You are on page 1of 14

BAB I PENDAHULUAN

Myopia adalah kelainan pada mata yang paling umum, yang mempengaruhi kira-kira satu milyar orang di seluruh dunia. Myopia diklasifikasilan menjadi sangat ringan atau rendah < 3 dioptri, sedang atau menengah 3-6 dioptri, parah atau tinggi > 6 dioptri. Terdapat kekhwatiran bahwa pasien dengan myopia tinggi berisiko untuk terjadinya robekan retina apabila mereka melalui persalinan normal pervaginam. Tetapi dalam beberapa studi telah menunjukkan wanita hamil yang mempunyai riwayat kelainan pada mata (myopia, ablasio retina yang telah ditangani) yang melahirkan secara pervaginam tidak mempunyai efek merugikan pada retina pasien tersebut. Myopia (minus) dapat diklasifikasikan sebagai myopia simpleks dan myopia patologis. Myopia simpleks biasanya ringan dan myopia patalogis hampir selalu progresif. Keadaan ini biasanya diturunkan orang tua pada anaknya. Myopia tinggi adalah salah satu penyebab kebutaan pada usia dibawah 40 tahun. Myopia tinggi adalah myopia dengan ukuran 6 dioptri atau lebih. Penderita dengan minus diatas 6 dioptri mempunyai risiko 3-4 kali lebih besar untuk terjadinya komplikasi pada mata.

bayangan akan bergerak mendekati retina dan terlihat lebih fokus.1 DEFINISI 2. Pada anak yang memiliki satu orang tua penderita myopia. yang kedua orang tuanya mengalami myopia. Myopia yang diketahui dengan retinoskopi nonsikloplegik pada masa bayi dan kemudian menurun menjadi emetropia sebelum anak tersebut memasuki usia sekolah tampaknya adalah faktor risiko perkembangan myopia pada masa kanak-kanak. Dilaporkan bahwa prevalensi myopia lebih tinggi pada beberapa area di Asia. Pada myopia. hanya 615 % anak-anak mereka yang myopia. Prevalensi ini berkurang pada populasi berusia di atas 45 tahun. mencapai 20-25 % pada populasi remaja dan 25-35 % pada dewasa muda di Amerika Serikat dan negara-negara maju. 2.1. seperti China dan Jepang. Prevalensi myopia pada populasi Asia sekarang mencapai 70-90 %.1. prevalensinya adalah 23-40 %. Bila tak satupun orang tua yang menderita myopia. Faktor Resiko Faktor risiko yang penting dalam perkembangan myopia adalah riwayat keluarga myopia. Derajat myopia dapat diperkirakan dengan menghitung kebalikan dari titik jauh tersebut. Prevalensi myopia meningkat pada usia sekolah dan dewasa muda. Jika objek digeser lebih dekat dari 6 meter.BAB II PEMBAHASAN 2. Titik tempat bayangan terlihat paling tajam fokusnya di retina disebut “titik jauh”. Penelitian menunjukkan prevalensi 33-60 % myopia pada anak. panjang bola mata anteroposterior dapat terlalu besar atau kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat. atau nearsighted. dan menurun hingga 14 % pada orang berusia 70-an. Myopia Bila bayangan benda yang terletak jauh difokuskan di depan retina oleh mata yang tidak berakomodasi. Suatu analisis menyatakan bahwa anomali refraksi yang dialami saat . Epidemiologi Prevalensi dan Insiden Prevalensi myopia bervariasi dengan usia dan faktor lainnya.1. mencapai 20 % pada usia 65 tahun. mata tersebut mengalami myopia.2.

