You are on page 1of 4

MAKALAH DEMOKRASI YANG IDEAL UNTUK INDONESIA

MATA KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA

Oleh : Zulfikar Muhammad 335766

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

DEMOKRASI YANG IDEAL UNTUK INDONESIA


Indonesia adalah Negara kepulauan terluas di dunia. Indonesia memiliki beragam suku dan budaya yang masing-masing berbeda. Seajarah yang telah dialami bangsa Indonesia pun sudah sangat panjang. Berbagai peristiwa telah mewarnai perjalanan negeri ini. Semua yang terjadi adalah demi terciptanya masyarakat yang adil dan sejahtera. Maka dari itu, system demokrasi akan menentukan berhasil tidaknya Indonesia dalam mencapai tujuannya. Yang menjadi pertanyaan sekarang apakah demokrasi yang diadopsi bangsa

Indonesia saat ini, sudah sesuai dengan budaya dan karakter bangsa Indonesia? Dan kalau belum sesuai, apa solusinya dan bagaimana solusi itu diimplementasikan dalam kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia? Sebab sekalipun Indonesia sudah menjadi sebuah negara demokrasi, tetapi tak bisa disembunyikan, masih ada kelompok yang ingin mengembalikan sistem totataliter atau minimum demokrasi yang bisa dikontrol. Demokrasi yang terpimpin. Tidak heran jika kelompok yang berideologi seperti ini, berusaha menggunakan isu demokrasi dan demokratisasi sebagai jargon perjuangan. Kelompok tersebut sebetulnya ingin membangun rezim totaliter baru yang dibungkus dengan baju demokrasi. Ditambah lagi kenyataan lainnya bahwa setelah Indonesia melaksanakan dan menikmati demokrasi yang benar-benar tanpa batas, melebihi demokrasi liberal, muncul semacam desakan agar Indonesia harus memilih sebuah demokrasi yang dapat diaplikasikan oleh semua unsur dalam masyarakat Indonesia. Demokrasi yang dinikmati Indonesia saat ini, belumlah demokrasi yang ideal. Setelah melalui perenungan yang cukup panjang berikut berbagai kontempelasi, tiba pada satu kesimpulan. Bahwa demokrasi yang cocok dengan Indonesia, yaitu Demokrasi Indonesia Raya. Pertanyaannya, mengapa Demokrasi Indonesia Raya, bukan Demokrasi Pancasila, bukan Demokrasi UUD 1945, bukan Demokrasi Liberal atau Demokrasi Terpimpin? Selain yang disebutkan di atas, masih terbuka pilihan-pilihan lain. Misalnya bagaimana dengan Demokrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)?

Lantas apa pula maksud dari Demokrasi Indonesia Raya itu? Tidak dipilihnya demokrasi dengan imbuhan Pancasila, ada alasannya. Sekalipun Pancasila merupakan dasar negara Indonesia, tetapi setelah Pancasila itu coba diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, ternyata masih ada kelompok yang alergi atau tidak bisa menerima Pancasila seutuhnya. Hal ini terbukti pada saat rezim Orde Baru pada saat Soeharto menerapkan Demokrasi Pancasila yang sangat kaku. Bahkan terhadap kelahiran Pancasila itu sendiri masih menjadi perdebatan. Apakah sesuai dengan Pidato Bung Karno tentang Pancasila yaitu 1 Juni 1945 atau 18 Agustus 1945, ketika secara resmi Pancasila dijadikan Dasar Negara Republik Indonesia. Demokrasi UUD 1945? Juga tidak. Salah satu alasannya, UUD 1945 itu pun sudah beberapa kali mengalami amandemen. Amandemen itu sendiri, juga masih mengundang perdebatan. Ada keinginan untuk menghentikan amandemen dengan alasan UUD 1945 itu sudah memenuhi kebutuhan, tapi ada juga suara yang menginginkan agar amandemen masih perlu dilanjutkan. Pendapat yang juga tidak kalah menarik adalah UUD 1945 yang sudah diamandeman beberapa kali itu perlu dikembalikan ke rumusan aslinya. Alasannya bermacam-macam. Jadi memang belum ada kesepakatan. Sehingga wajar apabila diputudkan demokrasi yang diadopsi Indonesia, bukan Demokrasi UUD 1945. Bagaimana dengan Demokrasi Terpimpin? Pasti tidak. Karena sejarah mencatat akibat pelaksanaan Demokrasi Terpimpin, Indonesia nyaris terpecah belah. Tentu kita tahu bahwa Soekarno yang menerapkan system Demokasi Terpimpin harus tumbang akibat system demokrasi tersebut. Lantas bagaimana dengan Demokrasi Liberal? Juga tidak. Kemudian Demokrasi NKRI, dianggap tidak sesuai. Sebab NKRI yang terhubung dari Sabang hingga Merauke, sudah mengalami banyak pemekaran provinsi. NKRI saat ini terdiri atas 34 provinsi. Yang paling aman adalah merujuk pada lagu kebangsaan, Indonesia Raya. Syair lagu yang diciptakan oleh WR Supratman tersebut jika disimak secara baik, sangat menarik. Sebab di antaranya, hanya berbicara tentang Indonesia Raya, kebesaran Indonesia, The Great Indonesia.

Lagu Indonesia Raya itu memenuhi tuntutan atas apa yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Indonesia. Misalnya bagaimana jiwa dan raga bangsa Indonesia, harus bangun untuk sebuah kebesaran Indonesia. Pencipta lagu Indonesia Raya itu, telah menunjukan visinya yang melintasi zaman. Di antaranya dengan fakta dimana tidak ditemukannya satu katapun tentang politik. Padahal ketika lagu itu diciptakan, tujuannya untuk mengajak rakyat Indonesia yang sedang dijajah untuk berjuang secara politik untuk memerdekakan Indonesia. Tetapi sang pencipta secara sengaja ataupun mungkin tidak secara sengaja, tanpa menyisipkan sama sekali kata politik di dalamnya. Demokrasi Indonesia Raya pun seharusnya demikian. Yang terpenting Demokrasi Indonesia Raya itu tetap ditunjang oleh empat pilar yaitu: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinekaan seperti yang diamanatkan oleh para founding father bangsa ini. Dengan adanya empat pilar sebagai penopang, penegakan Demokrasi Indonesia Raya tetap bertujuan untuk mempersatukan bangsa Indionesia. Kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia, tidak lagi harus terkotak-kotak oleh aliran politik yang berbeda satu sama lainya.