You are on page 1of 17

KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK SERTA ISOLASI SENYAWA AKTIF ANTIBAKTERI DARI DAUN KARAMUNTING ( Rhodomyrtus tomentosa ( W.

Ait ) Hassk )
1

Krisyanella, 2 Dachriyanus, 2 Marlina

1 Pasca sarjana prodi.Farmasi Universitas Andalas 2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Abstract
Karamunting has traditionally been used to cure some infection diseases, such as diarrhea. The objective of this research is characterized the simplisia of leaves karamunting, and find it’s antibacterial compound that can be used as marker compound. An antimicrobial compound was isolated from ethyl acetate extract from characterized dried leaves of Karamunting ( Rhodomyrtus tomentosa (W.Aitt) Hassk). From IR, UV and NMR spectrum known that the isolate is Rhodomyrtosone C, an acylphloroglucinol. It was obtained as yellowish solid form, with molecular formula C41H54O8. This isolate has antimicrobial activity towards Salmonella thypimurium ATCC 14028 and Eschericia coli ATCC 25992, but not toward Vibro parahaemolyticus 8070. The antimicrobial activity and Minimum Inhibitory Concentration measurement are determine with dilution method using 96 well microtitter plate. The MIC of isolate against E.coli, S.thypimurium and V.parahaemolyticus were 3.125; 6.25 and 6.25 ppm respectively. The result of the equivalence test of isolate using Ciprofloksazin showed that 1μg of isolate was equivalent to 0.018 ; 0.14 and 4.11 x 10 -5 μg/mL of Ciprofloksazin towards those bacterias respectively. The isolate concentration measurement toward extract and simplisia done by using HPLC Shim-pack VP ODS (250 x 4.6 mm), normal phase, using methanol 100% as eluen with flow rate 1 mL/minute, and the result showed that the isolate rate from ethyl acetate extract was 8.488 % ± 0.27 and 0.2771 % ± 0.008 toward characterized simplisia. Keyword: R.tomentosa, antibacterial, MIC, rhodomyrtosone C Pendahuluan Indonesia kaya akan sumber bahan obat alam dan tradisional yang secara turun temurun telah digunakan sebagai ramuan obat tradisional. Pengobatan tradisional dengan tanaman obat diharapkan dapat dimanfaatkan dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Kemajuan pengetahuan dan tekhnologi modern tidak mampu menggeser peranan obat tradisional, bahkan pada saat ini pemerintah tengah menggalakkan pengobatan kembali ke alam (back to nature) (Wijayakusuma, 1999). Pengembangan obat tradisional diusahakan agar dapat sejalan dengan pengobatan modern. Berbagai penelitian dan pengembangan yang memanfaatkan kemajuan tekhnologi juga dilakukan sebagai upaya peningkatan mutu dan keamanan produk yang diharapkan dapat lebih meningkatkan kepercayaan terhadap manfaat obat tradisional tersebut. Pengembangan obat tradisional juga didukung oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, tentang fitofarmaka, yang berarti diperlukan adanya pengendalian mutu simplisia yang akan digunakan untuk bahan baku obat atau sediaan galenik (BPOM, 2005; Tjitrosoepomo,G., 1994). Salah satu cara untuk mengendalikan mutu simplisia adalah dengan melakukan standarisasi simplisia. Standarisasi diperlukan agar dapat diperoleh bahan baku yang seragam yang akhirnya dapat menjamin efek farmakologi tanaman tersebut (BPOM, 2005). Standarisasi simplisia mempunyai pengertian bahwa simplisia yang akan digunakan untuk obat sebagai bahan baku harus memenuhi persyaratan tertentu. Parameter mutu simplisa meliputi susut pengeringan, kadar air, kadar abu, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol serta kadar senyawa identitas. Penetapan kadar senyawa identitas yang akan dilakukan disini adalah senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri. Dimana penetapan kadar disini akan dilakukan dengan menggunakan metoda Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Sebagai data pelengkap, dilakukan pemeriksaan organoleptik,

1

salah satunya adalah penyakit infeksi. wadah maserasi (botol gelap). 2008) Kemudian dari daun karamunting ini ditemukan juga senyawa turunan floroglusinol yang aktif terhadap bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus (Salni. H. rhodomyrtosone B. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dilakukan dengan menggunakan metoda dilusi. Secara tradisional. vial. Fisher Jhon Melting Point Apparatus. kolom kromatografi dengan berbagai ukuran. lampu UV 254 nm dan 365 nm. autoklaf. daun tumbuhan ini digunakan untuk mengobati luka. Tumbuhan ini termasuk ke dalam famili Myrtaceae dan mempunyai nama internasional Rosemyrle. Metoda Penelitian Alat Alat yang akan digunakan pada proses ekstraksi. dan rhodomyrtosone D (Asadhawut. Pemisahan senyawa aktif dilakukan secara kromatografi meliputi kromatografi kolom. spektrofotometer UVVIS 1601 (Shimadzu®). kromatografi lapis tipis dan kromatografi radial. identifikasi kimia simplisia. steroid. Rhodomyrtone ini juga memiliki aktivitas antibakteri yang baik terhadap bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. yang mana dimanfaatkan sebagai pencegah infeksi. Pengetahuan akan kandungan kimia suatu tumbuhan merupakan suatu langkah awal pemahaman tumbuhan tersebut sebagai obat. triterpenoid. serta uji cemaran mikrobiologisnya (Depkes . Ekstrak yang paling aktif kemudian dilanjutkan pemisahannya sehingga diperoleh senyawa murni. mengurangi rasa sakit setelah melahirkan. seperangkat alat rotary evaporator (Eyela®). dan penetapan parameter mutu simplisia adalah adalah seperangkat alat gelas. Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) adalah salah satu tumbuhan obat yang sering digunakan oleh masyarakat. Bailey. 1930). Setelah senyawa didapatkan kemudian dilakukan pengujian aktivitas antibakterinya. dan Spektroskopi Resonansi Magnet Inti (NMR). 1966). 2003) . penangas air. obat diare. serta penentuan potensinya bila dibandingkan dengan antibiotik siprofloksasin. Saat ini penyakit infeksi masih menjadi masalah yang serius di Indonesia. infeksi kulit dan untuk perawatan bekas luka pada kornea mata (Burkill. mencegah infeksi dan pendarahan setelah melahirkan (Burkill. timbangan analitik. rhodomyrtosone C. Karakterisasi senyawa hasil isolasi dilakukan dengan cara penentuan titik leleh. satu set mikroskop. Berdasarkan penggunaan-penggunaan tradisional diatas. jarum ose. desikator. kalsium. selain itu juga memiliki aktivitas antihepatitis. diare. 1966.mikroskopis. sakit perut. 2 . Ekstrak diuji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri Salmonella thypimurium ATCC 14028. tannin. sakit kepala. tang krus. bejana KLT (chamber). ® inkubator(Memmert ). Kemudian senyawa murni tersebut diujikan aktivitas antibakteri dan penentuan Konsentrasi Hambat Minimumnya (KHM). maka diduga tumbuhan ini memiliki aktivitas terhadap bakteri. makroskopis. oven (Memmert®). galat. Pada penelitian selanjutnya telah diisolasi beberapa derivat dari rhodomyrtone ini seperti rhodomyrtosone A. Berdasarkan penelusuran literatur dan penelitian yang telah dilakukan diperoleh informasi bahwa ekstrak dan kandungan senyawa murni dari daun Karamunting memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus aureus. Buahnya digunakan sebagai antibisa dan obat diare. 2004). spektroskopi yang meliputi spektroskopi ultraviolet. spektrofotometer IR (Perkin Elmer 735 B®). Hal ini dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan penyakit yang berkembang di masyarakat. Alat yang digunakan pada uji aktivitas antibakteri adalah cawan petri. inframerah. Pada proses isolasi pertama-tama dilakukan ekstraksi secara maserasi berkesinambungan. Sari akarnya digunakan untuk mengobati sakit jantung. seperangkat alat destilasi. Vibrio parahaemolyticus 8070. cawan penguap. serta magnesium . dan Eschericia coli ATCC 25922. Tanaman mengandung senyawa golongan flavonoid. krus porselen. kudis. isolasi. Hal tersebut mendorong pentingnya penggalian sumber obat-obat antibakteri dari bahan alam salah satunya dari tumbuh-tumbuhan. Dari penelusuran literatur yang ada data-data mengenai karateristik yang terkait dengan parameter mutu standar daun karamunting baik secara makroskopik maupun mikroskopis belum terlengkapi sempurna. kuinolon dan unsur natrium.2000). ditambah lagi dengan semakin meluasnya resistensi bakteri terhadap obat-obatan yang ada. Dari daun karamunting telah diisolasi dua senyawa aktif sitotoksik yaitu rhodomyrtone dan combretol (Dachriyanus.