00 dapat menjadi faktor risiko. Myopia sedang. kondisi yang mengganggu pembentukan penglihatan yang normal sering menyebabkan myopia. dan pekerjaan yang melakukan banyak kegiatan jarak dekat. Myopia ringan. Tipe Myopia Dikenal beberapa bentuk myopia seperti: a.5 D memiliki kemungkinan mengalami myopia yang lebih besar dibanding individu berusia sama dengan hiperopia lebih dari 0. kelainan yang terjadi disebut myopia kurvatura atau myopia refraktif. dimana myopia lebih antara 3 – 6 dioptri c. Untuk setiap milimeter tambahan panjang sumbu. risiko myopia lebih tinggi pada anak dengan astigmat against-the-rule.masuk sekolah adalah prediktor yang lebih baik untuk mengetahui siapa yang akan mengalami myopia pada masa kanak-kanak dibandingkan riwayat myopia pada orang tua. Myopia aksial Myopia aksial terjadi bila mata berukuran lebih panjang daripada normal. Myopia refraktif Apabila unsur-unsur pembias lebih refraktif dibandingkan dengan rata-rata. Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti yang terjadi pada katarak intumesen. myopia dibagi dalam: a. Menurut derajat beratnya. Sama dengan myopia bias atau myopia indeks. yakni myopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat. dimana myopia lebih besar dari 6 dioptri .3. Kurvatura kornea yang lebih tajam dan rasio panjang aksial terhadap radius kornea yang lebih dari 3. Pada anakanak. dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. 2. Myopia berat atau tinggi. mata kira-kira lebih miopik 3 dioptri. pendidikan yang lebih tinggi. b. Selain itu. Anak dan dewasa muda dengan anomali refraksi berkisar antara emetropia hingga hiperopia 0. dimana myopia lebih kecil daripada 1 – 3 dioptri b. Melakukan sejumlah pekerjaan jarak dekat secara teratur dapat meningkatkan risiko myopia. Myopia berkaitan dengan banyaknya waktu yang digunakan untuk membaca.5 D.1.

sedangkan melihat jauh akan kabur atau biasa disebut “rabun jauh”. Partus immaturus ialah partus yang terjadi pada masa kehamilan kurang dari 28 minggu namun lebih dari 20 minggu dengan berat janin antara 1000 – 500 gram. Sedangkan partus postmaturus atau serotinus adalah partus yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang diperkirakan. . Seseorang dengan myopia akan memiliki kebiasaan mengerenyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam. Kala II disebut pula kala pengeluaran. janin didorong keluar sampai lahir. Pasien akan memberikan keluhan sakit kepala. Dalam kala itu. Kala I dinamakan pula kala pembukaan. sering disertai dengan juling dan celah kelopak yang sempit.4 2. Bila kedudukan mata ini menetap. maka penderita akan terlihat juling ke dalam atau esotropia. Pada mata dnegan myopia tinggi akan terdapat pula kelainan pada fundus okuli seperti degenerasi makula dan degenerasi retina bagian perifer.1. mungkin fungsi satu mata telah berkurang atau terdapat ambliopia. Dalam kala III atau kala uri plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan.4. Berat janin antara 1000 sampai 2500 gram atau tua kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu. Pada pemeriksaan funduskopi terdapat miopic cressent yaitu gambaran bulan sabit yang terlihat pada polus posterior fundus mata myopia. Persalinan Persalinan atau partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar.Pasien dengan myopia akan menyatakan melihat jelas bila dekat malahan melihat terlalu dekat. oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan. Pada kala I serviks membuka samapai terjadi pembukaan 10 cm. sklera oleh koroid. diamati apakah terjadi perdarahan postpartum.5. 2. Partus prematurus adalah suatu partus dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetapi belum cukup bulan. Fisiologi Persalinan Normal Partus dibagi menjadi 4 kala. Bila terdapat juling keluar. Myopia derajat tinggi menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap gangguan-gangguan retina degeneratif seperti ablatio retinae1 ataupun gangguan lain seperti juling. Pasien dengan myopia juga memiliki pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi. Juling biasanya esotropia atau juling ke dalam akibat mata berkonvergensi terus-menerus.1.

Sedangkan darahnya berasal dari pembuluh-pembuluh darah kapiler yang berada di sekitar kanalis servikalis itu pecah karena pergeseran-pergeseran ketika serviks membuka. Tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan hampir lengkap atau telah lengkap. Fase Laten Berlangsung selama 8 jam. disebut ketuban . tetapi fase-fase tersebut menjadi lebih pendek. Pada multigravida ostium uteri internum sudah sedikit terbuka. Ostium uteri internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam saat yang sama. Pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm. Fase Akselerasi  Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm tadi menjadi 4 cm. dalam waktu 2 jam. yaitu: i. Baru kemudian ostium uteri eksternum membuka. Tidak jarang ketuban harus dipecahkam ketika pembukaan hampir atau telah lengkap. yaitu: a. Proses membukanya serviks sebagai akibat his dibagi dalam 2 fase. Pada multigravida pun terjadi demikian. Fase Deselerasi  Pembukaan menjadi lambat kembali. Bila ketuban telah pecah sebelum mencapai pembukaan 5 cm. Pada yang pertama. sehingga serviks akan mendatar dan menipis. Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. iii. pembukaan 9 cm menjadi lengkap. ii. ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu. Fase Dilatasi Maksimal  Dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat.Kala I Klinis dapat dinyatakan partus dimulai bila timbul his dan wanita tersebut mengeluarkan lendir yang bersemu darah. b. Fase Aktif Dibagi ke dalam 3 fase lagi. Lendir yang bersemu darah ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai membuka atau mendatar. Mekanisme membukanya serviks berbeda antara primigravida dan multigravida. Ketuban akan pecah dengan sendirinya ketika pembukaan hampir atau telah lengkap. dari 4 cm menjadi 9 cm.

