You are on page 1of 38

Maxwell-Boltzmann

Statistics
CONTENT
1. Distribution over energies
2. Weight of configurations
3. The most probable configuration
4. The sharpness of the configuration maximum
5. The multiplier |
6. The multiplier o
7. The Maxwell-Boltzmann Distribution
1. Distribution over energies
Adalah mungkin untuk memperkirakan keadaan suatu
ansambel pada waktu yang diberikan oleh posisi
dan momentum tiap sistem pada ansambel.
Untuk sistem yang tidak berinteraksi, adalah mungkin
digunakan analisis statistik untuk distribusi secara
khusus pada sistem dengan energi yang bervariasi
Distribusi secara spesifik memberikan energi eksak
khusus untuk tiap N sistem dari ansambel
contoh......
Contoh :
Sistem 1 dengan energi e1
Sistem 2 dengan energi e2
..... ..... ......
Sistem i dengan energi ei
..... ..... .....
Sistem N dengan energi eN
Energi sistem akan dihubungkan dengan energi total oleh
kondisi
E
i
i
= e
¿
Kemungkinan lain, distribusi yang tidak begitu detail
memberikan sejumlah sistem khusus yang mempunyai
energi dengan range e hingga e+de
Anggapan, energi sistem dapat dibagi kedalam “lembaran”
dimana terdapat lembar s yang berisi semua tingkat
energi dalam range e
s
hingga e
s
+ de
s
dan energi efektif
sistem dalam lembaran adalah e
s

Jumlah tingkat energi yang mungkin dari sistem dalam
lembaran tersebut disebut dengan bobot (weight)
lembaran.
Distribusi sistem diatas energi yang bervariasi memberikan
bilangan kedudukan (occupation number) n
s
khusus untuk
jumlah sistem dengan energi e
s
dalam lembar s.
Jika energi sistem dibentangkan total diatas lembar energi ,
distribusinya dapat ditulis sbb :

jumlah lembar 1 2 3 ....s ....r
energi lembar e
1
e
2
e
3
...e
s
... e
r

bobot lembar g
1
g
2
g
3
...g
s
... g
r

bilangan occupation n
1
n
2
n
3
...n
s
... n
r


Total bilangan occupation sebanding dengan jumlah total
sistem

¿
¿
=
=
e ÷
e ÷
~
r
1 s
s
s
1
n ansambel energi Total
n s lembar pada sistem Energi
s
s
r
s
s
N n
Contoh :
Terdapat 4 sistem dengan label a, b, c dan d didistribusikan
pada lembar energi dengan bobot g =3 dan g = 4

Lembar 1, g = 3
a
b a b c,a b c
Lembar 2, g = 4
b d d a
d c d c
The fundamental assumptions :
The probability that an assembly is in a particular, allowed
arrangement is the same for all such arrangements
susunan sistem dapat diasumsikan sama
kemungkinannya, tetapi untuk konfigurasi tidak berlaku
demikian.
semua konfigurasi dengan N sistem dari ansambel berada
dalam tingkat energi sama, dapat dihasilkan dengan satu
cara saja
setiap konfigurasi dalam sistem N yang didistribusikan
sepanjang keadaan g , akan mempunyai susunan g
N
berbeda
tiap sistem dalam g tersebut, dengan cara yang berbeda
pula.


