You are on page 1of 14

Terjemahan Jurnal

PENELITIAN ACAK MENGENAI ALAT KONTRASEPSI INTRAUTERIN DIBANDING KONTRASEPSI HORMONAL PADA WANITA YANG TERINFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS

Presentan : dr. F. Fionna Counterpart : dr. M. Erwin J.S

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO RSUP DOKTER KARIADI SEMARANG 2013

6/100 wanita – tahun. rasio hazard.. KESIMPULAN . 95 % CI. 1.0/100 wanita – tahun.16/100 wanita – tahun. 0.2/100 wanita – tahun) dibandingkan dengan wanita yang dialokasikan untuk menerima IUD (8.1). Perkembangan klinis penyakit (kematian atau limfosit CD4+ turun di bawah 200 sel/µL) lebih umum pada wanita yang dialokasikan mendapat kontrasepsi hormonal (13. 95 % CI.6/100 vs 2. 1. rasio hazard . Seorang wanita yang menerima IUD mengalami penyakit radang pelvis (tingkat kasar.04-2. 2. 0.3 -4. 95 % CI. HASIL Wanita yang secara acak mendapat kontrasepsi hormonal lebih mungkin untuk hamil dibandingkan mereka yang secara acak menerima IUD (tingkat. 4.4 .004-868). tidak ada penyakit radang pelvis pada wanita yang mendapat kontrasepsi hormonal. DESAIN PENELITIAN Kami secara acak meneliti 599 wanita postpartum yang terinfeksi HIV di Zambia yang mendapat IUD tembaga atau kontrasepsi hormonal dan memfollow up mereka selama minimal 2 tahun.Penelitian Acak Mengenai Alat Kontrasepsi Intrauterin Dibanding Kontrasepsi Hormonal Pada Wanita Yang Terinfeksi Human Immunodeficiency Virus Abstrak TUJUAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah alat kontrasepsi intrauterine (IUD) efektif dan aman bagi wanita yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV).5.7). 1.

kontrasepsi hormonal. Secara historis. Afrika sub-Sahara Kehamilan dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah salah satu risiko kesehatan yang paling penting yang dihadapi oleh wanita seksual aktif di Afrika sub-Sahara. alat kontrasepsi dalam rahim (IUD). hanya sedikit data yang tersedia mengenai pilihan kontrasepsi untuk populasi besar wanita ini. Jadi. telah terjadi kerancuan sekitar penggunaan IUD pada wanita yang terinfeksi HIV. Di antara wanita imunokompeten. alat kontrasepsi intra-uterus (IUD) yang dikenal sangat efektif dan aman dan merupakan pilihan yang sangat menarik dalam mengembangkan setting di dunia. Di Zambia. Pengamatan tak terduga yakni kontrasepsi hormonal yang dikaitkan dengan perkembangan penyakit HIV yang lebih cepat memerlukan studi lebih lanjut. The International Planned Parenthood Federation dan . dan risiko seumur hidup seorang wanita untuk meninggal akibat komplikasi kehamilan melebihi 5% (hampir 100 kali resiko yang dihadapi oleh wanita di Eropa dan Amerika Utara). dimana rantai suplai yang tidak konsisten dan follow up pasien yang tidak sempurna dapat menghasilkan perbedaan yang besar antara “efektivitas yang ideal” dan “efektivitas pengguna” untuk metode hormonal. kontrasepsi.IUD efektif dan aman untuk digunakan pada wanita yang terinfeksi HIV. Penyediaan alat kontrasepsi yang dapat diandalkan untuk ibu yang terinfeksi HIV yang menginginkannya telah diperkenalkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai strategi utama untuk pencegahan AIDS pada anak. sebanyak 1 dari 5 wanita hamil terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV). kontrasepsi yang aman dan efektif untuk wanita yang terinfeksi HIV merupakan komponen penting dari kesehatan reproduksi. Kata kunci AIDS. Meskipun terdapat sekitar 18 juta wanita yang hidup dengan HIV di seluruh dunia. dengan manfaat yang berkisar dari pencegahan bencana obstetri menjadi pencegahan AIDS pada anak. HIV.

