You are on page 1of 0

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Gangguan pendengaran salah satunya disebabkan oleh penyakit infeksi. Penyakit
infeksi merupakan penyakit yang di sebabkan oleh mikro organisme yang paling sering
menyerang anak balita. Salah satu penyakit infeksi tersebut adalah otitis media. Penyakit
ini dapat di sebabkan oleh adanya sumbatan pada tuba Eustachius, sehingga fungsi tuba
eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman kedalam telinga tengah juga terganggu,
sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Otitis media
merupakan peradangan dari area-area telinga yang berasal dari virus, jamur dan bakteri.
Infeksi oleh bakteri memerlukan perawatan dan pengobatan agar tidak terjadi komplikasi
yang bisa menyebabkan saluran eustachius membengkak, udara mengalir ke atau dari
telinga tengah, yang menyebabkan tekanan di dalam telinga meningkat yang dapat
menimbulkan rasa tidak nyaman pada telinga dan lama kelamaan akan menyebabkan
terjadinya gangguan pendengaran dan ketulian.
Telinga mempunyai peranan yang besar dalam kehidupan sehari-hari. Mendengar
dapat menyerap 20% impormasi, lebih besar dibandingkan dengan membaca. Menyerap
10% impormasi mengajar pentingnya masalah di beberapa negara asia (Hambuako 2010).
Gangguan pada telinga dalam dapat menyebabkan gangguan pada saraf yang dapat
menyebabkan peradangan pada otak. Mengingat pentingnya masalah ini, beberapa negara
asia tenggara termasuk Indonesia menyepakati bahwa tanggal 3 maret tahun 2010 sebagai
Hari Kesehatan Telinga dan Pendengaran (HKTP).
Gangguan pendengaran juga mengakibatkan anak sulit menerima pelajaran,
produktivitas menurun dan biaya hidup tinggi, menurut kajian (Hambuako, 2010).
1
Telinga mempunyai peranan yang besar dalam kehidupan sehari-hari. Mendengar dapat
menyerap 20% informasi, lebih besar dibanding dengan membaca yang hanya menyerap
10% informasi. Salah satu penyebab dari gangguan pendengaran adalah adannya
sumbatan kotoran telinga (serumen) yang terlalu banyak dan tidak pernah dibersihkan,
serta masuknya benda asing dalam telinga yang tidak diketahui oleh orang tua dan tidak
diberikan penanganan secara cepat.
Gangguan pendengaran dan ketulian saat ini masih merupakan suatu masalah
yang di hadapi masyarakat Indonesia. Berdasarkan hasil survei Nasional kesehatan indra
pendengaran dan penglihatan di 7 provinsi 1993 sampai 1996, gangguan pendengaran
16,8% yang di sebabkan oleh infeksi telinga tengah (3,1%), tuli akibat obat ototosik
(0,3%), dan tuli sejak lahir atau kongeital (0,1%) dan tuli hasil pemaparan bising (13,3%).
Depkes (2009) menyatakan bahwa masalah lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah
sumbatan kotoran telinga (serumen prop) yang banyak di temukan pada anak usia 3
sampai 12 tahun dan pada anak usia sekolah. Sumbatan serumen ini dapat mengakibatkan
gangguan pendengaran sehingga akan mengganggu proses penyerapan pelajaran. Hasil
survei cepat yang di lakukan oleh profesi perhati dan Departemen Mata FKUI di beberapa
sekolah pada 6 kota di Indonesia, diketahui prevalensi cairan serumen pada anak sekolah
cukup tinggi yaitu antara 30% sampai 50%.
Anak usia 5-12 tahun disebut juga periode intelektual, karena merupakan tahap
pertama anak menggunakan sebagian waktunya untuk mengembangkan kemampuan
intelektualnya. Anak usia ini sedang belajar di sekolah dasar (SD) dan mendapat
pelajaran tentang Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Perhatian anak
sedang ditujukan kepada dunia pengetahuan tentang dunia dan alam sekelilingnya serta
senang sekali membaca tentang cerita petualangan yang menambah pengalamannya. Pada
usia ini terjadi perubahan-perubahan dari usia sebelumnya diantaranya ialah bemain,
permasalahan, moral, hubungan keluarga dan salah didikan.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan pendengaran di Indonesia
yaitu dilakukan upaya promotif dan preventif. Dengan cara memberikan informasi kepada
orangtua agar dapat mencegah terjadinya gangguan pendengaran pada anak. Dari uraian
latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul:
”Gambaran Kejadian Gangguan Pendengaran : Otitis Media Pada Anak Usia 5 -12 Tahun
di Poli THT RS Dr Mintohardjo Jakarta Pusat Tahun 2010”, karena anak 5 sampai 12
tahun merupakan anak usia sekolah yang terkadang kurang memperhatikan kebersihan
telinganya, apabila pada anak- anak usia ini terjadi gangguan telinga, maka dikhawatirkan
akan berpengaruh pada kemampuannya dalam menyerap pelajaran.
B. Rumusan masalah
Anak dengan penyakit otitis media dapat menyebabkan terjadinya gangguan
pendengaran yang mengakibatkan anak sekolah sulit menerima pelajaran, produktivitas
menurun dan biaya hidup tinggi. Dari hasil observasi di poli THT RS Dr. Mintohardjo
diperoleh data bahwa gangguan pendengaran yang disebabkan oleh otitis media pada
anak-anak, yaitu sebanyak 53 anak, pada Juli tahun 2010 anak-anak usia 5-12 tahun
mengalami otitis media. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang Gambaran Kejadian Gangguan Pendengaran dengan Otitis
Media pada Anak Usia 5 Sampai 12 Tahun di Poli THT RS Dr Mintohardjo Jakarta
Pusat?”
Adapun perumusan masalah sebagai berikut:
1. Mengetahui adanya gambaran jenis kelamin anak dengan gangguan pendengaran?
2. Mengetahui gambaran kejadian gangguan pendengaran dengan OMA pada anak usia
5 sampai 12 tahun?
3. Mengetahui gambaran kejadian gangguan pendengaran dengan cairan serumen pada
anak usia 5 sampai 12 tahun?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang
gambaran kejadian Gangguan Pendengaran dengan ototis media Pada Anak Usia 5
Sampai 12 Tahun di Poli THT RSAL Dr Mintohardjo Jakarta Pusat.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran jenis kelamin anak dengan gangguan pendengaran di Poli
THT RSAL Dr Mintohardjo Jakarta Pusat.
b. Mengetahui gambaran anak yang memiliki sumbatan serumen proop dengan
gangguan pendengaran di Poli THT RSAL Dr Mintohardjo Jakarta Pusat.
c. Mengetahui gambaran stadium gangguan pendengaran dengan otitis mediadi Poli
THT RSAL Dr Mintohardjo Jakarta Pusat.
D. Manfaat penelitian
1. Bagi Rumah Sakit
Untuk menambah informasi bagi perawat yang merawat pasien anak dengan penyakit
otitis media untuk mencegah terjadinya gangguan pendengaran.
2. Manfaat Bagi Orang tua pasien
Untuk menambah pengetahuan orang tua pasien mengenai penyakit otitis media yang
sering terjadi pada anak yang bisa menyebabkan gangguan pendengaran.
3. Manfaat Bagi Peneliti
Dapat menjadi bahan informasi untuk melengkapi penelitian tentang gangguan
pendengaran pada anak yang mengalami otitis media.
4. Manfaat Bagi Akademik
Sebagai sumber informasi dan pedoman bagi penelitian berikutnya.
5. Manfaat Bagi Profesi Keperawatan
Perawat dapat meningkatkan pemberian asuhan keperawatan, terutama untuk
mencegah dan mengobati masalah gangguan pendengaran pada anak.
E. Ruang Lingkup penelitian
Ruang lingkup Penelitian ini dilakukan pada anak usia 5 sampai 12 tahun di RS
Dr Mintohardjo Jakarta Pusat Tahun 2010. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli
sampai dengan Juli 2010.