Perbandingan Drainase Endoskopi dan Drainase Operatif Pada Kasus Pankreatitis Kronis dengan Obstruksi Duktus Pankreatikus

Abstrak
Latar Belakang Pada pasien-pasien pankreatitis kronis dengan dilatasi duktus pankreatikus dianjurkan untuk dilakukan tindakan dekompresi duktus. Kami mengadakan uji acak untuk membandingkan intervensi drainase duktus pankreatikus secara endoskopi maupun operatif pada pasien-pasien tersebut. Metode Semua pasien pankreatitis kronis yang simtomatik dengan obstruksi duktus pankreatikus sebelah distal tanpa massa yang meradang dipilih dalam penelitian ini. Kami memilih secara acak pasien-pasien yang akan menjalani drainase duktus pankreatikus endoskopik transampula maupun pancreaticojejunostomy. Hasil Dari 39 pasien yang menjalani randomisasi : 19 orang menjalani prosedur endoskopi (16 diantaranya menjalani litotripsi) dan 20 menjalani

panceraticojenunostomy. Dari hasil follow up selama 24 bulan, pasien-pasien yang menjalani operasi memiliki score Izbicki lebih rendah (25 Vs 51; P<0,001) dan catatan kesehatan fisik yang lebih baik berdasarkan Kuisioner Medical Outcomes Study 36-Item Short-Form General Health Survey (P=0,003) dibandingkan pasien-pasien yang menjalani endoskopi. Di akhir follow up, penyembuhan nyeri secara total atau parsial diperoleh pada 32% pasien yang menjalani drainase endoskopik dan 75% yang menjalani drainase secara operatif (P=0,007). Angka komplikasi, lama perawatan di rumah sakit, dan perubahan fungsi pankreas sama pada kedua kelompok, namun pasien-pasien yang menerima

.intervensi endoskopik memerlukan prosedur yang lebih banyak dibandingkan pasien-pasien yang menerima intervensi operatif (P<0. Kesimpulan Drainase duktus pankreatikus secara operatif lebih efektif dibandingkan drainase duktus pankreatikus secara endoskopik pada pasien-pasien dengan obstruksi duktus pankeratikus yang disebabkan oleh pankreatitis kronis.001).

oleh karena itu dekompresi duktus dianjurkan untuk pasien-pasien dengan manifestasi nyeri yang nyata dan pelebaran duktus. Oleh karena itu. Drainase secara endoskopi dan operatif merupakan pilihan terapi. . nyeri merupakan gejala predominan. drainase endoskopi dilakukan dengan cara sphincteroctomy. angka morbiditas. Tindakan ini memiliki angka keberhasilan sebesar 30-100%. dilatasi striktur dan pembuangan batu.LATAR BELAKANG Pada pasien-pasien pankreatitis kronis. prosedurprosedur yang sudah dijalani dan perubahan fungsi pankreas. kami merekruit pasien rawat jalan dari klinik rumah sakit Hepato-Pancreatico-Billiary yang berfungsi sebagai pusat rujukan tersier. angka mortalitas. angka mortalitas sebesar 0-2% dan angka keberhasilan dalam penyembuhan nyeri jangka panjang sebesar 65-85%. METODE Pasien Setelah memperoleh persetujuan penelitian dari komite etik kedokteran Academic Medical Center (Amsterdam). kesehatan fisik dan mental. Persetujuan diperoleh dari semua pasien semua pasien sebelum pendaftaran (Tabel 1). lama perawatan di rumah sakit. Sementara itu. Semua pasien yang simtomatik secara rutin dievaluasi menggunakan magnetic resonance cholangiopancreatography dengan 1.5 tesla magnet (Siemens Vision) dan computed tomography berbasis kontras (scanner Phillip MX8000). Drainase operatif dilakukan melalui pancreaticojejunostomy longitudinal dengan angka komplikasi sebesar 6-30%. Obstruksi duktus pankreatikus diduga sebagai penyebab yang penting. kami mengadakan uji coba acak dengan membandingkan drainase endoskopi dan drainase operatif untuk mengetahui respon kedua prosedur tersebut terhadap lama penyembuhan nyeri.

