1a. pengatur ini dapat dilaksanakan dengan 2 sistem: a) Dengan mengatur besarnya arus picu (IG) yang diberikan pada gate.1c.Pengaturan sudut konduk/sudut picu dilakukan melalui pengaturan sinyal picu.1b. Di dalam praktek pada umumnya menggunakan cara ke-2 dan sinyal picunya menggunakan sinyal berbentuk pulsa atau tegangan tajam (spike voltage). Modul PTL OPS 005 (2) A 32 . hanya waktu pemberian picunya diatur. 2. merupakan dua buah resistor RB1 dan RB2. 2. makin awal datangnya sinyal picu makin lebar sudut konduknya dan sebaliknya makin tertunda sinyal picu maikn sempit sudut konduknya. Symbol dan Konsrtuksi dari UJT UJT disimbolkan pada sebagai gambar gambar 2. Ujung batang ini menjadi B1 dan B2 dengan nilai resistansi antara B1 dan B2 cukup besar kira-kira 10KΩ. UNI JUNCTION TRANSISTOR (UJT) a. Antara emitter ke persambungan (junction) basis tampak sebagai sebuah PN dioda. Kira-kira ditengah-tengah batang B1 dan B2 diberikan dope agak berat dari unsur golongan 3 sehingga terbentuk tipe P yang berfungsi sebagai emitter (E). Dalam hal ini besarnya IG agar UBRF ~ 0 volt langsung dipenuhi. dimana dan konsrtuksinya bahan diperlihatkan sebatang semikonduktor silicon di-dop ringan dengan unsur dari golongan 5 sehingga menjadi tipe N. b) Dengan mengatur waktu (saat) diberikannya sudut picu.

Konstruksi dari UJT Nilai tahanan RB1 akan berubah-ubah tergantung dari besarnya arus emitter yang mengalir. B2 B2 E E P N B1 B1 Gambar 2. Rangkaian Ekuivalen dari UJT Sejak terjadi penghantaran. RB1 merupakan fungsi dari arus emitter.1b.1c. variasi tahahan RB1 disebabkan oleh perubahan arus emitter dan dalam hal ini disebut sebagai “Conductivity Modulation”. Symbol dari UJT Gambar 2.Jika ada arus yang mengalir dari emitter ke basis 1 dan UJT akan “ON” dimana RB1 nilainya kan turun secara tajam.1a. B2 RB1 E + Up RB2 B1 Gambar 2. UBB Modul PTL OPS 005 (2) A 33 .

51 sampai 0.1d. = ไ UBB Modul PTL OPS 005 (2) A 34 . maka junction emitter ke basis adalah reverse bias dan pada keadaan ini arus emitter tidak mengalir kecuali arus bocornya saja. tegangan emitter ke basis 1 turun dan dapat dilihat pada gambar 2. junction emitter ke basis 1 adalah forward bias dan arus emitter akan mengalir. Jika tegangan bias U E lebih rendah dari U BB. Jika pemberian tegangan UE lebih besar daripada ไ UBB. Karakteristik konduktivitas emitter adalah sebagai berikut: Jika IE naik.Jika tidak terdapat aliran arus emitter IE tegangan UAB1 dari titik A ke B1 dapat ditulis sebagai berikut: RB1 UAB1 = UBB x = UBB x RB1 + RB2 RB1 RBB Dimana : UBB adalah tegangan antara basis RB1 adalah tahanan basis 1 RBB adalah tahanan antara basis.81. dan ไ adalah instrinsic standar off ratio UJT = RB1 RBB Harga ไ terletak antara 0.

1d. emitter ke basis adalah forward bias dan IE mengalir. Tegangan puncak UP memenuhi persamaan: UP = ไ UBB + UD dimana UD = ± 0. Daerah sebelah kanan dari UV disebut daerah saturasi.70 Dari persamaan tersebut tampak bahwa UP tergantung pada tegangan antara basis U BB dan pada tegangan forward yang melewati dioda emitter ke basis. emitter ke basis adalah reverese bias dan pada saat ini tidak ada arus emitter dan daerahnya disebut daerah cut-off. Karakteristik Konduktivitas Emitter Pada daerah sebelah kiri dari UP. Modul PTL OPS 005 (2) A 35 .1e. Pada daerah sebelah kanan dari UP.UP IP VALLEY UV IEO POINT Saturasi IV EMITTER CURRENT UEB1 Gambar 2. Stabilisasi UP dapat dicapai dengan cara memasang R2 seri pada base 2 seperti yang terlihat pada gambar 2.

RBB dan R2 merupakan pembagi tegangan.1e. S R2 + R3 A Us UB1 R1 UE + C1 B UB1 Gambar 2. memperlihatkan UJT yang dihubungkan sebagai Relaxion Oscilator dimana rangkaian ini dapat membangkitkan bentuk gelombang tegangan UB1 yang dapat digunakan sebagai pemicu gate sebuah SCR. Relaxation Oscilator UJT Prinsip kerja rangkaian ini adalah: Jika sakelar (S) ditutup maka sumber akan melayani rangkaian tersebut. UJT Sebagai Relaxation Oscilator Dalam gambar 2. CE mulai diisi secara eksopnensial lewat RE sehingga Modul PTL OPS 005 (2) A 36 . Stabilisasi UP dapat dicapai dengan cara memasang R2 seri pada Base 2 Dalam rangkaian ini R1.2a.2a. b.R2 + Us R1 Gambar 2. Dalam hal ini agar UJT dapat “ON” maka tegangan U E harus menyamai UP dan IE juga harus lebih besar daripada IP-nya.

