PERPAJAKAN INTERNASIONAL

:
 

Aspek Perpajakan Internasional dalam UU PPh

Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B)

ASPEK PERPAJAKAN INTERNASIONAL dalam UNDANG-UNDANG PPh
Pajak Penghasilan atas Wajib Pajak Luar Negeri:  Definisi Subjek Pajak Luar Negeri  Penghasilan Subjek Pajak Luar Negeri yang Dikenai Pemotongan Pajak  Definisi Bentuk Usaha Tetap (BUT)  Pajak Penghasilan atas Penghasilan BUT

Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Luar Negeri:  Pajak Penghasilan atas Penghasilan Global  Sumber Penghasilan  Metode Penghindaran Pajak Berganda

SUBJEK PAJAK DALAM NEGERI
Pasal 2 (3) UU PPh: a. orang pribadi yang: - bertempat tinggal di Indonesia, - berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, atau - dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia; b. badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia; c. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.

SUBJEK PAJAK LUAR NEGERI (1)
Pasal 2 (4) UU PPh:  orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan,  badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang:  menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia atau  dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tanpa melalui BUT di Indonesia.

Dikenakan pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak tertentu (Pasal 26 UU PPh: 20%). . Tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang biasanya bersifat final. Dikenakan pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia.SUBJEK PAJAK LUAR NEGERI (2)     Otomatis menjadi Wajib Pajak apabila menerima atau memperoleh penghasilan yang bersumber di Indonesia.

pekerjaan.PENGHASILAN SPLN YANG DIKENAI PEMOTONGAN PAJAK 20% dari Jumlah Bruto Pasal 26 (1) UU PPh:  dividen.  pensiun dan pembayaran berkala lainnya. dan atau/  keuntungan karena pembebasan utang .  bunga. sewa.  premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya.  royalti.  imbalan sehubungan dengan jasa.  hadiah dan penghargaan. dan kegiatan. dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.

624/KMK. 434/KMK.PENGHASILAN SPLN YANG DIKENAI PEMOTONGAN PAJAK 20% dari Perkiraan Penghasilan Neto Pasal 26 (2) UU PPh:  penghasilan dari penjualan/pengalihan harta di Indonesia (selain yang sudah diatur tersendiri dalam Pasal 4 ayat (2) UU PPh) (lihat KMK No.04/1994) .04/1999)  premi asuransi (lihat KMK No.

Besarnya PPh Pasal 26 adalah 20% x 25% atau 5% dari harga jual dan bersifat final. 434/KMK.KMK No.04/1999    Penghasilan dari penjualan saham Perseroan (yaitu Perseroan Terbatas Dalam Negeri yang sahamnya diperjualbelikan oleh pemegang saham Wajib Pajak Luar Negeri dan tidak berstatus sebagai Emiten atau Perusahaan Publik) yang diperoleh WPLN selain BUT dipotong pajak sebesar 20% dari perkiraan penghasilan neto. Besarnya perkiraan penghasilan neto adalah 25% (dua puluh lima persen) dari harga jual. .

tertanggung adalah perusahaan reasuransi: 5% dari jumlah premi yang dibayar. tertanggung adalah perusahaan asuransi: 10% dari jumlah premi yang dibayar.KMK No. 624/KMK. .04/1994 Besarnya perkiraan penghasilan neto untuk premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri:    tertanggung bukan perusahaan asuransi atau reasuransi: 50% dari jumlah premi yang dibayar.

(= Branch Profit Tax) (lihat KMK No.03/2002) .PENGHASILAN SPLN YANG DIKENAI PEMOTONGAN PAJAK 20% dari … Pasal 26 (4) UU PPh:  Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu BUT di Indonesia . 113/KMK.

dan  tidak melakukan pengalihan atas penanaman kembali tersebut paling sedikit dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sesudah perusahaan tempat penanaman dilakukan berproduksi komersial.PMK No. . 14/2011 Branch Profit Tax tidak akan dikenakan apabila:  penanaman kembali dilakukan atas seluruh PKP setelah dikurangi PPh dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan yang baru didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pendiri atau peserta pendiri.  penanaman kembali dilakukan dalam tahun pajak berjalan atau selambat-lambatnya tahun pajak berikutnya.

orang pribadi atau badan luar negeri berubah status menjadi Wajib Pajak dalam negeri atau BUT. . penghasilan kantor pusat yang mempunyai hubungan efektif dengan BUT di Indonesia. kecuali atas:    penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan. atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan oleh BUT di Indonesia. penjualan barang.Pasal 26 (5) UU PPh Pemotongan pajak berdasarkan Pasal 26 UU PPh bersifat final.

