Pengaruh Aplikasi Pupuk NPK terhadap Kehilangan Karbon pada Lahan Gambut yang Didrainase

Maswar

14

Peneliti Badan Litbang Pertanian di Balai Penelitian Tanah, Bogor. Jl. Tentara Pelajar No. 12, Bogor 16114, email: maswar_bhr@yahoo.com

Abstrak. Pemupukan pada lahan gambut dapat mempengaruhi aktivitas biologi dalam tanah, termasuk aktivitas mikroorganisme perombak sehingga dapat mempercepat kehilangan karbon. Penelitian mengenai pengaruh aplikasi pupuk anorganik (NPK) terhadap kehilangan karbon gambut, telah dilaksanakan pada lahan gambut yang didrainase di Kabupaten Aceh Barat pada bulan November 2008 sampai dengan bulan Agustus 2009. Penelitian menggunakan plot berpasangan (dipupuk dan tanpa pemupukan), masing-masing plot berukuran 2,5 x 2,5 m, pada plot yang dipupuk diaplikasikan 3 kg pupuk NPK Mutiara per plot. Penelitian dilaksanakan pada berbagai jenis penggunaan lahan yaitu hutan, semak, kelapa sawit, dan karet. Kehilangan karbon dihitung berdasarkan perbedaan kadar abu pada lapisan permukaan lahan (0-5 cm) antara plot yang dipupuk dengan plot tanpa pemupukan setelah 8 bulan aplikasi pemupukan dilaksanakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar abu pada plot yang dipupuk (6,73%) nyata lebih tinggi dibandingkan plot yang tidak dipupuk (4,74%). Di sisi lain, hasil penelitian menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata nilai bulk density (BD) antara plot yang dipupuk (0,18 g.cm-3) dibandingkan dengan yang tidak dipupuk (0,17 g.cm-3). Berdasarkan data BD dan kadar abu diperoleh berat rata-rata abu yaitu 610 g.m-2 dan 395 g.m-2 masing-masing pada plot yang dipupuk dan tidak dipupuk secara berurutan. Kelebihan abu sebesar 215 g.m-2 pada plot yang dipupuk berasal dari terdekomposisinya material gambut sebanyak 4.615 g.m-2, ekivalen dengan hilangnya karbon sebanyak 2.401 g.C m-2 atau setara dengan 8.812 g.CO2 m-2. Hasil kajian mengindikasikan bahwa pemupukan pada lahan gambut nyata meningkatkan kadar abu, namun juga terlihat bahwa pemupukan lebih dominan berpengaruh terhadap kehilangan karbon daripada pengaruhnya terhadap pemadatan tanah. Kata kunci: Pupuk, gambut, karbon. Abstract. Peatlands fertilization may affect on biological activity of the soil, including the micro-organisms activity that can accelerate decomposition processes and increase carbon loss. The study effect of the inorganic fertilizers (NPK) application on peat carbon loss was conducted on drained peatlands in West Aceh District in November 2008 to August 2009. The paired plots (fertilized and without fertilization) test was construction on several land cover namely forests, shrubs, rubber and oil palm plantation, plots size 2.5 m x 2.5 m, and NPK Mutiara fertilizer application i,e 3 kg per plot. Carbon loss was calculated based on the differences in the ash content of the surface soil layer (0-5 cm) from fertilized plot and without fertilization plot, after 8 months fertilizer implemented. The results showed that the average ash content in the fertilized plots (6.73%) was