Spektrofotometer (Shimadzu®). pipet tetes. kemudian dipijarkan perlahan-lahan hingga arang habis. logam Mg. silika gel 60 GF254 (Merck®). timbang dan ulangi pemanasan sampai didapat berat yang kostan. menggunakan labu bersumbat sambil sekali-sekali dikocok selama 6 jam pertama. amoniak. Identifikasi Simplisia (Depkes. 3. Nutrien Agar (NA) (Merck®). Simplisia diratakan dalam krus porselen dengan menggoyangkan krus hingga merata. vial. asam sulfat pekat. Laminar air flow (LAF). Depkes. Sumatera Barat. nheksana. diaduk. Padang. kemudian didiamkan. 4. 1979) 1. asam sulfat 2N. Sampel dibiarkan selama seminggu. Ait. Karakterisasi Simplisia (Depkes. Padang. metanol . Bahan Bahan yang digunakan pada proses isolasi dan ekstraksi adalah daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (W. pijar hingga bobot tetap. pereaksi Meyer. aquadestilata. 2. Disaring cepat. besi (II) klorida. Masukkan ke dalam oven. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol 5 gram serbuk simplisa dimaserasi dengan 100 ml etanol selama 24 jam seperti tertera pada monografi. daun karamunting dihancurkan hingga berbentuk serbuk dengan menggunakan mesin penghalus (grinder) hingga ukuran kehalusan tertentu. arang aktif. 20 ml filtrat diuapkan dalam cawan dangkal 3 . kolom Shim – pack VP-ODS 250 x 4. plat KLT GF254. asam asetat anhidrat. aquadest steril. antibiotik Siprofloksasin. natrium sulfat. natrium hidroksida 1 %. gelas ukur. Tumbuhan diidentifikasi di Herbarium Universitas Andalas (ANDA).6mm. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap berat simplisia.VP V6. disaring melalui kertas saring bebas abu. etil asetat. Padang. Alat yang digunakan pada penetapan perolehan kadar relatif isolat adalah KCKT (Shimadzu®).) Hassk). Microplate reader (Bio-Rad®). pompa ganda / gradient. kloroforom. Penetapan Kadar Abu Total 2 gram simplisia ditimbang seksama. dan dinyatakan dalam % b/b. Bahan yang digunakan pada uji aktivitas antibakteri adalah bakteri Eschericia coli ATCC 25922. aquabidestilata. dicuci dengan air panas. buka tutup krus. Nutrien Broth (NB) (Oxoid®). Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan. panaskan pada temperatur 100oC sampai dengan 105oC. etanol 70%. 1989) Simplisia Rhodomyrtus tomentosa dibuat dengan mengeringkan daun karamunting pada kondisi terlindung dari sinar matahari langsung dalam rumah kaca. detektor UV-Vis SPD 10AVP. desikator. asam klorida. didinginkan dan ditimbang. Pengambilan Sampel dan Identifikasi Sampel Sampel diambil di Kebun Tumbuhan Obat Universitas Andalas. pipet ukur. 1989 . timbangan analitik Libror AEG – 80 SM (Shimadzu®). Pembuatan Simplisia (Depkes. rekorder Shimadzu CLASS . Filtrat dimasukkan ke dalam krus. Kadar abu total dihitung terhadap berat ekstrak. Sumatera Barat. labu ukur berbagai ukuran. etanol. Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 ml asam Klorida P. diuapkan dan dipijarkan hingga bobot tetap. kloralhidras. Penetapan Susut Pengeringan 1 gram simplisia ditimbang seksama dan dimasukkan ke dalam krus porselen bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 105oC selama 30 menit dan telah ditara. dimasukkan ke dalam krus porselen yang telah dipijarkan dan ditara. dinyatakan dalam % b/b. Su Sampel diambil di Kebun Tumbuhan Obat Universitas Andalas. Salmonella thypimurium ATCC 14028 . Potato Dextrosa Agar (PDA) (Merck®). metanol. ditambahkan air panas. Kertas saring beserta sisa penyaringan dipijarkan dalam krus yang sama. 1989) Identikasi simplisia dilakukan dengan memeriksa pemerian dan melakukan pengamatan simplisia baik secara makroskopik maupun secara mikroskopik. penyaring vakum. penyaring milipore.14 SP2. Setelah kering. pereaksi Dragendorff. Bahan yang digunakan pada penetapan kadar relatif isolat adalah metanol Pa (Merck®) dan aquabidest. Vibrio parahaemolyticus 8070. 96-well microtitter plate.