.DEFINISI BUT Pasal 2 (5) UU PPh BUT adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh:  orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan. atau  badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.

BENTUK USAHA TETAP BUT Tipe Aktiva  BUT Tipe Aktivitas  BUT Tipe Agen  BUT Tipe Perusahaan Asuransi  BUT untuk E-Commerce  .

 bengkel.  cabang perusahaan.  perikanan.  gedung kantor. atau kehutanan.  pertambangan dan penggalian sumber alam. .BUT TIPE AKTIVA Sesuai Psl 2 ayat 5 UU PPh:  tempat kedudukan manajemen. wilayah kerja pertambangan migas.  Gudang. pertanian. peternakan.  kantor perwakilan. perkebunan.  pabrik.  Ruang untuk promosi dan penjualan.

atau proyek perakitan.  pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain. .BUT TIPE AKTIVITAS Contoh di UU PPh :  proyek konstruksi. sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. instalasi.

BUT TIPE AGEN SPLN akan dianggap mempunyai BUT di Indonesia apabila dia melakukan kegiatan usahanya melalui orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas. .

BUT TIPE PERUSAHAAN ASURANSI BUT jenis ini bisa timbul karena perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia memungut premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia melalui agen atau pegawainya. .

BUT untuk E-Commerce Komputer. atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet . atau Peralatan otomatis. yang dimiliki. Agen elektronik. disewa.

PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN BUT    Objek Pajak BUT Biaya-biaya BUT Tarif Pajak untuk BUT .

OBJEK PAJAK BUT Force of Attraction Rule (Pasal 5 ayat 1)    penghasilan dari usaha atau kegiatan BUT tersebut dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai (attributable income). sepanjang terdapat hubungan efektif antara BUT dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dimaksud (effectively connected income). . penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 yang diterima atau diperoleh kantor pusat. penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan. penjualan barang. atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan oleh BUT di Indonesia (force of attraction income).

Pasal 5 (3) a UU PPh:  BUT diperbolehkan untuk mengurangkan biaya administrasi kantor pusat yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan BUT. yang besarnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. KEP-62/PJ. (3. (Lihat Kep./1995) .a)} Pasal 5 (2) UU PPh:  BUT diperbolehkan untuk mengurangkan biayabiaya yang berkenaan dengan penghasilan kantor pusat yang ditarik menjadi penghasilan BUT.BIAYA-BIAYA BUT Deductible Expense {Pasal 6 dan 5 (2). Dirjen Pajak No.

/1995 Besarnya biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto di Indonesia setinggi-tingginya sebanding dengan besarnya peredaran usaha atau kegiatan BUT di Indonesia terhadap seluruh peredaran usaha atau kegiatan perusahaan di seluruh dunia. kantor pusat peredaran usaha seluruh dunia .x biaya adm. peredaran usaha BUT di Indonesia ----------------------------------------. KEP-62/PJ.Kep. Dirjen Pajak No.

bunga. paten. 5(3. imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya. kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan. .BIAYA-BIAYA BUT Non-Deductible Expense {Pasal 9.c)} Pasal 5 (3) c UU PPh: BUT tidak diperbolehkan mengurangkan pembayaran kepada kantor pusat dalam bentuk:    royalti atau imbalan lainnya sehubungan dengan penggunaan harta. atau hak-hak lainnya.

TARIF PAJAK UNTUK BUT {Pasal 17 dan 26 (4)} Lapisan Penghasilan Kena Pajak tahun 2009 tahun 2010 Branch Profit Tax (pasal 26 ayat 4) Tarif Pajak 28% 25% 20% .

