You are on page 1of 21

BAB I PENDAHULUAN

Ikterus adalah perubahan warna kulit, sklera mata atau jaringan lainnya (membran mukosa) yang menjadi kuning karena pewarnaan oleh bilirubin yang meningkat konsentrasinya dalam sirkulasi darah. Bilirubin dibentuk sebagai akibat pemecahan cincin heme, biasanya sebagai akibat metabolisme sel darah merah.1 Kata ikterus (jaundice) berasal dari kata Perancis jaune yang berarti kuning. Ikterus sebaiknya diperiksa di bawah cahaya terang siang hari, dengan melihat sklera mata. Ikterus dapat dibagi dalam dua kelompok yaituikterus hemolitik dan ikterus obstruktif. 1,2 Ikterus obstruktif, disebabkan oleh obstruksi duktus biliaris (yang sering terjadi bila sebuah batu empedu atau kanker menutupi duktus koledokus) atau kerusakan sel hati (yang terjadi pada hepatitis), kecepatan pembentukan bilirubin adalah normal, tapi bilirubin yang dibentuk tidak dapat lewat dari darah ke dalam usus.2 Ikterus obstruktif atau bisa juga disebut kolestasis dibagi menjadi 2 yaitu kolestasis intrahepatik dan ekstrahepatik. Penyebab paling sering kolestatik intrahepatik adalah hepatitis, keracunan obat, penyakit hati karena alkohol dan penyakit hepatitis autoimun sedangkan penyebab paling sering pada kolestasis ekstrahepatik adalah batu duktus koledokus dan kanker pankreas. Penyebab lainnya yang relatif lebih jarang adalah striktur jinak (operasi terdahulu) pada duktus koledokus, karsinoma duktus koledokus, pankreatitis atau pseudocyst pankreas dan kolangitis sklerosing. 1 Sumbatan bilier ekstra-hepatik biasanya membutuhkan tindakan

pembedahan, ekstraksi batu empedu diduktus, atau insersistent, dan drainase via kateter untuk striktur (sering keganasan) atau daerah penyempitan sebagian. Untuk

3

sumbatan maligna yang non-operabel, drainase bilier paliatif dapat dilakukan melalui stentyang endoskopik.
1

ditempatkan melalui

hati

(transhepatik)

atau

secara

4

korpus. 5 II. Saluran ini kemudian keluar dari hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri. dimana fundus berhubungan dengan dinding anterior abdomen setinggi ujung tulang rawan costa IX kanan. Empedu dibentuk oleh sel-sel hati dan ditampung di dalam kanalikuli. Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah pinggir inferior hepar. Aktifitas enzim alkalifosfatase akan meningkat dan ini merupakan tanda adanya kolestasis. sebelum sumbatan melebar. infundibulum. Definisi Obstruksi Jaundice Hambatan aliran empedu yang disebabkan oleh sumbatan mekanik menyebabkanterjadinya kolestasis yang disebut sebagai ikterus obstruktif saluran empedu. Kemudian keduanya membentuk duktus biliaris komunis. Pada saluran ini sebelum mencapai duodenum terdapat cabang ke kandung empedu yaitu duktus sistikus yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu sebelum disalurkan ke duodenum.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Anatomi dan Histologis Kandung empedu merupakan kantong berbentuk bulat lonjong seperti buah alpukat dengan panjang sekitar 4-6 cm dan berisi 30-60 ml empedu. 5 . Kandung empedu terletak tepat dibawah lobus kanan hati. Kemudian disalurkan ke duktus biliaris terminalis yang terletak di dalam septum inter lobaris. Infeksi bakteri dengan kolangitis dan kemudian pembentukan abses menyertai demam dan septisemia yang tidak jarang dijumpai sebagai penyulit ikterus obstruktif. Kandung empedu terdiri atas fundus. dan kolum.