171

812 g CO2 emission per m2. memiliki luas lahan gambut ketiga terluas di dunia setelah Rusia dan Kanada. walaupun terjadi peningkatan kehilangan karbon gambut akibat penambahan pupuk N. Silva et al.17 g. pada sisi lain juga terjadi peningkatan biomasa dan atau produksi yang dapat mencapai 250% (Lai et al. 172 .C m-2.Maswar significantly higher than without fertilized plot (4. terutama dalam bentuk gas metan (CH 4) dan karbondioksida (CO2) ke atmosfer sehingga semakin meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK).615 g. These results indicate that fertilization on peatlands significantly increase ash content.016 mega ton. Excess 215 g. 2008. carbon. 2009).m-2 for fertilized plot and without fertilized plot respectively. or equivalent to 8. 2002. peat. The research also found that there was no significant difference of bulk density (BD) on fertilized plots (0. maka apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan kehilangan karbon yang banyak. The average weight of ash content is 610 g. Lebih lanjut Etik (2009) juga melaporkan bahwa penambahan dosis pupuk urea sampai dengan dosis 4 g. Zhang et al.100 g-1 gambut nyata meningkatkan fluks CO2 pada berbagai tingkat kematangan gambut.401 g. Hasil penelitian Aerts dan de Caluwe (1999) dan Saarnio dan Silvola (1999) menunjukkan bahwa aplikasi pupuk N pada lahan gambut memberikan pengaruh yang berbeda terhadap proses dekomposisi. these equivalent to the loss of carbon as much as 2. termasuk aktivitas mikroorganisme perombak sehingga dapat mempercepat kehilangan karbon. (2007) melaporkan bahwa peningkatan respirasi akibat penambahan pupuk N pada gambut dapat mencapai 140%.m 2 and 395 g. 2008). Mengingat cadangan karbon yang besar pada lahan gambut sedangkan ekosistemnya sangat rapuh. Joosten. atau setara dengan 75% dari seluruh karbon di atmosfer (Alex and Joosten. The study also found that fertilization is more dominant effect on the carbon loss compare its effect on the soil compaction. Keywords: Fertilizer. Pemupukan pada lahan gambut dapat mempengaruhi aktivitas biologi dalam tanah. dan berdasarkan data kondisi tahun 2008 gambut Indonesia menyimpan cadangan karbon juga peringkat tiga terbesar di dunia (setelah Kanada dan Rusia) yakni sekitar 54.m-2. diikuti oleh menurunnya kandungan bahan organik dan nilai nisbah C/N pada masing-masing tingkat kematangan gambut.74%). PENDAHULUAN Luas lahan gambut dunia hanya sekitar 3% dari luas permukaan bumi yaitu sekitar 400 juta hektar (Joosten and Clarke.18 g. Hooijer et al. 2006). Namun demikian.cm-3) compared to without fertilizer (0. Global Peatlands Initiative. namun menyimpan karbon yang sangat banyak yakni diperkirakan sebanyak 550 giga ton. 2002. Menurut Joosten (2009) khusus untuk Indonesia yang mewakili daerah gambut tropika. yakni lebih dari setengah dari luas gambut yang berada di daerah tropika.m-2 ashes content on the fertilized plots derived from peat decomposition as much as 4.cm-3). Hasil penelitian Etik (2009) menunjukkan bahwa peningkatan dosis pupuk urea yang ditambahkan pada gambut. 2002.

.5x2... sedangkan plot yang lain dibiarkan sesuai dengan kondisi alami saat plot dibuat (tidak dipupuk).... (1) Yang mana: Ghlg = Berat gambut hilang BAakr = Berat abu plot dipupuk BAppk = Berat abu pupuk BDawl = Bulk density plot tidak dipupuk BDakr = Bulk density plot dipupuk T = ketebalan tanah (sampel) 173 . Hal ini berdasarkan asumsi bahwa peningkatan kadar abu pada plot yang dipupuk berasal dari bahan organik gambut yang telah hilang akibat terdekomposisi dan abu dari material pupuk sehingga mengakumulasikan abu di permukaan lahan. yaitu membandingkan kehilangan karbon dalam kurun waktu tertentu yaitu bulan November 2008 sampai dengan bulan Agustus 2009 (selama±8 bulan) pada plot/petak berpasangan pada berbagai jenis penggunaan lahan yaitu hutan. Kehilangan gambut dihitung berdasarkan peningkatan/perbedaan kadar abu antara plot yang dipupuk dengan yang tidak dipupuk. perhitungan kehilangan karbon berdasarkan peningkatan kadar abu ini harus dikoreksi terlebih dahulu dengan kadar abu yang berasal dari pupuk. kebun karet di Desa Simpang dan kebun kelapa sawit di Desa Suakraya.5 m. Kabupaten Aceh Barat pada bulan November 2008 sampai dengan bulan Agustus 2009. Dalam hal ini. Estimasi kehilangan bahan organik gambut dihitung dengan rumus: Gh lg  ( BAakr  BAppk ) x( BDakr xT ) x( 1  1)  ((1  BAakr ) xBDakr xT ) BAawl .. Kecamatan Kaway XVI dan di Desa Suakraya.Pengaruh Aplikasi Pupuk NPK Terhadap Kehilangan Karbon BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di Desa Simpang.. Pengamatan yang dilakukan pada setiap plot adalah parameter/indikator yang diperlukan untuk mengidentifikasi adanya terjadi perubahan cadangan karbon yang meliputi bulk density (BD) dan kadar abu..... Ukuran masing-masing plot adalah 2. Pemupukan dilakukan pada bulan November 2008. Semua parameter yang dianalisis ini dilaksanakan pengamatan dan pengambilan sampel tanahnya setelah periode waktu 8 bulan setelah pemupukan (bulan Agustus 2009). semak belukar. Plot yang diperlakukan. Kecamatan Johan Pahlawan. Penelitian ini merupakan pengamatan di lapangan.. diberi pupuk NPK Mutiara dengan dosis 3 kg per plot dan diaduk secara merata pada permukaan tanah (lapisan 0-10 cm).. salah satu plot diperlakukan dengan pupuk NPK Mutiara. Pada masingmasing lokasi penggunaan lahan dibuat dua buah plot yang berdampingan..

..63 3......... Nilai kadar abu pada plot yang diberi pupuk telah dikoreksi dengan kadar abu pupuk NPK Mutiara yaitu sebesar 23... kadar abu (kadar mineral) lahan gambut meningkat setelah dilakukan pemupukan.....73 a 4..17 0......67 ...23 6.18 0.15 0.91 4......68 3.... (2) yang mana: CO2 = Jumlah gas CO2 hasil dekomposisi gambut.....13 0. Dari data Tabel 1 dapat dihitung total berat fraksi abu (mineral) pada plot yang dipupuk dan tanpa dipupuk pada 174 ............... Peningkatan ini berasal dari hilangnya bahan gambut akibat dekomposisi. C = Berat atau jumlah karbon yang hilang selama proses dekomposisi...18 a 0..724 Untuk memprediksi besarnya emisi gas CO2 yang terbentuk atau teremisi akibat hilangnya karbon karena proses dekomposisi gambut digunakan rumus: CO2 = C x 3.. Untuk itu.74 b 0. di sisi lain terlihat tidak ada perbedaan nilai bulk density (BD) antara plot yang dipupuk dibandingkan dengan yang tidak dipupuk (Tabel 1)..06 0..14 Karet 8.. 3..17 Kelapa sawit II 6..cm-3) Penggunaan lahan Tanpa Tanpa Dipupuk Dipupuk Dipupuk Dipupuk Hutan 5.. Tabel 1.Maswar Untuk mengonversi total bahan organik gambut yang hilang menjadi total karbon yang hilang dilakukan dengan cara membagi total bahan organik gambut yang hilang dengan konstanta yaitu 1..27 6...22 6...22 0..12 Semak 7. Data perbandingan BD dan kadar abu antara plot yang dipupuk dengan tanpa dipupuk disajikan pada (Tabel 1)...67 = konstanta untuk megkonversi karbon menjadi bentuk CO2 (berdasarkan berat atom CO2=40 dibagi berat atom C=12) HASIL DAN PEMBAHASAN Secara teori... sehingga terjadi penambahan mineral pada gambut.......77 0....13 0.14 Kelapa sawit I 5.....17 a Angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada nilai rata-rata BD dan kadar abu tidak berbeda nyata menurut hasil uji T.. data yang diperlukan untuk menghitung karbon yang hilang akibat pemupukan pada lahan gambut adalah nilai bulk density (BD) dan kadar abu masing-masing plot kajian. hal ini menunjukkan bahwa pemupukan nyata meningkatkan kadar abu..57 0.....17% Lokasi Simpang Simpang Simpang Suakraya Suakraya Rata-rata Keterangan: Catatan: Terlihat bahwa kadar abu pada plot yang dipupuk nyata lebih tinggi dibandingkan plot yang tidak dipupuk.19 0..... Rata-rata nilai BD dan kadar abu pada plot yang diberi pupuk dan tanpa pupuk 8 bulan setelah pempukan Kadar abu (%) BD (g.

Interpretasi dari hasil kajian ini adalah pemupukan pada lahan gambut lebih dominan berpengaruh terhadap kehilangan karbon daripada pengaruhnya terhadap pemadatan tanah (karena tidak terjadi peningkatan BD yang signifikan).cm-3) 5 0. BD dan berat abu antara plot dipupuk dengan tanpa dipupuk Variabel N Std.003*** Nilai Std.998 0. sedangkan rata-rata nilai berat abu (pada luasan 1 m2 dan ketebalan 5 cm) pada plot yang tidak dipupuk adalah 230. Lebih tingginya kadar abu pada plot yang dipupuk dibandingkan tanpa dipupuk. Hal ini terjadi karena pemupukan pada lahan gambut dapat mempengaruhi 175 .Pengaruh Aplikasi Pupuk NPK Terhadap Kehilangan Karbon lapisan permukaan tanah ketebalan 0-5 cm.m-2 masing-masing secara berurutan pada plot di lokasi hutan di Desa Simpang. BD. 270.6 g mineral yang berasal dari hilangnya 47 kg bahan organik gambut per m2 pada periode waktu 30 tahun.m-2 pada ketebalan tanah 0-5 cm) menunjukkan bahwa: a) persentase abu pada plot yang dipupuk nyata lebih tinggi dibandingkan dengan plot tanpa dipupuk.000 cm3).04 Berat abu (g.001*** 0. Tabel 2.568 6. ns = tidak nyata Setelah periode waktu 8 bulan pemberian pupuk pada lahan gambut. kelapa sawit I di Desa Suakraya. Kadar abu pada plot yang dipupuk nyata lebih tinggi dibandingkan plot tanpa pupuk.0015 Ketarangan: *** = nyata pada taraf 1%. dan c) rata-rata total berat abu pada plot yang dipupuk nyata lebih tinggi daripada plot yang tidak dipupuk (Tabel 2).0043 0. dan total berat abu (g.246 0. Hasil kajian ini sejalan dengan yang ditemukan Gronlund et al.cm-3) 5 0. 430. data ini membenarkan asumsi bahwa pemupukan meningkatkan mineralisasi gambut. dan 620 g. semak di Desa Simpang.cm-3). (2008) yaitu pemupukan pada lahan gambut meningkatkan rata-rata 9. dan 765 g m-2 masing-masing secara berturut-turut pada plot di lokasi hutan di Desa Simpang. karet di Desa Simpang. Error 0. 480. Hasil uji T-test berpasangan terhadap nilai persentase abu.600ns 0. dan kelapa sawit I di Desa Suakraya.01 0.55 BD (g. Hasil perhitungan rata-rata berat abu (pada luasan 1 m2 dan ketebalan 5 cm) pada plot yang dipupuk adalah 370.0007 T 8. namun demikian belum nyata meningkatkan BD gambut. semak di Desa Simpang. dan berat abu pada luasan 1 m 2 dan ketebalan 5 cm disajikan pada (Tabel 2). b) tidak ada perbedaan nilai BD antara plot yang dipupuk dengan tanpa dipupuk. kelebihan ini berasal dari bahan mineral yang tersisa setelah bahan organik gambut hilang akibat proses mineralisasi atau terdekomposisi. dan kelapa sawit I di Desa Suakraya. Hal ini menunjukkan bahwa setelah 8 bulan pemupukan terhadap lahan gambut nyata meningkatkan persentase abu dan total berat abu gambut. 690. 745. Hasil uji Ttest nilai rata-rata persentase abu (mineral). hasil uji T-test berpasangan terhadap nilai kadar abu (% abu). 425.259 Prob>|T| 0. tengah Deviasi Abu (%) 5 1. BD (g. yaitu dengan cara persentase abu x BD x volume tanah pada luasan 1 m2 dan ketebalan 5 cm (yaitu 50. karet di Desa Simpang.018 0. kelapa sawit I di Desa Suakraya.119 0.

karet di Desa 176 . Hasil penelitian Gronlund et al. 2. 2. Hasil prediksi menemukan bahwa material gambut yang hilang akibat pemupukan lahan gambut selama periode waktu 8 bulan adalah 3172. semak di Desa Simpang. Untuk mengonversi nilai/berat gambut yang hilang menjadi berat karbon yang hilang dapat dihitung dengan cara mengalikan nilai berat gambut yang hilang tersebut dengan persentase karbon (% Corganik) pada masing-masing gambut tersebut. 4241.51. Berkaitan dengan hal ini.65. Dari data Tabel 1 juga dapat diperkirakan besarnya kehilangan bahan gambut. dan 6666. 5280. menurut Zhang et al.9243 (yaitu konstanta yang diperoleh pada hasil evaluasi metode penentuan kadar C gambut pada kajian ini).15. kelapa sawit II di Desa Suak Puntong.53. dan 49. 3713. 260.27 kg C. (2008) pada proses subsidence terjadi kehilangan karbon 62% dan pemadatan 38% pada lahan gambut yang diolah di West Norway.53. 145. dan 320 g m-2 (ketebalan 5 cm lapisan permukaan tanah) masing-masing pada plot di penggunaan lahan hutan di Desa Simpang. semak di Desa Simpang. termasuk aktivitas mikroorganisme perombak sehingga dapat mempercepat kehilangan karbon.01. Rata-rata perbedaan nilai berat abu (penambahan berat abu) pada plot yang dipupuk dibandingkan plot tanpa dipupuk adalah 140.87.15. berdasarkan peningkatan berat abu (mineral) dapat diprediksi dengan cara membagi nilai penambahan berat abu dengan nilai persentase abu pada plot yang tidak dipupuk. hutan di Desa Simpang.05 ton C ha-1 th-1 masing-masing pada lokasi kajian kelapa sawit II di Desa Suakraya.m-2 atau setara dengan 22. sehingga terjadi penambahan kadar abu pada plot yang dipupuk. Sebagaimana diketahui bahwa kadar abu atau mineral pada lahan gambut berasal dari mineral yang tersisa dari hasil pelapukan bahan organik gambut sehingga mineral menjadi lebih terkonsentrasi di sekitar gambut yang dipupuk. dan 3. Pada kajian ini nilai % Corganik diperoleh dengan cara membagi persentase bahan organik (% BO) dengan nilai atau faktor konversi 1. kelapa sawit I di Desa Suakraya.95. 27. 37.67 g m-2 masing-masing secara berurutan pada penggunaan lahan kelapa sawit II di Desa Suakraya.53. Total bahan gambut yang hilang akibat pemupukan. karet di Desa Simpang dan kelapa sawit II di Desa Suakraya. akibatnya lebih banyak gambut yang hilang atau terdekomposisi dibandingkan yang terkonsolidasi atau pemadatan. Adanya perbedaan berat fraksi abu antara plot yang dipupuk dengan tanpa dipupuk menunjukkan bahwa pemupukan telah meningkatkan dekomposisi dan/atau kehilangan bahan gambut. (2007) pemupukan khususnya nitrogen meningkatkan respirasi 140% pada marsh di Cina. sedangkan nilai pesentase bahan organik diperoleh dengan mengurangi nilai 100% (total % berat gambut) dengan persentase abu (% abu). 30. hutan di Desa Simpang.81. semak di Desa Simpang dan karet di Desa Simpang secara berurutan. 1. Hasil prediksi menemukan bahwa besarnya karbon yang hilang selama periode waktu 8 bulan setelah pemupukan (November 2008-Agustus 2009) secara berturut-turut adalah 1. 210.Maswar aktivitas biologi dalam tanah.44.

Wösten H.05 ton C ha-1 th-1 pada pemupukan berbanding 0. Aplikasi pupuk NPK pada lahan gambut yang telah didrainase nyata meningkatkan kehilangan karbon dari gambut. Assessment of CO2 Emission from drained peatlands in SE Asia. 81:157-167. A..95-49.R.H. Jadi. Factbook for UNFCCC policies on peat carbon emission. 1999. Nitrogen deposition effects on carbon dioxide and methane emission temperate peatlands soils. 2. Emisi karbondioksida (CO2) dan metan (CH4) pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut yang memiliki keragaman dalam ketebalan gambut dan umur tanaman.. Silvius M. Page S.2. Institut Pertanian Bogor. semak di Desa Simpang.65-13. Kehilangan karbon gambut akibat pemupukan dapat diestimasi dari peningkatan konsentrasi abu pada lapisan permukaan lahan yang diberi pupuk dibandingkan dengan lahan yang tidak dipupuk. World Peatland Map. Disertasi S3. Oikos. 84 (1): 44-54. Alex. maka diperoleh nilai sebesar 84. DAFTAR PUSTAKA Aerts. Hooijer. Global Peatland Initiative. dan 180. 177 . Gronlund. dan kelapa sawit I di Desa Suakraya. 99.Pengaruh Aplikasi Pupuk NPK Terhadap Kehilangan Karbon Simpang.. 2002.11 ton C ha-1 th-1 pada kondisi tidak dipupuk) KESIMPULAN 1.18. Wetland International and Delft Hydraulics Report Q3943. PEAT CO2. and Joosten H. karet di Desa Simpang. 110.. masing-masing pada lokasi lahan kelapa sawit II di Desa Suakraya. Atle H.. 138. hutan di Desa Simpang. dan kelapa sawit I di Desa Suakraya. 3. Apabila nilai kehilangan karbon ini dikonversi menjadi CO2 yang diemisikan.64. R. 158 hal.65. terlihat jelas bahwa pemupukan menyebabkan kehilangan karbon dan emisi CO2 pada lahan gambut yang didrainase jauh lebih besar dibandingkan kehilangan karbon akibat terdekomposisi karena kondisi aerob saja (22. 2008. K. 2006. Carbon loss estimates from cultivated peat soils in Norway: a comparison of three methods. 2008. Etik. and Daniel P. Global peatland assessment.01 ton CO2 ha-1 th-1.. and Caluwe H. P. Sekolah Pascasarjana. A. 2009. Anders H. Program Studi Ilmu Tanah. Nutr Cycl Agroecosyst. Pengaruh pemupukan lahan gambut lebih dominan menyebabkan kehilangan karbon dibandingkan pengaruh/kontribusinya terhadap pemadatan.

2007. 2002. Joosten. www. 304pp. 40: 1813-1822. 35p. Production of carbon dioxide and nitrous oxide in alkaline saline soil of Texcoco at different water content amanded with urea: A laboratory study. Cebbalos J.wetlands.C. Effect of increased CO 2 and N on CH4 efflux from a boreal mire: a growth chamber experiment.M. Guido M.. 1999.Maswar Joosten. 2008. Silva. Environ Geol. Oecologia. Soil Biol & Biochem.. 2002. CH 4 and N2O emissions to the atmosphere from the freshwater marshes in Northeast China. 2009. Plant Cell Environ. and Dendooven L. 178 . C. Effects of nitrogen on the ecosystem respiration. Saarnio. S. 52: 529-539. and Silvola J. 119: 349-356. H.. Modeling the limits on the response of net carbon exchange to fertilization in a southeastern pine forest. 25: 1095-1119. Lai et al.L. Wetlands International. H.. The Global Peatland CO2 Picture. and Clarke D. Wise use of mires and peatlands-Background and principles including a framework for decision making. International Mire Conservation Group/International Peat Society. Peatland status and drainage related emissions in all countries of the world.org. Marsch R. Zhang et al.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful