You are on page 1of 15
Terjemahan Jurnal RIWAYAT PREEKLAMPSIA SEBELUMNYA DAN RISIKO OUTCOME YANG MERUGIKAN PADA KEHAMILAN NON-PREEKLAMPSIA BERIKUTNYA Presentan : dr. Moch. Erwin J.S. Counterpart : dr. F. Fionna BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO RSUP DOKTER KARIADI SEMARANG 2013 Riwayat Preeklampsia Sebelumnya Dan Risiko Outcome Yang Merugikan Pada Kehamilan Non-Preeklampsia Berikutnya Tujuan Kami berhipotesis bahwa preeklampsia sedikit banyak memiliki peran dalam patofisiologi dengan lahir mati/ stillbirth, abrupsi plasenta, kelahiran prematur spontan, dan melahirkan seorang bayi kecil untuk masa kehamilan, dan bahwa wanita yang mengalami preeklampsia pada kehamilan pertama mungkin memiliki peningkatan risiko dari outcome yang lain pada kehamilan kedua, bahkan tanpa adanya preeklampsia. Desain Penelitian Dalam kohort nasional Swedia (n= 354.676) kami memperkirakan risiko dari outcome yang merugikan pada kehamilan kedua yang berhubungan dengan preeklampsia preterm (< 37 minggu) dan aterm (≥ 37 minggu) pada kehamilan pertama, dengan menggunakan wanita tanpa preeklampsia pada pertama kehamilan sebagai referensi. Hasil Wanita dengan preeklampsia preterm sebelumnya, pada kehamilan kedua, memiliki lebih dari dua kali lipat risiko terjadinya bayi lahir mati, abrupsi plasenta, dan kelahiran prematur, dan risiko yang lebih besar melahirkan bayi yang kecil untuk masa kehamilan. Kesimpulan Wanita dengan riwayat preeklampsia preterm sebelumnya telah meningkatkan risiko outcome kehamilan yang merugikan pada kehamilan kedua meskipun dengan tidak adanya preeklampsia. Kata kunci: restriksi pertumbuhan intrauterin, kelainan plasenta, preeklampsia, kelahiran prematur, lahir mati Preeklampsia terjadi pada 2,5-3,0% dari seluruh kehamilan dan merupakan kontributor utama morbiditas ibu dan janin dan kematian di seluruh dunia. Preeklampsia memiliki tingkat rekurensi sekitar 15% pada kehamilan kedua dan tingkat rekurensi lebih tinggi yang terlihat pada wanita dengan preeklampsia preterm sebelumnya. Etiologi preeklampsia masih sulit dipahami, namun berhubungan dengan plasentasi yang abnormal, terutama untuk preeklampsia dengan onset dini. Lahir mati, abrupsi plasenta, kelahiran prematur spontan, dan restriksi pertumbuhan intrauterin berhubungan dengan plasentasi abnormal dan preeklampsia. Setiap komplikasi memiliki risiko rekurensi, dan terdapat suatu laporan terbaru bahwa komplikasi tersebut bisa menjadi predisposisi terhadap komplikasi lainnya. Hal ini mungkin terjadi karena plasentasi abnormal cenderung berulang pada kehamilan berikutnya. Kami berhipotesis bahwa wanita dengan riwayat preeklampsia, terutama preeklampsia preterm, telah meningkatkan risiko komplikasi kehamilan terkait dengan plasentasi abnormal pada kehamilan kedua, bahkan tanpa adanya preeklampsia. Dalam studi Swedia saat ini secara nasional, kami termasuk 350.000 wanita dengan kelahiran pertama dan kedua dari tahun 1992 sampai 2006. Di antara wanita tanpa preeklampsia pada kehamilan kedua, kami memperkirakan hubungan antara preeklampsia preterm dan istilah dalam kehamilan pertama dan risiko bayi lahir mati, plasenta, kelahiran prematur spontan, dan bayi kecil untukusia kehamilan (SGA) di kehamilan kedua. BAHAN DAN METODE The Swedish Medical Birth Register memiliki >99% data dari semua kelahiran di Swedia, termasuk data demografis, informasi tentang riwayat reproduksi dan komplikasi selama kehamilan, persalinan, dan periode neonatal. Komplikasi selama kehamilan dan persalinan diklasifikasikan menurut International