Bentuk gelombang pada gambar diatas merupakan tegangan gigi gergaji (saw-tooth) dan dibangkitkan pada pengisian CE dan pulsa output UB1 dibangkitkan lewat R1. UB1 adalah pulsa yang digunakan untuk memicu SCR.UJT = 1 RE. dibawah ini memperlihatkan contoh penggunaan Relaxion Oscilator dalam rangkaian pengontrol SCR.CE Gambar 2b. Jika CE sudah diisi sehingga mencapai UP maka UJT akan “ON” tahanan RB1 akan turun dengan cepat.2. = RE.60 T = RE. FRO. Untuk R1 = 100Ω perioda dari oscillator T dapat diambil dengan rumus pendekatan: T= 1 1-ไ untuk ไ = ± 0.CE Jadi. Pulsa tajam dari arus IE mengalir dari emitter ke basis 1 dan merupakan arus pengosongan dari CE. Jika tegangan CE jatuh mendekati 2 volt maka UJT akan “OFF” dan periode ini akan berulang. Tegangan yang mengisi CE adalah tegangan UE yang digunakan emitter UJT.mencapai tegangan U1.CE ln 1 f Modul PTL OPS 005 (2) A 37 .RE dan pada karakteristik UJT-nya. Frekuensi dari Oscilator ini tergantung pada konstanta waktu CE.

dengan mengatur arus dapat mengatur daya pada beban juga dapat diatur dengan cara megatur sudut kerja dari SCR tsb. kapasior atau UJT. berpungsi sebagai pengontrol juga sebagai penyearah jika digunakan untuk mengontrol tegangan AC.R1 LOAD DC FULL W AVE P1 Z1 C1 + R2 B2 UJT B1 R3 SCR Gambar 2b. Penguturan sudut keja dari SCR dapat dilakukan dengan menggunakan tahanan. katoda dan gate. Modul PTL OPS 005 (2) A 38 . Rangkuman SCR disebut juga dioda empat lapis. Kaki gate pada SCR berfungsi sebagai pengatur arus yang akan mengalir dari anoda ke katoda.2. SCR mempunyai tiga kaki atau tiga elektroda yang diberi notasi anoda. Pengontrol SCR dengan UJT c.

Gambarkan symbol SCR lengkap dengan notasi kaki-kakinya? 4. Apakah singkatan dari SCR? 2. Apakah yang dimaksud dengan holding current? 7. Gambarkan simbol dari UJT? 10. Alat dan Bahan 1) SCR. Tugas 1. Mengoperasikan Motor Universal menggunakan SCR dengan tegangan AC a.d. Jelaskan! Keuntungan penyulutan menggunakan UJT pada SCR? f. Berikan dua buah SCR lengkap dengan spesifisinya? 2. Jelaskan! Bagaimana cara memberikan penyulutan pada kaki-kaki SCR? 8. Jelaskan! Kenapa SCR jika digunakan untuk mengontrol tegangan DC. Jelaskan! Bagaimana kerja SCR jika digunakan untuk mengontrol tegangan DC? 6. Lembar Kerja 1. Buat gambar rgkaian pengaturan cahaya lampu menggunakan dengan penyulutan UJT? e. Tes Formatif 1. Tuliskan dua fungsi dari SCR? 5. Terbuat dari apakah bahan SCR itu? 3. dengan sekali trigger SCR akan terus bekerja? 9. TIC101 D ………………………………………………… 2) Tahanan 10 KΩ ………………………………………………… 3) Potensiomeer 1KΩ/ 5W……………………………………… 4) Sakelar SPST 250 V/ 3A …………………………………… 5) Motor universal 220V ………………………………………… 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah SCR Modul PTL OPS 005 (2) A 39 .

kemudian masukan sumber AC. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat gambar ranngkaian seperti gambar 2a. pada saat membuat rangkaian pengawatan. 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja.6) MCB. Apakah yang terjadi pada motor! Amati putaran motor! Ukur tegangan pada: Modul PTL OPS 005 (2) A 40 . Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. c. 2A ………………………………………………………… 1 Buah 7) Kabel penghubung …………………………………………… secukupnya b. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan. MCB 33K 5.6K 33K A 1 2 S SCR 220V AC 1K B Motor Universal Gambar 2a. Mengoperasikan Motor Universal menggunakn SCR dengan Tegangan AC 3) Yakinkan sakelar (S) pada posisi OFF dan tahanan potensiometer pada tahanan maximum (posisi” B”)! 4) Gerakkan sakelar (S) pada posisi 1.

a) Anoda – Katoda ( VDC ) b) Motor ( VDC ) 5) Gerakkan sakelar (S) pada posisi OFF! Sampai motor berhenti berputar, kemudian gerakan sakelar (S) pada posisi 2!. Apakah yang terjadi pada motor, Amati putaran motor (bandingkan putaran motor tsb dengan putaran pada langkah 3.4) Jelaskan? Ukur tegangan pada: a) Anoda – Katoda (VAC) b) Motor (VAC). 6) Lepaskan sumber AC, juga pengawatan pada rangkaian! 7) Kembalikan alat-alat pada tempat semula! 8) Buat kesimpulan dari hasil percoban tsb. 2. Mengoperasikan Motor Universal menggunakan SCR dengan Tegangan DC Gelomgang Penuh a. Alat dan Bahan 1) SCR, TIC101 D ………………………………………………… 2) Dioda, IN5404 ………………………………………………… 3) Kapasitor 500V/250V ………………………………………… 4) Tahanan 10KΩ/5W …………………………………………… 5) Potensiometer 1KΩ/5W …………………………………… 6) Sakelar SPST, 250V/3A ……………………………………… 7) Motor universal 220V ………………………………………… 8) MCB 2A …………………………………………………………… 1 Buah 4 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah

9) Kabel penghubung …………………………………………… secukupnya b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan!

Modul PTL OPS 005 (2) A

41

3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan, pada saat membuat rangkaian pengawatan. 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja! c. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 2b.
2A
Motor Universal

220V AC

-

+
500uF/ 250V

100K

S

+

5.6K 33K 1K B

SCR

A

Gambar 2b. Mengoperasikan Motor Universal menggunakan SCR dengan tegangan DC Gelombang Penuh. 3) Yakinkan sakelar SPST pada posisi OFF dan tahanan

potensiometer pada tahanan maximum (posisi “B”)! 4) Masukan sumber 220V AC, Gerakan sakelar SPST pada posisi ON! Apakah yang terjadi pada motor! Amati putaran motor dan ukur tegangan pada: a) Anoda – Katoda. ( VDC) b) Motor. ( VDC ) 5) Gerakan sakelar SPST pada posisi OFF! Apakah yang terjadi pada motor? Jelaskan! Ukur tegangan pada: a) Anoda – Katoda ( VDC ). b) Motor. ( VDC ). 6) Lepaskan sumber AC 220V dan pengawatannya! Kembalikan semula peralatan pada tempat semula .