5 jam. Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi. kepala janin dilahirkan dengan suboksiput di bawah simfisis dan dahi. kehamilan menyebabkan perubahan pada mata.4 Kala IV Seperti diterangkan di atas. Akibat beberapa mekanisme ini. dan sistem imunologik. Kala III Setelah bayi lahir. kira-kira 2 sampai 3 menit sekali. baik sistemik maupun okular. yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. his mulai lagi untuk mengeluarkan badan. kepala janin tidak masuk lagi di luar his. Pada primigravida kala I berlangsung kira-kira 13 jam. Kemudian perineum mulai menonjol dan menjadi lebar dengan anus membuka. Pada primigravida. dan dengan his dan kekuatan mengedan maksimal. dan anggota bayi.5 jam dan pada multipara rata-rata 0. sistem hormon. Karena biasanya dalam hal ini. hiperdinamisitas sirkulasi kapiler retina mungkin menyebabkan .pecah dini. Beberapa menit kemudian ueterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di atas pusat. Wanita merasa pula tekanan pada rektum dan hendak buang air besar. Kala II Pada kala II his menjadi lebih kuat dan lebih cepat. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah. Biasanya plasenta lepasdalam 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir dengan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri. Setelah istirahat sebentar. PERUBAHAN DAN GANGGUAN PENGLIHATAN PADA KEHAMILAN Seorang wanita mengalami banyak perubahan pada saat kehamilan. terjadi perubahan fisiologis pada sistem kardiovaskular. hematologik. Perubahan hormon dan metabolik yang terjadi pada saat kehamilan. kepala janin sudah masuk di ruang panggul. metabolik. sedangkan pada multipara kira-kira 7 jam. maka pada his dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul. Kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap. kala ini dianggap perlu untuk mengamati apakah ada perdarahan postpartum. Pada saat kehamilan. 2. muka dan dagu melewati perineum. kala II berlangsung rata-rata 1. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu his.2.

Beberapa gangguan sistemik yang terjadi pada kehamilan juga dapat mempengaruhi mata. Spider angiomas. Perubahan pigmentasi tersebut akan hilang perlahan setelah melahirkan. prolactinoma dan Sindroma Sheehan’s. Adneksa Okular Chloasma atau yang lebih dikenal sebagai “topeng kehamilan” adalah proses hormonal. akibat tekanan pada saat proses kelahiran. dan juga hilang setelah melahirkan. yang merupakan salah satu jenis telengiektasi. dan efek yang menguntungkan dari uveitis non-infeksiosa.8. penyakit Grave’s dan sklerosis multipel. indeks refraksi. peningkatan resiko terjadinya distrofi vitreokorioretinal perifer dan ablatio retina. namun dapat juga menetap. Kadar imun tersupresi. Perubahan hormon merupakan perubahan sistemik yang paling menonjol pada wanita hamil.levator akibat adanya perubahan cairan serta hormonal. Perubahan penglihatan pada kehamilan sering terjadi. seperti preeklampsia. Gangguan intrakranial dengan efek pada okuler pada kehamilan yaitu Pseudotumor cerebri. perubahan ketebalan kornea.9 Ptosis telah dilaporkan timbul saat dan setelah kehamilan dan biasanya bersifat unilateral. ketidaksesuaian akomodasi dan refraksi. yang biasanya bersifat sementara. dan menurunnya tekanan intraokular. kelenjar endokrin ibu. Plasenta. atau bisa eksaserbasi dari kondisi yang telah ada sebelumnya. Kehamilan sering dihubungkan dengan perubahan pada mata. biasanya timbul pada saat kehamilan di daerah muka dan tubuh bagian atas.progresivitas dari retinopati diabetika pada wanita hamil dengan diabetes.9 . Perubahan yang dapat terjadi pada mata termasuk chloasma. Perubahan yang dapat terjadi pada segmen posterior termasuk perburukan dari retinopati diabetik. menyebabkan wanita hamil tersebut mudah mengalami kelainan imun yang serius. yang ditandai dengan meningkatnya pigmentasi di sekitar mata dan pipi. spider angiomas dan ptosis. dan sebagian besar berhubungan secara spesifik dengan kehamilan itu sendiri. dan kelenjar adrenal fetus mengkombinasi produktivitasnya menghasilkan pabrik hormon berkekuatan tinggi. korioretinopati serosa sentral. Perubahan yang dapat terjadi pada segmen anterior yaitu berkurangnya kapiler di konjungtiva dan bertambahnya jaringan granular di venula dan lengkungan kornea. Mekanisme terjadinya ptosis diperkirakan akibat defek yang terjadi pada aponeurosis m. Efek okular pada kehamilan ini dapat bersifat fisiologis maupun patologis.

Kerusakan Lensa Kehamilan menginduksi terjadinya “syndrone kekeringan mata” yang timbulakibat gangguan pada sel acinar kelenjar lakrimal. serta meningkatkan reaktivitas imun terhadap prolactin. Kornea Banyak wanita yang mengalami intoleransi terhadap lensa kontak saat kehamilan. Suatu penelitian yang meneliti mengenai lengkungan kornea pada wanita hamil menyebutkan peningkatan statiskik yang signifikan pada lengkungan kornea pada trimester kedua dan ketiga. TGF. Kehamilan dapat mencetuskan perubahan dari ekspresi faktor pertumbuhan (growth factor) kelenjar lakrimal dan redistribusi limfosit dari periductal foci ke celah interacinar. dengan perubahan terbesar terjadi pada tahap akhir kehamilan.beta 1 dan EGF pada sel duktus. Ini telah dibuktikan oleh Pizzarello yang telah melakukan penelitian pada 83 orang wanita hamil untuk menentukan penyebab perubahan penglihatan selama kehamilan dan dan post partum. Namun dianjurkan untuk menunda pemberian resep maupun lensa kontak sampai beberapa minggu setelah kelahiran. Wanita hamil yang mengeluh . Sensitifitas kornea cenderung berkurang. Peningkatan ketebalan yang sedikit namun dapat terukur pada kornea disebabkan oleh terjadinya edema pada saat kehamilan. Gangguan Akomodasi dan Refraksi Perubahan akomodasi dan gangguan refraksi pada masa kehamilan telah dilaporkan. Hilangnya daya akomodasi yang bersifat sementara dapat terjadi pada saat maupun sesudah kehamilan.Segmen Anterior Konjungtiva Penurunan kapiler konjungtiva dan peningkatan jaringan granuler venula konjungtiva telah dilaporkan terjadi dan hilang setelah kelahiran. Akibat dari variasi ketebalan tersebut. indeks refraksi kornea juga dapat berubah. walaupun mereka tidak memiliki masalah dengan lensa kontak sebelum kehamilannya. Kehamilan juga dihubungkan dengan perubahan pada ketebalan dan sensitifitas kornea. namun akan hilang setelah melahirkan ataupun setelah mulai menyusui. selama ataupun segera setelah kehamilan tidak dapat diprediksi. Insufisiensi akomodasi dan paralisis dilaporkan berhubungan dengan laktasi. dan operasi ini disarankan untuk ditunda hingga terjadi stabilitas refraksi setelah kelahiran. Myopia dapat meningkat selama kehamilan. Hasil operasi refraksi mata sebelum.

Korioretinopati serosa sentral pada wanita hamil sering dihubungkan dengan eksudat subretina yang kemungkinan bersifat fibrinosa alami. Perubahan diabetik yang terjadi selama kehamilan tidak jauh berbeda dengan yang ditemukan pada pasien non diabetik dan pada pria.4%. akan tetapi dapat terjadi konsekuensi yang buruk terhadap ibu dan bayinya. Sedangkan pada hipertensi okular. Foto-koagulasi dengan laser harus dipertimbangkan untuk wanita hamil dengan pre-proliferatif retinopati diabetika yang berat. Gangguan pandangan yang diakibatkan oleh retinopati diabetika pada kehamilan jarang terjadi. Beberapa mekanisme ini termasuk adanya peningkatan keluaran aqueous humor. Lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita dengan perbandingan 10:1. Korioretinopati serosa sentral Ini adalah kelainan makular yang ditandai oleh ablatio retina serosa lokalisata. yang kemudiannya kembali ke tingkat semulanya pada post-partum. peningkatan elastisitas jaringan generalisata yang menyebabkan berkurangnya kekakuan sklera. Namun. penurunan resistensi vaskuler sistemik yang menyebabkan terjadinya penurunan tekanan vena episclera. Umumnya menyerang dewasa pada usia pertengahan sekitar 20 sampai 45 tahun. Eksudat subretinal fibrinosa ini terlihat pada 90% pasien. Gangguan Segmen Posterior a. Kehamilan adalah salah satu faktor resiko terjadinya penyakit ini. dibandingkan dengan kurang dari 20% . b. Retinopati Diabetika Kehamilan dapat memperparah retinopati diabetika yang telah ada. kehamilan menurunkan tekanan intraokular hingga 24. dan asidosis generalisata selama kehamilan. Kehamilan dihubungkan dengan penurunan tekanan intraokular pada mata yang sehat dan hipertensi okular.6%.terjadinya perubahan visual telah ditemukan perubahan pada kondisi myopia yang telah ada pada kehamilan. Pada subjek yang normal. kehamilan pada pasien diabetes yang terkontrol tidak menjadi faktor resiko untuk terjadinya komplikasi vaskular. Retinopati diabetika proliferatif mungkin tidak membaik setelah kelahiran. Berbagai macam mekanisme telah diimplikasikan pada hasil penelitian ini. kehamilan menurunkan tekanan intraokular sampai 19. Tekanan Intraokular Kehamilan dapat memberikan keuntungan pada glaukoma. Hampir 35% dari keseluruhan penurunan terjadi pada minggu ke 12 dan 18 kehamilan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa pada beberapa kasus dapat membaik secara spontan setelah kelahiran namun dapat juga menetap. c. dan menyebabkan kehilangan penglihatan jangka panjang. Apabila kondisi tersebut timbul . Ablatio Retina Rhegmatogenosa Wanita hamil dengan myopia tinggi. apakah diperbolehkan melahirkan spontan pervaginam. atau harus dilakukan profilaksis atas indikasi resiko tinggi terjadinya kelainan retina. Telah dilaporkan bahwa kehamilan berhubungan dengan sejumlah kasus timbulnya uveitis non-infeksi dibandingkan dengan kondisi tanpa kehamilan.korioretinopati sentral serosa (tanpa kehamilan). e.8% kasus.5 d. Telah dibuktikan bahwa tatalaksana prenatal untuk kelainan retina asimptomatik tidak dianjurkan dan kelahiran spontan pervaginam diperbolehkan untuk dilakukan oleh wanita dengan kelainan retina resiko tinggi. Banyak ahli obstetri masih mempercayai bahwa wanita hamil dengan kelainan mata beresiko mengalami ablatio retina rhegmatogenosa harus melahirkan dengan instrumen atau bahkan dianjurkan untuk Sectio Caesaria. Distrofi Vitrokorioretinal Perifer (PVCRD) Observasi dinamis yang diikuti pada 86 wanita hamil dengan distrofi vitrokorioretinal (121 mata) menunjukkan bahwa kondisi tersebut berkembang selama masa kehamilan pada 33. Insidens tertinggi progresivitas PVCRD diamati pada wanita hamil dengan sistem haemodinamik tipe hipokinetik. riwayat ablatio retina atau perlubangan retina. Gangguan ini akan sembuh secara spontan pada akhir kehamilan atau setelah melahirkan. badan siliar dan choroid. terdiri dari iris. Hal tersebut dapat timbul ataupun memburuk selama kehamilan. Uveitis Uveitis mengacu pada peradangan dari traktus uvea. Telah ditunjukkan bahwa edema makular sering berhubungan dengan wanita hamil yang menderita diabetes yang juga memiliki proteinuria dan hipertensi. atau diketahui memiliki degenerasi lattice umumnya dirujuk ke spesialis mata untuk meminta saran manajemen kelahiran. namun dapat timbul kembali di luar kehamilan. Edema Makular Edema makular dengan atau tanpa retinopati proliferatif juga dapat timbul pada masa kehamilan. Menurunnya haemodinamik okular dan kekakuan sklera adalah karakteristik kehamilan. f.

uveitis idiopatik dan penyakit Behcet’s. Sebagian besar (58 % ) mengambil keputusan tentang pelaksanaan persalinan ibu hamil hanya berdasarkan pendapat pribadi saja. Namun tidak ada kasus yang dilaporkan dalam literatur yang dapat menghubungkan ablasio atau robekan retina dengan myopia pada wanita yang melahirkan. Socha et. MYOPIA TINGGI PADA PERSALINAN Banyak pendapat mengenai hal ini. Portugal. dan beberapa faktor lain dengan kehamilan dapat memberikan pengaruh penekanan pada uveitis. . Dua kelainan mata yang paling sering mengarah ke operasi seksio Caesarea adalah myopia dan retina diabetikum. 2. Sebagian besar dari wanitawanota tersebut akan mengalami kekambuhan dalam 6 bulan pasca kelahiran. Hampir setengah dari keputusan untuk operasi seksio Caesarea diambil hanya berdasarkan indikasi oftalmologi. Diduga bahwa peningkatan hormon-hormon intrinsik. 100 (2.saat kehamilan. Namun demikian. umumnya terjadi pada trimester pertama. Literatur menunjukkan bahwa sedikit bukti untuk mendukung keyakinan bahwa riwayat operasi pada retina sebelumnya meningkatkan risiko perlepasan retina pada persalinan spontan. Kebanyakan dari responden (76 % di antaranya) merekomendasikan persalinan yang dibantu alat (salah satu operasi seksio Caesarea atau persalinan instrumental).04 %) diantaranya karena indikasi okular yang telah dikonsulkan ke spesialis mata dan disarankan untuk persalinan secara operasi. terutama kortikosteroid. Banyak yang mengatakan pasien dengan myopia yang tinggi beresiko mengalami robekan retina pada saat melahirkan secara spontan. dimana sebanyak 4895 operasi seksio Caesarea yang dilakukan telah diamati. Mayoritas dari dokter spesialis kebidanan ini tidak mendukung pandangan ini. Al telah melakukan suatu studi. telah melakukan survei pada 74 orang ahli kebidanan di Kongres Kebidanan dan Kandungan Eropa di Lisbon. sedangkan 24 % yang memberikan saran persalinan yang normal dan tidak ada faktor lain yang mempengaruhi keputusan ini. hal itu tetap menjadi dua kali lebih tinggi pada tahun 2000. Papamicheal et al. Frekuensi operasi seksio Caesarea atas indikasi okular telah meningkat banyak pada tahun 2005 hingga 2006 tapi merosot sejak tahun 2006.3. Penyebab spesifik dari uveitis noninfeksi ini menunjukkan efek yang menguntungkan dari kehamilan termasuk sindroma VogtKoyanagi-Harada.