Pembuluh dariparenkim hati dan batang saluran empedu intrahepatik berkonvergensi pada porta hepatis dan berjalan sepanjang duktus hepatikus komunis di dalam ligamentum hepatoduodenale untuk memasuki sisterna khili dan kemudian duktus torasikus. Sistem Limfatik Drainase pembuluh limfe batang hepatobiliaris bersifat sentrifugal. Sel oto polos yang jarang akan ditemukan di dalam dinding fibrosa duktus utama.Histologi Saluran empedu dilapisi epitel toraks dengan bentuk seperti kriptus. yang bila terjadi peradangan. Arteri sistika yang ke vesika biliaris biasanya berasal dari arteri hepatika dekstra yang terletak posterior lateral terhadap duktus heaptikus komunis. 6 . yangdidalamnya terdapat sel mukus yang berselang-seling. dan hati. Dinding vesika biliaris memiliki empat lapisan. dan vaskularisasi duktus koledokus distal oleh cabang dari arteri gastroduodenalis dan arteri pankreatikoduodenalis superior. Daerah fundus. duktus sistikus. Drainase vena ke batang saluran empedu ekstrahepatik dan vesika biliaris langsung ke vena porta. arteri sistika ditemukan pada basis duktus sistikus dalam segitiga Calot. bisa berinvaginasi secara dalam untuk membentuk sinus Rokitansky-Aschoff. Perimuskularis dibawahnya merupakan jaringan lapisan ikat dengan penonjolan yang bervariasi dan kaya pembuluh darah dan pembuluh limfe. Sel yang mensekresi mukus hanya menonjol pada daerah kollum. Selama kolesistektomi. Tunika muskularis mengandung serabut otot longitudinalis. Vaskularisasi Suplai arteri ke batang saluran empedu ekstrahepatik proksimal muncul dari cabangkecil yang berasal dari arteri hepatika lobaris. Tunika mukosa dilapisi epitel toraks tinggi. tiga sisiya dibatasi oleh duktus hepatikus komunis. korpus dan infundibulum ditutupi oleh peritoneum viseralis.

Gambar 1 anatomi system hepatobilier III. Sebagian produksi empedu dipengaruhi oleh kendali otonom. Persyarafan vagus muncul dari vagus anterior serta penting dalam mempertahankan tonus dan kontraktilitas vesika biliaris.Limfe vesika biliaris berdrainsase sepanjang duktus sistikus ke dalam jalinan ini. Pada kolesistisis. Persyarafan Sistem Saluran Empedu Persyarafan otonom batang saluran empedu terdiri dari serabut saraf simpatis(nervus vagus) dan simpatis (torasika) yang mengikuti jalannya suplai vaskular. Serabut simpatis aferen memperantarai nyeri kolik biliaris. Fisiologis Salah satu fungsi hati adalah untuk mengeluarkan empedu. 7 . normalnya antara 600-1200 ml/hari. kelenjar limfe yang membesar khas bisa ditemukan pada kollum vesika biliaris (nodus limfatikusduktus sistikus) maupun pada sambungan duktus sistikus dengan koledokus serta sepanjangbagian supraduodenal distal dari duktus koledokus.Kandung empedu mampu menyimpan sekitar 45 ml empedu.

Diluar waktu makan. Garam empedu adalah steroid yang dibuat oleh hepatosit dan berasal dari kolesterol.Lemak menyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari mukosa duodenum. menyebabkan kandung empedu berkontraksi. Sisanya adalah bilirubin. 3 Empedu Empedu secara primer terdiri dari air. Empedu dialirkan sebagai akibat kontraksi danpengosongan parsial kandung empedu. sehingga memungkinkan masuknya empedu yang kental ke dalam duodenum. dan di akan mengalami pemekatan sekitar 50 %. dan kolesterol merupakan komponen terbesar (90%) cairan empedu. empedu disimpan untuk sementara di dalam kandung empedu. Neurogen :Stimulasi vagal yang berhubungan dengan fase Cephalik dari sekresi cairan lambung atau dengan refleks intestino-intestinal akan menyebabkan kontraksi dari kandung empedu. Hormonal :Zat lemak yang terdapat pada makanan setelah sampai duodenum akan merangsang mukosa sehingga hormon Cholecystokinin akan terlepas. Pada saat yang sama. Hormon ini yang paling besar peranannya dalam kontraksi kandung empedu. Proses koordinasi dari kedua aktifitas ini disebabkan oleh dua hal berikut ini yaitu : a. hormon kemudian masuk kedalam darah. Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak kedalam duodenum. otot polos yang terletak pada ujung distal duktus coledokus dan ampula relaksasi. Kandung empedu mampu memekatkan zat terlarut yang kedap. Garam – garam empedu dalam cairan empedu penting untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan membantu pencernaan dan absorbsi lemak. yang terkandung dalam empedu hepatik 5-10 kali dan mengurangi volume nya 80-90%. dan garam anorganik. Fungsi primer dari kandung empedu adalah memekatkan empedu dengan absorpsi air dan natrium. lesitin. Garam empedu. asam lemak. b. lemak organic dan elektrolit yang secara normaldisekresi oleh hepatosit. Pengaturan produksinya dipengaruhi mekanisme 8 .

Empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produk buangan yang penting dari darah. Metabolisme bilirubin Karena eritrosit yang sudah tidak berguna lagi di degradasi di dalam sistemretikuloendotelial. bilirubin diangkut oleh protein Y dan Z ke retikulum endoplasma. bilirubin dikonjugasikan dengan asam glukoronat dan dalam jumla lebih sedikit dengan sulfat. 9 . tetapi berbeda dari sekresi garam empedu. karena asam empedu membantu mengemulsikan partikel-partikel lemak yang besar menjadi partikel yang lebih kecil dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan dalam getahpancreas serta asam empedu membantu transpor dan absorpsi produk akhir lemak yang dicerna menuju dan melalui membran mukosa intestinal. Di dalam sitoplasma.umpan balik yang dapat ditingkatkan sampai 20 kali produksi normal kalau diperlukan. Empedu melakukan dua fungsi penting yaitu : Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorpsi lemak. diangkut ke dalam darah dan terikat pada albumin. antara lain bilirubin. Di dalam usus. dan kelebihan kolesterol yang di bentuk oleh selsel hati. untuk membentuk bilirubin glukoronida dan bilirubin sulfat. suatu produk akhir dari penghancuran hemoglobin. diekstraksi oleh hepatosit. maka hemoglobin dilepaskan dan diubah menjadi biliverdin. Dengan adanya glukoronil transferase. Pigmen ini direduksi menjadi bilirubin yang tak larut air yang tak terkonjugasi (bilirubin indirect yang diukur dengan reaksi van den bergh). Beban bilirubin harian bagi sekresi sekitar 30 mg. bakteri usus mengubah bilirubin ke kelas senyawa yang dikenal sebagai urobilinogen. Bilirubin terkonjugasi yang larut dalam air ini (bilirubin direct) kemudian disekresi ke dalam kanalikuli biliaris melalui mekanisme transpor aktif yang sama dengan yang dimiliki oleh garam organik lain.

termasukpencernaan dan penyerapan lipid di usus.dan metabolitnya. karsinogen. dan berbagai hormon. Patofisiologis Empedu merupakan sekresi multi-fungsi dengan susunan fungsi.Urobilinogen ini terutama diekskresikan di dalam feses. tetapi sebagian di reabsorpsi dan diekstraksi oleh hepatosit untuk memasuki sirkulasi enterohepatik atau diekskresikan didalam urin. dan menyediakan jalur primer ekskresi beragam komponen endogen dan produk metabolit. obatobatan. 4 10 . bilirubin. Gambar 2 IV. eliminasi toksin lingkungan. seperti kolesterol.

11 . dan cadangannya. Ketiadaan garam empedu dapat menyebabkan malabsorpsi. Feses biasanya menjadi pucat karena kurangnya bilirubin yang mencapai usus halus. seiring malabsorpsi vitamin D dan Ca bisa menyebabkan osteoporosis atau osteomalasia. Penyimpanan asam empedu hidrofobik mengindikasikan penyebab utama hepatotoksisitas dengan perubahan sejumlah fungsi sel penting. Beberapa bilirubin terkonjugasi mencapai urin dan menggelapkan warnanya. D. seperti produksi energi mitokondria. yang menyebabkan tumpahan pada sirkulasi sistemik. garam empedu. 4 V. Batu empedu dan cacing askaris sering dijumpai sebagai penyebab sumbatan di dalam lumen saluran.4 Retensi bilirubin menyebabkan hiperbilirubinemia campuran. Gangguan metabolisme mitokondria dan akumulasi asam empedu hidrofobik berhubungan dengan meningkatnya produksi oksigen jenis radikal bebas dan berkembangnya kerusakan oksidatif. mengakibatkan steatorrhea dan defisiensi vitamin larut lemak (A. Etiologi Sumbatan saluran empedu dapat terjadi karena kelainan pada dinding saluran misalnya adanya tumor atau penyempitan karena trauma (iatrogenik). level trigliserida sebagian besar tidak terpengaruh. dan lipid) di usus halus.Pada obstruksi jaundice. pruritus. Level tinggi sirkulasi garam empedu berhubungan dengan. Kolesterol dan retensi fosfolipid menyebabkan hiperlipidemia karena malabsorpsi lemak (meskipun meningkatnya sintesis hati dan menurunnya esterifikasi kolesterol juga punya andil). 4 Penyakit hati kolestatik ditandai dengan akumulasi substansi hepatotoksik. efek patofisiologisnya mencerminkan ketiadaan komponen empedu (yang paling penting bilirubin. defisiensi vitamin K bisa mengurangi level protrombin. disfungsimitokondria dan gangguan pertahanan antioksidan hati. namun tidak menyebabkan. Pada kolestasis berkepanjangan. K).