Modul PTL OPS 005 (2) A

42

7) Masukan data hasil percobaan pada table 2b. 8) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb! Tabel 2b. Posisi Sakelar SPST ON OF ON 3. Pengontrolan Permukaan Air Secara Otomatis a. Alat dan Bahan 1) Trafo step down 220V/12V, 1A …………………………. 2) Dioda IN4001 ………………………………………………… 3) Transistor BC 547 …………………………………………….. 4) SCR SS3288 …………………………………………………….. 5) Relay 12V DC ………………………………………………….. 6) Motor kapasitor 125W/220V` …………………………… 7) Fuse 2A …………………………………………………………… 8) Tahanan 1KΩ …………………………………………………… 9) Kapasitor 470µF/25V ………………………………………… 1 Buah 4 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah Tegangan Pada Anoda-Katoda Motor

Keadaan Motor

10) Plat sebagai elektroda ……………………………………… Secukupnya 11) Kabel penghubung …………………………………………… Secukupnya b. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan!

Modul PTL OPS 005 (2) A

43

4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja.! 4) Masukan sumber AC 220V. Modul PTL OPS 005 (2) A 44 . d) Relay.3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan. Pengontrolan Permukaan Air secara Otomatis 3) Yakinkan sakelar (S) pada posisi OFF dan tangki air dalam keadaan kosong. 2) Buat rangkaian seperti gambar 3c. Ukur tegangan pada: a) Transistor 1. pada saat membuat rangkaian pengawatan.! c. c) SCR. b) Transistor 2. 1K Q2 BC547 Fuse 2A S3 SCR Relay 12 V 220V AC S2 Water S1 25V Q1 BC547 Motor 47010u F F/ + D1 -D 4 IN4001 Trafo 220V/12V/1 A S 12V 220V Gambar 3c. Gerakan sakelar (S) pada posisi ON. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.! Apakah pada motor? Jelaskan! Dengan menggunakan AVO meter pada skala 50V DC.

c) SCR. b) Transistor 2. 8) Kosongkan air di dalam tangki sampai permukaan air tidak menyentuh elektroda 3! Apakah yang terjadi pada mtor? Jelaskan! 9) Lepaskan sumber AC dan pengawatan pada rangkaian. c) SCR. dan kembalikan alat-alat pada tempat semula! 10) Dari data hasil pengukuran masukan pada table 3h. 6) Masukan kembali air ke dalam tangki sampai permukaan air menyentuh elektroda 2! Jelaskan! Apakah motor berputar? Ukur tegangan pada: a) Transistor 1. d) Relay. d) Relay. 11) Buat kesimpulan dari percobaan tsb! Modul PTL OPS 005 (2) A 45 . b) Transistor 2.5) Masukan air ke dalam tangki sampai permukaan air menyentuh elektroda 1! Apakah motor berputar? Jelaskan! Ukur tegangan pada: a) Transistor 1. c) SCR. 7) Masukan kembali air ke dalam tangki sampai permukaan air menyentuh elektroda 3! Apakah yang terjadi pada motor? Jelaskan! Ukur tegangan pada: a) Transistor 1. b) Transistor 2. d) Relay.

. Secukupnya b.. 8) Potensiometer 250 KΩ/5W ………………………………. 10) Motor universal 220V ………………………………………. 4) Tahanan 100KΩ/5W ………………………………………….. Alat dan Bahan 1) SCR. 5) Tahanan 33KΩ/5W……………………………………………. pada saat membuat rangkaian pengawatan! Modul PTL OPS 005 (2) A 46 . 12) Fuse. 6) Tahanan 9. 1 Buah 4 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 13) Kabel penghubung …………………………………………. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. 9) Sakelar SPST.7 K ………………………………………………. GE – C30B ……………………………………………….. 250V/ …………………………………………. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan.. 2A ………………………………………………………. 3A ………………………………………………………… 3) Kapasitor 0. 11) Ampere meter 0 – 5A ……………………………………. Pengaturan Putaran Motor AC menggunakan SCR a.1K ………………………………………………. 7) Tahanan 2.Tabel 3c..1μF ………………………………………………. 2) Dioda... Keadaan Air Kosong Menyentuh elektroda 1 Menyentuh Elektroda 2 Menyentuh Elektroda 3 Tegangan Tegangan Tegangan Tegangan Keadaan Pd TR 1 Pd TR 2 Pd SCR Pd Relay Motor 4.

Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. 3) Yakinkan sakelar (s) pada posisi OFF dan tahanan potensiometer pada tahanan maximum (posisi “B”)! Motor 1 Fasa Kapasitor S A C Start Run 1 00K 9. 2) Buat gambar rangkaian percobaan seperti gambar 2d.7K 33K 0.1 K 220V AC - + SCR Triac A 250K B 2. pengaturan Putaran Motor AC menggunakan SCR 4) Masukkan sumber 220 AC dan gerakan sakelar (s) pada posisi ON! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: 1) Anoda – Katoda (VDC) 2) Motor (VAC) 3) Gate – Katoda (VDC) 4) Arus beban 5) Atur potensiometer pada ½ maximum! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Anoda – Katoda (VDC) Modul PTL OPS 005 (2) A 47 .4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja! c.1 uF Gambar 2d.

kembalikan alat-alat pada tempat semula.b) Motor ( VAC ) c) Gate – Katoda ( VDC ) d) Arus beban 6) Atur potensiometer pada tahanan minimum (posisi “A”)! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Anoda – Katoda (VDC) b) Motor (VAC) c) Gate – Katoda (VDC) d) Arus beban 7) Dari data hasil percobaan. masukan pada table 2d. 9) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb.! Tabel 2d. Posisi Potensiometer Minimum ½ Maximum Maximum Tegangan Pd A .K Tegangan Pd Motor Tegangan Pd G . 8) Lepaskan sumber 220V AC.K Arus Beban Keadaan Motor Modul PTL OPS 005 (2) A 48 .