2. WEIGHTS OF CONFIGURATIONS
Didefinisikan W , bobot tiap konfigurasi (bobot
konfigurasi); yang menyatakan jumlah susunan nyata dari
sistem yang semuanya berhubungan (korespondensi)
dengan konfigurasi nyata (particular configuration)
Jika sistem dalam ansambel didistribusikan sehingga
terdapat n
s
sistem dalam lembar s, bobot konfigurasi ini
akan dijumpai dari sejumlah cara yang menghasilkan
konfigurasi dengan N sistem ansambel
Jumlah cara yang memilih n
s
sistem lembar energi
pertama dari total N sistem, dapat dituliskan sbg
( )
( ) 1
! !
!
1 1
1
n N n
N
C
n N
÷
=
Sistem n
2
dari lembar ke dua dapat dipilih dari susunan sistem
(N- n
1
) dalam cara sbb
( )
( )
( )
( ) 2
! !
!
2 1 2
1
2 1
n n N n
n N
C
n n N
÷ ÷
÷
=
÷
Total jumlah cara yang dipilih pada sistem di lembar pertama
dan kedua akan menghasilkan perkalian dari persamaan 1 dan 2,
( )
( )
( )
( )
( ) 3
! ! !
!
! !
!
! !
!
2 1 2 1
2 1 2
1
1 1
n n N n n
N
n n N n
n N
n N n
N
÷ ÷
=
÷ ÷
÷
×
÷
Jika hanya 3 lembar jumlah dari sistem, dalam lembar ke tiga
menjadi
( )
2 1 3
n n N n ÷ ÷ =
Dari persamaan 3, diperoleh jumlah total cara yang dipilih
dengan konfigurasi n
1
, n
2
, dan n
3
sebagai berikut :
( ) 4
! ! !
!
3 2 1
n n n
N
Selanjutnya untuk kasus dengan jumlah lembar r, maka banyak
cara yang dapat digunakan
( ) 5
! !... !... ! !
!
3 2 1 g s
n n n n n
N
dapat dilihat, terdapat tingkat energi g pada lembar energi s
Tiap sistem dalam lembar dapat ditempatkan dalam cara
dan ada total cara yang dapat disusun sistem pada lembar.
Jumlah total sistem yang dapat disusun dalam memberikan
konfigurasi, bobot konfigurasi ;
s
n
s
n
s
g
s
n
n
g
( ) 6 ... ...
! !... !... !
!
2 1
2 1
2 1
r s
n
r
n
s
n n
r s
g g g g
n n n n
N
W =
( ) 7
!
!
[
)
`
¹
¹
´
¦
=
s
s
n
s
n
g
N W
s
3. THE MOST PROBABLE
CONFIGURATION
Untuk mendapatkan jumlah occupation yang berhubungan
dengan konfigurasi yang mungkin perlu untuk meningkatkan
bobot W oleh kondisi
( ) 8 0 =
c
c
=
¿
s
s
s
dn
n
W
dW
hal ini menunjukkan jumlah occupation-nya konstan
Penyelesaian persamaan 8 menggunakan pendekatan energi
dan jumlah sistem
( )
( )
( )
( )
r s hingga 1 s range
10 0
10a konstan
9 0
9a konstan
= =
= = e
= = e
= =
= =
¿
¿
¿
¿
b dE dn
E n
b dN dn
N n
s
s s
s
s s
s
s
s
s
Dengan menggunakan perkalian Lagrange, nilai maksimum pada
W menjadi
( )
pengali merupakan ,
11 0
b a
dE b dN a dW = + +
Substitusi dari persamaan 8, 9b dan 10b dalam 11, memberikan :
( ) 12 0 = e + +
c
c
¿ ¿ ¿
s
s s
s
s
s
s
s
dn b dn a dn
n
W
Bentuk logaritma persamaan 11 dan 12 menjadi,
( )
( ) 14 0
log
13 0 log
= e + +
c
c
= + +
¿ ¿ ¿
s
s s
s
s
s
s
s
dn dn dn
n
W
dE dN W d
| o
| o
Persamaan 14 dapat ditulis ulang menjadi
( ) 15 0
log
=
)
`
¹
¹
´
¦
e + +
c
c
¿
s
s s
s
dn
n
W
| o
Akhirnya didapat,
( ) 16 0
log
= e + +
c
c
s
s
n
W
| o
Turunan suku pertama persamaan 16 dapat dievaluasi dengan
pendekatan Stirling’s untuk jumlah faktorial yang lebar,
sebagaimana persamaan berikut;
( ) 17 log ! log N N N N ÷ ~
Karena sistem dianggap didistribusikan pada lembar energi
terhadap tingkat energi, bilangan occupation dapat diasumsikan
mempunyai pendekatan akhir (persamaan 17) untuk
diaplikasikan pada kasus n
s
! untuk semua nilai s.
Dari nilai W yang diberikan oleh persamaan 7, kita dapat turunkan
( ) ( )
( ) 19 log log log
logW
parsial, al differensi dari
18 log log
log
!
log ! log
!
log ! log log
s
s
s s
s
s
s s s s s
s
n
s
s
s
s
n
s
n
g
n g
n
n n n g n
N N N
n
g
N
n
g
N W
s
s
= ÷ =
c
c
+ ÷ +
÷ ~
)
`
¹
¹
´
¦
+ =
(
(
¸
(

¸

)
`
¹
¹
´
¦
+ =
¿
¿
[
Dari substitusi persamaan 19, persamaan 16 menjadi
0 log = e + +
s
s
s
n
g
| o
Dari sini diperoleh
( ) 20
s
e g n
s s
e +
=
| o
Persamaan 20 inilah yang disebut dengan distribusi Maxwell-
Boltzmann, menunjukkan distribusi dari sistem dengan lembar
energi yang bervariasi untuk kebolehjadian konfigurasi.
s
e
e |
dikenal dengan faktor Boltzmann
Ketika tingkat energi individual diletakkan terhadap
occupation rata-rata, maka dapat didefinisikan bilangan
occupation rata-rata,
( ) 21
i
e n
i
e +
=
| o
4. THE SHARPNESS OF THE CONFIGURATION
MAXIMUM
Nilai-nilai dari bilangan occupation pada persamaan 20
mendefinisikan titik stationer untuk bobot W. Sifat W dapat
dilihat dari ekspansi nilai log W dengan menggunakan deret
Taylor,
( ) 22
...
2
log
log
log log
2
max
2
2
max
max
+
A
)
`
¹
¹
´
¦
c
c
+
A
)
`
¹
¹
´
¦
c
c
+ =
¿
¿
s
s
s
s
s
s
n
n
W
n
n
W
W W
W
max
merupakan nilai stationer dan W adalah bobot
konfigurasi dimana bilangan occupation dibedakan oleh An
s

dst dari ini untuk W
max

Dari persamaan 19, didapat
( ) 23
1 log
log
log
2
2
s
s
s
s
s
n
n
W
n
g
n
W
÷ =
c
c
·
)
`
¹
¹
´
¦
=
c
c
Substitusi persamaan 23 ke 22 memberikan
( )
( ) 25
2
1
exp
24
2
1
log log
2
max
2
max
|
|
.
|

\
|
A
÷ =
A
÷ =
¿
¿
s
sm
s
s
sm
s
n
n
W W
n
n
W W
Untuk menilai kejelasan An
s
/n
sm
= o
s
maksimum yang diberikan,
maka persamaan 25 menjadi,
( )
( ) 27
2
1
exp
2
1
exp
sehingga , 0 n dipilih jika
26
2
1
exp
2
max
2
max
s
s
2
max
|
.
|

\
|
÷ =
|
.
|

\
|
÷ =
= =
|
.
|

\
|
÷ =
¿
¿
¿
o
o
o o o
o
N W
n W W
n W W
s
sm
s s
s
s sm
5. THE MULTIPLIER |
Sejak jumlah sistem mempunyai energi tak hingga tidak sama
dengan nol, | persamaan 20 menjadi negatif.
Nilai | diperoleh dengan substitusi persamaan 20 untuk kondisi
berikut,
E n N n
s
s
s
s
s
= e =
¿ ¿
dan
Terdapat tiga cara dalam penggunaan |
1. Anggap 2 ansambel A’ dan A’’ yang berturut-turut berisi N’
dan N’’. Ansambel itu diletakkan dalam kontak ‘thermal’
sepertihalnya energi, tetapi bukan sistemnya, boleh
dipertukarkan antara keduanya sehingga salah satunya dapat
terisolasi dari lingkungan.
dengan pertukaran energi diharapkan kedua sistem
mempunyai temperatur sama sehingga tercapai
kesetimbangan thermal.
Total energi E dari 2 ansambel pada kondisi & kuantitas tertentu,
( ) 28 0 dE dan 0 ' ' , 0 ' = = = dN dN
Total energi dari 2 ansambel tersebut,
¿ ¿
e + e =
s
s s
s
s s
n n E ' ' ' ' ' '
Sehingga persamaan 28 menjadi
( ) 29 0 ' ' ' ' ' '
0 ' ' ' ' ; 0 ' '
= e + e =
= = = =
¿ ¿
¿ ¿
s
s s
s
s s
s
s
s
s
dn dn dE
dn dN dn dN
Jika bobot individual dari ansambel berturut-turut W’ da W’’
maka total bobot konfigurasi dari dua ansambel menjadi,
( ) 30 ' ' 'W W W
T
=
Dengan menggunakan persamaan 13, didapat kondisi untuk
konfigurasi yang mungkin dari kombinasi ansambel,
( )
' '
' '
' ' log
' ' log
'
'
' log
' log
31 0 ' ' ' ' ' ' log
s
s
s
s
s
s
T
dn
n
W
W d
dn
n
W
W d
dE dN dN W d
¿
¿
c
c
=
c
c
=
= + + + | o o
Selanjutnya....
( ) 32 0 ' ' ' ' ' '
' '
' ' log
' ' '
'
' log
0 ' ' ' ' ' ' ' ' ' '
' ' ' '
' '
' ' log
'
'
' log
=
)
`
¹
¹
´
¦
e + +
c
c
+
)
`
¹
¹
´
¦
e + +
c
c
·
= |
.
|

\
|
e + e + +
+
c
c
+
c
c
¿
¿
¿ ¿ ¿
¿ ¿ ¿
s
s
s
s
s
s
s
s
s
s s
s
s s
s
s
s
s s
s
s
s
s
s
dn
n
W
dn
n
W
dn dn dn
dn dn
n
W
dn
n
W
| o
| o
| o
o
Dari persamaan 32, di dapat
( )
( )
s nilai semua untuk berlaku
33 ' ' ' '
' '
' ' log
33 ' '
'
' log
b
n
W
a
n
W
s
s
s
s
e + +
c
c
e + +
c
c
| o
| o
Ternyata hanya temperatur dari 2 ansambel yang mempunyai
nilai sama, selanjutnya | merupakan fungsi temperatur T ,
dimana T adalah temperatur thermodinamika dari ansambel.
( ) ( ) 34 T f = |
J adi, kesetimbangan thermal antara 2 ansambel
memungkinkan pengali | hanya bergantung pada
temperatur themodinamik
2. Pengali | dapat juga dianggap dari titik yang mengacu
perubahan energi dE.
Sejumlah panas dQ yang dialirkan pada ansambel dan
meninggalkan ansambel tersebut pada volum dV, berdasarkan
hukum thermodinamika pertama,

( ) 35 dV p dQ dE ÷ =
Perubahan energi ini memberikan,
( ) 36
¿ ¿
¿
e + e =
e =
s
s s
s
s s
s
s s
d n dn
n d dE
Perbandingan pers. 35 dan 36 menghasilkan bentuk
( )
( ) 38
37
dQ dn
dV p n
s
s s
s
s s
= e
÷ = e
¿
¿
Hubungan pada pers 38 jika digunakan bersamaan dg pers.13
untuk kasus dimana tidak ada perubahan dalam volume
ansambel, maka kondisi kesetimbangan ansambel menjadi
( ) 39 0 log = + + dQ dN W d | o
Pada kasus dimana panas dQ diberikan pada ansambel
dengan bilangan konstan dari sistem akan berubah dalam
bobot ansambel diberikan,
( ) 40 log dQ W d | ÷ =
Jika dikaitkan dengan entropi ansambel S dan temperatur T, maka
dS=dQ/T. Sehingga hubungan ini menjadi,
( ) 41
1
kT
÷ = |
3. Kondisi distribusi dari energi total dan jumlah sistem dalam
ansambel digunakan untuk memperkirakan rata-rata energi dari
sistem. Dari teori kinetik dasar, energi rata-rata dapat diturunkan
dari persamaan gas ideal,
( ) 42
2
3
kT = e
Selanjutnya,
( )
( )
( ) 44
43
43
¿
¿
¿
¿
e +
e +
e +
e +
e
= = e
=
e =
s
s
s
s s
s
s
s
s s
s
s
s
s
e g
e g
N
E
b e g N
a e g E
| o
| o
| o
| o
Didefinisikan tingkat keadaan B tiap satuan volume dari ruang
fase dengan elemen dI dari ruang fase yang berisi state B dI.
Bobot lembar s menjadi,
( ) ( ) 45
s s
B g AI =
Selanjutnya,
( ) ( ) ( )
( ) ( )
( ) 48
energinya, rata - rata didapat
47 2 2 . g
45 ke 46 pers. subst.
46 . 2 2
0
2
1
0
2
3
2
1
2
3
s
2
1
2
3
}
}
·
e
·
e
e e
e e
= e
e e ÷
= I
e e ÷ AI
d e
d e
d m BV
dp dp dp dz dy dx d
V d m
s s
z y x
s s s
|
|
t
t
( ) 49
2
3
menjadi, direduksi dapat pers.48
2
3
0
2
1
0
2
3
|
|
| |
÷ = e
e e ÷ = e e
} }
·
e
·
e
d e d e
Dari perbandingan dengan pers.42 diperoleh juga identitas
kT
1
÷ = |
6. THE MULTIPLIER o
Untuk mendefinisikan pengali o digunakan substitusi,
( ) 50
o
e A =
Dari distribusi pers. 20, idapat
( ) 51
s
e Ag n
s s
e
=
|
Sehingga total jumlah sistem,
( )
( ) 53
52
¿
¿
e
e
=
=
s
s
s
s
s
s
e g
N
A
e g A N
|
|
Dengan menggunakan pers. 47 di dapat,
( )
( )
( )
( )
( )
2
2
3
* *
54
2 2
2
3
2
3
0
2
1
2
3
0
2
1
0
2
1
2
3
t
|
|
|
t
|
|
÷ =
|
.
|

\
|
I ÷ =
÷ = e e
e e
=
} }
}
·
÷
·
e
·
e
dx e x d e
d e BV m
N
A
x
Dari pers. 54, didapat
( )
( ) 55
2
, 1 - dengan atau
2
2
3
2
3
mkT BV
N
A
kT
m
BV
N
A
t
|
|
t
=
=
|
|
.
|

\
|
÷
=
Akhirnya, didapat pengali o
( )
( ) 56
2
log log
2
3
(
(
¸
(

¸

= =
mkT BV
N
A
t
o
7. THE MAXWELL-BOLTZMANN DISTRIBUTION
Jika dn merupakan jumlah sistem yang mempunyai koordinat
pada volume dI dalam ruang fase, (dari pers. 20)
( )
( )
( ) ( ) ( ) 58 g
menjadi 20 pers.
, d hingga range dalam
keadaan jumlah menyatakan g jika
57
e e e= e
e + e e
e e
I =
e +
e +
d e d n
d
d B e dn
| o
| o
Akhirnya didapat distribusi Maxwell-Boltzmann dalam
bentuk differensial sbb,
( )
( )
( ) 59
2
2
1
2
1
e e e= e
e
÷
d e
kT
N
d n
kT
t
t