5 Beberapa keadaan yang jarang dijumpai sebagai penyebab sumbatan antara lain kista koledokus. biasanya berupa kolangitis piogenik intrahepatik. riwayat nyeri atau kolik di epigastrium dan perut kanan atas disertai tanda sepsis. Kandung empedu yang teraba membesar pada pasien jaundice juga diduga sebuah malignansi ekstrahepatik (hukum Couvoissier). kolik bilier. massa abdomen.4 VI. nyeri yang menjalar ke punggung. Riwayat demam. urin pekat. tumor kaput pankreas. Jaundice yang dalam (dengan rona kehijauan) yang intensitasnya berfluktuasi mungkin disebabkan karsinoma peri-ampula. divertikel duodenum dan striktur sfingter papila vater. Manifestasi Klinis Jaundice. Apabila terjadi kolangiolitis. mungkin ditimbulkan karsinoma pankreas. striktur bilier. karsinoma ampulla.5 Ringkasnya etiologi disebabkan oleh: koledokolitiasis. karsinoma pankreas. Hilangnya berat badan. nyeri didaerah hati.4 Batu Saluran Empedu (Koledokolitiasis) Pada batu duktus koledokus. kolangiokarsinoma. tumor kandung empedu atau anak sebar tumor ganas didaerah ligamentum hepatoduodenale dapat menekan saluran empedu dari luarmenimbulkan gangguan aliran empedu. jaundice yang semakin dalam. abses amuba pada lokasi tertentu. dan ikterus. akan ditemukan gejala klinis yang sesuai dengan beratnya kolangitis tersebut. ditambah syok. akan timbul 5 gejala pentade Reynold. feses pucat dan pruritus general merupakan ciri jaundice obstruktif. dan jaundice intermiten mungkin diduga kolangitis/koledokolitiasis.Apabila timbul serangan kolangitis yang umumnya disertai obstruksi. 12 .Pankreatitis. berupa tiga gejala trias Charcot. seperti demam dan menggigil bila terjadi kolangitis. Kolangitis akut yang ringan sampai sedang biasanya kolangitis bakterial non piogenik yang ditandai dengan trias Charcot yaitu demam dan menggigil. dan kekacauan mental atau penurunan kesadaran sampai koma.

13 . Tersangkutnya batu empedu dalam ampula akan menyebabkan ikterus obstruktif. Batu duktus koledokus disertai dengan bakterobilia dalam 75% persen pasien serta dengan adanya obstruksi saluran empedu. Episode parah kolangitis akut dapat menyebabkan abses hati. dapat timbul kolangitis akut.Gambar 3 . Migrasi batu empedu kecil melalui ampula Vateri sewaktu ada saluran umum diantara duktus koledokus distal dan duktus pankreatikus dapat menyebabkan pankreatitis batu empedu. Obstruksi batu pada gallbladder dan manifestasi klinis Koledokolitiasis sering menimbulkan masalah yang sangat serius karena komplikasi mekanik dan infeksi yang mungkin mengancam nyawa.

Diagnosis4 1. Pemeriksaan Fisik Batu saluran empedu tidak menimbulkan gejala atau tanda dalam fase tenang. akan ditemukan gejala klinis yang sesuai dengan beratnya kolangitis tersebut. 14 . Kolangitis akut yang ringan sampai sedang biasanya kolangitis bakterial nonpiogenik yang ditandai dengan trias Charcot. baru akan timbul ikterik klinis. yaitu demam dan menggigil. Apabila sumbatan saluran empedu bertambah berat. ditambah shock dan kekacauan mental atau penurunan kesadaran sampai koma. akan timbul lima gejala pentade reynold. Obstruksi pada ampula VII.Kadang teraba hati agak membesar dan sklera ikterik.Gambar 4. berupa tiga gejala tria charcot. nyeri di daerah hati dan ikterus. Apabila terjadi kolangiolitis. Apabila timbul serangan kolangitis yang umumnya disertai dengan obstruksi. biasanya berupa kolangiolitis piognik intrahepatik. Perlu diketahui bila kadar bilirubin darah kurang dari 3mg/dl. gejala ikterik tidak jelas.

Pemeriksaan laboratorium Meningkatnya level serum bilirubin dengan kelebihan fraksi bilirubin terkonjugasi. Lebih lanjut karena lokasi anatominya. 2. sonografi atau radionuklir. Sehingga berbeda dari banyak sistem tubuh lain. urin berwarna gelap dan feses berwarna terang. Nyeri kuadran kanan atas. 15 . intoleransi makanan berlemak.Serum gamma glutamyl transpeptidase (GGT) juga meningkat pada kolestasis. Tes diagnostik ini telah dirancang secara primer untuk mendeteksi adanya batu empedu dan/atau untuk menentukan adanya obstruksi atau halangan aliran empedu dengan analisis kimia berbagai fungsi hati dan ekskresi empedu atau dengan visualisasi langsung anatomi batang saluran empedu. pada pasien dengan penyakit batu kandung empedu hiperbilirubinemia lebih rendah dibandingkan pasien dengan obstruksi maligna ekstra-hepatik. gambaran fisis ikterus. namun transamin tetap normal. Transaminase juga mendadak meningkat 10 kali nilai normal dan menurun dengan cepat begitu penyebab obstruksi dihilangkan. sebenarnya diagnosis pasti sebagian besar kasus saluran empedu selalu memerlukan bantuan pemeriksaan laboratorium dan/atau teknik pembuatan gambar radiografi. Serum bilirubin biasanya <20 mg/dL. Umumnya. Tetapi gambaran ini tidak patognomonik bagi penyakit saluran empedu dan kadang-kadang bisa timbul sekunder terhadap penyakit dalam sistem organ lain. Meningkatnya leukosit terjadi pada kolangitis. demam dan kedinginan serta riwayat ikterus. bilirubin serum meningkat menjadi 35-40 mg/dL. Semuanya menggambarkan penyakit saluran empedu. Alkali fosfatase meningkat 10 kali jumlah normal. Di samping itu. nyeri tekan kuadran kanan atas dan massa pada kuadan kanan atas sangat bermanfaat dalam memusatkan diagnosis pada batang saluran empedu. pada karsinoma pankreas dan obstruksi lainnya. alkali fosfatasemeningkat 10 kali nilai normal. maka batang saluran empedu tidak memberikan kemungkinan dengan pemeriksaan palpasi luar (kecuali vesika biliaris yang berdistensi).Kelainan batang saluran empedu sering bisa dicurigai atas dasar riwayat penyakitsaja.

CEA dan CA-125 biasanya meningkat pada karsinoma pankreas. informasi staging pada kasus malignansi) USG : memperlihatkan ukuran duktus biliaris. (3) untuk mengidentifikasi penyebab spesifik obstruksi. namun tidak dapat diandalkan untuk batu kecil atau striktur. hepar dan struktur yang mengelilinginya. kolangiokarsinoma. (2) untuk menentukan level obstruksi. (4) memberikan informasi pelengkap sehubungan dengan diagnosa yang mendasarinya (misal. 3.Penanda tumor seperti CA 19-9. kandung empedu. pemeriksaan radiologis Tujuan dibuat pencitraan adalah: (1) memastikan adanya obstruksi ekstrahepatik (yaitu membuktikan apakah jaundice akibat post-hepatik dibandingkan hepatik). mendefinisikan level obstruksi. namun penanda tersebut tidak spesifik dan mungkin saja meningkat pada penyakit jinak percabangan hepatobilier lainnya. mengidentifikasi penyebab dan memberikan informasi lain sehubuungan dengan penyakit (mis. 16 . dan karsinoma peri-ampula. USG : identifikasi obstruksi duktus dengan akurasi 95%. memperlihatkan batu kandung empedu dan duktus biliaris yang berdilatasi. metastase hepatik. kista atau abses di pankreas. perubahan parenkimal hepatik). Juga dapat memperlihatkan tumor.

kandung empedu. deteksi mikrolitiasis.dan ekstrahepatik dengan akurasi 95%. EUS juga bisa digunakan untuk aspirasi kista dan biopsi lesi padat. evaluasi tumor submukosa dan berkembang menjadi modalitas penting dalam evaluasi sistem pankreatikobilier. non-invasif pada bilier dan sistem duktus pankreas. CT dengan kontras digunakan untuk menilai malignansi bilier. Namun prosedur ini invasif dan bisa menyebabkan komplikasi seperti kolangitis. pankreatitis dan perdarahan. EUS juga berguna untuk mendeteksi dan stagingtumor ampula. seperti staging malignansi gastrointestinal. ERCP dan PTC : menyediakan visualisasi langsung level obstruksi. EUS (endoscopic ultrasound) : memiliki beragam aplikasi. koledokolitiasis dan evaluasi striktur duktus biliaris benigna atau maligna. Hal ini 17 . kebocoran bilier.USG obstruksi jaundice CT : memberi viasualisasi yang baik untuk hepar. membandingkan antara obstruksi intra. ginjal dan retroperitoneum. pankreas.Gambar 5. Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography (MRCP) merupakan teknikvisualisasi terbaru.

Penatalaksanaan 1. hepatik. MRCP adalah murni diagnostik. IX. cholangitis mungkin berakibat pada suatu abses (abscess) didalam hati atau sepsis. Gambaran klinis koledokolitiasis didominasi penyulitnya seperti ikterus obstruktif. VIII. Kolesistektomi Terapi terbanyak pada penderita batu kandung empedu adalah denganoperasi. Kolesistektomi dengan atau tanpa eksplorasi duktus komunis tetap merupakan tindakan pengobatan untuk penderita dengan batu empedusimptomatik. 2. banyak ahli menganjurkan 18 . infeksi menyebar melalui saluran-saluran dari usus kecil setelah saluran-saluran menjadi terhalang oleh sebuah batu empedu. Tidak seperti ERCP. BSE yang tidak keluar spontan akan tetap berada dalam saluran empedu dan dapat membesar. Pembedahan untuk batu empedu tanpa gejala masihdiperdebatkan. Pankreatits akut Batu saluran empedu (BSE) kecil dapat masuk ke duodenum spontan tanpa menimbulkan gejala atau menyebabkan obstruksi temporer di ampula vateri sehingga timbul pankreatitis akut dan lalu masuk ke duodenum (gallstone pancreatitis). Visualisasi yang baik dari anatomi bilier memungkinkan tanpa sifat invasif dari ERCP. dan intrahepatik menjadi terinfeksi. kolangitis dan pankreatitis.terutama berguna pada pasien dengan kontraindikasi untuk dilakukan ERCP. Seperti cholecystitis. Tindakan operatif a. Pasien-pasien dengan cholangitis adalah sangat sakit dengan suatu demam yang tinggi dan peningkatan jumlah-jumlah sel darah putih. Komplikasi Obstruktif Jaundice 1. Cholangitis Cholangitis adalah suatu kondisi dimana empedu didalam saluran-saluran common.

Indikasi dari kolesistostomi adalah : 1. 3. Sfingerotomy endosokopik. Sebagian ahli lainnya berpendapat lain mengingat “silent stone” akhirnya akan menimbulkan gejala-gejala bahkan komplikasi. kandung empedu yang tidak tampak pada foto kontras dan sebagainya. Indikasi kolesistektomi sebagai berikut : 1. kesulitan teknik operasi. maka mereka sepakat bahwa pembedahan adalah pengobatan yang paling tepat yaitu kolesistektomi efektif dan berlaku pada setiap kasus batu kandung empedu kalau keadaan umum penderita baik.terapi konservatif. Penderita yang berumur lanjut. Adanya keluhan bilier apabila mengganggu atau semakin sering atau berat. PTBD (perkutaneus transhepatik bilirian drainage) . b. Adanya komplikasi atau pernah ada komplikasi batu kandung empedu. Tersangka adanya pankreatitis. c. Pemasangan “T Tube ” saluran empedu koledoskop dan Laparatomi kolesistektomi pemasangan T Tube. 2. Keadaan umum sangat buruk misalnya karena sepsis 2. Kerugian dari kolesistostomi mungkin terselipnya batu sehingga sukar dikeluarkan dan kemungkinan besar terjadinya batu lagi kalau tidak diikuti dengan kolesistektomi. 3. 19 . Kolesistostomi Beberapa ahli bedah menganjurkan kolesistostomi dan dekompresi cabangcabangsaluran empedu sebagai tindakan awal pilihan pada penderita kolesistitis dengan resiko tinggi yang mungkin tidak dapat diatasi dengan kolesistektomi dini. Adanya penyakit lain yang mempermudah timbulnya komplikasi misalnya Diabetes Mellitus. karena ada penyakit lain yang berat yang menyertai.

