You are on page 1of 17

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari tuberkulosis ? 2. Apa saja klasifikasi tuberkulosis ? 3. Apa penyebabnya ? 4. Bagaimana epidemiologi penyakit tuberkulosis ? 5. Bagaimana manifestasi klinis tuberkulosis ? 6. Jelaskan patogenesis tuberkulosis ? 7. Bagaimana pemeriksaan klinis dan penunjang pada tuberkulosis ? 8. Bagaiman gambaran HPA tuberkulosis ? 9. Bagaimana penatalaksanaan tuberkulosis ? 10. Apa saja komplikasi dari tuberkulosis ? 11. Bagaimana prognosis tuberkulosis ? 12. Bagaimana evaluasi pada pengobatan tuberkulosis ?

C. Tujuan Penulisan 1. Menjelaskan definisi tuberkulosis 2. Menjelaskan klasifikasi tuberkulosis 3. Menjelaskan etiologi tuberkulosis 4. Menjelaskan epidemiologi tuberkulosis 5. Menjelaskan manifestasi klinis tuberkulosis 6. Menjelaskan patogenesis tuberkulosis 7. Menjelaskan macam-macam pemeriksaan(penegak diagnosis) untuk tuberkulosis 8. Menjelaskan gambaran HPA tuberkulosis 9. Menjelaskan penatalaksanaan tuberkulosis 10. Menjelaskan komplikasi tuberkulosis 11. Menjelaskan prognosis tuberkulosis 12. Menjelaskan evaluasi tuberkulosis

1|Page

Metode Penulisan  Metode Literatur Penyusun melakukan metode literatur dengan berpedoman pada bukubuku kedokteran dan buku-buku kesehatan lainnya yang relevan dengan topik.  Metode Teknologi Penyusun mengambil sebagian bahan dari internet dengan sumber yang valid.D. 2|Page .

Tuberkulosis paru BTA (-) . b.Sekurang-kurangnya 2dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif. 2009).BAB II PEMBAHASAN A. . Kasus kambuh (relaps). Tuberkulosis Paru Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru.2013). b.Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif. tidak termasuk pleura. adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan. Berdasarkan tipe pasien Kasus baru. Klasifikasi Tuberkulosis A.  a. Tuberkulosis merupakan infeksi menular yang di tularkan melalui orang ke orang yang biasanya mempengaruhi paru-paru. adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau 3|Page . gambaran klinik dan kelainan radiologik menunjukkan tuberkulosis aktif. B. .Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA) Tuberkulosis paru BTA (+) . Definisi Tuberkulosis Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi kronik yang menular yang disebabkan oleh spesies Mycobacterium tuberculosis dan ditandai dengan pembentukan tuberkel serta nekrosis kaseosa pada jaringan (Jannah. Tuberculosis positif  a.Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M. . di tularkan melalui batuk dan bersin (Ann R.Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. Punnose.

pengobatan lengkap. d. 4|Page .Infeksi non TB (pneumonia.TB paru kambuh Bila meragukan harap konsul ke spesialis / ahlinya. Kasus gagal. e. Dalam hal ini diberikan dahulu antibiotik selama 2 minggu kemudian di evalusi. bronkiektasis. dll). adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau pasien dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan. Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologik dicurigai lesi aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan : . adalah pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatan selesai. Riwayat pengobatan OAT adekuat akan lebih mendukung. Kasus defaulted atau drop out. . Catatan : . Kasus kronik / pesisten. atau foto serial menunjukkan gambaran yang menetap. kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif dan biakan positif.Kasus pindahan (transfer in) adalah pasien yang sedang mendapat pengobatan di suatu kabupaten dan kemudian pindah berobat ke kabupaten lain. . adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik.Kasus bekas TB adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan gambaran radiologik paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif. c.Infeksi jamur . Atau pada kasus dengan gambaran radiologik meragukan dan telah mendapatkan pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto toraks ulang tidak ada perubahan gambaran radiologik.