Susunan fisis DIAC merupakan dua buah dioda 4 lapis yang digabung secara paralel terbalik. 7. DIAC adalah piranti elektronik yang termasuk jenis dari bi-directional thyristor disebut juga sebagai trigger dioda. dan juga dapat dianggap sebagai susunan dua buah lacth seperti terlihat pada gambar 1b. 8. 6. Modul PTL OPS 005 (2) A 49 . Diac. Menjelaskan fungsi Triac. dan QUADRAC. Memahami cara memberi peyulutan pada Triac. Mengidentifikasi komponen-komponen pada pengendali beban menggunakan Diac dan Triac. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Quadrac. 5.KEGIATAN BELAJAR 3. 2. Komponen-kompenen tersebut bekerja atas dasar prinsip kerja dioda 4 lapis dan SCR. Rangkaian ekuivalen dari DIAC dapat digambarkan seperti gambar 1a. Uraian Materi 1. TRIAC. Tujuan Kegiatan Pembelajaran Setelah mempelajari kegiatan belajar 3. Quadrac a. Diantaranya yang paling banyak digunakan adalah DIAC. peserta DikLat akan dapat: 1. b. Menjelaskan susunan fisis dan simbol Diac. Menjelaskan cara kerja rangkaian pengedali menggunakan Diac dan Triac. Mejelaskan fungsi dari Diac. 4. masih banyak kompenen-kompenen elektronika yang lainnya yang termasuk dalam keluarga Thyristor. Diac Kecuali SCR. Triac. Menjelaskan susunan fisi dan symbol Triac. 3.

Symbol Diac Modul PTL OPS 005 (2) A 50 . Untuk mengetahui prinsip kerja DIAC maka kita anggap DIAC tersebut diberi catu daya dengan polaritas seperti yang terlihat pada gambar 1.1c. Untuk membuka kembali latch tersebut adalah dengan cara mengurangi arus latch sehingga dibawah ini nilai holding currentnya (Ih). Bila tegangan yang diberikab pada DIAC menyamai atau melewati tegangan Break Over-nya maka lacth sebelah kiri akan menutup dan arus akan mengalir demikian jika sebaliknya. maka latch yang sebelah kanan akan menutup. DIAC tidak mempunyai polaritas atau dianggap sebagai homopolar atau juga non-polar sehingga dalam penggunaannya sangat mudah. Gambar 1a.1a. Symbol Diac adalah seperti terlihat pada gambar 1.T1 A K T1 K T2 A T2 Gambar 1b. T2 T1 Gambar 1.1c.

Pada umumnya rangkaian pengontrol dengan TRIAC lebih ekonomis dan menguntungkan untuk pengaturan daya arus bolak-balik. dimana QUADRAC Modul PTL OPS 005 (2) A 51 . 3. Rangkaian ekuivalen TRIAC sebagaimana terlihat pada gambar 1. TRIAC disimbolkan seperti terlihat pada gambar 1. maka daya AC pada beban dapat diatur besar kecilnya dan karena tegangan sumber AC tidak perlu disearahkan terlebih dahulu.2a. Simbol TRIAC Efek arus gate pada tegangan Braek Over sebuah TRIAC adalah sama seperti pada SCR.2. Sedangkan contoh dari QUADRAC sepertterlihat pada gambar 3b. QUADRAC QUADRAC adalah gabungan antara TRIAC dan DIAC yang dibuat dalam satu chip sehingga lebih efisien dalam penggunaannya.2b. Rangkaian Ekuivalen TRIAC Gambar 1. Dengan mengatur arus gate. Simbolnya digambarkan seperti terlihat pada gambar 3a. Triac Susunan fisis TRIAC merupakan gabungan dari dua buah SCR yang terpasang secara paralel terbalik.2b. TRIAC dapat ditrigger dengan menberikan arus gate positif atau negatif. T2 T2 Gate G T1 T1 Gambar 1. maka rangkainnya jauh lebih sederhana dibandingkan dengan SCR.2a.

Berikan 3 buah contoh DIAC lengkap dengan spesifikasinya? 2. Tes Formatif 1. untuk itu banyak digunakan untuk mengontrol tegangan arus bolak-balik. Apakah yang dimaksud dengan komponen bi-directional? Modul PTL OPS 005 (2) A 52 . Main Terminal 2 dan Gate. TRIAC merupakan TRIAC keluarga thyristor. Rangkuman DIAC merupakan piranti elektronik yang susunan fisisnya merupakan dioda empat lapis yang tersambung secara paralel terbalik. Gabungan dari Triac dengan Diac yang sudah kemas dalam satu chip disebut QUADRAC. d.Bagaimana cara mengatur daya pada beban yang dikontrol dengan TRIAC? 4. Tugas 1. Berikan 2 buah contoh TRIAC lengkap dengan spesifikasinya? 3. Gambarkan susunan fisis dan symbol TRIAC? 2. Apakah fungsi Triac? 3. Jelaskan. c.mempunyai tiga buah terminal yaitu Main terminal 1. Apakah fungsi dari DIAC? 5. Berikan 2 buah contoh QUADRAC lengkap dengan spesifikasinya? e. dikontrol menggunakan TRIAC dapat diatur dayanya dengan Beban yang cara mengatur arus gatenya. DIAC tergolong pada komponen bi-directional yang dapat mengalirkan dari dua arah yang berfungsi sebagai trigger(penyulut) pada TRIAC. yang berfungsi sebagai alat pengendali (pengontrol) yang mengalirkan arus dari dua arah.

jika digunakan untuk mengontrol tegangan A 7. Alat dan bahan 1) Triac Pic 123 …………………………………………………… 2) Potensiometer 50Ω/5W …………………………………… 3) Transformator 220V/6V. pada saat membuat rangkaian pengawatan. Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik. Apakah keuntungan beban yang kontrol menggunakan TRIAC jika dibandingkan dengan SCR? 8. Lembar Kerja 1. 1A ……………………………… 4) Motor 1 Fasa.2A ……………………………………… 6) LDR 10KΩ ………………………………………………………… 7) Lampu 12V/2W ………………………………………………… 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 8) Kabel penghubung …………………………………………… Secukupnya b. Apakah perbedaan antara TRIAC dengan SCR. Apakah yang disebut dengan QUADRAC? f. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan. Modul PTL OPS 005 (2) A 53 . 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja! c. Pengontrolan Putaran Motor Menggunakan Triac Dengan Sensor Cahaya a. Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 3a. 125W.6. 220V AC …………………………… 5) Sakelar SPST 250V.

