You are on page 1of 37

BAB III

KONDUKSI TUNAK SATU DIMENSI
• Problema konduksi sebenarnya terjadi dalam
multi-dimensi dan tergantung waktu

• Sifat kekomplekan : sukar menentukan
distribusi temperatur

• Model one-dimensional steady-state dapat
menggambarkan secara akurat fenomena
konduksi pada banyak sistem keteknikan


• Pada bab ini dipelajari :

- Bagaimana memperoleh profil
temperatur untuk bentuk geometri
yang umum baik dengan pembang-
kitan kalor atau tidak
- Pengantar konsep tahanan termal
dan sirkuit termal
3.1 Dinding Datar Tunggal
Perhatikan kasus sederhana
konduksi 1-D pada dinding
datar, memisahkan dua fluida
dengan beda temperatur, tanpa
pembangkitan energi

• Temperatur sebagai fungsi x
• Kalor berpindah pada arah-x

Harus dianggap :
– Konveksi dari fluida panas
ke dinding
– Konduksi melalui dinding
– Konveksi dari dinding ke
fluida dingin

 Distribusi temperatur

• Lihat Bab II, persamaan difusi kalor arah-x, kondisi
steady-state, tanpa pembangkitan energi :





• Kondisi batas :

• Bila k konstan, profil temperatur :

Heat flux konstan
- Temperatur bervariasi
linier dengan x
- Ingat : y(x)=mx+c
 Tahanan termal
• Hukum Fourier dapat dijabarkan sebagai berikut :




• Untuk pk konveksi, diaplikasikan hukum Newton
untuk pendinginan :




• Untuk pk radiasi :



(a)
(c)
(b)
x
Q
x
Q
x
Q
• Teori sirkuit listrik – hukum Ohm untuk tahanan
listrik :

• Teori analogi listrik ini dapat dipakai untuk menggam-
barkan problema perpindahan kalor memakai konsep
sirkuit kalor (ekivalen dengan sirkuit listrik)
(d)
Total tahanan dalam sirkuit kalor
x
Q
• Bandingkan pers. (d) dengan pers. (a), (b), dan (c)

• Perbedaan temperatur adalah “potential” atau
driving force untuk aliran kalor dan kombinasi dari
konduktivitas termal, koefisien konveksi, ketebalan
dan luas permukaan bahan berperan sebagai
tahanan termal / resistance aliran :

• Satuan tahanan termal :
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

W
K
m K m W
m
) ).( . / (
2
 Tahanan termal untuk dinding datar

x
Q
Pernyataan dalam beda
temperatur menyeluruh (overall
temperature difference) :
x
Q
3.2 Dinding Datar - Komposit
Susunan Seri
• Dinding yang terdiri atas lebih dari satu bahan
• Dinding komposit dengan bahan A, B, dan C. Masing-masing
permukaannya berhadapan dengan lingkungan konveksi :
• Analogi listrik







Heat rate,



- Hasil heat rate sama untuk tiap-tiap simpul
- Ingat : arus listrik konstan sepanjang sirkuit listrik
2 , s
T
3
T
2
T
1 , s
T
1 , ·
T
4 , ·
T
(
¸
(

¸

+ + + +
÷
=
· ·
)
1
( ) ( ) ( ) ( )
1
(
4 1
4 , 1 ,
A h A k
L
A k
L
A k
L
A h
T T
Q
C
C
B
B
A
A
x
A h
1
1
A k
L
A
A
A k
L
B
B
A k
L
C
C
A h
4
1
• Alternatif lain :




U : koefisien pk menyeluruh (overall heat transfer
coefficient)
ΔT : perbedaaan temperatur menyeluruh (overall
temperature difference)