Calon peserta diidentifikasi saat masa antenatal dan dialokasikan secara acak setelah 6 minggu postpartum kunjungan mereka. Semua peserta menjalani pemeriksaan pelvis pada pengacakan. hampir tidak ada penggunaan IUD pada wanita yang terinfeksi HIV. Baik praktisi maupun pasien tidak mengetahui untuk alokasi intervensi. Zambia. Kami menawarkan pendaftaran untuk wanita yang menginginkan minimal 2 tahun kontrasepsi berkelanjutan dan yang melaporkan ≤ 2 pasangan seksual pada tahun sebelumnya. dan/atau riwayat penyakit radang pelvis (PID) dalam 5 tahun sebelumnya. yang telah menjalani tes serostatus HIV-1 dalam perawatan antenatal sebagai bagian dari program berkelanjutan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Amplop tertutup dibuka oleh perawat penelitian pada saat pendaftaran studi dan pengacakan. dimana saja. Prosedur studi Kami mengalokasikan secara acak wanita untuk menerima IUD atau kontrasepsi hormonal menggunakan amplop buram dengan nomor berurutan yang dilakukan di University of Alabama di Birmingham.WHO telah merekomendasikan penggunaannya pada populasi ini. Wanita yang dialokasikan ke kelompok IUD yang tidak memiliki bukti infeksi servikovaginal nyata (visual) menjalani insersi steril langsung dari alat yang mengandung . Kami mengeksklusikan wanita dengan penyakit HIV lanjut (WHO stadium III atau IV). Sebuah skema pengacakan terpisah dengan ukuran blok acak ≤ 20 digunakan untuk setiap fasilitas klinik. Bahan dan Metode Peserta Percobaan ini merekrut wanita yang pernah melahirkan baru dari 2 klinik perawatan primer pemerintah di Lusaka. dan/atau yang berusia < 16 tahun (“usia mayoritas” di Zambia). riwayat gangguan perdarahan. meskipun barubaru ini rekomendasi WHO telah dimodifikasi dengan peringatan menyatakan bahwa keamanannya memiliki “bukti yang terbatas”. Akibatnya.

El Segundo . Masing-masing diberikan pada interval 3 bulan. setelah itu mereka beralih ke persiapan gabungan (oral levonorgestrel 0. Kami mendorong peserta untuk kembali ke klinik untuk perawatan. Kami menawarkan kondom kepada peserta pada setiap kunjungan. Peserta diberikan instruksi secara khusus untuk kembali ke klinik penelitian untuk tes kehamilan urin jika (1) mens tertunda oleh ≥ 20 hari. perdarahan vagina. Wanita menyusui yang memilih kontrasepsi oral diresepkan pil progesteron saja (oral levonorgestrel 0. atau keluarnyai jaringan. atau (3) mereka menduga terjadi kehamilan dengan alasan lain.03 mg/hari). Wanita yang ingin menghentikan penggunaan kontrasepsi atau mengubah ke metode lain diperbolehkan untuk melakukannya setiap saat dan terus diikuti dalam penelitian .tembaga (ParaGard TCU 380A. vaginosis bakterial. Sampel servikovaginal diambil untuk pemeriksaan kalium hidroksida (KOH) dan preparat basah saline untuk mengevaluasi adanya kandidiasis. Meskipun swab diambil untuk pemeriksaan mikroskopik. hasil pemeriksaan ini tidak tersedia dengan segera dan tidak mempengaruhi keputusan untuk memasang IUD. CA). Duramed Pharmaceuticals. baik terjadwal atau tak terjadwal. Kunjungan studi terjadwal terjadi di 4 minggu pasca pendaftaran dan sesudahnya dengan selang 6 bulan.03 mg/hari) untuk jangka waktu 6 bulan. trichomoniasis. Wanita yang dialokasikan ke kelompok kontrasepsi hormonal diizinkan untuk memilih antara pil kontrasepsi oral atau Depo- Medroxyprogesteron asetat (DMPA) injeksi 150 mg. (2) mereka mengalami kram yang berlebihan. tapi kami tidak memantau penggunaannya untuk dilaporkan. terutama jika mereka memiliki keluhan ginekologis. Peserta yang memiliki bukti infeksi vagina atau serviks pada sediaan basah diperlakukan sesuai dengan pedoman WHO untuk pengelolaan infeksi menular seksual. dan/atau leukosit . Pada setiap kunjungan studi. yang dikenal sebagai “Model Copper T TCU 380A” di luar Amerika Serikat. Inc . peserta menerima pemeriksaan fisik (dengan pemeriksaan pelvis) dan memberikan spesimen urin untuk tes kehamilan dan hitung darah lengkap .15 mg dan etinil estradiol 0.