Apakah yang terjadi pada putaran motor? 7) Lepaskan sumber AC 220V dan pengawatan pada rangkaian! 8) Kembalikan peralatan pada tempat semula! Modul PTL OPS 005 (2) A 54 . b) Motor. ukur tegangan: a) T1 – T2. Pengaturan Putaran Motor Menggunakan Triac Dengan Sensor Cahaya. b) Motor.Motor 1 Fasa Kapasi tor C Start Run 33K S S 1 2V 220V AC Triac LDR A 100K B 220V 33K P Gambar 3a. 4) Tutup permukaan LDR. b) Motor. 6) Dengan cara mendekatkan dan menjauhkan cahaya lampu pada permukaan LDR. Apakah yang terjadi pada motor! Ukur tegangan pada: a) T1 – T2. 5) Gerakan sakelar SPST pada posisi ON! Sinari permukaan LDR dengan lampu! Apakah yang terjadi pada motor. Masukan sumber AC 220V dan atur potensiometer sampai motor tidak berputar! Dengan menggunakan AVO meter.! Ukur tegangan pada: a) T1 – T2. 3) Yakinkan sakelar SPST pada posisi OFF.

............................................................................ Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja! Modul PTL OPS 005 (2) A 55 ............ Transistor 2N204 ...........3KΩ/5W ............................................. Dioda IN15401 ..................... Kapasitor 500μF/250V ................... Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! Matikan terlebih dahulu sumber tegangan.............................. pada saat membuat rangkaian pengawatan..................... 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah Dua Buah Motor Secara Berganian 10) Tahanan 68KΩ/5W ... Keselamatan Kerja 1) 2) 3) 4) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik...................................................................... Tahanan 4............................ 12) Motor Universal220V .............................9) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb! 2.. 11) Tahanan 47KΩ/5W ............. Pengontrolan (Interlocking) a......... 16) Kabel penghubung ................. 15) Sakelar SPST 250V/2A ................................................................. Secukupnya b................................ Transistor 2N235 ........................... 14) Fuse 2A .................... Tahanan 3.... Potensiometer 250KΩ/5W ....... 13) Motor Shaded Pole 220V ...................7KΩ/5W ................................................. Alat dan bahan 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Triac Q4004L3 . SCR S4003LS3 .....

d) Motor shaded pole. c) Motor universal (VDC).3K TR2 Motor Shaded Pole Triac Motor Universal Gambar 3b. b) SCR (VDC). c) Motor universal (VAC). d) Motor shaded pole.7K A 250K B 3. Pengontrolan dua buah motor secara bergantian 3) Yakinkan sakelar SPST pada posisi OFF dan atur potensiomete pada posisi di tengah – tengah! 4) Masukan sumber AC 220V! Apakah yang terjadi pada motor universal dan motor shaded pole! Ukur tegangan pada: a) Triac (VAC). (VAC) 5) Atur potensiometer pada posisi “A”! Motor manakah yang berputar! Ukur tegangan pada: a) Triac (VAC).S1 c. Modul PTL OPS 005 (2) A 56 . (VAC). Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 3b! Fuse 2A S 100K D1 68K + - C 47K 220V AC SCR TR1 4. b) SCR (VAC).

Apakah kedua motor dapat bekerja secara bersamaan? Apakah nama sistim pengontrolan tsb? 8) Lepaskan sumber AC 220V dan pengawatan pada rangkaian! 9) Kembalikan alat – alat pada tempat semula! 10) Dari data hasil percobaan masukan pada table 3b.6) Atur potensiometer pada posisi “B”! Motor manakah yang berputar! Ukur tegangan pada: a) Triac (VAC). c) Motor universal (VAC). 11) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb! Tabel 3b. Posisi Potensiometer Tegangan Pada SCR Tegangan Pada Triac Tegangan pada Motor Universal Tegangan pada Motor Shade Pole Keadaan Motor Di tengah – te ngah A B Modul PTL OPS 005 (2) A 57 . 7) Dengan mengatur potensiometer. b) SCR (VAC). d) Motor shaded pole (VAC).

................. 12) Tahanan 220Ω/W .... 8) Kapasitor 0........................... 13) Diada IN5501 ......3......... 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja! c.................................... 3) Sakelar DPDT 250V/3A ..... 7) Kapasior 500μF/50V .......................... 4) Relay 12V DC ...................................... 6) Diac GE – X13 ......................... Secukupnya b.................................. 10) Tahanan 10 KΩ ............ 1 Buah 4 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 1 Buah 15) Kabel Penghubung...... Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan! 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 3c.. 11) Tahanan 270 Ω/1W ........................ Pengereman Dinamik dan Pengontrolan Putaran Pada Motor Shaded Pole a................ 14) Motor Shaded Pole 220V ...................................... 9) Potensiometer 20KΩ/5W ...... 2) Dioda IN5401 ................... 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan................................ Alat dan Bahan 1) Transformator 1 phasa 220V/12V.. 1A ..................................... 5) Triac PIC123 ...................................... Keselamatan Kerja 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik................................................... Modul PTL OPS 005 (2) A 58 .......................................................... pada saat membuat rangkaian pengawatan.........................1μF .................................

4) Gerakan sakelar DPDT pada posisi “B”! Apakah yangterjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Triac. Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Triac.7K 20K 33K 0. c) Relay. b) Motor. b) Motor. 5) Atur potensiomeer pada posisi ½ maximum! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Triac.1 uF Motor Shaded Pole Gambar 3c. c) Relay. Modul PTL OPS 005 (2) A 59 . Pengereman Dinamik Dan Pengaturan Putaran Motor Shaded Pole.B Run Brake OFF 33K 1 2V CR 220 220 A 220V AC 220V P S 1 2V - + 500uF/50V + Triac Diac 2. 3) Yakinkan sakelar DPDT pada posisi OFF dan potensiometer pada posisi “B”! Masukan sumber 220V AC.

