TUGAS MATA KULIAH EKONOMI REGIONAL (GPW 3103

)

ESSAY PEMINDAHAN LOKASI IBUKOTA BESERTA DAMPAK PEMBANGUNAN EKONOMI REGIONAL DI INDONESIA

Nama NIM

: Marco Darmansyah : 11/316492/GE/07071

FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

PEMINDAHAN LOKASI IBUKOTA BESERTA DAMPAK PEMBANGUNAN EKONOMI REGIONAL DI INDONESIA
Pendahuluan Ibukota adalah kota utama di sebuah negara. Di kota ini biasanya terdapat gedunggedung pemerintahan pusat atau daerah dan sebuah dewan perwakilan rakyat yang seringkali disebut parlemen serta kantor-kantor pusat perusahaan-perusahaan komersial. Selain itu di ibukota negara biasanya juga terdapat perwakilan-perwakilan dari negara asing yang biasa disebut kedutaan besar. Ibukota suatu negara pada hakikatnya merupakan simbol dari eksistensi suatu negara. Itulah sebabnya, penentuan lokasi ibukota menjadi sangat strategis dan harus dipikirkan secara masak dan mendalam. Sebab, kesalahan dalam menetapkan lokasi akan dapat berimplikasi terhadap ketidak optimalan penyelenggaraan fungsi-fungsi kenegaraan dan kepemerintahan. Ibukota negara mempunyai fungsi sentral bagi pemimpin negara didalam melaksanakan tugas kenegaraan. Kondisi yang aman, nyaman, dan kondusif merupakan bagian penting dalam memikirkan dan mengkoordinasikan jalannya pemerintahan. Harapannya agar negara dan bangsa dapat maju sejajar dengan negara maju lainnya, rakyatnya cerdas dan sejahtera secara berkeadilan. Dalam prakteknya fungsi ibukota terus berkembang tidak saja sebagai pusat pemerintahan, namun juga pusat perdagangan dan industri, pusat permukiman, pusat hiburan atau kesenian dan budaya, serta pusat pendidikan dan jasa-jasa lainnya.

Jakarta Sebagai Ibukota Di Indonesia pusat ibukota sekarang ini terdapat di Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta). Sebagai ibukota, Jakarta tentunya merupakan pusat pemerintahan dalam mengatur segala kehidupan NKRI dan pusat-pusat kegiatan non pemerintahan. Selain sebagai pusat pemerintahan, Jakarta juga merupakan pusat bisnis dan keuangan. Di samping Bank Indonesia dan Bursa Efek Indonesia, kantor-kantor pusat perusahaan nasional banyak berlokasi di Jakarta. Bank Dunia menunjukkan bahwa 70 % uang beredar di Indonesia ada di Jakarta, sehingga Jakarta menjadi pusat seluruh aktivitas perekonomian Indonesia. Hal ini pulalah yang menyebabkan Kota Jakarta menjadi tujuan pertama dan utama para urbanisasi dengan segala problemanya. Berbagai hal tadi menjadikan wilayah Ibukota semakin lama

semakin jenuh sekaligus menurunkan daya dukung lingkungan (carrying capacity). Dampak lanjutannya, tidak dapat dihindari terjadinya pemusatan / konsentrasi aktivitas yang cenderung menyebabkan people generator (bangkitan pertambahan penduduk), land use generator (bangkitan penggunaan lahan) dan traffic generator (bangkitan lalu lintas) yang tinggi. Inilah awal munculnya kerumitan penduduk, kepenatan tata ruang, dan kekacauan lalu-lintas (people congestion, land-use congestion, and traffic congestion). Atas dasar berbagai pemasalahan dan prakondisi diatas, maka muncullah kemudian gagasan untuk merelokasi ibukota negara DKI Jakarta, ke wilayah baru yang jauh lebih layak secara sosial, ekonomis, ekologis, maupun pertahanan dan keamanan.