Inc. Miami. Wanita yang memenuhi kriteria PID diobati dengan antibiotik kombinasi secara rawat jalan. Kami mendasari perhitungan ukuran . FL). CA). Quidel Corporation. Setelah waktu ini. Pengujian laboratorium Kami melakukan penghitungan limfosit CD4+ di laboratorium sentral kami dengan Sistem FACSCount (Becton Dickinson Biosciences. Peserta diikuti sampai wanita paling baru direkrut telah diikuti selama 24 bulan. uterus/serviks. San Jose. kami memperkirakan tingkat kehamilan 2 tahun 9 % di kelompok hormonal dan tingkat kehamilan 2-tahun 2 % pada kelompok IUD. dengan setidaknya 1 dari temuan berikut : (1) suhu oral > 38 °C . Pada bulan Agustus 2003 . ART mulai tersedia di sektor publik di Lusaka. Karena menyusui dalam setting kami hampir universal. Tingkat penghentian metode diukur pada saat penghentian metode acak. Hasil dan analisis statistik Insiden kehamilan ditentukan di situs klinis oleh tes human chorionic gonadotropin pada urin. Kami mendiagnosis kehamilan dengan tes urine yang cepat dengan deteksi human chorionic gonadotropin (QuickVue Onestep hCG. San Diego. Inc. Dengan demikian. CA). atau (4) servisitis mukopurulen. Jumlah darah lengkap dilakukan dengan Ac-T diff Hematology Analyzer (Beckman Coulter. wanita yang memenuhi kriteria klinis (stadium WHO) atau imunologi (CD4+ limfosit) untuk terapi antiretroviral dirujuk untuk perawatan dan pengobatan HIV. Insiden PID didiagnosis dengan kriteria Hager et al : abdomen. Wanita yang dicurigai PID dievaluasi oleh konsultan ginekolog. (2) deteksi pus di rongga peritoneal oleh kuldocentesis. kami mengharapkan amenore laktasi dapat mengurangi angka kehamilan pada kedua kelompok penelitian selama tahun pertama setelah melahirkan. Pasien diklasifikasikan sebagai hilang dari follow up jika perawat penelitian tidak dapat menemukan mereka setelah minimal 2 kali upaya kunjungan rumah.ini. dan adneksa. (3) massa pelvis atau kecurigaan inflamasi kompleks pada pemeriksaan bimanual.

daripada waktu kejadian. Kami juga berhipotesis bahwa. Analisis primer didasarkan pada niat untuk mengobati.sampel asli dengan outcome proporsional. Karena terdapat tingkat yang tinggi dari metode cross-over yang diamati dalam percobaan ini. dan perkembangan penyakit klinis. Analisis penurunan jumlah sel CD4+ terbatas pada wanita-wanita yang berisiko. 2-tailed t-test dan mengevaluasi asumsi normalitas dengan uji Kolmogorov . wanita dengan nilai-nilai dasar dari < 200 sel/µL (n = 60) dikeluarkan dari analisis hasil ini.Smirnov. mengingat rendahnya tingkat PID yang diamati pada wanita yang terinfeksi HIV yang menerima IUD kontrasepsi. PID. metode kontrasepsi diperlakukan sebagai paparan bervariasi waktu dalam suatu extended Cox . (2) limfosit CD4+ turun hingga < 200 sel/µL. 0. Perkembangan penyakit klinis dievaluasi secara terpisah sebagai (1) kematian. dibutuhkan 249 pasien untuk setiap kelompok . Kovariat kontinyu dibandingkan pada seluruh variabel 2-level (metode partisipasi atau kontrasepsi) dengan menggunakan berpasangan. metode penghentian. Ukuran sampel dari 250 pada masing-masing kelompok akan cukup untuk mendeteksi perkiraan peningkatan risiko 2. dengan demikian. Kami memilih untuk menetapkan secara acak 300 orang per kelompok untuk memungkinkan perkiraan 15 % tingkat hilang dari follow up. dan (3) salah satu dari outcome ini. Variabel dikotomis dan kategorikal dibandingkan dengan menggunakan uji statistik Pearson X2. hanya peningkatan risiko relatif yang cukup besar terhadap kontrasepsi hormonal yang akan menjadi signifikan secara klinis.5 kali lipat untuk PID yang akan timbul dari IUD . Kelompok pengobatan dibandingkan untuk outcome yang menarik dengan menggunakan Cox proportional hazards regression. Dalam analisis ini. kami juga melakukan analisis penggunaan sebenarnya untuk outcome kejadian kehamilan dan perkembangan penyakit klinis.05). Kami menggunakan metode Kaplan-Meier untuk membandingkan tingkat insiden kehamilan. Untuk mendapatkan kekuatan 80 % untuk menunjukkan perbedaan ini (alpha 2-tailed .

Dari 599 wanita yang terinfeksi HIV-1. Sebanyak 599 wanita dialokasikan secara acak.01). dan kematian bayi sebelumnya (74/309 [24 %] vs 183/599 [31 %] . kematian pasangan (n = 6. NC). Karakteristik dasar dari populasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.1.3 . Cary . SAS Institute . Data dianalisis dengan software SAS (versi 9. 68 wanita (7 %) tidak memenuhi kriteria inklusi.proportional hazards regression. dan 2 Oktober 2003. Sebanyak 269 wanita (45 %) menerima antibiotik atau antijamur karena kondisi servikovaginal saat pendaftaran. dan 296 wanita dialokasikan ke lengan IUD (Gambar 1). Hasil Antara 12 Juni 2002.5 tahun vs 26. Tidak ada perbedaan yang mencolok antarkelompok pengacakan pada salah satu indikator demografis dan klinis yang kami ukur pada awal (Tabel 1). 12%). Penelitian ini disetujui oleh Komite Etika Penelitian dari University of Zambia dan oleh Institutional Review Board dari University of Alabama di Birmingham dan menjalani review berkelanjutan oleh kedua institusi. jumlah kehamilan sebelumnya (2.05). perpisahan atau perceraian dari pasangan (n = 11. 76 wanita (13%. P = 0.9 . Ini meliputi 10 wanita (2 %) untuk kandidiasis.5 tahun. 16%). . dan 309 wanita (32 %) menolak partisipasi atau tidak kembali untuk pendaftaran. 44 wanita secara acak dialokasiakn untuk menerima kontrasepsi hormonal dan 32 wanita secara acak dialokasikan untuk IUD) menarik diri dari penelitian (Gambar 1). Wanita yang menolak partisipasi atau tidak kembali untuk pendaftaran berbeda dari wanita yang diterima sehubungan dengan usia (25. 101 wanita (17 %) untuk trikomoniasis. 62 wanita (10 %) untuk vaginosis bakterial.6 vs 2. 8%). Alasan mundur adalah kematian bayi (n = 12. P = 0. 303 wanita dialokasikan secara acak ke kelompok hormonal.04). Secara keseluruhan. 14%). dan 96 wanita (16 %) untuk servisitis tidak spesifik. P = 0. keputusan untuk memiliki anak lagi (n = 9. kami mengajak 976 wanita yang terinfeksi HIV untuk berpartisipasi dalam uji klinis.

6 penghentian per 100 wanita-tahun. 95% CI. waktu median untuk penghentian adalah 475 hari (kisaran interkuartil. dan 1 wanita menjalani minilaparotomi untuk kehamilan ektopik (dijelaskan kemudian).2. 6 dari 38 wanita (16%) beralih ke IUD. 5 wanita telah menghentikan penggunaan kontrasepsi sama sekali. 8%). 0.4. rasio hazard. 184 pasien (31%) menghantikan kontrasepsi awal mereka selama studi follow up.81 penghentian per 100 wanita-tahun vs 28. 8 wanita telah beralih ke kontrasepsi hormonal. dan 19 wanita (50%) menghentikan kontrasepsi sama sekali. 52 wanita pada kelompok kontrasepsi hormonal dan 35 wanita pada kelompok ke IUD) mangkir dari follow-up.17 kehamilan per 100 wanita-tahun. Kehamilan Wanita pada kelompok kontrasepsi hormonal lebih mungkin untuk hamil daripada wanita kelompok untuk IUD (4. 8%). permintaan pasangan untuk mundur (n = 6.33 . dan alasan tak tertulis (n = 26. wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal jauh lebih mungkin untuk hamil dibandingkan wanita yang menggunakan IUD (4. 0. Dari 27 wanita kelompok kontrasepsi hormonal yang menjadi hamil.23. Delapan puluh tujuh wanita (15%. 34%). Gambar 3).62 kehamilan per 100 wanita-tahun vs 2.5. 4 wanita telah menghentikan kontrasepsi sama sekali (termasuk 1 wanita dengan ekspulsi IUD yang tidak dimasukkan kembali). 2.44).relokasi jauh dari Lusaka (n = 6. 95% CI. 13 wanita (34%) berpindah ke kondom. Tabel 2. Di antara 146 wanita (49%) yang menghentikan . Tabel 2.16-0. 2. Penghentian Secara keseluruhan.5. rasio hazard. Di antara 38 pasien (13%) yang menghentikan kontrasepsi hormonal. rasio hazard. 222-861). 1 wanita hamil dengan IUD in situ .2. 22 wanita menyatakan bahwa mereka masih menggunakan kontrasepsi hormonal.09 kehamilan per 100 wanita-tahun vs 0. Gambar 2). Dalam analisis penggunaan aktual. Dari 14 wanita yang dialokasikan secara acak untuk IUD kontrasepsi yang menjadi hamil.38 kehamilan per 100 wanita-tahun. Wanita yang mendapat kontrasepsi hormonal kurang mungkin untuk berhenti daripada wanita yang mendapat IUD (6. 95% CI.2. 1. 10.

dan 6 adalah ekspulsi seluruhnya). 95% CI. Tujuh puluh tiga dari 146 wanita (50%) beralih ke DMPA. 95% CI.0-16). Tujuh belas kematian terjadi pada 588 orang-tahun waktu follow up pada wanita kelompok kontrasepsi hormonal. Para wanita single yang didiagnosis dengan PID memiliki nyeri abdominal dan keputihan 29 hari setelah alat dimasukkan.0001). jumlah CD4 <200 sel/µL (risiko relatif. 8 wanita (5. 95% CI. dan kultur menghasilkan hasil positif untuk Chlamydia trachomatis.penggunaan IUD. 0. dan 27 wanita (18%) menghentikan kontrasepsi sama sekali.1. 6. 0. 3.4 (95% CI.0. Hanya 1 wanita dengan ekspulsi menjalani insersi ulang.10). 171-771).0.001). 1 wanita pada kelompok kontrasepsi IUD mengalami PID pada follow up 642 wanita-tahun (tingkat PID kasar: 0. Tabel 2). 0. waktu median untuk penghentian adalah 408 hari (kisaran interkuartil. 0.99-4. Keamanan Kami mendiagnosis 1 kasus PID selama masa studi. Perkembangan penyakit klinis Kematian Tiga puluh wanita meninggal selama masa follow up. rasio hazard untuk kontrasepsi hormonal adalah 1. jumlah sel CD4+ yang rendah (probabilitas dari t-tes. 13 kematian terjadi pada 645 orang-tahun waktu follow up pada wanita kelompok IUD (probabilitas nilai uji Wilcoxon. usia yang lebih tua (probabilitas dari ttest.32. 38 wanita (26%) beralih ke pil kontrasepsi oral kombinasi. Tabel 2).004-868. Dalam Cox proportional hazards regression. 2. dan kadar hemoglobin rendah (probabilitas dari t-test. 0. Sepuluh wanita mengalami ekspulsi IUD mereka (4 adalah ekspulsi parsial yang memerlukan perhatian medis.70-3. <0. 0. Gambar 4). Meskipun tidak ada kasus PID antara para wanita pada kelompok kontrasepsi hormonal.5%) beralih ke kondom.9).16 kasus per 100 wanita-tahun. IUD dilepas. Faktor risiko univariat untuk kematian termasuk kematian bayi (risiko relatif. Penurunan jumlah CD4+ .

5). Dalam Cox proportional hazards regression. 1. Tabel 2). rasio hazard untuk jumlah CD4+ turun hingga <200 sel/µL antara wanita yang menerima kontrasepsi hormonal dibandingkan dengan mereka yang menerima IUD adalah 1. 1. rasio hazard.9 per 100 wanita-tahun). Dalam analisis penggunaan aktual. Wanita yang mendapat IUD lebih cenderung untuk beralih ke alat kontrasepsi lain daripada wanita yang menerima kontrasepsi hormonal.Sebuah analisis Kaplan-Meier yang terbatas pada wanita dengan jumlah awal CD4+ adalah > 200 sel/µL (n = 538) menunjukkan bahwa wanita yang menerima kontrasepsi hormonal lebih mungkin untuk mengalami penurunan jumlah CD4+ menjadi <200 sel/µL daripada wanita yang menerima IUD (log-rank test P =0.3 per 100 wanita-tahun) untuk menghasilkan rasio hazard 1. 7.6 . 36 pasien yang memenuhi kriteria komposit pada 494 wanita-tahun dari paparan IUD (tingkat mentah.6 (95% CI.7 (95% CI.3. Kematian atau penurunan jumlah CD4+ Kami juga mengevaluasi outcome komposit jumlah CD4+ turun menjadi <200 sel/µL atau kematian dengan metode kontrasepsi. 1. 13.1-2.1-2.04-2. perlu dicatat bahwa wanita dalam kelompok hormon diizinkan untuk beralih antara kontrasepsi oral dan DMPA (atau sebaliknya) – dan 34% melakukan – tanpa dikategorikan sebagai “penghentian” metode dimana mereka dialokasikan pada awalnya.2 per 100 wanita-tahun vs 8. 95% CI.3. Namun. 84 pasien memenuhi kriteria pada 633 wanita-tahun dari paparan kontrasepsi hormonal (tingkat kasar. wanita yang menerima kontrasepsi hormonal lebih mungkin untuk memenuhi kriteria komposit daripada wanita yang menerima IUD (tingkat mentah. Ketika wanita ini dimasukkan dalam perbandingan peralihan secara keseluruhan. Dalam intent-to-treat. Tabel 2. 11.57 per 100 wanita-tahun. 1. efeknya dilemahkan secara bermakna (hazard untuk . Pembahasan Penelitan acak pertama kalinya mengenai IUD pada wanita yang terinfeksi HIV ini menunjukkan bahwa IUD lebih bermanfaat dibanding kontrasepsi hormonal dalam pencegahan kehamilan dan bahwa memiliki tingkat infeksi pelvis yang sangat rendah pada populasi ini.03. Gambar 6). Gambar 5).

Keterbatasan utama penelitian ini meliputi tingginya peralihan metode atau penghentian dan penarikan atau kehilangan sekitar . penelitian.beralih dari kontrasepsi hormonal dibandingkan dengan IUD. meskipun hal ini belum terbukti mengurangi kejadian PID pasca-insersi pada populasi yang terinfeksi HIV. pada wanita yang terinfeksi HIV. 0. Kekuatan penelitian ini adalah desain acak. Bahkan. yang didukung untuk mendeteksi perbedaan yang kami amati dalam penelitian ini. kejadian yang kami amati tentang penyakit radang pelvis bahkan lebih rendah daripada yang diamati oleh Sinei et ak. rendahnya tingkat infeksi di kedua kelompok pengacakan membuat hal ini mustahil. yang cenderung untuk menunda aktivitas seksual dan mungkin memiliki pasangan lebih sedikit setelah melahirkan. akan membutuhkan >18.4% dari PID pascad-insersi pada wanita yang terinfeksi HIV di Kenya. Penjelasan lain yang potensial adalah penggunaan antibiotik empiris yang liberal dari dokter kami.6. Perhatian teoritis bahwa penggunaan IUD pada wanita yang terinfeksi HIV dapat menyebabkan tingginya tingkat infeksi pelvis tidak dikonfirmasi dalam studi ini. tingkat partisipasi yang tinggi. data ini mengkonfirmasi. Secara keseluruhan. dan evaluasi follow up jangka panjang (minimal 2 tahun bagi peserta yang bertahan). meskipun IUD mungkin tidak diterima oleh semua wanita. Kami percaya studi ini menunjukkan bahwa. tentu tetap menjadi pilihan yang menonjol dalam portofolio pilihan kontrasepsi yang tersedia untuk wanita yang terinfeksi HIV.78).000 peserta yang harus diikuti selama 2 tahun. yang menggambarkan tingkat 1. apa yang sudah diketahui tentang kontrasepsi pada populasi umum: bahwa wanita sering mengubah metode kontrasepsi dan bahwa komponen yang paling penting dari kontrasepsi kesehatan masyarakat yang baik adalah ketersediaan pilihan berbagai metode. 95% CI. 0. Alasan untuk tingkat PID yang rendah dalam penelitian ini bisa disebabkan dari populasi postpartum kami. ukuran sampel cukup besar. Bahkan.460. Meskipun kami merancang penelitian dengan kekuatan yang memadai untuk mendeteksi apa yang kami percaya mengenai perbedaan klinis yang signifikan dalam risiko PID antara wanita yang menggunakan IUD.

sepertiga dari peserta kami. Untuk mengeradikasi HIV pediatrik. memberikan kontribusi untuk kesehatan anak-anak yang ada melalui jarak kelahiran. Meskipun temuan provokatif ini tidak berarti definitif. bisa memiliki implikasi besar terhadap kesehatan masyarakat. dan. Telah diperkirakan bahwa investasi yang relatif sederhana dalam memenuhi kebutuhan kontrasepsi yang belum terpenuhi dari wanita yang terinfeksi HIV di seluruh dunia dapat mencegah lebih banyak kasus AIDS anak per tahun daripada pendekatan berbasis antiretroviral saat ini. Wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal lebih mungkin untuk mengalami perkembangan penyakit klinis daripada wanita yang menggunakan IUD. Meskipun tingkat hilangnya follow-up kami adalah sebanding dengan sebagian besar penelitian kontrasepsi lain. setiap intervensi kontrasepsi yang mempercepat perkembangan menjadi AIDS bisa memiliki implikasi nyata pada kelangsungan hidup pasien dan biaya program. jika ditanggung dalam penelitian lebih lanjut. adalah mungkin bahwa wanita tersebut memiliki beberapa cara berbeda dari mereka yang bertahan. yang akan membuat menjadi pendekatan yang efektif biaya. Dengan demikian. sekitar 80% pada program Pencegahan Transmisi HIV Ibu ke Anak) tidak akan memenuhi syarat untuk ART segera. Potensi manfaat dapat diandalkan dari kontrasepsi wanita yang terkendali untuk ibu terinfeksi HIV sangat besar. Kontrasepsi mencegah AIDS perinatal. di beberapa bagian dunia dimana kehamilan tidak aman. atas dasar staging dan penghitungan CD4+ klinis mereka. pengambil kebijakan kesehatan masyarakat tidak boleh menyerah dalam menangani masalah ini dari semua sudut. Untuk memastikan keamanan. akses kontrasepsi untuk ibu yang terinfeksi HIV yang ingin menunda atau tidak ingin melahirkan anak merupakan pendekatan penting untuk pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi. Keterbatasan potensial lainnya termasuk (1) bahwa ini bukan masked trial (mungkin ada bias provider dalam diagnosis efek samping) dan (2) bahwa kami membuat kondom tersedia untuk semua peserta tapi tidak mengumpulkan informasi tentang penggunaannya. Kebanyakan wanita yang terinfeksi HIV yang mencari perawatan (di Zambia. mencegah anak AIDS. .

Studi ini menunjukkan bahwa IUD menawarkan cara yang aman dan efektif kontrasepsi wanita yang terkendali yang sangat cocok untuk wanita yang terinfeksi HIV dalam hubungan yang stabil yang cukup sehat untuk belum memerlukan ART. . Penelitian lebih lanjut ke efek kontrasepsi hormonal terhadap pengembangan penyakit HIV-1 adalah hal yang dibutuhkan.dapat mencegah bencana obstetri.