....... 4) UJT 2N2646 . Gerakan sakelar DPDT pada posisi OFF! Catat waktu yang diperlukan sampai putaran motor berhenti? 8) Pada saat sakelar DPDT posisi “B” dan putaran motor cepat.......................... 6) Atur potensiometer pada posisi “A”! Apakah yang terjadi pada motor? Ukur tegangan pada: a) Triac...................... 1 Buah......... c) Relay.............. Alat dan Bahan 1) Dioda 1N5060 ....... 7) Kapasitor 0................. 2) Triac Q4004L4 .. 2 Buah.............. Modul PTL OPS 005 (2) A 60 ........... 2 Buah...................... 1 Buah.........................b) Motor. b) Motor..........1μF ........ 1 Buah.. 6) Potensiometer 100K/1W ........................... Gerakan sakelar DPDT pada posisi “A” Catat waktu yang diperlukan sampai putaran motor berhenti! Apakah putaran motor berhenti lebih cepat...................................................... 3) SCR C106D ... c) Relay 7) Pada saat sakelar DPDT posisi “B”........ pada putaran motor cepat............ Pengontrolan Phase Gelombang Penuh Pada Motor Induksi...... lepaskan sumber 220V AC dan pengawatan pada rangkaian! 10) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb! 4.......... 1 Buah......................................... Jelaskan! 9) Gerakan sakelar DPDT pada posisi OFF.. 1 Buah..... 5) Zener Dioda Z4X16 ................ a.................................. 5 Buah.... 8) Tahanan 15K/5W . 1 Buah......... 9) Tahanan 470Ω.....

............... 12) Tahanan 22Ω ... 1) Pergunakan peralatan dan komponen lain dengan baik..14F Gambar 3d..... 11) Tahanan 10Ω .......... 1 Buah.................. 13) Tahanan 100Ω... 1 Buah......... 4) Lakukan pekerjaan sesuai langkah kerja! c......... 1 Buah................................10) Tahanan 47Ω . b..... pada saat membuat rangkaian pengawatan. Motor Induksi 15K D1 D2 15K D5 220V AC S IN5060 A B 100K 470 UJT SCR 10 22 100 D3 D4 24x16 0........... Langkah Kerja 1) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan...... Pengontrolan phase Gelombang Penuh pada Motor induksi.. 2) Periksalah peralatan dan komponen sebelum digunakan! 3) Matikan terlebih dahulu sumber tegangan........ Keselamatan Kerja 1 Buah.14F D6 Triac 47 0............ 3) Yakinkan sakelar (S) pada posisi OFF dan tahanan potensiometer pada tahanan maximum (posisi “B”)! Modul PTL OPS 005 (2) A 61 ...................................................... 2) Buat rangkaian percobaan seperti gambar 3d....

8) Atur potensiometer pada tahanan minimum (posisi “A”)! Ukur tegangan pada: a) Gate – Katoda.4) Masukan sumber AC dan gerakan sakelar (S) pada posisi ON! Apakah yang terjadi pada motor? Dengan menggunakan AVO meter pada skala 120V DC. 6) Atur potensiometer pada posisi ½ maximum. d) Motor. Ukur tegangan pada: a) Gate . b) Anoda – Katoda. Ukur bentuk gelombang pada a) Gate – Katoda. b) Anoda – Katoda.Katoda b) SCR ( Anoda – Katoda ). c) Triac ( T1 – T2 ).! Ukur tegangan pada a) Gate – Katoda. Ukur bentuk gelombang pada a) Gate – Katoda. c) T1 – T2. d) Motor. d) Motor. d) Motor. c) T1 – T2. c) T1 – T2. 5) Dengan menggunakan oscilooscope. Modul PTL OPS 005 (2) A 62 . 7) Dengan menggunakan oscilooscope. b) Anoda – Katoda. b) Anoda – Katoda.

c) T1 – T2. Ukur bentuk gelombang pada a) Gate – Katoda. 9) Dengan menggunakan oscilooscope. d) Motor. Lepaskan pengawatan pada rangkaian. c) T1 – T2. 10) Gerakan sakelar (S) pada posisi OFF dan lepaskan sumber tegangan AC 220V. 11) Buat kesimpulan dari hasil percobaan tsb! Modul PTL OPS 005 (2) A 63 . b) Anoda – Katoda. d) Motor.

Yang membedakan dari kedua jenis transistor. Transistor tidak akan mengalirkan arus dari emitter ke kolektor 3. Basis harus mendapatkan polaritas negatif. yaitu susunan bahannya. Kolektor harus mendapatkan polaritas lebih negatif 2.KUNCI JAWABAN TES FORMATIF A. 5. c. sehingga cara memberikan penyulutan pada kedua transistor tsb menjadi berbeda. Gambar dua buah transistor yang bekerja sebagai latching + Ucc TR1 TR2 Cara kerja dua buah transistor yang bekerja Sebagai laching adalah: Jika transistor 2 diberi trigger positif. b. Kegiatan Belajar 1 1. Cara memberi penyulutan pada transistor PNP adalah: a. Daya beban dapat diatur dari nol sampai maximal. Emiter harus mendapatkan polarias positif. berarti emiter transistor2 karena mendapatkan forward bias dan transistor2 mulai bekerja transistor 2 terhubung langsung dengan kolektor transistor 2 dengan basis transistor1 maka transist juga Akan bekerja yang akan memberikan penguatan pada transistor 2 4. Modul PTL OPS 005 (2) A 64 .

b. Sebagai switch/pengontrol. Dua fungsi SCR adalah: a. Sebagai penyearah/rectifier. Simbol UJT Modul PTL OPS 005 (2) A 65 .B. 9. 7. Kegiatan Belajar 2 1. 5. Gate harus mendapatkan polaritas positif. c. Cara memberikan penyulutan pada SCR yaitu: a. 2. Jika SCR digunakan untuk mengontrol tegangan DC. b. Holding current adalah arus genggam atau arus yang harus dipertahankan supaya SCR terus bekerja. SCR akan terus konduk dengan sekali trigger. Katoda harus mendapatkan polaritas negatif. SCR dengan sekali trigger akan terus kunduk/bekerja. Anoda harus mendapatkan polaritas positif. 3. 6. Simbol SCR A G K 4. dengan demikian ma ka. SCR terbuat dari bahan silicon. SCR singkatan dari Silicon Controlled Rectifier. 8. Tegangan DC merupakan tegangan yang tidak berubah-ubah dan besar tegangan tsb selalu sama di atas daerah holding current.