000 Rp 28.000 yang sejenis dengan barang yang dijual BUT .000. menagih. kegiatan.000 30% x Rp 75.000.000.500.000.000.000 2.000) Rp 175. dan (150.Branch profit tax berdasarkan Pasal 26 (4): 20% x Rp 140.Peredaran bruto .000 (7.PPh: 10% x Rp 50.000 15% x Rp 50. dan memelihara penghasilan .Penghasilan Kena Pajak .Jumlah Penghasilan berdasarkan Force of Attraction Rule .000.000 7.000.000) Rp 140. menagih.000.000 (35.Penghasilan bunga .000 .000 Rp 182.000.Biaya administrasi kantor pusat yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan BUT .000 (275.Biaya untuk mendapatkan.000 22.000 5.000.000) Rp 125.Biaya untuk mendapatkan.000 Rp 5.000.Penghasilan Kena Pajak setelah PPh .000 .Dividen yang diterima atau diperoleh kantor pusat yang mempunyai hubungan efektif dengan BUT .000..000.500. dan harta .000.000.000.000) memelihara penghasilan .000.Penjualan langsung barang oleh kantor pusat Rp 200.000 50.Penghasilan BUT dari usaha.000 Rp 400.000.000.

 Ada agen kapal bertindak sebagai BUT  Melayani jalur internasional dan dipajaki untuk rute dari Indonesia ke luar negeri .  Pajak Penghasilan ini bersifat final.04/1996 :  Besarnya Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran dan/atau Penerbangan luar negeri adalah sebesar 2.64% (dua koma enam puluh empat persen) dari peredaran bruto.TARIF EFEKTIF UNTUK PELAYARAN DAN PENERBANGAN Pasal 2 KMK Nomor 417/KMK.

PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI LUAR NEGERI    Pajak Penghasilan atas Penghasilan Global Sumber Penghasilan Metode Penghindaran Pajak Berganda .

atau dilakukan melalui ekspor modal yang menghasilkan passive income (dividen. dilakukan melalui investasi langsung di luar negeri (foreign direct investment) dalam bentuk pengoperasian anak perusahaan (subsidiary company). . atau royalti). bunga. dilakukan melalui BUT di luar negeri. sewa.PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI LUAR NEGERI     dilakukan secara langsung dari Indonesia (tanpa melalui BUT di luar negeri).

. baik yang diterima atau diperoleh di Indonesia maupun yang diterima atau diperoleh dari luar Indonesia.PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN GLOBAL WPDN terutang pajak atas seluruh penghasilan.

dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya dividen tersebut. .PENGHASILAN GLOBAL Penggabungan penghasilan yang bersumber dari luar negeri:  Untuk penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya penghasilan tersebut.  Untuk penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun pajak diterimanya penghasilan tersebut. (Pengecualian: untuk penghasilan berupa dividen tertentu.04/1994).  Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh digabungkan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak. Lihat KMK Nomor 650/KMK.

04/1994 Dividen tertentu (Pasal 18 ayat (2) UU PPh) adalah dividen yang diperoleh WP dalam negeri yang: memiliki sekurang-kurangnya 50% dari jml saham yang disetor pada badan usaha di luar negeri.KMK Nomor 650/KMK.  . atau  secara bersama-sama dgn WP dalam negeri lainnya memiliki sekurang-kurangnya 50% dari jumlah saham yang disetor pada badan usaha di luar negeri atas penyertaan modal pada badan usaha di beberapa negara tertentu yang sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek.

04/1994 Saat perolehan dividen tertentu :  Pada bulan ke empat setelah berakhirnya batas waktu kewajiban penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan badan usaha di luar negeri tersebut untuk tahun pajak yang bersangkutan. .  Apabila di luar negeri tidak ada ketentuan batas waktu penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan atau tidak ada kewajiban penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan.KMK Nomor 650/KMK. maka saat diperolehnya dividen ditetapkan pada bulan ke tujuh setelah tahun pajak berakhir.

atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada. penentuan sumber penghasilan adalah sbb:    penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut bertempat kedudukan. royalti. royalti. dan sewa sehubungan dengan penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga. penghasilan berupa bunga. ….SUMBER PENGHASILAN (1) Untuk kepentingan penghitungan kredit pajak. .

dan kegiatan adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada.SUMBER PENGHASILAN (2)     … penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah negara tempat harta tersebut terletak. pekerjaan. . penghasilan BUT adalah negara tempat BUT tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan. penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa.

 Adanya pembatasan jumlah kredit pajak.  Pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang di Indonesia hanyalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak. .METODE PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA Pasal 24 UU PPh:  Pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang dalam tahun pajak yang sama.

Pajak Penghasilan yang berlaku di negara X adalah 48% dan Pajak Dividen (withholding tax) adalah 38%. (48%) US$ 48.00. tersebut dalam tahun 1995 memperoleh keuntungan sebesar US$ 100.000. di Negara X.000 Pajak Penghasilan atas Z Inc. Penghitungan pajak atas dividen yang diterima oleh PT A adalah sebagai berikut: Keuntungan Z Inc. Z Inc.000 Pajak atas dividen (38%) US$ 19.CONTOH PT A di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Z Inc. US$ 100.000 (-) US$ 52.760 (-) Dividen yang dikirim ke Indonesia US$ 32.240 .

640/KMK.  tetapi tidak boleh melebihi jumlah yang dihitung sebagai berikut: penghasilan dari luar negeri ----------------------------------.KMK No.x pajak yg terutang penghasilan global  atau setinggi-tingginya sama dengan pajak yang terutang atas Penghasilan Kena Pajak dalam hal Penghasilan Kena Pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri.04/1994 (1) (ordinary credit method per country limited) Jumlah kredit pajak adalah sama dengan:  jumlah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri (world wide income basis). .

dan . maka penghitungan kredit pajak dilakukan per negara (country limited).tidak dapat dimintakan restitusi.04/1994 (2)   Apabila penghasilan luar negeri berasal dari beberapa negara. . 640/KMK.KMK No.tidak boleh dibebankan sebagai biaya atau pengurang penghasilan. . Dalam hal jumlah Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri melebihi jumlah kredit pajak yang diperkenankan. maka kelebihan tersebut: .tidak dapat diperhitungkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang tahun berikutnya.

000).000.000.000.000.500.000.  di negara Y.000).  Penghasilan usaha di dalam negeri Rp 4. memperoleh penghasilan (laba) Rp3.000.CONTOH PT D di Jakarta memperoleh penghasilan neto untuk tahun 2001 sebagai berikut:  di negara X.000. dengan tarif pajak sebesar 40% (Rp400.  di negara Z.000.000. memperoleh penghasilan (laba) Rp1. .000.000.000. menderita kerugian Rp2.000 dengan tarif pajak sebesar 25% (Rp750.

Laba di Negara Y: .000.000.000 Rp 400.900.000 Kredit pajak luar negeri untuk negara Y: PPh yang Masih Harus Dibayar: Rp4.000 = Rp8.000.000.000.000 Batas maksimum kredit pajak luar negeri Pajak yang terutang di negara X: Batas maksimum kredit untuk negara X: Rp1.000.500.000 ------------------.000 Rp5.000.000.000.000.500) Rp 750.000 3.x Rp2.000 Rp1.000 Kredit pajak luar negeri untuk negara Y: Pajak yang terutang di negara Y: Batas maksimum kredit untuk negara Y: Rp3.500.500.000.000 2.000 2.000 = Rp8.000 ------------------.687.000 7.382.000 0 4.382.370.500.000.000.000.000.000.000.812.000 30% x Rp 7.x Rp2.000.000.500 (Rp 297.500 (Rp 750.Penghasilan dalam negeri Penghasilan luar negeri: .000.437.000.382.Laba di Negara Z: Jumlah penghasilan neto: PPh terutang (menurut tarif Pasal 17) 10% x Rp 50.000.000) Rp 1.812.500 .Laba di Negara X: .000.000.334.000 Rp 297.000.000 15% x Rp 50.000 Rp 893.000.000 Rp8.

THANK YOU .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful