You are on page 1of 87

Tanggal

:

2013

PEMBERIAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA CEDERA AKIBAT LISTRIK

LISTRIK BISA MENJADI KAWAN & BISA MENJADI LAWAN YANG MEMATIKAN

Electrical Hazards
Apakah anda pernah kesetrum ?

BAHAYA LISTRIK TERHADAP MANUSIA

SEBAB-SEBAB :
1. 2. 3. 4. 5. Aliran arus listrik pengaruh medan magnit Kesalahan mekanik perlengkapan listrik Bunga api kombinasi

Faktor Yang Mempengaruhi Keparahan Pada Cedera Akibat Listrik          Voltage/Kekuatan listrik (beda potensial) Amper (Arus Listrik) Type Arus/jenis aliran (searah/bolak-balik) Lama Kontak == banyaknya energi yang terserap Daerah / bagian tubuh yang kontak (Tahanan) Jalan Arus Banyaknya Jaringan Resistance Kandungan Air Dalam Jaringan Kondisi phisik dan kejiwaan (perubahan tahanan) .

Jaringan Penghantar Listrik 1. Jaringan konduktor • • Pembuluh darah Otot 2. Jaringan tidak konduktor • • • Tulang Kulit kering Syaraf tepi .

Akibat Arus bolak-balik – Kejang otot – Berkeringat – Kerusakan jaringan – Vertrikel fibrilasi sampai henti jantung. 100 v & 60 Hz menyebabkan ventrical fibrilation . – Voltage dan freq.Akibat Sengatan listrik Arus searah dan Bolak-balik 1. otak kurang O2 dan meninggal. Akibat arus searah : – Perubahan elektrolit. 2.

usually temporary Lebih dari 50 ma possible ventricular fib.5 ma Dirasakan Lebih dari 3 ma painful shock Lebih dari 10 ma Kontraksi otot “no-let-go” danger. severe burns. fatal Lebih 4 amps heart paralysis. 1 dtk ventricel fibrilasi. (heart dysfunction. 0. Lebih dari 30 ma lung paralysis.Akibat Sengatan Listrik        0. 0. pingsan. pernafasan. Usually caused by >600 volts .1 dtk tdk tjd gangguan. usually fatal) 100 ma sampai 4 amps certain ventricular fibrillation.5 dtk kelumpuhan sementara.

03/Men/1982 Pasal 2 3. Peraturan Khusus AA (Sudah Tidak Berlaku) . 1 tahun 1970 Pasal 3 dan Pasal 9 ayat 3 2. Permennakertrans No. 3 Tahun 1969 Pasal 19 4.Per. Undang-undang No. Undang-undang No.Peraturan Perundangan Yang Terkait Dengan K3 1.

Undang-undang No.   Pelaksanaan P3K Pendidikan petugas P3K .03/Men/1982  Pasal 2: Tugas pokok P3K. Permennakertrans No. 1 tahun 1970  Pasal 3: syarat-syarat Keselamatan Kerja untuk memberikan P3K  Pasal 9 ayat (3): kewajiban membina tenaga kerja dalam pemberian P3K 2.Peraturan Perundangan Yang Terkait 1.Per.

dengan memperhatikan besarnya dan kemungkinan bahaya harus :    Menyediakan Apotik atau pos P3K sendiri atau Memelihara apotik atau pos P3K bersama-sama dengan badan.Peraturan Perundangan Yang Terkait 3. Mempunyai satu atau lebih lemari. lembaga atau dinas pemberi jasa. Undang-undang No. Peraturan Khusus AA (Sudah Tidak Berlaku)    Alat pengangkut penderita (brankar/Bale-bale) Peti P3K/Peti khusus dokter Petugas P3K yang sudah dilatih . 3 Tahun 1969  Pasal 19 : Setiap badan . atau bagiannya yang tunduk kepada konvensi ini. kotak atau perlengkapan P3K 4. lembaga atau kantor pemberi jasa atau bagiannya.