Wanita hamil 2. Disamping itu untuk memberi makanan secukupnya untuk memelihara beratbadan dan keseimbangan 20 . Penghentian pengobatan CDCA setelah batu larut sering timbul rekurensikolelitiasis. c. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsi (ESWL) ESWL merupakan litotripsi untuk batu empedu dimana dasar terapinya adalah disintegrasi batu dengan gelombang kejut sehingga menjadi partikel yang lebih kecil. Pemberian CDCA dibutuhkan syarat tertentu yaitu : 1. Pengobatan dengan asam empedu ini dengan sukses melarutkan sempurnabatu pada sekitar 60 % penderita yang diobati dengan CDCA oral dalam dosis 10 – 15 mg/kg berat badan per hari selama 6 sampai 24 bulan. hanya tidak dijelaskan terjadinya kekambuhan. juga untuk memperkecil kemungkinan batu memasuki duktus sistikus.2. Tindakan non operatif a. b. Pemecahan batu menjadi partikel kecil bertujuan agarkelarutannya dalam asam empedu menjadi meningkat serta pengeluarannya melalui duktus sistikus dengan kontraksi kandung empedu juga menjadi lebih mudah. Terapi disolusi Penggunaan garam empedu yaitu asam Chenodeodeoxycholat (CDCA)yang mampu melarutkan batu kolesterol invitro. Dietetik Prinsip perawatan dietetic pada penderita batu kandung empedu adalahmemberi istirahat pada kandung empedu dan mengurangi rasa sakit. Kolik empedu berat atau berulang-ulang 4. Kandung empedu yang tidak berfungsi. Amerika Serikat juga dapat berhasil. Penyakit hati yang kronis 3. secara invivo telah dimulai sejak 1973 di klinik Mayo.

Bahan makanan yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan makanan juga harus dihindarkan. 21 . Kadangkadang penderita batu kandung empedu sering menderita konstipasi. maka diet dengan menggunakan buah-buahan dan sayuran yang tidak mengeluarkan gas akan sangat membantu.cairan tubuh. Pembatasan kalori juga perlu dilakukan karena pada umumnya batu kandung empedu tergolong juga ke dalam penderita obesitas.

1 Jaundice dapat terjadi akibat adanya hambatan saluran empedu. 22 . III KESIMPULAN Ikterus adalah perubahan warna kulit. sklera mata atau jaringan lainnya (membran mukosa) yang menjadi kuning karena pewarnaan oleh bilirubin yang meningkat konsentrasinya dalam sirkulasi darah. biasanya sebagai akibat metabolisme sel darah merah. Pengobatan ikterus sangat bergantung penyakit dasar penyebabnya. Sumbatan saluran empedu dapat terjadi karena kelaian pada dinding saluran empedu misalnya adanya tumor atau penyempitan karena trauma (iatrogenik).BAB. Bilirubin dibentuk sebagai akibat pemecahan cincin heme.

5. 3.medscape. Buku Ajar Ilmu Bedah. Diunduh dari http://www. Bonheur. Patofisiologi Pembentukan Batu Empedu. James S.L.nih.ncbi. Barrett P.com/article/187001-overview. Buku Ajar Ilmu Bedah. Sjamsuhidayat R. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005.BAB IV DAFTAR PUSTAKA 1.info/cholelithiasis-patofisiologi-pembentukan-batu-empedu 20110216. Diagnosis of Obstructive Jaundice.html 4. Cholelithiasis. Edisi 2. 23 . Clarke. Sabiston David C.. J. Biliary Obstruction. Diunduh dari : http://emedicine.nlm.115-128 2. Diunduh dari: http://ilmubedah. Jr.gov/pmc/articles/PMC1501243/. Jakarta:EGC.2010. de Jong W. 570-9.