Konsep Pemindahan Ibukota Pemindahan ibukota dari satu kota ke kota lain adalah hal yang biasa dan pernah dilakukan. Sebagai contoh, Amerika Serikat yang pernah memindahkan ibukota dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin, sementara Brazil memindahkan ibukotanya dari Rio de Janiero ke Brasilia. Indonesia sendiri pernah memindahkan ibukotanya dari Jakarta ke Yogyakarta. Untuk memindahkan ibukota perlu dipikirkan berbagai pertimbangan tentang dampak yang akan ditimbulkannya. Pemindahan Ibukota adalah sebuah rencana yang sangat besar sehingga tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Pemindahan ibukota negara harus memiliki landasan teoritik yang kuat, serta alasan, argumentasi, dan tujuan yang jelas dan terukur. Untuk itu perlu diadakan analisis strategis mengenai keuntungan dan kerugian yang akan timbul sehingga nantinya dapat ditarik kesimpulan tentang perlu atau tidaknya ibukota suatu negara dipindah ke kota lain. Pemindahan ibukota tentu tidak mungkin dilakukan jika tidak terjadi permasalahan yang kompleks di ibukota yang lama, seperti halnya Jakarta. Jakarta memiliki berbagai permasalahan yang sulit sekali dilakukan penangannya. Sulit bukan berarti tidak bisa, namun untuk menangani permasalahan di Jakarta diperlukan strategi yang tepat dan waktu yang sangat lama sehingga dapat memperbaiki kondisi yang ada di Jakarta saat ini.

Alasan Ibukota di Pindah dari Jakarta Berbagai wacana muncul mengenai pemindahan ibukota dari Jakarta menuju kota lain. Berbagai permasalahan yang terjadi di Jakarta yang menjadi faktor pendorong pemindahan ibukota adalah faktor demografis, ekologi dan permasalahan sosial yang ada di Jakarta. Secara keruangan Jakarta sudah terlalu padat penduduk, sebagai pusat pemerintahan,

perdagangan, perindustrian, pariwisata dan tata ruangnya semrawut, pemanfaatan lahan yang saling kontradiktif banyak terjadi. Pembangunan fisik terus dipacu tanpa arah yang jelas. Banyak situ-situ yang berfungsi sebagai penampung air hilang menjadi perumahan. Kemacetan lalu lintas setiap saat, dan banjir yang setiap tahun terjadi menunjukkan bahwa tata ruang kurang memperhatikan karakteristik lahan serta kurang mengakomodasikan kepentingan masyarakat. Secara keruangan, Jakarta sebagai ibukota negara tidak mungkin menampung datangnya urbanit di masa depan. Jakarta mempunyai daya tarik bagi penduduk di luar Jakarta dan bahkan dari manca negara karena lapangan pekerjaan terpusat dan sebagian besar uang beredar disana. Urbanisasi yang terus-menerus dan urbanit yang kurang memiliki ketrampilan dan pendidikan akan menjadi tambahan beban bagi Jakarta. Jumlah penduduk yang membengkak dan tidak diimbangi oleh pelayanan sosial, jelas akan menimbulkan krisis dan penyakit pembangunan. Keadaan kependudukan seperti diatas dapat menimbulkan implikasi di bidang kehidupan lainnya, seperti lingkungan hidup yang terganggu, merebaknya pengangguran, masyarakat miskin, kriminalitas, dan kerawanan sosial lainnya semakin meningkat dan suatu saat bisa sampai pada satu keadaan yang diluar kendali dan menimbulkan tragedi kemanusiaan. Dari tinjauan geografis, Kota Jakarta terletak diantara lempengan benua Asia dan Australia (lempeng Auresia) yang merupakan lempeng patahan kerak bumi yang sangat berpotensi terjadi gempa tektonis dan vulkanis serta potensi tsunami. Sedangkan dari tinjauan elevasi, Kota Jakarta terletak di ketinggian dari muka laut Minus 2 Meter DPL sampai 10 meter DPL. Keadaan ini memberikan peluang Kota Jakarta akan selalu mengalami banjir karena letaknya berada dibawah permukaan laut. Masalah banjir Jakarta memang sulit diatasi tanpa ada suatu usaha menyeluruh dan terpadu. Amblesan tanah akibat penurapan airtanah yang berlebih menjadi salah satu penyebab daerah menjadi sasaran banjir. Secara alami, Jakarta memang rawan terhadap banjir karena terletak pada kipas aluvial yang berkembang dari Selatan (Bogor) dan dialiri oleh 13 sungai dengan daerah hulunya bercurah hujan tinggi, yang sebagian lahannya telah terbangun. Faktor alami lainnya adalah di bagian Utara terdapat beting gisik yang dapat menghambat aliran ke laut Teluk Jakarta. Sebenarnya pada beting gisik itupun terdapat cekungan antar beting yang dapat berfungsi sebagai penampung air, namun itupun sudah terbangun. Demikian juga sebagian besar situ-situ yang berfungsi sebagai penampung dan pengendali air hujan lokal itupun sudah menjadi lahan permukiman. Akibatnya banjir pun