2)Pengurus wajib melaksanakan P3K di tempat kerja.5. Per. Permenakertrans No. Kewajiban pengurus/pengusaha : 1) Pengusaha wajib menyediakan petugas P3K dan fasilitas P3K di tempat kerja.15/Men/VIII/2008 tentang P3K Di Tempat Kerja Ps 2. .

. d. 2) Syarat-syarat pemberian lisensi petugas P3K Di Tempat Kerja : a. Bekerja pada perusahaan yang bersangkutan.Permenakertrans No.15/Men/VIII/2008 ttg P3K Di Tempat Kerja Ps. c. Sehat jasmani dan rohani. Per. b. Bersedia ditunjuk menjadi petugas P3K. Memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar di bidang P3K di tempat kerja  memiliki sertifikat pelatihan P3K di Tempat Kerja.3 Syarat Petugas P3K Di Tempat Kerja : 1) Harus memiliki lisensi dan buku kegiatan P3K dari instansi ketenagakerjaan.

Pedoman tentang pelatihan dan pemberian lisensi diatur lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan. Per. 4) .15/Men/VIII/2008 ttg P3K Di Tempat Kerja 3) Pemberian lisensi dan buku kegiatan P3K sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dikenakan biaya.Permenakertrans No.

Ps.15/Men/VIII/2008 ttg P3K Di Tempat Kerja . 4 Petugas P3K dalam melaksanakan tugasnya dapat meninggalkan pekerjaan utamanya untuk memberikan pertolongan bagi pekerja/buruh dan/atau orang lain yang mengalami sakit atau cidera di tempat kerja Ps. Per. 5 1) Petugas P3K di tempat kerja ditentukan berdasarkan jumlah pekerja/buruh dan potensi bahaya di tempat kerja (dengan rasio sebagaimana Lampiran I Peraturan ini. Permenakertrans No.

RASIO JUMLAH PETUGAS P3K DI TEMPAT KERJA DENGAN JUMLAH PEKERJA BERDASARKAN KLASIFIKASI TEMPAT KERJA Klasifikasi Tempat Kerja Tempat kerja dengan potensi bahaya rendah Jumlah pekerja Jumlah petugas P3K 25 – 150 org >150 1 org 1 orang untuk setiap 150 orang atau kurang 1 orang Tempat kerja dengan potensi bahaya tinggi ≤100 >100 1 orang untuk setiap 100 orang atau kurang .

b) tempat kerja di setiap lantai yang berbeda di gedung bertingkat sesuai jumlah pekerja/buruh dan potensi bahaya di tempat kerja. .Permenakertrans No. c) tempat kerja dengan jadwal kerja shift sesuai jumlah pekerja/buruh dan potensi bahaya di tempat kerja.15/Men/VIII/2008 ttg P3K Di Tempat Kerja 2) Pengurus wajib mengatur tersedianya Petugas P3K pada : a) tempat kerja dengan unit kerja berjarak 500 meter atau lebih sesuai jumlah pekerja/buruh dan potensi bahaya di tempat kerja. Per.

Peralatan khusus : alat untuk pembasahan tubuh cepat (shower) dan pembilasan/pencucian mata. 8 : 1. Fasilitas P3K di Tempat Kerja meliputi: a) Ruang P3K. Alat pelindung diri khusus : peralatan yang disesuaikan dengan potensi bahaya yang ada di tempat kerja yang digunakan dalam keadaan darurat.Fasilitas P3K di Tempat Kerja Ps. 3. dan d) Fasilitas tambahan berupa alat pelindung diri dan/atau peralatan khusus di tempat kerja yang memiliki potensi bahaya yang bersifat khusus. b) Kotak P3K dan isi. . 2. c) Alat evakuasi dan alat transportasi.

mempekerjakan pekerja/buruh kurang dari 100 orang dengan potensi bahaya tinggi .Fasilitas P3K di Tempat Kerja Ps 9 : 1) Pengusaha wajib menyediakan ruang P3K sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a dalam hal : a. mempekerjakan pekerja/buruh 100 orang atau lebih. . b.

Tempat sampah. e) Sekurang-kurangnya dilengkapi dengan :        wastafel dengan air mengalir. seperti : tandu dan/atau kursi roda. Sabun dan sikat. Pakaian bersih untuk penolong. Kotak P3K dan isi. dan Kursi tunggu bila diperlukan.Persyaratan ruang P3K (lanjutan) : d) Diberi tanda yang jelas dengan papan nama yang jelas dan mudah dilihat. Tempat tidur dengan bantal dan selimut. Tempat untuk menyimpan alat-alat.     . Kertas tisue/lap. Usungan/tandu. Bidai/spalk.

Saline) Povidon Iodin (60 ml) Alkohol 70% Buku panduan P3K di tempat kerja Buku catatan Daftar isi kotak . 11. 7. 2. REKOMENDASI MINIMUM ISI KOTAK P3K BENTUK II I SI Kotak A (Untuk 25 Pekerja atau kurang) 20 2 2 2 10 1 2 1 12 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Kotak B (untuk 50 Pekerja atau kurang) 40 4 4 4 15 2 4 1 12 3 4 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 Kotak C (untuk 100 Pekerja atau kurang) 40 6 6 6 20 3 6 1 12 4 6 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1. 15 16 17. 10. 8. 9. 18. 19. 4. Kasa steril terbungkus Perban (lebar 5 cm) Perban (lebar 10 cm) Plester (lebar 1. 3. 14. 5. 12.25 cm) Plester Cepat Kapas (25 gram) Kain segitiga/mittela Gunting Peniti Sarung tangan sekali pakai (pasangan) Masker Pinset Lampu senter Gelas untuk cuci mata Kantong plastik bersih Aquades (100 ml lar. 20. 21.No. 6. 13.

JUMLAH DAN TIPE KOTAK P3K Jumlah Pekerja Kurang 25 26 s. 4 kotak A atau. 4 kotak A atau. 1 kotak B setara dengan 2 kotak A. 2 kotak B atau. 1 kotak C setara dengan 2 kotak B . 2. 1 kotak B dan 2 kotak A Setiap 100 A/B/C Catatan : 1. 2 kotak B atau.d 50 51 s.d 100 Tipe Kotak P3K A A/B A/B/C Jumlah Kotak Tiap 1 (satu) Unit Kerja 1 Kotak A 1 Kotak B atau 2 kotak A 1 kotak C atau. 1 kotak B dan 2 kotak A 1 kotak C atau.

Apabila tempat kerja pada lantai yang berbeda di gedung bertingkat. maka masingmasing unit kerja harus menyediakan kotak P3K sesuai jumlah tenaga kerja. 1 kotak B setara dengan 2 kotak A.Kotak P3K di tempat Kerja • Apabila tempat kerja dengan unit kerja berjarak 500 meter atau lebih masing-masing unit kerja harus menyediakan kotak P3K sesuai jumlah tenaga kerja. 1 kotak C setara dengan 2 kotak B • • • .

Kepdirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan No. KEP. 53/DJPPK/VIII/2009 tentang Pedoman Pelatihan dan Pemberian Lisensi Petugas P3K di tempat Kerja – – – mekanisme pelatihan petugas P3K Mekanisme penerbitan sertifikat Lisensi Petugas P3K di Tempat Kerja .Peraturan Perundangan Yang Terkait 6.

Asset perusahaan & .Lingkungan tempat kerja .Melindungi : .Tenaga kerja dan orang lain .

UNDANG UNDANG NO 1 TH 1970 KESELAMATAN KERJA UNDANG UNDANG NO 20 TH 2002 KETENAGALISTRIKAN .

Menjamin kehandalan instalasi listrik sesuai tujuan penggunaannya. Mencegah timbulnya bahaya akibat listrik N N N bahaya sentuhan langsung bahaya sentuhan tidak langsung bahaya kebakaran .Tujuan K3 Listrik 1. 2.

Dasar hukum : Undang undang No 1 tahun 1970 Keselamatan Kerja Pasal 2 ayat (1) huruf q (Ruang lingkup) Setiap tempat dimana listrik dibangkitkan. disalurkan dan digunakan . dibagi-bagikan. ditranmisikan.