maka tegangan yang jatuh pada beban merupakan tegangan DC Modul PTL OPS 005 (2) A 66 . T2 T2 Gate G T1 T1 2. 4. Bi-directional artinya komponen yang dapat melalukan arus dari dua arah. Beban dipasang seri dengan terminal (TI) atau terminal (T2). DIAC merupakan piranti elektronik yang tidak mempunyai polaritas dan berfungsi sebagai penyulut pada gate TRIAC. SCR merupakan komponen elektronik yang dapat melalukan arus hanya satu arah saja. Kegiatan Belajar 3 1. Jika beban dikontrol oleh SCR. Gambar rangkaian pengaturan cahaya lampu R1 DC FULL WAVE P1 Z1 R2 UJT B2 B1 SCR + C1 R3 C. Daya pada beban dapat dikontrol dengan mengatur arus yang masuk gatenya. 5. hampir sama dengan sebuah dioda.10. Susunan fisis dan symbol Triac. 6. Fungsi TRIAC adalah sebagai pengontrol (pengendali). 3.

setengah gelombang. Modul PTL OPS 005 (2) A 67 . Beban yang dikontrol menggunakan Triac dayanya hampir tidak mengalami perubahan sedangkan jika menggunakan Scr daya pada beban akan berkurang. 7. 8. Sedangkan jika beban dikontrol menggunakan TRIAC. QUADRAC merupakan gabungan dari DIAC dan TRIAC yang sudah dikemas dalam satu chip. tegangan yang jatuh pada beban masih merupakan tegangan arus bolak-balik.

Tuliskan dua fungsi transistor? 2. Tuliskan persamaan tegangan kondisi saturasi pada transistor? 6. 2. Tuliskan 3 komponen yang tergolong pada keluarga thyristor? 7. hanya lampu hijau yang menyala. 220V/380V. Jika permukaan LDR ditutup maka motor induksi 3 fasa akan mati. Jelaskan kenapa SCR jika digunakan untuk mengontrol tegangan DC dengan sekali triger. yang dikontrol menggunakan TRIAC. 2HP. Jika LDR disinari maka motor 3 induksi 3 fasa akan bekerja. Buat gambar rangkaian pengaturan cahaya lampu mengunakan SCR? 10. Jelaskan bagaimana bekerjanya SCR yang dipicu menggunakan UJT? 9.∆/Y. TES TERTULIS Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat dan jelas! 1. SCR akan terus konduk? 8. III EVALUASI A. Apakah keuntungan pengontrolan beban menggunakan Triac dibandingkan dengan SCR? B. TES PRAKTEK Buat rangkaian pengontrolan motor induksi 3 fasa. Jelaskan apa yang disebut dengan laching? 5. Dalam keadaan stand by. 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan keadaan cut off pada transisor? 4. disulut oleh SCR dan UJT mengunakann sensor cahaya dengan urutan kerja sbb: 1.BAB. Modul PTL OPS 005 (2) A 68 . Jelaskan apa yang dimaksud dengan switch statis? 3.

Jika terjadi over load. hanya lampu merah yang menyala 5.4. Tentukan besarnya sikering dan over load sehingga motor akan aman jika terjadi gangguan. yaitu Sikering (MCB) dan over load. Dalam keadaan beroperasi. Modul PTL OPS 005 (2) A 69 . Rangkaian pengontrolan ini dilengkapi dengan dua pengaman. hanya lampu kuning yang menyala.

Tegangan DC adalah tegangan yang setiap saat harganya sama (DC murni). Switch statis adalah dimana switch tsb pada saat ON maupun OFF ada bagian yang bergerak dari alat tsb. Yang dimaksud dengan kondisi cut off pada transistor adalah dimana tran sistor tsb tidak dalam mengalirkan arus dari emiter ke kolektor atau jikadiumpamakan sakelar dimana sakelar tsb dalam keadaan membuka (off). 2. dari persamaan UCC = IC . b. adalah dua buah transistor yang dihubungkan sedemikian rupa yang jika salah satu transistor tsb diberi penyulutan maka akan terjadi aliran arus dari kedua transistor tsb.KUNCI JAWABAN Tes Tertulis 1. Merupakan alat/komponen yang berfungsi sebagai pengontrol (switch statis). Quadrac. b. Yang dimaksud dengan Laching disebut juga kancing. jika SCR di gunakan untuk mengontrol tegangan DC maka arus genggam tidak Modul PTL OPS 005 (2) A 70 . RL Karena : IC . c. Komponen-komponen Yang termasuk keluarga Thyristor adalah : a. 5. Persamaan tegangan pada trasistor dalam keadaan saturasi adalah : IC . RL = UCC. 7. SCR. 6. maka UCC – IC . Triac. 3. RL = UCC. RL + UCE UCE = UCC – IC . Dua fungsi transistor adalah: a. Merupakan alat yang berfungsi sebagai penguat. RL = 0 Dan UCE = 0. 4.

Rangkaian pengaturan cahaya lampu menggunakan SCR. 8. 9. Keuntungan pengontrolan beban menggunakan TRIAC dibandingkan SCR adalah tegangan/arus yang jatuh pada beban akan tetap berupa arus bolakbalik sedangkan jika menggunakan SCR maka tegangan yang jatuh pada beban akan menjadi DC ½ gelombang.(holding Current) harganya akan selalu di bawah harga arus/tegangan DC tsb (tegangan DC tidak mengalami harga nol). Untuk itu jika SCR digunakan untuk mengontrol tegangan DC dengan sekali triger maka SCR akan terus konduk. 10. Jika SCR dipicu menggunakan UJT. dengan demikian maka daya pada beban akan lebih besar. tegangan/arus yang dikeluarkan oleh UJT kemudian masuk pada gate SCR. Modul PTL OPS 005 (2) A 71 . Bentuk tegangan/arus yang masuk tsb berupa gigi gergaji sehingga sudut kerja SCR akan lebih kecil.