kemudian didiamkan. Uji Fenolik 6. Dari hasil homogenisasi pada penyiapan contoh dipipet 1 ml pengenceran 10-1 ke dalam tabung yang berisi pengenceran aquadest steril hingga diperoleh pengenceran 10-2. et. b.. Cawan petri dibungkus terpisah dengan perkamen. erlenmeyer. Penetapan Angka Kapang/Khamir (Hadiotomo. kemudian dibiarkan memadat. Disaring cepat. segera digoyang sambil diputar agar suspensi tersebar merata dan dibuat duplo. jika terbentuk endapan putih dengan pereaksi mayer atau warna jingga dengan pereaksi Dragendorff menunjukkan hasil yang positif untuk alkaloid. Media ini kemudian disterilisasi dalam autoklaf pada suhu 121ºC tekanan 15 lbs selama 15 menit.berdasar rata (yang telah ditara) diatas penangas air hingga kering. kemudian dididihkan. steroid. Untuk mengetahui sterilitas media dan pengencer. dan alkaloid. pengamatan terakhir pada inkubasi 4 hari. Ke dalam satu cawan petri dituangkan media dan dibiarkan memadat. sisa dipanaskan pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Disiapkan 4 tabung reaksi yang masing-masing telah diisi 9 ml aquadest 4 . Dibuat pengenceran hingga 10-5. Kemudian ditambahkan air dan kloroforom sama banyak (5:5). dan pipet ditutup mulutnya dengan kapas. b. Uji Alkaloid Beberapa tetes lapisan kloroforom ditambahkan beberapa tetes asam sulfat 2N.5 mL kloroforom dalam 1000 mL aquadest) selama 24 jam menggunakan labu bersumbat sambil sekali-sekali dikocok selama 6 jam pertama. 7. disaring dalam keadaan panas. Lapisan kloroforom digunakan untuk uji senyawa terpenoid. Ait. Tabung reaksi. dan filtratnya dikeringkan diatas penangas air. dilakukan uji blangko. Penetapan Kadar Sari Larut Air 5 gram serbuk simplisia dimaserasi dengan 100 ml kloroforom P (2. steril. gelas ukur. a. dituangkan pada permukaan PDA. kemudian semua alat disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 121ºC dan tekanan 15 lbs selama 15 menit. kemudian didiamkan hingga terjadi pemisahan. Ke dalam cawan petri lainnya dituangkan media dan pengencer. fenolik dan saponin. Lemari aseptis dibersihkan dengan menggunakan metanol 70%. Depkes. Seluruh cawan petri diinkubasi pada suhu 20-25ºC selama 3-4 hari. Kadar dalam persen dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. Uji Profil Fitokimia (Simes. Pembuatan Media Pembenihan Sebanyak 39 g serbuk Potato Dextrose Agar dilarutkan dengan 1 liter air suling dalam erlenmeyer menggunakan hotplate dan magnetic stirer hingga diperoleh larutan yang jernih. Lempeng agar yang diamati adalah lempeng dimana terdapat 40-60 koloni Kapang. panaskan sisa pada suhu 105oC hingga bobot tetap. dikocok kuat. Lapisan air digunakan untuk uji senyawa flavonoid. 2000) a. Uji Flavonoid Beberapa tetes lapisan air pada plat tetes ditambah 10 butir logam magnesium dan beberapa tetes asam klorida pekat.) Hassk). 1990. Pembuatan Sampel Uji dan Analisa Angka Kapang Sebanyak 1 g serbuk simplisia dilarutkan dalam 10 ml aquadest steril sehingga didapatkan konsentrasi suspensi dengan konsentrasi 10%. Sterilisasi Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan terlebih dahulu dicuci bersih dan dikeringkan. c. dan dikocok sampai homogen. 20 ml filtrat diuapkan dalam cawan dangkal berdasar rata (yang telah ditara) di atas penangas air hingga kering. lalu dikocok kuat dan dibiarkan selama beberapa saat sampai terbentuk dua lapisan. 1995) Uji profil fitokimia kandungan metabolit sekunder dilakukan terhadap ekstrak kental etanol daun karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (W. kemudian dibungkus dengan kertas perkamen. Sebanyak 5 gram serbuk dimaserasi dengan menggunakan menggunakan etanol.al. merah muda sampai merah menandakan adanya senyawa flavonoid. Dari masing-masing pengenceran dipipet 0.5 ml. dicatat jumlah koloni jamur yang tumbuh. 5. terjadinya warna jingga. c. Lapisan asam diambil dan ditambahkan 1-2 tetes pereaksi Mayer atau pereaksi Dragendorff. Koloni ragi dibedakan karena bentuknya bulat kecil-kecil putih hampir menyerupai bakteri. Spatel dan pinset disterilkan dengan cara flambier pada lampu spiritus. Kadar dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara. Sesudah 3 hari inkubasi.

c. sedangkan jika berwarna hijau atau biru berarti positif adanya steroid. etil asetat dan metanol. Kemudian pada lubang pertama ditambahkan 20 μl larutan uji. f. Uji Terpenoid dan Steroid Lapisan kloroforom disaring melalui pipet yang berisi norit. e.parahaemolyticus NB yang digunakan harus mengandung NaCl 3%. pada lubang ke 11 dan ke 12 dimasukkan berturut turut 90 μl untuk kontrol positif dan kontrol negatif.Beberapa tetes lapisan air pada plat tetes ditambah 1-2 tetes larutan besi (III) klorida 1 %. ditimbang seksama 10 mg isolat kemudian dilarutkan dalam 10 mL metanol sehingga didapatkan konsnetrasi larutan induk isolat 1000 ppm.10 dimasukkan 100 μl. Transmitan diatur dengan cara menambahkan bakteri atau media cair. d. etil asetat dan metanol hingga terendam di dalam botol berwarna gelap masing-masingnya 3 kali selama 5 hari.800 gram yang telah dikeringkan dan dihaluskan. Sterilisasi Alat dan Bahan Alat-alat yang akan digunakan disiapkan dan disterilisasi terlebih dahulu. Terbentuknya warna merah / merah jambu / violet berarti positif terpenoid. Simplisia daun Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa (W. dengan sistem Step Gradient Polarity. Kemudian disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121oC tekanan 15 lbs selama 15 menit. Pengujian dilakukan dengan metoda dilusi. Maserat atau hasil penyaringan diuapkan in vacuo sampai didapatkan ekstrak kental n-heksan. khusus untuk bakteri V. Penetapan Konsentrasi Hambat Minimum dan Potensi Ekstrak dan Isolat terhadap Bakteri Uji Uji aktivitas antibakteri ekstrak dilakukan terhadap bakteri Escericia coli ATCC 25922. Peremajaan Mikroba Uji Mikroba uji dari stok kultur murni ditanam pada media agar miring NA dengan cara menggoreskan satu mata ose biakan mikroba pada permukaan agar miring. Kemudian mulut erlenmeyer disumbat dengan kapas yang dibalut kain kasa.000 ppm (1% b/v). Pembuatan Media Pembenihan . b. 9. Kemudian disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121oC tekanan 15 lbs selama 15 menit. Uji Aktivitas Antibakteri. Apabila terbentuk busa yang bertahan selama 5 menit. Bila terbentuk warna hijau sampai biru. d.) Hassk) sebanyak 1. dihomogenkan dengan cara mengaduk dengan pipet mikro. Hasil saringan dipipet 2-3 tetes dan dibiarkan mengering pada plat tetes. kemudian dipanaskan di atas hotplate sambil diaduk sampai terbentuk larutan yang jernih. Salmonella thypimurium ATCC 14028. sedangkan pada lubang 2 . Penyiapan Sampel Uji Sampel uji terdiri dari ekstrak n-heksan.Nutrient Agar (NA) 20 gram serbuk Nutrient Agar dilarutkan dalam 1 liter aquadest dalam erlenmeyer. e. etil asetat dan metanol.Nutrient Broth (NB) 13 gram serbuk Nutrient Broth dilarutkan dalam 1 liter aquadest dalam erlenmeyer.000 ppm. . Pembuatan Stok Kultur Suspensi dan Pembuatan Suspensi Bakteri Uji Sebanyak satu ose koloni bakteri diambil dari biakan murni kemudian disuspensikan dalam 10 ml media NB. Uji Saponin Lapisan air dalam tabung reaksi dikocok. kemudian dipanaskan sambil diaduk sampai terbentuk larutan yang jernih. Pengujian Aktivitas Antibakteri dengan Metoda Dilusi Pada lubang ke-1 microtiterplate 96-well dimasukkan 180 μl suspensi kultur bakteri. Untuk penetapan potensi disiapkan larutan induk siprofloksasin 10. Sebanyak 10 mg ekstrak ditimbang dan dilarutkan dalam 1 mL metanol sehingga didapatkan konsentrasi larutan induk 10. kemudian dipipet 100 μl suspensi dari lubang pertama dan dimasukkan pada 5 . Kemudian mulut erlenmeyer disumbat dengan kapas yang dibalut kain kasa. berarti terdapat senyawa fenolik. Ekstraksi Serbuk Simplisia Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi. berarti positif adanya saponin. dimaserasi dengan n-heksan . dan Vibrio parahaemolyticus 8070. ini disebut sebagai stok kultur suspensi bakteri. Peremajaan dilakukan setiap dua minggu sekali. lalu diinkubasi selama 18-24 jam pada suhu 37oC. kemudian diinkubasi dalam inkubator selama 18-24 jam dengan suhu 37oC. 8. Setelah kering ditambahkan pereaksi LiebermanBurchad (2 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat). a. Kemudian transmitan dari suspensi ini diukur dengan Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 580 nm sebesar 25% T. Untuk Isolat. Ait.