Dasar hukum : Undang undang No 1 tahun 1970 Keselamatan Kerja Pasal 3 ayat (1) huruf q (Objective) Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk: q. mencegah terkena aliran listrik berbahaya .

Undang undang No 1 tahun 1970 Keselamatan Kerja Dasar hukum : Peraturan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi RI No Kep 75/Men/2002 Pemberlakuan PUIL 2000 .

STANDAR K3 LISTRIK DI INDONESIA Peraturan KHUSUS B Peraturan Khusus B Peraturan 04/78 Peraturan 04/88 .

: 2046 K/40/MEN/2001 Tanggal 28 Agustus 2001 Batas waktu penyesuaian 3 tahun .Persyaratan Umum Instalasi Listrik Peluncuran perdana 24-10-2001 Ditetapkan Sebagai Standar Wajib Kep Menteri Energi & Sumber Daya Mineral No.

PENGERTIAN • Instalasi listrik adalah instalasi mulai dari pembangkit tenaga sampai titik penggunaan akhir • Peralatan listrik adalah setiap alat pemakai listrik • Perlengkapan listrik adalah komponen-komponen yang diperlukan pada jaringan instalasi .

2 .3 0.6 0.4 0.Bahaya kejut listrik • Langsung • Tidak langsung E (Volt) 90 100 110 125 140 200 I (mA) 180 200 250 280 330 400 t (detik) 1.0 0.8 0.

Sentuhan langsung adalah bahaya sentuhan pada bagian konduktif yang secara normal bertegangan Sentuhan tidak langsung adalah bahaya sentuhan pada bagian konduktif yang secara normal tidak bertegangan. menjadi bertegangan karena terjadi kegagalan isolasi .

SISTEM PROTEKSI UNTUK KESELAMATAN (BAB III) • Proteksi dari kejut listrik • Proteksi dari efek thermal • Proteksi dari arus lebih • Proteksi dari tegangan lebih akibat petir • Proteksi dari tegangan kurang • Pemisahan dan penyakelaran .

.

di ruangan lembab SISTEM PROTEKSI UNTUK KESELAMATAN (BAB III) • Proteksi dari kejut listrik • Proteksi dari efek thermal • Proteksi dari arus lebih • Proteksi dari tegangan lebih akibat petir • Proteksi dari tegangan kurang • Pemisahan dan penyakelaran . N > 25 V a. di ruang normal.Tegangan sentuh yang berbahaya: N > 50 V a.b.b.

6. 4. 5. Isolasi bagian aktif Penghalang atau Selungkup Rintangan.PROTEKSI BAHAYA SENTUHAN LANGSUNG Metoda : 1. . Jarak aman atau diluar jangkauan Gawai proteksi arus sisa Isolasi lantai kerja. 3. 2.

       Pembebanan lebih Sambungan tidak sempurna Perlengkapan tidak standar Pembatas arus tidak sesuai Kebocoran isolasi Listrik statik Sambaran petir .

SISTEM INSTALASI LISTRIK L1 L2 L3 N SATU FASE TIGA FASE .

SISTEM PEMBUMIAN PENGAMAN L1 L2 L3 N SATU FASE TIGA FASE .

SISTEM HANTARAN PENGAMAN .

SISTEM HANTARAN NETRAL PENGAMAN .

PROTEKSI BAHAYA SENTUHAN LANGSUNG Jarak aman atau diluar jangkauan Tegangan kV 1 12 20 70 150 220 500 Jarak cm 50 60 75 100 125 160 300 .

PEMBATAS ARUS 2. KOTAK KONTAK 6 TUSUK KONTAK 7. GROUNDING 4. POLARITAS M 1 2 4 7 6 3 5 . PEMUTUS 3. SEKERING 5.INSTALASI LISTRIK SEDERHANA (Sistem pasa satu 3 kawat) PENGAMAN 1.

POLARITAS INSTALASI LISTRIK (Sistem pasa dua 2 kawat) M AMAN SEKERING TIDAK AMAN .

.

SNI 225 . Peraturan Menteri Tenaga Kerja No Per 02/Men/1989 tentang instalasi penyalur petir Berlaku untuk sistem proteksi eksternal / proteksi bahaya sambaran langsung 2.2000 (PUIL 2000) Sebagai rujukan untuk sistem proteksi internal / proteksi bahaya sambaran tidak langsunglangsung Instalasi penyalur petir yang tidak memenuhi syarat dapat mengundang bahaya .Ref 1.

PELEPASAN +++++ + +++++ ++++++ MUATAN LISTRIK ++++++ +++++ - DARI AWAN KE AWAN ------------------ ++++++ DARI AWAN KE BUMI ------------------ .

Sasaran OBYEK YANG TERTINGGI .AWAN KE AWAN Arus : 5. • MEKANIS.000 ~ 200.000 A Panas: 30.000 oC AWAN KE BUMI KERUSAKAN • THERMIS. • ELEKTRIS.

Instalasi penyalur petir yang tidak memenuhi syarat dapat mengundang bahaya Grounding tidak sempurna Berbahaya .

.....++++++++ ...- MENYAMBAR JARINGAN LISTRIK ....-----------+++++++ ------------+++++++ -----------+++++ DARI AWAN KE AWAN DARI AWAN KE BUMI +++++++ +++++++++ +++++++ ....++++++++ ...++++++++ ..................

BAHAYA SAMBARAN PETIR • SAMBARAN LANGSUNG • SAMBARAN TIDAK LANGSUNG KERUSAKAN PADA ALAT ELEKTRONIK .

 KONSEPSI PROTEKSI BAHAYA SAMBARAN PETIR PERLINDUNGAN SAMBARAN LANGSUNG Dengan memasang instalasi penyalur petir pada bangunan Jenis instalasi : Sistem Franklin Sistem Sangkar Faraday Sistem Elektro statik PERLINDUNGAN SAMBARAN TIDAK LANGSUNG Dengan melengkapi peralatan penyama tegangan pada jaringan instalasi listrik (Arrester)  .

PERTIMBANGAN PEMASANGAN INSTALASI PENYALUR PETIR INDEK RESIKO BAHAYA SAMBARAN PETIR A : Peruntukan bangunan B : Struktur konstruksi C : Tinggi bangunan D : Lokasi bangunan E : Hari guruh (-10 (0 (0 (0 (0 0 1 2 1 1 1 2 3 2) 2 2 3) 4 3 3 5 15) 5 4 - 10) 7) R =A+B+C+D+E < = = = = > 11 11 12 13 14 14 ABAIKAN KECIL SEDANG AGAK BESAR BESAR SANGAT BESAR .

INSTALASI PENYALUR PETIR PERMENAKER PER-02 MEN/1989 PENERIMA SISTEM FRANKLIN BAGIAN BAGIAN PENTING (AIR TERMINAL) PENURUNAN  HANTARAN (DOWN CONDUCTOR) .

PROTEKSI PETIR SYSTEM INTERNAL Semua bagian konduktif dibonding Semua fasa jaringan RSTNG dipasang Arrester Bila terjadi sambaran petir pada jaringan instalasi listrik semua kawat RSTN tegangannya sama tidak ada beda potensial RSTN RSTN ARRESTER GROUNDING .

- Ruang lingkup : Sistem eksternal Jenis : konvensional & elektrostatik ......Pengawasan K3 Instalasi Penyalur Petir PERMENAKER No..... PER 02/MEN/1989 Tentang Instalasi Penyalur Petir +++++++ +++++++++ +++++++ ......

.

INDEK RESIKO BAHAYA SAMBARAN PETIR A: Peruntukan bangunan Rumah tinggal Bangunan umum Banyak orang Instalasi gas. rumah sakit Gudang handak 1 2 3 5 15 : : B: Struktur konstruksi Steel structure Beton bertulang. atap bukan logam Kerangka kayu atap bukan logam Tinggi bangunan 0 1 2 3 C: . kerangka baja atap logam Beton bertulang.minyak.

INDEK RESIKO BAHAYA SAMBARAN PETIR C: Tinggi bangunan s/d 6m 12 m 17 m 25 m 35 m 50 m 70 m 100 m 140 m 200 m 0 2 3 4 5 6 7 8 9 10 .

3.D. Di tanah datar Di kaki bukit setinggi 1000 (seribu) meter Diatas Permukaan Air Laut (DPAL) Di puncak gunung atau pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1000 (seribu) meter DPAL 0 1 2 . Situasi Bangunan No. 2. Letak Bangunan Indeks 1.

6. 32 64 128 256 4 5 6 7 . 4. 8 16 2 3 5. 8.E. Pengaruh Kilat No. 7. 1. 2. Hari Guruh Per Tahun 2 4 Indeks 0 1 3.

Atap –atap dari logam yang disambung secara elekteris. Jumlah dan jarak harus diatur (daerah perlindungan 112 derajat) Penerima dapat berupa : a. cerobong logam yang disambung dengan instalasi penyalur petir.-hiasan pada atap. tiang-tiang. . Tinggi lebih dari 15 cm dari sekitar 4. c. Daerah terlindung 3. hiasan. 2. Logam bulat panjang yang terbuat dari tembaga b. Dipasang pada tempat yang akan tersambar.PENERIMA (AIR TERMINAL) 1.

penurunan dipasang pada bagian yang terdekat pohon. Dipasang minimal 2 penurunan. Diperhitungkan pemuaian dan penyusutan. 2.5 meter. Jarak antar kaki penerima dan titik percabangan penghantar maximal 5 meter. Jika ada. menonjol. 5. Jika digunakan pipa logam. Dilarang memasang penghantar penurunan dibawah atap dalam bangunan. pada kedua ujung harus disambung secara elektris. 7. 3. 6.SYARAT-SYARAT PEMASANGAN PENGHANTAR PENURUNAN 1. 8. Memudahkan pemeriksaan. 66 . 4. Dipasang sepanjang bubungan ke tanah. Jarak antara alat pemegang penghantar maximal 1. 9.

Sudah direncanakan untuk itu b. Bagian atap. Tinggi 25 – 50 m . Tinggi < 25 m Tinggi > 50 m max. 20 m max (30 – (0. f. 67 b. pilar. b. Ujung-ujung tulang baja mencapai garis permukaan air dibawah tanah. 50 mm2 & Tebal minimal 2 mm. e. c.BAHAN PENGHANTAR PENURUNAN a. Jarak antar penghantar a. tulang baja yang mempunyai massa logam yang baik. c. Pipa penyalur air hujan + minimal dua pengantar penurusan khusus. dinding. Khusus tulang beton harus memenuhi : a.4 x tinggi bangunan) max 10 meter. Kawat tembaga penampang min. Kolom beton yang digunakan sebagai penghantar adalah kolom beton bagian luar. d.

SYARAT PEMBUMIAN/TAHANAN PEMBUMIAN a. Bahan yang diperuntukkan dari pabrikan (spesifikasi sesuai standar) b. tiang pancang (direncanakan). Masing-masing penghantar dari suatu instalasi yang mempunyai beberapa penghantar harus disambungkan dengan elektroda kelompok. 68 . Pelat logam yang ditanam. c. c. Pipa atau penghantar lingkar yang dipasang dalam bumi secara mendatar. Dipasang sedemikian sehingga tahan pembumian terkecil. a. Pipa logam yang dipasang dalam bumi secara tegak. d. e. Sebagai elektroda bumi dapat digunakan b. Tulang baja dari lantai kamar. d. Dipasang sampai mencapai permukaan air dalam bumi.

• Masing-masing penghantar penurunan harus disambung dengan penghantar lingkar yang ditanam dengan beberapa elektro tegak atau mendatar sehingga jumlah tahan pembumian bersama memenuhi syarat. f. Membuat suatu bahan lain (bahan kimia dan sebagainya) yang ditanam bersama dengan elektroda sehingga tahan pembumian memenuhi syarat. • g. 69 . Jika keadaan alam tidak memungkinkan.e. Terdapat sambungan ukur. Elektroda bumi yang digunakan untuk pembumian instalasi listrik tidak boleh digunakan untuk pembumian instalasi penyalur petir.