dilatasi duktus >5 mm dari proximal penyempitan dan aliran bahan kontras di bagian distal yang tidak lengkap. Siemen) gelombang kejut sebesar 0. dijadwalkan pancreatogram endoskopi elektif setiap 3 bulan.5-French dan diganti dengan stent ukuran 10-French dalam waktu 6 minggu. Setelah sphincterectomy. kemudian dilakukan dilatasi striktur menggunakan kateter balon atau kateter Soehendra menurut hasil analisa endokopis. Stent biliary Amsterdam 10-French tanpa lubang samping kemudian di masukkan ke dalam. Jika obstruksi duktus utama belum dapat ditangani secara lengkap. gunakan kateter nasopancreatic 6-French dan lakukan irigasi dengan saline (1 liter per 24 jam) hingga putaran tatalaksana berikutnya. pasien dirujuk ke Erasme Hospital. dapat digunakan stent ukuran 7French atau 8. Brussel untuk dilakukan litotripsi.28-0. . Prosedur ini dilakukan pada pasien yang telah dianestesi dengan obat sedatif atau bisa juga sebelum dilakukan prosedur endoskopik pasien dianestesi terlebih dahulu dengan general anestesi menggunakan propofol. Apabila pengeluaran batu tidak lengkap. Keberadaan stenosis dapat diketahui jika pancreatogram memperlihatkan penyempitan duktus pankreatikus utama. Jika tidak memungkinkan. Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan litotripter (Lithostar. Batu Intraductal Jika satu atau lebih batu intraductal dengan diameter > 7mm teridentfikasit pada pencitraan. kemudian diberikan litotripsi gelombang kejut.54/mm2 yang difokuskan ke batu dengan sistem sinar-X ganda. Setelah dilakukan litotripsi. Setelah dilakukan pemasangan endoprothese. gunakan satu atau dua endoprosthese selama akhir prosedur endoskopi.Drainase Endoskopi Intervensi endoskopi dilakukan oleh ahli endoskopis yang berpengalaman yang telah melakukan lebih dari 1000 prosedur cholangiopancreatographic retrograde. fragmen-fragmen batu selanjutnya dikeluarkan dengan ballon atau Dormia basket menggunakan teknik rotasi-perfusi. Manajemen Endoskopi selama Follow-up Semua prosedur dilakukan di Amsterdam.

dan 24 bulan setelah operasi atau prosedur endoskopi pertama. dan penyakit penyerta yang berhubungan dengan ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas. Pengumpulan Data Baseline dan Data Follow-up Informasi didapatkan dari koordinator penelitian selama kunjungan awal dan ditetapkan waktu untuk pengambilan data tersebut. hasil kuisioner menggunakan SF-36 serta scoring Izbicki. dan endoskopi ultrasonografi. Selanjutnya dilakukan evaluasi standarisasi terhadap gejala. 3 bulan. intensitas nyeri.Apabila aliran bahan kontras berjalan sempurna ketika stent dilepas dan ballon ekstraksi dapat menyusuri sepanjang duktus pankeratikus. yaitu frekuensi nyeri. dimana sistem scoring ini menilai empat aspek. 6 bulan. Lithotripsy dengan diikuti drainase endoskopi dianggap sebagai intervensi tunggal. penggunaan analgetik. maka dilakukan dilatasi berulang dan insersi stent multiple secara serial. Anastomosis kemudian dievaluasi menggunakan magnetic resonance cholangiopancreatografi tiga bulan setelahnya dan dapat diulang jika terjadi rekurensi. Fungsi endokrin pankreas dievaluasi dengan mengukur kadar . Semua data termasuk prosedur yang telah dilakukan dikumpulkan di rumah sakit. Apabila pengambilan bagian caput memerlukan pembukaan lebih lanjut dari saluran ke arah ampula. Drainase Operatif Tindakan operatif dilakukan oleh ahli bedah hepatobiliar yang berpengalaman dalam waktu 4 minggu setelah randomisasi. penempatan tabung makan jejunum. dimana duktus pancratikus diinsisi sepanjang 2 cm dari ampula. tindakan endoskopi dapat diakhiri. Prosedur ini dapatdiklasifikasikan sebagai diagnostik atau terapeutik. Yang terakhir adalah validasi scoring Izbicki yang secara khusus dirancang untuk pankreatitis kronis. 18 bulan. Intervensi terapeutik mencakup semua prosedur bedah dan endoskopi (termasuk intervensi awal). Dilakukan pancreatojejunostomy menggunakan teknik Partington dan Rochelle. 12 bulan. Masingmasing aspek diberi skala 0-100 dengan score tertinggi dianggap mengalami nyeri derajat berat. Namun apabila terdapat striktur yang menetap. temuan laboratorium. dilakukan reseksi terbatas pada jaringan pankreas. yaitu 6 minggu.