3 Skor Perolehan 4 Keterangan 5 I Perencanaan 1. Induk Program Keahlian : : : PEDOMAN PENILAIAN No. 3. Keselatan kerja. 2. 1 Nama Jenis Pekerjaan : Aspek Penilaian 2 Skor Maks. Hasil pengukuran. Kerapihan & tata letak komponen. Pengawatan rangkaian tenaga. Modul PTL OPS 005 (2) A 72 .1.1. 3. 1V Sikap Kerja.2.2.2.2. Rangkaian pengendali. Membaca gambar rangkaian Sub total 5 5 10 5 10 10 5 Sub total 30 15 15 5 5 Sub total 40 5 5 10 II Proses ( Sistematika & Cara Kerja ) 2. 3.Lembar Penilaian Tes Praktek Nama Peserta No. Persiapan alat dan bahan 1.1. Penempatan komponen /Alat 2. 111 Hasil Kerja. Pengawatan rangkaian kontrol. Penggunaan alat ukur. Rangkaian tenaga.4.4.1.3. Penggunaan alat.3. 3. 4. 4. 2.

Pengawatan rangkaian kontrol 10 2  Modul PTL OPS 005 (2) A 73 . Tidak dapat menjelaskan cara kerja rangkaian dengan benar 5 1  II Proses kerja ) (Sistematika & Cara Komponen ditempatkan pada tempat yang benar.VI Laporan 6. Kelengkapan bukti fisik Sub total Total 4 6 10 100 KRITERIA PENILAIAN No. I Aspek Penilaian Perencanaan 1. Membaca gambar rangkaian. Pengawatan rangkaian pengontrol.  Pengawatan rangkaian kontrol dibuat dengan benar.1.2. Persiapan alat dan bahan  Kriteria Penilaian Alat dan bahan disiapkan sesuai kebutuhan  Skor 5 1 Alat dan bahan disiapkan tidak sesuai kebutuhan. Penempatan komponen.1.2. 2.2.  5 1 Komponen ditempatkan pada tempat yang salah.  2.1.  Menjelaskan cara kerja rangkai an dengan benar. Sistimatika penyusunan laporan 6. 1.

3.4.  Cara benar. Cara salah.   Hasil pengukuran benar. Alat ukur digunakan dengan cara yang salah. kerja rangkaian tenaga 15 3  Cara kerja rangkaian tenaga salah 3.  Alat ukur digunakan dengan benar.3. Hasil pengukuran salah. 3.2. 5 1  3. kerja kerja rangkaian rangkaian kontrol kontrol 15 3  3. Hasil pengukuran. Penggunaan alat ukur. Kerapihan & tata letak komponen  Komponen ditata dengan rapih. 5 1 Modul PTL OPS 005 (2) A 74 .4. 5 1  III Hasil Kerja.salah. Rangkaian tenaga. 2.1. 2. Rangkaian pengontrol  Cara benar.   10 2 Pengawatan rangkaian tenaga dibuat salah. Komponen ditata tidak rapih. Pengawatan rangkaian tenaga Pengawatan rangkaian tenaga dibuat dengan benar.

2.4. Kelengkapan bukti fisik  Melampirkan bukti fisik hasil penyusunan Tidak melampirkan bukti fisik 6 2  Modul PTL OPS 005 (2) A 75 . Inisiatif   Memiliki inisiatif bekerja Kurang/tidak memiliki inisiatif kerja 3 1 5.1.2. Tanggung jawab  Membereskan kembali alat dan bahan yang dipergunakan Tidak membereskan alat dan bahan yang dipergunakan 2 1  5. Kemandirian   Bekerja tanpa banyak diperintah Bekerja dengan banyak diperintah 2 1 4 VI Laporan 6. Sistimatika penyusunan laporan   Laporan disusun sesuai sistimatika yang telah ditentukan Laporan disusun tanpa sistimatika 1 6. Ketelitian  Tidak banyak melakukan kesalahan kerja 3 1 Banyak melakukan kesalahan kerja  5.3.V Sikap/Etos Kerja 5.1.

Modul PTL OPS 005 (2) A 76 .BAB. maka hasil yang berupa nilai dari instruktur atau berupa porto folio dapat dijadikan sebagai bahan verifikasi bagi pihak industri atau asosiasi profesi. IV PENUTUP Setelah menyelesaikan modul ini. Kemudian selanjutnya hasil tersebut dapat dijadikan sebagai penentu standard pemenuhan kompetensi tertentu dan bila memenuhi syarat Anda berhak mendapatkan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh dunia industri atau asosiasi profesi. Dan apabila Anda dinyatakan memenuhi syarat kelulusan dari hasil evalusi dalam modul ini. Mintalah pada pengajar/instruktur untuk melakukan uji kompetensi dengan sistem penilaiannya dilakukan langsung dari pihak dunia industri atau asosiasi profesi yang berkompeten apabila Anda telah menyelesaikan suatu kompetensi tertentu. maka Anda berhak untuk melanjutkan ke topik/modul berikutnya. Atau apabila Anda telah menyelesaikan seluruh evaluasi dari setiap modul. maka Anda berhak untuk mengikuti tes praktik untuk menguji kompetensi yang telah dipelajari.

E. SCR MANUAL FIFTH EDITION. 4. INSTRUCTION MANUAL FOR INDUSTRIAL MOTOR CONTROL ELEKTRONIC AIDS. Hey. INC.K SIXSMITH. FARDO AND PATRICK. MA. 5. McKEE. FUNDAMENTALS OF ELECTRICAL CONTROL. BS.D. 6. B. TRANSISTOR– DIODA. PH. THYRISTOR & IC’S Modul PTL OPS 005 (2) A 77 . MC INTYRE. J.DAFTAR PUSTAKA 1. ELECTRICAL MOTOR CONTROL FUNDAMENTAL THIRD EDITION. Grafhan dan J. UP– TO – DATE WORRDS. INDUSTRIAL CONTROL SYSTEMS. ROBERT ROSENBERG. R. C. ELECTRICAL POWER SYSTEMS. ELMER S. SECOND EDITION. D. 2. ELECTRICAL MOTOR REPAIR. 7. TECH/ ECA ASIA–PACIFIC EDITION. 8. MORRIS TISCHLER. 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->