Harga U tergantung sifat termofisika bahan, tebal
bahan dan kondisi fluida lingkungan




x
Q
T A
=
x
Q
• Dinding komposit terdiri dari bahan susunan seri dan paralel

 Tahanan seri :
R
tot
=R
1
+R
2
+…+R
n

 Tahanan paralel :
1/R
tot
=1/R
1
+1/R
2
+…+1/R
n
Susunan Seri-Paralel
• Contoh soal :
Perhatikan dinding komposit berikut yang terdiri dari papan hardwood
tebal 8 mm (A), hardwood penyangga ukuran 40 mm x 130 mm (B)
dimana pada bagian tengah terisi isolasi fiber glass (D) dengan jarak
luar penyangga 0,65 m (paper faced, 28 kg/m
3
) dan lapisan gipsum
tebal 12 mm (C). Temperatur material diasumsikan 27 °C.
Hitung tahanan termal dinding dengan tinggi 2,5 m dan lebar 6,5 m
(dinding mempunyai 10 penyangga, masing2 tingginya 2,5 m)
 (Ingat : arah pk pada gambar adalah ke bawah sepanjang arah x)
Penyelesaian :

Asumsi : (i) Kondisi steady-state, (ii) Permukaan normal thd x adalah
isotermal, (iii) Sifat fisik konstan, (iv) Tahanan kontak diabaikan

Sifat fisik pada 300 K : k
A
= 0,094 W/m.K, k
B
= 0,16 W/m.K,
k
C
= 0,17 W/m.K, k
D
= 0,038 W/m.K
A A
A
A k
L
B B
B
A k
L
C C
C
A k
L
D D
D
A k
L
W K
m mx K m W
m
A k
L
W K
m mx K m W
m
A k
L
W K
m mx K m W
m
A k
L
W K
m mx K m W
m
A k
L
D D
D
C C
C
B B
B
A A
A
/ 243 , 2
) 5 , 2 61 , 0 ( . / 038 , 0
13 , 0
/ 0434 , 0
) 5 , 2 65 , 0 ( . / 17 , 0
012 , 0
/ 125 , 8
) 5 , 2 04 , 0 ( . / 16 , 0
13 , 0
/ 0524 , 0
) 5 , 2 65 , 0 ( . / 094 , 0
008 , 0
= =
= =
= =
= =
Tahanan ekivalen :

R
ek
= (1/R
B
+1/R
D
)
-1
= (1/8,125+1/2,243)
-1
= 1,758 K/W


Tahanan total tiap unit penyangga-isolasi :

R
tot,p-i
= R
A
+R
ek
+R
C
= 0,0524+1,758+0,0434 = 1,854 K/W


Rangkaian paralel terdiri dari 10 unit penyangga-isolasi, maka
tahanan total :

R
tot
= (10x1/R
tot,p-i
)
-1
= (10x1/1,854)
-1
= 0,1854 K/W
Tahanan Kontak
 Temperatur berkurang di
sepanjang interface antara
dua material
 Penyebabnya adalah adanya
rongga, efek dari kekasaran
permukaan (rongga terisi
udara)
 Didefinisikan tahanan
kontak termal :
Lihat tabel 3.1 untuk
berbagai harga R
’’
t,c
(Incropera, 1985)
3.3 Analisis Konduksi Alternatif

 Apabila luas permukaan bervariasi pada arah x dan harga k
merupakan fungsi temperatur, hukum Fourier dapat
diekspresikan dalam bentuk umum :


 Untuk kondisi steady-state, tanpa pembangkitan kalor, satu-
dimensi, dan Q
x
konstan, berlaku :



 Misal bentuk benda conical seperti berikut (lihat Incropera (1985)
Example 3.2) :


x
Q
x
Q
D = ax, a konstanta
3.4 Sistem Radial Tunggal – Koordinat Silinder
• Perhatikan silider berlubang dimana permukaan
dalam dan luarnya berhadapan dengan fluida yang
berbeda temperaturnya

 Distribusi Temperatur
• Persamaan heat diffusion untuk koordinat silinder




• Untuk kondisi steady-state pada arah-r dan tanpa
energi yang dibangkitkan :