Pasien dianggap mengalami insufisiensi endokrin jika mereka memerlukan terapi (baik . kualitas hidup pasien (kondisi fisik dan mental pasien). Ukuran Hasil Akhir (Outcome) Ukuran outcome primer dalam penelitian ini dinyatakan sebagai nyeri yang ditimbulkan oleh suatu tindakan (drainase endoskopi/drainase operatif) selama 2 tahun mengikuti follow up. jumlah prosedur yang dilakukan. kadar hemoglobin terglikasi. Tatalaksana Selama Follow-up Kepada pasien-pasien dengan gejala nyeri yang menetap atau berulang. Fungsi pankreas dinyatakan sebagai kadar rata-rata elastase fekal. Skore nyeri Izbicki yang tinggi mengindikasi nyeri derajat berat. Pengobatan dianggap gagal jika pasien yang sebelumnya diberikan intervensi drainase endsokopik kemudian meninggal setelah dilakukan drainase operatif. parsial relief atau no relief)). Sedangkan ukuran outcome sekunder dalam penelitian ini meliputi berkurangnya nyeri di akhir follow up (dinyatakan sebagai complete relief. angka mortalitas. Reduksi nyeri yang muncul pada akhir masa follow up diklasifikasikan menjadi : complete (jika score Izbicki ≤ 10) atau parsial (jika score Izbicki > 10). angka morbiditas. bedah dan radiologi. Sedangkan fungsi pankreas eksokrin dinilai dengan mengukur kadar elastase feses. dan perubahan-perubahan yang terjadi pada fungsi pankreas endokrin maupun eksokrin. Aspek lain seperti kesehatan fisik dan mental dinilai berdasarkan score yang didapatkan pada kuisioner SF-36. glukosa darah puasa dan hemoglobin terglikosilasi di awal dan akhir follow up. Apabila obstruksi duktus pankreatikus berulang terlihat pada pasien yang telah menyelesaikan pengobatan endoskopi. dilakukan pencitraan ulangan dan dievaluasi secara multidisiplin oleh tim gastroeneterologi. pemasangan stent perlu dilanjutkan.glukosa serum. lama perawatan di rumah sakit. diberi rentang 0-100. dan dengan mengumpulkan data tentang penggunaan obat. Untuk penilaiannya digunakan sistem skoring nyeri Izbicki.

Signifikansi statistik dinilai menggunakan Uji T-Student jika data kontinyue terdistribusi normal. Penggunaan enzim pankreas pada insufisiensi eksokrin tidak dianggap menunjukkan insufisiensi pankreas. dan sebaliknya. Perubahan fungsi pankreas (baik endokrin dan eksokrin) dievaluasi dengan membagi pasien menjadi empat kelompok. namun mengalami insufisiensi selama masa follow up).05. Oleh karena itu ukuran sampel di atur sedemikian rupa sehingga tiap-tiap kelompok terdiri dari 25 orang agar dapat dimungkinkan sistem drop-out. dikatakan insufisiensi eksokrin jika terjadi penurunan kadar elastase dibawah 200 µg per gram feses. Analisis Statistik Randomisasi dilakukan dengan cara mengelompokkan empat atau lima pasien secara otomatis tanpa stratifikasi. Sehingga dilakukan analisis kovarians untuk menyesuaikan score baseline. Nilai rata-rata score Izbicki dan SF-36 tiap-tiap orang dari masingmasing kelompok diperoleh selama masa follow up. kelompok 2 (tidak terjadi insufisiensi sebelum perlakuan. Kami menetapkan bahwa studi dengan 23 pasien per kelompok akan memiliki kekuatan 90% untuk mendeteksi perbedaan 1 SD dengan penggunaan kelompok dua-t-test pada tingkat signifikansi dua sisi sebesar 0. namun tidak mengalami insufisiensi selama masa follow up). yaitu kelompok 1 (terjadi insufisiensi pankreas sebelum perlakuan dan selama masa follow up). Perhitungan ukuran sampel didasarkan pada perbedaan antara nilai rata-rata nyeri Izbicki dari dua kelompok perlakuan selama masa follow up. menggunakan mean ± SD (jika data berdistribusi normal) dan median dengan rentang (jika data berdistribusi tidak normal). Data follow up yang miss tidak diikutsertakan pada saat randomisasi. kelompok 3 (terjadi insufisiensi sebelum perlakuan. karena enzim ini merupakan bagian dari manajemen nyeri.7 mmol/l (121 mg/dl) dan kadar hemoglobin terglikasi > 6%. Uji Chi-Square jika datanya .obat oral maupun insulin) untuk mengontrol kadar glukosa darah. dan kelompok 4 (tidak terjadi insufisiensi sebelum perlakuan dan selama masa follow up). terapi baru akan dimulai ketika glukosa darah puasa > 6. Dalam keadaan insufisiensi endokrin. Penyajian data dalam penelitian ini.

Karakteristik Pasien Sebelum Perlakuan Karakteristik klinis dan demografi kedua kelompok perlakuan adalah sama. namun hanya 39 pasien yang diikutsertakan dalam randomisasi (Gambar 1). dikerjakan pencitraan pankreas sebelum dilakukan tindakan darinase. Setelah analisis sementara terjadwal. tetapi pengobatan untuk rasa sakitnya dianggap gagal pada akhir masa follow up.001) pada kelompok perlakuan bedah. penelitian ini dihentikan lebih awal oleh komite keselamatan atas dasar perbedaan yang signifikan (P <0. Tidak ada aturan resmi untuk mengakhiri penelitian di muka publik. Data dari pasien ini tetap dimasukkan dalam analisis. lama perawatan di rumah sakit) dapat digunakan uji Wilcoxon. ahli bedah dan radiologi tidak diikutsertakan dalam penelitian ini. Team panitia yang terdiri dari ahli gastroenterologi. dan dapat disertakan koreksi dengan Uji Yate jika ada hubungan sebab-akibat (misal merokok) ataupun Uji exact Fisher jika datanya merupakan data kategori. tujuh pasien tidak menyelesaikan penelitian secara tuntas. Perkembangan hasil penelitian hanya dapat boleh diketahui oleh investigator utama dan akan dilaporkan ke anggota panitia setiap 6 bulan. . Kepada kedua kelompok ini. Untuk data kontinyue yang tidak terdistribusi normal (misal. selain 5 orang pasien dengan penyalahgunaan alkohol yang mendapat perlakuan operatif.merupakan data kategori (misal pain relief/nyeri). 6 sampai 24) untuk kedua kelompok. Masa follow up rata-rata adalah 24 bulan (kisaran. HASIL Pendaftaran dan Akhir Penelitian Total pasien yang tersaring pada periode Januari 2000-Oktober 2004 berjumlah 118 pasien. Satu pasien dikeluarkan dari follow up selama 6 bulan setelah dilakukan operasi. Pada saat terminasi.

Pemasangan stent sendiri dilakukan selama kurang lebih 27 minggu. Sedangkan pasien-pasien dengan dugaan mengalami perkembangan menjadi ulkus perforasi. 10 pasien hanya memerlukan satu kali litotripsi.Tatalaksana Endoskopi Sejumlah 19 pasien diberikan intervensi endoskopik (Tabel 3) dan rata-rata dari pasien ini menjalani 5 prosedur endoskopik (kisaran 1-11). semuanya diketahui memiliki striktur di duktus pankreatikus bagian distal dan 2 pasien dengan striktur di duktus Santorini. 1 dari 19 pasien meninggal akibat perforasi ulkus duodenum empat hari setelah litotripsi gelombang-kejut terakhir. dengan angka mortalitas sebesar 5 % pada kelompok yang diberi intervensi endoskopik. diameter rata-rata dari batu yang terbesar adalah 11 mm (kisaran 6-20). peran litotripsi sebagai faktor kausatif juga tidak dapat disingkirkan. sedangkan 6 pasien lainnya bisa memerlukan litotripsi berkali-kali. Pada 16 pasien (84%) yang diberikan intervensi endoskopi. Dilatasi dengan ballon dilakukan pada 15 pasien. Jika melihat jarak antara pemberian perlakuan dan kematian. Dari 18 pasien dengan obstruksi akibat batu. walaupun sebenarnya endoskopi . 11 dari 16 pasien diketahui memiliki batu multiple. Angka keberhasilan tatalaksana dengan endoskopi secara keseluruhan mencapai 53 %. Setelah dilakukan prosedur endoskopik terlihat bahwa obstruksi duktus pankreatikus yang diakibatkan dari kombinasi striktur dan batu terdapat pada 15 pasien (79%). ekstraksi batu secara lengkap menggunakan litotripsi terjadi pada 16 pasien (89%). 9 pasien diantaranya memerlukan insersi stent serial lebih dari satu kali dan pada 7 pasien didapatkan mengalami stenosis rekuren ketika stent dipasang selama masa follow up. obstruksi akibat batu terdapat pada 3 pasien (16%) dan obstruksi akibat striktur terdapat pada 1 pasien (5%). Sebanyak 4 pasien yang ditindaklanjuti dengan prosedur endoskopi dilakukan prosedur pembedahan. diterapi dengan obat-obatan antiinflamasi nonsteroid.

Selain dari pada itu. Sedangkan 3 orang lainnya memerlukan pemasangan stent setelah inisiasi endoskopi. diberikan terapi secara konservatif. didapatkan perbedaan rata-rata sebesar 24 (95% . Dan dari 4 pasien ini. dan sisanya dilakukan ekstraksi batu dengan prosedur Frey. 1 pasien memerlukan laparotomy ulangan akibat kebocoran anastomosis. 1 orang dilakukan prosedur Whipple karena mengalami peradangan peripankreas. sedangkan kelompok perlakuan operasi 25±15. Sebanyak 7 pasien (35%) yang diobservasi diketahui mengalami komplikasi. Pada kedua pasien ini kemudian diberikan transfusi darah. 11 dari 19 pasien (58%) mengalami komplikasi minor. 18 orang diantaranya dilakukan pancreatojejunostomy. 2 pasien diduga mengalami perdarahan dari daerah operasi. rata-rata skor nyeri Izbicki pada kelompok perlakuan endoskopi adalah 51±23. Tatalaksana Operatif Dari 20 pasien yang dipilih mendapatkan tindakan operatif. Setelah tindakan endoskopi. seperti yang ditunjukkan oleh Kolangiopankreatografi resonansi magnetik dilakukan 3 bulan setelah operasi dan selama episode nyeri. namun tidak ada keterangan yang dilaporkan. Insidensi pankreatitis terjadi pada 4 pasien dan salah satunya mengalami kolesistitis. Dari penelitian ini.merupakan tatalaksana yang sering dilakukan pada kasus-kasus stenosis persisten. hanya 1 orang yang mengalami pain relief setelah prosedur pembedahan. Setelah dilakukan penyesuaian nilai baseline. dimana 1 orang yang diberikan litotripsi gelombang-kejut mengalami perlukaan kulit yang menetap selama 4 bulan. 5 orang mengalami komplikasi yang berhubungan dengan pemasangan stent. Hasil Penelitian Outcome penelitian baik primer maupun sekunder tercantum dalam Tabel 3. didapatkan juga 1 pasien yang mengalami pneumonia dan 3 lainnya mengalami infeksi luka. Untuk semua pasien ini. Semua anastomosis dipatenkan selama masa follow up (tingkat keberhasilan teknis. 100%).

namun analisis menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (P=0. Kelebihan dari tindakan operasi ini adalah nyeri yang berkelanjutan dapat diatasi dengan cepat dan efektif. Pasien-pasien di kelompok perlakuan endoskopi lebih banyak yang mengalami sufisiensi fungsi eksokrin di ahir masa follow up.003).007). . Relevansi klinis dari temuan ini merupakan hal yang penting. Selain itu. dan prosedur yang dijalani lebih sedikit dibandingkan endoskopi. Skor follow up komponen kesehatan fisik dari kuesioner SF-36 terhadap pasien yang diintervensi endoskopi setelah dilakukan penyesuaian score baseline lebih rendah dibandingkan pasien yang diintervensi dengan pembedahan. nyeri yang timbul bersifat immediate (segera) dan konsisten selama masa follow up (Gambar 2). karena mencerminkan perbedaan antara yang tidak merasakan nyeri dengan yang merasakan sakit setiap harinya. Perbedaan rata-rata skor nyeri Izbicki antarkedua kelompok perlakuan setelah dilakukan penyesuaian terhadap perbedaan baseline adalah hampir 24 poin.001).confidence interval [CI]. Nyeri lengkap atau parsial pada akhir masa follow up terjadi pada 32% pasien dari kelompok endoskopi dan 75% pasien dari kelompok pembedahan (P = 0.001). dengan perbedaan rata-rata sebesar -8 (95% CI. pasienpasien yang mendapatkan intervensi bedah juga memiliki kondisi kesehatan fisik yang lebih baik. P <0. DISKUSI Penelitian ini menunjukkan bahwa drainase operatif lebih efektif dalam pengobatan pankreatitis kronis dengan obstruksi duktus pankreatikus dibandingkan drainase endoskopi. Analisis terhadap variabel lama perawatan rumah sakit pada kedua kelompok menunjukkan hasil yang tidak berbeda bermakna. Setelah prosedur drainase operatif. atau dengan kata lain antara yang tidak mengambil cuti kerja karena sakit dengan yang secara permanen tidak mampu bekerja. tetapi pasien yang diintervensi dengan endoskopi secara bermakna (signifikan) memerlukan prosedur yang lebih banyak dibandingkan pasien yang mendapat intervensi bedah (P <0. P = 0.05).

Kelebihan dari prosedur operasi adalah bahwa anastomosis longitudinal menjamin terjadinya drainase disepanjang duktus pankreatikus. nyeri dinilai melalui sistem penilaian tervalidasi yang dirancang khusus untuk pankreatitis kronis. sejumlah studi retrospektif telah mengevaluasi pengobatan endoskopi terhadap kasus pankreatitis dan semuanya melaporkan sebagian besar pasien mengalami reduksi nyeri. Pemasangan stent pada prosedur endoskopi mungkin memfasilitasi kondisi ini. Selama bertahun-tahun. tetapi ini masih harus dibuktikan. dan yang paling penting mereka gagal menggunakan ukuran yang valid untuk menilai nyeri. Selain itu. Eleftheriadis baru-baru ini melaporkan hasil analisis retrospektif terhadap pasien dengan pankreatitis kronis yang menjalani pengobatan endoskopi di pusat di mana populasi penelitian kami mendapatkan lithotripsi gelombang kejut. Dalam penelitian ini. Jadi. keberhasilan klinis sehubungan dengan nyeri didefinisikan secara ketat. selama prosedur endoskopi. penelitian ini memiliki kelemahan yang sama dalam desain: mereka tidak melakukan komparasi (perbandingan). Hal ini menyiratkan bahwa efek dari tindakan endoskopik mungkin terjadi hanya dalam hitungan bulan atau tahun. protokol pengobatan tidak didefinisikan dengan baik. karena tindakan ini telah terbukti memperburuk abnormalitas duktus pankreatikus. aliran keluar dari sisi lain mungkin terhambat oleh stent. Alhasil durasi rata-rata pemasangan stenting dalam penelitian tersebut (23 bulan) lebih lama dibandingkan penelitian kami (27 minggu). pembukaan kapsul pankreas selama drainase operatif bisa menurunkan tekanan interstisial. Namun demikian. Berkebalikan dengan penelitian sebelumnya. Namun. Perbedaan utama antara protokol penelitian ini dengan Eleftheriadis adalah bahwa penggantian stent di masa mendatang dilakukan dengan prinsip "on demand". stent akan dipasang ketika pasien memiliki indikasi untuk itu. Satu hipotesis yang dapat menjelaskan temuan ini yaitu Pertama. subjektivitas terhadap penilaian nyeri dan rancangan .Hasil pengamatan menunjukkan bahwa drainase operatif lebih efektif dalam mendekompresi duktus pankreatikus. Setelah prosedur endoskopi. rekurensi dari striktur dan pembentukan batu intraductal baru lebih sering terjadi. sebagaimana yang kami dapati dalam penelitian kohort terhadap pasien ini.

penelitian kohort kami memiliki fitur patologis yang kompleks. Untuk meminimalkan bias. operasi ini mungkin dilakukan secara laparoskopi. karena pengobatan untuk kondisi ini membutuhkan kombinasi drainase duktus dan reseksi terbatas bagian caput pankreas melalui prosedur Beger atau Frey. dimana sebagian besar subjek yang diambil dalam penelitian ini memiliki striktur dan batu secara bersamaan. Dengan berdasarkan hasil penelitian ini.penelitian unblinded mungkin memberikan hasil yang bias. kami menganggap drainase operatif merupakan pilihan pengobatan untuk kasus-kasus seperti ini. Hasil penelitian ini tidak dapat diekstrapolasikan (diramalkan) untuk semua pasien dengan obstruksi duktus pankreatikus akibat pankreatitis kronis. Sebaliknya. pengobatan dengan prosedur endoskopi mungkin masih menjadi alternatif yang berharga. Lebih lanjut lagi. dan hanya koordinator penelitian yang memiliki akses ke laporan klinis. pasien diminta menyelesaikan kuisioner secara pribadi. pancreaticojejunostomy dianggap sebagai prosedur yang relatif mudah dilakukan. Secara eksplisit kami mengeksklusi pasien dengan massa inflamasi. sehingga menjadikannya kurang invasif. Untuk menjalankan tindakan ini diperlukan prosedurprosedur yang jika ditangani oleh tangan yang tidak berpengalaman dapat memberikan hasil yang buruk. Sehubungan dengan kasus-kasus penyakit yang kurang ekstensif. . Di masa mendatang. dan studi mendatang diharapkan dapat menjawab pertanyaan ini. Fitur lain dari penelitian ini adalah pasien-pasien ditangani di pusat-pusat kesehatan oleh para ahli yang mahir dalam menjalankan prosedur endoskopi dan lithotripsi gelombang kejut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful