You are on page 1of 13

Model Adaptasi Roy Pada Pasien Cedera Kepala

Oleh Kelompok II

Model Adaptasi Roy

PENERAPAN TEORI ROY PADA PASIEN CEDERA KEPALA


DATA DEMOGRAFI
Nama Usia Jenis Kelamin Nomor identitas Pendidikan Pekerjaan Status marital Agama Sumber informasi Tanggal masuk RS

PENGKAJIAN AWAL
MODE FISIOLOGI
Oksigenasi:
Oksigenasi tergantung lokasi trauma. Jika cedera kepala mengakibatkan penurunan kesadaran, kemungkinan akan mengganggu patensi jalan nafas. Jika terjadi edema sereberal maka beresiko mengalami depresi pernafasan. RR cenderung meningkat pada awal cedera, namun potensial tidak stabil jika disertai peningkatan TIK atau saat terjadi edema sereberal. Bentuk leher dada cederung normal, kecuali jika terjadi trauma multiple yang memungkinkan terjadi jejas pada leher atau dada. Jika terjadi multiple trauma pada dada seperti tension pneumotoraks, akan terjadi deviasi trakea yang mempengaruhi patensi jalan nafas. Pada fase akut yang penting adalah memperhatikan patensi jalan nafas dan pemberian terapi oksigen untuk memfasilitasi perfusi serebral.

Nutrition:
Pada dasarnya tidak terjadi perubahan pada nutrisi. Abdomen intak, tidak ada distensi. Karena kemungkinan terjadi penurunan kesadaran, kemungkinan terjadi gangguan pada refleks vagal, sehingga ada indikasi NGT. NGT menjadi kontraindikasi jika pasien mengalami fraktur basis kranii.

Elimination:
Penurunan kesadaran mengakibatkan pasien immobil, selain itu adanya trauma menstimulasi kerja simpatis. kedua hal tersebut mengakibatkan kemungkinan terjadi penurunan bising usus, sehingga dapat terjadi kesulitan defekasi. Mencegah terjadinya retensi fekal, perlu diperhatikan tindakan kolaborasi untuk konstipasi.

Aktivitas dan istirahat


Jika terjadi penurunan kesadaran, pasien mungkin terlihat gelisah. Perhatikan penggunaan side rel untuk mencegah injuri. Aktivitas dibatasi jika terdapat peningkatan TIK atau perdarahan serebral. Gerakan pasien juga bisa menjadi tak terorganisir.

Proteksi:
Pergerakan motorik mungkin terganggu pada trauma area broca dan fissura sentral. Gangguan keseimbangan terjadi jika trauma mengenai serebelum. Selain itu adanya manifestasi vertigo dan resiko kejang juga mengakibatkan munculnya resiko cedera.

Sensasi:
Gangguan sensasi dapat terjadi pada trauma area parietal. Jika mengenai area temporal bisa menimbulkan manifestasi klinis gangguan pendengaran, penciuman, dan penciuman.

Cairan dan elektrolit:


Cedera kepala dengan manifestasi klinis edema otak memerlukan perhatian khusus karena terjadi gangguan perfusi. Cedera juga dapat mengurangi aliran nutrisi ke jaringan tersebut. Balans cairan harus diperhatikan.

Fungsi neurologi:
Manifestasi klinis neurology tergantung area cedera. Manifestasi klinis yang mungkin muncul seperti penurunan kesadaran, abnormalitas fungsi cranial (saraf I XII), vertigo, gangguan koordinasi dan pergerakan, gangguan keseimbangan, spastisitas, nyeri kepala, atau kejang.

Fungsi endokrin:
Umumnya normal, kecuali jika pasien juga mengalami gangguan metabolic atau vascular, harus dilakukan pemeriksaan glukosa darah.

MODE KONSEP DIRI


Konsep diri:
Pasien mungkin cemas akan perubahan dalam tubuhnya terutama jika cedera mempengaruhi fungsi normal tubuh seperti kemampuan memenuhi kebutuhan fisik dasar.

Kepribadian:
Harga diri mungkin terganggu karena penurunan fungsi tubuh. Pasien merasa malu dengan kondisinya jika gangguan fisik bersifat permanent. Perlu informasi yang menjelaskan kondisi pasien setelah pulang dari rumah sakit.

MODE FUNGSI PERAN


Jika pasien penanggung jawab ekonomi keluarga, peran dan fungsinya akan terganggu selama pasien dirawat. Jika pasien bukan penanggung jawab ekonomi keluarga, kondisi kesehatan pasien dapat mempengaruhi atau mengancam kestabilan ekonomi keluarga karena perawatan yang dijalani.

MODE INTERDEPENDENSI
Kaji hubungan pasien dengan lingkungan, seperti hubungan pasien dengan tetangga, dengan kelompok sosial, rekan kerja, atau organisasi. Kaji dukungan sosial yang dapat diterima pasien .

PENGKAJIAN LANJUTAN
Stimulus Fokal:
Terjadi penurunan perfusi serebral karena cedera kepala bisa mengakibatkan cedera intraserebral. Penurunan kesadaran merupakan manifestasi klinis yang umum, mengakibatkan kemungkinan gangguan patensi jalan nafas dan perubahan pola nafas. Setelah fase akut, dan pasien membutuhkan pembedahan, harus diperhatikan resiko edema sereberal dan peningkatan TIK. Resiko perdarahan dan kerusakan ginjal akut dapat terjadi jika disertai trauma multipel yang menyebabkan perdarahan hebat.

Stimulus Kontekstual:
Identifikasi riwayat diabetes mellitus, hipertensi, hiperkolesterol, dan penyakit vascular, karena perfusi serebral akan lebih berat jika disertai penyakit tersebut. Jika cedera kepala disertai trauma multiple juga kemungkinan menyebabkan kerusakan ginjal akut, sehingga perlu dikaji fungsi ginjal.

Stimulus Residual:
Kaji riwayat penyakit vascular pada keluarga. Identifikasi gaya hidup dan kebiasaan pasien dalam menjaga kesehatan yang dapat mempengaruhi kondisinya seperti kebiasaan merokok, kebiasaan makan makanan berlemak, minum alcohol, dan kebiasaan olahraga.