Classification of Diseases, Revisi Kesembilan (ICD-9) dan International Statistical Classification of Diseases, Revisi kesepuluh (ICD-10) dan dicatat oleh dokter yang bertanggung jawab pada saat keluar dari rumah sakit. Dengan nomor registrasi nasional masing-masing individu yang unik, register kelahiran bisa dihubungkan dengan sumber data lainnya di Swedia. Populasi Studi Selama tahun 1992 hingga 2006, ada sekitar 1,5 juta kelahiran yang tercatat dalam register kelahiran. Selama periode tersebut, terdapat 371.086 wanita dengan kehamilan pertama dan kedua tunggal berturut-turut yang melahiran bayi pada usia kehamilan ≥ 22 minggu. Indeks massa tubuh (BMI) dikaitkan dengan eksposur dan outcome penelitian dan telah dilaporkan ke register sejak 1992. Oleh karena itu kami memilih untuk menyertakan wanita dari tahun 1992 dan seterusnya. Kami mengeksklusikan 8325 wanita dengan penyakit kronis (hipertensi kronis, diabetes mellitus sebelum hamil, penyakit ginjal kronis, dan lupus eritematosus sistemik), seperti yang tercantum dalam kehamilan pertama atau kedua. Para wanita diidentifikasi pada kunjungan antenatal pertama (menggunakan checkbox) dan / atau pada saat keluar dari rumah sakit setelah melahirkan (ICD-9 dan ICD-10 kode 642A-C, 642H, O10, O11, 250, 648A, O240, O241, O243, 581, 582, N03, N04, 710A, dan M32). Kami juga mengeksklusikan 5620 wanita dengan preeklampsia pada kehamilan kedua (ICD9 dan ICD-10 kode 642E-G, o14, dan O15), 637 wanita dengan informasi yang hilang mengenai usia kehamilan pada kehamilan pertama, dan 1828 wanita dengan informasi yang hilang mengenai berat lahir dan / atau usia kehamilan pada kehamilan kedua. Secara klinis, preeklampsia didefinisikan sebagai tekanan darah > 140/90 mm Hg yang dikombinasikan dengan proteinuria (> 0,3 g/24 jam) yang terjadi pada >20 minggu usia kehamilan. Dengan demikian, populasi penelitian terakhir mengikutsertakan 354.676 wanita dengan 2 kelahiran tunggal berturutturut, yang tidak memiliki predisposisi penyakit kronis dan tidak memiliki preeklampsia pada kehamilan kedua mereka. Eksposur Karena kami kekurangan informasi mengenai waktu onset penyakit, preeklampsia pada kehamilan pertama dikategorikan sebagai preeklampsia preterm (usia kehamilan < 37 minggu saat lahir) dan aterm (≥ 37 minggu saat lahir). Preeklampsia didefinisikan sebagai tekanan darah >140/90 mm Hg dikombinasikan dengan proteinuria (>0,3 g/24 jam) yang terjadi pada usia kehamilan >20 minggu dan diidentifikasi dengan kode ICD-9 dan ICD-10 yang sesuai. Di Swedia, usia kehamilan dinilai oleh scan USG pada 95% wanita, biasanya sekitar minggu ke-17 masa kehamilan. Jika tidak ada data scan USG trimester kedua yang tersedia, periode menstruasi terakhir digunakan untuk menghitung usia kehamilan saat melahirkan. Kualitas diagnosis preeklampsia telah divalidasi sebelumnya: dari 148 kehamilan dikodekan sebagai preeklampsia dalam register kelahiran, 137 (93%) memiliki penyakit sesuai dengan catatan individu. Di Swedia, informasi tentang karakteristik ibu dicatat secara standar selama kunjungan pertama perawatan antenatal, yang dilakukan minggu ke-15 kehamilan pada >95% dari kehamilan. Dari kehamilan kedua, kami menghitung BMI sebagai berat dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter. Kami juga menggunakan informasi tentang situasi keluarga (hidup atau tidak hidup bersama dengan ayah bayi) dan kebiasaan merokok. Informasi tentang usia ibu dikumpulkan ketika wanita itu keluar dari rumah sakit bersalin. Informasi tentang pendidikan ibu dan negara lahir diperoleh dengan menghubungkan register pendidikan mendaftar pada tanggal 31 Desember 2005 dan register dari total populasi, kedua-duanya diselenggarakan oleh Statistik Swedia. Kami menghitung interval antar kehamilan sebagai jumlah tahun yang dilewati antara kelahiran anak pertama dan perkiraan tanggal konsepsi anak kedua. Variabel dikategorikan menurut Tabel 1. Outcome Kami mempelajari outcome berikut pada kehamilan kedua: lahir mati, abrupsi plasenta, kelahiran prematur spontan, dan melahirkan bayi SGA. Lahir mati didefinisikan sebagai kematian janin yang terjadi pada usia kehamilan >28 minggu, mencakup lahir mati antenatal (n=743) dan intrapartal (n=38). Abrupsi placenta diidentifikasi oleh ICD-9 dan ICD-10 masing-masing dengan kode 641C dan O45. Kami mengkategorikan kelahiran menjadi sangat prematur (<32 minggu) dan prematur moderat (32 minggu + 0 hari sampai 36 minggu + 6 hari). Kelahiran prematur spontan adalah kelahiran hidup pada usia kehamilan <37 minggu dengan onset persalinan spontan. Onset persalinan secara rutin dicatat secara standar oleh bidan pada saat persalinan menggunakan checkbox. Selain itu, semua kelahiran dengan diagnosis ketuban pecah dini (ICD-9 dan ICD-10 kode 648W dan O42) dimasukkan sebagai kelahiran dengan onset spontan. Sebanyak 4622 (1,3%) wanita yang tidak memiliki informasi tentang awal kelahiran dikeluarkan dari analisis ini. SGA digunakan sebagai lambang untuk restriksi pertumbuhan intrauterin dan didefinisikan sebagai berat lahir dari >2 SD Di bawah berat lahir rata-rata untuk usia kehamilan menurut kurva pertumbuhan janin Swedia spesifik jenis kelamin. SGA selanjutnya dikategorikan ke dalam prematur (<37 minggu kehamilan) dan aterm (≥ 37 minggu kehamilan), tergantung pada minggu kehamilan saat lahir. Dalam analisis prematur dan kelahiran SGA, hanya kelahiran hidup yang dimasukkan. Statistik Risiko bayi lahir mati, abrupsi plasenta, kelahiran prematur spontan sangat prematur dan moderat, dan SGA prematur dan aterm dalam kehamilan kedua dihitung untuk wanita dengan riwayat preeklampsia preterm atau aterm sebelumnya, menggunakan wanita tanpa preeklampsia pada kehamilan pertama sebagai referensi. Odds rasio, yang disajikan dengan interval kepercayaan 95%, diperkirakan dengan analisis regresi logistik tanpa syarat setelah penyesuaian karakteristik ibu. Kami memperhitungkan faktor yang terkait dengan risiko kelahiran mati, abrupsi plasenta, kelahiran prematur spontan, dan SGA sebagai faktor perancu potensial, termasuk usia ibu, BMI awal kehamilan, kehidupan rumah tangga dan kebiasaan merokok pada kehamilan kedua, pendidikan formal ibu dan negara kelahirannya, interval antarkehamilan, dan tahun kelahiran kedua. Semua analisis dilakukan dengan menggunakan Software Analisis Statistik, versi 9.1 (SAS Institute Inc, Cary, NC). Persetujuan Komite Etik Studi ini disetujui oleh salah satu dewan review etik regional di Stockholm,Swedia (nomor referensi: 2005/4863, tanggal persetujuan: Sept 28 Desember 2005). Dewan tidak mengharuskan diberikan informed consent bagi para wanita. HASIL Tabel 1 menyajikan hubungan antara karakteristik ibu dan outcome kehamilan kedua di antara wanita yang tidak mengalami preeklampsia pada kehamilan kedua mereka. Wanita dengan preeklampsia pada kehamilan pertama memiliki tingkat lebih tinggi dari semua komplikasi pada kehamilan kedua mereka. Tingkat kelahiran mati meningkat seiring dengan usia ibu pada kehamilan kedua sementara terdapat hubungan berbentuk U antara usia ibu dan tingkat abrupsi plasenta, kelahiran prematur spontan, dan kelahiran SGA. Wanita kegemukan (BMI 25-29) dan obesitas (BMI >30) mengalami peningkatan tingkat kelahiran mati, sementara wanita kurus (BMI <20) memiliki tingkat peningkatan kelahiran prematur spontan dan kelahiran SGA. Wanita yang tidak tinggal dengan ayah bayi, seorang perokok, wanita dengan pendidikan rendah, dan wanita dengan interval antarkehamilan yang panjang mengalami peningkatan pada semua outcome. Wanita yang lahir di negara non-Nordik memiliki tingkat yang lebih tinggi untuk lahir mati, kelahiran prematur spontan, dan kelahiran SGA. Wanita dengan kelahiran kedua dari tahun 2002 sampai 2006 memiliki tingkat yang lebih rendah untuk kelahiran SGA.Tabel 2 sampai 4 menggambarkan risiko outcome yang merugikan pada kehamilan kedua di antara wanita tanpa preeklampsia pada kehamilan kedua. Dibandingkan dengan wanita tanpa preeklampsia pada kehamilan pertama, wanita dengan riwayat preeklampsia preterm sebelumnya memiliki risiko lebih dari dua kali lipat untuk terjadinya kelahiran mati dan abrupsi plasenta (Tabel 2). Sebaliknya, wanita dengan riwayat preeklampsia aterm sebelumnya tampaknya tidak mengalami peningkatan risiko kelahiran mati dan abrupsi plasenta pada kehamilan kedua. Dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami preeklampsia dalam kehamilan pertama, wanita dengan riwayat preeklampsia preterm sebelumnya memiliki lebih dari dua kali lipat risiko untuk kelahiran yang sangat prematur dan prematur moderat spontan pada kehamilan kedua, sedangkan risiko tersebut pada wanita dengan preeklampsia aterm tidak meningkat (Tabel 3). Dibandingkan dengan wanita tanpa preeklampsia pada kehamilan pertama, wanita dengan preeklampsia preterm sebelumnya memiliki peningkatan risiko 11 kali lipat untuk kelahiran prematur dan risiko SGA lebih dari tiga kali lipat lahir SGA istilah dalam kehamilan kedua (Tabel 4). Wanita dengan riwayat preeklampsia aterm sebelumnya memiliki risiko dua kali lipat untuk kelahiran prematur SGA dan 50% peningkatan risiko kelahiran SGA aterm. PEMBAHASAN Temuan baru dalam studi nasional yang besar ini adalah bahwa wanita dengan preeklampsia preterm pada kehamilan pertama mereka secara nyata memiliki peningkatan risiko bayi lahir mati, abrupsi plasenta, kelahiran prematur, dan melahirkan bayi SGA dalam kehamilan non-preeklampsia kedua. Sebaliknya, wanita dengan preeklampsia aterm pada kehamilan pertama mereka hanya memiliki peningkatan risiko melahirkan bayi SGA pada kehamilan kedua. Temuan ini mendukung perbedaan patofisiologi antara preeklampsia preterm dan preeklampsia aterm dengan sebagian patofisiologi yang terkait untuk preeklampsia preterm, lahir mati, abrupsio plasenta, kelahiran prematur spontan, dan melahirkan bayi SGA. Studi ini adalah studi berbasis populasi pertama yang menyelidiki efek preeklampsia preterm dan aterm pada komplikasi kehamilan pada kehamilan nonpreeklampsia berikutnya. Temuan kami mendukung dan memperluas hasil penyelidikan sebelumnya. Satu studi berbasis rumah sakit kecil, yang mengikutsertakan 130 wanita dengan preeklampsia preterm (<34 minggu) atau aterm (≥ 34 minggu) pada kehamilan pertama, melaporkan adanya hubungan antara preeklampsia preterm pada kehamilanpertama dengan risiko kelahiran prematur dan SGA pada kehamilan non-preeklampsia kedua, tetapi tidak pada preeklampsia aterm pada kehamilan pertama. Lykke et al memasukkan hanya wanita dengan preeklampsia pada kehamilan pertama mereka dan menemukan bahwa risiko bayi lahir mati, plasenta, dan melahirkan bayi SGA pada kehamilan kedua meningkat seiring dengan menurunnya usia kehamilan pada