You are on page 1of 1

Tentang Jingga Semburat jingga mulai menampakkan wujudnya. Cahayanya perlahan membelaiku lembut.

Aku memalingkan wajah, kesilauan. Terlihat beberapa pengunjung masih lalu lalang di area taman ini, meski tak seramai siang tadi. Dan pandanganku terhenti, pada satu sosok yang tengah berdiri menatap langit. Ah tidak, tepatnya ia tengah menatap langit yang mulai menjingga Aku tak tahu apa yang terjadi, namun saat pandanganku menangkap sosoknya dan menguncinya dalam ingatanku. Jantungku berdetak, dan ini bukan detakan seperti biasa. Ada sesuatu disini, entah apa. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat pandanganku tak lepas darinya. “kau jatuh cinta. Benar! Kau jatuh cinta, dan ini terjadi pada pandangan pertama,” ujar Jelo saat aku menceritakan kejadian sore itu kepadanya. Jelo sahabatku, dan ia sering menghabiskan waktu di kamarku. Meskipun terkadang hanya untuk menghabiskan cemilanku saja. Apa? Jatuh cinta? Cih, yang benar saja! Cibirku dalam hati. “hei, aku tak percaya dengan hal semacam itu,” jawabku sambil merampas bungkusan keripik kentang dari tangannya. “YA! Iissh kau ini. Hati-hati dengan omonganmu, bagaimana jika malaikat membalikkannya? “Jelo setengah memekik mendengar ucapanku, kali ini dia sudah kembali sibuk dengan tabletnya. Aku bergeming mendengar ucapannya. Ingatanku melayang kembali ke sore itu, saat semburat jingga membelaiku dan takdir mempertemukan pandanganku pada sosoknya. Ya, aku menyebutnya takdir. Takdir bertemu dengan sosok berjaket biru pekat dengan topi baret putih yang berdiri menatap langit, dengan kedua tangan di dalam sakunya. Sosok yang membuat jantungku berdetak diluar kebiasaan. * Tiga hari kemudian, aku sengaja kembali ke sana. Ke taman di sudut kota yang menjadi favoritku beberapa tahun terakhir. Dan benar saja, dia disana! Aku buru – buru mengeluarkan kamera dari ranselku. Kali ini aku memutuskan untuk membawanya, setelah berdebat dengan jelo yang menyebutku penguntit sinting. Aku tak peduli, aku hanya ingin mengabadikan sosoknya yang bercahaya diterpa senja. Aku menoleh kesekeliling dan mendapati salah satu bangku tak berpenghuni. Tak lama kamera di tanganku mulai beroperasi, sialnya saat aku tepat membidik close up garis tegas wajahnya, dia menoleh. Ya tuhan, matilah aku! Gelagapan aku mencari tempat untuk bersembunyi, mau diletakkan dimana wajahku ini? Memalukan!