rata-rata menjelaskan persalinan spontan harus dihindari karena peningkatan risiko ablasio retina akibat peningkatan tekanan intra-okular yang disebabkan oleh manuver yang mirip Valsalva pada kala 2 persalinan. tidak terbukti adanya progresivitas dari perubahan retina dan terjadinya robekan retina. namun pada beberapa pasienditemukan adanya perdarahan retina dan edema makular. Hal ini hanya dapat disebabkan oleh kondisi yang mempengaruhi aliran drainase dari aqueous pada ruang anterior mata seperti glaukoma. Komentar yang diberikan kebanyakannya mirip. Dari pengamatan tersebut disimpulkan bahwa myopia tinggi bukan merupakan indikasi untuk dilakukan operasi caesar. Apabila ditanyakan tentang kondisi mata yang manakah jika ada akan mempengaruhi pengambilan keputusan klinis antara operasi seksio Caesarea dengan persalinan apontan pervaginam. Hasil survei ini sejalan dengan data yang dilakukan di Inggeris dan ini mungkin menunjukkan pegangan ini dipakai secara internasional. riwayat ablasio retina sebagai risiko sedang-tinggi (73 %). 61 % menghindar untuk menjawab pertanyaan ini yang mengindikasikan mayoritas dokter spesialis masih bingung untuk memilih apa yang lebih praktis. yang melakukan pengamatan terhadap 42 pasien dengan myopia tinggi dan 4 pasien dengan myopia tinggi disertai riwayat operasi ablatio retina pada salah satu mata. . Selain itu. riwayat keluarga dengan ablasio retina dan riwayat operasi mata sebelumnya menjadi kategori risiko rendah. namun sebaiknya tetap dilakukan pemeriksaan oftalmologi pada pasien setelah melahirkan. 13.6 % lagi mengatakan pasien dengan riwayat ablasio retina. hanya 14 % responden mengatakan pasien tanpa riwayat kelainan mata. sedang atau tinggi untuk persalinan spontan. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa peningkatan tekanan intra-abdominal juga akan meningkatkan tekanan intra-okular. peningkatan tekanan intra-okular bukanlah faktor risiko untuk terjadinya ablasio retina.Partisipan juga diminta untuk mengklasifikasikan pasien dengan myopia tinggi.10 Menurut pengamatan yang dilakukan oleh Prost. riwayat ablasio retina. Mayoritas membagikan myopia tinggi sebagai tidak berisiko atau risiko rendah (59 %). 48 % juga mengatakan pasien dengan riwayat ablasio retina merupakan indikasi untuk operasi seksio Caesarea. riwayat keluarga dengan ablasio retina sebagai risiko rendah-sedang (73 %) dan riwayat operasi mata sebelumnya sebagai risiko tinggi (56 %).

Tingkat persalinan secara ekstraksi vakum diamati lebih tinggi pada pasien dengan myopia sedang dan tinggi berbanding pasien dengan myopia rendah dan tidak myopia. persalinan spontan pervaginam tidak dianggap sebuah kontraindikasi untuk pasien dengan myopia tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati 50 wanita dengan myopia (4. 421 orang (61 %) dengan myopia rendah. Penelitian yang dilakukan pada 10 wanita yang telah mengalami 19 persalinan (10 prospektif dan 9 retrospektif) dan memiliki riwayat ablatio retina sebelumnya. Di dalam jumlah tersebut terdapat 693 wanita hamil dengan myopia. .0 D) yang akan melahirkan. Persalinan dengan operasi seksio caesarea dilaporkan kurang lebih sama pada pasien yang tidak myopia. telah didiagnosa mengalami degenerasi lattice yang luas. 159 orang (23%) dengan myopia sedang dan 113 orang (16 %) dengan myopia tinggi. Al telah meneliti 30553 persalinan selama 9 tahun di antara 1993 hingga 2002. Kesimpulannya. Berbagai macam tipe degenerasi retina dan kerusakan retina ditemukan pada pemeriksaan pre partum. Hasil penelitian tersebut menyatakan tidak ditemukannya perubahan pada retina pada pemeriksaan postpartum.Penelitian lain juga mendukung hal ini. diawasi adanya perubahan pada retina.5 – 15. Terdapat 87 % pasien melahirkan secara spontan. 3 % melahirkan dibantu ekstraksi vakum dan 10 % persalinan secara seksio caesarean. Dilakukan pemeriksaan funduskopi pada seluruh responden sebelum dan setelah melahirkan. dan kelahiran spontan per vaginam dapat dilakukan pada wanita dengan resiko tinggi terjadinya kelainan retina. Di antara semua pasien. pasien dengan myopia tinggi mempunyai kadar persalinan secara operasi yang lebih tinggi berbanding persalinan spontan. Dari hasil penelitian tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Neri A et al juga mendukung hal tersebut. disarankan untuk tetap dilakukan persalinan spontan per vaginam pada pasien dengan myopia tinggi. dan myopia tingkat rendah-sedang serta lebih tinggi pada pasien dengan myopia tinggi. atau telah mendapat terapi simptomatik untuk kerusakan retina. namun tidak ditemukan adanya perburukan dari kelainan yang ada pada pemeriksaan post partum. sehingga dapat disimpulkan terapi prenatal pada kelainan retina asimptomatik tidak dianjurkan.12 Sebuah penelitian telah menunjukkan terdapat kecenderungan yang tinggi persalinan secara seksio caesarean pada pasien denga myopia tinggi. Subjek diikuti sejak trimester ketiga kehamilan sampai pada proses persalinan dan post partum. Loncare et.