kehamilan pertama. Wanita dengan preeklampsia pada kehamilan kedua mereka tidak dieksklusikan, tetapi penyesuaian preeklampsia pada kehamilan kedua hanya memiliki efek marjinal pada estimasi risiko. Ananth et al melaporkan bahwa wanita dengan riwayat preeklampsia sebelumnya memiliki risiko hampir 2 kali lipat untuk abrupsi plasenta, namun hanya 16% peningkatan risiko untuk melahirkan bayi SGA. Mereka tidak mempelajari preeklampsia preterm dan aterm secara terpisah, atau pun mengeksklusikan wanita dengan preeklampsia pada kehamilan kedua dari kohort. Hasil kami dengan peningkatan risiko 11 kali lipat untuk SGA prematur setelah kehamilan dengan preeklampsia preterm sebelumnya mungkin mencerminkan bahwa plasentasi abnormal lebih sering menjadi penyebab yang mendasari untuk preeklampsia preterm dan SGA dibandingkan dengan preeklampsia aterm dan SGA. Dalam laporan dari Smith et al, risiko yang lebih tinggi untuk kelahiran mati setelah kehamilan dengan komplikasi preeklampsia sebelumnya telah ditampilkan. Temuan ini sesuai dengan hasil kami, tapi hanya untuk wanita dengan riwayat preeklampsia preterm sebelumnya. Beberapa publikasi terbaru mendukung hipotesis bahwa plasentasi abnormal adalah penyebab preeklampsia onset dini, sedangkan preeklampsia onset lambat memiliki hubungan yang lemah atau tidak berhubungan dengan plasentasi abnormal. Lahir mati, abrupsi plasenta, kelahiran prematur spontan, dan restriksi pertumbuhan intrauterin memiliki asosiasi yang sama dengan plasentasi abnormal preeklampsia onset dini. Temuan kami mengenai hubungan antara preeklampsia preterm, tetapi tidak pada preeklampsia aterm dalam kehamilan pertama dan peningkatan risiko kelahiran mati, abrupsi plasenta, kelahiran prematur spontan, dan restriksi pertumbuhan intrauterin pada kehamilan kedua adalah dalam sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Saat ini, banyak penelitian difokuskan pada kemampuan faktor angiogenik untuk memprediksi preeklampsia dan bahkan mengobati atau mencegah penyakit ini pada wanita berisiko tinggi. Menariknya, asosiasi dengan faktor angiogenik yang sama telah ditunjukkan juga untuk kasus lahir mati, abrupsi plasenta, kelahiran prematur spontan, dan restriksi pertumbuhan intrauterin. Kami percaya bahwa peningkatan pemahaman dari penyakit ini bisa diperoleh jika penyakit ini dipelajari sebagai gangguan yang memiliki keterkaitan, dengan tujuan mendeteksi faktor predisposisi umum, metode deteksi dini, dan faktor prognostik. Kekuatan dan keterbatasan penelitian ini didasari pada desain penelitian berbasis registri. Data dikumpulkan secara prospektif yang dapat mencegah bias. Desain ini bersifat nasional dan ukuran populasi penelitian memungkinkan kita untuk memisahkan eksposur preeklampsia preterm dan aterm dan untuk menyelidiki outcome yang jarang langka pada populasi berisiko rendah yang tidak terpilih dan homogen. Selanjutnya, berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya, kami bisa mengendalikan untuk sejumlah faktor perancu, seperti BMI, status sosial ekonomi, merokok, dan interval antarkehamilan. Kami tidak memiliki informasi mengenai intervensi, seperti profilaksis aspirin, USG, dan pemeriksaan tekanan darah. Wanita dengan preeklampsia preterm pada kehamilan pertama mungkin lebih cenderung melakukan kontrol lebih ekstensif selama kehamilan kedua dibandingkan dengan wanita dengan preeklampsia aterm. Namun,hal ini akan cenderung mengurangi besarnya perbedaan antara kelompok. Kesimpulannya, wanita riwayat dengan preeklampsia preterm sebelumnya telah meningkatkan