selaput otak. usus. ginjal. misalnya kortikosteroid Faktor sosial ekonomi. Misalnya lingkungan rumah yang buruk. Manalu.B. alat kelamin dan lain-lain. Afrika dan Amerika merupakan negara yang angka infeksinya tertinggi dari tuberkulosis. 5|Page . Satu dari tiga populasi dunia diperkirakan telah terinfeksi TB dan tujuh sampai delapan juta kasus terjadinya setiap tahunnya. 2009 . perikard. Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi. Berikut merupakan faktor predisposisi pada penyakit tuberkulosis : imunosupresi malnutrisi perawatan kesehatan yang kurang infeksi HIV memakai obat yang mempengaruhi sistem imun. kemiskinan dan lain-lain (Jannah. misal pleura. kepadatan hunian. dengan jumlah sekitar 10% dari total penderita TB di dunia. Tuberkulosis sering ditemukan pada negara berkembang. 2010) D. 2005) C. Epidemiologi Tuberkulosis TB masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Indonesia adalah negeri dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah China dan India. Cina. kelenjar getah bening. 2009). India. tulang. Tuberkulosis Ekstra Paru Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. saluran kencing. persendian.2012 . Asia tenggara. Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstra paru aktif (PDPI. Sekitar 75% penderita TB adalah kelompok usia produktif secara ekonomis yaitu 15-50 tahun (Ratnasari. Jannah. Etiologi Tuberkulosis Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosiS. kulit.

 Pada TB rongga mulut terjadi pembesaran kelenjar limfe daerah preaurikular. 2009). nafsu makan menurun.  Pada lidah terjadi makroglosia dan memberi kesan glossitis. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer 4-6 minggu dan waktu inkubasi 6 bulan (Putri. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya. dasar mulut. Manifestasi Klinis Tuberkulosis Gejala klinis pada penderita TB bermacam-macam.2013 . batuk darah  Gejala sistemik : sesak nafas. demam meriang lebih dari sebulan (Putri. rasa kurang enak badan. ulser ditutupi pseudomembran putih keabu abuan dan mukosa sekitar ulser inflamasi dan edematus (Anitasari S. dan terus berjalan sehingga sampai alveolus dan menetap disana. glossitis dan ulkus. F. fissure. pinggirannya meninggi. Tuberkulosis rongga mulut (oral tuberculosis) dapat primer. nyeri dada. palatum. berkeringat malam tanpa kegiatan. Kuman masuk melalui saluran pernafasan akan dibawa ke kelenjar limfe disekitar hilus paru. bibir. trismus. trakheitis dan laringitis. Punnose. kadang-kadang juga di gusi. dan ini disebut sebagai kompleks primer atau kompleks paru. Jannah. Pada umumnya lesi tuberkulosis terletak di lidah. yaitu :  Gejala klinis : batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih dahak bercampur darah. meliputi gejala klinis dan sistemik. Surapan. berat badan turun. 2008 . 2003). 2011 . Hal tersebut disebut kompleks paru. 2007). Ann R. Warouw. Infeksi dimulai saat kuman TBC berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru. 6|Page .E. badan lemah.  Pada tipe lesi tuberkulosis rongga mulut ditemukan granuloma. mukosa bukal.  Ulser tidak beraturan. tetapi umumnya merupakan manifestasi sekunder tuberkulosis paru. tidak sakit. sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus. Patogenesis Tuberkulosis Infeksi primer terjdi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TBC. 2008 .

2. 2007). dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Gejala sistemik . Masa inkubasi. G. Diagnosis Tuberkulosis Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan :  Gejala klinik Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan.Nyeri dada Gejala respiratorik ini sangat bervariasi. yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit. misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening. anoreksia.Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Gejala respiratorik . pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis.Gejala sistemik lain: malaise. 3.Batuk 2 minggu .Batuk darah . yaitu gejala lokal dan gejala sistemik. dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak ke luar. diperkirakan sekitar 6 bulan (Putri.Sesak napas . berat badan menurun. 2008. Kadang pasien terdiagnosis pada saat medical check up. keringat malam. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi bronkus. 1. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit. 7|Page . maka pasien mungkin tidak ada gejala batuk. bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala respiratorik (gejala lokal sesuai organ yang terlibat).Demam . Warouw. Gejala tuberkulosis ekstra paru Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat. sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan.