tidak bisa terelekkan lagi. Banjir di Jakarta ini seolaha-olah menjadi “agenda” yang wajib setiap tahunnya. Faktor-faktor diataslah yang menjadi pendorong untuk berpindahnya lokasi ibukota dari Jakarta ke kota lain. Kota-kota yang direncanakan untuk menjadi ibukota harus memiliki berbagai kelebihan yang membedakannya dengan Jakarta. Kelebihan yang dapat dijadikan pembanding adalah dari segi lokasi dan luas lahan. Ketersediaan lahan yang masih luas di wilayah lain, khususnya diluar Pulau Jawa dapat dimanfaatkan untuk mendesain sebuah kota baru yang modern, ramah lingkungan, aman dan nyaman, sekaligus menjamin tetap terjaganya daya dukung lingkungan secara lestari. Melakukan redistribusi sumber-sumber ekonomi dan mengakselerasi pembangunan wilayah tertentu merupakan sebuah kebutuhan, sehingga tercipta keseimbangan pusat-pusat pertumbuhan dalam suatu negara. Prinsip pemerataan dan keadilan sosial ekonomi ini, pada gilirannya akan membawa konsekuensi politis yang positif, yakni memperkuat jalinan persatuan bangsa dalam koridor NKRI. Pemindahan ibukota negara dapat menimbulkan dampak di berbagai bidang, salah satunya bidang ekonomi. Dalam pemindahan ibukota negara, semua harus diperhitungkan sedemikian rupa. Misalkan dalam pendanaan infrastruktur yang tidak sedikit yang memang harus menunjang aksebilitas yang lancar jika memang ingin dijadikan sebagai ibukota negara. Kalau diperhatikan, kondisi keuangan APBN saja masih defisit walau mengalami pertumbuhan positif dari tahun-tahun sebelumnya dan itu pun masih ditutup oleh hutang luar negeri. Jika pindah, biaya yang dikeluarkan itu bisa setara dengan kerugian yang diterima kalau tetap di Jakarta dan tidak akan memecahkan masalah yang melanda Jakarta sebagai ibukota negara. Lagi pula jika kita pikirkan secara sederhana pun pemindahan tersebut perlu analisis dan kajian yang sangat teliti sehingga tidak membuat suatu program yang akhirnya membuat masalah baru. Jakarta masih memiliki infrastruktur yang lebih baik dibanding daerah lain. Pemindahan ibu kota hanya akan membuat konsentrasi pembangunan tidak akan berjalan dengan baik. Mungkin bisa di bayangkan kalau melakukan pemindahan dengan cara yang kurang siap seperti pemilihan Jakarta sebagai ibukota negara di masa lalu, tentunya akan menghasilkan sesuatu yang menjadi “PR” yang rumit untuk pemerintah kedepannya. Secara keseluruhan pemindahan ibukota negara juga akan menimbulkan implikasi yang meluas ke berbagai sektor selain ekonomi. Namun, dibalik implikasi itu semua mungkin saja menjadi salah satu jalan keluar dalam permasalahan ketimpangan pembangunan dan amburadulnya Jakarta saat ini. Tentunya dengan kajian dan perencanaan yang matang serta sikap cepat tanggap semua lapisan jika suatu saat program itu direalisasikan. Karena banyak

negara yang telah berhasil melakukan pemindahan ibukota negaranya dengan konsisten mengikuti ketentuan-ketentuan tersebut.