• Hukum Fourier :
r
Q
• ) , , ( z r T |
r
z
x
y
|
• Syarat batas :

• Profil temperatur (k konstan) :





Tahanan Termal
• Persamaan profil temperatur dipakai untuk menyele-
saikan hukum Fourier, diperoleh :


Distribusi temperatur
secara logaritmik
r
Q
• Tahanan termal untuk sistem radial adalah :

R
t,cond
= ln(r
2
/r
1
)/2πkL
• Pernyataan dalam sirkuit kalor ekivalen :




3.5 Sistem Radial-Komposit

• Banyak sistem keteknikan yang mengaplikasikan
sistem radial-komposit, seperti : instalasi pipa cold
water dan hot water, instalasi steam, instalasi pipa
gas, sistem ducting
r
Q
• Perhatikan gambar berikut :
Untuk diskusi

Sistem radial-komposit
terdiri dari tiga bahan A, B, dan
C, panjangnya L dengan
kondisi seperti pada gambar.

 Buatlah analogi listrik sistem
di samping

 Ekspresikan aliran kalor
yang terjadi
• Koefisien pk menyeluruh,

- U overall heat transfer coefficient
A luas permukaan perpindahan kalor yang dapat
dihitung berdasar :

A
1
=2πr
1
L atau A
2
=2πr
2
L atau A
3
=2πr
3
L atau A
4
=2πr
4
L

- Bila luasan diperhitungkan berdasar A
1
, maka :

U
1


- Untuk setiap kasus, berlaku :



=
r
Q
3.6 Konduksi dengan Pembangkitan Kalor
• Energi termal dapat dibangkitkan atau dikonsumsi akibat konversi
dari beberapa bentuk energi

• Bila energi termal dibangkitkan pada material, material itu disebut
source ( : + )

– Perlambatan dan absorpsi netron dalam reaktor nuklir
– Reaksi eksotermik
– Konversi elektrikal ke energi termal :









q

I : arus (Ampere)
R
e
: tahanan listrik (Ohm)
V : volume medium (m
3
)

• Jika energi termal dikonsumsi, maka material disebut sink ( : - )
– Reaksi endotermik

q

 Dinding Datar
• Dinding datar dengan pembangkitan kalor seragam,
satu-dimensi, konduksi steady-state, harga k konstan,
dan kondisi kedua permukaannya berbeda (asimetri) :

• Persamaan difusi kalor :
• Penyelesaian umum :
• Syarat batas :
• Profil temperatur



- Fungsi parabola
- Heat flux tergantung x

• Untuk kondisi distribusi temperatur simetri (kedua
permukaan temperaturnya sama, T
s1
=T
s2
=T
s
) :
' '
conv
q
Berlaku persamaan :
(a)
Dimanakah letak T maksimum ?
Substitusi dan eliminasi x=0 pada pers. (a) diperoleh :


• Temperatur permukaan (T
s
) :

Syarat batas pada dinding,

(b)
Substitusi
(dT/dx)
x=L

pada pers. (a)
pada x=0
 Sistem Radial
• Persamaan difusi kalor, arah-r, kondisi steady- state :





• Penyelesaian umum :
• Syarat batas :
• Profil temperatur :
• Temperatur permukaan :
diperoleh
h T ,
·
Kalor total dibangkitkan = kalor total konveksi
• Contoh soal :
Pipa tembaga tipis untuk mengangkut refrigeran dengan kondisi
sebagai berikut :
r
i

Pipa tembaga,
Di=10 mm, T
i

Insulasi gelas seluler,
k=0,055 W/m.K
T

, h=5 W/m
2
.K
a). Ekspresikan jari-jari insulasi
yang menghasilkan heat rate
terbesar
b). Dengan hasil a) hitung taha-
nan termal total u/ ketebalan
insulasi 0, 5, 10, dan 20 mm
T
i
< T