Konsentrasi yang digunakan adalah 54 μg/mL. Uji KLT ini dilakukan untuk tujuan Kualitatif. Konsentrasi terkecil yang menyebabkan tidak terjadinya pertumbuhan bakteri merupakan nilai KHMnya. 32. Pemeriksaan organoleptis dilaukan secara visual yang meliputi pengamatan warna dan bentuk dari senyawa hasil isolasi. diaduk sampai larut.080 μg/mL) Ditimbang seksama lebih kurang 10.tomentosa ditimbang. Mikrotiterplate 96-Well diinkubasi di dalam inkubator selama 24 jam pada suhu 37 C. Dimana larutan uji berupa larutan isolat 4AB1 dan larutan ekstrak etil asetat dari simplisia kering daun R. Ekstrak cair yang didapatkan kemudian dipekatkan dengan menggunakan Rotary evaporator.lubang kedua dan dihomogenkan. sehingga didapatkan larutan dengan konsentrasi 500μg/mL (500 ppm). ukuran dan panjang kolom (Shim-pack VP ODS (250x4. hal ini menunjukkan bahwa terdapatnya aktivitas antibakteri. Masing-masing larutan tersebut diinjeksikan pada alat KCKT dengan menggunakan loop 20 μl.6 μg/mL dan 10. Kemudian ditambahkan metanol. Larutan ini kemudian dapat diencerkan kembali dengan menggunakan metanol hingga absorbannya tidak melebihi 2.5 gram ekstrak etil asetat dan 0. dari lubang kedua dipipet 100 μl dan dimasukkan pada lubang ketiga dan dihomogenkan begitu seterusnya sampai pada lubang ke 10. Penetapan Liniritas dan Kurva Kalibrasi Penetapan liniritas dilakukan dengan analisa seri larutan standar isolat 4AB1. a. Larutan ekstrak dalam metanol disiapkan dengan cara melarutkan 50 mg ekstrak etil asetat R. Pembuatan Ekstrak Sebanyak 45. Karakterisasi Senyawa Hasil Isolasi Karakterisasi senyawa hasil isolasi meliputi pemeriksaan organoleptis. b. 21. Penetapan Kadar Isolat dalam Ekstrak dan Simplisia Penetapan kadar isolat dari dalam ekstrak dan simplisia ini dilakukan dengan menggunakan Kromatografi Cair kinerja Tinggi. 11. kemudian dimasukkan dalam labu ukur 10 mL. dan volume penyuntikan yang sama (20μL). Pelarut yang digunakan mengikuti Step Gradient Polarity. kemudian dihomogenkan. fasa diam. Kurva kalibrasi dibuat dengan memplot luas area yang didapat dari analisa terhadap konsentrasi standar. Pengamatan dilakukan dengan mengukur absorbannya pada λ 580 nm dengan menggunakan alat Mikroplate Reader (BioRad®) setelah masa inkubasi. Pembuatan Larutan Standar Isolat (1. 12. lalu dielusi dengan pelarut organik dengan meningkatkan kepolarannya secara bertahap. Uji KLT dilakukan dengan cara berbagai perbandingan pelarut.2 μg/mL. mulai dari pelarut yang non polar hingga pelarut yang bersifat polar. Pemeriksaan fisiko kimia dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-VIS.tomentosa kedalam 100 mL metanol.tomentosa.3 gram ekstrak n-heksana.4 μg/mL. dapat tunggal atau kombinasi. 10.00 bila diukur dengan spektrofotometer UV 262 nm. etil asetat dan metanol. laju aliran 1 mL/menit. Apabila absorban perlakuan lebih kecil dari absorban kontrol negatif. sifat kimia. Larutan ini kemudian menjadi larutan induk isolat 1. Proses rekristalisasi diulang beberapa kali sehingga didapatkan senyawa yang berbentuk kristal. kemudian dicukupkan dengan metanol sampai tanda batas. spektrofotometer Inframerah dan NMR. 1. Pemisahan dalam jumlah besar digunakan Kromatografi Kolom. kemudian diekstrak dengan menggunakan metoda sokletasi. Ekstrak kering yang didapatkan sebanyak 2. fasa gerak metanol 100%. yaitu berdasarkan kemampuan melarutkan zat yang dimurnikan. c. detektor UV pada panjang gelombang 262 nm. 6 . fisika dan sifat fisikokimia.8 μg/mL. dimana dimulai dari n-heksan.955 gram simplisia R. 100 μl larutan terakhir dibuang. Sedangkan pemurnian dilakukan dengan rekristalisasi. masing-masing sebanyak 370 ml. Masingmasing larutan tersebut diinjeksikan secara terpisah dan dilakukan dengan KCKT dalam kondisi yang sama meliputi . Isolasi dan Pemurnian Senyawa Antibakteri Pemisahan komponen–komponen yang terdapat di dalam fraksi dilakukan dengan Kromatografi Kolom dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).6 mm) Shimadzu).9 gram ekstrak metanol.080 μg/mL. Pemeriksaan sifat fisika meliputi sifat kelarutan dan jarak titik leleh. 43. Untuk kontrol positif ditambahkan 10 μl larutan antibakteri siprofloksasin ( 10μg/mL) pada lubang ke 12 dan 10 μl metanol pada lubang ke 11 sebagai kontrol negatif.8 mg isolat 4AB1 yang sebelumnya telah dikeringkan pada suhu 25oC sampai berat konstan.