Keharusan Pemindahan Ibukota Berbicara mengenai perlunya perpindahan ibukota dari Jakarta atau tidak sebenarnya ada dua opsi. Opsi pertama adalah ibukota tidak perlu dipindah namun infrastruktur yang ada di ibukota harus diperbaiki. Untuk memperbaiki Jakarta dari berbagai permasalahannya tentunya tidak bisa dilakukan dengan waktu singkat. Namun diperlukan waktu bertahuntahun untuk melakukan perbaikan dari segala sektor yang ada di Jakarta. Opsi ke dua adalah memindah lokasi ibukota. Untuk memindah lokasi ibukota harus dilakukan persiapan terhadap kota tujuan yang akan dijadikan ibukota yang baru dengan melakukan berbagai pembangunan terutama pembangunan dari segi ekonomi. Persiapan ini juga memerlukan waktu yang relatif lama. Jadi intinya opsi pertama dan kedua adalah sama-sama berhubungan dengan waktu. Berdasarkan alasan diatas sebenarnya pemindahan lokasi ibukota tidak perlu dilakukan. Tetapi harus ada penanganan yang serius dari pemerintah pusat dan pemerintah untuk menanggulangi masalah-masalah di Jakarta. Yang harus berpindah bukanlah ibukotanya, tetapi pusat bisnis ataupun perkantoran yang harus dipindah. Selain untuk mengatasi masalah Jakarta yang terlalu padat dengan penduduk, hal ini juga dapat meratakan pembangunan ke seluruh daerah di Indonesia, bahkan di pelosok Indonesia sekalipun. Karena pada hakekatnya ibukota sebuah negara seharusnya hanya menjadi tempat berpusatnya pemerintahan negara tersebut, bukan lantas juga harus menjadi tempat pusat kegiatan bisnis ataupun pusat pendidikan. Contohnya Amerika Serikat. Pusat pemerintahannya berada di Washington D.C, sedangkan pusat bisnis berada di New York, bahkan di daerah-daerah selain New York pun kegiatan bisnis tetap tinggi, tidak terpusat di satu kota tertentu saja, tetapi di berbagai kota. Jakarta telah menjadi pusat bisnis sejak dahulu kala. Banyak pebisnis asing maupun dalam negeri selalu mengandalkan Jakarta, padahal Indonesia memiliki 33 provinsi lainnya yang juga berpotensi sebagai tempat usaha. Jika melulu Jakarta yang dijadikan pusat bisnis dan perputaran uang, maka daerah lain di Indonesia tidak akan pernah berkembang.

Penutup Pemindahan Ibukota Negara memiliki nilai strategis nasional, bahkan internasional. Itulah sebabnya, rencana kebijakan ini perlu didukung oleh komitmen yang kuat dari berbagaistakeholder, baik dari kalangan pemerintahan maupun non-pemerintahan (pelaku bisnis, media, LSM, dan sebagainya). Komitmen ini salah satunya dapat dibuktikan dengan penyusunan kerangka kerja yang lebih baik. Disisi lain pemindahan ibukota tidak perlu dilakukan karena akan menimbulkan permasalahan baru apabila tidak direncanakan secara matang. Untuk itu Ibukota tetap di Jakarta beserta berbagai pusat pemerintahannya. Namun kegiatan perekonomian yang harus di pindah ke kota-kota lain yang lebih strategis khususnya di luar Pulau Jawa agar perekeonomianm lebih merata keseluruh Indonesia.

Daftar Referensi Azis, Iwan Jaya, Ilmu Ekonomi Regional dan Beberapa Aplikasinya di Indonesia, Jakarta: LP FE UI, 1994 http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Khusus_Ibukota_Jakarta#Jakarta_.281942.E2.80.93Seka rang.29 (diakses pada tanggal 3 November 2012, Pukul 09.30 WIB) http://id.wikipedia.org/wiki/Ibu_kota (diakses pada tanggal 3 November 2012, Pukul 09.30 WIB) http://oase.kompas.com/read/2011/11/25/1331488/Wacana.Palangkaraya.Jadi.Ibu.Kota.Negar a (diakses pada tanggal 7 November 2012, pukul 22.15 WIB) http://www.ilmusipil.com/cara-gubernur-jakarta-mengatasi-banjir-dan-kemecetan pada tanggal 3 November 2012, Pukul 09.30 WIB) http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=270043 November 2012, pukul 22.15 WIB) Tjahjati, Budhi, 1996, Arah Pengembangan Kota-Kota Baru Dalam Perspektif Kebijaksaaan Tata Ruang, dalam Analisis, Edisi Khusus Tahun II, Jakarta : BPPT. (diakses pada tanggal 7 (diakses

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.