Catatan : Karena tidak ada informasi panjang
pipa maka konsep yang harus dibangun
adalah heat rate dan tahanan termal dalam
satu satuan panjang
r
a) • Analogi listrik
T
i
T

q’
r

Lk
r r
i
t 2
) / ln(
rLh t 2
1
rLh Lk
r r
R
i
tot
t t 2
1
2
) / ln(
+ =
rh k
r r
L
R
R
i tot
tot
t t 2
1
2
) / ln(
'
+ = =
tot
i
r
R
T T
q
'
'
÷
=
·
• Hambatan termal total (K/W)
• Hambatan termal total per satuan panjang (K.m/W)
• Heat rate per satuan panjang (W/m)
• Karena R’
tot
sebagai fungsi r, maka u/ menghasilkan insulasi puncak
(optimum) harus dicari derivatif pertamanya

Ingat : - turunan pertama informasi nilai optimum
- turunan kedua informasi maksimum / minimum
0
'
=
dr
dRtot
0
)
2
1
(
2
) / ln(
= +
(
¸
(

¸

dr
rh
d
dr
k
r r
d
i
t
t
0
2
1
2
1
2
= ÷
h r kr t t h
k
r =
• Kondisi puncak di atas belum memberi informasi apakah maksimum atau
minimum. Oleh karena itu harus diderivatifkan orde-dua nya
Perbandingan
konduktivitas termal
dan koefisien konveksi
0
2
1
)
2
1 1
(
) (
1
) (
1
) ( 2
1
1
2
1
2 3
2 3 3 2 2
3 2 2
' 2
> =
÷ = + ÷ =
+ ÷ =
h k
k k h k h h k h k k
h r kr dr
R d tot
t
t t t
t t
• Karena hasilnya positif maka pada r = k/h menghasilkan hambatan
termal minimum sehingga heat rate maksimum
bernilai positif
• r = k/h disebut jari-jari kritis (r
cr
) atau r
cr
= k/h


b) • Hitung jari-jari kritis
m
K m W
K m W
h
k
r
cr
011 , 0
. / 5
. / 055 , 0
2
= = =
r
i
= 10/2 = 5 mm = 0,005 m
» r
cr
> r
i

• Tebal insulasi pada r
cr
» r
cr
– r
i
= 0,011 – 0,005 = 0,006 m = 6 mm
• Pada tebal insulasi (r – r
i
) = 0 mm
- radius insulasi, r = r
i
= 0,005 m
- hambatan termal konduksi per satuan panjang,

0
. / 055 , 0 . 2
) 005 , 0 / 005 , 0 ln(
2
) / ln(
'
= = =
K m W
m
k
r r
R
i
kond
t t
- hambatan termal konveksi per satuan panjang,
W K m
K m W m rh
R
konv
/ . 37 , 6
. / 5 . 005 , 0 . 2
1
2
1
2
'
= = =
t t
- hambatan termal total per satuan panjang,
W K m R R R
konv kond tot
/ . 37 , 6 37 , 6 0
' ' '
= + = + =
• Cara yang sama dilakukan u/ tebal insulasi 5, 10, dan 20 mm serta
pada r
cr
= 6 mm. Diperoleh tabulasi sebagai berikut :
Tebal insulasi
r-r
i
(mm)
Radius insulasi
r (m)
Hambatan termal per satuan panjang (m.K/W)
R

kond
R

konv
R

tot

0 0,005 0 6,37 6,37
5 0,01 2 3,18 5,18
6 r
cr
= 0,011 2,28 2,89 5,17
10 0,015 3,18 2,12 5,3
20 0,025 4,66 1,27 5,93
• Kesimpulan :

1. Aplikasi insulasi pada pipa / saluran fluida harus
mempertimbangkan r
cr
.

2. Tebal insulasi pada r
cr
harus dihindari karena heat
rate nya maksimum.

Selamat menempuh ujian mid semester
Berusahalah belajar yang rajin dan tekun
Jangan lupa berdoa kepada Allah
Hanya yang unggul yang akan berkembang