risiko bayi lahir mati, plasenta, kelahiran prematur spontan, dan restriksi pertumbuhan intrauterin pada kehamilan kedua bahkan jika tidak ada rekurensi preeklampsia. Hubungan antara komplikasi tidak hanya dapat memandu penelitian di masa depan mengenai prediksi, pengobatan, dan pencegahan komplikasi, tetapi juga pengawasan kehamilan wanita dengan riwayat preeklampsia sebelumnya. Tabel 1. Karakteristik ibu dan tingkat outcome yang merugikan Karakteristik ibu Total jumlah Lahir mati tingkat, % Preeklampsia pada kehamilan pertama Ya Tidak Usia ibu pada kehamilam kedua, tahun ≤ 24 25-29 30-34 ≥ 35 BMI pada kehamilan kedua, kg/m2 ≤ 19 20-24 25-29 ≥ 30 missing Kehidupan rumah tangga pada kehamilan kedua Ya Tidak Hilang Kebiasaan merokok pada kehamilan kedua 12,376 342,300 43,893 126,453 133,207 51,123 31,863 169,896 75,319 28,351 49,247 326,491 7886 20,189 0.31 0.22 0.19 0.22 0.21 0.26 0.18 0.20 0.26 0.38 0.16 0.22 0.34 0.10 Abrupsi plasenta tingkat, % 0.57 0.32 0.38 0.31 0.31 0.40 0.33 0.32 0.30 0.31 0.42 0.32 0.46 0.38 Kelahiran prematur spontan tingkat, % 2.97 2.56 3.30 2.39 2.37 2.91 3.36 2.36 2.29 2.67 3.15 2.46 3.61 3.93 Kecil untuk masa kehamilan tingkat, % 2.13 1.17 1.63 1.15 1.07 1.30 2.06 1.14 1.06 0.95 1.24 1.17 2.51 1.26 302,491 0.21 0.29 2.37 1.01 Bukan peokok 1-9 batang/hari ≥ 10 batang/hari Hilang Pendidikan, tahun ≤ 12 ≥ 13 Hilang Etnis Nordik Non-Nordik Hilang Interval antarkehamilan, tahun ≤ 1.0 1.0-3.9 4.0-6.9 ≥ 7.0 Hilang Tahun kelahiran kedua 1992 – 1996 1997 – 2001 2002 – 2006 Total jumlah 21,593 8664 21,928 0.32 0.50 0.11 0.55 0.73 0.47 3.42 4.06 3.91 2.88 3.60 1.28 179,742 141,752 33,182 310,365 41,262 3049 64,877 247,409 32,658 9613 119 70,180 130,303 154,193 354,676 0.23 0.19 0.30 0.21 0.28 0.30 0.21 0.20 0.34 0.35 1.68 0.22 0.23 0.21 781 0.37 0.28 0.36 0.33 0.33 0.56 0.40 0.29 0.43 0.58 1.68 0.34 0.33 0.32 1169 2.74 2.27 2.96 2.49 3.09 3.20 2.94 2.38 2.96 3.57 9.65 2.54 2.52 2.63 8975 1.32 0.86 2.04 1,08 2.06 2.34 1.18 1.12 1.60 1.97 6.84 1.29 1.29 1.09 4253 Tabel 2. Risiko lahir mati dan abrupsi plasenta Outcome kehamilan kedua Lahir mati Jumlah Outcome kehamilan pertama Tanpa preeklampsia (n=342,300) Preeklampsia aterm (≥ 37 minggu; n = 10,140) preterm (< 37 minggu; n = 2236) 743 28 10 0.22 0.28 0.45 tingkat, % OR yang disesuaikan (95% Cl) Referensi 1.24 (0.82 – 1.89) 2.08 (1.03 – 4.19) Abrupsi plasenta Jumlah 1099 49 21 tingkat, % 0.32 0.48 0.94 OR yang disesuaikan (95% Cl) Referensi 1.27 (0.88 – 1.83) 2.34 (1.32 – 4.15) Tabel 3. Resiko kelahiran spontan sangat prematur (< 32 minggu) dan moderat prematur (32-36 minggu) Kelahiran spontan prematur pada kehamilan kedua Sangat prematur Jumlah Outcome kehamilan pertama Tanpa preeklampsia (n=337,120) Preeklampsia Aterm (≥ 37 minggu; n = 9971) preterm (< 37 minggu; n = 2236) 915 20 12 0.27 0.20 0.55 tingkat, % OR yang disesuaikan (95% Cl) Referensi 1.03 (0.63 – 1.67) 2.22 (1.10 – 4.48) Sangat prematur Jumlah 7699 218 111 tingkat, % 2.28 2.19 5.09 OR yang disesuaikan (95% Cl) Referensi 1.00 (0.86 – 1.17) 2.56 (2.06 – 3.18) Tabel 4. Risiko bayi SGA prematur (< 37 minggu) dan aterm (≥ 37 minggu) Bayi SGA pada kehamilan kedua SGA prematur Jumlah Outcome kehamilan pertama Tanpa preeklampsia (n=341,557) Preeklampsia aterm (≥37 minggu; n = 10,112) preterm (< 37 minggu; n = 2226) 518 34 33 0.15 0.34 1.48 tingkat, % OR yang disesuaikan (95% Cl) Referensi 2.25 (1.46 – 3.46) 11.22 (7.45 – 16.92) SGA aterm Jumlah 3472 124 72 tingkat, % 1.02 1.23 3.23 OR yang disesuaikan (95% Cl) Referensi 1.53 (1.24 – 1.87) 3.32 (2.48 – 4.45)