Pagi ( keesokan harinya ) . kadang-kadang di daerah ketiak. Pemeriksaan fisik / jasmani Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung dari organ yang terlibat. pada auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan. Pada tuberkulosis paru. kelainan yang didapat tergantung luas kelainan struktur paru. Pada pleuritis tuberkulosa. kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL). terlihat pembesaran kelenjar getah bening.Sewaktu / spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi) atau setiap pagi 3 hari berturut-turut. Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan. faeces dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH) b. liquor cerebrospinal. Bahan untuk pemeriksaan bakteriologik ini dapat berasal dari dahak. Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan antara lain suara napas bronkial. Cara pengumpulan dan pengiriman bahan Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS): . suara napas melemah. serta daerah apeks lobus inferior (S6). Pada perkusi ditemukan pekak. cairan pleura. urin. amforik. bilasan lambung. tanda-tanda penarikan paru. kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari banyaknya cairan di rongga pleura. Pada limfadenitis tuberkulosa. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apeks dan segmen posterior (S1 & S2) . Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi “cold abscess”. bilasan bronkus. Bahan pemeriksasan Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. 8|Page .Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan) .  Pemeriksaan bakteriologik a. ronki basah. diafragma & mediastinum. tersering di daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor).

Gambaran radiologik yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat. top-lordotik.Bahan pemeriksaan/spesimen yang berbentuk cairan dikumpulkan/ditampung dalam pot yang bermulut lebar. Pada pemeriksaan foto toraks.Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang) Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif . tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam--macam bentuk (multiform).Bayangan bercak milier .Kaviti.Fibrotik . oblik. CT-Scan. Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologik untuk memastikan aktiviti proses penyakit Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat dinyatakan sbb (terutama pada kasus BTA negatif) : Lesi minimal. dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular . Pemeriksaan lain atas indikasi: foto lateral.  Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA.Kalsifikasi . ektasis/ multikaviti dan fibrosis parenkim paru. tidak mudah pecah dan tidak bocor. Sulit untuk menilai aktiviti lesi atau penyakit hanya berdasarkan gambaran radiologik tersebut.Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah . Gambaran radiologik luluh paru terdiri dari atelektasis. terutama lebih dari satu. Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif : . bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas tidak lebih dari sela iga 2 depan (volume paru yang terletak di atas chondrostemal junction dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari 9|Page . berpenampang 6 cm atau lebih dengan tutup berulir. biasanya secara klinis disebut luluh paru .Schwarte atau penebalan pleura Luluh paru (destroyed Lung ) : .

H. 2005.vertebra torakalis 4 atau korpus vertebra torakalis 5).  Pemeriksaan penunjang lainnya : pemeriksaan PCR. Hateyaningsih. Tahap awal (intensif) Pasien mendapat obat setiap hari. Gambaran HPA Gambaran histopatologi kuman Mikobakterium Tuberkulosis (A) Sel epitel numerous dan sel Giant Langhans multipel dengan pewarnaan HE (B) Basil tahan asam pada pewarnaan Ziehl Nielsen. yaitu : a. pemeriksaan histopatologi jaringan (PDPI. serta tidak dijumpai kaviti Lesi luas Bila proses lebih luas dari lesi minimal. 2009). 10 | P a g e . biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Berikut merupakan gambaran HPA pada pemeriksaan mikroskopik (Surapan 2003) . 2009 . Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat. I. pemeriksaan serologi. Penatalaksanaan pada Tuberkulosis Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. uji tuberkulin. Jannah.

2008).  Susunan saraf pusat yang menyebabkan radang selaput otak (tuberculosis meningitis pada anak-anak. Berikut merupakan nama obat-obatan untuk pengobatan tuberkulosis beserta dosisnya. Tahap lanjutan ini penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan (Manalu. 2010).  Pada kerangka tubuh mengakibatkan osteomyelitis (Tan Hoan Tjay. namun dalam jangka waktu yang lama. 11 | P a g e . Tahap lanjutan Pasien mendapat jenis obat lebih sedikit yang diminum 3x seminggu. J.b. Komplikasi  Pada saluran cerna dapat menyebabkan terjadinyaa TBC lambung  Ginjal dan juga bagian-bagian dari sistem urogenital(penyebab kemandulan pada wanita).

2 .Pasien dievaluasi setiap selanjutnya setiap 1 bulan. 3. dan efek samping obat. batuk dan bersin sambil menutup mulut atau hidung dengan sapu tangan atau kertas tissue 2. 2007)  Terjadi komplikasi jika tidak di obati seperti kanker paru-paru (John M.tindakan pencegahan selayaknya untuk menghindarkan droplet infection dari penderita ke orang lain : 1.6 /9 bulan pengobatan) . 2011) M. Anak – anak di bawah usia 1 tahun dari keluarga yang menderita TBC perlu divaksinasi BCG sebagai pencegahan.Evaluasi : respons pengobatan dan ada tidaknya efek samping obat serta ada tidaknya komplikasi penyakit. . Prognosis  Sangat baik apabila didiagnosis dan diobati secara baik (Warouw.  Evaluasi klinik . berat badan. Grange. pemeriksaan fisik.K. Evaluasi Pengobatan Evaluasi pasien meliputi evaluasi klinik. Bila penderita berbicara dianjurkan untuk tidak terlalu dekat dengan lawan bicaranya. Pencegahan Penularan perlu diwaspadai dengan mengambil tindakan. 2 minggu pada 1 bulan pertama pengobatan 12 | P a g e . (Hoan Tjay Tan. . serta evaluasi keteraturan berobat.Tujuan untuk mendeteksi ada tidaknya konversi dahak. radiologik.  Evaluasi bakteriologik (0 . 5. 4. bakteriologik. Ventilasi yang baik dari ruangan juga memperkecil bahaya penularan.Evaluasi klinik meliputi keluhan . 2009) L. didesinfeksi dengan Lysol atau dibakar.

. Bila pada evaluasi klinik dicurigai terdapat efek samping. . . SGOT.Pada anak dan dewasa muda umumnya tidak diperlukan pemeriksaan awal tersebut.Yang tidak kalah pentingnya adalah evaluasi keteraturan berobat dan diminum / tidaknya obat tersebut. fungsi ginjal dan darah lengkap.Bila mungkin sebaiknya dari awal diperiksa fungsi hati. dan gula darah .Asam urat diperiksa bila menggunakan pirazinamid. . kreatinin.Pemeriksaan & evaluasi pemeriksaan mikroskopik (sebelum pengobatan dimulai. .  Evaluasi efek samping secara klinik . ..Fungsi hati. bilirubin.SGPT.Pada akhir pengobatan.Setelah 2 bulan pengobatan (kecuali pada kasus yang juga dipikirkan kemungkinankeganasan dapat dilakukan 1 bulan pengobatan).Bila ada fasiliti biakan : dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi  Evaluasi radiologik (0 . maka dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikannya dan penanganan efek samping obat sesuai pedoman. fungsi ginjal : ureum. Penyuluhan atau pendidikan dapat diberikan kepada pasien. Dalam hal ini maka sangat penting penyuluhan atau pendidikan mengenai penyakit dan keteraturan berobat. Yang paling penting adalah evaluasi klinik kemungkinan terjadi efek samping obat. keluarga dan lingkungannya.Sebelum pengobatan.  Evalusi keteraturan berobat .Ketidakteraturan berobat akan menyebabkan timbulnya masalah resistensi.2 – 6/9 bulan pengobatan) Pemeriksaan dan evaluasi foto toraks dilakukan pada: . .Pasien yang mendapat streptomisin harus diperiksa uji keseimbangan dan audiometri ( bila ada keluhan).Pemeriksaan visus dan uji buta warna bila menggunakan etambutol ( bila ada keluhan). setelah 2 bulan pengobatan dan pada akhir pengobatan). serta asam urat untuk data dasar penyakit penyerta atau efek samping pengobatan. 13 | P a g e . . .

12. Evaluasi pasien yang telah sembuh Pasien TB yang telah dinyatakan sembuh tetap dievaluasi minimal dalam 2 tahun pertama setelah sembuh. Mikroskopik BTA dahak 3. Tabel. Ringkasan paduan obat 14 | P a g e . 24 bulan setelah dinyatakan sembuh.12 dan 24 bulan (sesuai indikasi/bila ada gejala) setelah dinyatakan sembuh. hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kekambuhan. Hal yang dievaluasi adalah mikroskopik BTA dahak dan foto toraks.6. Evaluasi foto toraks 6.

15 | P a g e . Kesimpulan Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi kronik yang menular yang disebabkan oleh spesies Mycobacterium tuberculosis dan ditandai dengan pembentukan tuberkel serta nekrosis kaseosa pada jaringan. keringat dingin dimalam hari tanpa kegiatan fisik. Diperkirakan setiap tahunnya penderita TB bertambah. B. nyeri dada. penurunan berat badan. jika tidak diminum rutin sesuai aturan. Sedangkan. Langkah pemerintah dalam menangani enyakit ini adalah dengan diagnosa dini dan memberi pengobatan selama 6 bulan yang harus diminum rutin. Gejala klinis berupa batuk terus menerus selama lebih dari 3 minggu dan batuk berdarah. Sebab.BAB III PENUTUP A. Pemebrian obat-obatan untuk TB perlu diikuti dengan evaluasi pengobatan. Karena obat-obatan untuk penyakit TB harus diminum rutin. Saran Perlunya ada pengawas minum obat bagi pasien TB agar meminum obat secara teratur agar hasilnya dapat membaik. sesak napas. Penyebaran bakteri penyakit TB melalui inhalasi. maka pengobatan harus diulang dari awal lagi hingga terhitung 6 bulan pengobatan. Jika TB dapat didiagnosis dan diobati secara baik maka prognosisnya akan baik pula. Tuberkulosis atau sering disebut TB merupakan salah satu penyakit yang menjadi penyebab kematian tertinggi. gejala sistemik berupa demam.

Edisi keenam. penggunaan efek-efek sampingnya. Atlas Berwarna : Kelainan Rongga Mulut yang Lazim. Ilmu SMF Ilmu Penyakit Paru.2. Jakarta: PT. Tuberculosis.S. Vol 309. Della. Sensitivitas dan Spesifitas Pemeriksaan Imunokromtografi Tuberkulosis Dibandingkan dengan Kultur LowensteinJensen. Vol1. march 6. Khasiat. Obat. General and Oral Pathology for The Dental Hygienist. 16 | P a g e . Semarang: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Sains Medika FK UNISSULA.2. issue1  PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia). journal of ancient disease and preventive remedies. HIV-AIDS dan Tuberkulosis Rongga Mulut. Pedoman Diagnosis & Terapi bag. 2013. Jakarta : FKM UI. 9.2008. Nancy W. 2011  Ann R. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2005  Putri. 2000. Jakarta:Erlangga.154. Elex Media Kamputindo. The journal of the american medical assosiation.DAFTAR PUSTAKA  Anitasari S. Baltimore: Christhoper Jhonson p. P. United States. Eropa:sauders elsevier. General and Oral Phatology for Dental Hygenist second edition. Tan Hoan Tjay.49  Langlais R. Jurnal Ekologi Kesehatan 2010 . Punnose. Maret – April. Gambaran Indikator P2TB di Propinsi Sumatera Barat. ASE. Bees and honey against tuberculosis. 2008. Jakarta : Hipocrates  Leslie Delong.2009. 267  Leslie Penlong and Nancy W. Tuberculosis a comprehensive clinical reference. Lippincott..9(4). 2009.194-199. Burkhart.n0. 1340 – 1346. 2009 vol.38 no. 2013.  Moussa Ahmed.2008  Hateyaningsih E.obat penting. CDK 183/Vol. ?.2. Indah R. Burkhart. 2013  Drs. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian TB Paru dan Upaya Penanggulangannya. Miller C. Pengaruh Makanan Tambahan Terhadap Konversi Dahak Pada Penderita Tuberkulosis di Puskesmas Jagakarsa.  Jannah.Lantip Rujito..1 (2):106-109  John M.309-311  Manalu HSP. Grange. Jakarta Selatan Tahun 2008 – 2009.

Aloysius S.  Surapan Kumar Purkait. Manajemen TBC dalam Kehamilan.6 (2):127-136 17 | P a g e . p.  Warouw. Hubungan Dukungan Sosial dengan Kualitas Hidup Pada Penderita Tuberkulosis Paru (TB Paru) di Blai Pengobatan Penyakit Paru (BP4) Yogyakarta Unit Minggiran. Obat-obatPenting. Bab 9 Tuberkulastika hal 145 – 154. Essentials of Oral Pathology second edition. 2003. Rahardja.. 2007. Khasiat Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. cetakan ke 2. vol. Ratnasari NY. Najoan Nan. Jakarta. Bandung:JKM FK UKM. Hoan Tjay Drs. 2011. edisi ke 5. Jurnal Tuberkulosis Indonesia 2012.. New Delhi: Jaypee brothers. penerbit Gramedia. 7 – 11. 248  Tan. 8.. Kirana Drs.