BANGUNAN YANG MEMPUNYAI ANTENA 1. Jika antena dpasang pada bangunan yang tidak mempunyai instalasi petir. 70 . Jika suatu antena dipasang pada tiang logam. Jika antena dipasang secara tersekat pada suatu tiang besi. Pemasangan penghantar antara antena dan penyalur petir sedemikian menghindari percikan bunga api. antena harus dihubungkan melalui penyalur tegangan lebih. 3. tidak perlu dipasang penyalur tegangan lebih. 4. kecuali berada dalam daerah perlindungan. tiang tersebut harus dihubungkan dengan instalasi penyalur petir. 5. 2. Jika antena sudah dibumikan. Antena harus dihubungkan dengan instalasi penyalur petir dengan penyalur tegangan lebih. 6. tiang besi ini harus dihubungkan dengan bumi.

d. Instalasi penyalur petir dari cerobong min harus mempunyai 2 penurunan dengan jarak yang sama satu sama lain. c. e. Penerima harus dipasang menjulang min 50 cm di atas pinggir cerobong. Instalasi penyalur petir yang terpasang dicerobong tidak boleh dianggap dapat melindung bangunan yang berada disekitarnya. Alat penangkap bunga api dan cincin penutup pinggir bagian puncak dapat digunakan sebagai penerima petir. 71 . Tiap-tiap penurunan harus disambungkan langsung dengan penerima.CEROBONG YANG LEBIH TINGGI DARI 10 M a. b.

Pengurus atau pemilik wajib membantu (penyedian alat) 72 . Instalasi penyalur petir petir harus diperiksa dan diuji : 1. 2. Secara berkala setiap dua tahun sekali. 4. 4. Setelah ada kerusakan akibat sambaran petir.PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN 1. Ahli K3 atau PJK3 Inspeksi. aman dan memenuhi syarat. Setelah ada perubahan atau perbaikan (bangunan atau instalasi) 3. 2. Sebelum penyerahan dari instalatir kepada pemakai. Dilakukan oleh pegawai pengawas. Setiap instalasi penyalur petir harus dipelihara agar selalu bekerja dengan tepat. 3.

73 . Sambungan-sambungan b. Dilakukan pengukuran elektroda pembumian. Kerusakan-kerusakan dan karat dari penerima. terutama pada jenis tanah yang dapat menimbulkan karat. Tahanan pembumian dari seluruh sistem pembumian tidak boleh lebih dari 5 ohm. d. penghantar c. Tahanan pembumian dari masing-masing elektroda maupun elektorda kelompok. Elektroda bumi.Dalam pemeriksaan dan pengujian hal yang perlu diperhatikan : a. f. g. e. Setiap hasil pemeriksaan dicatat dan diperbaiki.

74 .

MACAM MACAM ALAT UKUR & FUNGSINYA 75 .

AMPERE METER 76 .

VOLT METER 77 .

COS  METER 78 .

FREKUENSI METER 79 .

KW METER 80 .

WATT METER A 1 3 V 2 4 BEBAN 81 .

KWH METER

82

MEGGER
JTM 20

MEGGER

83

Phase Sequence

84

Earth Tester

85

Stop Watch. 86 .

Cara menguji . Rekomendasi. . Rekomendasi. Peta lokasi 2 Gambar instalasi . Tabel bahan 7. Ukuran teknis . Perhitungan beban 6.Rangkaian peralatan dan pengendalinya 3.Dokumen perencanaan listrik 1. Commissioning.Lay out perlengkapan dan peralatan listrik .Jadwal waktu Proses pengesahan gambar ins. Gambar rinci 5. Diagram garis tunggal 4. listrik Berkas perencanaan.Sepesifikasi & cara pasang . Analisis: Berdasarkan SNI -225 2000 oleh pegawai pengawas Tidak Memenuhi syarat Ya PENGESAHAN GAMBAR Setuju dipasang.