Penentuan Sensitifitas Sensitifitas dilakukan dari perhitungan nilai LOD dan LOQ. sehingga didapatkan larutan ekstrak dengan konsentrasi 500 μg/mL. setelah itu dikeringkan di rumah kaca. Selain itu proses pengeringan ini juga berguna untuk mengurangi kandungan air dari simplisia. diaduk sampai larut. Gambar 1. Bahan simplisia daun Rhodomyrtus tomentosa diambil di Kebun Tumbuhan Obat (KTO) Universitas Andalas. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sampel tersebut adalah Rhodomyrtus tomentosa (W. serta bagian tanaman lain yang tidak digunakan. Larutan ini kemudian diijeksikan dengan tiga kali pengulangan kedalam sistem KCKT untuk tiaptiap konsentrasi. Kemudian larutan ini disaring dengan kertas saring Whatman. rumput – rumputan.4 dan 0. Kadar isolat dalam ekstrak ditentukan dengan menggunakan persamaan regresi. Sortasi dilakukan terhadap tanah. Larutan ini kemudian dapat diencerkan. terhindar dari lembab. Sortasi kering bertujuan untuk memisahkan benda-benda asing seperti bahagian-bahagian tumbuhan yang tidak diinginkan atau pengotor-pengotor lain yang masih tertinggal pada simplisia kering tersebut. sehingga tidak dapat ditumbuhi jamur. Penetapan Persen (%) Perolehan Kembali Penetapan % perolehan kembali ini dilakukan dengan cara menambahkan sejumlah isolat yang diketahui kadarnya ke dalam larutan ekstrak. Padang. kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL. d. Konsentrasi larutan sampel yang digunakan disini adalah 40.5 mL. Sumatera Barat (Gambar 1). Simplisia kemudian disimpan dalam wadah tertutup baik dan kedap udara. Dari 8 kg 7 . Dari hasil proses pengeringan ini didapatkan simplisa dengan pemerian berupa lembaran daun berwarna kuning kecoklatan dan tidak berbau. kerikil. Kemudian dicukupkan dengan metanol sampai dengan tanda batas. kemudian dimasukkan kedalam 10 mL larutan ekstrak (40. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisasi rusak atau terurainya senyawasenyawa termolabil serta menghindari rusaknya simplisia akibat pemanasan Sortasi kering merupakan tahapan akhir dalam penyiapan simplisia. Pengeringan dilakukan dengan menghindari terpaparnya . Presisi metoda dilakukan terhadap sampel ekstrak sebanyak 6 kali pengulangan. yang bertujuan agar simplisia dapat tahan lama. dan bebas dari kontaminasi mikroba. dimana enzim menjadi tidak aktif sehingga tidak terjadi penguraian bahan kimia. kemudian dihomogenkan. e. Kemudian dicuci dengan air mengalir.simplisia dari panas matahari langsung. f.24 μg/mL).000 bila dihitung pada panjang gelombang 262 nm. 0. dengan tujuan agar absorban larutan sampel ini tidak lebih dari 2. Proses pengeringan ini bertujuan untuk menghentikan reaksi enzimatik. kemdian dilarutkan dengan metanol.Ait) Hassk tomentosa Selanjutnya dilakukan sortasi basah.Liniritas ditentukan oleh harga r (koefesien korelasi). Penetapan Kadar Isolat dalam Ekstrak dan Simplisia Ditimbang seksama lebih kurang 50 mg ekstrak etil asetat. g.24 μg/mL.Ait) Hassk dari Famili Myrtaceae. Sortasi basah adalah proses pemilahan tanaman yang masih segar. Presisi sistem atau uji kesesuaian sistem dilakukan dengan penyuntikan berulang larutan standar yang diketahui konsentrasinya sebanyak 6 kali dengan batas presisi ≤ 2%. Rhodomyrtus (W. Dengan demikian akan didapatkan simplisia yang awet dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Selanjutnya sampel tersebut diidentifikasi di Herbarium Biologi Universitas Andalas (ANDA). Hasil Proses pembuatan simplisia diawali dengan pengambilan bahan baku. Dari larutan induk isolat 4AB1 (1.3. bahagian tanaman yang rusak. Penetapan Presisi Presisi yang dilakukan mencangkup prsesisi sistem dan presisi metoda.080μg/mL) dipipet sebanyak 0. kemudian sebanyak 20 μl larutan ini diinjeksikan kedalam alat KCKT.

1535 14.057 Replika 1 11.694 % 10.800 gram serbuk simplisia didapatkan ekstrak n-heksan. 195 % 13. Dari hasil karakterisasi simplisia didapatkan hasil seperti yang terlihat pada tabel I Tabel I. Serbuk simplisia yang didapatkan adalah sebanyak 2.567 gram dan 64.190 % 0. Dari hasil pengamatan didapatkan informasi bahwa ekstrak n-heksan. 1979 .865 % 2.524% 0. tampak terdapat kutikula. daun agak tebal. 99.38 kg. etil asetat dan metanol.989 gram.420 2.5 – 2 cm.322 % ± 0.410 % 2. Karakterisasi Simplisia R. Rambut penutup tampak berbentukbatang. epidermis dan mesofil. bau.492 % ± 0.691 % 2. sedangkan uraian mikroskopik mencangkup pengamatan terhadap penampang melintang simplisia atau bahagian simplisia terhadap fragmen pengenal serbuk simplisia. Identifikasi Simplisia Identifikasi simplisia dilakukan dengan memeriksa pemerian dan melakukan pengamatan simplisia secara makroskopik dan mikroskopik.028 10. daun R. pinggir daun rata.027 % ± 0.469% 0. etil asetat dan metanol memiliki aktivitas yang baik terhadap bakteri uji (Tabel II) Simplisia tersebut kemudian diekstraksi dengan cara maserasi dengan sistem kepolaran meningkat.081 % Rata-rata ± Simpangan baku 11. Depkes. warna dan rasa. Pemerian simplisia meliputi pengamatan terhadap bentuk. terpenoid dan fenolik 1 koloni pada pengenceran 10-4 Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antibakteri dari masing-masing fraksi terhadap bakteri uji dengan menggunakan metoda dilusi. permukaan bawah daun berwarna coklat agak kasar. Tujuan dilakukannya pengamatan ini adalah untuk memeriksa bahagian-bahagian spesifik yang terdapat pada Karakterisasi Simplisia organ tumbuhan yang digunakan (Depkes.tomentosa dengan menggunakan mikroskop.171 % 10. etil asetat dan metanol berturut-turut sebanyak 75. dan tulang daunnya menyirip.5 kg.daun basah didapatkan simplisia kering sebanyak 2. panjang daun 4 – 5 cm.769 % 10.208 Mengandung flavonoid.tomentosa No. Pada bahagian Mesofil terdapat polisade dan bunga karang dan spons. 1995).093 % 14. dimulai dari pelarut n-heksan.484 % 0.572 gram.995 % 10.tomentosa terlihat daun merupakan daun tunggal. Ekstrak yang didapatkan kemudian dipekatkan dengan Rotary evaporator.147 % ± 0. 8 . Secara makroskopik. permukaan daun sebelah atas berwarna hijau tua atau muda dengan permukaan yang licin. lebar 1.829 % ± 0. jaringan ikat pembuluh dan trikom.Simplisia yang telah kering dan bersih ini kemudian dihaluskan dengan menggunakan grinder. Pemeriksaan makroskopik dilakukan terhadap karakter daun simplisia. Selain itu terdapat juga stomata tipe anomositik. Berdasarkan pengamatan pada penampang melintang daun R. Dari 1. berbentuk lonjong. 1 2 3 4 5 6 7 Karakterisasi Simplisia Susut Pengeringan Kadar abu total Kadar abu tidak larut asam Kadar sari larut air Kadar sari larut etanol Profil Fitokimia Angka Kamir Kapang Hasil perhitungan Replika 2 Replika 3 11.793 % 14.

Selain itu diperkuat dengan serapan C-O pada sekitar 9 . Gugus OH ini adalah gugus OH yang berasal dari suatu alkohol. Pita pada panjang gelombang 3450 cm-1 KHM (ppm) 6. Proses isolasi dilakukan dengan menggunakan kromatografi kolom dengan menggunakan fasa diam silica GF 60 dengan menggunakan system pelarut step gradient polarity.5 ST EC 15. ekstrak ini dikarakterisasi terlebih dahulu.099±0.1399% 28. etil asetat dan metanol terhadap Bakteri Uji Konsentrasi Hambat Potensi dibandingkan dengan Sipro Minimum (ppm) (Per tiap 1mg/mL ekstrak) Bakteri H E M H E M 7.703% 0. Pemeriksaan dengan menggunakan spektrofotometer Inframerah dapat dilihat pada Gambar 2. Dari hasil isolasi didapatkan isolat 4AB1 berupa serbuk putih Tabel III.9063 31.419±0.Tabel II.897% 14.698% 4. dan hasilnya dapat dilihat pada tabel III. 4.498% 13.113% 0. rhodomyrtone dan turunannya ditemukan pada fraksi etil asetat ini.625 62.2956 0. M : metanol Isolasi senyawa antibakteri dilakukan terhadap ekstrak etil asetat.018 μg/mL (meruncing dan melebar ) menunjukkan adanya gugus hidroksil (OH). larut dalam etil asetat dan metanol. karena pada penelusuran dibeberapa literatur. namun tidak memiliki aktivitas yang baik terhadap V.64 0.Thypimurium ATCC 14028. Data KHM dan Potensi Ekstrak n-heksan.5 31.coli ATCC 25922 dan S.125 Potensi Terhadap Sipro (per tiap 1 μlg/mL larutan isolat) 4.11 x 10-5 μg/mL 0.0999% 4. Dari hasil pengujian tampak bahwa.20 kekuningan dengan titik leleh 148-149oC.677 0. isolat memiliki aktivitas antibakteri yang baik terhadap bakteri E.796% Rata-rata ± Simpangan baku 28.52x10-5 1.0270.04 4.9063 62.778x10-4 1.193% Fenol dan Terpenoid Tabel IV. Uv-Visibel dan NMR.094% 14.14 μg/mL 0. E : etil asetat . karena memberikan serapan yang melebar pada 3500-3300 cm-1 .698±0. Tabel V.parahaemolyticus 8070 (Tabel IV). 1 2 3 4 5 Karakterisasi Simplisia Susut Pengeringan Kadar abu total Kadar sari larut air Kadar sari larut etanol Profil Fitokimia Hasil perhitungan Replika 1 Replika 2 Replika 3 28.0600% 28.8125 3.93 x 10-6 VP 7.152 0. Data KHM dan Potensi Isolat 4AB1 Terhadap Bakteri Uji Bakteri Vibrio parahaemolyticus 8070 Salmonella thypimurium ATCC 14028 Eschericia coli ATCC 25922 Isolat kemudian dikarakterisasi dengan menggunakan spektrofotometer inframerah. ST : Salmonella thypimurium ATCC 14028 EP: Eschericia coli ATCC 25922 H : heksan .25 1.061 0. Sebelum dilakukan isolasi.25 15.00178 Ket : VP: Vibrio parahaemolyticus 8070 .25 6.25 3.199 14.00489 1.440% 0. Karakterisasi Ekstrak Etil acetat No. Isolat ini kemudian diujikan aktivitas antibakterinya dan potensinya bila dibandingkan dengan antibiotika siprofloksasin.625 3.

Tabel VI. Pita pada 2953 cm-1 menunjukkan adanya gugus CH3. Pita pada 1159 cm-1 menunjukkan adanya regang C-O (≡C-O-). Pita pada 1660.82 cm-1 menunjukkan adanya gugus CH3.81 1377.41 1601. Spektrum Ultraviolet Isolat dalam Metanol 10 .56 cm-1 menunjukkan adanya regang C=O pada cincin aromatik. 4.41 cm-1 dan 1602. yang berasal dari gugus keton. 8 Panjang Gelombang 3450. Spektrum Inframerah Isolat 4AB1 Tabel V. Pita pada 1277.89 1277.59 1460. 2.03 2952. Pita pada 1460 cm-1 menunjukkan adanya gugus CH dan pada 1379. 7. Gambar 2.1300-1000 cm-1. 6.61 cm-1 menunjukkan regang C-O dari suatu eter ( =C-O-C≡). Data Spektroskopi Inframerah Isolat No 1. 3.48 1660.61 1159 Gugus Renggang O-H C-H Alifatis C=O C=C C-H bending C-H bending Renggang C-O C-O streching Pemeriksaan dengan menggunakan spektrofotometer Uv-Visibel dapat dilihat pada Gambar 3. 5. Gambar 3.

37 211. Berdasarkan hasil analisa spektrum UV.4 56.0 dan 222. Penggunaan Metanol sebagai pelarut dalam pengukuran spektrum UV ini dikarenakan senyawa hasil isolasi larut baik dalam Metanol.8 25 23.17 100.10. Pada panjang gelombang 262.47 25. COSY yang telah dianalisis pada masing-masing spektrumnya dilakukan studi literatur untuk menentukan struktur senyawa isolat 4 AB1.33 166.49 153. Dachriyanus.59 45.75 30.87 1.12.10.0 211.37 46. HMQC.83 (d) 0.74 109.3 197.3 166.84 (d) δH ppm 1.02 26.7 150.4.12. H.99 1. Data Spektroskopi UV Isolat dalam Metanol No 1. 2.6 107.13-dioxapentaphene-1.39 (t) 1.41 161. 1982).4 4.19 1.86 (d.64 23.15.8.3 23. dan struktur pada gambar 4 Berdasarkan pita serapan maksimum yang diperoleh dari spektrum UV terindikasi adanya ikatan rangkap berkonyugasi. 13C-NMR.84 150.5 1. 3. Dari studi literatur diketahui bahwa 4AB1 adalah 7-hydroxy-8.94 42.4 1. karena sistem konyugasi ini menyerap cahaya pada panjang gelombang di atas 200 nm. 2004) Isolat 4AB1 No 1 2 3 4 4a 4b 5 6 7 8 8a 9 9a 10 11 δC ppm 197. disamping itu Metanol merupakan pelarut polar yang lebih berikatan hidrogen dibandingkan pelarut nonpolar (n-heksana). 3.2 46.37 29. Energi yang diperlukan untuk transisi π ke π* pada molekul yang berantaraksi (senyawa hasil Tabel VII.45 150.00 47.d) 1.03 212.Tabel VI.40 262.3 23.90 (d) 11 .74 104.2 211.136 1.33 2.4 105.71 114.4.16 (d) δH ppm 0.62 108.26 54.5 1.79 25.60 Absroban 1.76 55.04 (d) 1.8 25.5 0.329 1.5 25.3.40 (s) 1.53 (s) 1. HMBC.12-octamethyl-6(3-methylbutyryl)-4.97 3.87 (m) 1.49 56.2 166. Oleh karena itu.552 isolasi) dengan pelarut polar (Metanol) lebih kecil daripada energi yang diperlukan untuk transisi π ke π* dalam pelarut non polar (nheksana).40 nm menunjukkan adanya eksitasi elektron dari n-π* yang diduga berasal dari gugus C=C-O.73 (m) 3.66 20.6 160.9 24.60 nm menunjukkan adanya eksitasi electron dari π-π* yang diduga berasal dari gugus C=C (Cresswell. 2008.5 107. Perbandingan Data 13C-NMR dan 1H-NMR Isolat 4AB1 Dengan Rodomyrtosone C (Asadhawut.18 210.67 25.14-tetrahydro5.8 113.9.11-tetraone (Rhodomyrtosone C) dengan rumus molekul C41H54O8.35 (t) δH ppm 5` 1'' 2" 3" 4" 1"' 2"' 3"' 4"' 5"' 6"' 7"' 8"' 9"' 10"' Rhodomyrtosone C No δC ppm 22.7 152. Pada panjang gelombang 300.2. H-NMR.24 (s) 4. keadaan tereksitasi akan lebih dimantapkan oleh Metanol daripada keadaan dasar dan absorbsi akan terjadi pada panjang gelombang yang lebih stabil dan optimum.4 47.3 24.6 45.37 (s) 4.35 0. Panjang Gelombang Maksimum 300.14diisobutyl-2.4 25.6 114.6 56.0 222.5 0.6 47.27 (dd) δH ppm δC ppm 197. IR.868 Isolat 4AB1 Rhodomyrtosone C δC ppm 22.

7 25 204.69 Height 258485 510807 698133 913318 1120624 % Height 76. fasa gerak yang digunakan adalah metanol 100%. 3.48 (s) 3.24 24. 32.42 (s) 1.6.35 (s) 0.517 4.27 (m) 1.1 24.44 77.64 (s) 1. 2.78 25.39 (s) 1.6 1.tomentosa dilakukan dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).78 .68 76.513 4.6 32.507 4.40 (m) 1.86 71.6 24.887 24.9 0. Dari hasil pengujian didapatkan data luas area seperti yang terlihat pada tabel VIII Tabel VIII. Konsentrasi larutan isolat 4AB1 yang digunakan adalah 10.44 (s) 1.13 1.2 54 Area 1448261 2841164 3861706 5058637 6085819 Waktu Retensi 4.60 75.66 (s) 1.8611x dimana koefesien korelasinya ( r ) sebesar 0. Kondisi sistem yang digunakan adalah kolom absrobsi fasa normal.2 dan 54 ppm.503 4.37 205.46 24. 43.9962 12 .3 24.8 24.98 (d) 1. Penetapan Liniritas dan Kurva Kalibrasi Penetapan liniritas merupakan suatu metode analisis yang menggambarkan kemampuan suatu alat untuk memperoleh hasil pengujian yang sebanding dengan kadar analit dalam zat uji pada rentang kadar tertentu.37 23. Sampel diinjeksikan dengan menggunakan injektor sistem pipa dosis (loop valve) sebanyak 20 μL.4.5 22.60 81.9 24.24 22.19 70.23 (dd) .81 4' O OH 1" O H 10 1' 5' 9 8 7 8a 4b 9a 1 2' 11 6 3 O 15''' 7''' 5''' O H 13 12 O 14''' 3''' 1''' 10 ''' 11''' O 13''' O 12''' Gambar 4.11 Dari data tersebut didapatkan persamaan garis y = 411340.01(d) 1.02 (dd) 2.21 71.513 Area % 70. Data Linearitas dan Kurva Kalibrasi Isolat Konsentrasi (μg/mL) 10.8 . dan volume penyuntikan 20 μL. detector UV pada panjang gelombang 262 nm. 21.51 (s) 53.4 43.81 1. Struktur Rhodomyrtoson C Penetapan Kadar Isolat dalam Ekstrak dan Simplisia dengan Metoda KCKT Penetapan kadar isolat dari ekstrak dan simplisia R.37 (s) 1.12 13 1' 2' 3' 4' 24.53 1. laju alir 1 mL/menit.79 77.64 54.8 21.8 25.05 (d) 3'' 4'' 11"' 12''' 13"' 14"' 15"' 24.62 (s) 23. Liniritas metode penentuan kadar isolat 4AB ditentukan dengan cara membuat kurva hubungan antara konsentrasi standar pada sumbu x dan luas area pada sumbu y.52 (s) 2. Masing-masing larutan tersebut diinjeksikan pada alat KCKT dengan sistem yang sama sebanyak 20 μl.2 23.7 + 106412.65 2.

5 4.513 μg/mL. al. Dari hasil pengujian didapatkan harga Relatif Standar Deviasi (RSD) dari 6 kali penyuntikan larutan standar adalah sebesar 2.Kurva Kalibrasi 7000000 6000000 5000000 A r 4000000 e 3000000 a 2000000 1000000 0 0 10 20 30 40 Konsentrasi (μg/mL) 50 60 Pada saat dilakukan uji T student untuk membuktikan adanya hubungan antara konsentrasi dengan luas puncak pada taraf kepercayaan P = < 0.17396023 65. Penetapan Sensitifitas Kepekaan metode analisa ditentukan oleh batas deteksinya (LOD) sedangkan batas kuantitas terkecil yang masih dapat dianalisa oleh suatu metode dengan cermat diistilahkan sebagai LOQ. dimana harus kecil atau sama dengan 2%. No 1 2 3 4 5 6 Rata-rata SD RSD LOD= 3.56510% Konsentrasi (μg/mL) 67. yang berarti ada korelasi yang bermakna antara konsentrasi dengan luas area.52 4. metoda 13 . Pada uji kesesuaian sistem (presisi sistem) dilakukan penyuntikan berulang larutan standar yang diketahui konsentrasinya sebanyak 6 kali penyuntikan.5134143 64.154 μg/mL dan LOQ= 10. et. Data Hasil Uji Presisi Sistem Larutan Isolat 4AB1 Konsentrasi 64. Hasil perhitungan LOD dan LOQ analisa isolat 4AB diperoleh dari persamaan regresi larutan standar adalah Tabel IX.01 ternyata t hitung = 0.023 .54560574 1.78062171 67. 1992).25594% Area 7559514 7808462 7304832 7559514 7418740 7304832 7492649 192194.tomentosa dengan cara yang sama sebanyak 6 kali pengulangan .78062171 66.85105623 64.17396023 69. Penetapan Presisi Presisi yang dilakukan meliputi uji kesesuaian sistem dan metoda.71410% Presisi metoda dilakukan dengan replikasi atau keberulangan sampel ekstrak etil asetat R.5145 0.. hal ini bertujuan untuk melihat kinerja alat pada kondisi dan hari pengujian dengan batas presisi RSD ≤ 2%.52 4.714 % .806116421 2.527 4. Hal ini berarti metode yang digunakan belum memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia edisi IV. Limit deteksi ini ditentukan dari persamaan regresi linear kurva standar hasil penentuan uji linearitas (Funk.52 4.01155422 0. maka Ho ditolak.0159 2.8 μg/mL Waktu Retensi 4.5 4.

Tabel X.5 774005.08 40.42460 3. 2000).544% 8.2 50.08 13221.dikatakan memenuhi persyaratan apabila nilai RSD ≤ 2% (USP.646% % b/b 8.1 50.1 50. Dari Tabel X.422% 8. dimana memberikan absorban 1.16 Luas Puncak Perlakuan 785370 793201 775280 765840 771701 776245 781411 779967 751452 756069 Rata-rata 789285.45 μm sebelum diinjeksikan kedalam KCKT.4080 0. didapatkan data kadar relatif isolat tersebut sebesar 8.08 40. karena nilai RSD yang didapatkan besar dari 2% (USP . No 1 2 3 4 5 6 Berat Ekstrak Tertimbang (mg) 50. Lampiran 2 Gambar 41-46).1 50.1242 3.24 μg/mL.013% 14 .625% 8.5 Kadar (%) 8.24 40.708% Kadar (μg/mL) 3.826% 8.422% 8.826% 8.5 770560 773973 780689 753760.013% 8.47089 3.21784 3.08 40.16 40.24 40.1 Luas Puncak Perlakuan 785370 793201 775280 765840 771701 776245 781411 779967 751452 756069 775280 776245 Rata-rata 789285.955 gram) adalah sebesar 0.1 50.3 50.2 Kadar Larutan (μg/mL)** 40.08 pengujian bahwa presisi metode pengujian Isolat dalam ekstrak etil asetat R. Data Hasil Uji Presisi Metoda Kadar yang Diinjeksikan (μg/mL) 40.271% 3.3 50.24 40.08 40.5 770560 773973 780689 753760. Konsentrasi ekstrak yang digunakan pada pengujian ini adalah 40. Sedangkan kadar relatif isolat dalam simplisia yang digunakan (45.502% 8.502% 8.0088% (Tabel XI).488%±0.24 40.625% 8.192% Rata-Rata SD RSD Penetapan Kadar Isolat dalam Ekstrak dan Simplisia Pada penetapan kadar relatif isolat dari ekstrak etil asetat.2771+% 0.37571 3.tomentosa adalah sebesar 3.27 (Tabel X) .7714 1. Hal ini menunjukkan bahwa metode ini belum memenuhi persyaratan. Larutan ini kemudian disaring dengan kertas saring whatman 0.3 50. Data Hasil Penetapan Kadar Relatif Isolat dalam Esktrak Etil Asetat No 1 2 3 4 5 Berat Tertimbang* (mg) 50.3 50.635 pada panjang gelombang 262 nm.192 % (Tabel 18.55168 3.40778 3. 2000).489% 0.5 775762.

9735% 0. 432 .1 50.1 Rata-rata SD Kadar dalam Ekstrak (% b/b) 8. 0.967 327.520% 114.0126% 8.278% 0. Kemudian sejumlah isolat dimasukkan kedalam larutan tersebut.7375% 0. Larutan sampel yang digunakan adalah larutan sampel 40.157% 108.6876% 101.356 Perolehan Kembali (%) 100.2079 617.271% * Ekstrak tersebut dilarutkan dalam 100 mL metanol (50 mg/100 mL) * *kadar larutan yang diinjeksikan ke KCKT.042% 111.26% 0. Pengujian dilakukan 2 hari.179% 102.916% 101. dimana kadar isolat dalam larutan tersebut adalah 3.8198 332.0088% Penetapan Persen (%) Perolehan Kembali Pada penetapan persen (%) perolehan kembali sejumlah isolat yang diketahui kadarnya ditambahkan ke dalam larutan sampel. No 1 2 3 4 5 6 Kadar Relatif Isolat dalam Simplisia R.5025% 8.3 mL.288% 0.3 50.5444% 8.083 8.279% 0. Data % Perolehan Kembali Hari Pertama Isolat 4AB1 Ditambahkan Terukur (μg) (μg) 324 324 324 432 432 432 540 540 540 326. Dari hasil pengamatan didapatkan data % perolehan kembali dapat dilihat pada Tabel XII dan Tabel XIII Tabel XII.9582% Rerata (%) SD RSD 15 .282% 0.08 775280 776245 775762.1786 623.7704% 107.8066 460.24 μg/mL sebanyak 10 mL.718% 106.5 mL larutan isolat dipipet dari larutan induk isolat 1080 μg/mL.1 40.1 50.4 mL dan 0. sehingga kadar yang ditambahkan berturut-turut sebesar 324 .292% 115.0138% 1.3 50.4224% 8.48 μg/mL (34.544% 774005.2771% 0.262% 0.8μg/10mL).9174 466.7431 602.436% 113.7714 0.8263% 8.417 462. dimana disiapkan dengan cara mempipet 0.2 50.75% 2.4889% 0.2709% Kadar dalam Simplisia (%) 0. dan 540 μg.275% 0.8 mL dari 50mg/100 mL dan dilarutkan dalam metanol ad 10 mL Tabel XI.6 50.5 8.489% Rata-Rata SD 13221.tomentosa Berat ekstrak (g) 50.578% 107.60% 0. Sebanyak 0.6255% 8.

Etil asetat .6376 589.698±0.2026 446.322%±0. 6) Dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dengan kolom fasa normal.5293% 103. dan kadar senyawa terlarut dalam etanol 14. Saran Dari hasil penelitian yang telah dilakukan . Spektrum UV.1018 324 324 432 432 432 540 540 540 316.Tabel XIII. kadar senyawa terlarut dalam campuran air:kloroform 10.419±0.420. Marcell Dekker. “Chromatographic anaysis of Pharmaceuticals”.198% 102.130% 103.52% 0.5744% 0.312% 108.20. 2) Dari karakterisasi simplisia didapatkan hasil susut pengeringan 11. Pemeriksaan mikroskopik adanya fragmen pengenal seperti rambut penutup berbentuk batang dan stomata tipe anomositik. Isolat ini berbentuk serbuk putih kekuningan dengan titik leleh 148-149 oC. pengelusi metanol 100% dengan kecepatan aliran 1mL/menit didapatkan hasil kadar relatif isolat dalam ekstrak etil asetat sebesar 8.08% 0.542% 98. New York. Data % Perolehan Kembali Hari Kedua Isolat 4AB1 Ditambahkan Terukur (μg) (μg) 324 319.027±0.057 .027±0. HMBC.27% ± 0.028 . dan kadar senyawa terlarut dalam etanol 14. HMQC dan COSY.488% 97. 3) Dari karakterisasi ekstrak aktif antibakteri (etil asetat) didapatkan hasil susut pengeringan 28.208 .7666% 98.3898 583.5234 584. dan simplisia mengandung senyawa fenolik.489% ± 0.562% 108. Vibrio parahaemolyticus 8070 dan Eschericia coli ATCC 25922. kadar abu tidak larut asam 0.008% . 4) Ekstrak n-Heksan .04% 0.829±0.0374 318. ekstrak n- Heksan .7903 447.04 . 5) Dari hasil isolasi senyawa aktif antibakteri dari ekstrak etil asetat didapatkan isolat 4AB1 yang diidentifikasi sebagai senyawa Rhodomyrtosone C berdasarkan data Spektrum IR. Namun berdasarkan potensinya bila dibandingkan dengan antibakteri Siprofloksasin. Metanol dan Isolat 4AB1 tidak menunjukkan aktivitas antibakteri yang baik terhadap bakteri Vibrio parahaemolyticus 8070.271% dan 0.1535 % . kadar abu 0.2956 . kadar abu 2.199.7899% 0.081% 109. Etil asetat .0999±0. DAFTAR PUSTAKA Adamovics. tomentosa dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1) Pemeriksaan organoleptis/makroskopis simplisia yaitu berupa lembaran daun berwarna coklat dan tidak berbau.171% 108.. Metanol dan Isolat 4AB1 memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Salmonella thypimurium ATCC 14028. perlu dilakukan pengembangan metode yang digunakan pada KCKT agar hasil yang didapatkan dapat memenuhi parameter validasi yang baik.A. kadar senyawa terlarut dalam campuran air:kloroform 4.492±0.147±0.424% 103. H-NMR. 1990 16 . J. flavonoid dan terpenoid.4941% Rerata (%) SD RSD Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap simplisia R.4846% 0.8835 Perolehan Kembali (%) 98. C-NMR. DEPT.1624 441.

Simes. Yogyakarta. An Australian Phytochemical Survey. Wilawan. H. Bandung: ITB Dachriyanus. 8-15. II. (1995). (1966). V. 47-68. Salah Satu Tahapan Penting Dalam Pengembangan Obat Asli Indonesia. 4.J. and A. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. 6. I. Materia Medika Indonesia (Jilid V). Vlientinck. Badan POM RI. L. The Standart Cyclopedia of Horticulturae. M. (1982). J. J. Prestasi Insan Indonesia.M. Vol. Tjitrosoepomo. (1999). Jakarta: Depkes Republik Indonesia. Vol.G. III. 17 . H. (2008). Kuala Lumpur. A. Jakarta : Depkes Republik Indonesia. Jilid 1. and W. Dunstan. webb. Gadjah Mada University Press. J. (2005). (2000). Methods in Plant Biochemistry.. H. (1994). C. Info POM. Depkes Republik Indonesia. Burkill. (1979). Padang: Universitas Andalas. Journal Tetrahedron 64. Malaysia. (1930). Analisis Spektrum Senyawa Organik. D. 421423 Wijayakusuma. Bailey. No. (1991).H. (2004). New acylphloroglucinols from the leaves of rhodomyrtus tomentosa. The Macmillan Company. J. G. 11193-11197. J. Cresswell. Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Jakarta : Depkes Republik Indonesia. A Dictionary of Economic Product of The Malay Peninsula. Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization. 1-5. New York. Standarisasi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia. (1989). Cytotoxic Compounds from Karamunting (Rhodomytus tomentosa). Vol.6. Tracey. L.Asadhawut. Farmakope Indonesia (Edisi III). J.. Government of Malaysia and Singapore by The Ministry of Agriculture and Cooperatives. Depkes Republik Indonesia. Depkes Republik Indonesia. Screening Methods for Antibacterial and Antiviral Agents from Higher Plants. Jakarta. H. in Hostettmann (Ed). Berghe. (Edisi 2). Parameter Standar Umum Pembuatan Ekstrak Tumbuhan Obat. H.